Unpredictable Plan !!

Tittle : Unpredictable Plan !!
Author : Dha Khanzaki
Genre : Romance
Length : Oneshoot

Main Cast :

  • Park Jung Soo / Leeteuk
  • Hwang Eun Seo

Untuk mengobati rasa rindu author pada Uri leader, Leeteuk Oppa, author bikin deh FF ini.. Sorry kalo certanya jelek. soalnya author gak jago bikin FF oneshoot ^^

Unpredictable Plan by Dha Khanzaki

—–o0o——

Leeteuk POV

Cantik. Kesan pertama ketika aku menatap matanya. Kini, di tempat ini ia berjalan anggun dalam balutan gaun satin berwarna kuning cerah dan high heels setinggi lima cm yang membuat kaki jenjangnya semakin indah. Tak pernah aku mengagumi kaum hawa hingga segila ini namun inilah kekalahan yang paling menyenangkan. Hal konyol yang harus kuakui pada dunia; aku jatuh cinta padanya.

Pada gadis bernama Hwang Eun Seo.

Hanya saja semua kebahagiaanku tidak berlangsung lama ketika Appaku datang menghampiri bersama gadis itu. Kukira, kukira Appa bermaksud mengenalkannya padaku. Ternyata itu hanya anggapan sesat di siang bolong. Tubuhku kaku dan mataku membulat ketika mendengar pernyataan Appa tentang siapa gadis itu.
“Jung Soo-ah, Perkenalkan dia Hwang Eun Seo.” Aku mencoba tersenyum.
“Park Jung Soo. Tapi aku lebih senang jika kau memanggilku Leeteuk.” Kucoba membuat suaraku terdengar normal. Kuharap rasa gugupku tidak tampak keluar. Akan sangat memalukan jika itu terjadi.
“Kau ingat pembicaraan kita minggu lalu? Appa akan mengenalkanmu pada calon ibu barumu.” Aku hanya mengangguk dan kalimat selanjutnya yang diucapkan Appa membuat pikiranku kosong dan tubuhku membeku.
“Dia yang akan menjadi Ibu barumu.”

Detik ini, kisah cinta yang belum kumulai sama sekali telah resmi berakhir.

—o0o—

Tanpa berpamitan pada Appa aku melangkah pergi meninggalkan tempat pesta. Kesal? Jelaslah. Bahkan perasaanku saat ini bisa dikatakan berantakan. Aku tak habis pikir bagaimana bisa Appa yang berusia 45 tahun berpikir menikahi gadis yang usianya 20 tahun lebih muda!

Apa di dunia ini tidak ada wanita yang menarik perhatiannya lagi? Mengapa di antara sekian banyak wanita Appa harus memilih Hwang Eun Seo? Tidakkah dia tahu putranya yang berusia 26 tahun dan masih lajang ini jatuh cinta padanya!!

Seharusnya aku sadar meski usianya sudah kepala empat, Appa masih bertubuh tegap, dan wajahnya pun tidak mencerminkan usianya. Bahkan teman-temanku mengaga tak percaya saat kukatakan dia adalah Ayahku. Mereka pikir dia adalah kakakku. Aku harus pulang. Kepalaku seperti mau pecah rasanya.
Setibanya di rumah, aku segera menghempaskan tubuh ke atas ranjang empuk berlapis bed cover warna abu-abu. Dalam benakku berkelebat kembali memori saat aku pertama kali melihat wajah malaikatnya. Hwang Eun Seo bekerja sebagai salah satu staff di sebuah perusahaan periklanan. Saat itu aku datang ke kantornya membawa proposal untuk produk terbaru kami yang ingin dibuatkan iklannya.
Dan saat itu lah pertama kali aku melihatnya. Eun Seo menjelaskan tentang konsep iklan untuk produk kami di depan aku dan Ayahku. Aku suka caranya berbicara, aku suka caranya tersenyum, dan aku sadar bahwa saat itulah aku jatuh cinta padanya. Mungkin saat itu juga Appa jatuh cinta padanya.
Aku memejamkan mata rapat-rapat saat tersadar semua itu sudah tidak berguna lagi. Sekarang aku kembali kalah. Kali ini aku kalah oleh Appaku sendiri.

