Shady Girl Taemin’s Story (Part 6 – End)

Tittle : Shady Girl Taemin’s Story Part 6 End
Author : Dha Khanzaki a.k.a Shin Je Young
Genre : Romance

Main Cast :

  • Choi Sulli
  • Lee Taemin

Support Cast :

  • Park Jiyeon
  • Choi Minho
  • Lee Hyukjae/Eunhyuk
  • Choi Siwon

jreng jreng…tiba di part ending… hope you like this ^_^

Shady Girl Taemin by Dha Khanzaki

===Part 6===

*Sulli POV*

Bunga sakura sudah bermekaran indah. tapi apa gunanya semua itu jika sesuatu yang paling membuatku gembira kini tengah tertidur pulas di hadapanku. Entah kapan matanya itu terbuka kembali. Aku hanya berharap saat itu adalah sekarang..

—o0o—

*Author POV*

Hari berikutnya, Sulli masih tetap menjenguk Taemin yang tidak mengalami perubahan sedikitpun. Ia menatap alat pendeteksi detak jantung yang tetap menunjukkan garis tak beraturan. Taemin masih hidup. Setidaknya itu yang bisa ia pastikan. Sulli terus menggenggam tangan Taemin hingga ia merasa pelupuk matanya kembali berat. Satu tetes air mata pun jatuh ke punggung tangan namja itu. ia tidak boleh menangis di hadapan Taemin. Karena itu ia segera menghapus airmata itu. Sulli tersentak dari tempatnya duduk saat mendengar pintu ruang rawat Taemin menderit terbuka. Kepalanya menoleh dan langsung berhadapan dengan sosok Jiyeon yang melangkah masuk ke dalam. Gadis itu pun tampak terkejut, sama sepertinya.
“Maaf, sepertinya aku mengganggu.” Ucap Jiyeon. Ia hendak pergi namun Sulli mencegahnya. Ia berdiri.
“Tidak apa-apa. aku..sudah selesai menjenguknya.” Sulli dengan langkah pelan pergi meninggalkan tempatnya di sisi ranjang Taemin.
“Tunggu” Jiyeon menahan tangannya saat Sulli berjalan melaluinya. Sulli menoleh, memperlihatkan wajah pucat dan mata yang sembab. Jiyeon merasa iba, namun ia harus menjelaskan sesuatu pada gadis ini. Ia menatap Sulli serius.
“Ada sesuatu yang ingin kukatakan padamu.” Ucapnya dengan suara pelan namun terkesan serius. “Bisa kita berbicara di tempat lain?”

—-o0o—

Dua gadis itu duduk berdampingan di salah satu kursi yang ada di lorong sepi rumah sakit. Jiyeon menghela napas sebelum memulai ceritanya sementara Sulli hanya menunduk menatapi kakinya yang terbalut sandal rumah sakit dengan pandangan kosong. Pikirannya sekarang hanya tertuju pada Taemin.
Jiyeon menoleh pada Sulli. “Dia sudah mengakuinya.” Ucapnya membuat Sulli menoleh, ia tidak paham dengan apa yang baru saja Jiyeon katakan.
“Apa maksudmu?” tanyanya dengan kening berkerut.
“Taemin. Dia sudah mengakui perasaannya sendiri.”
Mata Sulli terbelalak lebar mendengarnya. Apa maksud ucapan Jiyeon? Taemin mengakui perasaan pada siapa? ia merasa tubuhnya yang lemah bergetar. Jangan katakan Taemin mengakui isi hatinya pada Jiyeon.
“Dia, mengatakannya padamu?” kini Sulli tidak bisa menyembunyikan nada sedih dari suaranya. Ia semakin terpukul saat melihat Jiyeon tersenyum bahagia.
“Tentu saja. dia mengatakan padaku malam itu. Taemin mengatakan bahwa ia juga menyukaimu.”
Apa? Sulli tersentak kembali dan kini ia menatap Jiyeon dengan perasaan campur aduk. Jika telinganya tidak salah dengar, tadi Jiyeon mengatakan bahwa Taemin menyukainya? Menyukainya..
Seolah menyadari reaksi Sulli, Jiyeon mengangguk lalu tersenyum.
“Taemin menyukaimu, Choi Sulli. Dia sudah mengakuinya malam itu sebelum ia pergi mencarimu.”

