I Hate You, But.. (Part 4)

Tittle : I Hate You, But Part 4
Author : Dha Khanzaki a.k.a Shin Je Young
Genre : Romance, Main Cast, Complicated

Main Cast :

  • Choi Siwon
  • Kim So Eun

Ada yang suka baca FF ini? Makasih banget loh udah nyempetin baca FF gaje author. Untuk pertama kaliny author punya ide buat bikin FF genre nyesek. Semoga gak gagal hasilnya.

Happy reading tapi tetap hati-hati ama typo yah ^^

I Hate You But By Dha Khanzaki

===Part 4===

So Eun sudah memantapkan hati. Ia akan meninggalkan apartement malam ini juga. Ia tidak peduli apapun yang akan terjadi pada Siwon, ia hanya ingin menyelamatkan hatinya yang terlanjur terluka. Ia sudah berada di mobil bersiap untuk pergi ketika ponsel dalam saku sweaternya bergetar. Ia merogoh ponselnya dan mengerjap ketika melihat nomor Siwon muncul di layar. Awalnya ia ingin mengabaikannya namun hatinya mendadak gusar. Jantungnya berdebar kencang. Firasat buruk apa ini?
“Yeoboseyo?” akhirnya, So Eun mengalah setelah bertengkar dengan pikirannya sendiri. Ia memutuskan menjawab.
“So-Eun…”
“Oppa kenapa?” So Eun menyela panik karena suara Siwon yang ia dengar dari telepon begitu pelan dan lemah, seperti menahan sakit. Sejenak ia lupa bahwa mereka baru saja bertengkar hebat.
“Bisakah kau datang? Aku butuh bantuanmu.”
“Tentu saja, Oppa. Katakan Oppa ada di mana?”
“Aku tidak tahu,” suara Siwon semakin lemah. So Eun bergerak-gerak panik di tempatnya duduk.
“Arraseo. Aku akan melakukan sesuatu. Oppa hanya perlu memastikan ponsel tetap menyala.” Setelah memutuskan panggilan, So Eun mengaktifkan GPS yang ada di ponselnya untuk melacak keberadaan Siwon melalui sinyal ponsel. Setelah menemukan keberadaan Siwon, So Eun segera melajukan mobilnya ke tempat Siwon berada.
Bukankah kami sedang bertengkar?
So Eun baru menyadarinya ketika ia sedang dalam perjalanan. Bagaimana bisa ia begitu mudah luluh setelah pria itu mengatakan kata cerai padanya? Mengapa ia bisa dengan begitu mudahnya menuruti apa kata Siwon?
“Tidak, kau tidak boleh egois, Kim So Eun. Siapa tahu Siwon Oppa sedang dalam masalah. Aku harus datang melihatnya lebih dulu,” So Eun sudah memantapkan hati. Sekarang keinginan hatinya menemui Siwon jauh lebih kuat.

