Shady Girl Ryeowook’s Story [Part 9]

Tittle : Shady Girl Ryeowook’s Story Part 9
Author : Dha Khanzaki a.k.a Shin Jeyoung
Genre : Romance
Length : Chaptered

Main Cast :

  • Tiffany Hwang
  • Kim Ryeowook

Happy Reading ^_^

Shady Girl Ryeowook's Story by DhaKhanzaki1

====Part 9====

Ryeowook kini sedang duduk berhadapan dengan salah satu petinggi sebuah kelompok Mafia, tengah berunding mengenai perjanjian dagang jual beli senjata api. Ia mewakili Ayahnya yang tidak bisa hadir.
“Aku tidak yakin ini akan menguntungkan..” gumam Ryeowook dingin. Pria tua di hadapannya hanya tersenyum masam.
“Tanda tanganilah. Aku jamin ini tidak akan merugikanmu.”
Ryeowook masih terdiam. Ia menghela napas lalu mengambil bolpoint hendak menandatangani selembar kertas di hadapannya. Namun gerakannya terhenti ketika tiba-tiba terjadi keributan di luar ruangan tempatnya berada.

“Biarkan aku masuk!!!” seorang wanita berteriak kencang lalu membuka pintu dengan paksa. Ryeowook dan beberapa orang di dalam menoleh kaget. Seorang wanita masuk dengan langkah tergesa. Ia mengedarkan pandangannya cepat seolah mencari-cari sesuatu. Begitu pandangannya bertemu dengan tatapan terkejut Ryeowook, saat itulah seluruh tubuh Tiffany terasa membeku.
Namja itu, namja yang sudah lama dicarinya berdiri di hadapannya. Hal pertama yang Tiffany syukuri adalah Ryeowook baik-baik saja.

“Tiffany..” gumam Ryeowook pelan. Apa yang dilakukan gadis itu di sini? Apa dia tidak sadar bahwa saat ini dirinya berada dalam sebuah kandang yang penuh dengan binatang buas? Mengapa Tiffany muncul di hadapannya seperti ini? Bukankah itu sama saja dengan mengantarkan nyawanya sendiri?

Secara bertahap, senyum di wajah Tiffany menghilang lalu berganti dengan kejengkelan. Ia berjalan menderap dengan langkah lebar ke arah Ryeowook, mengabaikan tatapan menyelidik orang-orang di dalam ruangan itu dan tatapan terkejut Ryeowook. Tiffany menaiki tangga menutu tempat Ryeowook berada dengan cepat hingga pada akhirnya berdiri tepat di hadapan Ryeowook.
Setelah Tiffany berdiri di hadapannya dengan tatapan menyala-nyala, Ryeowook hanya mampu membuka sedikit mulutnya, tanpa ada sepatah katapun yang keluar. Lidahnya seperti kelu. Ia seperti anak umur satu tahun yang baru belajar berbicara.
“Kau…” Tiffany berkata dengan suara yang mirip geraman, terlihat jelas gadis ini sedang menahan emosinya. Dengan polosnya Ryeowook hanya menatap Tiffany. Lebih tepatnya ia bingung.
“Lama tak jumpa. Bagaimana kabarmu?” Ryeowook akhirnya mampu berucap juga meski dengan nada kaku.
Mata Tiffany menyipit tajam. “Lama tak jumpa, bagaimana kabarmu..Hanya itu yang ingin kau katakan padaku?” sindirnya. Ia maju satu langkah lagi dan tanpa di duga gadis itu menendang satu kaki Ryeowook, membuat keseimbangan namja itu goyah dan alhasil Ryeowook tumbang di lantai.

