I Hate You, But.. (Part 3)

Tittle : I Hate You, But Part 3
Author : Dha Khanzaki a.k.a Shin Je Young
Genre : Romance, Married Life

Main Cast

  • Kim So Eun
  • Choi Siwon

Support Cast :

  • Cho Kyuhyun

Part ini masih juga nyesek saudara-saudara. Author lagi pengen bikin FF genrenya nyesek *emang ada?*

Hati-hati for typo dan maaf juga kalau masih belum bisa lihat adegan romantis di part ini.

Happy Reading ^_^

I Hate You, But 2 by Dha Khanzaki

—-o0o—–

Author POV

Selama ini, So Eun selalu berpikir bahwa Eun Ji hanyalah wanita biasa yang mencintai seorang pria dengan tulus, sama sepertinya. Karena itu ia tidak pernah bisa terlalu membenci gadis itu. Perasaan Eun Ji pada Siwon tidak salah. Hanya saja situasi yang membuat perasaan itu seolah-olah salah. Tidak, itu memang salah. Eun Ji seharusnya perlahan mundur setelah Siwon memutuskan untuk menikah dengan gadis lain. Jika So Eun adalah Eun Ji, ia pasti akan melakukan hal itu.
Tetapi, kenapa Eun Ji seolah ingin sekali menghancurkan rumah tangganya? Mengapa ia selalu merasa gadis itu ingin sekali merebut Siwon dari tangannya? So Eun sudah beberapa kali melihat gadis itu menatapnya dengan sorot mata penuh kebencian, seolah dialah yang melakukan kesalahan. Sekalipun itu benar, seharusnya Eun Ji lebih tahu diri karena dia kini bukan siapa-siapa bagi Choi Siwon.
Setelah pertengkaran hebat kemarin, So Eun menunggu kepulangan Siwon dengan perasaan cemas dan khawatir namun pada akhirnya Siwon tak kunjung pulang hingga keesokan harinya. Malam menjelang, Siwon baru kembali dan ia bahkan tidak mempedulikan raut lega So Eun yang menyambutnya. Siwon tidak melihat betapa senangnya gadis itu saat melihatnya kembali pulang.
“Oppa, kau sudah makan?” So Eun bertanya dengan lembut. Ia tidak pernah bisa marah pada Siwon. Karena cinta membuatnya mampu memaafkan.
“Aku tidak lapar.” Gumam Siwon tanpa menatapnya, lalu menutup pintu kamar dengan agak kencang. So Eun hanya menghela napas sedih.

