Hello My Charming Yeoja (Part 4)

Tittle : Hello My Charming Yeoja Part 4
Author : Dha Khanzaki
Genre : Romance

Main Cast :
– Shin Je Young
– Cho Kyuhyun

Balik laggiiiiiii.. adakah yang kangen pada saya? eh maksudnya FF ini? selamat membaca saja deh. maaf ya kalau ada typo dan sejenisnya.

Happy reading ^^

Hello My Charming Yeoja by dhaKhanzaki

—-o0o—–

Kyuhyun POV

“Mengganggunya adalah satu-satunya cara untuk menarik perhatian Je Young..”

Min Ah sekali lagi menasihatiku dengan kalimat yang sama. Entah sudah berapa kali juga aku menuruti nasihatnya itu dan selalu saja gagal. Shin Je Young benar-benar dingin padaku. Aku yakin hal itu bukan karena Shin Je Young membenciku. Sikap kakunya di depan namja itu dikarenakan pengalaman buruk yang tak menyenangkan pernah dialaminya. Ah, aku benar-benar ingin menghabisi pria yang sudah membuat Je Young-ku seperti ini. Sekalipun dia adalah ayahnya.

“Tuan Cho, Anda di minta datang ke ruangan Presdir..” aku hampir melonjak senang saat mendengar suaranya di telepon. Shin Je Young adalah sekretaris Presiden Direktur perusahaan ini. Dengan kata lain, dia adalah asisten pribadi ayahku. Oh, Tuhan, andaikan saja dia adalah sekretarisku. Mungkin aku bisa leluasa mendekatinya. Appa memang tidak pernah melarangku untuk berhubungan dengan siapapun, sekalipun itu adalah sekretarisnya. Tapi aku tidak mau membuat Je Young menjadi bahan gunjingan pegawai lain jika aku terus mengganggunya. Hanya saja, aku sering kali lupa diri jika sudah menatap wajahnya. Tahan dirimu, Cho Kyuhyun!!

Baiklah, sebaiknya aku segera pergi menghampiri Presdir sebelum beliau memecatku.

—-o0o—-

Je Young POV

“Nona Shin, bisa tolong kau ambilkan file perusahaan cabang kita di Jerman..” ucap Presdir padaku. Aku segera bergegas masuk ke dalam ruangan berisi file-file di sebelah meja kerjaku. Setelah berhasil mendapatkannya segera kuantarkan kepada bosku itu. Saat aku masuk, Presdir tidak sedang sendirian di ruangannya. Saat ini di hadapannya sedang duduk Cho Kyuhyun, putra dari Presdir Cho Seung Hwan. Aku membungkuk sekilas.
“Ini, presdir..” kuletakkan map itu di meja depan sofa yang diduduki Presdir Cho.
“Sssst…Je Young-ah..” suara apa itu? Siapa yang berbisik-bisik di dekatku? Saat kutolehkan kepalaku ke samping, rupanya Kyuhyun pelakunya. Namja itu dengan tenangnya menggangguku di depan ayahnya sendiri? Anak baik.
“Kau ada waktu sore ini..??” bisiknya lagi. Aku merengut bingung. Namun hanya bisa kujawab dengan senyuman. Yang benar saja, aku tidak mungkin menjawab pertanyaan tidak penting seperti itu di depan Presdir Cho yang notabene-nya adalah bosku sekaligus ayahnya. Kulihat dari sudut mataku Tuan Cho menatapku dengan ekspresi sulit ditebak. Dia pasti sudah mulai mencurigaiku. Setelah insiden ciuman itu, aku selalu berpikiran buruk setiap kali di tatap Tuan Cho.
Kyuhyun berhenti memakai kacamata begitu kukatakan ia lebih tampan tanpa benda itu. Aku bingung mengapa ia menurut sekali dengan ucapanku. Aku mengalihkan perhatianku dari wajah tersenyum Kyuhyun ke arah Tuan Cho.
“Ada yang lain Tuan?” tanyaku sebelum memutuskan pergi. Bosku itu mengerjap menyadari sesuatu.
“Ah, benar sekali..” Tuan Cho menepuk tangannya. Ia memandangku. “duduklah dulu Nona Shin..”

