Shady Girl Ryeowook’s Story [Part 3]

Judul : Shady Girl Ryeowook’s Story Part 3
Author : Dha Khanzaki a.k.a Shin Jeyoung
Genre : Romance

Main Cast :

  • Kim Ryeowook
  • Tiffany Hwang

 

Happy Reading ^_^

Shady Girl Ryeowook's Story by Dha Khanzaki

====Part 3====

Malam itu Ryeowook tidak bisa berkonsentrasi pada pekerjaannya. Perhatiannya terbagi antara minuman yang harus diraciknya dan gadis yang saat ini tengah menangis di depannya, Tiffany Hwang. Ia meringis melihat sudah satu botol minuman yang dihabiskannya.
“Hiks..Cho Kyuhyun..kau jahat sekali padaku.. hiks..”
Ryeowook hanya bisa menghela napasnya. “Dia sudah mabuk berat.”
Kepala Tiffany memang sudah terantuk beberapa kali ke meja bar dan dia terus meracau di alam bawah sadarnya.

“Bukankah dia Tiffany Hwang??” ucap seseorang yang kebetulan duduk di samping Tiffany. Ryeowook mengerjap. namja itu mengulurkan tangannya hendak menyentuh kepala gadis itu dan entah alasan apa yang ada di pikirannya, Ryeowook menepis tangan orang itu dengan cepat.
“Dia bukan Tiffany Hwang, tuan. Kau salah orang” ucapnya tegas. Orang itu mendelik.
“Tidak mungkin. Dia terlalu mirip dengan artis itu.” elaknya. Ryeowook memilih meninggalkan meja bar lalu secepat mungkin ia segera berdiri di samping Tiffany.
“Dia temanku” ucapnya lalu melingkarkan sebelah tangan Tiffany ke bahunya. Setelah itu dengan perlahan ia memapah Tiffany ke luar dari klub itu—lagi.

“Akhirnya aku harus kembali memapahmu pulang” dengusnya. Tiffany masih setengah tersadar, ia terus mengatakan hal-hal yang tidak dimengerti Ryeowook mengenai seorang pria bernama Cho Kyuhyun. Sebenarnya apa yang terjadi antara gadis ini dan pria bernama Cho Kyuhyun itu?
Ryeowook tidak terlalu mendapati kesulitan saat mencari mobil gadis itu. Ia sudah tahu bentuk, tipe, cat mobil, hingga plat mobilnya. Setelah berhasil mengambil kunci mobil dari dalam tas tangannya, ia segera memasukkan gadis itu ke dalam mobilnya dan kali ini ia akan benar-benar mengantarkannya pulang.

—o0o—

Ting tong..

Ryeowook mengerutkan kening karena tidak ada yang membukakan pintu gerbang meskipun ia sudah memencet bel berkali-kali. Apa di rumahnya tidak ada orang? Sekali lagi ia memencet bel dan hasilnya pun tetap sama. Kepalanya mendongak menatap rumah bercat putih yang tampak gelap. Seperti tidak ada kehidupan di dalamnya. Sepertinya rumah itu memang kosong. Ia menunduk sejenak mencari jalan keluar. Ia menoleh kembali pada sesosok gadis yang tertidur di dalam mobil.
“Arrgghhh..gadis ini membuatku gila!!” erangnya frustasi. Ia iseng membuka pintu gerbang, sesaat kemudian ia mengerjap karena siapa sangka pintu itu tidak terkunci. Ia berdecak.
“Seharusnya kau bilang kalau pagarnya tidak dikunci” umpatnya entah pada siapa. ia mendorong lebih lebar pintu gerbang itu agar terbuka lalu masuk kembali ke dalam mobil dan membawanya masuk melewati gerbang itu, memarkirnya tepat di garasi kecil yang ada di depan rumah gadis itu.
Ia menggendong gadis itu di punggungnya. tidak terlalu berat, karena Tiffany memiliki tubuh ramping dan ideal. Mungkin karena ia seorang artis.
“Berapa kode rumahmu, nona Hwang??” gerutu Ryeowook ketika menyadari ia kembali melupakan satu hal penting saat berdiri di depan pintu rumah Tiffany. Mengapa gadis ini banyak sekali membuat kesulitan dalam hidupnya? Semenjak kemunculannya, hidupnya seperti di rundung kesialan. Namun percuma saja ia mengeluh. Karena sepertinya, takdir baik tidak akan berpihak padanya. ia asal menekan tombol kombinasi angka dan..

Cklekk..

