Shady Girl Eunhyuk’s Story (Prolog)

Tittle : Shady Girl Eunhyuk’s Story Prolog
Genre : Romance
Author : Dha Khanzaki a.k.a Shin Je Young

Main Cast :

  • Kim Mira
  • Eunhyuk / Lee Hyukjae

Special appearance :

  • Lee Taemin

Ini adalah cerita prolog dari Shady Girl Eunhyuk’s Story. Ada sedikit adegan kekerasan dalam cerita ini.

Happy Reading ^_^

Shady Girl Eunhyuk's Story by Dha Khanzaki

—-o0o—-

“Kau yakin bisa pulang seorang diri?” Sulli tampak ragu ketika bertanya pada sahabat baiknya, Lee Taemin. Namja manis itu mengacungkan jempolnya sambil memantapkan posisi duduknya di balik kemudi mobil Mustang Convertible baru yang dibelikan Eunhyuk, kakaknya bulan lalu sebagai hadiah atas hasil ujiannya yang cemerlang.
“Tenang saja, usiaku sudah 20 tahun dan aku memiliki SIM” akunya bangga seraya memamerkan kartu SIM miliknya. Sulli memutar bola matanya malas.
“Baiklah aku percaya. Tapi ingat, jangan mengebut di jalan raya!”
Taemin mengangguk-angguk tak peduli. “Iya. Masih ada nasihat lain?”
“Besok kau harus tetap hidup.”
Taemin membelalakkan matanya. “Mwo? Maksudmu! Ya, Choi Sulli! Kau mendoakan aku kecelakaan????” tuduhnya sambil menunjuk Sulli.
“Aish, aku mencemaskanmu! Dasar Taemin pabo. Sudah sana kau pulang saja!” usirnya galak. Raut wajahnya yang cantik pudar seketika.
“Huh, sia-sia kubelikan kamu hadiah ulangtahun dari Italia. Ternyata sudah bertambah umurpun kau tetap tidak ada manis-manisnya..” ejek Taemin seraya menstarter mobil.
Sulli merasa tersinggung. Malam ini dia sudah berdandan cantik. Memakai gaun yang sebenarnya tidak dia sukai, tak juga lupa dengan high heels dan make up. Tapi namja pabo ini masih juga mengatakannya tidak manis???????
“Aku juga menyesal sudah mengundangmu ke acara ulang tahunku!! Dasar Taemin pabo! Aku tidak peduli lagi. Kau pulang sana!!!” teriaknya lalu berlari pergi ke dalam hotel tempat pesta ulang tahunnya yang ke 19 berlangsung.

Dengan kesal Taemin melajukan mobilnya meninggalkan hotel berbintang 5 itu dan berbaur dengan ratusan pengendara mobil lainnya di jalan raya. Ia tidak memperhatikan jalan dan hanya melajukan mobilnya entah ke mana. Hingga saat sadar namja itu berada di tempat yang tak di kenalnya.
“Di mana ini?” tanyanya celingak celinguk. Tempatnya berada kini berupa jalanan sepi yang di sisi kiri dan kanannya berdiri pohon-pohon tinggi. Suasana begitu gelap karena jalan hanya penerangan satu-satunya hanyalah lampu jalan. Tidak ada rumah penduduk. Yang ada hanyalah komplek bangunan bobrok yang sudah tak berpenghuni lagi.
“Di mana ini?” tanyanya pada diri sendiri. Ia mengeluarkan ponsel bermaksud meminta pertolongan. Namun ternyata tidak ada sinyal sama sekali.
“sial!!” umpatnya. Taemin memutuskan turun dari mobil dan melihat-lihat sekitarnya. Siapa tahu ia bisa menemukan telepon umum atau semacamnya.

Jaket panjangnya ia rapatkan karena udara berhembus begitu dingin. Taemin melirik kiri dan kanannya. Namun tak menemukan apapun yang berarti. Kakinya melangkah santai menyusuri sepanjang bangunan tua tak terpakai lagi itu. Mendadak langkahnya terhenti.
“Taemin pabo! Kenapa tidak memutar balik saja!” ia mengerjap menyadari kebodohannya sendiri. Taemin hendak membalikkan badan ketika ia mendengar suara-suara aneh dari dalam bangunan tua itu. Loh. Bukannya ini adalah pabrik yang sudah tidak terpakai lagi? Lalu kenapa tadi ia seolah mendengar suara orang tengah mengobrol dan berbagai suara berisik lainnya?

