Shady Girl Siwon’s Story (Part 8)

Title : Shady Girl Siwon’s Story Part 8
Author : Dha Khanzaki a.k.a Shin Je Young
Genre : Romance, sad

Main Cast :

  • Choi Siwon
  • Lee Sunhee

Support Cast :

  • Lee Donghae
  • Kim Kibum
  • Tiffany Hwang
  • Choi Sulli

Mulai part ini kalian harus menyiapkan kotak tissue beserta tissuenya *ya iyalah* karena part ini dan berikutnya bakalan sedih dan nyesek.

Buat yang gak sabar, yuk kita baca bersama ^_^

Shady Girl Siwon's story by Dha Khanzaki12

===Part 8===

Sudah beberapa hari ini Siwon tidak melihat sosok Sun Hee. ia merasa ada sesuatu yang kurang ketika gadis itu tidak ada. Seolah tanpa sesuatu itu, harinya tidak akan sempurna.
“Apa adikmu masih sibuk latihan?” tanya Siwon pada Donghae siang itu.
“Begitulah, saat kutanya Leeteuk Hyung..dia bilang Sun Hee lebih sering menghabiskan waktu di luar. Setelah kembali dia tidak akan keluar kamar sampai besoknya”
Siwon membulatkan matanya. Ia terkejut. “Kau pasti bercanda. Apa dia makan teratur? Dia bisa jatuh pingsan karena kelelahan.” Mendadak Siwon gusar sendiri. “Kau harus memberitahukannya agar tidak terlalu memforsir diri. Dan jaga kesehatan. Oh iya. Dia juga harus cukup istirahat..”

Donghae mengangkat alisnya sebelah melihat tingkah sahabatnya ini. Ia tersenyum dalam hati. Siwon tidak akan secemas ini jika tidak memiliki perasaan sayang pada orang itu.
“Kenapa kau tidak mengatakannya sendiri? Bukankah kau memiliki nomor ponselnya, teleponlah dia. Dan keluarkan semua kecemasanmu tadi padanya.”
Siwon terdiam kembali. “Benar juga. kenapa tidak terpikirkan ya?” ia segera merogoh ponsel dari dalam jasnya lalu menekan speed dial nomor ponsel Sun Hee.
“Aku permisi dulu.” pamitnya sambil menunggu panggilannya terhubung. Donghae mengangguk santai.

Siwon mencari tempat tenang. dan dia tahu tempat yang cocok untuk menelepon tanpa diganggu suara bising. Greenroof gedung itu. dengan ponsel yang masih menempel di telinga, Siwon mulai gusar karena ia hanya mendengar nada tunggu dari ujung sana. Kemana Sun Hee? apa dia sedang sibuk latihan?
“Tapi kenapa aku harus meneleponnya? Apa urusannya denganku?” renungnya mendadak. Ia sendiri heran kenapa. bukankah wajar saja jika Sun Hee sibuk latihan? Pertunjukkan perdananya tinggal beberapa hari lagi.
“Oke Choi Siwon..berhentilah bertindak konyol. Sekarang kembali kerja..” ia bangkit dari tempat duduknya. Tapi entah kenapa ia enggan sekali pergi dari tempat indah itu. akhirnya ia kembali duduk sambil menatapi ponselnya.
“Apa aku telepon dia lagi?”

—-o0o—-

Sun Hee tidak bisa menolak lagi ketika Kibum memintanya ikut perawatan intensif di rumah sakit. tapi Sun Hee menolak saat Kibum memaksanya di rawat inap. Gila saja. keluarganya bisa bertanya-tanya nanti. Dan ia sudah cukup di pusingkan dengan omelan Sungmin semenjak sepupunya itu tahu penyakit yang diidapnya. Ia harus beginilah, ia tidak boleh begitu lah. Benar kan, ia pasti diperlakukan seperti orang sakit.

“Besok jangan lupa datang lagi” ucap Kibum sambil menyerahkan hasil lab tentang penyakitnya. Sun Hee menerimanya dengan wajah dibuat ceria. Mereka sekarang tengah duduk di taman samping rumah sakit.
“Minum obatnya dengan teratur, dan jika terjadi sesuatu..kau tahu kan nomor ponselku. Aku akan.”
“Dokter Kim..” sela Sun Hee. “Jangan perlakukan aku seperti orang sakit.”
“Aku hanya mengantisipasi.” Ucap Kibum tenang. baiklah, sepertinya Sun Hee tidak berminat melanjutkan pembicaraan membosan kan ini. Ia harus mengganti topik. Suasana hati orang sakit sepertinya harus bahagia.
“Bagaimana dengan drama musikal mu?”

