Shady Girl Ryeowook’s Story (Part 1)

Tittle : Shady Girl Ryeowook’s Story Part 1
Author : Dha Khanzaki a.k.a Shin Je Young
Genre : Romance

Main Cast :

  • Kim Ryeowook
  • Tiffany Hwang

Support Cast :

  • Henry Lau

Hai-hai.. ada yang nebak gak kalau Shady Girl selanjutnya ternyata Ryeowook’s Story ???

Setting di FF ini mulai dari Tiffany kembali ke Korea. Di seri ini juga bakal ada beberapa adegan yang muncul di Siwon’s Story. FF ini masih berkaitan meskipun gak bener-benar nyambung.

Semoga pada suka ama couple ini. Author sempet bingung nih mau pasangin Tiffany ama siapa dan berhubung Ryeowook belum punya partner, jadi author pasangin deh ^_^.

Jangan bash author yah, soalnya author suka ama Tiffany.. ^_^ buat yang gak suka disarankan untuk tidak membaca FF ini. Author bakal sedih kalau ada yang ngebash. So, hargai hasil jerih payah author yah. Makasih ^_^

Happy reading

Shady Girl Ryeowook's Story by Dha Khanzaki

====Part 1====

Aku kira, menjadi sempurna membuatku bisa mendapatkan apapun yang kuinginkan. Termasuk pria yang kucintai. Tapi ternyata dugaanku itu salah besar. aku tidak percaya ketika aku menyadari cintaku bertepuk sebelah tangan. Hanya satu kesalahan yang kuperbuat. Aku terlalu takut untuk menyatakan cintaku padanya…
—Tiffany—

Seperti yang sering orang katakan. Penyesalan selalu datang terakhir. Dan hal itulah yang kualami. Menyesal karena tidak dapat menyempurnakan kisah cinta yang kumulai, dan membiarkannya terkubur jauh di dalam hati. Hanya satu kesalahan yang kuperbuat, Aku terlalu pengecut untuk mengungkapkan perasaanku padanya..
—Ryeowook—

And the Story begin…

—-o0o—-

Seoul, Musim gugur tahun lalu..
Musim gugur selalu indah di matanya. melihat setiap ranting pohon mulai meranggas dan menyisakan dahan tanpa daun hijau. Itu membuatnya merasa nyaman. Ia siap dan untuk itulah ia kembali ke Korea setelah beberapa tahun lalu memilih tinggal di Inggris untuk menjalankan tugasnya sebagai seorang Atase.
Hanya satu alasan ia kembali. Untuk meraih cintanya.
“Cho Kyuhyun, akhirnya kita bisa bertemu lagi.” lirih Tiffany sambil melepaskan kacamata hitam yang bertengger manis di hidungnya. Ia mengerek kopernya dan berjalan keluar dengan anggun dari bandara internasional Incheon.

“Huwa..lihat sepupuku yang cantik ini!! What’s up, babe!” baru ia turun dari taksi suara cempreng sudah menyambutnya. Itu adalah suara milik Henry Lau, sepupu jauhnya yang dulu tinggal di Kanada namun entah kenapa tiga tahun lalu ia kembali ke Korea. Melupakan posisinya sebagai General Manager di perusahaan Ayahnya dan memilih tinggal di Korea seorang diri dan hanya bekerja sebagai fotografer di sebuah majalah fashion.
“Kau tidak berubah, Henry. Tetap kekanakan seperti dulu. kau harus sadar berapa usiamu sekarang.” Omelnya. Ia membiarkan Henry membawa kopernya masuk ke dalam rumah.

