Kanpeki Na Bad Girl (Part 11)

Tittle : Kanpeki Na Bad Girl Part 11
Author : Dha Khanzaki a.k.a Shin Je Young
Genre : Romance

Main Cast :

  • Shin Nara
  • Cho Kyuhyun

Support Cast :

  • Lee Donghae

Warning : hati-hati typo

Maaf kalau ceritanya makin kemari makin ga jelas ujungnya. Author mikirin cerita ini ampe kepala ngebul. semoga part ini sedikit mengobati hati reader-deul yang penasaran *maybe*

happy reading

Kanpeki Na Bad Girl by DhaKhanzaki

——-o0o——–

Nara POV

“Apa maksud ucapanmu?” aku mengulang kembali kalimat pertanyaan karena Rae Mun tak kunjung membuka mulut. Sejauh yang kutemukan dari sorot matanya, sedikit banyak aku melihat rona sedih dan iba.

“Kyuhyun..dia sakit. Sekarang ia sedang melakukan pengobatan di luar negeri. Kyuhyun bukan meninggalkanmu Shin Nara. Dia tidak akan pernah mau meninggalkanmu dan kali ini ia sangat terpaksa melakukannya..”

Tubuhku seketika bergetar. Sakit? Melakukan pengobatan di luar negeri? Kepalaku rasanya berputar-putar. Tuhan, apa yang terjadi pada suamiku?

“Sakit apa maksudmu?” tanyaku dengan suara tercekat. Rae Mun mengeluarkan secarik kertas dari dalam tasnya lalu menyerahkannya padaku. Kubaca sekilas, namun aku benar-benar tidak mengerti isinya. Semua istilah kedokteran ini membuatku pusing.

“Dia menderita depresi yang membuat syaraf di kepalanya sedikit melemah. Itu di sebabkan karena dia mengalami tekanan batin disertai beban pikiran yang terlalu besar. Jika tidak dilakukan pengobatan segera, ini akan mengancam keselamatan nyawanya sendiri. Dia bisa lumpuh kapan saja ataupun kehilangan nyawa.” Jelas Rae Mun.

Setetes bulir airmata jatuh membasahi kertas yang kupegang. Aku sungguh tidak tahu jika Kyuhyun menderita penyakit seberat itu. Sekarang aku mengerti kenapa akhir-akhir ini ia selalu tampak pucat dan kurus. Sudah beberapa kali juga aku memergoki Kyuhyun memijat kepalanya. Jadi ini.. maksudnya. Kyuhyun menderita penyakit separah itu dan dia menyembunyikannya dariku? Kenapa???

“Dasar bodoh..kenapa dia tidak mengatakannya padaku.??” Lirihku sambil terisak. Kyuhyun memang terlalu bodoh dan kolot. Sampai kapan sikap pengecutnya itu bertahan? Kenapa ia selalu membuatku menyesal dan merasa sangat bodoh seperti ini?

“Dia tidak ingin membebanimu. Kau sedang hamil saat itu dan ia takut terjadi apapun padamu dan bayi kalian.. Nara, Kyuhyun sangat mencintaimu lebih dari apapun. Dia bahkan selalu menolak ketika kusuruh melakukan terapi di luar negeri. Alasannya hanya satu. Ia tidak ingin meninggalkanmu sendirian.” Jelas Rae Mun.

Airmataku semakin deras mengalir. Dadaku rasanya sesak dan perih. Aku benar-benar bodoh. Aku sudah menyiksa Kyuhyun sejauh ini. Aku yakin dia tidak akan depresi jika aku tidak membuatnya terbebani terlalu banyak. Aku egois. Aku bodoh. Shin Nara kau bodoh.

“Nara..” Rae Mun bangkit lalu memelukku. Sekarang aku tahu apa maksud perbincangan Kyuhyun dan Rae Mun di kantor waktu itu. Mungkinkah mereka sedang membahas tentang pengobatan Kyuhyun di luar negeri? Mungkin saja. Aku terlalu bodoh saat itu. Aku terlalu cepat menyimpulkan. Seharusnya saat itu aku mendengarkan Kyuhyun. Seharusnya..

