Miracle Love Story (Part 1)

Tittle : Miracle Love Story Part 1
Author : Dha Khanzaki a.k.a Shin Je Young
Genre : Romance

Main Cast :

  • Kim Kibum
  • Park Heerin

Support Cast :

  • Cho Kyuhyun
  • Lee Donghae
  • Choi Siwon
  • Lee Hyukjae/Eunhyuk
  • Ham Eunjung

Author demen banget ya bikin ‘before story’ dari FF Cherry Blossom. Kalau yang udah pernah baca FF itu pasti tahu pasangan paling fenomenal Kibum-Heerin. Nah, Ini adalah FF yang khusus menceritakan awal mula pasangan ajaib itu pacaran. Settingnya mundur beberapa tahun dari FF Cherry Blossom sendiri. Di sini Kyuhyun dkk masih pada SMU kelas 3.

Kalo yang minta after story dari FF Show Me Your Love, kan udah author bilang, cerita lanjutannya itu FF Cherry Blossom. Baca aja FF itu ^_^

Happy Reading

Miracle Love Story by Dha Khanzaki

===Part 1===

Musim gugur tahun ini masih sama dengan tahun-tahun sebelumnya. Tidak ada yang berubah. Bunga sakura tetap indah melepaskan dirinya dari ranting saat tertiup angin.
Kim Kibum menyaksikan keindahan itu dengan senyuman manis yang bisa melumpuhkan setiap gadis yang melihatnya. Tak bisa dibantah. Laki-laki satu ini memang sangat sangat tampan. Dari balik kaca mobil, matanya yang jernih hanya menatap pemandangan jalan yang dilaluinya sambil sesekali menghela napas panjang.
“Kenapa Tuan?” tanya sopir pribadinya.
“Ani. Aku mungkin rindu pada Appa dan Umma di California,” jawabnya lemah. Yah.. Memang itu kenyataannya. Sudah 4 tahun ini ia tinggal sendirian di Korea sementara Orangtuanya sibuk mengurus cabang perusahaan di Amerika. Ia kesepian, dan sangat merindukan mereka.

—o0o—

Sekolah St. President adalah sekolah khusus golongan elit yang kebanyakan datang dari keluarga yang memiliki kekayaan turun-temurun dengan fasilitas sekolah yang lengkap dan berstandar internasional. Sistem pendidikan yang ketat dan peraturan yang ketat pula. Kibum sekarang murid tahun terakhir sekolah itu dan dia adalah murid terpintar dan sudah tiga tahun ini mengantongi gelar sebagai juara umum di St. President.
“Kibuum.” Teriakan gadis-gadis yang mengaguminya menggema saat Kibum tiba di sekolah. Ia menoleh dan memberikan ‘killer smile’nya pada mereka. Otomatis jeritan histeris membahana di area itu. Kibum memang sangat populer di antara murid populer.
“Jangan ikuti aku lagi! Araseo! Ini lingkungan sekolah dan aku bukan anak TK lagi!” Kakinya baru menginjak gedung sekolah, sebuah teriakan yang menjurus pada bentakan terdengar. Tak perlu melihat pun Kibum tahu siapa pembuat onar yang satu ini. Kibum menoleh. Benar dugaannya, Cho Kyuhyun, salah satu sahabatnya sedang berdebat lagi dengan beberapa bodyguard yang selalu membuntutinya kemanapun dia pergi.
“Tapi tuan muda, Nyonya besar meminta kami untuk tidak melepaskan pengawasan terhadap Anda” jawab salah satu bodyguardnya.
“Aku tidak mau tahu! Sudah kalian pergi. Di sekolah seperti ini mana ada yang mau menculikku!” gerutu Kyuhyun sebal. Kibum tertawa kecil melihatnya. Ia lalu menghampiri Kyuhyun untuk menyelamatkannya.
“Tenang, di sekolah ada aku, Siwon, Eunhyuk dan Donghae yang akan mengawasinya” ucap Kibum.
“Tepat sekali!” Kyuhyun menjentikkan jarinya. “Ingat! Jangan ikut masuk!” ancam Kyuhyun. Mereka membungkukkan badan kemudian pergi.

