Hello My Charming Yeoja (Part 6)

Tittle : Hello My Charming Yeoja Part 6
Author : Dha Khanzaki a.k.a Shin Je Young
Genre : Romance

Main Cast :

  • Shin Je Young
  • Cho Kyuhyun

Maaf ya kalau nemu typo dan sejenisnya ^_^

Hello My Charming Yeoja by dhaKhanzaki

=====o0o======

Part 6

Tuan Cho berniat mengejutkan putranya pagi ini. Ia sengaja datang ke Jerman tanpa memberitahukan Kyuhyun terlebih dahulu. Ia ingin tahu apa yang sudah dilakukan Kyuhyun bersama Je Young selama di Jerman. Ia memencet bel kamar hotel tempat putranya menginap. Namun tidak ada jawaban. Ia mengerutkan kening. Lantas ia membuka pintunya menggunakan kunci cadangan yang sudah ia pinta dari petugas hotel, untuk berjaga-jaga.
Setelah membuka kuncinya, Tuan Cho masuk ke dalam kamar hotel yang tampak sepi dan hening. Ia segera menuju ke kamar. Firasatnya sebagai seorang Ayah merasa anaknya telah berbuat sesuatu. Pintu kamar itu segera dibukanya dengan gerakan cepat.
Melihat pemandangan di depannya, Tuan Cho hampir saja terkena serangan jantung. Bagaimana mungkin sekarang ia melihat Kyuhyun, putranya sedang tidur sambil memeluk Je Young, sekretarisnya sendiri.
Tuan Cho mengusap wajahnya, sedikit frustasi. Tak ada yang dilakukannya selain diam memandangi Kyuhyun yang tetap tenang diposisinya. Tertidur dengan nyenyaknya sambil memeluk Je Young. Ia berdiri dengan tangan terlipat di depan dada. Tak ada niat sedikitpun untuk membangunkan mereka. Ia menunggu hingga salah satu dari mereka terbangun.
“Kalian, benar-benar minta kunikahkan rupanya..” desisnya antara kesal dan gemas.

Je Young merasa tubuhnya dibelai udara dingin pagi itu. Ia membuka matanya perlahan sambil menyesuaikan dengan kondisi ruangan yang sedikit terang berkat cahaya matahari dari jendela yang tertutup gordin putih transparan. Ia menolehkan pandangan ke samping, tepat ke arah Kyuhyun yang masih tertidur damai.
Namja ini tidur sambil memelukku semalaman. Gumamnya dalam hati. Ia sendiri heran. Mengapa ia bisa tidur nyaman di saat ada pria asing yang tidur di sampingnya. Ia menolehkan pandangannya ke arah lain. Awalnya pandangannya sedikit kurang jelas. Samar-samar ia melihat sosok seseorang berdiri di dekat tempat tidur. lantas Je Young mengerjapkan matanya berkali-kali. Ketika pandangan itu mulai jelas dan tidak kabur lagi, ia terperanjat kaget.
“Tu-tuan Cho…” serunya terkejut bercampur panik. Ia bergegas bangun, mendudukkan tubuhnya di atas tempat tidur. Ia menyingkirkan tangan Kyuhyun yang memeluk pinggangnya.
“Apa tidurmu nyenyak, Nona Shin?” tanya Tuan Cho ramah. Je Young mengangguk dengan kepala tertunduk. Ia tidak sanggup mengangkat wajahnya menatap pria paruh baya yang menjadi bosnya itu. Ia benar-benar malu karena kembali tertangkap basah sedang bermesraan dengan putranya.
Tuan Cho melirik ke arah Kyuhyun. “Anak itu belum juga bangun..” gumamnya, terdengar jengkel. Je Young buru-buru menoleh ke arah Kyuhyun dan mencoba membangunkannya.
“Kyuhyun-ssi. Ireona..” cicitnya nyaris seperti bisikan sambil mengguncang bahu pria itu.
“Eungh..” Kyuhyun melenguh merespon guncangan halus Je Young di pundaknya. Ia menggeliat lalu perlahan membuka matanya.
“Youngie..selamat pagi..” gumamnya dengan senyum tipis mengembang. Bukannya terkesan Je Young justru semakin panik. Kenapa pria ini malah menunjukkan raut ‘tidak bersalah’nya?
“Ireona. Ppalli..” serunya tak sabar.
“Kyuhyun..” sela Tuan Cho dengan suara penuh wibawa, memanggil Kyuhyun agar bangun. Je Young kembali memposisikan dirinya seperti semula, duduk dengan sikap tubuh yang canggung sekaligus kaku. Jika ditanya bagaimana perasaannya saat ini, ia sangat gugup, malu, dan takut.

