Shady Girl Ryeowook’s Story (Part 5)

Tittle : Shady Girl Ryeowook’s Story Part 5
Author : Dha Khanzaki a.k.a Shin Jeyoung
Genre : Romance

Main Cast :

  • Kim Ryeowook
  • Tiffany Hwang

Support Cast :

  • Cho Kyuhyun
  • Hwang Chansung

Warning :

  • typo bertebaran di mana-mana
  • bahasa sesuka author
  • Kalau kurang nge-feel maaf banget
  • Kalau gak suka couple-nya, boleh tekan tombol back ^_^

Happy Reading ^_^

Shady Girl Ryeowook's Story by Dha Khanzaki2

=====Part 5====

Tiffany tersenyum ringan menatap namja di hadapannya. mereka sekarang tengah duduk berhadapan di sofa set yang ada di ruang kerja Kyuhyun.
“Ada urusan apa kemari?” tanya Kyuhyun memulai percakapan. Tiffany menyesap sedikit teh yang di hidangkan.
“Ah, aku hanya datang berkunjung. Tidak bolehkah?”
“Tentu saja boleh..” sahut Kyuhyun cepat.
“Sejujurnya, aku terkejut mengetahui kau sudah menikah. Mengapa kau tidak mengundangku saat menikah dulu? bukankah kita teman?”
Pertanyaan Tiffany itu membuat Kyuhyun terkesiap. “Maaf, bukankah waktu itu kau berada di Inggris? Lagipula aku bingung harus mengirimkan kartu undangan ke mana..”
Tiffany menghela napas. “Istrimu, yeoja yang sangat hebat..” ucapnya. kali ini Kyuhyun tersenyum lebar.
“Tentu saja. Hyun Jung-ku yeoja yang luar biasa..”
Melihat Kyuhyun tersenyum lebar ketika menyebut nama istrinya, Tiffany merasa hatinya sakit. namun dia berusaha menjaga ekspresinya.
“Apa karena dia juga kau mengubah total penampilanmu?”
“Begitulah..” ucap Kyuhyun. pandangannya menerawang mengingat masa-masa indahnya saat berusaha meraih cinta Hyun Jung. “Dulu, saat aku masih berpenampilan kacau, aku bertemu dengan Hyun Jung. Dia gadis yang sangat baik dan polos. Dia menerimaku tanpa memandangku atau berpikir aku ini rendah. Dia mengatakan aku ini tampan, tanpa menuntutku untuk mengubah penampilan..” kenang Kyuhyun menceritakan masa lalunya tanpa sadar.
Tiffany mendengarkannya dengan tenggorokan semakin tercekat. Kyuhyun sungguh-sungguh mencintai istrinya.
“Dan aku mulai berpikir untuk mengubah penampilanku saat melihatnya menangis” Kyuhyun menengadahkan kepalanya mengingat kenangan itu. Tiffany mengerjap.
“Hyun Jung menangis karena ia tidak mau melihatku di cemooh orang-orang karena cara berpakaianku yang kacau. Di situlah aku mulai berpikir untuk mengubah diriku sendiri. aku tidak ingin melihatnya menangis lagi…”