Setelah bodyguard itu pergi, Kyuhyun mendengus sebal. Senyum simpul pun terbit di bibir Kibum melihat kekesalan sahabatnya.
“Ya ampun, umurmu sudah 17 tahun, kenapa masih diikuti bodyanguard? Eommamu terlalu mencemaskanmu,” ujar Kibum ketika mereka melangkah masuk ke gedung sekolah.
“Yah.. Begitu lah, Sejak aku pernah hilang dulu, Eomma jadi overprotektif. Padahal kejadiannya sudah lewat 12 tahun!” keluh Kyuhyun mengingat kejadian saat ia tersesat di taman ketika ia masih kecil.
Kibum hanya tertawa. Sebenarnya ia iri juga. Kyuhyun beruntung, orangtuanya sangat peduli padanya. Sementara dirinya pada kenyataannya tidak seperti itu.

—o0o—

“PARK HEERIN! What are you doing! How Stupid!!” teriak seorang perempuan pada perempuan lain yang sudah menabraknya.
“Ah, mianhae.. Aku tidak sengaja” Heerin, yeoja cantik itu hanya bisa menggumamkan kata maaf berkali-kali sambil membungkukan badan. Ia sangat menyesal. Sifat cerobohnya memang sudah terbilang akut.
“Lain kali gunakan matamu jika ingin berjalan! Jalanmu mirip sekali dengan banteng! Seruduk sanasini!” umpatnya lagi setelah itu pergi sambil mendengus kesal.
“Jeongmal mianhae, Ham Eunjung..” teriak Heerin pada yeoja yang ditabraknya itu. Kemudian ia beringsut membereskan buku pelajaran yang jatuh tadi. Helaan nafas kembali terhembus. Heerin tak pernah bermaksud membuat siapapun susah karena dirinya. Namun apa yang bisa dilakukannya? Ia pun membenci dirinya sendiri yang kerap kali bertindak ceroboh dan bodoh.
Heerin menggelengkan kepalanya, mencoba menepis sifat jeleknya yang lain. Terkadang ia selalu merendahkan dirinya sendiri dan itu bukanlah sifat yang baik. Ia kembali berjalan menuju perpustakaan sambil menghafal rumus dan mengemut lolipop. Maklum, jam pelajaran pertama ada ujian matematika dan ia belum hafal satupun rumus untuk ujian kali ini.
“Jadi.. Jika X1,2 sama dengan -b.. Akh.. Ulang..” Heerin mencoba menghafal rumus ABC sambil berjalan menuruni tangga. Ia tidak mau hasil ujiannya kali ini sama buruknya dengan ujian-ujian sebelumnya. Setidaknya jika ia mencoba belajar lebih keras, hasilnya tidak terlalu buruk. Tetapi lagi-lagi ia ceroboh. Karena tak memperhatikan tangga yang dituruninya, kakinya terpeleset dan ia jatuh dari tangga.
“kyaaa” Heerin menjerit mendapati dirinya tertarik jatuh. Ia belum siap menghadapi kemungkinan terburuk dari situasinya sekarang. Ia menutup mata. Kemungkinan ia akan jatuh bergulingan di tangga dan berakhir dengan tubuh penuh memar di ujung tangga. Ditambah rasa malu dan tertawaan dari murid yang berdiri di sekitarnya.
Tapi beberapa detik kemudian mengapa ia tak kunjung merasa sakit di badannya? Aneh sekali. Penasaran, Heerin secara perlahan membuka matanya. Ketika matanya terbuka lebar, ia membelalakkan mata.
Bagaimana mungkin! Sekarang ia sedang memeluk seorang pria. Teriakan histeris mungkin tidak akan begitu keras membahana ketika pria yang dipeluknya bukanlah seseorang yang populer. Tapi lain jadinya karena sekarang, Kim Kibum sedang memeluknya!! Perlu diulang, KIM KIBUM MEMELUKNYA!!
Semua orang tahu siapa Kim Kibum tak terkecuali dirinya. Heerin memekik histeris saat kesadarannya sudah pulih seutuhnya.
“Kyaa…!!!!”