Kyuhyun menggeliatkan tubuhnya kembali mendengar namanya di sebut. Ia mengenali suara itu dengan baik. Itu adalah suara ayahnya. Namun ia tidak akan bertanya mengapa ayahnya bisa ada di sana. Ia tahu ayahnya itu selalu cemas jika ia sedang bepergian ke luar negeri. Hanya saja sekarang tindakan ayahnya sedikit berlebihan. padahal biasanya hanya menelepon jika memang Ayahnya itu khawatir.
Ia beringsut bangun lalu mendudukkan diri di samping Je Young. Gadis itu menghela napas lega karena Kyuhyun akhirnya terbangun.
Kyuhyun memang sudah sadar, namun jiwanya belum terkumpul seutuhnya. Ia juga tahu ayahnya ada di sana. Namun rasa nyaman saat bersama Je Young tidak membuatnya malu, kaget, ataupun takut. Dengan polosnya ia justru kembali memeluk Je Young sambil menyandarkan dagunya di pundak gadis itu.
Je Young terperanjat kaget atas ulah Kyuhyun. “Kyuhyun-ssi..” ia berusaha melepaskan dekapan Kyuhyun di perutnya. Apa yang dilakukan pria ini. Desis Je Young jengkel dalam hati. Ia benar-benar malu pada Tuan Cho. Bagaimana bisa ia memperlihatkan wajahnya lagi pada Cho Seung Hwan, Presdir dari Cho Corporation itu setelah kejadian memalukan yang dilakukan anaknya hari ini.
“Cho Kyuhyun, cepat bangun!!!” tegas Tuan Cho dengan rahang bergemeretak menahan emosi.
“Aku masih mengantuk,, Appa..” balasnya polos, justru mengeratkan pelukannya. Ia malah semakin berbuat nekat, dengan sesekali mengecup bahu Je Young yang terbuka. Je Young bergetar ketakutan karena ia melihat kilatan amarah di mata Tuan Cho.
“Kyuhyun Oppa..” cicitnya, agak memohon. Ia benar-benar meminta Kyuhyun berhenti mempermalukan dirinya sendiri di depan Tuan Cho.