—o0o—

“Sial!!”
Aku terkesiap bangun menyadari jarum pendek jam dinding di kamar menunjuk ke angka enam. Jika saja tidak ada rapat penting dengan klien dari Pulau Jeju, aku tidak akan sepanik ini saat melihat jam.

Aku sedang kebingungan mencari di mana letak dasi ketika mendengar suara pintu kamar dibuka. Kukira itu adalah Bibi Hong, pembantu yang sudah mengurusku sejak aku berusia 4 tahun.
“Bibi Hong, kau melihat dasiku tidak? Aku rasa kemarin aku melihatnya tergeletak di atas nakas.” Perasaan heran mulai hinggap di saat aku tidak mendengar jawaban apapun darinya. Aku menegakkan tubuh lalu membalikkan badan. Aku terkesiap bukan main, bahkan tubuhku nyaris terjatuh karena yang kulihat berdiri di hadapanku bukanlah Bibi Hong, melainkan…
“Eun Seo..” lirihku tanpa sadar. Gadis itu tersenyum manis. Ia mengacungkan dasi berwarna merah di tangannya. Mataku melebar, bagaimana bisa dasi yang kucari ada di tangannya?!
“Itu dasiku!” aku berteriak panik tanpa sadar.
“Ini bersatu dengan cucian. Mungkin Bibi Hong mengira ini pakaian kotor.” Tangannya mengulur padaku, langsung kuraih dasi itu lalu melingkarkannya di leherku. Aku tidak akan heran darimana ia tahu aku sedang mencari dasi ini dan dia bisa menemukannya di tempat cucian baju kotor. Entah sudah berapa kali Appa mengajaknya berkeliling rumah ini dan menunjukkan seluruh isi rumah ini. Appa juga kerap kali memintanya memasak, dan bahkan membantu mengurusi kebutuhanku. Oh, Appa pasti ingin Eun Seo menjadi Ibu yang baik untukku. Yang benar saja!
Sudah terhitung satu bulan sejak Appa mengenalkannya padaku sebagai calon istrinya dengan kata lain, dia calon ibu tiriku. Oh God, aku tidak bisa membayangkan memiliki ibu tiri yang berusia satu tahun lebih muda dariku. Terlebih, karena aku mencintai calon ibu tiriku ini. Aku terlalu memperhatikannya saat membereskan tempat tidurku—tanpa kuminta sedikitpun—hingga tidak sadar bahwa sejak tadi aku tidak berhasil menyimpulkan dasi.
“Aish—!” gerutuan jengkel keluar dari mulutku begitu saja dan mampu menginterupsi kegiatan Eun Seo menyibakkan tirai jendela. Ia mendesah lalu menghampiriku. Aku gugup setengah mati saat tangannya yang lentik itu meraih dasi lalu menyimpulkannya.
“Tidak perlu repot-repot, Eun Seo—ssi.” selaku gugup. Aku mencoba menyingkirkan tangannya dari dasiku sehalus mungkin. Namun apa yang kulakukan membuat konsentrasi Eun Seo terusik. Gadis itu menarik dasiku hingga tubuhku tertarik merunduk ke arahnya. Mataku mengerjap berkali-kali ketika iris mataku terkunci oleh iris mata cokelatnya.
“Panggil aku Eomma, anak manis.”
Terkejut, bola mataku membulat. Ayolah, haruskah ia mengingatkannya kembali? Hatiku semakin sakit jika mengingatnya.
“Mulai saat ini aku akan sering memperhatikanmu, sebagai calon istri yang baik.”
Terlalu terpaku dengan segala kata-katanya membuatku tidak sadar sejak tadi Eun Seo sudah menyimpulkan dasiku dengan sempurna. Aku masih terpaku, bahkan di saat samar-samar telingaku mendengar suara panggilan Appa, saat ia tersenyum, dan saat ia melangkahkan kaki meninggalkanku.
Eun Seo, mengapa kau membuatku tersiksa dengan cara seperti ini?