“Oh iya..” Sun Hee mengerjap senang. ia mengeluarkan 2 lembar tiket pertunjukannya lalu mengulurkannya pada Kibum.
“Ini tiket pertunjukanku. Datanglah bersama Ja Rin”
“Gomawo.” Kibum mengambilnya.
“Aku juga sudah mengundang yang lain. Sudah kukirimkan tiketnya ke alamat rumah masing-masing.”
“Lalu Siwon, kau pastin mengundangnya kan?”
Sun Hee tersenyum simpul, senyum yang berbeda dengan yang ditunjukkannya untuk yang lain. “Tentu saja. aku akan memberikannya secara khusus”

Mereka kembali terdiam.

“Dokter Kim, aku ini bukan orang yang romantis..” gumam Sun Hee memecah keheningan. Merasa heran dengan ucapannya, Kibum menoleh.
“Apa maksudmu?”
“Apa dokter tahu himpunan kosong phi atau nol dalam matematika?” tanya Sun Hee dengan pandangan menerawang ke arah taman. Meskipun masih belum mengerti, ia mengangguk.
“Tentu”
Sun Hee mengangguk pelan. “Benar..bilangan nol tidak memerlukan pembuktian maupun paradoks. Dan seorang dokter pasti mengetahui teori bilangan nol itu.” kini Sun Hee menatap Kibum. Baru sebagai seorang dokter, Kibum memahami topik pembicaraan ini. Ia membelalakan matanya tapi tidak mengatakan apapun.
“Yang berarti..kematian” jawab Sun Hee pelan. Ia tersenyum tipis.
“Orang-orang yang sudah mendekati kematian sepertiku, tidak akan bisa memikirkan hal-hal yang tidak nyata seperti orang lain. Aku bahkan tidak berani bermimpi ataupun berandai-andai. Karena aku tahu aku tidak mungkin memiliki waktu untuk mewujudkannya. Aku harus memiliki prinsip realitas dan membuang semua angan-angan” ia diam lagi, seperti sedang menahan rasa sakit.
“dan orang-orang yang memikirkan hal-hal tidak nyata seperti itu..adalah orang yang romantis..” tambahnya.

Sesaat suasana hening dan Kibum terlalu terkejut untuk bereaksi.
“Sun Hee, kau jangan menyerah. Penyakitmu pasti bisa disembuhkan. Masih banyak cara untuk menyembuhkannya. Appa-mu saja bisa selamat.” Kibum tidak ingin melihat Sun Hee menyerah pada hidupnya sendiri. Ia harus kuat.

“Dengan apa? transplantasi jantung? Aku bukan orang bodoh dokter Kim. Mendapatkan donor jantung yang sesuai itu tidak semudah membalikan telapak tangan. Lagipula, yang membutuhkan donor bukan hanya aku. Ada ratusan orang yang membutuhkan hal serupa. Apa aku harus menunggu? Sampai kapan? Bagaimana jika donor untukku tidak pernah ada dan tersedia saat semuanya sudah terlambat?” cerocosnya dengan nada pesimis.

Sun Hee sudah mencoba bertahan. Bahkan sejak setahun terakhir. Tapi ia merasa perkembangan penyakitnya tidak kunjung membaik malah semakin memburuk. Sun Hee tidak sanggup menahan sakit yang semakin hari semakin menjadi lagi. Lebih baik Tuhan menghakhiri segala penderitaannya dan membiarkannya tenang di sana. Itu lah yang selalu ia pikirkan. Karena itu Sun Hee kembali ke Korea. Karena ia ingin mati dalam keadaan di kelilingi oleh orang-orang yang ia sayangi.

Karena itu juga ia sampai berani memohon pada Appa-nya agar menjodohkan dirinya dengan Siwon. Ia terlalu takut jika sampai cintanya pun tidak pernah bisa terbalas hingga ia mati. Ia takut.

“Ani..meskipun perbandingannya hanya satu banding sejuta, kau tetap ada kesempatan. Jadi, kumohon jangan menyerah. Aku akan usahakan sebisaku.” Ucap Kibum.

Bukankah ada pepatah, tidak ada hal yang tidak mungkin di dunia ini.

—-o0o—-

Siwon mondar mandir. Sekarang sudah menjelang sore dan ia masih belum memutuskan apakah harus menelepon Sun Hee atau tidak. Baiklah, jika siang tadi gagal pasti sekarang tidak. Mungkin saja kan Sun Hee sudah selesai latihan. Ia menekan kembali speed dial ponsel gadis itu.

