Another Story In Shady Girl [Donghae’s Story] // Our Second Honey Moon ??

Tittle : Our Second Honey Moon ??
Another Story In Shady Girl Donghae’s Story

Author : Dha Khanzaki a.k.a Shin Je Young
Genre : Romance, Married Life, NC 21
Length : Oneshot

Main Cast :

  • Lee Donghae
  • Park Haebin

Support Cast :

  • Leeteuk as Donghae’s Hyung
  • Kwon Yuri as Donghae’s Secretary

Author datang dengan penuh harapan.. *nyanyi
Shady Girl genre terlarang muncul dan kali ini adalah si pemilik asli dari cerita Shady Girl *tarik bang Donghae* yang membawakan kisah pernikahannya dengan Haebin.
Sekali lagi maaf yah kalau kurang hot. Author adalah pecinta cerita romance namun kadang suka juga sih yang romantisnya kelewatan *Nyengir kuda*. Itu sebabnya kenapa bahasa yang dipake masih halus-halus gimana gitu. Author gak pinter bikin FF ence yang full ence *you know what I mean*

So, Happy reading dan hati-hati dengan typo yang bisa ditemukan di mana saja ^_^

Another Story In Shady girl - Second Honeymoon by Dha Khanzaki

==Donghae’s Story==

Suara kicau burung terdengar sampai ke kamar tidur Lee Donghae pagi itu, membuat tidur cantiknya terusik. Tubuhnya menggeliat lalu berguling ke samping. Senyumnya terbit karena pandangan pertama yang dilihatnya adalah wajah damai istrinya saat tidur.
Donghae tak berniat mengalihkan pandangannya dari wajah Haebin, istri yang sudah memberinya satu putra yang mereka beri nama Haeyoung. Donghae sangat mencintainya karena ia tahu Haebin mencintainya lebih dari dirinya sendiri.
“Saranghae, yeobo,” bisiknya lembut. Tangannya terulur mengusap pipi halus Haebin, sedikit menyingkirkan helaian rambut yang jatuh di wajahnya. Ia tersenyum sendiri melihat wajah letih Haebin dan rambutnya yang berantakan. Aigoo, apa semalam ia terlalu ganas?
Donghae menempatkan tubuhnya serapat mungkin dengan Haebin lalu ia selubungi pinggang polos istrinya itu dengan tangannya. Haebin menggeliat merespon sentuhan suaminya. Saat matanya perlahan membuka, bibirnya tertarik membentuk seulas senyum mendapati Donghae menatapnya penuh arti.
“Pagi Oppa,” sapa Haebin dengan suaranya yang sedikit serak. Haebin mengulurkan tangannya untuk mengelus kening Donghae yang langsung memejamkan mata menikmati perlakuannya.
“Pagi juga,” balas Donghae renyah. Tangan Haebin merambah turun hingga menyapa leher suaminya dan ia mengerjap saat melihat kissmark terukir di leher Donghae.
“Oppa lehermu,” lirihnya terkejut sambil menyentuh bagian yang agak memerah itu. Bukannya memeriksa lehernya Donghae justru tersenyum.
“Kenapa kaget, bukankah kau yang mengukirnya semalam?” goda Donghae sambil mendekatkan wajah mereka. Seketika semburat merah menghiasi kedua pipi Haebin, membuat Donghae tidak tahan untuk segera mengecupnya mesra.
Donghae tidak perlu mengatakannya pun ia tahu bahwa semalam mereka baru saja ‘bersenang-senang’. Itulah alasan mengapa sekarang mereka berbaring tanpa memakai sehelai benang pun kecuali selembar selimut yang menutupi tubuh naked mereka.
“Tapi bukankah Oppa ada meeting penting hari ini? Oppa bisa malu jika ada yang melihatnya,” jelas Haebin malu. Donghae terkekeh melihat kepolosan Haebin yang menurutnya sangat menggemaskan.
“Aku bisa memakai baju turtle neck, chagi..” bisiknya. Donghae mengangkat dagu Haebin lalu menyatukan bibir mereka tanpa ragu. Haebin menyambutnya dengan antusias, malah kemudian dia yang lebih mendominasi. Donghae yang tidak mau kalah mulai memegang tengkuk Haebin lalu mendorongnya agar bisa melumat bibir istrinya lebih dalam. Ia menggulingkan tubuhnya dan kini ia berada di atas Haebin.
Haebin mendesah halus ketika lidah Donghae menyusup masuk mengajak lidahnya berperang, meremangkan kembali bulu kuduk Donghae. Kulit telanjang mereka saling bergesekan hingga menimbulkan kesan intim di pagi hari yang sejuk itu.
“Ahh..” desahannya menguar kala Donghae menjauhkan wajahnya dan ciumannya turun ke lehernya. Refleks ia menjenjangkan lehernya memberikan akses.
Donghae berhenti sejenak untuk menatap wajah Haebin yang sudah terangsang dan tampak memerah. Ia tersenyum saat Haebin tersenyum manis padanya.
“Kau bisa terlambat pergi ke kantor jika tidak segera bergegas,” ucap Haebin. Donghae menurunkan wajahnya untuk menggapai bibir merah Haebin, mengecupnya selembut mungkin.
“Sepertinya terlambat sekali-kali tidak masalah. Kita lanjutkan saja,” Haebin tahu jika Donghae sudah berkata begitu, tidak akan ada yang bisa menghentikannya. Donghae selalu mendapatkan apa yang ia inginkan. Karena itu kini ia hanya berbaring pasrah dengan Donghae yang menciumi seluruh tubuhnya dan memberikannya kehangatan seperti yang ia berikan semalam.

Haebin merasa dirinya dibawa melayang tinggi oleh Donghae. Mulutnya memang mendesah halus, sesekali mengerang pasrah kala Donghae bergerak berirama di dalam tubuhnya. Ia menyukai semua hal yang Donghae lakukan ketika mereka berhubungan intim. Ia selalu merasa menjadi wanita paling istimewa karena Donghae melakukannya dengan halus dan selalu memastikan dirinya merasa nyaman.
“Kau tahu apa yang kupikirkan, chagi?” tanya Donghae membuat Haebin membuka matanya, lalu menatap wajah Donghae yang berada di atasnya. Kulitnya tampak mengkilat oleh keringat dan penuh gairah namun Haebin merasa itulah ekspresi Donghae yang paling disukainya.
“Apa?” Haebin bertanya sambil menahan diri agar tidak melenguh karena Donghae tidak berhenti membuatnya melayang di bawah sana. Tangannya ia kalungkan di leher Donghae, sesekali mengusapnya untuk pelampiasan.
“Bagaimana kalau kita berbulan madu?”
Haebin tertawa seketika mendengarnya. Donghae mengerutkan kening dan ia menghentikan aktivitasnya sejenak. “Kenapa tertawa?” tanyanya sedikit tersinggung. Dikiranya Haebin akan tersipu malu namun ia tidak menyangka reaksi Haebin justru seperti ini.
“Pernikahan kita sudah berlangsung lebih dari setahun yang lalu, malah hampir menginjak tahun kedua. Untuk apa berbulan madu, seperti pengantin baru saja.”
Donghae berdecak karena rencana romantisnya dianggap enteng oleh istrinya sendiri. “Anggap saja ini bulan madu yang kedua. Kita bisa sekalian merayakan anniversary. Bagaimana?”
“Em..” Haebin memikirkannya baik-baik. Ia mempertimbangkan berbagai macam hal.
“Yeoboo..” rayu Donghae sambil memijat payudara Haebin lembut. Haebin mendesah.
“Oppa, jika kau merayuku dengan cara ini kau tidak akan mempan”
“Jinjja? Bagaimana kalau ini?” Donghae menggerakkan kembali pinggulnya, kali ini dengan tempo cepat dan hasilnya, Haebin menjerit-jerit dengan sentakan-sentakan nikmat yang dirasakannya. Donghae terkekeh. Ia memelankan gerakannya lalu mengulum puncak dada Haebin yang sejak tadi diabaikannya.
Haebin menarik nafas dalam-dalam. Ia terengah pasca ‘serangan’ mendadak Donghae. Kini suaminya tengah asyik mengerjai dadanya. Ia tidak mengatakan apapun. Hanya mengulum senyumnya dan tangannya menyisiri lambut lebat Donghae yang agak basah karena berkeringat. Donghae mengangkat kepalanya dan kini menyapa kembali bibir Haebin entah untuk yang keberapa kali, mereka kembali berciuman panas.
“Jadi, kau mau?” tanya Donghae di sela ciumannya.
“Emhhh..” Haebin tidak sanggup menjawab karena masih kewalahan mengimbangi permainan Donghae.