Ia mengerjap karena pintu rumah itu terbuka. Ho, kenapa bisa semudah itu? ia melirik pada Kepala Tiffany yang bersandar di bahunya.
“Syukurlah kode rumahmu tidak sulit..” gumamnya. ia kemudian membawa gadis itu masuk. ia bingung mencari di mana letak kamarnya, maka dari itu ia memutuskan menidurkan gadis itu di atas sofa panjang yang terdapat di ruang tengah.
“Ahh..leganya..” Ryeowook refleks memijat pundaknya yang terasa keram. Ia bangkit dari duduknya dan berniat pergi. namun saat kakinya akan melangkah, sepasang tangan tiba-tiba saja menahan satu kakinya.
“Arrghhh..” Ryeowook memekik kaget dan refleks menoleh ke belakang, tepat ke arah Tiffany yang memegang erat kakinya, entah apa yang tengah diigaukannya.
“Tiffany-ssi, jebal..” Ryeowook menarik kakinya sendiri namun sial sekali, cengkraman gadis itu terlalu erat. Ia terus berusaha melepaskan diri karena ia tidak mau berlama-lama berada di dekat gadis itu.
“Tiffany-ssi!!!!” akhirnya Ryeowook terpaksa berteriak. Siapa sangka teriakan panik namja itu membuat Tiffany tersadar dan gengggaman tangannya mengendur. Ryeowook sempat menghela napas lega karena tangan itu tidak lagi mencengkram kakinya, namun hal itu tidak membuahkan nasib baik. Namja itu kehilangan keseimbangannya dan..
“Whuaaa…”

Bruukk!!!!

Tubuhnya terjungkal jatuh kebelakang dan kepalanya terantuk pinggiran meja yang ada di sana. “Aduhhh..” Ryeowook memekik kesakitan saat ia merasakan kepalanya terbentur sesuatu yang keras. Pandangannya mengabur dan ia seperti diputar cepat, sama seperti ketika naik roller coaster berkecepatan tinggi.
Tiffany bangkit, tanpa rasa bersalah ia menatap sekeliling tempatnya berada.
“Ha? Sejak kapan aku berada di rumah?” lirihnya bingung. kepalanya berputar cepat ke arah sesosok namja yang duduk di depannya sambil memegangi bagian belakang kepalanya. ia mengerjap. Ryeowook?
“Ryeo—-arrrgghhh..” Tiffany memekik kaget karena tiba-tiba saja tubuh namja itu ambruk ke lantai. Ia segera bangkit menghampiri Ryeowook yang tidak sadarkan diri di atas karpet ruang tengahnya. Kenapa dia? Kenapa bisa pingsan di sini? Otomatis ia melirik pada meja yang sudah bergeser beberapa senti dari tempatnya semula. Mungkinkah ia jatuh dan kepalanya terantuk pinggiran meja itu? tapi kenapa?

Sekelebat bayangan terlintas di retina matanya, Tiffany terkesiap. Tadi, bukankah ia seperti mencengkram sesuatu, sesaat setelah ia melepaskannya, ia mendengar suara pekikan seseorang di sertai sesuatu yang membentur benda keras.
“Omo!!!!” gadis itu menjerit panik ketika sadar bahwa Ryeowook pingsan karena dirinya! Ia melirik tubuh namja yang sudah tidak bergerak lagi itu. jangan-jangan…
“Ryeowook-ssi, jebal..jangan mati…” teriaknya sambil menepuk-nepuk pipi berharap namja itu terbangun. Tapi hasilnya nihil, namja itu tetap tak bergeming dari posisinya.

—o0o—

“Nathan, pergi dari sini!!!!” samar-samar ia mendengar suara teriakan ibunya, membuatnya terbayang kembali sebuah memori kelam di masa lalu hidup yang sudah lama ia tinggalkan. Sebuah jeritan memilukan yang keluar dari mulut ibunya. Suara kencang terakhir dari wanita yang sudah melahirkannya ke dunia itu.

“Mommy!!!” jeritnya ketakutan melihat ibunya di cengkram paksa oleh pria jahat di sampingnya. Ia ingin sekali membunuh pria yang sudah melukai ibunya itu. ia tidak tega melihat tubuh ringkih ibunya penuh luka dan dari sudut mulutnya mengalirkan banyak darah.
“Pergilah! Selamatkan dirimu!” teriak ibunya sekali lagi. dengan linangan airmata dan ketakutan, terpaksa Ryeowook menuruti titah ibunya.