Mendengar cerita Kyuhyun membuatnya tersadar sesuatu. Ia tidak bisa menyentuh hati Kyuhyun. itulah kekurangannya. Ia selalu berusaha menjadi yang terbaik tanpa berniat untuk menyentuh hati namja itu. ia hanya ingin memperlihatkan betapa hebat dirinya pada Kyuhyun.
“Cerita yang mengharukan..” gumam Tiffany, berusaha menahan gejolak hatinya sendiri dengan kembali menyesap tehnya. Kyuhyun mengangguk dengan senyum menghiasi bibirnya.
“Cho Kyuhyun, apa kau pernah menyadari bahwa aku menyukaimu?”
Kyuhyun menoleh, matanya membelalak karena terkejut. “Benarkah?” ia terdiam sejenak, seakan menyadari sesuatu. “Jadi, selama kita dekat dahulu, kau.. menyimpan perasaan padaku?” tanyanya dengan ekspresi tercengang.
Rasa kaget pun terlihat jelas di wajah Tiffany. “Kau benar-benar tidak menyadarinya? Kau tidak pernah merasa aneh dengan semua perhatianku padamu?”
Kyuhyun terkekeh kaku, lalu mengusap tengkuknya. “Mianhae, Mi Young-ah. Aku bukan namja peka. Aku tidak akan paham jika kau tidak mengatakannya padaku..”
Tiffany menatap Kyuhyun dengan mata melebar kaget. Ternyata benar dugaannya, Kyuhyun memang tidak menyadari perasaannya.
“Kukira..” Tiffany duduk lemas di sofa.
Kyuhyun benar-benar merasa bersalah “Sekali lagi maaf. Aku kira kau, menyukai Siwon.. bukankah kalian juga dekat dulu..”
“Tentu saja tidak..” ucap Tiffany cepat, nada bicaranya terdengar jengkel.
Kyuhyun mengerjap menyadari sesuatu. “Tunggu, jadi..selama ini kau tidak menyukai Siwon? karena itu kau tidak datang menemuinya di Namsan Tower? Dan kau justru menyukai..aku??” Kyuhyun tercengang. Muka polosnya itu benar-benar membuat Tiffany ingin sekali mencubit kuat-kuat kedua pipinya.
“Bagus kalau kau sadar..” gumam Tiffany. “Sebenarnya aku juga tidak bermaksud membuatnya menunggu..aku sungguh lupa pada janji itu..”
“Jinjja? Apa kau juga tahu Siwon selalu menunggu di sana setiap tahun pada bulan dan tanggal yang sama?”
Tiffany menundukkan kepalanya, ia merasa amat bersalah. Ia tahu, ia tahu bahwa ia sudah melakukan kesalahan besar karena telah mengabaikan perasaan tulus seseorang.
“Aku menyesal sudah melupakan janji itu. dan..sepertinya aku sudah mendapat karmanya..” ia melirik Kyuhyun. benar, ia memang sudah menerima karma dari janji yang diingkarinya sendiri. Kyuhyun sudah menikah dan cintanya tidak akan pernah bisa terbalas.
“Lalu bagaimana soal Lee Sun Hee? apa kau menyukainya??”
“Sun Hee? dia kuanggap seperti dongsaeng bagiku. Kami memiliki hobi yang sama. Dan alasan kenapa kami sering kali bersama yah, karena dia selalu mengajakku berbicara soal game” ungkap Kyuhyun tentang Sun Hee.
Tiffany mengangguk pelan. Jadi itu alasan mengapa dulu gadis itu selalu menempel pada Kyuhyun. karena hobi mereka sama? Ya ampun, mengapa ia bisa berpikir yang bukan-bukan tentang gadis itu. ia sampai mengira Sun Hee adalah gadis serakah yang ingin dekat dengan Kyuhyun sekaligus ingin memiliki Siwon. tapi ternyata..

Kyuhyun diam melihat Tiffany berwajah suram. Lantas apa yang bisa dilakukannya setelah semuanya terlanjur terjadi. Ia benar-benar tidak tahu bahwa Tiffany dulu menyukainya. Ia hanya menyangka Tiffany seperti Lee Sun Hee, adik Donghae yang tomboy itu. ia hanya berpikir mungkin Tiffany tertarik padanya karena ia suka bermain game, sama seperti Sun Hee yang senang bermain dengannya karena mereka memiliki hobi serupa. Ternyata.
“Hwang Mi Young..”
Tiffany mengangkat wajahnya menatap Kyuhyun. sekarang namja itu sedang menatapnya dengan sorot mata meneduhkan. Tiffany mengerjap menyadari Kyuhyun tengah memberinya pengertian. Namja ini selalu melakukan hal itu padanya jika ia sedang terpuruk. Dan lihat saja, sebentar lagi Kyuhyun pasti memberikan sebuah nasihat untuknya.
“Mulai sekarang berhentilah mengharapkanku karena aku tidak mungkin meninggalkan Hyun Jung. Belajarlah mencintai seseorang yang menyukaimu dengan tulus. Kau itu sangat cantik, Mi Young-ah. Aku yakin ada ribuan namja yang jatuh cinta padamu. Kau tinggal menunjukkan pesonamu pada mereka, dan lihatlah keajaiban apa yang akan terjadi..”
Tiffany mengerjap. ia pernah mendengar kalimat yang sama. Bukankah Henry juga pernah mengatakannya? Ucapan mereka benar sekali. Ia cantik dan ditambah kenyataan bahwa ia adalah seorang artis. Bukankah tidak sulit mendapatkan kekasih? Ia menatap Kyuhyun yang masih dengan ekspresi sama. Entah kenapa hatinya merasa terharu dan ia ingin sekali menangis. ia seperti mendapat penegasan bahwa cintanya ditolak sekaligus kesadaran untuk mendapatkan cinta yang baru. Setetes airmata itu kembali mengalir dan itu bukanlah airmata kesedihan, melainkan simbol bahwa ia akan melupakan cinta yang dijaganya selama lima tahun.
“Baiklah, sepertinya aku hanya tidak mau menerima bahwa aku sudah ditolak. Harusnya aku sadar tindakanku ini keliru. Kau sudah menikah dan sebaiknya aku mundur. maaf sudah mengganggu waktumu.”
Kyuhyun mengendikkan bahunya, lalu tersenyum ringan. “Gwaenchana. Aku senang bisa membantumu..” ucapnya. padahal ia sendiri bingung sudah membantu apa. ia baru akan membuka mulut lagi saat tiba-tiba saja ia mendengar pintu mendadak terjeblak terbuka oleh seseorang. Pandangan kedua orang itu tertoleh ke arah pintu. Ja Rin masuk ke ruangan Kyuhyun agak tergesa. Wajahnya tampak kesal.