Aku segera duduk di sofa yang letaknya berseberangan dengan Kyuhyun. Pandanganku kufokuskan seluruhnya pada Tuan Cho. Meskipun kini, di sudut mataku terlihat Kyuhyun tersenyum aneh. Kenapa pria itu selalu bisa membuatku tidak tenang? Aku benar-benar gugup saat ini.
“Ada apa, Tuan?” jujur saja aku gugup sekali. Aku takut Tuan Cho akan melayangkan kritikan padaku.
“Hari rabu nanti aku akan melakukan kunjungan ke perusahaan cabang di Jerman. Aku ingin kau ikut andil dalam perjalanan bisnisku kali ini. Aku butuh seseorang yang membantuku menyiapkan keperluanku selama di sana” aku mendengarkan dengan baik setiap kata yang diucapkan Presdir. Tapi tunggu dulu, sesaat kemudian keningku berkerut. Menyiapkan segala keperluannya? Bukankah itu berarti aku harus ikut dengannya ke Jerman?
“Maaf menginterupsi pak, aku harus menyiapkan segala keperluan Anda selama perjalanan nanti bukankah itu berarti aku harus ikut pergi ke Jerman?” tanyaku memastikan. Semoga pikiranku salah besar.
“Bingo!!” seru Kyuhyun lebih dulu. Kami berdua sampai menoleh padanya. Kyuhyun berdehem sebentar menyadari bahwa ia terlalu antusias pada hal yang tak semestinya. “Eh, maaf menyela..silakan lanjutkan..” Kyuhyun memalingkan pandangannya ke arah lain.

Tuan Cho hanya tertawa ringan melihat tingkah kekanakan putranya. Dia benar-benar putra kesayangan yang manja. Oh, tentu saja. Bukankah Tuan Cho hanya memiliki satu putra yaitu namja evil di hadapanku ini dan satu orang putri yang sekarang sudah menikah dan tinggal dengan suaminya di Jepang. Aku sudah mengenal Ahra Eonni dengan baik dan dia tidak semanja adiknya ini.
“Benar sekali, Nona Shin. Kau akan menjadi asistenku dalam perjalanan dinasku nanti. Soal tugasmu di sini selama pergi nanti, biar Nona Hwang saja yang menggantikan..” ucapnya tenang. Aku hanya bisa mengangguk setuju. Bagaimanapun ini adalah perintah atasanku. Dan aku tidak bisa menolaknya.

—o0o—

Author POV

Je Young sudah menunggu di depan gate penerbangan internasional sejak lima belas menit yang lalu. Entah ada halangan apa namun tidak biasanya Tuan Cho terlambat datang. Setahu dirinya, Presdir perusahaan Cho Corporation itu adalah orang yang paling tepat dalam soal waktu. Pasti ada sesuatu yang terjadi hingga menghambat kedatangannya. Pandangannya terus mengedar ke sekelilingnya. Berharap bisa menemukan sosok Presdir Cho di antara ratusan orang yang berlalu lalang di sekitarnya.

Getaran ponsel membuat Je Young terkejut. Secepat kilat ia segera merogoh benda itu dari dalam saku sweternya. Ia hampir melonjak senang ketika yang muncul di layarnya adalah nomor Presdir Cho. Namun kabar yang ia dengar dari Tuan Cho berhasil melenyapkan senyum di wajahnya.
“Nona Shin, kau berangkat lebih dulu ke Jerman. Aku akan menyusul di penerbangan berikutnya.”
Je Young melemaskan bahunya. Bagaimana ini? Ia tidak pernah pergi ke Jerman sebelumnya. Dan ini adalah kali pertamanya ikut perjalanan dinas ke luar negeri.
“Baik, Presdir.” Jawabnya lemah. Setelah menutup pembicaraan, dengan langkah gontai ia berjalan menuju tempat check in. Dalam pikirannya terus berkelebat bayangan saat ia pertama kali menginjakkan kakinya di Berlin, Jerman. Mungkin akan menjadi perjalanan buruk mengingat ia tidak bisa berbahasa Jerman dan ia hanya berharap semoga warga Jerman mengerti bahasa Inggris.

