Sound of Rain, Sound of Love

FF Special Henry’s Birthday

Judul : Sound of Rain, Sound of Love
Author : Dha Khanzaki a.k.a Shin Jeyoung
Genre : Romance
Length : Oneshot

Main Cast :

  • Henry Lau
  • Min Cheonsa

Happy Reading ^_^

Sound Of Rain, Sound of Love by Dha Khanzaki

====Oneshot====

[Author Point of View]

Cheonsa berlari seperti orang kerasukan menuju halte bus. Sadar sepatu hak tujuh sentinya menghambat gerakan kaki, Cheonsa melepas cepat sepatu itu lalu membuangnya sembarangan. Tak lupa juga ia mengangkat gaun pengantin dengan ekor menjuntai panjang menyapu tanah agar ia semakin leluasa berpacu dengan waktu demi tiba di halte sebelum bus yang membawa pria yang dicintainya melaju pergi. Hatinya ikut rusuh, sama seperti angin yang membuat tatanan rambut dan make-upnya kacau balau. Bus yang berhenti di halte itu mulai bergerak, membuat hatinya mencelos jatuh dan bibirnya mengeluarkan seruan pilu.
“Tidak, jangan pergi dulu!!” tak peduli Cheonsa berteriak hingga tenggorokannya sakit, bus itu tetap bergerak pergi membelah jalanan kota Seoul yang ramai padat siang itu.
“Kajimaaaaaaaaa!!!!” teriaknya hingga tenggorokannya terasa sakit.

Cheonsa menatap nanar bus itu dengan mata berkaca-kaca dan hati hancur berantakan. Kakinya tidak sanggup lagi menopang tubuhnya, membuat tubuh letih dan tak berdaya itu ambruk di atas trotoar. Satu detik kemudian bendungan air matanya jebol, gadis itu menangis lirih di sana. Ia tidak mempedulikan dengungan yang berseliweran di sekitarnya, berasal dari orang-orang yang heran menonton seorang gadis memakai baju pengantin lengkap dengan aksesori dan make-upnya menangis di atas trotoar. Hanya satu hal yang sekarang dicemaskan Cheonsa; pria yang dicintainya telah pergi. Mungkin kelak tak akan pernah ditemuinya lagi.
“Henry bodoh!!” Cheonsa meratapi dirinya sendiri, menyesali diri mengapa dulu ia tidak menerima lamaran Henry Lau—pria yang dicintainya dan justru menerima perjodohan yang dikehendaki kedua orang tuanya. Hatinya terasa sesak dan pedih. Serupa dengan rasa sakit karena luka bakar.
Seandainya ia tidak melakukan hal tolol itu, ia tidak akan berakhir seperti ini. Hari ini ia telah kabur dari acara pernikahannya dengan pria yang tidak ia cintai dan memilih untuk mengejar cintanya. Cheonsa masih merasa bisa memperbaiki kebodohannya tetapi sekarang ia sadar, segalanya sudah berakhir ketika bus itu pergi. Henry Lau sudah pergi.

Seandainya, seandainya saat itu ia tidak jatuh cinta pada Henry, ia tidak akan pernah tahu rasanya patah hati. Ia tidak pernah tahu bahwa jatuh cinta bisa berarti penyesalan dan sakit hati.

—o0o—

Seoul, tiga bulan sebelumnya,

[Cheonsa Point of View]

“Bagaimana ini, aku dijodohkan oleh Appa!!” belum dia mendudukkan diri di kursi di depanku mulut ini sudah tidak bisa menahan bendungan kata-kata yang ingin kutumpahkan padanya, pria berambut pirang kecokelatan yang kini berdiri dengan raut tercengang di depanku.
“Apa, dijodohkan?! Dengan siapa?” Henry bertanya setelah ia berhasil mengendalikan keterkejutannya lalu duduk di tempatnya. Bagus dia bertanya. Sebab sejak Appa memberitahukan berita ini semalam, aku tidak bisa melakukan apapun lagi dengan tenang. Aku butuh seseorang untuk mencegahku menyetujui ide gila Ayahku dan kuharap, Henry bisa melakukannya. Alasan utamanya karena aku mencintai pria di depanku ini.
“Appa bilang namanya Mao. Dia lahir di China tapi sekarang dia sedang studi di Korea. Dia anak teman Appa. Setelah melihat anak itu Appa segera setuju menjodohkan aku dengannya tanpa bertanya padaku dulu sebelumnya,” mataku mulai berkaca-kaca jika mengingat betapa lemahnya aku saat berdebat dengan Appa semalam. Aku tidak memiliki alasan apapun untuk menolak itu. Aku tidak memiliki kekasih dan usiaku sudah 24 tahun. Usia yang sangat pantas untuk menikah.

