Shady Girl Ryeowook’s Story (Part 11 – END)

Judul : Shady Girl Ryeowook’s Story Part 11 END
Author : Dha Khanzaki a.k.a Shin Jeyoung
Genre : Romance

Main Cast :

  • Tiffany Hwang
  • Kim Ryeowook

Tiba juga di part end setelah melewati banyak banget aral dan rintangan *lebeh* Terimakasih untuk reader-deul yang tetep setia mengikuti kisah Shady Girl sampai main castnya Ryeowook. Tenang aja buat temen-temen yang masih kangen ama serial Shady Girl, seri ini tetep berlanjut kok meskipun dengan main cast yang berbeda.

Author tetep meminta kritik,saran, pesan, dan kesan reader-deul setelah membaca FF ini ^_^

Happy Reading

Shady Girl Ryeowook's Story by DhaKhanzaki1

===Part 11 End===

STOP PRESS!!
Tiffany Hwang mengalami kecelakaan ketika berlibur di Las Vegas.

Ryeowook menghela napas seraya menutup koran pagi yang di bacanya. Berita kecelakaan Tiffany Hwang menjadi headline hampir di seluruh surat kabar di Las Vegas. Ia benar-benar dipusingkan oleh kedatangan awak media yang ingin meliput berita hangat itu. Tanpa mempedulikan keadaan Tiffany sedikitpun.
Setelah menjalani operasi selama hampir lima jam kemarin, akhirnya dokter mengatakan bahwa Tiffany sudah melewati masa kritisnya. Karena kehilangan banyak darah, kemungkinan Tiffany baru akan siuman keesokan harinya. Ryeowook duduk merenung di samping tempat tidur Tiffany. Hatinya sudah sedikit lega. Setidaknya, gadis ini masih bernapas.

Mengenai serangan pada Tiffany yang didalangi oleh Brian John, ayahnya berhasil menyembunyikan hal itu dari polisi. Bagaimanapun sebagai seorang mafia ia harus menjaga kerahasiaan dari polisi. Jared Kim menyamarkan kematian Brian John sebagai kecelakaan, begitupun yang terjadi pada Tiffany.

#Flashback#

“Maaf, hanya ini yang bisa kulakukan.”
Ryeowook terkejut mendengar ayahnya berkata dengan suara rendah. Terlebih karena nada suaranya terdengar begitu bersalah. Ini pertama kalinya ia mendengar ayahnya berkata selembut ini.
“Sebagai orang tua, aku tidak bisa memberikan kebahagiaan yang layak untukmu. Gadis itu benar. Kau berhak atas kebahagiaanmu. Hidupmu kau yang mengaturnya.”
Kali ini pun Ryeowook kembali dikejutkan. Apa yang terjadi pada ayahnya? Ia penasaran apa yang sudah dikatakan Tiffany pada pria ini.
“Selama ini aku hanya berpikir tentang bagaimana membesarkan kelompok kita. Sama sekali tak mempedulikan keselamatan orang-orang di sekitarku. Mulai sekarang, aku tidak akan mengekangmu lagi. hiduplah sesuai keinginanmu.” Jared Kim menghela napas lalu berbalik hendak pergi, meninggalkan putranya yang melongo tak percaya.
“Chakkanman!!” teriak Ryeowook seraya mengejar ayahnya. Pria itu berbalik.
“Kenapa tiba-tiba berubah pikiran?” tanya Ryeowook penasaran. Ia masih tidak yakin ayahnya sekarang sudah menjadi orang baik. rasanya aneh sekali.
Jared Kim menghela napas. Ini pertama kalinya Ryeowook melihat pria yang selama ini paling dibencinya terlihat begitu tak berdaya, lemah, dan pasrah. Ia semakin menyadari bahwa pria ini sudah mulai menginjak usia senjanya.
“Melihat gadis itu, entah kenapa membuatku teringat mendiang ibumu.” Gumam Jared Kim lemah dengan pandangan menerawang. Ryeowook mengerjap.
“Aku tidak pernah bisa menyakiti wanita dengan karakter seperti itu. Beruntung sekali kau bisa menyentuh hatinya. Berbahagialah. Mulai detik ini kau bukanlah Nathan Kim yang akan meneruskan tahtaku. Kau adalah Kim Ryeowook. Kembalilah pada gadis itu. Dia sangat mencintaimu. Aku bahkan tak pantas menjadi ayahmu.” Jared Kim kembali membalikkan badannya pergi.