Ryeowook berlari ketakutan menghindari kejaran pria-pria berjas hitam. kaki kecilnya tidak sanggup lagi melangkah karena hatinya dirudung rasa bersalah, takut, dan benci. Bagaimana mungkin anak berusia sebelas tahun bisa menandingi kecepatan berlari pria dewasa? Seluruh Dunia seolah bersekongkol untuk membuatnya tak berdaya. Ia terjatuh karena tenaga yang tersisa dalam tubuh kecilnya habis. Ia terus memaksa diri meskipun harus menyeret tubuhnya pergi dari tempat yang lebih pantas di sebut neraka di banding istana.
“Hiks..hiks..” ia terkulai lemah di atas lantai marmer yang bahkan ia bisa bercermin di atasnya. Ia menangisi ketidak berdayaan dirinya melawan kekuatan menakutkan yang dimiliki orang-orang jahat. Tangannya mencoba menggapai pintu keluar dengan tangan kecilnya. Tapi sayang, seseorang dengan cepat menarik badannya dan memaksanya berdiri.

Matanya terbelalak dan jantungnya berdebar kencang saat ia tahu tak ada jalan kabur lagi baginya. Benaknya berpikir bahwa hidupnya tak akan lama lagi. hidupnya berada di tangan orang-orang yang kini menatapnya beringas.
You must die, kid..” ucap sebuah suara berat di depannya. Ryeowook merasakan tubuhnya bergetar saat orang yang memakai jas mewah sambil sesekali menghisap cerutu itu menodongkan sebuah pistol tepat ke keningnya. Matanya terbelalak dan airmata itu meleleh begitu saja dari sudut matanya.
“No!! Jangan bunuh anakku!!” teriak wanita yang kini sedang ditahan oleh dua orang bodyguard di belakang pria jahat itu.
“Tidak, dia akan menjadi sangat berbahaya jika tetap dibiarkan hidup” desisnya sambil mengepulkan asap cerutunya ke udara.
Ia tidak mengerti, mengapa dirinya bisa berbahaya bagi para orang dewasa? Mengapa? Ia hanya anak kecil yang tak mengerti apapun.
Say goodbye, son..” gumamnya menatap Ryeowook tajam. Anak kecil itu membelalak takut, ia menutup matanya rapat-rapat bersiap menerima sakit sepedih apapun, dan mungkin kehilangan nyawanya detik itu juga.

Semuanya seakan terjadi dalam gerakan lambat. Saat pria itu menarik pelatuk, Ryeowook sudah tidak takut lagi jika ia harus mati. Namun ia tak menyangka sama sekali begitu ia mendengar suara jeritan Ummanya, detik itu pula ia melihat pemandangan paling memilukan di dunia. Ia terbelalak kaget karena Umma berlari ke hadapannya, menghalau peluru itu dengan menjadikan tubuhnya sendiri sebagai tameng dan membiarkan peluru itu menembus tepat ke dadanya. Dan mencipratkan beberapa tetes darah ke baju yang dikenakannya.
“Mommy!!!!” Ryeowook berteriak histeris dengan buliran airmata membanjiri pipinya. Ia melihat tubuh Ummanya ambruk satu langkah di depannya.

Ryeowook sudah tidak mempedulikan apapun lagi. ia berlari menghampiri tubuh ibunya yang sudah terkapar di lantai, meregang nyawa. Darah mengalir banyak dari dadanya, hingga membanjiri lantai marmer di bawahnya.
“Mommy, jangan tinggalkan aku..” Ryeowook menangis sejadi-jadinya. Ia mengguncang tubuh tak berdaya ibunya dengan sekuat tenaga berharap bisa memberikan kekuatan. Dalam kesadaran yang kian menipis, wanita itu menatap putra semata wayangnya dengan penuh kasih sayang. Ia sedih karena mungkin sekarang adalah saat terakhirnya menatap wajah putra yang sudah dibesarkannya dengan penuh cinta selama sebelas tahun.
“Nathan..kau harus tetap hidup..ingat, tumbuhlah menjadi orang yang baik, jujur, dan..bertanggung jawab..” ucap Umma dengan suara terpatah-patah. Tangannya yang berlumuran darah terulur mengusap pipi Ryeowook dengan lembut—untuk terakhir kalinya.
Don’t say anything!! Mommy tidak boleh pergi meninggalkanku!!!” teriaknya dengan airmata yang semakin mengalir deras. Ryeowook menggenggam erat tangan ibunya yang terasa licin karena penuh darah itu.
Detik itu pula ia merasa dunia di sekitarnya runtuh saat melihat mata Ibunya tertutup, dan tangan yang digenggamnya terkulai jatuh dari genggamannya. Tubuhnya bergetar hebat dan ia menangis meraung-raung begitu tahu sang ibu sudah pergi untuk selama-lamanya.

