Another Story In Shady Girl (Kibum’s Story) // Beautiful CEO – Beginning

Another Story In Shady Girl Kibum’s Story
Tittle : Beautiful CEO – Beginning
Author : Dha Khanzaki a.k.a Shin Je Young
Genre : Romance, NC 17
Length : Oneshot

Main Cast :

  • Kim Kibum
  • Cho Jarin

Support Cast :

  • Choi Sooyoung

Sesuai dengan permintaan, Another Story Kibum aku bikinin nih.. tapi berhubung mereka belum nikah, jadi harus berpuas hati encenya cuma ence 17 aja yah.. ^_^

Ini juga gak terlalu panjang ceritanya. hati-hati  typo.

Happy Reading ^_^

Another Story In Shady Girl - Beautiful CEO by Dha Khanzaki

===Oneshot===

“Dengar Jarin, Kibum sudah berjanji. Jika sampai terjadi sesuatu padamu, itu artinya kau yang menyerang lebih dulu.”

Jarin mencibir dalam diam kata-kata yang diucapkan Kyuhyun, kakak laki-lakinya hari itu sebagai peringatan untuknya. Tetapi Jarin tidak peduli karena ia memang ingin terjadi sesuatu padanya. Itulah satu-satunya cara agar ia bisa menikah dengan kekasihnya, Kim Kibum.

Mereka sudah menjalin hubungan cukup lama, bahkan sudah masuk ke dalam tahapan dimana mereka tinggal di bawah atap yang sama. Awalnya ia tinggal bersama Kyuhyun, namun semenjak Kyuhyun menikah ia pindah ke rumah Kibum dan pria itu tidak keberatan sama sekali. Jarin bisa kembali ke rumah kedua orang tuanya namun ia menolak ide itu dengan alasan jarak antara rumah Kibum dan kampusnya jauh lebih dekat.

“Kapan kita akan menikah?”
Kibum memandang wajah Jarin selama beberapa detik sebelum kembali menikmati makan malamnya.
“Yah, kita tunggu sampai kau lulus kuliah,” ujarnya tanpa memandang Jarin. Gadis itu menghela nafas berat. Sebenarnya ia mengharapkan jawaban lain yang lebih masuk akal selain itu. Memang ada masalah jika mereka menikah sebelum Jarin menyelesaikan studinya? Jika Kibum mempermasalahkan soal biaya pernikahan, seharusnya Kibum tidak usah cemas. Jarin sebenarnya sudah menjadi seorang CEO di usianya yang masih muda dan Kibum sendiri bukankah seorang dokter? Biaya tentu bukan masalah. Jika Kibum mempertimbangkan usia Jarin, sepertinya itu juga bukan persoalan. Usianya sudah 24 tahun dan istri kakaknya saja usianya jauh lebih muda darinya.
Jarin harus menahan diri untuk bertanya. Karena itu ia hanya menghela nafas lalu melanjutkan makan malamnya.
“Baiklah, aku mengerti.” Jarin memperlihatkan senyumnya untuk membuktikan pada Kibum bahwa ia akan bersabar.

Kibum mengangkat wajahnya menatap Jarin yang duduk di seberang. Sebenarnya, alasannya memang bukan hal dangkal seperti pendidikan Jarin. Ia tidak mau Jarin tahu bahwa orang tua Kibum belum mengizinkan dirinya menikah sebelum kakak tertuanya—Heechul menikah dan sampai kapan ia harus menunggu? Ia kenal seperti apa watak Heechul. Sampai detik ini Heechul belum juga menunjukkan tanda-tanda ingin membina rumah tangga sampai-sampai ibunya harus mengatur kencan buta untuk putra pertamanya itu. Ia merasa bersalah sudah berbohong pada Jarin dan gadis itu percaya dengan baik padanya. Tanpa keluhan ataupun wajah tersinggung.
“Kita akan segera melamarmu jika sudah tiba waktunya,” Kibum mengecup kening Jarin setelah ia selesai makan kemudian mereka membersihkan piring-piring dari atas meja.

—o0o—

“Belajar lagi? Sekarang sudah malam.” untuk yang kesekian kalinya Kibum melihat lampu kamar Jarin masih menyala. Rupanya malam ini Jarin kembali bergadang, entah untuk menyelesaikan apa. Dua hari yang lalu Kibum mendapati Jarin tidur setelah jam berdenting dua belas kali. Begitu ditanya keesokan harinya, ternyata Jarin tidur malam demi menyelesaikan tugas kampusnya.
Jarin menoleh, ia tersenyum singkat pada Kibum yang duduk di tepi tempat tidurnya.
“Bukan, ini bukan tugas kampus. Ini laporan yang dikirimkan sekretarisku sore tadi. Harus diperiksa karena besok akan ada rapat dan laporan ini pembahasan utamanya.” Jarin kembali fokus pada lembaran di tangannya.
Kibum paham dengan tanggung jawab Jarin yang terlalu besar, tapi jika terus seperti ini ia mengkhawatirkan kesehatan Jarin.
“Bukankah kau selalu mengeluhkan kulitmu yang kering?” tanya Kibum, “Jika kau ingin kulitmu cantik jangan biarkan udara malam mengusiknya.”
“Ya..” Jarin protes ketika Kibum tiba-tiba saja menariknya dari depan meja lalu membaringkannya di atas tempat tidur. Jarin belum sempat berpikir apapun tahu-tahu tubuhnya sudah diselubungi selimut hangat.
“Aku harus menyelesaikan laporannya,”
“Tidak, tidak. Kau harus tidur. Besok masih ada waktu untuk menyelesaikannya.” Kibum membaringkan kembali Jarin yang berniat bangkit dari tempat tidurnya. Kenapa gadis ini keras kepala sekali? Apa susahnya ikuti perintahnya sekali saja? Tidak ada cara lain untuk membungkam Jarin selain dengan cara yang disukai; menciumnya.