—o0o—-

“Kau tidak bisa terus begini, Choi Siwon. Bagaimanapun Kim So Eun tetap wanita yang memiliki hati. Kau harus belajar mencintainya jika ingin hatimu tenang,” ungkap Kyuhyun sambil menyesap tehnya.
Siwon hanya mengusap wajahnya, lalu menunduk sebentar sebelum kembali menatap teman baiknya, “Bicaramu lancar sekali seperti jalan tol. Kau pikir mudah melakukannya. Kau tahu dihatiku hanya terukir nama Eun Ji.”
“Kau yakin? Hati manusia adalah komponen paling rumit yang dibuat Tuhan. Kau bahkan tidak bisa mengira nama siapa yang sebenarnya terukir di hatimu. Tanpa kau sadari, mungkin saja di hatimu nama Park Eun Ji perlahan terhapus dan digantikan oleh nama Kim So Eun,” balas Kyuhyun bijak.
Biasanya Siwon tidak pernah menghiraukan apapun yang diocehkan Kyuhyun karena perkataannya lebih banyak ngawur daripada benar. Tetapi kali ini Siwon dibuat merenung. Kalimat tadi seperti palu yang mengetuk hatinya dengan keras dan sekarang jantungnya berdebar kencang.
Tanpa kau sadari, mungkin saja di hatimu nama Park Eun Ji perlahan terhapus dan digantikan oleh nama Kim So Eun.
“Tidak mungkin,” lirih Siwon dengan senyum remeh tersemat di bibirnya. Dengan cepat otaknya menepis gagasan gila itu. Mana mungkin ia mulai menyukai So Eun. Membencinya, itu kata yang paling tepat.
“Aku membencinya, Cho Kyuhyun. Dia adalah faktor utama terhalangnya rencanaku menikahi Eun Ji,” Siwon melototi Kyuhyun. Ia seolah ingin meyakinkan diri sendiri bahwa ia memang mencintai Eun Ji, bukan So Eun.
Kyuhyun terkekeh, “Jangan pernah mengatakan ‘benci’ pada seorang wanita, Choi Siwon. Karena ‘benci’ adalah definisi lain dari ‘cinta’,” ucapnya membuat Siwon kembali terbelalak. Lama-lama kata-kata Kyuhyun semakin melantur kemana-mana. Siwon meletakkan gelas esspresso yang sejak tadi digenggamnya, sedikit keras.
“Cara bicaramu seperti kau Aphrodite saja! Berhenti mengkhotbahiku!”
“Well, setidaknya kau lebih beruntung dariku karena bisa terus menatap wanita yang kau cintai dari dekat,” Kyuhyun lebih memilih mengalah sebelum Siwon mengamuk. Siwon mengangguk puas.
“Memang kemana istrimu sekarang?”
“Je Young sibuk dengan kegiatan amalnya. Sekarang dia bersama beberapa relawan dari UNICEF sedang pergi mengunjungi korban gempa di China.”
“Salahmu mengapa menikahi wanita yang lebih suka beramal di banding suaminya,” timpal Siwon.
“Aku tak peduli. Yang penting kami saling mencintai,” Kyuhyun diam sejenak. “Aku serius Siwon-ah. Cobalah membuka hati untuk So Eun karena dalam situasimu sekarang, memaksakan diri menikah dengan Eun Ji hanyalah tindakan sia-sia. Orang tuamu tidak pernah merestui kalian.”
Siwon menghela napas. “Aku akan berusaha.”

—o0o—

Kondisi rumah tangga Siwon-So Eun tidak kunjung membaik bahkan setelah lewat tiga minggu dari waktu pertengkaran mereka. So Eun malah merasa jarak antara dirinya dengan Siwon semakin menjauh hingga satu tahun cahaya.
So Eun hanya menghela napas saat melihat Siwon kembali berakting di depan Ayahnya yang masih terbaring sakit. Kali ini Ayahnya meminta sesuatu yang mengejutkan dari mereka berdua.
“Bolehkah Appa meminta kalian memberikan Appa cucu secepatnya?”
Siwon memandang So Eun sekilas untuk melihat reaksi gadis itu. Rupanya sama, So Eun terkejut. Serupa dengan reaksinya.
“Kami, kami masih memikirkannya,” jawab So Eun lebih dulu sebelum Siwon membuka mulutnya.
Bahkan sebelum Siwon mendapatkan pertanyaan seperti itu, So Eun tahu beban pikiran suaminya sudah terlalu banyak. Tak perlulah ditambah pertanyaan yang tak bisa dijawab seperti itu. Cucu? So Eun merasa begitu sedih dan bersalah karena sampai kapanpun, ia tidak akan pernah bisa mewujudkan harapan Appanya. Siwon tidak pernah mau menjadikannya ibu bagi anak-anaknya kelak.
“Tak perlu pikirkan ucapan Appa. Aku akan sepelan mungkin memberinya pengertian.” Hibur So Eun saat mereka kembali ke rumah sepulang dari rumah sakit.
Siwon tidak menjawab. Dia hanya melepaskan jas lalu melonggarkan simpul dasinya. Ia merasa sesak. Semua masalah yang timbul dalam hidupnya membuat kepalanya hampir meledak.
“Berhenti bersikap manis padaku,” ucap Siwon dingin. Ia berbalik menatap So Eun yang terkesiap kaget. Gadis itu terpaku ditempatnya. Ia memang tidak kaget lagi jika mendengar ucapan dingin Siwon. Hanya saja, sorot mata pria itu kali ini seperti pisau yang menusuk jantungnya. Membuat benda itu seperti terjatuh. Ia sakit, melihat ekspresi Siwon yang menderita seperti ini. Kenapa, kenapa Siwon harus sesedih ini saat hidup bersamanya?
“Apa yang kau pikirkan saat pertama kali mendengar akan dijodohkan denganku? Kau senang? Kau takut? Atau kau frustasi?” Siwon mengajukan pertanyaan dengan wajah dingin. So Eun merasa lidahnya kelu. Ia ingin menangis tapi tidak bisa.
“Tidak ada…” suaranya mulai bergetar.
“Mengapa kau tetap menikah denganku meskipun tahu aku mencintai gadis lain?” Siwon perlahan berjalan mendekatinya, So Eun merasa kakinya tak bisa bergerak. Ia hanya terdiam di tempat tanpa bisa berpindah.
“Dan kenapa kau masih mau mempertahankan rumah tangga ini meskipun kau tahu aku tidak mencintaimu?!!” Siwon berteriak di depannya dan detik itu pula So Eun merasakan kesabarannya habis. Cukup. Ia tidak ingin diperlakukan seperti ini lagi. Semuanya sudah cukup.
“Lalu apa yang kau inginkan?!!” So Eun balas berteriak. Ia tidak bisa memaksakan diri lagi. setiap wanita memiliki kesabaran pada level yang berbeda-beda. So Eun memang dikenal sebagai gadis yang sabar tapi jika Siwon terus memperlakukannya seperti ini, ia tidak bisa hanya diam.
“Aku melakukan semua ini karena Appa!! Aku menikah denganmu karena aku sangat mencintai kedua orangtuaku dan inilah bukti pengabdianku pada mereka seumur hidup! Karena itu kau tidak perlu merasa terbebani dengan pernikahan ini karena kita memang tidak pernah saling mencintai!!” Setelah mengatakannya, So Eun membalikkan badan lalu berlari ke kamarnya. Ia menangis semalaman.
Kali ini Siwon yang terkejut. Pertama kalinya, ia melihat So Eun menangis. Seharusnya ia tidak merasa menyesal, tapi kenapa hatinya seolah ada yang bergeser. Ada apa ini? Perasaan apa yang sekarang sedang menyelimuti hatinya?

