Shady Girl Ryeowook’s Story (Part 2)

Tittle : Shady Girl Ryeowook Story Part 2
Author : Dha Khanzaki a.k.a Shin Jeyoung
Genre : Romance

Main Cast :

  • Tiffany Hwang
  • Kim Ryeowook

Support Cast :

  • Henry Lau

Wah, banyak yang nanya Leeteuk’s Story ama Yesung’s Story kapan dipostingnya nih. Pada kangen ama mereka ya *Author juga, hiks*. Yang pasti berurutan ya temen-temen tercinta dipostingnya, tunggu aja kalau Ryeowook’s Story sudah selesai. Siapa tahu mereka yang jadi main cast selanjutnya.
Happy Reading ^_^

Shady Girl Ryeowook's Story by Dha Khanzaki

===Part 2===

“Hahahah..kau lucu sekali” seru Tiffany. Pipi putihnya tampak memerah dan bibirnya terus mengoceh hal tak penting. Benar sekali. Gadis itu mabuk. Ryeowook mendesah pasrah. Bukannya ia tidak melarang, ia sudah memperingatkan entah untuk berapa kali tapi gadis itu tetap ngotot menuangkan cairan kuning keemasan dari botolnya ke dalam gelas lalu diteguk hingga habis. Dan beginilah jadinya, dia mabuk.
“Tiffany-ssi. Berhenti minum!!” Ryeowook terpaksa mengambil gelas yang dipegangnya saat Tiffany kembali mencoba menuangkan cairan beralkohol ke dalam gelas.
“Arrggghhh..kau menyebalkan!” Tiffany mengerang. Kepalanya hampir saja terantuk meja bar karena kesadarannya semakin menipis. Aku harus bertindak. Batin Ryeowook.
“Kau harus pulang.” Ryeowook berdiri di belakang Tiffany, membantu gadis itu berdiri. Tiffany mulai mengoceh hal yang bukan-bukan lagi. dia mulai meracau tentang pengalamannya menjadi atase di Inggris dan alasan mengapa ia memilih pekerjaan itu.
“Semua ini karena Cho Kyuhyun!!” ucapnya. Ryeowook harus ekstra keras memapah Tiffany menuju lapangan parkir karena gadis itu terus bergerak-gerak dalam keadaan mabuk. Siapa itu Cho Kyuhyun. batinnya tanpa sadar.
“Karena gosip dia pergi ke Inggris, dengan bodohnya aku mengikuti ujian untuk menjadi atase di Inggris hanya untuk membuatnya terkesan. Tapi ternyata..aku tidak menemukan pria itu di Inggris…hiks..” Tiffany merengut dengan wajah hampir menangis. “Ternyata..pria itu pergi melanjutkan kuliah di Amerika..hiks.. dan aku sudah terlanjur menerima pekerjaan itu..sial sekali. Aku terjebak dan menjalani hal yang tidak kusukai. Bahkan cinta pun aku tak berhasil meraihnya….aku benar-benar bodoh…” gadis itu terus meracau hal yang tak dimengertinya sama sekali. Ia berpura-pura simpati agar Tiffany tidak mengatakan hal-hal aneh lagi.
“Aigoo..kasihan sekali..cup, cup..”

Ryeowook sampai di tempat parkir dan mencari-cari di mana kira-kira gadis ini memarkirkan mobilnya. Ia mengulurkan tangannya meraih tas yang tersampir di pundak gadis itu.
“Sial, kenapa sulit sekali” Ryeowook mengumpat kesal karena ia harus agak bersusah payah meraihnya.
Bruuukkk..
Tubuh gadis itu ambruk ke tanah begitu kesadarannya hilang sama sekali. Ryeowook mendesah pasrah. Baru mengenal saja sudah menyusahkan begini? Ia tidak bisa membayangkan bagaimana jadinya jika sudah lama mengenal nanti. Ia berjongkok mencari-cari kunci mobil gadis itu dan berhasil menemukannya di dalam tas tangan gadis itu. ia memencet remote kunci dan otomatis alarm mobil gadis itu berbunyi.
Ryeowook mendengus, siapa sangka mobil gadis itu ada tepat di hadapannya.
“Kau, saatnya pulang Tuan Putri..” desis Ryeowook. Ia mengangkat tubuh Tiffany dengan ringannya lalu membaringkan tubuh gadis itu di jok belakang mobil. Ia sendiri duduk di balik kemudi dan bersiap menstarter mobil ketika ia teringat satu hal penting yang dilupakannya.
“Hajiman, di mana rumah gadis ini?”
Suasana hening sejenak. Ryeowook mematung di tempat duduknya. Bodohnya, ia tidak tahu di mana gadis ini tinggal dan nekat ingin mengantarnya pulang? Kepalanya mengedar ke sekitar tempatnya duduk, dan ia menemukan GPS di dasbor mobil. Syukurlah, rupanya mobil ini dilengkapi sistem penunjuk arah. Ia berharap Tiffany menandai rumahnya dalam GPS.
Ryeowook tersenyum senang karena ternyata gadis itu menandai rumah dalam GPS-nya. Sekarang tidak ada yang perlu di bingungkan lagi. ia segera menstarter mobilnya mengikuti petunjuk di GPS itu.

