Shady Girl Eunhyuk’s Story (Part 17 End)

Tittle : Shady Girl Eunhyuk Story Part 17 End
Author : Dha Khanzaki a.k.a Shin Je Young
Genre : Romance, Married Life

Main Cast :

  • Kim Mira
  • Lee Hyukjae / Eunhyuk

Yeiii.. tiba juga dipart akhir. Part akhir ini tadinya mau author bikin dua part coz kepanjangan tapi gak papa deh. Semoga masih bisa kebuka aja yah meskipun panjang. Kalau semisalnya kepanjangan bilang aja ne. Ntar author bagi jadi dua bagian.

Semoga part ending Eunhyuk’s Story ini memuaskan chingudeul semua yah. Maaf kalau sekiranya ada typo dan bahasa ngawur.
Happy Reading ^_^

Shady Girl Eunhyuk's Story by Dha Khanzaki3

—o0o—

Hari itu, media massa Korea Selatan khususnya Seoul di buat geger dengan ditangkapnya Kim Byung Hee karena kasus kriminal yang membelitnya. Pemberitaan semakin gencar mengingat korban utamanya adalah adik dan istri pemilik dari SJ Tv. Eunhyuk tidak peduli ini akan mengacaukan saham perusahaannya atau tidak, ia hanya ingin Kim Byung Hee mendapatkan efek jera baik dari segi  hukum maupun masyarakat luas.

Tentu saja walikota itu tidak bisa mengelak lagi mengingat bukti begitu kuat dan beberapa anak buahnya sudah di tangkap dan mengakui perbuatan kejam Kim Byung Hee beserta bisnis ilegalnya.

“Syukurlah. Hyung, terima kasih sudah membantuku..” ucap Eunhyuk lega. Ia baru saja mendengar dari Sungmin bahwa Kim Byung Hee akan segera di sidang. Sekarang ia melirik Mira yang masih juga belum siuman sejak 4 hari yang lalu. Sebenarnya apa yang salah? Dokter bilang seharusnya Mira sudah sadar sejak 2 hari yang lalu.

Eunhyuk semakin erat menggenggam tangan istrinya. Tatapan sendunya perlahan berubah menjadi tangisan.
“Baiklah, aku mengaku Mira..aku mencintaimu. Neomu jeongmal saranghae..jadi kumohon sekarang sadarlah..” ucap Eunhyuk sambil mengusap pipi Mira. tubuhnya tetap tak bergeming. Diam terpejam seperti putri tidur.

Di luar ruangan, Umma yang tadinya akan masuk terdiam sejenak mendengar ucapan Eunhyuk. Hatinya tersentuh dengan kalimat yang diucapkan dengan sepenuh hati oleh putranya itu. Mendadak rasa bersalah memenuhi benaknya. Rupanya selama ini Eunhyuk benar-benar mencintai Mira. Pantas saja dia begitu mempertahankan istrinya itu.

Setelah meyakinkan diri, Umma memutuskan masuk. Tak ada kata yang bisa di ucapkannya. Ia terlalu merasa bersalah hingga yang bisa dilakukannya hanyalah mengusap punggung Eunhyuk untuk menguatkannya.
“Yakinlah, istrimu pasti akan segera sadar. Dia wanita yang kuat,” Ucap Umma.

—o0o—

Hyo Yeon ingin rasanya melempar layar tv yang sedang dipelototinya saat ini. Setiap channel menayangkan berita mengenai kasus Appanya. Ia kesal sekali sekaligus kecewa. Ia tak percaya bahwa Appa yang selama ini ia kagumi, ia sanjung tinggi, dan ia hormati berbuat sejahat itu. Rasanya hampir tak percaya. Tapi banyak sekali bukti yang memberatkannya. Di tambah lagi dengan ditemukannya mobil Taemin di dalam garasi rumahnya. Jadi, mobil merah dengan kap terbuka itu mobil milik Taemin yang hilang?

Tok tok..

Pandangan Hyo Yeon teralih pada pintu ruang rawatnya. Seorang pria berjas datang menghampirinya. Hyo Yeon kenal orang itu. Dia adalah pengacara pribadi Appanya.
“Tuan Jang, untuk apa kemari?” tanya Hyo Yeon dingin pada pengacara bernama Jang Wooyoung itu. Dia menundukkan kepalanya sejenak lalu mendekati Hyo Yeon yang duduk di atas ranjang rawat. Tubuhnya masih terlalu lemah untuk berpindah.
“Aku diperintahkan Tuan Kim untuk menyerahkan ini padamu, nona.” Ucapnya seraya mengulurkan sebuah amplop pada Hyo Yeon. Dengan ketus gadis itu mengambilnya.
Ia membuka isi dari amplop itu. Ia menemukan selembar tiket pesawat dan sebuah kunci rumah. Hyo Yeon juga menemukan sepucuk surat. Ia membacanya.