Merasa tidak bisa mentoleransi putranya lagi, Tuan Cho memilih memfokuskan perhatiannya pada Je Young.
“Nona Shin, apa Eommamu tahu kau pergi ke Jerman bersama bocah nakal ini?”
“Tidak.” Ucapnya pelan. Je Young mengerjap lalu meralat ucapannya sendiri. “Maksudku, dia tahu..” ia sengaja mengatakannya agar Tuan Cho berhenti menghujaninya dengan tatapan tajam. Itu benar-benar membuatnya gugup.
“Aigoo..” Tuan Cho mendesah pasrah. Ia melirik putranya yang detik ini tampak begitu nyaman menyandarkan dagunya pada bahu Je Young. Ia harus memberi kabar pada Nyonya Jung Min Ri—Eomma Je Young. “Aku harus menelepon ibumu..” ucap Tuan Cho pada Je Young. Pria paruh baya itu kemudian melangkahkan kakinya pergi. Je Young tercengang. Hatinya mendadak was-was. Ia sangat penasaran sekaligus takut akan apa yang hendak dikatakan Tuan Cho pada ibunya.
“Tuan Cho..Tunggu, ini tidak seperti yang Anda bayangkan..” seru Je Young. Ia berniat mengejar Tuan Cho, namun seseorang yang tengah menyandarkan kepala di pundaknya membuat niatnya runtuh seketika. Ia mendesah berat seraya melemaskan bahunya. Sekarang ia hanya bisa pasrah dengan apapun yang terjadi nanti. Ia menoleh pada Kyuhyun, sedikit mengendikkan bahunya agar pria itu terbangun.
“Ya! Bangunlah..” Ia menghilangkan semua cara manis untuk membangunkan Kyuhyun. entah Kyuhyun sengaja atau tidak, tapi ia yakin saat ini ia hanya pura-pura tertidur.
Kyuhyun tetap pada posisinya. Tangannya justru semakin erat memeluk Je Young, membuat gadis itu sedikit sesak dan sekaligus membuat Je Young semakin yakin Kyuhyun hanya sedang berakting.
“Bangun, tukang tidur!!” Je Young mengangkat kepala Kyuhyun dari pundaknya. Ia memutar bola matanya malas melihat tingkah Kyuhyun yang mudah sekali ditebak.
“Bangunlah Oppa. Aku tahu kau hanya pura-pura tidur.” Je Young diam sejenak dengan mata memicing. Otaknya berputar mencari cara agar Kyuhyun menyerah dengan akting buruknya itu. jika menjadi seorang aktor, ia yakin Kyuhyun akan menjadi pemain utama pria terburuk dalam sejarah. Lihat saja, mana ada orang yang tidur dengan nafas tak teratur seperti yang dilakukannya.
“Baiklah” Je Young pura-pura mengalah. “Rupanya Oppa tidak ingin kubangunkan dengan cara ala Cinderella” gumam Je Young. Ia mengangkat kepala Kyuhyun dari bahunya, lalu pelan-pelan merebahkan tubuh Kyuhyun. Perlahan ia mendekatkan wajahnya, hendak melakukan hal gila seperti yang dilakukan para pangeran pada putri yang tertidur.

Diam-diam Kyuhyun tersenyum dan Je Young bisa melihat seringaian tipis itu. Ia mendecak dalam hati. Dasar pria licik. Ia tetap melanjutkan misinya. Jaraknya semakin dekat dan semakin dekat hingga saat ia hampir saja mengecup bibir Kyuhyun..
“Omo, Nona Shin…” Tuan Cho membelalak kaget melihat Je Young hendak mencium putranya.
Je Young terperanjat kaget meskipun suara Tuan Cho hanya berupa sebuah gumaman pelan. Ia menoleh cepat ke arah atasannya itu. Detik itu juga, Je Young benar-benar ingin menggali lubang dan membenamkan dirinya di sana. Betapa malunya tertangkap basah—lagi—oleh Tuan Cho meskipun sebenarnya ia tidak benar-benar ingin mencium Kyuhyun. Tak ada sesentipun kulit di tubuhnya yang tak merona malu.
“A-aa itu..” Je Young salah tingkah. Ia segera turun dari tempat tidur lalu membungkukkan badannya berkali-kali pada Tuan Cho yang hingga detik ini masih menunjukkan ekspresi tak percaya.
“Mianhae. Tak akan kuulangi lagi” Je Young segera keluar dari kamar itu dengan langkah cepat dan canggung. Mati saja kau Shin Je Young. umpatnya dalam hati.
“Nona Shin, bukan itu maksudku..” ucap Tuan Cho tidak enak hati saat Je Young melintasinya. Ia hanya terkejut, tapi tak ada niat sama sekali untuk menginterupsi apa yang dilakukan Je Young dan Kyuhyun.

Kyuhyun menggerutu lalu membuka matanya kesal saat Je Young nyaris saja mengecup bibirnya namun gagal karena ayahnya datang menyela. Ia mendudukkan dirinya cepat di atas tempat tidur lalu menatap kesal Tuan Cho, ayahnya.
“Appa, mengapa kau mengganggu dia?! Padahal tadi nyaris saja. aish!!” Kyuhyun mengomel, entah pada siapa sambil mengacak rambutnya.
“Setelah kalian resmi menikah, maka Appa tidak akan mengganggu kalian lagi.” balas Tuan Cho sambil lalu. “Karena itu cepat lamar Nona Shin!!” teriak Tuan Cho setelah itu tertawa puas. sementara Kyuhyun hanya mengerang dengan frustasi karena gagal mendapatkan hadiah manis dari Shin Je Young.

