Shady Girl Taemin’s Story (Part 3)

Tittle : Shady Girl Taemin’s Story Part 3
Author : Dha Khanzaki a.k.a Shin Je Young
Genre : Romance, Friendship

Main Cast :

  • Lee Taemin
  • Choi Sulli

Support Cast :

  • Park Jiyeon
  • Lee Hyukjae / Eunhyuk
  • Kim Kibum
  • Choi Minho

Meskipun ada yang minta, tapi sebenernya dari awal author memang datengin Minho di FF ini. Beruntunglah bagi kalian yang request. hehehe..

Happy reading aja deh. dan hati-hati typo yah. Semoga part ini bisa lebih membangkitkan minat meskipun mungkin shady girl seri ini gak terlalu seru dibandingnya seri yang lain *bow* *author sudah berusaha sekuat tenaga* ^_^

Shady Girl Taemin5

===Part 3===

Sudah Jiyeon duga, Taemin pasti akan mengingkari perkataannya sendiri. buktinya, dia berteriak sekencang itu.
“Bukankah kubilang jangan terkejut.”
Taemin menggeser tubuhnya lalu duduk di kursi samping Jiyeon. Dia mengerutkan keningnya dengan wajah super penasaran. Banyak sekali pertanyaan yang ingin ia ajukan namun bingung harus memulainya dari mana. Ia mencondongkan tubuhnya ke hadapan Jiyeon, membuat pembicaraan mereka terkesan misterius dan rahasia.
“Jadi, maksudmu kau ini adik atau kakaknya Sulli, begitu?” tanya Taemin dengan mata menyipit, nyaris berbisik. Jiyeon menggeleng tegas.
“Bukan begitu. Tapi Choi Siwon yang kakakku. Dia kakakku. Kau mengerti maksudku? Seharusnya dia bermarga Park. Bukan Choi.”
Taemin kembali tercengang untuk beberapa detik. Otaknya yang lambat berusaha untuk mencerna.
“Heeeee!!!” ia memekik kembali, membuat keduanya menjadi pusat perhatian di antara pengunjung kafe itu.
“Bagaimana bisa? Bukankah..bukankah Siwon Hyung itu..” Taemin terdiam. Otaknya berputar membayangkan sosok Sulli dan Siwon. keduanya memang tidak terlalu mirip. Meskipun sama-sama tinggi dan berpenampilan menarik. Lagipula Sulli juga tidak pernah bilang kalau Siwon itu kakak kandungnya. Dengan cepat pandangannya tertoleh pada Jiyeon, ia perhatikan gadis ini baik-baik. Tidak terlalu mirip juga, tapi entah kenapa ada sesuatu dalam diri Jiyeon yang mengingatkannya pada Siwon.
“Ah, tidak tidak..” Taemin menggeleng cepat. Jangan terlalu cepat menyimpulkan. Mungkin Jiyeon hanya bercanda.
“Kau serius dengan yang kau ucapkan itu?” tanya Taemin menyelidik.

Jiyeon mengendikkan bahunya. “Tidak percaya pun tak apa. aku juga belum yakin. Tapi, yang bisa kusimpulkan dari semua ini adalah, namja bernama Siwon itu memakai cincin yang sama denganku. Setidaknya itu yang Mama bilang padaku.”
“Mama?”
“Ah, aku sudah terlalu banyak bicara.” Jiyeon memasukkan buku ke dalam tas tangannya lalu bangkit.
“Loh, kau mau kemana?” rasa penasarannya masih belum terjawab.
“Aku masih ada urusan.”
“Ah, tunggu!” Taemin menahan tangan Jiyeon. “Anu, aku ada permintaan” ucap Taemin ragu. Alis gadis itu bertautan.
Taemn mengusap tengkuknya sendiri. “Di kampusku ada acara Prom Night. Dan boleh mengajak siapapun untuk jadi pasangannya. Em, apa kau mau jadi pasanganku?”
Jiyeon menatap Taemin cukup lama. membuat keheningan di antara mereka terasa kaku dan sesak.
“Kau tidak mengajak Sulli?”
Akhirnya saat keheningan itu terpecahkan, Jiyeon justru menanyakan hal yang membuat Taemin jengah. Sulli lagi, Sulli lagi.
“Sudah kubilang kami sedang bertengkar dan Sulli..” Taemin membasahi bibirnya yang terasa kering. “Dia sudah ada yang mengajak. Jadi..kau tahu lah..” dalam hati Taemin memohon ampunan karena hari ini dia sudah berbicara bohong.
“Owh, aku turut prihatin.” Jiyeon menunjukkan wajah iba. Taemin mengangkat wajahnya menatap Jiyeon. Menunggu jawaban keluar dari mulut gadis itu.
“Aku akan menerima kalau kalian berbaikan.” Ucapnya ringan. Taemin tercengang. Perlahan ia melepaskan pegangannya, membiarkan Jiyeon pergi begitu saja. setelah Jiyeon tak terlihat, Taemin mendengus kesal.
“Kenapa semuanya harus Sulli? Aish!”