Hyo Yeon sayang..

Appa tahu Appa sudah mengecewakanmu. Appa tidak akan menuntutmu untuk memaafkan Appa atas semua perbuatan yang Appa lakukan. Appa memang bersalah. Tapi percayalah, bahwa Appa sangat menyayangimu. Appa ingin yang terbaik untukmu.

Mungkin karena kasus ini, Appa harus mendekam di penjara selama beberapa tahun atau mungkin seumur hidup. Karena itu, Appa minta maaf tidak bisa menjagamu. Pergilah ke rumah Ummamu di Perancis sana. Keluarga Umma-mu akan menggantikan Appa menjagamu.

Kau tidak perlu repot-repot menemui Appa. Sesungguhnya Appa sangat malu jika harus menatap wajahmu lagi. Pergilah, dan hidup bahagia. Dengan begitu, Appa bisa tenang menjalani masa tua Appa dalam penjara yang gelap dan dingin.

Eternal Love,
Your daddy..

Tes..tes..tes..

Hyo Yeon tidak bisa menahan airmata yang sudah terbendung sempurna itu. Ia terisak lalu perlahan menangis kencang.
“Appa..aku..aku sangat menyayangimu.” Hyo Yeon mendekap lembaran surat itu ke dadanya. Ia segera melepas selang infus di tangannya kemudian menyibakkan selimut. Ia ingin segera menemui Appanya. Ia ingin sekali memeluk sang Appa sekarang juga. Ia menyesal kenapa kemarin ia mengusir Appanya dengan sangat kejam.

Setelah bertemu dengan Appanya, Hyo Yeon menghela napas. Ia harus mengikuti keputusan Appanya pergi ke Perancis. Sekarang yang ia inginkan adalah bertemu dengan Eunhyuk, Taemin, dan istrinya, Mira. ia ingin meminta maaf pada mereka mewakili Appanya.

—o0o—

Eunhyuk sedang memandangi wajah pucat Mira. sementara Umma dan Taemin masih setia menunggu di sana.
Terdengar suara pintu dibuka seseorang. Otomatis perhatian seluruh orang di dalam ruangan itu teralih pada seseorang yang melangkah masuk.

“Hyo Yeon..” seru Eunhyuk kaget melihat Hyo Yeon masuk ditambah lagi dengan penampilannya yang tidak biasa. Gadis itu jauh dari kata modis seperti biasanya. Hanya ada pakaian rumah sakit dan wajah cantiknya pun pucat tak terpoles make up sedikitpun. Gadis itu tersenyum tipis pada orang-orang yang menatapnya dengan berbagai macam ekspresi.
Sebenarnya ia takut. Tapi inilah yang harus ia hadapi sekarang.

“Nuna sudah baikan? Kudengar Nuna masuk rumah sakit.” Ucap Taemin setengah khawatir.

Umma maju ke hadapan Hyo Yeon begitu menyadari bahwa yeoja yang berdiri itu adalah putri dari Kim Byung Hee.

“Kau..” tunjuk Umma geram.

Plakkk!!!

“Umma!!” seru Taemin dan Eunhyuk bersamaan. Mereka kaget karena mendadak saja Umma melayangkan tamparannya pada Hyo Yeon. Gadis itu pun terkejut. tangannya refleks memegang pipinya yang memerah akibat tamparan Umma. Airmatanya membendung. Sakit memang. Namun ia tidak berhak marah. Ini wajar saja di dapatkannya.
“Untuk apa kau kemari, Hah? Kau masih punya nyali untuk menemui kami setelah apa yang ayahmu lakukan? Tindakan bejat ayahmu itu hampir saja merenggut nyawa putraku dan menantuku. Tidak hanya itu, karena Ayahmu..Eunhyuk harus kehilangan calon anaknya. Apa kau pikir permintaan maafmu itu akan di terima? Meskipun kau menggantinya dengan uang berjumlah ratusan milyar pun nyawa calon cucuku tidak akan pernah bisa digantikan!!!!” Bentak Umma dengan lelehan airmata.

