Another Story In Shady Girl [Sungmin’s Story] // My Lovely Wife

Tittle : Another Story In Shady Girl [Sungmin’s Story] // My Lovely Wife
Author : Dha Khanzaki a.k.a Shin Je Young
Genre : Romantis, NC 21, Married Life

Main Cast :

  • Shin Insung
  • Lee Sungmin

Support Cast :

  • Kim Kibum
  • Kim Heechul

Hahahaha.. sesuai permintaan temen-temen author hadir lagi bawa genre terlarang dari Shady Girl. Kali ini author hadirkan cerita dari abang Umin yang katanya paling sedikit kisahnya *emang*.

Kalau encehnya gak hot, maafkan author yah. Author gak ahli bahas begituan jadi cuma bisa nyampe tahap ini aja. Author lebih demen bikin enceh yang romantis dibanding yang bikin keringet ngucur kayak airterjun. Jadi yah beginilah hahahhahah.. *ngakaksetan

Hati-hati kesandung typo. Author ngantuk waktu ngetik FF ini jadi gak sempet ngecek lagi.

Happy reading ^_^

Another Story In Shady Girl - My Lovely Wife by Dha Khanzaki

—o0o—
Lee Sungmin tidak perlu lagi terlalu disibukkan setiap paginya setelah dirinya menikahi Shin Insung. Kesehariann di pagi hari seperti menyiapkan sarapan, membereskan rumah, sampai mengurus Minki—putrinya yang berusia hampir enam tahun digantikan oleh istrinya. Hidupnya menjadi lebih indah, bahagia, dan berwarna setelah pernikahannya dengan Insung berjalan hampir dua tahun.
Seperti pagi ini, Sungmin membuka matanya dengan senyum mengembang di bibir. Ia mendudukkan diri di atas ranjang lalu melirik pada sosok cantik yang sedang membuka lemari, menyiapkan pakaian kerjanya.
“Oppa ingin sarapan apa pagi ini?” tanyanya sambil hilir mudik di sekitar Sungmin, mulai dari menyibakkan gorden lalu meletakkan pakaian-pakaian bersih ke dalam lemari.
“Terserah padamu,” Sungmin bangkit dan Insung segera membereskan tempat tidurnya.
“Minki sudah bangun?” ia bertanya setelah melihat jam dinding.
“Ya. Sekarang aku akan membawanya melihat-lihat sekolah. Dia semangat sekali mengingat sebentar lagi dia akan masuk SD,” ungkap Insung gembira. Sungmin benar-benar sangat bersyukur bisa menjadikan Insung istrinya.
Sungmin tersenyum lebar lalu memeluk Insung dari belakang, dengan erat membuat istrinya itu terkesiap sesaat.
“Oppa, kau mulai bertingkah seperti pengantin baru lagi,” candanya lalu mencubit gemas pipi Sungmin.
Sungmin membalas cubitan gemas Insung dengan ciuman lembut di pipinya. Dia menyandarkan dagunya di pundak Insung.
“Memang jika bukan pengantin baru tidak boleh bermesraan seperti ini?” Insung terkekeh, merasa aneh dengan tingkah Sungmin yang mendadak romantis. Biasanya Sungmin selalu bergegas bangun, mandi, sarapan, setelah itu pergi mengantarkan Minki ke TK. Tak pernah ada waktu untuk bermesraan seperti ini, kecuali di malam hari di saat Minki sudah terlelap tidur.
Sungmin tidak menjawab, hanya bersandar pada bahu Insung sambil sesekali menghirup aroma tubuh Insung yang sangat disukainya. Sebelumnya ia selalu kecewa karena tidak ada gadis yang mau menerima dirinya yang sudah memiliki anak. Semenjak istrinya meninggal, Sungmin membesarkan Minki seorang diri tanpa istri di sampingnya. Karena itu ia berpikir gadis yang sangat hebatlah yang bisa menerima dirinya dan Minki. Dan ia menemukan semua itu dalam diri gadis sederhana seperti Insung. Gadis itu begitu mencintainya dan putrinya. Sungmin berjanji tidak akan membiarkan Insung sedih ataupun menangis dan ia mencintainya sepenuh hati.
“Saranghaeyo, yeobo,” bisik Sungmin lalu mengecup leher Insung lembut. Insung menikmati perlakuan Sungmin dengan senang hati. Terkadang ia suka diperlakukan romantis seperti ini.
“Nado,” balasnya lalu mendesah saat kecupan Sungmin merambah naik ke pipinya. Bulu roma Insung meremang dan ia membiarkan dirinya terpedaya ketika Sungmin mengunci bibirnya dengan ciuman hangat. Insung merasa pegal karena harus mendongkakan kepala dan untuk mengimbanginya ia memegang rahang Sungmin erat.
“Eomma, Minnie tak menemukan tas Minnie..”
Insung mengerjap spontan menjauhkan wajahnya mendengar suara Minki dari luar kamar. Ia bertatapan dengan Sungmin sejenak yang menunjukkan ekspresi kaget serupa dengannya.
“Minki mencariku, Oppa. Sebaiknya kau bersiap-siap dulu, nanti terlambat pergi ke kantor,” Insung segera menghampiri Minki sementara Sungmin menghela nafas di tempatnya. Yah, padahal tadi sedang seru-serunya.

—o0o—

“Sabtu nanti jangan lupa datang ke acara kelulusan Minki,” ucap Insung ketika mereka dalam perjalanan. Seperti biasa, Sungmin mengantarkan Minki dan istrinya ke TK tempat Minki bersekolah sekaligus TK milik keluarga Insung. Di sana pula Insung mengajar anak-anak TK.
Sungmin menoleh pada Insung yang duduk di sampingnya dengan alis bertautan, “Oh ya? Jadi acaranya hari sabtu?”
Insung merengut heran melihat reaksi aneh yang diperlihatkan Sungmin. Suaminya itu tampak kebingungan.
“Kenapa Oppa? Apa ada acara hari sabtu nanti?” cemasnya. Ia menoleh pada Minki yang sedang asyik bermain game di jok belakang.
“Bukan begitu. Hanya saja hari sabtu nanti aku harus menghadiri sidang penting,” Sungmin terlihat kesulitan menjelaskan hal itu. Insung yang paham langsung menggenggam tangan Sungmin yang tidak memegang kemudi bermaksud menenangkan suaminya itu.
“Gwaenchana. Bukankah ada aku? Oppa selesaikan saja pekerjaanmu setelah itu—jika masih sempat datanglah. Kau harus melihat penampilan Minki di atas panggung untuk pertama kali. Dia akan menyanyi,” ujarnya mencoba memberi pengertian. Ia tidak mau memaksakan kehendak pada Sungmin. Jika Sungmin tidak bisa datang, tak apa. Ia hanya takut Minki akan sedih jika tahu Appanya tidak bisa melihat penampilannya perdananya.
Sungmin menatap istrinya dengan perasaan campur aduk. Bagaimana ini?