—o0o—

Tiffany tersadar dari pingsannya. Hal yang pertama ia sadari adalah ia berada di dalam mobil yang bergerak. Sejak kapan ia ada di dalam mobil? Bukankah terakhir kali ia berada di klub malam itu? Ia bangkit perlahan dengan mata menyipit dan nyawa belum terkumpul seutuhnya. Ia masih linglung dan kepalanya terasa berdenyut sakit. ini efek buruk dari alkohol yang ia tidak suka. Tiffany menatap ke sekitarnya dan seketika ia terkesiap. Ia berada di dalam mobilnya sendiri? secepat kilat ia melihat ke arah kursi kemudi. Aaaa—siapa itu yang sedang mengendarai mobilnya? Tunggu dulu, jangan-jangan sekarang ia tengah di culik oleh penjahat?????
“Yaaa!!! Siapa kauuuu” Tiffany berteriak panik seraya mencengram leher pria yang tengah mengemudi dengan santai itu. Ryeowook tersentak kaget dan berkat serangan tiba-tiba gadis itu mobil yang ia kemudikan oleng ke arah samping dan hampir saja menabrak truk di sebelahnya jika ia tidak segera membanting setir ke arah lain.
“Tunggu, Tiffany-ssi, ini aku..”
Tiffany hampir saja mencekik pria di depannya jika ia tidak mengenali suara Ryeowook. Ia mengerjapkan mata lalu melirik ke arah kaca spion.
“Ryeowook-ssi” desisnya. Cengkramannya di leher pria itu mengendur.
“Iya, ini aku..kau ini..”
“Kenapa kau bisa ada di dalam mobilku??? Kau ingin menculikku???” Tiffany malah menuduh macam-macam. Ia kembali mengeratkan cekikannya. Ryeowook merasa sesak.
“Arrhhggghh,, Tiffhhh—“
“Mwo, perhatikan ke depannnn!!”
Tiffany dan Ryeowook memekik bersamaan karena tiba-tiba mobil oleng ke samping karena tanpa sengaja Ryeowook memutar setir ke samping karena pengaruh cekikan Tiffany.

Brakkkkkkkkkk!!!!!