—o0o—

So Eun sebenarnya tidak ingin pergi setelah pertengkaran dengan Siwon semalam. Namun siang ini pun ia terpaksa mengantarkan bekal karena Eomma mertuanya kembali mempertanyakan hal itu. So Eun ingin menolak, bagaimanapun ia tidak tahu harus memasang ekspresi seperti apa saat berhadapan dengan Siwon nantinya. Syukurlah Siwon tidak ada ketika ia datang ke sana. Sekretarisnya yang bernama Janette mengatakan bahwa Siwon sedang menghadiri rapat karena itu ia hanya meletakkan bekal makan siang di atas meja kerjanya lalu memutuskan pulang daripada harus menunggu pria itu datang kembali.
Ponselnya berdering saat ia berjalan menuju lift untuk turun ke lantai bawah.
“Yoboseyo?”
“So Eun?” gadis itu membelalakkan matanya karena ini pertama kalinya ia mendengar kembali suara Donghae setelah hampir beberapa bulan tidak mendengarnya.
“Lee Donghae? Bagaimana kabarmu? Apa kau sudah kembali dari Jepang?” So Eun berusaha agar nada suaranya terdengar ceria karena ia juga mendengar suara Donghae ceria di ujung sana.
“Aku ada di bandara Narita, aku akan pulang ke Korea satu jam lagi. Soal kabarku, aku baik-baik saja. Setidaknya Jepang membuat suasana hatiku sedikit membaik.”
“Syukurlah.”
“Bagaimana kabar pernikahanmu? Tentu kau berbahagia dengan suamimu, bukan?”
So Eun tertegun. Berbahagia dengan suami? Itu hanya pernyataan kosong. Namun hal itu tidak terucapkan oleh bibirnya. Akhirnya ia hanya mengatakan, “Tentu saja. Lain kali kau harus bertemu dengan suamiku.”
Bagaimana bisa ia mengucapkan kalimat tak bertanggung jawab seperti itu? Mana mau Siwon bertemu dengan mantan kekasihnya.
“Baiklah, aku tidak sabar menantikannya.” Itu kalimat terakhir Donghae sebelum mereka menutup pembicaraan. Setidaknya ada hal yang membuatnya gembira hari ini. Ia sangka kebahagiaan itu akan berlangsung lama. Namun prasangkanya itu hilang saat ia melihat Eun Ji keluar dari lift saat pintu lift terbuka.
“Oh, nyonya Choi,” Eun Ji berkata dengan nada menyindir. So Eun berusaha untuk tetap ramah meski ia enggan menanggapi Eun Ji.
“Apakah kau kemari mengunjungi suamimu?”
So Eun tersenyum, “Apa ada hal lain selain itu? Tentu saja tidak. Kalau begitu aku permisi,” kakinya sudah melangkah melewati Eun Ji, hendak menekan tombol lift ketika ia mendengar suara gadis itu lagi.
“Choi Siwon tidak mencintaimu, mengapa kau tidak meninggalkannya saja?”
Mata bulat So Eun membelalak. Tangannya yang kini menempel di tombol ‘open’ lift bergetar. Ia membalikkan badan menatap Eun Ji yang kini tersenyum mengejeknya. Sabar, sabar, sabar.
“Tidak perlu memikirkan bagaimana kehidupan rumah tangga orang lain, Eun Ji-ssi. Aku dan Siwon Oppa bisa menghadapi masalah kami tanpa perlu campur tangan darimu,” balas So Eun dengan senyum di bibirnya, berbanding terbalik dengan hatinya yang bergetar ketakutan. Eun Ji tersentak kaget. Ia tak percaya jika So Eun akan menimpali kata-katanya. Ia sudah membuka mulutnya untuk membalas, namun So Eun lebih dulu menyela dengan kalimatnya.