Sungguh, Ryeowook terharu dan ingin sekali memeluk ayahnya. Keajaiban sepertinya sudah singgah di hati dingin Jared Kim. Ia memang sempat marah, sempat benci, dan sempat memaki habis habisan pria itu. Namun jauh di sudut hatinya, Ia merasa rindu pada sosok ayahnya yang hangat dan baik. sepertinya hari ini ia sudah menemukannya.
“Appaa!!!!” teriak Ryeowook tiba-tiba, sedikit mengejutkan Jared Kim. Pria itu menolehkan pandangannya.
“Kau yang terbaik!” teriak Ryeowook dengan senyum mengembang. “Gomawo!! carilah orang yang cocok untuk menjadi penerusmu!!!”
Jared Kim tersenyum tulus untuk pertama kalinya. Hatinya merasa begitu lapang dan hangat setelah berhasil berdamai dengan sisi jahat dirinya. Ia kembali melanjutkan langkahnya yang sempat terhenti.

Ryeowook tersenyum di tempatnya berdiri dan saat itulah terakhir kalinya ia melihat ayahnya. Sejahat apapun, pria itu tetap ayahnya. ya, Jared Kim tetap ayahnya.

#Flashback end#

Ryeowook tak henti-hentinya menatap wajah pucat Tiffany yang terlelap. Terlihat begitu damai dan tentram. Tangannya terangkat mengusap pipi lembut gadis itu berharap sentuhannya mampu membuat Tiffany sadar.
“Kau tahu, Tiffany. Di saat jatuh kau memutuskan untuk jatuh cinta pada seseorang, maka hal itu tidak akan pernah menjadi sebuah penyesalan. Justru akan menjadi sebuah lagu penghibur di saat kau sedih, obat penenang saat kau kalut, dan menjadi lentera penerang saat kau jatuh di tempat gelap. Lalu bagaimana jika lagu penghiburku tidak bisa melantunkan senandung penyejuk hatinya lagi? Atau obat penenangku sudah tidak bisa menyembuhkanku dari rasa kalut dan bingung? Dan lentera penerangku tidak sanggup membimbingku untuk keluar dari tempat yang gelap?” Ryeowook mengatakannya dengan amat perlahan dan suara tercekat. Ia menatap Tiffany yang tetap pada posisinya. Berharap gadis itu mendengar dan tersadar kemudian.
Lagu penghiburku adalah suaramu, obat penenangku adalah senyumanmu, dan lentera penerangku adalah keberadaanmu dalam hidupku. Batin Ryeowook.

Tangan Tiffany yang dingin terasa bergerak dalam genggamannya. Ryeowook tersentak lantas mengangkat kepalanya menatap Tiffany. Ia hampir melonjak dari tempat duduknya saat melihat kelopak mata gadis itu tampak bergerak dan perlahan membuka matanya.
“Fany..Tiffany” panggilnya. Mata gadis itu menelisik ke sekelilingnya mencoba mengenali tempatnya berada saat ini. Saat pandangannya bertabrakan dengan pandangan Ryeowook, perlahan senyum di bibirnya mengembang.
“Senang melihatmu lagi..” ucapnya dengan suara serak dan pelan. Mata Ryeowook berkabut mendengarnya. Ia benar-benar lega bisa mendengar suara Tiffany setelah rasa cemas terus menyelimutinya selama beberapa hari terakhir. Tubuhnya bergerak dengan sendirinya memeluk tubuh lemah gadis itu.
“Terima kasih sudah bertahan hidup. Kau hampir saja membuatku mati cemas..”
“Aku senang mendengar kau mengkhawatirkanku..”

