Shady Girl Ryeowook’s Story (Part 7)

Tittle : Shady Girl Ryeowook’s Story Part 7
Author : Dha Khanzaki a.k.a Shin Jeyoung
Genre : Romance
Length : Chaptered

Main Cast :

  • Tiffany Hwang
  • Kim Ryeowook

Happy Reading ^_^

Shady Girl Ryeowook's Story by Dha Khanzaki2

====Part 7====

Ryeowook batal pergi ke kampusnya karena tempat itu pun kini dipenuhi wartawan yang mengejar berita. Ia terpaksa bersembunyi di balik semak-semak yang tumbuh lebat di depan kampus. Sekarang ia dilanda kebingungan yang berkepanjangan. Bagaimana ini? Saat ia hampir putus asa, ponselnya berdering. Ketika dilihat rupanya panggilan dari Tiffany, gadis pembawa sial itu.
“Yeobseo..” bisiknya dengan suara pelan.
“Kenapa kau berbisik begitu?” tanya Tiffany heran di ujung sana. Ryeowook tidak menghiraukan kebingungan Tiffany. Ia langsung saja menyerbu gadis itu dengan pertanyaan yang sudah ada diotaknya sejak kekacauan ini dimulai.
“Ya! Kenapa banyak sekali wartawan yang mengejarku?! Katakan apa yang sebenarnya terjadi!!” ucapnya buru-buru. Suaranya diatur sepelan mungkin agar tidak menimbulkan suara gaduh.
“Akan aku jelaskan. Kau datanglah ke kantor agensiku. Akan kukirimkan alamatnya—tuutt..”
“Ya, heiii!!” Ryeowook mengumpat kesal karena gadis itu kembali bertingkah seenaknya.
“Gadis ini benar-benar menyusahkanku..” Ia memelas menatap layar ponselnya sendiri. Sebelum ada yang menyadari keberadaannya, ia segera pergi.

—o0o—

“Mwoya!! Apa maksudnya ini!!!” mata namja itu terbelalak lebar melihat salah satu halaman majalah yang di bacanya. Ia bergantian menatap Tiffany Hwang yang duduk tenang di seberangnya sambil menyesap teh dan berita yang tercetak di majalah itu.
“Itu masalah yang membuat kita diburu media, Ryeowook-ssi..” jawabnya tenang. Ryeowook terbelalak lebar lalu menghemaskan majalah itu dengan kencang di atas meja.
“Aku tidak terima jika harus dilibatkan dalam masalahmu, Tiffany-ssi!!”
Tiffany hanya mengendikkan bahu ringan. “Orang-orang terlanjur mengira kita menjalin hubungan. Lagipula kau yang memulai semua ini. Kau ingat, kejadian di balkon itu kau-lah yang melakukannya lebih dulu..”
Ryeowook kehabisan kata-kata untuk membalas. Memang benar. Insiden ciuman itu memang dia yang memulai. Namun ia tidak menyangka akan menimbulkan gosip seheboh ini.
“Lalu bagaimana denganku? Aku bukan artis. Aku tidak biasa dikerubungi wartawan.”
“Aku juga bingung karena ini bisa mengganggu kesuksesan film yang akan dirilis akhir bulan ini. Produser, sutradara, manager, bahkan beberapa teman artis menanyaiku seputar berita ini. Aku sama pusingnya denganmu.” Tiffany mulai menunjukkan raut putus asa yang sejak tadi ditahannya. Ia juga takut karir keartisannya akan hancur karena gosip ini.
Ryeowook menghempaskan dirinya di atas kursi. “Kau punya solusi untuk masalah ini?”
Tiffany mengendikkan bahu. “Managerku akan menanyai kita nanti. Kurasa aku harus menjelaskan yang sebenarnya..”
“Mwo? Kau gila!!!”

Ucapan Ryeowook terhenti karena manager Tiffany datang. Keduanya langsung bersikap tenang seolah tidak terjadi apapun. Park Dong Gun—manager Tiffany—duduk di sofa lain. Tatapannya yang tajam bercampur bingung menelisik Ryeowook seperti penyidik yang sedang menginterogasi pelaku kejahatan.
“Jadi, kau namja yang ada di dalam foto bersama Tiffany?”
Ryeowook merasakan tubuhnya menegang. “Ne..” suaranya terdengar kaku.
“Aku tidak suka bertele-tele. Karena itu aku akan langsung pada inti permasalahan. Jelaskan apa yang sebenarnya terjadi. Foto itu memperlihatkan kalian berciuman. Kau, mencoba untuk memanfaatkan Tiffany agar bisa terkenal, atau kau memang menyukainya?”