—o0o—-

Je Young POV
Setelah kembali dari Jerman beberapa hari lalu, aku merasa Kyuhyun sedikit berubah. Entah ini perasaanku saja atau memang begitu, namun kupikir Kyuhyun mulai bersikap ‘normal’. Maksudku, dia tidak pernah menggangguku lagi. Bukannya aku suka diganggu olehnya, hanya saja sikap Kyuhyun terlalu biasa. Padahal sebelumnya dia selalu hiperaktif, suka mencari perhatian, dan senang sekali mengacaukan hati dan pikiranku. Dan sekarang, aku merasa kehilangannya.
“Nona Shin, tolong antarkan file ini ke ruangan Kyuhyun”
Aku sedikit terkesiap mendengar Tuan Cho berkata di saat pikiranku sedang terbagi dua. Aku segera mengangguk lalu mengambil map yang diberikannya. Sebelum kutinggalkan mejaku, aku menghela napas karena tempat yang akan kukunjungi adalah ruangan Kyuhyun. Sejujurnya aku belum siap jika harus bertemu dengannya. Aku belum siap menerima sikap anehnya saat berhadapan nanti.

Kuketuk pintu yang seluruhnya terpatri cermin. Aku sedikit memperbaiki penampilanku yang terlihat tidak rapi.
“Masuk”
Saat memasuki ruangannya, aku semakin gugup. Terlebih karena begitu membuka pintu, pemandangan yang kusaksikan adalah sosok dirinya yang duduk di balik meja kerja, dengan wajah serius menuju ke arah laptopnya. Keningnya terlihat mengerut dan dasinya tidak terpasang rapi.
“Pak GM” suaraku berhasil menginterupsi kegiatannya. Kepala Kyuhyun tertoleh ke arahku. Dengan gugup aku berjalan ke arahnya dan setibanya di depan meja, kuulurkan tanganku yang memegang map berwarna biru tua ke arahnya.
“Ini berkas laporan keuangan minggu lalu. Presdir meminta Anda mengeceknya.”
Kyuhyun hanya menatapku sekilas lalu kembali melanjutkan aktivitasnya yang tertunda, yaitu mengerjakan sesuatu di laptopnya.
“Letakkan saja di sana. Nanti akan kuperiksa” ucapnya acuh tak acuh, tanpa memandangku sekali lagi. Hatiku mencelos seketika.Seperti ditusuk oleh ribuan jarum secara bersamaan. Mengapa sekarang dia sedingin ini. Apa yang terjadi padanya? Ataukah aku sudah melakukan suatu kesalahan yang membuatnya kesal?
“Baik” aku menjawabnya dengan suara pelan dan jauh, membungkukkan badan sekilas setelah itu berjalan keluar ruangan dengan perasaan bingung bercampur terluka.

—o0o—-

Kyuhyun POV
Tepat setelah pintu ruanganku tertutup, aku segera mengumpat dan melampiaskan kekesalanku dengan melempar bolpoint mahal yang kubeli di Itali. Aku tidak bermaksud membuatnya salah paham, sungguh. Aku bersikap dingin padanya selama beberapa hari ini karena saran dari Min Ah.
“Cho Kyuhyun, untuk membuat rencanamu berhasil kau harus memberikan Je Young sedikit ‘kejutan’.” Saran Min Ah beberapa hari lalu ketika kami bertemu secara tidak sengaja di supermarket.
“Kejutan apa maksudmu?”
“Buat Shin Je Young merasa bersalah dan bertanya-tanya”
“Caranya?”
“Kau diamkan dia selama beberapa hari, mengabaikannya atau bahkan sebisa mungkin kau menghindarinya”
“Kau gila!! Aku tidak bisa melakukannya!”
“Tentu saja kau bisa. Dengan begitu Je Young pasti akan merasa heran sekaligus penasaran. ‘Mengapa mendadak Cho Kyuhyun mendiamkanku?’ atau dia akan bertanya ‘Apa salahku pada Cho Kyuhyun?’. Dan di saat rasa bimbangnya sudah mencapai puncak, kau lamarlah dia”