“Tuaaannn!!!” teriak pengawal-pengawal yang berdiri dari jauh kaget.
“Awww..” Ryeowook meringis. Bukan karena sakit tapi karena ia terkejut. “How rude..” lirihnya sambil mencoba mendudukkan diri di lantai. Ia mendongakkan kepalanya menatap Tiffany yang kini berdiri di depannya dengan tangan bertolak di pinggang dan mata menyipit.
“Kau pikir aku tidak cemas setelah kau menghilang di rumah sakit waktu itu, HAH? Bukan hanya itu, kau bahkan tidak memberiku kabar selama berbulan-bulan. Kau pergi seenaknya tanpa memberitahuku sedikitpun. Berpamitan pun bahkan tidak.” Cerocosnya panjang lebar. Tiffany sekarang sedang meluapkan semua rasa cemas, panik, gelisah yang selama ini terpendam dalam hatinya. Suaranya pun tidak terdengar marah ataupun membentak. Meskipun diucapkan dengan nada tinggi.
“Kenapa kau tidak menjawabku!!” bentak Tiffany lagi karena Ryeowook tak kunjung membalas kalimatnya. “Kau—kyaa..” beberapa bodyguard tiba-tiba saja mencengkeram erat kedua lengannya. Tiffany berusaha melepaskan diri namun tidak bisa.
“Lepaskan aku!!”
“Kau sudah berbuat ulah. Ikut kami keluar!!”
“Kyaaa..” Tiffany menjerit ketika dua bodyguard bertubuh kekar itu dengan mudah menyeret tubuhnya. Kakinya bahkan tidak bisa menapaki tanah saat mereka menariknya paksa keluar ruangan itu. Ryeowook bahan tidak bergerak dari tempatnya berdiri melihat Tiffany ditarik keluar oleh bodyguardnya. Ia hanya menatapnya dengan wajah tercengang. Ia terlalu takut dan pengecut untuk menyelamatkan Tiffany.

—o0o—

“Ryeowook..Kim Ryeowook!!!” Tiffany berteriak memanggil-manggil nama namja itu dengan nada frustasi. Airmatanya bahkan sampai mengalir meratapi nasibnya yang gagal menemui namja itu. Setelah di depak dari hadapan Ryeowook, kini ia hanya bisa menangis di depan ruangan itu. Padahal tadi ia sudah bertemu dengan namja itu, bertatap muka dengannya, tapi mengapa harus berakhir seperti ini? Sungguh tidak adil. Lagipula mengapa ia tidak boleh berada di sana? Apa yang sebenarnya Ryeowook lakukan di dalam sana? Berjuta pertanyaan berkelebat dalam otaknya.
“Jebal, izinkan aku bertemu Ryeowook. Sekali saja..” Tiffany bahkan rela mengesampingkan harga dirinya sebagai artis papan atas dengan memohon pada penjaga yang diam di depan pintu, untuk menghalangi Tiffany. Ia sudah tidak bisa menahan rasa rindunya lagi.
Meskipun tidak mengerti dengan ucapan Tiffany, kedua pria itu hanya menggeleng dengan raut datar. Ia sudah bersiap melontarkan kalimat berikutnya ketika tiba-tiba terdengar suara berat dari arah belakang.

“Any trouble?”

Kedua bodyguard itu serentak membungkukkan badannya penuh hormat ke arah orang yang berbicara tadi. Tiffany membalikkan badannya penasaran. Di hadapannya kini berdiri pria berusia 50 tahunan dengan ekspresi ramah tengah menatapnya. Entah mengapa ekspresi itu tampak tidak asing. Namun Tiffany lupa pernah melihatnya di mana.
“Apa ada masalah, nona?” tanya pria itu dengan bahasa Korea yang fasih. Tiffany mengerjap. Bagaimana pria ini tahu bahwa ia adalah orang Korea? Tanpa sadar ia memperhatikan penampilan pria di hadapannya dengan seksama. Wajahnya memang mirip dengan orang-orang asia kebanyakan. Dan pakaian yang dikenakannya pun menunjukkan bahwa ia orang yang memiliki kedudukan tinggi. Mungkinkah ia pemilik hotel berbintang ini? Jika memang benar ini kesempatan emas untuknya.
“Anu, aku ingin menemui temanku di dalam. Tapi dua bodyguard ini menghalangiku.” Keluh Tiffany. Pria itu mendesah perlahan lalu kembali menatapnya.
“Apa kau teman Ryeowook?”

Tiffany kembali dikejutkan dengan pertanyaan yang terlontar berikutnya. Bagaimana juga pria ini tahu bahwa ia ingin menemui Ryeowook? Namun tak ada satupun pertanyaan yang keluar dari mulutnya. Ia hanya mengangguk.
“Kau pasti Tiffany Hwang, benar. Ryeowook sering kali membicarakanmu.” Ujar Pria itu lagi-lagi membuat Tiffany terkesiap. Ia makin penasaran sebenarnya siapa pria ini?
“Ne, aku Tiffany Hwang.”
Pria itu tersenyum ramah. “Ikutlah sebentar denganku, Tiffany-ssi. Ada yang ingin kubicarakan.” Pria itu membalikkan badan meminta Tiffany mengikutinya. Namun sayangnya Tiffany bukan anak SD yang percaya begitu saja dengan orang yang baru saja dikenal. Ia tetap diam di tempatnya berdiri. Menatap curiga pria itu.
“Tenang saja, Tiffany-ssi. Aku ayah Kim Ryeowook.” Ucapnya menyadari sikap Tiffany.
“Omo..” Tiffany terkesiap. Ia mengerjapkan matanya berkali-kali. Dalam mimpi sekalipun tak pernah terpikir baginya bisa bertemu dengan ayah dari namja itu. akhirnya, tanpa pikir panjang ia mengikuti pria itu pergi.

