Shady Girl Siwon’s Story (Part 2)

Tittle : Shady Girl Siwon’s Story Part 2
Author : Dha Khanzaki a.k.a Shin Je Young
Genre : Romance,

Main Cast :

  • Lee Sun Hee
  • Choi Siwon

Support Cast :

  • Lee Donghae
  • Taemin *masih jadi bocah SD
  • Leeteuk

Hohohoho… author peringatkan dari awal ya.. Shady Girl Siwon’s Story bakal bikin banjir airmata. Jadi persiapkan dari sekarang satu kotak tissue toilet buat ngelap ingus.. *hihihih

Buat yang gak suka support cast yang ada di sini (author gak bisa sebut namanya) author bingung kenapa gak suka padahal author fansnya loh ^_^(don’t bash) meskipun begitu author harap temen-temen di sini jangan bash FF author yah. entar author sedih terus gak bisa lanjutin FF ini lagi.

buat yang lupa kalau Donghae punya adik, yuk flashback baca Shady Girl lagi. Di situ Donghae benci banget ke bapaknya gara-gara bapaknya ngusir orang-orang dia sayang. Mulai dari ibunya, adiknya, ampe So Yeon *yang udah baca pasti tahu* Nah, adiknya itu Sun Hee. emang sengaja gak author ceritain soalnya mau dimunculin di Siwon’s Story. *surprise..*

Okeh, daripada bergaje-gaje lebih baik baca bareng yuukk. ^_^
kritik dan saran tetep ditunggu ^^

Shady Girl Siwon's Story by DhaKhanzaki

—o0o—-

“Appa, jebal jangan usir aku..” rengek Sun Hee. Rupanya Appa belum juga memaafkannya sejak ia memutuskan membangkang beberapa tahun lalu.

#Flashback#

“Jadi seorang artis? Ha! Jangan gila Lee Sun Hee! Buang pikiran anehmu itu dan belajarlah management bisnis seperti kakakmu!” Bentak Lee Dong il pada putrinya siang itu. Sun Hee terjatuh lemah dari tempatnya berdiri begitu mendengar vonis mutlak dari Appanya.
“Tapi aku tidak berminat, Appa. Aku ingin sekali mewujudkan cita-citaku menjadi artis dan model terkenal. Jebal izinkan aku.” Rengek Sun Hee sambil berlutut di hadapan Tuan Lee.

Ada satu hal yang membuat pria itu segeram ini. Baru saja ia mendengar pendapat Sun Hee tentang melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi. Dia sudah berharap bahwa Sun Hee akan masuk ke universitas yang sudah dipilihnya dan masuk jurusan pilihannya pula, bisnis manajemen. Tapi apa jawaban Sun Hee? Putrinya itu menolak mentah-mentah dan mengatakan bahwa ia ingin menjadi seorang entertainer. Hah. Ini lelucon yang tidak lucu.

“Sampai kapanpun aku tidak akan mengizinkanmu menjadi artis! Kau tahu Sun Hee, dunia artis itu seperti apa? Ibarat ular berkepala dua. Di saat kamu mendapatkan ketenaran, maka di saat itu pula kau harus merelakan satu hal penting!” tegas Tuan Lee. Pada dasarnya ia bukannya melarang, hanya saja ia cemas bagaimana nasib Sun Hee nanti. Menjadi artis memang menyenangkan, bergelimang harta dan popularitas. Tapi ia takut putri satu-satunya itu jatuh ke sisi gelap dunia artis yang menakutkan.

Namun sepertinya Sun Hee tidak menyadari kekhawatiran Appanya. Sun Hee mengepal tangannya erat. Tekadnya sudah sangat bulat. Ia tidak ingin selamanya diatur terus oleh Appanya.
“Jika Appa tidak mengizinkanku, aku akan pergi dari rumah ini!!” Seru Sun Hee. Dari nada bicaranya terdengar bergetar namun meyakinkan.