Je Young memandang gumpalan awan putih yang berarak cepat di luar jendela dengan raut sedih.
“Berhenti bersedih, Shin Je Young. Ini adalah pekerjaanmu. Apapun kesulitannya, hadapilah..” Je Young menggeleng cepat lalu menghembuskan napas . Ia harus kuat. Sekarang, karena perjalanan masih panjang lebih baik ia gunakan waktu luang itu untuk tidur saja.

—o0o—-

Kyuhyun melirik jam tangannya dengan perasaan gembira. Ia membenarkan posisi duduknya di kursi pesawat kelas satu.
“Apa yang sedang dia lakukan?” gumamnya pada diri sendiri. Ia menoleh ke sekitarnya, penumpang kelas satu lain sedang beristirahat. Ada yang duduk sambil membaca buku, ada yang mengobrol ringan, ada juga yang tertidur lelap.
“There is something you want, sir?” Tanya pramugari sopan ketika Kyuhyun bangkit dari kursinya.
“No, thanks.” Kyuhyun tersenyum ringan lalu pergi keluar dari ruang kelas satu itu menuju ke tempat duduk penumpang kelas dua. Ia mencari-cari sosok yang dikenalnya. Ia yakin mereka dalam satu pesawat yang sama.

Sudut bibirnya tertarik membentuk senyuman ketika menemukan sosok gadis yang dicintainya duduk di deretan kursi paling belakang yang hanya terisi satu kursi saja. Kyuhyun mendudukkan dirinya secara perlahan di kursi samping gadis itu yang tak berpenghuni.
“Ah, Shin Je Young..saat tidur pun kau tetap cantik.” Gumam Kyuhyun. Pandangannya tidak lepas dari wajah terlelap gadis di sampingnya. Je Young memang tidur terlalu pulas. Ia sampai tidak menyadari keberadaan pria di sampingnya. Kyuhyun sengaja menyandarkan kepala Je Young ke pundaknya untuk membuat gadis itu semakin tidur dengan nyaman.

Kyuhyun menolehkan kepalanya ke samping, Ia tersenyum kembali. Tanpa di sadari, pandangan matanya semakin turun menelusuri mata, hidung, dan berakhir di bibir merah Je Young yang basah dan berwarna plum.
Kyuhyun menelan ludahnya dengan susah payah. Entah kenapa, tiba-tiba saja hasratnya untuk mengecup bibir mungil gadis itu bangkit begitu saja. Jangan berpikir mesum, jangan berpikir mesum. Batinnya tegas. Ia menggelengkan kepala cepat lalu menoleh ke arah lain. Namun sial, ia tidak bisa. Pada akhirnya, Kyuhyun kalah pada perdebatan dengan batinnya sendiri. Ia menoleh kembali ke arah Shin Je Young yang tetap tak bergeming dari posisinya.
“Jangan salahkan aku, Je Young..” gumamnya dalam hati. Ia mendekatkan wajahnya, hendak mengecup bibir plum gadis itu. Semakin dekat hingga jarak di antara bibir mereka berdua tinggal beberapa senti lagi.
“Enghh…” Je Young mendadak saja melenguh dan membuka mata. Gadis itu terbelalak kaget dan hampir saja berteriak jika Kyuhyun tidak dengan sigap meletakkan jari telunjuknya di bibir Je Young.
“Ssstt..” titahnya dengan sorot mata tajam. Mata Je Young yang bulat membelalak lebar. Jantungnya berdebar cepat. Kyuhyun mencondongkan tubuhnya hingga memojokkan Je Young di sudut Kursi. Je Young benar-benar membungkam mulutnya. Tubuhnya pun terasa tampak kaku.