—o0o—

Ryeowook tidak bisa fokus pada negosiasinya sekarang. Pikirannya terus tertuju pada Tiffany. Sekarang apa yang sedang dilakukan gadis itu di luar sana? Ia benar-benar gelisah. Duduknya pun tidak bisa tenang.
“Ayo, kau hanya tinggal menandatanganinya saja.” pria yang sejak tadi tidak sabar menunggu Ryeowook menandatangani perjanjian akhirnya naik pitam juga. “Jika kau sampai menolak perjanjian ini, akan menjadi ancaman bagi kelompokmu!” ancamnya. Ia merasa harga dirinya sebagai pimpinan kelompok mafia di jatuhkan.
Ryeowook bahkan tidak mendengarkan ucapannya sama sekali. Ia justru menoleh pada salah satu bodyguardnya yang sejak tadi berdiri di belakangnya.
“Gadis tadi, bisakah kau mencari tahu keberadaannya sekarang?” ucap Ryeowook gusar. Pria bertubuh kekar itu mengangguk lalu berjalan agak cepat keluar ruangan. Ryeowook menunggu dengan tidak sabar, ia mengetuk-ngetukkan kakinya ke lantai.
“Tuan Nathan Kim. Ini ucapan terakhirku. Jika kau sampai menolaknya…”
“Bisakah Anda menunggu sebentar!” Ryeowook melayangkan death glare-nya dan langsung membuat pria itu bungkam. Ia sempat tersentak kaget melihat sorot mata Ryeowook yang dingin menghujam tepat ke jantungnya. Anak ini, benar-benar duplikat dari Jared Kim.

Tiffany Hwang..kenapa kau datang menemuiku. Batin Ryeowook resah. Ia merasa agak lega ketika melihat bodyguard suruhannya tadi kembali dengan langkah tergopoh-gopoh.
“Bagaimana?” cecar Ryeowook tidak sabar.
“Tuan, gadis tadi pergi bersama Tuan Besar..”
Mata Ryeowook melebar kaget begitu mendengar Tiffany saat ini sedang bersama ayahnya. Pikirannya mengelana kemana-mana. Berjuta ketakutan pun berkelebat di otaknya saat ini. Apa yang akan ayahnya lakukan pada gadis itu? bagaimana jika terjadi sesuatu pada Tiffany? Bagaimana jika ayahnya melakukan sesuatu pada gadis itu? bagaimana jika.. ah, tidak!! Ia tidak bisa membayangkan apapun lagi.
“Andwae!!” teriak Ryeowook. Ia segera melesat pergi bahkan tanpa berpamitan sedikitpun.
Tindakan Ryeowook benar-benar membuat pria yang sejak tadi didiamkan menjadi geram. Sebagai seorang pemimpin ia merasa tersinggung dengan sikap Ryeowook padanya.
“Oh, jadi kau lebih memilih perang rupanya..” desisnya penuh dendam. Ia kemudian melirik pada bodyguard yang ada di belakangnya.
“Selidiki siapa gadis tadi.” perintahnya cepat. Ia yakin, siapapun gadis tadi pasti bisa dijadikan senjata penakhluk Ryeowok yang paling ampuh.

Ryeowook melajukan mobilnya dalam kecepatan abnormal. Pikirannya terus dihantui bayang-bayang ayahnya dan Tiffany. Ia takut, ia takut jika ayahnya yang tidak kenal belas kasihan itu akan melakukan sesuatu pada Tiffany.

