I Hate You, But.. (Part 5)

Judul : I Hate You, But.. Part 5
Author : Dha Khanzaki a.k.a Shin Je Young
Genre : Romance, Married Life, hurt

Main Cast :

  • Kim So Eun
  • Choi Si Won

Support Cast :

  • Lee Donghae

Nyesek lagi, nyesek lagi. di part ini pun genre utamanya masih nyesek. jadi kita sekalian nyesek sama-sama aja yuk..

Happy Reading ^_^

I Hate You But By Dha Khanzaki

===Part 5===

“Tenanglah Eomma, Appa pasti selamat,” So Eun memeluk Ibunya seerat yang ia bisa. Dalam hati tak hentinya ia memanjatkan doa berharap dokter bisa menyelamatkan ayahnya yang mendadak kritis di dalam ruang operasi sana.
“Iya,” gumam Eomma di sela isak tangisnya. Sebagai seorang istri, ia merasa sangat ketakutan. Bagaimana jika ia tidak bisa melihat wajah suaminya lagi? ia tidak bisa membayangkan harus hidup sendiri tanpa kehadiran suaminya.

Drrrttt….ddrrrrttttt…

Ponselnya berbunyi kembali. So Eun bangkit sejenak, membiarkan Eommanya sendiri duduk di kursi dekat ruang operasi sementara ia menyingkir untuk menjawab panggilan. Nomor ponsel yang tak dikenal membuatnya penasaran.
“Yeoboseyo.”
“So Eun, Siwon dilarikan ke rumah sakit karena demamnya semakin parah. Kau ada di mana sekarang?”
So Eun terkejut bukan main ketika mendengar suara ibu mertuanya menerjang telinga seperti suara petir. Mendengar nama suaminya disebut saja mampu membuat jantungnya berdebar kencang. So Eun melirik ibunya sendiri dengan perasaan bimbang, lalu beralih ke pintu ruang operasi ayahnya yang masih menyala. Tuhan, apa yang harus kulakukan? Aku tidak mungkin meninggalkan ibu di sini sendiri. dan bagaimana mungkin aku pergi di saat Appa sedang berjuang untuk bertahan hidup di dalam sana? So Eun merasa bimbang sampai ingin menangis rasanya.
“Kau kenapa nak?” Eomma menyadari ada yang salah dengan putrinya. So Eun menoleh dengan sorot mata takut dan bingung.
“Siwon Oppa, dilarikan ke rumah sakit.” suara So Eun terdengar gemetaran menahan tangis. Eomma terkejut mendengarnya. Ia langsung panik.
“Lalu apa yang kau lakukan di sini? Cepat temui suamimu!” ucap Eomma.
“Tapi bagaimana dengan Eomma? dan Appa..”

Eomma paham kebimbangan yang dirasakan So Eun. Ia menghela napas lalu membelai rambut putrinya dengan lembut.
“Nak, di saat seorang perempuan menjadi istri, prioritas utamanya bukanlah ayah atau ibunya lagi tetapi suaminya. Karena itu, kau tidak perlu mencemaskan Eomma ataupun Appa. Yang perlu kau cemaskan adalah suamimu. Sekarang kau harus cepat pergi ke tempat Siwon dilarikan. Eomma yakin Appamu pasti paham, yah, jika itu yang kau cemaskan.”
So Eun merasa kebimbangannya sedikit terobati berkat ucapan Eomma. Benar, ia memang harus pergi. Ia segera bangkit.
“Aku akan kembali, setelah memastikan Siwon Oppa baik-baik saja.”
Eomma mengangguk. Anggukan singkat yang mampu memberikan keberanian bagi So Eun. Ia segera berlari menuju ruang dimana Siwon di rawat. Kebetulan, Siwon dilarikan ke rumah sakit yang sama dengan Ayahnya.

