Because WGM, You’ll Be Mine !! [Part 5]

Tittle : Because WGM, You’ll Be Mine !! Part 5
Author : Dha Khanzaki a.k.a Shin Je Young
Genre : Romance

Main Cast :
Shin Je Young
Cho Kyuhyun

Happy Reading ^_^

Because WGM, you'll be mine by Dha Khanzaki

===Part 5===

*Kyuhyun POV*

Tahu sindrome ‘sleeping beauty’? Suatu kecenderungan yang membuat seseorang mudah sekali tertidur dan masuk ke dalam mimpi. Sepertinya hal itu kualami sekarang. Aku hanya tidak menyangka bahwa dalam diri gadis biasa sepertinya ada suatu kekuatan yang membuatku mudah sekali berhalusinasi seolah-olah diriku tiba-tiba di tarik ke dalam dunia yang indah layaknya negeri dongeng. Seperti detik ini.

Berdansa di suatu pesta bukan hal asing lagi bagiku. Tetapi sensasi yang kurasakan ketika aku dan Je Young bergerak seirama diiringi musik melankolis adalah pengalaman yang benar-benar baru. Sesuatu hal yang sederhana namun menakjubkan. Aku mendapati diriku tersenyum bahagia dan jantungku melonjak-lonjak sampai aku ingin berlari ke atas gunung lalu berteriak; ‘aku gila karena gadis ini!’.
“Bagaimana, kejutan ini sukses bukan?” kudapati diriku berkata, menginterupsi Je Young yang sejak tadi tak bersuara. Hanya bergerak luwes mengikuti irama gerakanku. Kepalanya terangkat dan mata almondnya menatapku kaget.
“Ne. Aku sangat terkejut,” pipinya merona merah, sungguh menggemaskan.
“Aku senang mendengarnya,” aku berkata sambil memutar tubuhnya, lalu menarik kembali ke dalam rengkuhanku.
“Sejujurnya, aku lupa hari ini ulangtahunku dan aku tidak menyangka akan mendapatkan kado terindah seperti ini. Mendapatkan kejutan dari Super Junior yang sangat kuidolakan,” terangnya gembira. Aku tersentak mendengar penuturannya. Tarianku terhenti karena mendadak aku teringat satu hal kecil yang sempat terlupakan.
“Ah, aku lupa kadonya,”

Mata bulatnya itu mengerjap berkali-kali. Bibirnya bergetar sedikit dan ia menatapku seolah aku baru saja mengatakan bahwa aku melihat pinguin terbang di atas kota Seoul.
“A-apa? Jadi, aku mendapat kado juga?” Je Young tercengang.
“Tentu saja. Bukan ulang tahun namanya jika tidak ada kado,” ucapku seraya tersenyum. Aku beranjak mengambil kotak yang dibungkus rapi lalu memberikannya pada Je Young dan saat itu aku berusaha menahan diri untuk tidak menariknya ke pelukanku karena melihat matanya berbinar-binar bahagia saat kado yang kuberikan berpindah ke tangannya.
“Bukalah,”

Dengan penuh antusias Je Young membuka bungkus kado bermotif kelinci itu dan menemukan kotak lagi di dalamnya. Je Young memandangku sekilas penasaran dan aku hanya membalasnya dengan senyum kecil. Sepertinya dia benar-benar penasaran apa isi di dalamnya. Aku menyadarai jantungku berdetak dua kali lebih kencang ketika tangan Je Young perlahan membuka tutup kotaknya. Kenapa aku menjadi gugup begini?

