Shady Girl Ryeowook’s Story (Part 10)

Tittle : Shady Girl Ryeowook’s Story Part 10
Author : Dha Khanzaki a.k.a Shin Jeyoung
Genre : Romance, kekerasan

Main Cast

  • Tiffany Hwang
  • Kim Ryeowook

Cuap-cuap author : Bikin FF yang ada hubungannya ama dunia mafia ternyata susah yah, apa lagi sambil memasukkan unsur-unsur actionnya *elap keringet* Terima kasih sudah mengikuti FF ini sampai part sebelum ending ini *terharu* Untuk ke depannya jangan bosen baca FF gaje buatan author amatir seperti saya *hiks hiks*

Kekurangan FF ini pasti banyak, tapi author tetep mengharapkan reader-deul memberikan komentar^_^

Happy Reading ^_^

Shady Girl Ryeowook's Story by DhaKhanzaki1

===Part 10===

Ryeowook duduk termenung di tepian ranjang. Kepalanya melayang pada rencana untuk memulangkan Tiffany dengan selamat esok hari. Ini harus dipikirkan matang-matang. Ayahnya bisa saja berubah pikiran dan mengacaukan segalanya.
“Apa kau tidak punya baju yang lebih besar?”
Suara Tiffany membuat kepala Ryeowook terangkat. Ia sedikit terpana melihat Tiffany dalam balutan kemeja miliknya. Yang membuat napasnya hampir saja terhenti adalah karena panjang kemeja itu hanya menutupi setengah pahanya saja. Tapi entah kenapa jika gadis itu yang memakainya terlihat pantas. Apa karena dia seorang artis?
Tiffany sudah terbiasa memakai pakaian seminim ini, namun entah mengapa ia merasa sangat gugup. Apa karena di depannya sedang duduk pria yang ia cintai?
Ryeowook pun merasa gugup. Tiffany ikut duduk di samping Ryeowook.
“tidurlah lebih dulu.”
“Ne..” Tiffany menyibakkan selimut lalu membaringkan diri. Ryeowook bangkit lalu ikut membaringkan diri di samping Tiffany. Keadaan sunyi dan sepi membuat mereka semakin canggung. Dengan gugup Tiffany membalikkan tubuhnya membelakangi Ryeowook. Ia mengumpat pelan dalam hati.
“Ah, sial sekali. Kenapa bisa segugup ini”

Ryeowook menatap langit-langit kamarnya dengan pikiran melayang-layang. Banyak sekali masalah yang simpang siur di dalam otaknya.
“Mi Young-ah..” lirihnya memanggil Tiffany.
Gadis itu mengerjap mendengar nama koreanya disebut. Secepat kilat tubuhnya membalik menghadap Ryeowook.
“Darimana kau tahu nama Korea-ku?”
“Aku melihatnya di tanda pengenalmu yang kau tinggalkan waktu itu.”
Tiffany berdecak sebal mengingat kejadian memalukan saat mereka pertama kali bertemu dulu. “Apa dari situ juga kau mengetahui kode rumahku?”
“Em, bukankah kodenya hari ulangtahunmu sendiri?”
“Huh, aku akan menggantinya lain waktu..” gumam Tiffany kesal. Ia melirik Ryeowook yang tak bergeming dari posisinya.
“Apa kau memiliki mimpi yang ingin kau wujudkan?” tanyanya penasaran, demi mengubah suasana kaku.
“Tentu saja.”
“Oh, ya. Apa itu?”
“Aku ingin membuka sebuah coffe shop”
“Wuaaahh..” Tiffany berseru kagum mendengarnya. Ia tak menyangka jika Ryeowook memiliki mimpi seperti itu. Ia menerawang membayangkan Ryeowook dapat mewujudkan mimpinya kelak. Ah, pasti sangat menyenangkan.
“Kenapa kau tertawa?” Ryeowook heran karena gadis itu kini justru tersenyum sendiri.
“Ani.” Tiffany menggelengkan kepalanya lalu kembali menatap namja itu. bersiap memberikan pertanyaan selanjutnya.
“Kudengar ibumu meninggal saat kau kecil” ujar Tiffany, membuat Ryeowook menoleh sekilas padanya.
“Ya.” Jawabnya singkat, nyaris terdengar seperti gumaman kecil. Tiffany melihat ada raut kesedihan dalam ekspresinya.
“Maaf, sepertinya aku sudah salah bertanya.”
“Tidak apa-apa. Itu cerita lama. Aku hanya tidak ingin mengingatnya” Ia terdiam sejenak. “Ibuku meninggal karena dibunuh oleh mafia yang menjadi musuh kelompok kami.” Lanjutnya membuat Tiffany membelalakkan matanya. Dibunuh? Terdengar mengerikan meskipun sebenarnya saling bunuh membunuh bukanlah hal aneh dalam dunia mafia.
Ryeowook mendudukkan dirinya di atas ranjang. Dengan ekspesi lelah bercampur sedih ia melanjutkan ceritanya. “Ibuku terbunuh di depan mataku sendiri”

