I Hate You, But (Part 2)

Tittle : I Hate You, But Part 2
Author : Dha Khanzaki a.k.a Shin Je Young
Genre : Romance sad, Married Life

Main Cast :

  • Kim So Eun
  • Choi Siwon

Ada yang kangen FF ini gak? Disini tokoh utamanya author bikin sedih sedihan dulu gak apa-apa ya. Judulnya aja udah bikin nyesek jadi ceritanya juga pasti bikin nyesek. Author bosen sih bikin cerita yang romance mulu ^_^ sekali-kali bolehlah.

Maaf ya kalau banyak typo dan cerita tidak memuaskan. Yuk kita baca bareng – bareng

I Hate You, But. By Dha Khanzaki

—-o0o—–

Author POV

Pagi yang indah untuk memulai hari baru. So Eun tersenyum menatap apartement tempat tinggalnya sekarang yang sudah tertata rapi. Hari ini ia resmi menjadi nyonya Choi setelah pernikahan akbar yang diselenggarakan dua hari lalu. Kemarin Siwon memutuskan untuk pindah ke apartement mewah dan sebagai istri ia hanya bisa mengikuti saja.

So Eun menyibakkan gorden yang menutupi jendela kamar. Ia lalu membalikkan badan ke arah sosok pria tampan yang masih terlelap di atas tempat tidur. Pria yang sudah menjadi suaminya namun hatinya tak bisa ia pahami sedikitpun. Seharusnya sekarang adalah masa-masa paling membahagiakan dalam kehidupan pengantin baru. Namun apa yang terjadi padanya sekarang tak lebih dari sekedar sandiwara. Mereka hidup tak selayaknya pasangan yang baru menikah.
Siwon memutuskan untuk tidur di kamar yang berbeda dengannya. Membiarkannya tidur seorang diri di kamar terpisah. Apa itu yang namanya ‘hidup bahagia pasca pernikahan’? Namun itu lebih baik di banding sikap dingin yang ditunjukkan Siwon.
“Aku harus bersabar..” putus So Eun setelah cukup lama memandangi wajah tampan suaminya. Ia duduk di tepi ranjang. Entah kenapa melihat wajah pria ini selalu membuatnya tenang. Ia suka sekali melakukannya. Sama seperti ketika ia melihat Donghae tertidur. Tanpa di sadari, So Eun sedikit membungkukkan tubuhnya hendak mengecup kening Siwon. Entah apa yang sedang berkelebat dalam pikirannya saat ini hingga ia melakukan hal yang di luar nalar seperti ini.
Sudut bibirnya tertarik membentuk senyuman tipis. Hal yang tak terduga pun terjadi, secara mendadak Siwon menggerakkan tubuhnya hingga membuat ranjang bergerak dan So Eun kehilangan keseimbangannya.
“Aa—“ pekikan So Eun terhenti karena tubuhnya terhuyung jatuh dan entah bagaimana caranya—bagaimanapun itu tidak sengaja—bibirnya mendarat tepat di atas bibir Siwon.
So Eun mengerjapkan matanya, menyadari bibirnya menyentuh sebuah material lembut. Perlahan ia membuka matanya dan terkejut karena Siwon pun membuka matanya di saat yang bersamaan. Ia terpaku dan pandangan matanya terkunci oleh iris mata SIwon yang tajam namun memukau. Menyadari hal itu, So Eun cepat-cepat menjauhkan wajahnya. Rasa malu, gugup, terkejut,semuanya bercampur menjadi satu.
Siwon menatap So Eun dengan wajah datarnya. Tak ada raut kaget sedikit pun di balik wajah tampannya itu, membuat So Eun terenyak takut. Sorot mata yang jernih berwarna hitam itu mampu membuat jantung So Eun berdebar tak terkendali. Pipinya memanas dengan sendirinya. Untuk beberapa saat, So Eun seperti merasa terlempar ke negeri dongeng begitu mata mereka bertatapan.
“Mau apa kau” Suara dingin dan tajam yang keluar dari mulut Siwon berhasil menyadarkan So Eun kembali ke alam nyata. Gadis itu mengerjap, seolah sadar. Mulutnya bergetar hendak berucap.
“A-aku bermaksud membangunkanmu”jawab So Eun gugup.
“Membangunkanku dengan cara ‘seperti ini’?” tanyanya menyindir insiden ciuman tadi.
“Aniyaaaa!!” So Eun gelagapan. Ia menelisikkan pandangannya ke segala arah asal tidak menatap Siwon.
“Kalau begitu, bangun sekarang juga!!” ujarnya dengan nada tajam. So Eun tersentak kembali. Ia baru menyadari bahwa sejak tadi posisinya tengah menindih tubuh Siwon. Ia terperanjat bangun dengan gerakan terburu-buru.
“Mianhae. Aku tidak sengaja” So Eun menundukkan kepalanya beberapa kali. Siwon bangkit. Tanpa menghiraukan ekspresi bersalah So Eun sedikit pun, ia bangkit lalu beranjak menuju kamar mandi.
So Eun terpaku. Dalam hati ia mendesah. Nerakaku di mulai hari ini.