“How beautiful!” Je Young berseru kencang. Sudah kuduga dia akan suka dengan hadiahnya. Aku tersenyum mendengar seruannya. Matanya yang jernih itu berbinar-binar melihat benda yang ada di dalam kotak. Aku memberinya sebuah kalung dengan liontin berbentuk kelinci yang diukir begitu indah dan bertatahkan beberapa batu mulia. Memang bukan terbuat dari emas, tapi aku pastikan kalung itu tidak ada dua di dunia ini. Aku meminta bantuan Nuna untuk mencarinya di toko pengrajin perak langganannya. Di toko itu tersedia aksesoris wanita dengan berbagai bentuk yang tidak umum. Aku tak menyangka Nuna benar-benar menemukan yang aku pinta.
“Cantik bukan?” ucapku memastikan. Aku merasa senang sekali mengetahui Je Young menyukainya.
“Em, ini indah sekali,” dikeluarkannya kalung itu. Je Young memandanginya selama beberapa detik lalu memandangku.
“Terima kasih. Aku tidak tahu harus mengucapkan kata apa untuk mewakili perasaanku karena rasa terima kasih saja kurasa tidak cukup,” ujar Je Young lembut dan dalam. Ekspresinya betul-betul membuat lututku lemas. Tapi rasanya tidak etis jika aku mendadak limbung lalu jatuh ke lantai seperti agar-agar. Aku pria dan pria tidak sepantasnya pingsan di depan wanita hanya karena terpesona padanya.
“Sebenarnya ada satu kata yang sangat ingin aku dengar darimu,” ucapku tanpa sadar. Aku sendiri terkejut dengan kalimat yang baru saja kukatakan. Cho Kyuhyun kau sudah gila! Bagaimana bisa kau meminta gadis ini untuk mengatakan hal itu di sini, di mana kelak ribuan pasang mata akan menonton acara ini.

Aku hampir saja meminta Je Young mengatakan ‘aku mencintaimu’.

“Apa?”
“Ah tidak, lupakan.” Aku mengibaskan tangan lalu berpaling ke arah lain. Je Young mengeryitkan keningnya sambil menatapku curiga.
“Apa sih? Jangan membuatku penasaran!!” Je Young mendesakku dan aku semakin salah tingkah. Beruntunglah teriakan Hyungdeul menyelamatkanku.
“Ya! Kalian sampai kapan terus berduaan begitu?! Cepat potong kuenya!” Shindong Hyung menatapku tak sabar. Aku sadar sudah melupakan satu moment penting di ulang tahun. Yaitu memotong kue.
“Ah benar juga,”
Aku mengikuti Je Young yang sudah lebih dulu menghampiri Hyungdeul. Lihat betapa semangatnya dia. Tanpa aba-aba apapun kami sudah berdiri berkerumun untuk memotong kue. Ya, kue yang tadi kami buat bersama.
“Kue pertama harus kau berikan pada suamimu,” celetuk Eunhyuk Hyung membuatku dan Je Young terkesiap. Je Young meletakkan potongan kue pertama ke atas piring lalu memberikannya padaku. Tepuk tangan terdengar dari sekitarku.
“Gomawo,” senyumku tak bisa disembunyikan lagi dan balasan yang kuterima adalah wajah tersipunya. Je Young kemudian memotong kue itu lagi sampai semuanya terbagi sama rata.
“Selamat makan!” kami berseru bersamaan lalu mulai memakan kue dengan antusias. Aku penasaran sekali bagaimana rasanya. Apa ini akan seenak masakannya? Aku mengunyah kue yang terasa begitu lembut di mulut itu dengan sepenuh hati. Awalnya memang tak terjadi apa-apa namun beberapa detik kemudian mataku membelalak.

“Arrrhhh..huweeekkk!”

Tidak hanya aku yang menjengit ngeri tapi juga Hyung deul. Kami pontang panting mencari tempat yang aman untuk memuntahkannya.
“Kenapa?” Je Young yang melihat kami kelimpungan setelah memakan kue panik. Aku segera menyambar gelas berisi air putih lalu meneguknya brutal.
“Shin Je Young, sebenarnya apa yang kau masukkan ke dalam kue????” teriakan protes dari Ryeowook terdengar lebih dulu.
“Aku, aku memasukkan bahan sesuai dengan resep. Aku hanya menambahkan bubuk cokelat ke dalam adonannya. Sungguh, aku tidak memasukkan apapun lagi seperti racun atau sejenisnya,” ucapnya panik bercampur bersalah. “Kalian tidak apa-apa kan?”
Je Young kelabakan memberikan tissue pada member suju lain. Dia lalu menghampiriku, menatapku cemas karena keringat dingin yang bercucuran di keningku.
“Je Young, aku rasa bukan bubuk cokelat yang kau masukkan,” ucapku lemas ketika Je Young mencoba menyeka keringat di dahiku.
“Lalu apa?”

