Another Story In Shady Girl (Eunhyuk’s Story) // Let’s Make Baby

Tittle : Another Story In Shady Girl Eunhyuk’s Story [Let’s Make Baby]
Author : Dha Khanzaki a.k.a Shin Je Young
Genre : Romance, NC 21

Main Cast :

  • Kim Mira
  • Lee Hyukjae a.k.a Eunhyuk

Support Cast :

  • Lee Taemin as Eunhyuk’s Brother

Hahah.. genre terlarang Shady Girl keluar nih. Sebenarnya ini udah lama ada di lappy author loh. Cuma author gak berani buat postingnya. Tapi berhubung support (?) dari temen-temen banyak jadi author coba buat posting NC versinya.
Maaf yah kalau banyak typo. Di sini belum ada baby ya.. Entar kabar gembira itu bakal muncul di Taemin’s Story *bocoran.

kalau kalian mau request shady Girl cast lain genre terlarangnya, boleh kok *plak plak plak* *jangan anggap serius, cuma bercanda ^^v

Happy Reading

Another Story In Shady Girl - Lets Make Baby By Dha Khanzaki

—-o0o—–

*Mi Ra POV*

Malam ini seperti biasa, aku sibuk di dapur membuat makan malam untuk diriku dan monyet workaholic, siapa lagi kalau bukan Lee Hyuk Jae, suamiku. Entah apa salahku di masa lalu hingga bisa menikah dengannya. Tapi percayalah, dia yang memaksaku untuk menikah dengannya. Namja itu selalu mengikutiku setiap hari hingga aku bosan. Dan sekarang, aku terjebak di rumah ini, rumah mewah seperti istana yang hanya di diami oleh 2 orang? Apa dia gila. Dia ingin menjadikanku pembantunya saja di rumah besar ini. Bukan sebagai seorang istri.
Yah, apapun yang terjadi di masa lalu, padanya kenyataanya sekarang aku sangat mencintainya.

Lee Hyuk Jae adalah namja yang sangat baik, pengertian, sopan, dan menyenangkan. Meskipun dalam beberapa sisi aku akui dia sedikit mesum dan seenaknya. Terkadang dia mencuri kesempatan untuk menciumku ataupun memelukku tak peduli tempat ataupun waktu. Padahal sudah sering kuperingatkan agar tidak melakukan hal-hal kelewat romantis di tempat yang dilihat orang banyak. Itu membuatku jengkel. Tapi sekali lagi, aku adalah istrinya dan dia suamiku. Dia berhak melakukan apapun terhadapku. Bahkan, memintaku untuk ‘making baby’ dengannya. Namun nyatanya sampai detik ini dia tidak pernah menyinggung hal itu sama sekali. Hmm.. kemungkinan besar alasannya karena dia tidak tega memintanya semenjak aku mengalami keguguran beberapa bulan lalu. Eunhyuk tidak pernah menuntaskan kegiatannya setiap kami berhubungan intim. Dia selalu beralasan tidak tega melihatku kesakitan karena trauma keguguran yang pernah kualami dulu.

Dan begitulah kehidupan rumah tanggaku dengannya. Tampak romantis dan hangat.

Clkeeekk..

Aku menoleh sekilas mendengar suara pintu dibuka. Ah, itu pasti Eunhyuk. Kulirik jam dinding. Sudah pukul 19.30. Tumben sekali dia sudah pulang.
“Yeobo..”
Benar kan.. sekarang terdengar suara nyaringnya itu memanggilku.
“Ne..” jawabku namun tanganku tetap fokus mengiris kentang untuk sup.
“Hmm.. baunya wangi sekali. Aku jadi ingin cepat makan. Lapar sekali rasanya.”
Aigoo. Suaranya terdengar jelas di belakangku. Aku menyempatkan diri membalikkan badan.
“Tidak biasanya pulang cepat. Oppa tidak lembur?” tanyaku sambil melepaskan jas yang dipakainya lalu menyampirkan jas itu ke tanganku.
“Mana ada seorang CEO yang rela lembur di saat dia masih pengantin baru,” Eunhyuk melingkarkan tangannya di pinggangku lalu membungkukkan badannya untuk memberi lumatan singkat di bibirku. Ucapnya sukses membuatku speechless. Namja ini benar-benar.

Pengantin baru? Istilah apa itu? Pernikahan kami berlangsung 8 bulan lalu. Apa saat ini pun masih bisa di sebut pengantin baru?
“Baiklah tuan Direktur. Kau selalu benar.” Ucapku malas. Suamiku adalah seorang direktur dari SJ Group. Sebuah perusahaan yang menaungi SJ Tv. Salah satu stasiun televisi terbesar di Korea. Perlu diketahui, selain selalu bertindak diktator, dia paling tidak suka dikalahkan dalam soal berdebat. Karena itu aku memilih untuk mengalah. Aku meletakkan jas ke dalam bak baju kotor lalu kembali melanjutkan kegiatan masak yang sempat tertunda.

“Aish, istriku yang cantik ini.. kenapa cepat sensitif sekali? Ah, kau sedang mengidam ya..” godanya sambil memelukku dari belakang. Tubuhku menegang.
“Mengidam apa? Kau lupa, Oppa? Kita sudah lama tidak melakukannya!!” Ujarku sambil mencoba tidak mempedulikan tangannya yang mulai nakal meraba-raba payudaraku dari luar baju yang kupakai namun sulit sekali karena Eunhyuk justru semakin mengeratkan pelukannya.
“Kalau begitu bagaimana kalau kita melakukannya hari ini..” bisiknya sambil sesekali meniup telingaku. Namja ini!! Dia tahu kelemahanku.. aku seakan kehilangan tenaga jika ada seseorang yang menggoda bagian belakang telingaku. Tubuhku bergetar menerima perlakuannya.
“Kenapa harus hari ini? Oppa tidak lelah?”
“Sama sekali tidak. Aku selalu punya waktu untuk melayani istriku tercinta?” Eunhyuk membalikkan tubuhku. Senyum simpulnya membuatku tak sanggup mengalihkan pandangan.

Bodoh. Kau tak boleh kehilangan fokus Kim Mira!

“Aku juga ingin memiliki bayi lucu. Aku iri sekali setiap melihat Donghae bersama anaknya. Jadi, ayo kita buat bayi yang lucu juga.” Tangan Eunhyuk mengusap punggungku dengan gerakan seduktif. Aku memejamkan mata sambil menggigit bibir agar desahannya tidak keluar.
“Setidaknya, biarkan aku menyelesaikan masakanku,” pintaku memohon. Eunhyuk kembali tersenyum lalu mengecup keningku.
“Kita lanjutkan pembicaraan ini setelah makan malam,” dia melepaskanku lalu beranjak pergi. Aku mendesah selega-leganya. Astaga, pria itu hampir saja membuatku jatuh pingsan. Akhirnya setelah mengatur diri kembali, aku melanjutkan kegiatan masakku yang tertunda.
Sambil memasak, sesekali pikiranku melayang kemana-mana. Terutama pada kenangan-kenangan saat pertama kali kami bertemu.