Rumah berlantai dua dengan arsitektur minimalis dan bercat putih. Ia tertegun sejenak mendongak menatap rumah itu sebelum menapaki beberapa anak tangga menuju teras. Sudut bibirnya membentuk senyuman. Tidak bisa dipungkiri, ia merindukan rumah ini. Rumah yang menjadi saksinya tumbuh dewasa, rumah yang di tinggalinya untuk melewati masa kanak-kanak hingga remajanya. Tidak ada apapun yang berubah. Hanya saja, mungkin suasananya lebih sepi di banding sebelum ia tinggalkan. Karena orangtuanya sudah tidak menempati rumah itu lagi. orang tuanya memilih menetap di luar negeri.
“Hei cantik, kau tidak masuk?” panggil Henry dari ambang pintu.
“Berhentilah memanggilku cantik! Kau kira aku pacarmu, orang bisa salah paham.” Akhirnya ia pergi menyusul sepupunya itu.

“Kau berniat melanjutkan karirmu sebagai artis di sini?” tanya Henry sambil menuangkan jus jeruk dari kotak kemasannya ke dalam gelas. Tiffany duduk di sofa ruang tengah untuk menghilangkan lelah dan jet lag yang sekarang dialaminya. Ia menyandarkan kepalanya pada sandaran sofa.
“Entahlah. Lagipula masa tugasku di Inggris sudah habis. Jadi mungkin, yah..aku akan melanjutkan karirku.”
“It’so good, lass. Kau tidak tahu fans-fansmu di luar sana sangat menantikan come-back mu” seru Henry sambil meletakkan dua gelas jus dan sepiring camilan di atas meja. Ia kemudian duduk di sofa lain. “Ah, atau kau mempunyai tujuan lain” selidiknya kemudian. Matanya memicing menatap gadis yang tengah memejamkan mata itu.
“Aku memang memiliki tujuan lain.” Tiffany kemudian merogoh sesuatu dari dalam coat panjangnya. Memperlihatkannya pada Henry.
“Undangan reuni SMU?” tanya Henry dengan kening berkerut. Tiffany mengangguk. Ia menormalkan duduknya, dan pandangannya menerawang ke depan. Dan ia tersenyum.
“Mungkin, di sana aku akan bertemu dengan dia.”
“’Dia’? dia siapa?”
Tiffany menoleh, menatap Henry dengan senyum mengembang. “Dia, seseorang yang sudah mengambil hatiku sejak lama.”
Henry mengerjapkan matanya, mendadak ia antusias sekali begitu mendengar Tiffany menyinggung seseorang yang sudah menyentuh hatinya itu.
“Oh, aku tahu. orang yang sudah membuatmu memilih jalur yang tidak kau sukai, iya kan? Seseorang yang membuatmu menjadi atase padahal kau tidak suka, dan seseorang yang kau sukai sejak kau SMU!”
“Kau tahu segalanya tentangku, Henry. Jadi aku tidak akan membantah. Memang dia.” Ia diam sejenak. “Dan aku akan menemuinya saat pesta reuni itu. aku sudah tidak sabar lagi. dia pasti semakin tampan.”
“Dan kau semakin cantik. Aku yakin siapapun dia pasti luluh saat melihatmu. Yang perlu kau lakukan hanyalah, mengedipkan matamu padanya dan..lihat keajaiban yang akan terjadi. Dia pasti akan jatuh pingsan karena pesonamu.” Gurau Henry yang sukses membuat Tiffany tergelak.
“Aku harap begitu”