Pada awalnya aku merasa ide yang dicetuskan Min Ah terlalu gila dan beresiko. Bagaimana jika Shin Je Young justru berbalik membenciku? Atau yang lebih buruk ia justru menjauhiku? Bukankah hatinya lebih rapuh dari sayap kupu-kupu sekalipun. Mungkin Min Ah tidak tahu mengenai luka yang Je Young alami di masa lalu. Aku begitu dihantui oleh rasa takut akan membangkitkan sisi kelam dalam sejarah hidupnya. Karena itulah, beberapa hari ini aku merasa bimbang. Apa aku harus mengakhiri sandiwaraku?
Untuk beberapa saat lalu, ketika sudut mataku menangkap raut sedihnya aku berusaha menahan diriku agar tidak bangkit dari kursiku lalu berlari memeluknya. Sepengecut itukah diriku?

“Cho Kyuhyun-ssi” Tubuhku sedikit menegang ketika mendengar suaranya. Tak perlu membalikkan badan pun aku tahu itu suara Shin Je Young. Kugerakkan kakiku agar lebih cepat mencapai pintu lift namun tetap terlihat berwibawa. Kutekan tombol lift sedikit panik. Syukurlah pintu itu segera mendenting terbuka. Aku cepat masuk dan bersiap menutup kembali pintunya.
“Tunggu!!!” Shin Je Young berlari cepat ke arahku saat pintunya hampir menutup. Mataku terbelalak lebar. Shin Je Young, apa kau gila!!

—o0o—

Author POV
Shin Je Young benar-benar sudah tidak bisa membendung rasa penasarannya lagi. Hatinya sudah terlalu gusar dan menebak-nebak isi pikiran Cho Kyuhyun terhadapnya. Begitu banyak pertanyaan yang simpang siur hilir mudik dalam kepala, namun hanya satu pertanyaan yang berhasil terucap oleh mulutnya.
“Apa salahku?”
Pertanyaan itu hanyalah sekelebat kalimat semu yang tak sempat terucap. Kebingungan terus melingkupinya hingga denting jam menunjukkan waktunya pulang dari kantor.
Shin Je Young segera membenahi meja, lalu bergegas pulang dengan pikiran yang tidak pernah bisa fokus.
Mengapa Cho Kyuhyun menghindariku?
Mengapa Cho Kyuhyun mendiamkanku?
Apa salahku?
Bingung dan Gelisah. Emosi itu yang terus bercampur baur dalam otaknya. Ia terus berkecamuk dalam kebimbangan yang sama hingga akhirnya kedua iris matanya menemukan sosok Cho Kyuhyun tengah melintas dengan langkah lebar tak jauh di dekatnya.
Je Young terkesiap senang.
“Cho Kyuhyun-ssi!!” teriaknya tanpa sadar. Langkahnya agak dipercepat agar bisa menghampiri pria itu.
Kyuhyun sempat membalikkan badannya menyadari ada suara yang menyerukan namanya. Namun beberapa detik setelah pandangannya bertemu dengan binar mata bahagia Je Young, terlihat kilatan kaget dalam sorot matanya. Serupa dengan reaksi para pencuri yang tertangkap basah.
Detik berikutnya Kyuhyun berbalik lalu berjalan cepat, nyaris berlari. Jelas sekali bahwa pria itu menghindarinya.
Tidak ada kesempatan bagimu untuk kabur Cho Kyuhyun, aku tidak akan membiarkannya! Teriak Je Young dalam hati.
Maka ia percepat langkah kakinya. Begitu Kyuhyun masuk ke dalam lift dengan terburu-buru, Je Young berlari sekencang mungkin agar bisa masuk ke dalam lift itu bahkan sebelum pintunya tertutup. Hanya ini kesempatan yang dimilikinya.
“Tunggu!!” Je Young berteriak panik dan tinggal mengambil satu langkah lebar agar bisa melewati pintu yang hampir menutup itu namun..