Kali ini panggilannya di jawab dalam satu deringan. Ia mendesah lega. Aigoo, kenapa bisa selega ini ya? Meskipun tidak mengerti tapi seulas senyum tetap terukir di bibirnya.
“Yeobseo..” suara halus di ujung sana membuyarkan lamunannya.
“Ne..ini aku, Siwon.” Ucapnya. Aish, kenapa dia mengatakan hal bodoh seperti itu sih?
“Aku tahu. ada apa? tumben menelepon.”
Ada apa? iya, benar juga. apa alasan dia menelepon ya?
“Aku hanya ingin tahu kabarmu. Hari ini kau tidak masuk. Donghae bilang kau sibuk latihan drama musikal.” Siwon menyandarkan dirinya pada meja kerja. Ia agak kesal juga mengingat ia mengetahui hal ini bukan dari Sun Hee sendiri. Tapi dari orang lain.
“Ah, iya. Aku lupa bilang padamu. Aku ikut ambil bagian dalam drama musikal. Pertunjukan perdananya minggu nanti. Oppa, bisakah kita bertemu?”

Eh, Siwon mengerjapkan matanya. “Bertemu? Sekarang?”
“Tentu saja. kapan lagi. Bukankah sekarang sudah waktunya jam pulang kantor?”
Siwon melirik jam. Benar juga. “Baiklah, kita bertemu di mana?”

—-o0o—-

Siwon turun dari mobilnya yang terparkir di depan sebuah komplek pertokoan. Ia mencari restoran tempat ia akan bertemu dengan Sun Hee. ia tidak pernah kemari sebelumnya. Jadi tidak begitu tahu.

“Choi Siwon..” seru seseorang. Siwon menghentikan langkahnya lalu menoleh. Tiffany Hwang tersenyum manis sambil melambaikan tangan. Siwon balas tersenyum. Ia tak menyangka bisa bertemu dengannya di tempat seperti ini. Kebetulan yang menyenangkan.
“Kau, sedang apa di sini?” tanya Siwon begitu Tiffany sudah berdiri di depannya.
“Aku dan para staf baru saja mengadakan perayaan dengan makan bersama. Kau?”
“Ah, aku ada janji. Memangnya, perayaan apa?”
“Itu..minggu nanti kami akan merilis premiere film terbaru ku. Ah, kebetulan sekali. Kau bisa datang? Aku sangat senang jika kau bersedia hadir.”
“Minggu?” Siwon terdiam. Ia teringat kata-kata Sun Hee tadi di telepon. Aku ikut ambil bagian dalam drama musikal. Pertunjukan perdananya minggu nanti. Bagaimana ini? Kenapa bisa di laksanakan di hari yang sama sih? Kalau begini kan ia bingung.
“Engh, kita lihat saja nanti”

Sementara itu..

Sun Hee menunggu lebih dari satu jam. Ia sudah sepuluh kali melirik jam tangannya tapi sosok Siwon tidak kunjung menampakkan diri juga. kemana dia? Tidak mungkin kan namja itu tersesat? Padahal ia sengaja memilih tempat umum seperti ini. Sun Hee menatap kosong beberapa gelas Moccachino yang sudah ia habiskan saat menunggu Siwon.

“Tidak mungkin Siwon Oppa lupa. Dia sudah berjanji akan datang.” Desisnya. Akhirnya ia memutuskan pergi. mungkin saja Siwon memang benar-benar tersesat. Ia berjalan gontai saat keluar dari restoran tadi. ia iri sekali melihat beberapa pasangan yang berpapasan dengannya di trotoar jalan yang ramai. Kapan ia akan bahagia seperti mereka? Bergandengan tangan dengan wajah gembira. Ah, sial..sekali lagi ia tidak berani berkhayal. Berpikirlah realistis, Lee Sun Hee!!

Saat mengangkat kepalanya, Sun Hee terkejut. di depan sana ia melihat Siwon sedang bersenda gurau dengan seseorang. Dan yang membuat hatinya sangat kesal adalah, orang yang berbicara dengannya itu adalah Tiffany Hwang!! Pantas saja Siwon lupa janjinya, ia sedang bersama gadis itu. gadis yang sudah di sukainya lebih dari lima tahun. Dan gadis yang sudah mencampakkannya beberapa hari yang lalu. Ia menggeram tertahan. Ia tidak mungkin mendadak muncul lalu berteriak di hadapan mereka. Lihat saja, betapa bahagianya Siwon sekarang.

