Shady Girl Siwon’s Story (Part 5)

Tittle : Shady Girl Siwon’s Story Part 5
Author : Dha Khanzaki a.k.a Shin Je Young
Genre : Romance

Main Cast :

  • Lee Sunhee
  • Choi Siwon

Support Cast :

  • Lee Donghae as Sunhee’s Brother
  • Kim Kibum
  • Tiffany Hwang

Warn : typo merajalela

Shady Girl Siwon's Story by DhaKhanzaki

==Part 5==

“Siwon-ssi, mianhae yo.” Sun Hee membungkukkan badannya pada Siwon sebelum ia benar-benar masuk ke dalam rumahnya. Siwon memalingkan pandangannya ke arah lain. Tampaknya suasana hatinya sedang tidak baik. Dan Sun Hee tahu benar penyebabnya adalah pengakuannya di pesta tadi.

Sejak Sun Hee turun dari panggung, Siwon sudah menunjukkan sikap anehnya. Ia tidak mau memandang Sun Hee. berbicara pun enggan menatap wajahnya. bahkan Siwon memilih berdansa dengan Tiffany di banding dengannya. Oh, yang terakhir itu tentu saja terjadi. Secara naluriah Sun Hee sudah meminta maaf sejak di pesta.

“Tidak apa-apa. Hanya saja lain kali kau jangan mengulanginya. Kau membuatku terkejut.” ucapnya tanpa memandang Sun Hee.
“Baik, lain kali aku akan berhati-hati.”
Siwon terdiam sejenak, sepertinya ia ingin mengatakan sesuatu. Ia menoleh cepat ke arah Sun Hee. akhirnya..setelah hampir 2 jam ia di acuhkan, Siwon mau menatapnya juga.
“em, tapi bolehkah aku tahu sejak kapan kau menyukaiku??”
“Sejak SMU. Ah, sebenarnya jauh lebih lama.”
Siwon mengerutkan kening. “Jauh lebih lama?”

Sun Hee menatap sendu namja yang masih duduk di dalam mobilnya itu. “Kau benar-benar tidak mengingatku?” tanyanya sedih.
“Apa kita sudah kenal lama?”
“tidak. Tapi kita sudah pernah bertemu dulu.”
Siwon memiringkan kepalanya, mencoba mengingat. “Aku tidak ingat. Mianhae.”
“It’s okay. Sekarang sudah malam. sebaiknya kau pulang.” Ucap Sun hee. ia menundukkan kepalanya lagi sebelum akhirnya melangkah masuk ke dalam rumah. Siwon menghela napas. Harus bagaimana lagi, ia memang tidak ingat.

—o0o—

“Mwo?” Taemin tersentak bangun. Sulli yang sedang membaca komik di sampingnya ikut kaget.

Eunhyuk mengangguk lalu melangkah duduk di salah satu kursi di meja makan. Mereka sekarang sedang berkumpul bersama di rumah orang tua Eunhyuk. Mira sedang sibuk membantu Umma di dapur.

Taemin bangkit dari sofa tempat ia berbaring malas-malasan tadi. ia segera berlari mendekati kakaknya.
“Hyung, kau tidak bohong kan? Sun Hee Nuna sudah kembali?” tanyanya dengan mata berbinar.
“Sudah kubilang iya.” Ucap Eunhyuk malas. Ia tidak tahu dengan jelas bagaimana hubungan Taemin dengan Sun Hee dulu. tapi ia tahu bahwa adiknya itu sangat mengagumi sosok Sun Hee, adik Donghae yang dulu tomboy itu. terbukti dulu tiap pulang sekolah Taemin selalu menceritakan kejadian-kejadian yang dilaluinya bersama Sun Hee.
“Seperti apa dia sekarang? Apa masih sama atau..”
“Dia sangat cantik.” Potong Mira sambil meletakkan beberapa piring makanan di atas meja.
“Jinjja yo??? Whua..aku tidak sabar ingin menemuinya..” seru Taemin senang. Umma tersenyum melihat putranya sebahagia itu.

Sulli bangkit dan merasa nama yang di bicarakan itu tidak asing lagi di telinganya.
“Apa Sun Hee di sini adalah putri dari pemilik L.D corp?” tanya Sulli sambil duduk di samping Taemin. Eunhyuk mengangguk. “Dia adik Donghae. kau tentu tahu dia kan?”
gantian Sulli yang mengangguk. Tentu saja ia tahu. orang bernama Donghae itu adalah atasan kakaknya yang selalu berhasil membuat kakak tercintanya itu uring-uringan.
“Bagaimana kau tahu? kau mengenalnya?” serobot Taemin.
“Tidak. Aku hanya sempat mendengarnya beberapa saat lalu dari Appa.” Sulli terdiam sejenak melihat Taemin dan Eunhyuk menatapnya penasaran. “Lee Dong Il mengajukan lamaran pada Oppaku!”
“Nde!!!” seru kedua namja itu bersamaan. “Bagaimana bisa?”
Sulli mengangkat bahu. “Yang pasti mereka ingin menjodohkan gadis bernama Sun Hee itu dengan Siwon Oppa.”

