Shady Girl Siwon’s Story (Part 6)

Tittle : Shady Girl Siwon’s Story part 6
Author : Dha Khanzaki
Genre : Romance

Main Cast :

  • Lee Sunhee
  • Choi Siwon

Oke, tadi author postingnya kepanjangan karena itu author posting ulang ^^

Shady Girl Siwon's Story by DhaKhanzaki

===Part 6===

Berkali-kali Siwon menghela napasnya saat mengemudikan mobilnya menuju rumah Sun Hee. ia sudah merenungkannya selama beberapa hari terakhir dan ia menyadari bahwa tindakannya itu agak konyol. Memang kenapa jika Sun Hee mengatakan perasaannya? Itu sepenuhnya tidak melanggar hukum kan? Kenapa juga dia harus marah atau merasa terganggu. Responnya terhadap sikap Sun Hee memang agak berlebihan.

Karena itu, hari ini ia sengaja mengajak Sun Hee jalan-jalan. Donghae bilang sikap aneh Sun Hee akhir-akhir ini di sebabkan olehnya. Dan Siwon malas sekali mendengar omelan panjang keluar dari mulut sahabatnya itu.

“Mwo? Tidak jadi pergi?” tanya Siwon kaget saat berada di depan rumah Sun Hee dan menemukan gadis itu sedang mengajak main si kecil Hae Young.
“Iya. Maaf, tadi Oppa mendadak menitipkan Youngie padaku.” Muka Sun Hee tampak memelas. Jelas sekali jika ia pun tidak suka keadaan ini.
Siwon mendesah berat. “Tidak apa-apa. Eh tapi..kita bisa mengajak Hae Young pergi juga.” usulnya.
Sun Hee mendongakkan kepalanya, ia tak percaya Siwon bisa mempunyai gagasan sebagus itu.
“Benarkah? Tidak apa-apa?” serunya senang. Ia memang ingin sekali pergi jalan-jalan bersama.
Namja itu mengangguk. Ia membantu Sun Hee membereskan perlengkapan Hae Young ke dalam tasnya.
“Kajja. Rasanya tidak aneh jika kita jalan-jalan membawa bayi.” Ucapnya. Sun Hee segera menggendong Hae Young lalu mengikuti Siwon yang sudah lebih dulu berjalan ke luar.

“Tapi Siwon-ssi, kita akan terlihat seperti mama papa yang membawa anaknya jalan-jalan” tambah Sun Hee lagi saat ia sudah duduk di samping Siwon. Namja itu tersenyum tipis lalu memasang sabuk pengaman.
“Biar saja. yang pasti kita tidak begitu kan” ucapnya enteng. Ia bahkan tidak menyadari raut kecewa gadis di sampingnya begitu mendengar kalimat itu.
“Ah, dan kau tidak perlu memanggilku dengan embel-embel ssi lagi. Panggil saja aku Oppa.”
Gadis itu melonjak senang. “Benarkah? Baiklah..Oppa..Siwon Oppa..” serunya senang. Ia langsung memain-mainkan tangan Hae Young yang duduk di pangkuannya. Bayi mungil itu tertawa senang karena mengira Sun Hee sedang mengajaknya bermain.

—o0o—

Cheonggyecheon, tempat yang mereka kunjungi siang itu. ternyata menyenangkan juga jalan-jalan berdampingan seperti ini. Pemandangan di sekitarnya sangat indah. Siwon merasa hatinya damai dan pikirannya tenang. berjalan-jalan sebentar memang cara ampuh untuk me-refresh kembali otaknya yang mulai jenuh. Dulu ia selalu melakukannya jika sedang mencari inspirasi baru.

Sun Hee pun merasakan hal yang sama. Beruntung Hae Young bukan anak yang rewel. Dari tadi dia terus diam sambil sesekali berceloteh dengan bahasa bayi-nya dan menunjuk sesuatu yang baru menarik bagi mata bayi. Balon warna-warni, spanduk besar, dan badut dan berdiri di luar sebuah toko boneka.

“mhammaamm..” celotehnya sambil menunjuk sesuatu. Sun Hee menoleh ke arah yang ditunjuk keponakannya itu. rupanya sebuah stand eskrim.
“ah..dasar..kamu sudah pintar rupanya. Tahu saja cemilan yang enak.” Sun Hee mencubit gemas pipinya. Ia menoleh pada Siwon.
“Oppa..Hae Young ingin eskrim..” ucapnya. Siwon mengerutkan kening bingung.
“Eskrim? Yak! Bayi mana boleh di beri eskrim! Kau ingin dia sakit perut!” teriaknya. Sun Hee yang kaget segera mundur dan menjauhkan Hae Young. Telinga rapuhnya bisa jebol.
“Oppa kan tidak perlu berteriak. Ish jinjja..” Sun Hee memalingkan wajahnya ke arah lain. Ia malu sekali karena berkat teriakan super Siwon, mereka jadi pusat perhatian di jalanan yang banyak di lalui orang itu.