Dengan mata yang sudah siap menangis aku menatap Henry yang ekspresinya tidak bisa kubaca. Pria itu terlihat sedih dan kecewa. Aku tidak berani berharap namun apakah aku boleh menyimpulkan dia tidak suka berita ini karena dia mencintaiku? Sudah setahun ini kami bersama sebagai sahabat, diulang SEBAGAI SAHABAT!! Dia mungkin tidak merasakan perkembangan perasaan dari sahabat menjadi cinta namun aku begitu. Kebersamaan kami begitu indah, membuatku selalu bermimpi suatu hari nanti akan berdiri bersamanya di depan altar untuk mengucap janji sehidup semati.
“Apa yang harus kulakukan?” lirihku, nyaris memohon. Henry terhenyak melihat ekspresiku. Aku berharap banyak padanya. Kumohon Henry, katakan bahwa kau mencintaiku setelah itu kita menghadap Ayah bersama untuk membatalkan ini.
Tak kusangka detik berikutnya Henry tertawa. Aku mengerjapkan mata berkali-kali karena terkejut. Apanya yang lucu? Aku sedang dilanda kekhawatiran tingkat tinggi pria ini justru meledakkan tawanya di saat yang tidak tepat? Menyebalkan!!!!
“Ayolah Cheonsa, kenapa kau harus mencemaskannya?”
Aku tercengang mendengar untaian kalimat yang terucap begitu santai dari mulut Henry. Aku bangkit dari dudukku, menatap matanya dengan raut kesal bercampur frustasi. “Kenapa-Aku-Mencemaskannya??!!!” ulangku penuh penekanan. Aku tidak peduli sama sekali pada orang-orang di kafe ini yang mulai tertarik melihat aksiku. “Tentu saja aku mencemaskan hal ini. Ayahku tidak pernah main-main dengan ucapannya. Perjodohan ini mungkin akan berlanjut pada pernikahan.”
“Lalu?”
“Lalu..” aku kehilangan kata-kata. Aku sungguh heran kenapa Henry tidak bereaksi sama sekali dengan berita ini. Apa dia benar-benar hanya menganggapku sahabatnya?
“Cheonsa dengar..” Henry memintaku kembali duduk. “Aku yakin ayahmu sudah memikirkan masak-masak keputusan ini. Jika dia memang menginginkan pria itu menjadi suamimu, itu artinya pria itu-lah yang terbaik untukmu. Lagipula umurmu sudah 24 tahun. Untuk wanita kau sudah sangat pantas menikah. Berbahagialah.”

Aku tidak memiliki kata-kata apapun karena detik berikutnya aku resmi menangis. “Waeyo?” Henry kelabakan panik. Dia beranjak dari kursinya untuk menenangkanku. “Kenapa kau menangis, Cheonsa? Apa kata-kataku salah?”
“Salah sekali..” isakku. “Seharusnya kau mengerti maksudku menceritakan ini padamu. Aku tidak suka perjodohan ini..”
“Lalu apa yang kau harapkan dariku? Kau tahu bukan aku tidak memiliki kuasa apapun untuk menolak permintaan Ayahmu?” ucap Henry iba. Aku tahu hal itu tapi aku ingin jawaban lain darinya. Aku ingin bertanya tentang perasaannya namun ego menahanku.
“Kau tidak akan percaya pria seperti apa yang dijodohkan denganku,” ucapku.
“Oh ya? Seperti apa?”
Aku segera mengeluarkan selembar foto dari dalam tas tanganku lalu menyerahkan itu padanya. Henry memperhatikan foto itu sejenak lalu meringis.
“Dia..”
“Benar sekali!!! Ayah jahat sekali menjodohkanku dengannya! Dia bahkan terlihat sangat culun. Lihat kacamata tebal yang dipakainya, dia tidak pernah tahu fashion apa!!” seruku sebal. Pria yang ada dalam foto itu adalah sosok pria berambut hitam, mata sipit dengan kacamata tebal tersangkut di hidungnya.
Henry menahan tawanya, “Kau bisa mengajaknya ke Paris Fashion Week jika sudah menikah nanti,” candanya memanasi.
“Henry Lau!!” teriakku kesal. “Aku tidak mau menikah dengannya?”
“Wae? Apa karena dia culun? Atau karena dia akan membuatmu malu?”
“Bukan, tapi karena…” aku mengatupkan bibirku lagi.
“Karena apa?”
“Sudahlah! Kau menyebalkan!!” aku mendorong Henry lalu pergi dari kafe itu.
“Loh Cheonsa kau mau kemana? Di luar sedang hujan lebat!!” aku tidak mempedulikan suara teriakan Jasmine Eonni saat aku keluar melewatinya. Dia adalah kakak perempuan Henry, pemilik dari kafe yang sekarang kutinggalkan.