Kyuhyun mengulum senyum melihat reaksi Je Young. “Jangan berteriak. Kau bisa membangunkan orang-orang..” bisik Kyuhyun tanpa mengalihkan pandangannya dari wajah Je Young. Yang membuat Je Young melonjak kaget adalah jarak mereka yang terlalu dekat. Bagaimana tidak, saat terbangun dari tidur tiba-tiba saja ia mendapati seorang namja hendak mengecup bibirnya. Siapa yang tidak kaget. Meskipun pelakunya adalah pria yang sudah dikenal. Mata Kyuhyun perlahan turun hingga ke bibir Je Young yang agak basah. Timbul desiran aneh yang membuat hasrat bahagianya memuncak. Ini tidak benar. Senyum misteriusnya berkembang kemudian.
“Aku tidak akan berbuat apa-apa padamu..” bisiknya halus disertai senyuman mematikan. Je Young merasakan detak jantungnya mengencang akibat ulah Kyuhyun itu. Tanpa diduga, di saat Je Young tidak menyiapkan diri sedikitpun dengan beraninya Kyuhyun mendekatkan tubuhnya lalu..

Chupp..

Sebuah material lembut menempel tepat di permukaan bibirnya. Je Young merasakan kembali sentuhan ini sejak Kyuhyun menciumnya saat di pesta natal. Padahal ia hampir saja lupa bagaimana rasanya. Matanya refleks terpejam meskipun ia belum berani membalasnya. Benda halus dan lembut itu melumatnya dengan gerakan yang cepat namun sarat akan emosi. Tak berselang beberapa saat kemudian Kyuhyun menjauhkan wajahnya. Ia tersenyum dengan wajah tanpa dosa sedikitpun. “Kecuali menciummu..” lanjut Kyuhyun setelah tautan bibir itu terlepas.

Keheningan menyelimuti suasana di antara keduanya. Je Young tidak sanggup untuk bergerak,, membuka mulutnya ataupun sekedar mengedipkan mata. Ia lupa bagaimana caranya bernapas normal. Satu hal yang ia sadari, jantungnya berdetak dua kali lebih cepat. Bahkan ia takut jika jantungnya bisa saja meledak. Melihat reaksi Je Young, Kyuhyun terkekeh pelan, seolah sudah mendapatkan satu jackpot yang luar biasa. Je Young masih terpaku di tempatnya. Bahkan setelah Kyuhyun melepaskannya dan duduk normal seolah tak terjadi apapun, Je Young tetap diam. Tangannya terangkat menyentuh sudut bibirnya yang masih basah. Kyuhyun, kembali merebut ciuman darinya. Ia tersentak menyadari ada hal yang aneh. Kepalanya tertoleh cepat ke arah Kyuhyun.
“Kenapa kau ada di sini?” Tanyanya heran. Ia mengalihkan kegugupannya dengan bertanya. Bukankah seharusnya Kyuhyun berada di Korea?
“Ah, apa Appa tidak memberitahumu?” ucap Kyuhyun sambil menoleh.
Je Young mengerutkan keningnya. “Memberitahu apa?”
“Aku yang akan menggantikannya. Karena mendadak saja Appa ada keperluan yang mengharuskannya pergi ke cabang perusahaan di New York, maka aku yang akan menggantikan tugasnya kali ini”

“MWO!!” Je Young berteriak kaget. Apa telinganya tidak salah dengar? Apakah tadi Kyuhyun baru saja mengatakan bahwa ia yang akan menggantikan Presdir Cho untuk tugasnya di Jerman? Bukankah itu artinya, ia harus melayani semua keperluan Kyuhyun selama di Jerman.
“Aku tahu kau terlalu senang.” gurau Kyuhyun sambil menaik turunkan alisnya dengan cepat. Je Young hanya mendesah berat, memutar bola matanya lalu mengalihkan pandangan ke luar jendela. entah ini adalah berita baik atau buruk, namun ia tidak bisa membayangkan bagaimana harinya di Jerman nanti. Berdua saja dengan Kyuhyun, semoga tidak ada masalah serius yang terjadi.

—o0o—

Setibanya di Schonefeld Flughafen Berlin, Jerman. Je Young meregangkan tubuhnya sejenak setelah lelahnya menempuh perjalanan jauh dari Jerman-Korea. Hari sudah pagi dan ia baru sadar bahwa ia melewatkan hampir 20 jam di pesawat. Semalam baru saja turun salju. Itu sebabnya mengapa udara terasa dingin dan beku.
“Ah, aku lupa jika sekarang musim dingin..” gerutu Je Young sambil memeluk tubuhnya sendiri. Mulutnya bahkan berasap ketika berbicara. Sialnya, ia lupa membawa mantel tebal.