—o0o—

Kibum sedang berjalan menuju ruang kelas di lantai 2 bersama Kyuhyun dan Eunhyuk, setelah tadi bertemu dengannya di lorong yang berderet loker di sepanjang sisinya. Mereka bersenda gurau dan saat menaiki tangga, terdengar suara gaduh seperti ada seseorang yang terjatuh. Kyuhyun yang berada di depan Kibum refleks menyingkir menyadari seseorang jatuh ke arahnya.
Kibum jelas kaget karena gadis yang tengah menuruni tangga di depannya terpeleset dan jatuh. Kibum Kira Kyuhyun akan menyelamatkan gadis itu namun rupanya ia salah. Kyuhyun justru menyingkir dan refleks tubuhnya bergerak menangkap tubuh gadis itu sebelum dia jatuh dan mencederai dirinya sendiri.
Tepat pada detik itu, gadis itu jatuh dan memeluk dirinya. Mendadak Kibum bergetar. Ia merasa ada listrik menjalar saat yeoja ini memeluknya. Beberapa detik gadis ini sepertinya masih syok karena tidak kunjung bergerak. Sorak sorai dari murid-murid St. Presiden yang kebetulan melihat adegan itu mulai terdengar. Kibum sudah mulai pegal dengan posisi ini. Ia melirik Eunhyuk dan Kyuhyun bermaksud meminta bantuan. Tapi sepertinya teman-temannya itu sengaja membiarkannya menderita sendirian. Punggungnya kesemutan berhubung tubuh gadis ini bertopang sepenuhnya padanya.
Kyuhyun, Eunhyuk dan orang-orang hanya melongo menyaksikan kejadian itu. Terutama para gadis. Mereka semua iri. Yah, siapa yang tak mau dipeluk seorang Kim Kibum.

Pegal. Batin Kibum. Tapi ia tidak berani bergerak. Tak lama yeoja ini bergerak juga. Ia menatapnya dengan pandangan mata kaget. Matanya yang besar dan bulat menunjukkan ekspresi kaget yang luar biasa. Sepersekian detik berikutnya, jeritan yang memekikkan telinga keluar dari mulut gadis itu.
Kibum menutup matanya rapat-rapat sementara Kyuhyun dan Eunhyuk menutup telinga.
“”Gwenchana?” tanya Kibum sopan.
Heerin masih belum bisa mengontrol detak jantugnya. Matanya yang bulat itu menatap Kibum seolah ingin sekali mengulitinya hidup-hidup. Ketika Kibum bertanya kembali, Heerin baru bisa menjawabnya dengan anggukan kepala yang kaku.
“Oh, ne” jawabnya itu dengan nada gugup namun belum juga mengubah posisinya. Akh, punggungku. Ringis Kibum dalam hati.
“Senang mendengar kau baik-baik saja. Hajiman, sebelum muncul gosip-gosip tidak bagus seputar insiden ini, bisakah kau lepaskan pelukanmu?” ujar Kibum sehalus mungkin dan seramah mungkin.
Heerin terkesiap sadar akan posisi memalukannya. Ia segera melepaskan diri lalu berdiri di posisi normal.
“Mianhae.. Jeongmal mianhae.. Dan.. Gomawo karena sudah menolongku,” ucapnya sambil menundukkan kepala dalam-dalam.
“Ne. Lain kali kau harus berhati-hati. Jangan membaca sambil menuruni tangga. itu berbahaya,” nasihat Kibum sambil tersenyum manis. Setelah itu ia pergi. Kyuhyun dan Eunhyuk menyusul di belakangnya.
Heerin masih belum bisa mencerna apapun dan mendapati dirinya syok di tempatnya berdiri.

—o0o—

Heerin menempelkan kepalanya di atas meja. Otaknya sudah dikuras habis oleh ujian matematika tadi. Sekarang yang tersisa hanya lelah dan kepala pusing.

Teng teng teng.. Kepada murid yang bernama Park Heerin kelas 3-4, di harap datang ke ruang guru sekarang juga. Terima kasih. Teng teng.

Heerin mengangkat kepalanya dan keningnya berkerut mendengar pengumuman itu baru saja menyebut namanya. Untuk apa dirinya datang ke ruang guru? Apa dia melakukan kesalahan? Seingatnya tidak.
“Heerin, kau dipanggil,” ucap Luna, teman sebangku Heerin.
“Ne. Araseo” jawab Heerin malas. Ia bangkit ogah-ogahan dan berjalan dengan langkah gontai. Tenaganya seperti terkuras habis. Hampir saja ia tersungkur setelah terantuk meja jika Luna tidak buru-buru menahan tangannya.
“Mau aku temani Heerin? Aku khawatir melihat keadaanmu,” cemasnya.
“Tidak usah. Aku baik-baik saja” jawab Heerin. Ia tidak mau merepotkan Luna.
“Kau yakin?” tanya Luna ragu.
“Iya. Percaya padaku!” Heerin berlagak kuat. Luna melepaskan pegangannya setelah yakin. Heerin kembali berjalan dengan segenap kepercayaan dirinya. Tapi..
Brukk!!
Luna terkejut dan ia menutup matanya sambil meringis melihat kepala Heerin membentur daun pintu.
“Auch!” Heerin meringis dengan tangan memegangi keningnya. Luna menghampiri Heerin cepat.
“Kubilang juga apa! Sudah, sekarang aku antar kau ke ruang guru!” Heerin tidak bisa berkutik jika sudah begini. Akhirnya dia diantar Luna hingga ruang guru.