Aku bahkan tidak peduli saat air hujan berlomba-lomba membasahi tubuhku sementara aku berlari menembusnya. Aku terdiam setelah lelah berlari, aku sungguh membiarkan hujan membuatku basah kuyup. Henry selalu bilang, suara hujan adalah suara cinta. Hujan yang turun dari langit dan jatuh di atas bumi menimbulkan harmonisasi nada yang indah, ditambah oleh nyanyian dari tanaman yang menyambut gembira hujan.
“Mungkin bagi manusia hujan tak lebih dari proses alam yang biasa saja, tapi bagi makhluk hidup lain, hujan turun membawa kesejukan dan cinta. Karena itu mereka bisa hidup lebih baik dan lebih bahagia dibandingkan manusia.”
Aku awalnya tidak percaya. Namun lambat laun ucapannya benar. Aku memang merasa lebih tenang di saat diriku larut di tengah hujan.
“Sampai kapan kau akan berdiri di sana nona?” aku terkejut lalu menoleh ke samping. Entah sejak kapan Henry sudah berdiri di sampingku dengan payung menaungi tubuh kami berdua.
“Apa kau sengaja membuat dirimu basah kuyup agar tidak ada yang sadar bahwa kau sedang menangis?” tangan Henry terulur mengusap airmataku. Apa dia sadar aku sedang menangis—karenanya? “Tapi sayang matamu tidak bisa mengelabuiku.” Ucapnya melembut.
“Maaf jika ucapanku tadi menyinggungmu.”
Jantungku berdebar-debar saat tangan Henry melingkari tubuhku. Aku yang tadinya menggigil kedinginan kini mulai menghangat berkat suhu tubuh Henry atau mungkin tubuhku sendiri yang memanas karena pelukannya? Entahlah. Aku hanya tahu aku gembira.
“Tapi aku serius Cheonsa. Sebagai sahabat aku ingin kau bahagia. Pria itu pasti bisa melakukannya..”
Aku tidak menjawab, hanya menempelkan pipiku di dada bidangnya. Aku tidak mau pria itu. Aku mau dirimu, Henry Lau.

—o0o—

“Kau yakin aku harus masuk?”
“Iya. Cepat.”
Henry mendorongku masuk ke sebuah restoran. Ini adalah hari pertemuanku dengan pria bernama Mao itu. Akhirnya aku kalah untuk debat kedua dengan Henry. Pria itu berhasil meyakinkanku tentang perjodohan ini. Setidaknya aku harus menemui pria itu dulu baru baru memutuskan rencana berikutnya.
“Henry..” mohonku. Aku ingin dia ikut namun Henry memilih diam di depan restoran sementara aku menemui pria itu seorang diri. Di dalam restoran, aku mencari-cari pria itu. Appa bilang dia akan memakai coat warna hitam dan kacamata. Aku menemukannya! Dia duduk di kursi sudut restoran.
“Chogi..” sapaku begitu tiba di mejanya. Dia menoleh dan aku langsung dibuat takut dengan kacamata yang bertengger di hidungnya.
“Kau Min Cheonsa?” tanyanya. Astaga, bulu romaku berdiri! Tanpa sadar aku memundurkan langkahku perlahan lalu berbalik keluar dari restoran itu. Lupakan perjodohan! Pria itu ternyata jauh lebih nerd dibandingkan di foto. Aku tidak mau menikah dengan pria seperti itu. Henry Lau tolong aku!!

“Cepat sekali?” Henry terkejut melihatku muncul di depannya lalu menariknya pergi. “Aku tidak mau menikah dengan pria itu. Dia bukan tipeku. Aku tidak akan pernah mencintainya.” Aku berkata sambil berlari dari restoran itu. Henry yang terkejut lantas mencekal tanganku dan kami berhenti berlari. Henry sekarang menatapku dengan kening berkerut.
“Cheonsa…!”
“Apa? Aku memang tidak bisa menikah dengannya!” sewotku kesal.
“Kau pasti bisa. Cheonsa dia itu..”
Aku mulai kesal. Sebenarnya apa yang direncakanan Henry dan Ayahku? Kenapa dia bersikeras ingin aku menikah dengan pria itu?
“BERHENTI MERECOKIKU UNTUK MENIKAH DENGAN PRIA ITU!!!” teriakan frustasiku akhirnya terlontar juga. Henry terdiam, lebih tepatnya terpaku melihat wajah putus asaku. “Kenapa kalian tidak pernah mau mendengarkan apa yang ku inginkan? Kau dan ayahku sama saja! Tidak peka pada perasaan wanita!” aku tak peduli seandainya suaraku habis karena berteriak-teriak di tempat umum seperti ini. Aku hanya ingin tahu betapa kesal, frustasi, marah, dan pusingnya diriku selama berhari-hari karena perjodohan yang tak kuinginkan ini. Mengapa pria ini tidak kunjung menyadari perasaannya meskipun aku sudah banyak memberikan kesempatan padanya untuk menyatakan cinta?
“Cheonsa..” Henry mencoba meraih tangaku namun kutepis cepat. “Aku tidak butuh nasihatmu lagi!” Aku berlari meninggalkan Henry dengan airmata mengucur deras.