Aku hanyalah seorang pelayan di sebuah klub malam. Orang-orang menganggapku seperti wanita murahan yang menggoda pria kaya dengan kecantikan dan kemolekan tubuhku. Bahkan berita pernikahanku dengan Eunhyuk pun sempat menimbulkan kontroversi besar. Banyak orang yang mengira aku sudah merayu Eunhyuk agar menikah denganku.

Padahal tidak.

Dia datang di saat aku terpuruk. Di saat keluarga angkatku yang kejam itu ingin menjualku kepada seorang rentenir jahat demi segepok uang. Eunhyuk datang menyelamatkanku. Dia menolongku dari hidung belang yang hampir memperkosaku dan memintaku menikah dengannya.

—o0o—

Makan malam selesai tepat pukul 9 malam. Eunhyuk  tidak membahas sama sekali masalah ‘itu’ membuatku terundung kecemasan yang menyiksa. Untuk mengurangi sedikit kegelisahanku kubereskan meja lalu beranjak mencuci piring kotor. Langkah kaki terdengar semakin dekat dan aku bisa merasakan tangan kekar kembali menyambangi pinggangku.
“Kim Mira..” suara Eunhyuk terdengar melembut. Perlahan tangannya menyentuh pundakku lalu mengusap lembut tengkukku. Siapa lagi yang suka bertindak seiseng ini selain suamiku.
“Kau tidak lupa pembicaraan sebelum makan malam bukan?” Ucapnya dengan suara penuh kesungguhan.
“Pembicaraan apa ya?” Aku pura-pura amnesia. Ingin melihat sekali lagi betapa lucunya seorang Lee Hyukjae jika sudah merajuk.
“Jangan mengajakku bercanda,”
“Ahhh..”aku melenguh saat sengatan listrik bertegangan rendah menyentak tubuhku tiba-tiba karena Eunhyuk menggigit halus leherku.
“Kita bersenang-senang malam ini. Aku tahu kau sangat merindukannya,” bisiknya membuat konsentrasiku mencuci piring buyar sempurna. Eunhyuk mencium bagian belakang telingaku lalu meniupnya. Aku mengedik geli. Aku tahu dia sedang merayuku agar aku setuju dan melakukan hubungan seks dengannya tanpa perlawanan.
“Oke, tapi biarkan aku menyelesaikan cucian ini,” ucapku. Eunhyuk mendengus lalu melepaskan pelukannya.
“Jika sudah selesai, aku ada di ruang tengah,” dia sempat-sempatnya mencium bahuku sebelum bergegas pergi ke ruang tengah. Aku menghela nafas lega.

Setelah selesai cuci piring, ragu-ragu aku menghampiri Eunhyuk yang sedang menonton Tv dengan santainya. Keraguanku bercampur dengan rasa panik ketika menyadari Eunhyuk hanya memakai kimono tidur saja dan aku bisa tahu dia tidak memakai apapun lagi dibaliknya. Kakiku refleks berbalik namun Eunhyuk lebih dulu menyadari keberadaanku.

“Yakk!! Kau mau kemana???” teriaknya saat aku membalikkan badan.
“Aku ingin tidur..” ucapku beralasan.
“Jangan dulu. temani aku menonton. Sini..” dia menepuk-nepuk tempat di sampingnya. “Ayolah, ini malam minggu. Aku tidak ingin menghabiskan malam sendirian.”

Baiklah, kali ini aku akan mengalah. Aku menurut lalu duduk di sampingnya. Dia tidak melakukan apapun. Kami kemudian hanya saling diam dan tenggelam dengan pikiran masing-masing.

“Emhhh..yess..fassterrr darl..”

Aku terbelalak melihatnya. Omona.. tayangan apa yang sedang aku tonton sekarang??? Di dalam layar sekarang sedang menampilkan adegan sepasang pria dan wanita sedang bermaking love di dalam shower room. Sang yeoja dalam posisi menempel di dinding dan sedikit menungging sementara sang namja sedang menggenjot daerah intim sang yeoja dengan penuh gairah. Wajah sang yeoja kemerahan menahan nikmat sambil membantu tangan prianya meremas payudaranya sendiri.

Aku menelan ludah dengan susah payah. Apa Eunhyuk sengaja menonton film ini bersamaku agar membuatku terangsang? Aigoo.. kreatif sekali idenya.. aku menggeser dudukku agak menjauh darinya. Kulirik dia, Eunhyuk tampak menelan ludah berkali-kali sambil mengusapi bagian bawah tubuhnya. Omonaa.. dia sudah mulai terangsang!!
“Mira, apa kau benar-benar tidak ingat saat kita pertama bercinta dulu?” tanyanya tiba-tiba.
“Menurutmu?” tanyaku membalikkan. Aku memang tidak ingat sekali pengalaman bercinta pertamaku dengannya karena saat itu aku sedang mabuk. Dan pria ini dengan seenaknya mengambil keperawanan dariku tanpa izin sebelumnya. Dasar pria mesum.
“Entahlah.” Jawabnya singkat.
“Bukankah sudah kubilang jika aku mabuk aku tidak bisa mengingat apapun yang kulakukan?” ucapku.
Eunhyuk menoleh cepat ke arahku.
“Jadi, maksudmu.. kau tidak mengingatnya?” dia tampak terkejut. Matanya melebar kaget. Oh, ayolah.. memang kenapa jika aku tidak ingat?
“Memangnya kenapa jika aku tidak ingat? Jika Oppa memang ingat malam itu, kau bisa melakukannya lagi.” Ucapku asal. Aku segera mengatupkan bibirku rapat-rapat menyadari ucapanku yang secara tidak langsung menjerumuskan diriku sendiri.

Tak kusangka dia malah tersenyum. Tepat dugaanku.
“Kalau begitu aku bisa memperlihatkannya.” Ucapnya membuatku terbelalak. Apa katanya? Memperlihatkannya? Maksudnya?
“Apa maksudmu?”
Dia mendekatkan badannya lalu berbisik padaku. “We’re making love, baby..”
Mataku kian melebar sementara dari sudut mataku bisa kusaksikan senyum liciknya tersungging dengan mulus dibibirnya. Sial, rupanya aku sudah salah bicara.
“Aku lelah.” Elakku.
“Come on, lagipula aku kan suamimu. Kau tidak perlu malu lagi padaku..”