Hyo Yeon terbelalak mendengar kalimat paling terakhir. Jadi..jadi..itu artinya Mira keguguran??? Gadis itu menatap Eunhyuk yang sekarang memalingkan wajahnya ke arah lain. Pandangannya pun teralih pada sosok Mira yang masih terbaring di tempat tidur. Ia meneteskan airmatanya. Ia bahkan tak sanggup menatap wajah menderita wanita di depannya. Ia hanya menundukkan kepala.
“Maaf..” lirih Hyo Yeon menyesal.
“Tidak ada kata maaf untukmu! Sebaiknya kau pergi sebelum aku memukulmu lagi!!” teriak Umma. Eunhyuk segera menenangkan Umma.
“Umma, tenanglah. Tidak seharusnya kita menghakimi Hyo Yeon. Bukan dia yang bersalah.” Ucap Eunhyuk berusaha menjauhkan Umma dari hadapan Hyo Yeon.
“Kenapa kau malah membelanya? Apa kau masih menaruh perasaan pada gadis ini?” bentak Umma.
“Tidak, Umma..” ucap Eunhyuk pelan. Ia melirik pada Taemin dan memberi isyarat agar adiknya itu membawa Umma keluar untuk menenangkan diri.

Setelah Umma pergi, Eunhyuk memperhatikan Hyo Yeon yang masih menundukkan kepalanya.
“Seharusnya kau tidak datang kemari, Hyo Yeon-ah. Kau tahu kan situasi saat ini sangat rumit.” Nasihat Eunhyuk.
Perlahan gadis itu mengangkat kepalanya. “Kenapa meminta maaf saja begitu sulit? Dan apa minta maaf itu tindakan hina?” tanya Hyo Yeon.
“Tidak. Tapi kau datang di waktu yang salah. Setidaknya tunggu hingga kondisi kembali normal.”
“Aku tidak punya banyak waktu, Eunhyuk-ah. Karena beberapa hari lagi, aku harus pergi ke Perancis..” ucap Hyo Yeon mulai menghapus airmatanya.
“Ke Perancis?”
“Ne. Aku akan tinggal di sana. Mungkin, aku tidak akan kembali lagi ke Korea. Karena itu, sekarang adalah waktu yang tepat untuk meminta maaf. Setidaknya aku belum terlambat. Aku tidak akan menuntut kalian untuk memaafkanku dan ayahku. Karena bagaimanapun, karena aku ayah melakukan semua ini..aku sangat menyesal Eunhyuk-ah..” Hyo Yeon berjalan hingga ke tepi ranjang tempat Mira terbaring lemah.

“Karena aku pula, kalian harus kehilangan calon bayi kalian. Aku..aku tidak tahu harus berbuat apa untuk menebusnya..” lirih Hyo Yeon. Lelehan airmata itu terus mengalir meskipun sudah berkali-kali ia menghapusnya.
“Tentu saja ada..” ucap Eunhyuk seraya mendekatinya. Ia tidak ingin membuat Hyo Yeon merasa bersalah seumur hidupnya. Ini bukanlah beban yang harus ditanggungnya. Tak seharusnya Hyo Yeon mendapatkan karma atas apa yang dilakukan ayahnya.
Eunhyuk membalikkan badan gadis itu menghadapnya.
“Kalau begitu, hiduplah dengan bahagia. Biar saja waktu yang menghapus semua rasa sakit yang kami alami. Tak semestinya kamu terus sedih karena penderitaan yang ayahmu ciptakan. Ini bukan kesalahanmu. Karena itu, lupakan semua hal buruk yang sudah terjadi dan mulai lah lembaran baru. Kami pun akan mencoba melakukan hal yang sama.” Jelas Eunhyuk dengan wajah berbinar.

Mendengarnya semakin membuat Hyo Yeon terharu. Gadis itu perlahan mengangguk.
“Jeongmal gomawo, Eunhyuk-ah..kau memang pria baik. Tak sia-sia aku menyukaimu selama 3 tahun.” Hyo Yeon terdiam sejenak. “Sekali lagi, aku mewakili ayah meminta maaf padamu dan keluargamu..terutama..pada istrimu dan adikmu. Mereka pasti yang paling merasakan sakit hati. Maaf..” Hyo Yeon menundukkan kepalanya berkali-kali.

Eunhyuk mengangguk seraya menenangkan Hyo Yeon. Semoga setelah ini, tidak ada lagi yang harus terluka.

—o0o—

Dalam tidurnya, Eunhyuk melihat Mira tersenyum padanya. Istrinya itu tampak sangat cantik. Gaun putihnya sedikit berkibar begitu tertiup angin sejuk. Di sampingnya berdiri seorang gadis kecil tersenyum manis padanya. Mira berjongkok di dekat gadis itu.
“Ayo, ucapkan salam pada Appa..” bisiknya pelan. Namun entah kenapa Eunhyuk bisa mendengarnya dengan jelas. Gadis kecil itu melambaikan tangannya.
“Appa, annyeong..” ucapnya. Suaranya yang riang khas anak kecil membuat Eunhyuk tak bisa menahan airmatanya. Namja itu menangis terharu. Itu kah anaknya dan Mira? seorang yeoja manis dengan wajah cantik seperti Mira?