—o0o—

Siwon POV
Kim So Eun gadis yang sangat baik dan penyabar. Aku akui dia juga tidak terlalu jelek meski tidak secantik Park Eun Ji. Hanya saja aku tidak bisa menerima kehadirannya dalam hidupku. Berkat kedatangannya, seluruh rencana hidupku hancur. Aku selalu marah dan kesal setiap kali melihat dia tersenyum. Wajah gembiranya membuatku teringat akan gagalnya rencanaku menikahi Eun Ji. Aku membencinya.
“Sir, Anda kedatangan tamu.” Sekretarisku, Janette berkata. Sekilas kulalihkan perhatianku dari berkas keuangan yang sedang kuteliti ke arah pintu.
“Siapa?”
“Nona Park Eun Ji.”
Alisku bertautan. Untuk apa Eun Ji datang kemari di jam kerja? Apakah dia tidak bekerja? Aku yakin pekerjaannya sebagai seorang Editor tidak senggang terlebih karena deadline penerbitan majalahnya tidak akan lama lagi.
Sosok Eun Ji tak lama muncul dari balik pintu. Senyumnya yang manis selalu membuatku tenang, seperti biasanya. Dia berjalan dengan anggun. Eun Ji selalu bisa membuat dirinya tampak sempurna dengan pakaian dan aksesori apapun yang dikenakannya. Dia tipe wanita yang tidak akan pernah sayang untuk menghabiskan uang demi mempercantik diri. Dan bisa dilihat hasilnya. She looks so gorgeous.
“Long time no see..” sapanya. Aku berdiri, meraih pinggangnya lalu mengecup pipinya sekilas.
“Tidak biasanya kau datang kemari. Ada apa?” aku kembali duduk dan membiarkan Eun Ji duduk di tepi meja. Tangannya mengambil salah satu dari map yang ditumpuk di atas meja.
“Aku merindukanmu, tidak bolehkah aku mengunjungimu di sini?” inilah cara Eun Ji mengungkapkan kekesalannya. Dia selalu berkata dengan nada yang terkesan tak peduli namun penuh penekanan.
“Aku tidak pernah melarang.” Desahku seraya bangkit. “Tapi kita bisa bertemu di tempat lain, bukan?” aku berjalan mendekati jendela, kepalaku sudah dipenuhi oleh rasa bersalah padanya dan pada So Eun. Aku tahu alasan Eun Ji datang kemari. Tak lain karena ia ingin mempertanyakan masalah pernikahanku dengan So Eun.
“Kenapa? Kau takut kedatanganku akan menjadi bahan gunjingan di kantor ini? Kau takut pegawai-pegawaimu menuduhmu sedang selingkuh?” sindirnya. Dia berjalan menghampiriku dengan raut tersinggung dan kesal. Sudah kuduga ini akan terjadi. Aku hanya menghela napas.
“Aku tahu aku salah, Eun Ji. Tapi mengertilah. Jika kau sedang dalam posisi terjepit sepertiku kau pun akan mengambil cara aman. Appa tidak pernah merestui hubungan kita. Beliau bisa saja menendangku dari rumah jika tidak menuruti perkataannya” debatku berharap gadis ini mengerti. Aku mencintainya, sungguh. Tapi bisakah dia memahami keadaanku?
