Shady Girl Siwon’s Story (Part 10)

Tittle : Shady Girl Siwon’s Story Part 10
Author : Dha Khanzaki a.k.a Shin Je Young
Genre : Romance nyesek *emang ada?

Main Cast :

  • Choi Si Won
  • Lee Sun Hee

Support Cast :

  • Tiffany Hwang
  • Lee Donghae
  • Leeteuk

Follow twitter author yuukk.. @julianingati23

Author lagi baik nih.. jadi niatnya mau posting Shady Girl Siwon’s Storynya ampe tamat. Hati-hati typo yah, meskipun banyak orang mengatakan typo itu adalah art of writing, tapi bagi author tetep aja typo bukti bahwa author masih amatiran banget *ngaku*

Di sini dan part ending siap-siap mewek yah. ^_^ bakal ada cast yang meninggal soalnya *bocoran

Happy Reading ^_^

Shady Girl Siwon's story by Dha Khanzaki12

===Part 10===

@Seoul General Hospital

Siwon berjalan dengan langkah lebar dan langkahnya memelan ketika ia melihat Tiffany Hwang di hadapannya.
Gadis itu tersenyum. Siwon masih takut Tiffany akan meneriakinya seperti waktu itu tapi ternyata tidak. Sepertinya ia sudah kembali menjadi Tiffany yang dikenalnya.

“Choi Siwon.” ucapnya ramah. Siwon balas tersenyum. Benar, gadis ini sudah kembali menjadi Tiffany yang dulu.
“Kau, sedang apa di sini?”
“Aku membesuk temanku yang sakit.” sahutnya ringan.
“Aku..” Siwon membasahi bibirnya sebentar. Ia ragu harus mengatakannya atau tidak.
“Aku tahu. kau datang untuk menjenguk Sun Hee kan?”
Siwon menoleh cepat. Darimana dia tahu?

Sekarang Siwon duduk berdampingan di kursi yang terdapat di lobi rumah sakit. siwon merasa dirinya sangat lambat dan bodoh karena tahu paling terakhir tentang kondisi Sun Hee.

Tiffany baru saja menceritakan bahwa ia sudah lama mengetahui tentang penyakit Sun Hee.

“Aku mengetahuinya saat acara reuni waktu itu.” ungkap Tiffany mengawali ceritanya. “Waktu itu, seusai acara dansa, aku berniat pergi ke toilet. Di sana aku melihat Sun Hee mengeluarkan obat dari sebuah botol. Sepertinya itu obat terakhir karena setelahnya dia membuang botol obat itu ke tempat sampah. Karena penasaran, aku memungut botol itu dan menanyakannya pada salah satu keluargaku yang berprofesi sebagai dokter”

Siwon tercekat saat mendengar cerita Tiffany. Napasnya tertahan tepat di tenggorokan. Jadi, sejak pertama kali bertemu pun Sun Hee memang sedang sakit?
“Sepupuku bilang itu adalah obat pereda rasa sakit yang biasa dikonsumsi orang-orang pengidap penyakit jantung”
Siwon menghela napas berat. “Jadi, karena itu..waktu itu kau menolakku dan menyarankan agar aku menerima Sun Hee?”
“Itu tidak sepenuhnya benar.” Ungkap Tiffany. “Aku menolakmu bukan karena itu. bukankah sudah kukatakan bahwa aku hanya menganggapmu sahabat. Tidak lebih. Dan iya..aku menyarankan Sun Hee karena aku simpati padanya.”

Tiffany terdiam lagi. “Awalnya aku berpikir dia itu gadis yang serakah. Dulu, saat aku menyukai Kyuhyun, aku tidak bisa mendekatinya karena Kyuhyun terus bersama Sun Hee. dan saat itu—saat reuni—dengan gamblangnya dia menyatakan perasaannya padamu. Aku sangat iri padanya. tapi ternyata aku hanya salah paham dan kekanakan. Sun Hee tidak pernah merebut siapapun dariku. Aku saja yang bergerak lamban.” Ia menghela napas di akhir ceritanya.
“Jadi, bagaimana kabar Sun Hee sekarang?” tanyanya.