“Mommy…!!!”
Lengkingan suara memilukan itu terdengar semakin jelas dan semakin jelas. Tanpa sadar Ryeowook ikut berteriak seperti yang dialaminya dalam alam bawah sadar.

—o0o—

“Mommy!!!”

Ryeowook terkesiap bangun. Matanya terbelalak lebar dan tubuhnya penuh dengan keringat. Sekarang pemandangan yang ada di depannya bukanlah pemandangan mengerikan di mana ia melihat kematian ibunya sendiri melainkan sebuah langit-langit rumah yang dicat putih dan sebuah lampu gantung yang bercahaya kekuningan.
“Kau, sudah sadar Ryeowook-ssi?”

Suara halus itu membuat ia menoleh ke arah samping. Ia agak terkejut ketika melihat Tiffany Hwang duduk bersimpuh di sampingnya dengan tatapan cemas. Ia baru akan bertanya ketika ia ingat bahwa tadi ia memang kemari untuk mengantarkan pulang Tiffany yang mabuk di klub, setelah itu ia terantuk meja dan pingsan.
“Ne..akkhhh—“ ia mencoba bangkit namun ia tersentak kaget begitu merasakan bagian belakang kepalanya berdenyut sakit. rupanya efek dari benturan tadi masih terasa. Refleks ia memegang bagian kepalanya.
“Kau tidak apa-apa?” serobot Tiffany cemas. Ia membantu Ryeowook bangun dari tempatnya kemudian mendudukkannya di atas sofa.
“Aishh..kenapa aku selalu sial jika bersamamu?” dengusnya. Tiffany terdiam sejenak. memang benar, entah sudah berapa kali kesialan yang diperbuatnya pada Ryeowook. Itu membuatnya semakin merasa bersalah.
“Mianhae..” lirihnya sungguh-sungguh. Ia melirik tangan Ryeowook yang tetap setia memijat kepalanya.
“Kepalamu terasa sakit? kau butuh obat atau apa? katakan saja..”
Ryeowook merasa ada nada bersalah bercampur panik dari suara Tiffany. Lantas ia menoleh dan mendapati gadis itu menatapnya dengan alis bertautan, cemas.
“tidak perlu..aduhhh..” sialnya kepalanya kembali berdenyut. Tiffany panik. Ia kalang kabut pergi mencari obat yang bahkan ia tidak tahu kotak P3K diletakkan di mana.

“Kemana sih, Henry. Di mana ia letakkan kotak P3K?” gerutunya di dapur. Ia membuka seluruh rak dan laci di kitchen set namun tidak menemukan satupun kotak dengan label P3K di atasnya. Ia melirik pada pesan yang ditempel di pintu lemari es.

Aku pergi karena ada urusan mendadak di kantor, kau tahu kan Eunri, dia itu sangat cerewet jika menyangkut masalah pekerjaan. Jadi aku akan pulang besok, lass. Semoga malammu menyenangkan ^_^ .

_Henry_

Tiffany mendengus. Dasar. Itu artinya ia melewati malam menyebalkan ini seorang diri? Malam paling menyedihkan dalam sejarah hidupnya. Oh, mendadak saja ia teringat kejadian di pesta yang membuatnya syok hingga ingin mati rasanya.

Cho Kyuhyun sudah menikah…pria yang dicintainya selama lebih dari lima tahun sudah dimiliki oleh gadis lain.

Bukankah itu artinya cintanya tidak akan pernah terbalas?
Tubuhnya melemas kembali. Ia bersandar pada dinding lemari es dan pandangannya menerawang. Setetes air mata itu bergulir menuruni pipinya tanpa ia sadari. Hatinya terasa pedih dan sesak. ia masih tidak bisa menerima kenyataan bahwa cintanya bertepuk sebelah tangan. Kenapa? kenapa ia harus mengalaminya? Ia sudah merelakan menolak puluhan namja yang menyukainya demi namja itu termasuk Choi Siwon. tapi kenapa??
“Hikss..Cho Kyuhyun..kau jahat…” kakinya bergetar karena ia sudah tidak kuat lagi menahan sakit yang menyiksa dirinya. Ia jatuh terkulai di lantai dengan tangan mendekap dada. Di sana..tepat di bagian jantungnya terasa begitu sakit dan pedih. Ia mungkin sudah mati jika menderita penyakit jantung. Rasanya terlalu menyesakkan.

