Shady Girl Ryeowook’s Story (Part 8)

Tittle : Shady Girl Ryeowook’s Story Part 8
Author : Dha Khanzaki a.k.a Shin Jeyoung
Genre : Romance

Main Cast :

  • Tiffany Hwang
  • Kim Ryeowook

Support Cast :

  • Henry Lau
  • Choi Siwon
  • Kim Mira
  • Jang Dong Gun as Tiffany’s Manager

No Comment ah, Happy reading aja deh ^_^

Shady Girl Ryeowook's Story by Dha Khanzaki2

===Part 8===

Malam itu, sebuah langkah kaki misterius menggema di lorong rumah sakit yang sepi dan sunyi. Waktu sudah menunjukkan pukul satu dini hari ketika suara mencurigakan itu terdengar. Langkahnya terkesan santai namun mencekam. Sayang sekali tidak ada yang menyadarinya karena hampir semua penghuni rumah sakit itu tengah terlelap. Tak terkecuali Ryeowook.

Ruangan tempatnya dirawat inap terkesan sepi karena Tiffany pun sudah terlelap.

Ckiiit..

Derit pintu akibat daun pintu yang dibuka secara perlahan terdengar nyaring di malam sesunyi itu. Seorang pria dengan sepatu berwarna hitam dan jas hitam berjalan mendekat ke arah ranjang yang kini tengah ditiduri oleh Ryeowook. Pria itu mengeluarkan sebuah revolver dari dalam mantelnya lalu mengarahkannya pada Ryeowook. Ia hampir saja menarik pelatuk revolver itu ketika mata terpejam Ryeowook terbuka.

Ryeowook bisa merasakan bahaya mendekatinya bahkan ketika pintu ruang rawatnya dibuka. Matanya sekarang terbelalak menatap sosok yang sangat ia kenal tengah berdiri di depannya dengan mulut pistol tepat mengarah ke dahinya.
“Ap—“
“Sssst..” Potongnya seraya membekam mulut Ryeowook. “jika kau tidak ingin membuat gadis yang tidur di sofa itu terbangun, diam dan dengarkan apa yang akan kuucapkan. Jika tidak, dengan sangat terpaksa peluru panas dalam pistol ini bersarang di dalam otakmu” ancamnya dengan suara pelan, jelas, dan berat.
Ryeowook menoleh cepat ke arah Tiffany yang sekarang tengah tertidur di sofa. pandangannya kembali teralih ke arah pria yang amat dikenalnya itu. Ia menyingkirkan tangan pria itu dari mulutnya.
“Apa yang kau inginkan?” tanya Ryeowook tajam.
“Sopanlah sedikit. Aku adalah ayahmu.” Jawabnya dengan seringaian dingin. Pria yang ternyata adalah Ayah Ryeowook itu memasukkan kembali revolver ke dalam saku mantelnya. Ia sudah menduga Ryeowook akan menyadari kedatangannya. Rupanya, latihan selama di Amerika dulu masih melekat di dalam tubuh putranya. Tentu saja, sebagai calon pewaris perkumpulan Mafia terbesar di Los Angeles, Ryeowook haruslah memiliki berbagai macam keterampilan. Termasuk mendeteksi kehadiran orang lain ataupun ancaman.

“Jangan terbelit-belit. Cepat katakan!!” tegas Ryeowook.
“Kau memang putraku. Sekuat apapun kau menolak, tidak akan pernah mengubah kenyataan bahwa darah mafia mengalir di setiap nadimu” ucapnya senang setelah melihat sorot mata tajam penuh kebencian di mata Ryeowook. “Aku memang tidak suka terbelit-belit. Aku datang untuk memberimu dua pilihan.
“Pilihan?” Ryeowook mengerutkan kening curiga.
“Pilihan pertama, kau ikut aku ke Amerika dan menjadi penerusku. Atau pilihan kedua, kau tetap tinggal di sini. Namun sebagai gantinya kau harus siap-siap kehilangan nyawa orang-orang yang kau sayangi. Tidak peduli dia sahabatmu, bos, kenalan, atau mungkin gadis yang kau sukai..” ujarnya lalu melirik Tiffany yang masih terlelap.