Tiffany ikut bangkit lalu duduk di samping Ryeowook. Hatinya seolah bisa merasakan bagaimana perih dan sakitnya perasaan namja itu saat menceritakan kisah buruk itu.
“Saat itu aku baru saja pulang sekolah. Mendadak saja datang beberapa mobil hitam yang menjegat jalanku lalu membawaku masuk. Ibuku yang melihatnya berlari mengejar dan ikut tertangkap. Orang-orang yang menculikku saat itu berencana menjadikanku alat untuk mengancam appa. Namun appa tak kunjung menunjukkan respon meskipun mereka sudah memakaiku dan ibu untuk mengancamnya. Karena marah, mereka lantas ingin membunuhku. Dan yang terjadi justru Ibuku yang..”
“Arraseo. Tak perlu dilanjutkan..” potong Tiffany segera. Ia sudah tidak sanggup mendengar apapun lagi. Ryeowook terlihat sangat tersiksa ketika menceritakannya.

“Karena itu, aku meninggalkanmu saat Appa memintaku untuk kembali ke Amerika. Aku tidak ingin kau mengalami hal yang Ibuku alami. Aku tidak mau kehilangan orang yang kusayangi untuk kedua kalinya.” Lirih Ryeowook.
Tiffany terkesiap mendengarnya. Aku tidak mau kehilangan orang yang kusayangi untuk kedua kalinya. Apa itu artinya pria ini juga mencintainya? Bolehkah ia menduga hal itu sekarang? bolehkah sekali saja ia berprasangka seperti itu?
“Kau mencintaiku? Benarkah itu?” tanya Tiffany memastikan. Ia berusaha agar tidak terlihat begitu antusias meskipun sebenarnya ia ingin tersenyum lebar lalu memeluk Ryeowook erat.
Ucapan Tiffany berhasil membuat Ryeowook gelagapan. Gawat. Ia tanpa sengaja mengatakan isi hatinya sendiri. Padahal ia sudah berusaha untuk menyembunyikannya. Ia tidak mau memberikan banyak harapan pada gadis ini. Harusnya ia mendepak Tiffany dari kehidupannya. Bukan justru membuatnya bahagia seperti ini.
“Bukan itu maksudku. Aku hanya—“ kalimat Ryeowook terhenti karena saat ini Tiffany memeluknya erat. Dalam hati ia mengumpat. Ah, gadis ini benar-benar..
“Aku tahu kau mencintaiku. Aku tahu..” serunya dari balik bahu Ryeowook. Perlahan-lahan senyum namja itu terbit. Tangannya pun terangkat melingkari tubuh gadis yang memeluknya.
“Mana ada namja yang tega menolakku. Aku terlalu cantik untuk diabaikan.” Lanjut gadis itu membuat senyum Ryeowook terhenti. Ia kembali menggerutu dalam hati. Sindrom princessnya belum sembuh juga ternyata.

“Apa kau bersedia untuk pergi dari hidupku?” Ryeowook kemudian bertanya pertanyaan yang membuat suasana bahagia di antara mereka pecah. Alis Tiffany bertautan dan hatinya menolak dengan keras pertanyaan itu.
“Untuk apa. Aku siap menerima resiko apapun” tegas gadis itu mantap. Tiffany menatap langsung mata Ryeowook untuk meyakinkannya. Kesungguhan Tiffany membuat namja itu luluh. Ia merasa kalah. Mereka saling bertatapan untuk beberapa lama.
Tiffany bisa melihat berbagai macam ekspresi dari sorot mata itu. dan jantungnya sekarang berdebar kencang. Ia menyadari jarak mereka semakin dekat. Tak perlu waktu lama untuknya merasakan moment bahagia itu. Di saat bibirnya menyentuh material lembut, ia menutup matanya. Letupan-letupan rasa bahagia membuncah dari dalam hatinya. Apakah kegembiraan ini akan berlangsung lama?
Begitu Ryeowook menjauhkan wajahnya,Tiffany merasa pipinya memanas karena pria itu malah menatapnya dari jarak yang teramat dekat.
“Terima kasih karena sudah mencintaiku” ucapnya sungguh-sungguh. “Aku akan mengantarmu dengan selamat hingga bandara besok. Sekarang tidurlah yang nyenyak.”
“Oh, ne..” Tiffany merasa gugup saat menjawabnya. Mereka kembali canggung saat membaringkan diri bersamaan.
Benar sekali. Sekarang tak ada yang bisa dilakukan selain tidur. Besok ia akan kembali ke Korea utuk melanjutkan pekerjaannya sebagai artis.