—o0o—

Appa sudah memantapkan rencananya melangsungkan pesta pernikahan di bulan Juli, itu artinya satu bulan lagi. Sejujur nya sudah sejak lama aku ingin melarikan diri. Aku tidak suka melihat Eun Seo terlihat bahagia saat bersama Appa. Aku merasa diriku begitu menyedihkan karena jatuh cinta pada gadis incaran Ayah sendiri.
“Kira-kira mana yang cocok dipakai Eun Seo?” Hari ini Appa kembali membuat hatiku panas ketika dirinya menunjukkan sebuah booklet pakaian pengantin. Aku hanya menghela napas. Sebenarnya aku sangat enggan memberi saran atau sekedar menanggapi pertanyaan Appa. Kenapa harus menanyakannya padaku, bukan pada Eun Seo sendiri saja langsung. Apa berpengaruhnya pendapatku pada pesta pernikahannya sendiri?
“Yang panjang itu sepertinya bagus.” Gumamku menunjuk salah satu gaun pengantin dengan model atasan yang tertutup. Aku membayangkan Eun Seo akan sangat bagus saat memakainya.
Appa mengangguk paham, sepertinya dia pun sependapat denganku. “Kalau begitu kau harus menemani Eun Seo mencoba pakaian ini sore nanti.”
“What?” apa telingaku tidak salah dengar? Kenapa harus aku yang menemani gadis itu? Memang yang akan menikah siapa? “Tidak.” Tolakku segera.
“Appa ada meeting dengan klien dari Thailand sore ini. Jadi kau harus menggantikan Appa.”
“Kalau begitu masih bisa besok.”
“Tidak bisa. Appa sudah terlanjur mengatakan pada Eun Seo fitting baju pengantin hari ini.”
Huh, salah sendiri memutuskan seenaknya. Pokoknya aku tidak mau! Appa tidak tahu perasaanku. Aku pasti akan sangat sedih melihat Eun Seo memakai pakaian pengantin, namun tidak akan berpasangan denganku di pelaminan nanti.
“Appa tidak menerima penolakan. Sore ini jemput Eun Seo di tempat kerjanya. Mengerti!” Appa segera bangkit meninggalkanku bahkan sebelum aku membuka mulut untuk membantah. Sial, sial, sial. Mengapa di saat aku mencoba menghindari sesuatu, hal itu justru semakin lekat denganku?!