—o0o—

“Ah, senangnya melihat putri Eomma tersenyum seperti biasanya..” ujar Eomma sambil membantu Tiffany menyisir rambutnya. Satu hari berlalu sejak Tiffany siuman. Ia belum diizinkan pulang dari rumah sakit sebelum kondisi kesehatannya pulih. Dan sekarang ia sedikit bosan karena pria yang dicintainya tidak ada di sana. Ryeowook pergi untuk mengurus sesuatu. Entah apa itu.
“Kau mencari pria yang bersamamu kemarin?” tanya Eomma mengagetkannya. Tiffany menoleh.
“Oh, ne..” Tiffany mengakuinya dengan senang hati. “Oh, aku harus memeriksa penampilanku dulu sebelum dia datang nanti..” Tiffany mengambil cermin untuk merapikan penampilannya. Senyumnya lenyap seketika ketika melihat dirinya yang terpantul dari cermin. Ia terkesiap kaget.
“Kyaaaaaaaaaaaaaaaaaa…”

—o0o—

Ryeowook baru saja tiba di rumah sakit. Ia tersenyum senang setelah kembali dari rumah ayahnya untuk berpamitan. Ia juga baru bertemu dengan orang yang akan meneruskan kelompok ayahnya menggantikan dirinya. Syukurlah ayahnya sudah menemukan sosok pengganti dengan begitu cepat.

Ia membawa bunga mawar untuk Tiffany. Sudah tidak sabar ingin segera bertemu dengan gadis itu. Ia hendak membuka pintu kamar rawat Tiffany saat mendengar jeritan dari dalam sana.
“Kyaaaaaaaaaaaaaaaaaa…”
Ryeowook terkesiap lalu membuka cepat pintu kamar. Ia melihat Tiffany menutup wajahnya dengan kedua tangan.
“Wae?” tanya Ryeowook cemas pada Eomma Tiffany. Eomma pun tampak cemas melihat kepanikan putrinya.
“Dia terkejut setelah melihat dirinya sendiri di cermin..” ucap Eomma. Ryeowook mengerutkan kening. Memang kenapa dengan hal itu?
“Sebaiknya kau tenangkan Tiffany.” Eomma pergi meninggalkan mereka berdua di ruangan itu. Ryeowook meletakkan buket bunga yang di bawanya di atas nakas lalu duduk di tepi ranjang.
“Fanny-ah..kau kenapa?” tanyanya khawatir.

Tiffany sedikit terkesiap ketika mendengar suara Ryeowook. Ia lantas mengambil selimut lalu menutupi seluruh tubuhnya.
“Kau kenapa?” Ryeowook sungguh tidak paham dengan polah tingkah gadis ini.
“Kau pulanglah..” seru Tiffany dari balik selimut.
“Kenapa aku harus pulang?”
“Aku tidak ingin bertatap muka denganmu”
“Iya, tapi kenapa?”
“Aku..aku tidak bisa memperlihatkan diriku yang seperti ini padamu..” ucapnya pelan. Ryeowook sudah tidak bisa bersabar lagi. Tingkah Tiffany benar-benar membuatnya tidak paham. Ia menarik paksa selimut yang menutup tubuh gadis itu dalam satu kali sentak, membuat Tiffany sedikit memekik karenanya.
“Kim Ryeowook, beraninya kau…” Tiffany langsung membungkam mulutnya saat menyadari tubuhnya tidak terbalut selimut lagi. Ia beringsut mendudukkan dirinya di atas ranjang lalu memalingkan wajah. Ryeowook tertegun. Ia mencoba bersabar menghadapi Tiffany.
“Jangan pandangi aku seperti itu. aku tahu sekarang aku tidak cantik lagi.” lirihnya dengan suara tercekat.
“Siapa bilang?” balas Ryeowook sambil menatapi Tiffany. Ia tahu apa yang membuat gadis ini begitu gelisah dan sedih. Kecelakaan kemarin membuat beberapa luka di sekitar leher dan wajahnya.
Bahu gadis itu bergetar menahan tangis dan tangannya terangkat menutupi daerah sekitar tengkuknya yang masih terbalut perban. Mungkin luka itu akan berbekas nanti.

