Shady Girl Taemin’s Story (Part 4)

Tittle : Shady Girl Taemin’s Story Part 4
Author : Dha Khanzaki a.k.a Shin Je Young
Genre : Romance, Friendship

Main Cast :

  • Lee Taemin
  • Choi Sulli

Support Cast :

  • Choi Minho
  • Park Jiyeon

Yuk kita baca bareng-bareng.. ^_^

Shady Girl Taemin5

===Part 4===

*Sulli POV*

Gugup dan ragu. Dua emosi itu berputar-putar terus di dalam benakku. Rupanya begini rasanya saat akan mengakui hal yang menjadi rahasia terdalam dari hati. aku tahu sekarang bagaimana rasanya menjadi penjahat saat harus mengakui kejahatannya di hadapan hakim di persidangan. Tunggu dulu, mengakui bahwa aku menyukai Taemin itu bukan suatu kejahatan, bukan? Untuk apa aku merasa gugup, takut atau pun ragu?
Tapi pada kenyataannya, jantungku berdebar kencang dan seluruh tubuhku rasanya lemas saat kata-kata itu hampir saja meluncur keluar melalui tenggorokanku. dan akan ada perasaan lega luar biasa saat kalimat itu berhasil kuutarakan. Maka dari itu, aku harus mengatakannya atau aku akan gelisah seumur hidup. Choi Sulli, hwaiting!!

—-o0o—

*Author POV*

Minho menatap Sulli lekat-lekat dan menyadari sepupunya itu gugup luar biasa. Bibirnya bergetar saat ia akan mengucapkan kalimat itu. kalimat pengakuan.
“Aku, ingin membuat namja yang kusukai…melihatku” ucapnya sungguh-sungguh. Minho mengerjap, karena ia melihat ketulusan dan kesungguhan hati dalam sorot mata gadis di hadapannya. Ia tersenyum dalam hati. rupanya, Sulli memang menyukai namja itu dengan segenap hatinya. Entah kenapa ia merasa bahagia.

Suasana sempat hening. Sulli melihat Minho mengerjapkan mata berkali-kali, entah terkejut atau bingung. dan ia sekarang tidak sabar ingin mengetahui reaksi dari sepupunya itu. Minho membuka mulutnya lalu berkata.
“Apa namja itu buta? Atau dia berkacamata? Ah, atau mungkin matanya minus?” tanya Minho dengan wajah polosnya. Sebelum Sulli menjawab, Minho buru-buru menambahkan. “Kalau memang dia tidak bisa melihatmu, bawa saja dia ke dokter mata. Untuk apa kau repot-repot mengajakku segala.”
Kali ini gantian Sulli yang melongo. Darahnya tiba-tiba saja mendidih mendengar jawaban yang entah polos atau bodoh dari mulut sepupu yang ia percayai ber-IQ tinggi itu.

“CHOI MINHOOOO!!!” teriakan Sulli akhirnya menggema juga. Minho sampai harus mundur dari tempatnya duduk sambil menutup telinga rapat-rapat. Ia meringis dan matanya agak menyipit. Teriakan Sulli bisa mengalahkan teriakan guru Kimia-nya di Inggris sana.
“Kau ini bodoh atau apa sih? Aish..” Sulli mengacak-acak rambutnya sendiri, frustasi. “Bukan itu maksudku! Kau minta kucekik, eoh?!” Sulli menatap Minho dengan mata horornya.
Minho tertawa lepas hingga terpingkal-pingkal di atas tempat tidur. melihat tingkah bodoh sepupunya itu Sulli berusaha menahan mati-matian hasratnya untuk menghajar Minho. Ia terus menghasut dirinya sendiri bahwa ia adalah yeoja penyabar, berpendidikan tinggi, dan memiliki kepribadian anggun. Ia hanya menatap Minho dengan mata disipitkan, mirip dengan pengawas killer saat ia mengikuti ujian masuk universitas dulu.
“Berhenti menertawakanku atau aku terpaksa menyapa wajah tak berdosamu itu dengan tinju ini.” Ancam Sulli sambil mengangkat kepalan tangannya. Minho berhenti tertawa. Ia bangun lalu duduk seperti semula meskipun tawa menyebalkan itu masih juga keluar dari mulutnya.
“Mianhae, aku terbawa suasana.” Ucapnya sambil menyeka airmata yang keluar karena terlalu puas tertawa. Ia menatap Sulli ramah. “Jadi, kau bisa menurunkan tinjumu itu sekarang.”