—-o0o—-

Ryeowook bingung saat menatap dua bungkus ramyun yang berbeda di kedua tangannya. Sekarang ia sedang berbelanja di sebuah supermarket besar untuk keperluan rumahnya seminggu ke depan.
“Rasa rumput laut atau rasa kari?” gumamnya pada diri sendiri. akhirnya setelah berdebat selama beberapa menit, ia memutuskan untuk mengambil sepuluh bungkus ramyun rasa rumput laut. Kemudian ia mendorong troli berisi belanjaannya untuk mencari keperluan lain. Matanya memindai rak-rak yang berisi berbagai macam kemasan makanan dan minuman dengan tekun. Takut ada satu bagian saja yang terlewati.
“Ah, susu segar!” Ryeowook tersenyum sumringah saat ia berhasil menemukan susu segar kemasan di salah satu rak. Ia mendorong trolinya agak cepat dan saat tangannya memegang kemasan itu, sebuah tangan lain pun ikut menyentuhnya di saat yang bersamaan. Seketika kepalanya berputar cepat ke arah samping dan langsung menemukan sesosok yeoja berkacamata hitam. Yeoja itu tersenyum manis, mungkin bermaksud membuatnya luluh dan menyerahkan susu itu padanya. namun sayang, Ryeowook tidak terpengaruh sama sekali.
“Bisakah kau merelakannya untukku, tuan.” Ucapnya halus. Yah, harus di akui, suaranya terdengar begitu merdu. Tapi maaf, ia sangat membutuhkan susu ini dan berhubung ini adalah kotak susu terakhir yang ada di rak, ia tidak akan menyerah.
“Maaf, tapi aku yang melihatnya lebih dulu!” Ryeowook bukannya mengalah justru makin mengeratkan pegangannya pada kemasan susu itu.
Gadis itu terbelalak untuk beberapa saat, seolah hal ini baru pertama kali dialaminya.
“Kau tidak ingin mengalah???” tanyanya dengan nada tinggi dan ia pun tidak berniat melepaskan incarannya itu.
“Ne!” tegas Ryeowook dengan mata melotot.
“Mwo?! Di mana hati nuranimu sebagai namja? Kau tidak tersentuh sama sekali?” gadis itu balas memelototinya sambil berkacak pinggang.
Ryeowook balas berkacak pinggang “Memang kenapa aku harus melakukannya?”
Gadis itu menganga tak percaya. Seumur hidupnya, tidak pernah ada namja yang berlaku setidak sopan seperti yang dilakukan namja ini padanya.
“Kau tidak tahu siapa aku? Mengalahlah. Susu ini sangat penting untukku.”
“Memang kau siapa?!!” sewot Ryeowook sambil mengangkat angkuh wajahnya.
“Mwo?” gadis itu kembali memekik kaget. “Kau tidak tahu siapa aku? Tiffany Hwang.”

Ryeowook memperhatikan baik-baik penampilan gadis yang mengaku Tiffany Hwang itu dengan kening berkerut. Dan masalah terbesarnya adalah: ia tidak tahu siapa itu Tiffany Hwang. Modelkah? Atau dia seorang pejabat yang sedang booming saat ini? Entahlah.
“Maaf, nona. siapapun kau aku tidak peduli. Aku hanya menginginkan susu ini, dan kita selesaikan perdebatan kecil di antara kita.”
“Kau, tidak tahu siapa aku? Kau tidak tahu Tiffany Hwang?” Tiffany tetap tidak menyukai kenyataan bahwa dirinya tidak seterkenal seperti dugaannya selama ini. Lagipula orang bodoh mana yang tidak tahu? apa namja ini tidak pernah menonton televisi?
“Whatever” Ryeowook melengos pergi. namun sebelumnya secara diam-diam—tanpa sepengetahuan gadis bernama Tiffany itu—tangan lihainya berhasil merebut kotak susu itu dan memasukkannya ke dalam troli.

Tiffany mendengus sebal. Ia membuka kacamata hitamnya dengan gerakan cepat. Ekor matanya mendelik tajam pada sosok yang melenggang pergi itu.
“Baru kali ini aku menghadapi namja seperti dia” gerutunya kesal. ini adalah pengalaman pertamanya ia tidak di acuhkan oleh namja. Selama 26 tahun hidupnya, tak pernah sekalipun ia menemui namja seperti namja tadi. seluruh namja yang ditemuinya selalu bersikap sopan dan yah..ramah. seperti Henry, sepupunya. Dia selalu berkata manis serta memanggilnya ‘cantik’. Lalu Choi Siwon, sahabatnya saat di SMU. Dia tak kalah ramah dengan Henry. Terlalu ramah dan baik malah. Dan yang paling penting, dia sudah menyatakan perasaan padanya—ia selalu merasa ada yang mengganjal setiap kali ingat namja itu—dan yang terakhir, dia adalah Cho Kyuhyun…
“Kuharap tidak akan bertemu lagi dengannya.” Tiffany berdoa dalam hati. baiklah, ia harus melupakan kejadian menyebalkan ini dan lekas kembali ke rumah atau seseorang di rumahnya nanti akan mengamuk. Ia membalikkan badannya menghadap rak lalu terkesiap kaget.
“Omo, susunya—“ pekiknya tertahan. Ia mengepal tangannya erat. Sial, rupanya selama ia lengah tadi namja itu memanfaatkannya untuk mengambil kesempatan dan kabur!