#Flash back#

Taemin berdiri mematung di dekat kolam yang ada di sebelah barat aula itu. tangannya terangkat mengelus pipinya yang memar akibat pukulan Minho tadi. bukan sakit karena di pukul yang ia rasakan. Tapi sakit yang jauh lebih perih. Tangannya kini turun meremas baju bagian dada. Iya, ia merasakan sakit di daerah itu. tepatnya di hatinya. Taemin sedikit meringis saat merasakan hatinya begitu sakit.
Bergema dengan jelas di telinganya suara tangisan Sulli. Dia yang sudah membuat gadis itu menangis. lagi-lagi Sulli dibuat menangis oleh ulahnya. Namun kali ini entah mengapa ia merasa sangat bersalah. Apa yang sebenarnya sedang terjadi? Ia tidak mengerti.
“Kau baik-baik saja?” Jiyeon menghampiri Taemin dan berdiri di sampingnya. Taemin masih menatap kosong kolam yang meriak di hadapannya.
Taemin terdiam. “Baiklah, sepertinya aku harus mengakuinya..” lirihnya pelan, seperti bicara pada diri sendiri. sesaat kemudian kepalanya tertoleh pada gadis di sampingnya.
“Aku..sepertinya jatuh cinta pada Sulli.”
Jiyeon melebarkan matanya. ia jelas terkejut. Tak percaya juga, akhirnya pria lambat dan kekanakan ini mau mengakuinya juga.
“Bagaimana kau bisa menyadarinya?”
Taemin memegang dadanya kembali. “Di sini, di sini rasanya sakit sekali.” Ia diam sejenak, mengambil napas untuk menghilangkan rasa sesak yang mencekat tenggorokannya.
“Rasanya lebih sakit dari saat aku patah hati karena Sun Hee Nuna. Mungkin aku memang payah karena baru menyadarinya sekarang. Tapi Hyung pernah mengatakan padaku, jika seandainya hatiku ini sakit saat melihat orang terdekat menderita ataupun terluka karenaku, maka itu artinya, orang itu sangat berarti bagiku. Dan aku mencintainya. Hyung bilang, hatiku akan terasa kosong saat orang yang kucintai menjauh…” Tangan namja itu jatuh terkulai begitu saja di sisi tubuhnya. “Gawat, bagaimana mungkin aku mencintai Choi Sulli. Dia sahabatku.”
“Mungkin saja.” Jiyeon menyela. Taemin kembali menoleh ke arahnya.
“Tidak ada peraturan di dunia ini yang melarang dua sahabat saling jatuh cinta. Yang kau alami ini manusiawi, Taemin.” Jiyeon menggenggam tangan Taemin, mencoba memberikan namja itu keyakinan.
“Kau memang mencintainya. Perasaan itu muncul tanpa kau sadari karena kau merasa terbiasa dengan kehadirannya. Cinta itu bisa muncul karena seringnya kalian bersama. Dan cinta semacam itu, butuh waktu untuk disadari keberadaannya. Saat orang yang dekat denganmu itu menjauh darimu, kau akan merasa kehilangan sesuatu yang penting dan hidupmu terasa hampa. Tidak salah lagi, itu cinta.”
Taemin mengerjap-ngerjapkan mata mendengar aliran kata yang lancar dan membuatnya semakin tersadar itu. oh Tuhan, bagaimana mungkin ia mengabaikan perasaan yang sebenarnya sudah ada sejak dulu? Mendadak saja ia terkesiap.
“Aku harus mencari Sulli” Taemin pergi begitu saja tanpa pikir panjang lagi. Jiyeon tersenyum simpul melihat punggung Taemin menjauh.

#flash back end#

Sulli tidak bisa menahan airmata haru yang terbendung sempurna di pelupuk matanya. Ia menangis. Perasaan senang dan terharu bersatu padu di dalam hatinya. Ia sungguh bersyukur mendengar kenyataan bahwa Taemin menyukainya. ini berarti perjuangannya tidak sia-sia. Dan sekarang yang terjadi adalah dia semakin merindukan Taemin.
“Maaf, aku baru mengatakannya sekarang.” Ujar Jiyeon menyesal.
“Terima kasih sudah mau memberitahuku. Setidaknya, sekarang aku sedikit lebih lega.” Sulli menghapus airmata yang mengalir di pipinya.
“Sulli, sedang apa di sini?” Siwon kaget melihat Sulli yang seharusnya berbaring di tempat tidur itu berkeliaran di lorong. Namun saat pandangannya tertuju pada gadis di sampingnya, ia mengerjap.
“Loh, bukankah kau itu..”
Jiyeon mengerjap bangun, membungkukkan badan pada Siwon dengan sopan. “Aku Park Jiyeon.” Sikapnya mendadak canggung dan ia seperti panik.
“Choi Sulli, aku..” Jiyeon baru akan pamit pergi saat ia mendengar suara teriakan seseorang.

“Choi Sulli, Choi Sulli!!” Minho berlari dari ujung koridor sampai ke hadapan mereka sambil sesekali berteriak. Wajahnya terlihat panik dan senang.
“Ada apa?” tanya Sulli bingung.
“Itu, Taemin. Dia sudah siuman!!” seru Minho.
“Apa?” seru Sulli, Jiyeon dan Siwon bersamaan.

