Kanpeki Na Bad Girl (Part 9)

Tittle : Kanpeki Na Bad Girl Part 9
Author : Dha Khanzaki a.k.a Shin Je Young
Genre : Romance, Married Life, Complicated

Main Cast :

  • Shin Nara
  • Cho Kyuhyun

Support Cast :

  • Park Rae Mun

Warning : Typo bertebaran

Makasih banyak buat reader-deul yang udah nyempetin baca FF gaje ini *bow* FF ini murni hasil dari jerih payah aku semalam suntuk. so, jangan copy paste apalagi ampe memplagiat *I Hate Plagiarism*

Happy Reading^^

Kanpeki Na Bad Girl by Dha Khanzaki2

———–o0o————

Nara POV

Aku terdiam cukup lama dalam pelukannya. Kenapa Kyuhyun terkesan diam dan dingin menanggapi ucapanku? Apa mungkin ia tidak bahagia? Atau hanya berpura-pura bahagia?
“Oppa..” aku memaksakan diri untuk berbicara dan lepas dari pelukannya. Kyuhyun menatapku dengan ekspresi yang sulit kubaca. Tangannya tetap memeluk pinggangku. Kutatap matanya sungguh-sungguh.
“Bagaimana kalau kita membatalkan perjanjian itu?” ucapku dengan suara tercekat. Kyuhyun terbelalak selama beberapa saat. Apa arti dari reaksi itu? Kenapa ia harus menunjukkan ekspresi itu? Kenapa ia tidak senang dan langsung memelukku kembali? Kenapa ia tidak bersorak gembira dan mengatakan dengan lantang bahwa ia pun bersedia melakukannya? Kenapa?

Reaksi Kyuhyun yang diluar dugaanku membuat hatiku takut. Apa mungkin, ia terlanjur sakit hati dan tidak ingin membatalkan perjanjian itu? bukankah dulu aku sendiri yang menginginkannya?
“Oppa, kenapa tidak menjawab?” tanyaku hampir frustasi karena Kyuhyun tetap bungkam setelah terdiam cukup lama. Dadaku rasanya sangat sakit dan pandanganku mulai mengabur.
“Chagi-ah..” gumamnya sendu. Tangannya perlahan bergerak menjauh dari pinggangku. Ia melepaskan pelukannya dengan gerakan pelan. Apa ini? Kenapa dia melepaskanku?
“Bisakah kita tidak membicarakan perjanjian itu sekarang?” pintanya dengan nada menyesal. Aku terperanjat kaget. Apa maksudnya? Kenapa ia menolak membicarakan perjanjian itu?
“Tapi kenapa?” tanyaku tidak sabar. Aku butuh penjelasan yang masuk akal karena saat ini dalam hatiku berkelebat perasaan takut yang teramat sangat.

Tangan Kyuhyun naik mengusap pipiku. Sayang sekali aku tidak bisa merasakan kasih sayang dari sentuhan itu. Aku justru merasakan ada aura sedih dan menyesal dari belaiannya.
“Percayalah, aku tidak akan meninggalkanmu..” ucapnya dengan senyum samar yang terlihat dipaksakan. Dia membungkukkan badannnya untuk mengecup bibirku ringan. Entah apa maksud tindakannya itu.
“Apakah bisa mempercayaiku?” tanyanya seolah meyakinkanku. Aku tidak percaya dengan ucapannya. Kyuhyun seperti tengah menyembunyikan sesuatu. Kujelajahi sorot matanya yang membuatku sangat penasaran akan arti di balik raut sedihnya. Namun tak kutemukan satupun jawaban yang membuatku tenang. aku justru semakin ketakutan.