Tiffany Hwang adalah seorang model dan aktris papan atas. Tubuh sempurna adalah modal utamanya di depan layar. Lalu apa jadinya jika sesuatu yang seharusnya tak tergores apapun itu tertoreh luka yang membuatnya tak indah lagi.
Ryeowook bangkit, duduk di tepi ranjang lalu tangannya terulur mengusap rambut hitamm panjang gadis itu.
“Kecantikan seorang wanita tidak dilihat dari seberapa banyak pria yang terpikat pada fisik jelitanya melainkan bagaimana wanita itu mampu membuat banyak orang gembira karena hatimu yang menakjubkan” hibur Ryeowook. Tiffany menoleh merasa ucapan pria itu sedikit mengganggunya.
“Lalu bagaimana dengan karirku..” matanya berkaca-kaca dan suaranya serak. Wajahnya sepucat kertas putih dan Ryeowook baru menyadari Tiffany semakin kurus dari hari ke hari.
“Selalu ada makna di setiap peristiwa buruk.” Sela Ryeowook lagi. Senyum manisnya terbit
dan menular pada Tiffany. Gadis itu ikut tersenyum lepas—untuk pertama kalinya setelah siuman.
“Kau tidak sedang membohongiku kan, Tuan Kim?” ujar Tiffany lalu memeluknya.

Ryeowook melepaskan pelukan Tiffany lalu mengacak poni gadis itu. Benar, waktu yang sulit pasti akan berlalu. Ia tersentak ketika teringat sesuatu. Rasanya ia tahu satu cara untuk membuat Tiffany senang.
Ryeowook bangkit lalu bergegas keluar kamar. Tiffany belum sempat memprotes. Bibirnya hampir mengeluarkan gerutuan ketika Ryeowook kembali membawa gitar.
“Kau mau apa?” ia heran. Jangan bilang Ryeowook berniat mengamen di depannya.
Ditariknya kursi yang tadi di duduki lalu Ryeowook menempatkan diri di atasnya. Ia tersenyum penuh arti untuk Tiffany.
“Aku ingin menyanyi untukmu. Bolehkah?”
Tiffany mengerjapkan mata. Tak pernah di sangka akan ada seseorang yang menyanyi untuknya. “Sungguh?” serunya gembira. Ryeowook mulai memposisikan diri. Beberapa detik terdengarlah dentingan dawai sebagai awal dari lagu yang akan Ryeowook nyanyikan.
Pria itu menatap Tiffany penuh arti dan sorot matanya, membuat Tiffany terpaku. Jantungnya berdebar kencang. Terlebih saat Ryeowook mulai bernyanyi dengan suara yang tak pernah disangka Tiffany sedikitpun. Suara yang indah seperti nyanyian burung murai yang merdu.

Her eyes, her eyes
Make the stars look like they’re not shining
Her hair her hair
Falls perfectly without her trying
She’s so beautiful
And I tell her everyday, yeah~

I know I know
When I compliment her, she won’t believe me
And it’s so, it’s so
Sad to think that she don’t see what I see
But everytime she asks me, “Do I look okay?”
I say..

When I see your face
There’s not a thing that I would change
‘Cause you’re amazing
Just the way you are
And when you smile
The whole world stops and stares for a while
‘Cause girl you’re amazing
Just the way you are
*Bruno Mars – Just The Way You Are*

Setitik bening jatuh dari sudut mata Tiffany. Gadis itu sangat tersentuh. Bagaimana bisa Ryeowook menyanyikan lagu itu dengan begitu indahnya. Ia ingin menangis kencang namun ia tahan sekuat tenaga. Ia menatap Ryeowook dengan mata berkaca-kaca.
“Bagaimana laguku, nona?” Ryeowook tersenyum lalu meletakkan gitarnya di samping nakas. Ia meraih tangan Tiffany lalu mengecupnya lembut.
“Indah sekali.” Tiffany mengusap airmatanya.
“Setelah ini, kuharap kau tidak pernah bersedih lagi.”
Tiffany menganggukan kepalanya berkali-kali. “Boleh aku meminta sesuatu?”
Ryeowook terheran, namun ia tetap bertanya. “Minta apa?”
Tak mengatakannya dengan ucapan, Tiffany mengetuk-ngetuk keningnya dengan jari telunjuk. “Aku ingin di kisseu..” pintanya dengan wajah aegyeo. Ryeowook sedikit terkejut. Ia melihat ke sekelilingnya takut ada penguping ataupun paparazzi yang mendengar.
“Kau kan bisa meminta yang lain.” Ryeowook gugup.
“Kenapa memangnya?”
“Ini rumah sakit.”
“Lalu?”
“Kau tidak malu.”