“Mwooo!!!!” kini Teriakan kaget Taemin lebih mendominasi. Namja itu sampai bangkit dari duduknya.
“Katakan kau berbohong, Choi Sulli! Sun Hee Nuna tidak mungkin mau dijodohkan!” tanpa sadar Taemin malah membentak Sulli. Gadis itu kaget, ini pertama kalinya ia dibentak Taemin seperti ini.
“Mana aku tahu soal itu! tapi kau tenang saja, karena Oppaku sudah menolaknya!” Sulli balas berteriak.
“Yang benar?”
“Tentu saja, Lee Taemin!”
Eunhyuk segera menarik Taemin duduk kemudian ia memandang Sulli. “Jadi Siwon sudah menolak Sun Hee, begitu?” tanyanya.
Sulli mengendikkan bahu lagi. “Entahlah, tapi Oppa menolak tanpa tahu siapa calonnya. Dia menolak begitu saja saat Appa baru mengatakan kata ‘perjodohan’”

Taemin mendesah lega. “Syukurlah”

Mira kembali lagi meletakkan satu piring ayam goreng. “Bersyukurlah Taemin. Nuna tercinta mu itu tidak jadi dijodohkan.”
Taemin tersenyum tapi tak menjawab apapun.
“Ah, bayi kecil Umma sudah dewasa.” Ucap Umma. “Ternyata kau sudah mengerti cinta, ya”

Sulli memberengut diam-diam. Entah kenapa ia tidak suka sekali topik ini. Ia jadi ingin tahu seperti apa gadis bernama Sun Hee itu.

—o0o—

Satu bulan terlewati sudah tanpa ada kejadian yang menyenangkan. Sun Hee bekerja dengan baik di perusahaan Appa-nya. Beberapa kali ia bertemu dengan Siwon di kantor dan mereka hanya bertegur sapa seadanya. Bahkan saat presentasi seperti sekarang pun, Siwon hanya diam memperhatikan Sun Hee yang sedang menjelaskan sesuatu di depan sana. Pikirannya terbagi dua.
Sejak pesta itu, ia belum bertemu lagi dengan Tiffany. Kyuhyun bilang kalau Tiffany sekarang sedang sibuk kembali di dunia entertainment. Mungkin beberapa bulan lagi di bioskop-bioskop akan ada film baru yang dibintangi olehnya.

Siwon penasaran kenapa ia tidak menyadari gadis itu menaruh hati pada Kyuhyun. padahal mereka cukup dekat saat SMU dan di universitas dulu. dan ia tidak akan pernah tahu jika kemarin ia tidak melihat ekspresi Tiffany saat tahu Kyuhyun sudah menikah.

Ia jadi ingat saat pertama kali ia bertemu Tiffany.

#Flashback#

Kelas 2 SMU

Waktu itu suasana sekolah tengah ramai karena ada pertandingan basket. Ia dan teman-temannya tergabung dalam tim basket sekolah dan ikut bertanding.

Saat waktu jeda pertandingan tiba, Siwon yang bercucuran keringat segera berlari ke tepi lapangan untuk beristirahat. Ia duduk di bangku yang di sediakan di tepi lapangan. Sambil mengusap keringat, tenggorokannya terasa kering. Namun ia lupa membawa air minum dan air yang disediakan untuk pemain sudah habis di teguk oleh Kyuhyun.

“Chogi..”

Sebuah suara lembut mengagetkannya. Siwon mendongak ke arah asal suara dan menemukan sosok gadis cantik berdiri di sampingnya. Tangan gadis itu mengulurkan sebotol air mineral untuknya. Siwon tersanjung, ia segera mengambilnya karena ia memang membutuhkan air itu.
“Gomawo.” Siwon menundukkan kepalanya sekilas. Gadis itu hanya tersenyum lalu kembali berlari ke arah bangku penonton. Matanya tidak bisa lepas dari sosok gadis itu. ini pertama kalinya hatinya bergetar saat menatap mata seorang yeoja. Apa mungkin ia jatuh cinta?