—o0o—

Sehabis pulang dari TK, Insung terbiasa mengajak Minki mengunjungi Haebin yang saat ini sedang dalam masa-masa menggembirakan mengurus putranya Hae Young yang berusia beberapa bulan. Insung terkadang meminta Haebin membiarkannya sekedar mengganti popok Hae Young ataupun memberi makan bayi lucu itu. Ia senang melakukannya.
“Lihat, giginya sudah mulai tumbuh, Haebin!!” seru Insung girang melihatnya ketika ia memberi Hae Young makan bubur bayi. Minki asyik mengajak Hae Young bermain sementara Haebin sedang sibuk membereskan baju putranya ke dalam lemari.
“Ah, reaksimu sama seperti Donghae Oppa saja. Itu wajar kan mengingat usia Hae Young sudah enam bulan,” jelasnya sambil tersenyum. Insung gemas sekali. Ia makin semangat memberinya makan. Tangan mungil Hae Young selalu mencoba meraih sendok yang diulurkan Insung padanya. Hal itu membuat Insung kesulitan memberinya makan dan membuat bibir bayi itu belepotan.
“Aigoo, kau tidak suka diam ya, sama seperti ibumu,” ucap Insung membuat ibunya mendelik.
“Hei, tentu saja dia mirip sepertiku. Dia putraku tahu,”
“Tapi wajahnya lebih mirip suamimu,” cukup dengan melihat wajah Hae Young siapapun akan berkata sama dengannya. Hae Young benar-benar Donghae Junior, wajahnya sama seperti Donghae ketika masih kecil dulu.
“Tentu saja. Donghae Oppa adalah ayahnya,” Haebin sebenarnya tidak terlalu suka jika ada yang mendengar putranya lebih mirip suaminya. Kenapa tidak ada yang mengatakan anaknya mirip dengannya?
“Itu jelas membuktikan kau lebih mencintai suamimu dibandingkan suamimu mencintaimu,” lanjut Insung. Haebin tersenyum kemudian mendengarnya.
“Itu juga benar. Hajiman, jika aku melihat Minki, aku seperti melihat Taeyeon Eonni. Dia benar-benar duplikat dirinya. Meskipun aku belum pernah bertemu dengannya, tapi cukup melihat Minki aku seperti bertemu dengannya. Sungmin Oppa dulu pasti benar-benar mencintai Taeyeon Eonni,” gumam Haebin sambil menatap Minki penuh arti. Ia segera mengatupkan bibirnya menyadari ekspresi Insung yang meredup.
“Ah, aku tidak bermaksud membuatmu sedih Insung-ah. Bukankah sekarang Sungmin Oppa mencintaimu?”
Insung memaksakan diri tersenyum. Ia mencoba meyakinkan diri sendiri akan hal itu. “Yah, begitulah,” ucapnya tak bersemangat.
Insung sangat tahu, tidak sepantasnya ia merasa cemburu jika mendengar seseorang mengatakan suaminya sangat mencintai mantan istrinya yang sudah meninggal dunia itu. Itu bukan sesuatu yang patut dicemburui. Buktinya Sungmin tidak kunjung menikah juga meski usia Minki saat itu sudah menginjak umur 4 tahun. Pria lain mungkin sudah menikah lagi namun Sungmin tidak. Insung pernah mempertanyakan hal itu dan Sungmin hanya menjawab dengan tenang; ‘aku akan menikah lagi jika menemukan wanita yang bisa menjadi istri sekaligus ibu bagi Minki’.
Sulit memang menemukan gadis yang mau menerima pria yang sudah menjadi duda. Apalagi dengan seorang anak. Tapi Insung yakin bukan itu alasan sebenarnya. Mustahil bagi seorang Sungmin menikah kembali. Dia sukses, pintar, dan tampan. Insung yakin alasan mengapa Sungmin tidak menikah karena dia masih mencintai Taeyeon—mendiang istrinya.
“Insung-ah, apa kau tidak berencana memiliki anak?” tanya Haebin tiba-tiba. Insung berhenti menyuapi Hae Young sejenak lalu menoleh. “Anak?” ujarnya terkejut.
“Ya, anakmu dan Sungmin Oppa,” tambahnya. Insung terdiam memikirkan ucapan Haebin. Ia memang sempat ingin memiliki anak. Tapi Sungmin sepertinya belum menunjukkan tanda-tanda ingin memiliki anak lagi.
“Bukankah aku sudah memiliki Minki?”
“Tapi kau pasti menginginkan anak yang lahir dari rahimmu sendiri?” Haebin menghampiri Insung, lalu menggendong anaknya yang mulai menangis lalu memberi asi untuk putranya itu.
Insung masih terdiam, dia hanya mengusap kepala Minki yang kini duduk di pangkuannya dengan pikiran mengelana. Memiliki anak yang lahir dari rahim sendiri? Ya, haebin tidak salah. Dia memang menginginkannya. Sebenarnya ia selalu iri melihat Haebin yang begitu bahagia ketika putranya lahir. Sebagai wanita, ia ingin merasakan kegembiraan seperti itu.
“Aku penasaran, anakmu kelak akan lebih mirip siapa ya? Mirip dirimu atau Sungmin Oppa?”
“Aku rasa akan mirip Sungmin Oppa,” Insung menjawabnya pelan, terdengar jauh karena dia mengatakannya sambil melamun. Sepertinya begitu, karena dirinya lebih mencintai Sungmin dibanding Sungmin mencintai dirinya.