Tuan Lee terkejut. amarahnya mendadak naik mencapai ubun-ubun kepalanya. ia memandang sangar putrinya sendiri. Mata Sun Hee memancarkan kesungguhan atas kata-katanya. Ia seperti melihat cerminan dari dirinya. Sun Hee memang mewarisi sifat keras kepala dirinya begitu juga Donghae. tuan Lee menutup matanya sebentar. Mencoba meresapi apa yang akan ia ucapkan setelah ini.

“Baiklah, jika kau ingin pergi. PERGILAH!!” teriaknya lalu membalikkan badannya meninggalkan Sun Hee yang bersimpuh dengan wajah tercengang.

Hatinya terpukul mendengar ucapan Appa. Benarkah? Setega itu kah Appanya mengusir putrinya sendiri dari rumah?

Sun Hee berdiri dengan lutut gemetar. Ia berjalan gontai menuju kamarnya, untuk membereskan pakaiannya. Karena sudah terlanjur mengucapkannya, ia harus benar-benar pergi. padahal tadinya ia hanya berniat menggertak saja. tak tahunya malah jadi seperti ini.

“Mwo? Lee Sun Hee kau sudah gila! Kau mau kemana???” teriak Donghae panik melihat adiknya memangis sambil menyeret koper pergi dari rumahnya. Dia baru saja pulang kuliah. Tubuhnya sangat lelah namun rasa itu hilang begitu menyaksikan pemandangan tak terduga di rumahnya. Ada apa ini?

“Jangan cegah dia, Donghae!” suara Tuan Lee terdengar tinggi dan sarat akan amarah. Donghae menoleh pada sosok Appanya yang duduk tenang di ruang keluarga. Dia terlihat tenang.
“Tapi Appa..Sun Hee membawa koper. Dia mungkin..”
“BIARKAN SAJA DIA PERGI!!!” teriak Tuan Lee kencang. “Anak yang sulit diatur sepertinya tidak perlu dipedulikan lagi! Biarkan dia hidup sesuai dengan keinginannya!!”

Sun Hee seperti tertimpa palu yang sangat besar. hatinya seolah jatuh dari tempatnya. Dadanya bergemuruh sinkron sekali dengan matanya yang meneteskan airmata.

“Sudahlah, Oppa. Tidak perlu mencegahku.” Sun Hee menyingkirkan tangan Donghae dari lengannya. Ia menarik kopernya pergi keluar dari rumah itu.

“Sun Hee!!” teriak Donghae berusaha mengejar. Namun terlambat, Sun Hee sudah menghilang menaiki taksi. Pergi entah kemana.

Sejak itu pula, Lee Sun Hee tidak pernah kembali ke rumah itu. Tidak ada kabar atau pun sekedar mengirim pesan lewat surat. Keluarganya bahkan tidak tahu keberadaan Sun Hee. Entah gadis itu pergi ke mana. Dan apa yang dilakukannya selama menghilang.

#Flashback end#

“Cepat kau pergi dari sini sebelum ku panggil penjaga!!” bentak Tuan Lee. Sun Hee mundur satu langkah. Nyalinya ciut mendadak dibentak seperti itu. Tidak hanya Sun Hee. Leeteuk, Donghae, bahkan Haebin pun kaget mendengarnya. Donghae buru-buru menenangkan Appanya yang hampir saja mengamuk sementara Leeteuk buru-buru melindungi Sun Hee. Dan Haebin agak menjauh dari keributan itu. Ia takut Hae Young yang tenang akan menangis mendengar suara-suara bising di sekitarnya.

“Huwa..Appa maafkan aku..” rengek Sun Hee sambil bersembunyi di balik punggung Leeteuk.
“Siapa yang memaafkanmu? Cepat pergi! leeteuk, kenapa kau malah melindunginya!!”

Tuan Lee sudah melangkah maju ingin menyeret Sun Hee keluar dari rumah itu tapi Donghae buru-buru menahannya.

“Ow..ow..Appa, tenanglah..” ucap Donghae berusaha membuat Tuan Lee duduk kembali.
“Lee Donghae! aku tahu kau sangat menyayangi dia, tapi bagaimanapun anak tidak tahu diri itu sudah melupakan keluarganya selama beberapa tahun, dan sekarang dia berani kembali???” Tuan Lee kini malah memelototi putranya.
“Mwo? Appa, aku tidak membelanya. Aku hanya mencemaskan kesehatanmu. Jika Appa marah-marah, nanti terjadi sesuatu.” Ujar Donghae menasihati.
“Ah, jangan menasihatiku! Leeteuk, cepat usir dia!!” tunjuk Tuan Lee kencang.