“Kyaaaaa”
Suara pekikan kencang menggema malam itu diiringi dengan bunyi alarm dari mobil Tiffany dan suara tubrukan dua buah benda.
Tiffany terdorong ke depan dan hampir saja membentur dasbor mobil sementara Ryeowook mendesah lega karena ia memakai sabuk pengaman. Mereka berdua membuka mata perlahan dan menatap ke arah depan.
“Arrrgghhhh!!” Tiffany berteriak panik lalu bergegas turun dari mobil. Ia menatap nanar kondisi bagian depan mobilnya yang sedikit hancur karena menabrak tiang lampu jalanan. Ryeowook turun dari mobil dan ikut meringis melihat kondisi mobil. Dari kap mesin mobil itu mengepulkan asap.
“Yakk!! Lihat mobilku! Ini semua gara-gara kau!” Tiffany merengek menyalahkan Ryeowook. Namja itu membelalak. Ia tidak terima dengan tuduhan gadis itu. seenaknya saja.
“Mwo? Memang kau pikir semua ini terjadi karena siapa??? jika kau tidak mencekikku dan duduk manis tidak mungkin kecelakaan ini terjadi”
“Aisshhh..” Tiffany mengerang frustasi. Ia mengacak rambutnya ringan lalu merogoh ponsel untuk menelepon Henry. Gadis itu berbicara panjang lebar dengan penuh emosi. Ryeowook hanya bisa menggeleng-gelengkan kepalanya. ia melirik kondisi mobil gadis itu. ada sedikit perasaan bersalah dalam dirinya. Setelah menelepon, Tiffany menatap Ryeowook dengan pandangan sebal.
“Lagipula kenapa aku bisa berada di mobil? Kau ingin menculikku rupanya..” Tiffany mendelik tajam.
“Mwo? Seharusnya kau berterima kasih karena aku tolong. Bayangkan jika seandainya beberapa saat lalu aku tidak berbaik hati mengantarmu pulang, kau pasti sudah menjadi santapan pria-pria lapar di klub sana” cerocos Ryeowook emosi. Ia tersinggung karena Tiffany mencurigainya yang bukan-bukan.
“Tapi kau kan bisa membangunkanku, membuatku tersadar dengan menyiramku pakai air atau semacamnya..”
“Dan membuatmu menjadi pusat perhatian?? Aku tidak melakukannya karena aku ingat kau seorang artis” Ryeowook memelototi Tiffany dengan tangan melipat di depan dada. Gadis itu terkesiap sadar, ia merasa Ryeowook ada benarnya juga.
“Begitu..” ucapnya kaku. Ia berdehem lalu melirik ke arah lain. “Lalu, bagaimana dengan mobilku? Lihat, bagian depannya penyok begini. Ah, berapa biaya yang harus kukeluarkan untuk memperbaikinya..”
Ryeowook menghembuskan napasnya dengan cepat melihat Tiffany kembali mengeluh.
“Baiklah, aku akan mengganti biaya perbaikannya. Sebutkan saja berapa..” ucapnya frustasi. Ia tidak mau mendengar rengekan atau ocehan dari mulut gadis itu.
“Ya, ini mobil keluaran Eropa. Sudah pasti biayanya tidak sedikit.” Tiffany memperhatikan Ryeowook sesaat “kau yakin sanggup menggantinya?” ia tidak yakin. Mengingat namja ini hanya bekerja sebagai bartender klub malam. Ryeowook mendelik, gadis ini berani sekali mengujinya.
“Kau meremehkanku, nona. dan aku tidak suka” Ryeowook mengatakannnya dengan nada tajam. Tiffany sadar ia memang sudah menyinggung perasaannya, maka ia mengalah dan tidak berniat mengajak Ryeowook berdebat lebih jauh lagi.
“Baiklah, aku menyerah..” Tiffany mengangkat tangannya. “Aku akan menghubungimu jika membutuhkan sesuatu..”
“Menghubungi?” Ryeowook mengangkat alisnya sebelah
“Itu, aku sudah mencatat nomor ponselmu”
Ryeowook menyunggingkan senyum mendengarnya. “Ah, rupanya kau diam-diam memperhatikanku juga ya? Kenapa? kau menyukaiku?”
Tiffany tersentak. “Enak saja!!!” tegasnya. “Aku tidak menyukaimu, Tuan.”
“Benarkah? Bagus kalau begitu” Ryeowook mengendikkan bahunya acuh tak acuh.
“Kenapa bagus? Kau tidak suka jika ada seorang artis yang menyukaimu???” kali ini entah kenapa Tiffany merasa tersinggung. Bukankah secara tidak langsung Ryeowook mengatakan bahwa dia tidak suka jika ia menaruh perasaan padanya.
“Bukan begitu..” Ryeowook menoleh ke arah lain. “Kau akan menyesal jika menyukaiku..” ucapnya dengan nada datar dan pasrah.
“Kenapa?”
“Karena yah..yang pasti kau akan terkejut jika mendengar alasan ku.”
“Memang alasan apa? jelaskan padaku agar aku paham..” desak Tiffany. Ini adalah kebiasaan alaminya. Ia suka sekali penasaran.
“Kenapa aku harus menjelaskannya? Memang kau benar-benar menyukaiku????”
“Tidak..” Tiffany merasa yakin dengan ucapannya.
“Kalau begitu kau tidak perlu tahu. jika kau menyukaiku aku akan memberitahukannya”
Tiffany menyunggingkan senyum remeh. “Siapa, aku? Never!”