“MERICAAAA!!!!” teriak member lain bersamaan.

“Ndeeee??” Je Young terbelalak kaget. Aku tidak bohong sama sekali soal itu. Kue yang kumakan tadi rasanya pedas sekali. Bukankah aneh jika kue tart memiliki citarasa pedas. Penasaran, dia akhirnya mencoba sendiri kue buatannya dan detik berikutnya, reaksi Je Young tak jauh berbeda denganku. Dia menjengit lalu berlari ke wastafel untuk memuntahkannya.
“Aaaa..ini pedas sekali.” ujarnya sambil mengipasi mulutnya yang kepedasan. Kami mengangguk mengiyakan sambil berusaha menghilangkan rasa pedas di mulut. Je Young buru-buru membungkukkan badannya berkali-kali. Dengan raut penuh penyesalan dia meminta maaf pada kami.
“Mianhamnida. Aku benar-benar tidak sengaja. Aku tidak tahu bagaimana bisa salah memasukkan bahan.”

Mendengarnya lambat laun aku tersadar. Saat itu bukankah Je Young memasukkan sesuatu ke dalam adonan dengan panik setelah kutatap sekian lama. Loh, bukankah secara tidak langsung aku penyebabnya?
“Gwaenchana,” Sungmin hyung mengusap pundak Je Young karena gadis itu kini mulai berkaca-kaca. Sepertinya dia sangat menyesali kejadian ini. Aku cepat-cepat menenangkannya.
“Iya. Lagipula tidak ada yang jatuh pingsan setelah memakannya, kan?” kuusap kepalanya dengan lembut. Je Young menghampus kembali airmatanya yang terlanjur menitik. Ah, menyesal sekali melihatnya meneteskan airmata seperti ini. Lain kali aku tidak boleh mengganggunya saat membuat apapun.
“Maaf, ini salahku karena tidak bisa membuat kue,”
“Ah tidak perlu dipikirkan,”
Aku mengangguk mengiyakan perkataan Hyung deul. Je Young benar-benar menyesal sampai mengangkat wajahnya saja tidak sanggup. Ah, dia sungguh polos. Padahal kami sudah tidak sehisteris tadi lagi.

Syuting hari ini selesai dan aku berpamitan dengan Je Young yang bersiap untuk pulang.
“Kau tidak apa-apa pulang sendirian? Sekarang sudah jam dua malam,” tanyaku cemas mengingat Je Young adalah perempuan. Dan aku tahu apartementnya terletak di kawasan yang tidak terlalu ramai. Aku cemas jika terjadi apa-apa padanya nanti.
“Tidak masalah. Aku bisa sedikit bela diri. Jadi jika ada yang menghadangku nanti, tinggal kutendang saja,” ucapnya sambil sedikit memperlihatkan cara menendangnya. Meskipun sudah berkata begitu aku tetap saja cemas.
“Mau kuantar pulang?”
“Tidak usah. Lagipula bukankah Oppa ada jadwal lagi pagi ini? Oppa harus tidur tepat waktu.” Je Young menoleh padaku setelah membereskan barang-barangnya. “Lagipula kuliahku dimulai jam 10. Aku bisa tidur lebih lama,”
Aku termenung menatapi wajah cerianya. Aku tahu Je Young berusaha membuatku tidak mencemaskannya tapi tetap saja aku merasa tidak tenang sebelum memastikan Je Young pulang dengan selamat sampai di apartementnya.
“Kau yakin?” yakinku sekali lagi. Je Young mengangguk. Aku mengedarkan pandangan ke sekeliling mencoba mencari jalan keluar untuk masalah ini. Ketika aku melihat beberapa kru syuting yang berjalan membawa kopor-kopor berisi peralatan syuting, sebuah ide brilian menyala di otakku.
“Tunggu sebentar di sini,” aku segera berlari menghampiri PD hyung yang kini sedang mengunci pintu rumah yang kami gunakan syuting tadi.
“Hyuuunnnggg..”