“Kyuhyun Oppa, dia pergi berapa lama?” tanyaku setelah tangisanku sedikit mereda.
“Sekitar satu tahun. Jika ingin sembuh total ia harus menjalani terapi selama itu..”
“Dia pergi melakukan pengobatan ke mana?”
“Sebuah rumah sakit di Jerman.. Dan Nara, Kyuhyun membawa salah satu anak kalian bersamanya..”

“Apa???” Seruku kaget. Kyuhyun Oppa membawa salah satu anakku? Rae Mun tidak menjawab apa-apa. Ia menyerahkan surat yang Kyuhyun titipkan pada Eomma Nara.
“Bacalah. Kyuhyun menitipkan ini pada Eomma mu sebelum ia pergi dan Eommamu menyerahkannya padaku tadi pagi”

Dengan tangan bergetar, aku menerima surat yang berukuran cukup besar itu. Rae Mun keluar dari ruangan untuk memberiku kebebasan membaca isi surat pertama yang kudapat dari Kyuhyun.

Dear Nara,
Bagaimana kabarmu, istriku sayang? Aku yakin meskipun kau baru siuman kau pasti tampak sangat cantik. Ah, rasanya rindu sekali. Melihat wajahmu saat tidur maupun saat kau terjaga tak pernah membuatku bosan. Apa kau juga merasakan hal yang sama?

Aku tersenyum di sela tangisanku saat membacanya. Tentu saja aku merasakan hal yang sama. Kyuhyun Oppa, apakah kau juga tahu bahwa akhir-akhir ini memperhatikan wajahmu ketika sedang tidur adalah hobiku saat terbangun dipagi hari? Kau sangat tampan meski dengan kacamata itu. Dan aku…sangat merindukanmu.

Maaf aku tidak bisa menemanimu saat ini. Kau tahu Shin Nara, aku sakit. Kepalaku sering kali terasa berat dan sakit yang menyiksa. Raemun bilang, aku menderita semacam penyakit yang disebabkan oleh depresi dan tekanan batin yang terlalu berat. Banyak sekali masalah yang membebaniku akhir-akhir ini. Kupikir aku bisa menanggung semuanya namun anggapanku salah. Tubuhku tidak kuat menahan depresi panjang dan otakku menolak semua tekanan batin hingga akhirnya Tuhan menghadiahkan penyakit itu padaku.

Mataku terbelalak lebar. Hatiku mendadak berdebar kencang mengingat kemungkinan penyakit Kyuhyun disebabkan olehku. Seharusnya aku tahu bahwa selama ini aku yang sudah membebani pikiran Kyuhyun. Betapa buruknya sikapku sebelum ini. Jika aku berada diposisinya, mungkin aku juga akan mengalami depresi. Oh, Tuhan..

Dadaku terasa sesak. Kyuhyun, maafkan aku.
Jangan menyalahkan dirimu Nara. Percayalah, penyakitku ini timbul bukan karena dirimu. Kehadiranmu memberikan kebahagiaan dan keceriaan dalam keseharianku. Mana mungkin aku menganggapmu sebagai beban.

Kalimat yang tertulis dalam surat Kyuhyun membuat hatiku semakin terasa sesak. Dia bahkan tidak ingin menyalahkanku.

Sejujurnya ini sangat berat. Penyakit yang kuderita benar-benar menyiksa diriku. Dan aku tidak ingin kau mengetahuinya. Bukan karena aku ingin menyembunyikannya. Aku hanya tidak ingin membuat pikiranmu terbebani. Kau sedang mengandung anak kita. Maka kusembunyikan penyakit ini darimu.