Ryeowook merasakan tubuhnya menegang sesaat setelah mendengar kalimat yang diucapkan dengan sorot mata tajam itu. Dari caranya berbicara saja Ryowook mengerti bahwa Appanya itu serius.
“Katakan, mana yang akan kau pilih. Aku memberimu waktu berpikir hingga fajar menyingsing.”
Kepala Ryeowook cepat berputar ke arah jam dinding yang sekarang menunjukkan pukul 03.00. bukankah itu berarti ia hanya mempunyai waktu 2 jam untuk berpikir?
“Mobil menunggu di depan rumah sakit. jika kau memutuskan untuk mengambil pilihan pertama, kau tinggal naik mobil itu saja. jika tidak, tetaplah tinggal di sini hingga pagi menjelang..”

Mulut Ryeowook terkatup rapat, bahkan sedikit bergetar. Pikirannya mendadak kosong. Ia tidak tahu apa yang harus diambilnya.
“Aku tahu kau tidak akan membiarkan gadis yang kau cintai itu mati, bukan. Buktinya, kau rela tanganmu tertembak di banding gadis itu yang tertembak.” Tambah Appa. Ia menghampiri Tiffany yang tidur damai di sofa. Appa menggeleng lemah seraya mendecak.
“Ckckck.. gadis yang malang. Siapa nama gadis ini? Ah, Tiffany Hwang. Ia tidak tahu sedang berhubungan dengan siapa”
“Jangan sentuh dia!!” seru Ryeowook. “Jika kau berani menyentuhnya walau hanya sehelai rambut, aku tidak akan memaafkanmu!!”
“baiklah, baiklah. Sekarang saatnya kau berpikir. Dan jangan beri aku jawaban yang akan membuatmu menyesal kelak.” Ucapnya sebelum ia pergi meninggalkan Ryeowook sendiri di ruangan itu.

Sepeninggal Appa, Ryeowook tetap tak bergeming dari tempatnya duduk. Sekarang ia tengah bimbang. Jika ia mengikuti keinginan Appanya, ia tidak akan pernah bisa menatap wajah Tiffany lagi. Seperti yang dikatakan Appanya tadi, ia memang mencintai gadis itu. karena itulah ia rela mengorbankan dirinya sendiri dibanding harus melihat gadis itu terluka. Namun di sisi lain ia tidak ingin terjadi apapun pada orang-orang di sekelilingnya saat ini.

Ryeowook melirik pada jendela, bias-bias sinar matahari mulai muncul di ufuk timur cakrawala pertanda fajar sudah meyingsing. Sial, kenapa waktu cepat sekali berlalu? Ia memutar otaknya cepat dengan cara memejamkan mata. Ia harus berpikir untuk kebaikan orang-orang di dekatnya.
Setelah beberapa menit ia memaksakan diri turun dari tempat tidur. Ia menghampiri Tiffany yang masih tertidur pulas.
“Mulai detik ini, hapuslah sosok Kim Ryeowook dalam hidupmu..” lirihnya berat. Setelah itu, Ryeowook melepaskan selang infus yang menempel di tangannya, membereskan seluruh perlengkapannya lalu pergi.

—o0o—

“Nona, ini sudah siang..”

Suster mengguncang tubuh Tiffany pelan. Gadis itu menggeliatkan tubuhnya lalu beranjak bangun. Matanya masih setengah tertutup karena kantuk.
“Sekarang jam berapa, Sus?” tanyanya sambil meregangkan tubuhnya yang kaku. Semalam tidurnya terasa tidak nyaman. Semoga saja tidak mempengaruhi pekerjaannya nanti.
“Jam 8 pagi, Nona..” ucap suster itu sambil menyibakkan gorden dan merapikan tempat tidur. Tiffany mengangguk singkat. Namun beberapa detik kemudian ia mengerjap ketika menyadari tempat tidur yang semalam ditiduri Ryeowook kosong dan sekarang sedang dirapikan.
“Ryeowook kemana sus? Pasien kamar ini.” Ujar Tiffany tidak sabar.
“Nona tidak tahu? Pasien bernama Ryeowook sudah keluar dari rumah sakit sejak tadi pagi.”
“Mwo?” Mata sipit Tiffany membulat sempurna karena kaget. Telinganya tidak percaya dengan ucapan suster itu.
“Anda serius?”
Suster itu mengangguk. Tiffany terdiam sesaat dan tanpa pikir panjang ia segera meraih tasnya lalu melenggang pergi. Ia berlari cepat ke arah parkiran. Begitu tiba di mobilnya, ia menyempatkan diri untuk menghubungi ponsel namja itu. Namun sayang, ponselnya tidak aktif. Terpaksa ia mencarinya di apartemen. Dan ia hanya berharap Ryeowook tidak pergi kemanapun.