Siwon salah tingkah. Ia berdehem lalu memalingkan perhatiannya ke arah stand eskrim.
“Baiklah, aku akan membelikan eskrim untukmu saja.” ucapnya tanpa memandang Sun Hee. siwon berjalan lebih dulu ke arah stand itu. sun Hee tidak mengatakan apapun. Dia memandang punggung namja itu dengan tatapan kagum. Sudah ia duga, Choi Siwon memang baik. Perlahan kakinya berjalan mengikuti Siwon.
“Satu eskrim cokelat dan..” Siwon menoleh pada Sun Hee yang sudah berdiri di sampingnya.
“Vanilla.” Jawabnya. Siwon agak terkesiap dan kepalanya menoleh cepat ke arah gadis di sampingnya yang terlihat santai. Ia agak tercengang. Kenapa Sun Hee harus menyebutkan rasa yang paling di sukainya? Sebenarnya Siwon tadi ingin membeli rasa itu tapi ia malu. Vanila? Ayolah, namja normal mana yang memakan eskrim rasa vanila? Itu tidak ‘namja’.

Penjual eskrim itu tersenyum sambil menyerahkan dua cone eskrim cokelat dan vanila. Siwon mengambilnya.
“Wah, putramu manis sekali.” Ucapnya ramah. Sun Hee terkesiap. Ia memandang Siwon yang juga terkejut. apa mereka memang tampak seperti sepasang suami istri yang jalan-jalan bersama anaknya?
“Aku juga ingin sekali mengajak putriku jalan-jalan. Tapi selalu saja sibuk. Jadi, semoga Anda menikmati waktu liburan bersama keluarga..”
Siwon tertawa ringan. Ia menggandeng Sun Hee refleks, seolah memperlihatkan bahwa mereka memang pasangan yang akur.
“kami, memang sedang berjalan-jalan bersama..”
Sun Hee entah bagaimana caranya ikut tertawa. “hahaha..iya. ahjussi, anakku tampan kan, seperti ayahnya..” candanya.

Penjual eskrim itu tertawa juga. ia tiba-tiba teringat sesuatu. “Oh iya. Kami juga memiliki eskrim khusus untuk balita. Jadi putramu juga bisa menikmati eskrim..” ucapnya.
Sun Hee terkesiap. “Jinjja?”
Tak lama penjual itu memberikan eskrim yang tidak terlalu dingin. Dan di bentuk menyerupai beruang. Hae Young melonjak senang sambil berusaha menggapai-gapai eskrim itu dengan tangan mungilnya.
“Lihat, sepertinya putramu juga menyukainya.”
Sun Hee mengambilnya lalu mengucapkan terima kasih. Setelah itu mereka kembali berjalan-jalan, mencari tempat yang nyaman untuk menikmati eskrim mereka.

“Oppa, mau tukar eskrim denganku?” tawar Sun Hee. dia menyerahkan eskrim vanila miliknya. Siwon mengerjap.
“Tidak apa-apa?” tanyanya.
“Ne. Ambillah.”
Siwon menukarkan eskrim Sun Hee dengan eskrim cokelatnya. Gadis itu tersenyum manis dan tidak mengatakan apapun setelahnya.

Mereka duduk di bangku taman yang berada di bawah naungan pohon. Menikmati eskrim sambil sesekali menyuapi Hae Young eskrim. Sepertinya bagi lidah bayi eskrim ini enak. Terbukti Hae Young tampak senang saat ia menyuapkannya eskrim. Mulutnya sampai belepotan.
“Aish..kau ini..” Sun Hee hendak mengambil tissue dari dalam tas tangannya untuk mengelap bibir belepotan Hae Young. Namun ia kesulitan.
Siwon tidak bisa terus berpangku tangan. “Sini, aku yang pegang Hae Young.” Ia tidak tega melihat Sun Hee kesulitan seorang diri. Bayi manis itu kini duduk tenang di pangkuan Siwon. Hae Young memang tidak rewel tapi dia anak yang tidak mau diam. Tangannya dan sekitar mulutnya sudah belepotan oleh eskrim.