—o0o—

Insung mulai dirudung kecemasan setelah berbicara soal anak dengan Haebin. Perkataan Haebin sangat mempengaruhinya. Kau pasti menginginkan anak yang lahir dari rahimmu sendiri? Oh, tentu saja. Siapa yang tidak mau.
Pintu depan terdengar dibuka seseorang. Insung yakin itu adalah Sungmin yang baru saja pulang kerja. Kesibukannya sebagai pengacara sering membuatnya pulang begitu larut. Insung berjalan menghampiri suaminya.
“Selamat datang,” ucapnya lalu mengambil tas yang ditenteng Sungmin, membantu suaminya itu membuka jasnya. Sungmin tersenyum, menarik pinggang Insung. Membuat Insung yang sedang melepas dasinya terkesiap kaget. Refleks Insung memeluk pundak Sungmin.
“Oppa, kau membuatku kaget.” Insung memukul pelan dada Sungmin. Pria itu terkekeh senang. Rasa lelah dan penatnya lenyap sudah saat ia melihat wajah Insung yang menggemaskan seperti sekarang.
“Apa Minki sudah tidur?” Sungmin bertanya sementara tangannya mengelus pipi Insung dengan gerakan halus. Sebelah tangannya yang lain menarik pinggangnya agar tak ada jarak yang memisahkan mereka.
“Sudah. Dia terlalu lelah setelah latihan cukup lama,”
“Hmm..lalu?” tangan Sungmin merambah turun mengusapi tengkuk Insung. Ia tahu itu adalah titik lemah Insung. Terbukti sekarang istrinya itu sudah menutup mata dan nafasnya tidak teratur lagi.
“Oppa pasti lapar. Aku sudah menyiapkan makan malam,” Insung sadar Sungmin sudah mendekatkan wajahnya dan ia tahu apa yang terjadi karena itu Insung segera menutup matanya.
“Aku bisa makan malam setelah ini,” gumamnya lalu berikutnya mendaratkan bibirnya di permukaan bibir Insung. Sungmin selalu senang mencium bibir Insung saat pulang ataupun sebelum berangkat ke kantor. Bibir Insung selalu terasa manis baginya. Terlebih, karena Insung selalu memberikan respon yang ia sukai. Seperti sekarang, Insung lebih bersemangat melumat bibirnya. Tangannya yang semula memegang dasi sudah mengalung di lehernya.
“Ngghhh..” Sungmin menggeram saat desahan tertahan Insung menusuk telinganya.
Insung merasa gairahnya terpancing. Ia meraba dada Sungmin yang masih tertutup kemeja. Pasrah saja ketika Sungmin mengangkat tubuhnya dan secara perlahan membaringkannya di atas sofa ruang tamu.
Sungmin tersenyum sejenak melihat Insung yang menatapnya sayu sebelum kembali meraup bibirnya. Mereka saling bergumul di tempat sempit dengan tangan Sungmin yang mulai masuk ke baju tidur tipis yang dikenakan Insung. Sedikit menyingkapnya agar ia bisa leluasa mengusap perut rata Insung.
“Oppaaa—hh..” Insung menggeliat ketika Sungmin mengusap dadanya yang tak tertutup bra.
“Wae?” Sungmin terlalu sibuk mengecup leher Insung sekarang, tak mempedulikan Insung yang terus menggeliat dan tangannya mencengkram erat kemejanya. Insung memang terlalu sensitif sejak awal.
“Kita bisa melakukannya di kamar—ahh..” Insung menjenjangkan lehernya ketika Sungmin menghisap bagian itu lalu ciumannya turun ke bahunya.
“Kita belum pernah melakukannya selain di sana.” Balas Sungmin lalu menghisap bagian dada atas Insung.
“Kau bahkan belum..ouhh..mengganti bajumu,” Insung menggigit bibirnya merasakan rangsangan yang begitu kuat. Tangan Sungmin sudah menyingkirkan underwearnya, mengusap daerah intimnya dengan gerakan lembut. Terkadang menekannya, lalu memainkan klitorisnya, membuat Insung rasanya gila.
“Baik, aku akan mandi. Tapi kau harus ikut mandi denganku,” bisik Sungmin. Sebelum Insung menjawabnya Sungmin sudah mengangkat tubuhnya, perlahan membawanya ke kamar. Insung tidak memberontak. Dia hanya memperhatikan Sungmin yang menatapnya penuh arti. Terkadang mereka terlibat dalam ciuman singkat penuh gairah sampai akhirnya tiba di kamar mandi yang ada di kamar mereka. Sungmin menurunkannya di sisi bathtub.
Insung mendapati dirinya merona malu. Mereka tidak pernah berhubungan intim di kamar mandi sebelumnya. Seperti yang dikatakannya, biasanya mereka melakukannya sambil berbaring di ranjang yang nyaman. Tidak di tempat lain.
“Aku ingin mandi. Kau benar-benar ingin ikut?” tanya Sungmin sambil perlahan menanggalkan pakaiannya satu persatu. Insung sebenarnya tak bermaksud memperhatikan itu semua, hanya saja ia tidak sanggup menatap hal lain. Seharusnya jantungnya tidak berdebar kencang seperti sekarang. Bukankah ia sudah terbiasa melihat suaminya tanpa busana? Tapi jelas saja berbeda jika bukan dalam suasana intim. Matanya mengerjap kemudian ketika Sungmin mengecup bibirnya lagi lalu mengambil botol shampo dan masuk ke dalam shower room.
“Yeobo, selagi aku mandi, siapkan makan malam saja. Kita bisa lanjutkan ini nanti,” seru Sungmin.
Sungmin sedang menikmati kegiatannya mencuci rambut ketika sepasang tangan tiba-tiba saja melingkar di pinggangnya. Ia menoleh dan mendapati Insung tersenyum padanya. Sungmin lebih terkejut begitu tahun Insung tak lagi berpakaian seperti dirinya. Ia bahkan bisa merasakan kulit lembut Insung bergesekan dengan kulitnya, menimbulkan sensasi tersendiri. Apa dia serius ingin ikut mandi bersamanya?
“Yeobo, aku tidak serius dengan ucapanku tadi. Kau tidak seharusnya ikut mandi denganku,”
Insung tidak lekas menjawabnya. Malah asyik menciumi leher Sungmin dari belakang. Ia bahkan rela ikut tersiram air hangat yang meluncur dari shower di atasnya. Sungmin merasa seperti terbakar. Ia menggeram halus.
“Bagaimana bisa kubiarkan di saat ‘adikmu’ sudah membengkak seperti itu, Oppa,” bisik Insung. Sungmin melebarkan mata, lalu melirik ke arah selangkangannya. Tepat seperti yang dikatakan Insung. Miliknya memang sudah berdiri tegak.
“Ah, kau membuatku malu,” desah Sungmin kalah. Insung hanya tersenyum dan berniat melanjutkan kegiatannya. Namun ia sadar detik berikutnya punggungnya membentur dinding. Sungmin mendorongnya ke dinding lalu menciuminya ganas. Sisi liarnya sudah bangkit dan habislah Insung malam ini.
Mereka bergumul di bawah siraman air. Sensasi yang ditimbulkannya lebih luar biasa dibandingkan melakukan french kiss dengan cara normal. Sungmin menjauhkan wajahnya dan ketika mereka saling bertatapan, entah kenapa keduanya kompak tertawa.
“Oh, Oppa. Aku tidak menyangka kita bisa melakukannya di sini,” ungkap Insung. Tangannya melingkar di leher Sungmin.
“Nappeun. Bukankah kau yang memulainya!” Sungmin mencubit pipi Insung. Mereka saling memberikan kecupan ringan dan sesekali tertawa ringan.
“Enghhh..Insung..” Sungmin menggeram karena Insung mencuri start lebih dulu. Insung sekarang sedang mengurut pusat tubuhnya dengan tempo teratur. Sungmin memeluk pinggang insung sementara matanya terpejam dan kepalanya terdongak ke atas. Demi apapun rasanya nikmat sekali.
“Ppalli, Insung-ah..”
“Ekspresimu menggemaskan sekali saat terangsang, Oppa,” bisik Insung lalu mengecup lehernya. Sungmin membuka mata, menatap Insung dengan pandangan lapar. Wanita ini, sungguh membuatnya gila.
Sebagai balasan Sungmin meremas dada Insung, agak kasar karena pria itu sudah tidak bisa menahan diri lagi. Insung mendesah kencang. Mereka saling menatap dengan berbagai macam ekspresi. Keduanya sudah terbakar nafsu. Sungmin menarik tengkuk Insung lalu melumat bibirnya, mengajaknya ber-french kiss kembali. Insung agak kewalahan kali ini. Sungmin seperti ingin melahap habis bibirnya. Mereka saling menghisap, dan bertukar saliva. Sungmin semakin memojokkan Insung ke dinding sambil mematikan air shower saat sadar mereka terlalu lama tersiram air.
“Kaitkan kakimu dipinggangku, yeobo..” bisik Sungmin sejenak. Insung menurut lalu mengaitkan sebelah kakinya. Sungmin memegang paha Insung yang lain, sedikit mengangkangkannya untuk memberikan akses.