Ryeowook bingung karena Tiffany tidak kunjung kembali setelah pergi beberapa saat lalu untuk mengambil obat. Lantas ia memaksakan diri bangkit meskipun terkadang pandangannya berkunang-kunang karena pengaruh benturan. Ia berjalan agak sempoyongan dan beberapa kali harus berhenti untuk menormalkan penglihatannya.

Langkahnya terhenti ketika telinganya menangkap samar-samar suara isak tangis dari arah dapur. Dengan langkah pelan agar tidak menimbulkan suara, Ryeowook mendekat ke lemari es tempat suara itu berasal. Ia sedikit terkesiap ketika melihat Tiffany terduduk lemah di lantai dapur dengan lelehan air mata di pipinya. Gadis itu menangis tersedu-sedu, membuat Ryeowook berpikir mungkin terjadi sesuatu yang buruk padanya. ia bahkan sudah tidak mempedulikan dunia di sekitarnya lagi, termasuk Ryeowook yang berdiri di sampingnya, penampilannya yang berantakan, dan gaun kuning mini yang kini meyingkap terlalu atas memamerkan paha mulusnya.
“Ekhem..” Ryeowook berdehem untuk mengalihkan perhatiannya ke arah lain sekaligus bermaksud menyadarkan gadis itu.

Benar saja, Tiffany tersentak kaget. Ia benar-benar melupakan bahwa ada orang lain di rumahnya malam ini. Sekaligus kaget karena ini pertama kalinya ia memperlihatkan sisi dirinya yang menyedihkan di depan orang lain. Ia tidak pernah menangis di depan orang lain. Sekalipun itu Henry. Dan kini, dengan sangat memalukan Ryeowook, namja yang dikenalnya beberapa minggu lalu melihatnya dalam kondisi paling menyedihkan.
“Kau masih di sini..” ucapnya kaku sambil beringsut bangun. Secepat kilat ia menghapus airmata yang tersisa di wajahnya lalu bersikap seanggun dan sebiasa mungkin.

Ryeowook mendengus kecil begitu menyadari bahwa Tiffany adalah wanita dengan harga diri tinggi, selalu menjaga image di depan orang lain. Apa itu karena dia artis?
“Kau berjanji akan memberikan obat untukku? Mana?” ia memilih mencari topik yang lain dibandingkan harus bertanya kenapa gadis itu menangis.
Tiffany terperangah sadar. Ia menolehkan kepalanya ke kiri dan kanan mencari kotak P3K, entah di mana benda itu berada. Ia menatap Ryeowook ragu.
“Anu..sebenarnya..aku tidak tahu kotak obat itu diletakkan di mana..” ucapnya pelan, dengan wajah semenyesal mungkin.
Yeoja ini benar-benar… Ryeowook gemas sekali melihat tingkah Tiffany. Mirip dengan Mira, sahabatnya yang sudah menikah dengan Eunhyuk. Ia mengedarkan pandangannya ke samping dan menemukan sebuah lemari kecil yang tertempel di dekat wastafel di samping pintu kamar mandi. Ia berjalan ke sana lalu membuka lemari itu. benar seperti dugaannya. Kotak P3K yang dicari Tiffany tergeletak manis di sana.
“Lihat, kotak itu ada di sini..” ucapnya malas sambil mengoyang-goyangkan kotak putih kecil itu ke arah Tiffany.
“Oh..bagaimana kau tahu itu ada di sana..” seru Tiffany takjub dengan wajah polos. Ia berlari kecil menghampiri Ryeowook. Sedikit memiringkan kepalanya karena ia tidak ingat meletakkan itu di sana.
“Aneh, Henry tidak pernah bilang meletakkan itu di sana..” dengusnya. Ya sudahlah, tidak penting. Bukankah lebih baik ia memberikan obat untuk Ryeowook.
“Baiklah, waktunya minum obat, Mr. Kim!!” serunya ceria.

—o0o—

Ryeowook duduk di salah satu kursi tinggi yang ada di dekat bar kecil di rumah gadis itu. ia agak takjub ketika melihat deretan wine dan minuman alkohol bermerek yang berjejer rapi di rak tepat di hadapannya. tadi ia sudah meminum obat dan menunggu Tiffany yang sedang membersihkan diri. Selagi ia terdiam, bayangan masa lalu itu berputar kembali di otak seolah ingin menerornya. Ia terkesiap lalu dengan cepat menggelengkan kepala berusaha mengusir memori kelam yang tidak ingin di ingatnya.