“Aaaa—“

Je Young memejamkan matanya rapat-rapat karena ia berpikir dirinya terjepit pintu lift yang menutup. Beberapa detik berlalu namun tubuhnya tak terasa sakit sedikitpun. Matanya dibuka secara perlahan-lahan, menelisik ke setiap jangkauan pandang yang bisa ditangkapnya. Ia terkesiap kemudian dan matanya membulat, terkejut.
Jantung gadis itu berdebar kencang karena tak menyangka ketika membuka mata, pemandangan pertama yang dilihatnya adalah dada bidang pria itu yang terbalut kemeja berwarna biru. Napas pria itu terasa memburu dan tak beraturan. Wajah tampan Kyuhyun terhiasi raut panik dan takut.
Cho Kyuhyun menahan pintu lift untuknya. Mengapa? Lagi-lagi ia tidak memahami. Jika memang berniat menghindar, mengapa Kyuhyun tak membiarkan pintu lift ini tertutup saja. Permainan apa yang tengah dilakoni pria ini? Hembusan napas Kyuhyun terasa jelas di pipinya.
Je Young memberanikan diri mengangkat kepalanya menatap Kyuhyun dan bertemu pandang dengan iris mata gelapnya. Lagi-lagi, Je Young merasa Kyuhyun sedang mengintimidasinya.
“Te-terima kasih” ia merasa gugup.
“Jangan sungkan” Kyuhyun menjawabnya dengan nada canggung. Pria itu cepat mengalihkan pandangan ke arah lain.
“Cepat masuk. Kau ini, selalu membuatku tidak tenang.”
Je Young tersentak. Membuatnya tidak tenang? Apakah bagi Kyuhyun dirinya seorang pengganggu? Lalu apa artinya perhatian yang Kyuhyun berikan selama dua tahun terakhir. Dan setelah mereka mengetahui perasaan masing-masing lantas Kyuhyun memilih untuk mencampakkannya?

Dengan perasaan campur baur, Je Young menggeser tubuhnya masuk kemudian berdiri di samping Kyuhyun yang sudah berdiri tegak tanpa memandang wajahnya sama sekali. Kecanggungan di antara mereka membuat Je Young semakin menekuk wajahnya.
“Kenapa kau mengejarku?” suara Kyuhyun berhasil memecah keheningan.
“Aku hanya ingin berbincang sebentar denganmu. Ada sesuatu yang ingin kukatakan.” Ia memilih untuk berkata apa adanya.
“Katakanlah. Kau hanya memiliki waktu sampai lift ini tiba di lantai dasar” ucapnya acuh tak acuh.
Je Young segera menatap panel yang menunjukkan bahwa mereka saat ini melewati lantai 10. Waktunya hanya tinggal sedikit.
“Kenapa sikapmu berubah tiba-tiba? Apa kau marah padaku? Apa salahku?”
Kyuhyun mengerjapkan matanya berkali-kali. Ia juga terlihat gugup dan melonggarkan simpul dasinya dengan gerakan tak beraturan.
“Aku tidak berubah. Aku tetap Cho Kyuhyun dan seharusnya kau lebih mengenalku. Kau terlalu cepat menyimpulkan, Shin Je Young. Dewasalah sedikit”
Kalimat yang diucapkan dengan santai itu telah menelak hati rapuh Je Young. Ia menahan napas untuk mengobati rasa sakit yang mencekat tenggorokannya. Je Young mengalihkan kepala ke arah samping, mencoba menahan airmata yang hampir terburai jatuh. Kata-kata Kyuhyun telah menyinggungnya. Hatinya sangat sakit sekarang.
Dan ketika lift berdenting lalu membuka perlahan, Je Young segera keluar dari ruang sempit yang menyesakkan itu. Berjalan cepat ke arah pintu keluar tanpa menoleh ke arah Kyuhyun lagi.
Kyuhyun terpaku di tempatnya. Ia mengepal tangan erat seraya mengumpat.
“Sial!!!”
Ia menyadari tindakannya sudah keterlaluan. Baiklah, saatnya mengakhiri sandiwara bodoh ini, Cho Kyuhyun. Jika kau meneruskannya, yang terjadi adalah kau akan kehilangan gadis cantik yang sudah kau kejar selama dua tahun.