—o0o—

Di dalam ruang rawat, So Eun menemukan kedua orang tua Siwon memandang cemas ke arah pria yang kini terbaring di atas tempat tidur. Eomma lebih dulu menyadari kedatangan So Eun. Senyum lemah tersungging di bibirnya. So Eun cukup tahu betapa Eomma mencemaskan putra semata wayangnya itu. So Eun menghampirinya perlahan.
“Maaf Eomma, aku..,” So Eun menundukkan kepala berkali-kali. Ia merasa bersalah karena tidak bisa menjaga Siwon dengan baik. Ia siap dimarahi seperti apapun oleh mereka.
“Ini bukan salahmu,” ucap Appa menenangkan. Ia bisa melihat rasa bersalah dalam tingkah menantunya. Dan ia tidak ingin membuat So Eun merasa semua hal malang yang terjadi pada Siwon adalah salahnya.
“Duduklah, kau pasti lelah. Lihat wajahmu,” Eomma berkata cemas sambil memegang pipi So Eun. Wajahnya begitu pucat dan ada lingkaran hitam di sekitar mata So Eun.

So Eun merasa sangat beruntung memiliki mertua sebaik mereka. Rasanya ia ingin menangis namun rasa cemas berhasil mengalahkannya. Saat menatap Siwon yang terbaring lemah di tempat tidur, airmatanya jatuh begitu saja. Entah kenapa, keadaan Siwon sekarang mengingatkannya pada keadaan Ayahnya. Begitu duduk, So Eun segera menggenggam tangan Siwon dengan penuh kelembutan.
“Oppa, mianhae,” bisiknya dengan suara berat. Siwon tak merespon karena baru saja di berikan suntikan penurun demam oleh dokter.

Eomma menceritakan bahwa Siwon dilarikan ke rumah sakit setelah mendadak pingsan di rumah dan setelah diperiksa secara intens, dokter mengatakan bahwa fungsi fisik Siwon mengalami penurunan drastis yang mengakibatkan suhu badannya meninggi dan kesadarannya hilang. Hal itu bisa saja terjadi karena beberapa alasan. Dan alasan utamanya karena stress.
Setelah mendengarnya, So Eun semakin merasa bersalah. Ia tahu, alasan mengapa Siwon bisa seperti ini. Tidak lain karena dirinya.
“Siapa yang membawanya kemari?” Ia bertanya karena Siwon sendirian di rumah ketika ia pergi.
“Eomma sedang pergi ke minimarket dan ketika kembali ke apartement, Eomma melihat Eun Ji panik memanggil ambulans.”

Mata So Eun melebar ketika nama Eun Ji kembali masuk ke telinganya. Jadi, gadis itu datang ke apartemennya? Untuk apa? dan ia lebih penasaran dengan apa yang mereka lakukan sampai Siwon tak sadarkan diri. Tidak mungkin tidak terjadi apa-apa. Siwon adalah pria yang kuat meski dalam kondisi buruk sekalipun. Aneh, So Eun merasakan firasat buruk tentang hal itu.
Perhatian semua orang tertoleh ketika mendengar suara pintu terbuka lebar. So Eun menegang, karena kini ia melihat Eun Ji masuk dengan wajah cemas.
“Aku, khawatir dengan keadaan Oppa,” ucapnya gugup. Entah kenapa So Eun melihat raut takut dalam gerak-gerik gadis itu.
“Kau masih berani juga datang kemari!”
Baik So Eun maupun Eun Ji terkejut mendengar suara lantang yang keluar dari mulut Appa. So Eun menoleh ke arah pria paruh baya yang kini bersedekap dengan ekspresi tak suka. Arah matanya lurus menatap Eun Ji tajam.
“Setelah kau mempengaruhi anakku, kau masih juga berani menunjukkan wajah di hadapan kami? Gadis macam apa kau ini?”