—o0o—

“Umma, uljima..” lirih Taemin. Sudah hampir lima menit Umma terus memeluknya sambil menangis sejak ia siuman beberapa menit lalu. Tapi ia tidak keberatan Umma memeluknya seperti ini. Membuatnya tenang dan hangat.
“Umma sangat bersyukur kau bisa siuman, Taemin. Kau ini..kau tidak merasakan ketakutan Umma selama kau tidak sadarkan diri?”
“Mianhae. Aku sudah sering membuat Umma sedih.” Suara Taemin masih sangat lemah.
“Sering sekali.” Potong Eunhyuk dengan nada tinggi. Taemin menoleh ke arah Eunhyuk dan Mira yang berdiri di sampingnya. Meskipun ekspresinya sekarang terlihat marah, namun nampak jelas ada kelegaan terselip di raut wajahnya.
“Jika dihitung dengan jari, jumlahnya sudah lebih dari dua puluh.”
“Oppa.” Sela Mira. ia harus menahan suaminya untuk tidak mengeluarkan semua unek-uneknya sekarang. Jika memang ingin memarahi Taemin, bisa dilakukan saat Taemin sudah sembuh nanti.

Pintu dibuka cepat dan tampak beberapa orang masuk ke sana dengan berbagai macam ekspresi. Taemin mendongakkan kepalanya ke arah pintu, dan saat itulah ia melihat sosok sahabatnya berjalan perlahan ke arahnya.
Melihat ekspresi Sulli saat ini, Eunhyuk mengerti. Ia meminta Umma dan yang lainnya keluar sejenak membiarkan Sulli dan Taemin berbicara berdua. setelah di ruangan itu hanya mereka berdua, Taemin memokuskan seluruh perhatiannya pada Sulli. Yeoja itu mendekatinya dengan mulut bergetar menahan tangis dan mata berkaca-kaca.
Yang pertama kali di lakukan Taemin adalah tersenyum hangat, lalu menyapa.
“Hai, Choi Sulli. Lama tak bertemu.”
Sulli duduk di tepi tempat tidur. ia mulai terisak dengan pandangan tertuju pada Taemin.
“Ya, kenapa menangis!” seru Taemin panik. Ia ingin berteriak namun yang keluar hanyalah suara kecil dan serak.
“Lee Taemin pabo! Kekanakan! Lambat! Tidak peka! Sok jagoan! Kenapa baru sadar sekarang!!!” Sulli menangis dan tangannya memukul ringan dada Taemin. Melihat namja itu sadar dan tersenyum padanya, ia sangat bersyukur dan lega. Dan entah kenapa, airmatanya tidak bisa ia bendung lagi.
“Hoi, hoi, kau ini tega sekali pada pasien yang lemah dan tak berdaya sepertiku! Berhenti Choi Sulli” pinta Taemin. Sulli tetap memukul meskipun pelan dan tak menimbulkan dampak apapun bagi Taemin.
“Biar saja, aku ingin kau menyesal karena sudah membuatku dan yang lain mencemaskanmu selama dua minggu!”
Taemin tersenyum, ia menggenggam tangan Sulli yang terangkat lalu menarik tubuh gadis itu kepelukannya. Sulli sempat mengerjap, dan itu membuat tangisannya berhenti sejenak. jantungnya berdebar kencang karena saat ini tangan Taemin melingkari tubuhnya, memberikan kehangatan yang membuatnya merasa nyaman.
“Aku tahu. Maafkan aku karena sudah membuatmu—dan yang lain—cemas. Dan seperti katamu, aku ini memang bodoh, kekanakan, lambat, tidak peka, dan sok jagoan. Karena itu kau jangan menangisi namja sepertiku.” Taemin mengusap rambut Sulli dengan lembut hingga yang tersisa hanya isak tangis kecil saja. gadis itu sudah berhenti menangis sepenuhnya. Sementara Sulli hanya diam, ia tidak membalas memeluk Taemin. Ia ingin menikmati saat-saat seperti ini. Saat dimana Taemin memeluknya dengan lembut dan penuh perasaan, untuk pertama kali.
“Lihat, airmata ini terlalu berharga untuk di hamburkan. Aku tidak pantas ditangisi” tangan Taemin terulur menghapus sisa airmata yang ada di pipi gadis itu dan tangan yang lain masih setia memeluknya.
“Kau memang tidak pantas di tangisi. Bodohnya aku.” Lirih Sulli. Namun terbentuk senyum kecil di sudut bibirnya. Taemin tertawa pelan.
“Apa selama aku tidak sadar, kau tidak pernah makan? Kenapa rasanya kau bertambah kurus ya?” tanya Taemin heran. Ia merasa Sulli dalam pelukannya terlalu kurus. Gadis itu melepaskan diri dari dekapan Taemin.
“Siapa yang bisa makan enak saat sahabatnya terbaring koma dan itu karena ulahku!” ucap Sulli. Ia menatap Taemin dengan mata berkaca-kaca. “Maka dari itu, maaf dan terimakasih, Lee Taemin.” Ucapnya sungguh-sungguh. Taemin menerjap.
“Untuk?”
“Maaf karena sudah membuatmu dikeroyok malam itu.” ia terdiam sejenak, “Dan terima kasih karena sudah siuman. Aku..sungguh bersyukur kau baik-baik saja”