—o0o—-

Jared Kim menatap bulan purnama yang terlihat begitu cantik di langit malam. Hujan sudah berhenti dan sekarang menampilkan pemandangan yang sangat indah. Namun dalam hatinya justru tengah bergemuruh perasan geram, cemas, dan takut. Ia menyesap tehnya sesaat lalu kembali menerawang menatap hitamnya langit dari balik jendela.

“Kita lihat apa yang akan terjadi besok.” Gumamnya berat. Ia hendak menyalakan cerutu mahalnya ketika mendengar suara pintu ruangannya diketuk seseorang. Siapa yang datang menemuinya selarut ini? Seingatnya ia sudah menyuruh seluruh penjaga untuk beristirahat.
“Masuklah..” ucapnya santai. Tak lama kemudian terdengar suara pintu yang menderit. Seseorang masuk ke dalam ruangannya dengan langkah perlahan. Jared Kim menoleh dan sedikit terkejut melihat Tiffany Hwang berdiri di depannya dengan penuh percaya diri. Yang membuatnya sedikit terkesan adalah ekspresi gadis itu yang tampak tenang saja saat berhadapan dengannya.
“Oh, Nona Hwang. Kau belum tidur? udara malam tidak bagus untuk wanita muda sepertimu” ucapnya seraya bangkit. “Duduklah..” Jared Kim menunjuk sofa set yang terletak di sudut ruangan.
“Ah, tidak perlu. Lagipula aku tidak akan berbincang terlalu lama dengan Anda. Aku kemari karena ingin mengajukan sebuah permintaan padamu.”

Mendengar penuturan Tiffany membuat Jared Kim tercengang untuk beberapa saat. Seperti dugaannya, Tiffany Hwang memang gadis yang bernyali besar. Tak pernah ia sekalipun menghadapi orang yang berkata segamblang itu padanya.
“Apa yang ingin kau minta dariku?” Jared Kim memilih untuk mengikuti permainan gadis ini. Tiffany menatap langsung matanya dengan ekspresi serius.
“Berikan putramu kebebasan memilih apa yang membuatnya bahagia.”
Tubuh Jared Kim membeku.
“Kim Ryeowook bukan bonekamu. Dia adalah anakmu. Dan apa Anda tahu apa kewajiban orang tua terhadap anaknya? Yaitu memberikan padanya kebahagiaan serta kebebasan. Anda bisa saja mengatur Ryeowook menjadi seperti apa. Namun, hidupnya tetap miliknya. Anda tidak berhak memaksakan kehendak dan bersikap egois.” Tiffany mengatakannya dengan lugas dan lancar. Tanpa keraguan, tanpa tersendat-sendat sedikitpun. Ia mengutarakan isi hatinya dengan jelas dan percaya diri. Itulah yang membuat Jared Kim terpaku dan matanya membulat sempurna.
Perkataan Tiffany berhasil membuat singa dalam diri Jared Kim terbangun. Pria itu menggeram. Tiffany sangat pintar memancing emosinya.
“Ho, di lihat dari sikapmu dan cara bicaramu terhadapku sepertinya kau sudah tahu siapa aku sebenarnya.” Ujar Jared Kim angkuh. Ia tersenyum licik pada gadis di depannya.
“Ya, aku sudah tahu. Termasuk niat Anda untuk menjadikan Ryeowook penerus gerombolan gangster yang Anda pimpin” Tiffany menjawabnya dengan tenang.
“Dan kau tidak takut padaku? Aku bisa saja menarik pelatuk thomson kesayanganku karena kelancanganmu saat ini” Jared Kim mengeluarkan pistol yang selalu ia bawa kemana-mana dari balik jas yang dikenakannya. Tiffany agak terkejut karena ini pertama kalinya ia berhadapan dengan orang yang bersenjata. Namun ia terus meyakinkan diri bahwa semuanya akan baik-baik saja selama ia menghadapi situasi ini dengan tenang dan pikiran positif.

