I Hate You, But.. (Part 6)

Tittle : I Hate You But Part 6
Author : Dha Khanzaki a.k.a Shin Je Young
Genre : Romance, Married Life

Main Cast :

  • Kim So Eun
  • Choi Si Won

Support Cast :

  • Lee Donghae

Mulai part ini udah gak nyesek-nyesekan lagi. Married Lifenya lebih kerasa loh..

Happy Reading ^_^

I Hate You But by Dha Khanzaki

===Part 6===

Author POV

So Eun mengerjapkan matanya beberapa kali untuk meyakinkan bahwa dirinya tidak sedang bermimpi. Dan rupanya benar, sosok yang berdiri di hadapannya adalah Lee Donghae. Mantan kekasih yang tersingkirkan dalam hidup So Eun. Ia memaksakan bibirnya bergerak meski rasanya sulit sekali.
“Apa kabar, Oppa?” So Eun mendapati suara yang keluar dari tenggorokannya begitu pelan dan kini ia berusaha sekuat tenaga untuk tersenyum.
Donghae membalas senyum terpaksa So Eun. Ia berjalan satu langkah mendekati So Eun. Tangannya ingin sekali bergerak merangkul gadis yang begitu dipujanya. Menyelubungi tubuh ramping gadis itu dengan kehangatan dari lingkaran tangannya. Namun sekali lagi kenyataan membuatnya terbanting kembali ke bumi dengan keras. Kenyataan bahwa gadis yang sangat ia rindukan bukan lagi miliknya. Bukan lagi haknya. Kim So Eun sudah berubah marga. Itu artinya dia sudah menjadi milik pria lain. Tenggorokannya tercekat.
“Aku baik-baik saja. Bagaimana kabarmu?”
“Aku juga baik-baik saja,” So Eun mengerjap sadar berkas-berkas yang digenggamnya tadi berserakan di atas trotoar. Astaga, Choi Siwon bisa mengamuk bila melihat berkas yang lebih penting dari uang seratus juta won itu kotor sedikit saja. lantas ia cepat membereskan kembali berkas-berkas itu. Donghae ikut berjongkok membantunya.
So Eun tanpa sengaja menyentuh tangan Donghae ketika akan meraih salah satu berkas. Ia tersentak lalu buru-buru menarik tangannya.
“Mianhae,”
“Gwaenchana. Kau bekerja?” Donghae bertanya karena ia menemukan lembar-lembar laporan keuangan di antara berkas itu. Mereka kembali berdiri setelah mengambil semua berkasnya.
“Iya. Tapi berkas ini milik suamiku.”
Mimik Donghae berubah, rahangnya tampak mengeras. “Kau bekerja menggantikan ayahmu?”
Kali ini ekspresi So Eun yang berubah menjadi lebih tegang. Ia lupa, tentu saja Donghae belum mengetahui tentang kematian Ayahnya.
“Ayahku, dia sudah meninggal,” lirihnya.

Deg.

Donghae melebarkan matanya, kaget. Tubuhnya kaku seperti patung. Pikirannya terlempar kembali pada kenangan saat bertemu dengan Ayah So Eun. Saat untuk pertama kali dalam hidupnya ia diusir oleh Ayah So Eun tepat setelah dirinya memperkenalkan diri. Moment yang tak pernah ia lupakan karena seingatnya, ia tak pernah melakukan hal yang tidak sopan di depan orang tua So Eun. Ia kira orang tuanya akan menerima So Eun. Ternyata reaksi serupa pun dialami olehnya. Keluarganya menolak So Eun mentah-mentah. Donghae menyadari cintanya dan So Eun dilanda badai topan detik itu juga.
Mengapa Donghae menyadari hatinya terguncang saat mendengar ayah So Eun meninggal? Mungkin karena ia merasa bersalah karena secara tidak langsung, dirinya menjadi sumber masalah bagi keluarga So Eun. Dan ia belum meminta maaf.

