Shady Girl Ryeowook’s Story (Part 6)

Tittle : Shady Girl Ryeowook’s Story Part 6
Author : Dha Khanzaki a.k.a Shin Jeyoung
Genre : Romance

Main Cast :

  • Tiffany Hwang
  • Kim Ryeowook

Support Cast :

  • Henry Lau
  • Choi Siwon

Ada beberapa point penting yang pengen author jelaskan lagi sebelumnya :

  • Setting FF ini berjalan sama kayak Siwon’s Story karena itu ada beberapa adegan yang sama kayak di FF itu. Author udah pernah cerita bukan di Part 1? Jadi kalau ada yang nanya “kok Sunheenya masih sakit kan di Siwon Story udah sembuh?”. Mungkin temen-temen lupa, Heheh. Author sekali lagi mengingatkan FF ini masih satu setting ama Siwon’s Story. Jadi bisa dibilang versi Tiffanynya.
  • Di part ini juga ada adegan yang sama kayak di Siwon’s Story *check it out aja*
  • Kalau ada yang merasa feelnya kurang dapet. Mungkin itu disebabkan oleh keamatiran author yang gak begitu jago menyusun kata-kata yang bikin FF ini kurang nge-feel *deepbow*. Buat yang udah dapet inpirasinya selamat yah, itu artinya kalian satu hati ama author ^_^.. soalnya author buat FF ini dengan sepenuh hati *suka ama castnya sih*
  • Buat yang masih merasa couple Ryeo-Fanny kurang WOW, boleh kok tekan tombol back ^_^ kalau tetep maksain baca, author makasih banget atas apresiasinya. Author titip doa deh buat kalian *nyengir kuda.
  • Hati-hati typo.

Sekian ceramah author. Happy Reading ^_^

Shady Girl Ryeowook's Story by Dha Khanzaki2

====Part 6====

Tiffany masih terduduk lemah di lantai balkon. Seluruh rohnya seolah belum kembali seutuhnya ke dalam tubuh. Ia memaksakan diri untuk bangun. Dengan kaki yang masih bergetar ia memaksakan diri untuk bangun lalu melangkah memasuki apartement Ryeowook.
“Ryewook-ssi, aku..sebaiknya pulang..” ucapnya linglung. Ia menarik jaket panjangnya yang masih setengah basah lalu memakainya. Ia tidak menunggu namja itu menjawab. Ia segera pergi dari sana. Di jalan, pikirannya terus bergantian antara kejadian di balkon dan kejadian malam itu. harga dirinya seperti jatuh ke dasar. Aigoo, bagaimana mungkin saat mabuk ia mencium sembarang namja. Rasanya ia ingin menenggelamkan diri ke dalam pasir hidup.

Ryeowook tidak menjawab apapun saat gadis itu memutuskan pergi dari rumahnya. Karena sekarang keadaannya pun sama kacaunya dengan Tiffany. Ia merasa bingung. mengapa bisa ia melakukan hal konyol seperti mencium lebih dulu gadis itu? apa ia sudah gila? Untuk apa ia melakukan hal memalukan seperti itu? bagaimana jika nanti terjadi satu hal yang berbahaya seperti..ia jatuh cinta?
“Arrghhh.. Kim Ryeowook, kau sudah melakukan kesalahan besar..” rintihnya kesal.

—o0o—

“Oke.. selesai..” teriak Henry mengakhiri acara pemotretan hari itu. Tiffany tersenyum di sela rasa lelah yang melandanya. setelah kembali dari Inggris, banyak sekali pekerjaan yang mendatanginya. Termasuk menjadi model majalah. Kali ini ia melakukan pemotretan di majalah tempat sepupunya—Henry—bekerja.
“Hei, cantik. Setelah ini kau ada acara apa?” Henry menghampiri Tiffany ketika gadis itu sedang memasukkan seluruh perlengkapannya ke dalam tas.
“Tidak ada..” jawabnya singkat sambil tersenyum.
“Kalau begitu ayo ikut dengan kami. Eunri mentraktir kita makan siang. Tentu saja kau juga boleh ikut..”
“Aku ingin sekali ikut, Henry. Tapi..aku sedang tidak ingin menghadiri acara apapun setelah ini..” ucapnya dengan nada menyesal.
“Owh.. baiklah. It’s okay.. aku akan mengatakannya pada Eunri bahwa kau berhalangan hadir”
“Gomawo. kau memang pengertian..bye.. sampaikan salamku pada yang lainnya..” pamitnya. Henry mengangguk lalu melambaikan tangannya pada Tiffany.

Sebenarnya ia juga tidak enak menolak ajakan Henry. Namun, hari ini ia ingin sekali menghirup udara segar setelah semalaman pikirannya tidak bisa pernah tenang karena Ryeowook. Aneh sekali. Biasanya ia bisa cepat melupakan kejadian semacam itu. oleh sebabnya, sekarang ia memilih berjalan-jalan di Cheonggyecheon. Mungkin di sana ia bisa menemukan sesuatu yang bisa membuat jiwanya kembali relaks.