Jarin membelalakkan mata saat Kibum menghempaskan tubuhnya lagi ke atas tempat tidur lalu mencium bibirnya. Seketika ia tidak memberontak lagi karena kerja otaknya langsung kacau balau. Jarin bahkan lupa dengan laporan yang harus diperiksanya. Kini, ia hanya tahu Kibum sedang menciumnya, melumat bibirnya dengan lembut dan perlahan. Membuat Jarin seperti melayang di atas awan. Entah kapan terakhir kali ia melewati saat-saat romantis seperti ini. Sepertinya sudah lama sekali. Jarin baru merasa dirinya menyentuh bumi kembali ketika pagutan lembut itu terlepas. Kibum menjauhkan wajahnya untuk menatap wajah cantik Jarin yang kini merona kemerahan. Ia tersenyum, begitupun Jarin.
“Kalau kukatakan pada orang-orang kau pria yang agresif, sepertinya tidak akan ada yang percaya,” Ucap Jarin membuat senyum Kibum semakin lebar. “Lihat apa yang kau lakukan tadi, itu lebih dari sekedar ‘good night kiss’.”
“Ya, memang tidak akan ada yang percaya. Itulah kehebatanku,” Kibum mengedipkan mata, menundukkan kepalanya lagi untuk memberikan ciuman lembut di leher Jarin. “Hanya kau yang tahu aku seperti apa.”

Jarin melenguh halus, seulas senyum terbit di bibirnya. Siapapun memang tidak akan ada yang percaya kalau Kibum itu seperti ombak, diam-diam namun menghanyutkan. Lihat wajah innocentnya, orang akan mengira Kibum pria yang tenang, baik, dan berpikiran lurus. Kibum menjauhkan wajahnya, memberikan sentuhan akhir di bibir Jarin.
“Dokter Kim, bagaimana kalau malam ini kita tidur bersama?” Jarin merayu sambil mengalungkan tangan di leher Kibum, bermaksud mencegahnya agar tidak beranjak lagi. “Kau sudah membuatku melupakan laporan yang harus kuperiksa.”
“Usaha yang bagus, Cho Sajangnim.Tapi kita belum menikah, kalau kau lupa.” Kibum menjawil hidung mancung Jarin dengan gemas. Jarin selalu mengajaknya tidur bersama. Bukan ‘tidur’ dalam arti yang tersirat, tapi memang tidur satu ranjang tanpa melakukan apa-apa. Seberapa kali pun Jarin mengajak atau memaksa, Kibum tidak akan mengabulkannya.
“Huh, pria kuno,” Cibir Jarin dengan bibir mengerucut, “Jika itu pria lain pasti langsung mengiyakan tanpa membantah.”
“Kalau begitu siapapun dia, orang itu tidak mencintaimu sepenuh hati.”

Jarin mengerjap mendengarnya. Ucapan Kibum memang selalu benar. Jika ada pria yang langsung setuju diajak tidur bersama dengan gadis yang bukan istrinya, pria itu tidak benar-benar mencintainya.
“Kau benar lagi,” ucap Jarin sambil mendesah, setengah mengalah setengah jengkel. Tetapi dia tetap tidak membiarkan Kibum beranjak dari atasnya. Tangannya terus melingkar di leher Kibum sejak tadi.
“Hajiman, bisakah kau berhenti memanggilku Dokter Kim? Aku bosan mendengarnya di rumah sakit.”
“Aku malas menyebut namamu, mengingatkanku pada seseorang yang dilarang kusebut namanya.”
“Siapa?” Kibum penasaran.
“Bukankah kau sudah tahu?” Kening Kibum mengerut bingung. Ia mencoba mengingat-ingat siapa saja teman Jarin yang dikenalnya. Tapi Kibum tetap tidak bisa mendapatkan jawabannya. Ia menatap Jarin dengan alis bertautan, mengharapkan jawaban. Jarin mendesah pasrah meskipun ia enggan mengungkit-ungkin kenangan menyebalkan itu, terpaksa ia menceritakannya kembali untuk sekedar mengingatkan Kibum.
“Itu, pria bernama Key. Namanya juga Kim Kibum.”
Tak cukup waktu lama untuk membuat Kibum membelalakan mata. Tentu saja ia tahu pria bernama Key itu. Key adalah mantan pacar Jarin.
“Oh, pria yang sudah membuatmu menangis di hari pernikahannya?” tanya Kibum memastikan dengan nada tak bersalah. Jarin kembali mendengus kencang.
“Jangan bahas lagi, menyebalkan sekali.” Seharusnya ia tidak perlu membahas kembali kisah cintanya di masa lalu. Key, panggilan untuk Kim Kibum adalah pria yang memutuskannya dengan cara yang sadis. Pria itu berselingkuh di belakangnya, membuat Jarin merasa begitu buruk dan bertanya-tanya; Apa kesalahan yang diperbuatnya?
Hal dasar itulah yang membuat Jarin begitu membenci nama Kim Kibum. Ia bertekad tidak akan pernah menyebut nama itu lagi seumur hidupnya. Tapi kenapa ia harus jatuh cinta pada pria yang bernama Kim Kibum? Mungkin itulah yang disebut karma. *baca Shady Girl Kibum’s Story*