“Mianhae, aku tidak tahu.” ujar Donghae ketika mereka kini duduk berhadapan di salah satu kafe tempat mereka biasa berkencan dahulu.
“Tidak masalah. Oppa tidak ada di sini saat Appa meninggal,”
Donghae tersenyum, “Kau benar-benar anak berbakti. Sebagian anak mungkin akan lari dari tanggung jawab di saat dirinya harus mengemban tugas berat di usia yang masih sangat muda,” ungkapnya kagum. So Eun memang sosok gadis yang sangat langka.
“Aku tak punya pilihan lain. Appa tidak memiliki anak lelaki yang bisa meneruskan bisnisnya. Meskipun hak penerus perusahaan belum diserahkan seutuhnya padaku, aku yang mengambil alih pekerjaan Appa untuk sementara.”
“Kau bisa meminta bantuanku. Jika suamimu terlalu sibuk untuk membantumu, kau bisa datang padaku kapanpun kau minta. Aku akan senang hati mengulurkan tanganku.”
So Eun terdiam, pikirannya mengelana ketika Donghae mulai menyinggung Siwon. Menyadari kediaman So Eun, Donghae mulai beranggapan macam-macam.
“Apa kau bahagia?” tanyanya dengan suara rendah. So Eun mengangkat kepalanya dengan wajah terperangah. Apa dirinya tampak tidak bahagia?
“Bukankah kau sudah berjanji untuk bahagia ketika hidup bersamanya? Aku hanya akan merelakan pernikahanmu jika kau bisa bahagia dengan suamimu,”
“Banyak masalah akhir-akhir ini,” ungkap So Eun setelah beberapa saat terdiam. Ya, ia memang butuh sekali teman bicara dan satu-satunya yang ia percayai adalah Donghae. Ia tidak bisa membagi kisah seperih apapun dengan orang lain sekalipun itu Ibunya.

Wajah sedih So Eun membuat hati Donghae tersayat-sayat. Bukan ekspresi ini yang ingin Donghae lihat saat bertemu dengannya lagi. Donghae selalu berangan-angan akan mendapati So Eun tertawa cerah meskipun pada kenyataanya senyum indah itu akan membuatnya dua kali lipat lebih sakit. Setidaknya ia yakin merelakan tangan So Eun diapit pria lain adalah keputusan tepat. Tangannya terulur menggenggam tangan So Eun. Gadis itu tersentak kaget dan secara naluriah ia mencoba menarik tangannya. Namun Donghae menahan tangan So Eun agar tetap dalam genggamannya.
“Jika kau tidak bahagia bersamanya, mengapa kau masih mempertahankan pernikahan sia-sia seperti ini? Kau hanya menyiksa dirimu sendiri.” lirih Donghae dalam. “Lihat, kau lebih kurus dari yang terakhir kali aku lihat.” ia memandangi pipi So Eun yang tak se-chubby biasanya lagi dengan hati terkoyak perih.
“Ya, kau memang benar Oppa.” So Eun mulai berkata. Matanya menatap Donghae lurus. “Menikah dengan Choi Siwon adalah amanat dari Appa dan setelah dia pergi, tidak ada lagi alasan bagiku untuk tetap bersama suamiku. Beberapa bulan tinggal bersamanya hanya membuat diriku tersiksa. Kenyataan bahwa Siwon Oppa tidak mencintaiku menjadikanku seperti wanita bodoh yang terjebak dalam ruangan berisi gas beracun. Perlahan-lahan aku pasti mati karena tidak bisa bernafas,” matanya berkaca-kaca dan itu membuat Donghae bungkam seribu bahasa.

Topik ini tak pernah ia duga sebelumnya. Ia tidak menyangka akan mendengar isi hati sesungguhnya dari seorang Kim So Eun. Donghae baru membuka mulut ketika suara lirih So Eun kembali terdengar.
“Hajiman, ada satu hal yang tak pernah kuduga sedikitpun. Hal itu terjadi di saat aku berada dalam situasi yang membuatku tak sanggup hidup lagi,” So Eun terdiam demi mengontrol nada suaranya yang mulai bergetar, sama seperti emosinya. Ia menarik nafas dalam lalu menghembuskannya.
“Aku mendapati diriku jatuh cinta padanya. Aku jatuh cinta pada Choi Siwon. Aku harus bagaimana? Apa yang harus kulakukan?” dua bulir airmata jatuh, mengalir dengan lancar membasahi pipinya, membuat pria yang duduk di seberangnya itu melebarkan mata dan mencengkram erat ujung jasnya.
“Meskipun aku tahu diriku menderita hidup bersamanya, namun hatiku…hatiku gembira mendapati dirinya masih berdiri di sampingku. Mengetahui diriku masih bisa melihat wajahnya saat membuka mata, aku tidak bisa menahan diri untuk tidak tersenyum. Jika sudah begini, apa aku harus meninggalkannya? Meninggalkan suami yang sudah menjadi nafasku?”
Donghae kali ini benar-benar terkejut oleh pengakuan So Eun. Pernyataan yang tak pernah diduga sama sekali. So Eun mencintai Choi Siwon..
“Jika sudah begini, apa yang bisa kulakukan..” lirih So Eun. Ia mencoba menghapus airmata di pipinya tetapi nyatanya cairan bening itu semakin meleleh banyak.
“So Eun..”