Ia berjalan menelusuri sepanjang jalan yang dekat dengan taman. Ia tidak menghiraukan tatapan orang-orang yang mengenalinya. Sekarang ia merasa jiwanya sangat tenang begitu melihat hijaunya pepohonan dan jernihnya air dari sungai yang mengalir tak jauh darinya. Tidak lupa juga dengan angin yang bertiup semilir. Semuanya mampu menghapus rasa penat yang melanda benaknya. Ia tersenyum menatap orang-orang yang tampak riang menjalani sisa hari ini bersama orang-orang yang di sayangi sampai akhirnya ia melihat sosok yang tak asing lagi duduk sendirian di salah satu bangku taman.

“Choi Siwon…” lirihnya tanpa sadar menyebut nama itu. Siwon menoleh begitu mendengar suaranya. Ia tampak kaget dan secepat kilat berdiri dan kegugupan tampak jelas dari ekspresinya. Ia tersenyum lalu berjalan mendekati namja itu.
“Tiffany-ssi..” ucap Siwon terbata. “Sedang apa kau di sini?”
“Jalan-jalan. Ini hari yang cerah. Lagipula aku sangat menyukai pemandangan di Cheonggyecheon. Sangat indah.” Ia mengedarkan pandangannya ke seliling dengan perasaan riang.
“Ah, memang benar..” Siwon ikut mengedarkan pandangannya ke sekitar.
Tiffany menatap Siwon kembali. “Kau sendirian atau..” ia menghentikan kalimatnya. Ia merasa saat ini Siwon tidak keluar sendirian.
“Aku sendiri..” selanya cepat, namun terdengar tidak meyakinkan di telinga gadis itu. Tiffany menganggukkan kepalanya.
“Oh..kukira kau sedang berkencan..” candanya. Siwon tertawa ringan.
“Kudengar kau sedang sibuk syuting.” Siwon mengalihkan pembicaraan.

Tiffany mengangguk senang. “Film layar lebar. Jika filmnya sudah diliris, aku akan memberimu tiketnya”
“Benarkah? Aku akan menunggunya..”
Tiffany tertegun melihat sikap janggal yang ditunjukkan Siwon. sepertinya dugaannya benar, namja itu tidak sedang sendirian. Mungkin saja sekarang ia sedang menunggu seseorang. Apa sebaiknya ia pergi saja?
“Kalau begitu aku pergi dulu..” pamitnya. Tiffany membalikkan tubuhnya, namun baru saja beberapa langkah ia mendengar Siwon kembali memanggilnya.
“Tiffany..”
Langkahnya terhenti. Dengan gerakan anggun, ia membalikkan badannya. “Iya?”

Siwon bergerak-gerak gugup. Ia mengusap tenguknya sekilas lalu kembali menatap Tiffany. Gadis itu merasakan firasat aneh. Apa Siwon akan bertanya sesuatu yang berkaitan dengan janji di Namsan Tower?
“Itu..janji kita..di, Namsan Tower tanggal 23..kenapa kau tidak pernah datang untuk menepatinya?”

Benar saja, senyumnya terhenti seketika. Pertanyaan Siwon berhasil membuatnya kembali teringat janji yang memang sengaja ia ingkari. Bagaimana ini? Apakah ia harus mengatakan yang sejujurnya? Oh, tentu saja harus. Karena ulahnya, Siwon menunggunya di sana setiap tahun. Ia harus menyelesaikan masalah ini. Ia merasa bersalah karena sudah melupakan janji itu. entah di sengaja atau tidak.
“Anu, Siwon-ah..ada sesuatu yang perlu kau ketahui..” ucapnya. Ia merasa sangat gugup, lebih gugup dibanding saat mengikuti audisi untuk menjadi seorang artis.