“Chokobiiii..” ucapnya keras setengah merengek. Kyuhyun dan Tiffany refleks berdiri dengan tatapan heran. Ja Rin berjalan cepat ke arah Kyuhyun dengan airmata membendung di pelupuk matanya.
“Aigoo, kau kenapa?” sergah Kyuhyun panik begitu Ja Rin—adik perempuannya—berdiri tepat di depannya. Ia memegang kedua pundak adiknya dan mengamati baik-baik apakah ada yang terluka atau tidak.
Ja Rin memberengut kesal bercampur sedih. “Kibum..dia..hiks..”
Mendengar Ja Rin menyebut nama sahabat baiknya sekaligus namjachingu dari adiknya itu, Kyuhyun terkesiap.
“Kenapa? apa yang dilakukan Kim Kibum padamu??” Kyuhyun mendadak saja panik.
Ja Rin menundukkan kepalanya, tak lama kemudian isak tangis halus muncul dari celah bibirnya. “Dia..selingkuuuhhh..” kedua tangan Ja Rin langsung melingkari tubuh Kyuhyun dan gadis itu menangis tersedu-sedu di bahu sang kakak.
Baik Kyuhyun maupun Tiffany terperangah. Mereka saling pandang sesaat dan Kyuhyun segera mengusap punggung Ja Rin demi menenangkannya.
“Berselingkuh? Seorang Kim Kibum? Aku rasa kau keliru..” gumam Tiffany, ia agak sangsi mendengar sosok seperti Kibum berselingkuh. Rasanya tidak mungkin. setahu dirinya temannya bernama Kim Kibum itu adalah namja yang tidak paham pada cinta. Meskipun ia akui, banyak sekali wanita yang tergila-gila pada sosok Kim Kibum yang pintar, terkesan tenang, tampan, dan memiliki senyum mematikan itu. namun ia yakin Kibum bukan tipe pria yang suka menyeleweng.
Ja Rin mengangkat kepalanya dari bahu Kyuhyun lalu menatap gadis yang berdiri di dekat kakaknya itu dengan mata menyipit tajam.
“Kau tahu apa! aku yang menyaksikan sendiri dia berada di rumah sakit bersama dengan gadis bernama Lee Sun Hee itu!! Kibum menggandeng lengannya. Mereka terlihat mesra.. huwe…Kibum memang selingkuh!!!” Ja Rin kembali terisak.
Kali ini Tiffany terkejut untuk alasan lain. Apa? Lee Sun Hee? bukankah itu adik Donghae yang menyukai Siwon? dan..bukankah dia juga yang membuatnya sulit mendekati Kyuhyun dulu? tapi tunggu, di rumah sakit? sepertinya ia tahu alasan Sun Hee datang menemui Kibum.
“Ja Rin-ssi..” Tiffany menyentuh lembut pundaknya. Yeoja itu kembali menoleh dengan mata di aliri lelehan air yang berasal dari sudut matanya.
“Aku yakin hubungan mereka tidak seperti yang kau pikirkan. Aku memang tidak tahu apapun soal hubungan kalian. Tapi aku hanya ingin memberimu satu nasihat..” ucapnya sungguh-sungguh. Ja Rin baru akan membuka mulut namun ia mengurungkan niatnya begitu melihat ekspresi serius Tiffany.
Kau harus mempercayai pasanganmu.. bukankah yang terpenting dari langgengnya sebuah hubungan adalah rasa saling percaya? Aku yakin, Kim Kibum tidak berselingkuh..” tegasnya.
Ja Rin membelalakkan matanya. entah karena ia takjub, kaget, atau tidak menerima saran itu. Kyuhyun mengangguk membenarkan ucapan Tiffany.
“Benar, Ja Rin. Kau jangan cepat mengambil kesimpulan. Aku mengenal Kibum sejak masih SMU. Dan sejauh yang kukenal, Kibum adalah pribadi yang setia. Dia tidak akan mengkhianati siapapun yang disayanginya”
Ekspresi Ja Rin memberengut menatap Kyuhyun dan Tiffany bergantian. Otaknya masih belum bisa berpikir jernih karena itu ia masih belum bisa menerima baik ucapan Tiffany maupun kakaknya sendiri.
“Jangan bercanda!!” bentak Ja Rin sambil mendorong halus tubuh Kyuhyun. “Kalian tahu apa soal perasaanku!! Kenapa kalian kompak sekali menceramahiku agar mempercayai Kibum!! Atau.. kalian berselingkuh juga!!!” Ja Rin kini malah berbalik menuduh Kyuhyun dan Tiffany. Kedua orang itu melebarkan matanya kaget.
“Kami tidak berselingkuh!!” tegas Tiffany.
“Iya, lagipula aku tidak mungkin mengkhianati Hyun Jung” timpal Kyuhyun. ia menghela napas berat menyadari sifat keras kepala adiknya itu kambuh.
“Diam kau chocobi!!” Ja Rin menunjuk Kyuhyun seolah dia adalah penjahat. “Jika kau juga berani berselingkuh, aku tidak akan memaafkanmu!! Aku benci kalian berdua!!” setelah mengatakan itu ia menderap pergi dari ruangan dan membanting pintu dengan cepat. Membuat dua orang yang masih ada di sana terkejut dan menatap pintu dengan pandangan melongo.