Ryeowook dan Tiffany memalingkan wajah mereka secara bersamaan. Sekarang yang harus dipikirkan adalah bagaimana cara mereka untuk pergi dari sini.
“Bagaimana kau akan pulang?” Ryeowook berinisiatif bertanya lebih dulu. ia tidak suka suasana canggung menyelimuti seperti ini.
“Aku di jemput sepupuku. Kau?”
“Entahlah. Mungkin aku terpaksa naik taksi.” Ryeowook menoleh pada Tiffany yang entah kenapa kini tengah mengamatinya.
“Wae???” tanyanya curiga. Tiffany menggeleng sekaligus terkesiap. Kenapa ia jadi menatap namja ini? Ah, ia sudah gila.
“Ani..” gadis itu memalingkan wajahnya kembali. “Kita harus pergi dari tempat ini.” Ia mengamati ke sekeliling dan baru sadar bahwa di depan sana ia melihat Namsan Tower.
“Ho, Namsan Tower. Bagaimana kalau kita ke sana!!!”

—o0o—

Ini sudah malam, tentu saja. namun Ryeowook heran mengapa ia mau mengikuti yeoja itu ke Namsan Tower. Padahal ia bisa saja pulang lebih dulu.
Tiffany berjalan pelan menatapi pemandangan di sekitar menara itu dengan perasaan bingung. entah kenapa ia merasa ada yang mengganjal bila menatap bangunan tinggi itu.
“Wae?” Ryeowook penasaran kenapa Tiffany bisa mengerutkan kening begitu, seperti tengah mencari jawaban atas sesuatu.
“Entah kenapa aku seperti melupakan sesuatu jika melihat Namsan Tower..” lirihnya dengan kepala mendongak ke arah menara.
“Apa itu semacam janji?” tanya Ryeowook membantu mengingatkan. Tiffany masih bungkam. Kepalanya berputar mencari jawaban atas rasa penasarannya.

Janji, Namsan Tower, tanggal 23, semua itu hal-hal yang mengganjal pikirannya.
“Ahhh!!!!” Tiffany terkesiap kaget ketika otakknya berhasil menyambungkan hal-hal membingungkan itu.
“Kenapa? kau sudah ingat?”
Tiffany menoleh ke arah namja di sampingnya. “Choi Siwon!!” teriaknya panik
“siapa lagi Choi Siwon. Bukankah tadi dia,”
“ aku memiliki janji dengan Choi Siwon pada tanggal 23!!” mendadak saja wajah Tiffany memucat. Gawat, ia benar-benar melupakan tanggal itu karena terlalu sibuk dengan kegiatannya di kedutaan dulu. Dahulu, sebelum ia pergi ke Inggris Siwon memang pernah mengajaknya bertemu di Namsan Tower pada tanggal itu. Namun ia benar-benar melupakannya.
“Tapi tanggal 23 hari ini bukan??” ucap Ryeowook membuat gadis itu kembali terkesiap. Ia cepat melirik jam tangannya untuk mengetahui apakah ia masih mempunyai waktu untuk datang.
“Jam 23.59!! aku hanya memiliki waktu semenit untuk menepati janji!!” gadis itu panik. Kakinya melangkah cepat, berlari menuju tempat Siwon menunggunya. Ryeowook berlari menyusul di belakangnya.

Tiffany menolehkan kepala ke kiri dan kanannya seperti orang yang kehilangan barang berharga. Panik dan takut. Ia berharap bisa menemukan sosok itu dan memberikan jawaban atas pernyataan Siwon lima tahun yang lalu. Kepalanya berputar ke sana ke mari seperti orang kesetanan.
“Ada apa??”
“Choi Siwon, di mana dia..” ia mencari ke kiri dan kanan namun tidak menemukannya. Mendadak langkahnya terhenti bersamaan dengan suara alarm ponselnya berbunyi nyaring menandakan waktu sudah menunjukkan pukul 12 tengah malam. ia tercengang. Ia tidak percaya bahwa sekarang ia menjadi orang yang melalaikan janji. Lalu bagaimana jika ia bertemu Siwon nanti?
“Waeyo??” Ryeowook kebingungan karena kini wajah Tiffany memucat.
“Bagaimana ini? Aku tidak menepati janjiku..” lirihnya.