Sulli menghela napas, lalu kembali menatap Minho. “Sekarang bisa kita serius?”
Minho mengangguk. “Oke. Jadi kau ingin membuat namja yang kau sukai itu melihatmu?” tanya Minho memastikan. Sulli yang emosinya sudah terkendali mengangguk.
“Seperti itu kira-kira. Yah, aku hanya ingin dia tahu kalau aku ada. Dia tidak perlu mencari siapapun lagi. dia tidak perlu mencari kiri kanan untuk menemukan orang yang mencintainya. Karena sudah ada aku. Aku sudah ada bersamanya sejak dulu. dan aku bertanya-tanya apa yang membuatnya tidak bisa melihatku? Atau menyadari aku ada bersamanya.” Jelas Sulli panjang lebar. Minho menggeleng prihatin mendengarnya.
“Demi Tuhan, Sulli. Namja itu memang harus di bawa ke dokter mata!!” ucapnya lagi-lagi mengulang kalimat menyebalkan yang membuat Sulli ingin sekali meninjunya. Menyadari reaksi Sulli yang menakutkan, Minho buru-buru mengangkat sebelah tangannya agar Sulli meredam emosinya dulu.
“Jangan protes dulu, kali ini aku serius.” Ucapnya. Ia menatap Sulli dari atas hingga bawah. “Apa yang salah dengan dirimu? Kau ini cantik dan sempurna. atau lebih tepatnya, apa yang tidak dia lihat dari dirimu?”

Sulli mendesah berlebihan. “Justru itu yang ingin aku tahu. tapi hanya satu hal yang bisa kupastikan kenapa.” ia mendesah lagi. “Aku jatuh cinta pada namja polos, lamban, dan tidak peka.”
Minho menutup mulutnya dengan tingkah dramatis. “Aigoo, kalau begitu kita harus membuatnya sadar!” ia mengepalkan tangannya erat. “Kalau begitu, aku bersedia membantumu.”
“Jinjja??” seru Sulli tak percaya. Minho mengangguk yakin.
“Kita buat namja itu sadar bahwa selama ini dia sudah mengabaikan satu makhluk cantik di sampingnya.”

—-o0o—

“Loh, Nuna, kau mau kemana?” tanya Taemin heran. Hari ini ia datang lagi ke rumah Eunhyuk untuk menjadi pembantu gratisan di rumah kakaknya itu. namun saat kakinya menginjak teras depan rumah, ia melihat kakak iparnya berdiri di depan rumah. Mengunci pintu.
Mira menoleh saat menyadari Taemin berada di dekatnya. “Oh, aku akan ke rumah sakit.”
Taemin melebarkan matanya, kaget. “Kenapa? Nuna sakit lagi?”
Mira menggeleng sambil tersenyum lebar. “Kau tidak tahu ya? Istri Sungmin Oppa sudah melahirkan tadi pagi.”
“Hee?” seru Taemin kaget bercampur takjub. “In Sung Nuna sudah melahirkan? Jinjja, jinjja? Wah, aku harus menjenguknya. Nuna, aku ikut bersamamu ya? Oh, sini itu biar aku yang bawa..” Taemin mengambil alih kado yang di bawa Mira untuk istri dari Sungmin, pengacara pribadi Eunhyuk itu.
Untung hari ini Taemin membawa mobil Mustang Convertible kesayangannya. Jika tidak, ia tidak akan tega membiarkan kakak iparnya naik taksi ke rumah sakit.

—o0o—

Di Seoul General Hospital.

kamar rawat itu tampak penuh oleh orang-orang yang datang menjenguk. In Sung dan Sungmin menerima banyak ucapan selamat dan kado dari teman-teman dan sanak saudara mereka. Wajah mereka pun di hiasi rona bahagia. Terlebih karena ini adalah moment paling menggembirakan bagi seorang wanita. Di mana In Sung bisa mengumumkan pada dunia bahwa ia adalah wanita yang sempurna, bisa melahirkan satu nyawa untuk melihat dunia ini.
“Ternyata kau benar, Haebin.” ucap In Sung sambil menatap sahabat baiknya itu. Haebin yang sedang menggendong bayi laki-laki In Sung itu menoleh.
“Melahirkan itu jauh lebih menyakitkan daripada saat membuatnya.” Ucapnya polos.