Eun Ji bergetar. Dirinya seperti baru saja dihunus oleh sebilah pisau. Rasanya begitu sakit dan perih. Ternyata, keadaanya belum berubah bahkan sejak terakhir kali ia bertemu dengan kedua orang tua Siwon. Mereka tidak menyukainya, itu jelas. Hingga kini Eun Ji tidak tahu alasannya mengapa. Seingatnya, ia tidak pernah berbuat kurang ajar di hadapan mereka.
So Eun bisa merasakan sakit hati yang kini di rasakan Eun Ji. Wajah Eun Ji yang biasanya terhiasi senyum kini tegang, pucat, dan terhina. So Eun tahu bagaimana sakit yang melanda Eun JI saat ini. Rasa sakit yang serupa seperti saat dirinya ditolak oleh keluarga Donghae. Mendadak, So Eun merasa simpati terhadap Eun Ji.
“Kenapa kau masih di sini?! Silakan pergi sebelum aku mengusirmu!”
“Appa, tenanglah,” Eomma buru-buru meminta suaminya agar tenang. Ia tidak tega harus berlama-lama melihat Eun Ji berwajah pucat begitu.
“Nak, terima kasih karena sudah mengkhawatirkan putra kami. Tapi sebaiknya kau pulang saja karena sekarang sudah ada istrinya yang menjaga Siwon.”

Wajah Eun Ji semakin menegang saja. Tubuhnya mulai bergetar dan hatinya sakit. Ia berusaha menahan airmata yang hampir terurai jatuh. Dengan bibir yang bergetar, gadis itu membungkukkan badannya sebentar.
“Jeosonghamnida,” ucapnya lalu berbalik pergi tanpa menatap kedua orang tua Siwon lagi. So Eun tidak mengerti dengan apa yang sebenarnya terjadi. Ia menatap sendu sosok Eun Ji yang perlahan menghilang di balik pintu.

—o0o—

*So Eun POV*

Ekspresinya sama seperti ketika aku ditolak mentah-mentah oleh keluarga Donghae. Suasana di ruangan ini menjadi lebih berat karena Appa masih tetap menunjukkan raut yang sama.
“So Eun, tolong jaga Siwon. Kami harus pergi sebentar,” Eomma berinisiatif membawa Appa pergi untuk mencari udara segar. Sesaat kemudian hanya tinggal aku sendiri dan Siwon Oppa yang belum siuman di ruangan ini.

Aku penasaran, apa yang membuat Appa begitu membenci Eun Ji. Menurutku gadis itu tidak terlalu buruk. Pandanganku beralih menatap wajah pucat suamiku. Mungkin hanya dia satu-satunya yang mengetahui jawaban atas rasa penasaranku. Aku tidak mungkin bertanya pada Eomma, Appa, apalagi pada Eun Ji.
“Oppa, cepatlah sembuh,” aku menggenggam erat tangan Siwon Oppa yang hangat lalu menempelkan punggung tangannya ke pipiku. Mataku terpejam merasakan kehangatannya. Syukurlah, setidaknya Siwon Oppa masih bernafas. Kenapa kau ini hobi sekali membuat hatiku kacau balau, Oppa?
“Enghhhh…” Tubuhku tersentak kaget mendengar suara rintihan kecil dari mulut Siwon Oppa. Wajah suamiku yang tampan sempurna itu tampak berkeringat. Dan keningnya berkerut seperti orang yang dilanda kegelisahan tinggi.
“Oppa, kau kenapa?” cecarku panik. Aku segera mengambil handuk kering untuk mengusap titik-titik keringat yang muncul di sepanjang pelipisnya. Apa yang dilihatnya dalam mimpi hingga tidurnya segelisah ini? Apa mungkin ada yang sakit?

Ponselku berdering di saat aku kelimpungan mengurusi Siwon Oppa. Aku segera mengangkatnya. Suara Eomma yang serak menerjang telingaku.
“Ada apa Eomma? kenapa suara Eomma begitu?”
“Nak..Appamu..datanglah kemari, Appamu sekarat.,” tubuhku melemas seketika setelah mendengar kalimat terakhir dari Eomma. Ponsel yang kugenggam pun jatuh begitu saja ke lantai. Pikiranku seketika kacau balau dan airmataku menyeruak tanpa izin. Appa, tidak mungkin!!!
“Appa, andwae!!!”
Aku harus menemui Appa. Aku tidak ingin menyesal karena tidak bisa bertemu dengannya untuk terakhir kali. Aku hendak meletakkan handuk yang kupegang ketika suara rintihan Siwon Oppa terdengar kembali.
“Kaji-ma, ja-ngan ting-galkan a-ku,”