Gantian Siwon yang menghela napas. “Dia belum siuman semenjak pingsan 3 minggu yang lalu. Aku hanya berharap tidak ada apapun yang terjadi.”

Drrttt drrttt drrrrtttt

Sebenarnya siwon malas mengangkat ponselnya yang berdering kencang itu. tapi siapa tahu ini adalah panggilan penting.
“Hallo..”
“Siwon, kau dimana??? Sun Hee sudah siuman!!!”

Mendengarnya Siwon membelalakkan mata. Ia langsung berdiri dengan wajah sumringah.
“Benarkah?? Baik. Aku akan segera ke sana!!” karena terlalu senang, Siwon sampai lupa berpamitan pada Tiffany. Gadis itu tidak marah. Ia justru mengulum senyum melihat Siwon berlari dengan langkah tergesa seperti itu.
“Pasti Sun Hee sudah siuman.” Gumamnya.

—o0o—

Saat tiba di kamar rawat Sun Hee, Siwon melihat wajah orang-orang mulai gembira. Seperti baru saja melewati ujian sulit. Mereka semua menoleh bersamaan melihat kedatangannya. Donghae, Haebin, Leeteuk, Tuan Lee, Sungmin, In Sung tersenyum padanya lalu berinisiatif keluar meninggalkannya berdua dengan Sun Hee.

Siwon kikuk saat orang-orang berlalu melewatinya dan berjalan keluar ruangan. Setelah semua orang pergi, ia menatap Sun Hee yang duduk di atas ranjang sambil bersandar pada tumpukan bantal di belakangnya.
“Annyeong, Choi Siwon-ssi” ucapnya dengan senyum lebar. Seolah tidak ada apapun yang terjadi. Wajahnya yang pucat, senyum hangatnya, dan tubuhnya yang semakin hari semakin kurus membuat Siwon tidak bisa membendung air matanya lagi. Ia melangkah lebar dan dalam gerakan cepat langsung memeluk tubuh kurus Sun Hee.

Gadis itu terkesiap kaget. Ini pertama kalinya Siwon memeluknya seperti ini. Senang, haru, dan bahagia, semuanya melebur menjadi satu. perlahan senyumnya terbit. Tangannya yang semula terkulai lemah dengan susah payah balas memeluk Siwon.
“Gadis jahat…” isak Siwon. Sun Hee kembali terkejut karena ia merasakan bahunya basah oleh airmata. Jangan bilang Siwon menangis.
“3 minggu..selama 3 minggu kau membuatku tidak bisa tidur nyenyak, makan enak, dan bekerja dengan nyaman!! Kenapa baru sekarang kau siuman..”
“Mianhae” lirih Sun Hee.

Siwon melepaskan pelukannya. Dengan mata yang masih bercucuran airmata, ia menatap Sun Hee.
“Kenapa kau harus minta maaf? Memang apa salahmu?” tanyanya.
“Bukankah aku sudah mengganggu hidupmu?”
“Itu memang benar.” Sela Siwon “Kau sangat mengganggu hidupku! Tiba-tiba muncul lalu memelukku, lalu mengejutkanku dengan menyatakan cinta di depan umum, menghiburku di saat aku patah hati, lalu..membuatku tidak bisa hidup tenang dengan pingsan di hadapanku dan siuman tiga minggu berikutnya!! Kau pikir aku apa?” jelasnya panjang lebar.

Sun Hee tidak merasakan marah, sakit hati, atau keberatan mendengar rentetan keluhan dari mulut Siwon. ia justru merasa senang, gembira, dan hatinya begitu ringan. Melihat Siwon seperti ini membuatnya merasa mendapat pengakuan. Bahwa..bahwa Siwon mengkhawatirkannya. Keberadaan dirinya teramat penting bagi namja itu. ya, ia berpikir begitu.