Uhuk..uhuk..

Sungmin terbatuk-batuk mendengarnya. Sementara yang lain terbelalak kaget tak terkecuali Taemin. Ia tahu maksudnya, tapi tidak perlu mengatakan segamblang itu kan.
Haebin tertawa. “Hahahah..sudah kubilang juga apa.” ucapnya membenarkan. “Tapi untung kau selamat.” Tambahnya. “Itu yang paling penting.”
Kibum mengangguk. “Saat proses persalinan, Hyung sangat gugup dan ia terus berkeringat dingin.” Kibum ingat dengan jelas bagaimana gugupnya Sungmin saat detik-detik In Sung akan melahirkan. Sungmin gelagapan.
“Ya! Wajar saja, aku takut sekali jika menghadapi situasi seperti ini.” Ucapnya. Ia lalu mengusap kening In Sung dan mengecupnya cepat. “Tapi untung kau tak meninggalkanku seperti Taeyeon.” Ucapnya tulus. In Sung tersenyum.
“Tidak akan Oppa.” Ucapnya malu-malu.
“Appa..Minnie juga ingin di kisseu..” ucap Minki polos. Tadi dia menyaksikan saat Sungmin mengecup kening In Sung dan dia ingin juga. sungmin tersenyum lalu mengecup puncak kepala putrinya itu.
“Nah, Minnie senang sekarang punya Dongsaeng?” tanya Sungmin. Minki mengangguk.
“Ne. Sekarang Minnie tidak akan iri pada Oppa lagi.” ucapnya. “Minnie sudah punya dedek bayi yang lucu seperti Hae Young.”
Donghae tertawa pelan sambil geleng-geleng kepala. Dia memang sering mendengar keluhan lucu dari Minki bahwa ia ingin memiliki dedek bayi seperti Hae Young, putranya. Sekarang, dia sudah memiliki adik dan Donghae yakin Minki pasti bisa jadi kakak yang baik.

“Ah, aku jadi tidak sabar ingin menimang bayi juga.” keluh Eunhyuk. Ia melirik Mira yang sedang asyik melihat bayi di pangkuan Haebin. Ia harus bersabar, beberapa bulan lagi ia pasti akan merasakannya juga. Mengingat kandungan istrinya itu sudah menginjak usia 2 bulan.
“Aku jadi iri. Kapan ya, aku merasakannya?” lamun Kibum. Ia menerawang jauh ke depan, jangankan menjadi ayah, menikah saja belum. Ia melirik layar ponsel yang menampilkan foto cantik kekasihnya, Cho Ja Rin. Sekarang gadis itu pasti sedang sibuk menghadiri rapat atau semacamnya. Sejak menjadi direktur di perusahaan Appanya, Ja Rin sibuk sekali. Sampai-sampai berkencan dengannya pun jarang.
“Hei, Kyuhyun. kau kapan menyusul?” tanya Siwon melihat Kyuhyun menatap iri pada Sungmin dan In Sung sejak tadi. Kyuhyun menoleh.
“Menyusul apa? menjadi ayah?” tanyanya. “Kau saja belum.” Dia malah membalikkan pertanyaan. Siwon mendelik.
“Hei, aku baru menikah. Sedangkan kau sudah lama menikah”
Kyuhyun mengibaskan tangannya. “Ah, itu karena Hyun Jung dan aku masih ingin berdua saja” elaknya. Hyun Jung tersenyum menanggapi jawaban suaminya.
“Omo, Sunbae, jangan bilang kau tidak tahu caranya.” Celetuk Sun Hee membuat semua orang tergelak sementara Kyuhyun terbelalak kaget.
“Yak!! Siapa bilang begitu!!” protesnya. “Aish, ini menjengkelkan!!” Kyuhyun menggerutu sendiri. teman-temannya itu bukannya bersimpati malah mengamini ucapan Sun Hee. Kyuhyun sekarang baru tahu kalau ternyata Sun Hee itu sama bermulut tajam seperti adiknya, Ja Rin.
“Oppa, jangan dengarkan mereka. Memang benar kan, kita memang masih nyaman berdua. belum menginginkan kehadiran bayi dalam rumah kita.” Hibur Hyun Jung. Kyuhyun mengangguk dengan wajah penuh haru. Tak sia-sia ia menikahi gadis sepengertian Hyun Jung. Ia selalu memahami dirinya meskipun orang-orang di sekitarnya mulai meremehkan ataupun mengucilkannya. Ah, ia tahu ia sangat mencintai yeoja ini.