“Apa yang kau lakukan pada istriku?” ucapan Donghae terpotong oleh suara tajam dari arah belakang mereka. Donghae mendongakkan kepalanya dan terkejut melihat Choi Siwon berdiri dengan angkuh di hadapannya. Pria itu berjalan dengan langkah tegas mendekati meja mereka. Tatapan tajamnya ia layangkan pada Donghae. Ini kali pertamanya ia bertemu dengan pria masa lalu istrinya. Tak ada kata yang ingin ia katakan pada pria ini karena itu pandangannya kini ia alihkan pada So Eun yang menunduk, takut menatap wajahnya.
“Jadi ini yang membuatku menunggu berkas darimu cukup lama? Pria brengsek ini menahanmu rupanya,” ujar Siwon dengan nada menyindir. Ia berharap So Eun mengangkat wajahnya karena Siwon sungguh ingin melihat ekspresinya.
“Pria breng-“ Donghae menggeram dan menahan diri untuk tidak membalas sindiran tajam Siwon.
“Maaf jika kau pikir bisa membawa istriku pergi dariku dengan mudah karena pikiran itu salah besar. Permisi,” Siwon menarik tangan So Eun pergi dari kafe itu. Meninggalkan Donghae yang terperangah dengan tindakan Siwon. Tak ada yang bisa dilakukannya. Dirinya hanya mampu melihat kejadian itu dengan hati terluka.

—o0o—

So Eun bersiap-siap menerima amukan Siwon. Karena itu ia pasrah saja ketika Siwon menariknya jauh-jauh dari kafe tempat pertemuannya dengan Donghae tadi. Mereka berhenti di tepi sungai yang jernih. Siwon mendudukkannya di atas bangku yang ada di bawah pohon rindang.
“Mana berkasnya!” ucap Siwon datar dan dingin. So Eun menyerahkan berkas di tangannya dengan kaku. Siwon mengambilnya, melihatnya sekilas lalu meletakkan berkas itu di belakangnya.
“Huh, berkatmu meeting hari ini kacau balau,” keluh Siwon membuat So Eun merasa semakin bersalah. Seharusnya tadi dia memprioritaskan berkas yang Siwon titipkan padanya. Bukan justru mengobrol dengan mantan pacarnya.
“Maafkan aku,” So Eun menundukkan kepalanya. Hingga detik ini ia belum berani menatap Siwon. Ia merasa malu memperlihatkan wajah jeleknya pada Siwon.
Siwon berdecak, “Jika merasa bersalah, angkat wajahmu sekarang!” katanya dengan nada meninggi. Bukannya menurut, So Eun justru semakin menekuk wajahnya. Cara bicara Siwon yang membentaknya seperti menegaskan bahwa dirinya memang menderita hidup bersama Siwon. Menderita karena ia tinggal bersama pria yang membenci dirinya.
So Eun terisak. Ia merasa begitu menyedihkan. Bertemu Donghae rupanya hanya membuka luka lama yang hampir tidak terasa lagi sakitnya.
“Kau ini kenapa susah sekali kuatur,” Siwon tidak sabar lagi lantas tangannya terangkat menyentuh dagu So Eun lalu mendongakkan wajah gadis itu ke arahnya. Ia mendesis prihatin melihat ekspresi istrinya sekarang. So Eun berusaha memalingkan wajahnya namun di tahan oleh Siwon. Pria itu kini menangkup wajahnya dan pandangannya pun melembut.
“Menangis lagi, kali ini apa alasannya?” tanyanya khawatir dan tangannya sigap menghapus airmata di pipi So Eun.
So Eun kaget mendengar nada yang tidak biasa dari cara Siwon berbicara.
“Kau menangis bukan karena cerita melankolismu pada pria tadi kan? Kau bercerita padanya bahwa hidupmu begitu menderita dan kau ingin pergi meninggalkanku, begitu?”
So Eun mengerjapkan mata, apa Siwon tadi mendengar semua pengakuannya pada Donghae?
“Lalu, pria tadi. Apa dia Lee Donghae yang sudah kau campakkan itu?” tanya Siwon, kali ini So Eun mendengar nada tidak suka.
“Oppa aku,”
“Sssst..Kau terlalu banyak bicara. Sesekali kau harus diam dan jika kau ingin menumpahkan isi hatimu, datanglah padaku.” Siwon mencegah So Eun berkata lebih banyak lagi. Ia melingkarkan tangannya memeluk gadis itu dengan lembut. So Eun tak menyangka Siwon akan memperlakukannya seperti ini. Perubahan sikap Choi Siwon benar-benar mengejutkannya.
“Apa aku terlalu buruk hingga kau memilih menangis di hadapan pria itu dibanding di hadapanku?” bisik Siwon. So Eun menggeleng lemah.
“Maafkan aku,”
“Berhenti meminta maaf atau aku akan menghukummu setibanya di rumah nanti,”
So Eun kali ini tersenyum dan ia balas melingkarkan tangannya di punggung Siwon. Rasanya hangat sekali. Bolehkah ia berlama-lama dalam posisi ini? Siwon memeluknya dengan lembut seperti ini? Hidupnya bisa menjadi sempurna jika Siwon mau memperlakukannya selayaknya seorang istri.