“Hoi, kenapa diam saja? kau tidak mau minum?” Eunhyuk menepuk pundaknya, membuatnya terkesiap dan tersadar kembali dari alam bawah sadarnya.
“Kau, mengagetkan saja.” tanpa basa-basi Siwon segera meneguk airnya. Ah, air ini sudah menjadi penyelamat jiwanya. Rasa haus yang menggerogoti tenggorokannya tadi hilang sudah.

“eh, kau tahu gadis tadi?” tanya Eunhyuk pada Siwon.
“gadis yang mana?”
“Yang tadi memberimu air.”
“Oh.” Ucapnya acuh tak acuh. “Siapa dia?”
“Dia itu Hwang Mi Young. Dia primadona sekolah kita. Kau tidak tahu?”
“Jinjja? Tidak. Aku tidak tahu.”
“Ah, kau harus banyak bergaul dengan para gadis, itu wajar untuk remaja seperti kita.” Ungkapnya bangga.
“Aku bukan dirimu.” Jawabnya cuek.

Semenjak itulah, ia mulai tertarik untuk mengetahui apapun yang berkaitan dengan Tiffany.

#flashback end#

“Demikian laporan dari saya. Atas perhatiannya, terima kasih.”

Suara Sun Hee membuat Siwon terhentak dari alam pikirannya. Sudah berapa lama ia melamun? Bahkan ia tidak mendengarkan sedikitpun apa yang di bahas gadis itu tadi.

“Kau tampak aneh hari ini.” Tegur Donghae begitu rapat usai.
Siwon membereskan berkas-berkasnya tanpa begitu mempedulikan teguran sahabatnya itu.
“Apa karena adikku?” tanyanya lagi karena Siwon belum menunjukkan tanda-tanda ingin menjawab.
“Bukan.”
“Lalu?”
Siwon mengangkat seluruh berkasnya kemudian menatap Donghae bingung.
“Sejak kapan kau jadi ingin tahu urusan orang lain? Setahuku sejak dulu kau tidak pernah mau tahu urusanku?” Siwon malah menuduh yang bukan-bukan.
“Aku tidak sedang mencampuri urusanmu, Tuan Choi. Aku begini karena ini menyangkut masalah adikku.” Bantah Donghae.
“Sudah kubilang ini tidak ada kaitannya dengan Sun Hee.”
“Kalau begitu, berhentilah mendiamkan adikku. Kau tahu, Leeteuk Hyung bilang dia sudah seperti mayat hidup di rumah. Selalu melamun dan mengurung diri di kamar.”

Sun Hee jadi pendiam? Masa sih. Ia lihat gadis itu baik-baik saja. bahkan tadi dia bisa presentasi di depan dewan direksi dengan baik dan lancar.
“Baiklah, aku akan mencobanya.”
“Bagus. Dia adikku satu-satunya. Meskipun dia agak menyulitkan, tapi dia anak yang baik.” Donghae menepuk pundak Siwon. “Dan aku senang karena dia jatuh cinta pada orang yang kukenal dengan baik. Jadi, jangan kecewakan dia.” Setelah mengatakan itu Donghae pergi meninggalkannya sendirian di ruang rapat.

Aish, apa maksud ucapannya? Kalimat tadi sangat membebani pikirannya.

—o0o—

“Kau mau kemana?” tanya Donghae saat melihat adiknya sudah membereskan meja kerjanya dan bersiap pergi.
“Siang ini aku ada latihan drama, Oppa. Jadi aku hanya kerja setengah hari. bye..” Sun Hee segera melesat pergi tanpa menghiraukan kakaknya yang terkejut dan memanggil-manggil namanya.
“dasar anak itu. kapan sifat kekanakannya menghilang.” Dengusnya kesal. “Tapi, memang dia ikut drama apa?”

Sun Hee memang tidak mengatakan pada siapapun bahwa ia menerima ajakan Raymond Kim untuk ikut serta drama musical perdananya di Korea. Latihan itu sudah ia mulai dari 2 minggu yang lalu. Ia akan berusaha keras untuk drama ini. Karena ada satu tujuan yang ia inginkan. Yaitu membuat Siwon terkagum pada penampilannya di atas panggung nanti.

“Yap, latihan selesai.” Teriak Raymond Kim seraya bangkit dari tempat duduknya. Beberapa pemain dan penari segera berjalan menjauh dari arena latihan. Sun Hee merasa dadanya sesak karena ia terlalu lelah berlatih. Ia segera meneguk air mineral seraya sesekali mengusap keringatnya.
Rasa lelahnya tidak ia hiraukan. Membayangkan Siwon tersenyum lebar sambil bertepuk tangan keras setelah melihat pertunjukkannya nanti mampu membuat rasa lelahnya hilang.
“Siwon-ssi, lihat saja nanti.” Gumamnya. ia mengeluarkan botol kecil berwarna kecoklatan dari dalam tasnya lalu mengeluarkan satu butir obat. Sun Hee segera meneguknya. Rasa lelahnya pun hilang dalam beberapa saat. Yah, setelah ini ia bisa berdiri tenang.