Sun Hee mendadak merasakan dadanya berdebar kencang. Bukan debaran yang menyenangkan. Tapi justru debaran yang begitu menyesakkan dan membuatnya sulit bernapas. Ia mendongkakan kepala menahan air mata yang hampir tumpah. Ia tidak boleh menangis di tempat ramai seperti ini. Sun Hee segera menyetop taksi, kemudian pergi.

Ia memandang ke luar jendela dengan mata berlinangan air mata. Dan sial, dadanya semakin terasa nyeri. Tangannya mulai gemetar kembali. Ia buru-buru mengambil botol obat lalu menelan satu butir.
Sun Hee terdiam sejenak. kenapa rasa sakitnya tak kunjung hilang? oh, ini bukan sakit karena penyakitnya kambuh. Ini sakit yang lain. Dadanya terasa semakin sesak.

Airmatanya tumpah. Akhirnya Sun Hee menangis karena tak sanggup menahan rasa sakit di dadanya lagi. Dalam bayang matanya, terbesit gambaran pemandangan Siwon yang berwajah bahagia bersama Tiffany. Benar-benar menyakitkan.

“Tuhan, kenapa kau tidak bunuh aku saja sekarang..” gumamnya tercekat.

—-o0o—-

“Lee Sun Hee, mati kau!” geram Siwon meremas tangannya kuat. Sial sekali, ia sudah menunggu di tempat mereka janjian tapi kenapa Sun Hee tidak kunjung muncul juga? siwon merogoh ponsel dalam saku celananya dengan kasar. Ia sudah kesal. Sun Hee yang membuat janji kenapa juga dia yang membatalkan? Ia harus menghubungi gadis itu dan menanyakan keberadaannya.

“Yeobseo..” terdengar suara Sun Hee di ujung sana.
“Ya! Kau di mana sekarang? Aku sudah lebih dari dua jam menunggumu di sini!!” bentak siwon. Emosinya sudah mencapai pada tingkat atas.
“Aku di rumah Oppa..”
“Mwo! Di rumah! Yak! Kau ini benar-benar! Sebenarnya niat tidak sih? Kau bilang ingin bertemu!” cerocos Siwon diluar kendali. Ia juga tidak percaya bisa semarah ini. Tapi ia tidak suka.
“…”
Tidak ada reaksi di ujung sana. Siwon menutup matanya rapat-rapat. Ia sedang menahan emosinya sendiri.
“Baiklah, jadi ini yang kau inginkan? Kau mempermainkanku? Padahal aku bermaksud..sudahlah! drama musikal atau apapun, aku tidak akan datang!!! Kau benar-benar membuatku kesal!!” siwon memutuskan sambungan. Ia mendecak kesal dengan tangan ia tolakkan di pinggang. Lee Sun Hee, dia benar-benar mempermainkan perasaannya. Padahal ia sudah berniat untuk memberikan kesempatan pada Sun Hee. ia ingin membuka hatinya untuk gadis itu. tapi..gadis itu malah mengecewakannya.

—o0o—

Sun Hee menatap nanar ponselnya. Ia sungguh menyesal karena sudah membuat Siwon marah dan kecewa. Tapi, hatinya terlalu sakit sekarang. Ia takut jika terus berada di sana, ia akan pingsan di hadapan Siwon.

“Mianhae, Oppa..” desahnya tertahan. Sun Hee segera menghapus air matanya. ia mencoba bangkit dari duduknya dan berjalan pelan mengambil botol obat yang ia letakkan di atas meja belajarnya.

Tok tok tok

Sun Hee menoleh mendengar suara pintu kamar diketuk. “Nugu?” teriaknya. Ia terlalu lemah untuk berjalan ke arah pintu. Dari tempat tidur ke meja belajarnya saja butuh tenaga ekstra. Bagaimana mungkin ia berlari dan membuka pintu dengan cepat.
“Ini aku..kau belum makan kan? Aku bawakan makanan untukmu.”
Ia mendengar suara Haebin dari balik pintu. Aish, bagaimana ini.. dengan gerakan cepat ia memasukkan botol obatnya ke dalam saku celana yang dipakainya.
“Masuklah, Eonni..” teriaknya. Ia duduk di kursi dan pura-pura belajar.

Tak lama terdengar suara pintu di buka, Haebin masuk membawakan satu nampan makanan. Malam ini Donghae, Haebin dan putranya memang sengaja menginap untuk menemani Sun Hee. Tuan Lee mencemaskan kondisi putrinya dan ia tidak bisa meninggalkan putrinya seorang diri. Ia dan Leeteuk harus pergi ke luar kota untuk menangani sebuah proyek.