Taemin sadar, dia satu-satunya yang masih ‘belum dewasa’. Tentunya selain Minki, Hae Young, dan In Ho, bayi lucu yang baru saja lahir itu. daripada terus berada dalam situasi yang tak dimengertinya, lebih baik ia keluar saja. namun saat melihat ke arah pintu, ia mengerjap kaget karena tanpa sengaja ia melihat seseorang mengintip dari kaca pintu.
Siapa itu? Taemin yang penasaran beranjak pergi dan membuka pintu dengan satu gerakan cepat. Bersamaan dengan itulah, ia mendengar suara seseorang yang terhempas jatuh di hadapannya. matanya melotot kaget saat mengenali sosok itu.
“Ho, Park Jiyeon!!” serunya.
“auch..” Jiyeon masih mengaduh di lantai. Taemin segera membantunya berdiri. Ia takjub dan heran juga melihat Jiyeon ada di sana. Kebetulan yang menyenangkan.
“Sedang apa kau di sini? Mengintip segala. Oh, kau sakit?” Taemin sungguh penasaaran. Jiyeon gelagapan karenanya. Ia dengan cepat menunjukkan jarinya yang di plester pada Taemin.
“Aku ke rumah sakit untuk ini. Jariku teriris pisau.” Ucapnya. Taemin mengerutkan keningnya, bingung.
“Teriris pisau saja kau kemari? Ajaib sekali.” Taemin tertawa pelan melihat ekspresi polos Jiyeon. “kau kemari bukan untuk menguntit Siwon Hyung, kan?”
“Apa? oh, tentu saja tidak” sanggahnya cepat. Melihat kegugupan di wajahnya Taemin merasa yakin anggapannya benar.
“Kau ingin bertemu Hyung? Kurasa dia akan senang bisa melihatmu lagi.” ucapnya.
“Ah, tidak usah. Lagipula aku harus segera pulang.”
“Pulang? Ke Inggris?”
“Bukan. Ke penginapan. Aku berencana berkeliling Seoul hari ini.”
Taemin mengerjap. “Oh, Kau ingin kutemani? Kebetulan aku bebas siang ini.”
“Loh, lalu bagaimana dengan..” Jiyeon menunjuk ke arah ruangan tempat orang-orang berkumpul itu dengan kikuk. Taemin mengibaskan tangannya, menganggap remeh hal itu.
“Jangan pikirkan. Kajja”

Mereka sedang bercanda gurau sambil berjalan menuju lobi rumah sakit saat tanpa sengaja Taemin berpapasan dengan Sulli. Gadis itu sempat tercengang sesaat, namun lebih dulu membuang mukanya ke arah lain sambil mendengus sebal. Ia lalu menderap pergi melewati Taemin.
“Aigoo, apa-apaan dia..” desis Taemin sambil meringis. Padahal jika mau tadi dia bisa saja menyapa Sulli lebih dulu. namun rupanya gadis itu belum bisa memaafkannya. Jiyeon menoleh ke belakangnya, tepat ke arah sosok Sulli yang pergi menjauhi mereka. Mendadak, ia merasa sedih dan bersalah. Mungkin, karena dirinya mereka bertengkar. Ia harus melakukan sesuatu agar kedua sahabat baik ini kembali rukun.

—-o0o—-

*Sulli POV*

Melihat Taemin berjalan bersama gadis lain dengan wajah gembira membuatku kesal setengah mati. Aku berusaha menahan diri agar tidak menderap ke arahnya lalu mendorong gadis bernama Jiyeon itu. meskipun aku memiliki keberanian, apa aku cukup gila untuk melakukan tindakan konyol seperti itu? akhirnya aku hanya bisa menahan tangis dan menatapi kedua orang itu dengan airmata menggenang di pelupuk mata.

Lee Taemin, kapan kau akan tersadar?