Tiffany mengendikkan bahu. “Biar saja. Lagipula siapa yang akan melihat”
Melihat ekspresi Tiffany, lama-lama Ryeowook tidak tega juga. Ia mendekatkan wajahnya untuk mengecup kening Tiffany namun hal yang tak terduga terjadi. Tiffany tiba-tiba saja merengkuh wajahnya lalu menempelkan bibir mereka. Terkejut, tentu saja. Ryeowook hanya mampu mengedipkan matanya berkali-kali tanpa menggerakan tubuh sesenti pun.
“Katakan, kau mencintaiku?” tanya Tiffany lembut, berbisik di sudut bibirnya. Ryeowook memutar bola matanya hingga kini mata mereka saling bertatapan.
“Apa ini salah satu adegan yang sering kau lakukan di film? Aku tidak heran mengapa kau begitu mahir.” Ryeowook malah membahas akting yang sering dilakoni Tiffany dalam film yang dibintanginya. Senyum tipis mengembang di sudut bibir Tiffany.
“Yes. Like the scenario.”

“Apa kau juga tahu jawaban dari lawan mainmu?”
“Em. Dia akan menjawab ‘saranghae’ lalu bergerak mengecupku lebih dulu.”
Ryeowook tersenyum. “Kalau begitu aku akan melakukannya sedikit berbeda dengan skenario.”
Tiffany hanya terbengong untuk beberapa saat sebelum Ryeowook menempelkan bibirnya kembali di bibir Tiffany. Mereka tenggelam dalam lautan kasih yang tak bertepi untuk beberapa saat hingga Ryeowook menjauhkan wajahnya, lalu menatap Tiffany sungguh-sungguh.
“Aku mencintaimu.” Ucapnya dengan suara rendah dan dalam.
“Aku tahu. Mana ada yang bisa menolak pesona seorang Tiffany Hwang.” Tiffany tersenyum lepas. Mereka terdiam saling memandang untuk beberapa menit lalu tertawa. Entah apa yang lucu di sini. Hanya saja, setelah semua kesulitan yang mereka lalui, akhirnya tiba juga hari bahagia.
Karena detik inilah, cinta mereka saling menyambut.

—o0o—

Satu bulan kemudian Tiffany keluar dari rumah sakit dalam keadaan sehat sempurna. Ia kembali ke Korea untuk melanjutkan pekerjaan yang sempat ditelantarkan. Film yang dibintangi Tiffany baru saja menjadi Box Office di berbagai bioskop di sana. Ia tersenyum. Hasil kerja kerasnya tidak sia-sia rupanya.
Ryeowook pun mengatakan bahwa ia tidak akan lagi menjadi penerus kelompok mafia ayahnya. Pria itu sudah dilepaskan dan kini mendapatkan kebebasannya seperti burung yang terlepas dari sangkar emas. Ia melanjutkan cita-citanya, yaitu membuka sebuah Coffe Shop yang diberi nama The Kim’s Crown.
Tiffany tetap sibuk dengan kegiatan keartisannya selama minggu kemudian. Ryeowook pun tak pernah mempermasalahkan itu. Ia memaklumi dan mencoba menjadi kekasih yang baik. kadang sesekali mereka bertemu secara diam-diam untuk berkencan.
“Huh..” Tiffany mendengus untuk kesekian kalinya. Ia memutar cepat capucino dingin yang ada di depannya. Sesekali pandangan sebal itu ia lemparkan ke arah televisi yang menyala. satu-satunya obyek yang bisa ia perhatikan dalam kafe yang remang-remang seperti ini.
“Kenapa wajahmu seperti itu?” Ryeowook tertawa geli melihat Tiffany menggerutu. Melihat Ryeowook tenang-tenang saja, Tiffany melayangkan tatapan kejam.
“Kau tidak cemburu? Kau tidak lihat para wartawan itu kembali menggosipkan diriku seenaknya!” dengan kesal Tiffany menunjuk televisi di belakang Ryeowook.
“Aku tidak cemburu. Untuk apa. Toh Tiffany Hwang bukanlah tipe wanita yang suka menyeleweng. Bukankah begitu?” Ryeowook meletakkan sepiring spagetti di antara mereka, untuk di nikmati sambil mengobrol santai.
Tiffany mendelik, ekspresinya masih tidak terima. Namun, melihat ketenangan Ryeowook membuat pertahanannya runtuh. Ia perlahan tersenyum lalu meneguk capuccinonya.
“Kau benar. Aku wanita setia.” Timpalnya membanggakan diri sendiri. “Tapi kenapa kita harus berkencan saat kafemu tutup sih? Ini membuatku merasa seperti buronan.” Keluhnya. Saat ini mereka memang tengah berkencan, sepulang Tiffany bekerja. Coffe Shop Ryeowook tutup pukul sembilan malam. Dan sekarang, coffe shop ini sepi dan seluruh jendelanya di tutupi tirai.
“Jangan banyak mengeluh, nona manis. Kau bilang kau ingin mengajakku berbicara hal penting.”
Tiffany mengerjap menyadari tujuannya mengajak Ryeowook bertemu hari ini. Ia membenarkan posisi duduknya lalu merapikan rambut.
“Itu, ibuku..”
“Kenapa ibumu?” Ryeowook sesekali menyeruput Americano miliknya.
“Dia menanyakan padaku kapan kau akan melamarku.”
“Hah? Ibumu memintaku menikahimu?” Ryeowook terkejut mendengar penuturan Tiffany.
“Bu-bukan begitu. Beliau hanya bertanya kapan. Dia pikir kau akan menjalin hubungan serius denganku.” Jelas tiffany gugup. Ia menyadari Ryeowook menyelidikinya. Sebenarnya bukan ibunya yang meminta itu, melainkan dirinya sendiri. Ia bertanya-tanya kapan ia akan melepaskan masa lajangnya dan ia harap Ryeowook tidak berniat main-main dengan hubungan mereka.
“ya sudah. Kalau memang tidak juga tidak apa-apa.” lama-lama Tiffany merasa risih ditatap penuh selidik oleh Ryeowook. Ia meneguk minumannya hingga habis lalu bangkit.
“Aku pulang dulu. kita bicarakan ini nanti saja.”
Ryeowook mendesah lalu ikut bangkit. “Aku akan mengantarmu.”