Taemin tersentuh mendengar penuturan Sulli yang terdengar tulus itu. “Hei, jangan meremehkan Lee Taemin. Di keroyok beberapa orang tidak berdampak apapun bagiku. Lihat, aku kuat.” Ucapnya sambil memamerkan otot tangannya. Sulli tertawa kecil di sela isakannya.

Di luar ruang rawat..

Jiyeon dan Minho mengintip ke dalam melalui celah pintu. Mereka mendesah lega secara bersamaan. Akhirnya kedua sahabat itu kembali akur juga. Minho menoleh pada gadis yang berada di sampingnya.
“Hei, bukankah kau gadis yang dipesta waktu itu.” ucap Minho saat ia menyadarinya. Jiyeon menoleh.
“Oh, hai. Aku Park Jiyeon.” Jiyeon mengulurkan tangannya. Meskipun dulu sempat berkenalan, tapi bukankah tidak ada salahnya berkenalan kembali?
“Choi Minho.” Minho menjabat tangan Jiyeon. Ia tersenyum. “Cara bicaramu tak seperti orang Korea. Apa kau tinggal di luar negeri?” tanyanya penasaran karena mendengar logat Jiyeon berbeda dengan orang Korea kebanyakan.
“Aku tinggal di Inggris.”
Minho mengerjap. “Oh, Inggris? Aku juga tinggal di sana. Kau tinggal di kota mana? London, Cambridge, atau Greenwich?”
Jiyeon menggeleng. “Aku tinggal di kota Manchester”
“Whuaa..aku juga tinggal di kota itu.” seru Minho. Ia tidak menyangka bisa bertemu dengan orang yang tinggal sekota dengannya di Inggris sana.
“Jinjja yo?”