Kibum terkekeh, ia merasa lucu sekali setiap melihat Jarin mendengus jengkel karena kisah cintanya di masa lalu. Tapi itu jauh lebih baik daripada tidak pernah memiliki kisah cinta sama sekali. Seperti dirinya. Bagi Kibum, Jarin adalah cinta pertama dan terakhirnya.
“Baiklah, karena sudah malam aku juga harus tidur. Besok banyak pasien yang harus kutangani,” Kibum terpaksa melepaskan tangan Jarin di lehernya lalu bangkit.
“Dokter Kim..” rengek Jarin. Kibum yang hampir mencapai pintu keluar menoleh sejenak dan memberikan senyum terbaiknya untuk Jarin.
“Tidak ada penolakan.” Tegasnya singkat, jelas, dan padat. Setelah itu Kibum mematikan lampu kamar Jarin lalu menutup pintu. Jarin mendengus di tempatnya. Meskipun tidak suka tapi toh pada akhirnya Jarin menurut juga. Ia membaringkan diri dan mencoba memejamkan mata.

—o0o—

“Bagaimana rapatnya?”
Di sela waktu istirahatnya, Kibum menyempatkan diri menelepon kekasihnya. Ia duduk di balik meja di ruangannya yang steril dan rapi. Bukannya pergi makan siang seperti dokter lainnya, ia justru memilih diam di kantornya dengan ponsel menempel di telinga.
“Lancar sekali. Appa juga kelihatan senang sekali,” suara Jarin yang ceria terdengar di telinganya, membuat senyum Kibum terbit. Syukurlah jika memang lancar. Sebab pagi tadi ia melihat Jarin gugup sekali. Kekasihnya itu sampai harus meminum obat penenang.
“Tapi..” Jarin terdengar sedih dan bingung. Kibum mendadak cemas. “Kenapa?”
“Aku diminta pidato saat pembukaan hotel baru kami nanti, bagaimana ini?”

Kibum mendesah lega. Ia pikir ada apa. Rupanya hanya diminta pidato. “Memimpin perusahaan sebesar Cho Corp saja bisa. Jika hanya pidato pasti mudah sekali untuk seorang Cho Jarin. Kau pasti bisa.” Dukungnya tulus. Ia yakin Jarin pasti bisa. Tidak ada yang tidak dilakukan, asal berusaha segalanya pasti lancar.
“Ah, kenapa aku justru semakin gugup setelah mendengar nasihatmu. Apa bekal yang kubuatkan sudah kau makan?”
Kibum menoleh pada kotak bekal yang belum dibuka di atas mejanya. Sebenarnya tadi ia berniat memakan bekal itu dulu sebelum menelepon Jarin. Nah, sekarang apa yang harus dikatakannya?
“Um, ya..sedang kunikmati,” Kibum terpaksa berbohong karena ia tidak mau Jarin sedih. Ia tahu Jarin sedang belajar memasak untuk persiapan menjadi istrinya nanti.
“Apa enak?” tanyanya cemas. Kibum tertawa pelan. “Lezat seperti biasa. Kau tidak perlu belajar lagi sebenarnya.” Kali ini Kibum tidak berbohong. Masakan Jarin tidak buruk meskipun tidak selezat buatan chef professional. Setidaknya ia masih bisa beraktivitas tanpa merasa sakit perut.
“Syukurlah. Malam ini kau ada waktu? Aku ingin makan malam bersama untuk merayakan kesuksesan hari ini.”
“Em..” Kibum melirik selembar jadwal yang disiapkan asistennya, Sooyoung. Ia tidak melihat ada jadwal pemeriksaan lagi setelah jam 7. “Baiklah, rasanya tidak masalah.”
“Good, sampai bertemu nanti.” Jarin memberikan kecupan jauh dan Kibum hanya tersenyum geli.