Kyuhyun tersenyum menatapi sosok Je Young dari belakang. Gadis itu tampak antusias. Memindai pemandangan asing yang tersaji di depan matanya. Kakinya mendekati Je Young perlahan, ia merasa kasihan juga melihat gadis itu terus mengusap lengannya. Ia melepas mantel tebal yang ia kenakan lalu menyampirkannya di bahu Je Young.
Je Young menoleh, ia terkejut dengan ulah Kyuhyun. “Cuaca dingin bisa membuatmu mudah terserang flu.” Kilah namja itu beralasan. Sikap perhatian Kyuhyun membuat Je Young merasa tenang. Ia mulai terbiasa dengan segala bentuk kepedulian namja itu kepadanya.
“Tapi apa kau tidak kedinginan?” Je Young merasa cemas karena kini Kyuhyun hanya mengenakan baju lengan panjang yang terbuat dari wol.
“Tak perlu khawatirkan aku” Kyuhyun sudah terbiasa dengan cuaca Kota Berlin. Entah sudah berapa kali ia datang ke ibukota Negara Jerman itu, untuk urusan bisnis tentunya. Sebenarnya, perjalanan dinas kali ini pun hanya akal muslihatnya agar ia bisa bersama dengan Je Young. Beruntunglah Appanya menyetujui ide ini.

“Ah, mobilnya sudah datang”seru Je Young membuyarkan lamunannya. Sebuah mobil jemputan berhenti tepat di depan mereka. Je Young segera mengerek kopernya lalu menaikkannya ke bagasi mobil. Kyuhyun tersenyum ketika Je Young dengan senang hati membukakan pintu mobil untuknya. Ia masuk dan memberikan ruang yang cukup untuk tempat Je Young namun gadis itu justru menutup pintunya dan membuka pintu di samping supir. Kenapa gadis itu tidak duduk di sampingnya saja?
“Ya, Shin Je Young! Kenapa kau duduk di depan!” protesnya.
“Mana boleh aku duduk di samping bos.” Jawab Je Young sambil lalu. Ia tidak memperhatikan wajah Kyuhyun yang merengut tidak terima dan justru sibuk memindai jadwal yang sudah dicatat rapi di dalam buku agenda.
“Radisson Blu Hotel, please..” ucap Je Young sambil menoleh ke arah supir di sampingnya. Mobil mulai melaju dan Kyuhyun mendengus sebal. Je Young benar-benar serius dengan perjalanan dinas ini. Padahal ia berencana melakukan macam-macam kegiatan indah bersamanya.

—o0o—

Kyuhyun POV

Aku hanya bisa menghembuskan napas berkali-kali sambil melirik ke arah Je Young yang duduk di kursi samping supir. Aku tahu dia sedang berusaha bersikap professional dengan menganggapku sebagai atasannya. Sepertinya aku salah memilih rencana. Seharusnya aku tidak memakai kedok ‘perjalanan dinas’ untuk mengajaknya berjalan-jalan ke luar negeri. Tapi harus kuakui Shin Je Young-ku memang hebat. Meskipun dia tidak bisa berbahasa Jerman, kemampuan berbahasa Inggrisnya terbilang fasih. Lihat saja sekarang dia mendiamkanku dan lebih memilih berbincang dengan supir bule itu. Tahu begini aku sewa mobil saja.

Setibanya di hotel, kami bergegas memasuki lobi karena salju mulai turun kembali. Ini juga kesalahanku karena tidak memperhatikan cuaca di Jerman yang sedang berada di pertengahan musim dingin.
“Huwa..Aquarium yang indah..” kepalaku tertoleh ketika mendengar suara gumaman Je Young. Gadis itu nampaknya terpesona dengan pemandangan yang ia lihat sekarang. Ia tidak bisa menyembunyikan wajah terpesonanya melihat aquarium berbentuk tabung raksasa yang tersaji tepat ketika kami memasuki lobi hotel yang luas dan megah.
“Tuan Cho sudah memesan dua kamar untuk kita menginap. Jadi, sebaiknya kita bergegas karena jadwal rapat hari ini tinggal dua jam lagi..”
“Ne?” aku mengerjap kaget mendengar aliran kata-katanya yang tiba-tiba. Dia bilang apa tadi? Appa sudah memesan dua kamar di hotel ini? Dan soal jadwal rapat yang dua jam lagi? apa dia sudah gila, kita bahkan baru saja tiba di sini.
“Kajja..” Je Young tidak memperhatikan raut terkejutku. Dia malah melenggang santai menuju meja resepsionis. Aku menyeringai. Lihat kejutan apa yang akan kau dengar sesaat lagi, Shin Je Young.