—–o0o—–

*Sulli POV*

Hidup terasa hampa ketika cinta itu menjauh. Aku benci kalimat itu. tapi bagaimana pun itu lah yang aku alami sekarang. Bertengkar dengan Taemin membuatku seperti kehilangan satu hal yang berharga. Harusnya saat itu aku tidak egois. Berteriak padanya dan..membuat hubungan kami memburuk.
Taemin memang benar. Siapa yang akan mengajakku. Para laki-laki itu terlalu segan untuk dekat-dekat denganku. Entahlah mereka menganggapku apa. tinggiku di atas rata-rata tinggi gadis seusiaku pada umumnya. Dan jangan kira itu membuatku bangga. Tubuh tinggi membuatku sulit mendapatkan teman. Hanya Taemin saja yang mau menerimaku apa adanya. Setidaknya setelah aku memutuskan untuk berubah menjadi gadis yang disukai Taemin.
Aku tahu dahulu Taemin menyukai tipikal bad girl, gadis tomboy yang suka segala hal yang bersangkut paut dengan laki-laki. tapi siapa sangka sekarang tipe gadisnya berubah menjadi feminim dan anggun? Setelah aku mengubur diriku yang anggun dan feminim, Taemin justru menyukai tipe seperti itu? Tuhan, apa yang harus aku lakukan sekarang? Berubah kembali menjadi Sulli yang dahulu dan merebut hatinya kembali? Sepertinya tidak ada jalan lain selain itu.

—-o0o—-

*Author POV*

Sulli berjalan sendirian di antara sekian banyak orang yang berlalu lalang di jalan Myeong dong. Kepalanya tertoleh ke sekitar area ramai yang selalu menjadi tempat favoritnya menghabiskan waktu luang bersama Taemin itu. toko-toko berderet di sepajang sisi jalan menjadikan tempat ini pusat perbelanjaan favorit bagi masyarakat Seoul. Sulli menghentikan langkahnya saat pandangan matanya terbentur sesuatu yang di pajang di sebuah etalase butik.
Binar matanya menyeruak dan hatinya berdesir senang. seulas senyum tipis bersemi di sudut bibirnya saat melihat gaun baru terpajang lengkap dengan aksesori dan sepatu yang dipadu padankan dengan gaun itu. Ternyata sisi feminimnya memang belum menghilang. Diam-diam Sulli suka memandangi segala hal berbau ‘yeoja’. Seperti gaun dan sepatu model baru. Namun sialnya Taemin selalu tertawa dan meledek setiap kali ia tertangkap tengah memandangi etalase toko yang memajang benda-benda itu dengan wajah penuh minat. Memang salah jika wanita ingin semua itu?
Sulli memutuskan untuk masuk dan melihat-lihat. ia mendorong pintu kaca toko itu dengan perasaan ragu. Tapi sambutan hangat dari pegawai toko membuatnya sedikit yakin.
“Ingin membeli gaun nona? atau sepatu dan tas terbaru dari toko kami?” sapa pegawai toko itu ramah. Sulli memamerkan senyum kikuk. Sebenarnya ia malu untuk mengatakan ia hanya masuk untuk melihat-lihat.
“Boleh aku lihat gaun itu.” ucap Sulli malu. Tangannya menunjuk gaun yang di pajang di etalase toko itu. pegawai toko tersenyum.
“Pilihan yang sangat sempurna, nona..” ucapnya. Sulli menunggu pegawai itu membawakan gaun sementara ia duduk di salah satu sofa yang disediakan di sana.
“Silakan, nona.” pegawai itu menyerahkan sebuah gaun cantik berwarna putih gading padanya. Sulli tidak bisa menyembunyikan rasa kagumnya saat mengamati gaun indah ini dari dekat. Ia melonjak bangun lalu meraih gaun itu ke dalam genggamannya.
“Ini indah sekali. Boleh aku mencobanya?” tanya Sulli antusias.
“tentu saja, nona.”