Mereka membuka pintu kafe perlahan dan terkejut saat mendapai berbagai kilatan lampu menyerang merekan di saat yang bersamaan, dari segala arah. Tiffany terenyak. Darimana datangnya para wartawani ini? Mengapa mereka bisa mengetahui keberadaannya?
“Tiffany Hwang, mengapa anda bisa di sini?”
“Apa yang sedang Anda lakukan di tempat ini?”
“Siapa pria yang ada di sampingmu?”
“Apa hubungan kalian?”
“Tolong beri penjelasan sedikit saja.”
“Apa dia kekasihmu?”
Tiffany tersentak dengan serbuan pertanyaan yang dilontarkan para pemburu berita. Ia merapatkan posisinya dengan Ryeowook, menatap pria itu ragu-ragu. Ryeowook mencoba untuk menerobos keluar dengan menggenggam tangan Tiffany namun gerombolan wartawan itu tak membiarkan mereka kabur. Jalan satu-satunya adalah menjawab pertanyaan mereka.
“Bisa kalian tenang sedikit?” tanya Ryeowook tegas. Meskipun berkata dengan wajah penuh senyum dan keramah tamahan, namun cara bicaranya tidak ramah sama sekali. otomatis, suasana menjadi hening.
Tiffany menoleh ke arah Ryeowook. Apa yang akan pria ini katakan? Ia sangat penasaran namun takut juga. Jangan-jangan Ryeowook akan mengatakan tidak ada apa-apa di antara mereka.
“Aku tahu ini pekerjaan kalian sebagai seorang pemburu berita. Tapi apa kalian tidak tahu bahwa seorang artis pun memiliki hak yang namanya privasi?”
“Apa itu artinya kalian memiliki hubungan khusus?” tanya salah satu wartawan menginterupsi.
Tiffany menegang. Pegangannya semakin mengerat. Ia menunggu ucapan Ryeowook berikutnya dengan tidak sabar.
“Ya.”
Sontak, pengakuan itu membuat suasana menjadi ricuh kembali. Ryeowook menarik napas sejenak karena kepalanya terasa pening di hujani pertanyaan di saat yang bersamaan. Ia sekarang mengerti bagaimana pusingnya Tiffany jika sudah ada gossip yang menyangkut dirinya.
“Terserah kalian ingin membuat berita ini seheboh apa. Dan aku tahu cara yang tepat untuk menjawab semua pertanyaan kalian sekaligus.”
Ryeowook menarik napas lalu tersenyum ceria. “Kami akan menikah bulan depan.”