Tiba-tiba terdengar suara tangis bayi yang sangat nyaring. Haebin dan Donghae terkesiap dan mereka melepaskan tautan bibir mereka secara bersamaan.
“Haeyoung!!!” Pekik Haebin panik. Ia segera mendorong tubuh Donghae, mengambil kimono tidurnya lalu berlari ke kamar tidur putra mereka yang ada di ruangan sebelah, terhubung dengan connecting door yang bisa digeser.

“Ow, ow, pangeran Eomma..” Haebin menggendong Haeyoung yang menangis setelah tidurnya terusik karena popoknya basah. Haebin dengan cekatan mengganti popok Haeyoung lalu menimangnya sebentar. Putranya itu masih menangis. Mungkin saja anaknya ini lapar.
“Kau lapar hemmm?” tanya Haebin sambil memberikan asi untuk Haeyoung. Tangis putranya itu langsung menghilang dan sekarang bayi mungil itu sedang minum asi dengan tenang. Haebin tersenyum. Ia mengelus kepala bayinya dengan lembut.
You’re my precious. Kau penyempurna hidup Eomma dan satu-satunya milik Eomma yang paling berharga, selain Appamu. Batin Haebin. Setelah putranya itu kembali tertidur lelap, Haebin mengecup keningnya lalu membaringkannya kembali ke tempat tidurnya.

“Dia sudah tidur?”
Haebin menoleh pada Donghae yang berjalan menghampirinya, ikut melihat anak mereka yang kini tertidur pulas.
“Kau bisa melihatnya, Oppa.” Ucap Haebin sambil memandangi wajah damai Haeyoung. Mulutnya yang mungil itu terlihat merah dan basah. Pipinya yang bulat dan putih, tangan dengan jari-jari mungil yang sesekali bergerak di sela tidur, benar-benar pemandangan yang sangat berharga bagi Haebin.
Donghae ikut tersenyum melihatnya. Ia mengusap pipi anaknya yang langsung menggeliat merespon sentuhannya. Donghae dan Haebin tertawa pelan melihat hal itu. Mereka tersenyum penuh haru dan saling pandang.
“Aku tak sabar melihat Haeyoung tumbuh dewasa,” ujar Haebin. “Dia pasti akan mirip sepertimu,” tambahnya sambil memandangi putranya kembali.
Donghae tersenyum simpul. Ia memeluk Haebin dari belakang lalu bergumam, “Kuharap sifatmu tidak diturunkan padanya. Bagaimana jadinya jika Haeyoung kita keras kepala dan tidak mau diam sepertimu.”
Haebin melebarkan mata lalu mencubit pinggang Donghae gemas, “Tega-teganya bilang begitu!” bentaknya agak keras.
“Sssstt..kau bisa membangungkan Haeyoung!” bisik Donghae. Haebin masih menggembungkan pipinya jengkel. Donghae benar-benar tidak habis pikir bagaimana bisa dia jatuh cinta setengah mati pada wanita kekanakan seperti Haebin. Ia sempat bertanya-tanya cukup lama dan kini ia tahu jawabannya.
Ia jatuh cinta pada Haebin karena Haebin sudah memberikan alasan padanya untuk hidup.

Donghae pernah hidup dalam kegelapan semenjak kekasihnya, Soyeon meninggal dunia karena kecelakaan lalu lintas. Ia membenci seluruh dunia beserta isinya termasuk sang Ayah. Hidupnya menjadi suram dan saat itulah ia bertemu dengan Haebin. Ayahnya menyuruhnya menikah dengan Haebin karena tidak kuat melihat Donghae yang tampak putus asa dan tidak memiliki alasan untuk hidup lagi. Haebin masuk dalam daftar hal yang dibenci Donghae pada awalnya. Dan ia juga membenci segala tindakan Haebin untuk membuatnya kembali hidup, kembali memandang dunia dengan penuh senyuman dan rasa bahagia.
Ia tidak menyangka dalam sosok sederhana seperti Haebin, dia justru mengingatkannya pada segala hal tentang Soyeon. Cara senyumnya, cara berbicaranya, sikapnya, semuanya mirip dengan Soyeon. Donghae berpikir mungkin ia mulai menerima Haebin karena ia menemukan Soyeon dalam diri Haebin. Lambat laun anggapannya itu salah. Donghae sadar bahwa alasannya mencintai Haebin bukan karena Soyeon. Tapi karena Haebin memberikan alasan padanya untuk tetap hidup. Haebin memberikan pandangan baru baginya tentang dunia yang lebih indah dan penuh kebahagiaan. Donghae merasa menemukan dirinya yang baru setelah bertemu dengan Haebin. Karena itulah, kini Haebin sudah menjadi hidup dan nyawanya. Ia mencintai Haebin lebih dari rasa cintanya pada Soyeon dulu.

Donghae kembali menarik Haebin ke pelukannya. Haebin agak terkesiap karena kali ini pelukan Donghae terasa berbeda. Tak ada yang dilakukan Donghae selain memeluknya. Sesekali Donghae mengecup pelipisnya sebagai ungkapan luapan kasih sayang.
“Saranghaeyo, Lee Haebin. Terimakasih sudah menjadi istri dan ibu bagi anak-anakku,” bisik Donghae lalu mendaratkan kecupan lembut di pipinya. Haebin tertawa pelan merasa lega karena ia sempat mengira Donghae kerasukan sesuatu atau semacamnya.
“Nado, Haeyoung Appa,” Haebin balas berbisik lalu membalikkan tubuhnya menghadap Donghae. Mereka saling melempar senyum dan kembali menautkan bibir satu sama lain detik berikutnya.