Tiffany yang lebih dulu berhasil menguasai diri. Ia menunjuk ke arah pintu “Adikmu..” kalimatnya tergantung karena ia tidak sanggup meneruskannya. Kyuhyun mengibaskan tangannya cepat.
“Jangan pedulikan. Dia memang seperti itu. kau tahu, hobinya adalah membenci orang. Dia suka sekali mengatakan kalimat ‘aku membencimu’. Tapi percayalah, jika dia sudah mengatakan itu padamu, artinya dia mulai menerimamu dalam kehidupannya”
“Ah.. begitu rupanya.. aku takut dia tersinggung dengan ucapanku. Tapi apa tidak apa-apa membiarkannya pergi sambil menangis?”
“Biarkan saja. dia tidak akan marah terlalu lama”
Tiffany mengangguk. “Hajiman, soal Lee Sun Hee…”
“Ah, aku yakin dia juga memiliki alasan kenapa bertemu Kibum. “ potong Kyuhyun. “Dia mungkin sedang sakit.”
Tiffany terdiam. Mendadak saja ia teringat satu fakta kecil yang diketahuinya soal gadis itu. namun ia ragu apakah harus mengatakannya pada Kyuhyun atau tidak.
“Iya.. dia mungkin sedang sakit..” lirihnya. Lebih baik ia menyimpan rahasia itu dulu.

—o0o—

Setelah pulang dari kantor Kyuhyun, ia merasa lebih baik. Hanya saja, mengingat kejadian ketika Ja Rin menangis dan mengatakan Kibum berselingkuh dengan Sun Hee, membuatnya sangat terganggu. Ia tahu, Lee Sun Hee menemui Kibum bukan untuk menggodanya. Tapi untuk memeriksakan penyakitnya yang sudah stadium akhir itu. ia tahu Sun Hee menderita penyakit berbahaya sejak pesta reuni waktu itu.

#Flashback#

Tiffany menyingkir sejenak dari pesta. Ia terlalu syok begitu tahu Cho Kyuhyun sudah menikah. Ia hendak pergi ke kamar mandi namun langkahnya terhenti ketika melihat sosok Sun Hee, yeoja yang tadi dilihatnya bersama Siwon berada di depan wastafel yang ada di dekat toilet. Ia ingin menyapa namun diurungkan kembali begitu ia mengamati tangan Sun Hee bergetar saat akan membuka tutup botol kecil berwarna cokelat.
“Kenapa dia?” desisnya curiga bercampur heran. Ia terus mengamati gerak-gerik Sun Hee yang menelan obat itu lalu membuang botol itu ke dalam tong sampah lalu masuk ke dalam salah satu bilik toilet. Ia menggunakan kesempatan itu untuk mengambil botol obat. Tak bisa di pungkiri ia sangat penasaran dengan isi dari botol itu. obat apakah? Sun Hee terlihat sangat lemah sebelum ia meminum obat ini.