Baik Tiffany maupun Ryeowook terkejut mendengar pernyataan itu. Ryeowook menatap Tiffany sekilas yang menunjukkan reaksi sama sepertinya.
“Itu, sebenarnya..” sial, ia gugup sekali.
“Itu hanya akting, Mr. Park..” potong Tiffany. Ryeowook mengerjap dan kalimat itu membuat sang manager menatap artisnya.
“Apa maksudmu?”
Tiffany memantapkan posisi duduknya agar tampak meyakinkan. “Aku dan dia hanya berlatih salah satu adegan dalam film yang sedang kumainkan. Bukankah dalam film ada adegan dimana aku harus berciuman di balkon?” ucapannya terdengar wajar saja, seolah memang itu yang terjadi. Ekspresi gadis itupun terlihat meyakinkan.
“Lagipula, dia asistenku.” Tambahnya.

Ryeowook berdecak melihatnya. Gadis ini benar-benar pandai berakting. Cibirnya dalam hati. Tiffany kemudian mulai menjelaskan maksud dari foto-foto yang ada di majalah itu. Tentu saja semua itu bohong dengan kata lain semua itu hanya karangannya saja. Namun naasnya, manager malang itu percaya saja.
Mr. Park menepuk pahanya sekilas. “Baiklah, jika memang begitu kenyataannya. Kita harus segera melangsungkan konferensi pers untuk menepis gosip-gosip yang beredar.” Setelah itu dia beranjak pergi dari ruangan. Tiffany tersenyum lega, begitupun Ryeowook.
“Dasar gadis pembual..” gumam Ryeowook melirik Tiffany sekilas.
“Mwo? Kau mengucapkan sesuatu?” tanyanya polos.
“Tidak…” Ryeowook mengalihkan pandangannya ke arah lain. Sisi lain hatinya merasakan kelegaan yang luar biasa. Perlahan, senyum di bibirnya kembali terbit. Sebenarnya, yang ia takutkan bukanlah wartawan yang mengganggu ketenangan hidupnya, melainkan masalah lain yang lebih gawat. Bagaimana jika ayahnya melihat berita ini? Hidup Tiffany bisa terancam.

Sementara itu, tanpa disadari Ryeowook sedikitpun, Tiffany tertegun melihat senyumnya. Entah kenapa, irama jantungnya menjadi tidak normal melihat senyum itu. Astaga, apa yang sebenarnya terjadi?

—o0o—

Las Vegas, Amerika Serikat..

Seorang pria berusia 50 tahunan duduk tenang di balik meja kerjanya. Terselip raut kesal di sela hembusan napasnya yang lelah. Cerutu yang sejak tadi dipegangnya terasa tidak menarik lagi untuk di hisap.
“Sir, There is a new problem from Korea..” ucap salah satu bawahannya yang mengenakan setelan jas berwarna hitam dan kacamata hitam juga. Pria tua itu menoleh.
“I know that. Keep looking after him..” tegasnya sambil meletakkan cerutu itu di atas asbak kecil yang tergeletak di mejanya. Bawahannya itu mengangguk lalu kembali meninggalkannya sendiri di dalam ruangan yang luas dan tampak mewah. Ia melihat kembali majalah yang tadi dibacanya lalu berdesis.
“Anak itu, menolak kembali kemari karena gadis ini??” geramnya kesal. Berita tentang Tiffany Hwang rupanya di muat juga dalam salah satu majalah bergengsi di kota Las Vegas. Dan itu membuatnya sangat kesal. Kim Ryeowook, putranya di gosipkan dengan artis terkenal asal Korea Selatan itu. Ia sudah tidak bisa menahan emosinya lagi. Ia meraih gagang telepon untuk menghubungi salah satu bawahan yang ia tugaskan untuk mengawasi Ryeowook di Korea.
“Yes, sir..” ucap bawahannya di ujung sana.
“Kalian harus menyeret putraku kemari!! Tak peduli jika dia menolak ataupun berusaha kabur!!”
“Tuan, sebenarnya kami melihat Tuan Nathan sedang bersama dengan seorang gadis.”
Pria itu menggeram. Pasti Tiffany Hwang. Batinnya. “Jika dia bersama gadis itu, tembak saja!! yang penting kalian berhasil membawa Ryeowook kembali ke Las Vegas!!” setelah mengatakannya, ia membanting gagang telepon dengan segenap tenaga. Gadis itu akan menjadi pengganggu. Haruskah aku menyingkirkannya? Batinnya.

—o0o—

Beberapa waktu berlalu setelah konferensi pers waktu itu. Media sudah tidak lagi mempermasalahkan tentang hubungan Tiffany Hwang dan Ryeowook. Gosip itu pun berangsur lenyap di telan bumi. Tanpa terasa tiba juga premierre film yang dibintangi Tiffany. Tiket sudah habis terjual dalam tempo beberapa jam saja. dan hasilnya, film itu sukses besar. Tiffany mendapatkan pujian dari berbagai pihak atas aktingnya dalam film itu.