Senyum Siwon yang tak dilihat So Eun terbit saat itu. Tanpa diketahui So Eun, sebenarnya ia mendengar seluruh perkataan So Eun saat di kafe tadi. Entah kenapa, mendengar So Eun mencintainya sepenuh hati membuat jantungnya melonjak tak terkendali. Seperti sesuatu yang meledakkan rasa gembira sampai ia ingin sekali berteriak seperti orang gila. Kim So Eun, sepertinya aku sadar bahwa di hatiku sudah terukir namamu. Entah sejak kapan.
“Kim So Eun,” bisik Siwon.
“Ne?”
“Saranghae.”
So Eun terkejut bukan main mendengar pernyataan Siwon di telinganya. Ia melepaskan pelukan pria itu lalu menatap wajahnya. Siwon begitu serius ketika mata mereka saling bertemu. Bibir So Eun terbata.
“O-Oppa mencintaiku? Itu benar?”
“Aku tidak perlu mengulanginya, bukan?” ucapnya mendekat, lalu mengecup bibir So Eun lembut sebagai bentuk penegasannya.
“Apa kau juga mencintaiku, Nona Kim?” Siwon bertanya setelah wajahnya menjauh. So Eun memegang bibirnya dan pipinya merona malu.
“Sejak kapan Oppa mencintaiku?” bukannya menjawab So Eun malah balas mengajukan pertanyaan. Siwon mengerang gemas.
“Kau terlalu berisik, Nyonya Choi. Bisakah kau hanya menjawab pertanyaanku?”
“Waeyo? Aku penasaran.”
“hmmftt..” Siwon mendesah lalu menarik So Eun ke dekatnya. “Molla,” bisiknya. Pandangannya lurus menatap beningnya air yang mengalir di sungai tepat di hadapan mereka. So Eun merasa dirinya menghangat dan airmatanya kering sudah. Ia mendongak menatap Siwon yang tampak mempesona, selalu mempesona di matanya. Pria itu tersenyum, memperlihatkan lesung pipi yang begitu indah.
So Eun tertegun memandangi ekspresi mengagumkan suaminya. Ia tidak tahu memandanginya berapa lama. Hanya saja fantasi itu memudar saat Siwon menoleh padanya. Tak di sangka efek yang ditimbulkan kala Siwon menatapnya kini lebih kuat. Debaran jantungnya mengencang dan pandangannya mulai berkunang. Pikirannya kosong. Bahkan ia tidak menyadari sekarang jarak di antara dirinya dan Siwon begitu dekat. Hal buram itu menjadi jelas begitu nafas Siwon yang hangat menerpa pipinya.
“Oppa, ini tempat umum…” bisik So Eun dengan pipi tersipu.
“Lalu?” balasnya tepat di sudut bibir So Eun. Siwon tak peduli apakah mereka ada di tempat umum atau tidak. Ia hanya ingin menunjukkan perasaannya saja pada dunia. So Eun tak memiliki bantahan lagi. Yang dilakukannya sekarang hanya pasrah. Pasrah ketika Siwon melingkarkan tangan dipinggangnya dan bibir mereka bertemu detik berikutnya. Mereka saling memagut satu sama lain dengan perasaan bahagia.
Setelah ini, hidupku akan lebih berarti. So Eun tersenyum di sela-sela ciumannya.