Eun Ji bersedekap dengan mata menyala-nyala. “Kau tak lebih dari pria pengecut, Choi Siwon. Lagipula apa bagusnya wanita bernapa Kim So Eun itu? Dia hanya wanita biasa. Sementara kau, kau butuh wanita yang luar biasa yang pantas bersanding di sisimu. Dan gadis itu aku, bukan Kim So Eun. Kenapa kau melakukannya? Kenapa kau mengkhianatiku dan memilih mengapit tangan gadis itu ke atas altar?”
Mendengar kata-kata Eun Ji entah kenapa aku tersinggung. Ada sesuatu dari kalimatnya yang membuatku tidak suka, namun aku bingung di bagian mana. Yang pasti sekarang sudut hatiku bergemuruh karena luapan kemarahannya itu.
“Jadi apa yang kuinginkan?” aku mencoba meredam emosi dengan memejamkan mata.
Pandangan Eun Ji meredup, kini berubah sendu. Orang bodoh pun bisa melihat luka yang terpancar dari sorot matanya. Ia berjalan mendekatiku. Tangannya singgah di kedua pundakku dengan lembut dan matanya menatapku lurus.
“Katakan bahwa kau mencintaiku, dan kau berjanji akan meninggalkannya.” Kata-kata yang dikeluarkan dengan suara rendah itu membuat iris mataku melebar, kaget. Aku memang sudah memikirkan ide ini semalaman. Namun tak pernah kusangka bahwa hal ini akan kudengar sendiri dari mulut orang lain.
Mendadak saja aku bimbang. Mulutku tak mampu bersuara dan pikiranku macet. Seperti bisikan setan, kata-kata Appa mendengung di ruang kepalaku.
Jika kau sampai melakukan tindakan yang membuat Appa dan Eomma terpaksa menanggung malu, jangan harap bisa menyandang marga Choi di depan namamu lagi!
Appa sudah pernah mengancamku dengan kalimat semacam itu. Perceraianku dengan So Eun jelas akan mencoreng nama keluarga Chaebol Choi. Perceraian tidak pernah ada dalam sejarah silsilah keluargaku dan jika aku melakukannya, aku harus siap meninggalkan keluarga yang sudah membesarkanku.
“Kenapa kau bimbang, Tuan Choi? Katakan sesuatu.” suara Eun Ji kembali menarikku paksa ke dunia nyata. Aku memalingkan pandangan menatapnya. Eun Ji memandangku dengan wajah penuh pengharapan. Aku tidak tega melihatnya. Akhirnya, setelah berdebat dengan hati nuraniku sendiri aku menghela napas.
“Aku tidak berjanji akan mengabulkan permintaanmu, Park Eun Ji. Dan kuharap kau tidak terlalu mengharapkanku, setidaknya untuk saat ini. Kau tunggulah hingga kesempatan untuk kita datang.” Suara yang terucap dari mulutku terdengar parau.
Tangan Eun Ji menyentuh pundakku. “Aku siap menunggu, Tuan Choi..,” mata yang selalu membuatku tenang menatapku lurus. Aku bisa melihat berbagai macam emosi dari iris matanya yang bergerak gelisah. Aku memang menyadari wajah kami saling mendekat satu sama lain dan ketika bibir kami kembali bertemu, aku menerima tanpa menepisnya.
Bagaimana pun, Eun Ji adalah gadis yang kucintai.