Leeteuk mengangguk takut. Ia segera membalikkan badan menghadap Sun Hee yang ketakutan.
“Sun Hee, sebaiknya kau pergi dulu.” Leeteuk sehalus mungkin mencoba membawa Sun Hee keluar dari situasi berbahaya ini. Ia tahu karakteristik Tuan Lee. Jika sudah semarah ini, tidak ada apapun yang bisa menghentikannya.

“Chakkaman, chakkaman!!” cegah Sun Hee ketika Leeteuk menariknya pergi. gerakan kakinya terhenti. Ia menoleh pada Appa yang sedang ditenangkan Donghae lalu melepaskan genggaman tangan Leeteuk di lengannya.

Dengan rasa berani bercampur ragu di wajahnya, ia berjalan mendekati Tuan Lee. Ekspresinya penuh dengan pengharapan.

Tuan Lee menatap geram putrinya. Tapi melihat ekspresi Sun Hee saat ini, perlahan naluri orangtuanya muncul. Gadis itu mengeluarkan sesuatu dari dalam tas yang dibawanya. Sebuah map berisi berkas. Tangannya tampak gemetaran ketika menyerahkan map itu ke hadapan Appanya sendiri.

“Apa itu?” tanya Tuan Lee dingin.
“Ini, lihat saja..”

Tuan Lee segera mengambilnya kemudian melihat isinya baik-baik. Sun Hee menunggu reaksi Appanya harap-harap cemas. Tuhan, semoga Appa-nya luluh setelah melihat berkas di dalam map ini.

“I-ini..” seru Tuan Lee tak percaya.

Yes. Seru Sun Hee dalam hati. Reaksi pertama Tuan Lee sesuai dengan perkiraannya.

“Sun Hee, ini..” Tuan Lee menatap putrinya dengan mata berbinar. Senyum hangat yang sudah lama Sun Hee rindukan akhirnya terbit juga di wajah Tuan Lee. Sun Hee mengangguk antusias.
“Iya Appa..itu sertifikat kelulusanku dari Harvard University”

Donghae dan Leeteuk sama-sama mengerjap kaget.

“Ha-harvard University?” seru Leeteuk dan Donghae. mata keduanya terbelalak lebar.
“Jadi selama ini kau berada di Amerika!!” ucap Leeteuk
“Kenapa kau tidak bilang sekolah di sana!!” serobot Donghae.

Di interogasi secara bersamaan seperti itu membuat Sun Hee gugup. Mulutnya mengap-mengap ingin menjawabnya tapi tak ada kata-kata yang keluar.

“Sun Hee, kau lulus dari Harvard? Bisnis management pula..whuaa…kau memang putriku..” seru Tuan Lee senang. Ia segera menghambur memeluk putrinya. Sun Hee senang sekali karena sudah berhasil meluluhkan hati Appanya. Ia balas memeluk.
“Ne, Appa. Bukankah aku putri yang membanggakan.”
“Itu sudah pasti. Donghae saja tidak bisa masuk universitas itu. Sementara kau..kau sudah membuat Appamu ini bangga!!”

Leeteuk dan Donghae menganga menyaksikan adegan mengharukan antara anak dan ayah di depan mereka. Ada apa ini sebenarnya? Beberapa detik lalu hampir saja terjadi perang dunia, nah, kenapa sekarang yang terjadi adalah adegan orangtua yang sedang melepas rindu dengan anaknya? Sebenarnya apa yang salah di sini?

Mendadak Donghae menjadi jengkel.