Setibanya di ruang guru, Heerin berdiri dengan kening berkerut. Ternyata yang memangilnya adalah Nickhun Sonsaengnim, wali kelasnya.
“Duduk di situ, Park Heerin,” ujar Pak Nickhun menunjuk pada kursi di depan mejanya. Heerin menurut, ia masih merasakan pening di kepalanya sekaligus rasa sakit akibat benturan tadi.
“Ada perlu apa Bapak memanggilku kemari?” tanya Heerin. Pak Nickhun tidak menjawab dan hanya menyerahkan beberapa lembar kertas pada Heerin.
“Apa ini Pak?” Heerin bingung sambil melihat secarik kertas di hadapannya. Pak Nickhun mendesah berat sebelum menjawabnya.
“Itu hasil ujianmu minggu ini. Kau tahu, dari seluruh murid di kelas, nilai rata-rata ujianmu yang paling buruk,” jelas Pak Nickhun gamblang. Mata Heerin melebar. Secepatnya ia mengambil kertas ujian itu untuk melihat dengan mata kepalanya sendiri. Heerin merinding melihat nilainya sendiri. Ia bahkan sempat tidak percaya dengan matanya.

Sejarah : 58
Biologi : 44
Fisika : 42
Sastra : 55
Matematika : 36
Seni : 76

MWO!!

Heerin tak percaya. Sungguhkah ini hasil ujiannya kemarin? Tapi dilihat nama yang tertera di kertas itu tidak diragukan lagi ini memang hasil ujiannya.
“Kenapa bisa seburuk ini?” lirih Heerin.
“Itu yang ingin bapak tanyakan. Kenapa bisa seburuk ini? Nilaimu semester lalu tidak menyedihkan seperti sekarang” ujar Pak Nichkun. Heerin menunduk sedih. Akhir-akhir ini ia memang sulit berkonsentrasi karena suasana di rumahnya yang terlalu bising.

Keluarga Heerin adalah keluarga besar. Meski orangtuanya adalah Jutawan kaya, tapi di rumahnya yang besar itu di huni oleh beberapa keluarga. Dia tinggal dengan Kakek Neneknya, keempat Paman dan Bibinya, belum termasuk keponakan-keponakan dan sepupu Heerin yang berjumlah 6 orang. Di tambah keluarganya berjumlah 5 orang. Jadi total yang tinggal rumahnya ada 17 orang! Belum termasuk pembantu-pembantu, supir-supir, security, dll.
Keadaan rumahnya selalu bising oleh jeritan, suara tangisan, tawa, dan macam-macam. Hal itulah yang membuat Heerin sulit memusatkan perhatian.
“Anu, Pak.. Aku memiliki masalah dengan daya ingat,” jawab Heerin jujur. Ia tidak berniat menceritakan kondisi keluarga yang amat mempengaruhi keseimbangan otak dan pikirannya.
Pak Nickhun mengangguk-angguk. “Jadi begitu, sebenarnya Bapak sudah menyiapkan solusi untuk masalahmu.”
Heerin mengangkat kepalanya. “jinjja? Apa Pak?” Heerin akan melakukan apapun untuk menaikkan nilai ujiannya.
“Les Privat. Dengan seorang murid yang sudah bapak pilih. Dia sangat pintar. Bapak yakin dia bisa mengajarimu dengan baik.”
Heerin memiringkan kepalanya. Belajar Privat? Why Not. Tentu saja ia mau jika itu satu-satunya jalan.
“Mau! Aku ingin sekali! Siapa murid yang akan menjadi mentorku?” Heerin mendadak bersemangat.
“Kim Kibum. Juara Umum di sekolah ini,” ujar Pak Nichkun dan sukses membuat Heerin terkejut bukan main.
“Apa? Kim Kibum!!” pekik Heerin. Jantungnya kembali berdetak kencang mendengar nama itu. Kim Kibum adalah murid yang tampan, benar-benar tampan, kaya, baik dan pintar plus populer! Di tambah senyumannya yang sangat mematikan itu! Dan pagi tadi juga namja itu sudah menolongnya! Keajaiban apa ini?
Aku akan belajar privat dengannya? Dengan Kim Kibum? Hanya berdua saja! Kyaaa… Heerin bersorak gembira dalam hati. Bagaimana mungkin Pak Nickhun memberinya solusi cerdas untuk masalah belajarnya. Ini adalah ide terhebat sepanjang hidup Heerin dan ia tidak sabar menantikannya.
Sebenarnya, tanpa sepengetahuan siapapun sejak dulu ia sudah menjadi penggemar rahasia Kim Kibum. Tetapi karena Kim Kibum adalah sosok yang berada di level yang jauh berbeda dengannya, Heerin memendam jauh-jauh perasaan itu.