—o0o—

So Eun POV
Tanganku bergetar dan kelopak mataku rasanya tak bisa membendung airmata lagi. Seharusnya aku tidak datang ke tempat ini, kantor suamiku sehingga aku tidak perlu menyaksikan pemandangan yang menohok tenggorokanku. Rasanya seperti sebilah pisau yang mencoba memutuskan urat-urat nadi di sekujur tubuh. Aku seperti tengah dimutilasi oleh pemandangan miris yang kusaksika.
Perlahan aku mendorong kenop pintu yang hampir kubuka namun terhenti karena mataku terlanjur melihat hal yang tak seharusnya kusaksikan. Apa sebaiknya aku pergi? Lalu bagaimana aku menjelaskan pada ibu mertuaku? Aku tidak bisa berbohong pada seorang ibu. Meskipun beliau yang memintaku datang kemari untuk mengantarkan bekal makan siang, pada dasarnya aku memang ingin melihat bagaimana keseharian seorang Choi Siwon di tempat kerja. Dan dari yang kusaksikan hari ini, timbul pertanyaan di benakku.
Apa setiap hari mereka seperti ini? Bertemu di kantor dan bercumbu?
“Jangan gila, Kim So Eun.” Kugelengkan cepat kepalaku. Entah kenapa aku tertawa miris membayangkannya. Inilah harga yang harus kubayar karena telah mencampakkan hati yang mencintaiku dengan tulus. Aku harus menelan pil pahit bahwa pria yang tinggal bersama denganku mencintai wanita lain.
Sebaiknya aku masuk saja dan berpura-pura tidak mengetahui apapun. Benar, begitu saja. Aku tidak akan menyerah hanya karena gadis yang tadi dicium suamiku. Aku istrinya sekarang. Secara hukum negara aku lebih berhak atas Choi Siwon. Benar, Choi Siwon adalah suamiku dan aku istrinya. Aku harus kuat.
Setelah menarik napas dalam lalu menghembuskannya, aku mendapatkan keberanian entah dari mana. Aku meraih kenop pintu yang sempat kuabaikan, lalu membukanya kembali.
Saat menyadari pintu terbuka, kedua orang di dalam menoleh padaku bersamaan. Tidak ada raut kaget seperti yang kuduga sebelumnya. Kukira mereka akan panik dan saling menjauhkan diri rupanya tidak. Kenyataan ini membuatku semakin sakit hati.
“Ada perlu apa kemari? Kau tidak mungkin dikirim Eomma untuk mengantarkan bekal makan siang untukku bukan?” kata-kata yang kudengar dari mulut Siwon begitu dingin. Aku sempat terkejut karena dia bisa menebak dengan benar. Sorot matanya menyiratkan bahwa keberadaanku di hadapannya tidak diharapkan sama sekali.
“Aku memang ingin mengantarkan bekal, tapi bukan Eomma yang menyuruhku. Ini inisiatifku sendiri.” ucapku gugup. “Apa kau sudah makan siang?”
“Dia akan makan siang denganku.” Kali ini yang menjawab adalah gadis di sampingnya. Ini adalah kali ketiga aku melihatnya. Pertama di depan rumah Siwon saat pertemuan dulu, kedua di pesta pernikahan, dan ketiga hari ini.
Menyadari tatapan menyelidikku, gadis itu mengulurkan tangannya. “Aku Park Eun Ji.”