“Tunggu, kenapa Appa malah membandingkanku dengan Sun Hee?” Donghae berkacak pinggang.
“Oh, akuilah kakakku yang tampan. Aku memang lebih pintar darimu.” Ucap Sun Hee polos. Tuan Lee dan Sun Hee sontak tertawa. Entah menertawakan apa. Gantian kini Donghae yang berdecak jengkel. Beginilah keadaannya sejak dulu. jika Ummanya cenderung memanjakannya dan terlalu mendidik keras Sun Hee, maka Appa berlaku sebaliknya. Dia terlalu memanjakan Sun Hee dan mendidiknya keras.
“Aigoo..tak kusangka sekarang putri Appa sudah tumbuh secantik ini.” Ucap Tuan Lee seraya mengelus kepalanya. Sun Hee tersipu.
“Jadi Appa tidak marah lagi padaku?” tanya Sun Hee sambil bergelayut manja di lengan Appanya. Ah, sudah lama rasanya tidak bermanja-manja seperti ini.
“Jika kau saja menurut, kenapa Appa harus marah? Sudahlah. Lupakan masa lalu.” Tuan Lee diam sejenak. kemudian ia menatap heran putrinya.
“Lalu, kenapa kau baru kembali sekarang? Apa kau merencanakan sesuatu?” tanyanya penasaran.

“Iya. Tidak mungkin kembali tiba-tiba tanpa alasan tertentu.” Donghae setuju dengan Tuan Lee.
“Lagipula, kenapa selama ini kau tidak pernah memberi kabar?” gantian Leeteuk yang bertanya.

Sun Hee mendesah karena kembali dihujani pertanyaan oleh pria-pria di depannya. Ini saatnya ia menjelaskan segalanya. Serta, alasannya kembali.

“Selama ini aku tidak memberi kabar karena terlalu sibuk belajar. Dan pasti kalian tahu kan, kehidupan di Amerika itu sangat sulit. Aku mana sempat memberi kabar kemari. Lagipula Appa sudah tidak mempedulikan aku lagi kan?” jelas Sun Hee mengingat perjuangan berat yang dilewatinya beberapa tahun terakhir.
“Siapa bilang? Kau tahu, seminggu setelah kau perti Appa jatuh sakit karena terlalu mengkhawatirkanmu.” Bantah Donghae di sambut anggukan Leeteuk.
“Dan di saat aku menikah pun kau tidak datang. Bahkan di saat Appa sedang sekarat karena penyakit jantungnya, kau tidak muncul sama sekali.” Sambung Donghae. *baca Shady Girl*

“Jinjja??” Sun Hee terkaget-kaget mendengarnya. Jadi, selama ini banyak sekali hal yang terjadi dan ia tidak tahu? Ia menoleh pada tuan Lee.
“Benarkah itu? Lalu kenapa tidak ada yang memberitahuku?” Sun Hee tercengang.
“Bagaimana memberitahu, keberadaanmu saja kami tidak tahu.” balas Leeteuk.
“Tapi Umma tahu aku ada di Amerika. Setidaknya dia kan..” Sun Hee terdiam begitu melihat perubahan ekspresi di wajah Appanya dan Donghae. ia menghentikan kalimatnya sebelum kembali membuka luka lama di keluarga mereka.

“Sudahlah anak-anak” lerai Tuan Lee. Yang paling tidak ingin ia bicarakan di rumah ini adalah mengenai mantan istrinya itu. Ia lalu menatap serius putrinya.
“Jadi, apa alasanmu sebenarnya kemari? Tidak mungkin hanya karena rindu. Iya kan?”

Mendadak Sun Hee gugup. Ayolah, sudah susah payah mempertaruhkan segalanya untuk kembali pulang, masa tidak dikatakan juga tujuannya kembali.

Sun Hee mundur selangkah kemudian ia melakukan hal yang tidak di sangka. Lee Sun Hee berlutut di hadapan Appanya. Donghae maupun Leeteuk tidak dapat menyembunyikan rasa terkejutnya.

“Appa..jebal, jodohkan aku!!” mohonnya tegas, serius, dan dalam.

Semua orang di ruangan itu terkejut. tak terkecuali Haebin yang baru kembali setelah menidurkan Hae Young di kamar Donghae dulu.

“Mwo? Dijodohkan??” seru Tuan Lee. “Kenapa?”