Meskipun tubuhku terasa sakit namun aku bahagia karena bisa menemanimu dalam masa tersulit saat kau mempertaruhkan nyawamu sendiri untuk melahirkan anak kita. Setelah ini hiduplah dengan bahagia, Nara. Sesuai perjanjian, setelah bayi kita lahir kuberikan kembali semua harta mendiang nenekmu. Sejujurnya harta itu memang milikmu. Saat itu nenekmu mempercayakan semuanya padaku agar kau bersedia menikah denganku. Aku sendiri tidak mengerti mengapa nenekmu begitu mempercayaiku. Yang kutahu adalah ia memiliki harapan bahwa aku sanggup untuk merubah sikap burukmu.

Selama aku tidak berada di sampingmu, kupercayakan perusahaan padamu. Jadilah seorang Shin Nara yang hebat, seperti yang kau inginkan sebelumnya. Tidak ada lagi Cho Kyuhyun yang akan mengganggumu. Namun satu yang kutekankan, tetaplah menjadi Nara yang lembut, pintar, dan selalu tersenyum ramah. Karena sosok itulah yang mampu memikat hatiku.

Jangan pernah pergi mencariku. Karena aku akan lari jika kau yang menghampiriku. Maka yang harus kau lakukan hanyalah diam di tempatmu. Biarlah aku yang pergi menghampirimu.

Nara, aku membawa anak perempuan kita bersamamu. Aku akan merawatnya dengan sepenuh hati. Aku sudah menyiapkan nama untuk mereka. Yoo Ra untuk anak perempuan kita, dan Hyun Ji untuk anak lelaki kita. Kau tidak marah bukan karena aku memutuskannya tanpa bertanya padamu lebih dahulu?

Aku menggelengkan kepalaku cepat. Aku tidak marah. Itu nama yang sangat indah. Cho Yoo Ra dan Cho Hyun Ji. Nama yang manis. Kau memang sangat pintar dalam memilih nama, Oppa.

Aku juga menghadiahkan kalung untuk anak kita. Kau ingat sepasang kalung dan gelang yang kita beli waktu itu? Aku membuatkan duplikat yang sama persis hanya saja sudah diukir dengan nama anak kita. Aku meninggalkan salah satunya untuk kau pakaikan pada anak lelaki kita.

Aku segera meraih amplop surat tadi dan melihat isinya. Benar saja, aku menemukan seuntai kalung terbuat dari emas putih dengan liontin berukiran nama ‘Hyun Ji’. Mataku kembali memanas. Oppa, kau sudah menyiapkan semua ini tanpa sepengetahuanku?

Aku pasti akan merindukanmu, Shin Nara. Kuharap, kau tidak akan lelah menungguku. Jangan terpikat dengan namja lain selama aku tidak ada. Aku pasti akan kembali padamu. Entah itu kapan. Aku pasti kembali.

Sampai berjumpa kembali, kekasih hatiku..
Kyuhyun

Nb : Kuhadiahkan juga foto bayi kembar kita. Lihat, mereka adalah putri dan pangeran kita. Bukankah mereka cantik dan tampan sepertiku dan dirimu?

Aku menangis. kudekap surat itu di dada. Kucoba menahan sesak yang mencekik tenggorokan serta paru-paruku. Aku benar-benar merindukan Kyuhyun Oppa. Ingin sekali rasanya aku berlari ke pelukannya dan berucap sejuta maaf. Namun apalah daya, waktu tidak bisa diputar balik dan semuanya sudah terlanjur terjadi.

Ku ambil selembar foto yang tertinggal di dalam amplop, foto kedua bayi kembarku yang sedang tertidur. Aku tidak kuasa menahan tangis. Aku tidak peduli jika hari ini energiku habis karena terlalu banyak menangis. begitu banyak penyesalan yang kualami. Aku segera bangkit dari tempat tidur, berjalan dengan langkah lemah dan sedikit rasa ngilu di bagian dalam pahaku. Aku ingin melihat buah hatiku dan Kyuhyun. bayi laki-lakiku.