“Kau habis dari mana?” tanya Ryeowook ketika menjemput gadis itu di depan sebuah gedung teater. Dia masih menjadi asisten Tiffany dan ini adalah hari terakhirnya.
“Aku habis melihat salah satu temanku. Dia baru saja tampil dalam sebuah pertunjukkan drama di teater itu.” ucap Tiffany santai sambil memasang sabuk pengaman.
“Bukankah kau juga baru saja merilis film? Bagaimana film-mu itu?”
“Sukses besar tentu saja. Oh, aku akan mentraktirmu makan malam!! Ini sebagai tanda terima kasihku karena sudah mau menjadi asistenku selama ini..” usul Tiffany.
“Yah, aku tidak akan menolaknya.”

—o0o—

Ryeowook menghabiskan banyak sekali daging sapi panggang malam itu. Tiffany melongo melihat nafsu makan Ryeowook yang begitu besar.
“Wow, kau lapar atau rakus?” tanyanya. Ia tidak bisa makan terlalu banyak dan hanya menghabiskan satu porsi salad. Ia harus menjaga berat tubuhnya agar tetap ideal.
“Aku sangat senang. Karena hari ini adalah hari terakhirku menjadi asistenmu..” ungkap Ryeowook semangat. Sesekali ia meneguk minumannya.

Mendadak saja Tiffany menghentikan gerakannya. Ia meletakkan sumpitnya dengan lemah lalu kepalanya perlahan terangkat menatap namja yang tengah makan dengan lahap di seberangnya. Ia tidak suka gagasan itu. Tapi memang begitulah kenyataannya. Kebersamaan mereka akan berakhir hari ini. Ryeowook tidak akan menjadi asistennya lagi mulai besok. Bukankah itu berarti, mereka tidak akan terlalu sering bersama.

Tiffany merasakan perih dan sesak di bagian dadanya. Tenggorokannya pun terasa sesak. Ia tidak mau berpisah dengan namja itu. Tidak mau..
“Kenapa kau malah diam? Saladmu masih banyak..” Ryeowook menunjuk mangkuk salad Tiffany yangmasih penuh. Gadis itu sekarang justru memperlihatkan raut sedih. Ada apa dengannya? Bukankah seharusnya hari ini ia bergembira karena filmnya sukses besar. Lalu apa yang salah?
“Kau tidak sedih?” tanyanya lemah. Ryeowook mengerjap mendengar Tiffany berkata dengan nada rendah dan tampak sedih. Ia berhenti memakan daging sapi.
“Sedih untuk apa?”
Tiffany mengangkat kepalanya, menatap Ryeowook. “Kita akan berpisah. Setelah ini, mungkin kita akan jarang sekali bertemu..”
Ryeowook terdiam untuk beberapa saat lamanya. Sebenarnya, ia pun merasakan hal yang sama. Kebersamaannya dengan gadis itu, membuat ia terbiasa. Dan ia tidak tahu apakah hari berikutnya ia akan terbiasa kembali tanpa kehadiran Tiffany. Ia hanya bisa memastikan satu hal, ia pasti akan merindukan Tiffany. Tunggu dulu. merindukan?
“Kau terlihat bahagia..” timpal Tiffany. Ia tidak melihat raut sedih di wajah namja itu. Rupanya, bagi Ryeowook ia hanya gadis pembawa sial. Ia menyuapkan salad kedalam mulut, lalu mengunyahnya tanpa semangat sedikitpun.
“Meskipun berpisah, bukan berarti kita tidak bisa bertemu bukan..”
Tiffany kembali mengangkat kepalanya. kini, ia menemukan namja di hadapannya itu tersenyum. Omo, ia salah lihat atau memang Ryeowook tampak sangat manis. Ia sudah membuka mulut, bersiap untuk membalas ucapannya namun Ryeowook kembali memotong.
“Kita masih bisa bertemu. Tak peduli waktu atau tempat, asal kita berdua masih sama-sama bernapas, kita masih bisa bertemu.”
Entah kenapa, mendengar kalimat itu Tiffany justru merasa sedih. “Itu terdengar seperti kalimat perpisahan.”

“Lagipula, memang kenapa kau harus sedih? Seharusnya kau gembira karena tidak bertemu denganku lagi.” ucap Ryeowook. Tiffany menoleh padanya. Ryeowook tidak menatapnya karena sibuk memakan sisa daging sapi yang masih ada di atas pemanggang. Gadis itu memegang erat sumpitnya. Tiba-tiba saja ia merasa tubuhnya bergetar hebat. Haruskah ia mengungkapkan perasaannya? Tapi ini terlalu cepat. Ia takut perasaan yang ada dalam dirinya hanya sekedar suka..seperti suka pada teman.
Aku tidak boleh mengulangi kesalahan yang sama! Bagaimana jawaban Ryeowook nanti bukankah itu terserah padanya. aku cukup mengungkapkan apa yang kurasakan padanya saja. Batin Tiffany bulat.