“So Eun, Choi So Eun.” Aku sedikit menekankan kata ‘Choi’ sekedar mengingatkan bahwa aku adalah istri dari Siwon. Kami berjabat tangan sambil menatap satu sama lain. Melihat caranya tersenyum, aku yakin Eun Ji memiliki rasa percaya diri tinggi bahwa ia akan menang dariku. Parasnya cantik, dan senyumnya mampu menyihir siapapun yang melihatnya. Mungkin itu yang membuat suamiku tertarik padanya.
“Em, bagaimana kalau kita bergegas makan siang saja.” sela Siwon. Otomatis aku menarik tanganku kembali. Aku tersenyum senang namun hal itu tak berlangsung lama karena aku menyadari sejak tadi pandangan Siwon terus tertuju pada Eun Ji.
“Kau ingin makan siang dengan apa?”
Mereka bahkan mulai mendiamkanku. Aku menunduk menatapi kotak bekal yang kupeluk sejak tadi. Kau tidak boleh kalah Kim So Eun!
“Aku membuatkan Hawaian Rocomoco untukmu.” Aku berkata agak kencang saat Siwon berjalan melewatiku. Langkahnya terhenti, lalu menoleh padaku.
“Hawaiian Rocomoco?” ulangnya dengan mata melebar. Bingo! Aku sudah membuatkan makanan kesukaanmu. Kau tidak akan menemukan menu ini di restoran manapun di Seoul. Aku cukup pintar karena bertanya mengenai makanan favorit Siwon pada Eomma. Selera Choi Siwon cukup unik memang. Sebagian orang pasti menganggap makanan khas Hawaii ini terlalu sederhana karena hanya berbahan dasar daging ham, nasi, telur, dan saus.
“Aku membuatkan spesial untukmu.” Aku menyerahkan kotak bekalku padanya. Tak kusangka detik berikutnya aku melihat senyum Siwon yang sempat kuimpikan. Senyum manis yang benar-benar tulus. Tangannya sudah terulur hentak mengambil kotak bekalku namun Eun Ji menjegal tangannya.
“Kau sudah berjanji.” Ucapnya dengan mata menajam. Siwon menunjukkan raut bimbangnya. Dia menatapku dan Eun Ji bergantian. Aku hendak membuka mulut kembali namun terhenti karena ponselku berdering.
“Yoboseyo?” suara Eomma segera menerjangku saat aku baru saja menempelkan ponsel di telinga. Mataku melebar, Eomma berkata dengan panik di ujung sana mengenai kondisi Appa yang memburuk.
“Baik-baik. Aku akan ke sana sekarang!!”
Aku tidak peduli jika Siwon ingin makan dengan siapapun sekarang. Aku hanya ingin pergi menemui Appa yang kembali kritis di rumah sakit. Hatiku tidak tenang dan kepanikan melanda seperti banjir bandang.
“Maaf, aku harus pergi sekarang. Kondisi Appa memburuk.” Aku baru akan pergi ketika telingaku mendengar seuntai kalimat mengejutkan keluar dari mulut Siwon.
“Ingin kuantar?”
Langkahku terhenti, aku membalikkan tubuh mengarahnya. Aku melihat Eun Ji pun tak kalah kagetnya denganku. Pandanganku kembali fokus pada Siwon yang melangkah mendekat.
“Ayo pergi.” dia berjalan melewatiku lebih dulu. Aku terpaku selama beberapa detik. Tak menyangka Siwon akan mengatakan kalimat itu. Aku melirik sekilas pada Eun Ji yang syok dan mematung di tempatnya. Aku sedikit iba melihat ekspresi kecewa di wajahnya tapi bagaimana lagi, Siwon yang memutuskannya. Aku tidak memaksa sama sekali. Maafkan aku, Eun Ji. Tapi kali ini kau harus mengalah.
“Kim So Eun, ppalli!!” aku mengerjap sadar ketika Siwon meneriakiku. Aku segera berlari menyusulnya.