Aku diantar oleh seorang suster ke ruangan khusus bayi. Ia membimbingku ke sudut ruangan, tepat ke arah tempat tidur bayi yang yang di hiasi gantungan cantik di atasnya. Dengan langkah pelan, aku menghampirinya. Rasa haru menyeruak keluar ketika retina mataku melihat bayi mungil tengah tertidur di atasnya. Itu anakku. Aku bisa mengenalinya karena aku yang melahirkannya. ini ikatan batin antara ibu dan anak.

Lihatlah, bibirnya yang mungil kemerahan, pipi chubbynya, hidungnya, semuanya benar-benar mengingatkanku pada Kyuhyun. Tanganku terulur menyentuhnya. Seperti merasakan kehadiranku, bayi ini menangis. segera ku gendong lalu menimangnya sebentar. Dia berhenti menangis dan kini kembali terlelap. Pandanganku mengabur. Entah kata apa yang tepat untuk menggambarkan betapa gembiranya hatiku melihat bayi ini. Aku sudah menjadi seorang ibu.

“Hyun Ji, Eomma akan membesarkanmu dengan sangat baik. Tumbuhlah menjadi anak yang pintar dan tampan, seperti Appamu..” kucium pipinya cepat. Kupakaikan kalung pada lehernya. Kalung hadiah dari Kyuhyun Oppa, dari Appanya. Mulai detik ini, kehidupanku tanpa Kyuhyun dimulai. Dan aku harus bisa hidup bahagia demi menyambut suamiku kelak.

—o0o—

Author POV

Dua hari sudah berlalu sejak Nara siuman. Dokter mengizinkannya pulang. Nara di dampingi oleh kedua orang tuanya berjalan keluar dari rumah sakit. Eomma Nara sangat senang melihat cucunya yang tenang di dekapannya. Sementara Nara melangkah pelan di belakang kedua orang tuanya. Ia masih belum percaya bahwa sekarang, ia akan hidup tanpa kehadiran Kyuhyun.

“Tuan Lee Donghae, kau melupakan obatnya..”

Kepala Nara terangkat mendengar nama itu. Meskipun ia sudah mencintai Kyuhyun, namun tidak menutup kemungkinan ia masih memiliki rasa penasaran terhadap namja bernama Lee Donghae. Ia menoleh ke arah samping, tepat ke arah seorang namja tengah berdiri membelakanginya. Ia ragu apakah harus memastikannya atau tidak. Namun tidak ada salahnya bukan mencoba? Siapa tahu dia Donghae yang selama ini dicarinya.

Nara berjalan mendekat ke arah pria itu, mengabaikan orang tuanya yang sudah berjalan lebih dulu ke luar rumah sakit.

“Chogi, Lee Donghae-ssi” sapanya ragu. Pria itu membalikkan badan dan tepat saat itulah Nara melihat wajahnya. Ia sempat terpaku untuk beberapa detik lamanya. Orang ini..

Donghae tersenyum ramah pada gadis yang menyapanya. “Iya. Apa aku mengenalmu?” tanya Donghae. Ia merasa tidak mengenal nona ini namun wajahnya tidak asing. Dimana kira-kira ia pernah melihatnya?

Nara mengerjapkan matanya. Bukan, dia bukan Lee Donghae-nya. Pria ini berbeda dengan Lee Donghae yang dikenalnya di klub malam waktu itu.
“Lee Donghae-ssi?” tanya Nara memastikan.
“Iya. Kau siapa, Nona?” Donghae diam sebentar. Ia mengerjap ketika berhasil mengenali Nara. “Tunggu, Kau Shin Nara bukan!!!” serunya riang. Nara terkejut.
“Kau mengenalku?”
“Tentu saja. Kau istri dari Cho Kyuhyun.. Aku Lee Donghae. aku sahabat baiknya..”
“Apa?” Nara terkejut bukan main. Ini, benar-benar diluar dugaan. Ia tidak tahu jika suaminya memiliki teman bernama Lee Donghae. kenapa namja itu tidak pernah bercerita? Padahal ia yakin sudah menyebut nama Lee Donghae entah berapa kali.