Kibum masih tersenyum tak jelas sampai seseorang mengetuk pintu ruangannya. “Ya?” serunya cepat. Sooyoung masuk dengan beberapa laporan di tangannya.
“Maaf mengganggu dokter Kim, tapi laporan ini harus diperiksa. Dokter kepala membutuhkan pendapatmu.” Ucap Sooyoung sambil menyerahkan laporan itu.
Kibum menerima semuanya dan langsung mengecek satu persatu dengan cermat. Sepertinya ia harus menunda acara makan siangnya dulu.
“Baiklah, aku akan menemui dokter kepala sekarang.” Kibum bangkit dan ketika dia melewati Sooyoung, ia mendengar bunyi perut keroncongan dari arah gadis itu. Kibum berhenti melangkah lalu menoleh.
“Kau belum makan siang?” tanyanya heran. Sooyoung menunduk malu.
“Maaf dokter Kim, tadi aku harus mengecek kondisi terbaru pasien. Jadi belum sempat.”
Kibum termenung sejenak lalu menoleh pada bekal yang masih belum disentuhnya. Sayang sekali jika tidak dimakan karena sepertinya ia tidak sempat makan siang. Kibum mengambil kotak bekal itu lalu memberikannya pada Sooyoung.
“Makanlah. Mungkin aku akan makan siang dengan dokter kepala saja.”
“Omo Dokter Kim..” Sooyoung merasa tidak enak namun Kibum sudah terlanjur pergi keluar ruangannya.

—o0o—

Langit begitu gelap dengan bintang bertaburan menghiasinya. Jika Kibum bisa melukis mungkin dia sudah mengabadikannya di atas kanvas. Namun nyatanya yang bisa ia lakukan hanya memandangnya dengan senyum simpul sebelum akhirnya memarkirkan mobil, turun lalu masuk ke dalam rumah.
Kibum harus berseru takjub melihat meja makan penuh dengan berbagai macam hidangan yang wanginya membuat perut keroncongan. Sepertinya Jarin benar-benar berniat merayakan keberhasilannya.
“Chagi, kau berniat mengajak orang lain untuk makan malam? Kenapa makanannya banyak sekali?” seru Kibum karena ia tidak melihat Jarin ada di dapur ataupun ruang makan. Ia meletakkan tasnya di salah satu kursi ruang makan lalu menyampirkan jas di sandaran kursi. Kemana perginya Jarin? Jika dilihat dari sebagian besar makanan yang masih mengepulkan asap, jelas sekali makanan ini baru saja di masak. Jarin pasti sedang pergi ke kamarnya.

Kibum merasakan sepasang tangan menyentuh pinggangnya dari belakang lalu memeluknya erat. Wangi parfum yang dikenalinya pun tercium batang hidungnya. Tubuhnya menegak. Ia tak perlu menoleh untuk tahu siapa pelakunya.
“Jarin..” lirihnya gemas. Kekehan pelan terdengar menggelitiki telinga. Jelas itu suara tawa khas Cho Jarin.
“Kita akan makan malam romantis, Oppa..” bisiknya sengaja menghembuskan nafas di telinga Kibum. Ia tertawa sendiri merasakan tubuh Kibum bereaksi dalam dekapannya. Bohong jika Kibum tidak terpengaruh. Bagaimanapun dia pria normal berdarah panas. Kibum tersadar Jarin sedang menggodanya karena itu ia cepat-cepat melepas tangan Jarin dari pinggangnya lalu berbalik.
“Jarin, kau mulai lagi mengganggu—“ aliran kata-kata Kibum terhenti karena kini ia tercengang melihat penampilan Jarin. Mulutnya nyaris menganga melihat Jarin terbalut pakaian yang minim dan tipis, bahkan bra dan underwear Jarin terlihat jelas. Ia tahu jenis baju ini disebut lingerie. Kenapa Jarin memakai baju ini? Apa maksudnya?
“Jarin, kita akan makan malam bukan? Kenapa kau memakai baju setipis ini? Kau bisa masuk angin,” ucapnya mengalihkan desiran aneh yang menggelitiki seluruh syaraf di tubuhnya. Mendadak Kibum merasakan dorongan untuk menarik Jarin ke kamarnya lalu melakukan sesuatu—entah apa itu—jika terus berlama-lama memelototi Jarin. Ia beralih menatap mata hitam Jarin dengan pandangan bertanya.

Jarin mengedikkan bahu seolah ia memakai piyama biasa. “Aku merasa cuaca malam ini sedikit panas. Jadi aku memakai ini. Lagipula sayang sekali kubeli jika tidak kupakai.”
Kibum mengerutkan kening. Apanya yang panas? Jelas-jelas cuaca sekarang berangin dan Kibum merasa tubuhnya menggigil saat di luar tadi. Jawaban yang masuk akal hanya satu; Jarin sudah gila.
“Well, sebaiknya kita mulai saja makan malamnya.” Jarin mendudukkan Kibum di salah satu kursi dan dia ikut duduk di sana.

Selama makan malam, mereka mendiskusikan banyak hal. Tentang pekerjaan kantor Jarin, kegiatan di kampusnya, sampai beberapa hal yang mulai menyebalkan bagi Jarin seperti permintaan Ayahnya agar Jarin segera kembali tinggal di rumah dan petuah kakak laki-lakinya—Kyuhyun yang menyuruh Jarin agar tidak menggoda Kibum jika masih ingin tinggal bersamanya. Sejauh ini, Jarin tidak peduli sama sekali tetang pendapat Kyuhyun dan Ayahnya.
Kibum tidak bisa memperhatikan cerita Jarin dengan seksama karena pikirannya berkali-kali teralihkan pada pakaian ‘mengundang’ yang dikenakan Jarin. Ia harus mencubit tangannya sendiri—secara diam-diam—untuk membuatnya tetap berpikir jernih. “Kau jelas sedang melanggar peringatan Kyuhyun.” ucap Kibum.
“Yah, memang.” Aku Jarin. Ia berhenti menikmati makanannya. Kali ini ia menatap Kibum sungguh-sungguh, “Bagaimana kalau kita melakukannya.” Ajaknya membuat Kibum tersedak. Pria itu terbatuk-batuk dan Jarin segera memberikan segelas air untuknya.