Bagaimana ini???? Ah, aku menyesal sudah berkata asal. Eunhyuk sudah terlanjur mengira aku menginginkan saat bercinta dengannya terulang kembali.
“Ayolah chagi..” rayunya. Tangannya mulai nakal membuka baju tidur yang kukenakan. Aku dibuat salah tingkah atas perlakuan Eunhyuk Oppa. Aku balas menatap matanya yang begitu memohon padaku. Aku terenyuh. Ayolah Kim Mira, lagipula apa salahnya jika suami istri melakukan hubungan intim?
“Baiklah..” ucapku setuju. Dia melonjak gembira.
“tapi dengan satu syarat.” Potongku.
“Apa?”
“Biarkan aku yang memegang kendali.”
“No problem..”
Eunhyuk sama sekali tidak menyadari ide yang terlintas di benakku. Aku merencanakan sesuatu yang hebat untuknya.
“sekarang Oppa tunggu di kamar. Aku harus mempersiapkan diriku dulu..” ucapku asal sambil berlalu pergi.

Sesampainya di kamar, aku mengunci kamar. Sial!! Kim Mi Ra, kau sudah menggali kuburanmu sendiri. Bagaimana mungkin kau berkata ingin memegang kendali sementara pengalaman bercinta saja tidak ada.
Sekali lagi aku merenung. Apa yang baiknya kulakukan? Making love, bercinta.. bukankah itu hal yang dilakukan ketika 2 orang saling mencintai? Oh bodohnya, tentu saja aku mencintai Lee Hyuk Jae.

Ah.. aku harus tetap melakukannya.

Aku memilih memakai lingerie berwarna purple hadiah dari Haebin, temanku. Lingerie ini sangat tipis dan agak transparan dengan belahan dada rendah, memperlihatkan belahan payudaraku yang sintal. Aku yakin Eunhyuk akan tergoda melihatnya. Aih.. apa yang kau pikirkan.
Aku juga menyemprotkan parfum channel no 5 di sekitar leher . Jika seperti ini aku benar-benar siap untuk ‘mengerjai’ Eunhyuk malam ini.

—o0o—

“Masuklah..”
Aku berseru ketika mendengar suara ketukan pintu. Aku bergegas merapikan penampilanku dan tak lama pintu terbuka, menampilkan sosok Eunhyuk dengan kimono tidurnya yang terbuat dari sutera. Dia tersenyum penuh arti melihatku dalam balutan lingerie ini. Aku penasaran apa yang ada di pikirannya. Aku bahkan tidak bisa berpikir karena gelombang kegugupan menyerangku seperti virus mematikan. Aku harus tenang. bukankah aku yang akan memimpin malam ini?

Aku bahkan tidak bisa mundur lagi saat Eunhyuk sudah berdiri tepat di hadapanku.
“kau cantik dengan pakaian minim, chagi..” ucapnya menggombal. Oh, tentu saja. untuk apa banyak orang memanggilku ulzzang jika aku tidak cantik. “Sayangnya aku tidak bisa menguasaimu malam ini..” ucapnya lagi. Aku menyeringai.
“Tentu saja. Aku yang akan memulainya.” Ucapku.

Dia mulai mendekatkan dirinya, kepalanya dimiringkan hendak mengecup bibirku. Namun segera kuletakkan telunjukku di bibirnya.
“A a.. ingat.. aku yang memulai.” Ucapku mengingatkan. Dia mendesah berlebihan.
“Baiklah..nah, silakan perlakukan aku sepuasmu..” ucapnya pasrah namun dengan wajah gembira. Tangannya merentang lebar. Aku ingin tertawa terbahak-bahak melihatnya. Oke Kim Mira, kau harus fokus.

Aku memulai dengan menyentuh wajahnya. Membelainya perlahan. Tanganku mulai turun ke bahunya. Dengan gerakan yang sangat pelan dan seseduktif mungkin aku memegang ujung kimono tidurnya kemudian kulepas hingga jatuh ke lantai. Aku sempat menelan ludah melihat Eunhyuk bertelanjang dada di hadapanku. Dia hanya memakai boxer sekarang. Sungguh aku mengagumi bentuk tubuhnya yang sangat indah. Perut sixpack serta ABS yang tersusun rapi benar-benar memanjakan mataku.

“Kenapa hanya dipandangi chagi, peganglah..” ucap Eunhyuk tidak sabar. Perlahan aku mulai meraba dadanya dengan gerakan pelan. Meresapinya seolah benda yang kupegang ini adalah benda rapuh dan mudah sekali pecah. Eunhyuk mulai memejamkan matanya. Kulihat dia menikmati perlakuanku. Aku meniup telinganya, membuatnya sedikit menggeliat. Lalu kukecupi lehernya dengan gerakan pelan. Tanpa ia sadari tanganku mulai menyatukan tangannya dan mengikatnya.
“Ahh..sshhh..aahh..” desahnya. Omo.. aku hanya menciumnya kenapa dia mendesah begitu? Senikmat itukah?
Setelah tangan itu terikat, aku melepaskannya. Berhenti menciumnya. Hahah.. siap-siap kau Lee Hyuk Jae, aku akan benar-benar mempermainkanmu malam ini.

Seolah sadar, ia mengomel.
“Ya!! Apa maksudnya ini Lee Mi Ra!!” serunya kaget menyadari tangannya terikat.
Aku tidak menjawab. Segera saja kudorong tubuhnya hingga terhempas di ranjang.
“Aish,, nappeun!!” serunya senang. Ia tampak pasrah.
“Diam dan nikmatilah, tuan Hyuk jae..” ucapku seraya naik ke atas tubuhnya. Aku duduk di atas pahanya. Dan dia hanya mengamatiku sambil sesekali menelan ludahnya.

Perlahan, aku mulai membuka lingerie yang kukenakan dengan gerakan seseduktif mungkin. Lalu baju tipis itu kulempar entah kemana. Eunhyuk menelan ludahnya. Kulihat tonjolan di balik celananya mulai membesar.
Sekarang aku hanya memakai bra dan celana dalam berwarna purple. Aku tersenyum seduktif sambil menatapnya.
“Sabarlah chagi..” ucapku sambil mendesah sexy. Sekarang tanganku bergerak ke belakang tubuhku sendiri untuk membuka pengait bra.
Ckrek..
Pengait braku terlepas. Dengan gerakan erotis aku membuka bra ku sambil menatap Eunhyuk yang semakin terangsang. Begitu bra terlepas, menyeruaklah dua payudara sintalku yang berukuran sedang dan kencang di hadapannya. Aku sengaja meremas payudaraku sendiri sambil sesekali mendesah untuk menggodanya.
“Ya!! Kim Mira!! Kau ingin menggodaku? Berhentilah sebelum aku terpaksa menerjangmu..” serunya sambil menahan diri. Aku ingin tertawa rasanya. Kulihat juniornya sudah terbangun sempurna. Kini giliran sesuatu yang lebih dasyat akan kau lihat.