Perlahan, senyuman Tiffany mengembang dan itu membuat sikap angkuh Jared Kim sedikit melunak. Reaksi Tiffany sungguh di luar dugaannya.
“Tidak ada alasan bagiku untuk takut pada Anda. Bukankah Anda adalah ayah dari Kim Ryeowook? Aku yakin sekejam apapun Anda tetaplah sosok seorang ayah. Karena seorang ayah sejati, tidak akan pernah tega menyakiti anaknya. Bukan begitu, Tuan Jared Kim?”
Jared Kim terbelalak. Seperti sesuatu yang jatuh dan menimpa jantungnya dengan telak, perkataan Tiffany berhasil menusuk jantungnya sedalam pedang yang dihunus oleh jenderal dalam perang pada lawannya. Ia seperti kehilangan suaranya bahkan tidak mampu untuk menjawab ucapan Tiffany.
“Baiklah, hanya itu yang ingin kukatakan. Jika Anda masih mengabaikan permintaanku, akan kupastikan aku akan mengambil Ryeowook dari hidup Anda” Tiffany membungkukkan badannya sebelum akhirnya melenggang pergi dari ruangan itu.
“Yeoja itu..” Jared Kim mendudukkan dirinya dengan lunglai di atas kursi. Entah kenapa, ucapan Tiffany seperti mantra yang merasuki setiap syaraf otaknya. Membuat kepalanya pusing. Ia memijat kepalanya yang mendadak berdenyut tak terkendali.
Ia terdiam cukup lama dengan kepala menengadah ke langit-langit. Sudut hatinya seperti terketuk. Tak bisa dipungkiri ia memang seorang ayah. Tanpa Ryeowook ketahui, sesungguhnya ia sangat terluka ketika mengetahui istrinya mati karena terbunuh oleh musuh. Ia merasa bersalah dan menyesal namun kenyataan membuatnya tetap tegar. Kenyataan bahwa ia seorang mafia tak akan mengubah apapun. Maka dari itu ia harus membuat Ryeowook menjadi pria tegar dan kuat agar tidak lemah saat menghadapi situasi tersulit seperti apapun.

Tiffany Hwang, benar-benar mengingatkannya pada mendiang istrinya yang telah tiada. Sosok yeoja yang pemberani dan rela kehilangan nyawa asal tetap bersama orang yang dicintainya.

—o0o—

Ryeowook kembali menatap Tiffany yang sarapan dengan wajah senang. Ia sebenarnya sedih karena sekarang adalah hari perpisahannya dengan gadis itu. Tiffany akan kembali ke Korea. Kemudian gadis itu akan kembali sibuk dengan kegiatannya di dunia entertainment. Entah kapan ia bertemu lagi dengannya.
“Kau terlihat bahagia..” gumam Ryeowook. Ia melanjutkan makannya yang sempat tertunda.
“Aku akan kembali ke Korea.”
Ryeowook mengangkat kepalanya. “Kemungkinan kita tidak akan bertemu lagi”
“Itu tidak mungkin. Kita pasti bertemu kembali. Aku yakin kau akan kembali ke Korea”
“Kenapa kau sagat yakin?”
Tiffany menyipitkan matanya. “Aku memiliki sixthsense” bisiknya misterius. Ryeowook ingin sekali tertawa namun ditahannya. Pagi-pagi seperti ini Tiffany malah mengatakan sesuatu yang terlalu mengada-ngada seperti itu. dan di saat bersamaan ia justru semakin sedih. Kapan lagi ia akan mendengar ucapan-ucapan mengejutkan dari gadis ini, melihat senyum manisnya, dan melihat sikapnya yang selalu ingin tampak anggun di hadapan siapapun.

Seusai sarapan, Ryeowook segera mengantar Tiffany ke bandara. Mereka tidak berpamitan pada Ayah Ryeowook karena pria itu sudah pergi entah kemana sejak pagi buta.