Kibum meneguk buru-buru air itu sampai ia bisa bernafas dengan lega. Jarin benar-benar sudah gila! Bagaimana bisa mengatakan kalimat tidak bertanggung jawab tanpa beban seperti itu sementara dirinya sebagai pendengar hampir saja terkena serangan jantung.
“Jarin kumohon, jangan bicara melantur.” Mohon Kibum, nyaris frustasi. Ia tak habis pikir. Apa yang Jarin harapkan dengan mengatakan hal itu. Kepalanya pening mendadak.
Jarin mendesah panjang, putus asa. “Habis, hanya itu cara yang kupikirkan agar kita bisa menikah. Bukankah kau pernah bilang jika aku hamil, mungkin orang tua kita akan mengizinkan kita menikah.”
Kibum membelalakkan mata, “Cho Jarin, saat itu aku hanya bercanda. Aku tidak mau merusak sesuatu yang belum kumiliki seutuhnya.” Harus memakai kalimat apa agar Jarin mengerti maksudnya?
“Tapi aku sudah menjadi milikmu seutuhnya.” debat Jarin tidak sabar. “Kalau begitu ayo katakan yang jelas kenapa kau masih belum mau mengajakku menikah? Apa yang masih kurang dalam diriku?”

Kibum kehilangan kata-kata mendengar ucapan tak sabar Jarin. Ia mengurut keningnya sebentar sambil mencari kalimat yang bagus untuk menjawabnya. Ia tidak mau mengatakan alasan sesungguhnya kenapa ia masih belum bisa melamar Jarin, tapi dengan begitu secara tidak langsung ia akan membocorkan masalah keluarganya, terutama masalah yang berkaitan dengan kakak sulungnya—Heechul.
“Kupikir kita akan merayakan keberhasilanmu malam ini,” akhirnya Kibum memilih mengalihkan pembicaraan. Jarin mencelos. Sikap Kibum yang selalu menghindar setiap kali ia membahas masalah pernikahan membuat Jarin terluka. Ia sudah cukup lama bersabar namun hingga detik ini Kibum masih belum bisa jujur kepadanya.
“Kupikir kau mempercayaiku.” Balas Jarin dengan nada terluka. Kibum menoleh menatapnya dan terkejut melihat mata Jarin berkaca-kaca.
“Jarin…”
“Kupikir usahaku untuk membuatmu mempercayaiku malam ini berhasil. Kupikir…” Jarin menghapus airmata yang terlanjur mengalir lalu meletakkan sendoknya di samping mangkuk nasi lalu bangkit.
“Kupikir aku harus tidur cepat malam ini. Maaf, malam ini tidak ada apapun yang harus dirayakan.”
“Jarin..” Kibum bergetar melihat Jarin berbalik dan masuk ke dalam kamarnya. Ia menatap piring-piring makanan yang masih terisi dengan perasaan bersalah. Ia tidak mengharapkan pertengkaran ini sama sekali. Ia bukannya tidak bisa mempercayai Jarin. Ia hanya belum siap menceritakan alasan sebenarnya. Ia tahu, lebih tahu dari siapapun bahwa Jarin ingin sekali menikah dengannya dan begitupun dirinya. Tapi, apa yang harus dilakukannya jika kedua orang tuanya belum mengizinkan? Kibum bangkit lalu berjalan ke arah pintu kamar Jarin.

“Chagi,” Kibum mengetuk daun pintu beberapa kali. “Maafkan aku.” ucapnya. Ia mencoba memutar kenop pintu. Ternyata pintu itu tidak dikunci. Kibum melongokkan kepalanya ke dalam kamar dan ia melihat Jarin duduk di tepi tempat tidurnya.
“Kau tidak sadar aku sedang marah padamu?” gerutu Jarin melihat Kibum berjalan ke arahnya. Sekilas Kibum bisa melihat kekasihnya itu menangis.
“Kau menangis?”
“Oh, maaf kalau kau ternyata memacari gadis cengeng dan egois sepertiku.” Sahutnya ketus.
“Jarin, kau mulai lagi,” ucap Kibum sambil bersedekap. Kedua tangannya melipat di depan dada. Ia sangat hafal pola merajuk pacarnya ini. “Kita selalu bertengkar karena masalah sepele ataupun salah paham.”
“Yeah, maaf jika aku menyusahkanmu. Aku memang gadis merepotkan. Kau tidak perlu meminta maaf kalau begitu,” Jarin mencoba mengabaikan Kibum dengan naik ke atas tempat tidurnya.