—o0o—

Author POV
“Eommamu terlalu melebih-lebihkan. Kau lihat sekarang Appa masih baik-baik saja.”
So Eun harus bernapas selega-leganya ketika mendatangi ruang rawat Ayahnya, terlihat sosok laki-laki paling disayanginya itu baik-baik saja. Dokter memang mengatakan bahwa Ayahnya sempat mengalami kritis beberapa saat lalu namun kali ini kondisinya kembali stabil.
“Sekarang hapus airmatamu, nak.” Appa mengulurkan tangannya yang tertempel selang infus untuk menghapus lelehan airmata di pipi So Eun. Ayahnya bisa saja berkata begitu, namun nyatanya airmata So Eun selalu berhasil lolos jika sudah berhadapan degan situasi seperti ini. So Eun hanya terlalu jika Ayahnya akan pergi tanpa diduga.
Gadis itu menggenggam tangan Appanya yang lemah dengan penuh kasih sayang.
“Appa, kumohon jangan menakutiku. Aku memang putrimu yang paling kuat, seperti yang sering kau katakan. Tapi jika Appa pergi, aku harus mendapat kekuatan dari mana.” So Eun kembali terisak dan saat itulah pria yang kini sedang terbaring lemah di tempat tidur merasa sangat bersalah.
Seumur hidup satu-satunya doanya sebagai seorang Ayah adalah berharap agar putri semata wayangnya bahagia. Tak pernah terpikirkan sekalipun bahwa dirinya akan menjadi sumber kesedihan bagi putrinya sendiri. Ia selalu bertanya-tanya mengapa Tuhan begitu baik memberinya penyakit seberat ini.

Dari jauh, Siwon merasa tersentuh melihat So Eun begitu menyayangi dan menjaga ayahnya. Pemandangan itu seolah menjadi palu yang memukul hatinya dan membuatnya sadar bahwa selama ini ia sudah menyia-nyiakan keberadaan orang tuanya.
“So Eun sangat mencintai Ayahnya.” suara gumaman di samping membuat Siwon menoleh ke arah seorang wanita yang ia tahu adalah ibu So Eun. Wanita itu tersenyum sambil menatap putri dan suaminya. Namun Siwon jelas melihat raut sedih di wajahnya.
“Saat So Eun lahir, suamiku selalu memanjakannya dan kami membesarkan So Eun dengan penuh kebahagiaan. Dia tumbuh menjadi seorang gadis penurut dan tak pernah sekalipun dia mengecewakan kami. Kami sangat bangga padanya. Dan Ayahnya adalah sosok idola baginya.” Jelas Eomma So Eun dengan tenang. Ia tersentuh mendengar deretan kalimat itu. Ia bertanya-tanya, apakah kedua orang tuanya juga berpikir seperti itu tentangnya mengingat yang dilakukannya hanyalah membuat mereka marah dan kesal.
“Siwon-ah.”
Siwon tersadar dari lamunannya begitu ia mendengar suara Appa So Eun memanggilnya. Ia mendekat lalu membungkuk hormat.
“Ne, Appa.” Siwon merasa lidahnya sedikit aneh saat mengucapkan kata itu.
“Mendekatlah.”
Siwon menurut, ia lalu duduk di kursi yang di tempati So Eun setelah gadis itu bangkit. Appa So Eun menggenggam tangannya, sama seperti menggenggam tangan putrinya. Ia memang sudah menganggap Siwon anaknya sendiri.
“Appa hanya ingin mengucapkan banyak terima kasih padamu. Kau sudah mau menggantikanku melindungi putriku yang paling berharga.” Siwon terkesiap mendengar ucapan Appa, terlebih So Eun.
“Jika suatu saat nanti aku tidak bisa menjaga putriku lagi, aku akan senang menitipkan putriku padamu. Tolong jaga dia sebaik-baiknya.”
“Appa!!” potong So Eun tidak terima kata-kata Appa.
“Kau diam saja…” ucap Appa, kembali membungkam mulut So Eun. “Seharusnya kau bersyukur karena Appa sudah memberimu seorang penjaga. Appa tidak akan pergi dengan tenang jika kau masih bersama dengan pria itu.”
So Eun mengerjap karena Appa kembali menyinggung soal Donghae. Appa memang tidak suka sejak awal pada Donghae, entah apa alasannya. Padahal pria itu begitu sopan, baik, dan menyayanginya dengan tulus.
Ia mengatupkan bibirnya rapat-rapat lalu memalingkan wajah. Ia tidak menyadari bahwa kini Siwon sedang menatapnya dengan ekspresi tak terbaca.