“Apa kau tidak tahu, Ryeowook-ah..” gumam Tiffany. Ia menatapnya lekat. “Entah sejak kapan ini bermula, tapi sepertinya…aku menyukaimu..”

Ryeowook membelalakkan matanya. Ia terdiam dan gerakan tangannya berhenti di udara. Daging terakhir yang akan ia santap ia letakkan kembali di atas pemanggang. Matanya menatap Tiffany yang sekarang memalingkan pandangannya ke arah lain.
“Mwo? Kau bilang apa? menyukaiku???” Ryeowook hampir saja berseru karena kaget. Tiffany berdesis kesal dalam hati. Bisakah dia berbicara pelan sedikit!! Untung saja mereka berada di ruang privasi sebuah restoran. Jika tidak, pembicaraan mereka sekarang bisa jadi santapan umum.

“Haruskah aku mengulanginya? Atau telingamu itu mendapat gangguan?” seru Tiffany kesal.
Namja itu menghela napas berat. Seperti baru saja memutuskan hal sulit. Tiffany tidak suka melihat reaksi itu. Membuatnya sangat gugup dan takut.
“Bukankah sudah pernah kubilang untuk tidak menyukaiku..”

Kalimat yang diucapkan dengan berat dan tenang itu membuat sekujur tubuh Tiffany membeku. Apa katanya barusan? Apa itu artinya, Ryeowook menolaknya..?
Ekspresi Ryeowook mendadak berubah serius. “Karena, jika kau menyukaiku..kau akan menyesal.” Ia pun merasa lidahnya kelu dan tenggorokannya tercekat saat mengatakannya. Sungguh, ia tidak bermaksud membuat Tiffany sedih. Tapi gadis itu harus tahu bahwa bahaya bisa saja menghadangnya jika ia terus berada di dekatnya. Meskipun mungkin, ia pun merasakan hal yang sama pada gadis itu.
“Kenapa? kenapa harus menyesal? Memang apa yang akan terjadi?”
“Aku tidak bisa menjelaskannya sekarang. Lain kali aku akan memberitahumu alasannya.”

Setelah itu, suasana sempat kaku. Tiffany merenungkan dirinya yang baru saja ditolak pria—untuk kedua kalinya. Dan Ryeowook sibuk menyesali diri karena lagi-lagi ia tidak bisa mengungkapkan isi hatinya yang sebenarnya.

—o0o—

Malam itu terasa sangat dingin karena sudah memasuki awal musim dingin. Ryeowook dan Tiffany berjalan keluar restoran dengan perasaan canggung. Mereka harus berjalan agak jauh karena mobil mereka diparkir di ujung jalan sana. Tiba-tiba saja Ryeowook menahan tangan Tiffany. Gadis itu menghadapkan tubuhnya ke arahnya.
“Em, Tiffany-ssi. Kau harus tahu satu hal. Sebenarnya aku—“ Ryeowook membelalakkan matanya ketika melihat di kejauhan, tepat di belakang Tiffany ada seorang pria yang mengarahkan senapan ke arah Tiffany.
“Apa?” tanya Tiffany penasaran.
“Merunduk!!!”
Belum sempat Tiffany menyiapkan diri, tiba-tiba saja Ryeowook menariknya ke dalam pelukan lalu merunduk menghindari tembakan yang mengarah ke mereka. Suara tembakan dan peluru yang menyasar ke arah pohon membuat suasana gaduh. Orang-orang berteriak kaget dan berlarian ke sana kemari.
“Apa itu!!!” teriak Tiffany panik.
“Sekarang bukan saatnya bertanya!! Sebaiknya kita kabur!!” Ryeowook segera menariknya pergi. Membawa gadis itu berlari bersamanya.
“Ryeowook-ah, kau akan membawaku lari kemana!!” seru Tiffany sambil berlari. Ryeowook tidak menjawab karena ia harus fokus berlari dan menoleh ke sekitar mereka apakah orang-orang bersenapan tadi mengejar mereka atau tidak. Ia terkesiap karena orang-orang itu masih mengejar.