Entah keberanian dari mana, Taemin melangkahkan kakinya mendekati asal suara. Ia melihat sinar lampu dari dalam salah satu bangunan berlantai satu di komplek tua itu. Ia berjalan mengendap-endap dan sebisa mungkin tidak menimbulkan suara. Taemin mengintip dari balik jendela tempat sinar lampu itu berasal. Matanya agak terbelalak.

Di dalam sana, ia melihat beberapa orang pria sedang bercakap-cakap. Yang memuat Taemin kaget adalah para pria itu mengelilingi meja yang penuh dengan senjata api dari berbagai macam tipe dan ukuran. Apa itu asli? Kalau benar.. itu artinya barang ilegal. Bukankah semua senjata api yang masuk ke Korea harus melalui departement pertahanan dan kepolisian terlebih dahulu? dan pengedarannya terhadap publik di awasi dengan sangat ketat. Lagipula jika mereka memang pihak yang berwenang, mengapa dilakukan di tempat aneh begini? Berbagai macam pertanyaan berkelebat di otak Taemin. Ia merogoh ponsel yang ada di dalam sakunya. Nalurinya bergerak begitu saja. Taemin memfoto gerak-gerik mereka.
“Bagaimana? Apa kita harus menjualnya pada kelompok mafia itu?” tanya salah satu dari mereka sambil menyesap rokok. Bingo! Benar ternyata. Mereka adalah komplotan penjual senjata api ilegal. Taemin bersyukur sudah memotret kejadian ini.
“Wah, jika kuperlihatkan pada teman di kampus, pasti akan heboh..” desisnya pelan. Taemin tersenyum senang. Ia melirik kembali ke dalam. Sekarang Taemin kembali terkejut. bagaimana tidak, karena ia melihat satu wajah yang di kenalnya.
“Tuan Kim Byung Hee, sedang apa dia di sini..” lirih Taemin tak percaya. Ia terbelalak kaget. Tidak mungkin. Kim Byung Hee adalah seorang walikota. Tidak mungkin terlibat transaksi gelap seperti ini. Taemin kembali mengarahkan kamera ponselnya ke arah orang-orang itu. Beberapa kali ia mengambil foto.
“Aku harus mengirimkannya pada Hyung. Dia harus tahu..” Taemin segera mengirimkannya pada nomor Eunhyuk. Kakaknya. Ia tahu benar bahwa walikota itu adalah ayah dari Kim Hyo Yeon, yeojachingu kakaknya yang mungkin sebentar lagi akan menjadi ayah mertua kakaknya.
“Terkirim. Yes..” serunya senang. “Hyung, kau harus tahu seperti apa calon mertuamu itu.” Taemin tidak sadar sedikitpun bahwa suaranya tadi terlalu kencang dan membuat beberapa orang pria itu menoleh ke arah jendela. Tak terkecuali Kim Byung Hee.
“Tuan, rasanya tadi ada yang memotret kita..” bisik salah satu pria berjas pada Kim Byung Hee. Pria paruh baya itu mengerutkan keningnya. Ia memerintahkan pada pria berkepala botak untuk melihat ke luar.

“Siapa di sana!!” teriak salah seorang dari mereka begitu menyadari bahwa sekarang kegiatan mereka tengah di awasi oleh seseorang. Tubuh Taemin menegang seketika. Ia perlahan menjauh. Baru 2 langkah ia berjalan, mendadak saja seseorang dari mereka berteriak ke arahnya.
“Dia! Itu dia penyusupnya!!!!”

“Mati aku!!!” teriak Taemin langsung mengambil langkah seribu. Ia berlari kencang meninggalkan tempat itu. Saking paniknya Taemin sampai melupakan mobil yang di bawanya tadi. Tentu saja tindak tanduk Taemin yang mencurigakan membuat mereka kian gencar mengejarnya. Alhasil, kini Taemin sedang berada dalam bahaya karena beberapa orang pria membawa pemukul serta senjata api tengah mengejarnya.
“Tangkap bocah itu. Kemungkinan dia adalah mata-mata yang dikirim interpol!!”
“Ambil kamera yang di bawanya!!”

“huwaa.. Hyung, tolong akuuu..” teriak Taemin dalam hati.