Samar-samar, ia bisa mendengar suara rintik hujan dan suara tangisannya sendiri…

#Flashback#

“Mommy..” Ryeowook menangis sejadi-jadinya sambil memeluk batu nisan ibunya. Ia masih tidak mau percaya bahwa wanita yang dipanggil ibu olehnya itu sudah tiada. Sekarang ia hanya bisa melihat wajah sang ibu dari potongan potretnya saja. tidak, itu tidak mungkin. ia merasa sangat bersalah karena membiarkan Ibunya mati untuk menyelamatkan dirinya. Harusnya ia yang mati, bukan ibunya.
“Ayo pulang, nak..” sebuah tangan kekar menyentuh lembut bahunya. Ryeowook segera menepis tangan itu. tidak peduli hujan semakin turun deras dan membuat badannya basah kuyup, ia tidak ingin pergi dari tempat ini. Berada di depan pusara ibunya jauh lebih aman dibandingkan harus hidup di istana namun seperti berada di dalam sangkar burung emas dengan banyak perangkap di dalamnya.
“Kau bisa sakit. dan ayah tidak mau melihatmu terus menangisi kepergian ibumu seperti itu..” ucap Pria yang mengaku sebagai ayahnya itu.

Ryeowook mengangkat kepalanya dari pusara sang itu lalu menoleh dengan tatapan penuh benci pada sosok di belakangnya. ia melihat Ayahnya berdiri di payungi oleh dua orang bodyguard di belakangnya. ia benar-benar membenci sosok orang itu. kemana orang itu saat ia dan Ummanya di sekap oleh orang-orang jahat itu beberapa hari yang lalu?
Bukankah yang menyebabkan semua tragedi ini adalah dia? Salah seorang yang menjadi musuh ayahnya sengaja menculik ia dan ibunya lalu mengancam akan membunuh mereka jika tidak mengatakan di mana keberadaan pria yang menjadi ayahnya itu. Dan sekarang, saat ia kehilangan sosok ibu yang amat ia cintai bahkan pria itu tidak menunjukkan raut sedih ataupun menyesal?
“Tidak mau!! aku tidak mau pergi!!” teriak Ryeowook dengan sekuat tenaganya.
“Jangan memandang masa lalu, Kim Ryeowook!!” tegas pria itu. gelegar suaranya bahkan mampu mengalahkan suara petir yang menyambar-nyambar siang itu.
Ryeowook membelalakkan matanya takut karena ia seperti melihat sosok pria jahat itu di dalam sorot mata ayahnya. ia merasa takut sekaligus benci.
“Kau akan menjadi penerusku. Karena itu, tidak peduli sepedih apapun, kau tidak boleh terpengaruh oleh emosimu. Belajarlah untuk menjadi pria kuat!!” suara Ayah menggema dengan jelas memasuki gendang telinganya. Ia tidak mau..ia tidak mau menjadi penerus bisnis pria itu. ia tidak mau memiliki banyak musuh dan membuatnya kehilangan seseorang yang penting lagi.
Ryeowook menggelengkan kepalanya dengan cepat. “Aku tidak mau!! aku tidak mau!!” teriaknya histeris.

Ayah menghela napas berat lalu menoleh ke arah bodyguard yang berdiri di sisi kiri kanannya. “Seret dia ke mobil” titahnya. Ia mengambil payung itu lalu pergi dengan langkah angkuh. Ryeowook mengambil ancang-ancang untuk kabur, namun bodyguard yang sudah terlatih itu dengan cepat menangkap tangannya dan tubuh lemahnya itu dengan mudah di seret ke dalam mobil.
“Aku tidak mau menjadi penerusmu, ayah!!!” Ryeowook terus meronta-ronta. Sambil menatap nanar sosok Ayahnya yang bahkan enggan menatapnya sedikitpun. Tubuhnya melemas tak berdaya ketika bodyguard itu memaksanya masuk ke dalam mobil, dan membawanya pergi dari pemakaman itu.

#Flashback end#

“Ryeowook-ssi, kau kenapa??”