—o0o—

“Ah, so cute..” desis Tiffany gemas. Ia sekarang tengah berada di kediaman Ayah Ryeowook yang megah dan besar. ketika tiba di sini beberapa saat lalu, ia hampir tidak percaya bahwa ia bisa menginjak tempat seindah ini di bumi. Benar-benar bangunan yang indahnya menandingi Istana Buckingham di Inggris. Yang membuatnya sangat terkejut adalah, ia tidak menyangka bahwa Ryeowook berasal dari keluarga kaya raya. Lalu apa yang membuatnya tinggal sendirian di Seoul, dengan segala kesederhanaan. Meninggalkan semua fasilitas mewah dan lengkap yang dimilikinya di sini.

Tiffany meletakkan figura kecil berisi foto Ryeowook ketika masih berusia 3 tahun kembali ke tempatnya. Ia mengedarkan pandangannya menelusuri dinding yang penuh dengan potret Ryeowook ketika masih balita. Senyum di bibirnya terbit begitu saja. Ia juga baru mendengar cerita dari Ayah Ryeowook tentang masa kecil pria itu. Dan ia juga baru mengetahui bahwa Ryeowook sudah tidak memiliki ibu lagi.
“Aku terkejut ketika mendengar ia ingin hidup mandiri di Korea. Tentu saja aku tidak bisa melarangnya. Sebagai seorang ayah, aku hanya berharap yang terbaik untuknya.” Ucap Pria itu yang tentu saja itu adalah sebuah kebohongan. Mengelabui persepsi orang terhadap dirinya adalah salah satu metodenya untuk menjebak musuh. Ia ingin Tiffany berpikir ia adalah ayah yang baik.
“Kau pasti sangat menyayangi Ryeowook. Aku sangat iri.” Gumam Tiffany.

Tanpa Tiffany sadari, pria itu menatapnya dengan mata menyipit. “bolehkah aku bertanya satu hal?”
Tiffany menoleh. “Tentu saja, Tuan.”
“Apa kau mencintai Ryeowook?”

Sontak pertanyaan itu membuat Tiffany mematung. Ia merasa seperti baru saja di beri vonis mematikan oleh hakim. Ia mungkin tidak akan seterkejut ini jika orang lain yang bertanya. Namun lain kasusnya jika yang bertanya adalah ayah dari Kim Ryeowook. Bagaimana baiknya ia menjawab pertanyaan itu?
“Aku..” Tiffany menarik napas lalu membuangnya kembali. Ia sangat gugup. Dalam hati ia berdebat antara harus jujur atau tidak. Akhirnya, ia memilih untuk jujur.
“Aku mencintai putramu, Tuan. Bahkan sangat mencintainya. Apa Anda tidak keberatan tentang hal ini?”

Jared Kim terpaku mendengar penuturan jujur Tiffany. Ia tidak menyangka jika gadis itu berani mengakui perasaannya. Bukan itu jawaban yang ia harapkan. Jika Tiffany mencintai putranya, maka kenyataan itu akan menjadi hambatan besar. ia harus segera menyingkirkan gadis ini.
“Apa ucapanku menyinggungmu, Tuan?”
Pria itu tersentak mendengar pertanyaan Tiffany. Ia buru-buru menormalkan ekspresinya dengan tersenyum. “Tentu saja tidak. Aku sangat senang mendengarnya. Semoga hubunganmu dengan Ryeowook bisa berhasil.” Dustanya. Ia lalu menajamkan tatapannya. “Asalkan kau bersedia menerima apapun kondisi yang putraku miliki saat ini.” Lanjutnya.
Tiffany merasa lega karena ternyata Ayah Ryeowook itu merestuinya. Siapa sangka jika pria itu berhati semulia ini? Ia heran kenapa Ryeowook tidak pernah menceritakan tentang ayahnya. Ia baru akan membuka mulut ketika mendengar suara seruan.

“Tiffany..!!”