“Ah, Kim Kibum. Kau sudah datang” ucap Pak Nichkun saat melihat Kibum sudah ada di depannya.
Heerin tersadar dari lamunan lalu membalikkan badan. Nafasnya hampir saja terhenti menyadari namja itu berjalan ke arahnya. Ia tersenyum manis saat menatap Kibum. Sungguh, namja ini benar-benar tampan!!
“Ini murid yang akan kau bimbing. Dia bernama Park Heerin,” Pak Nichkun memperkenalkan Heerin pada Kibum. Heerin segera berdiri.
“Park Heerin imnida,” salam Heerin sambil menundukkan kepala. Kibum balas menunduk juga.
“Kim Kibum imnida. Jadi kapan kita bisa mulai belajar?” tanya Kibum. Heerin bingung harus menjawab apa. Ia menoleh pada Pak Nichkun. Seolah paham maksud ekspresi Heerin, Pak Nichkun segera menjawab.
“Kalian bisa mulai sore ini juga. Semakin cepat semakin baik” Kibum mengangguk paham.
“Nah, sekarang kalian boleh pergi.”
“Kamsahamnida Pak” jawab Kibum dan Heerin bersamaan.
“Kibum..” panggil Pak Nickhun sebelum Kibum meninggalkan ruangan, Kibum menoleh. Heerin sudah keluar lebih dulu.
“ne, Pak.”
“Bapak percayakan Heerin padamu. Ajari dia dengan kemampuan hebatmu. Bapak yakin kau bisa membantu Heerin belajar” Kibum hanya tersenyum lalu membungkuk lagi tanda ia paham. Selanjutnya ia pergi.

Selama perjalanan kembali ke kelas, Kibum ingat saat di panggil oleh Bu Victoria selaku wali kelasnya, seusai pelajarannya. Tidak hanya dirinya, tapi juga Kyuhyun.

“Mwo!! Jadi pengajar anak didiknya Nickhun Saengnim?” seru Kibum dan Kyuhyun bersamaan. Bu Victoria mengangguk dengan santai di kursinya. Mereka saling pandang di kelas yang sudah kosong melompong itu.
“Kalian adalah Juara 1 dan 2 di sekolah. Jadi Ibu ingin salah satu dari kalian membantu anak itu. Nilainya benar-benar sekarat saat Ibu melihatnya. Kyuhyun, kau bisa kan?” tanya Bu Victoria pada Kyuhyun lebih dulu.
Kyuhyun hanya menggaruk kepalanya. “Sebenarnya akhir-akhir ini aku sibuk mempersiapkan diri untuk perlombaan lari. Lagipula Kibum lebih pintar dariku. Mengapa bukan dia saja,” ujarnya sambil menoleh pada Kibum yang menaikkan alisnya sebelah.
Bu Victoria tampak berpikir. “Tapi nilai anak ini paling buruk adalah matematika,” gumam Bu Victoria. Ia meminta Kyuhyun karena ia tahu Kyuhyun jauh lebih baik dalam hal matematika. “Ah, tapi bukan masalah. Kibum, kau bisa kan?” perhatian Bu Victoria teralihkan pada Kibum.
Kibum berpikir sejenak sebelum menjawab, “Siapa anak itu?”
“Park Heerin. Dia kelas 3-4”
“Park Heerin??” Kibum dan Kyuhyun saling berpandangan kembali. Kibum tidak tahu siapa Park Heerin itu. Ini pertama kali ia mendengar namanya.
“Iya. Bantulah dia meningkatkan nilainya,” bujuk Bu Victoria. Kyuhyun menggumam pelan. “Mau membantu anak itu atau gak bisa nolak permintaan Pak Nichkun..” tapi untung Bu Victoria tidak mendengarnya. Jika dengar, tamat riwayatmu Cho Kyuhyun.
“Baiklah Bu,” jawaban Kibum benar-benar membuat Bu Victoria lega.