—o0o—

So Eun terkejut saat menghentikan mobilnya di tempat Siwon berada, ia melihat sebuah mobil yang menabrak pohon. Tangannya bergetar. Ia tidak mungkin salah lihat. Ia mengenal dengan jelas bentuk, warna cat, hingga plat mobil suaminya. tanpa pikir panjang So Eun segera keluar dari mobil lalu berlari menghampiri mobil yang bagian depannya sudah ringsek.
“Siwon Oppa!!” teriak So Eun panik sambil mengetuk-ngetuk kaca mobil. Ia berusaha melihat keadaan di dalam. Siapa tahu Siwon terjebak di dalam, pingsan atau apapun. Melihat keadaan mobilnya saja, ia sudah berpikiran yang tidak-tidak. Seharusnya tadi ia melajukan mobilnya lebih cepat. Seharusnya tadi ia menanggapi panggilan Siwon, bukan mengabaikannya. Bagaimana jika terjadi sesuatu?
Karena cemas, airmata tumpah begitu saja di sudut mata So Eun. Ia tidak bisa membayangkan seandainya terjadi sesuatu pada suaminya. Tidak boleh, Siwon harus baik-baik saja.
“Siwon Oppa, jebal jawab aku!!” So Eun sekali lagi mengetuk kaca jendela sedikit lebih keras. Ia tidak bisa melihat ke dalam karena kaca mobil itu gelap. Di tambah keadaan sekitar yang minim pencahayaan.
“Ya, berisik. Aku di sini!!”
Tubuh So Eun menegak mendengar suara dingin yang ia kenal. Ia mengerjap senang. itu suara Siwon! Ia berjalan memutari mobil dan alangkah leganya saat mendapati sosok Siwon tengah duduk di atas rerumputan di sisi mobil. Ia mendesah lega lalu berjalan cepat menghampiri Siwon.
“Oppa, gwaenchana??” cecarnya panik. Siwon menyandarkan punggungnya pada sisi mobil lalu meringis.
“Tidak apa-apa. Hanya tanganku terkilir,” ucapnya sambil mengangkat tangan kirinya dengan susah payah.
“Mwo???” So Eun segera meraih tangan Siwon. “Ini harus segera diobati. Tunggu di sini sebentar,” So Eun bergegas mengambil kotak First Aid yang ia simpan di bagasi mobil. Siwon mengangguk lalu memperhatikan So Eun yang pontang-panting menolongnya.

Selama beberapa saat lalu, Siwon masih berpikir So Eun akan menolak menjawab panggilannya. Jika itu terjadi, mungkin ia akan bermalam di sini hingga ada yang menolongnya besok pagi. Ia takut sekali. Sekarang ia lega.
“Oppa, ulurkan tanganmu,” suara So Eun mengagetkannya. Ia mengulurkan tangannya sambil sesekali meringis sakit saat So Eun mulai mengolesi tangannya dengan salep dan mengurutnya pelan.
Siwon tertegun menatapi wajah So Eun yang mengobatinya dengan tekun. Ia menemukan raut cemas dalam sorot matanya. Entah kenapa Siwon terharu mengetahui hal itu. Ia sempat bertaruh pada dirinya sendiri. Siapa di antara Eun Ji dan So Eun yang akan menanggapi panggilan teleponnya. Untuk sesaat ia masih berharap Eun Ji yang datang untuk menolongnya. Tapi rupanya pengharapannya salah alamat. Ia tahu sekarang, yang benar-benar memperhatikannya dengan tulus hanya So Eun.
Kim So Eun tidak pernah menuntut apapun padanya. Gadis itu sangat bersabar meskipun ia terkadang sulit sekali dikendalikan.
“Akh..” Siwon merintih keras.
“Mianhae,” So Eun tersentak kaget. Ia mungkin tadi salah mengurut bagian yang terkilir. Setelahnya, ia segera membebat tangan kiri Siwon hingga siku.
“Kau terlihat mahir melakukannya,” gumam Siwon lemah. So Eun tersenyum hangat sambil merapikan alat-alat yang tadi ia gunakan ke dalam kotak.
“Saat SMA dulu, aku pernah ingin menjadi seorang perawat. Tapi semenjak Appa jatuh sakit aku sadar bahwa ada satu hal yang lebih penting dibandingkan menjadi seorang perawat.”
“Apa itu? menjadi dokter?”
So Eun menggeleng, “Aku harus meneruskan bisnis Appa. Aku tahu selama dua puluh tahun Appa sudah bekerja keras membangun perusahaannya hingga sebesar sekarang. Appa pasti ingin sekali perusahaan diteruskan oleh anaknya. Jika aku tetap egois pada cita-citaku, lantas pada siapa Appa menggantungkan harapannya?”
Jawaban So Eun membuat Siwon tertegun. Dari setiap kata yang mengalir dari mulut gadis itu mampu menyadarkannya bahwa selama ini, tak ada satupun yang pernah ia lakukan untuk kedua orang tuanya. So Eun begitu mencintai kedua orangtuanya sampai mengesampingkan seluruh impiannya demi mereka. Dia, sangat berbeda. Seulas senyum tanpa ia sadari terbit di bibirnya. Aneh, Siwon mendapati dirinya gembira untuk hal yang tidak jelas.
“So Eun,” lirih Siwon.
“Ya?” dengan polosnya So Eun menoleh.