“Ouuuuhhhhhhh..” Insung memekik tertahan merasakan lesakan benda keras tiba-tiba di bagian kewanitaannya. Ia terengah karena dalam tempo beberapa detik saja benda tumpul itu tertanam di lubangnya.
“Oppa, bisakah kau melakukannya pelan-pelan?” omel Insung. Sungmin tersenyum singkat. Tak menjawab apapun karena detik berikutnya pinggangnya mulai bergerak perlahan. Insung memeluk punggung Sungmin refleks sementara Sungmin membenamkan kepalanya di leher Insung. Menciumi bagian itu secepat tempo gerakannya.
“Annhhiiyaa..Ohh..” Insung menggeliat sesekali merasa sengatan-sengatan listrik ketika Sungmin menyentuh titik ransangnya di dalam sana. Kepalanya bergerak-gerak gelisah ditambah permainan Sungmin di dadanya.
Sungmin memang lebih suka menekuni leher Insung saat berhubungan intim dibandingkan hal lain. Menurutnya bagian itu mampu membangkitkan gairahnya lebih dan lebih dan membiarkan desahan Insung menggema di telinganya. Ia suka mendengarnya. Insung menarik paksa kepala Sungmin dari lehernya lalu melumat bibir merah Sungmin untuk meluapkan nafsunya.
“Yeobo..Aku..” Insung menghisap kuat bibir bawah Sungmin saat gelombang itu datang. Tubuhnya menegang merasakan ledakan kuat dari dalam tubuhnya. Ia memeluk erat punggung Sungmin tatkala cairannya tumpah di bawah sana. Sungmin tersenyum, dia justru mempercepat gerakan pinggulnya sambil mengaitkan kaki Insung yang satunya. Mendorong-dorong tubuh Insung ke dinding. Mengujamnya dengan gelombang dahsyat yang membuat Insung lupa pada segalanya. Insung hanya bisa mendesah dan menopang tubuhnya seluruhnya pada tubuh Sungmin yang menahannya di dinding.
“Insung-ah..kau membuatku gila,” Sungmin mengulum cuping telinga Insung dan menahan tangan Insung di dinding sementara tempo gerakannya semakin cepat.
“Ahhh..ppalli..ppalli..” Insung memekik seperti orang gila saat Sungmin kembali menghentak G-spotnya. Rasanya sangat luar biasa. Dan tubuh Sungmin di dalamnya terasa membesar, memenuhi ruang di sana. Sepertinya Sungmin akan sampai sebentar lagi.
“Shin Insung, saranghae..” bisik Sungmin menatap langsung mata Insung yang sejajar dengannya. Mata terpejam Insung membuka mendengar pertanyaan Sungmin. Ia tersentuh melihat wajah kesungguhan Sungmin, sama seperti saat Sungmin melamarnya dulu. Ia melepaskan tangan Sungmin yang mengait di tangannya lalu beralih memeluk tubuh suaminya.
“Nado,” Insung mengecup bibir Sungmin lembut.
“Ahhhhh..” tepat saat itu Insung dan Sungmin melenguh kencang bersamaan karena Sungmin sudah mencapai puncak. Insung mendesah merasakan aliran hangat tertembak beberapa kali ke rahimnya.
Sungmin mengecup penuh kasih sayang kening Insung lalu menurunkannya ke lantai perlahan. Insung masih harus berpegangan pada pundak suaminya hingga bisa berdiri tegak. Mereka saling bertatapan dengan senyum bahagia terpatri di bibir masing-masing. Benar-benar momen luar biasa. Mereka selalu merasa semakin dicintai sesaat setelah berhasil mencapai puncak bersama.
“Kita mandi,” ucap Sungmin, mengecup singkat bibir Insung lalu kembali menyalakan shower. Mereka membersihkan diri dari keringat pasca bersetubuh. Setelah itu mengeringkan diri dengan handuk. Sungmin terkadang berbuat jahil dengan meremas dada istrinya itu saat mengeringkan tubuh Insung dan Insung hanya bisa mendesah.
Setelah kegiatan mandi selesai, Sungmin melarangnya mengenakan pakaian kembali. Dia menggendong Insung ke kamarnya lalu membaringkan istrinya itu di dalam ranjang, menarik selimut lalu menyelimuti tubuh polos mereka.
“Oppa, kau bisa masuk angin jika tidak memakai baju,” ucap Insung sambil membelai wajah Sungmin yang tampak begitu segar. Insung selalu heran dengan suaminya. tak pernah ia menemukan raut lelah di wajah tampannya bahkan setelah seharian suntuk mengerjakan tumpukan tugas di kantor.
Sungmin tersenyum. “Bukankah kita akan tidur sambil berpelukan?”
Insung mengerjapkan mata dan saat itu Sungmin memanfaatkannya dengan menindih tubuh polos Insung. Ia mengerang sendiri karena selangkangannya bergesekan dengan daerah intim Insung yang basah. Membuatnya mengeras kembali. Insung sendiri melenguh halus, sehalus desahan yang mampu meremangkan birahi Sungmin.
“Sepertinya ada yang ingin kau tanyakan?” tebak Sungmin ketika menyelami ekspresi Insung saat ini. Sungmin mengaitkan tangan mereka. Membuat suasana seintim mungkin. Mereka memang seringkali membuka sesi curhat jika selesai melakukan hubungan badan.
Sungmin memang tidak salah. Memang ada yang ingin Insung bicarakan dengan Sungmin. “Oppa, aku mencabut alat pencegah kehamilan hari ini,” ucap Insung membuat Sungmin membelalak kaget.
“Waeyo??” tanyanya dengan nada tidak sabar. Bagaimana bisa Insung mengatakannya setelah mereka melakukannya tadi?
Insung merasa sedih dengan reaksi Sungmin. Setelah menikah Sungmin memintanya untuk memasang alat pencegah kehamilan sehingga mereka bisa melakukan hubungan intim dengan leluasa. Insung sempat bertanya kenapa namun Sungmin hanya mengatakan bahwa belum saatnya mereka memiliki anak mengingat Minki masih kecil.
Sungmin segera bangkit dari atas Insung, membuatnya semakin yakin bahwa Sungmin memang tidak benar-benar mencintainya. Mungkin dulu Sungmin menikahinya karena minki membutuhkan seorang ibu. Insung tidak benar-benar dianggap istri olehnya.
“Kenapa kau tidak mengatakannya padaku lebih dulu?” ucapnya, menyesali tindakan Insung yang ceroboh. Insung bangkit sambil menutupi tubuhnya yang tak terbalut benang dengan selimut. Ia menatap nanar Sungmin yang terlihat, yah.. tidak menerima.
“Kenapa aku harus mengatakannya?” gumam Insung sedih.
“Bagaimana jika kau hamil nanti?”
“Memang kenapa jika aku hamil? Kita sudah suami-isteri Oppa. Bukankah hal wajar jika aku mengandung anakmu,” Insung mencoba memberikan pengertian. Sungmin menoleh cepat, memandang istrinya seolah Insung baru saja mengatakan tentang perceraian.
“Mengapa kau ingin cepat mengandung? Bukankah kita sudah sepakat untuk menunda kehamilan sampai Minki berusia 8 tahun?”
“Aku tidak lupa hal itu tapi, aku juga ingin merasakan bahagia telah melahirkan anak. Aku selalu iri pada Haebin yang gembira setelah melahirkan anaknya. Aku ingin seperti itu.”
Insung tiba-tiba merasa kelopak matanya begitu berat. Pandangannya mengabur oleh airmata. Insung mengigit bibirnya sebelum isakannya menguar ke permukaan. Sakit sekali. Mengetahui Sungmin menolak memiliki anak darinya mampu melukai hatinya yang rapuh. Memang apa bedanya nanti dengan sekarang?
“Aku mengerti. Maaf sudah memaksa.” Insung memilih menghentikan perdebatan lalu membaringkan diri membelakangi Sungmin. Sebaiknya ia tidur meskipun ia yakin sulit sekali bernafas karena tangisannya yang tak terurai.
Sungmin menoleh pada Insung yang sudah terbaring membelakanginya. Ini pertama kalinya mereka bertengkar setelah menikah. Sungmin tahu ia salah bicara dan ia merasa sangat menyesal karena belum bisa memberitahu Insung alasannya. Hatinya sakit melihat Insung berusaha keras menahan kesedihannya. Bukankah dia sudah berjanji tidak akan membiarkan gadis ini menangis tapi apa yang dilakukannya sekarang? Ia merasa sangat menyesal.
Perlahan Sungmin membaringkan diri di samping Insung. “Mianhae,” bisiknya lalu menyelipkan tangannya di bawah tubuh Insung, agar bisa memeluknya erat. Insung tak menjawab apapun dan Sungmin yakin Insung marah padanya. Akhirnya Sungmin hanya bisa menyandarkan kepalanya pada punggung Insung. Mereka terlelap dalam diam.