Tanpa membuang waktu, Sulli segera membawanya ke fitting room, lalu keluar dengan langkah percaya diri. Pegawai toko itu tersenyum melihat Sulli tampak sangat pas mengenakan gaun itu.
“Kau tampak mengagumkan, nona.” ucapnya. Sulli tersenyum malu. Ia menghadapkan dirinya ke depan cermin besar dan melihat pantulan dirinya sendiri di sana. Senyum pun kembali merekah. Matanya berkaca-kaca antara tak percaya, takjub, dan bahagia. Akhirnya ia bisa memakai gaun indah seperti ini lagi.
Tangannya menyentuh gaun yang terbuat dari kain satin itu begitu lembut dan ringan. Bentuknya sederhana dengan atasan tali spageti dan terdapat beberapa ornamen bunga di bagian pinggang. Akan lebih cantik lagi jika ditambahkan aksesori kalung dan anting-anting mutiara.
“silakan coba sepatu ini, nona.” ucap pegawai toko itu membawakan sepatu cantik untuk dipakai Sulli. Gadis itu menggumamkan terima kasih sebelum memakainya. Setelah di tambah sepatu itu, kini penampilannya terasa kian sempurna. sudah diputuskan. Ia akan memakai gaun ini saat ke acara prom night kampus nanti. Tapi..segurat kekecewaan menghinggapi dirinya. Ia teringat kata-kata Taemin.

Kau ini tidak ada manis-manisnya!!
Kau lebih pantas memakai sepatu namja di banding high heels itu.
Kau pasti tidak percaya diri karena tidak ada yang mengajakmu ke pesta dansa..

Sebuah geraman halus keluar dari bibir tipis yeoja itu. mengingat kata-kata tak berperikemanusiaan yang dilontarkan Taemin membuat darahnya mendidih kembali. Namja itu tidak berhak mengatainya. Memang dia pikir dia siapa? tantangan sudah terlanjur diurai dan tidak ada jalan baginya untuk kabur. Jika Lee Taemin memang menantangnya, ia siap membuat namja itu merasa kalah dan menyesal sudah membuatnya marah.
Taemin harus diberi pelajaran atas sikapnya selama ini. Sikapnya yang lamban, kekanakan, bodoh, dan tidak peka sama sekali. Taemin harus disadarkan bahwa selama ini ia, Choi Sulli, sahabatnya, mencintai namja lamban, kekanakan, bodoh dan tidak peka sepertinya.
Sulli menoleh pada penjaga toko itu dengan mantap. “Aku ambil ini!” tegasnya dengan aura menggebu. Penjaga toko itu sampai terkesiap kaget lalu mengangguk kemudian. Di depan kasir, dengan ragu Sulli mengeluarkan kartu debit yang ia miliki. Di tatapnya benda tipis berbentuk persegi panjang itu dengan perasaan tak rela. Ia harus merelakan sebagian uang tabungannya untuk membeli gaun? Oh..my..
Sulli menerima kantong berisi gaun itu lalu menggumamkan terima kasih. Ia menatap dalam kantong itu dan bergumam dalam hati. “Lee Taemin, kau benar-benar harus membayar semuanya!!!”

—o0o—

“Aku tak paham sedikitpun perasaan yeoja, Nuna.”
Mira menoleh ketika rentetan kalimat putus asa itu keluar dari mulut Taemin, adik iparnya. Ia kini melihat Taemin membantunya mengepel lantai dengan wajah memprihatinkan. Ia menghentikan kegiatan memotong sayuran sejenak, lalu berbalik menatap Taemin yang tengah mengepel lantai ruang tengah dengan setengah hati. Sejak insiden keguguran itu, *Baca Shady Girl Eunhyuk’s Story* Taemin bertekad untuk menjadi pembantu ‘freelance’ di rumah kakaknya itu. dan Mira tidak keberatan sama sekali karena memang tenaga sukarela Taemin sangat dibutuhkan.
“Tentu saja kau tidak mengerti, kau itu namja.” Ucap Mira santai, lalu kembali menekuni kegiatannya menyiapkan makan malam sebelum suaminya, Eunhyuk pulang dari kantor. Taemin menoleh lalu mendesah berlebihan.
“Aku tahu hal itu Nuna..demi apapun aku tahu aku namja. Tapi yang tidak kupahami adalah sikap mereka..” ucapnya nyaris frustasi. Mira menoleh kembali dan kini ia melihat Taemin membawa peralatan pelnya ke dapur lalu meletakkannya di samping wastapel dekat gudang kecil tempat penyimpanan perkakas rumah tangga. Pria itu berjalan gontai lalu duduk di salah satu kursi meja makan, tepat di seberang tempatnya berada sekarang. Bertopang dagu dan kembali menerawangkan pandangannya. Mira tersenyum simpul melihatnya.
“Nah, jadi apa yang tidak kau mengerti?” tanya Mira membuyarkan lamunan Taemin.
“Sikap mereka..” ucapnya lugas.
“Sikap yang mana?”
“Selalu marah untuk hal sepele, seperti saat aku tak sengaja mengatakan kalau dia tidak cocok memakai high heels atau saat secara tidak sengaja juga membahas yeoja lain di tengah obrolan. Ah, ada lagi. juga sikapnya yang selalu ingin diperhatikan, manja, juga sulit sekali ditebak. Ah..aku pusing..” Taemin mengacak-acak rambutnya sendiri.
“Apa yang kau maksud itu Sulli?” tanya Mira. Taemin mendongak menatap kakak iparnya itu dengan wajah tercengang. Apa tadi semua ucapannya mengarah pada Sulli? Atau memang kakak iparnya itu bisa membaca pikiran?
“Nuna, bagaimana kau tahu?”
“Mudah sekali. Karena gadis yang dekat denganmu hanya dia.”