Door…

“kyaaa!!!”
Tembakan itu kembali dilepaskan dan beruntung mereka tidak kena. Jalanan yang mereka lalui kini sepi.
“Siapa mereka??” seru Tiffany lagi.
“Mereka bukan orang baik yang pasti..” balas Ryeowook. Mereka terus berlari hingga akhirnya tiba di jalan raya. Ryeowook segera menarik Tiffany melintas jalan itu namun ia tidak melihat ada sebuah mobil yang melaju cepat ke arah mereka.
“aaaarrgggghhh!!!!” Tiffany maupun Ryeowook berteriak histeris. Beruntung mobil itu mobil polisi dan berhenti tepat beberapa senti sebelum menabrak keduanya.
“Ya!! Kalian ingin bunuh diri bersama!!” seru polisi itu seraya turun. Ryeowook menghela napas lega. Ia segera mendorong Tiffany ke arah polisi itu.
“Pak, tolong antar dia dengan selamat sampai rumah.”
“Mwo? Apa maksudnya ini? Kau akan kemana?” Tiffany menghampirinya kembali. Ryeowook melihat orang-orang itu kembali mengarahkan senapan mereka ke arah Tiffany. Apa yang mereka lakukan? Membunuh gadis ini?
“Tiffany-ssi, awas!!!” Ryeowook menarik gadis itu dari tempatnya berdiri dan melindunginya. Semuanya terjadi begitu cepat. Tiffany tidak bisa menerka apapun selain suara tembakan, dan Ryeowook yang memeluknya.

“Mwo? Apa itu tadi? kejar penjahatnya!!!” polisi yang menyaksikan kejadian itu segera mengejar pelaku yang kini kabur.

Tiffany masih berdiri kaku dengan Ryeowook yang memeluknya. Namun ia merasa ada yang aneh. Karena Ryeowook tidak bergerak sama sekali dari posisinya.
“Ryeowook-ssi..” lirihnya takut. Namja itu mengangkat kepalanya lalu tersenyum lemah.
“Syukurlah kau selamat..” ucapnya singkat. Tiffany mengerutkan kening bingung. Perlahan raut bingungnya itu berganti dengan raut terkejut dan panik. Ia merasakan ada sesuatu yang hangat mengalir dari lengan namja itu. matanya terbelalak. Darah. Darah mengalir sangat banyak dari tangan Ryeowook. Namja itu terkena peluru yang melesat tadi.
“Ryeowook-ssi.. gwaenchana!!!” teriaknya panik. Senyum namja itu perlahan memudar dan matanya menutup. Tak lama setelahnya, tangan Ryeowook yang memeluknya melemah dan namja itu kehilangan kesadarannya.

—-o0o—-

Tiffany masih tidak bisa menangkap apa yang sebenarnya sedang terjadi. Tubuhnya seperti menapak di atas lumpur dan pikirannya melayang kemana-mana. Ia menggigil. Sekujur tubuhnya bergetar dan pandangannya kosong menatap tangannya yang masih bernoda darah Ryeowook. Airmatanya pun terus mengalir meskipun tak ada isak tangis yang keluar. Ia memaksakan diri menoleh ke arah pintu ruang IGD yang masih menyala. Ryeowook ada di dalam sana. Namja itu sedang berjuang untuk tetap hidup setelah tadi dibawa ke rumah sakit dalam keadaan sekarat.
Siapa sebenarnya yang tega menembak Ryeowook? Apa salah namja itu? Ia mengerjap memikirkan satu kemungkinan.
“Mungkinkah ini ulah sasaeng fans yang tidak suka gosipku dengan Ryeowook?” gumamnya tercengang. “Tidak, tidak. Bukankah aku sudah mengklarifikasinya. Lagipula gosip itu sudah tidak beredar lagi.”
Sekarang, ia memeluk tubuhnya sendiri. Ia terus berdoa. Ia harap Ryeowook baik-baik saja. samar-samar, ia bisa mendengar perkataan namja itu sebelum hal mengerikan ini terjadi.
“Em, Tiffany-ssi. Kau harus tahu satu hal. Sebenarnya aku—“
Oh, dear..apa yang ingin dikatakannya???

—o0o—

Ruang operasi pun terbuka setelah 2 jam menegangkan berlalu. Tiffany segera bangkit dari duduknya lalu menghampiri beberapa dokter dan asistennya yang keluar dari ruangan itu.
“Bagaimana dok? Apakah dia baik-baik saja?”
“Beruntung peluru hanya mengenai bagian lengannya saja. tidak terlalu menimbulkan dampak yang fatal. Hanya saja perlu waktu lama untuk memulihkannya. Dan anda tenang saja, pasien baik-baik saja meskipun sempat kehilangan banyak darah. Saat ini, dia kami beri obat tidur agar bisa memulihkan kembali kondisinya. Anda baru bisa membesuknya esok hari. Sekarang sudah terlalu malam. beristirahatlah.” Ucap dokter itu setelah itu meninggalkan Tiffany seorang diri di depan ruang IGD. Hal pertama yang dilakukan Tiffany adalah menghela napas lega. Syukurlah jika Ryeowook memang baik-baik saja. Jika sampai terjadi sesuatu, entah apa harus dilakukannya.