—-o0o—-

*Je Young POV*

“Tunggu sebentar di sini,”

Aku hanya mengangguk setelah Kyuhyun mengatakan hal itu. Sedetik kemudian dia setengah berlari menghampiri PD yang sedang mengunci rumah. Sudah kuyakinkan tadi bahwa tidak apa-apa bagiku pulang seorang diri di hari selarut ini. Keamanan di daerah tempatku tinggal tergolong tinggi dan aku tidak pernah mendengar ada kasus kejahatan selama aku tinggal di sana. Tapi ada baiknya menunggu Kyuhyun sementara pria itu sibuk berkata sesuatu pada PD.
“Jeongmalyo? Ah, kamsahamnida,” Kyuhyun membungkukkan badannya berkali-kali dengan wajah gembira. Sepertinya PD mengabulkan apapun yang dikatakan Kyuhyun padanya. Aku penasaran apa yang Kyuhyun pinta dari PD itu. Kyuhyun berjalan tergesa menghampiriku dengan sesuatu di tangannya.
“Youngie, lihat aku mendapat kunci rumah ini. PD bilang kita bisa menggunakan rumah ini meski syuting sudah selesai,” ungkapnya riang.
“Hah?” aku tak mengerti dengan apa maksud di balik ucapannya itu. “Apa maksudnya?”
“Kita menginap di sini malam ini.” Tegasnya menjawab raut bingungku.

Sepersekian detik setelahnya, aku memekik histeris. Apa dia gila? Bagaimana mungkin memikirkan usul dengan resiko tingkat tinggi seperti itu? Dan tadi dia mengatakan ‘kita’? Bukankah itu artinya aku dan dia akan menginap di rumah itu bersama, tanpa kamera dan hanya berduaan saja!!!!
“Kau gila! Jika terjadi sesuatu bagaimana???” aku berusaha menahan nada suaraku agar tidak membentaknya. Bagaimapun aku sangat terkejut dan dirundung ketakutan sekarang. Lebih tepatnya aku gugup setengah mati.
“Terjadi sesuatu apa? Kita hanya menginap,” tegas Kyuhyun dengan wajah innocent. “Lagipula apa yang bisa kita lakukan selain tidur? aku sudah lelah untuk melakukan hal lain.”

Aku ingin sekali memekik histeris lagi sambil menjambaki rambutku sendiri. Hanya saja aku takut dikira sudah gila karena itu aku hanya menatapnya dengan mata membulat. “Bukan itu maksudku! Nanti hanya ada kita berdua di rumah itu. Bagaimana kalau..” aku menggantungkan kalimatku lalu menggigit bibir. Pria ini apa tidak mengerti bagaimana situasiku nanti jika bersama dengannya dalam satu rumah? Aku bisa mati muda karena kadar gugup yang melewati ambang batas.
Sepertinya Kyuhyun menyadari perasaanku karena kulihat dia menghela nafas. “Sudah kubilang aku tidak bisa membiarkanmu pulang sendirian. Dan aku tidak membawa mobil untuk mengantarmu. Hyungdeul mana mau meminjamkan mobilnya di hari selarut ini. Managerku sudah pulang dan aku yakin dia akan marah jika tiba-tiba aku memintanya mengantarkan mobil kemari.” Jelasnya panjang lebar tanpa jeda sama sekali. Aku membuka mulut bersiap memberikan bantahan namun Kyuhyun kembali menyelaku.

“Aku bisa saja mengajakmu pulang bersamaku dan Hyungdeul ke dorm tapi aku yakin itu akan menimbulkan resiko yang lebih besar. Aku tidak mungkin mengantarmu dengan bus ataupun taksi karena bisa saja papparazzi mengambil gambarku dan membuatnya menjadi gosip hangat keesokan harinya. Jadi, bagaimana?” Kyuhyun menatapku penuh harap. Mendengar penuturannya aku bisa merasakan ketulusan di balik ucapan itu. Baiklah Shin Je Young, sepertinya hanya pemikiranmu saja yang berlebihan. Kyuhyun hanya bermaksud menolongmu, tidak lebih. Akhirnya aku menghela nafas merasa kalah debat.
“Baiklah, kau menang Tuan Cho. Aku akan menginap di sini malam ini,” setelah aku mengatakannya, Kyuhyun tersenyum lebar.
“Good jobs,” Kyuhyun dengan semangat segera berjalan menuju rumah lalu membukanya dengan kunci yang didapatkannya dari PD. Aku menoleh ke belakang. Mobil-mobil kru dan Oppadeul SJ sudah menghilang. Mereka membiarkanku terjebak bersama Kyuhyun. Aku menghela nafas berat beberapa kali setelahnya berjalan menghampiri Kyuhyun yang memanggil-manggilku.