—o0o—-

Akhirnya kejelasan tentang perjanjian itu menjadi mengambang. Aku belum juga mendapatkan jawaban yang pasti apakah kami harus menepati perjanjian sialan itu apakah harus mendiamkannya. Kyuhyun memang memperlakukanku seperti biasanya. Ia selalu bersikap romantis selayaknya seorang suami dan calon Ayah bagi bayiku. Terkadang aku merasa dia tidak ingin kehilanganku, terkadang aku juga merasa ia tengah menyembunyikan sesuatu, dan terkadang juga aku merasa Kyuhyun seperti akan meninggalkanku begitu saja. dan itu semua membuatku takut.

“Jangan lupa minum susunya..” Kyuhyun Oppa meletakkan segelas susu untuk ibu hamil tepat di meja di hadapanku. Aku segera meminumnya hingga habis. Aku mendongkakkan kepala menatapnya. Kyuhyun tersenyum hangat kemudian mencium pipiku. Ia beralih duduk di kursi yang ada di samping kiriku.
“Oppa, kau terlihat semakin kurus dan pucat.” Selidikku sambil mengamati wajahnya. Entah ini perasaanku saja atau memang Kyuhyun semakin kurus dari hari ke hari. Sudah beberapa kali aku memergokinya memijat kepala dengan raut lelah. Setiap kali kutanya, ia selalu menjawab ‘aku tidak apa-apa’ atau ‘aku hanya lelah’.
“Aku tidak apa-apa chagi..” ucapnya mengalihkan perhatian. Ia memilih mengusap perutku. “Bagaimana keadaan aegi kita di dalam sini?” tanyanya dengan ekspresi bahagia. Aku tersenyum dan ikut meletakkan tanganku di atas tangannya.
“Dia tumbuh dengan sangat baik. Aku yakin dia tidak sabar ingin melihat dunia ini, Oppa..” terangku gembira. Aku sudah tidak sabar ingin segera melihat bayiku ini. Sekaran usia kandungannya sudah menginjak delapan bulan. Tinggal beberapa minggu lagi aku melahirkan. Rasanya masih lama.
“Jangan lupa untuk ikut senam kehamilan. Aku akan meminta Eomma menemanimu..” ucapnya lagi. Kyuhyun Oppa memintaku untuk senam kehamilan agar mempermudah saat aku melahirkan nanti. Dan entah kenapa aku selalu ketakutan karenanya.
“Oppa, kau janji tidak akan meninggalkanku setelah bayi ini lahir..” ucapku agak merengek. Ia terkejut mendengar ucapanku.
“Tentu saja tidak. Meskipun aku ingin, aku tidak akan bisa Shin Nara..” sahutnya lembut. Aku tersenyum lalu memeluk pinggangnya dari samping. Senang rasanya. Untuk saat ini aku akan percaya pada ucapannya.

—o0o—

Kyuhyun POV

Shin Nara, maafkan aku. Hingga saat ini aku tetap menjadi pria pengecut yang tidak sanggup mengatakan apapun padamu. Entah sudah berapa banyak kebenaran yang kusembunyikan darimu. Aku hanya tidak ingin menghancurkan kebahagiaan kita. Aku terlalu egois dan menginginkanmu hingga aku hampir gila rasanya. Aku tidak ingin kehilanganmu. Maka dari itu, kumohon agar kau tetap seperti sekarang. Menjadi gadis polos dan mau mempercayaiku hingga akhir. Meskipun pada akhirnya aku mungkin akan mengecewakanmu. Kuharap kau tidak menyesal karena sudah dicintai oleh pria pengecut sepertiku.
Aku bahkan tidak sanggup mengatakan apapun ketika Nara memintaku untuk membatalkan perjanjian itu. Aku tidak ingin meninggalkannya, sungguh. Hanya saja aku belum siap untuk mengatakan yang sesungguhnya. Terlebih setelah mengetahui bahwa aku sakit.