—o0o—

Ternyata, memang tidak mudah menghindari orang yang ditemui tiap hari. hal ini dirasakan sendiri oleh Siwon. Ia mencoba menghindari Sun Hee namun pada akhirnya tetap bertemu dengan gadis itu juga.
“Siwon-ssi, kenapa kau menghindariku? Bukankah aku sudah minta maaf waktu itu.” ujar Sun Hee ketika Siwon membalikkan badannya begitu bertemu dengannya di dekat lift. Siwon mendadak gugup, ia terpaksa membalikkan badannya menghadap Sun Hee.
“Tidak. Aku tidak menghindar.”
“Kalau begitu masuklah. Menunggu lift berikutnya pasti lama.”

Siwon menimbang-nimbang apakah ia harus masuk atau tidak. Oh, demi Tuhan. Berhentilah jadi namja pengecut, Choi Siwon. Akhirnya ia memutuskan masuk.
“Nah, bukankah itu tidak sulit.” Ucap Sun Hee. siwon tidak menjawab. Ia segera memencet tombol 22.
“Oh, kau ingin ke greenroof juga rupanya.” Seru Sun Hee senang. Siwon menoleh kaget.
“Kau..hendak ke sana?”
“Iya. Udara di sana sejuk. Jadi, ya..aku ingin refresing di sana”

Siwon menghela napas berat. Aish, tahu begini ia tidak akan masuk lift.

Sun Hee tidak mengatakan apapun selama lift membawa mereka menuju lantai teratas gedung itu. ia tahu Siwon masih segan mengajaknya mengobrol. Sesampainya di lantai 22, Siwon mendahului Sun Hee keluar dari lift. Dan ia juga lebih dulu menapaki tangga menuju ke atap gedung itu. Sun Hee mendesah namun tidak mengeluarkan sepatah katapun. Choi Siwon sepertinya memang enggan berada di dekatnya.

Udara sejuk segera menusuk indera penciumannya saat Sun Hee menginjakkan kaki di atap gedung yang di sulap menjadi taman di atas bangunan itu. Sun Hee mengedarkan pandangannya ke sekitar. Tempat ini indah sekali. Ia tersenyum.

Siwon sebenarnya kemari untuk menyalurkan hobinya. Melukis. Ia selalu duduk di tempat ini dan menghabiskan berjam-jam hanya untuk menyelesaikan satu sketsa rancangan bangunan. Inspirasinya mengalir begitu saja jika ia berada di sana. Ia sudah bersiap duduk di tempatnya biasa dan mengeluarkan buku sketsanya. Sebagai seorang arsitek professional, ia menuntut kesempurnaan dalam karyanya. Karena itu, selama inspirasi itu mengalir lancar, ia tidak ingin di ganggu sama sekali. Tapi, sekarang ia tidak bisa tenang karena ada gadis itu di dekatnya.

Aneh memang, namun Siwon merasakan ada getaran aneh jika Sun Hee ada di dekatnya. Karena itu, ia tidak suka jika berpapasan apalagi berdiri berdampingan dengan gadis itu. ia tidak suka dengan debaran aneh yang menjalari seluruh urat nadinya. Dan sebagai pria, ia enggan mengakui hal memalukan itu.

Namja itu mulai menggoreskan pensilnya di atas buku sketsa. Ia sedang mendapatkan inspirasi. Namun konsentrasinya terhenti ketika ia mendengar suara tawa dari arah belakangnya. Siwon kesal dan berniat mengumpat. Tapi, kata-kata yang sudah ada di ujung lidah itu terpaksa ia telan kembali saat melihat Sun Hee sedang tertawa lepas mengejar kupu-kupu di antara bunga-bunga.

Ini aneh, ia seperti tersihir dan lupa bagaimana caranya berkedip. Sun Hee berhenti di antara rumpun bunga mawar putih yang mekar lalu mencium salah satu kuntumnya. Melihatnya ia mengerjap. Mendadak saja, Siwon mendapatkan ide baru. Ia tidak akan menyelesaikan sketsanya. Ia akan membuat sketsa yang baru dan Sun Hee sebagai obyek utamanya. Inspirasi itu mengalir begitu saja dalam pikirannya. Tangannya yang terampil itu mulai bergerak menciptakan karya baru.