Langkahku terhenti melihat Siwon Oppa bergerak-gerak gelisah dalam tidurnya. Dia seperti orang yang kesakitan sekaligus ketakutan. Demi apapun, aku tidak mungkin tega meninggalkan Siwon Oppa di saat seperti ini. Bagaimana ini? Apa yang harus kulakukan? Aku benar-benar tidak bisa meninggalkan suamiku di saat dia sedang menderita seperti ini. Aku ingin menelepon kembali ibu mertuaku tapi ponselku sudah tidak bisa digunakan lagi karena jatuh dari genggaman.
Dunia serasa berputar begitu cepat dan aku terjepit di dalamnya tanpa bisa berbuat apapun. Aku harus menemui Appa tapi Siwon Oppa tidak mungkin kutinggalkan. Tuhan, apa yang harus kulakukan?

Nak, di saat seorang perempuan menjadi istri, prioritas utamanya bukanlah ayah atau ibunya lagi tetapi suaminya.

Di saat pikiranku kalang kabut, kalimat itu bergema begitu saja di telingaku. Suamiku adalah prioritas utamaku. Seolah mendapat vonis hakim, tubuhku melemah dan akhirnya aku jatuh terduduk di kursi. Tanganku terulur dengan sendirinya menggenggam tangan Siwon Oppa. Mendekapnya seerat yang kubisa. Aku hanya berharap, semoga semuanya baik-baik saja.
“Appa, mianhae…” seiring dengan kalimat yang terberai dari mulutku, airmata ini meleleh dan perlahan jatuh membasahi tangan Siwon Oppa.
Detik demi detik yang bergerak sedetak dengan jantungku terasa semakin sesak dan sesak. Sesuatu di hatiku mencelos jatuh dan paru-paruku terasa sesak. Mungkinkah ini sebuah firasat?

Ponselku yang semula padam menyala menampilkan sebuah pesan singkat dari Eomma. Aneh sekali. Dengan tangan bergetar aku membuka pesan tersebut.

So Eun, Appamu sudah pergi dengan tenang.

From : Eomma

“Appaaaa, hiks-hiks..” tangisku pecah seketika setelah membacanya. Di tempatku duduk, di ruangan rawat Siwon Oppa aku membiarkan diriku menangis.
Appa, kuharap engkau bisa memaafkan aku. Maaf, aku tidak bisa melihat wajahmu untuk terakhir kali.

—o0o—

*Author POV

Siwon merasakan seberkas cahaya masuk ke sela kelopak matanya ketika ia siuman. Matanya mengerjap beberapa kali hingga akhirnya penglihatan itu menjadi jelas. Ia menoleh ke sekeliling dan menemukan wajah cantik So Eun tersenyum dengan mata berkaca-kaca, menyambut dirinya.
“Kau sudah siuman, Oppa,” suaranya yang riang itu terdengar seperti dialog sandiwara yang gagal. Siwon merasa So Eun tengah bersandiwara.
“Apa aku ada di rumah sakit?” Siwon memegang kepalanya sendiri. Masih terasa pusing seperti baru saja naik wahana permainan ekstrem di taman ria. Terakhir kali ia ingat dirinya berada di apartement bersama dengan Eun Ji setelah itu ia lupa segalanya. Pandangannya kembali teralih pada So Eun. Ada sesuatu dalam ekspresi So Eun yang membuatnya penasaran.
“Kau menangis?” tanyanya cemas. So Eun tersenyum meskipun Siwon bisa melihat dengan jelas jejak airmata di pipinya.
“Aku mencemaskanmu, Oppa. Syukurlah kau sudah siuman.”
Siwon memegang kepalanya yang masih terasa pening. “Berapa lama aku berada di sini?”
“Sehari semalam.”