—o0o—

Berhari-hari kemudian Henry tidak menghubungiku lagi, lebih tepatnya aku tidak mau menerima teleponnya ataupun membalas pesan singkat yang dikirimkan olehnya. Kami bertengkar. Di sela rasa sedihku aku masih sempat berharap Henry akan sadar bahwa dia membutuhkanku namun seiring berjalannya waktu, kata-kata itu tak kunjung terungkap juga hingga akhirnya Appa memutuskan pernikahanku sebulan berikutnya. Aku tidak bisa berbuat apapun. Itu membuatku semakin frustasi.
Aku mencoba menghubungi Henry untuk meminta bantuan namun pria itu yang mulai mengacuhkanku. Ayah ibuku mungkin tidak tahu namuan aku sering kali menangis sendirian tengah malam sambil memandangi foto-fotoku dengan Henry. Airmataku semakin tidak terbendung saat tangan ini memegang saputangan dengan gambar merpati. Ini adalah benda pertama yang kudapat dari Henry di hari kita pertama bertemu.
Saat itu hujan turun, aku terjatuh karena hak sepatuku patah saat berlari menghindari hujan. Kesialanku tidak kunjung berhenti karena sebuah mobil mencipratkan air kotor pada baju dan wajahku. Saat itu aku ingin memaki, menangis, dan berteriak ‘kenapa aku sesial ini?’ tapi sebuah tangan terulur padaku. Saat kuangkat kepalaku, wajah tampan Henry tertangkap mataku. Dia tersenyum hangat sambil memayungi diriku sementara tubuhnya sendiri tersiram air hujan. Dia memberiku saputangan ini dan kami mulai akrab sejak saat itu.
Mungkin saat itu aku terkena ‘sindrom nightingale’ tapi aku tidak peduli karena aku sudah jatuh cinta padanya.
Ponselku berdering di tengah keheningan malam. Aku terkejut, siapa yang mengirimiku pesan di waktu hampir tengah malam seperti ini?

Maukah kau datang ke kafe kakakku? Ada yang ingin kusampaikan padamu, ini penting sekali.

Aku terkesiap. Hal penting apa yang ingin Henry katakan padaku? Tanpa memikirkan apa-apa lagi aku segera bangkit dari tempat tidurku lalu menyambar mantel panjangku. Lima belas menit kemudian aku sudah tiba di depan kafe milik kakaknya.
“Aku sudah gila, kafe ini tutup di tengah malam seperti ini.” Lihat saja, kafe itu bahkan sudah gelap sama sekali. Tapi tetap kucoba untuk masuk. Pintu yang tidak terkunci membuatku yakin Henry sudah ada di dalam. Suasana gelap sekali. Penglihatanku tidak begitu baik jika di tempat gelap.
“Cheonsa..”
“Kau mengejutkanku!” seruku karena tiba-tiba Henry muncul di depanku dengan sebuah lilin di tangannya. Aku sempat canggung saat bertatapan kembali dengannya namun Henry tidak mengatakan apapun lagi. Dia membimbingku menuju sebuah meja dengan beberapa lilin tertata di atasnya.
“Apa listrik di kafe ini tidak berfungsi?” tanyaku heran saat sudah duduk di sana. Henry tersenyum.
“Aku hanya ingin melewatkan detik-detik ulang tahunku tanpa listrik sama sekali,” gumamnya membuatku sadar sesuatu. Serta merta aku mengecek tanggal di ponselku. Tanggal sepuluh dan sekarang pukul 12 malam kurang, itu artinya beberapa menit lagi adalah ulang tahun Henry! Astaga? Bagaimana aku bisa lupa!
“Henry, mianhae..aku tidak membawa hadiah apapun..” ucapku sedih.
“Gwaenchana..” ucap Henry santai. Dia meletakkan satu botol sampanye dan kue tart di atas meja. Aku merasa sangat bersalah pada Henry hari ini. Sebagai sahabat tega sekali aku melupakan hari ulang tahunnya dan tidak menyiapkan kado apapun. Terdengar dentang jam berbunyi memecah suasana sunyi di antara kami. Henry segera meniup lilinnya setelah berdoa selama beberapa saat. Aku hanya bisa menyanyikan lagu selamat ulang tahun untuknya.