Chup~

So Eun merasa otaknya mati rasa ketika sesuatu yang lembut menyentuh bibirnya. Sayangnya momen itu berlangsung begitu cepat bahkan So Eun belum sempat menyadari apa yang sebenarnya terjadi, Siwon sudah menjauhkan wajahnya. Untuk pertama kalinya, Siwon tersenyum lembut padanya.
Deg~
So Eun mendapati jantungnya hampir saja jatuh. Ia terus meyakinkan diri bahwa yang baru saja dilihatnya bukanlah fatamorgana. Siwon tersenyum padanya. Haruskah ia menampar diri sendiri untuk membenarkannya?
“Gomawo,” bisik Siwon. Sebelum So Eun tersadar dari keterkejutannya, Siwon bangkit lalu mengulurkan tangannya.
“Ayo kita pulang.”
“Eoh?” So Eun masih tercengang di tempatnya. Dengan linglung, ia mendongakkan kepala menatap Siwon lalu telapak tangannya yang terulur ke arahnya.
“Sudah larut, sebaiknya kita pulang,” ulang Siwon. So Eun kali ini sadar sepenuhnya. Dengan ragu, ia meraih tangan Siwon lalu bangkit. Ia mengikuti Siwon yang berjalan lebih dulu ke arah mobilnya dengan pikiran penuh tanda tanya.
Apa yang baru saja terjadi? Benarkah, benarkah tadi Siwon baru saja menciumnya? So Eun meraba bibirnya sendiri. Tadi itu bukanlah mimpi. Ia masih merasakan kelembutan bibir Siwon di permukaan bibirnya.
“Kau berniat kabur dariku?”
Suara Siwon kembali menarik So Eun ke dunia. Kepalanya berputar ke arah Siwon yang menatapnya dengan alis terangkat sebelah. Ia mengikuti arah pandang Siwon ke kursi belakang mobilnya. Di sana tergeletak kopernya. Ia baru saja tersadar. Bukankah ia memang berniat pergi dari rumah tadi?
“Eh, itu…” So Eun tergagap.
“Kau harus mengantarku pulang,” potong Siwon tegas. Jiwa diktatornya kembali kambuh. Tanpa berucap lagi, Siwon membuka pintu mobil So Eun lalu duduk di kursi sebelah kemudi. So Eun hanya bisa membuka mulut tanpa mampu mengucapkan sepatah kata pun. Pria egois ini, geramnya dalam hati. Anehnya, meskipun menggeram ia justru merasa dirinya gembira. Ia merasa tidak ada lagi jarak yang menghalangi dirinya dengan Siwon. apakah ini artinya, ia masih bisa mempertahankan pernikahan?