—o0o—

“Gagal sudah rencana makan siang romantis di restoran tadi,”
So Eun menoleh ketika mendengar gerutuan Siwon begitu mereka tiba di apartement. Pria itu membuka jasnya lalu menyampirkannya pada kursi di ruang makan.
“Makan siang romantis?” tanya So Eun sangsi, dengan alis berkerut.
“Ya. Aku berniat mengajakmu makan siang di restoran Perancis tadi.”
“jeongmal?” So Eun melemaskan bahunya. Ia merasa menyesal sudah melewatkan kesempatan langka seperti itu. Siwon tersenyum menenangkan. Dengan lembut ia memeluk So Eun dari belakang.
“Masih ada lain hari,” bisiknya. “Hajiman, melihatmu bersama Donghae tadi membuatku memikirkan sesuatu.”
Di tengah kegugupan So Eun mencoba menoleh, “Apa?”
“Bagaimana jika seandainya kita memiliki anak?”
So Eun mengerjapkan matanya tercengang. Satu hal yang tak pernah ia pikirkan sama sekali. Memiliki anak dengan Siwon. Padahal sudah menjadi hal lumrah pasangan suami istri berencana memiliki anak.
“Kau yakin, Oppa??” So Eun bertanya menghindari kegugupannya. Siwon mengangguk sementara tangannya memeluk pinggang So Eun lebih erat.
“Keluarga Choi butuh seorang penerus. Bagaimana ini? Seharusnya kita memberikannya sebelum Appa menagih hal tersebut pada kita.”
Tak pernah di duga bahwa saat itu akan tiba hari ini. So Eun belum mempersiapkan diri sama sekali dan kepalanya mendadak kosong. Bagaimana dia harus menjawabnya? Ia sangat ingin tapi bagaimana caranya mengungkapkan hal tersebut tanpa terkesan antusias?
Siwon menyadari istrinya gelisah dan tubuh yang sedang ia peluk terasa begitu kaku. Lantas ia membalikkan tubuh So Eun menghadapnya untuk mengetahui bagaimana ekspresinya saat ini. Tepat seperti dugaannya, Siwon mendapatkan raut So Eun begitu menggemaskan. Pipinya yang putih itu merona malu dan bibirnya tersenyum gugup.
“Ah, kau ini tahu cara menggoda suamimu,” erang Siwon sambil merapatkan pelukannya.
“Aku siap menerima akibatnya,” gumam So Eun tergagap. Kata-kata itu membuat Siwon mengerjap. Tangan So Eun yang semula terkulai di samping tubuhnya perlahan naik menggenggam lembut kerah baju Siwon.
“Aku serius,” yakinnya menatap mata Siwon yang memandangnya ragu. Perlahan senyum di wajah Siwon terbit. Mereka sama-sama tersenyum dan sempat salah tingkah satu sama lain. Benar, malam ini mungkin akan menjadi malam yang panjang karena baik Siwon maupun So Eun sama-sama akan memulai hal yang sama sekali baru.
So Eun melingkarkan tangannya di leher Siwon, saling menatap satu sama lain untuk beberapa saat lamanya. Siwon mendekatkan wajahnya dan menempelkan bibirnya kembali di bibir lembut So Eun dan itu barulah permulaan.
Mereka seperti terbakar gairah detik berikutnya. So Eun rela menyerahkan dirinya pada Siwon malam ini. Ia justru bahagia. Ia merasa seperti masuk ke dalam dunia dongeng dimana Siwon datang dan membawanya terbang hingga ke langit yang tinggi.

—o0o—

So Eun terbangun dari mimpi indahnya semalam. Ketika menoleh ke samping, ia merengut kecewa karena tak menemukan sosok tampan di sana. Siwon sudah pergi bekerja setengah jam yang lalu setelah malam panjang yang mereka habiskan bersama.
“Khas Choi Siwon sekali, mengutamakan pekerjaannya dibanding apapun,” gerutu So Eun pelan. Ia mencoba bangkit lalu meraih ponselnya untuk mengecek waktu. Sudah jam sembilan dan rasanya So Eun malas sekali pergi bekerja. Lelah setelah bermesraan cukup lama dengan Siwon semalam.
Jangan menjadi gadis malas. Kau seorang istri sekarang.
Berbekal pesan dari ibunya, So Eun memaksakan diri bangun. Dia berjalan pelan ke dapur dan menemukan post-it tertempel di pintu lemari pendingin.