—o0o—

Seperti biasa, Eun Seo selalu cantik dalam busana apapun. Terlebih saat ini. Aku berusaha untuk menormalkan kembali ekspresi kagumku menjadi poker face. Aku tidak boleh terlihat begitu terpesona namun harus kuakui bahwa Eun Seo terlihat sangat cantik dengan baju pengantin itu.
“Bagaimana penampilanku?” tanyanya senang. Eun Seo melirik padaku melalui cermin setinggi tubuh di depannya, aku terkesiap sadar.
Cantik sekali, Eun Seo. Sungguh! Seandainya kau adalah pengantinku, kebahagiaanku pasti akan sempurna. Namun mulutku tidak bisa sinkron dengan hati, karena itu yang terucap hanya;
“Bagus. Kau sangat pantas memakainya. Appa pasti akan senang.” Tenggorokanku rasanya tercekat saat mengatakan kalimat terakhir. Appa pasti akan senang.
Eun Seo menghentikan senyumnya melihat ekspresiku. Aku mungkin salah mengartikan sorot matanya yang kulihat dari cermin, namun entah mengapa aku merasa Eun Seo menatapku sedih.
“Tuan, kau ingin mencoba pakaian ini juga?” suara pramuniaga membuatku terkejut. Aku menoleh dan melihatnya membawa sebuah tuxedo untuk kupakai. Aku membelalak lantas menolaknya mentah-mentah.
“Tidak, terima kasih. Aku hanya mengantarnya saja.”
Pramuniaga itu terlihat kaget. “Loh, jadi Anda bukan pengantin prianya?”
Sekali lagi dadaku rasanya sakit mendengar hal itu, dengan berat hati aku menggeleng. “Bukan. Dia akan menikah dengan Ayahku awal bulan nanti.” Aku memaksakan seulas senyum pahit.
Aku mengantarkan Eun Seo pulang ke apartementnya. Dalam perjalanan kami habiskan dalam diam. Aku merasa seperti penjahat yang sudah melakukan pencurian besar. Terlebih karena Eun Seo tidak ingin menatap wajahku sama sekali sejak aku mengatakan dia akan menikah dengan Appa.
“Terima kasih sudah mau mengantarkanku, Leeteuk-ssi.” Akhirnya Eun Seo memperlihatkan senyum yang kurindukan sebelum ia masuk ke dalam apartementnya.
“Tidak apa-apa. Sudah kewajibanku mengantarkanmu hingga selamat. Aku bisa dimarahi Appa jika tidak melakukannya.”
Kulihat Eun Seo tersenyum hambar lalu membuka pintu, aku menahannya karena merasa ada yang perlu kutanyakan atau aku akan penasaran seumur hidup.
“Wait a second..”
Eun Seo menoleh, menatapku lurus. Aku balas menatapnya karena apa yang akan kutanyakan ini sangat serius. “Kenapa kau bersedia menikah dengan Appaku?”
Sekilas raut kaget terpampang di wajahnya. Mulutnya tergagap dan aku kembali menyela sebelum seuntai kata-kata terucap di bibirnya.
“Kau masih sangat muda dan bisa memilih siapapun sebagai pendamping hidupmu. Mengapa kau memilih Appaku di antara sekian banyak pria?” aku menarik napas yang terasa semakin pendek. “Apa kau sedang memanfaatkan Appaku atau semacamnya?”
Gadis ini membisu. Apa ucapanku sudah menyinggung hatinya? Rasa bersalah seketika menelusup relung hati. Eun Seo mengalihkan pandangannya padaku dan aku terkejut karena matanya tampak berair.
“Memang apa yang akan kau lakukan jika aku benar ingin menikah dengan Appamu?” tak kusangka Eun Seo membalikkan pertanyaan. Kali ini aku yang membisu. Dari raut wajahnya yang kutangkap, aku melihat kilatan luka dan rasa bersalah. “Dan semua itu bukan semata-mata karena hartanya!”
Bibirku tersenyum, aku sendiri heran kenapa. Yang jelas hatiku sangat terluka kini. “Syukurlah. Aku senang karena akhirnya, ada wanita yang bisa membahagiakan Appa.” Aku melepaskan tangannya perlahan. Dengan berat hati aku berbalik meninggalkannya.
“Apa hanya itu yang ingin kau tanyakan?” langkahku terhenti mendengar teriakan Eun Seo. Aku membalikkan badan. Kini kulihat dari sudut matanya menetes aliran bening.
“Tak pernahkah kau sadari sedikitpun arti dari sorot mataku setiap kali melihatmu?”
Apa maksudnya? Aku sama sekali tidak mengerti. Melihatku tetap terdiam Eun Seo tertawa pelan. “Rupanya benar apa yang Tuan Park katakan…” dia melirikku kembali. “Kau memang pria lambat dan pengecut.” Setelah mengatakannya Eun Seo membuka pintu lalu membantingnya dengan kencang. Sementara aku, aku terpaku di tempatku berdiri, masih tenggelam dalam kebingungan.
Tak pernahkah kau sadari sedikitpun arti dari sorot mataku setiap kali melihatmu? Apa maksudnya?