Ryeowook masih belum siuman esok harinya. Tiffany menatap wajah namja itu dengan tatapan sedih bercampur rasa bersalah. Dia tertembak untuk melindungi dirinya. Ia duduk di samping ranjang. Wajahnya tampak pucat dan lelah. Ia tidak tidur semalaman. Beruntung hari ini pekerjaannya di mulai siang nanti. Ia bisa beristirahat meski hanya sebentar.

Ddrrrrtttt..ddrrrrrtttt…

Tiffany tersentak bangun dari tidurnya mendengar suara ponsel bergetar. Tanpa sadar ia tertidur di tempatnya duduk. Ia merogoh ponselnya dan mengerjap melihat layar ponsel. Managernya memanggil.
“Yeobseo..” Tiffany bergerak keluar dari ruangan. “Aku? Aku ada di rumah sakit. Temanku, dia dilarikan ke rumah sakit kemarin…apa? sekarang? Tapi bukankah pemotretannya dimulai siang nanti?..sial…baiklah, baiklah. Aku akan ke sana…” ia memasukkan kembali ponselnya setelah pembicaraan itu selesai.
“Kenapa mereka suka sekali mengubah jadwal tiba-tiba..” gerutunya kesal. Ia masuk dan menatap wajah namja yang terbaring lemah di tempat tidur itu dengan tatapan sedih.
“Maaf, aku tidak bisa menemanimu terlalu lama..” Ia menghela napas. Dalam hati Tiffany merasa cemas. Jika Ryeowook dibiarkan sendiri, lalu siapa yang akan menyambutnya saat ia tersadar nanti. Ia menatap ponsel namja itu yang tergeletak di nakas samping. Mungkin di sana ada seseorang yang bisa dihubungi.

—o0o—

Ryeowook tersadar dari tidurnya. Matanya mengerjap beberapa kali mencoba menyesuaikan dengan keadaan sekitarnya yang terang benderang. Kepalanya terasa berputar-putar dan tangan kirinya terasa sakit. Bau khas rumah sakit langsung menusuk hidungnya dan itu membuatnya sadar ia berada di salah satu ruang rawat rumah sakit. Di pergelangan tangannya pun menempel selang infus.
“Oh, kau sudah sadar rupanya..”
Suara seseorang membuatnya menoleh ke arah pintu masuk. Kim Mira masuk membawa sebuket bunga lalu meletakkannya di dalam vas yang ada di meja samping tempat tidurnya.
“Mi-ra..” ucapnya serak. “Bagaimana kau tahu aku ada di sini?”
Mira tersenyum singkat, ia mendudukkan diri di kursi samping tempat tidur. “Aku mendapat telepon dari Tiffany Hwang. Dia mengatakan kau kecelakaan dan dia meminta bantuanku untuk menjagamu..” ia sudah tahu bahwa Ryeowook akhir-akhir ini bersama artis cantik itu. Ia sudah mendengar semua ceritanya dari Ryeowook sendiri.
“Jinjja?” Ryeowook teringat kembali, bukankah terakhir kali ia memang bersama gadis itu.
“Sekarang, mana gadis itu?” tanyanya dengan pikiran berputar-putar. Ia mengkhawatirkan bagaimana kondisi Tiffany. Jangan sampai gadis itu pun terluka seperti dirinya.
“dia pergi bekerja dan akan kembali sore nanti. Em, bagaimana keadaanmu? Sebenarnya apa yang terjadi?” Mira cemas sekali melihat sahabatnya ini tak berdaya.
Oh, syukurlah jika gadis itu baik-baik saja. Ryeowook tersenyum samar. “Hanya kecelakaan biasa. Tanganku sedikit terluka karena diserang seseorang. Entahlah, mungkin antifans..” jawabnya dibuat sesantai mungkin.
“Aigoo..kau ini. Sudah terluka seperti ini masih juga bisa santai. Kau harus mengusutnya. Orang yang sudah melukaimu harus mendapatkan hukumannya.”
“Tidak perlu. Yang penting aku baik-baik saja..” elak Ryeowook. Sebenarnya, ia tahu siapa yang menembakkan peluru padanya semalam. Hanya saja ia tidak mau orang lain tahu bahwa..bahwa semua itu kemungkinan ulah ayahnya sendiri.