Sun Hee segera membersihkan mulut Hae Young yang duduk manis di pangkuan Siwon.
“Aigoo..kau ini manis sekali, Youngie..” seru Sun Hee gemas sambil mencubit pipinya. Hae Young tertawa riang. Membuat Siwon maupun Sun Hee ikut tertawa. Kini, perhatian Siwon hanya tertuju pada wajah gadis itu yang tertawa senang. caranya tertawa, caranya bergerak, semuanya membangkitkan minatnya.
“Sepertinya kau sangat cocok jika menjadi ibu..” Siwon menyadari kata-kata itu meluncur begitu saja dari mulutnya tanpa bisa di cegah. Ia mengatupkan bibirnya segera setelah kalimat itu terucap.
Sun Hee berhenti mengelap bibir Hae Young dan beralih menatap Siwon. Tersembunyi raut kaget dalam sorot matanya. untuk menyembunyikan hatinya yang mendadak gemetar, ia memilih tersenyum.
“Menjadi ibu? Hahah..sepertinya tidak buruk. Itu pun jika Ayahnya kau, Oppa..” candanya.

Deg

Gurauan Sun Hee rupanya berdampak serius bagi namja itu. terbukti kini Siwon terpaku.

Sun Hee merasakan dadanya kembali sesak. Ini tidak ada hubungannya dengan penolakan Siwon. Tapi ia sendiri tidak yakin apakah bisa mencapai tahap itu atau tidak.

“Ah, aku tahu. oppa pasti tidak mau kan. Lee Sun Hee, kau jangan banyak berharap. Siwon Oppa memiliki selera tinggi dalam memilih istri..” Sun Hee bermaksud mengatakan hal itu untuk dirinya sendiri.
Siwon diam. Ia tidak menemukan kata-kata yang tepat untuk membalas ucapan Sun Hee.
“Choi Siwon itu menyukai yeoja yang senyumnya manis, anggun, feminim, dan mudah di ajak bergaul. Seseorang yang tidak membuatnya malu karena sikapnya. Seseorang yang tidak terpengaruh kultur barat, tidak tahu malu, dan berbicara tanpa berpikir sepertiku. Ah..benar juga..” ocehnya lagi.
Siwon masih terdiam. Bagaimana mungkin Sun Hee sangat mengenalnya sementara ia sendiri tidak ingat bagaimana pertemuannya pertama dulu dengannya. Ia tidak tahu sedikitpun tentang Sun Hee. karena satu-satunya yeoja yang memenuhi pikirannya hanya Tiffany Hwang. Mendadak saja ia merasa sangat bersalah.

“Aku bukannya tidak menyukaimu, Sun Hee..” ucap Siwon memecah keheningan. Ia menatap serius wajah yeoja itu. sesaat, kenapa ia baru sadar kalau adik sahabatnya ini memang cantik. Sungguhkah dulu dia ini tomboy?
Sun Hee balas menatap Siwon. Ia seperti menemukan secercah harapan di mata hitam milik namja itu.
“Aku hanya..belum siap menerima pernyataanmu.” Namja itu menunduk sejenak, sebelah tangannya mengusap kepala Hae Young yang sibuk mengemuti tangannya. Sun Hee tak berkata apapun. Ia hanya mencermati kata demi kata yang terucap dengan baik. Agar ia tidak salah paham nantinya.
“Kau tahu kan, aku tidak mudah jatuh cinta. Bahkan dengan bodohnya aku sudah menanti gadis yang bahkan tidak menyukaiku. Lalu mendadak kau muncul dan mengatakan jatuh cinta padaku, sejujurnya hal itu membuatku terkejut. ini bukan masalah kebiasaan Amerika-mu. Tapi..ini karena aku yang belum siap menerima cinta yang lain.”

Sun Hee diam. Jadi, maksudnya..ia memiliki harapan? Kemungkinan cintanya akan terbalas?