—o0o—

*Author POV*

Sulli sudah bersiap dengan gaun, high heels dengan tinggi 3 cm dan make up natural yang dipoleskan oleh orang-orang di salon tempatnya berada sekarang. Ia menatap tajam pantulan dirinya sendiri di cermin dan meyakinkan diri bahwa harus ada seseorang yang menyesal dan mengaku kalah malam ini. Setelah selesai, ia bangkit dari tempat duduknya lalu menghampiri Minho yang sejak tadi sudah rapi dengan jas berwarna abu-abu dan sekarang sedang sibuk membaca majalah.
“Ayo kita berangkat.” Ucap Sulli menggebu. Ia sudah tidak sabar untuk memperlihatkan transformasinya ini pada Taemin. Minho mengangkat kepalanya dari buku lalu mendongak menatap Sulli. Ia mengerjapkan mata berkali-kali saat melihat perubahan Sulli. Ia takjub dan mulutnya setengah menganga.
“Bagaimana penampilanku?” Sulli mendadak ragu ketika melihat reaksi Minho. Namja itu berdiri, tetap menatapnya lekat lalu mengangguk. Jempolnya terangkat.
“Sempurna, Choi Sulli. Kau sangat cantik dan mempesona.” Ucapnya dengan senyuman manis. Sulli mendesah lega. Syukurlah, ia sempat takut penampilannya akan terlihat aneh.
“Tapi..” gumam Minho. Ia meletakkan tangan di dagunya, memindai sekali lagi penampilan Sulli secara menyeluruh. “Sepertinya ada yang kurang. Rambutmu.” Ucapnya sambil menunjuk rambut Sulli yang tergerai jatuh di bahunya.
Minho meringis lalu menoleh pada salah satu pegawai salon itu. “Permisi, bisa tolong ubah gaya rambutnya?”

—-o0o—-

Taemin menunggu dengan gugup di depan sebuah hotel kecil tempat Jiyeon menginap. Akhirnya, setelah meyakinkan gadis itu selama 2 hari, Jiyeon setuju juga menjadi partnernya ke prom night. Ia tidak mau menjadi bahan tertawaan Sulli. Ia ingin membuktikan pada gadis itu bahwa ia juga bisa mengajak gadis yang cantik dan anggun seperti Jiyeon.
“Maaf menunggu lama..”
Taemin menoleh dan ia langsung terpaku di tempat kala matanya menatap sosok Jiyeon dengan balutan gaun berwarna hitam dan rambut di ikat dan di sampirkan di sisi bahunya membuat gadis itu terlihat dua kali lipat lebih cantik dari sebelumnya.
“Park Jiyeon, benar?” tanyanya ragu. Ia tidak yakin kalau gadis di hadapannya ini adalah Jiyeon. Gadis itu tertawa ringan dengan pipi merona. Ia tersipu.
“Tentu saja ini aku. Kenapa? apa aku cantik?”
Taemin mengangguk cepat. “Kau sangat cantik. Kajja, kita harus segera berangkat.” Ucapnya lalu membukakan pintu mobil kap terbuka kebanggaannya.

“Kau belum berbaikan juga dengan Sulli?” tanya Jiyeon saat mereka sedang dalam perjalanan. Taemin mendesah pelan karena lagi-lagi ia mendengar pertanyaan yang sama dari mulut Jiyeon. Sebenarnya sudah lebih dari dua puluh kali Jiyeon menanyakannya semenjak bertemu dengan Sulli di rumah sakit waktu itu. dan jawaban Taemin kali ini pun tetap sama.
“Belum”
Jiyeon menghela napas. “Kau ini, seharusnya kalian segera berbaikan. Jika Sulli tidak memulainya duluan, maka kau yang harus memulainya.”
Erangan halus keluar dari bibir namja yang sedang fokus menyetir itu. “Haruskah? Dia yang lebih dulu marah padaku kenapa aku yang meminta maaf?”
“Sulli tidak akan marah jika kau tidak menyinggung perasaannya.” Ucap Jiyeon. Taemin menoleh. Keningnya berkerut bingung.
“Bagaimana kau tahu?”
“Karena aku yeoja.” Ucapnya singkat. Taemin mengangguk asal. Karena aku yeoja. Oh, tentu saja ia tahu hal itu. tak perlu di katakan pun ia tahu. Jiyeon menatap Taemin serius.
“Dengar baik-baik Lee Taemin. Mendapatkan sahabat yang bisa memahamimu dengan baik itu sulit. Sangat sulit. Kau sudah memilikinya, yaitu Sulli. Jika kau membiarkannya pergi dengan sukarela, aku yakin entah sekarang atau kelak, kau akan menyesal.” Nasihat Jiyeon.
Namja itu hanya mengangguk entah betul-betul memahami atau hanya pura-pura paham saja. baiklah, selanjutnya terserah Taemin. Yang penting ia sudah memperingatkannya sejak awal.
“Terima kasih atas nasihatmu, itu sangat membantu.” Ucap Taemin acuh tak acuh. Jiyeon menghela napas. Ternyata memberitahu namja tidak peka sepertinya itu sangat sulit.