Setibanya di apartement namja itu, Tiffany tidak menemukan tanda-tanda kehidupan di sana. Apartement itu terkunci rapat dari dalam dan tak terlihat seperti baru saja di sentuh.
“Kemana perginya? Aku yakin dia tidak mungkin pergi jauh. Lagipula tangannya masih terluka.” Gumam Tiffany. Yang membuatnya makin cemas adalah kondisi Ryeowook. Akhirnya, Tiffany memilih menyerah pada rasa penasarannya karena pekerjaannya di studio menunggu.

—o0o—

“Kau benar-benar tidak tahu dimana Ryeowook?” ucap Tiffany histeris siang itu.
Mira menunjukkan tampang menyesalnya. “Maaf Tiffany-ssi. Aku tidak tahu.”
Tiffany melemas di tempat duduknya. Sudah satu minggu berlalu sejak Ryeowook menghilang di rumah sakit hari itu. Ia frustasi karena tidak bisa menemukan namja itu dimanapun. Masalahnya ia tidak tahu bagaimana kabar Ryeowook. Apakah baik-baik saja, ataukah terjadi sesuatu. Yah, siapa yang bisa menebaknya.

Tiffany berpamitan pada Mira, ia lalu keluar dari kafe dengan langkah lunglai. Pandangannya menerawang.
“Ryeowook-ah..Kemana dirimu?” gumamnya lemah. Seminggu ini, pekerjaannya memang tidak terbengkalai. Namun yang menjadi permasalahan adalah keadaan hatinya yang terasa hampa. Ryeowook menghilang. Namja itu lenyap entah kemana seperti ditelan bumi.ia mencoba mencari kemanapun namun tidak pernah menemukan namja itu. Ia sudah mencarinya ke tempat namja itu bekerja, entah sudah berapa kali ia bolak-balik ke apartement Ryeowook namun tetap tidak menemukan tanda-tanda keberadaannya.

—o0o—

Beberapa bulan kemudian..

“Tabloid menyebalkan!!!” teriak Tiffany jengkel. Ia melempar tabloid yang baru saja dibacanya ke sembarangan arah.
“Wow, Lass. Hati-hati dengan lemparanmu. Kau hampir saja menjatuhkan sarapan kita..” seru Henry panik. Ia hampir menjatuhkan satu nampan sereal dan susu segar untuk sarapan mereka. Henry menghampiri Tiffany yang duduk bersedekap di depan meja makan dengan tampang merengut sebal.
“Sekarang apa lagi?” tanyanya sabar. sudah satu bulan ini Tiffany terus dilanda uring-uringan. Entah apa penyebabnya.
“Tabloid itu seenaknya saja memasangkanku dengan Park Yoochun!! Apa mereka tidak tahu kalau hubungan di antara kami hanya sebatas rekan satu drama..” gerutunya kesal. Ia memang baru saja membaca sebuah artikel yang mengatakan bahwa dirinya memiliki hubungan khusus dengan pria yang menjadi lawan mainnya di sebuah drama.