—o0o—

Setibanya di depan apartement mereka, So Eun segera meminta Siwon agar beristirahat.
“Kau mau kemana lagi?” Siwon bertanya sesaat setelah So Eun menyelimutinya yang sudah berbaring nyaman di atas tempat tidur.
“Aku harus tidur.”
“Di sini saja. Jangan kemana-mana,” titah Siwon dengan nada tinggi. So Eun tersentak kaget.
“Tidur di sini? Bersamamu?” tanyanya tergagap.
“Kau pikir? Ayo naik. Tempat tidurku masih luas.”
“Tapi, kenapa tiba-tiba…” So Eun hanya merasa heran dengan perubahan mendadak sikap Siwon. Semenjak pindah, Siwon tidak pernah mengizinkannya tidur di tempat tidurnya. Malam ini, mendadak saja Siwon memintanya tidur dalam satu ranjang? Apa sesuatu telah terjadi? Ataukah kepala Siwon sempat terbentur begitu keras dan membuatnya bertingkah aneh seperti ini?
“Ppalli, sebelum aku berubah pikiran! Aku hanya ingin kau ada saat aku membutuhkan bantuanmu. Kau tahu kan tanganku terluka!” seru Siwon tak sabar sambil menepuk-nepuk tempat di sampingnya.
Oh, jadi begitu. Jika menginginkan sesuatu, Siwon tidak perlu berteriak memanggilnya. Bisa dibilang dia kini menjadi pembantu, perawat, dan bodyguard untuk Siwon.
“Baiklah,” dengan ragu So Eun naik dan menempati ruang kosong di samping Siwon. Ranjangnya memang cukup luas meskipun di tempati oleh dua orang, dan nyaman. So Eun merasa bisa langsung terlelap dengan hanya menempelkan kepalanya di bantal.
“Kau tidurlah lebih dulu, aku masih belum mengantuk,” ucap Siwon. So Eun tidak jadi memejamkan matanya. Ia justru kembali mendudukkan dirinya.
“Wae? Apa tidak bisa tidur?”
“Em,” Siwon menggumam singkat, terdengar ragu. So Eun justru menatapnya curiga.
“Ada apa sebenarnya?”
“Anni, aku hanya tidak terbiasa tidur satu ranjang dengan wanita,” ucap Siwon gugup. Ia terlihat gelisah dan canggung. Mendengar pengakuan Siwon, So Eun terkejut bukan main. Tidak terbiasa tidur satu ranjang dengan wanita? Itu benar-benar ganjil kedengarannya. Bukankah dia dan Eun Ji sudah sering tidur satu ranjang? Mengapa masih juga canggung?
“Tidak pernah? Meskipun itu dengan Park Eun Ji?” So Eun bertanya karena terpaksa dan penasaran. Ia tahu kini hatinya bergemuruh karena ditelinganya kembali terngiang ucapan tak berperikemanusiaan dari gadis itu. Park Eun Ji dengan santainya berkata bahwa dia dan Siwon pernah tidur bersama.
Kali ini justru Siwon yang tampak terkejut. “Apa maksud ucapanmu?”
So Eun tergugu, “Yah, kau dengan Eun Ji, tidur bersama. Terkadang pasangan kekasih pasti pernah melakukannya,”
Siwon melebarkan mata begitu paham apa maksud So Eun sebenarnya. Ia terkejut, bagaimana bisa So Eun berpikir seperti itu?
“Kau berpikir aku sering tidur bersama Eun Ji?” Siwon balik bertanya dengan nada tersinggung. Ia tak habis pikir, darimana datangnya gagasan itu?
So Eun menundukkan kepalanya, menatapi tangannya yang meremas selimut dengan gelisah. “Aku hanya menebak.”
Siwon berdecak, antara sebal dan kesal. “Apa Eun Ji mengatakan sesuatu padamu tentang hal itu?” nada suara Siwon terdengar menyindir. So Eun menoleh sejenak untuk mengetahui bagaimana ekspresi Siwon. Pria itu seperti menuntut penjelasan padanya dengan raut curiga. Seharusnya ia yang berekspresi seperti itu. Siwon membuatnya tampak seperti penjahat saja. Padahal di sini posisinya adalah korban.