—o0o—

Satu minggu berlalu sejak kejadian malam itu. Hingga detik ini aku belum melihat Eun Seo kembali. Aku merasakan firasat buruk. Gadis itu sepertinya marah.
“Eun Seo sakit. Sudah beberapa hari ini dia demam.”
“Hah?” aku berseru kaget tanpa sadar. Pantas saja Appa akhir-akhir ini terlihat capek dan letih, seperti menanggung beban yang berat. Siapa yang tidak cemas melihat calon istrinya sakit di saat tinggal dua minggu lagi waktu pernikahan tiba.
“Kau jenguklah dia. Bawa buah dan Sup jagung kesukaannya.” Appa kembali mengagetkanku dengan ucapannya.
“Kenapa harus aku lagi?”
“Kau tidak sibuk bukan? Appa harus pergi ke Jeju sore ini. Lagipula di hari pernikahan nanti Appa tidak ingin diganggu oleh pekerjaan.”
Aku mendesah. Tentu saja aku tahu hal itu. “Baiklah.” Dengan berat hati aku terima juga pada akhirnya.

—o0o—

Sekarang aku berdiri di depan apartement Eun Seo dengan sekeranjang buah jeruk dan sup jagung. Aku diberitahu oleh Appa kode keamanan apartement Eun Seo sehingga bisa masuk tanpa menunggu gadis itu membukakan pintu.
Saat menginjak bagian dalam apartementnya, aku menyadari satu hal. Sebagian besar apartementnya di dominasi oleh segala macam perabotan berwarna kuning. Mulai dari bantal sofa, karpet, gordin, wallpaper, dan banyak boneka Tweety dan Pikachu di pajang di atas rak dekat dapur kecil.
“Eun Seo-ssi…” Hatiku langsung mencelos melihat gadis yang kucintai terbaring lemah di atas tempat tidur dengan kain kompres di keningnya. Aku tahu dari Appa bahwa kedua orang tua Eun Seo tinggal di Macau dan dia tidak memiliki teman dekat ataupun sanak saudara di Korea. Aku sedih memikirkan bagaimana menderitanya karena tak ada yang dimintai tolong ketika kesulitan.
Eun Seo menoleh dan menyadari aku berdiri di ambang pintunya, dia berusaha bangkit namun karena terlalu lemah, ia hampir saja jatuh kembali jika saja aku tidak buru-buru menyongsong tubuhnya.
“tak perlu memaksakan diri. Tidurlah lagi.” aku membantunya berbaring lalu merapatkan selimut. “Kau sudah minum obat?”
“Iya. Terima kasih sudah datang menjengkukku. Aku yakin kau pasti sangat sibuk.” Eun Seo tersenyum dan dimataku dia tetap cantik meski wajahnya pucat dan bibirnya kering.
“Tidak masalah. Kau sudah makan, aku membawakan sup jagung untukmu.”
Kulihat matanya mengerjap senang. “Sup jagung? Aku memang menginginkan itu sejak kemarin.”
Melihatnya tersenyum aku ikut tersesenyum. Aku menyuapinya makan sup jagung dan Eun Seo memakannya dengan lahap. Setelah selesai, aku duduk di tepi tempat tidurnya sambil membenarkan letak selimut. Sementara Eun Seo bersandar pada kepala ranjang.
“Sejak kapan kau sakit?”
“Dua hari yang lalu, aku lupa membawa payung dan saat itu hujan deras.”
“Apa Appa sudah menjengukmu?”
Eun Seo berhenti tersenyum saat aku menyinggung soal Appa. Dia menatap tangannya yang meremas, “Ya, satu kali.”
“Appa terlihat sangat mencemaskanmu. Dia terlihat sangat pucat sejak du—“ aku tidak sadar apapun yang terjadi selanjutnya karena Eun Seo tiba-tiba saja merengkuh wajahku dengan kedua tangannya lalu mengecup bibirku. Aku hanya mengerjapkan mata beberapa kali. Semoga ini bukan mimpi karena detik ini juga aku merasa sedang melayang ke kayangan.
“Aku mencintaimu, Park Jung Soo..tidakkah kau menyadarinya?”
Jantungku berdebar kencang. Tidak mungkin. Eun Seo mencintaiku? Apa aku tidak sedang berhalusinasi atau semacamnya? Matanya menatapku sungguh-sungguh dan mulutku masih mengatup sempurna. Aku kehilangan kata-kata untuk membalasnya.
Appa. Kata itu membuatku tersadar lalu memundurkan posisi dudukku seketika. “Tidak, ini tidak benar Hwang Eun Seo. Kau adalah calon istri Appa. Kita tidak mungkin bersama. Meskipun aku mencintaimu, tapi kita…” aku berhenti berkata saat menyadari Eun Seo kini menatapku terkejut.
“Kau mencintaiku? Kau mencintaiku?” ulangnya. Aku sudah salah bicara.
“Aku harus pulang. Sekarang sudah malam. Semoga kau cepat sembuh.” Aku pergi meninggalkan Eun Seo dengan perasaan campur aduk. Aku pria pengecut. Pria pengecut yang payah.