“Reservasi atas nama Cho Seung Hwan dari Korea..”
Aku mendengar Je Young berkata dalam bahasa Inggris. Aku hanya terdiam mengamati di belakangnya. Resepsionis berambut pirang itu melihat ke buku mencari-cari nama ayahku di daftar pemesan kamar.
“Satu kamar Suite sudah di pesan atas nama Mr. Cho, Miss..” jawabnya sambil tersenyum. Aku menaikkan sudut bibir membentuk seringaian kemenangan. Bingo, saatnya kejutan Shin Je Young.
“Apa?” Je Young terperanjat kaget mendengar ucapan resepsionis yang mengatakan bahwa kamar yang dipesan atas nama Cho Seung Hwan hanya satu. Bukan dua.
“Bagaimana bisa?” protesnya dengan raut bingung. Tentu saja bisa chagi. Karena semua itu aku yang melakukannya. Appa memang sudah memesan dua kamar. Namun kemarin aku membatalkan satu pesanan kamar dan hanya memesan satu kamar saja.
“Tidak mungkin..”Je Young panik, ia menoleh ke kanan kiri, lalu kearahku. Sebisa mungkin aku memasang raut ‘tidak tahu’ untuk mengelabuinya.
“Ada apa?” tanyaku pura-pura.
“Resepsionis ini bilang Tuan Cho hanya memesan satu kamar. Bagaimana ini..” gusarnya. Aku menaikkan alis mata sebelah. Kenapa harus sebingung itu?
“Bagaimana apanya?”
Ia menoleh dengan raut tercengang. Seolah reaksiku terlalu tabu di matanya. “Tuan Cho Kyuhyun, aku tidak mungkin tidur sekamar denganmu. Apalagi di hotel semewah ini dan di negara asing seperti ini” ucapnya cepat, nyaris putus asa. Je Young bergumam kembali, ia tampak semakin resah.
“Ini pasti ada kesalahan” ia lalu menoleh pada resepsionis yang kebingungan melihat kami “Bisakah Anda mengeceknya ulang atau jika bisa aku ingin menyewa satu kamar lagi.” pinta Je Young sungguh-sungguh. Aku tersentak kaget. Lalu menatap tajam resepsionis itu. Jika sampai ia mengabulkannya, aku tidak akan segan-segan membuat perhitungan. Sialnya resepsionis itu tersenyum ramah lalu melihat buku yang lain. Entah buku apa itu.
Resepsionis itu mengangkat kepalanya. “Nona…” ucapannya terhenti ketika pandangan matanya bertubrukan dengan mataku yang menyipit tajam ke arahnya. Aku memberikan isyarat dengan menggelengkan kepala cepat dan mengibaskan tangan padanya agar tidak mengabulkan permintaan Je Young. Sepertinya resepsionis itu mengerti.
“Maaf Nona, kamar di hotel kami kebetulan sudah di pesan seluruhnya. Kami benar-benar menyesal..”

Aku mendesah lega sementara Je Young melemaskan bahunya. Ia menggumamkan kata terima kasih lalu menerima kunci berbentuk kartu dari resepsionis itu. Je Young berjalan lunglai dan saat melewatiku, ia menatapku sesaat lalu mendesah berat. Hatiku seperti tertimpa batu. Mengapa kesannya seperti berada satu kamar denganku adalah suatu kemalangan? Kuhampiri resepsionis itu lalu memberikan sejumlah tip untuknya.
“Thank You..” bisikku sambil mengerlingkan mata. Resepsionis itu tampak tersipu lalu tersenyum. Tentu saja, siapa yang tidak terpesona pada ketampananku. Hanya gadis bodoh itu saja yang belum sadar. Aku berdecak menatap punggung Je Young yang berjalan menuju lift. Dia harus kusadarkan.