Mira berdiri lalu menatap Eunhyuk dengan mata berbinarnya. “Oppa, aku harap kau bisa bahagia meskipun tanpa diriku.” Ucapnya. Eunhyuk seketika terbelalak kaget.
“Apa maksudnya ini??” teriak Eunhyuk. Ia ingin sekali berlari mendekap Mira namun kakinya seolah di lem dengan begitu kuat pada tanah hingga tidak bisa digerakkan sesenti pun. Di tengah kepanikannya, ia melihat Mira membalikkan badannya dan perlahan menjalan pergi. gadis kecil itu menggenggam tangan Mira dan ikut pergi bersamanya. Tangannya yang mungil itu melambai anggun ke arah Eunhyuk.
“Andwae..andwae..Kajima…KAJIMAA!!” teriak Eunhyuk panik dan putus asa. Ia menangis kencang melihat kepergian Mira. ia ingin mencegahnya namun tubuhnya tidak bisa bergerak sedikitpun. Ia hanya bisa menangis dan tanpa henti menyerukan nama istrinya itu.

“Mira!!!!!!”

“Mira!!!! ah—-“ Eunhyuk terbangun dari mimpinya. Napasnya tersengal dan tubuhnya basah oleh keringat. Matanya pun tak henti mengalirkan airmata. Eunhyuk memalingkan wajahnya pada sosok Mira yang masih tertidur. Ia mendesah lega. Sangat lega. Demi Tuhan..mimpinya tadi terasa begitu nyata. Tangannya semakin erat menggenggam tangan Mira.
“Kau berjanji takkan meninggalkanku sendiri. Iya kan..” ucap Eunhyuk untuk menguatkan dirinya sendiri. Jantungnya masih berdebar kencang hingga kini. Sekarang ia tidak bisa tidur lagi karena takut. Bagaimana jika saat tersadar nanti ia tidak bisa melihat Mira lagi..

tak disangka, detik berikutnya ia merasakan tangan Mira bergerak dalam genggamannya. Eunhyuk terperanjat bangun. Diperhatikannya wajah Mira dengan perasaan senang yang tak terkira. Kelopak matanya bergerak perlahan dan terbuka.
“Mira sayang..” seru Eunhyuk senang. Mata yeoja itu mengerjap mencoba menyesuaikan dengan terangnya cahaya ruangan. Kemudian kepalanya tertoleh pada sosok namja yang berdiri dengan wajah bahagia di sampingnya. Ah, ia kenal wajah itu, senyum itu…
“Eunhyuk Oppa..” ucapnya dengan suara serak. Eunhyuk lega sekaligus senang luar biasa bisa mendengar suara Mira lagi. Ia segera memencet tombol merah di samping tempat tidur istrinya.

—o0o—

Setelah diperiksa dokter, Eunhyuk dan keluarganya bisa bernapas lega karena dokter mengatakan kondisi Mira baik-baik saja. mungkin syok yang sudah membuat Mira tertidur begitu lama.

“Oppa..kau terlihat pucat..” lirih Mira cemas sambil mengusap pipi Eunhyuk. Entah sudah berapa lama ia tidak melihat wajah suaminya ini. Dan sekarang ia merasa sangat sedih melihat Eunhyuk begitu pucat dan kurus.
Eunhyuk ingin meneteskan airmata saking terharunya. Namun ditahannya. Bahkan di saat kondisinya lemah pun Mira masih mencemaskan orang lain. “Kau pikir aku begini karena siapa..aku mencemaskanmu, Mira sayang..” balas Eunhyuk seraya menggenggam tangan Mira lebih erat lagi. Gadis itu tersenyum.
“Aku baik-baik saja, Oppa. Tidak ada yang perlu dicemaskan.” Jawab Mira dengan suara pelan.

Pandangannya kini teralih pada Taemin, yang berdiri di samping Eunhyuk. Mira menatap Taemin baik-baik lalu mendesah lega.
“Syukurlah Taemin, kau tidak apa-apa..”
Taemin merasa tenggorokannya tercekat. Dan airmata itu tak bisa ia bendung lagi. Melihat Mira begitu baik padanya, tetap tersenyum dan mencemaskannya seperti ini, membuat namja itu merasa sangat bersalah dan tidak berguna. Taemin akhirnya terisak.
“Maafkan aku Nuna..aku sudah membuat kau kehilangan bayimu..maafkan aku..”