“Sudah, sampai di sini saja. Jika kau mengantarkanku lebih jauh. Aku takut aku justru tidak akan bisa berpisah dengan tenang.” ucap Tiffany ketika mereka sudah berada di depan pintu masuk bandara. Ryeowook memeluk gadis itu.
“Jaga dirimu. Jika kau sudah bosan menunggu, segeralah mencari pria lain.”
“Huh, puisi lama” cibir Tiffany. Ia melepaskan pelukan Ryeowook. “Tiffany Hwang tidak pernah menunggu cinta. Kembalilah sebelum aku bosan hidup sendiri”
“Aku tidak bisa berjanji”
“Pria sejati harus bisa berjanji”
Ryeowook tertawa. Ia melepaskan pelukannya lalu membiarkan Tiffany masuk ke dalam aula bandara. Ia membalikkan badannya dengan ragu. Mendadak saja, ada perasaan takut melanda dirinya. Firasat apa ini?

Kyaaaaaa!!!!!

Jantung Ryeowook berdebar kencang saat mendengar suara jeritan wanita. Ia cepat membalikkan badan dan matanya membelalak lebar melihat beberapa pria bertubuh kekar menyeret tubuh gadisnya pergi. Siapa mereka! Apa yang akan mereka lakukan pada Tiffany!!!
“Yaaa!!!!” Ryeowook berteriak panik seraya mengejar pria-pria itu. Namun mereka berhasil menyeret Tiffany masuk ke dalam mobil dan melaju dengan cepat meninggalkan bandara.
Seluruh tubuh Ryeowook bergetar menyaksikan kejadian ini. Ia bergegas masuk ke dalam mobil dan mengejar orang-orang itu. kecurigaannya kini tertuju pada ayahnya. Jangan-jangan ayahnya sudah bertindak dan berniat untuk melakukan sesuatu pada Tiffany.

Dengan rasa panik dan khawatir yang berlebihan, Ryeowook mengemudikan mobilnya dengan kecepatan tinggi. Di saat pikiranya sedang kalut, ponselnya bergetar. Ryeowook menjawabnya segera karena ia yakin ini pasti panggilan dari sang pelaku.
“Bagaimana perasaanmu setelah melihat gadis yang kau cintai diculik di hadapanmu sendiri?”
Rahang Ryeowook bergemeretak geram. “Siapa kau!! Apa tujuanmu menculiknya!!”
“Ini kesalahanmu, anak muda. Kau sudah mengabaikanku tempo hari. aku hanya ingin memberikan sedikit pelajaran pada kau dan ayahmu..”
Ryeowook membelalakkan matanya. Jadi, pelakunya bukan Ayahnya sendiri melainkan pria yang ditemuinya tempo hari? Ia memang tidak menghiraukan keberadaan pria itu sama sekali karena terlalu fokus pada Tiffany.
“Jika kau ingin membalas dendam mengapa tidak kau lampiaskan padaku?! Tak perlu kau melibatkan orang yang tidak bersalah” serobotnya tak terima.
“Ah, sayangnya orang tidak bersalah itu adalah orang yang sangat penting bagimu. Jadi menurutku akan sangat efektif menculik wanita ini bila aku ingin membuatmu kalah”

Ryeowook bersumpah ia tidak akan segan-sega menghabisi siapapun yang berani menyakiti Tiffany. Jika sampai ia melihat Tiffany cacat sedikit saja, maka tangannya sendiri yang akan melenyapkan mereka.
“Temui aku di Tower M jika kau ingin melihat gadis ini untuk terakhir kalinya”
“Apa!!Hei—“ Ryeowook melempar ponselnya karena pria di ujung sana memutuskan sambungan begitu saja. membuatnya semakin panik apalagi kata-kata terakhir pria tadi. Temui aku di Tower M jika kau ingin melihat gadis ini untuk terakhir kalinya.

—o0o—

Begitu berhenti di tower yang disebutkan sang pelaku, Ryeowook segera berlari memasuki area yang tak dijaga satu orang security. Menara ini memang sudah lama tidak terpakai dan hanya menjadi bangunan kosong tak berpenghuni.