—o0o—

Hari-hari berjalan seperti biasa dan Donghae masih mencoba mengajak Haebin pergi berbulan madu namun istrinya itu menolaknya dengan alasan tidak bisa meninggalkan Haeyoung. Donghae dibuat uring-uringan sendiri karena hal itu. Padahal ia hanya ingin membahagiakan wanita yang paling dicintainya itu tapi kenapa sulit sekali rasanya.
“Kenapa?” tanya Leeteuk heran melihat Donghae yang sejak tadi mengurut pelipisnya. Leeteuk adalah asisten pribadi Tuan Lee Dong Il—Ayah Donghae—namun dia lebih dianggap seperti anak sendiri oleh Tuan Lee dan Donghae pun sudah menganggapnya kakak.
“Aku hanya bingung Hyung. Aku ingin mengajak Haebin pergi honeymoon tetapi dia tidak mau pergi jika tidak bersama Haeyoung.” Desah Donghae berat.
“Memangnya kenapa kalau anakmu itu diajak?”
“Mana ada berbulan madu sambil membawa bayi,” ucap Donghae. Leeteuk tertawa kecil sambil menutup map di hadapannya. “Kau ini benar-benar Appa yang buruk. Kau ingin bersenang-senang tanpa mengajak serta anakmu. Kalau kau jadi ayahku, aku sudah mengundurkan diri menjadi anakmu.” Ungkap Leeteuk. Donghae mendelik tak terima.
“Aku ayah yang baik!” bantahnya. Leeteuk mengangkat tangan menyerah. “Baik, aku tahu.” ia menarik nafas sejenak lalu kembali menatap Donghae.
“Aku memiliki solusi atas masalahmu.” Ucap Leeteuk. Donghae terkesiap kaget.
“Apa?” tanyanya semangat. Leeteuk hanya tersenyum sebelum ia menceritakan solusinya.

—o0o—

Haebin seperti biasa datang ke kantor suaminya itu untuk mengantarkan bekal. Kali ini ia mengajak Haeyoung ikut serta bersamanya. Beberapa karyawan yang melihatnya sempat berseru takjub karena ini pertama kalinya istri direktur muncul membawa anaknya.
“Sajangnim sedang rapat dengan kliennya, Nyonya,” ucap Kwon Yuri, sekretaris Donghae dengan ramah sambil meletakkan secangkir teh di atas meja. Haebin mengira ia datang di saat yang tepat namu dugaannya salah. Ia berniat mengejutkan Donghae namun ruangan suaminya itu kosong melompong ketika ia datang. Ia menggumamkan terima kasih dan meminta Yuri menemaninya agar ia tidak bosan.
“Ah, jadi ini Haeyoung. Sajangnim selalu gembira setiap kali membicarakannya. Ternyata dia memang menggemaskan seperti yang diceritakan sajangnim,” ucap Yuri sambil mengelus-elus pipi Haeyoung.
“Jinjjayo? Donghae Oppa selalu bercerita soal Haeyoung?” Haebin mengerjap kaget. Ia tidak tahu jika suaminya suka sekali bergosip pada sekretarisnya sendiri.
“Em. Setelah kulihat sendiri ternyata Haeyoung benar-benar mirip dengan sajangnim.”
Haebin tersenyum, “Yuri-ssi, kau tidak berniat untuk menikah? Sepertinya kau sudah cocok menjadi seorang ibu,” ungkap Haebin melihat Yuri begitu akrab dengan Haeyoung yang duduk dipangkuannya.
Yuri tertawa, “Aku sudah berpacaran beberapa kali. Tapi tidak ada yang mengajakku menikah,” candanya.
“Tidak mungkin. Kau sangat cantik. Pasti ada yang ingin memperistrimu.”
“Percayalah aku berkata jujur,” ucap Yuri lagi.
“Bagaimana kalau kukenalkan pada seseorang?”
“Ho, siapa?”
“Aku bisa mengenalkanmu pada Professor Kyu.”
“Maksud Anda Cho Kyuhyun?” seru Yuri kaget. “Tidak, tidak. Maaf berkata begini tapi menurutku Kyuhyun-ssi adalah pria yang sangat merepotkan. Karena kasusnya mencuri kartu kredit sajangnim, aku harus kerepotan mengurusi semua masalah yang diakibatkannya.” Ujar Yuri sambil bergidig membayangkan kejadian di masa lalu yang sempat membuatnya kelimpungan setengah mati. *baca shady Girl*
Haebin mengusap tengkuknya kikuk. Bagaimanapun ia menjadi penyebab utama kasus itu. Kyuhyun—sahabat baik suaminya—tidak mungkin melakukan hal nekat seperti mencuri kartu kredit Donghae agar dirinya bisa membeli beberapa pakaian, sepatu, dan tas yang tidak pernah Donghae berikan.
“Kalau Lee Hyukjae-ssi?” tanya Haebin lagi.
“Bukankah dia sudah memiliki kekasih?”
“Ah, benar.” Haebin mengangguk. Tak heran jika Yuri mengenal semua teman Donghae itu. Bukankah dia sudah menjadi sekretarisnya cukup lama. Haebin melirik putranya yang tertawa-tawa bermain dengan Yuri.
“Huh, tahu saja jika sedang bersama Nuna yang cantik,” ucapnya. Tak lama terdengar kasak-kusuk dari arah luar. Sepertinya ada seseorang yang datang ke ruangan itu dan ia harap itu suaminya. Benar saja, detik berikutnya Donghae muncul dengan ponsel yang menempel di pipinya.
“Yuri, dokumen untuk proyek Incheon..” ucapan Donghae tersendat ketika ia melihat Haebin ada di sana. Haebin segera mengambil Haeyoung dari pangkuan Yuri. Yuri segera berdiri lalu membungkukkan badannya hormat.
“Saya ambilkan filenya, tuan..” Yuri tahu bahwa dirinya harus menyingkir agar Donghae bisa lebih leluasa berbicara dengan istrinya.