“Hal penting apa yang ingin kau katakan padaku?” tanyaku penasaran. Henry berhenti menikmati kuenya dan beralih menatapku. Apa dia lupa tujuan utamanya memanggilku kemari? Henry tiba-tiba menggenggam tanganku. Aku terkesiap kaget.
“Min Cheonsa, ayo kita menikah.”
Jantungku rasanya seperti jatuh ketika Henry mengatakan itu. Aku tercengang menatap Henry. Pria itu balas menatapku sungguh-sungguh. Dalam binar matanya aku menemukan raut putus asa dan bingung. Sejujurnya aku bahagia, sangat bahagia. Namun di sisi lain hatiku terluka. Pria ini pengecut sekali baru mau melamarku di saat-saat terakhir.
“Kenapa baru memintanya sekarang?” lirihku sedih. “Kenapa baru meminta hal itu di saat pernikahanku sudah di depan mata?” aku memandangnya lekat. Ada kilatan ekspresi yang tidak kumengerti saat mata kami saling bertatapan. Sepertinya Henry ingin mengatakan sesuatu yang lain namun di tahannya mati-matian.
“Apa kau mencintaiku?” tanyaku berat. Henry terdiam, dia melepaskan tanganku lalu menundukkan kepala ragu. Hatiku semakin mencelos. Jika dia tidak mencintaiku kenapa memintaku menikah dengannya?
“Cheonsa, aku akan pergi..” aku terkejut, kali ini sangat terkejut dengan ucapannya. Henry menatapku lekat, “Kita sudah tidak bisa menjadi sahabat selamanya. Suatu hari kita akan sama-sama menikah dan berkeluarga. Aku tidak akan sanggup jika melihatmu menikah dengan laki-lakil lain karena itu..”
“karena itu kau akan pergi meninggalkanku?” tanyaku memotongnya. Aku sudah tahu apa yang akan disampaikan olehnya setelah itu. “Jadi bagimu hubungan kita hanya sampai di sini saja?”
“Cheonsa bukan itu maksudku?”
“Baiklah,” potongku kembali. Aku sudah sangat terluka dengan kata-katanya. Aku cukup paham dengan isi hatinya. Dia memang tidak mencintaiku. Untuk apa aku lama-lama berada di sini?
“Cheonsa kau mau kemana? Aku belum selesai!!!!” aku terus berlari meninggalkan Henry dan itulah terakhir kali aku bertemu dengannya.

—o0o—

Henry mungkin tidak tahu tapi hatiku semakin hancur, kalut dan bingung dari hari ke harinya. Tak terasa hari pernikahanku tiba. Dengan perasaan yang tidak bahagia aku menatap diriku sendiri yang sudah terbalut gaun pengantin. Hari ini, beberapa jam lagi aku akan menikah dengan pria lain dan di saat yang bersamaan aku tidak akan pernah bertemu dengan Henry lagi karena pria itu akan pergi ke tempat yang jauh hari ini.
“Cheonsa, ayo. Pemberkatannya akan dimulai.” Aku menarik nafas sebelum menyiapkan diri. Eomma membantuku berjalan menuju tempat pemberkatan. Aku berjalan dengan perasaan tidak menentu karena pikiranku terbagi-bagi. Aku tidak tahu apakah aku masih bisa hidup dengan perasaan seperti ini setelah menikah nanti. Hati nuraniku seperti memanggil-manggil agar aku tidak menikah dengan pria itu. Tapi akal sehatku menolaknya mentah-mentah.
“Cheonsa,” kudengar Eomma berkata. Aku menoleh. Sepertinya Eomma menyadari ekspresi sedihku karena dia menatapku khawatir. “Pernikahan adalah moment saat dua orang yang saling mencintai diikat oleh janji suci di depan Tuhan. Kau mungkin bisa membohongi kami tapi kau tidak bisa membohongi Tuhan. Eomma dan Appa hanya mengharapkan kebahagiaanmu. Karena itu cobalah tersenyum.”