Haebin tersenyum melihat Sun Hee sibuk membaca sesuatu di balik meja belajarnya. Ia meletakkan nampan itu di dekat meja belajar.
“Sedang belajar apa?” tanya Haebin. Sun Hee menoleh.
“Ah, ini. Naskah dramaku.” Ucapnya santai.
“Oh ya? Ceritanya tentang apa?”

Sun Hee menutup naskah yang dipegangnya. Matanya menyipit memandang Haebin.
“Ini tentang kisah seekor bebek yang jatuh cinta pada pangeran.”
“Jinjja? Wah, pasti seru.”
“Suatu hari, bebek itu ditolong seorang pangeran tampan. Sejak saat itu dia terpesona dan berharap bisa menjadi manusia. Pangeran itu sangat dingin dan tanpa ekspresi, seolah tidak mempunyai hati dan perasaan, memang benar..ternyata hati pangeran itu sudah hancur dan terpisah menjadi beberapa bagian. Dan seorang penyihir mengubah bebek itu menjadi seorang gadis dengan syarat, ia bisa menyatukan kembali kepingan hati pangeran dan membuatnya bahagia.”
“Lalu, bagaimana akhirnya?”
Sun Hee mendesah. “Setelah berhasil menyatukan kembali hati pangeran, ternyata sang pangeran menyukai orang lain, seorang putri yang sangat cantik dan baik. Orang yang dulu membuat pangeran kehilangan hatinya. Dan gadis itu tidak sanggup membuat pangeran kembali sedih hingga akhirnya ia meminta pada penyihir untuk kembali menjadi seekor bebek dan membiarkan pangeran bahagia dengan gadis pilihan hatinya.”

Haebin merengut sedih. “Aigoo..benar benar kisah yang menyedihkan.”
Sun Hee mengangguk. “Ini sebuah tragedi.” Ia diam sejenak. kalau dipikir-pikir, ia memang seperti gadis bebek itu. jatuh cinta pada pangeran yang sudah menolongnya, berusaha mati-matian agar bisa menjadi gadis yang diinginkan pangeran, lalu ditolak karena sang pangeran menyukai gadis lain. Apa ia juga harus kembali menjadi bebek buruk rupa dan membiarkan sang pangeran bahagia? Oh, tentu saja kisahnya berbeda. Gadis yang mencintai pangeran itu bukannya kembali menjadi bebek, melainkan pergi menemui kematian.

“Sun Hee, kau kenapa?” Haebin khawatir karena saat ini Sun Hee terlihat sangat sedih.
“Aniya..aku hanya..yah, merasa kisah ini mirip sekali denganku. Pada awalnya, aku memang menerima drama ini karena mirip dengan kisahku.”
“Tenanglah, setelah lihat pertunjukanmu nanti, aku yakin Siwon akan berubah pikiran. Dia akan menerimamu. Jadi, dalam kisahmu, sang pangeran tidak mencintai putri itu. melainkan memilih gadis bebek yang sudah membantunya kembali bahagia.” Ucap Haebin menghiburnya. Sun Hee tersenyum tipis.
“Nah, sekarang ayo makan.” Haebin menepuk pundak Sun Hee lalu bangkit. Ia harus mengecek keadaan putranya. Tadi dia asyik bermain bersama ayahnya.

Selagi kakak iparnya itu pergi, ia berusaha bangun. Tadi dia sudah berakting sangat baik. Hingga Haebin tidak mencurigainya sama sekali. Tapi saat ia mencoba melangkah bangun, mendadak saja kakinya seperti kehilangan tenaga dan ia jatuh.

Haebin baru akan mencapai pintu saat ia mendengar suara keras dari arah belakangnya.
“Sun Hee!!!” Haebin memekik kaget melihat Sun Hee terkapar di dekat meja belajarnya. Ia berlari kencang mendekati Sun Hee.
“Kau tidak apa-apa?” serobot Haebin cemas. Ia berusaha membantu Sun Hee berdiri lagi. Sun Hee mengutuki dirinya sendiri karena tertangkap basah tak berdaya oleh orang lain. Ia mendesis pelan dan berusaha tersenyum.
“Aku tidak apa-apa. gomawo eonni..” Sun Hee dibantu Haebin berusaha bangkit. Ia kemudian duduk ditepi tempat tidur. selagi Haebin tidak melihat, ia merogoh saku celananya kemudian mencoba membuka tutup botol obat itu tapi sial, karena terlalu lemas ia tidak bisa membukanya sama sekali sementara, pandangan matanya mulai mengabur. Jangan..ia tidak mau pingsan saat ada orang lain seperti ini.. tidak boleh..