Saat sibuk meresapi ke adaan hening. Sesaat kemudian kening keduanya sama-sama mengeryit bingung. entah kenapa tercium bau tak sedap di dekat mereka.
“bau apa ini?” tanya Siwon bingung. Sun Hee mengendus-endus daerah di sekitarnya dan menyadari bahwa bau itu berasal dari Hae Young. Jangan-jangan..
Tiba-tiba saja Hae Young menangis kencang. Membuat Sun Hee makin yakin dengan dugaannya. Ia menatap Siwon ragu.
“Oppa..sepertinya Youngie..pup..” cicitnya pelan.
“Nde??” Siwon mengerjap kaget. Tangannya yang mendekap Hae Young bergetar.
“Lalu, bagaimana ini..”
“Biar ku urus..Hae Young memakai popok. Pup-nya tidak akan mengotori bajumu.” Mendengarnya Siwon mendesah lega. Sun Hee menggendong Hae Young lalu menoleh ke kiri dan kanan mencari tempat untuk mengganti popoknya.
“Itu..di sana ada toilet umum” Siwon menunjuk ke sebuah tempat bertuliskan ‘WC Umum’. Sun Hee mengangguk paham. Ia mengambil tas yang berisi perlengkapan Hae Young lalu membawanya ke sana.
“Oppa, kau tunggu di sini oke..”
Siwon mengangguk. Ia memperhatikan Sun Hee sampai gadis itu benar-benar masuk dengan selamat ke dalam toilet.

Siwon melamun selama beberapa saat. Pikirannya melayang kemana-mana. Ia bingung sekarang. Apa yang harus dilakukannya? Tetap menunggu Tiffany atau..

“Choi Siwon…”

Namja itu tertoleh cepat mendengar suara yang dikenalnya. Ia mengerjap cepat menyadari Tiffany Hwang berdiri di depannya. Siwon langsung melonjak dari tempat duduknya.
“Tiffany-ssi..” ucapnya terbata. “Sedang apa kau di sini?”
“Jalan-jalan. Ini hari yang cerah. Lagipula aku sangat menyukai pemandangan di Cheonggyecheon. Sangat indah.” Ucapnya dengan wajah riang.
“Ah, memang benar..” ucapnya gugup dan kepalanya tertoleh ke sekitar.
“Kau sendirian atau..”
“Aku sendiri..” ucapnya langsung. Fine, secara teknis dia memang sendiri saat ini. Jadi ia tidak berbohong kan? Tapi kenapa ia merasa bersalah ya?
“Oh..kukira kau sedang berkencan..” canda Tiffany. Siwon tertawa hambar. Entah kenapa apa yang membuatnya gugup. Ini bukan gugup yang menyenangkan. Ia seperti maling yang takut tertangkap.
“Kudengar kau sedang sibuk syuting.” Siwon mengalihkan pembicaraan.

Tiffany mengangguk senang. “Film layar lebar. Jika filmnya sudah diliris, aku akan memberimu tiketnya”
“Benarkah? Aku akan menunggunya..”
Tiffany bisa melihat kegugupan dalam tingkah Siwon dengan jelas. Apa lebih baik ia pergi saja? sepertinya Siwon sedang tidak ingin di ganggu.
“Kalau begitu aku pergi dulu..” pamitnya. Baru beberapa langkah, Siwon memanggilnya kembali.
“Tiffany..” ucapnya. Langkah gadis itu terhenti. Dengan gerakan anggun, Tiffany membalikkan badannya.
“Iya?”
“Itu..janji kita..di, Namsan Tower tanggal 23..kenapa kau tidak pernah datang untuk menepatinya?” tanya Siwon gugup. Ia merasakan seluruh tubuhnya bergetar.

Sejenak Tiffany menghentikan senyumnya. Ia kembali teringat janji yang memang sengaja ia ingkari. Ia ingin mengatakan yang sebenarnya pada Siwon, hanya saja saat itu ia tidak memiliki keberanian untuk mengungkapkannya. Jadi, karena ulahnya, Siwon benar-benar menunggunya setiap tahun?

“Anu, Siwon-ah..ada sesuatu yang perlu kau ketahui..” ucapnya. Kali ini ia yang tampak gugup. Terselip juga perasaan bersalah di wajahnya yang sedikit panik itu.
Siwon menatap Tiffany baik-baik. Mendadak ia merasa takut. Mata gadis itu menatap lurus ke arahnya.
“Siwon-ah..Mianhae..aku tahu ini bukan saat yang tepat. Tapi aku tidak mau membuatmu menunggu lagi.” Ucapnya. Tiffany membasahi bibirnya yang kering.
“Aku, tidak menyukaimu. Aku menyukai temanmu, Kyuhyun. tapi..” Tiffany menggelengkan kepalanya. mata gadis itu berkaca-kaca. “Dia terlalu polos untuk menyadari perasaanku dan aku pun terlalu takut untuk mengatakannya hingga pada akhirnya…semuanya sudah terlambat sekarang. Dia sudah menikah dengan gadis lain.”