“Aku heran apa yang ada dalam pikiranmu. Bukankah kau juga seorang wanita, Eun Ji-ssi? Tentu kau tahu bagaimana rasanya ketika lelaki yang kau cintai justru mencintai wanita lain?” So Eun mulai menyelipkan sedikit emosi pada nada bicaranya. Ia segera menarik napas lalu menghembuskannya beberapa kali untuk menormalkan kembali gejolak hatinya.
Eun Ji merasa seperti tertusuk pisau saat mendengar ucapan So Eun barusan. Seharusnya itu kalimatnya. Seharusnya ia yang mengatakan kata itu pada So Eun. Tentu saja ia tahu bagaimana rasanya ketika pria yang dicintai lebih memilih bersama wanita lain. Itu sangat menyesakkan hati dan membuatnya ingin mati.
Airmata hampir merebak di pelupuk mata, karena itu So Eun membalikkan tubuh berniat menekan tombol lift kembali ketika lagi-lagi Eun Ji menginterupsi gerakan tubuhnya.
“Kau tahu Siwon pergi kemana ketika kalian bertengkar tempo hari?” Eun Ji berkata dengan nada menggebu. So Eun mematung di tempatnya, ia tidak berani membalikkan tubuh. Telinganya pun takut untuk mendengar apa yang akan Eun Ji katakan.
Eun Ji tersenyum licik melihat kekakuan So Eun, “Siwon Oppa datang ke tempatku. Dan aku tahu apa yang kami lakukan?” ia terdiam sejenak untuk melihat reaksi So Eun. Gadis itu terkesiap lalu menghadap Eun Ji dengan kedua mata mengeryit takut, bingung, marah, dan penasaran.
“Kami tidur bersama.”
Bagai petir yang menyambar langsung dari langit, So Eun terkejut bukan main. Sekujur tubuhnya seperti dijatuhkan dari lantai 30 dan jatuh langsung ke tanah dengan keras.
“Kami tidur bersama,” Eun Ji mengulanginya dan merasa sangat puas karena berhasil membuat So Eun syok berat. “Kau de—“
Plakkk!!!
Eun Ji memegangi pipinya refleks saat rasa sakit yang menyengat menjalari pipinya. Beberapa detik sebelum ia menyelesaikan kalimatnya, tangan So Eun melayang. Pipinya yang semula putih kini sedikit memerah. Ia menatap marah So Eun. Beraninya gadis ini. Ia ingin memaki, sungguh. Hanya saja ekspresi So Eun saat ini membuatnya terpaksa menelan kembali kalimatnya.
“Demi apapun, aku tahu kalian saling mencintai. Tapi, haruskah kau mengatakannya padaku? Haruskah aku mengetahuinya?!!” berkata dengan suara tercekat, lelehan airmata mulai menghiasi pipi So Eun. Matanya yang bulat memerah dan bibirnya bergetar. Hatinya terluka, sangat. Seperti yang dikatakannya, ia tahu Siwon dan Eun Ji saling mencintai. Tapi, tapi, haruskah ia mendengar hal itu?
Begitu denting lift terdengar dan pintu terbuka, So Eun segera membalikkan badan dan masuk ke dalam lift, tanpa memandang Park Eun Ji lagi. Sepanjang perjalanan pulang, So Eun menangis. Ia bahkan tidak peduli bahwa sudah lebih dari lima mobil yang membunyikan klakson peringatan padanya karena mengemudikan mobil dalam kecepatan tinggi. Entah sudah berapa banyak makian yang diterimanya, ia tak peduli. Hanya dengan melaju kencang seperti ini, ia bisa meredam sedikit jeritan tangisannya yang menyeruak bak ombak memecah karang.
Perkataan Eun Ji seolah mengkonfirmasi segalanya. Sekarang ia sadar bahwa perasaannya hanya omong kosong belaka. Seperti pensil yang tak ada rautannya. Tak akan berguna sama sekali. Ia harus melupakan perasaannya pada Siwon. Pria itu memang tidak mencintainya. Haruskah, haruskah ia memilih jalan perceraian?