“Obat ini milikmu?” tanya Hwang Chansung, sepupu Tiffany yang seorang dokter pagi tadi. karena penasaran, ia bertanya padanya perihal obat itu. pagi-pagi sebelum berangkat syuting ia sampai rela datang ke rumah Chansung untuk bertanya.
“Bukan, itu milik temanku.” Sanggahnya. “Kira-kira, itu obat apa?”
Chansung mendesah berat sambil menggelengkan kepala. “Aku turut prihatin pada temanmu”
“Ha? Apa maksudmu?” Tiffany mengerjap kaget.
“Ini adalah jenis obat yang biasa dikonsumsi para penderita penyakit jantung untuk mengurangi sakit saat gejalanya menyerang” jelasnya singkat namun cukup untuk membuat Tiffany tercengang. Penyakit jantung? Jadi Lee Sun Hee menderita penyakit separah itu?
“Suruh temanmu itu mengikuti perawatan lebih lanjut. Karena jika dilihat dari dosisnya, sepertinya temanmu itu sudah memasuki stadium akhir..”
“Mwo???”
Tiffany merasa begitu terkejut mendengarnya. Tidak mungkin, gadis itu..kemungkinan hidupnya sudah tidak lama lagi?

#Flashback end#

Takdir itu memang penuh misteri. Tapi bukan berarti hidup berakhir hanya karena vonis dari dokter. Sun Hee bisa saja sembuh jika ia memiliki keinginan kuat.
“Aku harus membuat Siwon menyukainya..” gumamnya tanpa sadar. Benar sekali, bukankah Sun Hee menyukai Choi Siwon? mungkin, jika Siwon mulai memiliki perasaan padanya, Sun Hee akan lebih bersemangat lagi untuk memperjuangkan kesehatannya.

Mobil yang dikemudikannya berhenti karena lampu merah. Ia melamun memperhatikan jalanan kota yang mulai diterangi lampu-lampu jalanan. Ya, hari memang sudah menjelang malam.
“Omo, bukankah itu Ryeowook..” di tengah lamunanya ia terkesiap ketika melihat Ryeowook melintas di depannya bersama dengan penyebrang jalan lain. Namja itu terlihat santai sambil sesekali merapatkan coat panjang yang dikenakannya. Entah kenapa pandangan Tiffany terus tertuju padanya. dan ketika lampu berubah menjadi hijau, ia segera melajukan mobilnya mengikuti sosok Ryeowook yang kini tengah berjalan di trotoar sisi jalan raya.
“Ryeowook-ssi..” panggil Tiffany dari dalam mobil sambil terus mengikuti Ryeowook yang berjalan di atas trotoar.

Ryeowook berhenti karena ia merasa mendengar seseorang memanggil namanya. Ia menoleh ke kiri dan kanan namun tidak menemukan siapapun yang dirasa mencarinya. Maka dari itu ia kembali berjalan.
“Ryeowook-ssi, tunggu!!”
Langkahnya kembali terhenti karena lagi-lagi ia mendengar suara itu. kali ini sebuah mobil menepi tepat di sampingnya. Keningnya berkerut curiga. Jangan-jangan itu adalah mobil dari orang-orang utusan ayahnya. ia memasang posisi waspada.
Kaca mobil yang berwarna kehitaman itu turun perlahan menampilkan wajah seseorang yang dikenalnya. Pose waspadanya mengendur begitu ia melihat wajah Tiffany berada di balik kaca.
“Rupanya kau..”
Tiffany tersenyum manis. “Ne, boleh kita bicara sebentar?”
“Tidak mau..” Ryeowook langsung membalikkan badannya lalu pergi. Tiffany terbelalak kaget. Ryeowook tidak mempedulikan Tiffany yang terus meneriaki namanya. Ia sudah tidak mau berurusan dengan yeoja artis itu. tapi kenapa seolah takdir selalu membuat mereka bertemu?