Perhatian keduanya tertoleh ke arah pintu, bertepatan dengan seorang pria yang membuat pintu menjeblak terbuka. Kim Ryeowook. Raut wajahnya tampak panik. Ia mengedarkan pandangannya ke sekitar dengan gerakan cepat, seperti sedang mencari sesuatu. Wajah paniknya sedikit mengendur begitu matanya berhenti pada wajah Tiffany yang tersenyum padanya. Lalu berganti ke arah ayahnya yang berdiri tak jauh dari gadis itu. Satu hal yang membuatnya sedikit lega. Gadis itu baik-baik saja. Dan ayahnya sepertinya tidak melakukan apapun pada Tiffany.
“Tiffany..” gumamnya pelan. Ia berjalan mendekat, begitu berdiri di hadapannya Ryeowook segera memindai baik-baik keadaan gadis itu. Ia tidak akan memaafkan dirinya sendiri jika sampai Ayahnya menyentuh Tiffany meski hanya sehelai rambut.
“Gwaenchana?” tanpa sadar ia bertanya dengan nada panik. Tiffany merasa heran pada awalnya. Namun ia tetap memberikan senyum terbaik yang selalu membuat para pria terpesona.
“Seperti yang kau lihat. Aku baik-baik saja.” Ucapnya santai. Ia menoleh pada Jared Kim sekilas. “Ayahmu sangat baik. Dia sudah menceritakan banyak hal tentang dirimu” ceritanya antusias. Pandangan Ryeowook ikut terarah pada Jared Kim yang menatapnya dengan ekspresi ‘ramah’. Sekilas pun Ryeowook tahu bahwa itu bukan ekspresi ramah dalam arti yang sebenarnya. Ayahnya itu pasti merencanakan sesuatu. Ayahnya bergerak menghampiri dengan senyum misterius di wajahnya. Ryeowook merasakan sesuatu lantas menarik tubuh Tiffany agar berdiri sedekat mungkin dengannya. Gadis itu justru tersipu malu. Dia tidak merasakan bahaya apapun.

“Jika kau ingin pulang, aku akan mengantarkanmu Tiffany-ssi.” Ucap Jared Kim hangat. Ryeowook melebarkan matanya sekilas. Ia tahu ayahnya merencanakan sesuatu.
“Aku sangat berterima kasih..”
“Tidak!!!!!” sela Ryeowook keras nyaris berteriak. Tiffany membungkam mulutnya lalu menoleh ke arah pria yang berdiri di sampingnya. Aneh sekali. Mengapa ekspresi Ryeowook sekarang tampak khawatir, dan waspada? Seperti aka nada sesuatu yang menimpanya hingga namja itu menempatkan tubuhnya di belakangnya.
Ryeowook mengerjap menyadari Tiffany menatap ingin tahu kepadanya. Ia lantas berdehem lalu bersikap normal kembali. Ia sadar bahwa sikapnya sedikit berlebihan.
“Aku akan mengantarmu pulang.”
Ryeowook mengapit tangan Tiffany dan saat itulah Jared Kim merasa Tiffany memang penghalang terbesar untuknya. Ia harus menjauhkan Tiffany dari Ryeowook.
“Tiffany-ssi..sekarang sudah malam. Lagipula di luar sedang hujan deras. Bagaimana kalau kau menginap saja di sini malam ini?” sela Jared Kim membuat langkah mereka terhenti. Tiffany melirik ke arah luar jendela. Hujan deras di sertai suara Guntur yang menakutkan memang sedang mendera kota Las Vegas. Ia bergidig ngeri lalu menoleh pada Ryeowook.
“Bagaimana ini?”
“Lebih baik kau menginap saja di sini.” Putus Ryeowook akhirnya. Ia tahu Tiffany sangat membenci suara halilintar yang menggelegar.

Jared Kim menyunggingkan senyum aneh. Ia akan melakukan sesuatu selagi gadis itu tidur nanti. “Di sini ada banyak kamar kosong. Kau boleh memakai salah satunya.”
“Tidak..” Ryeowook menyela kembali. “Tiffany akan tidur bersamaku.”
“Mwo????” Tiffany berseru kaget mendengarnya. Tidur bersama namja dalam satu kamar? Yang benar saja.
“Dia tidak akan tidur di manapun kecuali tidur bersamaku. Kajja..”
Jared Kim mengeraskan rahangnya dengan keputusan sepihak Ryeowook. Rupanya Ryeowook benar-benar ingin melindungi gadis itu. Sepertina ia bisa menebak apa yang akan Jared Kim lakukan pada Tiffany.