Eunhyuk terkejut mendengarnya. Ia segera meminta Taemin agar berhenti berbicara. Ia tidak ingin Mira syok atau semacamnya. Ia menatap Mira baik-baik. Jika istrinya itu sampai menangis ataupun berteriak histeris, ia bisa bersiap menenangkannya.

Tapi reaksi Mira sungguh di luar dugaannya. Gadis itu memang sempat terbelalak kaget. Namun tidak menangis atau pun menjerit histeris seperti perkiraannya. Mira diam sesaat lalu kemudian tersenyum dengan mata berkaca-kaca.
“Gwaenchana..mungkin aku belum di izinkan menjadi ibu. Jadi kau tidak perlu merasa sedih ataupun bersalah, Taemin. Nuna melihatmu selamat pun itu sudah merupakan berita baik..” ucapnya dengan suara berat, seperti menahan tangis.

Eunhyuk merasakan hatinya sakit. Mira..kenapa kau setegar ini? Jika ingin menangis, menangislah..keluarkan semua emosi yang kau pendam. Jangan menyimpan semua kesedihanmu sendirian..kau tidak akan kuat. Batin Eunhyuk.

Taemin mendekat lalu memeluk Mira. Bahunya bergetar menahan isakan. “Mianhae, Nuna..seandainya aku tahu lebih cepat bahwa Nuna sedang mengandung..”
“Sudah kubilang kan tidak apa-apa..” ucap Mira sambil menepuk-nepuk punggung Taemin. Namja itu melepas pelukannya lalu menatap Mira.
“Nuna, mulai sekarang..jangan sungkan untuk meminta bantuan apapun padaku. Aku akan membantumu sebisa mungkin..” ucap Taemin sungguh-sungguh. Ia ingin sekali menebus rasa bersalahnya.
“ya..kami tidak butuh pembantu..” sindir Eunhyuk

Dari luar, Umma menahan diri untuk tidak menangis melihat Mira begitu berbesar hati menerima kenyataan dan memaafkan Taemin. Menantu yang sempat tidak diakuinya itu pun bisa tersenyum sebebas itu dan tidak menunjukkan tanda-tanda kemarahannya. Ternyata..selama ini ia memang sudah dibutakan. Kali ini, ia harus mulai menerima Mira sepenuhnya. Dia adalah menantu terbaik untuk keluarganya. Tak akan ada orang yang sama seperti Mira di dunia ini.

“Oppa, aku ingin pulang. Bisakah kita pulang sekarang?” tanya Mira. eunhyuk kebingungan. Ia masih mengkhawatirkan keadaan Mira. namun ia juga tidak tega melihat wajah memohon istrinya saat ini. Akhirnya Eunhyuk memilih untuk mengalah.
“Baiklah, kita pulang. Tapi besok pagi. Oke..” ucap Eunhyuk sambil mengecup kening Mira.

—o0o—

“Eunhyuk, kemari..” ucap Umma menarik Eunhyuk keluar dari ruang rawat Mira sementara istrinya sedang sibuk membereskan barang-barang dibantu Taemin.
“Ada apa, Umma?” tanya Eunhyuk bingung.

Umma menatap Eunhyuk sungguh-sungguh. “Umma tahu Mira sebenarnya sedang terguncang..” ucap Umma membuat Eunhyuk mengerjap. Jadi, Umma pun menyadarinya?
“Siapapun bisa melihat kesedihan yang tak terkira hanya melihat sorot matanya saja. hanya Mira saja yang tak ingin orang lain menyadarinya.” Tambah Umma.
“Umma ingin kau menguatkannya. Sebagai seorang ibu, Umma bisa merasakan rasa sakit yang sekarang Mira rasakan. Dulu, sebelum Umma mengandung dirimu pun, Umma sempat mengalami keguguran. Dan Umma tahu bagaimana rasa sedih dan sakit itu. Beruntung mendiang appamu menguatkan Umma sehingga Umma tidak terlalu terpuruk. Sekarang, kau juga harus melakukannya. Berikan perhatian lebih padanya. Arraseo.” Ucap Umma.
Eunhyuk mengangguk. “Baik, Umma. Aku tahu.”

Taemin dan Umma pulang lebih dulu setelah membantu Mira berkemas. Sekarang Eunhyuk membantu Mira berjalan dengan memapahnya pelan.
“Aku bisa berjalan sendiri, Oppa.” Ucap Mira malu karena di koridor rumah sakit, orang-orang memperhatikan mereka.
“Biar saja. memang salah suami membantu istrinya..” Eunhyuk tak peduli dengan pandangan semua orang. Yang ia inginkan sekarang adalah kesehatan istrinya.