“Bagaimana ini Youngie, kamar tidur yang lain belum dibersihkan sama sekali. Hanya kamar tidur utama saja yang rapi.” Ucap Kyuhyun ketika aku baru saja keluar dari kamar mandi setelah mencuci muka. Aku terkejut mendengarnya.
“Nde? Lalu bagaimana dengan kita? Maksudku kita tidak mungkin tidur dalam satu ranjang yang sama bukan??” Aku berjalan menghampiri Kyuhyun yang menggaruk kepalanya bingung.
“Aku bisa tidur di sofa,” ucapnya kemudian. Aku berhenti menatapi kamar lalu beralih menatap wajahnya.
“Tidak bisa. Tubuhmu bisa sakit jika tidur di sofa dan itu akan mengganggu kegiatanmu nanti pagi. Biar aku saja yang tidur di sofa,” debatku. Tidak mungkin kubiarkan bintang Hallyu yang memiliki jadwal panggung menggila sepertinya tidur di tempat tidak nyaman seperti sofa. Kyuhyun harus mendapatkan tidur berkualitas agar kesehatannya tidak menurun.

Kyuhyun menatapku dengan mata melebar. “Mana mungkin kubiarkan seorang wanita tidur di sofa! di mana letak harga diriku sebagai pria?” dia bertolak pinggang seraya mengangkat dagunya. Jelas sekali dia menolak usulku. “Ah, bagaimana kalau kita tidur satu ranjang saja? Bukankah ranjangnya luas?” ujarnya sambil mengerling ke arah ranjang king size yang ada di samping kami. Mengapa pria ini suka sekali mengatakan kalimat yang membuatku terkena serangan jantung? Bisa timbul huru-hara jika aku sampai tidur bersama dengannya.
“Tidak tidak tidak!!” kukibaskan tangannku cepat, menolak idenya. Lebih baik aku tidur tidak nyaman di sofa daripada tidak bisa tidur jika berbaring bersebelahan dengannya.
“Kenapa? Jika kau tidur di sofa punggungmu bisa pegal dan aku takut kau sakit. Sudahlah jangan sungkan padaku. Sekarang sudah malam dan aku tidak mau berdebat lagi,” tanpa mendengarkanku yang sudah membuka mulut Kyuhyun lebih dulu naik ke atas ranjang. Dia merebahkan diri di sana lalu menyibakkan selimut. Aku hanya mampu mengap-mengap tidak jelas melihatnya membaringkan diri di sana.