Henry mendesah berat. “Harus bagaimana lagi. Mungkin media massa terlalu penasaran dengan kehidupan asmaramu sehingga mereka lebih senang mengarang cerita di banding menyelidiki sendiri. Masyarakat pun penasaran karena kau tidak pernah terlibat cinta dengan siapapun. Mereka ingin mengetahui siapa sebenarnya yang sekarang mengisi hatimu..”
Tiffany menggembungkan pipinya jengkel. “Tidak pernah terlihat pacaran bukan berarti tidak ada seseorang yang aku sukai. Tapi pers sudah keterlaluan jika sampai seenaknya saja memasangkanku dengan pria-pria yang menjadi lawan mainku.”
“Kalau begitu, apakah saat ini ada seseorang yang kau sukai?” tebak Henry menyimpulkan sendiri. Tiffany terdiam, lebih tepatnya merenung. Tebakan Henry memang tidak salah. Saat ini, ada seseorang yang amat ingin ditemuinya. Seseorang yang menghilang sejak beberapa bulan yang lalu dan hingga detik ini belum diketahui kabarnya.

“Kau tidak tahu apa yang sekarang kurasakan, Henry..” lirih Tiffany pelan. Nada suaranya terdengar frustasi. Henry menegakkan duduknya melihat pola tingkah Tiffany. Ia tahu sepupunya ini sedang dilanda dilema besar.
“Ceritakanlah. Aku akan dengan senang hati mendengarkan.”
Tiffany terdiam, ia menatap semangkuk sereal yang belum disentuhnya sejak tadi. “Hatiku rasanya kosong. Sejak dia pergi tanpa kabar beberapa bulan yang lalu, aku seperti kehilangan sesuatu yang penting. Aku terlalu frustasi hingga tidak tahu harus memakai cara apa lagi untuk mengetahui keberadaannya. Aku..” aliran kata-katanya terhenti karena kini, Tiffany merasa pandangan matanya mengabur. Ia juga merasa tenggorokannya tercekat dan bahkan menelan ludahnya sendiri pun sulit.

“Aku tidak tahu..tapi aku…aku merasa sangat tersiksa dengan keadaan ini.. napasku rasanya tercekik dan paru-paruku sakit..”

Henry melebarkan matanya melihat sepupunya kini tengah menangis. Tiffany menangis. Ini pertama kalinya ia melihat seorang Tiffany Hwang menangis. kenangan terakhir yang diingatnya tentang tangisan Tiffany adalah ketika mereka masih dibangku sekolah dasar.

“Mi Young-ah..” lirih Henry. Ia akan menyebut nama kecil Tiffany jika ingin memberikan semangat pada sepupunya itu. Tangannya terulur mengelus pelan punggung Tiffany.
“Kau merindukannya..” katanya halus. Meskipun sejujurnya ia tidak tahu seperti apa pria yang sedang Tiffany rindukan, namun ia tahu Tiffany menaruh perasaan yang teramat dalam pada pria itu. Semuanya terlihat jelas dari caranya berbicara dan menangis. Airmata yang dikeluarkannya bukan airmata akting. Itu sungguhan.

Tiffany menoleh sejenak lalu mengangguk. “Dia menghilang tanpa memberiku kabar sedikitpun. Dia bahkan tidak berpamitan atau sekedar memberiku petunjuk.. Sampai sekarang aku tidak bisa tenang..”
Henry menatap Tiffany iba. Ia tidak tahu bagaimana menjawab pertanyaan itu. Pada akhirnya ia hanya bisa menenangkan Tiffany tanpa bisa memberinya solusi.

—o0o—

“Tiffany, ini berita besar…” teriak Managernya mengagetkan. Tiffany yang saat itu tengah bersiap-siap untuk pergi menoleh.
“Ada apa lagi?”
“Ini penawaran bagus untukmu. Ada sebuah film layar lebar. Dan kau tahu film ini akan mengambil syuting di mana?”
Tiffany mengendikkan bahu malas. Semangatnya memang mulai memudar akhir-akhir ini. “Molla.” Jawabnya singkat.
“Di Amerika!! Tepatnya di Las Vegas. Kau bisa mengunjungi orangtuamu juga di sana!!” serunya girang. Tiffany tidak menanggapinya semeriah manager, ia hanya mengangguk ringan lalu menyampirkan tas tangannya di bahu.
“Atur sesukamulah.. Aku hanya tinggal menjalaninya saja..” ia kemudian melengos pergi, meninggalkan managernya yang melongo dengan reaksi tak terduga yang diberikan Tiffany. Padahal sebelumnya ia mengira Tiffany akan senang bukan kepalang. Karena film ini akan bekerja sama dengan salah satu sutradara Hollywood. Seperti yang ia tahu, Tiffany ingin sekali menjadi seorang aktris Hollywood.