—o0o—

“Apa ini?” Appa terkejut melihat surat yang kuletakkan di atas meja kerjanya.
“Itu surat permohonanku untuk dipindah tugaskan ke luar negeri.” Ucapku tanpa memandang wajahnya. Tekadku sudah bulat. Aku akan pergi keluar negeri untuk menghindar dari semua ini. Aku memang senang, bahkan rasa bahagia itu begitu membuncah sampai tak bisa kubendung saat kutahu Eun Seo mencintaiku. Tapi sekali lagi pengakuannya itu membuatku teringat pada Appa. Aku tidak pernah melihat Appa sebahagia ini sejak Eomma meninggal lima belas tahun yang lalu. Aku tidak mau menghancurkan kebahagiaannya meskipun ini harus mengorbankan kebahagiaanku.
“Appa tidak mengizinkan.”
“Kenapa?” tanyaku heran. Appa menatapku sengit.
“Lantas kenapa tiba-tiba kau memutuskan pergi ke luar negeri? Ingat seminggu lagi pesta pernikahan. Kau tidak boleh pergi kemanapun!!!” Aku terkejut karena Appa memarahiku seperti ini.
“Aku tidak ingin datang ke pesta pernikahan itu!!” akhirnya aku tersulut emosi juga. Aku sudah tidak bisa menahan rasa kesal, sakit, dan sesak yang kurasa setiap kali melihat kalender. Tanggal pernikahan itu semakin hari semakin dekat tanpa bisa kucegah. Dan aku tidak akan sanggup jika harus menyaksikan Eun Seo berdiri di altar bersama Appa.
“Kenapa? Kau ingin menjadi anak durhaka?” tak pernah aku melihat Appa semarah ini padaku. Dan aku tahu detik ini juga aku sudah menjadi anak durhaka.
“tidak. Aku hanya tidak sanggup jika harus melihatnya berdiri di depan altar dengan pria lain.” Ungkapku akhirnya.
Appa mengerutkan kening. “Dia siapa???????”
Saat aku hendak membuka mulut, aku mendengar suara seseorang memasuki ruangan ini. Kami berdua menoleh bersamaan dan aku terkejut karena melihat sosok Eun Seo berdiri di ambang pintu.
“Aku datang membawakan bekal.” Ucapnya sambil mengangkat kotak bekal yang dibawanya. Dia bahkan tidak menyadari suasana mencekam dalam ruangan ini. Ya, aku harus mengakuinya. Aku harus mengakui semuanya di hadapan orang orang ini.
“Apa apa? sepertinya kalian sedang membicarakan hal penting.” Tanyanya heran melihat kami sama-sama terdiam.
Aku menundukkan kepala. Menarik napas dalam-dalam—ini membuatku semakin kesulitan bernapas. Mencoba menormalkan rasa sesak yang menyiksa. Setelah tenang, aku kembali menatap Appa. “Hwang Eun Seo.” Lirihku dingin. Kulihat dari sudut mata Eun Seo mengerutkan kening tak paham.
“Mwo?”
“Aku mencintai calon istrimu, Appa. Hwang Eun Seo! Maafkan aku.”
Kulihat rahang Appa mengeras dan Eun Seo menutup mulutnya tak percaya. Aku tahu sudah mengejutkannya dan aku sangat menyesal. Karena itu aku menerima konsekuensi apapun yang akan dilayangkannya. Sekalipun ia mendepakku pergi, aku akan menerimanya.
Brakkkkkkk!!!
Appa menggebrak mejanya lalu menatapku dengan mata menyala-nyala kesal. Dia berjalan cepat ke arahku dan tangannya terangkat hendak memukulku. Sekali lagi, aku siap menerima apapun resikonya.
Tak kusangka detik berikutnya Appa memelukku. Aku benar-benar terkejut dan tidak paham maksud dari pelukannya ini. Aku merasakan Appa menepuk-nepuk punggungku.