Setelah itu mereka pergi dari depan ruangan itu sambil mengobrol seru tentang pengalaman mereka di Inggris. Membiarkan Taemin dan Sulli di dalam sana. Sementara di dalam sana..
“Jadi, kita baikan?” tanya Taemin sambil mengangkat jari kelingkingnya. Sulli mengangguk.
“Kita baikan.” Sulli lalu mengaitkan jari kelingkingnya dengan jari kelingking Taemin. Mereka tersenyum bersama setelahnya.
“Ada yang ingin kutanyakan.” Ucap Taemin tiba-tiba. Sulli menghentikan tawanya.
“Apa?”
Kali ini Taemin gugup, ia mengusap tengkuknya. “Kau..apa kau menyukaiku?” tanyanya kikuk. Taemin langsung memalingkan wajahnya ke arah lain karena ia merasakan pipinya sendiri memanas. Sulli mengerjap kaget. Jantungnya serasa jatuh dari tempatnya begitu mendengar pertanyaan Taemin.
“I-itu..”
“Nuna pernah mengatakan padaku, alasan kau marah waktu itu, marah saat aku membicarakan Jiyeon dan membandingkanmu dengannya, ada kemungkinan itu karena kau cemburu. Dan kau cemburu karena kau menyukaiku. Benar begitu?” sela Taemin dengan wajah menyelidik.
Sulli menelan ludahnya dengan susah payah. Mendadak keringat dinginnya bercucuran. Ini sama saja dengan saat ia di tanyai oleh tim penguji saat akan masuk universitas dulu. ia sangat gugup dan takut.
“Choi Sulli, kenapa tidak menjawab? Aku sangat penasaran.” Taemin kembali mengeluarkan sifat polosnya yang entah ia dapat dari mana. Ia tidak menyadari bahwa pertanyaan sederhana itu berpengaruh besar pagi psikologis seorang gadis.
Sulli menundukkan kepalanya sebelum menjawab. “Aku memang menyukaimu. Itu jawabanku. Kau puas.” ucap Sulli cepat. Ia langsung menatap Taemin ingin tahu jawabannya. Ia sangka Taemin akan kaget dan histeris. Namun ternyata namja itu hanya melongo sesaat, lalu mengangguk dengan tatapan kosong.
“Oh..begitu rupanya..hmmm..” gumamnya seperti berbicara pada dirinya sendiri. Sulli mendadak jengkel. Hanya itu saja reaksinya? Dia tidak takjub, gugup atau salah tingkah? Ternyata Lee Taemin memang tak lebih dari seorang anak-anak dalam tubuh orang dewasa!
Sebelum Sulli membuka mulut untuk meneriaki Taemin, namja itu menarik tubuhnya mendekat lalu mengecup singkat pipinya. Sulli mengerjap kaget. Tangannya refleks memegang pipi yang mendapat sambutan hangat itu. ia tercengang menatap Taemin yang sekarang sedang tersenyum menatapnya.
“Tidak masalah, karena aku juga menyukaimu, Choi Sulli. Bukan sebagai seorang sahabat, tapi sebagai seorang yeoja. Yeoja yang cantik dan manis.” Ucapnya. Tiba-tiba saja rasa haru menyeruak keluar dari lubuk hatinya. Ia bahagia sekali. Ia tak tahu kata apa yang tepat untuk menggambarkan perasaannya sekarang. Yang pasti ia sangat bahagia.
“Na-do..” jawab Sulli terbata. Ia menghaluskan tatapannya pada Taemin. “Kenapa baru tersadar sekarang? Kenapa aku harus menunggu lama untuk membuatmu tersadar?” lirihnya dengan nada penuh haru.
Taemin mengendikkan bahu. “Seperti yang kau bilang. Aku namja yang lambat dan tidak peka.”
Sulli tertawa pelan, ia mendekatkan dirinya lalu memeluk tubuh Taemin yang masih lemah itu. “Terima kasih sudah membalas perasaanku, Lee Taemin. Aku menyukaimu, sangat menyukaimu.”
Taemin mengangkat tangannya untuk membalas pelukan Sulli. “Jadi, siapa itu Minho?” tanyanya tiba-tiba. Sulli membulatkan matanya, dengan cepat ia melepaskan pelukannya.
“Dia sepupuku. Apa aku belum bilang kalau marganya itu Choi? Ayahnya adalah kakak dari ayahku. Dia sudah lama tinggal di Inggris bersama orangtuanya. Maka dari itu kau tidak pernah melihatnya.”
Kepala Taemin mengangguk. “Ah, leganya.”
“Lalu, siapa itu Jiyeon? Aku ingin tahu siapa dia sebenarnya.” Taemin mengerjap. Ia baru teringat soal maksud sebenarnya kedatangan Jiyeon ke Korea. Apakah ia harus mengatakannya sekarang? Tidak, ini bukan saat yang tepat.
“Dia hanya teman yang datang dari jauh. Sudahlah, tidak ada yang istimewa dari Jiyeon.”
Sulli bersedekap. “Tapi sepertinya kau menyukainya.”
Taemin terkekeh. “Siapa yang tidak? Dia cantik, anggun, dan feminim. Benar-benar tipeku. Dia sempurna sebagai yeoja.” Ucapnya enteng. Sulli mendengus sebal. Anak ini benar-benar tidak bisa membaca situasi.
“Lee Taemin,, kukira kau menyukaiku!” tegas Sulli jengkel.
“Tentu saja. Jiyeon gadis yang terlalu sempurna untukku. Maka dari itu tidak cocok. Dia pantas mendapatkan pria yang lebih baik dariku. Dan kuharap dia menemukannya suatu saat nanti.” Taemin terdiam sejenak, ia menatap Sulli sungguh-sungguh. “Karena itu aku lebih memilih yeoja yang manja, cengeng, tidak feminim, suka berteriak, dan dia adalah sahabatku. Yaitu kau, Choi Sulli”
Sulli merasakan pipinya memanas. Sejak kapan Taemin pintar merayu seperti itu? apa dia mendapatkan pelajaran khusus dari kakaknya? Atau memang keahlian merayu wanita itu adalah kemampuan seluruh anggota keluarga Lee?
“Ja-jadi kita resmi berpacaran?” tanya Sulli. Taemin menggeleng, membuat yeoja itu merengut kecewa.
“Aku tidak akan berpacaran dengan sahabatku. Tapi suatu saat nanti aku akan menikah dengannya.”
“O-omo..” Sulli speechless mendengarnya. Menikah? Taemin mengajaknya menikah? Apa ini salah satu bentuk lamaran?
“Jadi untuk saat ini kita tetap bersahabat, oke. Itu jauh lebih membuatku nyaman.” Ucapnya. Sulli terdiam menatapi wajah serius Taemin. Ia mendesah pelan, tersenyum, kemudian mengangguk.
“Aku siap melaksanakannya.” Sulli mendadak saja merasa tubuhnya menegang ketika ia melihat Taemin mulai mendekatkan wajahnya.
“K-kau mau apa?” tanyanya gugup. Taemin tidak menjawab, ia memegang bahu Sulli dengan lembut.
“Hyung pernah mengajariku salah satu cara untuk mengungkapkan perasaan pada orang yang di cintai.” Ucapnya sambil menghapus jarak di antara mereka. Sulli diam membeku. Jantungnya berdebar tak sabar menantikan apa yang kira-kira akan terjadi.
“Apa?” tanyanya dengan suara pelan.
Taemin tersenyum. “Give a kiss..” bisiknya. Sulli sempat terkejut, namun ia tak memungkiri ia pun ingin merasakan bagaimana sensasinya. Saat jarak mereka tinggal beberapa senti lagi, Sulli menutup matanya. dan tak lama kemudian, ia merasakan material lembut menyentuh bibirnya. jantungnya berdebar kencang saat ia menyadari Taemin sekarang tengah menciumnya.