Sementara itu…

Tiffany merasa dirinya sekarang sedang berada di dalam mimpi buruk. Sekarang di sekitarnya berdiri segerombolan pria berjas hitam yang sering ia lihat dalam film-film bergendre gangster dan kekerasan. Rupanya hal seperti ini benar-benar ada di dunia nyata.
“Gadis cantik..” seorang pria yang sepertinya pemimpin komplotan ini menghampirinya. Ia tersenyum licik membuat Tiffany ingin sekali muntah.
“Lepaskan aku!!” teriaknya. Tangannya dan kakinya kini terikat di sebuah kursi. Ia menatap tajam pria di hadapannya.
“Beruntung mulutmu tidak kusumpal, gadis manis. Ckck.. apa kau tidak tahu pria yang kau cintai itu siapa? Kehidupannya sangat menyeramkan. Kenapa kau jatuh cinta padanya? dasar gadis malang” Pria itu menggelengkan kepalanya prihatin.
“Kenapa, kenapa kau menculikku? Aku tidak akan berguna jika kau ingin memakaiku sebagai umpan”
“Siapa bilang. Lihat saja, dalam beberapa detik lagi pria yang kau cintai ini pasti sudah sampai kemari”
Tiffany terbelalak karena di saat yang bersamaan, ia mendengar suara Ryeowook meneriakkan namanya.
“Tiffany!!!!”

Seluruh orang di ruangan itu menoleh ke arah pintu masuk. di saat itulah senyum di bibir pria jahat itu tersungging sementara Tiffany terperangah kaget. Kenapa pria ini datang??

Ryeowook mendesah lega karena ia melihat Tiffany baik-baik saja. Pandangannya segera teralih pada pria yang ditemuinya tempo hari. Ia bahkan lupa siapa namanya.
“Kau..” Ryeowook berjalan cepat namun dihalangi oleh para bodyguard itu.
“biarkan dia..” ucap pria itu santai, membiarkan Ryeowook menghampirinya.
“Lepaskan Tiffany” Ryeowook berkata dengan nada tajam. Ia memang sedang tidak bercanda saat ini.
“Tidak sebelum kau meminta maaf atas ketidaksopananmu tempo hari.”
Ryeowook mencoba menahan emosinya. Ia menundukkan kepala sejenak lalu mengangkatnya kembali. “Baiklah, aku minta maaf.”
Pria itu tersenyum licik dan tingkahnya semakin menjadi-jadi. “Kau harus mencium kakiku jika ingin kumaafkan.”
“What???!!!” Ryeowook terkejut bukan main. Tiffany segera menyela karena ia sudah tidak tahan hanya mendengar mereka berbicara satu sama lain.
“Jangan! Kau tidak perlu melakukannya!!”

Plakk!!!

“Kau!!!” Ryeowook berteriak kaget sementara Tiffany tercengang karena mendapatkan tamparan dipipinya.
“Diamlah. Kau tak berhak ikut campur urusan laki-laki” ucap pria itu dingin. Tiffany langsung membungkam bibirnya yang terasa perih. Di sudut bibirnya mengalir darah. Ia ingin sekali menangis namun ditahannya. Ini pertama kalinya ia ditampar seumur hidupnya.
Ryeowook bersiap melayangkan tinjunya namun dengan cepat pula bodyguard-bodyguard di belakang pria-pria itu menahan tubuhnya.
“Ayolah, jangan memperkeruh suasana. Cepatlah minta maaf. Atau aku akan kembali menyiksa gadismu ini.” Pria itu berdiri di belakang Tiffany, menjambak rambut gadis itu dengan keras. Tiffany merintih kesakitan.
“Hentikan!!” teriak Ryeowook sambil berusaha memberontak.

Pria itu tertawa seperti iblis yang kegirangan karena berhasil menyiksa korbannya. Ia membuka ikatan kaki gadis itu lalu menariknya berdiri. Tiffany meringis karena tangannya dicengkram keras.
Ryeowook benar-benar ingin menghabisi pria itu karena sudah berani menyakiti Tiffany.
“Ayo katakan pada pacarmu agar dia mau meminta maaf padaku.” Perintahnya pada Tiffany. Gadis itu dengan beraninya membantah.
“Tidak akan. Untuk apa meminta maaf pada pria brengsek sepertimu” jawab Tiffany tajam. Pria itu jengah, dan mendorong Tiffany hingga gadis itu tersungkur di lantai. Pria berusia 40 tahunan dengan wajah kejam itu mendekati Tiffany yang terbaring lemah di lantai dengan ekpresi merendahkan.
“Kau sangat pemberani. Kau tidak tidak tahu sedang berhadapan dengan siapa,HAH!!” kakinya menginjak pundak Tiffany hingga tubuh gadis itu semakin tersungkur di lantai.
Tiffany hanya bisa menangis karena ia benar-benar direndahkan kali ini. Ia bahkan tak sanggup menatap Ryeowook meskipun namja kini merasa hatinya tersayat-sayat melihat gadis yang dicintainya diperlakukan semena-mena.
“Baik, aku akan melakukan apapun yang kau mau!!!!” teriak Ryeowook. Ia sudah tidak tahan melihatnya menyiksa Tiffany. Pria itu menyeringai lalu mendekati Ryeowook.
“Cium kakiku maka kau akan kumaafkan.”