Aku mendesah seberat-beratnya. Oh Tuhan, inikah caramu menyiksaku? Aku tahu jantungku tidak akan kuat jika harus berdekatan dengannya, apalagi tidur bersama.
“Jika kau tidak tidur di sini bersamaku, kuanggap kita tidak saling kenal besok!” tegurnya sengit. Kyuhyun menyipitkan matanya, menatapku dengan raut marah. Aku menggigit bibirku lagi. Pandanganku tertoleh ke arah sofa di ruang tengah, menghela nafas berat lalu menatap Kyuhyun lagi.
“Baiklah aku mengalah,” ucapku mengangkat tangan menyerah. Sofa di ruang tengah sempit dan aku yakin punggungku akan keram besok jika aku nekat tidur di sana. Aku juga tidak mungkin tidur di lantai karena tidak ada kasur lantai di sini. Dengan lunglai aku menyibakkan selimut lalu naik ke atas ranjang. Menempatkan diri sejauh mungkin darinya.
“Seharusnya itu yang kau lakukan sejak tadi. Untuk apa kita memperdebatkan hal tidak berguna seperti ini?” ucapnya membuatku yang hampir merebahkan diri berhenti sejenak.
“Hal tak berguna?” protesku dengan mata menyipit. Kyuhyun heran melihat reaksiku. Dia ikut mendudukkan diri.
“Aku seorang wanita yang belum menikah dan rasanya sangat tabu jika aku tidur bersama pria yang bukan suamiku. Kau bilang itu tidak berguna? Bagaimana jika Appa dan Eomma tahu tentang hal ini? Mereka bisa memasungku di rumah dan yang lebih parah, bagaimana jika pers tahu bahwa Kyuhyun Super Junior tidur bersama dengan wanita pasangannya di WGM? Lalu bagaimana dengan penggemarmu yang fanatik itu? Mereka bisa mencaci makiku. Belum pendapat teman-teman, keluargaku, dan orang-orang di sekitarku..?” aku berhenti sejenak untuk menarik nafas setelah kalimat panjang yang kuucapkan tanpa jeda sama sekali.

Kulihat Kyuhyun hanya menatapku datar dengan alis terangkat sebelah seolah aku baru saja berkata dalam bahasa asing.
“Bagaimana jika terjadi sesuatu saat—“
“Sssssttt..” Kyuhyun meletakkan telunjuknya di bibirku. Seketika aliran kata-kataku terhenti. Kini Kyuhyun memperlihatkan wajah serius yang tak pernah kulihat sebelumnya. Dia seperti sedang memberikan pengertian padaku.
“Tidak akan terjadi sesuatu Youngie. Kita hanya tidur. Dan jangan pikirkan apa kata orang-orang. Jika orangtuamu sampai protes tentang hal ini—itu pun jika mereka tahu—aku yang akan memberikan pengertian pada mereka. Soal fansku, kau tidak perlu mencemaskan mereka. Aku selalu memiliki segudang cara untuk membuat mereka tenang. Soal teman-temanmu atau orang-orang yang kau khawatirkan, untuk apa memikirkan itu. Selama mereka tidak tahu tidak masalah bukan?”
Aku terdiam oleh cara bicara Kyuhyun yang lembut dan perlahan. Aku bisa menangkap ketulusan dalam nada bicaranya. Itu membuatku merasa tenang dan terlindungi.
“Sekarang sebaiknya kita tidur. Percaya padaku, tidak akan ada yang terjadi kecuali jika kau menginginkan ‘sesuatu’ benar-benar terjadi,” ucapnya sambil mengedipkan mata.

Aku sempat salah tingkah dibuatnya. Beruntung Kyuhyun tidak memperpanjang masalah karena dia sudah membaringkan diri dan memejamkan mata. Dengan ragu aku membaringkan diri juga. ada jarak sekitar 80 sentimeter antara aku dan dirinya. Aku harus tetap menjaga diri.
“Apa Oppadeul tahu kau tidak pulang ke dorm malam ini?” tanyaku ragu sebelum tidur.
“Em, aku sudah menelepon mereka tadi,” Kyuhyun menjawabnya sambil memejamkan mata. Aku tahu dia lelah. Sebaiknya aku tidak mengganggunya lagi.
“Jika kau terbiasa tidur dengan lampu mati, matikan saja,” Kyuhyun berkata lagi sebelum aku benar-benar memejamkan mata.
“Tidak. Lebih baik menyala saja.” sergahku cepat. Akan lebih berbahaya jika lampu sampai dipadamkan. Setidaknya jika lampunya menyala aku bisa tahu apa Kyuhyun benar-benar menjaga kata-katanya atau tidak. Bukannya aku mencurigai dirinya, kuakui aku pasti tidak bisa tidur tenang karena terlalu gembira bisa tidur di sebelah idolaku. Tetapi dia adalah pria dan aku wanita. Kami sudah dewasa dan terkadang dikuasai oleh gairah tinggi. Tidak bisa kubiarkan diriku yang bukan istrinya terlibat asmara yang terlalu dalam dengannya. Aku tidak bisa menanggung akibatnya jika sampai rasa cintaku terlalu besar padanya.
Entah sejauh mana aku berdebat dalam pikiranku sendiri, tanpa sadar aku sudah jatuh terlelap.