Sebelum membuka pintu rumah, ponselnya berdering. Tiffany berhenti sejenak untuk menjawab benda nyaring itu.
“Yeobseo..”
“Tiffany-ssi, ini aku Kim Mira.”
“Oh, Mira-ssi. Ada apa?”
“Aku tahu dimana Ryeowook..”

Tiffany seketika membelalakkan matanya. Apa telinganya ini salah dengar? Baru saja Mira mengatakan bahwa ia tahu dimana Ryeowook.
“Apa? bisa kau ulangi, Mira-ssi?” ucapnya cepat dan tidak sabar.
“Aku-sudah-tahu-dimana-Ryeowook” jawab Mira dengan penekanan di setiap kata. Setelah mendengar untuk yang kedua kali, Tiffany mendesah lega luar biasa. Rupanya ia tidak salah dengar atau semacamnya.
“Di mana, cepat katakan!!!” serunya hampir berteriak. Ia terlalu senang. Ia hampir saja melonjak dan berteriak kencang. Senyum lebar dua sentinya pun merekah sempurna di wajah cantiknya.
“Dia sekarang berada di Las Vegas. Aku tidak tahu kenapa dia bisa berada di sana. Aku baru mengetahuinya dari e-mail yang dikirim Ryeowook pagi ini”
“Apa kau tahu alamat lengkapnya?”
“Sayang sekali tidak. Tapi aku tahu dimana kau bisa menemukannya..Ryeowook menyebutkan salah satu kasino ternama di Las Vegas..”

Setelah mengakhiri pembicaraan dengan Mira, Tiffany menghela napas lega. Akhirnya ia mengetahui tempat namja itu berada. Ia memang sudah mewanti-wanti Mira untuk memberitahukannya jika mengetahui informasi apapun tentang Ryeowook dan yeoja itu menepatinya. Tapi tunggu dulu? Las Vegas? Bukankah itu tempat yang akan menjadi lokasi syuting film yang tadi dibicarakan managernya? Omo..
Tiffany mengerjap dan cepat membalikkan badan menghadap managernya yang kini tengah duduk di salah satu kursi meja makan.
“Oppa..” panggilnya. Park Dong Gun menoleh lemas. Lain halnya dengan Tiffany yang kini wajahnya berseri-seri. “Kita ambil film itu..” serunya semangat.

Bagai mendapat pencerahan dari surga, pria itu mengerjap senang dengan mata melebar takjub.
“Sungguh? Kau menerimanya??? Aish, jinjja! Syukurlah..” serunya tak kalah heboh. Ia segera bangkit untuk menelepon seseorang. Entahlah, mungkin sutradara film itu.
Sementara managernya sibuk berbicara di telepon, Tiffany diam di tempatnya dengan pikiran penuh oleh rencananya menemukan pria itu.
“Lihat saja Kim Ryeowook. Akan kuberi kau pelajaran jika kita bertemu nanti..” seulas seringaian licik tersungging di sudut bibirnya.

—o0o—

“Kau jahat sekali. Kenapa tidak datang di pesta pernikahanku..” keluh Siwon di telepon ketika Tiffany sedang dalam perjalanan menuju bandara. Ia mendesah penuh penyesalan.
“Jeongmal Mianhae Siwon-ah. Aku sedang sibuk dengan film baruku.. bukankah aku sudah mengirimkan kado pernikahan untukmu dan Sun Hee?” ujar Tiffany sambil memandang keluar jendela mobil. Ia memang tidak sengaja melewatkan acara pernikahan Siwon. Jadwal syuting yang padat membuatnya lupa dan saat teringat acara itu sudah terlewat satu hari.
“Baiklah, aku tahu kau bintang terkenal..” ucap Siwon ringan. Tidak terdengar nada marah ataupun kesal dari suaranya.
“Sampaikan salamku untuk istrimu.”
“Tentu saja. Dan aku tidak sabar menunggu kabar pernikahanmu..”
Tiffany tergelak mendengarnya. “terima kasih..”

