Shady Girl Taemin’s Story (Part 5)

Tittle : Shady Girl Taemin’s Story Part 5
Author : Dha Khanzaki a.k.a Shin Je Young
Genre : Romance, kekerasan, friendship

Main Cast :

  • Lee Taemin
  • Choi Sulli

Support Cast :

  • Choi Minho
  • Park Jiyeon

Hehe.. Sekedar pemberitahuan ini adalah part sebelum ending loh.. so, hope you enjoy it ^_^

Shady Girl Taemin5

===Part 5===

*Sulli POV*

Antara gugup dan senang. itu yang kurasakan saat ini. Entah kenapa tadi aku sempat melihat kilatan marah dari sorot mata Taemin. Tunggu dulu, aku tahu arti pandangan itu. ya Tuhan, jika pikiranku itu benar, saat ini Taemin tengah cemburu! Cemburu pada Minho! Ayolah, apa lagi yang kau tunggu Lee Taemin? Aku sudah bersamamu sekarang.

—o0o—

*Author POV*

Taemin memberanikan memandang Sulli dan entah kenapa mereka menolehkan pandangan pada saat yang bersamaan. Saat mata mereka saling bertemu, baik Taemin maupun Sulli bisa melihat berbagai macam emosi berkelebat di sana. Mulai dari takjub, jengkel, kesal, dan..rindu.
“Hai, lama tak berjumpa.” Taemin memutuskan berkata lebih dulu sambil mengangkat tangannya. Sulli balas tersenyum kikuk.
“Iya, lama tak bertemu.”
Mereka terus diam dan membuat suasana semakin terasa kaku. Minho melirik Jiyeon yang sepertinya merasa tidak enak hati juga melihat sepasang sahabat itu tampak tidak nyaman satu sama lain.
“Em, nona Jiyeon..bagaimana kalau kau mengantarku mengambil minuman dan membiarkan partner kita bicara dengan bebas.” Ajaknya. Jiyeon cepat mengangguk.
“Baiklah, aku tidak keberatan.” Jiyeon berjalan menyusul Minho yang sudah pergi lebih dulu.
“Loh, Jiyeon..”
“Loh, Minho!!”

Sulli dan Taemin sama-sama berteriak kaget di tinggal oleh pasangan masing-masing. Mereka saling tatap kembali. Kali ini, di saat Minho tidak ada, entah kenapa Sulli merasa emosinya bangkit kembali. Rasanya ia ingin sekali meneriaki namja yang sampai detik ini belum sadar juga.
Lee Taemin, kepolosanmu itu harus ada batasnya!!!!!! Teriaknya dalam hati. baru saja ia akan membuka mulut namun Taemin sudah lebih dulu menyela.
“Mengapa kau berpakaian seperti ini?” tanyanya dengan tampang innocent yang membuat Sulli ingin sekali melemparnya dengan sepatu hak tinggi yang dipakainya sekarang.
“Kau masih bertanya? Bukankah kau sendiri tahu setiap gadis yang datang harus memakai gaun?” jawab Sulli sinis. Jelas sekali aura kesal menyelimuti setiap kata yang diucapkannya.
“Aku tahu. tapi maksudku, kenapa kau berdandan seperti ini. Gaun yang sangat pendek dengan atasan terbuka, lalu rambut ini, kau memakai wig? Oh, tunggu dulu.” Taemin mendekatkan wajahnya hingga wajah mereka sejajar. Taemin mengamati Sulli dari jarak yang amat dekat. Membuat gadis itu mengerjap kaget dan tubuhnya kaku tiba-tiba. “Kau memakai make up!” serunya seolah semua hal itu adalah sesuatu yang ajaib.
Sulli terperangah. Ya ampun, memang kenapa kalau ia memakai gaun dengan model atasan terbuka, wig, dan mengenakan make up? Apa itu sebuah dosa atau kesalahan?
“Wae? kau tidak suka!! Atau kau terpesona padaku??” balas Sulli sambil berkacak pinggang. Taemin terkesiap. Entah kenapa hatinya seperti terpukul sesuatu dengan telak.
“Tidak..” ucapnya tergagap. Aish, mengapa ia mendadak gugup begini? “A-aku hanya tidak mau pria-pria itu menatapmu seperti singa kelaparan!! Kau sebenarnya ingin menggoda siapa? oh, apa ini cara yang kau pakai untuk mengajak pria bernama Minho itu kemari???”
Sulli merasa amarahnya akan meledak sebentar lagi. ia tidak habis pikir kenapa otak Taemin masih bekerja sangat lambat seperti ini. Ia ingin berteriak namun di tahannya.
“Ini tidak ada hubungannya dengan Minho!” ucapnya dengan emosi tertahan.
“Ho, lalu kenapa kau bisa berdandan seperti ini? Kau tahu, bahkan Jiyeon saat tidak berdandan pun lebih cantik dari pada penampilanmu yang sekarang. Jadi jangan harap kau akan membuat orang-orang itu terkesan atau semacamnya..”
Apa? apa? apa yang dikatakannya barusan? Bahkan ia tidak ada apa-apanya dibanding Park Jiyeon saat biasa? Amarahnya memuncak, dan ia sudah tidak bisa menahan amarahnya lagi. tenggorokannya tercekat dan napasnya terasa sesak.