Tiffany memberanikan diri menatap wajah Siwon. Ia semakin merasa bersalah ketika mendapati ekspresi Siwon yang sangat menantikan jawaban darinya.
“Siwon-ah..Mianhae..aku tahu ini bukan saat yang tepat. Tapi aku tidak mau membuatmu menunggu lagi.” Ucapnya. Tiffany membasahi bibirnya yang kering.
“Aku, tidak menyukaimu. Aku menyukai temanmu, Kyuhyun. tapi..” Tiffany menggelengkan kepalanya karena sekarang ia kembali teringat kenyataan bahwa Kyuhyun sudah menolaknya. mata gadis itu berkaca-kaca. “Dia terlalu polos untuk menyadari perasaanku dan aku pun terlalu takut untuk mengatakannya hingga pada akhirnya…semuanya sudah terlambat sekarang. Dia sudah menikah dengan gadis lain.”
Tiffany semakin merasa bersalah ketika mendapati Siwon menatapnya tanpa berkedip dan tubuhnya terlihat kaku. Ia yakin pasti sudah menghancurkan hati namja itu. tapi ia tidak punya pilihan lain selain mengakui kesalahannya. Ia bukan orang tamak yang akan lari pada orang yang sudah diabaikannya. Ia tidak ingin memanfaatkan Siwon. Ia sudah terlanjur menganggap namja itu adalah sahabatnya.
“Dan aku tidak memiliki niat untuk lari padamu saat hatiku hancur. Aku tidak ingin berpikir memanfaatkanmu atau semacamnya. Tapi kita bisa memastikan satu hal. Kita tetap bersahabat.” Tambahnya. Siwon mengerjapkan mata lalu menatapnya dengan sorot mata yang sulit terbaca. Hanya satu emosi yang berhasil di sadarinya. Namja itu terluka.
“Karena itu, Siwon-ah..aku tidak bisa menerima perasaanmu. Maaf sudah membuatmu menunggu terlalu lama.” Ia membungkukkan badannya. Sementara Siwon masih berdiri kaku di tempatnya.
“Maafkan aku..” lirihnya sekal lagi. ia benar-benar tidak memiliki niat sedikitpun untuk menyakiti hari seseorang. Karena itu ia kembali menundukkan kepalanya setelah itu berbalik pergi. Namun ketika ia berjalan beberapa langkah, ia berhenti. Ada satu hal penting yang harus ia beritahukan pada Siwon.
“Siwon-ah..” panggilnya. Namja itu mengangkat kepalanya dengan gerakan lunglai. Tiffany tersenyum sehangat mungkin, berharap dengan senyumannya Siwon bisa berhenti terluka.
“Gadis bernama Sun Hee itu, terimalah dia. Dia gadis yang baik.”
Pria itu mengerjapkan matanya berkali-kali. Entah kaget atau tidak percaya. Ia tidak mempedulikan anggapan Siwon tentangnya setelah ini. Dia berhak marah ataupun membencinya. Ia hanya ingin Siwon melupakannya dan lebih memikirkan seseorang yang mencintainya dengan setulus hati. seperti Lee Sun Hee.

Tiffany segera melangkahkan kaki pergi dari tempat itu. sekarang, meski dalam dirinya tengah berkecamuk perasaan bersalah dan sedih, namun di sisi hatinya yang lain ia merasa amat lega. Ia memang baru saja menyelesaikan satu masalah penting. Siwon tidak akan lagi mengharapkannya. Dan ia pun akan melakukan hal yang sama, berhenti mengharapkan Cho Kyuhyun.

—o0o—

Kepalanya terasa pusing dan ia terpikir untuk kembali menenggak alkohol. Tiffany menderap menghampiri bar kecil di rumahnya lalu mengambil satu botol wine, hendak menuangkannya ke dalam gelas. Namun di saat ia akan membuka segel botol itu, dalam otaknya berkelebat bayangan wajah Ryeowook.
“Sial, kenapa aku malah teringat dia!!” umpatnya frustasi. Berkat itu ia kembali meletakkan botol wine di tempatnya dan memilih menghilangkan rasa pusingnya dengan mendengarkan musik.
“Aku harus mencari cara untuk menghilangkan ini semua sebelum aku menjadi gila..” desisnya sambil duduk santai di sofa yang terdapat di ruang tengah rumah. Ia menggigit bibirnya sendiri untuk mencari solusi.
“Ah!!!” ia mengerjap senang saat berhasil menemukan satu solusi bagus. Baiklah, ia akan melaksanakan idenya esok hari.

—o0o—

Ryeowook bersiul senang karena ia sudah menyelesaikan tugas kuliahnya. Ia berjalan riang menyusuri pelataran kampus. Ia berniat untuk mengunjungi Mira hari ini. Sahabatnya itu memintanya datang. Dunia rasanya menyenangkan. Sudah beberapa hari ini tidak ada yang menggangunya. Baik ayahnya maupun gadis itu, Tiffany Hwang. Ia akan menyebrangi jalan menuju halte bus yang ada di seberang ketika secara mendadak mobil berhenti tepat di depannya.
“Aaaa…” ia memekik kaget. Untung gerak refleks tubuhnya mampu membuatnya selamat.
Kaca mobil itu terbuka. Seorang gadis yang memakai kacamata hitam dan topi lebar tersenyum padanya. Ryeowook mendesah malas. Rupanya Tiffany Hwang. Mengapa gadis ini muncul lagi?
“Annyeong, Ryeowook-ssi..” sapanya sok akrab.
“Ada apa? sekarang kesialan apa lagi yang ingin kau tunjukkan padaku?”
“Mwo? Kenapa kau ini ketus sekali?”
“Kau tidak tahu jika bersamamu aku—“ ucapan Ryeowook terpotong karena sebuah mobil yang melintas cepat di jalan raya mencipratkan genangan air yang ada di sisi jalan raya. Namja itu otomatis menutup matanya yang terkena sedikit cipratan air. “Selalu sial..” tambahnya kemudian. Tiffany tersenyum kikuk.
“Dan yang ini, jelas bukan kesialan yang kuakibatkan..” ucap Tiffany karena dilihatnya Ryeowook membuka mulutnya ingin mengatakan sesuatu.
“Ayolah, ada yang ingin kubicarakan denganmu. Ini penting..” ucapnya setengah memohon. Tak lupa juga ia memasang puppy eyes berharap namja itu luluh. Benar saja, Ryeowook mendesah lalu membuka pintu mobil Tiffany.
“Baik, apa yang ingin kau bicarakan?”