Taemin tepekur menatapi Mira yang masih juga santai memasak, ia menunggu penjelasan lain atau lebih tepatnya masukan atas permasalahan yang sedang di hadapinya sekarang. Demi dewi fortuna, ia sekarang frustasi karena pertengkarannya dengan Sulli yang belum juga mendapatkan jalan terang. Padahal waktu sudah terlewat 2 minggu dan sampai detik ini mereka belum juga berbaikan. Bila harus jujur, Taemin tidak suka pertengkaran ini. Hanya akan membuat jarak di antara mereka dan menyesakkan hati. siapa yang tidak merasa sakit hati saat orang terdekatnya marah dan menjauh. Apalagi jika itu adalah kesalahan yang dibuat sendiri.
Mira menatap Taemin kembali, kali ini dengan mata di sipitkan. “Kau benar-benar tidak tahu alasan Sulli marah?” tanyanya menyelidik. ia tahu dari suaminya sendiri yang mendengarnya dari Siwon bahwa Sulli dan Taemin sedang bertengkar. Pertengkaran di antara keduanya membuat suasana buruk. Siwon bercerita, Sulli kerap kali berteriak dan marah tidak jelas saat di rumah. Meskipun tidak melihat secara langsung, tapi ia mendengar ibunya bercerita dengan wajah prihatin dan meminta Siwon mengakurkan kembali 2 sahabat itu. bagaimana bisa? Masalahnya saja tidak tahu.
Taemin kembali tertegun, lebih tepatnya berpikir. Ia menggeleng kemudian saat otaknya tidak berhasil menemukan alasan Sulli marah. Ia hanya tahu satu hal, Sulli marah karena ucapan sepelenya, itu saja.
“Kau ini polos atau tidak peka sih?” Mira menggelengkan kepalanya, agak jengkel juga. ia menatap Taemin serius. “Taemin, itu artinya Sulli menyukaimu.”

Penjelasan singkat Mira itu membuat Taemin kaku. Mendadak saja seluruh saraf di tubuhnya menegang mendengar ucapan Mira. Apa? Apa? Apa? Sulli menyukainya? Itu hal yang sangat tidak masuk akal!
“Mwo? Nuna, kau jangan bercanda. Tidak mungkin..” gurau Taemin sambil mengibaskan tangannya.
“Lalu kenapa dia marah saat kau menyebut nama yeoja lain saat kalian sedang mengobrol berdua? di lihat dari sudut manapun sudah jelas Sulli menyukaimu.” Mira mulai geregetan melihat Taemin masih juga melongo kaget.

Selama ini Taemin memang tidak menyadarinya. Ia hanya menganggap sikap baik Sulli padanya hanya bentuk sikap baik teman terhadap teman yang lain. Tidak lebih. Dan ia memang merasa sangat dekat karena Sulli satu-satunya sahabat yang ia miliki. Itu saja.
“Tapi, jika memang suka padaku kenapa dia tidak bilang?” dengan bodohnya Taemin mengajukan pertanyaan konyol itu, lebih tepatnya ia sedang bertanya pada diri sendiri.
“Mana mungkin, Taemin sayang. Sulli itu YEOJA. Dan pada umumnya yeoja memiliki gengsi yang sangat tinggi. Tidak mungkin berani mengakui perasaan sukanya pada namja yang disukai. Tapi kau bisa lihat dari tanda-tandanya.”
Taemin menoleh, “Tanda-tanda?” tanyanya penasaran.
Mira mengangguk sementara tangannya tetap sibuk memasak sup dan membuat masakan yang lain. “Pertama, dia akan tersipu saat kau memuji ataupun menatap mata sambil tersenyum padanya.”
Taemin menengadahkan kepalanya membayangkan saat ia tersenyum pada Sulli, membayangkan reaksi gadis itu. kemudian ia mengerjap. Bingo! Sulli memang kerap kali tersipu malu dan, tersenyum tidak jelas.
“Kedua, dia akan sedih atau bahkan menangis saat melihat kau terluka, sakit, atau bahkan patah hati.” lanjut Mira. bingo!! Untuk yang kedua juga benar! Ia sering melihat Sulli berkaca-kaca bahkan menangis di hadapannya saat ia sakit, atau terluka ketika berkelahi. Dan oh iya..bukankah saat ia patah hati juga Sulli sedih untuknya?
“Dan ketiga, dia akan marah saat kau menceritakan atau menyebut gadis lain, memuji-muji bahkan membandingkannya saat kalian sedang berbicara. Dengan kata lain dia cemburu.”
Kali ini pun Taemin menjentikkan jarinya. “Benar sekali Nuna! Sulli memang menunjukkan reaksi seperti itu! jadi, dia menyukaiku? Apa harus aku tanyakan?”
“Tidak!!” tegas Mira.
“Ho, wae?”
“Sulli akan tersinggung dan lebih marah lagi padamu! Jadi sebaiknya tunggu waktu yang tepat, tunggu hatinya tenang dan kau baru tanyakan. Oke…”
Taemin mengangguk-anggukkan kepalanya. nah, kalau begini ia baru bisa tenang. jika memang benar Sulli menyukainya, kemungkinan, gadis itu tidak akan marah terlalu lama.
“Nuna, terima kasih…”