Aku tersentuh oleh kata-kata itu. Aku tidak ingin membuat Eomma cemas. “Jika Tuhan memang mengetahui hatiku, Dia pasti tahu nama siapa yang tertulis di hatiku. Jika ternyata nama yang kuharapkan tidak sama dengan nama yang dikehendaki-Nya, kurasa itulah yang terbaik untukku.”
Mata Eomma berkaca-kaca. Dia memelukku tepat di saat kami memasuki area pemberkatan. “Kau memang malaikat kami,” ucapnya membuatku malu sekaligus terharu. Setelah itu aku kembali cemas. Aku berharap Henry akan datang ke acara pernikahanku. Aku takut sekali, sungguh. Aku memejamkan mata namun yang kulihat dalam pelupuk mataku adalah bayangan Henry dan Henry. Keringatku mengucur dan Eomma memberiku sebuah saputangan. Aku mengerjap, ini saputangan milik Henry. Seketika semua kenanganku dengan Henry terbayang seperti film yang diputar cepat. Hatiku berdesir cepat. Tidak, aku tidak bisa menikah hari ini. Aku sangat mencintai pria itu..aku sangat mencintainya..

Tiba-tiba aku merasakan desakan untuk berlari dari pernikahan ini dan menemui Henry sebelum pria itu pergi. Tanpa membuang waktu aku pergi meninggalkan tempatku.
“Cheonsaa..kau mau kemana? Pengantin pria sudah datang!!” teriak Eomma panik. Aku menoleh dan melihat pria berkacamata itu di sana. Tekadku untuk kabur dari pernikahan ini semakin menjadi. Aku tidak bisa menikah dengannya. Aku segera kabur dari tempat resepsi tak peduli banyaknya orang yang berteriak panik melihat kepergianku.

[Cheonsa Point of View End]

—-o0o—

[Author Point of View]

Airmata lolos dari sudut mata Cheonsa kala semua patahan memori tersusun sempurna menjadi sebuah gambaran yang menyesakkan dada. Penyesalan memang selalu datang terakhir. Henry sekarang sudah pergi dan kisah cintanya tidak akan pernah sempurna. Ini akibat dari sikap egoisnya. Seandainya sejak dulu ia mengesampingkan egonya dan menyatakan isi hati, ia yakin kisah cintanya tidak akan berakhir sesedih ini.
“Cheonsa…” samar-samar telinganya menangkap suara seseorang memanggil namanya. Tangisannya terhenti. Seperti air es yang mengguyur tubuh, itu berhasil membuatnya sadar. Tubuhnya menegak, suara itu..
“Kau kabur dari pesta pernikahan hanya untuk menangis di atas trotoar seperti ini?”

Cheonsa tidak bisa menyembunyikan rasa kagetnya lagi. Ia segera menolehkan pandangannya ke arah belakang dan betapa terkejutnya saat bola matanya menangkap sosok pria tampan yang menjadi penyebab tangisannya sedang berdiri tenang di depannya.
“Henry Lau..” lirihnya antara terkejut dan takut.
“Ya, ini aku,” Henry dengan senyum mempesona miliknya berjalan mendekat. Matanya menyipit tajam menatap Cheonsa, membuat gadis itu mengerutkan tubuhnya takut sekaligus gugup.
“Apa yang kau lakukan di sini? Bukankah seharusnya kau menikah?”
“Aku,” Cheonsa tergagap lalu mencoba bangkit sambil menghapus airmatanya. Setelah Henry berada di hadapannya mengapa kata-kata yang sudah tersusun di otaknya sejak ia meninggalkan altar menghilang begitu saja?
“Kenapa..” Cheonsa terdiam saat sadar Henry mengenakan tuxedo hitam, mirip seperti baju yang dipakai para pengantin pria. “Kenapa kau memakai baju itu?” karena tercengang, Cheonsa justru membelokkan pertanyaannya.

Henry memandang dirinya sendiri lalu kembali ke wajah bingung gadis di hadapannya. Alisnya terangkat sebelah. “Kenapa? Tentu saja untuk menghadiri pernikahanmu.”
Cheonsa semakin kebingungan setelah mendengar pernyataan Henry. “Bukankah seharusnya kau pergi?”
“Iya. Aku memang akan pergi. Ke pernikahanmu. Kita akan menikah hari ini Min Cheonsa.” Ucapan yang dilontarkan begitu tenang bak permukaan air itu justru membuat jantung Cheonsa rasanya membentur dada dengan keras dan matanya membelalak.
“A-apa???”
Henry menahan senyumnya mati-matian melihat gadisnya itu terperanjat kaget. Secara perlahan ia mendekati Cheonsa yang masih mengedipkan mata beberapa kali mencoba menetralisir kadar terkejutnya. “Kuulangi, Min Cheonsa. Kita akan menikah hari ini. Berkatmu, acara pemberkatannya dimundurkan sampai kau kembali.” Bisik Henry pelan sementara tangannya menarik pinggang gadis itu mendekat. Cheonsa harus mendongakkan kepalanya agar bisa bertatapan langsung dengan manik mata indah Henry.