Nara akan membuka mulut ketika terdengar suara seseorang.
“Appa..kau meninggalkan kami lagi..”
Perhatian Donghae dan Nara tertoleh ke arah sesosok wanita yang menggendong balita berusia kira-kira 1 tahun menghampiri mereka.
“Mianhae yeobo. Aku harus menebus obat ini dulu..” ucapnya sambil mengangkat kantong berisi obat.
Wanita itu menoleh ke arah Nara, tersenyum singkat. “Siapa dia, Appa?” tanyanya.
“Ah, kenalkan, Dia Shin Nara. dia istri Kyuhyun.”
Wanita itu mengerjap senang. “Jinjja yo? Ah, rupanya kau Shin Nara. Kau tahu, Kyuhyun sering kali membicarakan dirimu. Pantas saja dia tergila-gila, rupanya Shin Nara-nya memang secantik seperti yang selalu diceritakan Kyuhyun.” jelasnya panjang lebar.
Nara terkesiap. Kyuhyun sering membicarakan dirinya pada orang-orang ini? Sebenarnya siapa mereka?
“Nara-ssi, dia Sae Ryung, istriku dan ini adalah Tae Joon, putraku..” tambah Donghae sambil mengusap kepala balita yang di gendong Sae Ryung.

Nara tersenyum kikuk. Ia terlalu bingung dengan semua kenyataan yang didengarnya. Kyuhyun memiliki sahabat bernama Donghae?

“Ah, Nara-ssi.. apa kau memiliki waktu? Ada yang ingin kubicarakan denganmu. Ini tentang Kyuhyun..”

—o0o—

Daun daun mapel yang kering berserakan di sekitar kaki Nara. Sore itu tidak seperti biasanya, Nara duduk termenung di sebuah ayunan sofa di halaman belakang rumahnya. Menatap kosong ke arah foto pernikahan dirinya dengan Kyuhyun.

Setetes demi tetes airmata meleleh dari sudut matanya. Airmatanya selalu tidak bisa dibendung setiap kali teringat tentang Kyuhyun. Sekarang ia baru sadar, bahwa Kyuhyun sudah mengubah dirinya menjadi seperti oksigen baginya. Nara tidak bisa bernapas tanpa oksigen itu. Kyuhyun sudah berhasil mengikat seluruh hatinya sehingga ia tidak bisa lepas dan pergi ke lain hati.

Setelah kepergian Kyuhyun, ia baru sadar bahwa tidak ada pria yang bisa mencintai sebesar Kyuhyun mencintainya. Ia sudah mendengar semua cerita tentang Kyuhyun dari Donghae. namja itu menceritakan semuanya. Mulai dari Kyuhyun yang mengatakan bahwa dirinya jatuh cinta—untuk yang pertama kali pada Nara, perjuangan Kyuhyun mengubah diri demi menarik perhatiannya, dan semua cara gila Kyuhyun untuk mendapatkan hatinya.

Satu hal yang membuat hatinya terasa tercekik. Bagaimana mungkin ia tidak mengenali bahwa pria yang dulu tidur bersamanya di hotel adalah Kyuhyun? pantas saja ia merasa mata Kyuhyun di balik kacamatanya itu tidak asing. Rupanya, itu adalah mata ‘Lee Donghae’. Mata yang berhasil memikatnya untuk pertama kali.

“Maafkan aku Oppa..aku tidak mengenalimu saat itu.. Aku tahu hatimu pasti sangat sakit dengan sikapku..” lirihnya.

“Nyonya.. tuan muda menangis..”

Nara menoleh ke arah salah seorang pembantunya yang berjalan membawa bayinya yang menangis.
“Omo..putraku..” Nara meraih Hyun Ji cilik lalu menimangnya. Sekarang Hyun Ji berusia 5 bulan. Itu artinya lima bulan sudah berlalu sejak Kyuhyun pergi. Nara penasaran bagaimana kabar putrinya yang dibawa Kyuhyun. Semoga dia tumbuh sehat seperti Hyun Ji.