—o0o—

Je Young POV
Bukankah anggapanku selama ini benar. Pria adalah makhluk terkejam di dunia. Yang mereka tahu hanyalah mempermainkan hati para wanita sesuka hati. Kupikir Kyuhyun pria yang berbeda. Namun setelah yang terjadi hari ini, aku salah. Dia tak jauh berbeda dengan Appa! Bahkan sakit yang diberikannya lebih perih dibanding luka memar akibat pukulan yang sering dihujamkan Appa padaku dulu.
“Berhenti menangis. Pria jahat tidak seharusnya ditangisi”
Kuraih cermin kecil lalu menghapus airmata yang terus mengalir seharian. Lihatlah, Shin Je Young. Kau terlihat menyedihkan. Mataku tampak berkantung dan terdapat lingkaran hitam di sekitarnya.
Ponselku berdering.
Orang gila mana yang menelepon di hari selarut ini? Tak ada pilihan lain selain menjawabnya.
“Yeobseo” suaraku masih terdengar sumbang dan serak karena efek menangis seharian.
“Youngie..”
Mataku melebar mendengar suara ini. Aku tidak mungkin melupakannya. Tanpa menjawab segera kuputus sambungan lalu melempar ponsel itu ke tengah ranjang. Aku memilih duduk di lantai dengan punggung bersandar pada pinggiran tempat tidur.
Ponsel itu kembali berdering. Aku tidak ingin menjawabnya. Aku tahu itu adalah panggilan dari orang yang sama. Cho Kyuhyun.
Untuk apa ia melakukannya? Untuk apa ia meneleponku kembali setelah selama hampir satu minggu mendiamkanku dan kata-katanya yang menyakitkan siang tadi. Aku bukan wanita yang bisa semudah itu dipermainkannya.
Tok tok tok
Kali ini pintu kamarku yang diketuk oleh seseorang. Mungkin itu Eomma. Entahlah, setahuku Eomma pasti udah tidur di jam selarut ini.
Tok tok tok
Astaga, siapa yang melakukan hal kurang kerjaan seperti itu? Mungkin saja Eomma ingin mengatakan sesuatu yang penting. Aku segera beranjak lalu membuka pintu dalam sekali sentakan.
“Eomma, ini sudah mala—“
Aliran kata-kataku terhenti saat mataku bertatapan dengan sosok Kyuhyun. Mataku mengerjap berkali-kali sementara tubuhku membeku seutuhnya. Tidak mungkin. Aku pasti sedang berhalusinasi. Kyuhyun tidak mungkin berada di rumahku, tepat di depan kamarku di waktu semalam ini.
Kyuhyun menatapku dengan mata menyipit, tangannya sebelah memegangi ponsel yang ditempelkannya di telinga.
“Kenapa kau tidak menjawab panggilanku?”
Aku terkejut lalu menoleh ke arah ponselku yang tergeletak di atas ranjang. Ponsel itu masih berbunyi nyaring.
“Untuk apa kau di depan kamarku? Dan bagaimana kau bisa masuk ke rumahku?”
“Kenapa kau tidak menjawab pertanyaanku?” tanyanya dingin, terdengar marah. Sekarang siapa yang mencoba untuk tidak menjawab pertanyaan?
“Aku hanya heran mengapa kau bisa ada di sini. Ini rumahku, Cho Kyuhyun”
“Kita perlu bicara.”
“Tidak ada yang perlu dibicarakan. Aku sudah tidak berselera lagi berbicara denganmu. Pulanglah.” Aku membalikkan badan lalu meraih kenop pintu kamar, bermaksud kembali ke kamarku. Namun Kyuhyun dengan sigap menahan tanganku dengan sebelah tangannya. Aku mencoba memberontak dengan mendorong tubuhnya namun tak berhasil. Tekad Kyuhyun ditambah sorot matanya membuatku terpaku.
“Kau marah?” tanyanya dengan suara berat. Aku mengatupkan bibir rapat-rapat. Tak ada niat sedikitpun untuk menjawab pertanyaannya.
“Shin Je Young, apa kau memiliki mulut untuk menjawabku?” nada bicaranya meninggi dan aku tetap tidak peduli. Ketika pegangannya melemah, kutarik tanganku dengan cepat. Aku tidak ingin menatap wajah yang membuat tenggorokanku tercekat. Dan apapun yang setelahnya terjadi, berlangsung begitu cepat dalam waktu sepersekian detik. Aku terkejut, mataku terbelalak dan jantungku berdegup kencang.
Material lembut menyentuh bibirku, entah bagaimana caranya. Kyuhyun mengecup bibirku berulang-ulang seolah ingin menegaskan sesuatu. Batinku berteriak, namun tubuhku tak bergerak sedikitpun dalam lingkaran tangannya. Aku senang, sungguh. Namun di saat bersamaan hatiku seperti tercekik. Rasanya perih dan mampu memancing tetesan bening mengalir di kedua sudut mataku.
Aku mencintainya. Namun cinta ini membuatku sulit bernapas. Aku harus bagaimana?
Kyuhyun terenyak menyadari lelehan airmataku. Ia perlahan menjauhkan wajahnya kemudian menatapku dengan sorot penuh penyesalan. Oh, apa benar begitu, atau aku hanya salah melihat.
“Youngie..”
“Pria jahat.” Lirihku sedih. Airmata kian merebak membuat Kyuhyun mengerjapkan mata. Kulihat kilatan marah dan sesal berkelebat di retina matanya.
“Sampai kapan kau akan mempermainkanku?”
Mendengar suara dingin dan penuh amarah yang keluar dari mulutku, perlahan Kyuhyun melepaskan lingkaran tangannya di punggungku.
“Youngie..” tangannya terulur hendak menyentuh pipiku namun kutepis.
“Jangan sentuh aku lagi! Kha!!!!!!” usirku murka. Aku tidak ingin melihat wajahnya. meskipun mungkin kalimat ini akan kusesali seumur hidup, namun aku harus mengusirnya dari hidupku jika luka ini tidak ingin membesar dan semakin besar.
“Aku tidak..”
“Pergi!!” kudorong tubuhnya agar menjauh dari ambang pintu. Kyuhyun mencoba menahan tubuhnya yang terdorong mundur dengan memegang erat lenganku. Kuhiraukan raut menyesal dan memohon yang kini di keluarkannya. Aku tidak akan peduli. Aku akan berpura-pura buta saat ini. Aku sungguh membencimu, Cho Kyuhyun.
Segera kutinggalkan dirinya saat kaki Kyuhyun berada di ujung tangga. Kupalingkan wajah dengan hati terluka, mengabaikan wajah Kyuhyun yang sesedih diriku.