Sun Hee tersenyum melihat bunga-bunga mekar dengan indah. Hobi ibunya menyukai bunga rupanya menurun. Entah berapa lama ia terdiam di tempatnya hingga akhirnya ia menoleh ke arah Siwon yang sedang sibuk menggambar sesuatu di atas buku sketsa. Ia mendekatinya perlahan dan berhenti di belakang Siwon.

Matanya melebar dan mulutnya mengeluarkan decakan kagum begitu melihat sketsa yang di gambar Siwon saat ini. Meskipun masih berupa coretan gambar berwarna hitam putih, namun Sun Hee tidak bisa memungkiri bahwa sketsa ini sangat indah. Siwon menggambar sebuah rumah bergaya neo gothik dengan taman indah di bagian depannya. Rumah itu tidak terlalu besar, hanya berlantai 2 namun entah kenapa bila melihatnya Sun Hee merasa masuk ke dalam cerita dongeng.

“Cantiknya..apa itu rumah impianmu, Siwon-ssi?”

Siwon mendongkakan kepalanya kaget. Sejak kapan Sun Hee berada di belakangnya?
“Oh, ne.”
“Wah, ternyata hobimu belum berubah sejak dulu, ya..” Sun Hee duduk di samping Siwon.

Ah, tentang yang satu itu Siwon juga penasaran. “Sejak dulu? memang kita benar-benar sudah kenal lama? atau kau sedang berbohong.”
“Tidak. Aku jujur kok. Dulu bukankah kau sering datang ke rumahku lalu diam di taman samping rumah untuk menyelesaikan sketsa? Aku sering memperhatikanmu sampai tertidur.”

Sun Hee ingat dengan jelas kenangan itu. jika Siwon berkunjung ke rumahnya, namja itu senang menghabiskan waktu duduk di taman buatan Ummanya karena pemandangan di sana indah dan sejuk. Sun Hee sering sekali memperhatikannya diam-diam dari jendela kamarnya. Bahkan saat Siwon terlalu lama berkutat di sana, Sun Hee sampai ketiduran.

“Ah, benar juga.” ujar Siwon. Mendadak saja perasaannya menjadi ringan.
“Siwon-ssi, bukankah kau tidak suka dilupakan?” tanya Sun Hee tiba-tiba. membuat jantungnya tersentak. Sun Hee menatap lekat wajah namja itu.
“Kalau begitu, kau pasti tahu bagaimana rasanya. Sesak, perih, sakit. sampai rasanya seperti oksigen yang biasa kau hirup di rebut secara paksa dan membuatmu tercekik. Lalu, bagaimana caranya kau mengatasi hal itu?”

Siwon tidak langsung menjawab. Ia sempat diam beberapa saat lamanya.
“Mengapa kau bertanya?”
“Karena kita orang yang sama. Aku juga tidak suka dilupakan. Tapi nyatanya, aku justru dilupakan”
“Apa maksudmu?”
Sun Hee tersenyum masam. “Rupanya kau memang tidak mengingatku, Siwon-ssi. Padahal aku sudah bersusah payah mengubah diri hanya untuk membuatmu tertarik. Menyedihkan sekali diriku, sudah berjuang panjang ternyata orang yang ku sukai…”

“Berhenti.” Potong Siwon. Otomatis Sun Hee mengatupkan bibirnya.
“Sudah kubilang kan, hilangkan kebiasaan Amerika-mu itu.” Siwon menatap Sun Hee. “Bersikaplah seperti wanita Asia pada umumnya dan hilangkan rasa tidak tahu malumu itu. Berhenti menyatakan perasaanmu lebih dulu pada namja. Itu benar-benar membuatku terkejut.” cerocos Siwon. Ia tidak bermaksud sama sekali membentak Sun Hee. hanya saja getaran aneh itu muncul kembali. Ia bangkit.
“Sebaiknya aku pergi. tidak baik jika aku terus berada di sini. Permisi.” Siwon meninggalkan Sun Hee sendiri.

Seperginya Siwon, gadis itu termenung. Seandainya Siwon tahu alasannya seagresif ini..

—o0o—

“kau kenapa?” Leeteuk cemas melihat Sun Hee tampak pucat saat akan menaiki tangga.
“Ani, Oppa. Aku hanya kelelahan.” Ya, Sun Hee memang agak kelelahan karena tenaganya terlalu di porsir untuk latihan drama musical yang tinggal satu bulan lagi.
“Kau harus memeriksakan diri ke dokter, Sun Hee. kau butuh asupan vitamin tambahan. Ah, temui saja Kibum. Dia pasti bisa membantumu.” Leeteuk segera menyerahkan sebuah kartu nama pada Sun Hee. ia benar-benar mencemaskan kondisi anak bungsu Tuan Lee itu.
“Baiklah, aku akan ke sana Oppa..”