—o0o—

Aku terbangun karena mendengar suara alarm yang berbunyi nyaring. Kupaksakan membuka mata meskipun rasa kantuk membuat kelopak mataku seolah memiliki berat 1 kilogram. Suasana kamar sudah terang benderang. Aku baru menyadari kami tidur tanpa menutup gordennya.
“Oh, sial!” bunyi alarm kembali membahana. Siapa yang memasang alarm dengan bunyi sirine polisi seperti ini? Setahuku aku mengeset nada alarmku dengan soundtrack kartun Spongebob Squarepants. Aku mengulurkan tanganku meraba-raba tempat dimana suara ponsel itu berasal. Setelah mendapatkannya, aku sedikit bangun untuk mematikannya. Tapi kuperhatikan ponsel ini bukan ponselku. Bentuknya berbeda. Mataku memicing agar bisa melihatnya lebih jelas.
“Ini memang bukan ponselku!” seruku begitu tersadar. Jika bukan ponselku itu artinya ponsel Kyuhyun. Sedetik kemudian aku tersadar bahwa tempatku bersandar sekarang terasa hangat dan nyaman.
“Omo!!!” suara jeritan terdengar di kamar ini dan aku sadar itu adalah jeritanku sendiri. Ayolah, siapapun pasti akan memekik histeris jika berada dalam situasiku sekarang.

Bagaimana bisa aku berada di atas dada bidang Cho Kyuhyun!!? Aku benar-benar lupa semalam kami tidur bersama. Oh tidak, jangan gunakan kata itu! Aku dan Kyuhyun hanya terlelap di atas tempat tidur yang sama.Tanpa melakukan apapun!
Aku harus bangkit sebelum Kyuhyun terbangun dari tidurnya dan menangkap basah diriku dalam posisi memalukan seperti ini. Jantungku hampir saja copot saat hembusan nafas Kyuhyun menerpa leherku. Baru aku mengangkat tubuhku sendiri dari atas Kyuhyun namun mendadak saja Kyuhyun menggerakkan tubuhnya. Aku terdorong jatuh dan tangan Kyuhyun sekarang melingkar di pinggangku.
“Kyuhyun-ssi,” aku mengguncangkan tubuh Kyuhyun berharap pria ini bangun. Namun bukannya terjaga Kyuhyun justru merapatkan tubuhnya denganku dan mengaitkan kakinya di kakiku. Arggghh.. dia pikir aku ini guling apa?! Lihat apa yang disebabkannya pada diriku? Sekujur tubuhku menegang dan aku tidak bisa bernafas dengan normal.
“Kyuhyun-ssi,” suaraku lama-lama semakin mengecil dan terdengar seperti cicitan tikus, tidak akan bisa membangunkan pria tukang tidur sepertinya. Aku bahkan tidak bisa menoleh ke samping untuk melihat wajahnya karena bibir Kyuhyun menempel di leherku. Bahkan hembusan nafasnya terasa jelas, membangkitkan bulu kudukku.

Semuanya akan baik-baik saja seandainya Kyuhyun tetap diam. Kyuhyun memperparah segalanya ketika tangannya yang semula melingkar dipinggangku perlahan merambah naik. Tubuhku seperti tersengat listrik dan refleks menggeliat ketika tanpa sadar tangan Kyuhyun singgah di dadaku, mengusapnya dengan gerakan halus. Sekarang tubuhku bergetar, mataku membulat dan tanganku dengan sigap memegang tangan Kyuhyun yang berada di sana. Bukankah Kyuhyun bilang tidak akan terjadi sesuatu apapun? Lalu ini apa?! Terlepas dia sadar atau tidak, aku tidak dapat menerima kejadian ini.
Tepat saat mulutku hampir terbuka untuk melayangkan protes, Kyuhyun melenguh lalu membuka matanya. Kami saling bertatapan. Kyuhyun masih belum sadar sepenuhnya.
Kyuhyun mengerjapkan matanya secara perlahan dia menyadari bagaimana kondisi kami saat ini. Matanya terbuka labar dan dia menatap wajahku lalu tangannya yang ada di dadaku bergantian, dengan raut tercengang.