“Oppa..”

Kedua orang itu menoleh mendengar suara yeoja. Eunhyuk terkesiap. Kali ini ia kembali melihat Hyo Yeon. Namun kali ini penampilannya berbeda. Gadis itu tampak lebih rapi dan secantik biasanya. Eunhyuk terdiam menatapi Hyo Yeon sementara Mira bergantian memandangi suaminya dan gadis di hadapan mereka itu. Sejujurnya, Mira tidak tahu siapa dia.

Hyo Yeon tersenyum dan maju perlahan mendekati Eunhyuk dan Mira.
“Hai, senang bertemu denganmu. Aku Hyo Yeon.” Ucapnya sambil mengulurkan tangan. Mira mengerjap. Ah, ia ingat. Bukankah ia pernah melihat foto Hyo Yeon di laptop Eunhyuk waktu itu?
“Aku Mira.” Mira menyambut tangan Hyo Yeon lalu menjabatnya. Ada perasaan aneh merayapi dirinya saat ia menjabat tangan Hyo Yeon.

“Tenang saja, aku datang kemari untuk berpamitan dengan kalian.” Ucap Hyo Yeon menyadari ada aura dingin menyelimuti suasana di antara mereka.
“Oh, jadi kau akan pergi ke Perancis hari ini?” tanya Eunhyuk. Hyo Yeon mengangguk.
“Mungkin ini adalah pertemuan terakhir kita karena aku tidak akan kembali lagi ke Korea. Eunhyuk-ah, sebelumnya terima kasih karena dulu pernah mengisi hatiku.” Ucap Hyo Yeon.

Mira menundukkan kepalanya, ia menyesal mendengarkan pembicaraan ini. Hatinya mendadak bergemuruh sekarang. Eunhyuk berdehem sejenak untuk mencairkan suasana.
“Kalau begitu, hati-hati di sana. Ingat, jangan sembarangan jatuh cinta pada pria Perancis. Carilah pria yang benar-benar mencintaimu dan tidak ingin kehilanganmu.” Nasihat Eunhyuk. Hyo Yeon tertawa.
“Kau benar. Bukankah Perancis itu tempat yang mudah membuat orang jatuh cinta. Kalau begitu, sekali lagi aku pamit. Dan Kim Mira, aku minta maaf” ucap Hyo Yeon sebelum benar-benar pergi. mira mengangkat kepalanya.
“Aku minta maaf untuk semuanya” Hyo Yeon berkata dengan tulus. Dan mana mungkin Mira tidak memaafkannya.
“Tentu saja. semuanya bukan salahmu..” balas Mira.

Gadis itu hendak pergi namun berbalik kembali.

“Ah, satu hal lagi..Lee Hyuk Jae-ssi..” Hyo Yeon menatap Eunhyuk serius. Namja itu menelan ludahnya bersiap mendengar ucapan Hyo Yeon.
“Aku tidak suka dengan istilah ‘dicampakkan’. Jadi sebaiknya aku yang memutuskan hubungan kita.” Ia diam sejenak. “Lee Hyuk jae, kita putus!!!” seru Hyo Yeon kencang membuat orang-orang di sekitar mereka menoleh.

Eunhyuk membelalakkan matanya. aigoo..haruskah dia mengatakannya sekencang itu?

“Ah, aku lega. Kalau begitu, sampai jumpa..” Hyo Yeon melambaikan tangannya sebelum dia masuk ke mobil dan melaju pergi meninggalkan Eunhyuk dan Mira.

—o0o—

“Jadi yang tadi itu Hyo Yeon..hmm, cantik sekali. Pantas Oppa menyukainya sampai 3 tahun.” Ujar Mira saat mereka di mobil. Eunhyuk seolah tertimpa ratusan batu yang jatuh dari langit saat mendengarnya. Ia ragu-ragu melirik istrinya.
“Ya..begitulah..” jawabnya terbata.
“Lalu kenapa Oppa meninggalkan gadis secantik itu?”
Eunhyuk kali ini terdiam beberapa saat. Dan akhirnya ia menemukan satu jawaban tepat untuk menenangkan hati Mira.
“Karena aku sudah jatuh cinta pada yeoja cantik yang sekarang menjadi istriku..”

Ucapan Eunhyuk memang terdengar biasa saja. namun entah kenapa kalimat biasa saja itu membuat wajah Mira memerah. Ia memalingkan wajahnya ke arah lain.
Eunhyuk mengulum senyumnya melihat wajah merona istrinya. Aish..jika tidak sedang menyetir, mungkin Mira sudah dipeluknya detik itu juga. Tangannya sudah gatal ingin sekali melakukannya.