Taemin agak terkejut saat ia melihat mata Sulli sudah berkaca-kaca. Omo..sepertinya ia sudah mengatakan hal yang tidak sepatutnya.
“Su-sulli, aku..tidak bermaksud..”
Tiba-tiba saja Sulli mengangkat wajahnya, menatapnya tajam dengan ekspresi penuh luka. Membuat Taemin merasa dirinya tertimpa batu besar.
“LEE TAEMIN, NEO PABOYA!!!!!!!!!” teriaknya kencang lalu mendorong Taemin keras hingga tubuh namja itu terjungkal ke belakang dan menimpa beberapa orang yang kebetulan berdiri dibelakangnya.
Bruukkk..
Taemin dan beberapa orang itu terjatuh bersamaan di lantai. Alhasil keributan itu berhasil membuat seluruh perhatian orang-orang di dalam ballroom terpusat pada mereka. Sulli sudah tidak peduli lagi dengan tatapan orang-orang terhadap tindakannya tadi. ia segera menderap meninggalkan Taemin dengan mata berkaca-kaca.
“Su-Sulli!!” seru Taemin panik. Ia berusaha bangkit lalu menggumamkan kata maaf pada orang-orang yang tadi ikut jatuh bersamanya. Ia bahkan melupakan jas mahal milik Eunhyuk yang tersiram koktail dan kaki kanannya yang berdenyut kesakitan akibat terjatuh tadi. sepertinya terkilir. Ia harus mencari Sulli dan meminta maaf padanya. ia tahu tadi kata-katanya sudah keterlaluan.

—-o0o—-

Minho sedang melihat-lihat ke sekitar tempatnya mengambil minum, memperhatikan kira-kira gelas minuman mana yang harus di ambilnya sementara Jiyeon sedang berbincang dengan beberapa anak lelaki yang tadi berkenalan dengannya. Tanpa sengaja ekor matanya menangkap bayangan Sulli yang berlari agak cepat meninggalkan ruang aula. Keningnya mengerut dan ia merasa keadaan sepupunya itu sedang buruk. Maka ia tidak membuang waktu lagi untuk menyusulnya.

Sulli terus berlari ke luar aula itu tanpa mempedulikan umpatan dan caci maki dari orang-orang yang ditubruknya selama ia berjalan cepat. Airmatanya sudah terlanjur tumpah dan ia tidak mau kemalangannya itu menjadi tontonan hangat orang-orang satu aula. Ia terus berlari sampai tiba-tiba saja sebuah tangan menahan sikunya.
“Chakkanman!”
Sulli menghentikan langkahnya lalu menoleh ke arah belakang, tepat ke arah sosok namja yang menatapnya dengan pandangan cemas bercampur sedih.
“Kau kenapa lari? Acara baru akan di mulai bukan?” tanya Minho cemas. Sulli menundukkan kepalanya sesaat lalu menatap Minho, membuat namja itu tercengang karena saat ini dari kedua sudut mata gadis itu meleleh air mata. Bibir Sulli bergetar, mencoba menahan isakan yang akan keluar jika ia tidak menahannya.
“Ke-kenapa? apa yang terjadi?” sergah Minho panik. Ia memegang kedua lengan atas gadis itu karena Sulli hampir saja jatuh lemas jika ia tidak memegang erat lengannya.
“A-aku menyerah, Minho-ya..aku menyerah..” lirih Sulli dengan suara tercekat.
“Menyerah apa? katakan yang jelas.” Minho menuntut penjelasan atas kalimat yang membuatnya bingung itu.

Sekali lagi Sulli menatap sepupunya itu dan melihat tatapan sungguh-sungguh darinya, membuat Sulli tidak bisa menahan kesedihan lagi. akhirnya tangisannya pun pecah. Minho tidak melakukan apapun, ia terlalu kaget dan tak percaya karena Sulli akan menangis seperti ini.
“Kenapa..aku selalu patah hati..” isaknya. Sulli mencengkram erat jas yang dipakai Minho. Lalu tangannya tanpa sadar bergerak memeluk namja itu, ia melakukannya tanpa sadar, ia hanya ingin melampiaskan kesediahannya dengan memeluk seseorang. Jika ada Siwon, mungkin kakaknya itu yang akan menjadi sasaran.
“Sudah..” Minho yang bingung harus melakukan apa akhirnya hanya bisa menenangkan Sulli dengan menepuk-nepuk punggungnya halus. Ia mendekap Sulli agar gadis itu terasa aman dan tenang. biarlah Sulli meluapkan rasa sedihnya sebelum gadis itu menjelaskan segalanya nanti.