Siwon kembali menatapi paras So Eun yang pucat. Firasatnya tidak salah, istrinya ini sepertinya memang menyembunyikan sesuatu. Atau mungkin, sedang berusaha untuk tidak menangis, tapi mengapa?
“Kau tidak perlu mencemaskanku. Aku baik-baik saja, sungguh.” Siwon mencoba meyakinkan. Ia takut jika So Eun memang bersedih karena itu.
“Oppa, kau tidak perlu mencemaskanku.” So Eun menenangkan Siwon yang mulai mencemaskannya. Ia senang mengetahui suaminya peduli padanya. Hanya saja, ia tidak ingin kesedihan yang ia rasakan semakin menumpuk dan akhirnya ia tak bisa mengendalikannya lagi. Ia tak mau menangis di depan Siwon.
“Kau sudah menjenguk Appamu? Apa dia baik-baik saja?” Siwon bertanya hati-hati. Ia tahu hal yang paling dicemaskan So Eun sepanjang hidupnya. Yaitu kesehatan ayahnya. So Eun melebarkan matanya sesaat. Hatinya bergetar. Jangan menangis, jangan menangis..
“Appa…dia..sekarang sudah tidur dengan tenang. Dia pasti baik-baik saja.” lirih So Eun dengan mata berkaca-kaca.
Siwon tertegun untuk beberapa saat. Bibirnya terasa kelu. So Eun, memang menyembunyikan sesuatu. Sebenarnya apa yang terjadi? Gadis itu menundukkan kepalanya dan Siwon bisa melihat bahunya bergetar.
“Sebenarnya ada apa ini?”

—o0o—

Siwon berdiri diam di tempatnya, menatap sedih sosok gadis yang menangis di depan pusara Ayahnya. Sudut hatinya bergetar sakit. Ia tidak bisa melihat situasi ini. Ia tidak sanggup. Di telinganya, bergema dengan jelas kata-kata yang diucapkan oleh ibunya.
“Saat ayahnya sekarat, So Eun lebih memilih menjagamu. Kau tahu, dia sangat mencemaskanmu sampai mengesampingkan urusan Ayahnya sendiri. So Eun sangat mencintaimu. Kau harus memperlakukannya dengan baik. Dia anak yang sangat berbakti. Kau tidak akan menemukan gadis sepertinya lagi dimanapun.”

“Kenapa kau tidak pergi saja Kim So Eun?! Kenapa kau tidak tinggalkan aku lalu pergi melihat wajah Ayahmu untuk terakhir kali?” protes Siwon begitu ia tahu hal itu. So Eun hanya menunduk sedih dengan linangan airmata yang semakin deras. Tak ada sepatah katapun yang terucap dari mulutnya.
Siwon tahu tak seharusnya ia melampiaskan emosinya pada So Eun. Hanya saja ia tidak habis pikir. Bukankah apa yang dilakukannya selama ini karena ayahnya? Bahkan dia rela menikah demi sang Ayah. Lalu mengapa di saat pertemuan terakhir itu tiba, So Eun memilih tinggal di sisinya?
“Maaf.” Dengan suara yang menyayat hati, So Eun justru meminta maaf.
“Ini bukan saatnya meminta maaf, lihat sekarang kau pasti menyesal bukan. Kau menyesal karena Ayahmu—“ Siwon berhenti berkata lalu menghela nafas melihat So Eun semakin terpuruk. Ia menarik So Eun ke dalam pelukannya. Ia tidak sanggup lagi melihat So Eun menangis. Rasa sesak setelah kehilangan orang penting tidak bisa hilang begitu saja dan yang dibutuhkan So Eun sekarang adalah tumpuan. So Eun butuh seseorang untuk tempatnya bersandar. Dan Siwon sadar itu tugasnya sekarang.

Kini, setelah pemakaman selesai Siwon menemani So Eun yang tetap diam membisu di depan altar ayahnya. Tak ada lagi airmata. Namun ekspresi sedih tetap melekat di sana. Siwon membawakan secangkir teh untuk So Eun karena ia melihat wajah gadis itu mulai pucat.
“Minumlah. Setelah ini kita pergi makan,” ajak Siwon. sesungguhnya, melihat keadaan So Eun sekarang ia merasa sangat bersalah. Seandainya ia tidak sakit, mungkin So Eun masih bisa melihat ayahnya untuk terakhir kali.
So Eun hanya menggelengkan kepala. Ia bahkan tidak mengucapkan sepatah kata pun sejak prosesi pemakaman tadi pagi. Siwon merasa So Eun merajuk padanya. Apa gadis ini diam-diam menyalahkannya atas kematian Sang Ayah?