—o0o—

Ryeowook tersenyum puas setelah berhasil mendapatkan semua yang ia perlukan untuk kebutuhan seminggu ke depan. Ia mendorong trolinya menuju kasir namun lagi-lagi ia menemui kesialan.
“Kau—“
Ia berpapasan kembali dengan gadis yang merasa dirinya populer tadi. tiffany mengantri di kasir lebih dulu dari dirinya. Ryeowook mengerang dalam hati. ia ingin melangkah ke kasir lain namun tidak mungkin. kasir lain memiliki antrian yang sama panjangnya dan jika ia mengantri di tempatnya sekarang, tidak akan lama lagi waktunya untuk menunggu.
“Maaf, nona. kami tidak bekerja sama dengan bank luar negeri”
Kepala Ryeowook menoleh ke arah kasir. Ia melihat Tiffany dan penjaga kasir itu tengah berdebat, entah tentang apa.
“Waeyo?” tanyanya. Bukan bermaksud ingin tahu, hanya saja jika mereka terus berdebat orang lain yang mengantri di belakangnya akan protes. Tak terkecuali dirinya sendiri.
Tiffany menoleh, “Aku tidak membawa uang cash. Dan swalayan ini tidak menerima kartu kredit bank luar negeri? Oh, god” keluhnya. Ia tidak menyadari yang sedang berbicara dengannya adalah namja yang membuatnya kesal tadi.
“Kalau begitu tunggu sebentar, aku akan menarik beberapa uang di ATM. Aku bisa pergi sebentar kan?” tanya Tiffany pada penjaga kasir itu. dia mengangguk. Setelah itu Tiffany pergi entah ke mana. Ryeowook maju untuk menggantikan posisi gadis itu.
“Silakan tuan.” Ucap penjaga kasir itu ramah. Ryeowook melirik ke arah kantong belanja Tiffany, lalu mendesah berat seraya geleng-geleng kepala. Jika berniat belanja, mengapa tidak membawa uang tunai?
Mendadak saja ponselnya berbunyi. Sementara kasir itu menghitung belanjaannya, ia sebaiknya menjawab panggilan yang masuk. ia melirik sekilas layar ponsel, begitu mengetahui siapa yang menelepon, ia berdecak jengkel.
“Ya, Appa..” ucapnya datar, memanggil seseorang yang meneleponnya di ujung sana.
“Kau berada di mana sekarang?” tanya pemilik suara berat dan tenang itu pada Ryeowook. Namja itu melengos malas. Ini pertanyaan klasik yang sering diajukan para Ayah pada putranya. ‘kau berada di mana sekarang?’, pertanyaan itu memiliki arti tersembunyi di dalamnya dan ia tidak akan terjebak dengan pertanyaan seperti itu.
“Kenapa? apa Appa mencemaskanku? Takut aku bunuh diri atau semacamnya? Atau hidupku menderita hingga kau bisa mengirimkan para utusanmu itu untuk menyeretku kembali ke rumah? Tidak, terima kasih. Di manapun aku berada, aku baik-baik saja dan Appa tidak perlu mengkhawatirkanku. Aku tidak akan bertanya kau tahu nomor ponselku dari mana. Mulai saat ini berhenti merecokiku tentang hidupku dan harus jadi apa aku” Ryeowook segera memutuskan sambungan bahkan sebelum sang ayah mengatakan kalimat bantahan. Telinganya sudah cukup panas mendengar sejak dulu orang tuanya itu selalu mengarahkannya untuk menjadi seperti mereka. Ia tidak akan mau. bagaimanapun ia ingin bahagia. Dan tidak mau mengikuti apapun yang dijalurkan Appa untuknya. Meskipun kehidupan dahulunya bergelimang harta.
Lamunannya buyar ketika ia mendengar suara kasir itu memanggilnya. Ia segera membayar sejumlah uang untuk barang belanjaannya.
“Tadi, berapa semuanya?” suara lembut terdengar di sampingnya. Rupanya gadis bernama Tiffany itu sudah kembali. Ryeowook tidak peduli lagi dengan apapun. Ia mengambil kembalian yang diberikan kasir itu lalu menarik kantong belanjanya. Namun tanpa sengaja ia menyenggol bahu gadis itu hingga uang yang belum sempat ia masukkan ke dalam dompet itu berjatuhan di lantai.
“Ah, mianhae..” Ucap Tiffany meminta maaf.
“Gwaenchana..” Ryewook memasukkan ponselnya ke dalam kantong belanjaan itu dan meletakkannya di atas meja kasir. Sementara ia memungut semua uang yang berjatuhan tadi.
“terima kasih.” Ucap kasir itu pada Tiffany. Gadis itu mengambil kantong belanja yang ada di sampingnya lalu pergi. ryeowook pun melakukan hal yang sama setelah berhasil mengumpulkan semua uangnya.