—o0o—

Hari kelulusan Minki dari Taman Kanak-Kanak tiba juga. Insung tetap mencoba melupakan pertengkaran mereka malam itu. Dengan wajah riang ia mempersiapkan semua keperluan Sungmin dan Minki.
“Apa ada yang tertinggal?” tanya Insung sambil membenarkan dasi Sungmin sebelum berangkat.
“Aku yakin tidak.” Sungmin melirik jam tangannya. “sampai kapan acaranya? Mungkin aku bisa datang saat Minki tampil,” ujarnya menatap Insung yang detik ini selalu berusaha menghindari kontak mata dengannya. Semenjak pertengkaran waktu itu, Sungmin bisa merasakan kecanggungan di antara mereka. Insung selalu mencoba menghindar meskipun sikapnya tidak berubah sama sekali.
“Sekitar jam 4 sore. Jangan terlambat karena Minki bisa sedih jika Appanya tidak datang melihat. Aku sudah mengabari Haebin dan suaminya, juga Kibum Oppa dan Heechul Oppa. Orangtuamu juga sudah kukabari dan mereka berjanji akan datang. Jadi—“ ucapan Insung tersendat karena Sungmin menggenggam tangannya. Sungmin sedikit menarik tangan Insung dan memaksanya mengangkat wajah. Ia benar-benar ingin membuat Insung menatap matanya langsung.
Mata bulat Insung membelalak. Dia cepat-cepat mengalihkan pandangan ke arah lain. Sungmin semakin yakin Insung sedang mencoba mengelak.
“Tatap mataku, Shin Insung!” tegur Sungmin sambil menarik dagu Insung menghadapnya. “Kau marah padaku?” tanyanya cepat sebelum Insung memandang ke arah lain lagi.
Insung tertawa, terdengar dipaksakan. “Siapa bilang? Tentu saja tidak.”
“Kau jelas marah. Apa malam itu ucapanku sudah menyinggungmu?” Sungmin merasa hatinya terpukul palu berat melihat wajah mencelos Insung.
“Kau benar marah padaku. Mianhae,” Sungmin menggenggam erat tangannya. Insung kaget. Ia berusaha mundur ketika Sungmin mulai mendekatkan dirinya.
“Aku tidak marah, Oppa. Sungguh.” Insung mulai takut karena Sungmin menarik pinggangnya mendekat.
“Jika memang begitu kenapa kau seperti ini? Aku merasa situasi kita terlalu canggung. Maafkan aku. Sungguh, aku menyesal atas pertengkaran hari itu,” mohonnya. Sungmin mengecup tangan Insung berkali-kali. “Kumohon jangan bercerai denganku. Aku takut kau akan pergi jika situasi kita terus seperti ini.”
Insung yang melihat Sungmin begitu tersiksa, mulai luluh. Terlebih karena permintaan maafnya. Hati Insung memang sempat terluka. Namun takitnya sudah tidak terasa karena ia sangat mencintai pria di hadapannya ini. Insung tidak pernah berpikir untuk bercerai dengan Sungmin karena ia tahu jika ia melakukannya, maka rasa cintanya pada Sungmin akan sia-sia.
“Oppa, hentikan. Minki bisa melihat,” Insung mengusap pipi Sungmin, mencoba meyakinkannya bahwa dirinya memang tidak marah lagi. Benar saja, ketika itu Minki berjalan melintasi mereka dan terkejut melihat Ayah dan ibunya saling berdekatan seperti iu.
“Appa, Eomma..kalian sedang main apa?” teriaknya girang sambil menghampiri Insung dan Sungmin. Kedua orang itu terkejut dan spontan menjauhkan diri.
“Minki, kau akan menyanyi sayang…jangan makan eskrim terlalu banyak,” Insung terkejut melihat Minki sedang menjilati eksrim. Mungkin diambilnya dari persediaan eskrim di dalam lemari es.
“Tapi Minnie suka eskrim, Eomma.” Minki lalu berlari ke arah Sungmin. “Appa, nanti lihat Minnie nyanyi yah..” ucapnya dengan aegyeo seimut milik Sungmin.
“Oh, tenang saja sayang. Pasti,” Sungmin tersenyum sambil mengusap kepala Minki. Ia menoleh pada Insung yang menatapnya dengan ekspresi tak terbaca.
“Masalah kita belum selesai. Kita selesaikan nanti setelah acara ini.” Ucap Sungmin dalam.

—o0o—

“Kau yakin Sungmin akan datang? Minki akan tampil sebentar lagi.”
Suara teguran Eommanya membuat Insung semakin gusar. Tak henti-hentinya ia melirik jam dan pintu masuk berharap menemukan sosok Sungmin. Acara memang hampir selesai karena akan ditutup oleh penampilan solo Minki. Ia menoleh pada Minki yang sedang diberi semangat oleh Kibum dan kekasihnya, Jarin.
“Dia akan datang. Sungmin Oppa tidak pernah melanggar janjinya,” dibandingkan mencemaskan hal yang tidak jelas, Insung memilih mendekati Minki.
“Uh, putri Eomma sudah cantik. Dipanggung nanti jangan lupa tersenyum yah,”
Minki mengangguk.
“Minnie ingin menyanyikan lagu untuk siapa?” tanya Jarin.
“Untuk Eomma,”
Insung tersenyum mendengarnya. Ia hampir mengusap kepala Minki ketika suara gadis itu terdengar lagi. “Minnie nyanyi untuk Eomma di surga,”
Senyum Insung terhenti seketika. Ia dan Sungmin memang sudah pernah menjelaskannya pelan-pelan pada Minki bahwa Eomma kandungnya sudah meninggal dan tenang di surga. Awalnya Minki tidk mengerti namun lambat laun mulai bisa menerima dan mengenal Taeyeon—ibu kandungnya—meski hanya dari selembar foto dan cerita-cerita Sungmin dan keluarga Taeyeon. Hanya saja ucapan Minki kali ini membuatnya sedikit sedih. Akhir-akhir ini Minki lebih tertarik memandangi foto Taeyeon dibanding bersamanya. Ia merasa..tidak disayangi.

Kita sambut penampilan spesial dari murid kebanggan TK ini, Lee Minki..
“Sudah waktunya tampil, ayo naik ke panggung.” Insung menepis pikiran melanturnya. Ia menuntun Minki naik panggung lalu bergegas duduk di kursi kosong yang ada di barisan depan. Ia melirik kursi di sampingnya yang masih kosong lalu beralih ke Minki yang sudah berdiri di atas panggung dengan penuh percaya diri. Mata mungilnya itu mengedar ke seluruh penjuru ruangan yang dipenuhi para orang tua. Sepertinya mencari seseorang. Jelas, Sungmin tidak ada di sana.
“Minki, nyanyi yang bagus untuk samchonmu!!” teriak Heechul heboh. Selanjutnya dia sibuk memotret Minki. Kibum dan Jarin meneriakkan kata semangat untuk Minki. Benar-benar heboh. Insung cemas karena Minki kelihatannya hilang semangat.
“Oppa, ayo datang,” Insung berdoa sungguh-sungguh. Doanya terjawab, Sungmin muncul detik berikutnya. Minki tersenyum lebar melihat Ayahnya datang.
“Mianhae. Aku tidak terlambat bukan?” tanya Sungmin terengah.
“Tidak. Ayo duduk Oppa. Minki hampir saja mulai bernyanyi,” jawab Insung. Sungmin segera duduk di sampingnya. Insung menoleh pada Eommanya, memberi kode bahwa Minki siap tampil. Namun sebelumnya MC bertanya lebih dulu.
“Minki, kau bernyanyi untuk siapa?” tanyanya. Minki terdiam sejenak, menatap beberapa wajah yang dikenalinya lalu tersenyum manis, khas anak kecil.
“Minnie bernyanyi untuk Appa,” ucapnya sambil menunjuk Sungmin. “Untuk halmeoni, Kibum Oppa, dan Chullie samchon,” ucapnya menyebut satu persatu kerabatnya yang datang. Insung sempat murung karena Minki tidak menyinggung namanya sama sekali.
“dan yang terakhir, Minnie bernyanyi untuk Eomma..” Insung mencoba untuk tersenyum. Bukankah wajar jika Minki lebih menyayangi ibu kandungnya dibanding dirinya?
“Eomma Minnie yang duduk di depan sana,”
Insung terperanjat kaget karena kini Minki menunjuk dirinya. Matanya berkaca-kaca. Jadi,jadi, Minki juga bernyanyi lagu untuknya?
Musik mulai mengalun, Minki mengikuti ketukan yang Insung pandu dari tempat duduknya. Dan Minki pun mulai bernyanyi.