Setibanya di rumah, tidak ada yang Mira lakukan selain menatapi iri rumah yang sudah satu minggu tidak ditapakinya itu. Ia tersenyum melihat semuanya masih sama. Tak ada yang berubah.
“Aku akan siapkan makan siang. Kau ingin makan apa Mira sayang..” ucap Eunhyuk berjalan menuju dapur. Ia membuka kulkas lalu mengeluarkan beberapa bahan yang akan dimasaknya. Mira berdiri di dekat meja makan.
“Apa saja, Oppa” ucapnya pelan.
“Baiklah, aku akan membuatkanmu nasi goreng kimchi.” Jawab Eunhyuk dengan tangan terus sibuk mengolah bahan masakan. Sebenarnya hanya menu itu yang ia bisa. Tapi tak apalah.

Mira teringat. Itu adalah makanan terakhir yang di santapnya sebelum akhirnya kejadian itu menimpanya dan ia…

Hatinya mendadak sakit kembali. Tangannya naik meremas baju bagian dadanya. Rasanya sesak sekali.

Tes..tes..

Mira mengerjap saat merasakan ada aliran hangat keluar dari sudut matanya. ia buru-buru menghapus airmata itu sebelum Eunhyuk melihatnya.
“Oppa..aku ke kamar dulu..” lirih Mira. eunhyuk hanya mengangguk tanpa membalikkan badannya. Mira segera berjalan menuju kamar.

Eunhyuk sebenarnya bukan tidak menyadari kesedihan Mira. tadi, sebelum Mira pergi ia sempat mendengar istrinya itu terisak. Namun Eunhyuk tidak berani membalikkan badannya. Ia pura-pura tidak tahu dan membiarkan Mira pergi.

Sekarang, setelah gadis itu tidak ada, Eunhyuk baru bisa membalikkan badannya. Ia pun merasa tak berdaya dan sedih. Tak ada yang bisa dilakukannya selain membiarkan Mira mengeluarkan kesedihannya. Ia yakin istrinya itu tidak mau memperlihatkan emosinya di depan orang lain. Eunhyuk perlahan berjalan mendekati kamar Mira. pintu kamarnya sedikit terbuka hingga ia bisa melihat ke dalam tanpa menimbulkan suara.

Diam-diam namja itu memperhatikan Mira yang berdiri membelakanginya di dekat jendela. Tidak ada yang dilakukannya. Eunhyuk berniat pergi saat samar-samar ia mendengar isak tangis Mira. kepalanya tertoleh cepat ke arah dalam. Hatinya seperti tersayat pisau melihat Mira diam-diam menangis di belakangnya. Pundak istrinya bergetar.

Eunhyuk sudah tidak bisa menahan dirinya lagi. Perlahan ia masuk dan mendekat.

Airmata itu terus mengalir meskipun Mira berusaha menghentikannya. Tangannya memegangi perut. Ia tertunduk.
“Bayiku..” lirihnya.

Suara Mira terdengar menyayat hati. Benar kata Umma, meskipun tampak kuat dan biasa saja, sebenarnya Mira sangat terguncang. Mana ada seorang ibu yang tetap tenang setelah kehilangan bayinya. Eunhyuk segera saja memeluk Mira dari belakang. ia melakukannya dengan perlahan.

Mira terkesiap saat menyadari ada sepasang tangan hangat melingkari perutnya. Ia buru-buru menghapus airmatanya.
Eunhyuk meraih tangan Mira dan menurunkannya. “Jangan di tahan..jika kau ingin menangis, menangis saja. setidaknya biarkan suamimu ini tahu bahwa istrinya butuh sekali sebuah pelukan untuk menenangkannya.” Bisik Eunhyuk. Sesaat Mira terdiam. Hatinya yang sedang rapuh itu tersentuh. Eunhyuk benar, ia memang membutuhkan pelukan untuk menguatkan hatinya. Ia takut sekali saat ini. Bahkan ia tidak yakin kedua kakinya mampu membuatnya tetap berdiri tegak.

“Hiks..hiks..”

Tangisan Mira perlahan terdengar. Eunhyuk semakin mengeratkan pelukannya. Ia tidak mengatakan apapun. Ia hanya berharap pelukannya ini mampu menyalurkan betapa ia ingin Mira tegar dan kembali bahagia. Semoga dengan pelukan ini mampu memberitahukan pada Mira bahwa dia ada kapanpun dibutuhkan.