Setelah Yuri pergi, Donghae menatap istrinya dengan takjub. “Sudah lama menunggu?” tanyanya berjalan menghampiri Haebin, lalu mengecupnya kilat.
“Lumayan. Aku tidak bosan karena Yuri-ssi menemani.”
Donghae mengangguk lalu ia menoleh pada Haeyoung yang tangannya menggapai-gapai ke arahnya, meminta digendong. “Aigoo, kau rindu pada Appa?” Donghae menggendong anaknya lalu duduk di salah satu sofa. Mereka berbincang sambil menikmati makan siang yang dibawa Haebin. Haeyoung memperhatikan kedua orang tuanya makan sambil mengulum tangannya sendiri sampai airliurnya membuat sekitar mulut dan tangannya basah.
“Hei, jagoan, kau lapar?” tanya Donghae. Ia mengambil sepotong buah semangka berniat menyuapkannya namun ditarik lagi ketika Haeyoung sudah membuka mulutnya. Donghae bersemangat menggoda anaknya sendiri sampai Haeyoung akhirnya menangis. Donghae justru tertawa senang setelah berhasil mendengar suara tangis anaknya.
“Oppa, kau seperti anak kecil!” Haebin mengeluh lalu mengambil Haeyoung dari pangkuannya. Ia memberikan biskuit bayi pada Haeyoung agar berhenti menangis. Bayi mungil itu langsung sibuk mengemut biskuit bayi mengunakan kedua tangannya.
“Chagi, bagaimana kalau kita mengunjungi Appa di Karibia?” tanya Donghae tiba-tiba. Haebin terkejut, lalu menatap suaminya.
“Mengunjungi Appa?” ujarnya tertarik. Sudah hampir empat bulan ia tidak bertemu dengan ayah mertuanya itu. Ayah mertuanya sekarang menghabiskan masa pensiunnya di pulau pribadi di kepulauan Karibia.
“Iya. Appa pasti senang jika kita datang mengunjunginya. Apalagi sambil membawa Haeyoung. Pemandangan di sana sangat indah dan kita bisa sekalian merayakan anniversary kita yang kedua di sana.” Ucap Donghae. Sebenarnya ini adalah usul yang diberikan Leeteuk saat ia selesai meeting tadi. Leeteuk berkata bahwa Tuan Lee mulai kesepian di Karibia dan ingin Donghae mengajak serta istri dan anaknya. Yah, sekedar menengoknya. Donghae bisa memanfaatkan kesempatan ini untuk mengajak Haebin berbulan madu tanpa meninggalkan putranya.
Haebin memikirkannya beberapa saat dan Donghae menatapnya penuh harap. Begitu Haebin tersenyum tulus sambil mengangguk, hilanglah kecemasan dalam hati Donghae. Pria itu menghela nafas lega. Ia pindah duduk ke samping Haebin, memeluknya erat.
“Aku mencintai kalian berdua,” ucapnya senang. Haebin tertawa geli karena beginilah jika Donghae sudah gembira. Memeluknya erat sampai dia kesulitan bernafas.

—o0o—

Beberapa hari kemudian, mereka berangkat ke Karibia sesuai dengan rencana. Donghae sengaja menyewa pesawat jet pribadi agar Haeyoung bisa nyaman di penerbangan pertamanya.
“Kenapa?” tanya Donghae melihat Haebin begitu gelisah. Padahal Haeyoung saja tampak gembira bermain-main dengan boneka beruang yang dihadiahkan Siwon untuknya. Ia melihat titik-titik keringat di kening istrinya, lalu mengusapnya.
“Ini kali pertamanya aku pergi ke luar negeri, Oppa. Aku gugup sekali.” aku Haebin gelisah di tempat duduknya. Mau tak mau Donghae menahan diri agar tidak tertawa terbahak-bahak. Dikira ada masalah serius apa ternyata hanya gugup.
“Kau bisa pegang tanganku dan Haeyoung biar aku yang gendong,” ucap Donghae sambil menyodorkan tangannya. Sesuai perkataannya ia mengambil Haeyoung dari pangkuan Haebin dan membiarkannya duduk nyaman di pangkuannya.

Haebin berterima kasih karena Donghae membiarkan dirinya menggenggam erat—nyaris mencengkramnya—saat pesawat lepas landas. Setelah pesawat terbang dengan normal, Haebin baru bisa bernafas lega. Ia menoleh pada tangan Donghae yang memerah karena terlalu keras digenggamnya.
“Maaf, Oppa tanganmu..”
Donghae melirik tangannya lalu tersenyum menenangkan, “Ini tidak terlalu parah dibandingkan cengkramanmu ketika melahirkan Haeyoung dulu.”
Haebin entah harus merasa terharu atau menangis tersedu-sedu dengan kesabaran Donghae menghadapi sifatnya. Pria ini selalu memperlihatkan senyuman manis yang membuat dirinya merasa, yah, dicintai. Ia segera melingkarkan tangannya di lengan Donghae.
“Saranghae,” Haebin menarik pipi Donghae kemudian mengecup pipinya berkali-kali. Tindakan Haebin itu membuat Donghae bergerak-gerak kegelian.
“Ya, Haeyoung bisa bangun,” ucap Donghae menjauhkan wajahnya. Jika Haebin terus menggodanya seperti ini, Haeyoung yang sudah tidur di pangkuannya bisa bangun.
Haebin mengerucutkan bibirnya, “Huh, tidak romantis!” ia memukul pelan pundak Donghae lalu menarik tangannya yang melingkar di lengan Donghae.

Donghae ingin tertawa sebenarnya melihat Haebin merajuk seperti sekarang. Tapi dia menahan diri dan lebih memilih bangkit untuk menidurkan Haeyeoung di tempat yang lebih nyaman di tempat yang sudah disediakan khusus untuknya. Setelah memastikan Haeyoung tidak terbangun lagi, Donghae duduk kembali di kursinya di samping Haebin.
“Kita bisa bermesraan lagi di saat hanya kita berdua,” ucap Donghae. Haebin sepertinya masih merajuk karena istrinya itu tetap fokus memandang awan di luar jendela.
“Hei, apa awan itu lebih menarik dibanding wajah tampan suamimu?” goda Donghae. Dia sengaja menyandarkan kepalanya di pundak Haebin. Tangannya yang melingkar di pinggang Haebin mulai bergerak menggelitiknya.
Haebin bereaksi meskipun terlihat sedang menahan diri agar tidak tertawa. “Kau mengajakku bermain, hmmm?” Donghae mengasumsikan sikap diam Haebin sebagai ajakan untuk ‘bermain’.
“Tidak,” elak Haebin, mencoba meyakinkan Donghae bahwa dia sedang marah. Tapi ia lupa satu hal. Kenyataan bahwa Donghae selalu memiliki cara untuk melenyapkan rasa marahnya. Lihatlah, sekarang suaminya ini mencoba membangun suasana romantis dengan menciumi lehernya.
“Oppa,” Haebin bermaksud protes ketika tangan Donghae dengan sigap menyusup ke balik bajunya. Tetapi ketika ia menoleh semua kata-katanya tertelan karena Donghae segera membungkamnya dengan ciuman. Haebin sempat terkejut, hanya sesaat karena beberapa saat kemudian ia sudah tenggelam.

Donghae tersenyum di sela ciumannya dan tangannya semakin erat memeluk Haebin. Seperti inilah caranya menghentikan acara rajuk-merajuk istrinya. Ia tahu Haebin terlalu polos untuk marah lama padanya. Setelah yakin Haebin tidak akan memperlihatkan wajah cemberutnya lagi, Donghae menjauhkan wajahnya. Mereka saling bertatapan dalam jarak yang sangat dekat.
“Masih merajuk, Nyonya Lee?” bisik Donghae. Haebin menundukkan kepalanya membiarkan hembusan nafas Donghae menerpa keningnya. Ia menggeleng sebagai jawaban.
“Kau justru membuatku malu.”
Donghae tertawa puas. Benar dugaannya. Haebin terlalu polos untuk berlama-lama marah padanya. Ia menjauhkan wajahnya agar bisa melihat wajah memerah istrinya.
“Kau lucu sekali saat tersipu,” Donghae mencubit pipinya. “Jangan merajuk untuk hal yang tidak penting lagi, arraseo..”
Haebin tidak terlihat marah lagi karena itu Donghae mulai kembali duduk normal. Haebin masih bersedekap di tempatnya dan Donghae kembali dibuat gemas melihat tingkah istrinya. Ia menarik Haebin agar bersandar pada pundaknya. Haebin tidak bisa memungkiri bahwa posisi ini membuatnya sangat nyaman. Ia yakin Donghae tidak akan keberatan jika ia melingkarkan tangannya di pinggang suaminya. Benar, Donghae memang tidak protes. Hanya senyuman simpul yang terlihat di wajahnya. Haebin pura-pura tidur ketika Donghae mencoba melihat wajahnya. Ia merasa malu karena mencoba bermanja-manja setelah tadi merajuk pada suaminya.