Sun Hee menundukkan kepalanya. “Aku putus asa, Appa..” ucapnya. Leeteuk berpandangan heran dengan Donghae.
“Kau sudah gila..” lirih Donghae.

“Memang kau ingin dijodohkan dengan siapa?” tanya Tuan Lee. Ia benar-benar tidak mengerti jalan pikiran Sun Hee. Hilang kabar selama beberapa tahun, kemudian kembali dan memohon untuk di jodohkan? Apa otaknya sudah dicuci saat di Amerika sana?

“Choi Siwon..” jawab Sun Hee yakin.

“MWO???” lagi-lagi orang-orang itu berteriak kaget. Ada apa sebenarnya dengan isi otak Sun Hee???

“Choi Siwon? Maksudmu, Choi Siwon temanku?” tanya Donghae tak percaya.
“Tentu saja. kau pikir siapa lagi. Appa, jebal..jodohkan aku dengannya. Aku rela lakukan apapun untukmu jika Appa mau mengabulkan permintaanku..”

Tuan Lee mengusap wajahnya pelan. “Aigoo, bangun lah nak..” ia membantu Sun Hee bangun dari tempatnya bersimpuh.
“Ini bukan masalah Appa bersedia menjodohkanmu atau tidak. Tapi, apa Siwon mau menerima perjodohan ini? Pikirkanlah sekali lagi.”

Sun Hee terdiam. Perkataan Appanya ada benarnya juga. “Lalu apa yang harus aku lakukan, Appa? Aku sudah menyukainya sejak lama..” ucapnya sememelas mungkin.

Tuan Lee tersentuh melihat ekspresi Sun Hee. Ia menoleh pada Donghae dan Leeteuk meminta bantuan.
“Bagaimana ini? Apa kalian punya usul?”

Leeteuk dan Donghae serempak menggeleng. “Sudah, menyerah sajalah” jawabnya kompak.
“mwo? Waeyo??” kilah gadis itu tak mengerti.
Dua orang namja itu kebingungan bagaimana harus menjelaskannya. Sun Hee menghela napas.
“huh, bilang saja kalau aku tidak cocok dengannya.”
“Bukan.”

“Lalu kenapa???” rengek Sun Hee tak terima. Ia tidak suka jika rasa penasarannya tidak terjawab.

“Sun Hee..” panggil Haebin. gadis itu menoleh karena kali ini untuk pertama kalinya ia mendengar suara kakak iparnya.
“Oh, Eonni..” ucapnya. Haebin memberikan isyarat agar Sun Hee mendekatinya. Tentu saja Sun Hee menurut. Haebin mengajak Sun Hee duduk di salah satu sofa di ruangan itu.

“Kau pasti tahu kan aku siapa?” tanya Haebin terlebih dahulu. Sun Hee mengangguk pelan.
“Tentu saja. kau istri Oppaku yang tampan tapi bawel itu kan.”
“Sun Hee..” Panggil Donghae tak terima dikatai

Haebin tidak menghiraukan imbauan suaminya itu. Ia kembali menatap Sun Hee.
“Aku tahu ini pertama kalinya kita bertemu. Tapi ada 3 nasihat yang ingin aku berikan padamu.” Ucap Haebin serius. Sun Hee mengerutkan keningnya.
“Apa?”
“Nasihat ini ku berikan agar kau tidak menyesal saat jatuh cinta.”
“Ok. Malhaebwa..” ucapnya cuek.

“Nasihat pertama, jangan jatuh cinta pada namja yang sudah memiliki istri.” Ucap Haebin sambil menaikkan jari telunjuknya. Sun Hee melongo.
“I know that, Eonni..” desahnya. Haebin mengangguk. Baiklah jika Sun Hee sudah mengerti. Ia lanjutkan dengan nasihat ke dua.
“Nasihat kedua, jangan jatuh cinta pada namja yang sudah memiliki pacar” Haebin menaikkan jari tengahnya. Sun Hee mengangguk malas.
“Aku juga tahu itu.”
“Dan nasihat ketiga, jangan jatuh cinta pada namja yang sudah menyukai yeoja lain.”
“Aku juga ta—eh, chakkaman!!” gadis itu mengerjap begitu mencerna nasihat yang terakhir.
“Eonni, jika seperti itu bagaimana caranya aku mencari kekasih!!”
“itu mudah. Cari saja yang masih sexy, free, & single.”