—-o0o—-

Tiffany sadar, ia sudah melakukan satu kesalahan lagi. Melupakan janjinya dengan Siwon. bagaimana ini?
“Hei, cantik..” Henry menepuk pundak gadis itu dengan gerakan halus. Tiffany yang saat itu tengah melamun tersentak kaget.
“Ne?” ia mendongak menatap sepupunya itu.
“Kau lupa dengan janji kita? Bukankah hari ini kita akan menemui perancang busana kenalanku?”
Tiffany mengerjap “Ah, kau benar. Untung kau mengingatkan.” Ia bangkit dari duduknya lalu berjalan menuju kamarnya. Tidak lama ia kembali dengan penampilan rapi.
“Nah, begitulah Tiff yang kukenal. Cantik dan anggun” pujinya. Tiffany tersenyum simpul sambil membenarkan posisi tali tas tangannya yang hampir melorot.
“Gomawo.” ia mengambil kunci mobil yang tergeletak di atas meja makan namun sesaat kemudian ia tersadar.
“Ah, aku lupa kalau mobilku sedang diperbaiki. Henry, kita pergi pakai mobilmu”
“Tentu saja”

“Kau terlalu pendiam akhir-akhir ini” ujar Henry sambil menyetir mobil sementara Tiffany duduk di sampingnya dengan pandangan menerawang.
“Pendiam?” alis gadis itu terangkat bingung.
Henry mengangguk cepat, membenarkan. “Kenapa? Apa kau baru saja melakukan kesalahan?”
Ia tersentak saat mendengar kata ‘melakukan kesalahan’. Oh, bagaimana ia menjelaskannya. Ia memang sudah melakukan kesalahan yang fatal. Melupakan janjinya.
“Tidak. Aku hanya bingung” elaknya menutupi.
“Bingung kenapa?”
“Managerku yang dulu menelepon, ada tawaran sebuah film untukku.”
“Jinjja? Lalu apa yang harus dibingungkan? Kau harus menerimanya. Kau tahu Tiff, aku sangat ingin melihatmu berakting lagi” seru Henry dengan wajah antusias.
“Aku memang sedang memikirkannya”

—o0o—-

“Selamat pagi, tampan..” sapa seorang staff pegawai berusia 30 tahunan ketika Henry melintas melewati lobi kantor pusat majalah Ri-bon. Salah satu majalah fashion paling terkemuka di Seoul.
“Pagi” Henry membalas sapaan wanita itu dengan lambaian tangan. Tiffany tersenyum sambil menggelengkan kepala. Ia lupa betapa mempesona sepupunya jika ia mau.
“Apa Sung Young Jae sudah datang?” Henry menyapa beberapa orang di ruangan khusus para perancang dan editor. Beberapa orang yang sedang bekerja di sana menggeleng.
“Dia belum datang.”
Henry mendesah, lalu berbalik menatap Tiffany yang berdiri di belakangnya.
“Kenapa?” Tiffany membenarkan posisi kacamata hitamnya. Henry mengangkat bahu.
“dia belum datang. Entahlah, mungkin terlambat lagi”

Bersamaan dengan itu tiba-tiba saja dari arah belakang mereka terdengar suara kasak kusuk di iringi suara benda-benda berjatuhan. Astaga, siapa yang membuat keributan pagi-pagi begini? Semua orang menoleh ke arah asal suara. Tak terkecuali orang-orang yang ada di ruangan.
“Aku baik-baik saja. tidak perlu mencemaskanku” ucap seorang gadis sambil berjongkok membereskan gulungan-gulungan karton dan beberapa berkas yang berjatuhan di lantai. Sepertinya dia tersandung saat keluar dari lift.
“Sung Young Jae..” Henry berdecak. “Jangan heran, dia memang begitu. Ikut aku.” Bisiknya pada Tiffany. Henry berjalan menghampiri.