Gadis itu membuka mulutnya namun tak ada yang keluar, dia terkejut sekali sehingga otaknya mendadak kosong.
“Bagaimana bisa, bukankah pria yang akan menikah denganku adalah pria berambut hitam culun berkacamata bernama Mao?” Cheonsa bertanya dengan suara bergetar. Jelas gadis itu tidak percaya. Ia masih mengira hal yang dialaminya sekarang adalah mimpi. Bahkan mungkin saja Henry yang sedang mendekapnya kini hanyalah refleksi dari kerinduannya.
Henry menatap Cheonsa dengan sorot terluka, “Kau tidak mengenaliku rupanya.” Tangannya yang lincah itu mengusap pipi Cheonsa lembut. “Pria berambut hitam culun dalam foto itu adalah aku, Min Cheonsa. Itu fotoku beberapa yang lalu dan aku memang dipanggil Mao oleh kedua orang tuaku.”
“Tapi dia lahir di China sementara kau..”
“Aku lahir di China, hanya saja aku tumbuh besar di Kanada. Bukankah kau juga tahu aku ke Korea untuk studi masterku?”
“Lalu siapa pria yang kulihat di pesta tadi dan pria yang kutemui waktu itu?”
“Itu kakak laki-lakiku, asal kau tahu, wajah kami memang agak mirip. Dia sangat kolot, tidak suka fashion model baru karena itu aku mengecat rambutku agar tidak selalu dikatakan mirip dengannya.”
“Lalu Jasmine Eonni, siapa dia?”
“Dia kakak iparku, istri dari Kakakku.”
Cheonsa tidak tahu harus berkata apa lagi. Ia merasa tertipu juga konyol. Namun di sisi lain ia lega dan senang. Ternyata sejak awal ia akan menikah dengan Henry.
“Kau bodoh! Jadi selama ini kau membohongiku!” Cheonsa kesal sekali karena sudah terperosok mentah-mentah dalam permainan Henry. Pria itu dengan cepat meraih tangannya dengan mata menatapnya lekat. Cheonsa tidak bisa mengalihkan perhatiannya lagi.
“Ini sebagai hukuman karena kau tidak pernah membiarkanku menyelesaikan kalimatku. Kau tahu, saat kau memperlihatkan fotoku padaku, aku ingin berkata jujur bahwa aku adalah orang yang akan dijodohkan denganmu tapi kau menyelanya. Lalu saat di restoran, aku juga akan berkata jujur bahwa pria itu adalah kakakku yang penasaran sekali ingin bertemu denganmu, kau juga menyelanya. Dan terakhir, saat di hari ulang tahunku, aku sungguh-sungguh ingin melamarmu dengan resmi saat itu dan berkata kita tidak bisa menjadi sahabat selamanya karena aku ingin menjadikanmu istriku tapi kau marah dan pergi tanpa membiarkanku menyelesaikan penjelasanku.”