—o0o—

“Mwo? Kenapa aku harus bertanggung jawab atas semua yang kuperbuat kemarin dengan menjadi asistenmu?” ujar Ryeowook jengkel. Tiffany meminta Ryeowook agar mengecilkan suaranya. Ia takut pengunjung kafe lain menyadari keberadaannya.
“Dengar, gara-gara kau seenaknya menci—kau tahu apa maksudku, aku tidak pernah bisa tenang. karena itu, sebagai obat agar aku tidak bingung lagi, kau harus menjadi asistenku.”
“Tidak mau! kau kira aku tidak memiliki kegiatan? Lalu bagaimana dengan pekerjaanku sebagai barista?”
“Kau tetap bisa melakukannya. Aku hanya memintamu menjadi asistenku dari pagi hingga sore” ucapnya tanpa mempedulikan ekspresi Ryeowook.
“Tapi kenapa harus menjadi asisten??”
“Kau mau atau tidak? Aku bisa mengadukanmu pada lembaga perlindungan wanita!! Kau sudah melecehkanku!!”
“Mwo???” Ryeowook terkesiap. Yeoja ini benar-benar suka memeras. Ia mengerang sesaat lalu mendesah kalah.
“Baiklah. Sampai kapan?”
Tiffany memiringkan kepalanya. “Sampai filmku selesai. Bagaimana?”
“Film-mu selesai kapan?”
“Dua bulan dari sekarang.”
“Mwo???”
Tiffany tersenyum senang. Ia akui, ini memang alasan konyol. Bukankah seharusnya ia menghindari Ryeowook. Ia juga bingung mengapa ia berpikir untuk menjadikan namja ini asistennya. Namun ia merasa menyenangkan jika namja ini terus bersamanya. Tidak apa-apa jika ia berlaku sedikit egois, bukan.

—o0o—

Entah kenapa, Ryeowook tidak bisa membantah ketika Tiffany memintanya menjadi asisten. Ini aneh sekali. sangat aneh. Apa mungkin ia memang tidak pernah bisa tegas pada wanita? Atau mungkin ia merasa..Tiffany adalah yeoja istimewa? Oh, itu gagasan buruk.
Namun sejak hari itu, hidupnya menjadi lebih kacau sekaligus menyenangkan. Tiffany menyuruhnya ini itu sekehendaknya sendiri. ia hanya bisa mendengus lalu melakukan apa yang Tiffany inginkan.
“Ini..” Tiffany memberikannya kunci mobil.
“Untuk apa?”
“Antar aku ke suatu tempat.” Ucapnya ringan. Ia melesat lebih dulu menuju area parkir studio TV. Tadi Tiffany sudah tampil untuk mengisi sebuah acara talkshow.
“Memang kau tidak ada jadwal lagi?”
Tiffany menoleh. “Tidak ada..aku bebas. Ayo..”

Ryeowook menepikan mobil di depan sebuah toko kue. Ia merengut bingung. sepertinya ia tahu toko ini. Namun ia tidak bertanya dan ikut saja saat Tiffany mengajaknya masuk.
“Kau ingin membeli kue untuk ulang tahun?” tanya Ryeowook heran.
“Bukan. Ada seseorang yang ingin kutemui..”