Sun Hee sudah muak dengan obat dan rumah sakit. tapi ia harus kembali menapakinya karena kondisi kesehatannya yang memburuk.

@Seoul General Hospital

“Hmm..apa kau sudah mengetahui hal ini sejak lama?” tanya Kibum saat memeriksa hasil rontgen. Sun Hee mencengkram ujung bajunya. Ia agak terkejut mendengar penuturan Kibum. Dengan gerakan pelan ia mengangguk. Kibum menghela napas.
“Kuberi kau 2 nasihat.” Ucap Kibum membuat rahang gadis itu mengemeretak takut. “Berhenti dari pekerjaanmu atau menjalani perawatan lebih lanjut”

Aku tidak mau yang manapun! Teriak Sun Hee dalam hati. Gadis itu hanya menggigit bibirnya tanpa berniat menjawab.

“Aku tidak mau yang manapun, Dokter Kim.”
“Tapi jika ini tidak ditangani segera, aku takut..”
“Aku bisa menjaga diri.” Potong Sun Hee. “dan aku yakin tidak akan apa-apa. Asal anda memberikanku obat yang tepat, aku akan meminumnya dengan patuh.” Ia terlalu takut untuk berhenti dari pekerjaannya ataupun mengikuti perawatan. Apa jadinya jika keadaannya di ketahui banyak orang? Sekarang tangannya bergetar hebat. Rasa takut itu kembali menjalarinya. Bagaimana jika keadaannya diketahui orang? Bagaimana jika ia dilarang ikut semua kegiatan yang ia sukai lagi? Bagaimana jika…

“Baiklah..” Kibum memilih mengalah karena ia tidak tega melihat Sun Hee yang ketakutan. Ia akan memberikan gadis itu resep yang cocok. Tapi obat saja tidak menjamin kesembuhannya.
Sun Hee mendesah lega. Ternyata Kibum bukan dokter pemaksa seperti dokter yang ia temui di Amerika sana. Jelas-jelas ia masih sehat dokter itu sudah menyuruhnya berhenti dari pekerjaannya. Jadilah Sun Hee memilih kembali ke Korea.
Setelah Sun Hee menerima kertas berisi resep obat, ia menatap Kibum serius. “Dan Dokter, aku harap anda bisa merahasiakan ke adaanku dari siapapun. Entah itu keluargaku, temanku, bahkan Siwon Oppa sekaligus.”
“Itu..kau yakin?” tanya Kibum cemas. Keadaannya sangat serius. Bagaimana mungkin ia harus menangani semuanya seorang diri.
“Sangat yakin. Kalau begitu..” Sun Hee baru akan membungkukkan badannya namun mendadak kepalanya seperti berkunang-kunang.
“Gwaenchana?” seru Kibum panik karena sepertinya Sun Hee akan tumbang. “Sepertinya aku harus mengantarmu hingga depan” Ia segera memapah gadis itu untuk berjalan. Ia tidak mungkin membiarkan pasiennya berjalan sendirian dalam keadaan lemah seperti ini. Bagaimana jika Sun Hee jatuh pingsan di tengah perjalanannya?

Sementara itu..

Ja Rin mendenguskan napasnya kesal. Sudah beberapa kali ia mencoba menghubungi Kibum tapi tidak di jawabnya. Padahal ia yakin sekarang bukan jam sibuk kekasihnya itu. Ja Rin akhirnya memutuskan memasuki rumah sakit. sebenarnya ia tidak suka, tapi terpaksa.

Baru beberapa langkah saja ia memasuki lobi rumah sakit yang besar itu langkah kakinya perlahan memelan dan berhenti. Ja Rin terpaku. Bagaimana tidak, ia melihat pacarnya itu sedang menggandeng yeoja dan yeoja itu ia kenal. Lee Sun Hee.

“Ki-Kibum Oppa..” lirihnya.