Sun Hee berusaha keras membuka tutup botol itu hingga akhirnya semua penglihatannya mendadak gelap dan ia tidak bisa merasakan apapun lagi.

—-o0o—-

Ia membuka matanya dan mendapati Donghae dan Haebin duduk di tepi ranjangnya. Ia mengerjapkan mata dan terkesiap. Sial, jangan bilang tadi dia baru saja pingsan!!
“Oppa, Eonni..” ucapnya lemah. Sun Hee beringsut bangun meskipun dengan susah payah.
“Berbaringlah Sun Hee, kau masih lemah.” Ucap Haebin.
“Aku tidak apa-apa, Eonni..” ucapnya lemah. Ia mengalihkan perhatiannya pada Donghae, kakaknya itu menatapnya tajam, seolah tatapan itu tengah berusaha menguliti seluruh tubuhnya.
“Kenapa, Oppa?” ucapnya takut. Dari dulu ia memang takut pada tatapan tajam Donghae.

Donghae tidak mengatakan apapun. Ia kemudian mengulurkan botol obat ke hadapan Sun Hee.
“Katakan ini apa?” interogasinya kejam. Sun Hee membulatkan matanya. sial! Botol itu, bagaimana bisa ditemukan??
“Itu..hanya obat pusing.” Cicitnya bohong. Sun Hee menundukkan kepalanya.
Donghae menggenggam erat botol itu. “GEOJITMAL!!!” teriaknya kencang. Haebin mengerjap kaget sementara Sun Hee mengerutkan tubuhnya takut.
Namja itu berdiri. “Kau kira aku ini bodoh? Ini obat penghilang rasa sakit dengan dosis tinggi!! Katakan.. kau sebenarnya sakit apa!!!!” bentakannya menggelegar memenuhi penjuru ruangan. Haebin segera bangkit lalu menenangkan suaminya itu.
“Oppa, tenanglah..” ia khawatir, terlebih karena ia melihat Sun Hee memucat.

Donghae menatap adiknya itu sangar, penuh emosi namun juga sarat akan rasa khawatir.
“Aku tahu kau ini anak yang kuat. Sejak dulu kau paling anti mengkonsumsi obat-obatan sekalipun kau sedang sakit. dan apa ini..ini obat yang..”
Sun Hee sudah tidak tahan lagi di bentak seperti itu. akhirnya ia memutuskan bercerita meskipun dengan lelehan airmata.
“Aku sakit, Oppa..” potongnya, membuat Donghae terdiam. Sun Hee balas menatap Donghae dan Haebin bergantian.
“Dan kau benar, itu memang obat penghilang rasa sakit dengan dosis tinggi yang di berikan dokter untukku.”
Donghae menggeram tertahan sementara Haebin terbelalak kaget.
“Kau..sakit apa?” tanya Donghae dingin dan tajam.
“Penyakit jantung..stadium akhir..”desisnya.

Haebin langsung menutup mulutnya dan matanya berkaca-kaca. Ia tak percaya Sun Hee akan mengalami penyakit yang sama dengan Appa mertuanya. Sementara Donghae, ia terlalu terkejut hingga tak ada apapun yang bisa dikatakannya.
“sejak kapan?” tanyanya dingin.
“Tahun lalu..” jawab Sun Hee tak kalah dingin.

Donghae menatap geram adiknya. Ia kemudian melempar botol obat itu dengan keras hingga botolnya hancur berkeping-keping di lantai. Haebin memekik kaget. Ia tidak pernah melihat Donghae semarah itu.
“LEE SUN HEE!!!!” teriaknya lagi. Sun Hee sekarang sudah tidak peduli lagi dengan teriakan. Ia akan pura-pura tuli.
“KAU KIRA KAU INI SIAPA! DEWA, MANUSIA IMMORTAL! JIKA MEMANG KAU SAKIT SAKIT SEPARAH ITU KENAPA KAU DIAM SAJA!!!!” teriaknya tak terkendali.
“Oppa..sudah..” Haebin berusaha menenangkan Donghae. saat ini ia melihat Sun Hee mulai terisak.
“Aku tidak ingin menyusahkan siapapun.” Gumamnya lemah.
“Tidak mau menyusahkan siapapun? Kalau begitu kenapa kembali kemari? Jika kau memang tidak ingin menyusahkan siapa-siapa KAU TINGGAL SAJA SENDIRIAN DI AMERIKA DAN MATI DI SANA!!!”
“Oppa!!!!” bentak Haebin.