Bodyguard yang mencekal kedua bahu Ryeowook melepaskannya. Dengan gerakan perlahan, ia berlutut dihadapan pria tak berperikemanusiaan itu. Ia membungkukkan badannya hendak menuruti keinginan pria itu. Sudut matanya melirik Tiffany yang duduk lemah di hadapannya. Mendadak saja rasa marahnya tersulut. Ia segera bangkit dan dengan gerakan cepat tangannya melayangkan tinju ke pipi pria itu hingga pria itu tersungkur jatuh. Para bodyguard itu segera menahannya kembali. Tak ayal juga ia menerima beberapa pukulan dari mereka.
“Kau tak pantas menerima permintaan maaf dari siapapun!!” bentak Ryeowook, dengan mata menatap tajam pria itu.

“Tidak ada yang pernah berani memukul seorang Brian John!!” teriaknya sambil bangkit. Ia bergerak cepat mendekati Ryeowook lalu membalas melayangkan tinju tepat ke arah perut Ryeowook dengan sekuat tenaga.
Ryeowook merintih kesakitan merasakan sakit bercampur perih yang menyerang perutnya. Rasanya begitu menyiksa hingga ia ingin mengeluarkan seluruh isi perutnya.
“Kau benar-benar minta kubunuh” John mengeluarkan sebuah revolver dari dalam saku jasnya. Ia menghadapkan revolver itu ke arah Ryeowook.
“Andwaee!!!” Teriak Tiffany kencang.

Jangan pernah meremehkan kemampuan anak dari Jared Kim. Ia tidak akan menjadi penerus jika tidak dibekali berbagai macam keterampilan termasuk kemampuan gerak refleks. Sebelum peluru itu mencapai tubuhnya, Ryeowook menginjak kaki salah satu bodyguard lalu menundukkan tubuhnya.
Selongsong peluru itu mengenai salah satu bodyguard yang di sisi kanan Ryeowook. Dengan cepat pula ia menyabet pistol yang di selipkan di sabuk salah satu bodyguard lalu menembakkan satu peluru ke arah John dan tepat mengenai tangannya. Brian John terjungkal jatuh dan Ryeowook pun menembakkan peluru-peluru itu ke arah bodyguard-bodyguard di sana. Hanya mengenai tangannya saja. Ia segera menghampiri Tiffany, melepaskan ikatannya lalu menariknya pergi dari sana. Mereka berlari sambil sesekali menembakkan peluru ke arah pelakang.
Ryeowook menarik Tiffany masuk ke dalam tangga darurat, menuruni tangga itu dengan cepat melewati setidaknya tiga lantai sebelum mencapai lantai dasar. Ketika mencapai dasar, Ryeowook membelalak kaget karena di sana ia berhadapan dengan belasan pria-pria bawahan dari Brian John. Ia menempatkan Tiffany di belakang tubuhnya.
“Larilah. Selamatkan dirimu” bisik Ryeowook. Ia tidak yakin bisa melawan mereka semua sendirian.
“Shireo. Aku akan tetap di sini bersamamu.” Tiffany malah mendekap erat lengan Ryeowook.
Sekarang bukan saatnya untuk berdebat. Ryeowook sudah siap di posisinya untuk melawan. Namun sebuah suara letusan pistol terdengar, membuat salah satu dari pria yang menghadang jalan Ryeowook terkapar jatuh setelah sebuah peluru bersarang di dadanya. Semua perhatian teralih ke arah pintu masuk. di sana berdiri beberapa pria yang Ryeowook kenal dengan baik. Mereka adalah orang-orang bawahan ayahnya.
“Tuan Nathan, lari!!” teriaknya.

Perang pun terjadi antara dua kubu mafia terbesar di las vegas. Ryeowook segera melarikan diri dari peperangan itu karena ia lebih mementingkan keselamatan Tiffany. Ia mendesah lega ketika sudah berada di tempat yang aman. Mereka berjalan ke arah mobil Ryeowook yang terparkir tak jauh dari sana.