“Hei..” ucap Henry saat gadis itu sudah berhasil memungut semua barangnya yang jatuh. Young Jae menoleh dengan barang-barang menumpuk dalam pelukannya. Ia tampak kesulitan.
“Oh, kau Henry. Kebetulan sekal. Ambil ini..” Young Jae buru-buru menyerahkan sebuah berkas pada namja itu.
“Apa ini?” tanyanya bingung.
“Itu daftar model yang akan kau potret minggu ini berikut busana rancangan yang akan mereka pakai” Young Jae berjalan melewati namja itu termasuk melewati Tiffany yang kebingungan dengan situasi di sana.
“Young Jae, tunggu.. aku butuh bantuanmu..” sela Henry. Gadis itu membalikkan tubuhnya.
“apa?”
“Kau ingat, tentang yang kita bicarakan kemarin? Aku meminta kau merancangkan gaun malam untuk sepupuku?”
“Oh ya..” gadis itu mengerjap.
Henry tersenyum. Ia menoleh pada Tiffany. “Ini dia. Kau tentu tahu kan, dia Tiffany Hwang.”
Tiffany melepas kacamatanya lalu tersenyum manis. “Hai, aku Tiffany Hwang..” ucapnya.
Young Jae terbelalak kaget begitu ia sadar gadis di hadapannya adalah Tiffany, artis idolanya. Seketika ia membeku dan seluruh barang bawaannya jatuh ke lantai.

—o0o—

“Kau tahu, Tiffany-ssi. Sejak dulu aku berharap bisa merancangkan baju untukmu. Tak kusangka impian itu terwujud juga..” seru Young Jae semangat. Ia dengan senang hati memperlihatkan beberapa gaun hasil rancangannya pada Tiffany.
“Benarkah? Aku sangat tersanjung” ucap gadis itu ramah. Ia memilih gaun-gaun yang di tunjukkan Young Jae padanya. ia sangat tertarik pada gaun berwarna kuning cerah dengan model pas badan.
“Pilihan yang sangat bagus. Itu adalah hasil rancanganku yang paling kubanggakan” jelas Young Jae.
“Sudah kuduga. Boleh aku pilih yang ini?”
“Tentu saja”

“Young Jae..Young Jae..” sebuah suara menggema dari luar ruangan. Tiffany menoleh dengan kening mengerut.
“Jangan dihiraukan. Itu pasti Eunri” ucapnya singkat. Tak lama seorang gadis berpenampilan rapi dan fashionable muncul dari ambang pintu.
“Demi Tuhan, aku sudah memanggilmu sampai tenggorokanku sakit. kenapa kau tidak menyahut? Aku menagih tugas yang sudah kuberikan padamu tempo hari. apa kau sudah menyelesaikan konsep busana untuk bulan ini?” cecarnya buru-buru. ia bahkan tidak menyadari adanya Tiffany di sana.
“Em, Eunri. Bisakah kau menundanya sebentar? Kita kedatangan tamu” bisik Young Jae. Eunri berhenti mengoceh dan berbalik menatap Young Jae dan seseorang yang berdiri di sampingnya. Ia mengerjap saat menyadari siapa gadis yang berdiri di sana.
“Omo, apa benar kau Tiffany Hwang?” seru gadis itu tak percaya. Tiffany sedikit membungkukkan badannya.
“Hallo. Aku Tiffany Hwang”
“Senang bertemu denganmu. Aku Choi Eunri. Editor in Chief majalah Ri-bon.”
Setelah itu mereka berbincang banyak. Eunri bahkan dengan semangat meminta Tiffany menjadi salah satu model di majalahnya untuk edisi bulan ini. Dan Tiffany menyanggupinya karena Eunri dengan senang hati memberikan gaun malam itu untuknya. Sebagai hadiah.

—o0o—

Akhirnya tiba juga hari yang di nanti itu. Tiffany tersenyum riang setelah melihat penampilannya sendiri di cermin. Henry benar, ia memang tampak sangat mempesona. Hanya tinggal mengedipkan mata saja ia yakin bisa membuat seseorang jatuh cinta. Tak sabar ia menanti saat-saat ia akan bertemu kembali dengan namja itu, Cho Kyuhyun.
“Kau yakin tidak ingin kuantar?” tanya Henry saat Tiffany melintasinya menuju pintu depan.
“Tidak perlu. Kau lanjutkan saja pekerjaanmu”
Henry memang sedang sibuk mempelajari berkas-berkas yang dibawanya dari kantor. Sepertinya ia memang sibuk mengingat waktu deadline tugasnya tinggal beberapa hari lagi.
“Kalau begitu aku berangkat. Jaga rumahku dengan benar, oke..” teriak tiffany sambil menutup pintu.
“percayakan padaku!!!”