“Seharusnya kau katakan ini sejak dulu. Dasar pria lambat. Haruskah Appa melakukan semua rencana ini untuk menyadarkanmu, Iya kan Eun Seo..”
Aku masih mengerjap, tak mengerti dengan semua yang terjadi. Appa melepaskan pelukannya dan saat itulah aku melihat dia tersenyum puas dengan mata berkaca-kaca. Kepalaku menoleh ke arah Eun Seo yang menangis terharu di tempatnya berdiri.
“Apa maksud Appa?”
“Aigooo..kau benar-benar pria bodoh!! Kau tahu Appa sengaja merencakanan ini semua untuk membuatmu sadar akan perasaanmu.”
“Ja-jadi, Appa tahu sejak awal aku…” kata-kataku terhenti karena berikutnya Appa mengangguk.
“Appa tahu kau menyukai nona Hwang namun kau tidak pernah berani mengatakannya.” Aku membulatkan mata mendengarnya. Terkejut, takjub, tak percaya, bingung, senang, semuanya bercampur menjadi satu. Aku bahkan sampai kehilangan kata-kata.
Aku menatap Appa dan Eun Seo bergantian. Siapapun, tolong jelaskan sedetail-detailnya drama apa yang sedang terjadi sekarang.
Appa menepuk pundakku. “Kau anakku. Seharusnya kau sadar bahwa Appamu ini sudah tua dan hanya ada satu wanita yang dicintainya seumur hidup. Appa tidak mungkin berpikir untuk menikah kembali. Kau yang seharusnya menikah, bukan aku.”
“Tapi, Appa mengatakan Eun Seo adalah calon ibu tiriku?”
“Itu untuk membuatmu terkejut dan merebutnya dari Appa. Dan Appa benar-benar tidak menyangka saatkau menyetujuinya. Karena itu, Appa selalu menyuruhmu menemani Eun Seo agar yah, kalian bisa saling menyatakan perasaan masing-masing.”
“Jadi, Appa tidak menyukai Eun Seo?” tanyaku masih tak percaya. Appa mengangguk.
“Jadi, Appa tidak berniat menikah dengannya?” Appa mengangguk kembali. Aku ingin rasanya melonjak senang, memekik sekencang-kencangnya lalu menebarkan ribuan konfeti ke udara. Namun sekarang yang kulakukan hanyalah membalikkan badan lalu mendekati Eun Seo yang masih berdiri mematung di tempatnya.
Aku tersenyum menatapnya. “Aku tak menyangka kau ikut andil dalam drama konyol ini. Mengapa?” aku tak bisa menyembunyikan nada senang dalam suaraku.
“Sudah kubilang aku menyukaimu..” ucapnya di sela isak tangis.
“Lalu, sejak kapan kau menyukaiku?”
“Sejak pertama kali melihatmu.” Aku tersenyum. Rupanya kita saling jatuh cinta pada pandangan pertama. Tanganku terlulur memeluknya. “lalu kenapa sekarang kau menangis?”
“Aku terlalu bahagia!! Kenapa kau ini selalu bertanya? Membuatku gugup saja! kau pria lambat! Seharusnya aku tidak perlu melakukan drama memalukan ini untuk menyadarkanmu!!” Eun Seo akhirnya mengeluarkan seluruh keluh kesahnya dan aku hanya tertawa. Menertawai hal konyol yang terjadi belakangan ini.
“sekarang, bolehkah aku mengatakannya?” aku mengangkat dagunya agar menatapku. “Saranghae-yo, Hwang Eun seo..” senyum yang kusukai terbit di wajah cantik Eun Seo. Bibir merah cherry-nya melengkung indah.
“Nado…” aku kemudian mendekat untuk mengecup bibirnya ketika terdengar suara deheman dari belakang. Aku sadar sejak tadi Appa melihat tingkahku. Aku dan Eun Seo hanya saling menatap lalu tersenyum.