—o0o—

Je Young POV

Bagaimana ini? Aku tidak bisa membayangkan apapun jika harus berada dalam satu kamar dengan Cho Kyuhyun. Masalahnya adalah, dia atasanku. Dan entah apa yang terjadi nanti. Lihat saja kelakuannya di pesawat tadi. Kukerek koper hingga tiba di depan pintu kecokelatan dengan nomor 923. Kugesek kartu itu di alat yang terdapat di dekat pintu dan pintu pun terbuka. Kyuhyun masuk lebih dulu karena aku mempersilakannya. Bagaimanapun dia tetap bosku.
“Aku ingin mandi. Bagaimana kalau kau siapkan makan siang, Youngie..”
Suara Kyuhyun terdengar dari arah belakangku. Aku membalikkan badan menatapnya dan apa yang kulihat sekarang sungguh membuat jantungku rasanya seperti membentur tenggorokan.
“Kyaaaa…” aku berteriak histeris lalu melompat ke sofa, menutup wajahku sendiri dengan bantalan sofa. Pria itu benar-benar gila. Apa yang ada dipikirannya hingga berani membuka baju di saat ada gadis di dalam satu ruangan dengannya?
“Kyuhyun-ssi..kenapa kau membuka baju di sana..” suaraku bergetar. Tidak hanya suaraku tapi tubuhku juga.
“Ah, aku lupa..” aku mendengar dia terkekeh dan setelah itu tidak terdengar lagi. kupastikan Kyuhyun sudah masuk ke dalam kamar mandi. Ku jauhkan bantal ini perlahan dan menghela napas kemudian begitu menyadari Kyuhyun tidak ada di tempatnya berdiri tadi. Aku tertegun, dan menyadari debaran jantungku tak kunjung kembali normal juga. Ada apa ini?

—o0o—

Setelah makan siang, aku menemani Kyuhyun menghadiri rapat yang digelar di ruang rapat hotel ini. Aku tidak begitu paham apa yang mereka bicarakan. Aku tidak mengerti soal saham, obligasi, dan semacamnya. Aku sedikit tersentak ketika salah satu dari mereka menatapku lalu berbicara dengan Kyuhyun. Entah apa yang dikatakannya. Kyuhyun menatapku sejenak dan tatapan matanya membuatku gugup setengah mati. Dudukku sampai tidak tenang. Kyuhyun tersenyum kemudian berbicara pelan pada pria tadi. Aku penasaran apa yang mereka bicarakan.

“Kyuhyun-ssi..tadi apa yang kau bicarakan dengan klienmu?” aku tak bisa memendam rasa penasaran cukup lama. Segera kutanyakan begitu kami kembali setelah rapat selesai.
“Bukan hal penting..”
“Benarkah?” aku tidak percaya. Sepertinya tadi mereka membincangkan sesuatu yang memiliki sangkut paut denganku. Aku terdiam, mungkin aku terlalu cepat berburuk sangka. Sudahlah, lupakan.

Malam ini, salju kembali turun. Aku menatap butiran-butiran halus yang berterbangan jatuh dari langit kota Berlin lewat jendela kaca besar di sisi ruangan. Meskipun suhu di luar sana minus beberapa derajat celcius, tapi aku tidak kedinginan sama sekali karena hotel ini memiliki sistem penghangat ruangan yang canggih. Aku sedikit mengusap lenganku lalu membalikkan badan ke arah Kyuhyun yang sekarang tengah, menatapku dengan senyuman lebar.

Seluruh kerja syaraf tubuhku terhenti seketika dan jantungku berdebar. Wajah tersenyumnya dikombinasikan dengan tatapan tulus membuat Kyuhyun tampak mempesona dan..tampan.

Tidak, sepertinya masalah pertama yang harus kuhadapi sudah tiba.