Aku sengaja berdiri di atas tempat tidur dan tetap mengangkanginya. Perlahan aku mulai menurunkan celana dalamku dan melepasnya.
Eunhyuk membelalakkan matanya melihatku kini sudah telanjang bulat di hadapnnya. Entah dia kagum atau tidak, yang pasti aku membuatnya benar-benar kalap.
“Bagaimana chagi.. apa kau siap??” tanyaku
“Sangatttt!!” serunya. Aku bisa melihat wajah frustasinya yang menahan diri mati-matian agar tidak menyerangku.
“Tapi, aku harus membuka bagian ini dulu..” ucapku sambil menurunkan boxernya. Gantian aku yang terbelalak begitu boxer itu terlepas. Omona.. juniornya besar sekali dan sudah berdiri tegak!!! Aku agak takut melihatnya.
“Chagi, manjakanlah..jebal..” pintanya..
Aku menggeleng..”Sabarlah..”
Aku perlahan menurunkan tubuhku hingga payudaraku menyentuh dadanya. Ah.. aku mendesah begitu nipple kami bertemu. Sial, kenapa aku merasa nikmat begini?
Kini wajahku berhadapan dengan wajahnya. Kumulai dengan mencium pipinya.. lalu turun ke leher, dada, perut dan berhenti di depan selangkangannya. Eunhyuk memejamkan matanya menikmati perlakuanku.

“Ahh.. yeah chagi.. ahhh.” Desahnya saat aku mulai mengocok bagian tubuhnya yang menegang dengan tanganku. Semakin keras desahan Eunhyuk semakin cepat pula aku mengurut pusat tubuhnya.
“Masukkan..” pintanya sambil meremas rambutku memintaku untuk mengulum miliknya. Aigoo..apa aku harus benar-benar melakukannya?
Akhinya aku hanya menggesek-gesekkan ujung miliknya pada permukaan daerah kewanitaanku sendiri. “Ahhh..shhh..ahh..” aish..!! Mengapa malah aku yang mendesah kenikmatan seperti ini??? Tapi demi apapun, rasanya memang sangat nikmat.
Kulirik Eunhyuk yang berbaring di hadapanku. Dia pun tampak memejamkan matanya.
“Ungghh..that’s nice..” Rintihan-rintihan kecil dan pasrah keluar dari celah mulutnya. Aku menyeringai puas karena akhirnya ini dari permainan ini sudah tiba. aku merasakan bagian tubuh yang kupegang berkedut kencang dan aku melepaskan peganganku dari miliknya.
“Ya, kenapa berhenti?!” Eunhyuk protes padaku dan raut histeris terpatri di wajah tampannya. Jelas sekali dia tidak terima saat-saat pendakian menuju surganya terhenti tiba-tiba. Bulir-bulir keringat mulai membasahi tubuhnya dan itu membuat Eunhyuk tampak semakin seksi. Aku Tersenyum lalu membungkukkan tubuhku hingga berada di depan wajahnya.
“Santai saja, permainan masih panjang,” Bisikku di sudut bibirnya. Eunhyuk mencoba untuk meraih bibirku dengan memajukan kepalanya namun aku segera menjauhkan wajahku. Dia mengerang frustasi mendapati keinginannya meraup bibirku gagal total.
“Sampai kapan kau akan memanasiku, Mira sayang?” lirih Eunhyuk setengah memohon. Uh, aku bersimpati padamu Tuan Hyukjae karena kau belum mendapatkan kepuasanmu. Baiklah, akan kubuat erangan frustasimu semakin menggila di kamar ini. Lihat saja.

Aku menggeser dudukku ke atas perutnya. Eunhyuk membulatkan matanya melihat milikku terpampang jelas di depan wajahnya. Ekspresinya makin beringas namun kutahan tangannya yang terikat itu di atas kepalanya. Dia menggeram gemas melihatku hanya mempermainkannya.
Tanpa menunggu responnya aku melebarkan pahaku, membuat milikku semakin terlihat jelas dan kuusap-usap bagian itu dengan tanganku yang bebas. Aku mendesah merasakan nikmatnya.
“Ahhh..Ungghh..”
“Mira..” tubuh Eunhyuk di bawahku menggeliat tidak kuat. Aku semakin mendesah kencang dan mataku terkadang terbuka dan tertutup mencoba menahan gelombang kenikmatan yang kuciptakan sendiri.
“Jebal Mira, biarkan aku yang berkuasa..” erangnya semakin terdengar putus asa. Aku berhenti mempermainkan diriku sendiri lalu menatapnya. Seringaian licikku timbul melihat wajah suamiku begitu memprihatinkan. Dia tampak memohon padaku. ‘Oh Mira, jangan siksa aku lebih dari ini, biarkan aku yang mengendalikan permainan’ kira kira itulah arti dari ekspresinya.
Aku mencium bibirnya cepat lalu bangkit dari atas tubuhnya. Eunhyuk semula berteriak senang namun perlahan ia memekik kaget melihatku malah turun dari ranjang lalu mengenakan kembali bra dan celana dalamku.
“Yaaaakkkk!! Kau mau kemana Nyonya Leeee!!” teriaknya histeris. Aku tidak menjawab teriakannya. Aku bergerak mengambil lingerie tipisku yang tadi kulempar lalu mengenakannya kembali. Baiklah Tuan Lee, permainan cukup sampai di sini. Setelahnya kau yang tanggung sendiri akibatnya.

—o0o—

*Eunhyuk POV*

“Yaaaakkkk!! Kau mau kemana Nyonya Leeee!!” aku berteriak histeris pada istriku yang sekarang justru sibuk memakai kembali pakaiannya. Apa yang dilakukannya sekarang setelah tadi menyiksaku setengah mati. Aku menatapnya histeris dirinya yang tetap fokus memakai bajunya lalu ke arah selangkanganku yang terlihat begitu menyedihkan. Kim Mira, kau sudah membuatnya menderita dan sekarang kau pergi begitu saja? Tidak bertanggung jawab.