Namja itu hanya mengangguk singkat. Mereka berjalan menuju salah satu konter yang memajangkan beberapa kue cantik di etalase kaca. Rupanya Tiffany datang bukan untuk membeli kue melainkan untuk menemui seseorang.
“Hyun Jung..” lirih Ryeowook mengetahui yeoja yang sedang berdiri di dekat konter itu. ia menoleh pada Tiffany yang dengan santainya berjalan menghampiri Hyun Jung. Apa yang akan ia lakukan?
“Annyeong..” sapa Tiffany lebih dulu. Hyun Jung mengangkat wajah dari berkas laporan yang sedang dibacanya. Ia tersenyum melihat Tiffany dan Ryeowook ada di depannya.
“Wah, bukankah kau Tiffany Hwang? Dan kau Ryeowook, sedang apa di sini? Ah, kau pasti ingin mencoba kue di sini. Benar bukan?” ucap Hyun Jung ramah. Ia masih ingat wajah ini, bukankah mereka pernah bertemu ketika pesta reuni waktu itu?
Ryeowook hanya mengangguk karena sekarang ia penasaran dengan hal yang akan Tiffany lakukan. Gadis itu tersenyum.
“Senang bertemu denganmu. Bukankah kau istri dari Cho Kyuhyun?”
Hyun Jung sempat mengerjap namun sesaat kemudian ia tersenyum kembali. “benar.”
Ryeowook tidak mengalihkan tatapannya dari Tiffany sedikitpun. Jika gadis ini sampai membuat keributan, ia akan segera menariknya dari sana. Karena ia sepertinya tahu apa yang akan Tiffany perbuat.
“Sebenarnya aku memang ingin membeli kue..”
“Oh, kue apa?”
“Red velvet, apa ada?”
“Tentu saja.. tunggu sebentar..akan aku berikan yang terbaik untukmu..” Hyun Jung pergi sebentar lalu kembali lagi membawa kotak berisi kue yang di minta Tiffany.
“Terima kasih.” Tiffany pergi ke arah kasir lalu membayar kuenya.

Ryeowook mendesah lega. Syukurlah tidak ada hal buruk yang terjadi. Namun senyumnya kembali hilang saat Tiffany melangkah mendekati Hyun Jung. Gadis itu dengan wajah polosnya tidak mencurigai apapun yang mungkin akan Tiffany katakan padanya. Ryeowook menegang di tempatnya berdiri. Ia bersiap menarik Tiffany kapanpun jika sampai gadis itu membuat keributan.
“Ada satu hal yang ingin aku tanyakan” Tiffany memasang wajah serius.
“Katakan saja..”
“Kapan kalian akan bercerai?”
Baik Ryeowook maupun Hyun Jung terperanjat kaget. Benar dugaannya, gadis itu berniat mencari keributan.
“Bercerai? Aku dan Kyuhyun Oppa?” tanya Hyun Jung dengan suara tercekat.
Tiffany mengangguk ringan lalu tersenyum sinis. “Jika kalian sampai bercerai, maka aku orang pertama yang akan memberikan selamat..” ucapnya tenang.
Ryeowook tidak bisa membiarkannya lagi karena kini ia melihat Hyun Jung terpaku di tempatnya dan ekspresinya tercengang. Tangannya sudah terulur untuk meraih Tiffany namun terhenti saat ia melihat Hyun Jung mendadak tersenyum penuh arti.
“Sayangnya itu tidak akan terjadi, Tiffany-ssi. Karena aku tidak akan pernah bercerai dengannya. Kami berdua saling mencintai dan sudah berjanji untuk selalu bersama. Jadi, silakan simpan pertanyaanmu untuk orang lain saja..”
Ryeowook mendesah lega. Syukurlah Hyun Jung tidak terpancing dengan ucapan provokatif Tiffany. Namun sebaliknya dengan sang pelaku, gadis itu terpaku dengan ekspresi yang sulit dijelaskan. Jelas sekali ia terkejut atas jawaban yang diberikan Hyun Jung.
“Nah, Tiffany-ssi. Silakan berkunjung lagi kemari..” ucap Hyun Jung ramah. Tiffany terkesiap lalu mengangguk linglung.
“Oh, tentu saja. Gomawo..” ia tersenyum singkat lalu membalikkan badannya pergi. Hyun Jung menoleh pada Ryeowook.
“Sejak kapan kau bersama artis cantik itu?” tanya Hyun Jung pada namja itu.
“Sejak dia datang mengacau beberapa minggu lalu..” ucapnya ringan. Ryeowook mendekat lalu berbisik. “Jangan hiraukan dia, Hyun Jung-ah. Sekarang, Tiffany Hwang sedang gila..”
“Jinjja??” Hyun Jung terkejut. Ryeowook tersenyum singkat lalu pergi menyusul Tiffany. Syukurlah, ia pikir akan terjadi perang dunia. Untung saja Hyun Jung bukan tipe yeoja yang mudah tersulut amarah. Jika iya, hancur sudah toko hari ini.