Sun Hee mengangguk tegas dengan wajah tersiksanya. “Benar! Oppa, kau benar! Harusnya aku tidak perlu kembali! Biar saja aku mati dalam kondisi menyedihkan di sana!”
“Sun Hee, Oppamu tidak serius. Jangan dimasukkan ke dalam hati.”
Sun Hee dengan gerakan lemah menyibakkan selimutnya lalu mencoba bangun dengan langkah tertatih.
“Kau mau kemana!!!!” teriak Donghae.
“Aku akan pergi. seperti saranmu, Oppa!”
“Diam di tempat!!! Aku tidak akan membiarkanmu berkeliaran ke mana-mana!! Haebin, telepon ambulans, kita harus membawanya ke rumah sakit.”
“Oppa!!!” teriak Sun Hee tidak terima. Ia benci rumah sakit.
“Eonni, jangan telepon siapapun..”
“Haebin, palli!!” teriak Donghae.

Haebin kebingungan dengan situasi yang di hadapinya. Ia akhirnya berteriak frustasi..
“Arrgghh!! Kalian berunding saja dulu!! aku akan melihat Hae Young!!” Haebin menderap keluar dari kamar itu.
Sun Hee yang masih berdiri di depan pintu kamar mandinya. Menoleh pada Donghae.
“Oppa, jebal..jangan katakan ini pada siapapun.. ini permintaan terakhirku padamu..”

Donghae memalingkan pandangannya ke arah lain. Ia tidak mau sampai goyah melihat tatapan memelas Sun Hee. hatinya sangat sakit mengetahui Sun Hee mengidap penyakit yang sama seperti ayahnya dulu. kenapa hal ini harus terulang kembali? Dan kenapa harus Sun Hee? anak itu masih terlalu muda untuk menanggung penyakit seberat itu.

Dan sekarang, apa yang harus ia lakukan.

—-o0o—-

Hari Minggu pun tiba. siwon duduk termenung di sofa ruang keluarga. Appa dan Umma pergi mengunjungi keluarga di Daegu. Sedangkan Sulli sedang sibuk entah melakukan apa di kamarnya.

Harusnya, jika ia tidak marah hari itu mungkin sekarang ia tengah bersiap-siap menghadiri penampilan perdana Sun Hee. tapi ia sudah terlanjur bilang tidak akan datang. Dengan enggan, pandangannya teralih ke luar jendela. Padahal hari sangat cerah. Tak ada awan satupun di langit sana.

Tralilalila..

Ponselnya berdering. Siwon mendesah berat lalu meraih ponsel yang tergeletak begitu saja di atas sofa.
“Hallo!!”
“Hei, kau tidak datang? Pertunjukkannya akan dimulai setengah jam lagi!”
Siwon menjauhkan ponselnya dari telinga. Ia sedang tidak ingin berdebat dengan siapapun, sekalipun itu Donghae. namja itu berteriak dengan kekuatan penuh. Apa-apaan? Meneleponnya hanya untuk mengingatkan pertunjukkan adiknya? Apa Sun Hee tidak memberitahukan kakaknya bahwa ia tidak akan datang?
“Sudahlah, kau nikmati saja pertunjukkan adikmu. Semoga sukses!” ucapnya malas. Ia memutuskan sambungan lalu melempar ponselnya kembali ke sudut sofa. ponsel itu kembali berdering dan ia tahu siapa yang menelepon. Pasti Donghae lagi. Ia tidak akan mengangkatnya.

“Omo, Oppa. Kau tidak bersiap-siap?” tanya Sulli. Suara adiknya itu berhasil membuyarkan lamunannya. Kepalanya teralih ke arah tangga, tempat adiknya itu berdiri. Siwon mengerjap melihat adiknya tampak berbeda kali ini. Rambutnya yang lurus tergerai indah dan ia memakai dress juga..high heels?
“Kau mau kemana? Kencan dengan Taemin?”
“Bukan.”
“Lalu?”
Sulli terperangah tak percaya. Ia bertolak pinggang seraya melayangkan tatapan tajam pada kakaknya.
“Jangan bilang Oppa amnesia!”
“Apa kau bilang?? Memangnya kenapa?”
“Aish” Sulli berdecak kesal. Ia menderap mendekati kakaknya yang terkadang polos dan bodoh itu.