—o0o—

Eun Ji meremas sumpit yang digenggamnya dengan penuh amarah. Ia tidak bisa memaafkan So Eun yang menamparnya tadi. Ia tidak salah bicara bukan. Memang seharusnya gadis itu tahu apa yang sebenarnya terjadi antara dirinya dan Siwon. Siwon mencintainya dan pasti akan meninggalkan So Eun cepat atau lambat. Mungkin jika ia mengatakannya, So Eun akan mundur secara teratur dan membiarkan dirinya memiliki Siwon secara utuh.
“Kau kenapa?” Siwon merasa heran melihat Eun Ji yang terus menggerutu tak jelas. Acara makan siang mereka terganggu akhirnya. Eun Ji membenarkan posisi duduknya lalu mendesah.
“Istrimu sungguh gadis yang menyebalkan dan tak bisa diajak bergurau. Aku hanya berkata sedikit dia sudah berani menamparku!” keluh Eun Ji dengan nada agak merengek. Akhirnya tiba sesi mengadu Eun Ji pada Siwon. Tentu saja mendengarnya Siwon terkejut.
“So Eun kemari?” Siwon malah bertanya dengan nada heran, membuat Eun Ji semakin kesal mendengarnya. Bukan ini reaksi yang ia inginkan dari Siwon.
Semenjak mereka bertengkar tempo hari, suasana antara Siwon dan So Eun menjadi semakin canggung dan dingin. Seharusnya ia merasa lega karena tidak perlu berinteraksi dengan gadis pengganggu itu tapi apa yang terjadi sekarang, ia merasa salah satu sisi hatinya terasa hampa. Apa yang terjadi, ia pasti salah paham akan perasaannya sendiri.
Eun Ji meletakkan sumpitnya dengan keras. Ekspresi Siwon yang tampak seperti orang kebingungan membuatnya semakin kesal. “Kenapa tidak mengatakan apapun? Seharusnya kau menghiburku!!” suara Eun Ji meninggi, hampir mengalihkan perhatian seluruh pengunjung restoran China itu pada mereka berdua.
“Kau tidak tahu bukan apa yang dilakukan istrimu? Dia sudah menamparku. Hatiku ini sangat terluka. Dia menamparku dan menuduhku sudah merebutmu darinya! Seharusnya aku yang berteriak seperti itu. Dia ia yang sudah merebutmu dariku! Aku butuh penghiburan darimu dan sekarang kau malah berdiam tak jelas seperti ini?”
“Eun Ji~ssstt…” Siwon meminta Eun Ji memelankan suaranya namun terlambat, sisi sensitif gadis itu sudah terusik. Kini Eun Ji mulai meneteskan airmata.
“Sampai kapan kau akan membuatku seperti ini? Kau mencintaiku, bukan? Seharusnya kau segera meninggalkan dia.”
Siwon terenyuh melihatnya. Ia merasa tidak tega sekaligus bersalah. Lantas ia bangkit dari tempat duduknya lalu mengambil tempat di kursi samping Eun Ji, merangkul bahu gadis itu lalu menghapus airmatanya.
“Jangan menangis. Aku berjanji akan meninggalkan So Eun. Kau hanya tinggal menunggu. Kumohon bersabarlah,” Siwon memeluknya erat. Eun Ji merasa lega dalam dekapan Siwon meski airmata masih mengalir di pipinya.
“Kau harus tepati janjimu,” lirih Eun Ji, lalu balas memeluk Siwon. Tanpa Siwon sadari, seulas senyum licik terbit di sudut bibir gadis itu.