Eunhyuk dan Mira baru akan membuka pintu kamar rawat Taemin ketika secara mengejutkan mereka melihat adiknya dan Sulli sedang berciuman mesra dari kaca pintu.
“Omo, anak itu..” Eunhyuk tidak sabar ingin membuka pintu namun di tahan oleh Mira.
“Sudahlah, Oppa, biarkan saja mereka.” Ujar Mira. sekarang ia tersenyum sumringah melihat situasi bahagia di dalam sana.
“Tapi jika dibiarkan, bisa-bisa Taemin, Sulli..”
“Mereka tidak akan melakukan apapun!!” tegas Mira sambil melotot. “Jadi biarkan mereka meluapkan perasaan masing-masing dan Oppa hanya memperhatikan mereka dari sini, oke.”
Eunhyuk mendengus. Ia merasa risih sendiri melihat adegan itu padahal ia sendiri sudah sering sekali melakukannya. Akhirnya ia tahu bagaimana perasaan Taemin ketika memergokinya sedang bercumbu mesra dengan istrinya.

—o0o—

Beberapa hari kemudian, dokter mengizinkan Taemin keluar dari rumah sakit. meskipun ia masih merasa kesulitan saat berjalan, namun Sulli dengan senang hati membantunya saat berjalan. Umma tersenyum memperhatikan kedua anak itu dari belakang. Sulli gadis yang pantas untuk Taemin. Mereka bisa melengkapi satu sama lain. Bukankah itu yang membuat mereka tetap bersama hingga detik ini?
“Kau benar ingin menyetir sendiri?” tanya Eunhyuk tidak yakin saat Taemin bersikukuh ingin membawa mobil kesayangannya sendiri.
“Tenang saja, Oppa. Aku yang akan menyetir menggantikan Taemin.” Potong Sulli. Eunhyuk mengangguk.
“Baiklah, kalau Sulli aku percaya.”

Sulli menggantikan Taemin menyetir. Sementara Taemin duduk manis di kursi sebelahnya. Memperhatikan jalanan kota Seoul yang tidak berubah juga. padahal ia merasa begitu lama tidak melihatnya.
“Oh, kau ingin tahu soal Jiyeon?” tanya Taemin sambil menoleh pada Sulli.
“Kau bilang tidak ada yang istimewa tentangnya.” Timpal Sulli.
“Memang. Tapi apa kau tidak tahu kalau Jiyeon dan Siwon Hyung itu bersaudara??”

Ckiiittt..

Mendadak saja mobil terhenti dan hampir membuat Taemin menubruk dasbor mobil jika ia tidak memakai sabuk pengaman.
“Yak! Kau ingin membunuhku!” seru Taemin. Sulli tak mengindahkan bentakan namja itu. kini ia terlalu kaget dengan apa yang Taemin bilang barusah.
“Kau bilang apa? Siwon Oppa dan Jiyeon bersaudara? Bagaimana bisa? Oppaku kan..” Sulli mengerjap sadar. Bukankah Siwon memang bukan Oppa kandungnya? Umma dan Appa pernah mengatakan bahwa Siwon itu di adopsi saat usianya sepuluh tahun. Saat itu Appa ingin sekali memiliki anak laki-laki sementara Umma tidak bisa melahirkan lagi setelah melahirkannya dulu karena ada masalah dengan rahimnya. Karena itu Umma dan Appa memilih mengadopsi seorang anak yatim piatu di panti asuhan. Ketika Siwon di adopsi, ia masih terlalu kecil untuk tahu bahwa kakak yang ia anggap kakak kandung itu ternyata hanya anak adopsi.
“Siwon Oppa..dia memang Oppa angkatku..” desis Sulli akhirnya. Ia menoleh pada Taemin kembali.
“Bagaimana dia tahu kalau Siwon Oppa kakak kandungnya? Apa karena itu dia datang ke acara pernikahan Oppa waktu itu?”
Taemin mengendikkan bahunya. “Mana aku tahu soal itu. eh, tunggu, bukankah itu Siwon Hyung?” Taemin menunjuk pada salah satu kursi di dalam sebuah restoran yang diduduki oleh Siwon dan seorang gadis di hadapannya. mereka
“Itu Jiyeon!” seru Taemin. Mereka saling pandang, kemudian sepakat untuk menghampiri kedua orang itu.