Kyuhyun Oppa, lekaslah kembali..

———o0o——–

Five years later..

“Hyun Ji, berhenti bermain game nak..sekarang ayo sarapan..” seru Nara pada putranya yang masih saja asyik duduk di depan tv dengan stik game di tangannya. Ia mendesah berat melihat Hyun Ji yang tingkahnya semakin lama semakin mirip dengan Kyuhyun. Anak itu tumbuh dengan sangat baik. Dan sekarang ia paham mengapa Kyuhyun membiarkan anak lelaki mereka di asuh oleh Nara. Melihat wajah Hyun Ji, benar-benar mengingatkannya pada Kyuhyun. Caranya tersenyum, caranya tertawa, caranya berjalan dan berbicara hingga kebiasaannya semuanya mirip.
“Hyun Ji..” panggi Nara sekali lagi. Ia gemas sekali. Hyun Ji menoleh, seulas senyum manis tersungging di bibirnya.
“Ne, Eomma..” teriak Hyun Ji. Ia lalu bangkit dan berlari menghampiri Eommanya, memeluk pinggang Nara dengan ceria.
“Eomma, Hyunnie punya hadiah buat Eomma..” ucapnya riang.
“Jinjja?”

Hyun Ji mengangguk antusias. Ia berlari mengambil sesuatu yang ia sembunyikan di bawah bantal sofa, lalu memberikannya pada Nara. Untuk sesaat, Nara terdiam melihat lukisan yang digambar oleh Hyun Ji. Sebuah gambar seorang anak bersama orang tuanya sedang bergandengan tangan.
“Ini Eomma, ini aku, dan ini Appa..” dengan polosnya Hyun Ji menjelaskan maksud dari gambar yang dibuatnya. Putranya ini tidak menyadari hati Nara yang mencelos mendengarnya menyebutkan soal Kyuhyun.

Lima tahun memang sudah berlalu namun Kyuhyun tidak kunjung kembali. Nara sudah pernah mencarinya ke Jerman. Tapi sayang, ia tidak menemukan Kyuhyun di sana. Sesuai dengan yang dikatakannya di surat, Kyuhyun memang akan pergi jika Nara mencarinya. Maka dari itu, Nara tidak pernah berniat mencari Kyuhyun. biarlah ia yang menunggu Kyuhyun datang kembali padanya.

“Ini, bagus sekali sayang..” ucap Nara dengan mata berkaca-kaca. Ia segera memeluk putranya itu. Sebagai seorang ibu, ia bisa membaca isi hati Hyun Ji. Dia pasti merindukan sosok seorang Ayah dalam hidupnya. Nara memang sering menceritakan tentang Kyuhyun padanya. Namun Nara belum menceritakan tentang Yoo Ra, adik perempuan Hyun Ji.
“eomma, kapan Appa akan pulang?” ini pun entah sudah pertanyaan yang ke berapa. Hyun Ji selalu menanyakan hal yang sama dan Nara bingung harus menjawab apa.
“Sebentar lagi, sayang. kau pasti akan bertemu dengan Appa..” ucapnya sambil mengelus kepala Hyun Ji halus. Nara terdiam. Ia sendiri penasaran kapan bisa bertemu kembali dengan Kyuhyun.

—o0o—

“Ibu Presdir.. Ini dokumen tentang peresmian hotel baru kita..”

Nara tersenyum lalu menerima berkas yang di berikan sekretarisnya. Ia menelaah sekilas berkas itu lalu menandatanganinya. Sudah lima tahun ia menggeluti profesi barunya sebagai seorang presdir. Ia memang pernah memimpikan hal ini. Siapa sangka jika mimpinya terwujud. Dalam masa kepemimpinannya, ia berhasil membawa perusahaannya menjadi nomor satu. ia menuruti uncapan Kyuhyun untuk menjadi Shin Nara yang hebat, ramah, selalu tersenyum, dan ceria.