—o0o—

Tiffany merasa sangat lelah setelah seharian bekerja. Ia ingin sekali beristrirahat namun sepertinya ia harus menunda rencananya itu. Ia mana bisa tidur nyenyak sebelum memastikan Ryeowook baik-baik saja. Saat ia memasuki kamar rawat namja itu, keadaan di sana masih sama seperti saat ia pergi. Ryeowook masih tertidur dan tidak ada seorang pun yang berjaga di sana. Kemana gadis bernama Mira itu? bukahkah ia meminta bantuannya tadi pagi. Ah, mungkin sudah pulang.
Ia meletakkan keranjang buah yang dibawanya di samping vas berisi bunga. Ia duduk di kursi. Dalam sudut hatinya, terselip perasaan sedih yang mendalam dan perasaan bersalah. Ia ingin sekali mengetahui siapa yang berani melakukan ini semua. Menembak seseorang di muka umum. Bukankah itu tindakan yang sangat berani? Tidak mungkin dilakukan oleh antifans semata. Pasti ada seseorang yang ingin melukai Ryeowook atau pun dirinya.
Tiffany mengerjap karena ia melihat Ryeowook bergerak dalam tidurnya. Perlahan namja itu membuka matanya.
“Ryeowook-ah..” seru Tiffany ceria. Ia merasa lega. Akhirnya namja ini membuka matanya juga. Ryeowook menoleh. Sesaat, ia terdiam. Hanya menatapi sosok Tiffany yang ada didekatnya. Gadis itu baik-baik saja. Dia tetap sama seperti yang terakhir dilihatnya.
“Oh, kau rupanya..” Ryeowook berusaha mendudukkan diri dengan susah payah. Tiffany membantunya. Ia memandanginya.
“Kau kenapa?” Ryeowook merasa heran karena Tiffany terus menatapnya tanpa berkedip sedikitpun. Alih-alih menjawab, mata Tiffany kini justru berkaca-kaca. Airmata itu kembali meleleh tanpa komando. Ryeowook mengerjap.
“Omo..kau kenapa? apa ada yang sakit?” Ryeowook cemas. Tangan kanannya yang tak dibebat mengangkat hendak menyentuh wajah Tiffany namun gadis itu lebih dulu menghambur ke pelukannya.
“Auch..” Ryeowook meringis dan ia mengatupkan bibirnya rapat-rapat agar tidak mengaduh terlalu keras. Tubuhnya masih belum pulih setelah penembakan semalam. Tapi, Ia justru merasa senang. Tiffany benar-benar mencemaskannya. Ini kali pertama dalam hidupnya ada seseorang yang mencemaskannya.
“Aku sangat lega melihatmu sadar kembali, Ryeowook-ah..kau membuatku tidak bisa bekerja dengan tenang..hiks..”

Ryeowook diam-diam tersenyum. Ia mengusap rambut gadis itu dengan lembut.
“Maaf..” di sisi lain ia pun merasa bersalah. Tiffany terus menangis di pelukannya. Hingga akhirnya, beberapa saat kemudian tidak terdengar suaranya lagi. Ryeowook mengerjapkan mata berkali-kali. Kenapa tiba-tiba suasana terasa sepi dan canggung?
“Hei, kau terlalu lama memelukku..” Ryeowook mengguncang halus tubuh yeoja itu namun nihil. Sesaat kemudian ia baru tersadar bahwa Tiffany tertidur dalam pelukannya. Ia kembali mengulum senyum. Gadis ini pasti kelelahan. Wajahnya tampak pucat.

—o0o—

Hari sudah gelap ketika Tiffany terjaga dari tidurnya. Ia mengerjap panik lalu bangkit. Kepalanya mengedar ke sekeliling menyadari ia tertidur di ranjang yang ditiduri Ryeowook. Lalu kemana namja itu? Ruangannya terlihat kosong.
“Bagaimana? Tidurmu nyenyak?”
Ryeowook masuk ke dalam kamar rawat sambil menyeret tiang infusnya. Tiffany terkesiap lalu turun dari tempat tidur. Dengan panik ia merogoh cermin yang ada di dalam tas lalu merapikan penampilannya sendiri. Seorang publik figur tidak boleh terlihat berantakan di muka umum. Setelah yakin penampilannya rapi, ia menoleh lalu tersenyum. Namja itu hanya mendengus melihat tingkah Tiffany. Benar-benar gadis penjaga image!
“Kenapa kau berkeliaran!! Kau seharusnya istirahat!!” Tiffany membantu namja itu kembali berbaring di tempat tidurnya.
“Bagaimana bisa, kau tertidur pulas sejak sore di tempat tidur ini..”
Tiffany merasa pipinya memanas. “Maafkan aku..” ia diam sejenak dan baru sadar satu hal penting. “Ryeowook-ah..kau tidak memiliki siapapun di Korea? Selain sahabatmu Kim Mira?”
Ryeowook terdiam. “Keluargaku tinggal di Amerika.” Ujarnya dengan pandangan datar.
“Really? Ayah ibuku juga tinggal di sana. Wah, kebetulan sekali. Apa pekerjaan ayahmu?” Tiffany mendadak penasaran. Ia ingin tahu lebih banyak tentang Ryeowook. Namja itu memandangnya dengan tatapan dingin.
“Kau akan terkejut jika mengetahuinya.”
“Ah, tidak akan..” Tiffany mengibaskan tangannya ringan. Ryeowook mengangguk singkat. Ia kembali menatapnya.
“Ayahku..dia seorang Mafia..ah, istilah jepangnya..dia Yakuza..”