Aish..ingin rasanya Sun Hee mengacak-acak isi rumahnya. Kalau begitu sama saja dengan menyuruhnya menjomblo seumur hidup. Memang mencari cowok yang sexy, free, & single itu gampang apa.
“Lalu, apa intinya nasihat ini?”
Haebin menepuk pundak Sun Hee. “Lupakan saja Siwon. Dia itu termasuk golongan yang ketiga.”

Sun Hee tidak kaget. Matanya menyipit kemudian. “Aku tahu kenapa. pasti karena Tiffany Hwang, kan.”
“Mwo, kau tahu?” Haebin terkejut mendengar penuturannya.
Gadis itu bersedekap sambil mengerucutkan bibir. “Aku sudah tahu sejak dulu. jadi, sekarang Siwon Oppa belum juga melupakan Tiffany?” nadanya terdengar ketus.
Haebin menggeleng. “Sepertinya Siwon Oppa masih berharap.”

“Huh, kenapa dia gigih sekali.” Cibirnya jengkel. Pikirannya melayang kemana-mana untuk beberapa saat. Ia lalu bangkit.
“Appa, pokoknya aku tetap ingin dijodohkan dengan Siwon Oppa!” tegasnya lalu pergi.

“Aigoo..anak itu..”

—o0o—

Haebin melirik ke dalam kamar tempat Sun Hee berada sekarang. Ia melihat adik iparnya itu merenung. Duduk di tepi tempat tidur dengan mata tertuju pada layar ponsel.
“Siwon Oppa..aku sudah berubah dari Sun Hee yang dulu. apa sekarang jika kita bertemu, kau akan menyukaiku?” lirihnya.

“Kalau begitu kalian harus bertemu.”

Sun Hee tersentak kaget. Ia menoleh cepat pada sosok yang mendadak muncul di sampingnya itu. “Demi apapun, Eonni. Tadi itu hampir saja membuat jantungku jatuh.” Sun Hee mengusap-usap dadanya yang berdebar kencang karena kaget.
Haebin tersenyum ramah kemudian duduk di sebelah Sun Hee. Ia ikut menatap layar ponsel yang menampilkan sosok seorang namja yang dikenalnya, hanya saja wajahnya sedikit berbeda.
“Itu, foto Siwon Oppa waktu kapan?” Haebin penasaran. Wajah Siwon tampak lebih muda.
Sun Hee mengalihkan pandangannya pada layar ponsel. Perlahan senyumnya pun terbit.
“ini saat Siwon Oppa masih SMU.”
“SMU? Kalian satu SMU?”
“Em. Saat itu adalah masa-masa paling indah. Yah, setidaknya aku bisa memandangnya dari jauh.”
“Loh, kenapa? bukankah kalian berteman?”

Sun Hee menoleh. Ia tampak histeris, tak lama kemudian ia tertawa. “Berteman? Siwon Oppa itu berteman dengan Oppa saja. tidak denganku.”
“Kenapa?” Haebin tidak mengerti.
“Karena dulu, dimatanya aku bukan seorang wanita.”
“Hah???” mulut Haebin menganga lebar.

“Kau tahu, Eonni..dulu aku ini tomboy sekali. Gayaku benar-benar menyerupai namja. Rambutku pendek—meniru gaya rambut Donghae Oppa—lalu aku tidak pernah memakai baju yeoja. Bahkan sekolah pun aku memakai baju namja. Bahkan Donghae oppa saja terkadang lupa kalau aku ini yeoja.”
“Mustahil” terang saja Haebin tidak percaya. Dilihat dari sudut manapun cerita Sun Hee ini seperti karangan saja.

Perhatikan saja penampilan gadis ini sekarang. Tubuhnya tinggi semampai bak model terkenal, wajahnya cantik. Kulitnya putih mulus seperti porselen. Rambutnya juga panjang. Apanya yang tomboy?
“Hahaha..Eonni, kau pasti tidak akan percaya ceritaku. Iya kan?” Sun Hee bisa menebak arti dari ekspresi yang di perlihatkan Haebin.
“sedikit. Lalu, kapan kau mulai jatuh cinta pada Siwon?”