Tiffany menganga tak percaya melihat Ryeowook pergi begitu saja. seumur hidupnya, ini adalah kali pertama ia diacuhkan oleh namja. Apalagi Ryeowook sepertinya enggan sekali bertemu dengannya. Namja itu berani sekali membiarkan yeoja cantik seperti dirinya? Tidak akan ia biarkan!! Dengan cepat ia segera memarkirkan mobil lalu keluar untuk mengejar Ryeowook. Ia pun tidak mengerti mengapa bisa melakukan hal gila seperti ini.
Bayangkan saja, seorang artis sepertinya rela turun dari mobil dan mengejar namja yang bahkan baru dikenalnya belum lama ini. Ia memang sudah gila.
“Ryeowook-ssi, tunggu aku..kenapa kau ini? Aku bukan wabah penyakit yang harus kau hindari..aku Tiffany Hwang.. hei!!” seru Tiffany dari arah belakang namja itu. ia berusaha melangkah lebih cepat untuk mengejarnya.
“Di dunia ini banyak ribuan namja yang bisa kau ganggu, Tiffany-ssi. Kenapa kau malah terus muncul di depanku? Apa kau tidak tahu aku selalu sial jika bersamamu..” balas Ryeowook tanpa menoleh ke belakang.
“Mwo? Jadi kau berpikir aku ini dewi epidemi? Asal kau tahu, aku pun tidak mengerti kenapa bisa melakukan hal konyol seperti ini. Tapi, jika melihatmu aku merasa kita harus berbicara.” Cerocos Tiffany.

Mendadak saja Ryeowook menghentikan langkahnya, membuat Tiffany menabrak punggung namja itu.
“Auch..” Tiffany mengusap hidungnya yang membentur punggung Ryeowook.
“Dengar, aku tahu kau itu seorang artis karena itukau sibuk, iya kan. Karena itu, berhentilah menggangguku..”
“Aku tidak mengganggu..aku hanya ingin bicara sesuatu…” ucapan Tiffany terpotong karena ia mendengar suara guntur yang kencang.
“Kyaaaaa—-“ yeoja itu refleks berteriak lalu memeluk namja yang berdiri di depannya.
Ryeowook terkesiap. Getaran aneh yang tak dimengertinya kembali merambat. Sebenarnya bukan hari ini saja getaran ini pernah dirasakannya. Tapi saat Tiffany menciumnya tempo hari juga pernah terjadi. Apa itu? mungkinkah itu semacam sensor untuk memperingatkannya bahwa Tiffany adalah orang yang harus ia hindari?
“Tiffany-ssi..bisa lepaskan aku?” ucap Ryeowook dengan suara rendah. Tiffany berhenti menutup matanya rapat-rapat lalu mendongak. Ia terkesiap kaget begitu menyadari bahwa ia memeluk Ryeowook.
“Mianhae..” Ia segera melepaskannya.
Ryeowook baru akan protes namun perkataannya terpotong karena mendadak saja hujan deras turun dari langit yang kelabu. Mereka berdua terkejut dan pontang panting menaungi diri dengan telapak tangan mereka.
“Kita kembali ke mobilku..” ucap Tiffany. Ryeowook mengangguk cepat lalu mengikuti Tiffany berlari menuju mobil gadis itu yang terparkir di depan sana.

“Aigoo, bajuku..” desis Tiffany. Ketika mereka sampai di mobil, seluruh tubuh keduanya basah kuyup karena hujan yang mengguyur terlalu deras.
“Aku tak percaya bisa berada di mobil ini lagi..” ucap Ryeowook entah kesal atau jengkel. Tiffany menoleh.
“Aku akan mengantarmu pulang. Tunjukkan saja arah jalan menuju rumahmu..” ucapnya ringan. Ryeowook mendengus karena ia tidak memiliki pilihan lain. Ia harus mengganti bajunya yang basah kuyup atau nanti ia akan masuk angin.

—-o0o—-

“Ryeowook-ssi, aku masih tidak bisa mengingat apa yang sudah kulakukan padamu saat kita di rumah bersama tempo hari..” ucap Tiffany pada sosok Ryeowook yang tengah sibuk membuat sesuatu di dapur apartementnya.
Mereka sekarang sudah berada di dalam apartmenet sederhana milik Ryeowook. Tiffany meminjam baju milik namja itu sementara menunggu bajunya kering. Dan ia sekarang tengah duduk di ruang makan kecil dekat dapur sambil menikmati secangkir teh herbal yang dihidangkan Ryeowook padanya.
“Kalau tidak ingat tidak usah dipaksakan..” jawab Ryeowook sambil tetap sibuk pada kegiatannya. Sepertinya ia sedang membuat sesuatu.
Tiffany memberengut menatap punggung Ryeowook. Kenapa namja itu terkesan ketus padanya? kenapa? apa ia selalu bersikap menyebalkan? ia rasa tidak begitu. Ryeowook seperti membuat dinding pembatas di antara mereka.
“Kau sedang membuat apa?” Tiffany memilih untuk berpikir positif. Ia bangkit lalu berjalan mendekati Ryeowook.
“Bulgogi. Untuk makan malam kita..”
Tiffany mengerjap senang. “Oh, kau akan memasakkan makan malam untuk kita berdua. aish, romantisnya..” ia menepuk tangannya riang. Sejak dulu ia mengagumi namja yang pandai memasak. Seperti Appanya.
“Kalau begitu apa ada yang bisa kubantu?”
“Tidak ada. Kau tamu di sini. Karena itu duduklah yang manis..” Ryeowook mendudukkan kembali Tiffany di tempatnya.
“Tapi aku ingin membantu..setidaknya biarkanlah aku membuat sesuatu untuk makan malam…” ucapnya setengah merengek.
Ryeowook mendengus. Ia tahu urusannya akan panjang jika berdebat dengan yeoja seperti Tiffany. “Baiklah. Silakan, putri..” ia memilih mengalah.
Tiffany tersenyum sumringah lalu membuat satu hidangan yang sangat di sukainya. Sup Kimchi.