—-o0o—-

Taemin berjalan agak tertatih mencari Sulli. Namun langkahnya terhalang karena ia berpapasan dengan Jiyeon.
“Taemin, tadi aku melihat Sulli..”
“Arraseo. Aku tahu. maka dari itu aku akan mencarinya dan meminta maaf.” Sela Taemin. Jiyeon agak bingung juga melihat Taemin panik bercampur khawatir seperti sekarang.

Tadi, saat ia jatuh dan berusaha bangun ia mendengar berbagai macam hujatan dari orang-orang yang tanpa sengaja melihat pertengkaran kecil mereka. Para penonton dadakan itu menganggap sikap Taemin memang sudah keterlaluan. Bahkan sampai ada seorang gadis yang terang-terangan melotot padanya karena sudah membuat Sulli menangis.
Sekarang juga bahkan Taemin melupakan Jiyeon yang berteriak memanggilnya karena ia sudah tidak peduli lagi. yang ia ingin cari sekarang adalah Choi Sulli. Sahabat yang kekanakan sekaligus salah satu perempuan paling ia sayangi selain Umma dan kakak iparnya. Sesungguhnya Taemin amat menyesal. Ia terus mengutuk dirinya sendiri karena tidak pernah bisa menjaga mulutnya untuk menyaring kalimat yang harus diucapkan atau tidak. Ia memang bodoh. Sulli benar.
“Sulli.. Su—“ mulutnya berhenti bersuara dan langkahnya mendadak saja terhenti ketika ia melihat Sulli dan namja bernama Minho itu sedang berpelukan erat. Taemin tidak bisa menyembunyikan lagi ekspresi tercengangnya. Matanya melotot dan mulutnya menganga kaget. Apa yang terjadi? Mereka berpelukan?
Taemin merasa ada yang aneh dengan dirinya sekarang. Mengapa ia merasa sakit melihat Sulli dipeluk namja lain? Ya Tuhan, demi apapun itu adalah haknya. Tapi, kenapa dirinya merasa tidak rela. Ia ingin sekali berlari ke arah mereka lalu menarik Sulli dari sana. Namun entah kenapa kakinya tidak bisa diajak kerja sama. Ia hanya mampu terdiam di tempat tanpa bisa melakukan apapun. Matanya hanya bisa menatap dari jauh.

“Taem—“ Jjiyeon menghentikan kalimatnya saat ia melihat Taemin tercengang di tempatnya. Pandangannya memutar ke arah yang dituju namja itu. seketika ia tahu mengapa. Ia merasa simpati dan iba. Nah, jika sudah begini, mungkin Taemin akan sadar dengan apa yang sebenarnya ia rasakan terhadap Sulli.
Taemin langsung membuang mukanya, ia berbalik pergi tanpa menyadari kehadirannya di sana. Jiyeon mengejar namja itu.
“Taemin, tunggu.” Ucapnya sambil mencoba menjajarkan langkah dengan langkah lebar Taemin.
“Itu bukan urusanku. Terserah Sulli ingin memeluk siapa dan bersama siapa, ITU BUKAN URUSANKU!!” teriaknya penuh emosi dan sekali lagi tanpa menoleh pada Jiyeon yang berjalan di sampingnya dengan susah payah. Jiyeon sudah tidak tahan lagi. ia segera menahan siku Taemin, membuat langkah namja itu terhenti secara mendadak.
“Jelas itu urusanmu, Lee Taemin!!!” teriak Jiyeon kesal. Taemin menatap Jiyeon yang tengah menatapnya dengan mata menyala-nyala. “Itu-jelas-urusanmu!” ulangnya dengan penekanan di setiap kata. Taemin tertegun, tak ada satupun kata yang keluar dari mulutnya. Bibirnya terasa kelu untuk sekedar berucap.
“Kau tahu apa situasi yang kau alami sekarang, Kau cemburu”
“Mwo?” mendengar kata cemburu sepertinya sangat asing di telinga Taemin hingga membuat namja itu memekik kaget. “Mustahil.” Elaknya. Taemin melepaskan sikunya lalu kembali berjalan pergi. Jiyeon mengejarnya. Ia masih belum menyerah untuk menyadarkan namja bodoh seperti Taemin.
“Kau cemburu dan kau tahu itu. jadi berhentilah bersikap kekanakan dan akui itu, Lee Taemin!”
“Aku tidak cemburu, Park Jiyeon. Dan untuk apa ku akui hal itu!”
“Lalu kenapa kau marah sekarang? Seperti yang kau bilang, Sulli bebas memeluk siapapun. Dan kau juga tidak berhak untuk marah. Dan jika kau masih marah juga kau harus mengakui bahwa kau menyukainya.”
Kali ini Taemin menghentikan langkahnya. Ia berbalik menatap Jiyeon dengan ekspresi bingung bercampur kesal.
“Kau bilang apa? aku menyukainya? Dia yang menyukaiku! Aku..”
“Apa?” potong Jiyeon. “Kau ini benar-benar bodoh atau hanya pura-pura? Kau tahu kenapa Sulli sampai berdandan secantik itu? tak lain ingin sekali membuatmu terkesan dan sadar akan perasaanmu sendiri. tapi rupanya kau memang sungguh bodoh.”
Taemin masih belum berkomentar. Ia seolah bisu dan tuli. Jantungnya berdebar kencang dan ia tidak bisa berpikir jernih lagi. ia memalingkan wajahnya ke arah lain.
“Kenapa? baru menyadarinya? Akuilah sebelum semua itu benar-benar terlambat.”
“Kita kembali ke ballroom.” Potong Taemin. Jiyeon tidak habis pikir dengan sikap Taemin. Dia ini sulit sekali dibuat sadar.