I have a dream, a song to sing
To help me cope with anything
If you see the wonder of a fairy tale
You can take the future even if you fail
I believe in angels
Something good in everything I see
I believe in angels
When I know the time is right for me
I’ll cross the stream – I have a dream

I Have A Dream by Westlife

Tepuk tangan membahana setelah lagu selesai. Insung yang lebih dulu berdiri sekaligus yang bertepuk tangan paling kencang. Heechul sampai berseru girang. Sungmin ikut berdiri dengan airmata menitik. Hari ini, ia seperti melihat mendiang istrinya dalam sosok Minki.
“Minki, benar-benar seperti Taeyeon. Taeyeon kami pun sangat pintar bernyanyi. Suaranya begitu merdu sampai terkadang kami terlarut jika dia sedang bernyanyi. Dan kini, aku melihat sosok Taeyeon dalam diri Minki,” ucap Kim Halmeoni, nenek Minki dari Taeyeon.
“Nuna sungguh mencintai kami. Meskipun sudah tiada, dia meninggalkan satu hal paling berharga sehingga kami tidak pernah merasa kehilangannya sedikitpun,” ungkap Kibum kembali teringat kakak perempuan tercintanya itu.
“Ya, Minki adalah peninggalan Taeyeon yang paling berharga. Dia rela mengorbankan hidupnya untuk melahirkan Minki,” kenang Sungmin dengan pandangan menerawang. Insung terdiam mendengar semua penuturan tentang Taeyeon. Sungguh, saat ini ia merasa iri sekaligus kagum pada sosok mendiang mantan istri suaminya itu. Rupanya, Taeyeon memang sosok yang luar biasa. Jadi, selama ini dirinya mencoba untuk menggantikan seseorang luar biasa seperti itu? Bagaimana bisa.Jika dibandingkan dengan Taeyeon, tentu saja dirinya masih tidak ada apa-apanya.

—o0o—

“Dengan begini, Minki resmi lulus dari TK dan siap-siap masuk sekolah dasar,” seru Insung ketika mereka pulang seusai acara kelulusan.
“Minnie bakal dapet teman baru yeiiii..”
Insung memeluk Minki erat. Gadis cilik itu agak bingung dengan tingkah Insung. “Minnie, terimakasih banyak. Tadi menyanyikan lagu itu untuk Eomma juga,” ucap Insung sungguh-sungguh.
“Eomma kan Eomma Minnie juga. Eomma lebih banyak waktu main ama Minnie daripada Eomma asli Minnie,” Minki balas memeluk Insung, erat sekali. Sungmin yang melihatnya sungguh terharu. Ia ingin ikut menghambur ke pelukan mereka namun rasanya tidak aneh jika dirinya mendadak bergabung. Maka ia membiarkan dirinya mengamati Insung yang mencium Minki penuh kasih sayang, lalu menuntunnya ke kamar untuk tidur.