Senyumnya tak kunjung hilang bahkan saat ia berada di dalam pesawat. Managernya sampai mengira Tiffany sudah tidak sabar untuk memulai aktingnya di film baru itu. namun ternyata bukan itu yang membuat senyum Tiffany terus merekah. Melainkan rasa senangnya karena tidak lama lagi akan bertemu dengan Ryeowook.

—o0o—

Las Vegas, Amerika Serikat

Seorang pria paruh baya dengan bodyguard di sisi kiri-kanannya kini tengah duduk tenang di sebuah kursi mewah di ruangan yang terkesan mewah dan klasik. Asap mengepul berasal dari cerutu mahal yang tengah dihisapnya. Cara duduk yang angkuh menandakan bahwa ia memiliki kedudukan tinggi dalam sebuah kelompok ataupun perusahaan. Dialah Jared Kim, pemimpin dari salah satu kelompok mafia terbesar di Las Vegas.
Sekilas tidak ada raut menyeramkan di wajahnya. Siapapun yang berpapasan dengannya justru berpikir ia adalah sosok yang hangat dan ramah. Itulah cara Jared Kim menyembunyikan identitas aslinya. Dengan mengelabui penglihatan orang lain. Mengaburkan persepsi orang lain terhadap dirinya.
“Bagaimana perkembangan anak itu?” tanyanya tenang pada salah satu kaki tangannya. Seorang pria yang sejak tadi berdiri di seberang ruangan perlahan mendekat.
“Tuan muda mulai memahami tugasnya, Sir. Saya yakin tidak lama lagi Tuan Muda akan siap mengemban tugas sebagai pengganti Anda.” Lapornya dengan penuh hormat dan kesopanan. Tentu saja, jika sampai salah kata ataupun bicara, Jared Kim tidak akan segan-segan untuk melepaskan peluru dari revolver kesayangannya.
“Bagus.”

Di lain tempat, Ryeowook kini tengah sibuk latihan tembak menembak di sebuah lapangan terbuka di temani oleh beberapa instruktur professional. Luka ditangannya sudah sembuh total dan kini ia bisa melanjutkan aktivitasnya seperti biasa. Hanya saja, kehidupan yang dijalaninya sudah berubah total. Semenjak pergi dari rumah sakit malam itu, ia sudah memutuskan untuk membuang dirinya yang lama. Tidak ada lagi Ryeowook yang baik hati. Ia benar-benar sudah kalah pada permainan nasib yang ditawarkan Ayahnya. Pria yang ia ketahui sebagai ayahnya itu sudah berhasil mengubahnya menjadi sosok yang baru. Ia sudah terperosok seutuhnya pada sisi gelap kehidupan yang sejak dulu selalu dihindarinya.
Ia sekarang menjadi seorang mafia.
Bukankah sejak dulu ia selalu menolak menjadi sama seperti orang tuanya?
Namun bagaimana pun darah mafia sudah mengalir dalam tubuhnya. Semua ini ia lakukan hanya untuk menyelamatkan semua orang yang disayanginya. Entah itu sahabat, teman, atau mungkin seseorang yang dicintai.

“Latihan cukup sampai di sini, Sir..” ucap salah seorang instruktur berkebangsaan Perancis itu. Ryeowook mengangguk lalu meletakkan senapan laras panjang yang sejak tadi ada di genggamannya. Tanpa berkata apapun Ryeowook melenggang pergi dari tempat yang membuatnya hampir mati bosan itu.