Kibum menatap Jarin penuh arti. Ia memahami sifat kekanakan Jarin. Gadis itu pasti marah karena ia kembali menolak ajakan Jarin tidur bersama. Bukan masalah ia tidak mau, tentu saja siapa yang menolak. Tapi Jarin harus tahu, banyak yang harus dipertimbangkan sebelum melakukan tindakan gegabah sebelum waktunya. Jarin pasti akan kehilangan sesuatu yang berharga yang tak bisa dikembalikan lagi oleh uang. Ia kira Jarin paham maksud penolakannya tapi ternyata tidak. Sejujurnya, ia agak kecewa. Sejauh ini ia sudah coba memahami Jarin dan menghadapinya dengan sabar.
“Asal kau tahu Jarin, aku sangat mencintaimu dan aku pasti menikahimu. Sebelum waktu itu tiba, aku tidak ingin merusakmu. Kau milikku yang paling berharga. Apa bedanya nanti dengan sekarang. Ini hanya masalah waktu dan aku ingin kau paham, cinta bukan dibuktikan oleh hubungan satu malam saja. Tetapi sepertinya kau tidak mengerti,” Kibum mendesah pelan sementara Jarin menahan nafasnya. Ia merenung, ucapan Kibum lagi-lagi benar.

Sudut bibir Kibum tertarik membentuk senyuman melihat bahu Jarin mengegang. Kalimatnya tadi pasti sudah memukul perasaannya dengan telak. Tidak butuh waktu lama lagi ia akan melihat Jarin yang berbalik meminta maaf padanya. Ia membuang nafas berat, sengaja.
“Ah, salahku memacari gadis cengeng dan cepat sekali tersinggung. Sayang sekali padahal aku berniat memberikan hadiah malam ini..” ujarnya pura-pura tidak peduli. Jarin terperanjat kaget. Secepat kilat ia membalikkan badan, menatap nanar punggung Kibum yang menjauhi dirinya keluar dari kamar. Bagaimana ini, Kibum benar-benar tersinggung!!
Jarin menyibakkan selimut cepat lalu bergegas menghampiri Kibum sebelum mereka bertengkar panjang.

Tanpa sepengetahuan Jarin, Kibum tersenyum menang. Berdiri di samping pintu kamar Jarin dengan punggung menyandar pada tembok. Dalam hati ia menghitung kapan Jarin akan berlari menghampirinya sambil meminta maaf dengan wajah panik. Satu..dua..tiga.. empat..lima…
“Chagi..mianhae!!!!” sosok Jarin melesat dengan cepat keluar dari kamarnya. Jarin bahkan tidak menyadari sejak tadi Kibum berada di samping pintu kamarnya. Kibum tersenyum menatapi punggung Jarin yang mencari-carinya.

Pandangan Jarin mengabur saat sadar Kibum tidak ada di ruang tengah, dapur, ataupun ruang makan. Ini salahnya. Ia memang tidak pantas untuk dicintai karena sifat kekanakannya. Itulah sifat yang harus ia hilangkan jika ingin Kibum cepat menikahinya.
“Mianhae..” lirihnya sambil terisak. Tetes demi tetes airmata mengalir di pipinya.
“Sudah tahu kesalahanmu?” sebisik kata-kata terdengar pelan di telinganya. Hembusan nafas hangat menerpa tengkuknya membuat tubuh Jarin menegang untuk beberapa saat. Sepasang tangan pun melingkar memeluk pinggangnya dengan lembut. Tubuh Jarin melemas saat sadar Kibum kini sedang mendekapnya dari belakang. Mendengar suara Kibum dan menyadari keberadaannya, entah kenapa tangisan Jarin justru meledak.
“Hei, kenapa menangis?” Kibum mencoba menyentuh dagu Jarin lalu menolehkan kepala Jarin menghadapnya namun dengan cepat juga gadis itu berpaling. Ia tidak mau memperlihatkan ekspresi memalukannya pada Kibum. Ia sangat jelek saat menangis. Kibum membalikkan badan Jarin menghadapnya.
“Kau tahu, kau sangat jelek saat menangis,” ujar Kibum sambil menatap lekat Jarin yang sesenggukan. “Orang-orang tidak akan percaya gadis jelek ini seorang CEO,” candanya berharap Jarin berhenti menangis.
“Siapa peduli..hiks..memang CEO tidak boleh menangis..”
Kibum tergelak. Tangannya yang melingkari punggung Jarin menariknya mendekat agar tubuh mereka saling menempel. Jarin belum mempersiapkan apapun ketika tangan Kibum yang lain menyentuh dagunya, lalu bibirnya menyentuh material lembut yang langsung bergerak melumatnya. Tangisannya seketika terhenti, seolah tertelan habis oleh ciuman lembut yang Kibum berikan padanya. Kelopak mata Jarin perlahan tertutup dan tangannya yang semula terjepit antara tubuhnya dan tubuh kekar Kibum perlahan melingkari leher Kibum, ikut menariknya agar pagutan mereka tidak terlepas.