Siwon terpaku di tempatnya berdiri. Tubuhnya bergetar tak menentu. Dan hatinya terguncang. Jadi selama ini Tiffany memang menyukai pria maniak game itu? dan penantiannya selama bertahun-tahun sia-sia belaka?? Dia sudah ditolak?

“Dan aku tidak memiliki niat untuk lari padamu saat hatiku hancur. Aku tidak ingin berpikir memanfaatkanmu atau semacamnya. Tapi kita bisa memastikan satu hal. Kita tetap bersahabat.” Tambah Tiffany lagi. “Karena itu, Siwon-ah..aku tidak bisa menerima perasaanmu. Maaf sudah membuatmu menunggu terlalu lama.” Tiffany membungkukkan badannya. Sementara Siwon masih berdiri kaku di tempatnya.
“Maafkan aku..” lirih Tiffany sekali lagi. Gadis itu menundukkan kepalanya sekilas sebelum berbalik pergi. tapi baru beberapa langkah dia berhenti.
“Siwon-ah..” panggilnya.

Siwon yang masih diam membisu terpaksa mengangkatkan kepalanya.
“Gadis bernama Sun Hee itu, terimalah dia. Dia gadis yang baik.”
Pria itu mengerjapkan matanya berkali-kali. Setelah menolak, dia malah menyarankan gadis lain untuknya? Di mana letak rasa kemanusiaanmu, Hwang Tiffany? Dia tidak sadar bahwa sekarang Siwon sangat sakit hati. Menunggu selama bertahun-tahun hanya demi sebuah penolakan?

—o0o—

“Ah, kau sudah wangi lagi Youngie sayang..” Sun Hee tersenyum puas dengan hasil kerjanya. Ia berhasil mengganti popok Hae Young, mendandaninya lagi hingga sekarang bayi manis ini kembali wangi dan menggemaskan.

Hae Young menangis lagi. Sun Hee segera menimang-nimangnya dan ternyata dia hanya mengantuk. Tak lama tertidur dalam dekapannya.
“Anak manis..” ucapnya pelan. Ia memandangi wajah tertidur Hae Young. Sungguh menggemaskan.
“Kau pasti tidak akan ingat kejadian hari ini. Tapi Nuna akan mengingatnya. Nuna bahkan tidak tahu bisa melihatmu tumbuh besar atau tidak..” Sun Hee dengan bodohnya mengajak Hae Young berbicara. Tapi justru berbicara pada bayi seperti ini membuat hatinya tenang. karena Hae Young tidak mungkin memahami apa yang ia bicarakan dan ia bisa melampiaskan perasaan sedih yang ia pendam selama setahun terakhir. Yaitu pertanyaan terbesarnya…

Apakah aku bisa berumur panjang?

Sun Hee berhenti meratapi diri sendiri. Ia harus segera menemui Siwon sebelum namja itu berkoar-koar kembali. Aigoo, ia bahkan tidak secerewet itu. ada juga ya, namja seperti Siwon. Cepat panik, cerewet, namun gigih. Dan karena itulah ia suka.

“Siwon—“ langkahnya terhenti dan tubuhnya menegang saat ia melihat Siwon sedang berbicara dengan Tiffany. Mengapa gadis itu bisa berada di sana? Sun Hee ingin mendekat namun niatnya terurung karena ia melihat wajah Siwon yang tegang. Apa yang sudah Tiffany katakan padanya? tega sekali membuat namja sebaik Siwon mengeluarkan ekspresi seperti itu.

Gadis itu terlihat membungkukkan badannya lalu pergi. membuat Siwon benar-benar tampak seperti patung hidup yang hampir menangis. Sun Hee menggeram tertahan. Jika ia tidak sedang menggendong Hae Young, ia pasti sudah berlari lalu menjambak rambut panjang Tiffany.

Ia menderap mendekati Siwon. Ia ingin menghibur namja itu. selama kakinya masih menginjak bumi, ia tidak akan membiarkan Siwon bersedih.

“Siwon Oppa..Lihat, Hae Young tertidur. Bagaimana kalau kita pergi.” ucap Sun Hee. namja itu belum bergerak dari tempatnya berdiri. Matanya masih menatap kosong ke arah Tiffany pergi. pria di hadapannya ini seolah tuli dan bisu. Ia tidak menyadari kehadiran Sun Hee maupun ucapannya.