Ia mendapati Tiffany duduk di kursi samping kemudi dengan tatapan kosong. Gadis itu masih syok rupanya. Ryeowook duduk di dan bersiap menyalakan mesin.
“Aku..sekarang paham mengapa Cho Kyuhyun mencintai gadis itu..” ucapan Tiffany sukses membuat Ryeowook menoleh padanya. ia kini melihat Tiffany berkaca-kaca, ia yakin beberapa detik lagi yeoja itu pasti menangis.
“Na Hyun Jung gadis yang sangat baik dan lemah lembut..hiks..” akhirnya, Tiffany menangis tersedu-sedu juga. “Aku datang hanya ingin memastikan kenapa gadis itu bisa memikat Kyuhyun. dan sekarang aku baru tahu alasannya.. Hyun Jung..dia..sangat berbeda denganku.. dia..terlalu baik dan polos..”
Ryeowook terenyuh. Jadi, itu alasan mengapa Tiffany datang menemui Hyun Jung. Karena ia penasaran mengapa Kyuhyun mencintai Hyun Jung? Rupanya, rasa cinta Tiffany pada namja itu masih ada.
“Tentu saja, Hyun Jung adalah pribadi yang sangat lembut. Dia tidak pernah berburuk sangka pada orang dan..ramah pada siapapun. Mungkin itu alasan Professor Kyu menyukainya”
“Aku tahu! tidak perlu diulang!!!” gadis itu kesal lalu membuka kotak kue yang dibelinya. Ia membelah kue itu dengan pisau lipat yang dibawanya lalu memakan potongan besar itu dalam beberapa suap saja. Ryeowook terbelalak takjub.
“Wow, wow, tenang Tiffany-ssi. Kau bisa tersedak..” Ryeowook cemas juga jika melihat cara makan Tiffany yang kelewat ajaib itu. ia mengambil sebotol air yang ada di jok belakang lalu memberikannya pada gadis itu. Tiffany menyabetnya cepat lalu meneguk air langsung dengan cepat pula. Ia benar-benar ingin melampiaskan emosinya pada kue dan air.

Ia bingung harus melakukan apa di saat seperti ini. Ketika ia berhasil mendapatkan ide, ia segera mengemudikan mobil itu dan membawa mereka ke sebuah tempat indah di pinggiran kota Seoul. Mereka sekarang diam di pinggiran sungai, dengan padang ilalang terhampar di sekitar mereka. Tiffany duduk di samping Ryeowook. Tidak ada yang mereka lakukan selain menatap air sungai yang berkilauan diterpa sinar matahari senja.
Angin bertiup dengan kecepatan sedang hingga menerbangkan sebagian bunga ilalang yang sudah menua. Dan pemandangan indah seperti itu tidak berhasil membuat Tiffany senang, atau setidaknya tersenyum. Wajahnya masih datar.
“Aku merasa sangat konyol..” lirih Tiffany memecah keheningan. Ryeowook menoleh, ia berhenti melempari sungai dengan batu kerikil yang ada di sekitarnya.
“Konyol?”
“Mencintai seseorang begitu lama, melakukan hal yang tidak disukai hanya untuk menarik perhatiannya namun pada akhirnya tidak ada apapun yang didapat” suaranya terdengar rendah dan dalam. Membuat siapapun yang mendengarnya seperti ikut merasakan luka yang dialaminya.
“Bukankah cinta itu memang bisa membuat seseorang bodoh. Jika cinta yang kau maksud itu tulus, seharusnya kau tidak semenyesal ini” ucap Ryeowook. Kepala gadis itu berputar cepat ke arahnya. Kalimat tadi seperti memberikannya banyak kesadaran.
Ryeowook tidak membalas tatapan Tiffany. Ia kini menatap lurus ke arah sungai dengan senyum mengembang di bibirnya.
“Cinta yang tulus, tidak akan membuatmu menyesal. Kau akan melakukan apapun untuk ‘dia’ tanpa pernah mengharap balasan. Namun jika kau tidak mendapatkan timbal balik, kau hanya tidak beruntung dan semua yang kau lakukan bukanlah hal yang sia-sia. Bukankah melihat orang yang cintai bahagia, juga merupakan sebagian dari kebahagiaanmu tersendiri? Jika ‘dia’ membalas perasaanmu, barulah kebahagiaan yang kau dapat akan menjadi satu kesatuan yang utuh.” Ryeowook menoleh pada Tiffany yang masih menatapnya dengan berbagai macam ekspresi. Namja itu tersenyum. “Dan saat hal itu terjadi, kau akan menjadi orang paling beruntung” tambahnya.
Ryeowook mengatakan hal itu bukan semata-mata untuk menghibur Tiffany. Ia memang merasakan hal yang sama saat mencintai Mira dulu. ia merasa konyol ketika tahu ia sudah mencintai satu yeoja terlalu lama namun pada akhirnya tidak bisa mendapatkan hati yeoja itu. tapi, ada satu hal yang membuatnya bisa tegar menerima cintanya bertepuk sebelah tangan. Ia tidak akan menyesali semua yang pernah dilakukannya untuk yeoja itu. bukankah selama ini, asal ia melihat Mira bahagia ia pun akan bahagia? Meskipun ia harus merelakan Mira menikah dengan namja lain.
Tiffany melebarkan matanya. ia semakin tersadar mendengar kalimat yang keluar dari mulut namja itu. mulutnya bergetar, dan pandangannya kembali mengabur oleh air mata.
“Kesalahan yang kita lakukan hanya satu..” lirih Ryeowook.
“Kita terlalu takut untuk mengatakan perasaan pada orang yang dicintai..” timpal Tiffany dengan suara tercekat. Detik berikutnya, airmata itu kembali mengalir. Namun bukan rasa sakit yang ia rasakan, melainkan perasaan lega.