Dokter itu menoleh, begitu juga Sun Hee. ia lebih terkejut melihat Ja Rin. Bagaimana ini, Ja Rin bisa salah paham bila melihat keadaan sekarang. Dan benar saja, Ja Rin melangkah cepat mendekati mereka dengan wajah memerah, menahan emosi.
“Oppa, kukira kau sedang sibuk menangani pasien hingga tidak bisa menganggkat teleponku. Ternyata kau..”
Kibum membelalakkan matanya, tidak mungkin kan saat ini Ja Rin sedang salah paham. Dia memang sedang menangani pasien sekarang.
“Ja Rin-ah..” Kibum berusaha menenangkan namun tak mungkin juga ia melepaskan Sun Hee yang kondisinya belum stabil. Ja Rin menggeram melihat Kibum masih tetap melingkarkan tangannya di lengan Sun Hee. ia tidak bisa melotot pada kekasihnya itu, jadilah ia menatap Sun Hee tajam.
“Nona Lee, bisakah kita bicara? Ini percakapan antar wanita.” Suara Ja Rin begitu menusuk. Mana mungkin Sun Hee sanggup menolaknya?
“Baiklah.” Ia menoleh pada Kibum. “Kibum-ssi, kau bisa melepaskanku sekarang.” Ucapnya sambil tersenyum. Kibum tidak ingin mendapat masalah lain jika ia tidak menurutinya, perlahan Kibum melepaskan tangannya.
“Silakan kalian bicara, aku masih harus menangani pasien.” Ucap Kibum. Ia melirik pada Ja Rin sebentar, meminta pengertian dari gadis itu. tapi sepertinya Ja Rin terlalu emosi untuk menyadarinya.

@Cafetaria

Sun Hee dan Ja Rin duduk berhadapan di salah satu meja di cafetaria rumah sakit. Ja Rin tidak bisa berhenti menatap tajam gadis yang beberapa saat lalu bermesraan dengan pacarnya.
“Jadi, apa tujuanmu datang kemari? Sebagai pasien atau yang lain?” interogasinya. Sun Hee mengulum bibirnya ragu.
“Aku kemari untuk menemui Dokter Kim.”
Rahang Ja Rin bergemeretak. “Menemui kekasihku??” tanyanya tajam dengan penekanan di setiap katanya.
“Iya. Memang kau pikir apa lagi?” tanya Sun Hee. dalam hati ia meminta maaf yang sebesar-besarnya pada Ja Rin. Ia hanya tidak ingin kondisinya di ketahui. Biarlah ia di cap gadis jahat.
“Kau ini benar-benar tidak tahu malu. Kibum sudah memilikiku! Dan kau juga bukankah menyukai Siwon Oppa?!!” bentak Ja Rin dengan suara keras. Beruntung kafetaria sedang sepi.
Sun Hee menatap Ja Rin dengan pandangan datar. “Aku tahu, karena itu kau jangan lepaskan pacarmu. Tetaplah berhubungan dengannya seperti dulu.”

Ja Rin benar-benar tidak mengerti jalan pikiran gadis di hadapannya ini. Dia sungguh tidak tahu malu. Dia berniat mendekati Kibum tapi tidak menyuruhnya pergi? hoho..rupanya dia ingin menguji seberapa tangguh cintanya pada Kibum.
“Jadi kau ingin bertanding secara adil denganku? Hah, baik..aku tidak akan menyerahkan Kibum-ku padamu! Ingat itu!” Ja Rin menggebrak meja sebelum akhirnya ia pergi.

Sun Hee menundukkan kepalanya. ia merasa bersalah. Ia tidak bermaksud sedikitpun membuat hubungan Ja Rin dan Kibum renggang. Ia hanya berharap dengan ini Ja Rin tidak salah paham.

—o0o—

Hari ini ia libur. Tidak ada jadwal kantor ataupun jadwal latihan. Sun Hee memandang langit yang cerah dengan awan berarak di atasnya. Keindahan itu tidak bisa menghilangkan rasa yang sekarang menggerogoti dirinya. Sakit. ia takut sekali jika sewaktu-waktu ia tidak kuat menahannya dan jatuh. Ani..Sun Hee menggeleng keras. Itu tidak akan terjadi.

Mendadak ia bosan. Seharian di rumah rupanya tidak semenyenangkan seperti dugaannya. Sun Hee terkesiap oleh suara deringan ponsel.

Drrttt drrttt..

Dengan setengah hati, Sun Hee segera mengangkat ponselnya yang berbunyi nyaring itu.
“haloo..”
“Em, Sun Hee..”
Ia mengerjap begitu suara Siwon menusuk telinganya. Tidak salah kan? Ini benar-benar Siwon yang meneleponnya? Buru-buru Sun Hee menegakkan tubuhnya. “Iya..” jawabnya cepat.
“Apa kau ada waktu hari ini?”
Ha? Untuk apa Siwon menanyakan waktu? Jangan-jangan..Sun Hee berusaha tenang dan suaranya normal. Ia tidak boleh terlalu antusias.
“Ha? Memang kenapa?”
“Aku ingin mengajakmu..pergi berjalan-jalan mungkin..”