—o0o—

Seminggu berlalu dan So Eun berangsur membaik. Siwon menghela nafas lega setelah tahu So Eun baik-baik saja. Dia sudah bisa tersenyum lepas kembali. Bahkan beraktivitas seperti biasanya.
“Oppa, ini waffle mu.” So Eun meletakkan sepiring waffle dengan topping cokelat di hadapan Siwon yang santai membaca koran pagi. Diam-diam, Siwon melirik segala macam kegiatan So Eun untuk memastikan gadis itu tidak bersedih atau semacamnya.
“Kudengar kau mulai bekerja hari ini,” Siwon sudah mendengarnya kemarin dari ibu mertuanya. So Eun-lah yang akan meneruskan perusahaan Ayahnya. Tidak mungkin membebankan tugas itu pada Siwon yang juga sibuk mengurus perusahaan keluarganya.
“Iya. Hari ini aku resmi menggantikan posisi Appa,” So Eun menyesap tehnya. Ia menyadari sejak tadi Siwon terus memandangnya penuh selidik. Ia meletakkan perlahan cangkir tehnya lalu bertanya penasaran.
“Kenapa Oppa melihatku seperti itu? Sungguh, aku tidak apa-apa,” terang So Eun yakin. Siwon melipat koran di tangannya lalu menyimpan benda itu di atas meja. Karena kini perhatian So Eun tertuju padanya, ia tidak akan segan untuk bertanya lagi.
“Apa kau marah padaku?” tanyanya dengan suara rendah dan wajah serius. So Eun mengerjap kaget.
“Kenapa aku harus marah?”
“Atau, kau diam-diam menyalahkanku?” kini suara Siwon terdengar sedih, seperti mengemban beban berat.

So Eun mengerutkan kening bingung. Sebenarnya hal apa yang dimaksud Siwon? Ia tak mengerti sedikitpun.
“Aku tidak marah ataupun menyalahkanmu. Kenapa aku harus melakukannya?”
Siwon menghela nafas berat, “Aku takut kau menyalahkanku karena kematian Ayahmu. Karena menjagaku, kau tidak bisa melihatnya untuk terakhir kali.”
So Eun melebarkan matanya, terkesima atas ucapan Siwon. Jadi ini alasan mengapa sejak tadi pria itu terus menatapnya dengan wajah cemas dan menyesal? Ia harus menjelaskannya pada Siwon bahwa semua ini terjadi karena takdir, bukan salah siapapun dan sekalipun ia tak pernah menyalahkan Siwon atas kematian sang Ayah.
“tak pernah sedetikpun aku berpikir itu adalah kesalahanmu, Oppa. Sungguh. Aku memilih untuk tetap menjagamu saat itu. Aku tak merasa terbebani sekalipun atas keputusan itu karena aku sudah tahu apa resikonya. Tak perlu mencemaskanku.”

Siwon merasa sesuatu dalam hatinya bergeser. Entah kenapa hari ini ia merasa So Eun terlihat begitu berbeda. Tiba-tiba ia merasa telah menemukan sosok wanita impiannya dalam diri So Eun. Sesuatu yang dulu sangat ia impikan namun tak pernah ia temukan dalam diri wanita mana pun, termasuk Eun Ji. Tapi, sesuatu itu apa? Mendadak, sesuatu yang pernah diucapkan Kyuhyun menggema di telinganya.

Hati manusia adalah komponen paling rumit yang dibuat Tuhan. Kau bahkan tidak bisa mengira nama siapa yang sebenarnya terukir di hatimu. Tanpa kau sadari, mungkin saja di hatimu nama Park Eun Ji perlahan terhapus dan digantikan oleh nama Kim So Eun.

Ia mengerjap. Ya Tuhan, jangan katakan dirinya baru saja menyadari bahwa..bahwa ia jatuh cinta pada Kim So Eun?