Sun Hee menghela napas berat. Ia tahu ini pasti terjadi. Bayangkan, siapa yang tidak sakit hati jika cinta yang selama ini di nantikan berakhir sia-sia? Itu sama saja dengan mimpi buruk yang terwujud di dunia nyata.
“Siwon Oppa..Jangan bersedih begitu. Gadis di dunia ini bukan hanya Tiffany Hwang.” Ucapnya. Baru saat ia mendengar nama Tiffany, Siwon bereaksi dan menyadari keberadaan Sun Hee di sana. Namja itu menatapnya tajam.
“Tiffany Hwang? Gadis itu sudah menolakmu.” Ulang Sun Hee. ia tidak peduli dengan wajah mengerikan Siwon saat ini. Ia hanya ingin membuat namja itu tersadar akan tindakan bodoh yang sudah ia lakukan.
“Jangan bicara lagi, Lee Sun Hee..” ucap Siwon dingin. Rahangnya yang kokoh bergemeretak menahan emosi.
“Dia sudah menolakmu, Siwon Oppa. Sadarlah! Berhenti mengharapkan cinta—“
“KUBILANG JANGAN BICARA LAGI!!!”

Sun Hee terkejut bukan main. Ia mundur beberapa langkah untuk menenangkan dirinya dan perasaannya yang bergejolak. Ia merasa lututnya lemas karena ini pertama kalinya Siwon meneriakinya seperti ini. Tapi ia tidak bisa menyalahkan Siwon. Namja itu hanya sedang terguncang sekarang. Dan melampiaskan perasaannya. Wajahnya memerah dan matanya tampak berair.

Siwon pun tidak mengerti kenapa ia bisa kehilangan kontrol seperti ini. Dan ia sadar betul tindakannya tadi sangat keterlaluan. Lihatlah kondisi Sun Hee sekarang. Gadis itu terlihat pucat dan tangannya mendekap erat Hae Young.

“Kau kan tidak perlu berteriak kan, Hae Young sedang tidur. bagaimana kalau..”
Benar saja, detik berikutnya bayi dalam dekapannya itu menangis kencang.
“Lihat, Oppa..gara-gara teriakanmu..aish, sebaiknya aku pulang saja..” Sun Hee lebih baik membiarkan Siwon sendirian. Namja ini harus menenangkan diri. Sun Hee mencoba menenangkan Hae Young sambil berjalan pergi.
“Sun Hee..kau mau kemana..” teriak Siwon. Ia baru tersadar. Sial! Ia harus mencegah Sun Hee pulang seorang diri!
“Aku harus pulang. Oppa, kau pasti sedang ingin sendirian, kan.” Ucap Sun Hee tanpa ingin menoleh ke belakang, karena sekarang Siwon sedang mengejarnya.

Namja itu melangkah lebih lebar, setelah jaraknya dekat, ia mengulurkan tangannya untuk menahan bahu Sun Hee. menghentikan langkah cepat gadis itu.
“Kau ingin pulang sendiri? Berdesakan di bis? Hae Young tidak akan nyaman.”
Sun Hee diam, ia juga bukannya tidak menyadari hal itu. “Aku bisa naik taksi.” Iya, benar. Naik taksi bisa lebih aman kan.
“Uangmu akan terkuras banyak. Sudahlah, kau pergi bersamaku, pulang pun harus bersamaku.” Siwon tidak ingin mendengar acara bantah membantah lagi. Ia menarik Sun Hee pergi ke tempat mobil mereka di parkir.

—o0o—

Keadaan selama perjalanan pulang terasa hening dan tenang. baik Siwon maupun Sun Hee tidak berniat mengeluarkan kata-kata. Hae Young pun tertidur nyenyak di pelukannya setelah tadi meminum susu yang sudah di siapkan ibunya.

“Em..itu..” Siwon terdengar bicara tapi berhenti lagi. Perhatian Sun Hee pada pemandangan di luar mobil teralihkan. Ia menoleh pada namja di sampingnya.
“Ne?” tanyanya lemah.
“Aku minta maaf sudah membentakmu tadi. aku tidak bermaksud melakukannya.”
Sun Hee tersenyum tipis. “Tidak apa-apa. Oppa hanya sedang terguncang. Malah seharusnya Oppa memporak-porandakan taman saja agar hatimu itu puas.”

Siwon tergelak mendengarnya. Benar juga, kenapa itu tidak terpikirkan olehnya ya? Merusak taman kota memang lebih baik daripada membentak orang yang tidak bersalah. Memperbaiki taman lebih mudah daripada memperbaiki hati manusia. Lagipula dia seorang arsitek, merancang taman yang lebih indah bukan hal yang sulit baginya.