“Mira sayang..aku ini suami yang tidak berguna. Aku tidak mampu melindungi keluargaku sendiri. Maaf..” bisik Eunhyuk sarat akan penyesalan. Mira tidak menjawab. Dalam hati ia berteriak ‘tidak’. Mana mungkin Eunhyuk tidak berguna. Memang siapa yang sudah menyelamatkannya dulu? yang mengubah kehidupan buruknya menjadi kehidupan yang bahagia dan bahkan tak pernah ia mimpikan sekali pun.

Mira membalikkan tubuhnya lalu memeluk Eunhyuk dengan erat. Namja itu sempat kaget. Namun ia membiarkan Mira memeluk lehernya dan membenamkan wajah di dadanya. Dan yang lebih membuatnya terenyuh adalah saat ia merasakan dadanya basah oleh lelehan airmata Mira.
“Aku ibu yang buruk..hiks..aku tidak bisa menjaga anakku sendiri..” isak Mira. tangisannya semakin kencang. “Aku sudah membunuh bayi kita..”
“Sssttt..” Eunhyuk terus membelai rambut Mira dengan lembut. “Sudahlah, yang lalu biarlah berlalu. Ini yang disebut takdir. Kita tidak bisa berbuat apa-apa. Sekarang kita harus bisa merelakannya pergi.” namja itu menjauhkan tubuh Mira sedikit agar bisa melihat wajahnya. namun tetap tidak melepaskan pelukannya.
“Jadi sekarang hapus airmata ini..” tangan Eunhyuk perlahan mengusap airmata di pipinya.
“Kau tahu, hatiku sakit melihatmu menangis.” ujar Eunhyuk dengan nada merajuk.

“Oppa..” desis Mira sambil menundukkan kepalanya.
“Hmm..apa?”
“Boleh aku meminta sesuatu?” tanya Mira malu. Sisa-sisa airmata itu masih ada.
“Tentu saja. katakanlah. Bahkan jika kau meminta Taj Mahal pun akan aku berikan..” ujar Eunhyuk pede.
“Sungguh?”
“Iya. Kenapa kau masih juga ra—“

Kalimat Eunhyuk terpotong saat tiba-tiba Mira merengkuh wajahnya lalu mengecup bibirnya pelan. Matanya yang terbelalak kaget segera menutup. Tang annya pun merambat naik menekan tengkuk Mira agar tak ada jarak sedikitpun yang memisahkan mereka. Eunhyuk mulai terlena dan ingin berbuat lebih. Eunhyuk memeluk lebih erat pinggang Mira. dan di saat ia ingin melakukan lebih jauh lagi, Mira menjauhkan kepalanya. dalam hati Eunhyuk mengerang kecewa. Namun saat melihat Mira tersenyum manis padanya, sudut bibirnya perlahan naik membentuk senyuman serupa.
“Saranghae-yo, Oppa..” ucap Mira. “Terima kasih sudah mau menjagaku.”
Ada perasaan lega saat kalimat itu tertangkap gendang telingahnya. Eunhyuk maju lalu mengecup pipi Mira sekilas setelah itu berbisik mesra.
“Nado”
Mereka terdiam sesaat, saling menatap satu sama lain seolah ingin mengungkapkan sesuatu lewat sorotan maa.

“Jadi, kita bisa membuatnya lagi kan??” tanya Eunhyuk diiringi kerlingan nakal. Mira berhenti tersenyum.
“Buat apa?”
“Baby..”

Mata Mira membulat sempurna. Ia segera melepaskan pelukannya lalu menjauh.
“Hei, kenapa?? aku salah ya??” Eunhyuk dengan polosnya malah bertanya. Ia menarik Mira ke dalam pelukannya lagi.
“Bukan begitu, Oppa..aku masih takut. Nanti aku tidak bisa menjaganya lagi.” Desis Mira pelan.
“Tenanglah. Aku pasti akan menjagamu kali ini.”
Mira mendesah seolah pasrah dengan yang akan dilakukan Eunhyuk selanjutnya. Melihat reaksi Mira, Eunhyuk tertawa pelan.
“Aku hanya bercanda..” kekehnya. Ia lalu melepaskan pelukannya.
“Lagipula aku tidak mungkin menyerang istriku yang baru saja sembuh dari sakit. Kalo begitu, ayo kita makan. Kita pesan makanan saja.” Eunhyuk menarik tangan Mira keluar dari kamar. Mira tersenyum menatap punggung Eunhyuk. Ia tidak boleh terus terlarut dalam kesedihan.

~~~

 

101 thoughts on “Shady Girl Eunhyuk’s Story (Part 17 End)

Your comment

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s