—-o0o—-

Acara dansa sudah dimulai saat Sulli dan Minho kembali ke ballroom itu. entah berapa lama ia menangis. tapi semoga penampilannya sekarang tidak terlalu berantakan. Tadi ia sempat merapikan dulu make upnya.
“Kau ingin berdansa juga?” tanya Minho. Sulli menoleh, namun tidak menjawab. Ia ragu. Meskipun ia tadi sangat marah pada Taemin, namun entah kenapa ia masih saja memikirkan namja itu. namun saat melihat Taemin tengah berdansa dengan Jiyeon, hatinya kembali panas. Namja itu bahkan tidak merasa bersalah dan sekarang sedang asyik berdansa waltz bersama yeoja lain? Dasar namja tak berperasaan!
“Minho, ayo berdansa!” tegas Sulli kesal. Minho menariknya ke lantai dansa. Ia mulai melangkah berdansa mengikuti musik yang mengalun. Namun pandangannya tidak bisa teralih dari wajah bahagia Taemin yang tengah berdansa dengan Jiyeon. Hatinya sakit. sangat sakit. ia mencoba fokus pada Minho dan berdansa sebaik mungkin. ia tidak lupa dengan gerakan dansa yang sudah dilatihnya selama sekolah di perguruan St. Maria dulu. karena terlalu menghayati, ia sampai tidak sadar kalau beberapa orang menatapnya dan Minho penuh kekaguman. Dan ketika lagu selesai, ia baru tersadar. Semua orang menyingkir dari lantai dansa dan seorang MC naik ke atas panggung.

“Nah, tadi kita melihat sendiri bagaimana romantisnya sesi dansa. Ada beberapa pasangan yang sampai terhanyut oleh suasana. Jadi, apa kalian siap dengan siapa yang berhasil meraih ratu dan raja di pesta ini???” teriak sang MC seru. Seketika semua orang yang hadir bersorak gembira dan tidak sabar menunggu pengumuman pemenangnya. MC itu melirik sekilas kertas yang dibawanya lalu kembali melempar senyum pada penonton.
“Menurut hasil penilaian juri, yang berhasil menjadi raja dansa malam ini adalah…..” musik mendebarkan sengaja di bunyikan untuk membuat suasana kan mendukung. Sulli sudah tidak terlalu peduli lagi dengan apapun yang terjadi.
“Lee Taemin!!” Seru MC itu. sulli mengangkat kepalanya cepat dan melihat ke arah panggung. Taemin sedang menerima sebuah trofi dari MC. Kemudian MC itu kembali fokus untuk memberitahu siapa pemenang kategori berikutnya.
“Sekarang yang berhasil mendapatkan predikat sebagai ratu dansa…” MC menatap penonton sejenak. “Pemenangnya adalah…Choi Sulli!!!”
Sulli tersentak sementara orang-orang bertepuk tangan seraya melirik ke arahnya. Minho bahkan sudah mendesaknya agar segera naik ke atas panggung. Ia terlalu kaget.