—o0o—

Tiffany POV

Dia gila. Bagaimana mungkin dia berpikir untuk mengajakku tidur bersamanya. Rumah ini sangat luas dan aku yakin banyak sekali kamar kosong. Apa yang membuatnya senekat itu? Ataukah ia mencemaskanku atau memang ingin tidur bersamaku? Aku sungguh khawatir terlebih setelah melihat ekspresi terakhirnya. Ia terlihat takut dan selalu berhati-hati saat melangkah.
Karena terlalu banyak melamun, aku tidak sadar sekarang sudah berada di kamar yang luas dengan wallpaper berwarna kuning gading yang bercorak klasik. Benar-benar rumah bergaya khas Amerika. Tentu saja, bukankah sekarang aku berada di Las Vegas.
“Ya, apa maksudmu mengajakku tidur bersama?” cecarku. Ryeowook terdiam dengan wajah bingung. Lagi-lagi ekspresi itu.
“Aku harus memastikan kau baik-baik saja. Jadi jangan pernah membuat dirimu jauh dari pandanganku selama kau berada di sini.” Titahnya tegas. Tak berharap penolakan. Aku mendengus lalu mendudukkan diri di atas sofa.
“Sebenarnya apa yang kau khawatirkan?” tanyaku sambil memandang wajahnya. Ryeowook mendesah berat lalu menatapku.
“Lalu kenapa kau menemuiku?” dia malah balik bertanya dan hal itu membuatku teringat alasan mengapa aku pontang-panting mencarinya selama ini. Bahkan setelah beberapa bulan pergi tanpa pamit bukannya merasa bersalah ia justru menginterogasiku? Bukannya memperlihatkan wajah penuh rindu ia justru menampilkan ekspresi bingung dan waspada? Mengapa? Apa ia tidak ingin aku hadir dalam hidupnya karena itu ia pergi. Mendadak saja, dadaku terasa sesak. Pikiranku melayang-layang pada kemungkinan bahwa Ryeowook memang tidak pernah mengharapkanku. Mungkinkah ia berpikir bahwa kehadiranku membawa sial baginya?

Aku berdiri cepat, tepat di hadapannya. “Kenapa saat itu kau pergi begitu saja. Tanpa pamit, tanpa kabar dan menghilang seperti ditelan bumi? Kau pikir aku tidak mencemaskanmu?” cerocosku panjang lebar. Aku tidak bisa menahan emosi lagi.
“Aku pergi untuk membebaskanmu, Tiffany!!” serunya kencang. Aku membelalakkan mata.
“Membebaskanku? Dari apa!!” aku balas berteriak. Aku tidak tahu dia sengaja atau benar-benar mencemaskanku. Namun raut wajahnya sekarang membuatku gugup dan serba salah. Ekspresinya seolah mengatakan ‘Kumohon, jangan temui aku lagi’.
Ryeowook terdiam, memalingkan wajahnya dari pandanganku. “Kau tidak tahu apapun tentang diriku..” lirihnya pelan. Ia lalu menoleh dan tepat ketika pandangan kami bertemu, aku melihat ekspresi terluka di dalam sorot matanya. Apa arti semua itu?
“Aku ini bukan orang yang pantas untuk kau cintai..”
Seluruh tubuhku rasanya bergetar mendengar kalimat itu keluar dari mulutnya.
“Kenapa?” tanyaku dengan suara parau.
“Bukankah sudah kukatakan sebelumnya, kau akan terkejut jika mendengar alasanku..”
Aku semakin menundukkan kepalaku. Otakku belum melupakannya. Ryeowook memang pernah mengatakan hal itu padaku.
“Memang apa alasannya?”

“Ayahku seorang Mafia.”

Aku terperanjat mendengarnya. Ini adalah kedua kalinya aku mendengar kalimat itu. Kepalaku refleks terangkat ke arahnya. Kutatap wajah Ryeowook penuh selidik. Aku ingin mencari kebohongan dalam matanya. Aku berharap sesaat lagi ia akan tertawa dan berkata ‘April mop’ meskipun sekarang bukanlah tanggal 1 April. Namun ia justru balas menatapku dengan ekspresi menyakitkan.
“Aku sungguh-sungguh Tiffany. Ayahku itu seorang mafia. Dan dia..dia juga menginginkanku menjadi sepertinya. Karena itulah aku pergi darimu. Jika kau terus bersamaku nyawamu akan terancam.” Ryeowook memegang kedua bahuku dengan erat. Otakku masih kosong. Aku tidak bisa mempercayai sedikitpun perkataannya. Itu tidak mungkin.
“Kau tahu benar insiden penembakan waktu itu? Ayahku tidak akan segan-segan untuk membunuh orang-orang yang menghambat misinya.”

Bibirku terasa kelu untuk di gerakkan dan aku bingung harus mengatakan apa untuk membalas ucapannya. Jadi dia tidak bercanda? Jika memang benar hal itu menjelaskan mengapa waktu itu kami di kejar-kejar oleh pria bersenjata. Aku pikir itu ulah sasaeng fans. Namun rupanya bukan.