“Kau harus segera meninggalkan Shin Nara, Cho Kyuhyun..” ucap Park Rae Mun sekali lagi. aku sengaja memintanya datang ke kantor untuk memeriksa keadaanku. Aku tidak mungkin terus menerus datang ke rumah sakit karena aku takut Nara akan curiga. Rae Mun adalah dokter yang sangat baik. Ia sahabatku sejak dulu. hanya saja sudah beberapa tahun terakhir ia tinggal di luar negeri.
Aku terdiam. Tidak menggubris kalimatnya sama sekali. Dalam pikiranku saat ini berkecamuk berbagai macam pikiran. Kepalaku rasanya berputar sangat cepat dan aku bingung harus menjawab apa.
“Jika kau terus dalam kondisi sekarang, kau bisa menderita. Tinggalkanlah istrimu itu dan kita pergi ke Jerman.” Ucap Rae Mun. Dia memang sudah beberapa kali mengatakan padaku agar aku segera melakukan pengobatan di Jerman. Dan hal itu tetap menjadi bahan pemikiranku hingga saat ini. Aku belum bisa meninggalkan Nara sendirian di sini. Aku sudah berjanji akan berada bersamanya hingga anak kita lahir nanti.

“Cho Kyuhyun.. Pikirkan baik-baik. ini demi dirimu juga. Jika kau terus berada di sisinya, hanya akan membuat dirimu sendiri menderita.” Rae Mun menggenggam tanganku, berusaha meyakinkanku agar segera mengikuti sarannya. Aku menoleh ke arahnya yang duduk di sebelahku.
“Baik, aku akan pergi…” ucapan itu akhirnya lolos juga dari bibirku. Rae Mun menghela napas lega.
“Aku tahu kau tidak sekeras kepala dulu.” ujarnya. Aku memang merasa keadaanku memburuk akhir-akhir ini dan aku tidak tahu bisa bertahan sampai kapan. Aku hanya berharap tidak akan tumbang di hadapan istriku.
“Tapi, aku tidak sanggup meninggalkan Nara. Dia akan melahirkan beberapa minggu lagi dan aku sudah berjanji akan menjaganya. Lalu bagaimana dengan anakku nanti?”
“Kau tenang saja, aku yang akan membantu mengurusnya..”

Brakk..

“Nyonya…”

Aku tersentak kaget mendengar suara teriakan sekretarisku di luar ruang kerja. Tanpa pikir panjang aku segera bangkit lalu melihat ke adaan di luar.
“Ada apa?” tanyaku pada sekretaris yang sekarang tengah berdiri di ambang pintu dengan raut panik.
“Anu, Tuan..tadi Nyonya..” tangannya menunjuk ke arah lift yang sudah menutup. Aku terbelalak.
“Nyonya? Maksudmu istriku?” cecarku panik. Dia mengangguk dengan ekspresi takut bercampur panik.
“Tadi Nyonya datang dan dia hendak masuk, namun entah kenapa tiba-tiba saja Nyonya pergi dengan tergesa. Raut wajahnya terlihat tidak baik.”

Mataku melebar seketika. Jangan-jangan, Nara mendengar pembicaraanku tadi. tidak, tidak boleh..
“Ada apa?” Rae Mun sudah berdiri di sampingku dengan wajah heran. Tak kugubris pertanyaannya karena aku segera berlari untuk mengejarnya.
“Sial, kenapa lift ini lama sekali!!!” teriakku kesal karena lift yang kutunggu tidak kunjung terbuka. Aku segera lari ke arah tangga darurat. Aku harap masih bisa mengejar Nara. Aku tidak bisa membayangkan bagaimana ekspresinya sekarang. Aku berlari menuruni entah berapa puluh anak tangga untuk tiba di lantai satu. Dengan raut panik, napas terengah, dan wajah penuh peluh aku segera berlari menelusuri lobi perusahaan berharap bisa menemukan sosok Nara. Tapi tak kutemukan di manapun.