—o0o—-

Aula kampus itu sudah di sulap dengan begitu apiknya menjadi sebuah ballroom yang hangat dan nyaman. Dengan dekorasi ala ballroom yang ada di cerita-cerita dongeng. Membuat siapapun yang memasukinya serasa di bawa ke dalam ruang dansa kerajaan yang terdapat di cerita-cerita dongeng terkenal. Ballroom mulai dipenuhi oleh siswa-siswi yang berdatangan dengan pasangan masing-masing. Para yeoja memakai gaun yang indah dan berwarna warni sementara para namja memakai setelan jas yang kasual dan membuat mereka tampak gagah dan tampan.
“Wah, tak kusangka prom night di Korea sama dengan di Inggris.” Gumam Jiyeon sambil berdecak kagum saat kakinya melangkah masuk ke aula ballroom itu. pemandangan di sana begitu warna warni seperti pelangi. Taemin tersenyum samar. Ia mengedarkan pandangan ke sekelilingnya mencari seseorang. Tapi, sosok yang paling ia cari itu tidak terlihat di sudut manapun. Ah, atau dia sedang menghindarinya saja? oh, mungkin juga dia tidak datang karena tidak berhasil merayu seseorang untuk pergi dengannya.
Seulas senyum tersungging di bibirnya saat otaknya berpikir begitu. Namun, sisi hatinya yang lain entah kenapa merasa sedih dan khawatir. ia merasa..senang dan sedih di saat yang bersamaan. Ini aneh dan tak normal.
“Kau mencari Sulli?” tanya Jiyeon. Taemin tersentak kaget. Memangnya, ia terlihat seperti tengah mencari Sulli?
“Tidak.” Elaknya. Jiyeon tersenyum simpul. Siapapun bisa membaca ekspresinya sekarang. Ekspresi cemas bercampur bingung. jelas sekali ia mengkhawatirkan sahabatnya itu.
Taemin menggelengkan kepalanya cepat. Ia tidak boleh begini. Jika memang Sulli tidak datang lalu urusan dengannya apa? itu artinya gadis itu sudah kalah atas tantangannya sendiri. bukankah begitu?
“Jiyeon, kau ingin minum apa? aku akan mengambilkan.”
“Terserah saja.”
Daripada di curigai, lebih baik Taemin pergi mengambil minuman saja. ia meminta Jiyeon menunggu di sana sementara ia pergi mengambil minuman.

Taemin bingung saat ingin memilih koktail atau jus saat ia mendengar suara desas desus orang-orang di sekitarnya.
“Ssst..kau lihat gadis yang memakai gaun hitam itu? dia cantik sekali.” Taemin tersentak kaget. Ia mengangkat kepalanya lalu menoleh ke samping. Ia melihat beberapa pria bergosip tentang Jiyeon sambil menatapnya penuh minat. Ah, sudah pasti mereka terpesona pada gadis itu. Jiyeon sangat cantik malam ini.
“Ekhem..” Taemin berdehem membuat pria-pria yang sepertinya seniornya itu menoleh. Taemin dengan bangganya melenggang melewati mereka sambil membawa 2 gelas minuman. Ia menyeringai saat melihat tatapan kaget namja-namja itu kala ia berhenti di depan Jiyeon lalu memberikan minuman padanya.
Huh, maaf. Tapi yeoja ini bersamaku. Seru Taemin senang dalam hati.
“Terima kasih, tapi Taemin..aku tidak bisa minum alkohol setetespun.” Ucap Jiyeon saat sadar gelas yang di terimanya berisi koktail. Taemin terkejut. loh, bukankah tadi dia mengambil dua gelas jus jeruk?
“Mianhae. Aku..melamun tadi.” ucapnya linglung. Aish, ia sudah kacau. Gara-gara tadi melamunkan Sulli, ia jadi salah mengambil minuman.