“Sekali lagi aku minta maaf.” Sun Hee menyeka airmata yang ada di pipi Siwon. “Aku tidak mau melihat siapapun menangis karena aku. Jadi kumohon Oppa, sesedih apapun kau jangan menangis di hadapanku.”
“Baiklah, asal kau berjanji padaku.” Siwon mengajukan syarat. “Kau harus panjang umur. Dan aku juga akan menepati janjiku.”
“Itu permintaan egois.”
“Aku tidak peduli. Aku yakin bukan hanya aku yang berharap seperti itu. ayahmu, kakakmu, semua keluargamu juga berharap begitu.”

Bibirnya yang pucat itu tidak bergerak. Sun Hee hanya menatap Siwon lurus. Sorot matanya seperti ingin mengatakan ‘jangan berharap hal yang tak mungkin’. tapi Siwon berusaha meyakinkan diri pikirannya itu salah besar.

Siwon menarik napas. Untuk saat ini ia akan tersenyum, seperti yang Sun Hee minta.
“Kau ingat Sun Hee, kau pernah bilang, ‘Jika suatu saat aku di beri kesempatan oleh Tuhan bisa mendapatkan cintanya, saat itu aku akan menjadi wanita paling bahagia.’ Kau ingat?”
Sun Hee mengangguk karena ia mengingatnya dengan jelas. Kata-kata itu di ucapkannya tepat di atas panggung saat acara reuni sekolah waktu itu.
“Bagaimana kalau Tuhan memberimu kesempatan?”
“Kesempatan?” seketika Sun Hee terkesiap. “Siwon Oppa..kau..”
Siwon mengangguk dengan senyum manisnya. Ia memegang tangan Sun Hee erat.
“Kau..sudah mendapatkan cintaku.” Ucapnya. “Saranghae, Lee Sun Hee. entah kau mendengar atau tidak, tapi aku sudah pernah mengatakannya sebelum kau pingsan dulu.”

Bibirnya bergetar menahan tangis. Sun Hee mengatupkan bibirnya rapat-rapat menahan airmata yang hampir jatuh. Rasa bahagia yang selama ini tersimpan jauh di dalam hatinya, meluap-luap begitu mendengar pernyataan dari Siwon. hanya satu kata ‘saranghae’. Kata itu lah yang menjadi kunci kebahagiannya. Sun Hee merasa bahagia dan lega luar biasa.

“Hiks..Oppa..kenapa baru bilang sekarang..” Akhirnya Sun Hee terisak juga. airmatanya meleleh tanpa bisa ia bendung lagi. Kepalanya tertunduk, tetesan airmata itu semakin banyak dan jatuh membasahi telapak tangannya yang mencengkram ujung selimut.

Jika suatu saat aku di beri kesempatan oleh Tuhan bisa mendapatkan cintanya, saat itu aku akan menjadi wanita paling bahagia.

Sekarang, ia memang menjadi wanita paling bahagia. Karena akhirnya penantiannya selama bertahun-tahun tidak berakhir sia-sia.

Siwon mengulurkan tangannya. Ia kembali memeluk Sun Hee. “Karena aku sudah memberikan hatiku, kau tidak boleh menyerah. Kau tidak boleh pergi membawa hatiku. Jika itu terjadi, aku bisa mati.” Bisik Siwon sungguh-sungguh. Sun Hee tidak boleh menyerah pada penyakitnya. Ia harus tetap kuat.
Sun Hee mengangguk dalam dekapan hangat Siwon.

—o0o—

Tanpa di ketahui oleh Sun Hee dan Siwon, orang-orang yang sejak tadi mengintip dari luar menangis tersedu. Mereka terharu dengan setiap perkataan yang di ucapkan Siwon maupun Sun Hee.
“Mereka..pasangan yang serasi. Saat Sun Hee sembuh nanti, aku akan menikahkan mereka..” lirih Tuan Lee. Ia tidak tahu kalau Sun Hee mencintai Siwon sedalam itu.