Lelah seharian latihan ini itu, Ryeowook sekarang memutuskan untuk melepas lelah sejenak. Seperti hari-hari sebelumnya, ia selalu duduk di salah satu kursi kayu yang menghadap ke pemandangan lepas pantai yang indah. Merenung sejenak di tempat itu bisa membuat pikirannya ringan walau hanya sebentar. Kediamannya sekarang memang luas dan nyaman. Namun semua fasilitas mewah itu tidak membuat hati kecilnya bahagia. Karena kebahagiaan yang sebenarnya sudah ia tinggalkan di Korea.
Tiffany Hwang, gadis itulah kebahagiaannya. Entah bagaimana kabar gadis itu saat ini. Mungkin baik-baik saja. sejauh yang ia tahu dari internet ataupun majalah, sekarang Tiffany Hwang sudah menjadi seorang aktris terkenal dan mendapatkan banyak penghargaan dari film-film yang dibintanginya.
Sejujurnya Ryeowook bahagia mengetahuinya. Syukurlah Tiffany menjalani kehidupannya seperti biasa. Ia tahu tanpa dirinya pun Tiffany tetap bisa hidup bahagia. Itu harus.
“Tiffany-ah..apa yang sekarang sedang kau lakukan?” gumamnya tanpa sadar. Ia merebahkan tubuh lelahnya sejenak lalu memejamkan mata. Hanya di saat seperti inilah ia bisa melihat kembali wajah gadis yang dirindukannya itu. Meskipun hanya berupa sekelebat bayangan samar, namun ia cukup bahagia. Andai ia bisa melihatnya secara langsung. Mendadak saja ia merindukan gadis itu.

Ryeowook bangkit lalu mengambil laptopnya yang sejak tadi tergeletak di meja bulat sampingnya. Ia akan mencari tahu informasi terbaru tentang gadis itu.
“Mwo? Tiffany Hwang akan memulai syuting film terbarunya di Las Vegas?” batinnya kaget. Itu artinya gadis itu sekarang berada di kota yang sama dengannya?

—o0o—

Ini adalah bulan ke tiga Tiffany syuting film terbarunya bersama beberapa aktor dan aktris Hollywood. Jadwal syuting yang padat membuatnya tidak sempat untuk mengunjungi orangtuanya apalagi mencari keberadaan Ryeowook di kota se-metropolitan Las Vegas. Tapi ia bisa menghela napas lega sekarang karena film itu hampir saja selesai. Sekarang ia pun sedang menyelesaikan scene terakhir.

“Cut!” teriak sang sutradara membuat para pemain yang sedang berakting di depan kamera itu mendesah lega. Dengan ini pengambilan gambar untuk film resmi berakhir. Tiffany merenggangkan ototnya yang kaku seraya mendesah lega. Setelah ini ia memiliki jadwal kosong. Ia akan memanfaatkan kesempatan itu untuk pergi mencari keberadaan Ryeowook.

“Kita harus segera kembali ke Korea..” ungkap Park Dong Gun, managernya saat perjalanan kembali ke hotel seselesainya syuting. Tiffany melonjak kaget.
“Mwo? Bukankah selama seminggu ini aku di beri waktu libur?” protesnya tak terima.
“Jadwal liburmu di undur hingga minggu depan. Besok kau harus melakukan sesi wawancara dengan salah satu majalah di Korea, setelah itu banyak sekali kegiatan yang berhubungan dengan promosi film barumu..”
Tiffany mengerang kesal mendengarnya. “Bisakah kita mengundurkan harinya? Aku benar-benar butuh istirahat. Kau kira tubuhku ini robot? Aku juga ingin merelaksasikan diriku..”
“Tapi kita bisa kehilangan sponsor penting, Mi Young-ah..” debat Dong Gun.
“Kau selalu menggunakan sponsor sebagai senjata. Baiklah, bagaimana kalau kau beri aku libur satu hari saja, setelah itu kita bisa melanjutkan pekerjaan kita yang tertunda. Aku tidak akan protes.” Putus Tiffany akhirnya. Dong Gun tersenyum lebar lalu mengambil buku agendanya, mencoret beberapa kegiatan lalu menambahkannya ke tanggal lain.
“Baiklah. Lagipula sepertinya kau sedang ingin berlibur di sini..”