“Wah, yeoja itu cantik sekali.”
Lagi-lagi Taemin mendengar kalimat itu. mendadak ia ingin sekali pamer pada semua orang bahwa gadis cantik yang di bicarakan itu adalah pasangannya. Tapi saat ia menoleh, perhatian orang-orang itu tidak tertuju pada Jiyeon. Melainkan ke sebuah arah tepatnya ke arah pintu masuk aula.
Taemin memutar kepalanya ke arah pintu masuk dan seketika matanya melebar. Apa ia tidak salah lihat? tidak mungkin. tapi ia tidak mungkin salah mengenali orang. Ia hapal betul siluet tubuh yeoja yang melenggang anggun ke dalam ballroom itu. ia tidak mau percaya tapi matanya tidak akan salah.
Astaga, yeoja cantik itu… Choi Sulli!!!

—o0o—

*Sulli POV*

Percaya dirilah, Choi Sulli. Minho sudah berbaik hati membantuku memperbaiki penampilan dan menemaniku ke acara prom night. Namun, entah kenapa rasanya aku takut. Aku tidak sanggup menunjukkan diriku padanya meskipun aku ingin sekali membuat namja lamban itu terpukau. Tapi, rasanya kejam sekali jika aku sengaja mengubah penampilanku hanya untuk membuatnya sadar.
Lee Taemin, jika sampai malam ini kau tetap menjadi namja bodoh, aku tidak akan memaafkanmu!

—-o0o—

*Author POV*

“Sulli, ayo keluar.”
Suara tegas Minho membuatnya tersentak kaget dan seketika tersadar dari lamunan yang membuatnya diam sepanjang perjalanan menuju prom night. Sulli mendongakkan kepalanya menatap wajah tersenyum Minho. Ia tersenyum kikuk lalu meraih tangan Minho yang terulur padanya, membantunya turun dari mobil. Minho memang sangat sopan. Ia tahu tatakrama dengan jelas, membuat Sulli serasa menjadi putri. Tapi sayang, namja tampan dan sopan itu adalah sepupunya.
“Siap untuk memberi namja itu pelajaran?” tanya Minho lagi. sulli sudah berdiri di depan gedung serbaguna kampusnya. Ia mengangguk yakin.
“Aku siap. akan kubuat Taemin bertekuk lutut malam ini juga.” ucapnya dengan mata menyipit geram.
“Ah, jadi namanya Taemin..” gumam Minho. Ia baru tahu nama namja yang di sukai Sulli itu. ia mengulurkan lengannya pada Sulli dan gadis itu dengan senang hati menggandengnya. Mereka melenggang masuk ke dalam aula itu.

Sulli menghela napas lega, rupanya ia tidak lupa dengan pelajaran berjalan ala putri yang dipelajarinya saat di sekolah khusus perempuan dulu. buktinya, sekarang ia masih bisa berjalan seimbang, anggun, dan mempesona meskipun memakai high heels. Tak lupa ia pun menyunggingkan senyum yang sudah ia latih di depan kaca selama 2 mingguu terakhir untuk melengkapi penampilannya. Dan sukses, saat mereka berdua menginjak aula pesta itu, semua mata seketika tertuju padanya dan Minho.
Kebanyakan dari mereka menganga, terkesima, dan terpukau. Bahkan ada yang tampak menahan napas. Entah mereka terkesima padanya atau pada Minho. Suasana mendadak ribut dengan suara orang-orang yang berbisik dan membincangkan penampilan Sulli.
“Lihat, mereka terpesona.” Bisik Minho tanpa menengokkan kepalanya pada Sulli. Ia tetap mempertahankan senyumnya. Satu hal positif yang Minho miliki, ia bisa tampil penuh percaya diri di depan umum. Sementara Sulli sangat gugup sekarang.
“Jadi, mana Taemin-mu itu?” Minho mengedarkan pandangannya ke sekeliling meskipun ia tidak tahu mana yang bernama Taemin.