Tak kupedulikan orang-orang yang menatapku bingung. Aku hanya memokuskan pandanganku mencari istriku itu.
“Apa kau melihat istriku lewat?” tanyaku panik pada security yang berjaga di depan pintu masuk.
“Baru saja pergi menggunakan taksi, Tuan..” ucapnya semakin membuatku panik. Aku segera berlari ke arah basement tempat mobilku di parkir. Aku harus segera menemui Nara dan memberikan penjelasan padanya. Aku tahu dia salah paham. Yang kucemaskan sekarang adalah kondisinya yang sedang hamil. Aku takut hal ini akan berdampak buruk padanya dan bayi kami. Semoga saja Nara tidak melakukan hal-hal yang membahayakan. Dan kuharap ia kembali ke rumah.

Sialan!! Mengapa di saat aku terburu-buru dan panik jalanan justru macet!! Aku terpaksa memutar arah untuk menuju rumah. Kepalaku terasa sangat pening dan peluh menetes dari pelipisku begitu tiba di rumah. Aku membuka cepat pintu rumah yang tak terkunci dan berlarian seperti orang gila mencari-cari sosok Shin Nara di dalam rumah. Dan hal yang kutakutkan pun terjadi. Aku tidak menemukan sosoknya di manapun.
“Nara!!!” teriakku panik. Kubuka lemari dan menemukan isinya berantakan. Satu tas pun hilang. kondisi ini membuatku menyimpulkan bahwa Nara lari dari rumah ini. Tidak boleh, Nara tidak boleh pergi.

Aku segera merogoh ponsel yang sejak tadi dilupakan. Aku segera menghubunginya. Tak butuh waktu lama panggilanku sudah di jawabnya. Syukurlah dia tidak menghindari telepon dariku.
“Chagi, kau di mana? Kenapa kau pergi begitu saja dari kantorku? Dan kenapa kondisi rumah berantakan..” aku menghujaninya dengan berbagai pertanyaan. Aku sangat panik. Aku hanya bisa tenang setelah melihatnya ada dalam jangkauan tanganku.

Keningku merengut bingung karena Nara tidak kunjung membuka mulutnya. Sekarang aku justru mendengar isakan tangisnya. Seluruh tubuhku bergetar seketika. Siapapun, tolong beritahu aku bahwa Shin Nara tidak sedang menangis. seluruh dunia serasa menggelap begitu aku mendengar suara kesedihannya. Terdengar begitu miris dan sarat akan luka.

—o0o—

Nara POV

Aku tersenyum riang karena hari ini aku berniat memberikannya kejutan. Aku akan datang ke kantornya setelah senam kehamilan.
“Tuan sedang kedatangan tamu, Nyonya. Apa ingin kupanggilkan dulu?” ucap sekretarisnya saat aku tiba di depan ruangan Kyuhyun.
“Gwaencana. Kau lanjutkan saja pekerjaanmu.” Ucapku. Kulihat dia sedang sibuk. Sepertinya Kyuhyun senang sekali membuat sibuk bawahannya. Aku tidak mau membuatnya repot. Kyuhyun pasti tidak akan keberatan jika aku masuk ke dalam ruangannya. Kulihat pintu ruangannya sedikit terbuka. Aku tersenyum riang melihat Kyuhyun sedang duduk di sofa. Tunggu, dia tidak sendiri karena di sampingnya duduk seorang gadis cantik. Siapa dia? Senyumku hilang seketika. Aku merasakan firasat buruk.