Mendengar penjelasan Henry yang tenang dan mendalam itu Cheonsa tidak bisa menahan perasaan yang meluap di hatinya. Ia merasa konyol namun terharu. Ia memang selalu menyimpulkan apapun tanpa mendengar alasannya secara menyeluruh. Itu sifat buruknya. Ia malu sekali, sekaligus sedih.
“Kenapa kau tidak pernah memaksaku untuk mendengarkanmu?” airmata Cheonsa kembali merebak. “Tidak tahukah kau aku hampir saja putus asa saat kau berkata akan pergi meninggalkanku?”
Henry terkekeh, sebelah tangannya mengusap lembut pipi Cheonsa yang memerah, “Kau juga tidak tahu betapa tersiksanya aku saat tahu kau kabur dari pesta pernikahan tanpa sempat melihatku? Aku berpikir untuk mengejutkanmu di hari pernikahan setelah menyela semua penjelasanku. Aku memang terkejut mengetahui kau kabur, namun entah kenapa aku senang sekali. Itu artinya, kau sangat mencintaiku.”
Tangisan Cheonsa meledak sudah begitu penjelasan Henry selesai. “Kau jahat..” lirihnya. Henry mengaduh kecil atas pukulan tangan Cheonsa di dadanya meskipun pukulan itu tidak melukainya sama sekali. “Kau dan semua keluargaku sudah membuatku tampak bodoh dan konyol.”
Cheonsa tak peduli meskipun riasannya benar-benar rusak dan wajahnya lebih buruk daripada nenek sihir di film Snow White ataupun airmatanya yang membasahi kemeja putih Henry. Ia benar-benar merasa senang dan lega. Ini bukan tangisan penuh penyesalan seperti sebelumnya. Ini adalah tangisan penuh luapan kegembiraan.
“Terima kasih sudah kembali, Henry Lau.” bisik Cheonsa di sela isak tangisnya. Henry mengulum senyumnya. Ia menghapus airmata di pipi Cheonsa dengan ibu jarinya. Pandangannya terkunci lekat pada wajah cantik yang berada dalam rengkuhan kedua tangannya.
“Jadi, kau bersedia menikah denganku?”
“Kau masih bertanya setelah aku menangis dengan gaun pengantin yang melekat di tubuhku?” tanyanya sarkastis. Untuk meyakinkan Henry, tangan Cheonsa kini melingkar di lehernya.
“Aku bersedia menikah denganmu.”
Tepat saat kalimat itu selesai diucapkan, gemuruh petir terdengar riuh di langit di susul oleh rintik hujan yang turun perlahan-lahan. Lama-lama saling berlomba membasahi bumi. Henry dan Cheonsa saling berpandangan lalu tertawa, entah apa yang lucu dari tangisan langit yang turun membasahi tubuh mereka.
“Hujan lagi. Ayo pergi sebelum kita berdua basah kuyup!” Henry menarik tangan Cheonsa yang langsung meringis sakit.
“Kenapa?”
Cheonsa melirik kakinya yang tak beralaskan apapun. Telapak kakinya sedikit lecet karena tadi berlari tanpa memakai sepatunya. Rupanya perih itu baru terasa saat terkena air.
“Maaf, aku tidak bisa berlari,” sesal Cheonsa sedih. Henry tidak kehabisan akal hanya karena masalah kecil seperti itu.
“Ah,” Cheonsa terkesiap ketika kedua tangan Henry mengangkat tubuhnya dari atas trotoar, menggendongnya ala pengantin. Pria itu tersenyum begitu mata kaget Cheonsa bertubrukan dengan binar mata gembiranya.
“Aku akan menggendongmu sampai kita tiba di depan altar.”
Semburat merah segera menghiasi kedua pipi putih Cheonsa. Gadis itu tersipu malu atas tindakan heroik dan romantis kekasihnya. Ia menggerakan wajahnya mendekat untuk mengecup pipi Henry kilat. Pria itu terkejut lantas menatap Cheonsa tak percaya. Gadis itu tersenyum tulus, bibirnya bergerak mengucapkan kalimat yang paling ditunggu oleh Henry selama setahun ini.
“Saranghae,” ucap Cheonsa lembut dan penuh perasaan. Senyum itu tertular di bibir Henry. Meskipun langit hari itu mendung dan menangis, baginya langit tampak begitu cerah dan berwarna biru. Ini adalah hari paling membahagiakan baginya. Perasaan lega, bahagia, takjub, dan kagum merasuk memenuhi setap senti sanubarinya.
“Nado saranghae, Min Cheonsa.”
Mereka berdua tersenyum. Henry mendekatkan wajahnya, menempelkan bibirnya pada bibir Cheonsa untuk mengecupnya. Cheonsa tersenyum dan ia melingkarkan tangannya di leher Henry. Mereka berciuman selama beberapa saat lamanya di tengah guyuran hujan. Cheonsa tersenyum, begitupun Henry. Tak ada yang lebih membahagiakan di banding saat dua perasaan bertemu dan menyatu menjadi sebuah tali yang menghubungkan dua hati mereka.
“Ayo kita pergi,” seru Henry tiba-tiba. Mereka berdua tertawa sambil menerobos hujan yang turun semakin lebat.

~The End~

75 thoughts on “Sound of Rain, Sound of Love

  1. Kkkkkkkkkkk~ coba ada sekuuuueellll’nya keren deh ceritanya………ringan dgan alur Ɣƍ unik……….keren keren…..

  2. pengen ketawa, sekaligus pengen maki2 cheonsa dan henry. hadoooohh.. dudul banget si kaliaaan.. sampe miskom badai begitu,walaupun tetep so sweet. hahah
    i like this. hihi

  3. Huaaaaaa!!! Daebak! Ga nyangka banget. Beneran. Hahaha. Well, at least its a very nice happy ending.
    Cheosa-ssi, kamu harusnya mendengarkan hingga akhir dan jangan suka ambil kesimpulan sendiri. Hehehe.
    Penasaran banget apa rasanya jadi henry. Gagal terus pas mau bilang dan akhirnya cewenya kabur. Wkwkwk.
    Pengen banget ada adegan nikahnya dan respon cheonsa di depan keluarganya sebenarnya. Tapi gapapa lah.
    Sangat menghibur thor!!

  4. Mao…. Mao…. gara” si Mao…. jadi bikin aku ktwa… klo manggilnya Mochi pasti cheonsa lngsung mau nikah detik itu jg, hhhhh…. dasar Mao….. author Hwaiting…. maju terus pantang mundur…:-)

Your comment

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s