Nanti malam ada pesta penting, aku akan menjemputmu jam 7. Berdandanlah yang cantik.
-Siwon-

So Eun tertegun sejenak. Pesta? Alisnya terangkat heran. Pesta apa? Mungkinkah ulang tahun Choi Corp? Entahlah. So Eun hampir mencabut pesan itu ketika ia membaca catatan kecil yang tertulis di bawahnya.

N.b : Kalau kau sudah mulai mual-mual, hubungi aku ^_~

So Eun terenyak. Ia merasa lucu dengan pesan ini. “Dasar tuan tak sabaran! Mana mungkin aku segera hamil saat kita baru melakukannya semalam!” kepalanya menggeleng lemah lalu mencopot pesan itu. Ia hampir saja lupa untuk membuat sarapan.

—o0o—

Di kantor, So Eun mulai disibukkan oleh pekerjaan yang belum sempat diselesaikan mendiang ayahnya. Tugas-tugas itu sangat banyak dan menumpuk. So Eun sampai kebingungan sendiri bagaimana cara menyelesaikannya. Ia ingin meminta bantuan Siwon namun ragu. Ia tidak mau menyusahkan Siwon yang sudah cukup dipusingkan oleh tugas-tugas di perusahaan milik mertuanya.
“Nyonya, hari ini ada jadwal pertemuan dengan perwakilan dari MD Corp,” suara sekretaris membuat So Eun mengalihkan perhatian sejenak dari kesibukannya. Ia terkejut mendengar nama perusahaan itu. Bukankah itu perusahaan milik keluarga Donghae? rupanya mereka menjalin kerjasama juga dengan perusahaannya. Mengejutkan.

“Donghae Oppa, aku tak menyangka kita akan bekerja sama,” ujar So Eun takjub ketika mereka bertemu di kantor So Eun untuk membahas perjanjian kerjasama. Donghae merasa suasana kali ini agak lain karena ini pertama kalinya mereka bertemu untuk urusan pekerjaan. Oleh sebab itu Donghae mencoba senormal mungkin berbicara dengan gadis yang masih dicintainya itu.
“Ne. Appa memberikan kebebasan untukku mencari partner bisnis. Sejak dulu aku memang berpikir akan menjadi peluang bagus bila kita melakukan kerja sama,” jelasnya sambil menyesap teh.
“Apa sebelumnya perusahaan kita belum melakukan kerja sama?”
Donghae menarik nafas berat, “Yah..kau tahu Appaku tidak menyukai perusahaan ini. Itulah yang membuat kami sedikit kesulitan memasarkan produk. Padahal sudah sering kukatakan bahwa perusahaan ini adalah perusahaan penyalur produk yang bagus tapi Appa tetap menolaknya entah apa alasannya.”
Mendengar itu membuat So Eun penasaran akan satu hal, “Apa alasan yang membuat Ayah kita saling membenci?” tanyanya, lebih pada diri sendiri. Donghae mengangguk karena itu pun pertanyaan yang ingin sekali ia tahu jawabannya.
“Aku sempat bertanya pada Appa mengenai hal ini. Namun dia justru memarahiku habis-habisan dan berkata akan mengirimku ke luar negeri jika aku berani bertanya sekali lagi.” kenang Donghae dengan wajah muram. Ia ingat sekali betapa mengerikannya ekspresi Appanya saat itu. Padahal Donghae berniat baik. Ingin membantu memajukan perusahaan Appanya. Tapi sebagai anak kedua, Donghae tak memiliki hak banyak karena perusahaan itu akan diwariskan pada kakak laki-lakinya.
“Aku juga pernah menanyakannya. Tapi,” So Eun terdiam karena kenangan ini membuat hatinya sakit. “Appa langsung jatuh sakit dan aku tidak pernah berani bertanya lagi setelahnya.”
Donghae terdiam, begitu pun So Eun. Mereka sibuk tenggelam dalam pikiran masing-masing.
“Oh, kudengar hari ini Choi Corp mengadakan pesta,” Donghae mengalihkan topik pembicaraan tiba-tiba. Ia tak mau terus terlarut dalam bahasan yang tak akan ada akhirnya. Karena itu ia mencari topik yang bisa membuat So Eun senang saja.
“Ya. Apa kau diundang?” So Eun tersenyum cerah.
“Ne,” Donghae menjawabnya dengan suara jauh. Tiba juga saatnya ia melihat raut senang So Eun. Berbeda sekali dengan wajah sedih yang dilihatnya beberapa hari lalu. So Eun yang ceria dan gembira seperti ini memang menjadi doanya. Tetapi, bersamaan dengan itu hatinya begitu sedih.