Ryeowook sudah selesai dengan masakannya dan tinggal menunggu Tiffany selesai memasak. Ia menunggu di meja makan sambil terus memperhatikan sosok riang Tiffany yang tengah mengaduk sup di dalam panci dan sesekali mencicipinya. Awalnya ia merengut heran. Namun perlahan kerutannya itu menghilang dan digantikan oleh seulas senyum. Entah kenapa, sosok belakang gadis itu mengingatkannya pada sosok ibunya yang sudah meninggal sepuluh tahun yang lalu.
“Taraaa..Sup Kimchi ala Tiffany Hwang sudah jadi…” serunya sambil meletakkan panci sup itu di atas meja makan. Ryeowook tersentak dari lamunanya. Ia mendongak ke arah Tiffany yang dengan wajah riangnya menuangkan sup itu ke dalam mangkuk kecil lalu meletakkannya di depan Ryeowook.
“Cicipilah..” ucap Tiffany lalu duduk di kursi samping Ryeowook. Namja itu menelan ludahnya. Ia kemudian menoleh pada gadis di sisinya.
“Kau yakin ini bisa di makan?” sangsinya.
“Tentu saja.. cicipilah..”
Ryeowook tidak tega melihat wajah senang Tiffany. Ia menyendok sedikit sup itu lalu mencicipi kuahnya. Ia terdiam sejenak meresapi rasa itu di lidahnya.
“Bagaimana rasanya? Tidak enak?” Tiffany cemas setelah melihat ekspresi Ryeowook.
Namja itu terdiam. Lalu mendesah kemudian.”Ah, rasanya asin..”
“Nde???” Tiffany melonjak kaget lalu mencicipi sendiri sup itu. ia meringis. Rasanya memang asin, seperti yang Ryeowook katakan. Tapi ia merasa sejak dulu takarannya tidak pernah berubah. Aneh sekali.
“Tapi..orang-orang yang pernah mencicipi ini mereka bilang sup ini enak..” benar sekali, ia pernah meminta beberapa namja seperti Henry, Kyuhyun, dan Siwon mencicipinya dan mereka bilang enak.
“Kalau begitu, mereka sudah membohongimu..mereka tidak tega berkata jujur pada yeoja cantik sepertimu.” ucap Ryeowook singkat. Ia lalu mulai mencicipi masakan lain.
Tiffany masih tidak bisa menerimanya. Ia syok mendengar seseorang begitu jujur mengatakan masakannya tidak enak seperti ini.
“Kalau begitu kenapa kau tidak pura-pura berkata ‘em, ini enak sekali’ seperti yang lain? Kau sengaja melakukannya karena membenciku?” Tiffany menyimpulkan sendiri. bukankah itu bisa saja? Ryeowook pasti membencinya sampai berkata jujur begini.
Ryeowook terkesiap. “Aku tidak membencimu.”
“Kalau begitu kenapa kau tidak mencoba berkata bohong seperti namja lain??”
Ryeowook hampir tersedak mendengar penuturan Tiffany. Aigoo, sesengsara itu kah jika tidak diperlakukan baik oleh namja?
“Itu karena aku pria yang jujur..” ucapnya tegas. “Sudah, sebaiknya kau makan saja..” Ryeowook menyumpit satu potong daging lalu menyuapkannya ke mulut gadis itu agar dia berhenti mengoceh. Kenapa bisa ada yeoja seperti Tiffany? Apa karena ia tidak biasa menghadapi yeoja sepertinya. Tentu saja, bukankah Mira dulu yeoja yang supel dan mandiri? Tidak manja dan cerewet seperti gadis di hadapannya ini.