—o0o—

Setelah melewati perjalanan panjang Korea-Karibia, mereka tiba juga di salah satu pulau yang ada di gugusan Kepulauan Karibia. Tuan Lee yang sudah menunggu segera menyambut Donghae, Haebin beserta si kecil Haeyoung dengan gembira.
“Anakku, menantu dan cucuku..” serunya sambil memeluk satu persatu dari mereka. Terakhir dia menggendong Haeyoung sambil mengecup kepala cucunya berkali-kali. Luapan rasa gembira yang dirasakan Tuan Lee.
Donghae tersenyum melihatnya, ia menggandeng tangan Haebin ketika mereka berjalan bersama memasuki mobil untuk mencapai villa mereka yang terletak di sisi pantai. Haebin terkesima melihat kemewahan villa milik keluarga Lee itu. Ia memang tahu bahwa suaminya sekarang CEO dari perusahan L.D Corporation, kontraktor terbesar di Korea Selatan. Hanya saja ia baru tahu bahwa begitu banyak kekayaan yang dihasilkan perusahaan itu sampai bisa membuat pemiliknya mampu membeli pulau pribadi dan membangun villa sebesar dan seindah ini.
“Welcome in our second home,” ucap Tuan Lee sambil mempersilahkan mereka masuk. Dengan bangganya ia memperlihatkan rumah tempat peristirahatannya.
“Oppa, kau sering berlibur kemari?” tanya Haebin sambil mengagumi indahnya bangunan dengan arsitektur khas Karibia itu.
“Em, hanya dua kali.” Gumam Donghae mengingat-ingat.
“Waeyo?”
“Aku dulu mudah sekali bosan. Yah, kau tahulah.” Ujar Donghae malas membahasnya. Perhatian mereka kini teralih kembali pada Tuan Lee yang kini bermain dengan Haeyoung di teras yang menghadap ke pantai. Haebin lebih menganga takjub lagi ketika melihatnya.
Donghae ikut tersenyum bahagia melihat Haebin takjub seperti ini. Sepertinya keputusannya mengajak Haebin kemari tidak salah.
“Appa, kau tidak keberatan bukan jika aku mengajak Haebin jalan-jalan sebentar di sekitar sini?” tanya Donghae memotong acara seru Tuan Lee dengan Haeyoung.
“Pergilah! Tapi biarkan Haeyoung bersama Appa.”
“Tentu.”
Haebin menghampiri putranya untuk mengecupnya. “Jangan nakal, dan main dengan harabeoji dulu ya.”

Donghae segera mengajak Haebin keliling villa itu. Memperlihatkannya beberapa tempat menakjubkan di sana. Mulai dari taman, sampai pantai yang indah dengan panoramanya yang masih alami. Ada beberapa alasan kenapa banyak kaum jet set yang membeli pulau pribadi di kepulauan ini. Salah satunya karena pemandangannya yang masih asri dan indah. Air lautnya sangat jernih hingga siapapun bisa melihat terumbu karang yang tumbuh di bawahnya dengan jelas.
“Apa pantai ini juga termasuk aset keluarga Lee?” tanya Haebin ketika mereka berdua duduk di atas pasir di bawah rindangnya pohon kelapa. Angin yang kencang membuat rambut panjang Haebin melambai-lambai.
“Tentu saja.” ujar Donghae santai. Ia menyandarkan kepalanya di bahu Haebin dan mereka menikmati pemandangan indah pantai dalam suasana yang tenang dan romantis. Donghae hampir saja terlelap tidur ketika ia mendengar Haebin terkesiap.
“Kita tidak apa-apa meninggalkan Haeyoung bersama Appa?”
“Gwaenchana. Appa suka bermain dengan cucunya.” Donghae menarik Haebin lagi agar bisa menyandarkan kepala di pundak istrinya itu. Ia hampir tertidur ketika terdengar suara langkah kaki tergopoh-gopoh ke arah mereka. Donghae mengangkat kepalanya dan baru sadar kalau itu adalah salah satu pelayan di villa.
“Tuan, Nyonya, anu, putra anda menangis.”
Donghae dan Haebin terkesiap. “Hah?” seru mereka bersamaan lalu bergegas pergi.

—o0o—

“Maaf, kakek tidak tahu kalau popok Haeyoung basah. Kakek kira dia lapar.”
Haebin tersenyum pada Tuan Lee setelah mengganti popok Haeyoung. Ia kira alasan pelayan itu memanggilnya dengan raut panik karena ada sesuatu dengan Haeyoung. Untunglah itu hanya perasaannya saja.
“Gwaenchana. Ini memang tugasku.”
“Acara kalian pasti terganggu.” Sesal Tuan Lee menatap bergantian Donghae dan Haebin. Tuan Lee sudah tahu sebelumnya alasan Donghae datang kemari dan ia dengan senang hati menjadi baby sitter Haeyoung selama mereka berduaan.
“Tak perlu khawatir Appa.” Ucap Donghae. Harus bagaimana lagi. Usia Haeyoung memang masa-masa paling merepotkan.

Donghae sudah merencanakan banyak hal romantis yang ingin dilakukanya dengan Haebin tapi selalu saja ada gangguan. Entah itu Haeyoung yang menangis karena lapar, ataupun mengganggu keromantisan mereka di malam hari. Hal itu terus berlanjut sampai dua hari selanjutnya. Sampai detik ini mereka belum benar-benar merasakan bulan madu yang sebenarnya. Rupanya benar, tidak seharusnya pergi berbulan madu membawa bayi.

Malam ini, entah yang keberapa kalinya niatnya bermesraan dengan istrinya terganggu karena tangisan Haeyoung. Dia berdecak. Padahal mereka baru saja berciuman sebelum masuk ke tahap yang lebih romantis lagi. Haebin meminta maaf karena kegiatan mereka terganggu dan memilih menghampiri putranya yang tidur di ranjang bayi. Haebin sudah memeriksa popoknya tapi tidak basah. Haeyoung juga tidak lapar. Haebin mengerjap kaget ketika menyadari Haeyoung demam. Ia langsung berteriak panik.
“Oppaaa….Haeyoung demam!!”