Lama kelamaan pergumulan mesra itu lebih didominasi oleh Jarin dan Kibum hanya bergerak mengimbangi saja. Keduanya saling berperang lidah dan mengulum bibir satu sama lain seperti menikmati manisnya lolipop. Tangan Kibum awalnya bertengger manis di pinggang Jarin tanpa melakukan apapun. Namun lambat laun ia tertarik juga untuk menyentuh bagian lain, hal yang terjadi diluar kesadarannya.
“Ahh..” desahan pertama Jarin terdengar bersamaan dengan tangan Kibum yang menyusup masuk ke dalam kain tipis yang dikenakan Jarin, menyentuh kulit halus yang ada di baliknya lalu merambah naik mencapai benda kenyal yang ia tahu adalah dada sintal milik Jarin.

Tubuh Jarin bereaksi dengan semestinya begitu tangan Kibum menyentuh kulitnya. Jarin memang pernah mengkhayalkan hal ini, tapi ia tidak tahu rasanya akan..membuat bulu romanya merinding. Salah dia sendiri mengapa sengaja memakai pakaian yang mengundang. Pria normal mana yang akan mengabaikannya apalagi sekarang mereka sedang sibuk saling melumat bibir.
Kibum sendiri lupa dengan kata-katanya tidak akan menyentuh Jarin secara berlebihan. Ia harus menahan tubuh Jarin hampir jatuh lemas ketika ciumannya turun ke leher jenjangnya.
“Chagi..ahh..” Jarin merasa tidak sanggup berdiri lagi jika Kibum terus menerus menciumi kulit lehernya. Kibum sepertinya paham karena mendadak Jarin merasa tubuhnya diangkat dan detik berikutnya ia sudah berbaring di atas sofa ruang tengah. Baiklah, ia tak peduli malam ini Kibum akan melanggar kata-katanya sendiri atau tidak. Yang pasti sekarang ia merasa sangat gembira. Akhirnya, Kibum mampu melawan batasnya sendiri.

Kibum memagut bibir Jarin lagi lalu melepaskannya. Kini mereka saling menatap. Jarin merasa pandangannya masih mengabur. Ia masih harus memompa paru-parunya yang kosong udara setelah serangan Kibum yang membuatnya kesulitan bernafas. Perlahan, setelah ia bisa melihat dengan jelas, Jarin berdebar mendapati senyum manis Kibum yang disukainya.
Kibum tidak mengatakan apapun, hanya menelusuri setiap senti wajah Jarin yang terpahat sempurna dengan tatapan penuh kekaguman. Ia tidak akan melanjutkan jika Jarin menolaknya meskipun hanya berupa sebuah tatapan. Ia sedang mencari ekspresi itu tapi ia justru mendapatkan sorot penuh pengharapan Jarin. Aku tidak akan mencegahmu melakukannya, begitulah kira-kira arti pandangan Jarin.
Jarin mengangkat tangannya meraih kancing kemeja Kibum yang paling atas lalu melepaskannya satu persatu. Kibum tidak keberatan, malah memperhatikan apapun yang dilakukannya dengan senyuman lembut. Jarin merasa pipinya memanas sendiri saat ia menggerakan tangannya menyentuh dada bidang Kibum yang terpampang di depannya.
“Kau selalu membuatku tampak seperti wanita agresif,” gumamnya malu karena Kibum terus menatapnya tanpa mengucapkan apapun. Kibum memegang tangan Jarin yang ada di dadanya, lalu memenjarakan kedua tangan Jarin di sisi kepalanya. Ia menautkan jari-jari mereka dan perlahan menundukkan tubuhnya.
“Memang begitu kenyataannya,” Kibum berbisik di sudut bibir Jarin sebelum akhirnya kembali menempelkan bibirnya dengan milik Jarin, mengulum bibir bawahnya untuk beberapa saat dengan agak menggebu lalu melepaskannya kembali. Tangannya menyentuh tali lingerie Jarin lalu menurunkannya. Kibum mencium sepanjang bahu Jarin yang polos dengan lembut sementara Jarin hanya melenguh menikmati. Penjelajahan Kibum berlabuh di atas dada Jarin yang masih tertutup bra. Jarin menantikan apa yang akan dilakukan Kibum dengan hati berdebar. Ia pikir Kibum akan melepaskan branya ternyata tidak, Kibum menggunakan tangannya menyentuh bagian itu, lalu meremasnya lembut. Sekujur tubuh Jarin seperti tersengat listrik bertegangan rendah. Ia menggelinjang merespon sentuhan kecil itu.

“Chagii~hhh..” Kibum yang gemas melihat Jarin menggigit bibirnya sambil memejamkan mata karena terangsang kembali mencium bibirnya dengan gemas. Ia sendiri merasa adrenalinnya terpacu bisa menyentuh buah dada Jarin yang lembut di tangannya. Ia tidak mau berlama-lama di sana demi menahan diri agar tidak bertindak jauh. Sekarang tangannya merambah turun menelusuri perut Jarin. Tubuh Jarin menggeletar ketika ia mengusap perutnya. Jarin sedikit menarik tengkuknya mendekat sebagai respon. Mereka saling menatap kembali saat Kibum menjauhkan wajahnya untuk menatap wajah kemerahan Jarin. Mereka sama-sama terengah dan berkeringat.
“Aku percaya padamu, meskipun kau melanggar kata-katamu sendiri,” ucap Jarin dengan suara pelan, nyaris berbisik. “Kau tahu kenapa? karena aku mencintaimu—enghh..” Jarin tidak bisa menahan desahannya dan tubuhnya bergetar hebat menerima sentuhan dahyat. Tangan Kibum diam-diam mengusap selangkangan Jarin, hanya mengusapnya namun menimbulkan efek yang luar biasa bagi Jarin. Tubuhnya masih terlalu sensitif untuk sentuhan-sentuhan mendadak semacam ini. Ia belum terbiasa.
“Aku juga mencintaimu,” bisik Kibum lalu mencium keningnya. Jarin bisa merasakan kasih sayang dari ciuman itu. “Dan kau tahu aku orang yang tidak suka melanggar janji.” Tepat setelah mengatakan itu, Kibum bangkit dari atasnya lalu merapikan pakaiannya. Jarin tercengang melihat perubahan sikap mendadak Kibum. Kenapa tiba-tiba…