Brakkkk..

Ucapan namja itu tersendat dan ia terperanjat kaget dari tempat duduknya saat melihat Mira mendadak terhuyung jatuh ke lantai dapur.
“Nuna!!” pekiknya panik. Taemin berlari cepat menyongsong tubuh Mira yang terbaring lemah di lantai, ia mematikan kompor yang menyala, lalu menelepon ambulans.
“Nuna, kau kenapa???” Taemin bergetar panik. Ia takut. Kenapa saat ada dirinya selalu terjadi sesuatu? Apa dirinya adalah dewa epidemi hingga mengakibatkan kesialan bagi orang-orang di dekatnya?

—o0o—

Eunhyuk berlari kencang dengan raut panik bercampur gelisah ketika turun dari mobil menuju kamar tempat istrinya di periksa. Tadi ia mendapatkan telepon dari Taemin bahwa Mira mendadak terkapar saat memasak. Tanpa membuang waktu ia segera pergi dari kantornya ke Seoul General Hospital, meninggalkan para dewan direksi yang bertanya-tanya karena ia pergi tiba-tiba di tengah rapat penting.
“Mira!!” seru Eunhyuk saat ia membuka pintu kamar rawat itu. ke empat orang yang berada di dalam menoleh bersamaan. Mereka menatap Eunhyuk heran, dan itu membuat Eunhyuk merasa seperti orang bodoh.
“Mira?” tanyanya pada sang istri yang terbaring di atas tempat tidur, Kibum berdiri di samping tempat tidur tengah memeriksa Mira dengan seorang perawat menemaninya. Sementara Taemin duduk di sisi yang lain.
Mira tersenyum hangat pada Eunhyuk. “Oh, Oppa. Kau sudah tiba?” ucapnya tanpa rasa bersalah. Melihat Mira baik-baik saja, bisa tersenyum manis seperti itu membuat Eunhyuk menghembuskan napas lega, ia melemaskan bahunya yang tegang lalu berjalan menderap ke dekatnya. Tanpa membuang waktu ia langsung memeluk istri tercintanya itu.
“Syukurlah kau baik-baik saja, Mira sayang. Kau tahu aku hampir mati berdiri mendengarmu masuk rumah sakit lagi.” lirih Eunhyuk. Mira agak tersentak karena dekapan suaminya itu terlalu erat.
“Ekhem” terdengar suara deheman berasal dari mulut Kibum. Eunhyuk mengangkat kepalanya lalu menoleh ke arah sahabat baiknya itu, dia kini tengah menatapnya dengan alis sebelah terangkat sementara suster di sampingnya menutup sebagian wajahnya dengan papan yang di bawanya, mungkin malu sendiri melihat adegan mesra dadakan di depannya.
“Ah, mian..” Eunhyuk melepaskan pelukannya meski enggan, ia berdehem sejenak lalu menatap Kibum. “Jadi, istriku kenapa?”
Kibum tersenyum simpul lalu melirik papan berisi laporan yang di serahkan suster tadi. “Istrimu hanya kelelahan biasa. Daya tahan tubuhnya sedikit terganggu karena ada kehidupan baru di perutnya.” Ucap Kibum santai. Eunhyuk mengangguk ringan, masih belum mencerna sepenuhnya ucapan Kibum. Namun sesaat kemudian ia mengerjap.
“He? Apa kau bilang tadi? kehidupan baru, dalam perut??”
Senyum Kibum melebar. “Ne, selamat Tuan Lee. Kau akan menjadi ayah. Istrimu itu tengah mengandung 3 minggu”