“Tenang, Haeyoung sudah diberi obat penurun panas.” Ucap Tuan Lee. Haebin menghela nafas lega.
Malam-malam begini, Tuan Lee beserta seluruh pelayannya disibukkan mencari dokter di pulau itu. Untunglah ada klinik dokter yang ada di pulau sebelah yang membutuhkan waktu 2 jam untuk pulang-pergi.
Donghae ikut mendesah lega dan ia ikut menemani istrinya yang tidak mau tidur sebelum memastikan Haeyoung baik-baik saja.
“Chagi, sekarang sudah jam tiga pagi. Lagipula Haeyoung sudah tidur pulas dan tidak rewel lagi. Sebaiknya kau juga beristirahat.” Ucap Donghae. Haebin menoleh padanya lalu menggeleng.
“Oppa tidur duluan saja. Aku bisa menyusul.”
Donghae mengangguk lalu mengecup puncak kepala istrinya sebelum beranjak ke tempat tidur. Ia tidak benar-benar tidur. Sesekali bangun dan menengok ke arah Haebin yang duduk di kursi, masih sibuk menidurkan Haeyoung yang sepertinya terbangun. Ia tertidur kembali dan bangun tiga puluh menit kemudian. Saat itu ia menemukan Haebin tertidur di kursinya. Ia bangkit lalu mendekati Haebin.
“Kau benar-benar keras kepala,” desahnya lalu melirik ke arah Haeyoung yang tertidur pulas. Ia mengecek suhu putranya itu lalu tersenyum mendapati demamnya sudah turun. Ia mengangkat Haebin dari kursinya, lalu membaringkan Haebin di tempat tidur. Ia tidak mau badan istrinya itu kesakitan esok hari.
“Huh, dasar Haeyoung Eomma yang super duper keras kepala. Dengarkan kata-kataku apa susahnya sih?” dengus Donghae memarahi istrinya yang tertidur pulas. Akhirnya Donghae bisa tidur nyenyak juga malam ini.

—o0o—

Haebin terbangun mendengar suara berisik yang berasal dari beranda kamar. Ia sedikit heran ketika terbangun, tubuhnya terbaring di tempat tidur. Kepalanya tertoleh ke arah beranda kamar tempat suara berasal. Haebin memaksakan dirinya bangkit.
Di beranda, Haebin terkejut ketika mendapati Donghae sedang bermain-main dengan Haeyoung. Hatinya lega luar biasa ketika melihat putranya baik-baik saja dan kini tengah tertawa riang saat Donghae mengangkatnya tinggi ke udara. Haebin berjalan cepat menghampirinya lalu memeluk leher Donghae yang tengah duduk di sofa.
“Aigoo, chagi. Kau mengagetkanku!” ucap Donghae terkejut. Haebin mengecup pipinya lalu pipi Haeyoung bergantian.
“Kapan kalian bangun?” tanya Haebin sambil memutari sofa lalu duduk di samping Donghae.
“Sekitar setengah jam yang lalu saat Haeyoung menangis. Demamnya sudah turun,” ujar Donghae. dia mendekat lalu berbisk, “Aku bahkan menggantikan popoknya.”
Haebin tergelak, “Sweet Appa..” ia mencubit pipi Donghae. “Kau harus belajar mengurus Haeyoung juga.” ia melirik pada putranya yang sedang memainkan baju Donghae.
“Kau sudah sehat lagi chagi,” Haebin mencium pipi chubby Haeyoung gemas. Tak ada yang lebih membahagiakan bagi seorang ibu selain melihat anaknya tumbuh sehat. Dan itu yang Haebin rasakan.
“Kau tidak mencium Ayahnya? Aku belum mendapatkan jatah morning kiss-ku.” Gerutu Donghae. Haebin sempat memicingkan matanya menatap Donghae yang masih saja bersikap manja di saat seperti ini. Tetapi itu tidak berlangsung lama karena detik berikutnya Haebin menempelkan bibirnya dengan bibir suaminya. Mereka sempat melupakan keberadaan Haeyoung dan sibuk berciuman sampai akhirnya terpotong karena Haeyoung menangis.

—o0o—

Malam itu, Donghae memiliki waktu luang—benar-benar luang—untuk mengajak istrinya berkencan menikmati makan malam bersama. Haebin dengan gaun malamnya berwarna cokelat muda terlihat sangat cantik sementara Donghae selalu tampak luar biasa dengan setelan jas yang dikenakannya. Mereka seperti kembali ke masa-masa sebelum Haeyoung lahir. Haebin merasa begitu luar biasa karena merasa ini adalah makan malam paling romantis yang pernah dilaluinya bersama Donghae.
Mereka menikmati hidangan khas Karibia, berada di paviliun terbuka yang menyajikan langsung pemandangan pantai. Mereka juga tidak perlu mencemaskan Haeyoung yang sekarang sedang bermain dengan kakeknya. Tuan Lee berjanji akan menjaga Haeyoung malam ini dan ada pelayan yang bisa membantunya mengganti popok Haeyoung.

“Malam ini indah sekali,” ucap Haebin ketika mereka kembali ke kamar mereka. Donghae mengajaknya duduk di sofa untuk menikmati segelas sampanye sebelum mereka menghabiskan malam dengan kegiatan lain.
“Aku tahu,” jawab Donghae sambil merapikan rambut panjang Haebin yang jatuh menutupi bahunya. Donghae suka melihat Haebin dengan pakaian yang memperlihatkan keindahan bahunya. Menurutnya, Haebin tampak sangat seksi dalam balutan pakaian itu, seperti gaun yang dipakainya sekarang.
“Kuharap Haeyoung jadi anak baik malam ini.” Tambah Donghae. Haebin menyandarkan dirinya di dada bidang Donghae.
“Wae?”
Sudut bibir Donghae tertarik senyum simpul, “Yah, agar dia tidak mengganggu acara kita,”
“Haeyoung tidak pernah mengganggu acara kita,” ralat Haebin. “Dia hanya hanya terkadang ingin dimanjakan oleh ayah ibunya,” ia memandang Donghae penuh arti, Haebin hampir saja melonjak senang ketika Donghae memajukan wajahnya. Ia kira mereka akan berakhir saling berciuman ternyata tidak. Haebin hanya menganga ketika wajah Donghae melewatinya dan Donghae mengambil gelas sampanye kosong, mengisinya dengan cairan berwarna kekuningan itu dan memberikan satu gelas juga untuk Haebin.
“Ini sampanye terlezat dari Prancis,” ucap Donghae mengajak Haebin untuk bersulang. Haebin tidak terlalu mengerti cara-cara orang barat menikmati wine. Ia pura-pura menikmatinya meksipun Haebin harus meringis ketika mengecapi rasa sampanye itu di lidahnya. Aneh sekali. Tidak kuat jika harus menghabiskannya, Haebin meletakkan gelas sampanye itu di atas meja dan membiarkan Donghae menikmati sampanyenya sendiri. Ia merenung. Jadi ini maksud Donghae ‘menghabiskan malam’ dalam suasana romantis? Membosankan.

Saat ia tenggelam dalam pikirannya sendiri, ia merasakan sengatan listrik menjalari tubuhnya ketika tangan kekar Donghae menyentuh punggungnya lalu merambah naik ke pundak.
“Kau tidak lupa kan malam ini kita akan ‘menghabiskan malam’ dalam suasana romantis?” bisik Donghae. Bibirnya entah sejak kapan sudah singgah di tengkuknya, mengecupi daerah itu dengan lembut dan perlahan. Haebin menelan ludahnya susah payah dan ia merasakan otaknya macet hingga tidak bisa berpikir atau pun menjawab. Tangan Donghae memeluk erat tubuhnya, seolah tidak mau Haebin pergi ataupun bergerak.
“Enghh..” desahan Haebin keluar pertama kalinya malam ini. Ciuman Donghae turun menelusuri sepanjang bahu lalu punggungnya yang tak tertutup kain. Haebin harus berpegangan erat pada tangan Donghae agar tidak jatuh lemas.
“Ahh..” Haebin langsung menggigit bibirnya saat ia nyaris melenguh kencang ketika Donghae menggigit gemas bahunya. Tangan suaminya itu dengan lihai menurunkan resleting gaun dan membuat tubuh Haebin polos di bagian atas. Donghae kembali memeluknya dari belakang dan tangannya meraba-raba sekujur tubuhnya bagian atas, meremangkan syaraf-syaraf sensitif di tubuh Haebin.