—o0o—

Author POV

Kyuhyun tersenyum sambil meletakkan berbagai macam camilan dan sebotol wine di depan meja yang berada di dekat perapian yang tidak digunakan. Ia duduk di kursi sofa lalu menuangkan wine ke dalam sloki hingga setengahnya. Cuaca di luar sangat dingin dan ia harus meminum sesuatu yang hangat untuk menyeimbangkan suhu tubuhnya. Ia hampir meneguk wine ketika kepalanya tertoleh ke arah gadis yang berdiri di dekat jendela dengan wajah tertegun ke arah luar. Gerakan tangannya terhenti. Melihat Je Young tersenyum selembut itu selalu berhasil menghangatkan hatinya. Tanpa ia sadari, sudut bibirnya tertarik membentuk seulas senyum. Kyuhyun bahkan tidak bisa mengalihkan pandangan sedetikpun.

Ia baru tersadar dari dunia indah itu ketika Je Young membalikkan tubuhnya. Gadis itu terpaku sesaat dan Kyuhyun benar-benar tersadar ketika Je Young berdehem. Ia mengerjapkan matanya.
“Kau ingin mencoba wine ini?” Kyuhyun meraih sloki berisi cairan berwarna kemerahan lalu mengangkatnya. Suaranya terkesan gugup.
“Tidak, aku tidak bisa meminum alkohol..” tolaknya. Je Young berjalan menghampirinya. Gadis itu mendudukkan diri di samping Kyuhyun. Ia memilih meneguk jus jeruk. Ia benar-benar gugup karena malam ini menginap di kamar yang sama dengan Kyuhyun.
“Kau tahu Youngie..besok adalah hari ulang tahunku.”

Je Young mengerjap, berhenti mengunyah kue lalu menoleh ke arah Kyuhyun. “Jinjja yo?” ia tidak tahu jika besok adalah hari ulang tahunnya. Kyuhyun meneguk sedikit wine lalu mengangguk.
“Kau tidak tahu?”
“Aku tidak tahu, mian..” ada rasa bersalah terselip di sudut hatinya. “Untuk ulang tahun besok, kau berharap apa Kyuhyun-ssi?” mendadak saja terbersit ide dalam otaknya untuk memberi kejutan pada namja itu.
Kyuhyun memiringkan kepalanya, berpikir. “Apa ya?” ia mengulum senyum lalu menoleh ke arah Je Young. Ketika pandangan mereka kembali bertemu, Je Young mengalihkan tatapannya ke arah lain. Ia tidak mau jika sorot mata Kyuhyun kembali membuat irama jantungnya kacau balau.
“Aku berharap aku bisa menikah tahun ini.”

Kalimat yang diucapkan sungguh-sungguh itu membuat Je Young terpaku selama beberapa saat. Ia menoleh ke arah namja itu yang kini menundukkan kepala. Mengapa tiba-tiba hatinya terasa perih? Mendengar Kyuhyun ingin menikah mengapa hatinya terasa seperti tersayat pisau? Ini tidak normal.

To be continued

86 thoughts on “Hello My Charming Yeoja (Part 4)

  1. ya pasti nikah nya sma ello lah youngie…
    hadeh!!!mister kyu g kn nikah ma orang laen
    jd jgn sedih y??????
    omo…msa kyu mw nglamar langsung nech???
    author critax keren pake abiz!!!♥♥

  2. Dasar kyu evil, sempet2 nya chu di pesawat..
    tp koq jeyoung gak nolak ya ><
    Wow, 1 kamar jeyoung pasrah, dasar magnae pinter banget gituin resepsionis nya..
    Jeyoung jeyoung, ya nikah sama kamu lah sama siapa lagi. kan kyu ngejar2 kamu

  3. kyu mau nikah tapi kaya nya youngie ada rasa ngga rela deh.. padahalkan nikah nya juga sama youngie.. mungkin youngie nganggep nya sama orang lain bukan sama dia..

    lanjut lagi bacanya..

  4. Yaelah Je Young kgak usah sedih, si Kyu berharap nikah tahun ini ya sama kamu njirr >< Youngie benar2.
    Yu ah cus ke part selanjutnya.

  5. Je Young merasa sedih saat mendengar keinginan kyuhyun,karna Je Young sebenarnya mulai menyukai kyuhyun (y) tapi dia selalu mengelak dengan perasaannya…

Your comment

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s