Yah, awalnya dia tidak tahu, tapi setelah tadi bertemu, akhirnya dia tahu juga anak bernama Heerin itu. Yeoja itu, saat melihatnya tadi Kibum yakin dia adalah yeoja yang ditolongnya pagi tadi.
“Kim Kibum!!” teriakan Heerin yang tiba-tiba dan muncul dengan cepat di hadapannya membuat Kibum melonjak kaget.
“Ya! Kau membuat jantungku hampir saja jatuh!” omel Kibum sambil mengusap dadanya. Heerin malah tersenyum manis. Dan senyum itu, entah kenapa hanya melihatnya saja perasaan Kibum menjadi tenang.
“Sore ini, kita benar-benar akan belajar bersama?” seru Heerin sambil bergerak-gerak kegirangan. Kibum agak bingung menyaksikan tingkah Heerin.
“Of course. Ingin di mana? Di rumahmu atau di rumahku?” tanya Kibum.
Heerin meletakkan telunjuk di bibirnya, berpikir. Aishy! Kenapa dia sangat manis saat ekspresinya begitu?
“Rumahku berisik sekali. Bagaimana kalu di rumahmu saja,”
“Oke. Tidak masalah” dengan Entengnya Kibum setuju.

—o0o—

Begitu bel pulang sekolah berbunyi, tak biasanya Heerin sangat semangat seperti ini. Ia segera keluar dari kelas dan menuju tempat ia akan menunggu Kibum. Luna bahkan sampai bingung melihat tingkahnya.
Di depan gerbang. Heerin berdiri dengan tidak sabar. Sesekali ia melihat ke arah murid lain yang mulai berseliweran melewatinya. Kemana Kibum? Kenapa lama sekali?

Sementara di lapangan basket
Pelajaran terakhir kelas 3-1 adalah olahraga. Kibum, Kyuhyun, Eunhyuk, Siwon dan Donghae tetap tinggal di lapangan meski bel tanda pulang sekolah sudah berbunyi 10 menit yang lalu.
“Ah, lelah sekali!!” teriak Eunhyuk seraya duduk di bangku di tepi lapangan. Kibum menyusul duduk dan meneguk air. Keringatnya mengalir di kening dan lehernya. Sementara Kyuhyun, Siwon, Donghae masih semangat bermain basket.
“Kibuum..” teriak seseorang dari bangku penonton. Kibum menoleh. Matanya mencari sosok orang yang memanggilnya ke seluruh penjuru lapangan basket indoor itu. Pencariannya terhenti ketika di salah 1 bangku penonton, Kibum menemukan Ham Eunjung berdiri sambil melambaikan tangan meminta’y mendekat.
“Mau apa lagi dia sekarang?” lirih Kibum. Eunhyuk menoleh ke arah yang sama.
“Ho, Eunjung. Ah, dia tambah cantiks aja. Cepat hampiri dia sebelum meledak lagi seperti sebelumnya,” ledek Eunhyuk sambil terkekeh. Kibum memukul sahabatnya itu dengan botol kosong, jengkel.
“Tunangan apa! Enak saja kalau bicara!” Kibum menatap ke arah Eunjung lagi. Sepertinya ia memang harus menghampiri yeoja itu. “Geurae, aku kesana sekarang,” gumam Kibum pasrah. Ia bangkit dan berjalan menuju yeoja bernama Ham Eunjung itu.