Ryeowook tidak melakukan apapun. Ia membiarkan Tiffany menangis kali ini. Pandangannya kembali ia tujukan pada sungai dan langit yang sudah mulai membiaskan warna jingga. Senja sudah menjelang dan tidak lama lagi akan digantikan oleh malam. tubuhnya tiba-tiba menegang. Bukan karena angin sore yang menghembus sedikit kencang, melainkan karena sekarang Tiffany sedang memeluk tubuhnya dari belakang. tidak hanya itu, kepala gadis itu pun menyandar dengan nyaman di punggungnya. Ryeowook terpaku sampai ia tidak berani untuk bergerak sedikit pun.
“Jeongmal gomawo, Ryeowook-ah..” gumam Tiffany di sela isakannya. Posisinya tetap tidak berubah, masih memeluk Ryeowook dengan kepala menyandar di punggung namja itu.
“Ne..” Ryeowook menjawabnya kaku. Sebenarnya ia merasa punggungnya mulai pegal namun ia tidak tega memberitahukannya. Airmata gadis itu menembus baju tipis yang dikenakannya dan terasa dingin di punggungnya.
Tiffany tersenyum di sela tangisannya. Kondisinya sekarang pun bisa dikatakan beruntung. Karena ia memiliki teman bicara yang menyenangkan seperti Ryeowook. Keadaan hening, dan baik Ryeowook maupun Tiffany tidak berkeinginan untuk merusak suasana tenang itu. langit bersemu oranye, riak air sungai, desiran angin yang terdengar merdu, dan bunga-bunga ilalang yang berterbangan menjadi kenangan manis sore itu.

—o0o—

“Mi Young….”
Pagi-pagi seperti ini seseorang mengganggu tidur tenang Tiffany. Pintu kamarnya digedor kencang dan buru-buru. Tiffany masih mengantuk setelah kemarin seharian berada di lokasi syuting. Sekarang di pagi buta yang seharusnya tenang menjadi mimpi buruk karena ada orang tidak bertanggung jawab mengganggu tidur cantiknya. Ia memaksakan diri untuk bangun setelah mengerang dan menguap karena kantuk itu masih terus menyerang.
“Ada apa, Henry? Kau mengganggu istirahatku..” gerutu Tiffany setelah membukakan pintu.
“Lihat berita di majalah ini, lass!!” Henry menghadapkan salah satu halaman majalah itu tepat ke depan wajah Tiffany.
Gadis itu masih dalam keadaan setengah mengantuk. Ia merebut majalah itu lalu melihat baik-baik isi yang bermasalah itu. Sepersekian detik setelahnya, mata yang semula masih menutup kini terbuka lebar dan tangannya bergetar.
“Apa ini!!!!!!!!!!” teriaknya kencang.
Henry bergerak-gerak tidak penting. “Justru itu yang ingin kutanyakan, Tiffany Hwang. Katakan, siapa pria yang bersamamu itu?????” serunya gusar.

Mulut Tiffany masih mengatup rapat karena sekarang ia sedang mencoba mengumpulkan segala kemungkinan tentang berita yang baru saja dibacanya. Pikirannya melanglang buana mencari jawaban atas kebingungannya saat ini. Bagaimana mungkin, majalah ini memperlihatkan beberapa foto ia sedang memeluk namja yang sangat ia kenal, Ryeowook. Tidak hanya itu, bahkan foto saat Ryeowook menciumnya di balkon apartement namja itu pun ada. Berita di majalah ini mengatakan bahwa ia sedang menjalin hubungan dengan namja itu.
Tubuh Tiffany melemas. Majalah itu jatuh begitu saja dari tangannya.
“Bagaimana ini..” lirihnya. Pandangannya menerawang. Bagaimana jika gosip ini menimbulkan dampak serius bagi karirnya dan kehidupan tenang Ryeowook. Ia merasa dunia terlihat sangat menakutkan begitu berita ini tersebar.

—o0o—

Ryeowook bersiap untuk pergi ke kampus. Di akhir masa-masa kuliahnya ia tanpa sadar menjadi sangat rajin. Setelah menyelesaikan tugas di kampus, ia akan menemui Tiffany Hwang untuk menjadi pembantu gratis yeoja itu. namun, ketika ia berjalan menuju jalan raya tiba-tiba saja sekumpulan wartawan dengan kamera dan catatan kecil berlari menghampirinya.
“Itu dia namja yang digosipkan dengan Tiffany Hwang!!” teriak mereka.
“A-apa ini???” Ryeowook langsung berbalik dan berlari panik menghindari gerombolan wartawan itu. ia berlari cepat tanpa mempedulikan arah sambil sesekali berteriak. Setelah mencapai jalan raya, ia segera menyetop taksi. Akhirnya ia bisa bernapas lega di dalam taksi. Ia menoleh ke belakang di mana para wartawan itu tetap gigih untuk memburu berita.
“Gadis itu, benar-benar pembawa sial!! Sekarang apa masalahku dengannya!! Kenapa para wartawan itu mengejarku??”