“Aaaarrrrgggghhhhhhhh!!!!!” kami menjerit bersamaan. Aku yang terkejut karena jeritannya ikut menjerit juga. Kyuhyun dan aku saling menjauhkan diri seperti baru mengetahui bahwa baru saja kami berada dalam kondisi berbahaya.
Aku mengkeret di sudut kasur sambil melindungi dadaku dengan kedua tangan. Daerah pribadiku disentuh oleh pria yang bukan suamiku? Oh tidak, apa yang akan kukatakan pada suamiku di masa depan? Aku malu sekali.
“Youngie, aku tidak sengaja sungguh! Aku kira yang kupeluk adalah bantal. Dan aku tidak bermaksud sama sekali untuk menyentuh—“ Kyuhyun menghentikan kalimatnya menyadari aku mendelik tajam padanya. Tanpa berkata apapun aku segera bangkit, mengambil tasku lalu pergi ke kamar mandi. Aku harus mencuci muka untuk menormalkan detak jantungku.
“Youngie..sungguh aku tidak sengaja, jebal jangan marah padaku..” Kyuhyun mengetuk pintu. Suaranya terdengar memelas. Aku mengambil nafas. Setelah mencuci muka perasaanku sudah lebih baik. Aku lebih siap untuk berhadapan dengan Kyuhyun.

Ketika pintu kubuka, mataku langsung bertatapan dengan wajah bersalah, panik, dan menyesal Kyuhyun. Aku memalingkan wajahku ke arah lain. Bukan marah atau pun kesal. Aku hanya terlalu malu untuk menatap dirinya.
“Aku harus pulang, maaf.”
“Shin Je Young, tadi itu tidak sengaja, sungguh!!” Kyuhyun mencoba meraih tanganku ketika aku hendak membuka pintu keluar. Aku membalikkan tubuhku menghadapnya, menatapnya dengan sorot penuh penyesalan.
“Aku benar-benar harus pulang, Kyuhyun-ssi. Sampai bertemu nanti,” kutepis halus tangannya lalu berjalan cepat keluar dari rumah ini. Aku benar-benar harus pergi. Kejadian tadi meninggalkan syok yang begitu dalam. Aku harus menenangkan diri atau aku bisa gila.

To be continued

96 thoughts on “Because WGM, You’ll Be Mine !! [Part 5]

  1. omomo kyuuuu mwohaneungoya….
    hihihi v aq vneng liatx perkembangan youngi n kyu pesaaattt bgt hihi pa lg kyu perhatian bgt ampe rela nginepa jaeyoung…sumpah demi apa pun aq ngiri author

  2. emang bener kyu gg sengaja , kl disengaja mungkin bakal lebih dari ini , wkwwkwkwkwk xD
    ya ampun bobo bareng kyu , gg rela degh kayaknya klharus bangun , hohohohoho😮

  3. si Kyu beneran curi-curi kesempatan dalam kesempitan,,mulai nakal niy tangannya hihihi..
    Lagian untuk artis utama kok gak disediakan transportasinya, kasian khan klo Youngie harus pulang malem sendiri..
    Tapi ada senengnya juga,,hubungan Kyu_Youngie makin intim hehehe

  4. kyuoppa sengaja kali -,- bilangnya mah “guling” haha nyari kesempatan dalam kesempitan ini mah -,-

    nayolo jeyoung -,- bukan masukin bubuk coklat malah merica -,- dasar ceroboh! gyahahhaha😀😀😀😀

  5. Ugh… bikin penasaran banget >< tapi, ini yang aku suka :v Tebakkan aku sih, bakal ada perang dingin antara Kyuhyun dan Je Young:/ /smirk ala oppa evil/

  6. Aaaarrgghh…..mimpi apa kyuhyun smp bantal dielus2 seperti itu hahaha… Trnyata terjadi “sesuatu” nya malah disaat je young udah bangun aduuuh maknae yg satu ini ada2 aja hihihi
    Makin seru nih ceritanya lanjut ya

Your comment

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s