“Ah,” Haebin mengerjap di sela tangisnya. Ia baru teringat sesuatu. “Appa..Sun Hee bilang ia ingin bertemu dengan seseorang..”
Tuan Lee menoleh. “Siapa?”

Haebin menggigit bibir bawahnya. Ia ragu mengatakannya atau tidak. “Umma. dia ingin bertemu dengan Umma.”

“MWOO!!!”

Benar kan, Tuan Lee pasti akan berteriak seperti itu. “Appa, Sun Hee benar-benar meminta hal itu.”
Tuan Lee menggeram. “Tapi kenapa harus dia? Tidak Donghae tidak Sun Hee..mengapa selalu ingin bertemu dengan ibunya? Apa aku saja tidak cukup!!”
“Appa!!” potong Donghae. “Dia Ibu kami. Ibu Sun Hee. wanita yang sudah melahirkan kami. Apa salah jika Sun Hee ingin bertemu dengannya.”
“Benar, paman.” Sungmin ikut angkat bicara. “Sekarang bukan saatnya untuk egois. Sun Hee sangat ingin bertemu dengan bibi apa salahnya jika paman mengabulkannya.”

Tuan Lee terdiam. Benar juga. ia tidak tahu apakah Sun Hee..ah tidak, Sun Hee pasti akan sembuh. Ia menarik napas dalam lalu menghembuskannya.
“Leeteuk..” panggilnya. Leeteuk maju mendekat.
“Ne, Tuan.”
“Kau tahu kan dimana dia, telepon dia dan pintalah dia kemari.” Ucapnya dengan suara berat. Tanpa mengatakan apapun lagi Tuan Lee berjalan pergi.

Leeteuk mengangguk. Ia menoleh pada Donghae sekilas lalu ikut pergi menyusul Tuan Lee.

“Oppa, kau yakin tidak akan terjadi apapun?” tanya Haebin. ia cemas sekali.
“Aku tidak tahu.” Donghae menunduk sedih. Ia juga tidak ingin sesuatu hal buruk menimpa Sun Hee.
“Tapi dengan memanggil Umma, aku merasa..seolah Sun Hee tidak akan tertolong lagi..” cemasnya. Ia merasakan sesuatu yang buruk jika Umma datang. Sun Hee meminta Umma datang seolah ingin berpamitan pada ibunya untuk pergi. tidak!! Itu tidak mungkin!!

—o0o—

Siwon tersenyum hangat melihat Sun Hee tertidur manis. Ia merapatkan selimut hingga sebatas lehernya lalu mengecup kening Sun Hee sebentar.
“Aku akan pergi ke kantor dulu. jika tidak, Oppamu yang bawel itu akan memecatku. Jadi, tidak apa-apa kan jika ku tinggal sendiri?” tanya Siwon sambil tersenyum. Sun Hee tidak menjawab karena ia tengah tertidur pulas. Tapi tak apa. ia memang tidak meminta Sun Hee menjawabnya.

“Pergilah nak, biar aku yang menjaganya”

Siwon tersentak, tubuhnya cepat berputar ke arah pintu. Tepat seorang wanita paruh baya berdiri di sana dengan senyum ramah tak lepas dari wajahnya. siwon merasa tubuhnya menegang. Ia kenal siapa bibi itu. dia adalah ibu Sun Hee. ia pernah bertemu sekali saat pernikahan Donghae dan Haebin dulu. *baca Shady Girl*

“Annyeong Haseyo, ahjumma.” Siwon membungkukkan badannya sesopan mungkin. bibi itu tersenyum hangat.
“Tidak perlu seformal itu. aku tahu kau Choi Siwon, kan?”
Siwon mengerjap takjub. Ia merasa belum pernah berkenalan secara resmi dengannya. Karena dulu, saat pertama kali ke rumah Donghae, ayah ibunya sudah bercerai jadi tidak bertemu. Dan saat pernikahan Donghae pun, ia hanya sekedar tahu saja. Donghae tidak mengenalkan ibunya pada siapapun.
“Iya” ucapnya kaku.