Sulli berani mengangkat kepalanya menatap ke sekeliling. Ia tersenyum sekilas pada orang-orang dan saat matanya berhenti pada suatu sudut, sudut di mana ia melihat sosok namja itu, jantungnya berdebar kencang dan mendadak saja ia merasa lututnya lemas. Taemin, sahabatnya itu berdiri kaku di tempatnya dan sebenarnya bukan itu yang membuatnya merasa ingin jatuh terkulai lemah, tapi karena tangan Taemin menggenggam erat tangan yeoja di sampingnya, Jiyeon.
“Sulli..” desis Minho saat ia merasa tangan Sulli yang menggenggam lengannya bergetar. Ia mengikuti arah pandang Sulli dan baru tahu penyebabnya. Sekarang ia juga tahu namja yang membuat sepupunya ini kalang kabut. Jadi itu yang bernama Taemin. Ah, lihat..dia sekarang bersama seorang yeoja yang cantik. Pantas saja Sulli mati-matian ingin tampil anggun malam ini.
“Ayo kita ke sana.” Ucap Minho dengan seulas senyum mencurigakan di bibirnya.
Sulli tersentak kaget. “Eh, Minho..” belum sempat ia menolak, Minho sudah menariknya berjalan menyeberangi ruangan menuju ke arah namja itu, Lee Taemin.

—o0o—

Taemin masih berdiri kaku di tempatnya. Tanpa ia sadari ke dua tangannya mencengkram apapun yang sedang di pegangnya. Tidak peduli itu gelas minuman ataupun tangan Jiyeon. Ia merasakan tenggorokannya sesak dan sesaat ia lupa bernapas. Ia sangat terkejut dengan penampilan Sulli saat ini.
Gadis itu terlihat sangat cantik, feminim, anggun, dan mempesona. Gaun putihnya jatuh dengan sempurna di tubuh ramping dan tingginya. Ia memakai high heels cantik yang sepadan dengan model gaun yang dipakainya. Lalu rambutnya, seingat Taemin rambut Sulli pendek sebatas bahu saja. tapi mengapa sekarang rambut gadis itu panjang, berkilau dan ikal menggantung di ujungnya. Juga terselip hiasan rambut berbentuk bunga yang cantik di sisi kepalanya. membuat Sulli tampak seperti..putri pada umumnya.
Tapi saat ia menoleh pada sosok yang sekarang sedang bersama Sulli, mendadak saja napasnya memburu kencang. Tunggu dulu, siapa namja itu!! dan kenapa dia bisa datang bersama dengan sulli dan mereka..bergandengan tangan!!!
Napasnya kian tercekat saat ia menyadari namja itu menatapnya dengan senyum misterius dan kemudian mereka berjalan mendekat!

Taemin baru sadar dari alam pikirannya ketika Sulli dan seseorang yang digandengnya sudah berada tepat di hadapannya.
“Hallo.” Sapa namja itu ramah. Taemin mengatupkan bibirnya rapat-rapat. Demi apapun, ia ingin tahu bagaimana cara Sulli bisa menemukan namja yang..ehm..keren seperti namja di hadapannya ini? Dan bagaimana caranya dia bisa mengajaknya?????
“Ha-halo..” Taemin terkesiap ketika ia tahu suara yang dikeluarkannya terdengar serak dan terbata. Aigoo, jangan bilang ia gugup atau merasa…kalah..
“Kau Taemin, benar bukan. Perkenalkan..aku Minho, em..pasangan Sulli malam ini.” Namja itu masih dengan senyum ramah mengulurkan tangan pada Taemin. Terpaksa namja itu menjabat tangannya.
“Lee Taemin. Dan ini Jiyeon, pasanganku juga.” ucapnya mengenalkan Jiyeon. Sulli tersentak kaget melihat Taemin dengan entengnya mengenalkan Jiyeon pada Minho. Apa namja itu belum sadar juga?

Minho menjabat tangan Jiyeon lalu ia menoleh pada Sulli. “Sulli sayang, kenapa diam saja?” tanyanya dengan suara di buat mesra. Gantian Taemin yang tersentak kaget. Sulli sayang? Sulli sayang!!!! Apa maksud kalimat itu?!
Jiyeon tersenyum canggung saat melihat Taemin menggeram tanpa di sadari olehnya sendiri. namja ini cemburu, batinnya.

To be continued..

58 thoughts on “Shady Girl Taemin’s Story (Part 4)

Your comment

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s