—o0o—

Jiyeon dan Siwon sedang duduk berhadapan. Siwon menatapnya lurus-lurus, membuat gadis itu gugup dan kembali meneguk ice chocolate-nya.
“Jadi, katakan padaku darimana kau tahu tentang cincin ini? Dan kau bilang kau memiliki cincin yang sama?” tanya Siwon sambil menunjukkan cincin kecil yang sampai sekarang masih menempel di jari kelingkingnya.
Jiyeon menunjukkan cincin yang sama, membuat namja itu mengerjap. Benar-benar cincin yang sama. Jangan-jangan..
“Entah Oppa sadar atau tidak. Tapi cincin ini membuktikan kalau kita bersaudara. Ini adalah cincin pemberian Appa yang merupakan simbol keluarga Park.” Jelas Jiyeon. Siwon terkejut. setelah itu ia mendengarkan semua cerita Jiyeon tentang bagaimana ia mengetahui hal ini. Dan cerita Jiyeon itu kembali mengingatkannya pada masa lalunya yang kelam. Masa menyedihkan saat ia ditinggalkan oleh orangtuanya sendiri di depan panti asuhan dan kemudian dilupakan begitu saja.
Ia sempat kecewa dan tidak mau tahu seperti apa orang tua kandungnya sekarang. Namun mendengar cerita Jiyeon, setidaknya luka di hatinya sedikit terobati. Ternyata dulu alasan Umma dan Appa meninggalkannya di panti asuhan adalah karena krisis ekonomi yang berkepanjangan melanda keluarganya. dan saat kondisi ekonomi mereka mulai membaik, lahirlah Jiyeon. Dan saat semuanya sudah semakin baik, saat orangtuanya berniat menjemputnya di panti asuhan. Ia sudah tidak ada karena sudah ada keluarga yang mengadopsinya. Setelah itu Appanya meninggal dunia dan Ummanya menikah kembali dengan seorang pria berkebangsaan Inggris dan tinggal di sana. Begitulah kira-kira cerita keluarga kandungnya.
“Umma setiap waktu selalu memikirkanmu, Oppa. Aku sendiri baru mengetahui cerita ini beberapa bulan yang lalu. Setelah itu aku melakukan penyelidikan diam-diam. Bertanya ke sana kemari dengan informasi seadanya. Dan setelah menemukanmu, aku lega.” Ucap Jiyeon.
“Lalu setelah ini apa yang kau inginkan dariku? Aku tidak mau meninggalkan kehidupanku yang sekarang dan memasuki kehidupan yang bahkan sudah pernah mencampakkanku.” Ucap Siwon. Jiyeon sama sekali tidak tersinggung mendengarnya. Ia tahu Siwon akan berkata seperti ini.
“Aku tidak menginginkan apapun. Dan aku juga tidak meminta Oppa mengakuiku. Tapi aku hanya ingin Oppa tahu, bahwa jauh di luar sana..masih ada keluarga yang sangat merindukanmu. Oppa tidak ingin menemui kami? Itu terserah padamu. Aku tidak akan memaksa. Lagipula aku hanya ingin tahu seperti apa wajah kakak kandungku” Ia tersenyum sambil mengamati Siwon. “Ternyata Oppaku sangat tampan. Mirip sekali dengan Appa. Melihatmu, aku seperti melihat potret Appa yang sering Umma perlihatkan padaku. Sekarang aku baru tahu kenapa daddy jatuh cinta pada Umma. Ummaku sangat cantik. Karena dia bisa melahirkan anak yang tampan dan cantik sepertiku dan kau, Oppa.” Jelas Jiyeon panjang lebar.
Entah kenapa Siwon tertawa senang dan lega. Setelah mendengar cerita Jiyeon, ia sekarang tahu bahwa ia tidak pernah dilupakan. Iya. Jauh di sana Umma kandungnya masih mencintainya seperti dulu.
“Jadi, Park Jiyeon. Kau ini dongsaeng Inggris-ku. Hahah, senang sekali mengetahui aku memiliki dongsaeng cantik sepertimu.” Ucap Siwon. “Tidak masalah kan, kalau kau tetap membiarkan Oppa Korea-mu ini tinggal di sini?”
Jiyeon mengangguk. “Tidak apa-apa. lagipula di Inggris sana aku memiliki Oppa dan dongsaeng yang sama-sama tampan. Mereka berambut pirang, bermata biru dan berhidung mancung.” Kekeh Jiyeon. Siwon tersenyum. Senang rasanya bisa mengenal saudara kandung sendiri.
“Setelah ini, kau akan kembali ke Inggris?”
Jiyeon mengangguk lagi. “Liburanku sudah selesai. Jadi, aku harus kembali.”
“Katakan pada Umma,” ucap Siwon, ia menghela napas lalu tersenyum. “Aku di sini sangat bahagia. Jadi Umma di sana juga harus bahagia. Jangan terlalu memikirkanku lagi. karena di sini aku pun memiliki keluarga yang sangat sangat menyayangiku. Aku mempunyai adik yang cantik, dan Umma serta Appa yang menyayangiku. Dan yang paling utama, aku sudah menikah.”
“Akan aku sampaikan pesanmu” ucap Jiyeon sambil mengacungkan jempol.