Sungmin mendapati Insung sedang membereskan tempat tidur ketika ia keluar dari kamar mandi. Ia tertegun melihat Insung. Mereka perlu bicara. Ada masalah yang belum terselesaikan di antara mereka.
“Yeobo,” Sungmin menghampiri Insung yang kini duduk di tepi ranjang sambil menggulung rambutnya ke atas.
“Ne?”
Sungmin duduk di sampingnya, menggenggam tangan istrinya itu erat sambil menatapnya dalam. Insung merasa tingkah Sungmin sedikit berlebihan. Suaminya ini seperti sedang mencoba meminta maaf padanya.
“Ada apa?” tanya Insung heran karena Sungmin memandangnya cemas. Sungmin mengangkat tangan Insung lalu mendekapnya.
“Terima kasih sudah mencintai Minki begitu banyak. Aku sempat cemas karena Minki tidak pernah merasakan kasih sayang dari seorang ibu sebelumnya.”
Setelah mendengar penuturan Sungmin, Insung melemaskan bahunya lega. “Gwaenchana Oppa, bukankah itu tugasku. Lagipula, mencintaimu artinya harus mencinta anakmu juga. Aku sudah menganggap Minki anak kandungku sendiri,”
Sungmin terdiam ketika Insung menyinggung soal ‘anak kandung’. Rupanya ia benar-benar ingin memiliki anak sendiri? Ia menunduk cukup lama, membuat Insung kembali cemas.
“Oppa, gwaenchana?” mendadak Sungmin mengangkat wajahnya lalu menatap Insung dalam.
“Kau belum memasang kembali alat pencegah kehamilan itu bukan?” tanya Sungmin.
“Belum. Aku berencana memasangnya besok saat bertemu dengan dokter kandunganku,” jawab Insung meskipun heran. Sungmin tiba-tiba mendorongnya jatuh ke atas tempat tidur. Tangan suaminya itu sudah menggerayangi tubuhnya, mencoba menyentuh titik-titik rangsang Insung di sekujur tubuhnya. Insung yang kaget bahkan belum sempat menyadari apapun. Sekarang yang ia tahu hanyalah mendesah. Tubuhnya bergetar hebat ketika Sungmin dengan sengaja menekan-nekan daerah intimnya dari luar pakaiannya. Sungmin agak terburu ketika melepaskan kaos yang melapisi tubuh kekarnya dan hanya meninggalkan boxer briefs putih melapisi daerah selangkangannya.
“Oppa, kau kenapa?” Insung bertanya heran. Ia pasrah ketika Sungmin menundukkan tubuhnya, menyingkap piyama sutera yang dipakainya lalu meloloskannya dari tubuhnya.
“Aku sedang mencoba mengabulkan keinginanmu tempo hari,” ucap Sungmin sekarang mengangkangi tubuhnya.
“Keinginanku—enghh..” Insung mendesah seksi karena Sungmin kembali melahap lehernya, terutama daerah di bawah telinganya. Daerah yang tersensitif selain kemaluannya.
“Ne. Bukankah kau ingin memiliki anak? Kuharap kita bisa mewujudkannya malam ini,” Sungmin berhenti sejenak untuk menatap Insung. Gadis itu melebarkan matanya. Ia kaget sekaligus terharu. Tak menyangka bahwa Sungmin akan mengabulkan keinginannya.
“Karena itu aku meminta agar besok kau tidak perlu memasang alat itu lagi. Aku akan menanamkan benihku di sini malam ini,” Sungmin menarik garis dari leher Insung, turun menyusuri dadanya lalu berakhir di perut Insung. Mengusapnya perlahan. Insung tersenyum penuha arti. Matanya berkaca-kaca.
“terima kasih sudah menyayangi diriku yang egois ini, Oppa,” Insung menutup mulutnya yang hampir terisak. Ia tidak boleh menangis. Mana ada orang yang bercinta sambil menangis.
Sungmin membungkukkan tubuhnya lalu mengecup kening Insung. “Kau pantas menerima lebih dari sekedar kasih sayang,” ciumannya perlahan turun ke mata, pipi, lalu berakhir di bibir basah Insung. Melumatnya perlahan dengan segenap perasaan cinta dalam hati Sungmin. Sementara bibirnya sibuk mengeksplorasi mulut Insung, tangan Sungmin menyelip ke punggung istrinya mencari-cari pengait bra.
“Angkat sedikit punggungmu,” bisiknya. Insung mengangkat punggungnya memudahkan Sungmin melepas benda keramat itu lalu melemparnya ke belakang. Payudara Insung yang padat dengan puting mungilnya yang berwarna kecokelatan terpentang indah di depan matanya. Puncak itu sudah menegang, menggoda Sungmin untuk mengulumnya. Sungmin segera membenamkan dirinya melahap dada Insung. Menghisapnya seperti bayi kehausan sementara tangan yang satunya mempermainkan dada yang lain.
“Ahhh..Engghh..” Insung mendesah kencang begitu Sungmin menggigit halus dadanya. Kepala dan kakinya bergerak-gerak frustasi dan Insung merasa selangkangannya sudah basah. Sungmin mendengar jeritan tertahan Insung tahu bahwa istrinya itu sudah mengalami orgasme pertama. Maka ia selesaikan permainannya di dada Insung lalu merambah turun hingga tiba di depan selangkangan Insung.
Sungmin menurunkan underwear yang menutupi daerah inti Insung perlahan. Setelah lepas, Sungmin melebarkan paha Insung dan terpampanglah sesuatu yang lebih menakjubkan dibanding apapun di dunia ini. Sungmin meneguk air liurnya susah payah. Dia mengulurkan jari telunjuknya untuk menggoda lubang Insung yang sudah basah oleh cairan.
“Ahhhhh…” desahan Insung terdengar padahal Sungmin baru mengusap luarnya saja. Sepertinya sangat nikmat. Sungmin mengusap bagian itu berkali-kali dan desahan Insung semakin kencang. Ia memutuskan mengganti jarinya dengan lidahnya. Ia menjilat-jilat bagian itu semangat, sedikit menggebu karena rupanya hal itu selalu menggairahkan.
“Oppahh..jebal..” Sungmin menahan kaki Insung yang merapat seiring geraman-geraman halus yang keluar dari mulut Insung. Sungmin menyeringai kembali ketika cairan Insung keluar. Tubuh mereka mulai dibasahi keringat padahal permainan baru mencapai tahap pemanasan. Sungmin melepaskan penghalang terakhir ditubuhnya dan mereka kini sama-sama naked.
Sungmin tak mau menunggu lama-lama. Ia segera mengocok batang tubuhnya yang tegang itu sambil mencoba merekahkan daerah intim Insung agar akes masuk lebih luas. Insung yang paham melebarkan kakinya semampu yang ia bisa sementara tangannya mencengkram bantal tempat sandarannya.
“Insung, kau siap?” tanya Sungmin sebelum memulai. Insung mengangguk yakin.
“Menjadi ibu sudah menjadi takdir setiap wanita. Karena itu aku selalu siap.”
Sungmin mulai memasukkan ujung miliknya. Insung memejamkan mata rapat-rapat merasakan desakan itu. Sedikit ngilu pada awalnya namun ketika semuanya tertanam sempurna, Insung mendesah lega.
“Aaaahhh..” desahan Insung mulai terdengar kala Sungmin menggerakkan pinggulnya perlahan. Ia sendiri memejamkan matanya nikmat. Tangannya bertumpu pada kedua payudara Insung sambil meremasnya. Insung ikut meremas dadanya sendiri mencoba mengalihkan sensasi tak terkira yang dirasakannya seiring hentakan Sungmin. Menyadari desahan Insung perlahan berubah menjadi racauan kencang, Sungmin mulai menarik tangannya dari dada Insung, mengaitkan tangan mereka lalu membungkukkan badannya. Ia mengajak Insung berperang lidah kembali.
Kepala Sungmin miring ke kiri dan kanan mencoba mencari posisi yang nyaman dalam ciuman dalam yang dilakoninya. Perlahan Insung ikut menggerakan tubuhnya berlawanan arah.
“Oh ya…disitu Oppahhh..” Insung sedikit menjambak rambut Sungmin karena dengan sengaja Sungmin menyentak keras g-spotnya berkali-kali. Insung semakin menjerit tak terkendali saat Sungmin bergerak begitu cepat. Hal itu membuat pikirannya kabur dan ia hanya mampu memeluk erat Sungmin.
Sungmin menarik Insung duduk lalu kembali menggerakan tubuhnya cepat. Insung merasa posisinya aneh sekali, seperti orang yang mau melahirkan tapi ia tidak peduli karena bagaimanapun rasanya nikmat sekali. Sungmin meletakkan beberapa bantal di belakang punggungnya untuk bersandar.
“Oppahh..kau tidak lelahhh?” Insung menyeka keringat yang mulai membanjiri kening Sungmin.
“Tidak..” Sungmin mengecup payudara Insung yang menggoda di depan matanya. Insung mencengkeram erat dasbor ranjang sambil menggigit bibirnya kencang. Dia bergerak semakin liar membuat ranjang tempat mereka bercinta bergoyang hebat. Ia membaringkan Insung lagi tanpa mengurangi tempo genjotannya.
“Eunghhhhh…” Insung mencakar punggung Sungmin begitu gelombang hebat datang lagi.
“Yeoboo..aku datang,” Sungmin mempercepat tempo hentakannya dan ia merasa selangkangannya membengkak dan menembakkan jutaan sperma ke dalam rahim Insung. Sungmin membenamkan tubuhnya sedalam yang ia bisa agar tidak ada setetespun benihnya yang keluar. Hal sama pun dilakukan Insung. Dirinya menekan pinggul Sungmin ke arah selangkangannya sambil melenguh nikmat. Tubuh mereka menegang sesaat lalu melemas lega. Sungmin merasa tenaganya terkuras dan jatuh menimpa tubuh Insung.
“Ahh..” Insung terkejut saat Sungmin jatuh ke pelukannya. Dipeluknya erat suaminya sambil mengusap kepala Sungmin. Insung bisa merasakan tarikan nafas Sungmin yang tak teratur dan dadanya yang naik turun menggesek puncak dadanya, membuatnya merinding. Setelah lebih tenang Sungmin sedikit mengangkat tubuhnya agar bisa melihat Insung lebih jelas. Ia tersenyum membalas senyuman istrinya. Tangannya terulur menyeka peluh yang membasahi kening Insung, lalu mengecupnya lembut. Keduanya saling menatap satu sama lain.
“Gomawo.” Sungmin langsung merebahkan diri di samping Insung yang kelelahan. Insung masih menatap Sungmin dengan pandangan yang sulit diartikan. Sungmin menoleh menyadari tatapan Insung.
“Kemarilah. Aku ingin tidur sambil memelukmu,” Sungmin meraih tangan Insung dan Insung segera bergelung ke dalam dekapan Sungmin yang hangat. Insung menarik selimut untuk menutupi tubuh mereka. Setelah itu kondisi kamar sunyi senyap.
Mereka terdiam. Menikmati aroma tajam yang tercium di kamar itu. Aroma luar biasa yang selalu tercium setelah mereka berhubungan intim. Sesekali Sungmin mengecup puncak kepala Insung dengan lembut.
“Oppa, boleh aku bertanya?” gumam Insung.
“Ne. Tanyakanlah.” Ujar Sungmin dan tangannya mengusap-usap punggung Insung.
“Apa Oppa mengabulkan permintaanku karena terpaksa? Aku memang ingin memiliki anak darimu. Tapi jika kau memang belum menginginkannya aku tidak akan memaksa,” jelas Insung sambil mendongkakkan kepalanya menatap mata Sungmin langsung.
Sungmin semakin mempererat pelukannya. “Sungguh Insung, aku ingin sekali memiliki anak darimu. Aku selalu bermimpi indah tentang hal itu. Tapi..” Sungmin menarik dagu Insung agar menatapnya lebih dalam. Melihat ke dalam bola matanya bahwa ada hal yang sangat ia cemaskan dibalik semua itu.
“Mengingat kau akan mengandung dan melahirkan, aku sangat takut. Aku didera ketakutan yang teramat sangat bahwa kau mungkin akan meninggalkanku seperti Taeyeon saat melahirkan anak kita nanti. Aku benar-benar takut kau akan meninggalkanku. Aku berpikir hal yang terjadi pada Taeyeon mungkin karena aku terlalu bersemangat ingin memiliki anak dulu dan membuat Taeyeon hamil di usianya yang masih muda. Seandainya, seandainya saat itu aku menahan diri dan menunggu sampai rahim Taeyeon lebih kuat, mungkin dia tidak akan pergi. Karena itu aku meminta kau menunda kehamilan dulu. Aku ingin kau mengandung di saat kau sudah siap. Siap segalanya. Aku tidak ingin kehilanganmu, Insung-ah. Aku tidak bisa hidup lagi jika sampai hal yang sama terjadi padamu,” Sungmin mengatakannya dengan begitu lirih, tersirat luka dari setiap patah kata yang diucapkannya.
Insung merasa bersalah karena selama ini dirinya begitu egois. Seharusnya ia bisa memahami Sungmin yang belum bisa melupakan kematian Taeyeon. Hal itu wajar saja dialami oleh Sungmin mengingat dahulu dirinya sangat mencintai Taeyeon. Akan sulit baginya menghilangkan memori kelam itu. Insung tahu karena dirinya seorang psikolog.
“Oppa,” Insung mengusap lengan Sungmin lembut, memberinya kekuatan sekaligus penegasan bahwa dirinya ada dan tidak akan meninggalkannya seperti Taeyeon. “Usiaku sudah hampir 25 tahun, aku sudah sangat siap untuk hamil. Lagipula, aku kerapkali memeriksakan kandunganku pada dokter dan dia mengatakan bahwa kondisinya stabil dan sangat siap jika seandainya aku hamil. Aku berjanji akan menjaga diri dan melakukan apapun yang dokter sarankan. Karena itu, kau tidak perlu mencemaskan hal ini lagi.”
Sungmin tertegun menyelami tatapan penuh kesungguhan milik Insung. Seolah mendapatkan kepercayaan diri, Sungmin tersenyum. Bebannya sudah berkurang berkat perkataan Insung. Yah, memang sudah waktunya bagi mereka memiliki anak. Ia harus memberikan kesempatan pada Insung merasakan betapa istimewanya menjadi seorang wanita; mengandung dan melahirkan anak.
“As your wish, yeobo,” Sungmin mengecup bibir Insung. “Kita pasti akan memberikan Minki dongsaeng sebentar lagi.”
Insung tertawa geli karena Sungmin mencimi seluruh wajahnya. Sungmin mengaitkan kaki Insung ke pinggangnya. Insung membelalak menatap Sungmin.
“Oppa, apa yang kau lakukan?”
Sungmin tersenyum manis, “Sekali lagi, yeobo.”
“Mwo—Ahhhh…” Insung memegang erat lengan Sungmin karena lagi-lagi suaminya itu menyatukan tubuh mereka tanpa aba-aba. “Setidaknya beri aku kode,” protes Insung.
“Jika kuberitahu bukan kejutan namanya,” lirih Sungmin lalu mencium kembali bibir Insung sambil mulai menggerakan pinggulnya. Sedetik kemudian Insung mulai sibuk meracau karena Sungmin kembali mengajaknya memasuki surga dunia yang indah dan tak terlupakan.