—o0o—

Setibanya di rumah, Siwon menyantap bekal yang siang tadi dibuatkan So Eun untuknya. Gadis itu membuat kembali menu kesukaannya itu. Kini perhatiannya kembali pada So Eun yang duduk termenung di seberangnya. Ia penasaran dengan apa yang dipikirkan gadis itu. Semenjak Appa mertuanya menyinggung soal ‘pria itu’, ekspresi So Eun mulai berubah.
“Siapa yang dimaksud Appamu dengan ‘pria itu’?”
So Eun mengangkat kepalanya, dengan terkejut ia menatap Siwon yang tampak tak peduli. Berbanding terbalik dengan isi hatinya yang penasaran setengah mati.
“Bukan siapa-siapa.” So Eun kembali menatap piring makan malamnya yang sudah kosong setengahnya.
“Sepertinya ‘pria itu’ begitu penting bagimu.”
“Tidak juga.”
Siwon berdecak, jengkel. “Dilihat dari ekpsresimu, sepertinya anggapanku benar. Apa pria itu adalah mantan kekasihmu?” sedikit penyesalan melanda Siwon kala ia sadar So Eun menggenggam erat sumpitnya sesaat setelah ia mengucapkan kata ‘mantan kekasih’.
“Oh, apa kau masih mencintainya hingga detik ini? Cih, benar-benar pria malang. Kekasihnya lebih memilih pria lain dibanding dirinya.” Sindir Siwon puas.
Gadis itu menggeram tertahan. “Lee Donghae tidak sama seperti Park Eun Ji. Setidaknya ia cukup tahu diri dengan mundur dari hidupku setelah kukatakan aku akan menikah.” Hatinya seperti tersulut api mendengar penuturan Siwon. Ia seperti diingatkan bahwa betapa malang dirinya karena Siwon tidak meninggalkan Eun Ji meskipun dirinya telah menikah.
Kali ini Siwon yang terpancing emosi karena ucapan So Eun. “Kenapa kau membawa-bawa Eun Ji?” ia meletakkan dengan keras sumpitnya di atas meja. “Kau tidak tahu apapun soal Eun Ji dan kau tidak berhak menghina ataupun mencela soal dirinya! Aku tidak peduli jika kau masih mencintai mantan kekasihmu atau tidak. Namun aku tidak suka jika kau mulai membawa-bawa Eun Ji dalam tipik pembicaraan apapun!!”
“Aku memang tidak tahu. Tapi seharusnya gadis itu tahu diri bahwa kau sudah menikah denganku. Tidak ada hak baginya untuk mencampuri urusanmu lagi.” So Eun berkata dengan penuh emosi meskipun cara bicaranya masih terdengar halus.
“Hak?” Siwon mengangkat alisnya sebelah, lalu mencibir. “Kau berbicara soal hak denganku?” ia menatap So Eun penuh emosi. “KAU TIDAK TAHU APAPUN SOAL APA ITU HAK!!!!!!!” Siwon tiba-tiba saja berteriak, sambil menyapu semua piring dan gelas di atas meja hingga jatuh dan hancur di lantai. Hal itu membuat So Eun kaget sampai jantungnya hampir keluar dari kerongkongannya. Ia memekik tertahan. Matanya hampir tak percaya karena kini ia melihat Siwon menatapnya dengan mata berapi-api, mirip Kyubi yang sudah marah dan mengeluarkan ke sembilan ekornya.
“Sejak kecil hakku sudah terampas oleh kedua orang tuaku sendiri!! Apa mereka pernah bertanya apa cita-citaku atau apa yang kuinginkan? TIDAK!! Apa mereka pernah memberiku hak memilih gadis manapun untuk kunikahi? TIDAK!! Dan apa kau tahu bahwa kedua orang tuaku tidak pernah memperlakukan Eun Ji dengan baik meskipun dia sudah berusaha sekuat tenaga untuk meyakinkan kedua orang tuaku? TIDAK!!! Kami sudah berkomitmen untuk saling mencintai, dan menikah namun semua mimpiku hancur karena kedatanganmu dan sekarang kau berkata tentang hak?” Siwon menarik napas di akhir teriakannya.
So Eun tak bisa berkata apapun karena ia melihat kemalangan, kesedihan, putus asa, dan sakit hati dengan jelas di wajah Siwon. Ia yakin kata-kata yang baru saja diucapkan Siwon adalah isi hatinya yang terdalam. Ia memang selalu melihat Siwon seperti menanggung beban yang begitu berat. Rupanya ini alasannya mengapa ia selalu menemukan raut lelah dari sorot mata Siwon.
Matanya kembali berkabut. Untuk menghindari tatapan mata Siwon, ia bangkit lalu berlutut untuk membersihkan pecahan beling yang berserakan di lantai.
Siwon bangkit lalu menatap So Eun penuh kebencian. “Aku membencimu, Kim So Eun.” Ucapnya lalu pergi.
So Eun membelalakkan mata, terkejut dengan ucapan Siwon barusan. Tangannya bergetar saat ia membereskan pecahan beling itu. Telinganya menangkap suara bantingan pintu dan ia yakin Siwon pergi dari apartemen mereka. Akhirnya, airmata yang ia tahan sekuat tenaga itu tumpah. Ia tidak tahu jika rasanya akan sepertih ini saat mengetahui ia menikahi pria yang tidak mencintainya. Hatinya hancur, seperti pecahan beling yang berserakan di sekitarnya.
Ia hanya tidak tahu, bahwa detik ini, ia menyadari dirinya telah jatuh cinta pada Choi Siwon.