Tiffany menunggu di depan pagar rumahnya, menunggu seseorang. Ia melirik ponselnya. Waktu pesta reuni itu sudah tiba. Ia baru akan mengeluh saat mobil ferarri miliknya berhenti tepat di depannya.
Seorang namja keluar dari mobil itu.
“Kau benar-benar membetulkan mobilku?” Tiffany takjub ketika Ryeowook menyerahkan kunci mobilnya. Ia kira ucapan namja ini akan membetulkan mobilnya hanya bercanda.
“Tentu saja. namja tidak boleh melanggar janji yang sudah dibuatnya.” Ucap Ryeowook ringan namun sepertinya berdampak serius bagi gadis itu. Namja tidak boleh melanggar janji yang sudah dibuatnya? Omo, ia hanya berharap Choi Siwon tidak akan segila itu menunggunya setiap tahun. Jika itu terjadi, ia akan merasa sangat bersalah.
“Kalau begitu, aku pergi”
Tiffany mengerjap ketika menyadari Ryeowook berjalan pergi. “Hei, tunggu, kau tidak ingin kuantar???” teriaknya. Ryeowook tidak menjawab, hanya melambaikan tangannya tanda ia menolak. Ia menghembuskan napasnya. Lalu melirik kondisi mobilnya yang sudah kembali normal seperti sedia kala. Ia agak heran, dia membenarkan mobilnya di mana? Mengapa bisa selesai cepat sekali?
Kalau dipikir-pikir, bukankah ia sendiri yang sudah menyebabkan kecelakaan itu? dan oh, ia lupa mengatakan satu kata.
Terima kasih.

—o0o—

Malam itu Ryeowook kembali menerima telepon dari Appanya. Lelaki yang ia ketahui sebagai ayahnya itu tetap memaksanya untuk kembali ke Amerika karena tidak ada lagi yang akan menjadi penerusnya kalau bukan Ryeowook, anak tunggal keluarganya.
“Sekali lagi kutegaskan, aku tidak mau menjadi penerusmu” tegas Ryeowook tajam. Mengapa ayahnya ini tidak pernah bisa memahaminya?
“Kau harus mau. memang kau pikir selama ini kau hidup nyaman dengan usahamu sendiri? bukankah bisnis Appa yang sudah membantumu tumbuh dengan baik?”
Ryeowook melengos malas. Ini yang tidak disukainya dari sosok ayahnya. Selalu mengungkit semua yang sudah di berikannya. Bukankah memang kewajiban para orang tua membiayai anaknya sampai besar. kenapa sekarang malah mengungkit-ungkitnya?
“Sudah kubilang aku tidak mau. jadi suruh semua orang-orang yang kau kirim kembali. Percuma saja” Ryeowook menutup keras flap ponsel lalu mengembalikannya ke salah seorang dari beberapa pria berjas yang sekarang sedang berdiri de depannya.
“Kembalilah ke Amerika. Jangan hiraukan aku” ucapnya acuh tak acuh.
“Baik” orang-orang itu mengangguk patuh lalu pergi. Ia membalikkan badannya dan kembali ke balik meja barista untuk kembali ke tugasnya sebagai peracik minuman.

“Hei..aku butuh satu botol vodka!!!”
Ryeowook mengangkat wajahnya. seketika ia terbelalak ketika melihat Tiffany duduk di depan meja bar dengan ekspresi kusut. Apa yang terjadi?
“Yak! Aku memesan minuman, tuan..” serunya sekali lagi, nyaris frustasi. Ryeowook mengangguk. Ia bukan mengambil vodka, tapi minuman lain yang kadar alkoholnya sedikit lebih rendah. Lalu memberikannya pada Tiffany. Gadis itu langsung menyambar botol dan menuangkannya ke dalam gelas setelah itu langsung ia teguk hingga habis.

Ryeowook memperhatikan Tiffany yang terus menerus meneguk minuman itu hingga habis setengah botol. Ia cemas sekali apalagi jika melihat ekspresi gadis itu sekarang.
“Kau kenapa, Tiffany-ssi”
Gadis itu menundukkan kepalanya, Ryeowook tidak bisa melihat dengan jelas bagaimana ekspresinya. Ia hanya bisa menyimpulkan gadis ini tengah menangis. bahunya bergetar.
“Aku..aku baru saja di campakkan..” lirihnya membuat Ryeowook terkejut.