Umma menyadari ekspresi bingung Siwon. “Aku sering mendengarnya dari Sun Hee.” ucapnya. Ia kemudian duduk di kursi yang ada di sisi ranjang. Menatap putrinya dengan ekspresi keibuan yang bisa menenangkan hati.
“Dulu, saat dia di Amerika, dia sering mengirim surat. Isinya bukan tentang kabarnya ataupun cerita lain. Tapi kebanyakan menceritakan tentang dirimu.”
Lagi-lagi Siwon melebarkan matanya. ia menoleh memandang Sun Hee. ia semakin takjub. Ternyata, ada juga orang di dunia ini yang tidak pernah melupakannya.

Siwon tak bisa berbicara banyak. Ia segera berpamitan karena sudah waktunya masuk kerja.

—o0o—-

Tidak ada yang dilakukan Umma pada Sun Hee. ia hanya duduk memandangi wajah putrinya dengan sorot mata sedih. Tangannya terulur menyentuh pipi Sun Hee yang pucat. Ia sangat sedih melihat putrinya yang dulu lincah, sehat dan pintar sekarang menjadi tak berdaya dan sekurus ini. Sebagai seorang ibu, ia tidak sanggup memikirkan betapa menderitanya Sun Hee menanggung penyakit separah ini di usia yang masih muda.

Seharusnya Sun Hee masih bisa melakukan banyak hal. Ia masih bisa melakukan hobinya dan mengejar cita-citanya seperti gadis-gadis seusianya di luar sana. Tapi Tuhan begitu adil memberikannya beban seberat ini.

Umma mendongakkan kepalanya ke atas menahan airmata yang hampir saja jatuh. Ia tahu, menangis hanya akan membuat Sun Hee merasa terbebani. Saat ini Sun Hee butuh dukungan dan senyuman dari orang-orang terdekatnya. Penyakit bukanlah sesuatu yang harus ditangisi.

“Umma..”

Sun Hee terkesiap saat ia bangun di hadapannya duduk sosok Ummanya. belasan tahun tidak bertemu tidak membuatnya lupa wajah wanita yang sudah melahirkannya itu.

“Sun Hee..” Umma tersenyum. Tapi bukannya balas tersenyum, Sun Hee tampak diam. Mulutnya bergetar menahan tangis.
“Umma..hiks..” akhirnya Sun Hee menghambur memeluk Ummanya lalu menangis kencang.

“Sudah. Kenapa kau menangis, nak” Umma mengusap-usap punggung Sun Hee.
“Aku takut tidak bisa bertemu denganmu lagi, Umma.” isak Sun Hee.
“Shssstt. Kau tidak boleh bilang begitu. Umurmu masih panjang. Kau bisa sembuh, sayang.” Bisik Umma. Sun Hee melepaskan pelukannya. Ia menatap Umma dalam-dalam. Umma merasa putrinya ini ingin mengatakan sesuatu.
“Ada yang ingin kau ceritakan?” tanya Umma. Sun Hee mengangguk. Ia tahu, hanya Umma di dunia ini yang tidak bisa ia bohongi. Dan ia tidak akan bisa menyembunyikan apapun dari Umma. ia menatap sendu Umma. demi apapun, ia tidak ingin memendamnya lagi. Umma harus tahu.
“Umma, sebenarnya…”

—o0o—

“Benarkah? Jadi keadaan Sun Hee tidak mengalami kemajuan yang berarti?” tanya Tuan Lee pada sahabatnya, Kim Hyun Seok, dokter kepala rumah sakit itu dan juga ayah dari Kim Kibum.