“Kau harus segera meninggalkan Shin Nara, Cho Kyuhyun..”
Mataku hampir keluar rasanya ketika mendengar ucapan gadis itu. Siapa dia? Mengapa dia lancang sekali meminta Kyuhyun untuk berpisah denganku? Tanganku tanpa sadar mencengkram engsel pintu. Seluruh tubuhku bergetar dan hatiku terguncang hebat. Topik apa yang sedang mereka bicarakan sekarang? Mengapa dia meminta Kyuhyun untuk menginggalkanku?
“Jika kau terus dalam kondisi sekarang, kau bisa menderita. Tinggalkanlah istrimu itu dan kita pergi ke Jerman.”
Kulihat gadis itu berkata dengan wajah memelas. Hatiku bergemuruh seketika. Apa? Gadis itu bahkan mengajak Kyuhyun pergi bersamanya ke Jerman? Dan Kenapa Kyuhyun hanya diam saja menganggapi permintaan gadis itu? Apa mungkin ia setuju? Tidak mungkin! Kyuhyun hanya mencintaiku. Dia tidak mencintai gadis manapun selain aku.
“Cho Kyuhyun.. Pikirkan baik-baik. ini demi dirimu juga. Jika kau terus berada di sisinya, hanya akan membuat dirimu sendiri menderita.”
Diriku rasanya seperti tertimpa batu besar melihat gadis itu menggenggam tangan suamiku dengan possessif dan penuh permohonan. Ia berani memelas seperti itu untuk meminta Kyuhyun pergi bersamanya. Dengan hati terluka dan mata berkaca-kaca aku menatap Kyuhyun yang tetap diam tak bergeming. Aku tidak bisa membaca apa yang ada di pikirannya. Ekpresinya sulit kutebak. Kenapa diam saja? kenapa kau tidak menolak tawaran gadis itu? apa kau tidak ingin bersama dengan ku lagi? kulihat Kyuhyun menghela napas lalu menoleh ke arah gadis di sampingnya.
“Baik, aku akan pergi…”

Bagai tersambar petir, seluruh tubuhku kaku selama beberapa detik. Kyuhyun, dia berniat pergi meninggalkanku. Pergi meninggalkanku. Inikah? Inikah alasan mengapa Kyuhyun enggan membatalkan perjanjian? Karena ia sudah memiliki gadis itu sebagai pengganti diriku? Hatiku seperti dihujam oleh ribuan pedang di saat yang bersamaan. Rasanya sakit dan perih. Cho Kyuhyun, kau sudah menghianatiku. Aku seharusnya tahu ini akan terjadi.
“Aku tahu kau tidak sekeras kepala dulu.”
Dalam keadaan setengah sadar aku masih mendengar ucapan gadis itu. otakku sekarang terlalu kalut. Aku tidak tahu harus melakukan apa. Hatiku hancur menyadari Kyuhyun akan meninggalkanku tak lama lagi. Seketika, dalam telingaku terngiang-ngiang ucapan Kyuhyun tentang betapa besar cintanya padaku atau janjinya yang tidak akan meninggalkanku apapun yang terjadi. Lalu apa yang kudengar saat ini? Ia akan pergi meninggalkanku bersama gadis itu.
“Tapi, aku tidak sanggup meninggalkan Nara. Dia akan melahirkan beberapa minggu lagi dan aku sudah berjanji akan menjaganya. Lalu bagaimana dengan anakku nanti?”
Tanganku refleks memeluk perut ketika mendengar Kyuhyun membahas bayi yang sedang kukandung. Apa yang akan dilakukannya terhadap bayi ini? Kepalaku terangkat menatap wajah Kyuhyun dari celah pintu yang sedikit terbuka.
“Kau tenang saja, aku yang akan membantu mengurusnya..”
Aku terbelalak. Kyuhyun akan membawa bayiku bersama mereka dan membiarkan bayi ini di urus oleh gadis itu? tidak, aku tidak akan membiarkannya. Kyuhyun boleh saja meninggalkanku tapi aku tidak akan membiarkan bayiku di urus oleh wanita lain. Tidak akan. Tanpa membuang waktu aku segera membanting pintu dan berlari dari tempat itu.

Samar-samar aku mendengar teriakan sekretarisnya yang panik melihatku berlari tiba-tiba. aku sudah tidak mempedulikan apapun lagi. Aku harus menyelamatkan diri sebelum rencana Kyuhyun dan gadis itu terlaksana. Aku tidak akan membiarkan Kyuhyun menyakitiku lebih dari ini dan membawa bayi dalam perutku. Lebih baik aku pergi meninggalkannya. Sekarang juga.