“Mwoooo???” Eunhyuk berteriak histeris. Ia bergantian menatap Kibum dan Mira dengan wajah tak percaya. Mira mengangguk mengiyakan ucapan Kibum. Melihatnya Eunhyuk tak bisa menyembunyikan rasa bahagianya lagi. ia kembali menghambur memeluk Mira.
“Akhirnya…akhirnya Mira sayang..kita akan menjadi orang tua lagi!!” serunya. Kali ini Kibum tidak menyela, ia membiarkan Eunhyuk mengeluarkan semua kegembiraannya.
“Kalau begitu aku pergi dulu. jika butuh sesuatu, kau cukup tekan tombol itu saja” ucap Kibum. Ia tak menunggu jawaban Eunhyuk untuk pergi.

Setelah Kibum tidak ada, Eunhyuk tetap memeluk Mira erat. Perasaan bahagia, terharu, syukur, tak percaya, semuanya bergabung menjadi satu. tanpa disadari dari sudut matanya mengalir tetesan bening, membasahi bahu Mira yang terbalut pakaian rumah sakit.
“Oppa..” Mira mengusap-usap punggung suaminya dengan lembut. Ia tahu suaminya ini senang sekaligus gelisah mendengar kehamilannya. Rasa takut kehilangan seperti saat kehamilan pertama masih menghantui. Tapi sekarang, ia akan lebih berhati-hati menjaga kandungannya.
“Ekhem, Hyung, Nuna..aku tidak bermaksud mengganggu. Tapi, jangan lupa aku juga masih di sini.” Sela Taemin. Ia menarik pelan jas Eunhyuk.
Seolah tersadarkan, baik Eunhyuk maupun Mira menoleh ke arah Taemin yang tetap setia duduk di tempatnya, menyaksikan semua adegan mesra secara langsung tepat di depan matanya. Taemin kikuk sendiri. ia menggaruk kepalanya.
“Taemin, sedang apa kau di sini?” Eunhyuk malah bertanya. Ia kira tadi Taemin keluar mengikuti Kibum.
“Oppa, berterima kasihlah. Jika tidak ada Taemin entah bagaimana nasibku. Mungkin di rumah sudah terjadi kebakaran karena aku pingsan saat memasak.” Jelas Mira. ia tidak mau Taemin terkena masalah.
Eunhyuk mengangguk-angguk. “Terima kasih, ne.” Ucapnya sambil mengusap bahu Taemin. Namja itu tersipu malu.
“Kalau begitu aku minta hadiah, Hyung.”
“Apa?”
“Mobil mustang convertible yang sama seperti milikku yang dicuri itu.” ucapnya polos. Mira dan Eunhyuk terbelalak bersamaan. Eunhyuk langsung saja menjitak kepala adiknya itu.
“Enak saja! bukankah mobil itu sudah dikembalikan!!”
“Auch..aku ingin yang baru..” ringisnya.

Eunhyuk tidak mempedulikan rengekan Taemin. Dia menoleh pada Mira, mengamatinya baik-baik. “Oppa kenapa?” Mira merasa aneh, kini Eunhyuk mulai mengulurkan tangan membelai pipinya. Dia tersenyum hangat.
“Hmm, pantas saja kau semakin cantik akhir-akhir ini. Rupanya ada malaikat kecil yang hadir di sini.” Tangan Eunhyuk turun mengusap perutnya.
Mira tersenyum, menatap lurus ke dalam mata Eunhyuk yang penuh dengan binar bahagia. Eunhyuk pun melakukan yang sama, mereka saling pandang tanpa sadar sudah mendekatkan diri satu sama lain. Taemin mulai merasa risih melihatnya. Sial! Ia harus pergi atau ia terpaksa menyaksikan adegan ciuman secara live.
“Arrrgghhhh!! Arraseo, aku akan keluar!!” teriak Taemin frustasi. Ia menderap keluar ruangan sambil menghentak-hentakkan kakinya. Eunhyuk tersenyum simpul tanpa menoleh ke arah adiknya yang kesal.
“Apa kita sudah keterlaluan, Oppa?” tanya Mira. ia merasa tidak enak hati pada Taemin.
Eunhyuk mengendikkan bahu, tak peduli. “Biar saja. toh jika dia melihat juga bukankah itu bagus untuk pembelajarannya?” ia tersenyum penuh makna, “Jadi, bisa kita lanjutkan?” tanyanya.
Pipi Mira merona kemerahan, namun kepalanya mengangguk. Eunhyuk memperlihatkan senyum kemenangan, dan tak lama Mira bisa merasakan bibirnya tersentuh oleh material lembut. Tangannya terangkat mengusap pipi Eunhyuk penuh kasih sayang. Sementara namja itu memeluk erat tubuh istrinya.