Sulli dan Taemin mendesah lega di kejauhan. Sulli tersenyum penuh arti melihat kakak beradik itu. entah kenapa, rasa sayangnya pada Siwon semakin besar. dia seorang kakak yang berjiwa besar, pelindung, dan tabah.

—o0o—

@ Incheon International Airport
Hari itu Sulli dan Taemin mengantar Jiyeon dan Minho yang akan kembali ke Inggris. Mereka berpisah di depan terminal keberangkatan untuk mengucapkan salam perpisahan.
“So, kenapa kalian tidak berpacaran saja.” ucap Taemin dengan mata menyipit. “Kalian sangat cocok.” Tambahnya. Minho dan Jiyeon tertawa bersamaan.
“Masih terlalu cepat untuk itu. setidaknya kita bersahabat dulu saja.” ucap Jiyeon.
“Iya. Bukankah itu bukan cara yang buruk?” timpal Minho sambil melirik Sulli.
“Ya! Plagiatisme itu dilarang! Kalian harus mencari cara lain!” Sulli memukul pelan lengan sepupunya itu.

Tak lama kemudian, Sulli dan Taemin melambaikan tangannya pada kedua orang itu yang mulai memasuki terminal. Taemin terpekur diam. Sulli merasa heran karena Taemin menghela napasnya berkali-kali.
“Kenapa?”
“Ah..dua sahabat lucu seperti mereka pergi juga.” desahnya. Sulli tersenyum, lalu merangkul lengan Taemin.
“Bukankah kita masih bisa bertemu mereka lagi. kita bisa mengunjungi mereka saat liburan nanti.”
Taemin tersenyum sumringah. “Benar juga, aku harus merayu Hyung agar mengizinkanku berlibur ke luar negeri!”

—–o0o—-

*Sulli POV*

Aku dan Taemin tertawa bersamaan. Kami melangkah dengan pasti dan senyum bahagia pun mengembang indah di wajahku dan Taemin. Aku siap menyongsong hari hari indah esok asalkan tetap seperti ini, bersama Taemin. Segala hal yang terjadi dalam hidup itu tidak ada yang tanpa alasan. Dan sepertinya aku tahu kenapa Tuhan mempertemukanku dengan namja seperti Taemin. Agar aku bisa belajar apa itu arti mencintai.
Mencintai orang yang tidak sempurna dengan cara yang sempurna. oh dear..bukankah itu kalimat yang indah?

Shady Girl Taemin’s Story end..

75 thoughts on “Shady Girl Taemin’s Story (Part 6 – End)

  1. demi apa…. Ini ff memberi pelajaran yg bermakna banget mnurut aku… “mencintai org yg tidak sempurna dengan cara yg sempurna” ff Dha selalu yg terkereenn…

  2. taemin story bener” bacaan yang ringan tapi penuh makna,
    cinta itu bisa datang seiring berjalannya waktu, berapa banyak waktu yang kita habiskan bersama orang yang kita cintai.
    sama kayak sulli dan taemin yang menyadari perasaan mereka setelah mereka lama bersama sebagai sahabat
    like this couple ^^

    berharap ada lanjutan kisah mereka *ngarep*
    shady girl series yg ke 7 ini DAEBAK
    dua jempol lagi buat author ^^

  3. demi apa…. Ini ff memberi pelajaran yg bermakna banget mnurut aku… “mencintai org yg tidak sempurna dengan cara yg sempurna” ff Dha selalu yg terkereenn…!!!

  4. Salut sama authornya bisa bikin ff sebagus ini… Feelnya dapet banget.:):):) sempet sebel sama taemin oppa gara-gara ga peka dan udah nyakitin sulli..:@ Tp gpp.akhirnya semuanya happy ending..^^

    Good story thor! Teruslah berkarya! Anddd fightingggg~!!!!^^

  5. End,walau kecewa kenapa mereka milih berstatus pcaran, kutnya ada yg labil trus ngunain kta sahabat.
    M0ga aja taemin st0ry gak gtu tar kalo ad sequel.:-)
    semua berahir baik.

  6. Mrka ttp brshbat,,tp suatu saat akan menikah,,owhhh manis sekali….
    Gk d sangka trnyata kedtgn Jiyeon d korea adlh ingn mlhat kkk kandungnya…yaitu Choi Siwon…
    Taemin Sulli qu salut dgn prshbtan kliannnnnn

  7. di antara cerita shady girl yg pling menyebalkan ceritanya taemin.. Taemin pabo!! Udah buat sulli nangis.. Tapi seneng juga akhirnya mereka bisa bersatu dgn penuh cinta :-*

Your comment

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s