“Kau yakin?”

Nara menoleh pada Choi Siwon, pria tampan yang kini sedang berjalan di sampingnya. Choi Siwon adalah salah satu rekan bisnisnya. Dia seorang direktur yang cekatan, pintar, dan tampan. Usianya lebih tua 3 tahun dari Nara. Sudah hampir setahun Siwon berusaha menarik perhatiannya. Dan tepat dua bulan lalu, saat ia berulang tahun Siwon menyatakan perasaannya. Ia mengutarakan keinginannya untuk memperistri Nara. Tentu saja, siapa yang tidak terpikat pada Nara. Dia masih tetap mempesona dan cantik meski sudah menjadi seorang wanita dengan anak berusia lima tahun. Sekilas tidak akan ada yang menyangka hal itu.

Sejujurnya Nara tersanjung terhadap pengakuan Siwon. Namun ia tidak bisa menerimanya karena hingga detik ini hatinya masih milik Kyuhyun. Ia masih mencintai Kyuhyun dan akan terus setia padanya.

“Maaf, Siwon-ssi. Tapi bagaimana mungkin pria lajang sepertimu menikahi wanita yang memiliki satu anak sepertiku? Lagipula, aku belum bercerai dengan suamiku” tolak Nara sekali lagi.
“Sayang sekali..” lirih Siwon kecewa. Ia menghela napas lalu mengangguk. “Aku hormati keputusanmu, Nara-ssi..Jika sampai tahun depan suamimu belum juga kembali, kau terima saja lamaranku..” canda Siwon kemudian. Nara tertawa ringan menanggapinya.
“Jinjja Choi Siwon. Masih banyak yeoja di dunia ini..” ia diam sejenak. “Aku akan tetap setia pada suamiku..” tambahnya.

—o0o—

Sementara itu..

Bevery Hills, Amerika Serikat.

Kyuhyun menggeliat lalu mengerjapkan matanya berusaha menyesuaikan dengan keadaan sekitar yang terang benderang. Rupanya hari sudah siang. Ia berniat tidur kembali, karena di dalam mimpinya ia bertemu dengan Nara. ia masih merindukan istrinya itu. Namun niatnya untuk berselancar di alam mimpi musnah sudah ketika ia merasakan sepasang tangan menutupi matanya yang terpejam.
“Yoo-Chan..” desis Kyuhyun menyadari tingkah jahil putrinya. Ia bisa menebaknya dari wangi bedak bayi yang melekat di tubuh putri kecilnya itu. setiap pagi, Yoo Ra memang selalu membangunkannya dengan cara-cara unik. Ada saja ide menggemaskannya yang mampu membuat Kyuhyun terjaga.
“Ini bukan Yoo-chan..tapi putri salju..” balas Yoo Ra sambil cekikikan kecil.
“Baik, putri..bisa kau lepaskan tanganmu?”
Yoo Ra menggeleng meskipun Kyuhyun tidak melihatnya.
“Jika putri salju tidak melepaskan maka Appa akan memberikanmu sihir jahat..” Kyuhyun segera bangkit, otomatis membuat tangan mungil yang menutupi matanya itu terlepas. Ia membalikkan tubuhnya menghadap Yoo Ra yang kini tengah terkikik senang.
“Appa bangun juga..” serunya riang. Kyuhyun gemas sekali. Ia segera menggelitik pinggang Yoo Ra, membuat gadis kecil itu menggeliat senang dan tertawa. Kyuhyun ikut tertawa. Yoo Ra segera berlari keluar kamar begitu Kyuhyun lengah.
“Hei, Putri..kau tidak boleh kabur..” Kyuhyun segera berlari mengejar putrinya yang berlari.

Beginilah keseharian Kyuhyun dan Yoo Ra. Mereka selalu menyempatkan diri bermain di pagi hari seperti ini. Yoo Ra tumbuh menjadi anak yang ceria, lucu, dan jahil. Gadis itu benar-benar lincah. Caranya tersenyum, sikap manja dan jahilnya, semuanya mengingakannya pada Shin Nara. Yoo Ra, sungguh duplikat dari gadis itu.