“Tidak begitu tepatnya, dia hanya… sedikit bercerita tentang kalian,” So Eun menggigit bibirnya, ragu apakah harus menceritakannya atau tidak. Ia takut jika menceritakannya, Siwon akan membencinya dan mereka kembali bertengkar hebat.
Siwon menghembuskan napas keras melihat reaksi So Eun. “Aish, jinjja. Aku memang sering menginap di tempatnya. Tapi kami tidak pernah tidur bersama. Meskipun aku tidur di ranjangnya, kami tidak ‘tidur’ seperti yang kau maksud.” Jelasnya. “Tunggu, kenapa aku harus memberitahukan ini padamu?” pikirnya bingung.
“Apa?” So Eun berseru takjub. Siwon tidak pernah tidur bersama Eun Ji? Suaminya hanya pernah menginap di apartement Eun Ji saja? Rasa bahagia membuncah dalam hatinya seketika. Penjelasan Siwon membuat kabut yang mengungkungnya lenyap sudah. Ia lega. Sangat lega. Rupanya, saat itu Eun Ji hanya berkata omong kosong saja padanya. Ya ampun, jadi selama ini ia marah untuk alasan yang tidak benar?
“Kenapa kau malah tertawa? Cepat tidur!” ia heran karena kini So Eun justru tersenyum tidak jelas. Entah apa yang lucu. Siwon mematikan lampu meja dengan sebelah tangannya yang bebas. Keadaan menjadi gelap. Beruntung sinar bulan yang masuk melalui celah-celah gordin tipis membuat keadaan kamar tidak terlalu gelap.
“Ingin kunyanyikan lagu agar Oppa bisa tidur?” tanya So Eun. Siwon menoleh. Ia agak sangsi mendengarnya.
“Kau yakin? Suaramu tidak akan membuat telingaku pecah bukan? Besok ada rapat penting dan aku tidak ingin menjadi tuli saat rapat nanti,” gurau Siwon. So Eun terkekeh lalu memaksa Siwon agar tidur dengan menyandar di pundaknya. Meskipun Siwon mungkin tidak menyukainya, namun ia merasa senang melakukan ini. Tak peduli jantungnya berdebar kencang, ia sangat menikmati kali pertama bisa berada sedekat ini dengan Siwon. Tanpa perdebatan ataupun pertengkaran.
“Kau ingin lagu apa?” tanya So Eun.
Siwon menyadari pikirannya mendadak kosong. Ini pertama kalinya ia diperlakukan selembut ini. Sejujurnya, saat dengan Park Eun Ji ia tak pernah mendapatkan perhatian semacam ini. Gadis itu hanya peduli dengan dirinya sendiri. Selalu saja minta dimanjakan dan tak pernah sekalipun melakukan hal yang sama seperti yang dilakukan So Eun padanya sekarang.
Kini, dalam dekapan So Eun ia merasa nyaman dan damai. Ketika So Eun kembali bertanya, Siwon memaksakan diri memutar otaknya.
“Em, bagaimana dengan lagu ‘Here I Am’?”
“Hem, itu kan lagu yang sulit. Tapi baiklah. Janji tidak akan menertawakan?”
“Okay.”
So Eun menarik napas sebelum mulai bernyanyi. Kemampuan olah vokalnya memang tidak sebaik Christina Aguilera, tapi setidaknya ia bisa bernyanyi walau sedikit. Dan saat lirik pertama mengumandang, Siwon sempat menahan tawa karena suara So Eun memang tidak sebagus Beyonce. Tapi ia tidak peduli karena yang ia dengar adalah ketulusan So Eun. Gadis ini benar-benar bernyanyi untuknya dan entah mengapa, dengan hal sederhana ini ia menjadi bahagia. Menurutnya, hal sederhana seperti ini sangat romantis. Ia tak tahu kapan lagu itu mulai tidak terdengar lagi. Yang ia tahu, sekarang ia terhanyut dalam dunia miliknya seorang.