Donghae menarik dagu Haebin, membuat kepalanya tertoleh ke arahnya dan tampa membuang waktu ia segera melumat bibir ranumnya sedikit terburu-buru.
“Engghh..” tubuh Haebin menggelinjang ketika tangan Donghae menyambangi gundukan kembarnya. Meremas keduanya dengan gerakan teratur sementara bibirnya sibuk melayani ciuman Donghae. Tangan Haebin menyusup ke sela-sela rambut Donghae lalu menariknya, meminta Donghae memberinya waktu untuk bernafas.
Mereka sama-sama terengah dan saling menatap satu sama lain. Donghae tersenyum tulus untuk wanita tercintanya dan ia terkesiap ketika Haebin mendorongnya hingga terbaring di sofa itu. Haebin menyandarkan tubuhnya pada dada bidang Donghae, memperhatikan wajah suaminya itu dengan intens.
“Waeyo??” tanya Donghae, sedikit tertawa salah tingkah karena ulah Haebin.
“Kau tahu Oppa, semua orang mengatakan padaku bahwa aku mencintaimu lebih dari dirimu mencintaiku. Sepertinya mereka benar.” gumam Haebin. Donghae tergelak dan kali ini Haebin benar-benar tersinggung. Padahal maksud hatinya ingin membuat Donghae terkesima dan Haebin ingin sekali melihat wajahnya yang merona karena tersipu. Jinjja, suaminya benar-benar tidak romantis.
“Kenapa kau berpikir begitu?” Donghae bertanya balik dan tangannya melingkar di punggung telanjang Haebin, mencegahnya yang hampir bangkit karena mulai merajuk.
“Hanya asal berpikir,”
“Oh, ya..jika kau memang sangaaaaat mencintaiku, bolehkah jika aku memintamu melayaniku malam ini?”
Haebin terkejut atas permintaan Donghae. Ia tidak pernah berpikir untuk menjadi pemimpin saat mereka sedang berhubungan seks. Lebih tepatnya, ia takut jika ia tidak bisa memuaskan Donghae seperti yang dilakukan Donghae untuk memuaskannya.
“Aku, aku tidak yakin..” gumam Haebin ragu. Donghae mengerang, nyaris merengek.
“Oh ayolah, aku ingin dimanja juga olehmu.” Pintanya sambil mengedip-ngedipkan mata.
“Baiklah,” putus Haebin setelah memikirkannya beberapa saat. “Tapi Oppa berjanji tidak akan meledekku jika aku tidak bisa melakukannya dengan baik.”
Donghae mengangguk. “Aku berjanji.”

Haebin pertama-tama menaikkan tubuhnya agar bisa sejajar dengan wajah Donghae. Pipinya memerah sendiri saat ia bertatapan dengan Donghae yang menunggu apapun yang akan dilakukannya. Haebin mengecup bibir Donghae dengan jantung yang berdebar kencang. Donghae membiarkan Haebin melakukan semuanya. Ia hanya mengimbanginya saja. Ia juga membiarkan Haebin membuka kemejanya dan membuat dirinya bertelanjang dada. Ketika Haebin kembali menciumnya, Donghae sudah merasa istrinya ini mulai terbiasa dan tidak kaku lagi.
“Ohh..Haebin,” Donghae mendongakkan kepalanya ketika Haebin mencium lehernya, sedikit menggigitnya dan sekali-kali menjilatinya. Tangannya tidak mau tinggal diam saja. Donghae menarik gaun malam Haebin agar lolos dari tubuh istrinya, Haebin pun melakukan hal yang sama sehingga tak lama kemudian mereka sama-sama naked.
“Omo, adikmu sudah tidak tertolong lagi,” canda Haebin meskipun ia sangat malu saat mengatakannya. Tetapi hal langka didapatinya. Akhirnya ia bisa melihat wajah tersipu suaminya. Haebin terkikik geli melihat Donghae salah tingkah utuk pertama kalinya.
“Yah, kau bisa lakukan sesukamu,” ucap Donghae sambil memalingkan wajahnya. Haebin akhirnya benar-benar tertawa. Ia duduk di atas paha Donghae dan dengan tangannya ia memanjakan bagian tubuh Donghae yang bermasalah itu.
“Ahhh..iya begitu Haebin, ppalli!!” lenguhan-lenguhan keluar dari mulut suaminya dan Haebin semakin bersemangat karena ia ingin melihat reaksi Donghae yang lain jika ia melakukan hal lebih. Ia benar-benar suka pemandangan di saat Donghae menahan nikmat seperti sekarang. Donghae terlihat sangat seksi.

Haebin membungkukkan tubuhnya agar bisa meraup bibir Donghae yang setengah terbuka dengan erangan-erangan halus terus menguar dari mulutnya. Donghae segera menyambut ciumannya dengan antusias.
Donghae serasa menjadi raja yang dilayani dengan baik oleh dayangnya. Haebin benar-benar bekerja dengan sangat baik karena sekarang dirinya seperti melayang tinggi. Meskipun tautan bibir mereka kini terlepas, Donghae tidak protes karena ciuman Haebin tidak berhenti sampai di sana. Haebin menciumi daerah dadanya dan Donghae sudah tidak kuat lagi. Ia memegang pinggang Haebin pertanda ia hampir saja sampai.
Haebin tahu kalau Donghae akan mencapai puncaknya karena itu ia tidak ingin menunggu lama lagi. Ia menggeser duduknya lalu mengangkat sedikit pinggulnya. Secara perlahan ia mencoba menyatukan mereka meski rasanya sedikit ngilu.
“Emmghhh..” Haebin mengigit bibirnya sendiri menahan desahan saat proses itu berlangsung. Donghae membantunya dengan memegang pinggangnya. Mereka sama-sama mendesah lega ketika milik mereka sudah bersatu.

“Ohh..”
Donghae lebih dulu mengeluarkan desahanya ketika pinggul Haebin mulai bergerak. Ia tenggelam dalam dunia yang begitu indah sampai tidak ingat bahwa dirinya masih ada di dunia. Terkadang ia lupa bahwa ia terus menyebutkan nama Haebin dan memintanya mempercepat gerakan.
Haebin tak tahu bahwa di posisi ini—woman on top—akan sangat melelahkan. Tapi kenikmatannya tidak berbeda. Malah ia senang karena bisa melakukannya sesuai dengan insting dan keinginannya. Matanya sampai terpejam dan kepalanya mendongak. Ia mendapati dirinya bergerak semakin cepat ketika rasanya ia kan menggapai puncak juga.
“Ohh..Oppahh..ahhh..” jeritan putus asa Haebin menguar karena tangan Donghae memijat payudaranya yang sejak tadi tak tersentuh.