—o0o—-

“Kenapa?”
Sungmin menatap heran Insung yang menghembuskan nafasnya, entah sudah yang keberapa. Ia menghentikan kegiatannya mengerjakan tugas kantor lalu memilih menghampiri Insung yang tampak murung.
“Oppa, ini sudah dua minggu dan aku belum mendapatkan tanda-tanda akan hamil,” ucapnya sedih.
“Jangan cemaskan hal itu. Jika sudah waktunya, kabar gembira itu pasti datang.” Sungmin membelai rambut Insung perlahan. “Oh iya, Minki mana?” Sungmin baru menyadari putrinya tak terlihat sejak pagi. Sekarang hari minggu dan ia bermaksud mengajak istri dan anaknya jalan-jalan hari ini.
“Dia dijemput oleh neneknya tadi pagi sebelum kau bangun—hmmfftt..” Insung mengerjap saat dirinya tiba-tiba saja merasa mual. Perutnya seperti dililit sesuatu dan Ia bergegas pergi ke dapur untuk memuntahkannya.
Sungmin tersenyum penuh arti lalu berjalan menghampiri Insung yang kerepotan di dapur. Dia terus merasa mual namun tak ada apapun yang keluar dari mulutnya.
“Apa yang kukatakan yeobo, jika sudah waktunya kabar gembira itu pasti datang.” Sungmin membantu Insung mengurut pundaknya. Insung membasuh mulutnya dengan air lalu mengeringkannya dengan serbet.
“Maksudnya aku hamil?” tanya Insung. “Bukan karena salah makan tadi pagi?”
“Coba periksa jika tidak percaya,” ucap Sungmin.
Insung mengangguk lalu berjalan mengambil testpack yang ia simpan di dalam kotak obat. Insung pergi ke kamar mandi sebentar untuk melakukan pengecekan. Sungmin bersandar pada kitchen set, mengambil apel yang ada di atas meja lalu memakannya santai. Ia yakin Insung memang hamil saat ini. Tinggal tunggu hasilnya saja.
“AAAAAAAAAAAAA—“ jeritan Insung membahana detik berikutnya. Sungmin tersenyum puas.
“Benar bukan,” ucapnya yakin.
“Oppa…kau benar…AKU HAMIL!!!!” teriak Insung girang. Dia berlari menghampiri Sungmin sambil membawa testpack yang menunjukkan dua garis biru pertanda kehamilannya.
“Selamat yeobo, kau akan menjadi ibu,” Sungmin terlalu senang, ia mengangkat tubuh Insung dari lantai lalu memutarnya sesaat. Mereka saling tertawa gembira. Akhirnya, setelah penantian panjang tiba juga saat yang paling dinantikan Sungmin menurunkan Insung lalu menatapnya.
“Banyak persiapan yang harus kau lakukan dan jangan manja karena aku tidak akan membiarkanmu pergi seperti Taeyeon.” Ucapnya.
“Ne. Oppa.” Insung mencium bibir tersenyum Sungmin dan mereka larut dalam ciuman panjang sebagai pelampiasan rasa gembira mereka.

Rasanya kurang jika tidak mengabarkan berita gembira ini pada sanak saudara mereka, hari itu Sungmin dan Insung sibuk mengabari orangtua dan kerabat mereka tentang kehamilan Insung yang disambut antusias oleh mereka. Kebahagiaan Insung dan Sungmin semakin terasa sempurna saat Minki berteriak girang bahwa sembilan bulan ke depan dirinya akan memiliki adik. Insung senang Minki pun begitu menantikan anak yang ada dalam rahimnya sekarang.

“Usia kandunganmu sudah hampir satu bulan,” ujar Kibum ketika Insung iseng meminta diperiksa olehnya di Seoul General Hospital, rumah sakit milik keluarga Kibum. Sungmin dan Insung bertatapan.
“Satu bulan?” ucap Insung heran. Terakhir mereka melakukannya sekitar dua minggu yang lalu.
Sungmin terkekeh menyadarinya, “Aigoo Insung-ah, itu artinya saat kita melakukannya terakhir kali kau sedang mengandung.”
“Hah? Tapi kenapa tanda-tandanya datang sangat terlambat?” herannya.
“Itu kadang terjadi,” balas Kibum lalu ikut tertawa seperti Sungmin. Insung sempat bertanya-tanya selama beberapa saat sebelum akhirnya ia ikut tertawa. Sesekali, Insung mengusap perutnya dengan lembut sambil berdoa.

Aegi, tumbuh sehat dan lekaslah lahir ke dunia. Eomma dan Appa sangat menantikan kehadiranmu.

Sungmin memeluk erat Insung lalu mengecup pipinya berkali-kali. Kibum berdehem menyaksikan adegan itu. Ia memilih menyingkir dari ruangannya membiarkan Sungmin melampiaskan kegembiraannya.
“Saranghae, jeongmal saranghae yeobo,” bisik Sungmin tulus. Insung menjawabnya malu-malu. “Nado”

The END

122 thoughts on “Another Story In Shady Girl [Sungmin’s Story] // My Lovely Wife

  1. Ini nih yang gue tunggu, yang cast nya sungmin deh pokoknye *aelah. Itu mengharukan banget waktu konflik nya, ampe nangis bombay gue *ceileh. Keren thor ceritanya, gue kira si minki kaga bakal nyebutin insung eh taunya… Keren dah pokoknya #Keepwritingauthornim !!!

  2. ide ceritanya keren kak! Ada sakitnya juga jadi Insung! Soalnya kan Insung udah jadi no.2 setelah Taeyeon, berarti cinta Umin jadi 2, walau emang akhirnya untuk Insung semua…
    Pokoknya kweren deh! Semangka!

  3. seru banget ffnya
    aku kirai minki anaknya nsung-ah
    buat squelnya dong
    penasaran gimana nanti nsung-ah pas mengandung dan melahirkan

Your comment

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s