—o0o—

“Kenapa lama sekali?” tanya Henry penasaran. Tiffany bilang hanya akan pergi selama satu jam namun nyatanya yeoja itu pergi hampir selama dua jam.
Tiffany mendengus kesal sambil meletakkan kantong belanjaannya di atas meja makan. Ia malas sekali membicarakan apa yang dialaminya selama di supermarket tadi. moodnya sedang tidak baik.
“Panjang sekali ceritanya, cousin. Aku tidak yakin kau sanggup mendengarnya.” Terdengar nada jengkel saat Tiffany mengatakannya. Henry mengangguk paham.
“Sepertinya kau mengalami hal sulit di sana.”
“Tepat.” Ia bergerak menuju lemari es, mengambil satu botol air mineral lalu meneguknya. Ia membiarkan sepupunya itu membongkar semua kantong belanja yang di bawanya.
“Kau tidak pergi bekerja?” tanya Tiffany heran. Ia baru ingat, seharian ini Henry terus berada di rumahnya—dia memang menumpang tinggal di sana—dan tak ada tanda-tanda dia berniat pergi bekerja.
“Oh, jadwalku kosong.” Ucapnya santai. Tiffany menarik salah satu kursi meja makan lalu duduk.
“kosong? Kau fotografer freelance?”
“Enak saja. memang tidak ada pemotretan hari ini. Jadi untuk apa datang.”
Tiffany mengangguk saja. sekarang perhatiannya tertuju pada kalender. Entah kenapa setiap menatap tanggal 23, ia selalu merasa ada yang mengganjal. Memang ada apa dengan tanggal itu? otaknya berusaha memutar-mutar siapa tahu ada satu hal yang dilupakannya.
“Hei, cantik. Kau sudah menyiapkan gaun untuk pesta reuni nanti?” tanya Henry penasaran. Tapi perhatiannya tidak tertuju pada Tiffany karena ia sibuk mengeluarkan semua isi belanjaan Tiffany. Dan gadis itu juga sedang melamunkan sesuatu yang entahlah, mungkin penting.
“Belum” ucapnya lemah dengan pandangan menerawang kosong. Ia masih belum bisa menemukan jawaban atas kebingungannya.
“Bagaimana kalau kukenalkan dengan seseorang yang pintar sekali merancang busana? Mungkin kau bisa memesan gaun malam padanya. dan dia pasti akan sangat senang membantumu. Kau tahu, dia adalah fans beratmu.”
Tiffany tersenyum kecil. “Siapa dia? Pacarmu?”
Henry mendesis “Bukan. Dia rekan kerjaku di kantor majalah tempat ku bekerja.”
“Baiklah, kau atur saja.”
Henry tersenyum sumringah lalu mengacungkan jempolnya. “My pleasure” ucapnya. Namun sesaat kemudian ia mendesah.
“Tapi, aku bingung.” desahnya. “Sejak kapan kau menyukai makanan instan?” tanyanya bingung, menoleh pada Tiffany. Sontak kepala gadis itu berputar cepat begitu mendengar kata ‘makanan instan’. Tidak mungkin. seingatnya ia tidak membeli satupun makanan instan tadi.
“Kau bercanda..” ucapnya tidak sabar. tiffany bangkit dari tempat duduknya lalu melihat apakah Henry bercanda atau tidak. Matanya terbelalak lebar saat ia melihat seluruh barang yang berserakan di atas meja makan, setelah Henry keluarkan dari kantongnya. Ia menemukan banyak sekali bungkus ramyun, satu kemasan daging sapi, bahan-bahan masakan, beberapa kemasan kopi instan, satu kotak susu segar, sabun, pasta gigi, dan beberapa camilan. Tidak mungkin, ia tidak membeli semua ini. Otaknya berputar cepat memikirkan kemungkinan yang terjadi.
“Lagipula semua bahan masakan ini untuk memasak bulgogi. Bukankah kau bilang akan memasak salad dan cottage pie untuk malam ini?” tanya Henry bingung sambil memperhatikan satu persatu bahan masakan yang berhasil ia temukan tadi. ada apa dengan Tiffany? Kenapa dia bisa salah membeli barang begini.
Tangan gadis itu bergetar saat menyadari ia sudah salah mengambil belanjaannya sendiri. tapi bagaimana bisa?
“dan aku juga menemukan ponsel ini. Ini milikmu?”
Tiffany menoleh pada Henry dan namja itu menyerahkan ponsel asing padanya. milik siapa ini?
“Ah!!!” ia mengerjap begitu teringat pada namja menyebalkan yang tadi bersama-sama dengannya saat membayar di kasir. Ini pasti milik namja itu.