Setelah menerima trofi, semua orang bertepuk tangan kembali. Sulli melirik Taemin yang berdiri satu panggung dengannya. Namja itu tampak menundukkan kepalanya, tidak mau menatap Sulli maupun penonton. Setelah ia turun, pandangannya terus tertuju pada namja itu.
“Sulli, hei..” Minho mengguncang pelan tubuh Sulli. Gadis itu tak bergeming. Matanya terus menatap Taemin yang sekarang sedang berjalan ke arah Jiyeon dengan senyum mengembang.
“Taemin pabo!” desisnya. Tanpa mengatakan apapun, Sulli menyerahkan trofi yang dipegangnya pada Minho, lalu ia menderap pergi dari ballroom itu.
“Sulli!!” teriak Minho. Ia kesal, bukannya menyusul Sulli ia malah menderap mendekati Taemin.
“Lee Taemin!!” teriaknya begitu berada di dekat namja itu. bahkan sebelum Taemin membalikkan tubuhnya Minho sudah melayangkan tinjunya tepat ke arah pipi namja itu.
“Kyaaaa…” Jiyeon memekik kaget sementara Taemin jatuh tersungkur ke belakang. ia refleks memegangi pipinya yang berdenyut sakit dan dari sudut bibirnya mengalir darah. Kini perbuatan Minho sukses menarik perhatian semua orang.
“Apa yang kau lakukan, HAH!” teriak Taemin tak terima. Ia cepat bangkit lalu melayangkan tatapan tajam pada Minho.
“Itu untuk kebodohanmu! Kau sudah membuat Sulli menangis! kau pantas menerimanya!” Minho segera pergi bahkan sebelum Taemin membalas pukulannya. Dia hanya terdiam, lebih tepatnya terkejut mendengar ucapan Minho. Sulli menangis karenanya?

—o0o—

Sulli berjalan gontai menyusuri trotoar yang dingin dan agak basah dengan bertelanjang kaki. High heels setinggi 3 cm itu sudah ia lepas dan dipegangnya dengan sebelah tangan. Langkahnya begitu pelan dan pandangannya kosong. Rambutnya pun sudah berantakan dan wig yang dipakainya sudah hilang entah kemana. Penampilannya kini tampak kacau. Yang ia lakukan sekarang hanya menangis tersedu.
Langit yang hitam pekat dengan awal tebal menggulung di ujung cakrawala seolah menyambut hatinya yang terluka. Ia seolah tersadarkan. Lee Taemin tidak pernah menyukainya. Dan usaha yang ia lakukan hari ini percuma saja. ia sudah kalah dalam permainan yang dimulai olehnya sendiri.
“Hei, lihat..” suara kasak-kusuk seseorang terdengar menusuk telinga Sulli. Dengan malas ia menoleh pada beberapa namja berpenampilan serampangan yang kini tengah menatapnya dengan penuh minat. Ia merasa tak peduli dan meneruskan perjalanannya.
“Jangan buru-buru, nona.” ucap salah seorang dari mereka seraya menghadang jalan Sulli. Gadis itu hanya menatap mereka datar. Tanpa ekspresi. Dan ia tidak peduli penampilannya lagi.
“Wah, apa yang terjadi padamu? Baru diputuskan pacarmu? Ahahhahah..” pria-pria itu dengan tidak tahu malunya menertawakan Sulli. Membuat gadis itu kian terpuruk.
“Bukan urusanmu.” Jawabnya dingin. Sulli mendorong tubuh pria yang menghalangi jalannya lalu berjalan gontai. Namun lagi-lagi mereka menahan bahu sulli.
“Kalau begitu mari kita bersenang-senang. kami bisa membuatmu melupakan masalahmu.” Rayu mereka. Sulli mulai merasa tidak nyaman lantas memberontak. Rupanya reaksi Sulli ini membuat nyali mereka kian tersulut. Kondisi lingkungan yang sepi membuat mereka nekat melakukannya.
“Kyaa..lepaskan aku..” teriak Sulli sambil mencoba menarik tangannya. Setelah lepas, ia langsung melayangkan tamparannya pada salah satu dari mereka.
“Kurang ajar!!” teriak pria yang terkena tamparan Sulli. Matanya menyala-nyala marah. Ia memberikan isyarat pada teman-temannya untuk menahan Sulli. Alhasil, kini kedua tangan Sulli berada dalam cengkraman pria-pria itu. ia sudah meronta, berteriak tanpa ampun namun tidak berhasil melepaskannya. Ia terlalu lemah.
“Nona, kau salah sudah menamparku tadi.” ucap pria itu sambil mencengkram wajah Sulli dengan tangannya yang kekar. Gadis itu meringis kesakitan dan dari sudut matanya kembali mengalir air mata.
“Hah, lagipula aku tidak heran kalau namjachingumu itu mencampakkanmu. Lihat dirimu, cih, jelek dan tidak menarik perhatian” cibirnya.
“Jebal, lepaskan aku..” rintihnya memohon. Sulli ketakutan setengah mati. Ia tidak bisa membayangkan apa yang akan terjadi padanya mengingat ini sudah terlalu larut dan tidak ada seorang pun yang bisa ia mintai tolong. Ia menangis kencang.
Taemin, tolong aku. Jeritnya dalam hati. tiba-tiba saja dalam otaknya berkelebat memori saat Taemin menyelamatkannya dari kakak kelas yang menggodanya dulu. ia sangat berharap Taemin pun akan datang menolongnya kali ini.
“Kyaa…andwae..” teriak Sulli ketakutan saat orang-orang itu menyeretnya pergi.
“Diam kau jelek!!” teriak pria itu lalu menamparnya. Ia baru akan membalikkan badan ketika tiba-tiba saja ada yang menendang dirinya dari arah belakang.