—o0o—

Keesokan paginya, Siwon terbangun dengan kepala yang hampir meledak. Ia heran mengapa tiba-tiba saja isi kepalanya menjadi lebih berat dari sebelumnya. Ia merasa seperti sedang menaiki roller coaster berkecepatan tinggi. Ia memaksakan diri untuk bangun dan meraih gelas minum yang ada di nakas samping. Ia kembali heran karena tenaganya menghilang entah kemana sehingga mengangkat tangan saja ia kepayahan. Alhasil, gelas berisi air yang ingin diambilnya terjatuh ke lantai dan hancur berkeping-keping.
So Eun yang tengah menyiapkan sarapan terkejut mendengar suara benda pecah dari arah kamar suaminya. Ia bergegas ke kamar untuk melihat keadaan. Matanya membulat kaget melihat Siwon yang terkulai lemah di atas ranjang.
“Oppa, gwaenchana?” cecarnya panik dan segera menyongsong tubuh Siwon yang hampir terhuyung jatuh. Ia terkejut menyadari tubuh Siwon begitu panas.
“Kau demam!!” pekik So Eun panik.
“Bagaimana bisa?” gumam Siwon lemah. Ia sendiri heran bagaimana bisa dirinya sakit. Terakhir kali ia sakit demam adalah akhir musim dingin dua tahun yang lalu.
“Tentu saja bisa. Robot saja bisa sakit apalagi manusia normal. Oppa, kau sebaiknya istirahat dulu.”
“Tidak mungkin. sekarang ada rapat penting dengan para pemegang saham,” Siwon tetap memaksakan diri bangun dan di saat yang bersamaan So Eun menyuruhnya tidur.
“Mana yang lebih penting? Kesehatanmu atau lembaran saham perusahaan?” gerutu So Eun jengkel. Ia tahu Siwon begitu mencintai pekerjaannya. Tapi bukan berarti seluruh hidupnya dicurahkan hanya untuk bekerja. Setelah berdebat selama sepuluh menit, akhirnya Siwon mengalah karena tidak memiliki tenaga untuk melawan lagi. So Eun tersenyum senang lalu menyelimuti tubuh Siwon.
“Aku sudah membuatkan sarapan. Oppa, kau harus makan. Setelah itu minum obatnya. Jika panasnya tidak turun juga, kita ke rumah sakit.”
“Mwo? Tidak mau. Aku benci tempat itu!” Siwon menolak gagasan itu mentah-mentah. Sejak kecil ia memang benci rumah sakit. Ya, siapa yang suka tempat yang berbau obat dan alkohol seperti itu?
“Ya sudah kalau memang tidak mau, Oppa tinggal minum obatnya kan,” So Eun memilih jalan damai saja. Ia sudah tidak tega mengajak Siwon berdebat lagi. Pria ini harus banyak istirahat agar kondisinya kembali pulih.

Setelah makan sedikit dan meminum obatnya, Siwon beristirahat dengan tenang sementara So Eun melanjutkan pekerjaannya yang sempat tertunda. Ia membuka laptopnya lalu mengecek perkembangan perusahaan Ayahnya. Sebetulnya, selama ini tanpa Siwon ketahui So Eun bekerja menggantikan tugas Ayahnya. Hanya saja semua tugas itu ia lakukan di rumah. Sebagai seorang istri, tentu tidak mungkin baginya bekerja di kantor dan meninggalkan tugasnya di rumah. Siwon tidak akan suka hal itu.
Drrrttt..drrrrtt..
Ponselnya bergetar. Dengan mata tetap tertuju pada layar laptop, So Eun meraih ponselnya.
“Yeoboseyo?”
“So Eun…” mata gadis itu melebar seketika saat suara panik ibunya terdengar di telinga.
“Iya, Eomma. Ada apa?” cecarnya panik. Hatinya berdebar dan ia merasakan firasat buruk.
“Bisakah kau datang ke rumah sakit? Appamu…” Eomma kemudian menceritakan tentang kondisi kesehatan Ayahnya yang semakin memburuk dan saat ini memasuki masa kritis. Tentu saja tanpa membuang waktu So Eun yang diserang kepanikan bergegas pergi ke rumah sakit. Namun saat langkahnya hendak meninggalkan rumah, mendadak ia menoleh ke arah pintu kamar suaminya. Ia lupa. Bukankah di dalam sana Siwon sedang sakit? Ya ampun, apa yang harus dilakukannya sekarang? Ia tidak bisa meninggalkan Siwon begitu saja sementara ia juga tidak mungkin membiarkan ibunya sendirian menghadapi masa-masa seperti ini.
Dengan ragu, akhirnya So Eun kembali ke kamar untuk mengecek keadaan Siwon. Saat ia memegang kening suaminya, syukurlah suhu badan Siwon tidak sepanas tadi.
“Oppa, aku pergi ke rumah sakit sebentar. Ayah sedang dalam masa kritis. Kau bisa memakluminya bukan? Aku sudah menghubungi Eomma-nim agar datang kemari,” ucapnya sambil membenarkan selimut. Ia tahu percuma saja berbicara pada orang yang sedang tertidur namun setidaknya ia sudah meminta izin Siwon.