Sun Hee menengadahkan kepalanya. ia sedang mengenang masa pertemuan pertamanya dengan Siwon. “Itu terjadi sebelum aku masuk SMU” kenangnya.

#Flashback#

*Sun Hee POV*

Saat itu, aku berada di tingkat dua Junior High School. Seperti yang sudah kukatakan, sebelum ini penampilanku seperti laki-laki kebanyakan. Tomboy. Sejak lahir dan beranjak dewasa, aku paling anti memakai rok dan segala hal yang berbau ‘wanita’. Di mataku itu terlihat menjijikan. Bahkan hobiku saja bermain game, beladiri, atletik, basket, dan semua yang sering namja lakukan. Yah, sebenarnya aku seperti itu karena terpengaruh kakakku—Donghae Oppa. Bahkan aku yakin kalau Appa ingin aku terlahir sebagai laki-laki saat Umma mengandung diriku.

Di saat semua anak perempuan di kelasku membicarakan masalah cinta, ciuman pertama, dan pacaran, aku tidak tertarik sedikit pun akan hal itu. Menurutku cinta itu hanya membuat seseorang lemah. Aku tidak percaya. Jika memang cinta itu ada untuk menyatukan 2 manusia, lalu apa yang terjadi dengan Appa dan Ummaku? Mereka bercerai dan Umma memutuskan meninggalkanku serta Donghae Oppa.

Dan sepertinya Tuhan menurunkan hukum karma untukku. Aku jatuh cinta pada seorang namja.

“Nuna, kau mau eskrim ini?” Taemin menawarkan eskrimnya padaku.
“Aish, sudah kubilang kan Taemin, jika pulang sekolah langsung kembali ke rumah. Nanti Umma-mu akan mengomel lagi padaku.” Aku pusing sekali menasihati bocah ingusan ini. Dia masih sekolah dasar tapi senang sekali bermain jauh bahkan sampai berani menungguku di depan gerbang sekolah. Ini salah Umma juga kenapa senang sekali menerima titipan anak orang. Yah, orang tua Taemin selalu menitipkan Taemin di rumah. Dan akibatnya, anak ini selalu menempel padaku.
“Shireo. Aku ingin hebat sepertimu, Nuna. Bisakah Nuna mengajariku Taekwon do?”
“Tidak akan. Kau ingin memakainya untuk apa? Berkelahi?”

Di saat kami sedang asyik-asyiknya mengobrol, muncul beberapa preman menghadang jalanku. Aku tahu mereka adalah gerombolan pria tak ada kerjaan yang senang mencuri uang anak-anak sekolah. Dan saat mereka memintaku memberikan uang, aku mencoba melawan. Kusingkirkan dulu Taemin dari arena pertempuran. Bagaimanapun aku ini pernah mengikuti kejuaraan Taekwon do.

Tapi sialnya, mereka lebih kuat dariku. aku kalah dalam segi jumlah dan tenaga. Saat itu aku betul-betul putus asa. Aku juga tidak mungkin meminta Taemin membalas perbuatan preman-preman sialan itu. Dia masih bocah. Di sekitar ku tidak ada satu orang pun yang bisa kumintai tolong. Aku ingin menangis rasanya. Tapi kutahan karena aku yakin aku yeoja yang kuat.

“Kenapa tidak menangis saja, jangan di tahan..” ejek salah satu dari mereka sambil mencengkram daguku. Tubuhku sudah penuh dengan luka dan dari pelipisku mengalirkan darah.
“Ckckck..sayang sekali. Seandainya kau tidak melawan.”

Hiks..mereka merogoh paksa saku seragam yang kupakai. Bahkan mengambil paksa semua uangku.

Aku berusaha mengulurkan tangan untuk meraih dompetku tapi mereka dengan kejamnya menjatuhkan ku kembali ke atas tanah.