—o0o—

Keesokan harinya, Tiffany benar-benar pergi. Bukan untuk bekerja melainkan mengunjungi salah satu kasino terkenal di Las Vegas. Ia mengetahui hal ini dari Mira. Ryeowook memang tidak mengatakannya dalam e-mail. Namun Eunhyuk, suami Mira yang seorang CEO perusahaan tv terbesar di Korea itu berhasil melacaknya. Dan hasilnya menyebutkan Ryeowook pernah berada di The Venetian, salah satu kasino termewah dan termegah di Las Vegas.
Tiffany memandang ragu bangunan mewah dan megah yang berdiri kokoh di hadapannya. Bagaimana cara ia menemukan Ryeowook di bangunan yang luasnya mencapai dua ratus ribu hektar ini? Sama saja seperti mencoba mencari jarum di dasar samudera.
“Tidak, aku tidak boleh menyerah..” tekadnya. Sebelum masuk, ia menghela napas terlebih dahulu sambil meyakinkan diri. Ia berjalan masuk dengan langkah anggun dan penuh percaya diri. Setidaknya ia tidak salah kostum datang ke tempat hiburan kelas atas seperti ini. Jadi, ia tidak perlu mencemaskan pandangan orang-orang terhadapnya.

Tiffany tiba di sebuah pintu masuk menuju kasino yang ramai dikunjuni orang. Ia melirik ke kiri dan kanan ketika berhasil masuk ke tempat penuh dengan orang-orang berjudi itu. Ini pemandangan asing, sungguh. Ia tidak pernah memasuki kasino sebelumnya. Tidak hanya orang-orang bertampang kebarat-baratan saja yang berkumpul di sini. Ia menemukan juga banyak orang berwajah oriental di tempat itu.

“Ah, Ryeowook ada di mana?” gumamnya dengan pandangan mengedar.
“Excuse me, do you know Kim Ryeowook from Korea??” seru Tiffany pada salah semua orang di ruangan besar dan luas itu. Namun karena hiruk pikuk suaranya tidak terdengar sama sekali. Tiffany berkacak pinggang sebal. Ini pertama kalinya ia tidak dipedulikan di tengah keramaian seperti ini. Karena cara pertama gagal, ia memakai cara kedua. Tiffany mengeluarkan foto Ryeowook lalu menunjukkannya pada salah satu pelayan di kasino itu.
“Kau mengenalnya?” Tanya Tiffany dalam bahasa Inggris pada pria bule itu.
“Em, bukankah ini Tuan Nathan?” ucapnya mengenali.Tiffany hampir saja melonjak senang. Namun sesaat kemudian keningnya berkerut.
“Nathan? Bukan, ini Kim Ryeowook.”
“Tapi disini dia dikenal sebagai Tuan Nathan.”
“Baiklah, di mana aku bisa menemukannya?”
“Biasanya ada di Ruang pertemuan untuk para ‘God Father’ di lantai atas gedung ini..”

Tanpa menunggu, ia segera berjalan agak cepat menuju lantai atas gedung itu. Butuh waktu sekitar lima belas menit untuk mencapai lantai atas. Ia benar-benar tidak sabar ingin segera bertemu dengan Ryeowook. Entahlah apa yang akan terjadi nanti, ia sudah tidak bisa menahan diri lagi.

“Tunggu Nona, kau dilarang memasuki area ini.” Cegah salah seorang bodyguard berjas hitam ketika Tiffany hendak berjalan melewati sebuah lorong menuju ruangan.
“Kenapa? Bukankah ini tempat umum. Aku ingin bertemu dengan Tuan Nathan.”
“Apa nona sudah memiliki janji?”
“Tidak, tapi aku temannya.. aku tidak memiliki banyak waktu untuk berdebat jadi minggirlah..” Tiffany menerobos masuk. Bodyguard itu dengan mudahnya menghalau tubuh kecil Tiffany lalu mendorongnya.
“Kalian ini benar-benar membuatku kesal..” Tiffany tersulut emosi. Ia memandangi pria-pria kekar di hadapannya dengan penuh amarah.

==To be continued==

58 thoughts on “Shady Girl Ryeowook’s Story (Part 8)

Your comment

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s