Dicampakkan? Gadis sepertinya?

“Jangan bercanda. Kau sudah mabuk. Berhentilah minum..” Ryeowook mengambil gelas yang akan diteguk gadis itu, meletakkannya dengan keras di atas meja bar.
“Diam, biarkan aku mabuk!” ia ingin meraih kembali botol itu namun dengan sigap Ryeowook mengambilnya.
“Aku tidak mau kerepotan seperti waktu itu, nona. jadi aku tidak akan membiarkanmu mabuk kali ini..”
“Kau tidak mengerti masalahku. Berikan botol itu!!!” teriaknya. Orang-orang menoleh ke arah mereka. Tatapan heran para pengunjung itu membuat Ryeowook menyerah dan memberikan kembali botol itu pada Tiffany.
Gadis itu kembali meneguknya, kali ini langsung dari botol. Ryeowook meringis prihatin. Ia bisa memastikan hal yang dialami Tiffany pasti sangat berat.

To be continued…

42 thoughts on “Shady Girl Ryeowook’s Story (Part 2)

  1. ah eonni aku salah satu yg nungguin shady girlnya leeteuk loh eon😉
    jadi sebenernya si tiffany itu emg lupa sm janjinya ke siwon? bukannya sengaja.. ah syukurlah :’)
    alasan ryeowook gamau balik ke amerika msh bikin penasaran euy :s syemangat eonni ke part slnjutnya !

  2. ah jdi itu alasan knpa tiffany gx dteng nemuin siwon oppa..
    lupa ?? y lupa adlh alesan yg paling logis n gx bisa d’sangkal..
    d’tunggu part slanjut’a oenni..

  3. Sebenernya bacanya dari semalem cuma ketiduran
    Tapi bingung mau komen apaan ?
    Yang jelas, singkat dan padat kereeeennn seperti biasanya (y)

  4. owh trxta krna i2 alsanx knapa tifany bneran g bsa nepatin janjix pda siw0n, daebak th0r, g nyangka trxta ryew0k jg sbenerx tajir, kekeke
    nie ff bkin 0rng g nyangka klau critax bkalan kxk gne critax g bsa dtebak,

    aq ska bnget smua ff di wp ini c0z klanjutan ff lainnya slalu mnjelaskan tntang ff sbelumx jd aq bsa pham ma smua main cast xg ada dsini, jd mreka g hnya skedar jd came0, keep writing th0r, dtunggu klanjutanx, *b0w

  5. disini tiffany galau trus,udah lupa ma janjinya dan dicampakan kasihan jg.dan memangnya apa alasan ryeowook keluar ddr rmh padahal keluarganya udah kaya,anak satu2 nya lagi krng apa coba..

  6. Oo putus asa gegara tau kyu dah married ya??
    Poor tiff..

    Eunri itu nama’a hampir sama kaik pacar’a yesung ya..

    Next part..

  7. adegan terakhir itu pasti pas tiffany baru pulang dari reuni SMA nya, poor tiffany pasti patah hati banget setelah nunggu sekian lama ternyata kyuhyun nya udah nikah
    tenang kan ada wookie oppa hehe
    gak sabar nunggu moment mereka ^^

    aku salah satu orang yang menunggu shady girlnya yesung sama leeteuk *ngacung*
    aku menunggunyaaaaa dan apa henry juga bakal ada shady girlnya??
    ah pokoknya aku setia menunggu series shady girl lainnya ^^

  8. Hais, q pnasaran bengud.
    hem yg q bgung reywook tu temennya sapa y? Q lupa,saking banyaknya sandy girl. Tpi yg q inget kayaknya temen istri d0nghae kah?

  9. Huh gk nygka Tiffany yg kliatannya perfect trnyata orgnya ceroboh jg ya hehehe
    couple ini kocak jg ya tingkahnya??
    Sngguh pas mrka brdua sling mlngkapi,,Tiffany yg sllu ingin d prhatikan,, sdgkn Ryewook orgnya acuh tak acuh….
    Mgkin bru prtama kalinya kali ya,, Tiffany mrsa d tolak cwok,, jd skrg mrsa frustasi dehhh,,,

Your comment

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s