—o0o—

Author POV

Tiffany cukup lama membungkam mulutnya. Ia terlalu terkejut dan bingung. Sementara Ryeowook sudah menyiapkan diri untuk segala kemungkinan. Meskipun ia mungkin akan merelakan sosok gadis yang dicintainya pergi, ia siap menerimanya. Namun setelah keheningan cukup lama menyelimuti, akhirnya Tiffany angkat bicara.
“Kau..kau seorang mafia?” tanyanya dengan wajah terkejut, tak percaya, dan sedikit sangsi.
“I-iya..” jawab Ryeowook gugup.
Tiffany melepaskan tangan Ryeowook dari pundaknya lalu mundur beberapa langkah untuk mengamati penampilan pria itu. Ia mendesis lemah sambil menggelengkan kepala.
“Tidak mungkin..”
“Wae?”
“Kau terlalu manis untuk ukuran seorang mafia. Bukankah pemimpin gangster biasanya bermuka tegas dan kejam. Tapi kau..ckckckck..jabatan itu tak cocok untukmu. Kenapa kau mau menerimanya?” Tiffany kembali menjadi dirinya yang anggun sekaligus angkuh. Benar-benar sosok yang Ryeowook rindukan.
Namja itu menggaruk bagian belakang kepalanya dengan canggung. “Aku sebenarnya tidak ingin tapi.. kau tahu ayahku orang yang kejam..”
“Alasan..” gumam Tiffany sambil melipat tangan di depan dada. “Sekejam apapun ayahmu,, dia tidak akan pernah tega membunuh anaknya sendiri. Jika memang kau tidak mau seharusnya kau menghadapinya, dan mengatakan bahwa kau tidak mau.”
“Bicara memang mudah. Tapi tidak semudah melakukannya.”
“itu karena kau belum mencobanya!!”
“Aku sudah mencobanya ribuan kali!!
“Kalau begitu jangan berhenti! Lakukan sampai ayahmu bosan!!!”
“Tiffany Hwang kau tidak mengerti apapun!!”
“Ya! Aku memang tidak mengerti!!!”

Mereka saling menatap dengan mata menyorot tajam satu sama lain. Mulut keduanya pun bungkam. Mencoba mengintimidasi lewat tatapan mata. Namun Tiffany tidak kuat lagi. Ia memutar pandangannya ke arah lain. Airmatanya menggenang dan ia menangis kemudian.
“Kau tidak tahu..aku..aku benar-benar tidak ingin kehilanganmu. Kumohon kembalilah menjadi pria biasa yang kasar, dan tidak pernah memperlakukanku dengan manis..” isaknya tanpa memandang Ryeowook. Tiffany masih juga menjunjung tinggi harga dirinya bahkan di saat genting seperti ini. Ia tidak suka jika orang lain melihatnya menangis. itu sangat tidak anggun.

Ryeowook pun merasa tenggorokannya seperti tercekik. Namun ia tidak bisa menangis. Ayahnya sudah mendidiknya sejak kecil bahwa pria dalam keluarga Kim tidak boleh menangis. Maka dari itu, ia hampir tidak pernah menangis. Kecuali saat pemakaman ibunya dulu.
“Aku akan mengantarmu pulang besok. Sekarang menginaplah di sini..” jawabnya dingin. Tiffany menoleh.
“Sekarang sudah malam. Tidurlah..”
“Kau akan tidur di mana?” Tiffany menahan tangan Ryeowook ketika namja itu membalikkan badannya pergi.
“Aku tidur di sofa. Kau pakai saja tempat tidurku.”
Tiffany menoleh ke arah tempat tidur dengan seprei putih di belakangnya, ia lalu menggeleng. “Aku tidak mau. Malam ini kita tidur bersama”
“tapi..”
“Aku tidak mau tahu..” Tiffany memelototinya. Ia tidak mau Ryeowook pergi meninggalkannya saat ia terlelap nanti.

To be continued..

57 thoughts on “Shady Girl Ryeowook’s Story [Part 9]

  1. *Hhhuuaa luluh kek tuh appa nya wookie!!
    kayak gak pernah muda aja lu ahhh

    Kasian 2 sejoli ini ya tuhan, nadib mereka gini amat
    Bener wookie gak ada tampang kejam2 nya malahan imut, manis hihihi

Your comment

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s