Donghae sudah tidak bisa menahan dirinya lagi. Ia menarik tengkuk Haebin ke bawah, lalu mencium bibirnya dengan membabi buta. Mereka sama-sama bergerak karena puncak itu akan mereka daki bersama dan beberapa saat kemudian, sesuatu dalam tubuh mereka meledak membuat tubuh berkeringat mereka menegang.
“Ahhh..” Haebin menjerit halus ketika cairan dalam tubuhnya keluar membasahi batang tubuh Donghae yang juga mengalirkan banyak cairan. Sesuatu yang hangat mengalir di dalam tubuhnya. Haebin mengistirahatkan kepalanya di pundak Donghae.
Hawa di ruangan itu terasa panas meksi mereka baru melewatkan satu ronde yang luar biasa. Donghae mengecup pelipis Haebin yang basah oleh keringat.
“Kau hebat, chagi. Sebaiknya kita pindah.” Bisik Donghae yang merasa punggungnya mulai pegal. Haebin mengangguk pasrah ketika Donghae mengangkat tubuhnya lalu membaringkannya di tengah tempat tidur yang nyaman.

Mereka saling melempar senyum. Donghae tidak mengatakan apapun, hanya menempelkan kening mereka da sesekali menggesekan hidung mereka untuk menambah kesan intim. Mereka terkekeh, entah untuk alasan apa. Haebin melingkarkan tangannya di leher Donghae.
“Bagaimana serviceku, yang mulia?” lirihnya di sudut bibir Donghae.
“Kuberi nilai A+,” balas Donghae lalu melumat singkat bibir Haebin. “Kini giliran aku yang melayanimu..”

Donghae menjauhkan wajahnya untuk mengulum puncak payudara Haebin yang sudah menegang, menggodanya sejak awal. Tubuh haebin kembali menegang dan rintihan-rintihan yang membuat Donghae bersemangat mencumbu Haebin kembali terdengar dan semakin kencang ketika Donghae menggodai bagian intimnya. Ia mencengkeram erat bantal dan kepalanya terdongak. Entah berapa lama Donghae berniat menyiksanya yang pasti ia tidak tahu. Ia baru sadar ketika merasakan lesakan tubuh Donghae di bawahnya dan mulai membuatnya berhalusinasi kembali detik berikutnya.

“Kau bilang kau lebih mencintaiku dibanding aku mencintaimu? Kau belum mengatakan alasannya.” Ucap Donghae sambil memandangi wajah Haebin yang memerah. Sesekali tangannya merapikan rambut Haebin yang berantakan. Intensitas gerakan Donghae tidak berkurang. Justru membuat suasana menjadi sangat romantis.
Haebin tersenyum, tangannya terulur mengusap wajah Donghae. “yah, karena wajah ini. Wajah ini membuatku tidak bisa berhenti mencintaimu, Oppa. Karena itu, meskipun orang mengatakan aku lebih mencintaimu, itu memang benar.”
Donghae mendapati dirinya kembali tersipu malu mendengarnya. Namun ia malu mengakui bahwa Haebin berhasil membuatnya terkesima. Karena itu ia tersenyum.
“Kenapa? mau menertawaiku lagi? jangan merusak suasana romantis, Oppa.” Tegur Haebih menyalah artikan reaksinya.
“Aigoo, sebagai seorang psikolog harusnya kau bisa membaca ekspresiku,” omel Donghae sambil mencubit hidungnya. “Aku tidak berniat tertawa. Aku justru terharu mendengarnya. Terima kasih sudah mencintaiku.” Donghae tersenyum tulus dan senyum itu menimbulkan dampak yang sangat fatal untuk Haebin. seluruh tubuhnya berdesir dan tak sesentipun dari tubuhnya yang tak tak merona malu. Ia merasa sangat tersanjung karena Donghae menunjukkan ekspresi itu untuknya.

Haebin menarik wajah Donghae lebih dekat untuk menyembunyikan wajah malunya.
“Saranghaeyo,” lirihnya.
“Nado,” Donghae mengecup seluruh wajah Haebin dan terakhir ciuman itu berlabuh di bibirnya.

Malam itu, mereka habiskan dalam suasana yang sangat romantis dan tak terlupakan. Haebin tak pernah merasa sangat dicintai seperti ini. Tak apa jika pada kenyataannya ia lebih mencintai Donghae dibanding Donghae sendiri. Karena pria ini adalah alasannya untuk tetap bernafas dan hidup.

—o0o—

Bulan madu itu berakhir dengan sukses. Donghae sukses membawa istrinya berlibur dan ia juga bisa membahagiakan ayahnya karena puas bermain dengan cucunya. Sekarang ia harus pulang dan berpamitan dengan ayahnya yang masih ingin menghabiskan liburanya di sana.
“Kenapa kalian tidak meninggalkan Haeyoung di sini?” keluh Tuan Lee ketika Donghae dan Haebin akan naik ke pesawat.
“Kenapa Appa tidak kembali saja?” balas Donghae. Haebin segera menyikut suaminya.
“Nanti kami berkunjung lagi. Sebaiknya Appa ikut kami saja pulang sekarang.”
“Hmm..nanti saja. Appa masih ingin menenangkan diri di sini.”
“Aku akan meminta Leeteuk Hyung kemari untuk menemanimu,” ucap Donghae. Mereka berpamitan kembali sebelum benar-benar menaiki pesawat.

Haebin melambaikan tangannya pada Tuan Lee. Sebenarnya Haebin tidak rela meninggalkan tempat seindah ini. Tapi ia juga rindu tanah kelahirannya di Korea karena itu Haebin berdoa dalam hati agar suatu hari bisa kembali lagi kemari.

“Haebin, aku pikir ucapanmu semalam salah.” Ucap Donghae ketika mereka sedang berada di pesawat. Haebin menoleh pada Donghae yang tersenyum di sampingnya.
“Ucapan yang mana.” Tanyanya bingung.
“Yang mengatakan bahwa kau lebih mencintaiku dibanding aku mencintaimu. Kurasa itu keliru. Karena jika kau lebih mencintaiku dan aku tidak seperti itu, mungkin aku sudah memilih untuk berselingkuh.”
“Oppaa!!!!” Haebin terkejut dengan penuturan Donghae yang satu ini. Donghae tertawa puas setelah berhasil melihat wajah lucu Haebin. Ia segera memeluk istrinya sebelum Haebin merajuk lagi.
“Tentu saja tidak kulakukan karena aku lebih mencintaimu dibanding dirimu mencintaiku.”
“Lalu Haeyoung?”
Donghae menatapnya dengan alis terangkat, “Dia segalanya untuk kita berdua. tentu dia sangat kucintai sama seperti aku mencintaimu.”
Haebin mengulum senyum lalu mencubit pipi Donghae. “Dasar gombal!” mereka tertawa kemudian dan sisa perjalanan hari itu, mereka habiskan dengan gembira bersama Haeyoung yang menjadi penyempurna pernikahan mereka.

The End..

123 thoughts on “Another Story In Shady Girl [Donghae’s Story] // Our Second Honey Moon ??

  1. Keren bangt. Walaupn aku bukan k-pop tapi aku jadi suka ceritanya. Sangat lembt dan gk terkesan liar.empat jempol buat authornya, di terusin yah

Your comment

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s