“Apa??” sentak Siwon saat melihat tatapan tajam Sulli.
“Oppa, kau tidak datang ke acara pertunjukkan Sun Hee Eonni?” tanyanya tak percaya. Siwon melengos malas. Demi Tuhan, kenapa setiap orang mengingatkannya dan mengharuskannya datang ke acara pertunjukkan itu? apa Sun Hee sungguh tidak mengatakan bahwa ia tidak akan datang?
“Aku tidak akan datang.” Jawabnya cuek.
“Wae??” sungut Sulli kesal.
“Kenapa kau marah? Aku tidak mendapatkan tiket! Jadi mana mungkin aku datang!!” ia balas berteriak jengkel. Sulli tersentak, seakan ia menyadari sesuatu. Ia merogoh sesuatu dari dalam tas tangannya lalu meletakkannya dengan keras ke atas meja.
“Ini tiket untukmu, Oppa!! Jadi jangan cari alasan lagi dan datanglah!!”
“i-ini..kau dapat dari mana?”
Sulli memutar bola matanya malas. “Kemarin aku ke rumah Sun Hee Eonni bersama Taemin. Dia memintaku memberikan tiket ini padamu, Oppa.”
“Cih, kenapa dia tidak menyerahkannya padaku langsung?”
“Sudahlah terima saja! awas kalau tidak datang! Siap-siap saja dibunuh Donghae Oppa!!” ancamnya lalu pergi.

Siwon menatap kosong tiket itu. ia sudah terlanjur bilang tidak akan datang. Jadi yah, ia tidak akan datang. Biar saja. toh, tidak ada dia pun pertunjukkan tetap berlangsung kan. Lalu apa yang ia lakukan seharian di rumah? Ah, mendadak ia ingat pada ajakan Tiffany untuk pergi ke acara premiere penayangan film-nya di bioskop. Baiklah, ia akan datang.

—-o0o—-

Siwon menatap takjub gedung bioskop itu. sudah penuh padat oleh orang-orang yang penasaran dengan penampilan Tiffany Hwang di film terbarunya. Wajar saja, mengingat ini adalah penampilan ‘comeback’-nya setelah hiatus selama beberapa tahun. Tiffany memiliki banyak sekali fans. Dan ia yakin orang-orang yang datang pun semuanya adalah fansnya.

Dari kejauhan ia melihat Tiffany tengah diwawancarai oleh beberapa wartawan. Begitu selesai, ia tersenyum pada gadis itu saat berada di hadapanya.
“Ramai sekali. Aku yakin film mu sukses besar.”
“Gomawo..” Tiffany tersenyum manis. “Ngomong-ngomong, apa yang kau lakukan di sini?”

He? Siwon menaikan alisnya sebelah. Ia bingung mendengar pertanyaan Tiffany.
“Tentu saja untuk menyaksikan peluncuran perdana filmu.”
“Mwo? Kau tidak akan menonton pertunjukan Lee Sun Hee? ku dengar hari ini penampilan perdana drama musikal itu.”
Siwon terdiam. “Aku tidak akan datang.”
“Kenapa?” Tiffany kaget. Siwon mendesah kencang.
“Kenapa kau juga begitu sih? Aku tidak akan datang!!”

“Choi Siwon!!!” Tiffany meneriaki Siwon dan matanya melotot. Siwon kaget, ini pertama kalinya ia melihat Tiffany berteriak.
“Pergi!”
“Ha?”
“Pergi dari sini dan datanglah ke pertunjukkan Sun Hee!!” teriaknya

Siwon membelalak lebar. Ada apa sebenarnya dengan semua orang hari ini? Donghae, Sulli, bahkan Tiffany memaksanya datang ke acara pertunjukkan drama musikal Sun Hee? demi Tuhan ia tidak paham alasan mereka melakukannya!!!

To be continued.

73 thoughts on “Shady Girl Siwon’s Story (Part 8)

  1. Jangan bilang ini rencana donghae biar siwon bisa dateng ke tempat’a sunhee yg pertama dan terakhir di korea??

    Next part..

    Tissue dah berkurang lumayan nih..

  2. huaaa bener” banjir air mata baca part ini T.T
    pabo siwon!! kelakuannya kayak anak kecil, baru nunggu segitu aja marah, aishhh menyebalkan !
    poor lee sun hee T.T
    jinjja daebak thor feel sedihnya dapet banget

  3. *HHHUUUAA >< nangis gue baca part ini apa lagi part selanjut nya gak kebayang gue..
    Sun hee kasian berusaha tegar hiks hiks
    Siwonnnnnn!!! PEKA dong sun hee sakitt wonppa huh

Your comment

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s