“Jebal, kembalikan..” akhirnya tangisanku pecah. Aku tidak ingin dompetku diambil mereka. Di sana ada fotoku dan Umma. Satu-satunya kenanganku dengan Umma yang kumiliki.

“Ya! Tingkah kalian tidak lebih dari hewan!” terdengar suara seseorang berteriak. Aku menoleh dan mendapati seorang namja berpakaian SMU menghampiri kami.
“Siapa kau? Ingin bertindak sebagai pahlawan?”
“Ani. Aku hanya ingin kalian mengembalikan uang anak itu!!”

Dan yang tengah kusaksikan kali ini adalah sebuah adegan hebat seperti yang sering diperlihatkan dalam film-film heroik. Gerakan namja itu sangat keren. Dan dilihat dari jurusnya aku yakin itu taekwondo. Apa mungkin dia masternya? Tapi jika dia memang hebat, kenapa aku tidak pernah melihatnya?

Akhirnya karena terlalu kagum aku tidak menyadari bahwa namja itu sudah berhasil mengalahkan 5 orang preman dalam hitungan menit saja.

“Kau tidak apa-apa?” tanyanya sambil mengulurkan tangan. Tadi preman-preman yang sudah di knock-out itu lari pontang panting—tapi uangku tetap raib di gasak mereka. Hiks.
“Tidak apa-apa..” ucapku sedih. Aku bahkan tidak bisa membayangkan bagaimana wajahku sekarang.
“tapi lihat kau terluka..” tangannya mengusap kepalaku yang penuh debu. Namja itu mengeluarkan sapu tangan dan dengan baiknya menyeka darah yang mengalir di pelipisku.
“Pelan-pelan..” ringisku saat ia menyentuh terlalu keras bagian luka di wajahku.
“Ah, mian. Sebaiknya kau lakukan sendiri.” Ucapnya lalu menyerahkan sapu tangan itu padaku.
“Gomawo..” ucapku sambil menundukkan kepala. Aku benar-benar tidak sanggup memperlihatkan wajahku.

Perlahan ekor mataku melihat namja ini tersenyum. Omona..lihat senyumnya, indah sekali. Bahkan keindahan istana Buckingham pun kalah tanding dengan senyumnya. Tunggu, apa yang terjadi padaku sekarang??? Kenapa jantungku tiba-tiba berdebar kencang begini????

“Kau ku antar pulang. Rumahmu di mana?” pertanyaannya membuyarkan lamunanku.
“A-aku tinggal di ujung jalan ini..” aish, kenapa juga aku mendadak gagu begini?
“Ah, kalau begitu sudah dekat. Tidak apa-apa kan kalau kutinggal? Aku masih ada urusan.”
“Oh, ne..” anehnya lagi kenapa aku bisa begitu menurut??? Dia mulai berjalan pergi. ah, ada yang lupa kutanyakan!!

“Chakkaman!!” teriakku. Namja itu berhenti.
“Kenapa?”
“Boleh aku tahu siapa namamu?”

Namja itu kembali memamerkan senyum indahnya.

“Choi Siwon” jawabnya ringan. Lalu kembali membalikkan badannya dan pergi.

Kurasakan bunga sakura beterbangan di sekitarku. Hmm..mungkin detik itu aku baru menyadari bahwa aku jatuh cinta pada namja itu.

Bukankah seperti yang orang katakan, dunia akan terasa jauh lebih indah saat kau jatuh cinta?

#Flashback end#

To be continued

69 thoughts on “Shady Girl Siwon’s Story (Part 2)

  1. Wihhh gak kebayang sun hee tomboy *hehehe
    Sumpah pertemuan gak terduga
    Tapi siwon kan cinta sama tiffany eonni, mudah2-an aja deh dia bisa ambil hati siwon oppa

  2. Eaa aku lupa eonn di shady girl dongek pernah diceritain heheh😀 ternyata yg di prolog (di bandara) itu.. sun hee aku kira tiffany wkwkwwk

  3. Owhhh jd critanya gtu,, awal mula Sun Hee jatuh cinta ama Siwon….
    Tp syg Siwonnya gk tau klo yg di tlong itu sbnrnya seorang cwek??

Your comment

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s