Airmataku terus mengalir saat tiba di rumah. Dengan tenggorokan tercekat dan tubuh bergetar aku segera mengemasi pakaianku ke dalam satu tas dan segera pergi sebelum Kyuhyun menemukanku di rumah ini. Pikiranku sudah kalut dan aku tidak tahu harus pergi kemana. Aku tidak mungkin pulang ke rumah kedua orang tuaku dan aku tidak mempunyai teman yang bisa kupercayai. Aku hanya menyetop taksi dan membiarkan taksi ini membawaku kemana pun aku pergi.

“Nyonya, kau ingin pergi kemana?” tanya supir taksi ramah. Mencoba tidak mencampuri keadaanku yang sedang menangis hebat.
“Kemana saja..” ucapku susah payah. aku segera memalingkan pandanganku ke arah lain dan kembali menangis. Taksi mulai bergerak, membawaku entah kemana. Aku hanya ingin pergi ke tempat di mana Kyuhyun tidak bisa menemukanku. kupeluk erat perutku yang sudah membuncit. “Maafkan Eomma sayang..Eomma harus membawamu pergi dari Appa..” isakku. Dan tepat saat itulah kudengar ponselku berbunyi. Hatiku mencelos sakit melihat nama Kyuhyun muncul di layar. Aku segera mengangkatnya. Kututup mulut rapat-rapat dengan tangan agar tangisanku tidak terdengar.

“Chagi, kau di mana? Kenapa kau pergi begitu saja dari kantorku? Dan kenapa kondisi rumah berantakan..”
Sudah kuduga ia mencariku hingga rumah. Secepat itukah kau meneleponku? Aku penasaran apakah kau mencemaskanku atau kau takut aku membawa pergi bayi yang sedang kukandung ini. Mendengar suaranya yang panik, membuatku semakin tersayat dan sakit. akhirnya, tangisanku tidak bisa kubendung lagi. aku terisak dan membiarkannya mendengar suara tangisanku.

—o0o—

Author POV

Kyuhyun mencengkram erat jasnya sendiri ketika mendengar suara isak tangis istrinya. Ia tak kuasa menahan airmata yang berniat menjebol pertahanan dirinya sendiri.
“Shin Nara, kumohon pulanglah. Jangan membuatku panik dan terpaksa mengerahkan semua orang untuk mencarimu. Aku tidak ingin terjadi apapun padamu. Dunia luar sangat berbahaya dan kau sedang mengandung. Kau bisa membahayakan anak kita..” cecarnya dengan suara tercekat, ia menahan tangis yang hampir saja menyeruak keluar.
“Aku tidak bisa kembali Oppa..” akhirnya suara serak Nara terdengar juga. Kyuhyun tersentak kaget. “Dan aku tidak akan kembali padamu lagi. aku akan pergi. aku sudah cukup mendengar apa yang kau katakan dengan gadis itu di kantormu tadi.. dan aku tahu rencana yang sudah kau buat dengannya..” lirih Nara di sela isakannya.

Kyuhyun sudah menduganya. Nara pasti salah paham dengan apa yang di dengarnya. Kakinya terasa lemas. “Nara, kumohon jangan meninggalkanku. Kau salah paham dan aku akan mengatakan yang sebenarnya..” mohon Kyuhyun sungguh-sungguh. Ketakutan yang teramat sangat kini tengah menyelubungi seluruh tubuhnya.
“Aku tidak mau hatiku hancur untuk kedua kalinya Cho Kyuhyun, sekarang aku paham kenapa kau tidak menginginkan pembatalan perjanjian itu. aku tahu..” Nara terdiam sejenak di sela isakannya. “Oppa, kau memang berniat mengambil anak ini dan pergi dariku. Kau akan meninggalkanku dengan gadis itu..”