—o0o—-

Donghae tersenyum, untuk pertama kalinya sejak menginjakkan kakinya di Korea. Sejak kembali, ia bertekad untuk melupakan kisah cintanya dengan So Eun. Baginya, So Eun hanya masa lalu. Setidaknya itu yang ia yakini selama beberapa bulan tinggal di Jepang. Ia terus menghipnotis dirinya sendiri bahwa masih banyak di dunia ini gadis yang lebih baik segala-galanya dari Kim So Eun. Meksipun belakangan ia sadar, tidak ada gadis yang memiliki hati sesabar So Eun, senyum selembut So Eun, dan sikap sebaik So Eun.
“Berhenti mengasihani diri sendiri, Lee Donghae!” Benar, bukannya tidak ada. Ia hanya belum menemukannya saja.

Di tempat lain,
“Apa? Katakan yang jelas. Di mana restorannya?” tanya So Eun agak keras karena pembicaraannya dengan Siwon terganggu karena sinyal ponsel yang buruk. Siwon memintanya untuk mengantarkan berkas penting yang tertinggal ke sebuah restoran di daerah Gangnam.
“Etoile. Kau tahu kan restoran Perancis?”
“Ah, restoran di ujung jalan itu?” Ia segera menyimpan kembali ponselnya ke dalam saku jas lalu berdecak.
“Aku juga sibuk Tuan Choi, tapi kenapa sekarang kau suka sekali menyusahkanku?” meskipun mengeluh namun So Eun mendapati bibirnya tersenyum manis. Sekarang mereka berdua sama-sama sibuk. Dan kabar baiknya, hubungan mereka justru menjadi lebih baik dari sebelumnya.

Hingga kini, So Eun masih berharap Siwon akan mengungkapkan bagaimana perasaan yang sesungguhnya padanya. Apakah cinta, atau hanya rasa penebusan dari rasa bersalahnya? So Eun mengembangkan senyum terbaiknya lalu mulai melangkah menuju restoran yang hanya berjarak sekitar satu blok lagi. Tetapi, ketika berjalan beberapa langkah, senyum indah itu perlahan memudar seiring dengan langkah riangnya yang terhenti. Tubuhnya membeku dan matanya terpaku melihat sosok yang berdiri di depannya.
“Donghae Oppa..” bisiknya tak percaya. Tanpa disadari, berkas yang ia pegang berjatuhan ke atas trotoar jalan.
Siapa sangka setelah beberapa bulan tak melihat wajahnya, akan tiba juga hari di mana sosok masa lalu muncul kembali.
Donghae terdiam dengan mimik serupa dengan So Eun. Terkejut sekaligus tak percaya.

To be continued…

88 thoughts on “I Hate You, But.. (Part 5)

  1. So eun hebat,hey q kalo d p0sisi dy wlw bimbang mungkn bkal nemuin orang tua.

    huft.d0nghae lapang dada bgt.
    gau tega q lyat hatinya

  2. nyesek bgt d part ini
    so eun brbakti bgt ma siwon oppa
    salut sma so eun
    tuh wonpa kmu hrus sdar so eun itu lbih baik dripada eunji

  3. sedih jg wkt so eun berada d antara 2 pilihan n memilih tuk menjaga siwon hingga kehilangan kesempatan tuk bertemu appany tuk terakhir x..kasian so eun..

  4. Duhh scene di RS gue baca nya ampe berkaca2 apa lagi pas di pemakaman😦 So eun kuat banget ya jadi orang, lebih prioritas sin suami di banding appa nya. kalo gue, gue gak bisa kali yah bingung ><
    Haeppa pliss jangan kau seperti eunji ya :^

  5. So eun patut diacungi jmpol, dia lbih milih setia nungguin suaminya dripada appa ksayangan nya yg lagi sekarat,, wah,donghae dtang lagi!
    Great job author ^^

  6. Siwon oppa jika kau meninggalkan So Eun kau sungguh JAHAT ! Karna So Eun begitu mencintaimu,lihat saja saat ia tau ayah’nya sedang sekarat tapi ia tetap menemanimu ! Walau akhirnya ia tidak bisa melihat wajah terakhir ayah’nya😦
    Donghae Kembali >_< apakah akan terjadi konflik yg sangat konflek '-

Your comment

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s