—o0o—

“Hati-hati di jalan. Benar kau tidak mau ku antar?” tanya Ryeowook sekali lagi sebelum benar-benar membiarkan gadis di hadapannya pulang seorang diri. Kim Mira, gadis dengan rambut panjang bergelombang, mata bulat dan bibir tipis itu mengangguk ringan. Ia merapatkan hoodie berwarna biru gelap yang dipakainya.
“Tapi ini sudah hampir tengah malam. aku tidak yakin. Lagipula, kamu kan cantik Mira. Pasti banyak pria yang akan mengganggumu.” Ryeowook menahan bahu gadis itu yang hendak pergi. Mira tersenyum kembali, bermaksud menenangkan sahabat sejak kecilnya itu.
“Wookie-ah. Kau tidak perlu khawatir padaku. Lagipula kau tahu kan, aku bisa beladiri.” Mira mengangkat kepalnya. Namja manis itu tersenyum ringan.
“Kau benar. Penjahat tidak akan berani padamu.”
“Baiklah, karena kau harus kembali bekerja, jadi tidak perlu menungguku. Kembali saja ke tempatmu di barista.” Mira mendorong tubuh Ryeowook untuk masuk ke dalam klub malam itu.
“Oke Nona..” Ryeowook akhirnya menyerah. Ia percaya Mira bisa menjaga dirinya sendiri.

Setelah yakin Ryeowook sudah tak terlihat, Mira memakai tudung hoodie-nya. Bagaimanapun dia adalah seorang gadis. Berjalan sendirian di malam hari sangat berbahaya meskipun ia adalah pemegang sabuk hitam karate.

“Wah, sepertinya malam ini aku hanya bisa tidur beberapa jam saja.” keluhnya sambil sesekali menguap. Besok pagi tepat pukul 8 ia harus sudah berada di restoran. Bekerja.
“Itu pun bila paman dan bibi tidak memberiku pekerjaan menumpuk..” tambahnya lagi mengingat hidupnya lebih tepat di katakan serupa dengan Cinderella. Menjadi pekerja paksa. Ironis sekali.

Tapi jangan berpikir Mira hanya menerima semua itu dengan pasrah. Ia terpaksa melakukannya. Karena jika tidak, paman dan bibinya yang serakah itu akan menjual satu-satunya lahan peninggalan orang tuanya kepada orang lain. Atau.. dirinya akan di jual pada pria hidung belang. Oh.. lebih baik ia mati daripada hal itu benar-benar terjadi.

Mira berhenti di depan sebuah komplek pabrik yang sudah di penuhi rerumputan di sekitarnya. Kepalanya mendongak menatap gedung tua di hadapannya. Airmatanya membendung. Otaknya berputar pada kejadian beberapa tahun silam. Masa-masa terburuk dalam kehidupannya.

Dahulunya, pabrik ini adalah perusahaan milik ayahnya yang kemudian bangkrut karena sebuah insiden.

Insiden yang berhasil mengubah hidup Mira berputar 360 derajat.
Ke dua orang tuanya tewas dalam kebakaran yang terjadi di rumahnya. Entah itu kecelakaan atau bukan, namun Mira masih merasa ada yang janggal dengan peristiwa itu. Beruntungnya, saat kecelakaan itu terjadi, Mira sedang tidak ada di rumah karena mengikuti kegiatan hiking bersama klub di sekolahnya.

“tolooong….”

Mira menolehkan pandangannya ke samping begitu mendengar sayup-sayup suara orang berteriak. Suara siapa itu? Lagipula kenapa terdengar di tempat seperti ini? Ini kawasan sepi. Tunggu, jika terdengar teriakan… jangan-jangan.. ada seseorang yang dalam bahaya!!
Gadis itu segera membalikkan tubuhnya untuk mencari tahu asal suara.

—o0o—

Malam itu angin bertiup kencang menerbangkan daun-daun kering dari ranting pohon sepanjang jalan itu. Air sungai pun mengalir jernih mengiringi hembusan angin yang berhembus di atasnya.

“Yaak!! Berhenti kau!!”

Teriakan kencang terdengar dari salah satu gang kecil di antara bangunan pabrik yang sudah tak berfungsi lagi. Beberapa pria berpakaian preman melangkah tergesa-gesa demi menyusul Taemin yang sudah berlari jauh lebih dulu.