Kyuhyun menggeleng cepat mendengar lirihan yang menyayat hati dari Shin Nara. Segala yang disangka Nara tidak benar. Ia hanya mencintai gadis ini. Meskipun dunia harus terbelah dan memisahkan mereka berdua, ia tidak akan pernah melepaskan tangan Nara.
“Kau ada di mana? Aku akan menjemputmu..” cecar Kyuhyun cepat. Ia sudah tidak bisa menahan diri lagi.
“Tidak perlu. Kau jangan mencariku. Perjanjian tetap terjadi. Silakan kau ambil seluruh harta yang sudah nenek percayakan padamu tapi aku, aku tidak akan menyerahkan anak ini. Aku tidak akan rela membiarkan anakku di besarkan oleh wanita lain—tuuttt—“ sambungan terputus bahkan sebelum Kyuhyun menjawab kalimat itu.
“Shin Nara!!!!!” teriak Kyuhyun frustasi. Ponsel yang di genggamnya ia lempar hingga hancur berkeping-keping. Ia segera bangkit untuk mencari gadis itu. tak peduli cara apa yang akan dilakukannya, yang ia inginkan adalah keberadaan Nara diketahui.

—-o0o—-

Sudah hampir satu minggu Kyuhyun mencari keberadaan Nara. Gadis itu seperti di telan bumi. Entah berapa cara yang ia lakukan untuk menemukan gadis itu, tapi tidak ada yang berhasil. Semua orang panik mencarinya termasuk kedua orang tua mereka. Appa Kyuhyun bahkan sampai meminta bantuan interpol untuk membantu menemukan anak mereka.

Di suatu tempat, Nara duduk di tepi ranjang dengan tatapan kosong. Sudah hampir satu minggu ia mendekam diri di dalam kamar sebuah apartemen yang kecil dan sempit. Ia sendiri bingung berada di mana. Ia melirik televisi yang sejak tadi di biarkan saja menyala. Ia tersenyum miris melihat berita yang dipasang di sana. Kyuhyun sampai meminta bantuan televisi swasta untuk menemukan dirinya. Tapi ia tidak akan goyah. Karena sampai detik ini, kata-kata Kyuhyun dan gadis itu masih menggema di telinganya. Ia seolah tuli hingga tidak bisa mendengar kata-kata lain selain kalimat yang ia dengar di kantor Kyuhyun. hatinya sungguh terluka namun ia berusaha untuk tetap tenang. Ia tidak mau membebani bayi yang sedang di kandungnya.
“Aegi, maafkan Eomma..” desis Nara sambil mengusap perutnya.

—o0o—

“Kyuhyun, kau harus istirahat. Serahkan soal pencarian Nara pada polisi..” nasehat kedua orang tuanya yang cemas melihat Kyuhyun tampak begitu kurus dan pucat. Ia tidak bisa tidur maupun makan dengan nyaman selama keberadaan istrinya belum diketahui.
“Aku tidak bisa Eomma..Nara, dia sendirian di luar sana..aku tidak bisa membayangkan kondisinya saat ini. Aku..” Kyuhyun meremas kepalanya yang terasa sangat sakit. Tidak, jangan sekarang. Ia merasa pandangannya mengabur seketika.
“Kyuhyun, kau kenapa???” teriak Eomma panik. Ia segera menyongsong tubuh putranya yang hampir jatuh. Kyuhyun tampak sangat menderita.
“Eomma, Nara..aku bisa mendengar tangisannya..” lirih Kyuhyun lemah dengan kesadaran yang hampir menipis. Ia berusaha berdiri tegak namun detik itu juga seluruh dunianya menggelap dan ia tidak bisa merasakan apapun lagi.