“Kau pasti tahu Tiffany Hwang..dia sudah menolakku.” Ucap Siwon. Ia sekarang justru ingin menceritakan isi hatinya sekarang. Pada seseorang yang bisa memahami dirinya seperti Sun Hee. ia tidak mungkin menceritakannya pada teman-temannya. Mereka pasti akan menertawai dan mengatakan ini adalah akibat dari tindakan bodohnya.
“Aku tahu. bagaimana rasanya? Menyakitkan bukan?” ucapnya halus. Siwon mengangguk. Ia ingin menangis tapi ditahannya karena sekarang ia sedang menyetir.
“Sangat.” Ucapnya pelan dan dalam.

Sun Hee terdiam meresapi perasaan yang kini sedang menyelimuti suasana di antara mereka.

“Hanya mengaguminya dari jauh, diam-diam menyukainya, lalu di buat menunggu sekian lama dan pada akhirnya ditolak dengan alasan dia menyukai orang lain. Bagaimanapun hati akan hancur karenanya. Bahkan rasa sakit itu terlalu perih jika hanya dipendam dan tidak dilampiaskan. Dada mendadak sesak dan rasanya sekali bernapas.”

Siwon termenung. Mengapa Sun Hee bisa tahu benar kondisinya sekarang. Hatinya memang sudah hancur lebur dan dadanya sangat sesak bahkan untuk bernapas pun begitu sulit. Yang ia inginkan sekarang justru terjun ke dalam jurang dan melupakan semuanya. Tapi bukankah itu tindakan bodoh? Mati karena cinta, oh..dia bukan orang sekonyol itu.

Sun Hee sebenarnya tidak sedang membahas bagaimana kondisi Siwon. Ia sedang membicarakan perasaannya sendiri. Menunggu selama bertahun-tahun, mengagumi diam-diam, dan saat bertemu kembali ternyata cinta itu tidak kunjung menghampirinya malah semakin menjauh. Lalu bagaimana ia bisa melanjutkan hidup? Oh, bahkan hidup pun mulai mengkhianatinya..

Tuan Choi, apa kau memberiku kesempatan? Batinnya menatap Siwon sungguh-sungguh. Sekarang, bukan saat yang tepat untuk masuk ke dalam hati yang sedang rapuh. Ke datangannya hanya akan membuat hati rapuh itu semakin hancur. Ia akan menunggu. Sampai Siwon benar-benar kuat dan melupakan cinta lamanya.

Tapi, kapan waktu itu tiba?

—o0o—

“Sun Hee..Kita sudah sampai..” bisik Siwon. Sun Hee tak sadar ia sudah tertidur. Ia mengerjapkan mata dan menyadari bahwa ia memang sudah berada di depan rumahnya. Siwon sudah berdiri di sampingnya.
“Sini, biar aku yang menggendong Hae Young..” Siwon mengambil alih Hae Young yang masih tertidur pulas dengan hati-hati. Sun Hee keluar perlahan dari dalam mobil. Siwon membiarkannya berjalan lebih dulu ke dalam rumah.

Sun Hee membuka pintu rumah dengan mata yang setengah terpejam, sejujurnya ia masih mengantuk. Tapi kenapa suasana rumah gelap gulita begini..ia meraba-raba dinding di sampingnya mencari sakelar.

Ctakk..

“SAENGIL CHUKHAHAMNIDA!!!!!!!”

Sun Hee melonjak kaget. Karena bersamaan dengan lampu yang menyala, mendadak saja ada puluhan confetti yang di arahkan padanya. bagaimana mungkin.. sekarang semua orang-orang terdekatnya berkumpul di sana menyanyikan lagu selamat ulang tahun untuknya. Apa ini.. memang hari ini ia ulang tahun?

“Ayo dongsaengku..tiup lilinnya..” ucap Donghae menyodorkan kue ulang tahun dengan huruf 24 di atasnya. Ia segera meniupnya.
Sun Hee sangat terharu. Ia tak percaya akan mendapatkan kejutan seperti ini.
“Memang sekarang hari ulang tahunku?” tanyanya polos.
“Tentu saja, jika tidak untuk apa kami berkumpul di sini..” ucap Appanya. Sun Hee menoleh pada semua orang dengan perasaan bahagia yang tak terkira. Kemudian pandangannya terhenti tepat pada sosok Siwon yang tersenyum penuh kemenangan padanya. aish, rupanya ini alasan mengajaknya jalan-jalan mendadak? Sun Hee tersenyum manis untuknya. Dalam hati ia ingin mengucapkan rasa terima kasih. Tapi itu bisa nanti.
“Jadi, Oppa menitipkan Hae Young padaku agar bisa menyiapkan pesta kejutan ini untukku? Ah, senangnya..rupanya kau tidak melupakan hari ulang tahunku kali ini..”