—o0o—

Siwon merasa dirinya tidak cukup baik ketika mendengar suara bel dibunyikan. Ia menoleh ke sekeliling kamar untuk memastikan apa yang terjadi. Hari sudah sore dan hal pertama yang ia pertanyakan adalah kemana perginya So Eun?
Bel kembali terdengar dan kali ini Siwon menggerutu. “Orang bodoh mana yang datang menggangguku?!” meskipun sakit dan kepalanya terasa berkunang-kunang, Siwon memaksakan diri bangun karena ia yakin So Eun pasti sedang tidak ada di rumah. Jika gadis itu ada, pasti bel sudah berhenti berbunyi sejak lima menit yang lalu.
Susah payah Siwon berjalan ke arah pintu lalu membukanya tanpa melihat ke layar pengawas.
“Hallo, Oh my god!!” suara pekikan perempuan terdengar masuk ke gendang telinga Choi Siwon. Pria itu memicingkan mata agar bisa melihat lebih jelas siapa yang ada di hadapannya.
“Park Eun Ji,” lirihnya sedikit terkejut.
“Kau kenapa?” Eun Ji menerobos masuk lalu merangkulnya, bermaksud membantu Siwon agar bisa berdiri tanpa khawatir akan jatuh tersungkur. “Badanmu panas sekali! Kau harus ke dokter! Gadis itu kemana? Seharusnya dia menjagamu bukannya pergi keluyuran tak jelas!” gerutu Eun Ji sambil tetap memboyong tubuh Siwon agar membaringkan diri di atas ranjangnya.
“Jangan bawa-bawa So Eun! Dia sudah menjagaku semalaman. Aku yakin dia hanya ke supermarket sebentar,” gumam Siwon.
Eun Ji memberengut tidak senang mendengar Siwon membela So Eun meskipun tidak benar-benar bermaksud begitu. Yang pasti ia tidak suka mendengarnya.
“Kau membela istrimu?” balas Eun Ji dingin.
“Kau datang kemari untuk mengajakku berdebat?” Siwon malah balas melemparkan pertanyaan.
Eun Ji menggelengkan kepala tak percaya. Entah kenapa, ia merasa ada yang berubah dalam diri Siwon.
“Kau berubah,” lirih Eun Ji dengan nada mengambang. Ia sendiri ragu mengapa bisa menyimpulkan hal itu. Namun ia yakin memang ada yang berbeda. Siwon menoleh, ia agak terkejut mendengar pernyataan Eun Ji.
“Apa maksudmu?”
“Apa kau marah karena aku tidak menjawab teleponmu semalam? Maaf jika memang itu sebabnya. Tetapi, aku tidak suka jika kau menjadi dingin padaku karena gadis itu. Aku sangat mencintaimu. Bukankah kau tahu hal itu dengan benar?” ujar Eun Ji dengan suara tercekat. Ia berusaha menyelami sorot mata Siwon yang kini menatapnya lurus-lurus. Ia ingin sekali Siwon segera membantah seperti biasanya. Hanya saja sepertinya kali ini hal itu hanyalah khayalan tak berguna karena pada kenyataannya, Siwon justru menatapnya dengan pandangan menajam.
“Kau mencintaiku? Lalu kemana dirimu disaat aku paling membutuhkan keberadaanmu? Kenapa semalam kau tidak menjawab panggilanku? Kau tahu apa yang terjadi?” tanya Siwon sinis. Tanpa menunggu jawaban Eun Ji, Siwon menunjukkan tangannya yang dibebat. Gadis itu membelalakkan mata kaget.
“Aku kecelakaan. Dan aku sangat mengharapkan bantuanmu malam tadi. Lalu kau tahu siapa yang datang menolongku dengan wajah paniknya? Ya, gadis pengacau yang seringkali kau bilang. Dialah yang datang menolongku!” ucap Siwon tegas. Ia sendiri merasa heran mengapa ia bisa semarah ini saat berbicara pada Eun Ji. Ia tidak tahu poin mana yang membuat ia merasa geram, kesal, dan tidak terima. Apakah karena Eun Ji tidak menjawab panggilannya, ataukah karena Eun Ji baru saja menghina So Eun?
“Kau kecelakaan?” Eun Ji menggumam tak percaya. Tangannya berusaha menyentuh tangan Siwon yang dibebat. Namun Siwon segera menarik tangannya.
“Pulanglah.”
“Hah?” Eun Ji tercengang mendengar Siwon mengusirnya. Ini pertama kalinya Siwon bersikap dingin.
“Kubilang pulanglah,” Siwon mencoba bangkit untuk menggiring Eun Ji keluar dari rumahnya. Namun saat kedua kakinya menapaki lantai, dunia seperti berguncang hebat. Ia membelalakkan matanya kaget sebelum akhirnya seluruh pandangannya berubah gelap gulita.