Brukkkk!!!

Pria itu tersungkur jatuh dengan posisi telungkup. Teman-temannya dan Sulli seketika menoleh pada sosok yang dengan beraninya melakukan hal itu.
“Taemin!!!” teriak Sulli senang. hatinya sangat lega melihat sosok sahabatnya itu berdiri dengan tangan melipat di dada. Pandangannya begitu dingin dan menusuk, tepatnya ke arah pria yang sudah ditendangnya tadi.
“Tidak ada yang boleh memanggilnya jelek!! Siapapun yang berani memanggilnya jelek pantas mati.” Ucapnya tajam. Sulli terbelalak mendengar kalimat itu terucap dari mulut Taemin. Ada perasaan haru dan bahagia menyusup di relung hatinya.
“Siapa kau!!” teriak pria itu setelah berhasil menegakkan tubuhnya lagi.
“Aku? Aku laki-laki yang akan melindunginya.” Tegas Taemin.
“Ho, ingin berlagak jadi pahlawan kesiangan rupanya.” Ia melirik pada teman-temannya untuk menghajar Taemin. Teman-temannya mengerti, ia melepaskan Sulli lalu berjalan mengelilingi Taemin. Membuat namja itu terkurung di antara mereka.
Taemin menatap mereka tanpa rasa takut sedikitpun. Ia sudah sering menghadapi situasi seperti ini. Ia melirik sekilas pada Sulli.
“Choi Sulli, kau harus lari. Jangan pedulikan aku!” teriaknya. Sulli menggeleng keras dengan tubuh gemetar.
“Tidak mau. aku ingin membantumu!!”
“dasar bodoh, lari sana!!!” teriak Taemin lagi. belum sempat ia bersiap-siap sebuah pukulan mendarat di pelipisnya, membuatnya agak terhuyung namun tidak terjatuh. Sulli menjerit kencang namun tidak berani mendekat. Ia menoleh kanan kiri mencari bantuan. Sial, ia tidak membawa ponselnya.
“Taemin!!” teirak Sulli panik, khawatir dan tidak tega. Ia tidak bisa menahan tangisnya lagi saat melihat Taemin di hajar oleh beberapa orang. Meskipun namja itu sudah sering berkelahi dan bisa melawan, namun tetap saja ia tidak akan bisa melawannya sendirian. Taemin sudah berkali-kali terhempas ke tanah dan dari mulutnya sudah mengalir banyak darah. Sulli bergetar. Ia tidak mau melihat Taemin menderita lagi. ia segera berlari mencari bantuan. Taemin pasti mencarinya sambil membawa mobil. Benar saja, ia menemukan mobil kap terbuka berwarna merah milik Taemin itu terparkir di tepi trotoar. Ia segera mencari-cari siapa tahu ponsel Taemin tertinggal di sana. Benar. Rupanya Taemin meninggalkan ponselnya di sana. Ia segera memencet nomor kantor polisi dan meminta polisi agar segera datang. Setelah itu ia kembali menyusul Taemin.
“Andwae!! Jebal, hentikan..” teriak Sulli. Ia berusaha menarik salah seorang dari mereka yang mencoba menendang Taemin yang sudah tampak tak berdaya. Namun pria itu menepis tangan Sulli dan membuatnya terhuyung jatuh.

Sulli menangis melihat Taemin di hajar. Namja itu masih berusaha melawan sekuat tenaganya. Dan yang membuat hatinya sakit adalah kenyataan bahwa ia tidak bisa melawan.
Tak lama sirine polisi pun terdengar nyaring. Orang-orang itu segera kabur namun mereka kalah cepat dengan polisi. Polisi itu berhasil membekuk mereka dan membawa orang-orang itu ke kantor polisi. Sulli beringsut bangun menghampiri tubuh Taemin yang tergetak lemah di tanah. Ia menyandarkan kepala Taemin di atas pahanya, mencoba membuat namja itu tetap sadar.
“Taemin..taemin bertahanlah, ambulans akan datang sebentar lagi..” Sulli terisak melihat kondisi Taemin yang memprihatinkan. Tubuh namja itu penuh luka dan lebam. Apalagi dari kepala namja itu mengalir banyak sekali darah. Ini semua karenanya. Taemin berusaha mempertahankan kesadarannya yang hampir menipis. Ia mengulurkan tangannya memegang tangan Sulli yang memegang kepalanya.
“Mi-mian-hae..a-ku sa-lah, Choi-Sulli. A-ku ke-terlalu-an.” Taemin berbicara dengan susah payah. Sulli menggeleng cepat, ia tidak ingin Taemin banyak bicara saat kondisinya seperti ini. Ia bisa kehabisan tenaga dan..tidakkk!!
“Kau tidak bersalah Taemin, kau tidak bersalah. Kumohon bertahanlah..” pinta Sulli dengan lelehan airmata yang kian deras mengaliri pipinya. Seluruh tubuhnya terasa bergetar.
Bahkan dalam kondisi penuh luka seperti itu Taemin masih bisa memaksakan seulas senyum. “Ja-ngan me-nangis. Dan kata-kata-ku be-nar. Siapa-pun yang me-ngata-kan kau jelek, dia pan-tas ma-ti.” Ucapnya. Setelah itu, seakan semuanya terjadi dalam gerakan lambat, tiba-tiba saja tangan yang menggenggam tangan Sulli itu melemah dan jatuh terkulai ke tanah, senyum di wajah namja itu menghilang, dan Taemin menutup matanya. Sulli terbelalak. Rasa panik, kaget, dan takut langsung menyerbunya.
“Andwae!!! Taemin!!!”