Malam ini aku begitu berbunga karena Mira mengatakan bersedia bercinta denganku setelah beberapa lama aku tidak memintanya. Kebahagiaanku semakin memuncak ketika dirinya berkata dengan percaya diri akan memimpin ‘permainan’. Itu akan sangat menarik, pikirku pada awalnya. Tapi apa yang terjadi dia justru menyiksaku. Sengaja menelanjangi dirinya di depanku, membuatku terangsang dan sekarang pergi begitu saja setelah adikku bangun seutuhnya?

“Mira, kembali dan selesaikan semuanya!!” seruku mencoba menghentikan langkahnya setelah ia selesai memakai baju tipis yang sangat menggairahkan itu. Mira menoleh padaku lalu meleletkan lidahnya.
“Selesaikan saja sendiri, Tuan Lee,”
Yeoja itu benar-benar. Aku bergegas bangkit dan melepaskan ikatan tali di pergelangan tanganku. Dikira dia pintar dalam tali temali tapi rupanya ikatan ini begitu mudah dilepaskan. Aku menyeringai. Saatnya pembalasan dendam.

Aku segera bangkit lalu berlari ke arah Mira yang mencoba membuka kenop pintu. Kucekal tangannya lalu kubalikkan tubuh istriku. Mira terbelalak kaget dan pandangannya tertuju pada tanganku yang sudah tidak terikat lagi.
“Bagaimana bisa ikatannya—“ ucapannya terhenti karena bibirnya yang merah dan basah itu kulumat habis. Siapa suruh main-main denganku. Aku sudah begitu tergiur dengan bibirnya semenjak Mira tersenyum padaku saat aku masuk ke dalam kamar ini. Kurapatkan tubuhnya dengan tubuhku. Kulingkarkan tanganku memeluk erat tubuhnya. Kupastikan tidak ada jarak yang memisahkan kami lagi.
“Eungghh..” Mira mendesah tertahan. Tangannya mencoba untuk mendorong pundakku. Sepertinya Mira mulai kehabisan nafas. Kujauhkan wajahku sejenak memberikannya waktu luang untuk menghirup udara sebanyak-banyaknya.
Mira terengah. Mata indahnya menatapku sayu. Oh, jangan ekspresi itu sayang. Aku bisa gila jika kau menatapku dengan wajah merona malu seperti ini.
“Oppa, kau—emmptt” bibirnya kubungkam kembali. Kali ini Mira tidak terlalu memberontak seperti tadi. Tubuhnya yang semula kaku mulai melemas dan akhirnya terkulai dalam pelukanku. Kuhisap ganas bibir atas dan bawahnya bergantian dan Mira begitu kewalahan mengimbangiku. Aku mencoba menyeruakkan lidahku di antara lipatan bibirnya dan kuajak lidahnya ikut berperang denganku begitu aku berhasil menjelajahi mulutnya.
“Ini akibatnya jika kau mempermainkanku, nyonya Lee,” bisikku di sela ciuman. Mira sesekali melenguh karena tanganku mulai menjelajahi tubuhnya. Ku sentuh beberapa bagian sensitifnya dan ia mengerang frustasi. Nah, bagaimana rasanya tersiksa, Nyonya Lee. Menyenangkan bukan? Aku tertawa senang dalam hati melihat reaksinya.
“Aku menyerah,” balasnya. Dadanya naik turun ketika kujauhkan wajahku untuk melihat tampang lelahnya. Matanya menatapku penuh permohonan.
“Aku tidak akan mengulanginya lagi. Jadi, bisa kau lepaskan aku?” pintanya. Aku gemas sekali melihat pipinya kemerahan dan bibirnya mulai menebal akibat ulahku.
“Maaf, aku tidak bisa,” tanganku membelai pipinya. Entah sejak kapan tanganku sudah menelusup ke dalam lingerie yang dikenakan Mira, lalu merangkak naik menyentuh kait branya. Mira menggeliatkan tubuhnya ketika tanganku mencoba untuk melepaskan kaitannya. Maka kucium perlahan seluruh wajahnya untuk mengalihkan perhatian.
“Enghh..” desahan Mira kembali kudengar ketika bibirku menghisap lembut dagunya. Kepalanya mendongak dan matanya terpejam menikmati.
Cklek.
Aku berhasil membuka kaitannya. Kini tanganku bergerak merayapi kulit lembut Mira hingga menyentuh gundukan sintal istriku yang kusukai.
“Oppa..” Mira menyentuh tanganku yang kini menyusup ke dalam bra-nya, mengusap lembut puncak payudara Mira yang sudah menegang. Nafasnya memburu sambil menatapku. Entah itu tatapan memintaku untuk berhenti atau justru sebaliknya.
Mataku kini turun ke arah bibirnya yang sedikit membuka, menggodaku untuk mengecupnya lagi. Mira bahkan tidak menghindar ketika aku mulai mengecup bibirnya lembut dan tanganku mulai bergerak meremas dadanya.
“Enghh..” tubuhnya bergetar merespon sentuhanku. Apa artinya ini sayang? kau ingin berhenti atau memintaku berbuat lebih?
“Ahh..Oppa..” tangan Mira yang semula menggenggam tanganku perlahan naik melingkari leherku. Dia mendesah tepat di telingaku membuatku semakin bersemangat meremas dadanya.
“Apa?” balasku membiarkan kepalanya terkulai lemas di bahuku. Tanganku yang satunya kini sibuk merayap ke bawah, mengusap perutnya sekilas lalu menyusup masuk ke dalam underwear Mira. Aku mengerjap ketika sadar bagian itu sudah basah.
“Oppa, ayo kita buat..” lirihnya sambil berusaha mengangkat kepalanya. Mira menggelinjang lagi ketika satu jariku kuselipkan di antara lipatan bagian kewanitaannya, mengusap bagian itu dengan lembut.
“Buat apa?”
Mata kami akhirnya bertatapan. Aku menarik tanganku dari underwear dan dadanya. Kini kulingkarkan tanganku di pinggangnya.
“Kita buat baby yang manis, seperti yang kau inginkan.” Ucapnya membuatku tersenyum lebar.
“Itu yang kuinginkan sejak dulu,” tanpa membuang waktu kuangkat tubuhnya dari lantai lalu membaringkannya di tengah ranjang. Kubuka baju tipis di tubuhnya berikut bra lalu kulempar ke bawah ranjang. Sejak tadi bibirku tidak henti-hentinya mengecup bibir Mira. Gairahku semakin terangkat karena Mira mulai membalas ciumanku.
Kutarik tangannya yang melingkar di pundakku lalu mengikatnya, seperti yang dilakukannya tadi. Mira terkesiap sadar.
“Oppa, apa maksudnya ini?” protesnya.
“Diamlah, aku ingin membalas perbuatanmu tadi lebih dulu,” seringaiku. Kuturunkan tubuhku lalu ku tenggelamkan kepalaku di lehernya.