Ekspresi panik disertai keringat mengucur di sepanjang pelipis begitu kentara menghiasi wajah lelaki muda itu. Dengan kecepatan tinggi, ia melesat melewati gorong-gorong sempit seperti tikus yang menghindari kejaran kucing lapar.

“Hyaa.. siapapun tolong aku..” teriaknya panik. Entah untuk ke berapa kali Taemin berteriak meminta tolong. Tidak ada siapapun di sana. Tindakan yang dilakukannya sia-sia.

Salah satu dari gerombolan itu mengambil sebuah kaleng kosong dan melemparkannya ke arah Taemin yang berlari jauh di depan.

Bruukk!!!

Naas sekali nasib Taemin. Kepalanya dengan mulus menjadi sasaran kaleng yang dilempar tadi. Seketika tubuh Taemin terhuyung ke depan dan langsung jatuh tersungkur ke tanah. Bibirnya meringis menahan sakit yang mendadak menyerang kepalanya.
Saat tangannya menyentuh pelipisnya sendiri, darah segar memenuhi jari-jarinya hingga telapak tangan. Taemin mengerjap kaget. Tubuhnya bergetar namun ia tetap memaksakan diri menegakkan tubuhnya dan bersiap lari. Namun begitu ke dua kakinya menopang tubuhnya sendiri untuk berdiri, sekumpulan pria berwajah sangar itu sudah mengepungnya, mengelilinginya hingga tidak ada celah untuk kabur.

“Bersiap-siaplah menerima nasibmu, anak malang.” Ucap salah satu dari mereka yang kepalanya botak.
“A-apa salahku?” meski dilanda ketakutan yang begitu hebat, Taemin tetap berani mendebat. Seolah tidak takut dengan ancaman ataupun bahaya yang bisa saja menimpa dirinya.

Si kepala botak menyeringai sinis. “Kau tidak kenal takut rupanya. Tapi sayang, keberanianmu tu justru merugikanmu, bocah.” Dia mendekat perlahan. Lalu mencengkeram wajah Taemin dengan tangan kekar miliknya. “Katakan, siapa namamu!!!”

“Kenapa? Kau ingin menculikku untuk meminta tebusan? Atau membunuhku lalu mengirimkan potongan mayatku pada keluargaku?” tantang Taemin. Ia sendiri tidak mengerti kenapa ia bisa mengatakan kalimat yang membahayakan seperti ini.
“Ide yang bagus. Tapi aku punya cara lain.” Ucap pria botak itu sambil menarik tangan Taemin ke belakang tubuhnya, kemudian mengikatnya dengan kuat lalu berbisik.
“Aku akan menjatuhkanmu ke dalam rawa penuh buaya. Bagaimana menurutmu?”

Taemin menelan ludahnya. “Terdengar menyeramkan.” Sekarang ia berdoa semoga tiba-tiba saja Tuhan memberikan ke ajaiban dengan menghadirkan superman atau spiderman.. gumiho juga boleh.. apapun.
“Sekarang katakan di mana ponselmu?” tanya pria botak itu sambil mengacungkan sebilah pisau pada leher Taemin.
“Sudah kubuang ke sungai.”
“Bohong!!” teriaknya lalu memeriksa di seluruh pakaian yang di kenakan Taemin. Rupanya namja muda itu tidak berbohong. Memang ponsel itu tak di temukan di manapun.
“Sial!!” bruuukk—-Taemin terjengkang jatuh karena perutnya terkena pukulan penuh emosi dari pria botak tadi.

Uhuk uhuk.. Taemin terbatuk. Jantungnya berdebar kencang karena dari mulutnya mengalir darah segar dan perutnya terasa sakit sekali.

“Katakan, kau kiriman dari polisi atau interpol?” interogasinya lagi dengan nada penuh emosi. Taemin tetap tidak mau kalah.
“Aku bukan keduanya. Aku hanya pria muda yang terpancing oleh rasa penasaran.”

Pria botak itu mengertakan kepalanya berkali – kali, menahan emosi. Ia seolah malas meladeni Taemin lagi kemudian membalikkan tubuhnya menatap anak-anak buahnya.
“Kalian, bunuh dia.”