Kim Hyun Seok mendesah berat, melepas kacamatanya lalu menyerahkan hasil rontgen terakhir jantung Sun Hee pada Tuan Lee.
“Tidak ada jalan lagi. Selain mencari donor jantung secepatnya.”
“Tapi, apa sudah ada jantung pengganti untuk putriku?” serobot Umma.
“Sedang kami usahakan” Hyun Seok menghela napas sejenak. “Mencari pendonor jantung tidak semudah mencari buah jeruk dipasaran. Lagipula, banyak pasien yang mengalami nasib serupa dengan Sun Hee.”
“Bagaimana dengan pendonor dari negara lain? Aku siap membayar biayanya semahal apapun asalkan Sun Hee sembuh.” Ujar Tuan Lee sungguh-sungguh. Ia tidak ingin putrinya meninggal mendahuluinya. Ia tidak akan kuat menanggung kesedihannya kelak.
“Itu akan sulit.”
“Tapi bukankah dulu saat aku menjalani transplantasi jantung, donor didapat dengan mudah?”
“Itu karena penyakitmu sudah diketahui bertahun-tahun sebelumnya. Jadi persiapan untuk mengantisipasi sudah ada. Tapi untuk kasus Sun Hee, semuanya terjadi terlalu mendadak.”

Suami istri itu melemas mendengar pernyataan dari dokter. Benarkah Sun Hee sudah tidak tertolong lagi?

Mereka berdua berjalan kembali ke ruang rawat Sun Hee dengan pikiran campur aduk. Saat masuk, mata mereka menangkap Sun Hee sedang tertawa setelah Siwon melontarkan sebuah lelucon yang tak lucu sama sekali.

“Buah apa yang paling panas di dunia?” ucap Siwon berniat melucu lagi. Sun Hee berpikir keras, ia lalu menggeleng karena tidak bisa menemukan jawabannya.
“Persik seribu derajat” jawab Siwon polos. Sun Hee tertawa lagi. Sungguh, lelucon Siwon tidak lucu sama sekali. Dan itu yang membuatnya merasa terhibur.

“Oh, rupanya Siwon datang. Pantas aura di sini mendadak cerah yah..” ucap Appa membuat mereka menoleh bersamaan. Siwon segera bangkit dari duduknya lalu membungkukkan badannya sejenak. Umma tersenyum, tak salah Sun Hee menyukainya. Siwon anak yang sopan.

Sun Hee menatap Appa dan Ummanya bergantian. Sudah lama ia tidak melihat mereka bersama. Rupanya, penyakit yang di deritanya bisa membawa berkah juga. ia tersenyum.
“Appa..boleh aku meminta sesuatu?” tanyanya dengan mata berbinar.
“Ne. Katakanlah.”
“Aku ingin kalian berpelukan.” Ucapnya polos. Appa dan Umma saling berpandangan kaget.
“Sun Hee, jangan bercanda. Kami terlalu tua untuk bermesraan.” Elak Umma.
“Itu benar”

Sun Hee mengerucutkan bibirnya. “Padahal ini permintaan sekali seumur hidup demi kalian.”

Appa dan Umma tidak sanggup menolak lagi. Mereka saling merangkul sebentar lalu kembali menjauhkan diri.
“Sudah puas?” tanya Appa canggung. Ia malu sekali karena Siwon memperhatikan dengan wajah terpaku tadi. Sun Hee mengangguk puas.
“Tuan, sebenarnya aku juga ada permintaan.” Ucap Siwon memotong.

Semua orang menoleh ke arahnya dengan tatapan bingung. siwon jadi canggung di tatapi serius seperti ini.
“Em, bolehkah aku mengajak Sun Hee ke suatu tempat?” tanya Siwon agak ragu.
Tuan Lee membelalakkan matanya. “Kau gila? Sun Hee sedang sakit. lagipula sekarang musim dingin. Tidak, aku tidak mengizinkan!!”
Siwon mendesah, ia menoleh pada Sun Hee. sebenarnya ini keinginan Sun Hee. tapi dia terlalu takut mengatakannya langsung.
“Apa, jebal..izinkah aku pergi. lagipula Siwon Oppa akan menjagaku.”
“Tapi..”
“Izinkan saja..” sela Umma. ia melihat sorot mata Sun Hee begitu memohon.