Tiffany membelalakkan mata. Menikah mnggu depan? Oh Tuhan!!!! Ribuan kupu-kupu langsung bertebaran dalam otaknya. Inikah akhir bahagia yang dijanjikan untuknya. Baiklah jika memang begitu. Ia harus menerimanya dengan suka cita.

==Shady Girl Ryeowook’s Story end==

.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.

.

.

.

Kediaman keluarga Cho, 08.00 pm.

“Terima kasih makan malamnya.” Kibum tersenyum ramah pada Tuan Cho dan Nyonya Cho. Kedua orantua itu saling melempar tatapan penuh arti mendapati kesopanan Kibum. Mereka merasa sangat beruntung karena Ja Rin, putri bungsu mereka bisa mendapatkan lelaki sebaik dan setampan Kibum. Mengingat latar belakang Kibum yang begitu cemerlang, membuat Tuan Cho terusik untuk bertanya.
“Bagaimana, apa kalian sudah memutuskan untuk lebih serius?”
Ja Rin maupun Kibum terdiam. Kyuhyun yang sejak tadi diam melihat kegugupan di mata adiknya. Ia juga melihat hal yang sama dalam diri Kibum.
“Itu, kami masih mendiskusikannya.” Jawab Kibum ramah. Tuan Cho hanya mengangguk dan Kyuhyun merasa hatinya iba karena Ja Rin terlihat begitu kecewa dengan jawaban Kibum. Mereka tidak pernah mendiskusikannya. Ja Rin bahkan sudah memaksa Kibum untuk segera menikahinya.
Setetelah makan malam, Kyuhyun bergerak menghampiri Kibum yang hendak pulang. Ja Rin sudah masuk untuk membantu Eomma membereskan sisa makan malam.
“Kibum, maaf. Bukannya aku ingin ikut campur. Aku hanya penasaran sebagai seorang kakak.” Ucap Kyuhyun serius. Sejak menikah, Kyuhyun sudah jarang bersikap kekanakan dan lebih dewasa. Rupanya cinta mampu membuat seseorang berubah. Dan Kyuhyun bisa berubah seperti ini karena Hyun Jung, istrinya.
“Apa?” ucapnya tenang. Kyuhyun menatapnya sungguh-sungguh.
“Kapan kau akan menikahi adikku?”
Kibum tersentak kaget mendengar pertanyaan sensitif itu. Ia memalingkan pandangan ke arah lain.
“Kenapa kau menanyakannya?”
“Aku hanya tidak ingin kau menggantungkan perasaan Ja Rin. Kau tahu bukan, adikku itu mudah sekali terluka. Kuharap kau bisa segera memperjelas hubungan kalian. Sudah hampir dua tahun sejak kalian menjadi kekasih, bukan. Apa itu tidak terlalu lama?”

Kibum terdiam. Sebenarnya, ia pun sudah ingin membawa Ja Rin ke depan altar, mengikatnya dengan tali suci yang disebut ikrar pernikahan namun ada satu hal yang Kyuhyun tidak tahu. Orang tuanya. Orang tua Kibum belum menghendaki Kibum menikah. Ia tidak akan mengatakan masalah keluarganya pada siapapun sekalipun Kyuhyun adalah sahabatnya sekaligus kakak Ja Rin, kekasihnya.
Sekarang, yang bisa dilakukan Kibum hanya tersenyum.

“Berdoalah semoga kakakku yang aneh itu segera menikah.”

~===o0o===~

134 thoughts on “Shady Girl Ryeowook’s Story (Part 11 – END)

  1. yee happy ending, tapi kurang greget gitu thor 8
    oia thor, pacarnya yesung itu eun ri kan ? *kalo gak salah namanya eun ri pas aku baca di shady girl kyuhyun*
    nah eun ri itu orng yg sama sama eun ri temen kerjanya henry lau disini yah ?
    aku penasaran soalnya apa nanti bakal ada cinta segitiga antara yesung-eunri-henry ? *sotoy*
    pokonya aku tunggu yesung story deh sma leeteuk dan apa ada henry story juga ??
    aku akan menunggu pokonya :*