“Aku menyerah. Ku akhiri sandiwara konyol ini. Maaf sudah bersikap aneh selama seminggu. Sebenarnya, ini saran dari Min Ah”
Langkahku terhenti mendengar suara teriakan Kyuhyun. Kubalikkan tubuhku menghadapnya dan kini yang kulihat Kyuhyun sedang berlutut.
“Menikahlah denganku, Shin Je Young.”
Seluruh tubuhku membeku mendengar kalimatnya. Apa katanya? Menikah? Apa dia sudah gila. Setelah mempermainkanku selama seminggu mendadak saja dia memintaku menikah dengannya?
Aku benar-benar tidak paham dengan permainan yang sedang kau lakukan, Cho Kyuhyun!

To be continued

see you at the end part ^_^

84 thoughts on “Hello My Charming Yeoja (Part 6)

  1. Aku tau mksd kyuhyun tuh pengen ngelamar je young dngn cara romantis tpi cara nya bkan begitu itu mah bisa buat kalian putus😦 …..

    Next eps end ya??😦 q mau baca dlu eps slnjutny ya…..🙂

  2. huaaaaaa….ini keren
    q sampe ikutan nangis
    sakit bget lho digituin (curcol)

    tpi sumpah q bneran ikutan nangis
    huaaaaa…..huaaa……

  3. ngelamar nya kurang romantis oppa, huhuhu itu sama aja ngerusak hubungan perlahan2 min ah gak tau kali ya kalo jeyoung punya trauma!!
    mudah2-an jeyoung maafin kyu deh ><

  4. aduh kyuhyun jalan yang kau tempuh membuat orang salah paham
    kasihan je young kau acuhkan selama seminggu
    jadi deh dia berpikiran kalau kau jahat

Your comment

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s