Ryeowook mengerjap sadar begitu ia melihat Tiffany menggerak-gerakkan tangannya dengan cepat tepat di depan wajahnya. ia menoleh pada sosok yang kini sudah berpakaian rapi dalam balutan gaun tidur. wajah polos Tiffany yang tak dipoles make-up sediktpun membuatnya agak terkesan. Rambut panjangnya yang berwarna pirang kecokelatan itu tergerai indah dan ini pertama kalinya ia melihat seorang yeoja dalam balutan gaun tidur secara langsung. Ia tidak tahu jika Tiffany bisa tampak..em..mempesona.
“Kenapa? ada yang salah denganku?” tanyanya bingung. Tiffany sudah duduk di kursi tinggi lain yang ada di sampingnya. Bertopang dagu sambil menatapnya heran.
“Ani, hanya saja..aku sedikit terkesima. Kau terlihat lebih cantik saat tanpa make-up..” ucapnya jujur. Kalimat itu lolos begitu saja dari mulutnya tanpa terpikir. Namun rupanya hal itu membuat Tiffany terkesiap. Ia baru sadar kalau ini memang pertama kalinya ia memperlihatkan wajah polosnya pada namja selain Henry.
“Oh, jinjja yo? Kalau begitu terima kasih..” ujarnya antara canggung dan malu. Ia menyampirkan rambutnya ke belakang telinga dan bergerak gugup.
Ryeowook berdehem sejenak untuk mencairkan suasana. “Jadi, Tiffany-ssi. Aku tidak tahu jika kau suka mengoleksi macam-macam wine..” ucapnya sambil melirik jejeran berbagai macam botol wine di rak seberang meja bar. Tiffany ikut menoleh.
“Oh, itu. appa dan Umma. mereka penikmat sejati wine. Karena itu banyak sekali jenis wine yang dikoleksi oleh mereka. Sementara aku sendiri adalah peminum yang buruk” ucapnya sambil terkekeh kecil. Ryeowook ikut tertawa.
“Aku tahu” ia mendadak mendapatkan ide. “Ah, bolehkah aku memperlihatkan sedikit kemampuanku padamu?”
“Kemampuan?” Tiffany menaikkan alisnya sebelah, tidak paham.

Ryeowook hanya tersenyum dan sebagai jawaban ia turun dari kursi tinggi itu lalu berdiri di balik meja bar. Mengambil beberapa botol wine dengan cepat, membuka botolnya cekatan dan menuangkan sedikit isinya ke dalam sebuah kontainer kecil dari aluminium. Ia mencampur beberapa cairan dan menambahkan beberapa bahan khusus yang ada di sana ke dalam kontainer itu. ia lalu menutupnya dan mengocoknya dengan cepat. Sesekali ia juga melakukan atraksi seperti melempar botol aluminium itu ke udara dan menangkapnya.

Tiffany berdecak kagum. mulutnya tak henti-hentinya mengeluarkan seruan saat Ryeowook berhasil membuatnya terkesima dengan aksi-aksinya itu. ia bertepuk tangan keras di akhir pertunjukkan.
“Wah..aku tidak menyangka kalau kau seorang flare bartender!!” serunya kagum. Ryeowook tersenyum puas karena berhasil membuat Tiffany terkesan lalu menuangkan cairan itu ke dalam gelas, menghiasnya dengan buah cherry merah lalu mendorong gelas berisi cairan keemasan itu ke hadapan Tiffany.
“Apa ini?” tanya Tiffany bingung.
“Minuman itu namanya, Cinderella. Cocok sekali untuk para gadis yang sedang dilanda masalah cinta” ungkapnya. Tiffany terdiam. Senyumnya terhenti seketika dan pandangannya bergantian menatap Ryeowook dan minuman di hadapannya. mendadak saja matanya kembali berkaca-kaca. Ucapan Ryeowook kembali mengingatkannya pada masalah Kyuhyun.
“Kenapa? cobalah..” ucap Ryeowook karena Tiffany tidak kunjung menyentuh minuman itu.
“Aku tidak mau. aku takut mabuk lagi..” Tiffany memalingkan wajahnya ke arah lain karena kini pandangannya mulai mengabur oleh airmata.
“Ini cocktail, nona. sudah kuracik sedemikian rupa agar rendah alkohol. Satu teguk tidak akan membuatmu mabuk..” ucapnya pelan, mencoba menyelami ekspresi sedih yang kini sedikit di tangkapnya dari wajah Tiffany.
“Kecuali, jika kau memang sedang di landa masalah cinta. Kau akan mabuk hanya dalam sekali teguk..” ucapnya misterius. Tiffany menoleh dengan mata berkaca-kaca. Ia menatap baik-baik pria itu, dan akhirnya pertahanan dirinya roboh. Tetesan airmata itu kembali jatuh.
Ryeowook terdiam. Jadi, gadis ini memang baru saja dicampakkan oleh pria?

Tiffany tidak mengerti, mengapa hanya menatap wajah pria itu semua pertahanannya bisa roboh dengan sendirinya. Akhirnya ia kembali terisak.