Dari luar, Taemin mendengus sebal. Tanpa sengaja ia kembali mendapati kakaknya sedang berciuman mesra begitu. Saat membantu di rumah pun, ia sering sekali secara tidak sengaja ‘memergoki’ mereka melakukan hal serupa. Namun tak ada yang bisa ia lakukan selain berdecak kesal. Toh mereka sudah sah sebagai suami-istri kan? Hanya saja ia berada di tempat yang salah dan di waktu yang salah.
Dan sekarang, otak polosnya seolah teracuni jika terus menyaksikan adegan semacam itu.

#nah loh, Bang Eunhyuk tanggung jawab! Taem yang polos jadi keracunan gitu
#Hyuk: terus salah gue? Salah ortu gue? Salah temen-temen gue? Itu kan salah lo thor! Lo yang bikin cerita
#auk ah, gelap-_-

—-o0o—-

Sulli baru saja tiba di rumah dan membuka sepatu kets yang di kenakannya saat ujung matanya melihat satu pasang sepatu yang tidak dikenalinya. Hmm, apa ada tamu yang datang?
“Umma..” teriaknya hendak bertanya, tapi ketika dirinya melewati ruang tamu, Umma berseru memanggil.
“Sulli, lihat siapa yang datang!!” serunya gembira. Sulli menoleh, tepat saat matanya menangkap sosok tak asing duduk di sofa ruang tamu, matanya melebar seketika dan senyumnya mengembang.
“Choi Minho!!” serunya. Ia menderap cepat menghampiri Umma dan namja bernama Minho itu dengan wajah gembira. Sudah lama sekali sejak sepupunya itu pergi ke luar negeri dan sekarang baru bertemu kembali. Minho tersenyum, lalu berdiri.
“Owh, lihat, tamu agung dari mana ini? Sudah 7 tahun pergi kenapa baru kembali??” Sulli mengamati Minho yang tampak sangat berbeda dari yang terakhir dilihatnya. “Dan wow, Minho yang dulu kecil, cengeng, dan lemah siapa sangka bisa berubah menjadi namja tampan begini.”
Minho memamerkan senyumnya. “Dan lihat kau Choi Sulli, tinggimu bisa menyaingi pemain basket pro di NBA” candanya seraya mengukur tinggi Sulli dengan tingginya sendiri.
Sulli tertawa, lalu Minho memeluknya sekilas. “Mengapa kembali? Apa terjadi sesuatu di Inggris?” tanya Sulli saat mereka sudah kembali duduk.
“Kuliahku libur panjang. Jadi kumanfaatkan kesempatan ini untuk kembali ke kampung halaman.”
“Ayah dan ibumu? Mereka baik-baik saja di sana?” tanya Umma
Minho mengangguk. “Tentu. Mereka ingin kemari, sangat. Tapi pekerjaan membuat mereka tak memiliki waktu”
Umma tersenyum. “Gwaenchana. Kami bisa mengunjungi mereka ke Inggris. Benarkan, Sulli?”
“Oh, ne..” jawab gadis itu linglung. Mereka mengobrol setelahnya, namun Sulli tidak begitu menyimak karena melihat Minho, ia seolah menemukan solusi atas kegelisahannya selama 2 minggu terakhir. Senyumnya terbit pelan-pelan. Bingo, ia bisa mengajak Minho untuk menemaninya ke prom night nanti.