Gadis itu membeku untuk beberapa detik setelah mendengarnya. Matanya melotot dan mulutnya menganga. Ryeowook menghela napas berat. Seperti yang sudah ia duga. Gadis itu pasti terkejut. sebenarnya ia tidak ingin memberitahukan identitas asli ayahnya pada siapapun. Namun Tiffany harus mengetahuinya. Dengan begitu ia tahu bahwa dekat-dekat dengannya sangat berbahaya.
Tapi reaksi Tiffany justru di luar dugaannya. Gadis itu tertawa kencang. Ryeowook melongo melihat wajah senangnya saat tertawa. Dia..menganggap ucapannya hanya gurauan semata?
“Kau ini pintar sekali bergurau..” Tiffany menepuk halus bahunya. “Kau pikir kita sedang bermain dalam film American Gangster? Hahaha…”

Ryeowook berdecak sebal “Sudah kuduga kau tidak akan percaya.. ya sudah..”
“Seriuslah sedikit..apa pekerjaan ayahmu..” Tiffany berusaha menghentikan tawanya.
“Sebenarnya dia seorang pengusaha..” Ryeowook terpaksa berbohong. Gadis itu menganggukkan kepalanya.
“Jangan bergurau lagi denganku.. itu tidak lucu..” ucap Tiffany di sela tawa yang masih ada.

Ryeowook menatap sendu gadis itu. Tapi aku tidak bercanda. Ucapnya dalam hati. Ayahku benar-benar seorang mafia dan karena itulah aku menghindarinya selama ini. Kumohon. Mulai sekarang kau harus menjauh dariku. Karena kurasa, Ayahku sudah menggunakan cara-cara kejam untuk membawaku kembali ke Amerika. Aku tidak ingin siapapun terluka.
Karena itulah, kenapa semalam ada seseorang yang mengarahkan senapan padanya dan Tiffany. Hatinya tidak tenang. Ia tidak akan tenang sebelum memastikan ayahnya tidak akan berbuat macam-macam pada Tiffany.

==To be continued==

46 thoughts on “Shady Girl Ryeowook’s Story (Part 7)

  1. Minggu berdarah,, td donghae kecelakaan d i hate u but, ryeowook d tembak ma org suruhan appanya d shady girl mg z kyuhyun d i married the bad boy g ikut2an b’darah jg😛
    Jd bnr appanya wookie tu mafia!?
    Klo gt nextttt😛

  2. oenni lgi knpa..
    knpa semua part yg oenni publish hari ini bertema kecelakaan..

    hmm.. smoga part slanjut’a gx ad darah”an lgi y oenn.. soal’a aq tkut darah oenn..

  3. makin penasaran ma kisah hidupnya ryeowook jadinya,mudah mudahan gak ada adegan menyeramkan lagi ya thor,serem abisnya,hehe

    lanjut author

  4. next! hua! hentikan tembak menembaknya please TT untung kena lengan, gimana kalo kena jantung?
    sebenernya dari awal udah menebak ayahnya ryeowook itu mavia/gangster/yakuza/ pengusaha besar yang melibatkan dirinya sendiri ke BO. [Black Organisasion]

  5. jadi appanya wookie adalah mafia….

    pantesan kejam banget….

    next palli eon….
    bis ini storynya hechul ya biar kibum ma jarin bisa menikah….
    yesung juga gapapa biar kyu cpet pnya aegi….
    tapi oppa leeteuk juga gapapa koq aku selalu suka karya author….
    Fighting….

  6. aaa…jd appa’y ryeowook th mafia pntz ryeowook g mw nerusin bisniz ayah’y??????smkin penasaran sm klnjtn crta’y..

  7. Gilllaaa..

    Pantes aja wookie gga mau nerusin kerjaan appa’a ternyata appa’a yakuza toh..

    Seuremm..

    Lah tiff dah suka toh ma nae nampyeon?? :$

    Next..

  8. wah gak nyangka ayahnya ryeowook itu mafia ???
    omooo gimana lanjutannya kisah mereka ??
    penasaran sangat !
    aku baru ngeh kenapa di covernya ryeowook bawa pistol ternyata ada actionnya hehehe
    oke deh next ^^

  9. Ternyata Ryeowook anak seorang mafia
    Keren !!!
    Ngebayangin Ryeowook jadi mafia,tapi kayak’y ga cocok sama muka’y #dijitakRyeowook

Your comment

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s