Demi apel yang jatuh dari pohonnya!!! Sun Hee melonjak dari duduknya dengan perasaaan sukacita yang meledak-ledak. Ini adalah berita bahagia! Tentu saja, siapa yang menolak.
“Tentu saja. aku mau!!!” serunya senang. Meski ia tidak mengerti kenapa tiba-tiba Siwon mengajaknya keluar. Tapi siapa peduli.
“Bersiap-siaplah. Aku akan menjemputmu.”

Setelah menutup pembicaraan, Sun Hee segera melesat mengganti bajunya dan berdandan secantik mungkin. ia harus tampak cantik. Begitu selesai, ia berjalan cepat menuruni tangga untuk menunggu Siwon.
Langkah lebarnya terhenti, saat menuju pintu depan, Sun Hee bertemu dengan kakaknya, kakak iparnya, dan si kecil Hae Young yang datang berkunjung hari ini.
“Loh, tumben Oppa kemari.” Ucap Sun Hee. donghae menoleh saat adiknya itu tinggal beberapa langkah lagi di hadapannya.
“Ah, Sun Hee. kebetulan sekali” Donghae tersenyum manis. Senyum mencurigakan yang membuat Sun Hee memundurkan langkahnya.
“Apa?” tanyanya agak berteriak. Ia hapal betul kebiasaan Donghae saat ingin memintainya bantuan.

Donghae mendekat. Ia tanpa basa-basi menyerahkan Hae Young ke pangkuan adiknya. Sun Hee terbelalak kaget.
“Mwo? Apa maksudnya ini???” teriak Sun Hee tak rela. Hae Young malah tertawa senang melihat bibinya panik begini. Ia mengira Sun Hee sedang mengajaknya bermain.

“Kami titip Hae Young, ya.”
Mata bulat gadis itu terbelalak lebar. “Ha? Kenapa??? memang kalian mau ke mana???”
“Kami ingin membeli sesuatu. Dan tidak mungkin mengajak Hae Young. Berhubung Appa dan Leeteuk Hyung tidak ada, jadi tinggal kau harapan kami.” Jelas kakaknya panjang lebar tanpa mendengarkan Sun Hee yang keberatan setengah mati. Kakaknya itu malah menyerahkan satu tas berisi perlengkapan Hae young pada Sun Hee.
“Kami titip permata kami ya. Hanya sampai sore nanti.” Ucap Haebin.
“Tapi..aku ada kencan hari ini!!!!!” rengek Sun Hee frustasi.
“Who’s care..” jawab Donghae dan Haebin bersamaan. Huh..dasar pasangan kompak! Sun Hee mendengus jengkel.
“Mama pergi ya, kamu bersama Sun Hee eonni dulu oke.” Haebin mengecup pipi putranya lalu pergi menggandeng suaminya keluar.

Sun Hee mematung di tempatnya sendiri. Sekarang bagaimana ini? Siwon akan datang sebentar lagi sementara ia harus menjaga Hae Young seharian. Ia melirik gemas pada keponakannya itu. Hae Young sibuk mengulum jarinya sendiri.
“Aigoo..Hae Young, orangtuamu benar-benar tidak berperasaan. Bagaimana mungkin mereka bersenang-senang berdua dan meninggalkanmu bersamaku? Memang kau mau?” tanyanya seperti orang bodoh. Mana mungkin bayi berusia 1 tahun bisa menjawab.
“Bhuubhhuu..” Hae Young seolah mengerti dan menjawabnya dengan bahasa bayi. Sun Hee mendesah. Ia akan meminta pengertian Siwon karena hari ini sepertinya ia akan membawa Hae Young ikut kencan mereka.

*Hae Young: Nuna..kita main kuda-kudaan yuuu!!*

To be continued..

61 thoughts on “Shady Girl Siwon’s Story (Part 5)

  1. Sakit apa sun hee?
    Aigoo haeppa pd hal adikmu mau kencan haha, gpp jd nya kan bisa ngeliat sun hee dan siwon kelabakan ngurus aegi ckckckc
    Siwon buka diri ngapa ke sun hee, dr pd nunggu yang gak pasti ><

  2. Sun Hee minum obat apa itu😮 Sun Hee sakit apa ? Apa karna ini Sun Hee sangat agresif kepada Siwon,karna hidupnya tidak akan lama lgi ?

  3. Wkwkwkwk org mau kencan malh diksi anak kcil buat d jaga,,, hahaha malangnya,,,,
    sprtinya Sunhee pnya pnyakit??? Pnykit apa yah???

Your comment

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s