—-o0o—-

Saat melihat ke luar jendela, Tiffany baru menyadari bahwa hujan sudah berhenti. Ia tersenyum lalu membuka pintu yang mengarah ke balkon untuk memastikan hujan memang sudah berhenti.
“Ah, hujan sudah berhenti rupanya. Syukurlah, aku bisa pulang sekarang..” gumamnya mendekat ke pagar pembatas balkon. Senyumnya mengembang. Rupanya pemandangan di sini indah sekali. Sinar lampu yang berasal dari bangunan dan lampu jalanan tampak mengagumkan jika diperhatikan dari ketinggian. Apartement Ryeowook memang berada di tingkat empat gedung itu. di tambah lagi letaknya lebih tinggi dari bangunan di sekitarnya.
“Kau sedang apa di sini?” Ryeowook berdiri di samping Tiffany. Gadis itu menoleh.
“Kau beruntung sekali tinggal di sini. Pemandangannya indah saat malam hari..”
Ryeowook mengangguk dengan bibir tersenyum. “Itu salah satu alasanku memutuskan menyewa apartement ini”
“Oh..” Tiffany kembali menatapi pemandangan di depannya. Rasanya, ia betah lama-lama berada di sini. Apalagi setelah hujan mengguyur, suasana terkesan lebih sejuk dan basah.

Mereka terdiam beberapa saat lamanya. Ryeowook menoleh pada Tiffany. Dan entah kenapa melihat gadis itu tersenyum dengan kepala mendongak menatap langit yang mulai menampakkan pemandangan bintang-bintang, membuat getaran aneh itu menyerang kembali. Ia menepuk pipinya sendiri lalu menggeleng berusaha menepis pikiran aneh yang mulai berkelebat dalam benaknya.
“Aku masih penasaran. Sebenarnya, apa yang kulakukan padamu saat di rumahku dulu?”
Gumaman Tiffany kembali membuat Ryeowook menoleh padanya. “Benar, kau ingin mengetahuinya?” tanyanya dengan nada serius. Tiffany menoleh lalu mengangguk.
“Aku sangat penasaran”

Tepat setelah Tiffany mengucapkan kalimat itu, Ryeowook mendekatkan tubuhnya secara perlahan. Gadis itu terkesiap. Matanya membelalak panik.
“Ryeowook-ssi, apa yang kau lakukan??” sergahnya panik. Ia kelabakan sendiri karena kini Ryeowook membuatnya terjepit antara pagar pembatas balkon dan tubuh namja itu. Ryeowook menarik sudut bibirnya membentuk senyuman lalu meletakkan kedua tangannya di sisi tubuh Tiffany, mencengkram pagar pembatas balkon. Tiffany tidak bisa kabur karena Ryeowook berhasil mengurungnya.
“Apa yang kulakukan? Aku hanya ingin mengingatkanmu apa yang kau lakukan malam itu..” ucap Ryeowook dengan suara rendah.
“Mwo??”
Ryeowook mengangkat satu alisnya. “Kau masih belum ingat?”
Tiffany menggeleng cepat dengan hati berdebar kencang. Meskipun ia sering berada dalam situasi seperti ini—dalam pekerjaan—tapi ini pertama kalinya ia merasa jantungnya berpacu begitu cepat.
“Bagaimana kalau kuingatkan?”
Belum sempat Tiffany bereaksi, entah bagaimana caranya bibir namja itu sudah menempel di bibirnya. jantungnya hampir melonjak jatuh dan matanya mengerjap berkali-kali. Dalam retina matanya mendadak berkelebat bayangan malam itu, saat ia dalam keadaan mabuk, ia mengecup Ryeowook. Omo..
Ryeowook melepaskan ciumannya lalu menatap Tiffany. “Kau sudah ingat?” tanya Ryeowook. Ia lalu pergi meninggalkan Tiffany yang terbelalak kaget setelah berhasil mengingat kejadian itu. gadis itu jatuh terkulai di lantai dengan pikiran kosong. Benarkah?? Benarkah ia mencium Ryeowook malam itu?

====To be continued====

57 thoughts on “Shady Girl Ryeowook’s Story (Part 5)

  1. Cie wookie menggoda Tiffany😀 saat tau ternyata Tiffany mencium bang wookie,kenapa syok seperti itu ? Seharusnya senang bisa mencium Namja imut seperti wookie oppa

  2. Prasaan Tiffany skrg sudah mrasa lega,, krn sudh mngungkapkan prasaannya pd Kyu,,klo dy mnyukainya…
    Beban yg slma ini mghimpitnya sudh trlepas,,dan sudh saatnya mmbuka lembaran bru utk cinta yg bru…
    Skrg cinta yg bru sudh dataaaaang

Your comment

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s