To be continued

86 thoughts on “I Hate You, But.. (Part 4)

  1. Siwon oppa, So Eun itu lebih baik dari Eun Ji😀
    Jdi mulai skrng oppa harus bersama So Eun aja ne😀 daripada sama si nenek sihir menyebalkan itu :-@
    Next chapter😉

  2. hyaaa ada apa itu kenapa sama siwon nya ?? udah seneng” mereka udah baikan ada apa sih adohh eunji isshhhh :@:@:@:@

  3. anyeong saya readers bru🙂
    critanya bgus bgt tpi bkin emosian
    pa lagi ma eunji
    so eun fighting !!! ttap tgar mndapatkan hti siwon oppa

  4. Eunji? Aq kira eomma’a yg dteng?? Lah eomma’a gga jdi dteng? Siwon dah naro perhatian’a ke so eun jdi eunji terasingkan..

  5. Akhirnya wonppa sedikit membaikblah ke eun so. itu wonppa kenapa? pingsan kah?*omo*
    Eunji gue kutuk juga kau, lu kemana aja dateng2 bilang wonppa gak di urus istri nya -_- lo aja yang di butuhin oppa dateng minta tolong lu gak dateng. pacaran lu ya?*jangan2

  6. Aigooo, uri siwon oppa gak seburuk yg kukira..
    Kirain selama pacaran sm eunji mereka memang sering tidur bersama..
    Aduuuh, siwon oppa jangan marah lagi ya sm so eun.
    Dia kan ke rumah sakit nengokin appanya….

  7. Aku terkejut waktu pertama kali liat poster mu eon kalo eun ji itu do hwe ji ulzzang,soalnya aku penggemar ff kyuhyun sm do hwe ji,sangking banyaknya baca ff yg castnya mereka berdua jdinya wanita yg selalu aku bayangin slalu do hwe ji walaupun castnya beda,tp aku berusaha ngebayangi mu kok so sun eonni :*

Your comment

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s