Appa mendesah kencang. Ia menatap Siwon. “Jaga putriku baik-baik!! Jika sampai terjadi sesuatu, lekas bawa dia kemari!!!”
Baik Sun Hee maupun Siwon tersenyum lega mendengar Appa bermurah hati membiarkan Sun Hee keluar sejenak.

—o0o—

“Kenapa kau biarkan dia pergi??? kau tahu dia sedang sakit!!” protes Tuan Lee pada mantan istrinya. Seharusnya tadi ia ikut mencegah Sun Hee pergi.
Wanita itu menghela napas “Kau tidak lihat matanya tadi? dia benar-benar ingin pergi. aku bisa mengenal seperti apa putriku.”

“Ini semua sebenarnya juga kesalahanmu!!” teriak Tuan Lee menuduh istrinya. Wanita itu membulatkan matanya, terkejut.
“Wae? kenapa bisa salahku?”
“Kau tahu kan selama ini Sun Hee berada di Amerika? Kenapa kau tidak memberitahuku? Jika aku tahu mungkin aku bisa mencegah semuanya terjadi. Sun Hee tidak akan menderita seperti sekarang!!”

Wanita itu tertohok. Ia tak percaya pria yang sudah dicintainya lebih dari separuh hidupnya itu akan menyalahkannya.
“Sun Hee tidak pernah memberitahuku dia kabur dari rumah! Dia hanya bilang kau menyuruhnya pergi belajar ke luar negeri! Dan dia juga tidak pernah menceritakan tentang penyakitnya padaku!!” bantahnya.
“Mwo? Jadi kau ingin bilang semua kesalahanku? Benar. Aku memang mengusirnya dulu! sama seperti aku mengusirmu!” teriaknya. “Tapi bukan berarti aku tidak bertanggung jawab. Aku mencarinya kemana-mana. Tapi kau, kau tahu dia di mana dan tidak mengabariku?? Kau yang tidak bertanggung jawab!!”

Mulut wanita itu bergetar. Ia berusaha menahan tangisnya agar tidak keluar. Tanpa mengatakan apapun, ia merogoh tasnya, mengeluarkan sebuah buku tabungan dan meletakkannya di atas tempat tidur Sun Hee yang kosong.
“Ambil ini. Aku tahu selama ini kau mentransfer uang ke rekeningku. Leeteuk yang mengatakannya. Mulai sekarang kau tidak perlu melakukannya.” Ia berbalik hendak pergi, namun tidak jadi. “Dan aku tidak pernah memakainya sepeser pun. Semua uang yang kau berikan, kukirimkan pada Sun Hee untuk biayanya selama di Amerika” ia benar-benar pergi setelahnya.

Tuan Lee berdiri mematung mendengarnya. Dalam hatinya berkelebat berbagai macam perasaan. Salah satunya adalah..rasa bersalah.

—o0o—

Siwon menepikan mobilnya di halaman parkir gedung kantor pusat L.D Corp. Ia turun kemudian menurunkan sebuah kursi roda dari dalam bagasi mobil. Setelah itu ia membuka pintu samping kemudi dan membantu Sun Hee turun dari sana lalu mendudukkannya di atas kursi roda.

“Kau yakin? Benar tidak apa-apa?” tanya Siwon cemas. Ia membenarkan posisi syal dan topi rajut yang dipakai Sun Hee. keadaan sangat dingin sekarang. Salju baru saja turun tadi malam.
Sun Hee mengangguk tegas. Baiklah, tidak ada pilihan lain lagi. Ia segera mendorong kursi roda dan membawa Sun Hee ke tempat favoritnya di gedung itu.