—o0o—

Foto pernikahan yang terpajang cantik di salah satu dinding ruang tamu apartement tak membuat So Eun tersenyum penuh arti. Pada awalnya di matanya foto dirinya dalam balutan gaun pengantin, berdiri berdampingan dengan laki-laki paling tampan yang pernah ia temui tampak begitu manis dan berhasil membuat wajahnya tersipu. Sekarang, foto itu tak lebih dari sebuah potret penuh kepalsuan. Ia bahkan tidak bisa tersenyum malu lagi saat menatapnya. Hatinya justru merasa sakit dan perih.
So Eun menggigit bibirnya keras agar matanya yang berkaca-kaca kembali normal. Ia tidak mau menangis lagi. Matanya mungkin sudah bengkak dan ia tidak mau Ayahnya mempertanyakan hal ini saat ia menjenguknya nanti.
Terdengar suara ‘pip-pip’ dari arah luar pintu pertanda seseorang sedang memasukkan kode keamanan rumah. So Eun cepat-cepat menormalkan kembali ekspresinya karena ia yakin Siwon sudah kembali dari kantor. Pintu berderit terbuka tak lama kemudian. Tepat seperti dugaan, sosok tinggi tegap masuk dengan jas yang tersampir di tangannya.
Biasanya So Eun akan langsung menghampiri Siwon. Tapi berbeda situasinya kali ini. Ia memilih diam di tempatnya.