Mata Taemin terbelalak. Akhirnya ia hanya bisa menyesalli diri kenapa begitu keras kepala. Nyawanya kini terancam dan ia tidak bisa melihat masa depannya lagi. Seketika terngiang di telinganya ucapan Sulli sebelum ia pergi.
“Besok kau harus tetap hidup”.
Oh, apa mungkin itu adalah sebuah pertanda?
“Tuhan..tolong aku..” lirihnya pasrah.

Mata Taemin sudah tertutup rapat-rapat bersiap menerima berbagai macam serangan pada tubuhnya. Namun rasa heran menghinggapinya tak lama setelah ia menutup mata. Kenapa aku tidak merasakan sakit?? Batinnya.

Buukkk!!!

Terdengar suara benda terbentur tanah dengan keras. Perlahan Taemin membuka matanya. Ia melebarkan mata begitu melihat sesosok—entah yeoja atau namja—berdiri membelakanginya. Orang itu memakai hoodie berwarna abu-abu dan kepalanya tertutup tudung hoodie.

“siapa kau! Beraninya ikut campur!!” salah satu dari mereka mengarahkan sebuah pemukul baseball kepada orang bertudung itu.
“Aaaaa..” Taemin menjerit panik. Namun siapa sangka dengan gerak yang begitu cepat dan cekatan orang itu menghindar kemudian menendang pria-pria jahat tadi dengan jurus—entah apa namanya—hingga terpental jatuh.

Taemin menganga. Harus diakui, meski ia sering sekali menonton film aksi dengan bintang Jet Li ataupun Chow Yun Fat, namun menurutnya yang disaksikannya kali ini adalah yang terkeren!! Mungkin karena sekarang ia menyaksikan action live dengan mata kepalanya sendiri.

Lihat saja, kini dengan jurus mengagumkan yang lain orang itu menghajar belasan orang pria dewasa hanya seorang diri. Sementara Taemin hanya berdiri diam di sudut arena perkelahian tanpa berbuat apapun. Namja itu terlalu menggilai adegan perkelahian itu hingga tidak sadar ada orang yang akan memukulnya dari belakang.

Buk!! Bukk!!

Taemin lagi-lagi mengerjap kaget. Tangannya mendadak di tarik ke belakang tubuh orang berhoodie itu sementara dia menghajar sekumpulan preman itu lagi.
“Setelah kuberi kode, kau harus lari. Arra..” perintahnya. Taemin menoleh dengan gerakan cepat. Bagaimana mungkin, baru saja ia mendengar suara lembut seorang yeoja. Jadi orang ini adalah yeoja????? Tidak, sekarang bukan saatnya untuk kaget. Taemin mengangguk cepat. Pelan-pelan orang itu melepaskan ikatan tali pada Taemin.

Orang itu melancarkan serangan terakhir kemudian berteriak “Lariii.!!!”

Taemin segera melangkah pergi dan secara tidak sengaja menarik tudung orang itu. Saat tudungnya terlepas dari kepala, semuanya terjadi seperti dalam film dengan gerakan slow motion. Di balik tudung itu, segerai rambut berwarna hitam dan panjang jatuh indah. Taemin terpana. Orang hebat yang dikaguminya ini, benar-benar seorang yeoja???
Mendadak saja orang itu menolehkan kepalanya. “Palli!!”

Taemin melihat wajahnya!! dia benar-benar yeoja. Yeoja yang cantik dan lebih tepat di katakan seperti boneka. Dia terlalu kagum hingga tidak sadar bahwa ada orang yang menyusulnya lebih dulu dan memukul kepalanya dengan pemukul baseball.

Bukk!!

Gerakan tubuh Taemin terhenti seketika bersamaan dengan tubuhnya yang ambruk menyentuh tanah. Pandangannya memburam. Hal terakhir yang di ingat Taemin adalah ketika sosok yeoja cantik itu membalikkan diri ke arahnya. Setelahnya, seluruh pandangannya mengabur dan Taemin tak sadarkan diri lagi.

To be continued…

55 thoughts on “Shady Girl Eunhyuk’s Story (Prolog)

  1. Waahhh Taemin brani jg ya,, andai aja dy lngsung pulanga gk bkalan ad kjdian sprti itu kan??
    Untung ad yg nolongin,,,

  2. dari beberapa cerita shady girl yang aku suka semua ceeita eunhyuk daa mira yang paling berkesan diakhirnya yang nangis sedih dan haru

Your comment

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s