Taman di atas atap.

“Huaa..” Sun Hee mengerjap takjub ketika melihat taman itu indah seperti sedia kala, seolah musim tidak bisa mempengaruhinya. Taman itu tetap hijau, dan penuh dengan bunga yang bermekaran.
“Oppa..bagaimana mungkin ini..” Sun Hee mendongak ke arah Siwon yang berdiri di belakangnya.
Seolah tahu, tangannya menunjuk ke atas untuk menjawab rasa penasaran Sun Hee.

Sun Hee menatap ke arah yang ditunjuk Siwon. matanya kembali membulat. Rupanya taman itu memiliki atap yang bisa dibuka tutup secara otomatis. Dan sekarang, atap di taman itu tertutup sehingga mencegah salju masuk ke dalamnya.
“Atap itu terbuat dari kaca. Jadi sinar matahari tetap bisa masuk dan membuat udara di sini menjadi hangat dan lembab. Tanaman di sini tidak akan terpengaruh udara dingin. Bunga-bunga tetap bisa bermekaran meksipun di musim dingin.” Jelas Siwon. sun Hee berdecak kagum. Mau tidak mau ia harus mengakui kehebatan arsitek yang sudah merancangnya.
“Wah, aku jadi ingin tahu orang di balik ide brilian taman ini.” Celoteh Sun Hee. siwon mengusap tengkuknya.
“Anu, sebenarnya..ini taman hasil rancanganku” akunya malu.
“Nde????” Sun Hee terkejut. ia menatap Siwon dengan mata terbelalak. Jadi, taman indah, atap kaca, ide brilian, semuanya Siwon yang..

Oh, tentu saja. bukankah Siwon pernah mendapatkan penghargaan sebagai ‘The Best New Comer’ di sebuah ajang penghargaan insan-insan muda berbakat untuk karya-karya brilian-nya dalam bidang arsitektur.

Sun Hee harus mengakui udara di taman ini tidak dingin tapi cenderung hangat. Sirkulasi udaranya benar-benar sempurna.
Siwon berlutut di samping Sun Hee. tangannya memegang tangan Sun Hee yang bertumpu di atas pahanya. Gadis itu menoleh dan mendapati Siwon sedang menatapnya lekat.
“Lee Sun Hee, katakan apa keinginan terbesarmu saat ini.”
Sun Hee mengerjap. Kenapa tiba-tiba Siwon menanyakannya? Ia terdiam beberapa saat. Menghela napas lalu kembali menatap Siwon.

“Aku ingin menikah denganmu” ucapnya lemah. Matanya berkaca-kaca gembira saat mengatakannya. Siwon mengerjap kaget.
“Menikah?” ia tak percaya Sun Hee memikirkan hal itu. ia kaget.
“kenapa menikah? Kau tidak ingin hal lain seperti berumur panjang atau..”
Sun Hee menggeleng tegas. Ia memegang tangan Siwon dengan kedua tangannya. “Tidak ada lagi keinginanku selain itu. jika Tuhan mengizinkan, aku ingin mati dalam pelukanmu. Sebagai seseorang yang memiliki arti penting bagi kehidupanmu. Sungguh, ini adalah keinginanku yang terakhir.”

Siwon terpaku. Ia tidak sanggup bergerak saat melihat mata Sun Hee yang gembira. Apa yang harus ia lakukan sekarang? Ia senang sekaligus sedih mendengar keinginan Sun Hee.

Menikah dengannya. Hanya itu?

To be continued..

54 thoughts on “Shady Girl Siwon’s Story (Part 10)

  1. Please jangan bilang yg bakal meninggal Sun Hee,jangan dong ! Mereka kan baru juga pacaran masa siwon udh di tinggal pergi oleh Sun Hee ? Tapi kg tau kenapa,feeling gw yg bakal meninggal itu Tiffany ? Entahlah

Your comment

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s