—o0o—

Ryeowook baru saja masuk ke dalam apartement sederhana miliknya dan meletakkan kantong belanjaan yang di bawanya di atas meja makan. ia lapar sekali dan berniat segera mulai memasak. Tapi keningnya berkerut ketika ia melihat isi kantong belanjaan yang di bawanya.
“Apa ini??” serunya kaget. Saat ia menemukan satu kemasan pembalut wanita di dalamnya. Tak butuh waktu lama untuk membuatnya sadar ia salah mengambil kantong berisi belanjaannya karena isinya benar-benar berbeda dengan yang ia ambil di supermarket tadi. ia mengeluarkan semua isinya dan menemukan berbagai macam sayuran segar seperti selada, tomat, asparagus, bawang bombay, kacang polong, dan brokoli. Lalu ada juga pasta dan daging cincang kemasan, serta bahan lainnya. Ia juga menemukan roti gandum dan madu. Ini jelas bukan belanjaannya.
“Ha, lalu bagaimana dengan bulgogiku???” teriaknya saat menyadari tak ada satupun barang miliknya di dalam sini. Dan terakhir, ia menemukan sebuah dompet berwarna pink. Ia segera melihat isi dompet itu.
“Ini kan gadis tadi” lirihnya saat melihat ada foto gadis itu terselip di dalam dompetnya. Ia harus segera menghubungi gadis ini dan meminta kembali belanjaannya. Ia melihat nomor ponselnya tertera di kartu nama yang terselip di dompet itu. namun saat ia merogoh saku mantel, ia tidak menemukan ponselnya di sana.
“di mana ponselku?” ia mendadak panik begitu tak menemukan ponselnya di manapun.
“Ah, sial! Bukankah kumasukkan ke dalam kantong belanjaku.” Erangnya sambil memukul kepalanya sendiri. menyesali diri mengapa hari ini ia bisa begitu ceroboh. Ia bergegas mengambil ponselnya yang lain di kamar. Memencet nomornya sendiri berharap gadis itu akan menjawabnya—jika memang ponselnya ada padanya.
“Siapa nama gadis itu? ah, Tiffany” ia menunggu sambungan terhubung sambil terus bergerak bolak balik.
“Hallo—“ ia mengerjap senang ketika mendengar suara perempuan di ujung sana. “Apa kau pemilik ponsel ini.”
“Iya. Benar.” Ryeowook menjawabnya dengan antusias. “Jadi, ponselku ada padamu. Ah, leganya. Bisakah kau mengembalikannya padaku? Aku akan dengan senang hati jika kau—“
“Maaf, tapi kenapa aku harus melakukannya?” gadis di ujung sana memotong bahkan di saat ucapannya belum selesai. Ryeowook mengerjapkan matanya. suaranya memang terdengar halus tapi nada bicaranya tajam sekali.
“Aku tidak mengerti mengapa kantong belanja kita bisa tertukar. Gara-gara itu aku jadi tidak bisa memasak salad dan bagaimana dengan sarapanku nanti pagi.” Gadis itu mulai mengoceh lagi. baiklah, ini mulai menyebalkan. lagipula siapa yang salah di sini.