Minho akan menginap di rumah Sulli selama liburan di Korea. Namja itu menempati kamar yang dulu di tempati Siwon. sulli diam-diam menyelinap ke dalam kamar Minho saat malam tiba bermaksud untuk meminta tolong pada sepupunya itu.
Pelan-pelan ia membuka pintu kamar Minho dan melihat namja itu tengah tertidur pulas di atas tempat tidur. hem..dia pasti lelah setelah menempuh perjalanan panjang dari Inggris ke Korea.
“Sulli, ada apa?” gumam Minho ketika ia memutuskan keluar. Sulli menghentikan tangannya yang terulur untuk menarik kenop pintu, lalu menoleh pada sepupunya yang masih terpejam di tempatnya. Sulli mendengus lalu berkacak pinggang.
“Rupanya kebiasaanmu pura-pura tidur itu belum berubah, Choi Minho.”
Perlahan terdengar suara kekehan pelan keluar dari mulut namja itu. minho membuka mata lalu bangkit duduk di atas ranjang. “Ada apa? pasti ada hal penting yang ingin kau bicarakan hingga kau terpaksa menyelinap malam-malam ke kamar pria. Atau kau biasa melakukannya?” selidik Minho. Sulli gelagapan. Ia memang sudah biasa menyelinap, tepatnya menyelinap ke dalam kamar Taemin saat ingin membangunkan namja itu.
“Ti-tidak! Lagipula kau ini kan sepupuku! Apa yang bisa kau lakukan jika seandainya aku menyelinap kemari?”
Minho menyipitkan matanya, “Hei, biar begini aku pria berdarah panas dan pikiranku sudah dewasa. Jadi jangan remehkan aku, oke. Aku bisa saja menyerangmu sekarang.” Guraunya.
Sulli tergelak, ia merasa lucu sekali mendengar Minho berkata dengan sangat pedenya.
“Jangan percaya diri, Tuan Choi.”
Minho tidak terlalu mempedulikan, ia menurunkan kakinya ke atas lantai dan duduk di tepian ranjang. “Jadi, kau ingin meminta bantuanku, iya kan?” tebaknya. Sullli menatap Minho ragu. Rupanya, sepupunya ini memang paling pintar membaca pikiran orang.
“Iya.” Sulli mengangguk dengan susah payah. “Aku memang meminta bantuanmu.”
“So, tell me”
“Begini, kau mau kan menemaniku ke acara dansa?”
“Acara dansa? Di kampusmu?”
Sulli mengangguk. “Iya. Kau mau? Kau berlibur selama 2 minggu kan? Acara itu berlangsung minggu depan. Jadi, kumohon bantu aku.”

Minho mendesah, lalu melipat tangannya di depan dada. “Ah, itu permintaan sulit. Aku sudah menyusun jadwalku selama liburan di sini. Dan itu tidak bisa diubah.” Jelasnya dramatis. Sulli kaget, ia tak percaya Minho akan menolak. Bagaimana ini? Hanya Minho harapan satu-satunya untuk membalas Taemin.
Sulli mendekat, ia lalu duduk di samping Minho dan memasang tampang memohon. “Ayolah, kau pasti bisa. Lagipula acaranya malam hari. kau pasti tidak akan pergi kemanapun saat malam, iya kan?”
“Choi Sulli, memang apa yang salah? Apa tidak ada yang mengajakmu di kampus? Apa kau tidak cukup terkenal di sana?” tanya Minho bingung. mendengarnya Sulli terasa kepalanya terpukul palu. Kenapa rasanya Minho pun seperti tengah mengolok-oloknya sekarang?

Sulli menyerah, ia mendengus berkali-kali. “Ya sudah kalau memang tidak bisa!”
Minho tertawa melihat sifat kekanakan Sulli. “Hei, aku kan tidak bilang tidak bisa. Jangan terlalu cepat menyimpulkan, Sulli sayang.”
Sulli menoleh antusias menatap Minho. “Jadi, kau bisa??”
“Em, ya..asalkan kau menjawab satu pertanyaanku.”
“Apa?”
“Kau melakukan ini bukan untuk menunjukkan pada seseorang atau semacamnya kan?” selidik Minho. Sulli mendadak diam. Senyumnya terhenti dan mulutnya mengatup otomatis. Lagi-lagi sepertinya Minho bisa menebak pikirannya.
“Aku tidak..” elak Sulli tanpa memandang Minho.
“Oh, sepertinya begitu.” Minho menyimpulkan setelah melihat reaksi Sulli.
“Katakan, siapa namja itu?”

Sulli menoleh cepat ke arah Minho dengan wajah tercengang. Dan kini ia harus mengakui kemampuan sepupunya ini. Dia pasti seorang cenayang. Kenapa bisa menebak semua pikirannya dengan tepat dan telak?
“Aku hanya penasaran, jangan menatapku dengan wajah mengerikan begitu.” Ucap Minho. Sulli menggelengkan kepalanya mencoba mengubah ekspresi tercengangnya lalu kembali menatap Minho.
“Sebenarnya, kau benar..” aku Sulli. Ia memainkan ujung bajunya, gugup. Ini pertama kalinya ia akan menceritakan isi hatinya pada orang lain.
“Aku, ingin membuat namja yang kusukai…melihatku” ucap Sulli sungguh-sungguh.

To be continued.

52 thoughts on “Shady Girl Taemin’s Story (Part 3)

  1. Klo liat Taemin d cuekin ama Eunhyuk n Mira lucu bgt,, Taemin yg plos scra tdk lnsung d ajarkn kkknya yg gk2 hahahahha
    slmat Mira hamil lg,,,
    wah Sulli udh mw nnjukin prasaannya k Taemin,,tp gmn ya dgn Taemin???

Your comment

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s