—-o0o—–

“Sulli, kau tidak ingin makan?” tawar Minho untuk yang ketiga kalinya hari itu. lagi-lagi jawaban yang diberikan Sulli sama. Hanya gelengan kepala dan pandangan sedih. Minho menghela napas.
“Ini sudah 5 hari, Choi Sulli. Kau harus memakan sesuatu atau kau tidak akan sembuh. ayolah, kau tidak boleh membuat Paman dan Bibi mencemaskanmu lebih dari sekarang.” Bujuk Minho. Sulli menatap nampan berisi makanan dan minuman yang dibawa Minho dengan wajah dingin.
“Aku tidak lapar.” Jawabnya pelan. Ia kembali menatap ke luar jendela, di mana pohon-pohon sakura bersemi dengan indah. membiaskan warna merah muda yang cantik dan sangat kontras dengan langit biru yang cerah. Minho meletakkan nampan makannya di nakas samping tempat tidur Sulli.
“Baiklah, aku tidak akan memaksamu lagi.” ucapnya. Ia menarik kursi di samping tempat tidur Sulli lalu duduk di sana. Ikut menatap ke arah luar jendela. Hanya saja ia tersenyum.
“Aku merindukannya, Minho..aku merindukan Taemin-ku..” lirih Sulli dengan nada yang dalam, pelan dan membuat hati teriris bagi siapapun yang mendengarnya. Minho menoleh, lalu memegang tangan Sulli yang tertempel selang infus. Sulli tidak mengalihkan pandangannya, yang ada dari sudut mata gadis itu mengalir aliran bening. Ia kembali menangis untuk yang ke sekian kalinya. Dan lagi, yang bisa Minho lakukan hanya menghela napas berat. Harus bagaimana lagi, ia bukan Tuhan. Ia tidak bisa membuat keajaiban terjadi begitu saja.
“Berdoalah semoga dia cepat siuman.” Hibur Minho. Sulli menunduk, lalu menutup wajahnya dengan tangannya yang bebas, ia mengangis.
“Ini semua salahku, seandainya malam itu aku tidak marah dan pergi..Taemin tidak akan seperti sekarang..” isaknya. Minho bangkit lalu merangkul bahu sepupunya, mencoba memberi kekuatan.
“Tidak, kau tidak bersalah. Sudah, kau tidak perlu menangis lagi. Taemin itu namja yang kuat.”

Semenjak insiden dua minggu yang lalu, Taemin belum sadarkan diri hingga detik ini. Saat di larikan ke rumah sakit, Taemin sempat kehilangan banyak darah. Dan Sulli yang kebetulan memiliki golongan darah yang sama bersedia mendonorkan darahnya untuk Taemin. Dan setelah itu kondisinya ikut drop. Di tambah lagi karena ia mengetahui bahwa Taemin mengalami benturan keras di kepalanya yang membuatnya tidak bisa diprediksi kapan akan tersadar. Taemin masih tertidur di atas ranjangnya bahkan setelah dua minggu berlalu. Hal ini membuatnya sedih. Sulli merasa ia bertanggung jawab atas apa yang Taemin alami.