“Bukankah kau yang pergi lebih dulu. tentu saja kau yang membuat belanjaan kita tertukar. Jadi semua ini salahmu dan kau harus mengembalikan ponsel ku. Kau harus datang ke Empire Night klub malam ini. Kau akan menemukanku di sana.”
“Shireo.” sahutnya tegas dan cepat. Ryeowook kembali di buat kaget. Ada apa dengan gadis ini? Apa dia menyimpan dendam gara-gara rebutan kotak susu di supermarket tadi?
“Aku sangat sibuk. Jadi..”
“Oh, jadi kau juga tidak ingin mengambil dompetmu rupanya..” kali ini Ryeowook lebih dulu memotong.
“Mwo??”
Sudut bibir namja itu tertarik membentuk seringaian tanda kemenangan. Huh, gadis ni pikir bisa menekanku? Jangan harap. Batin Ryeowook.
“Iya.” Ryeowook mengeluarkan dompet dari dalam saku celananya. “Tiffany Hwang, usia 26 tahun. Seorang atase di kedutaan Korea untuk Inggris. Wah, tak kusangka kau memang bukan orang biasa.” Desisnya.
“Ya!! Kau membaca kartu pengenalku!!!!” serobot Tiffany di ujung sana.
“Karena itu kau tidak mempunyai pilihan. Kembalikan ponselku dan kau akan mendapatkan dompetmu kembali. Bagaimana?” Ryeowook mengajukan penawaran. Sebenarnya bukan penawaran, melainkan perintah. Gadis itu masih terdiam.
“Jika kau tidak mau, tidak masalah untukku. Ambil saja ponsel itu. sebagai gantinya kau harus merelakan dompetmu. Wah, di sini banyak sekali kartu kredit. Aku bisa menggunakannya.” Canda Ryeowook. Ia tidak serus saat mengucapkannya. Namun kemudian ia mendengar helaan dari ujung sana. Sepertinya gadis itu menyerah. Ia tersenyum menang.
“Huh, kau benar-benar menyebalkan. baiklah, katakan aku harus menemuimu di mana?”

—o0o—

@Empire’s Night Club

“Ini ponselmu” Tiffany meletakkan ponsel di atas meja bar. Ia membenarkan posisi kacamata hitam mantel yang dipakainya takut ada seseorang yang mengenali. Ryeowook yang berdiri di balik meja bar tersenyum lalu mengambil ponsel itu.
“Aku senang ternyata kau benar-benar datang.” Ia lalu menyodorkan dompet pink pada gadis bernama Tiffany itu.
Tiffany merebutnya dengan cepat. Ia segera mengecek isi dompetnya. Jika sampai berkurang satu won saja, ia akan menuntut namja ini.
“Tenang saja, isinya tidak kusentuh sedikitpun. Kecuali foto dan kartu pengenalmu”
Kepala Tiffany terangkat menatap Ryeowook. “Oh, syukurlah.” Ucapnya dengan senyum manis. Jika dilihat dari ekspresinya, sepertinya namja ini bukan tukang bohong.