Siwon bisa membaca suasana dari raut muka istrinya. Maka dari itu ia tidak perlu berbasa-basi lagi. Ia segera meletakkan tas yang dibawanya ke atas meja, lalu berdiri di hadapan So Eun.
“Kau menampar Eun Ji?” tanyanya dingin. Mungkin di telinga orang lain akan terdengar ketus, namun terselip rasa penasaran dan cemas dari intonasinya.
So Eun melirik sekilas, lalu menjawabnya tanpa minat. “Wanita itu mengadu padamu rupanya.”
“Wanita itu?” Siwon meninggikan suaranya, tersinggung atas jawaban So Eun.
“Iya, Park Eun Ji. ‘Kekasih gelapmu’,” ujar So Eun sinis.
Siwon mendesis marah sambil berkacak pinggang. Tadinya ia berniat menanyakan alasan So Eun menampar Eun Ji dengan baik-baik. Rupanya niat itu harus diurungkan.
“Aku tak menyangka kau bisa kasar seperti ini. Aku pikir kau gadis baik-baik yang,” Siwon berhenti sejenak untuk mengatakan kata ‘penakut’. “Kupikir kau gadis yang berhati-hati. Apa orang tuamu tidak pernah mengajarimu tatakrama?”
So Eun menoleh saat Siwon menyinggung orang tuanya, hatinya bergemuruh. Siwon boleh saja menghina siapapun asal bukan orang tuanya. Ia berdiri, lalu menatap Siwon tajam.
“Orangtuaku tidak ada sangkut pautnya sedikitpun dengan kejadian hari ini jadi jangan pernah membawa mereka dalam masalah yang kubuat!”
Kali ini Siwon terkejut, karena pertama kalinya ia melihat So Eun berkata dengan mata menyala-nyala dan penuh emosi seperti ini. “Jika ada yang harus disalahkan, dia adalah Park Eun Ji. Kau tidak mendengar apa yang dia katakan? Dia bilang,” kata-kata So Eun tersendat. Ia tidak boleh mengatakannya. Hatinya sudah terlalu hancur. Apa harus ia membuat hatinya berubah menjadi debu saat mengatakannya?
“Apa?” Siwon mengeryitkan kedua alisnya tegas.
“Gadis sepertinya tidak pantas untuk dihormati!”
“Mwo?” Siwon terperanjat dan entah kenapa ia kesal sekali, dan marah. So Eun sudah menjelek-jelekkan Eun Ji di hadapannya? Benar-benar tidak bisa dimaafkan.
“Kau tidak bisa seenaknya mengatakan hal jelek tentang Eun Ji karena kau tidak tahu apapun tentangnya!”
“Geurae! Lalu aku memang tidak tahu apapun dan aku tidak berminat untuk tahu seperti apa Park Eun Ji. Aku hanya meminta satu hal, jika ingin mengkhianatiku, lakukan dengan halus. Jangan sampai aku mengetahui apapun tentang itu.” So Eun mencoba menahan airmata namun percuma, buliran bening itu tetap saja jatuh dari kelopak matanya. Siwon sudah menghancurkan hatinya, lantas harus berapa banyak airmata lagi yang keluar untuk menebusnya?
Siwon membuang napas dengan keras lalu menatap So Eun dengan mata tajamnya. So Eun memalingkan wajah, ia tidak mau menatap Siwon. Wajah tampannya, sorot matanya yang misterius, dan segala hal yang ia lihat dalam diri Siwon mampu menghipnotisnya. Itu tidak boleh terjadi.
“Jadi apa yang kau inginkan?” Siwon bertanya dengan suara rendah dan dingin. Ia mencoba menahan emosi sebisa mungkin. Jika ia sampai kalap, mungkin segala benda yang ada di sekitarnya akan menjadi sasaran. Ia mengangkat wajah menatap So Eun yang tetap memalingkan pandangannya.
“Kau ingin bercerai denganku?” aneh, ia merasa sudut hatinya menjengit nyeri saat mengatakannya. Ia menatap So Eun, sengaja untuk melihat ekpresinya. Dan benar saja, rasa sakit itu kembali menyerang ulu hatinya saat melihat betapa menyedihkannya ekspresi So Eun. Gadis itu berkali-kali menggigit bibirnya yang bergetar menahan isak tangis.
So Eun berbalik menatapnya, dengan mata melelehkan airmata. “Jika itu memang yang terbaik.” Gadis itu lalu berbalik meninggalkan Siwon yang menggeram kemudian menendang meja di depannya dengan keras.

So Eun tidak peduli saat ia kembali mendengar suara pintu yang terbanting keras karena ia pun melakukan hal yang sama. Perasaan pedih, sakit, marah, cemas, takut, semuanya berkecamuk. Ia tidak bisa berpikir jernih dan seluruh tubuhnya seolah bergerak sendiri mengambil koper, lalu memasukkan baju-bajunya ke sana. Tidak ada alasan lagi baginya tinggal dengan pria egois semacam Siwon. Perasaannya selama ini pasti hanya salah paham. Ia tidak mencintai Siwon.
Beberapa lembar foto berjatuhan saat So Eun menarik salah satu baju dengan tergesa-gesa. Seluruh gerakannya terhenti. Airmatanya pun berhenti. Kini perhatiannya terfokus pada dua lembar foto yang tergeletak di lantai. Ia kembali terenyuh dan airmatanya semakin menetes keluar. Ia membungkuk, lalu mengambil kedua foto itu.
Bagaimana mungkin ia melupakan kedua orang tuanya? Saat melihat foto pertama, yang merupakan foto kedua orang tuanya membuat So Eun merasa begitu sedih dan menyesal. Ia sudah menjadi anak durhaka.
“Maaf Appa, aku tidak bisa memenuhi keinginanmu,” So Eun mendekap erat foto itu. Perceraian ini mungkin akan berdampak buruk jika Ayahnya mengetahuinya. Bagaimana bisa ia begitu ceroboh memutuskan perceraian? Ia lupa pada kondisi kesehatan Ayahnya yang tak kan kuat jika mendengar berita mengejutkan.
So Eun terduduk di tepi ranjang, menangis sejadinya. Sekarang ia bingung. Apa yang harus ia lakukan, kata ‘cerai’ sudah terlanjur dilontarkan. Akhirnya, ia melihat foto yang kedua. Foto itu adalah foto dirinya bersama Donghae.
“Maaf, aku tidak bisa bahagia, Donghae Oppa…” lirihnya sedih. Mata Donghae yang jernih di foto itu, senyumnya, membuat So Eun merasa begitu kacau sampai membuatnya hampir gila. Ia menenggelamkan kepalanya dalam kedua telapak tangannya, kembali menangis.