“Appa kenapa sayurnya tidak dimakan?” tanya Yoo Ra melihat Kyuhyun justru memisahkan selada yang ada di dalam sandwich yang sudah susah payah dibuatkan oleh pembantu. Kyuhyun tersenyum kikuk mendengar ucapan polos Yoo Ra.
“Appa tidak suka sayuran..” jawab Kyuhyun jujur.
“Tapi sayur bagus buat tubuhmu, Appa..” terangnya sambil mengangkat garpunya.
“Aigoo..kalau begitu habiskan makananmu, sayang..” Kyuhyun mencubit gemas pipi Yoo Ra. Putrinya itu juga mewarisi hobi Nara yang senang sekali memakan salad. Bertolak belakang dengan dirinya yang benci makanan herbivora semacam sayuran.

Mereka menikmati sarapan dalam susana riang. Yoo Ra tidak henti-hentinya berceloteh tentang teman-temannya di sekolah dasar, lalu tentang guru-gurunya, dan lain sebagainya. Kyuhyun tersenyum mendengarkan. Lihat Nara, putri kita tumbuh seperti dirimu. Dia sangat cantik dan pandai berbicara.

Dulu ketika masih bayi, Yoo Ra di asuh oleh Eommanya yang ikut tinggal di Jerman selama pengobatannya berlangsung. Ia kira, pengobatan itu hanya memakan waktu satu tahun. Rupanya memakan waktu hingga bertahun-tahun. Kyuhyun pindah dari Jerman ke Amerika ketika Yoo Ra berusia 2 tahun. Dan ketika Yoo Ra berumur 4 tahun, Eomma kembali pulang ke Korea. Sekarang ia menjadi single parent yang membesarkan Yoo Ra selama satu tahun terakhir.

“Appa..” sela Yoo Ra.
“Ne, chagi.”
“Kapan Yoo-chan bisa bertemu Eomma?”

Deg..

Gerakan tangan Kyuhyun terhenti. Ia menoleh ke arah Yoo Ra yang menatapnya dengan pandangan ingin tahu. Kyuhyun memang sering menceritakan tentang Nara. Ia pun sudah memperlihatkan foto Nara padanya. namun satu hal yang belum bisa dilakukannya, mempertemukan Yoo Ra dengan ibu kandungnya sendiri. Ia masih belum siap jika harus bertemu dengan Nara.

“Eomma cantik seperti di foto? Eomma baik seperti yang Appa bilang? Yoo-chan ingin bertemu Eomma..” pintanya agak merengek.

Kyuhyun tersenyum “Yoo-chan ingin bertemu Eomma? baik. kalau begitu Appa akan ajak Yoo-chan bertemu Eomma..” hibur Kyuhyun.
“Yeeee…” Yoo Ra melonjak senang. dalam hati Kyuhyun terdiam. Ini memang sudah terlewat lama. Ia memang harus kembali secepatnya ke Korea.

Lima tahun sudah ia tidak menatap istri yang amat dirindukannya itu. Setelah dinyatakan sembuh total oleh dokter dua tahun yang lalu, Kyuhyun merasa hidupnya kembali berwarna. Ia berniat kembali namun ia belum tidak bisa karena saat itu ia masih merasa sangat ragu.

Tapi sekarang, setelah mendengar sendiri bahwa Yoo Ra ingin sekali bertemu dengan Nara, ia akan kembali menemui istri tercintanya, dan putranya.

To be continued..

210 thoughts on “Kanpeki Na Bad Girl (Part 11)

  1. Sumpah min aku nangis baca nya waktu baca si hyunnie sama yoochan pen ketemu appa eomma nya,ga tega rasanya,kyuuu cepet pulang kyuuu istrimu menunggu azekkk

  2. Ping-balik: REKOMENDASI FANFICTION | evilkyu0203

Your comment

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s