“Pria itu sudah menolakku..cintaku yang kupertahankan selama beberapa tahun pupus begitu saja dalam satu malam..” akhirnya Tiffany menceritakan semua beban yang menghimpit dirinya setelah ia mengetahui berita menyedihkan langsung dari mulut Cho Kyuhyun. sambil terisak, ia menceritakan semuanya pada Ryeowook.
Namja itu tercengang mendengar cerita Tiffany. Bagaimana mungkin gadis ini mengalami nasib serupa dengannya? Bukankah ia juga memiliki kisah cinta menyedihkan seperti itu? saat ia mencintai seorang yeoja dengan sungguh-sungguh, berusaha menjaganya dengan segenap jiwa dan raga, namun pada akhirnya yeoja itu memutuskan untuk meninggalkannya dan memilih bahagia bersama namja lain.
“Katakan, Ryeowook-ssi, apa aku ini bodoh???” ucap Tiffany di akhir ceritanya. Ia menghapus airmata yang mengalir di pipinya dengan halus.

Ryeowook termenung sejenak. lalu ia tersenyum. “Itu memang tindakan bodoh, namun itu tidak salah. Mencintai seseorang dengan tulus dan bersabar untuk mendapatkannya bukanlah tindakan seorang pengecut. Hanya saja, hasil akhir yang kita dapat ketika mengetahui bahwa cinta yang kau perjuangkan itu pupus di tengah jalan, mampu membuat perasaan hancur dan hati perih. Sebenarnya, kau hanya melakukan satu kesalahan..” ucap Ryeowook. Ia menatap Tiffany yang menunggu ucapan selanjutnya dengan wajah penasaran.
“Kau terlalu takut untuk mengakui perasaanmu padanya..”

Gadis itu sempat terpaku sesaat lalu mengerjapkan matanya sekali, dua kali. Hingga akhirnya ia tersadar satu kesalahan besar yang dilakukannya. Selama ini, ia memang tidak pernah memberitahukan Cho Kyuhyun bahwa ia menyukainya. Selama ini ia hanya berpikir untuk menjadi gadis yang disukai namja itu tanpa berpikir untuk membuatnya tahu bahwa ia mengharapkan cinta darinya.
“Iya..kau benar..” lirihnya tak percaya.

Siapa sangka, jika kesalahan kecil yang diperbuatnya mampu menghancurkan seluruh langkah yang ia tapaki dengan susah payah selama ini?

Aku kira, menjadi sempurna membuatku bisa mendapatkan apapun yang kuinginkan. Termasuk pria yang kucintai. Tapi ternyata dugaanku itu salah besar. aku tidak percaya ketika aku menyadari cintaku bertepuk sebelah tangan. Hanya satu kesalahan yang kuperbuat. Aku terlalu takut untuk menyatakan cintaku padanya..

To be continued…

43 thoughts on “Shady Girl Ryeowook’s Story [Part 3]

  1. Jangan bilang ayahnya ryeowook itu sindikat mafia ? Oh my kasian wookie kalo harus nerusin usaha ayahnya
    Chingu jebal … Bikin afstor nya donghae-heebin lagi kangen sama couple mereka
    Tapi masukin konfliknya sama temen-temen dari heebin sama donghae *kalo dikabulin
    Oke deh ditunggu kelanjutannya

  2. Semakin penasaran thor oppa ryeowook itu siapa sih???,,,,

    ff nya Daebak ,, good job thor

    semangat nya ,,, 😀 ,, jangan lupa sequel nya?? ,,

  3. iya jangan bilang pekerjaan appa wookie oppa berantem2 gitu? nah wookie oppa suruh lanjutin*no way*
    pwntesan wookie suruh tiffany gak usah cintain dia karna nnti nyesel*hhuuaa* penasaran itu iya apa enggak..

  4. Cinta yg tak trbalas emng sgt mnykitkan,,
    wlwpun seandainya Tiffany terang2an klo suka ama Kyu apkh Kyu akn mnrima??? Mnrtku gk,,krna tau sndrikn Kyu orgnya gmna??? Cuek bgt ama yg namanya cwek??? Itu mnrtku lho hehehehehe

  5. Jadi benar fany ditolak sama kyuhyun,dan kyuhyun udah menikah.
    Huh…..kasian fany.
    Gak nyangka,ternyata ryeowook punya masa lalu yang tragis.
    Sebenarnya ryeowook itu siapa dan indentitasnya….?

Your comment

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s