—o0o—

Jalanan malam hari kota Seoul dan gemerlap dunia malamnya tak membuat Siwon tersenyum. Seharusnya ia tak sekacau ini. Seharusnya perasaannya hanya sakit. Sakit karena So Eun menghina Eun Ji. Namun kenapa seperti ada sesuatu yang lain terselip di sudut hatinya dan kenyataan ini membuatnya marah dan frustasi.
“Aaarrrrrggghhhhh!!!” Siwon melampiaskan emosinya dengan berteriak kencang. Tidak akan ada siapapun yang mendengarnya karena suara teriakannya teredam oleh suara bising mesin-mesin mobil yang melaju di jalanan.
Sekarang ia butuh hiburan. Ia mencoba mengontak Eun Ji namun yang terdengar dari ponselnya hanya bunyi nada tunggu. Kesal, Siwon melemparkan ponselnya ke kursi samping. Rupanya memang tidak ada jalan lain selain perceraian. Sejak awal seharusnya pernikahan ini tidak pernah ada. Seharusnya ia tidak setuju menikah dengan So Eun hanya karena kedudukan dalam keluarga.
Siwon terlalu tenggelam dengan pikiran yang terbagi-bagi hingga ia tidak sadar bahwa mobil yang dikemudikannya mengarah ke sisi kanan jalan dan insiden pun tak bisa terelakkan.
Brakkkk!!!!!
Mobil yang dikendarai Siwon menabrak sebuah pohon besar di sisi jalan. Dunianya menggelap selama beberapa saat dan Siwon merasakan sakit yang luar biasa di bagian kepalanya. Dengan pandangan yang mengabur, Siwon berusaha melihat keadaan sekelilingnya. Asap putih mengepul dari kap depan. Untunglah, ia hanya menabrak sebuah pohon. Ia pun bersyukur karena sabuk pengaman yang dikenakannya berhasil meredam benturan. Kepalanya hanya sedikit berdenyut karena terbentur setir. Ia mencoba melepas safety belt berniat keluar untuk melihat keadaan.
“Aahhh..” gerakannya terhenti karena Siwon merasakan sakit yang menusuk di tangan kirinya. Ia harus meminta bantuan seseorang. Ia meraih ponsel yang terjatuh ke bawah kursi dengan susah payah setelah itu mencoba menghubungi Eun Ji. Tetap tidak diangkat.
Bagaimana ini? Pandangannya sudah berkunang-kunang dan ia tidak mau kehilangan kesadaran di tempat sepi dan tak dikenal seperti ini.
“So Eun,” tiba-tiba terlintas pikiran untuk menghubungi gadis itu. Ia menekan nomor kontak So Eun dengan pikiran bimbang. Haruskah ia melakukannya setelah tadi bertengkar hebat dengan gadis itu? Bagaimana jika So Eun tidak akan menjawab panggilannya seperti Eun Ji?
Tangannya yang memegang ponsel bergetar. Di tengah rasa bimbang dan putus asa, akhirnya Siwon memutuskan untuk menekan tombol hijau di ponselnya. Beberapa detik kemudian, terdengar nada tunggu dari ponsel So Eun.
“So Eun, eotteohke?” lirihnya dengan suara pelan. Segalanya berakhir jika So Eun sampai tidak menjawab panggilannya.

To be continued…

102 thoughts on “I Hate You, But.. (Part 3)

Your comment

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s