To be continued..

99 thoughts on “I Hate You, But (Part 2)

  1. Konflik ff marriage life, apalagi yg d mulai dengan perjodohan hampir rata2 sama. Dari benci ujung2nya cinta.
    Tapi tetap saja genre ini paling banyak d sukai.
    Hwaiting buat author…

  2. Tu kan ..
    Emang bener ko d0nghae emang tau dri dri eunji..

    siwon,disini bukan cuma qm yg d rebut haknya.jd jngan egois.

  3. wah so eun secepat itukah kau jatuh cinta pada choi siwon ??
    poor kim so eun , dan menyebalkan sekali choi siwon apalagi park eunji !!
    selalu suka ff marriage life biasanya suka yg romance tapi kali ini penasaran sama yang sad🙂
    ceritanya bagus and i like it🙂

  4. emang dr awal ketemu siwon so eun kayaknya emang udda suka am siwon !!!
    kasian am eunji and siwon ih mereka bener” menderita , tp lebih kasian so eun😦

  5. tega nian siwon.. kan nasibnya sama aja dg istrinya.. yg harus melepaskan org yg diinginkan tuk bs mematuhi perintah appanyaaa

  6. Gilla!! Serem sangat si siwon ini!! Merinding disco gegara teriakan’a.. So eun dah jatuh cinta ma siwon? Tpi hati’a siwon jga ngerespon koq.. Kkkk~

  7. Speechles siwon oppa bener2 jahat.. tapi jahat nya itu karna dari kecil kurang di perhatiin sama ortu?
    coba deh oppa manis pasti romance ya timbul :^
    Ff dengan genre gini tuh seru apa lagi pas end nya ujung2 nya cinta matii hehehe

Your comment

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s