“Yeoja itu belum menyerah juga? Dia sudah mengejar-ngejar Kibum sejak kita masih di tahun pertama,” Ujar Siwon saat melihat Kibum lagi-lagi sedang berbicara dengan Eunjung. Ia dan yang lainnya baru saja selesai bermain basket. Eunhyuk mengangkat bahu tak peduli.
“Entahlah. Benar-benar yeoja yang gigih” timpalnya. Jujur saja, dari sekian banyak fans Kibum, Eunjung satu-satunya yang paling gencar melakukan pendekatan. Di tambah kenyataan bahwa orangtua mereka berteman membuat Eunjung dengan mudah bisa mendekati Kibum.
“Bagus. Jangan seperti ikan jelek di sampingku. Mendekati perempuan saja tak berani,” sindir Kyuhyun pada Donghae yang sedang duduk selonjoran di sebelahnya.
“YA! Anak setan! Kau pikir kau hebat! Bukankah tahun lalu juga kau ditolak Nichan!” Donghae balas mengejek Kyuhyun perihal kisah cintanya sendiri. Kyuhyun menggeram mendengar nama Nichan, sahabat yang sudah mencampakkannya itu dan malah pergi ke luar negeri.
“Jangan sebut nama itu Ikan Mokpo! Kau ingin aku berangus di pohon beringin di depan sana!” ancam Kyuhyun dengan tampang super evil. Donghae merinding, spontan menjauhkan posisi duduknya dari samping Kyuhyun.
“Ya, kalian mulai lagi,” Siwon melerai Kyuhyun Donghae yang hampir saling menyerang. Kenapa mereka selalu meributkan hal yang tak semestinya?
Setelah berbicara panjang lebar dengan Eunjung, Kibum kembali dan duduk di tempatnya. Teman-temannya yang penasaran langsung merapatkan diri. Mereka penasaran dengan apa yang dibicarakan oleh Kibum dan Eunjung beberapa saat lalu.
“Apa yang kalian bicarakan tadi?” tanya Eunhyuk mengawali interogasi.
“Dia mengajakku mengunjungi pameran lagi,” jawab Kibum malas.
“Pameran apa?” tanya Siwon.
“Edward Monet,” gumam Kibum acuh tak acuh.
“Oh, pelukis abstrak itu? Yang gambarnya bahkan tak lebih bagus dari gambar anak SD. Aku tak mengerti kenapa banyak orang mengagumi lukisan kotak-kotak yang tak jelas bentuknya itu,” sahut Eunhyuk.
“Itu Pablo Piccaso, pabo!” ralat Kyuhyun. “Jika kau tidak tahu soal lukisan sebaiknya diam.” Tandasnya dengan nada tinggi.
“Lagipula Edward Monet seorang pelukis aliran impresionis,” tambah Kibum. “Bukan pelukis aliran kubisme seperti Piccaso,”
Eunhyuk langsung membungkam mulutnya. Ia lupa bahwa ada dua orang jenius dalam kelompoknya dan akan membuatnya tampak semakin bodoh jika salah bicara di depan mereka.
“Lalu kau menjawab iya?” sekarang Donghae yang berbicara, membuat mereka kembali ke topik awal. Kibum tersenyum hambar.
“Aku bisa menjawab apa lagi. Ku tolak pun dia tetap memaksa.”
“Aish, yeoja menakutkan. Jika aku jadi kau, lebih baik aku pergi dari sini, mengubah identitas dan wajahku. Agar bisa bebas darinya,” timpal Kyuhyun. Kibum menghela napas. Masalah besar jika Eunjung sampai marah. Orangtuanya adalah pemilik sebagian saham perusahaan orangtua Kibum. Ini bukan perkara sepele. Bisa di tebak apa yang akan terjadi jika orangtua Eunjung marah dan berniat mencabut semua investasinya. Perusahaan ayahnya bisa bangkrut dalam sekejap.
“Jangan terlalu memaksakan diri kawan. Batinmu akan sangat tersiksa. Jalani saja dulu. Setidaknya buat dia senang agar tidak berulah lebih jauh,” nasihat Siwon. Ia bisa memahami apa yang sekarang sedang di pikul Kibum. Kibum tersenyum lemah. Kenapa rasanya ada yang mengganjal? Seperti ada sesuatu yang terlupakan. Kibum berpikir keras mencoba mengingat-ingat apa yang dilupakannya.
Seperti lampu yang menyala, seketika Kibum terperanjat kaget dan berdiri.
“Geez! Bukankah aku sudah ada janji dengan Heerin sore ini?! Aish! Paboya! Kenapa bisa lupa!” rutuk Kibum sambil membereskan semua barangnya dan bergegas pergi. Hampir saja rencana les privat dengan Heerin terlewatkan.
“Guys, aku duluan!” teriak Kibum sambil berlari.
“Ne!” jawab mereka serempak.