====To be continued====

48 thoughts on “Shady Girl Ryeowook’s Story (Part 6)

  1. tinggalin jejak dulu ya eonn, nanti baru baca^^
    oh ya eonn, aku ijin tag cover ff eonn yang “I Married With Bad Boy” ya ?
    aku suka banget eonn ff itu*gak_ada_yg_tanya🙂
    KamsaHae..Cling*Ngilang

  2. hahahaha kasian ryewook….

    aku tetep suka koq semua ff buatan eon,,, siapapun castnya…. tapi aku lebih suka lagi castnya kyuhyun….

    ditunggu lanjutanya…. fighting….

  3. Oppa sabar ajah ,,, sempat benci jadi cinta thu ,,,,,

    thor ff nya deabak ,, felling nya dapat ,,,
    sequel nya jangan lama ” nya?????,,,
    good job ,,, fighting,,,
    😀

  4. Oppa sabar ajah ,,,,,aku penasaran siapa thu yg ambil ft nya wookie oppa sm tiffany???,,

    thor ff nya deabak ,, felling nya dapat ,,,
    sequel nya jangan lama ” nya?????,,,
    good job ,,, fighting,,,
    😀

  5. Oppa sabar ajah ,,,,,aku penasaran siapa thu yg ambil ft nya wookie oppa sm tiffany???,,

    thor ff nya cerita nya makin seru ,, felling nya dapat ,,,
    sequel nya jangan lama ” nya?????,,,
    good job ,,, fighting,,,
    😀

  6. Cerita nya maki seru thor ,,,

    wokkie oppa sabar ajah menghadapi eonni tiffany ,,,
    di tunggu cahpter selanjut nya ????

    Fighting ,,,
    😀

  7. Istri’y kyu th emank daebak,kt”y itu dalem bgt…g slh th evil mlih istri..kekekekekekekekeke
    aigooo..skrng apalgi yg bkl tjdi sm wookie oppa?????

  8. Hwaaa wookiee kau terlalu cool ..

    Berarti tuh wartawan dah ngikutin ni couple dah lama donk ya,, kan ada poto’a wookie nyium tiff juga..

    Next part..

  9. ya ampun semua orang udda pada tau o.O
    kasian ryewook😦
    aq kaget waktu tiffany dteng ke hyun jung , kirain mau berbuat keributan ternyata gg , hehehehehe ^^v

  10. aku suka cara ryeowook ngehibur tiffany, nasehat” nya itulohhhh
    mungkin karena emang dia ngerasain apa yang tiffany rasain.
    berarti aku sehati dong ya sama author soalnya aku berasa feelnya dapet banget thor, apalagi sambil dengerin lagu”nya KRY
    udah dehhhh daebaaak ^^

  11. Yaakkk tiffany kalo nggk ada ryeowook kayaknya bisaa gilaa deh -,-
    untung hyunjung nyaa santai, kalo nggk hampirr deh perang😦
    kirain dah ikhlas ee ternyataa belum rela/?😀
    nah loo gimana tuuh berita di majalah :p

  12. Ryeowook selalu ketimpa sial jika brtemu tiffany😄 kasian juga hahaaha
    maaf ya author saya baru komen ^^ alur ceritanya bagus. Seperti mudah ditebak tapi tidak sperji jalan pkiran ku😀 DAEBAK!!! Nan joahae!! Tidak sabar membca kelanjutan nya smpai part 11end.^^ gomawo

  13. Wehh Tiffany dah ngerasa nyama sma Ryeowook smpe” stiap ktemu sma Ryeowook pasti selalu nangis.. gmn jd y skrng hbngan mrka dah ketahuan publik ap mrka bkal ngaku pacaran atau Tiffany ngaku Ryeowook sbg asisten ?? Ttp semangat dan sukses selalu

  14. Sumpah kesel bnget,waktu Tiffany berbicara dengan Na Hyun Jung >_< Kapan mereka bercerai ? Please jangan merusak rumah tangga Kyuhyun Oppa😦 kira" siapa ya yg mengambil foto Tiffany & Ryeowook ?!

  15. Skrg Tiffany udh bljar dri pnglaman,,,krn itu dy jd lbh agresif sm cwok,,yaitu Ryewook hehehehe,,, dgn kjdian ini mrka jd tmbh dket n smga mnydri prasaan msing2…

Your comment

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s