“jadi, sebenarnya kau atase.” Ucap Ryeowook sambil meletakkan segelas jus jeruk di hadapan Tiffany. Setelah mengobrol beberapa saat, akhirnya mereka memutuskan untuk menyudahi perang di antara mereka. Tiffany juga tidak terlalu mempermasalahkannya lagi.
“Ya.” Jawabnya. Ia lalu melirik gelas jus yang tadi di sodorkan Ryeowook. “Kenapa kau memberiku jus? Usiaku sudah 26 tahun. Berilah minuman yang lebih berkelas.”
Ryeowook tersenyum sambil menggeleng. “Tidak, seorang gadis tidak baik menenggak alkohol. Apalagi di saat malam larut seperti ini.”
Tiffany mendengus. “Kau terdengar seperti Henry” dan pada akhirnya ia tetap meneguk jus jeruk itu juga.
“Aku masih penasaran, Tiffany-ssi. Kenapa kau sangat marah saat aku tidak mengenalimu? Memang kau siapa?” Ryeowook bertanya sambil meracik minuman di balik meja bar. Tiffany mengangkat kepalanya dengan ekspresi tercengang.
“Jadi, kau benar-benar tidak tahu?”
Ryeowook menggeleng.
“Ya, aku ini aktris dan model terkenal. Mustahil kau tidak tahu.” jelas Tiffany sewot. Mendengarnya justru membuat namja di hadapannya itu terbelalak kaget.
“jadi, kau artis?????” ucapnya histeris. “Aku tidak tahu. aktris yang kutahu hanya Han Ga In dan Kim Tae Hee saja.” tambahnya. Tiffany mendesis. Ternyata namja ini memang tidak mengenalnya. Mengapa hal ini membuatnya jengkel? Harusnya ia paham, tidak semua warga negara Korea menjadi fansnya. Tapi tetap saja..
“Ah, sudahlah! Kau benar-benar membuatku jengkel. Sekarang beri aku minuman, bukan jus jeruk!!” perintahnya.

To be continued…

69 thoughts on “Shady Girl Ryeowook’s Story (Part 1)

  1. Wkwkwkwkwk tiffany marahh karena nggk di kenal😀😀
    maafnya thor, bukannya bermaksud ng’bashing cumaa tiffany ma wookie menurutku kurang cocok, secara wookie imut pake banget😀
    tapii baguss kok, feelnya dpat
    izin baca next part 2

  2. Haha kasian tifany,aduh qm tinggal dmana abang pe gak tau tifany.keke
    eh dnger reywook ngm0ng ma bapanya kayaknya dy orang kaya.

  3. jadi ini suka2an muter2 gitu ya.. sunhee –> siwon –> tiffany –> kyuhyun hyunjung || ryeowook –> mira eunhyuk hyeoyon (maksudnya eunhyuk pernah suka gitu sama hyo.. :3)
    agak bingung di bagian umur saya, tapi biar deh.. males cross check di shady girl seri sebelum2nya.. :3

  4. ak udh pernah komen apa blum ya??..
    Komen lg aja lah..

    Gk pernah bosen bc ff ini..
    Ngakak bcnya..
    Ckckck awas jatuh cinta..😀
    *tawa nista
    hahaha

  5. Aku uda sering baca ff ini tp msh komen skrng sorry ya unnie hehehe cerita nya bagus kok ini couple favorit ku RyeoFany Jjang

  6. Wow…..fany seorang atase.
    Jadi kyuhyun itu cinta pertama fany kah
    Aigoo….baru ketemu aja udah berantem mulut.ckckck….ryeowook dan fany.
    Masa ryeowook gak kenal fany,ya pantas fany kesal dan marah2.

Your comment

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s