Kibum sambil berlari terus memaki dirinya sendiri. Kenapa dia bisa lupa pada janjinya sendiri. Tak biasanya ia menjadi seorang pelupa. Kibum melirik jam tangannya, hampir 1 jam dari waktu yang dijanjikan. Heerin pasti sudah lelah menunggu. Atau dia kesal dan pulang. Kibum mengerang membayangkan wajah kesal gadis itu. Mau ditaruh dimana mukanya nanti? Pak Nickhun juga pasti akan kecewa padanya. Heerin pasti sudah pergi. Meskipun masih ada Kibum tidak akan membantah jika seandainya Heerin marah dan memaki dirinya. Karena memang dia yang salah.
Tepat di depan gerbang, Kibum mencari Heerin. Yeoja itu tidak terlihat di manapun. Dia sudah tidak ada! Pasti dia kesal dan pulang.
“Akh.. Kibum..! You’re stupid!” maki Kibum pada dirinya sendiri. Ia hendak pergi saat matanya menangkap sosok yeoja tengah tertidur sambil menyandarkan punggungnya pada batang pohon sakura. Kibum mengerjap. Itu Park Heerin!
Senyum Kibum mengembang sempurna di wajahnya dan hatinya lega luar biasa melihat Heerin belum pulang. Kibum menghampirinya. Wajah Heerin tampak sangat damai. Ia tertidur pulas dengan headphone terpasang di telinga. Dia pasti lelah menunggu. Kibum jongkok untuk menyamakan posisinya dengan Heerin. Jika dilihat baik-baik, yeoja ini sangat cantik dan oh tidak, Kibum merasakan darahnya mengalir lebih cepat saat menatap dalam wajah Heerin.
Tangan Kibum terulur untuk menyingkirkan daun dan kelopak bunga sakura di kepala Heerin. Gerakan tangannya terhenti. Kibum merasa aliran listrik bertegangan rendah menjalar di urat nadinya saat menyentuh Heerin. Omo.. What’s happen?
Kibum bangkit dan menelpon sopir agar menjemputnya segera. Tak lama mobil jemputannya datang. Kibum membopong Heerin dengan hati-hati dan pelan agar Heerin tidak bangun, kemudian memasukkannya ke mobil untuk di antar pulang. Sepertinya belajar privat tidak akan dimulai hari ini.

—o0o—

Heerin menggeliat pelan. Rasanya puas sekali setelah tidur sebentar sambil menunggu Kibum. Ia membuka matanya pelan. Ia langsung mengerjap begitu menyadari tempatnya berada sekarang. Ini bukan di depan gerbang melainkan kamarnya sendiri!
Bagaimana bisa, bukankah tadi masih ada di sekolah? Siapa yang sudah membawanya pulang?? Heerin segera bangkit lalu berlari ke luar kamarnya. seharusnya ia belajar dengan Kibum hari ini!!
“Kau sudah bangun,” ucap Eomma melihat Heerin melewati ruang makan. Heerin menoleh, sebagian keluarga besarnya sudah ada di sana, duduk mengelilingi meja makan yang besar. Jadi sekarang sudah waktunya makan malam? Jadi berapa lama ia tertidur?

“Eomma, kau tahu siapa yang mengantarku pulang?” Heerin menghampiri Eommanya yang sedang memindahkan beberapa piring makanan dari dapur ke atas meja makan dibantu beberapa pelayan.
“Seorang laki-laki yang sangat tampan, Eonni. Namanya Kim Kibum” jawab Park Heejin, adiknya yang hanya berbeda dua tahun.
“Nde! Kim Kibum! Dia yang membawaku???” pekik Heerin syok.
“Ne. Dia namja yang baik dan sopan. Dia namjachingumu?” tanya Bibi Yoowon.
“Ani. Hanya teman” jawab Heerin.
“Oh iya. Dia memberikan ini. Katanya bisa membantumu belajar” Eomma menyerahkan sebuah CD dan beberapa buku. Heerin menerimanya dengan alis berkerut.
“Gomawo,” setelah menerimanya, Heerin segera kembali ke kamarnya di lantai dua.

To Be Continued…

54 thoughts on “Miracle Love Story (Part 1)

  1. Ahh, akhirnya bisa menyempatkan baca ff ini juga walaupun aku sudah jadi reader lama sejak tahun 2014 disini.. Yeahh, inilah dia si pasangan ajaibnya cherry blossom 😄😄😄

Your comment

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s