Appa, aku harus berterima kasih padamu karena sudah melakukan rencana tak masuk akal namun berhasil membuatku hampir mati berdiri. Siapa yang menyangka semua Wedding Plan yang direncanakannya semua adalah rencana pernikahanku dan Eun Seo. Aku kembali tertawa konyol saat Appa menjelaskan semuanya. Aku menatap Eun Seo berkali-kali. Aku tidak mengerti mengapa ia setuju dengan rencana gila Appa.
“Bukankah sudah kukatakan, pria lambat sepertimu perlu sedikit shock terapi.” Ucapnya jahil sambil mencubit pipiku. Aku merasa dibodoh-bodohi selama ini. Namun satu hal yang kusadari, Eun Seo mencintaiku. Dia tidak mencintai Appa.

Sekarang, di hari pernikahanku aku bisa tersenyum bahagia. Eun Seo pun terlihat sangat cantik dengan gaun pengantin yang kupilihkan untuknya. Aku memakaikan cincin ke jari manisnya dan saat itulah kami saling melihat luapan cinta dari sorot mata masing-masing.
Chup…
Kecupan singkat kudaratkan di bibirnya. Aku sungguh mencintai wanita ini, Tuhan. Meskipun rencana untuk menjadikannya istriku terbilang aneh dan tak masuk akal, namun aku suka rencana ini berakhir bahagia. Appa pun tampak dua kali lipat lebih gembira karena semua rencananya berjalan dengan mulus.
Eun Seo menarikku lalu berbisik. “Aku sudah membuat rencana tak terduga untuk masa depan kita, Oppa..”
“Apa?”
“Kita berikan cucu untuk Appa secepatnya…”
Hah????

End..

71 thoughts on “Unpredictable Plan !!

  1. Rasanya pengen ngejitak leeteuk yang lemot banget dan pengecut banget. Naksir sama cewe ko diem-diem aja. Tapi pengen juga ngejitak appa-nya leeteuk gara-gara ulahnya!!! Iseng banget sih sama anaknya sendiri. Itu cara terkonyol sedunia. Asli. Kalo aku pasti udah shock berat digituin. Hehehe

  2. Oh my ff ini udah lama tapi masih tetep keren dan aku lagi ngaduk”? Ff oneshot di library’a unni dan ketemulah sma ff ini dan ff ini sangat lucu dan sangat pas menggambarkan karakter si oppa lambat kkkkk

  3. Wuaaaaaahhhhhhhh ><, alur nya bener-bener ga ketebak sama saya. Keren!!! Gue kira si leeteuk mau ditabok ama bokapnye eh taunya malah peluk-pelukan ala teletubies \:D/ FF nya bagus banget, suka deh :* tapi ciri khas nya selalu ada yaitu ceweknya tiba-tiba jadi agresif di akhir bagian😄 #Keepwritingauthornim Makasih ya *deepbow

  4. haha.. cerita.y tegang, nyesek, seru.. keren thor, walaupun aku udh nebak ending.y dari awal.. #mianthor
    tpi ku akui alur.y bkin penasaran dan pengen baca.y sampe selesai.. keep writting thor,

  5. Iheeteuk mah ga peka..haha
    Tp akhirnya rencana gila appa terlaksana..
    Ya ampun..eun seo sama appa leeteuk sama2 jahil..

  6. leteuk oppa ga peka ihhh sama cewe
    aku syok tadi pas baca diawalnya masa eun seo menikah sama appanya leeteuk oppa eh ternyata itu rencana appanya leeteuk untuk bisa mengungkapkan perasaan leeteuk pada eun seo

Your comment

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s