“Enggghh..” Aku suka desahannya. Membuatku semangat mengukir tanda-tanda kepemilikian di lehernya. Kepala Mira bergerak ke sana kemari merespon hisapanku. Bahkan kakinya bergerak-gerak gelisah terkadang membuatku mengerang karena tanpa sengaja menyentuh benda tersensitifku.
Ciumanku perlahan turun ke bahunya, menghisap ganas bagian itu lalu merambah turun ke daerah yang paling kusukai. Kujauhkan kepalaku sejenak untuk memandangi betapa indahnya istriku saat pakaiannya tertanggal. Mengagumi lekuk indah yang diukir Tuhan pada tubuh istriku.
“Wae?” Mira tersipu malu melihatku termenung menatapi dadanya. Aku menyentuh puncak dadanya penuh kekaguman.
“Kau tahu Mira, saat aku pertama kali menyentuhmu dulu, aku tidak menanggalkan pakaianmu. Hanya menurunkannya. Karena itu aku merasa luar biasa bisa melihatmu tanpa penghalang apapun,” ucapku. Mira melebarkan matanya.
“Jadi itu alasan kenapa pakaianku masih utuh esok harinya?” ucapnya. Aku mengangguk lalu menurunkan kepala untuk mengecup bagian itu. Mira mendesah kembali ketika aku mengulum puncak dadanya, menghangatkannya di dalam mulutku. Tanganku yang lain tak tinggal diam, meremas lembut bagian yang satunya.
“Emmhhh..engghh..” lenguhan-lenguhan seksi semakin terdengar kala kusedot bagian itu mirip bayi kehausan. Mira mulai menggila karena tangannya yang terikat memeluk kepalaku. Menahannya agar tidak beranjak. Tapi tidak mungkin jika aku tetap di sana dan melewatkan bagian indah yang lain bukan? Karena itu kulepaskan mulutku dari puncak dadanya dan ciumanku turun ke perutnya.
Kutiup halus perut rata Mira dan tubuhnya menggelinjang sebagai responnya. Ini menarik sekali. Kucium seluruh tubuhnya tanpa ada satu bagian pun yang tersisa dan kini aku terhenti tepat di bagian inti dari Mira. Istriku mulai terengah dan berkeringat. Kulitnya yang seputih susu tampak mengkilap karena keringat yang keluar dari pori-porinya. Itu sangat seksi, sayang.
Mira menatapku penasaran karena aku justru diam di depan selangkangannya. Aku menyentuh lembut bagian basah yang masih terhalang kain dan reaksi Mira sungguh membuat gairahku terpancing. Istriku itu menggeliat dan erangan pasrahnya memacu diriku untuk berbuat lebih. Tanpa ragu lagi kutanggalkan baju terakhir yang melapisi daerah pribadinya itu dan aku menatap takjub hal indah yang terpampang di depanku.
“Oh, kau memang ratuku, Mira sayang. Kau indah sekali,” lirihku memujanya. Wajah Mira tampak merona dan ia mencoba untuk merapatkan pahanya namun segera kutahan dengan tubuhku. Aku tidak ingin melewatkan bagian ini.
“Kau terlihat mesum jika terus memandanginya Tuan Lee,” ujar Mira membuatku terkekeh.
“Jadi, kau ingin aku segera memanjakannya, begitu?” balasku membuat Mira memalingkan wajahnya malu. “Jika itu memang yang kau inginkan, akan segera kukabulkan.”
“Bukan begitu—ahhhh..”Mira tidak melanjutkan kata-katanya karena kini sibuk melenguh kencang saat kujilati bagian itu perlahan.
“Enghh..Oppa..Andwae..” pinggulnya terangkat ketika kuhisap klitoris yang kutemukan dengan semangat. Daerah kewanitaannya semakin basah dan itu justru membuatku semakin bergairah. Sesekali kulirik Mira yang tampak begitu tersiksa dalam kenikmatan. Mulutnya setengah menganga dan desahan-desahan itu tak henti mengalun. Kepalanya berkali-kali terhempas ke bantal dan tangannya yang terikat itu mencengkram bantal di kepalanya. Kuselesaikan cepat urusanku di bawah sana lalu merangkak naik. Kembali menghampiri bibirnya.
Tak kusangka Mira kali ini begitu ganas membalas ciumanku. Dengan semangat dia mengulum bibir bawahku sementara aku mengecapi bibir atasnya. Suara decapan bibir kami menggema di seluruh ruangan ini.
Secara perlahan aku membuka ikatan tali di tangan Mira agar dia bisa leluasa melampiaskan gairahnya. Tangannya langsung melingkari leherku sambil menariknya mendekat.
“Enghh..”
Tanganku menjelajahi seluruh bagian tubuh Mira, merasakan lembutnya kulit putih Mira yang selalu kukagumi. Sesekali berhenti untuk sekedar meremas bokongnya ataupun dua gunung kembar yang terasa mengganjal di dadaku. Aku menggulingkan tubuhku hingga Mira berada di atasku sekarang.
Aku tersenyum untuk istriku yang mencoba menormalkan kembali nafasnya. Mira balas tersenyum lalu perlahan ia mengecup lembut bibirku, kemudian merayap ke pipiku dan berakhir di leherku. Kepalaku menengadah demi memberikan Mira akses agar dia bebas menjelajahi leherku.
“Owhh..” desisku. Tanganku tak mau menganggur. Kuremas bokongnya yang bulat berisi itu bersamaan dengan kecupan Mira yang turun ke dadaku. Dia menghisap dadaku seperti yang kulakukan padanya tadi. Eranganku lolos. Bukan karena kulumannya, tapi karena selangkangannya tanpa sengaja menyinggung pusat tubuhku. Aku sudah tidak tahan lagi. Aku yakin adikku pun sudah tidak bisa menanggungnya.
“Ah..” Mira terkejut ketika tiba-tiba kubalikkan posisi kembali. Aku melebarkan kakinya, memposisikan diriku di tengah-tengah.
“Mira, mungkin ini akan sakit mengingat sudah lama sekali aku tidak melakukannya. Jadi, apakah kau mau menahannya?” tanyaku memastikan. Aku tidak tega jika harus mendengar teriakan kesakitannya ketika aku melakukan penetrasi nanti. Sudah beberapa kali aku tidak menuntaskannya saat mencoba berhubungan intim karena takut menyakiti Mira.
Mira mengangguk dengan senyum manis tersungging di bibirnya. “Aku selalu rela menahannya untukmu,” ucapnya membuatku lega setengah mati. Aku menciumnya kembali sebagai tanda terima kasih dan cintaku padanya.