    *banyak ngomong banget nih reader satu*
    mian aku cerewet hanya terlalu bersemangat mengapresiasikan rasa sukaku sama shady girl ini hihi
    gomawo author your shady girl series is the best !
    jjang
    oke deh lanjut ke heechul yah ^^

  2. Daebakk…………!!!!!!!!!!!!!
    Ceritanya keren banget. hehe.
    Mian baru comment di part terakhir keasyikan baca ff shady girl yang lain.
    Thor yang ini dibuatin after storynya donk.
    Di Heechul story emang udah nikah tapi masih agak gantung.
    Please ya. Di tunggu ff yang lain. Terutama main cast selanjutnya

  3. paling demen baca shandy girls….walau bnyk capter tpi gax ngebosenin karna ganti” main cast’y…bye the way Ryewook gax dpt jatah squel ya thor sperti yg laen…. itung” bwat kado ulang tahun bang wooki

  4. Author !! 대박 !! Suka banget ceritanya. Tapi kenapa cuma segiru doang thor?? Pendek banget . Hikss ㅠ.ㅠ Kurang banget thor. Thor, author bikinin epilog untuk cerita ini dong thor. Yayayaa?? Hhe
    Keep writing thor. Ditunggu cerita cerita mengejutkan lainnya. Siapa tau author bikin karakter mata-mata gitu kan. Hehehe . Surprise banget ternyata ryeowook anak mafia. Jarang-jarang ada cerita kaya gini soalnya. ㅅ.ㅅ
    Author 화이팅 !!

  5. Sumpah q terperangah liat ryeowook ngelamar dpan wartawan,ani tpi seluruh korea.q pngen..
    q jga penasaran ma kisah kimbum sebenernya.kapan mereka brahir di altar

  6. Autor ,a pengen ketawa ngebayangin
    Wooki oppa jd mafia ,tp crita y bgs
    A ngikutin sandy girls dr awal
    Tp a br sempet komen skrng,
    A mu ty ver leeteuk story d bkn ngga?
    Plis moga ajah d bkn. Author daebak gomawoo.

  7. Seneng sma nih couple, Awal nya ketemu berantem, tpi ujung”nya jga cinta. :3

    Gomawo eonni dh bikin Shady Girl versi nya Ryeowook oppa, si eternal maknae *bow*🙂

    Mianhae eonni, dh prtma bca nih ff, aku jdi siders😦 mian.
    Tpi kan pas ending aku koment.

    Pokok nya 1 kata buat ff nya eonni “DAEBAK”!!!!🙂
    Keep writing and hwaiting eonni🙂

  8. Eonni minta sequel.a ryeowook story..
    Uda 1taun nih pengen mbaca sequel stelah ryeowook oppa bilang mau menikahi fanny eonni..
    Kyk.a seru wkt ryeowook oppa ama fanny eonni nikah trs punya anak..
    Huaaaa daebaaakk

  9. Akhirnya komplit juga baca Shady Girl series nya. Cm kurang Yesung (seq nya kpn berlanjut itu thor??) Ama klo bisa Henry Lau juga donk. Dia kan sering banget nongol.. (.̮)‎​​ђёéђё(.̮)‎​​ђёéђёђё..

  10. wooo… Happy ending…

    Sbnrny susah bgt nyocokin sosok wook dlm crt ini… Soalny wook yg aq tau orgny penuh kceriaan dan klu ngomong tu ngasal.. Beda sm sosok di crtni… Tp wlpn gt feel ny dpt bgt koq authornim…

    Aq sk sm crtny… Daebaak…

  11. Salam kenal q reader baru,ya ampun suka banget ma shady girl wook,cerita na beda bgt, n q minta after story na dong bis smua shady girl punya after story tp wook q lun ad, plisss

  12. Chingu pas ryewook bilang mau nikah nya bulan depan…tapi kok pas bagian tiffany jadi minggu depan?? Sejauh nh lbh suka shady girl eunhyuk sm kibum…hehe

  13. Hai salam kenal q pembaca baru
    Suka banget ma Shady girl ff
    Dan yg paling suka Shady girl Ryeowook
    Lw boleh minta epilog yg ryeowook
    Setiap Shady girl ada epilog na koq ryeowook gk sih
    Tolong buatin dong itung2 bwat hadiah Wook yg mw wamil

Your comment

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s