—o0o—

“Kudengar Lee Donghae datang ke kantormu siang tadi,”
So Eun menoleh mendengar Siwon berkata dengan nada cemburu. Siwon memang sedang sibuk menyetir dan pandangannya lurus ke arah jalanan di depan, namun So Eun bisa melihat raut tidak senangnya dari samping.
“Hanya membahas proyek kerja sama,” jawab So Eun enteng. Memang tidak ada yang terjadi selain itu.
“Kau tidak berniat kembali padanya bukan?”
So Eun dikejutkan kembali dengan lontaran pertanyaan aneh seorang Choi Siwon. Sungguh, itu adalah gelagat aneh dari sosok pria yang dikenalnya begitu angkuh, dingin, dan tak peduli apapun itu.
“Apa yang perlu dicemburui oleh seorang Choi Siwon yang tampan sempurna dan kaya raya? Istrinya hanya berbincang dengan pria lain dan itu menjadi sumber perdebatan kecil saat kita kembali bertemu?” debat So Eun sambil menahan senyum. Siwon menoleh dengan wajah jengkel. Tak terima dengan ucapan So Eun yang terdengar meremehkannya.
“Aku tidak cemburu. Aku hanya bertanya.”
“Kau cemburu, Tuan Choi. Itu jelas sekali.”
“Kim So Eun, jangan mendebatku.”
“Aku tidak sedang berdebat, aku hanya mengajakmu berdiskusi.”
“Ini bukan diskusi. Kau jelas mengajakku bertengkar karena Mr. Donghae itu!”
“Kalau begitu kau tidak perlu membentakku!”
“Aku tidak membentakmu!”
“Tuan Choi Siwon!”
“Ya, Kim So Eun!”
Mereka terengah lalu diam saling menatap dengan mata menajam. Beberapa detik kemudian mereka terkekeh bersamaan. Menertawai hal aneh yang membuat mereka berdebat tanpa sebab. Siwon sampai menepikan sejenak mobilnya hingga tawa mereka mereda.
“Aigoo, Kim So Eun..kau membuatku gila,” Siwon mengusap pelipisnya pelan. Dia merasa aneh namun senang. Sudah lama ia tidak merasa sebebas ini. Siwon merasa mulai menjadi sosok yang bebas jika bersama Kim So Eun. Gadis ini memberikan warna yang berbeda dalam hidupnya. Sekarang ia paham alasan orang tuanya begitu ingin dirinya menikah dengan So Eun. Gadis ini, mampu membuatnya bahagia.
So Eun berusaha menghentikan tawanya setelah sadar Siwon menatapnya lembut. Ia berdehem.
“Sudah berhenti tertawa. Kita bisa terlambat menghadiri pesta jika tidak bergegas,” So Eun merapikan jas dan dasi Siwon lalu merapikan penampilannya sendiri. Siwon tersenyum simpul. Pandangannya lurus menatap mata So Eun yang baru disadarinya begitu jernih. Kemudian perlahan turun pada bibirnya yang kini berwarna kemerahan karena dipoles lipstik. Siwon tergoda untuk mengecupnya lagi. Siwon menepiskan pikirannya yang mendadak melayang pada malam indah yang mereka lewati.
“Oppa, kita sudah terlambat ke pesta,” lirih So Eun gugup menyadari Siwon mendekatkan wajah padanya.
“Biarkan saja. Bukankah kita Tuan Pestanya?” Siwon tak mempedulikannya. Ia memiringkan wajahnya dan ketika So Eun merasakan bibir Siwon kembali menyentuh bibirnya, matanya tertutup otomatis. Mereka sibuk melumat satu sama lain, tak pedulikan waktu yang terus berjalan detik demi detiknya.
Bagus, akan menjadi cerita menarik di pesta nanti ketika sang tuan rumah datang terlambat ke pestanya dan hal ini karena ulah Siwon.

To be continued

105 thoughts on “I Hate You, But.. (Part 6)

Your comment

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s