“Kau selalu membuatku merasa beruntung karena menikahimu,” bisikku. Mira memelukku sebagai balasannya. Kesempatan ini kugunakan untuk memasukkan milikku ke dalam tubuhnya.
“Eunghhh..” Mira meringis dan matanya memejam rapat. Dia benar-benar berusaha menahan sakitnya. Kukecup berulang-ulang bibirnya. Kuharap itu sedikit meringankannya.
“Aahh—Apphoo..” dia menggigit bibirnya kuat-kuat sementara aku masih berusaha membenamkan milikku padanya. Aku sendiri melenguh sesekali karena milikku benar-benar terjepit di dalam sana. Mira masih terlalu rapat. Kutarik sedikit milikku lalu mencoba memasukkannya kembali.
“Ohh…Engghhh..” Mira mendesah kencang. Aku menautkan tanganku dengan tangannya, bermaksud menyalurkan kekuatan. Mira membuka matanya dan iris mata itu bertubrukan dengan mataku.
“Percayalah, ini tidak akan lama,” bisikku. Kami saling memandang dalam diam sementara bagian bawahku terus bekerja hingga pada akhirnya milikku tertanam sempurna. Aku mendesah lega, begitupun Mira.
Setelah yakin segalanya siap, aku mulai menggerakkan pinggulku perlahan-lahan. Mira menjengit kaget merasakan hentakan-hentakan halus milikku dalam miliknya.
“Ahhh..” rintihannya perlahan berubah menjadi desahan nikmat setelah miliknya sudah menyesuaikan diri. Kubiarkan Mira mendesah seiring hentakanku karena aku tergoda untuk menggodai payudaranya yang mengikuti irama pinggulku.
“Eunhyuk Oppa—hhh..” Mira memanggil namaku di sela desahannya. Aku tidak menjawab karena sibuk mengulum dadanya. Kau membuatku gila, Kim Mira. Ini pengalaman paling tak terlupakan dalam hidupku. Bercinta denganmu adalah hal paling luar biasa yang kualami.
Mira menarik tanganku untuk meremas dada yang satunya. Keinginanmu adalah perintah bagiku, ratu. Aku segera mewujudkan keinginannya. Kuremas secara intens bagian itu hingga suara lenguhan Mira semakin kencang. Ini yang membuat semangatku tak pernah padam.
“Ahhh..Enghhh..” gerakan pinggangku semakin menggila. Aku bangkit lalu menekuk kaki Mira. Kuciumi lutut dan betisnya tanpa mengurangi intensitas gerakanku. Aku menarik Mira bangkit dan mendudukkannya di atas pangkuanku. Kubantu Mira mengangkat dan menurunkan tubuhnya dan ketika dia sudah terbiasa, kubiarkan Mira bergerak sementara aku dengan senang hati mengecupi lehernya yang terpampang jelas di depanku.
“Ahhh..Oppa…Aku sampai..” erangnya sambil mencengkram rambut bagian belakangku. Kupeluk tubuhnya.
“Berikan padaku,” bisikku dan Mira menundukkan kepalanya mencari bibirku dan segera kuraup begitu menemukannya. Gerakannya semakin cepat dan aku merasa milikku dipijat kuat di dalam sana.
“Ahhhhhhh…”Bagian inti Mira berkedut dan cairan hangat terasa mengalir membasahi milikku dan meleleh keluar dar miliknya. Mira terengah. Perlahan gerakannya terhenti. Aku membiarkan kepalanya terkulai di bahuku. Kuusap rambut panjang sepunggungnya dengan lembut, lalu turun mengusap punggungnya yang basah oleh keringat.
“Hhhhh~hhhh..” hembusan nafas Mira menerpa tengkukku. Tak tega melihatnya kelelahan, kubaringkan kembali Mira. kurapikan anak-anak rambutnya yang basah oleh keringat.
“Kau lelah?” tanyaku. Mira membuka matanya lalu menatapku.
“Kita belum menuntaskannya, Oppa.” Mira balas mengusap wajahku. Kupejamkan sejenak meresapi sentuhannya. “Lanjutkan saja. Bukankah besok hari libur? Kita bisa bangun siang jika malam ini Oppa ingin berlama-lama,”
“Ck, dasar,” aku terkekeh geli mendengar ucapannya. “Kau sudah mengatakannya. Jangan menyesal jika aku meminta beronde-ronde malam ini,” aku menggerakan kembali pinggulku dan kini kami tersenyum menikmatinya.
“Kuharap anak kita kelak mirip sepertimu,” ucapku lembut sambil menciumi belakang telinganya, lalu merambah ke daerah dagunya.
“Aku juga ingin mempunyai anak yang mirip denganmu, enghhh..” Mira mendongakkan kepalanya.
Aku akan sampai. Karena itu tempo hentakanku kupercepat. Mira menggelinjang tak menentu akibat hantaran listrik statis yang terasa dan desahannya kian mengencang.
“Owwhh..Mira, aku mencintaimu…” kupeluk erat tubuhnya saat gelombang itu datang. Kutanamkan dalam-dalam milikku agar seluruh cairan yang keluar bisa masuk ke rahimnya dengan sempurna dan membuahkan hasil.
Keheningan merayapi kamar ini beberapa menit setelah pelepasanku. Yang terdengar jelas hanyalah tarikan nafas kami yang saling memburu. Kurebahkan tubuhku di samping Mira dan kutarik tubuhnya mendekat. Aku tidak mau melepas kontak kami.
“Gomawo, chagi,” kuusap wajah cantiknya lembut. Mira membuka matanya, memamerkan senyum manis yang membuatku gemas.
“Tak perlu sungkan. Itu sudah kewajibanku,” Kukecup bibirnya lagi lalu kecupanku turun ke perutnya. Di sanalah benihku akan tumbuh.
“Aegi, cepatlah datang. Eomma dan Appa sangat menantikan kehadiranmu,” ucapku lalu kukecup kembali perutnya. Saat kuangkat kepalaku menatap Mira kembali, kudapati istriku itu menitikkan airmatanya, terharu.
“Kenapa kau menangis?”
Mira tidak menjawabku, hanya mendekatkan wajahnya, membiarkan hidung kami saling bersentuhan dan bibirnya menyentuh permukaan bibirku lembut.
“Kabar baik, Oppa. Kita melakukannya di saat tanggal suburku. Mungkin dengan kehendak Tuhan jerih payah kita malam ini akan membuahkan hasil.”
“Jinjja?” mataku melebar takjub. Jika memang benar, kemungkinan keberhasilannya 90 persen. Aku memeluknya erat, sangat erat.
“Sekarang tidurlah. Sudah cukup untuk malam ini,” gumamku. Kutarik selimut untuk menutupi tubuh kami. Mira menyandarkan kepalanya di dadaku. Kami tertidur begitu nyenyak setelah melewati malam panjang yang penuh kenangan seperti malam ini.