Tanpa kedua orang itu sadari,sebuah mobil berwarna putih yang dikemudikan oleh Brian John melaju dengan kecepatan tinggi ke arah mereka. Tiffany menyadarinya, ia segera mendorong Ryeowook dari tempatnya berjalan.
“Kyaaaaaa…”
“Tiffany!!!!!”
Bersamaan dengan suara teriakan Tiffany, Ryeowook tercengang melihat gadis yang dicintainya tertabrak mobil. Tubuh gadis itu terhempas ke samping, sementara mobil itu pergi.
“Tiffany!!!” Ryeowook bergegas bangkit menghampiri tubuh Tiffany yang mengalirkan banyak darah terutama dibagian pundaknya yang tersayat pecahan beling yang berasal dari kaca jendela bangunan itu yang sudah hancur.
“Tiffany… Tiffany..” Ryeowook mengguncang tubuh gadis itu. Ia menangis melihat gadis yang di cintainya terluka seperti ini. Tiffany tak kunjung sadar juga.

Jared Kim menatap kejadian itu dari jauh. Ia ingin sekali mendekat namun tidak bisa. Ia hanya menatap sebuah benda menyerupai remote kontrol di tangannya lalu menekan tombol merah yang terdapat di benda itu. Tak lama sebuah ledakan besar pun terjadi. Mobil yang dikemudikan Brian John meledak dan terbakar dengan hebatnya. Ia sudah memasang bom di mobil itu.
“Hanya ini yang bisa kulakukan sebagai seorang ayah. Selanjutnya kuserahkan padamu” lirihnya pelan. Ia menyuruh supir untuk melajukan mobil meninggalkan tempat itu.

Ryeowook merasa dunia di sekitarnya memburam saat merasakan denyut nadi Tiffany perlahan melemah. Nafas gadis ini pun sudah tak berhembus lagi. seluruh tubuhnya bergetar.
“TIFFFANY!!!!!!!”

—–o0o—-

Tiffany di larikan ke ruang IGD dalam keadaan sekarat. Ryeowook menunggu di depan ruang itu dengan perasaan campur aduk. Masih terngiang dalam benaknya detik-detik di saat Tiffany mendorong tubuhnya, dan membiarkan dirinya sendiri yang tertabrak mobil.

Ia bahkan sudah tidak mempedulikan apapun lagi meskipun setelahnya ia mendengar suara ledakan yang sangat besar. Mobil Brian John meledak. Ia tahu itu pasti pekerjaan ayahnya. darimana ayahnya tahu tentang Tiffany yang diculik oleh musuhnya sendiri? mungkinkah sang appa menyadap teleponnya?
Namun bukan itu masalahnya. Sekarang ia sangat ketakutan. Tiffany. Gadis itu harus selamat. Dulu Ia selalu berpikir bahwa kehadiran gadis itu dalam hidupnya selalu membawa kesialan. Sekarang ia sadar, kesialan itu bukan Tiffany melainkan dirinya. Seharusnya ia tidak hadir dalam kehidupan Tiffany. Bagaimana jika gadis itu….
Tidak. Ia tidak akan bisa memaafkan dirinya sendiri jika hal itu sampai terjadi.

“Tiffany Hwang tidak pernah menunggu cinta. Kembalilah sebelum aku bosan hidup sendiri”
“Aku tidak bisa berjanji”
“Pria sejati harus bisa berjanji”

Ryeowook mengerang frustasi mengingat percakapan terakhir mereka sebelum semua ini terjadi.

===To be continued===

{See you at the end part ^_^}

69 thoughts on “Shady Girl Ryeowook’s Story (Part 10)

  1. Oh my!!

    Tiff bener” hebat dah pengorbanan’a buat wookie..

    Ternyata masih ada rasa sopan di dunia per-mafia-an(?)

    Next..😉

  2. Huaa huaa huaa *teriak gaje bacaa part ini* +,+
    sukaa pas bagian di bandara, tiff sama wooknya so sweet😀
    sumpah pingiinn ngunyah itu brian john :3
    appanya wook sifatnya bikin nangis” gaje, baiknya muncul pass udah narik wookie dalam lingkaran mafia huhh:/

  3. Aaaaa berkaca2 gue adegan nya kasian tiffany gak salah apa2 di siksa gitu!!
    untung bisa kabur karna ada bodyguard appa nya..
    ya tuhan Tiffany sekarat lg.. semoga sembuh cepet gak rela yang aneh2 terjadi

Your comment

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s