—-o0o—-

Eunhyuk menghela napas menatapi adiknya yang lagi-lagi harus mengalami nasib buruk seperti ini. Entah sudah berapa kali Taemin masuk rumah sakit karena di hajar orang-orang tak dikenal. Dan kali ini ia merasa sangat cemas karena sudah dua minggu Taemin belum juga siuman. Ia bahkan tidak bisa tidur nyenyak sejak dua minggu lalu. Ia melirik pada Umma dan Mira yang tertidur di sofa yang ada di ruangan itu.
“Chagi..” Eunhyuk membangunkan Mira meskipun sebenarnya ia tidak tega.
“Ne, Oppa?” Mira bangun.
“Kau ajak Umma pulang. Dia harus beristirahat di rumah.” Ucapnya. “Taemin biar aku yang menjaga.”
Mira mengangguk lalu membangunkan Umma, mengajaknya pulang. Ia tidak akan tega membiarkan ibunya tersiksa. Setelah Umma dan istrinya pergi, ia kembali mendengar pintu dibuka. Ia menoleh dan mendapati Sulli berdiri di ambang pintu. Wajahnya yang pucat, memakai pakaian rumah sakit sambil menyeret tiang beroda tempat infus yang menempel di tangan kirinya. Eunhyuk tersenyum hangat lalu bangkit.
“Kau sudah baikan?” tanyanya membantu Sulli berjalan ke arah tempat tidur Taemin lalu mendudukkannya di kursi yang tadi ia duduki.
“Kenapa bangun dari tempat tidurmu? Kau harusnya beristirahat.” Ucap Eunhyuk. Sulli menggeleng sambil tersenyum.
“Harusnya Oppa yang beristirahat. Pergilah Oppa, kau harus makan dan beristirahat sejenak. aku akan menjaga Taemin sementara.” Ucapnya. Eunhyuk tidak tega menolak. Ia tidak mau membuat hati rapuh gadis ini terluka.
“Baiklah. Kalau begitu aku titip Taemin.” Ucap Eunhyuk.

Sulli mendengar pintu tertutup tanda Eunhyuk sudah pergi dari ruangan itu. pandangannya kini tidak lepas dari Taemin yang tidak sadarkan diri dengan selang oksigen tertempel di hidungnya. Ia menggigit bibirnya berusaha menahan diri agar tidak menangis. tangannya bergerak menyentuh tangan Taemin yang terkulai lemah.
“Mianhae. Aku sudah memberikan bencana untukmu, Lee Taemin..” Sulli menatap Taemin dengan mata berkaca-kaca. Dalam hati ia berdoa semoga Tuhan memberikan keajaiban untuk Taemin. Ia tidak mau kehilangan sahabat sekaligus orang yang dicintainya ini. Jika ada satu cara untuk membalikkan waktu, ia akan melakukannya tanpa ragu. Asalkan ia bisa melihat Taemin tersenyum, bercanda padanya seperti dulu. andai saja..

To be continued..

48 thoughts on “Shady Girl Taemin’s Story (Part 5)

  1. aigooooo bikin mewek dehhh….
    diatas tulisannya genre kekerasan, tapi yang ngena malah sad huhuhu *lebay
    oiya eonni, lanjutin WGM nya donk .. *kedipkedip

  2. yaah.., part ini nyesek semua isinya, taemin sih keras kepala bnget.
    yaa., taem belum sadar juga, kan kasian sullinya jd ikut sakit juga., ayo cpet sadar dan cepet sembuh taem.

  3. aaah so sweet taeminnie ngejar sulli :3 ya walaupun tragis juga sih taeminnya sampe harus masuk rumah sakiiit :s eonni abis taemin ibi, shady girl nya edisi siapa lg eon? penasaran ><

  4. mewek, mengharu biru bgt *lebay* thor dari awal ampe abis aku sedih terus..
    Huh taemin sok jago dan berujung di rumah sakit lagi, tp gpp setiap kejadian pasti ada hikmahnya dan mereka jadi baikan gara2 kejadian itu..

  5. aigoo.. benar2 apes taemin.. tidak didorong sulli terus dipukul minho…
    taemin dan sulli benaran pabo~
    gara2 taemin sulli pergi dan diganggu preman..
    gara2 sulli taemin masuk rumah sakit, dan belum sadar..
    mana sama2 saling menyalahkan diri~
    jadi penasaran..
    next yah~

  6. huaaaaaaaaaa saya mewek disini.. dan ini kedua kalinya taemin digebukin gara2 nolongin sulli ya… mesti sulli sedih banget deh.. :3
    kok minho masih ada di korea.. kan harusnya dia udah balik (liburan dua minggu, minggu depannya prom —> dia udah dateng k prom berarti sisa liburan masih ada 1 minggu… ini udah 2 minggu dari waktu prom —-> waktu minho kelebihan seminggu di korea) :3

  7. Selama baca shady girl aku belum pernah baca yang sad ending… tapi apa shady girl emang dibikin nggak ada yang sad ending eonn?
    Ya syudahlah aku berdoa taemin cepet sembuh dan aku mau kepoin part selanjutnya duluuu…~

  8. Ya ampun Taemin sampai koma ? Sebegitu parahkah ? Sumpah lgi seru”nya nangis,karna feelnya tuh dapet bnget😥 tapi malah tbc -_-

  9. Ucapan Taemin k Sulli,,emng ktrlluan c,,jd wjar klo Sulli marah..
    Emng udh nasib ya,,klo Taemin jd langganan rmh skit,,hiks hiks hiks
    gk tega bnr liatnya…

Your comment

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s