—o0o—

*Author POV*

Mira sangka, pagi itu Eunhyuk akan membiarkannya bangun lalu menyiapkan sarapan untuk mereka berdua. Namun nyatanya saat ia membuka mata suaminya itu mengajaknya kembali bercinta.
“Oppaaahh..ini sudah yang ketiga..” ucap Mira. Tangannya menggenggam tangan Eunhyuk yang sedang meremas dadanya.
“Lalu?” Eunhyuk mengecup punggung Mira sementara pinggangnya tetap menggenjot milik Mira dari belakang. Mereka berbaring menyamping menghadap jendela yang menyeruakkan cahaya matahari di sela-sela gorden.
“Ini sudah-hhh jam tujuh. Enghh..aku yakin Taemin sebentar lagi akan datang, aahhh–” Mira membenamkan kepalanya ke bantal untuk meredam desahannya karena Eunhyuk menyentuhnya tetap di titik rangsangnya di dalam sana.
“Biarkan saja, dia sudah tahu tugasnya bukan?” Eunhyuk menarik dagu Mira lalu melumat bibirnya.

“Hyunggg, aku datang…”

Benar saja, teriakan Taemin—adik Eunhyuk menggema detik berikutnya. Taemin memang selalu datang ke rumah Eunhyuk untuk membantu Mira membersihkan rumah di hari Minggu. Semenjak insiden keguguran itu, Taemin sudah berjanji akan membantu apapun yang diminta Mira. Merasa tidak tega, akhirnya Mira hanya memberikan Taemin tugas ringan. Membantu Mira membersihkan rumah Eunhyuk yang besar itu.
Mira melepaskan pagutan bibirnya. Ia mencoba menatap Eunhyuk dengan panik.
“Oppa, ada Taemin di luar. Bagaimana jika dia mendengar semua ini? Kita bisa melanjutkan ini nanti”
“Aish, jinjja. Mengganggu saja.” Eunhyuk berhenti menggerakkan pinggulnya lalu turun dari tempat tidur. Mira kira Eunhyuk paham lalu menghampiri Taemin namun ternyata pria itu malah menariknya berdiri, lalu mendorongnya ke tembok. Mira yang terkejut hanya mampu menatap Eunhyuk yang tersenyum penuh arti.
“Biarkan saja bocah itu bekerja sendiri. Itu sudah tugasnya,” ucap Eunhyuk perlahan mengaitkan sebelah kaki Mira ke pinggangnya.
“Tapi enghhhh~” Mira memejamkan matanya saat milik Eunhyuk menghujam miliknya dalam sekali sentakan. Dia menatap kesal suaminya yang kini tersenyum nakal.
“Jangan cemaskan Taemin. Dia tidak mungkin berani mengganggu kita.” Eunhyuk menggenjot Mira kembali.
“Alasan,” cibir Mira. Mereka saling melempar senyum. Detik berikutnya bibir mereka saling bertemu untuk ke sekian kalinya. Begitulah, pada akhirnya mereka melewati pagi itu dengan kegiatan yang melelahkan sekaligus menyenangkan.

—o0o—

“Hyung, tidak biasanya bangun siang begini,” ucap Taemin ketika bertemu Eunhyuk di halaman belakang dua jam setelah kedatangannya ke rumah itu. Eunhyuk duduk di atas kursi lalu membuka koran paginya.
“Lanjutkan saja potong rumput itu,” jawab Eunhyuk tak peduli. Taemin mendengus lalu kembali menggerakan mesin pemotong rumput dengan malas. Mira datang dengan nampan berisi secangkir capuccino untuk Eunhyuk dan jus jeruk untuk Taemin, juga dua piring black forest.
“Taemin, kau bisa berhenti dulu,” teriak Mira. Taemin melonjak senang dan segera menyambar jus jeruk yang dibuatkan Mira untuknya.
“Thanks Nuna, aku memang haus sejak tadi.” Taemin meneguk jus itu sampai habis. Eunhyuk hanya menggeleng lalu menyeruput cappucinonya.
“Hei, jangan berdiri saja. Duduk.”
Mira mengerjap gugup karena Eunhyuk menyuruhnya duduk di pangkuannya.
“Oppa,” desisnya sambil melirik Taemin. Pria muda itu menyadari arti dibalik tatapan Mira. Kakak iparnya itu pasti merasa tidak nyaman jika harus bermesraan di depan orang lain. Karena itu Taemin mengangkat tangannya, mengalah.
“Okay, kali ini aku akan pura-pura tidak melihat lagi. Lagipula ini rumahmu Hyung, kau bebas berbuat apapun di sini,” dia mengambil piring cakenya lalu melenggang pergi dari sana.
“Huh, mereka kira aku tidak tahu apa yang mereka lakukan sampai membuatku menunggu dua jam?” gerutu Taemin. Eunhyuk dan Mira masih bisa mendengar gerutuan itu. Mira menundukkan kepalanya malu.
“Yaa!! Hyung sedang mencoba memberimu keponakan!!” teriak Eunhyuk. Mira menepuk pundak Eunhyuk.
“Oppa,”
Eunhyuk tersenyum lalu menarik Mira agar duduk di pangkuannya. “Memang benar begitu kenyataannya bukan?”
Mira menghela nafas, menyerah. “Yah, memang begitu.” Tangannya melingkar di leher Eunhyuk dan Eunhyuk menggunakan kesempatan itu untuk mencium bibir Mira.

Taemin yang lagi-lagi—tanpa sengaja melihat pemandangan itu hanya menggelengkan kepala pasrah.
“Dasar Hyung. Jika sudah bermesraan tak peduli pada sekitarnya,”

End.

 

Hohoho.. gimana nih? kritik dan sarannya ditunggu ^_^

157 thoughts on “Another Story In Shady Girl (Eunhyuk’s Story) // Let’s Make Baby

  1. Hwaaahhh genre terlarangnya hyukkie. NCnya mantabs sampe lambai tangan*gxkuat. Taemim sabar ya haha jadii patung hidup

  2. Gk kuat ama keromantisan Hyuk,,,hahahaha rupanya hyuk sngt brusaha skli ya…Taemin emng polos bgt c,,jd gmes dehhhh

Your comment

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s