Donghae mengusap tengkuknya. Ia tampak tidak tenang. aish, jangan bilang..
“Sebenarnya dia juga lupa kali ini, Sun Hee. beruntung aku sudah mengingatkannya! Seperti biasa.” Serobot Kyuhyun. ah, sudah ia duga. Dari dulu Donghae memang selalu melupakan ulang tahunnya.
“Huh, aku sudah tahu. oppaku yang bodoh ini tidak mungkin berubah.” Cibir Sun Hee.
“Aigoo, kasar sekali!” sentak Donghae jengkel.
“Memang benar kok. Weeee!!”

Donghae ingin sekali menjitak adiknya, tapi terpotong karena mendadak ia mendengar suara putranya menangis. siwon terkejut lalu segera menimangnya kembali.
“Omo..putraku..” Haebin segera mengambil alih Hae Young dan menimangnya.

Setelah itu, pesta berlangsung dalam suasana kekeluargaan. Sun Hee senang sekali. Di sela-sela kehidupannya yang sesak, ternyata ia masih bisa merasakan kebahagiaan kecil seperti ini. Ia harus mengucapkan banyak terima kasih pada mereka.
Sun Hee berjalan menuju taman tempat favorit ibunya di rumah itu. dan ia menemukan Siwon sedang duduk di sana. Menikmati indahnya taman di sore hari.
“Oppa..kenapa tidak ikut berpesta di dalam?”
Siwon menoleh sejenak, menyadari itu Sun Hee ia langsung menggeleng. “Kau tahu kan, keadaanku sedang tidak baik.” Ucapnya di iringi senyum ringan.
Sun Hee menganguk. Ia duduk di samping Siwon. Sejenak mereka hanya diam tanpa berkata apa-apa. menikmati bunga-bunga cantik yang mekar indah di sinari sinar senja yang kekuningan.
“Oppa..” Sun Hee berinisiatif membuka mulut lebih dulu. namja itu menoleh.
“Jika kau sedang sedih. Kau bisa menangis di hadapanku” ucapnya sungguh-sungguh.

Siwon tertawa pelan, entah kenapa, melihat Sun Hee berkata dengan wajah polos seperti itu membuatnya senang.
“wae? aku serius. Dan aku berjanji tidak akan menertawaimu.” Tambahnya. Siwon berhenti tertawa.
Ia memandang Sun Hee dengan serius.
“Terima kasih, Lee Sun Hee. di saat aku sedih, kau tetap menunjukkan perhatianmu.” Ia memang tidak sedang bercanda. Ia sungguh berterima kasih karena ada juga wanita yang mencintainya seperti yang dilakukan Sun Hee.

Untuk beberapa saat, mereka terdiam kembali. Sun Hee meremas tangannya sendiri. Ia menoleh ke sampingnya dengan ragu.
“Oppa..” panggilnya. Siwon menengok..

Chuupp..

Siwon terbelalak kaget. Karena..saat ini..ia merasakan bibir lembut gadis itu menempel sempurna di bibirnya. ada perasaan aneh yang tak biasa menjalari hatinya sekarang. Bibir itu tidak bergerak. Hanya menempel dan beberapa detik kemudian terlepas begitu saja bahkan di saat ia belum bisa menyiapkan dirinya sedikitpun.
“Gomawo..” ucap Sun Hee tulus. Entah apa maksudnya. Karena setelah itu, Sun Hee berdiri lalu meninggalkannya pergi sendiri. Siwon terpaku. Tubuhnya kaku sempurna. Dan ia tercegang.

Terima kasih? Untuk apa?

To be continued..

58 thoughts on “Shady Girl Siwon’s Story (Part 6)

  1. haduh aku kok takut cerita ini sad ending yaa😥 apalagi pas di toilet umum sun hee bilang gitu ke hae young *padahal hae young juga gabakalan paham*

  2. Wahhh si sunhee ckckck lngsung nyelonong aja yehh ahhahhahahha tp bguslah dr pd dia cmn jd cewek kalem yg gak mau prjuabgin cintanya.

  3. Kekekekeekek trnyata Sunhee dkrjai klrganya n tmn2 kkknya,, tp gk d sngka dksi kjutan ultah,,ah snengnya,, qu jg mauuuuuu

    siwon sllu aja dbkin trkjut ama Sunhee,,, nnti aplg yahhh???

Your comment

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s