Jarin bahkan tidak mengatakan apa-apa ketika Kibum berbalik menghadapnya, merapikan bajunya, atau bahkan saat Kibum mengangkat tubuhnya dari sofa seperti pengantin-pengantin baru dan membaringkannya kembali di atas tempat tidur di kamarnya.
“Sekarang sudah malam, sebaiknya kau tidur..” Kibum menyelimuti tubuh Jarin lalu memberikan good night kiss seperti biasanya. Jarin masih belum menemukan kata-kata untuk menjawab Kibum. Ia baru sadar ketika Kibum bangkit dari tempat tidurnya, ia segera menahan tangan Kibum.
“Apa hadiah untukku?” tanyanya. Kibum terkesiap, ia hampir saja lupa dengan hadiah yang sudah dijanjikannya. Kibum merogoh saku celanya lalu mengeluarkan benda kecil berkilau membuat Jarin mengerjapkan mata berkali-kali. Ia tidak salah lihat, tidak mungkin. Benda yang dipegang Kibum adalah sebuah…cincin.
“Chagi..” ucap Jarin terbata. Kibum berlutut di samping tempat tidur Jarin. Dengan sorot mata tulus, ia meraih tangan Jarin lalu menyematkan cincin itu di jari manisnya.
“Anggap saja sekarang aku sedang melamarmu. Kau bukan lagi kekasihku, kau adalah tunanganku..”

Kibum sungguh penuh kejutan!! Jarin benar-benar kehabisan kata-kata. Ia tidak bisa membendung titik airmata haru yang meluncur dari sudut matanya. Terlebih ketika Kibum menarik tangannya lalu mengecupnya.
“Saranghae, my princess..” Kibum berdiri lalu ia mengecup bibir Jarin kembali. Gadis itu hanya bisa terdiam, menerima semuanya dengan perasaan bahagia meluap seperti geyser yang menyemburkan air setinggi sepuluh meter.
“Nado..” Jarin tanpa ragu lagi memeluk Kibum seerat yang ia bisa. Jika boleh, ia ingin rasanya memanjat ke atas genteng rumah lalu berteriak sekencang mungkin pada dunia bahwa ia bahagia bisa mendapatkan pria seperti Kim Kibum.

Malam ini, adalah malam terindah baginya.

The end..

88 thoughts on “Another Story In Shady Girl (Kibum’s Story) // Beautiful CEO – Beginning

  1. Suka bangettt karakter seorang Kim Kibum disini ,, Tipe Pria Idaman ,, 8-|˘°˘⌣Ĥ♏M♏⌣˘°˘8-| Jarin agresif wiii !!
    Nice ff .. Sukses buat ff yang lainx !!

  2. Kibum daebak..*prokprok

    Aq kira kibum bakal lepas kendali, tpi ternyata dy bisa ngelawan nafsu’a demi ngejaga jarin..
    Sweet >//<

    Next..😉

  3. Aaa kibum bikin gue envy aja, ada yang cowok di goda sama cewek sendiri tp tahan. bener kata kibum kalo mislkan cewek itu ngajak hal begituan cowok nya gak nolak dan belum nikah itu nama nya cowok nya gak mencintai si cewek.. aa thor kata2 mu ^,^
    Sweet banget si kibum

  4. Romantis nya dokter kibum ^^ Ampe geregetan gue ama jarin gegara die ribet banget ngebet pengen begituan *ceileh. Salut banget sama kibum yang selalu menepati janjinya *suamiidola, kirain gue si kibum bakalan melanggar janjinya gegara kepepet😄. Keren ceritanya dan makasih ya authornim *deepbow #Keepwritingauthornim

  5. benar kata kimbum kalau lelaki hanya ingin tidur bersama pacarnya berarti dia tak benar2 mencintai pacarnya. aku suka sekali kata2 ini
    kimbum selalu menepati janjinya

  6. Argggh…
    Gila eonn, ini yeoja agresif😀 kim kibum ketularan jarin wkwk eh? Haha..
    Ayo ayo, semoga heechul dapat jodoh dan married ya. Biar mereka bisa married juga😀 YEAY !

  7. Aaaaaa…….!!!!!!!!~>___<~ kibum kau benar"penuh kejutan ,tanpa di duga melamar dengan tiba"seperti itu?lalu tiba"menjadi liar dan berhenti ditengah"seperti itu??Waaahhhh….kau memnag luar biasa kim kibum

Your comment

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s