—o0o—

Pranggg…

Nara mengerjap kaget ketika gelas yang sedang digenggamnya jatuh dari tangan dan pecah di lantai.
“Kyuhyun Oppa..” desisnya. Jantungnya berdebar kencang. Firasat apa ini? Mengapa ia merasa Kyuhyun dalam bahaya? Ia segera bangkit dan mengemasi barangnya. Ia menyimpulkan firasat itu sebagai tanda bahwa Kyuhyun akan menemukannya. Ia harus pergi.

Ia berjalan dengan susah payah mengingat sekarang sudah menginjak awal sembilan bulan. Mungkin tidak lama lagi ia akan melahirkan. Kerap kali ia merasakan kontraksi namun masih bisa di tahannya. Selama ini, Kyuhyun selalu mengusap perutnya jika kontraksi itu terjadi. Dan selama beberapa hari terakhir, ia merasa sangat kesepian dan perih karena Kyuhyun tidak ada di sampingnya. Dan ia tidak bisa membayangkan harus melahirkan tanpa kehadiran Kyuhyun di sampingnya.

Rae Mun sedang mengendarai mobil hendak ke Busan untuk menemui kedua orang tuanya. Namun ia sangat terkejut ketika menoleh ke arah sisi jalan ia melihat sosok yang dikenalnya. Bukankah itu Shin Nara istri Kyuhyun? tanpa membuang waktu ia segera menepikan mobilnya. Akhirnya ia menemukan gadis itu juga. apa ia tidak tahu jika suaminya sudah seperti orang gila mencarinya kemana-mana?
“Shin Nara..” panggilnya gembira. Ia segera turun dari mobil lalu menghampiri gadis yang tengah hamil sembilan bulan itu.
Nara menoleh dan matanya terbelalak melihat sosok yang dikenalnya. Bukankah dia gadis yang bersama Kyuhyun waktu itu?
“Kau..” desis Nara penuh penekanan. Ia marah melihat gadis pembuat rumah tangganya retak.
“Kemana saja kau. Kyuhyun mencarimu kemana-mana.. Shin Nara!!!” Rae Mun berteriak kaget karena Nara meninggalkannya begitu saja. Kyuhyun benar, gadis itu salah paham dengan apa yang dilihatnya waktu itu. Dia pasti berpikir bahwa dirinya adalah selingkuhan Kyuhyun. Ia melebarkan langkah kakinya mengejar Nara.
“Nara, kau harus mendengarkanku. Aku tidak berselingkuh dengan suamimu jika itu yang kau pikirkan, Shin Nara..” Rae Mun berusaha menahannya.
“Jangan katakan apapun!! Aku tidak ingin mendengarnya.. Kyuhyun sudah mengkhianatiku dia…akkhhh..” Mendadak saja Nara merasakan kontraksi yang teramat sangat di perutnya. Ini lebih sakit dan menyiksa di banding sebelumnya.
“Nara-ssi..” teriak Rae Mun kaget. Ia segera menahan tubuh Nara yang hampir saja ambruk di atas trotoar jalan. Ia menoleh ke arah kiri dan kanan meminta bantuan pada orang-orang yang menyaksikan kejadian itu.
“Jebal, tolong kami..” serunya panik. Nara pasti akan melahirkan. Ia harus segera membawanya ke rumah sakit.

Nara merasakan sakit teramat sangat di perutnya. Ia meringis kesakitan selama perjalanan menuju ke rumah sakit. Entah sudah berapa kali ia menjerit dengan tangan terus meremas apapun yang bisa di jangkaunya.
“Bertahanlah sebentar lagi, Nara-ssi..” ucap Rae Mun sambil mengelap keringatnya yang bercucuran. Ia berbicara pada petugas rumah sakit yang menyetir mobil ambulans agar melajukan mobil secepat mungkin.

Di antara raungan dan rintihan yang mengalun dari mulut Nara, berkelebat bayangan wajah Kyuhyun. Ia sadar sekarang, bahwa keberadaan Kyuhyun di sampingnya teramat penting. Ia ingin namja itu berada di sampingnya saat ini.
“Kyuhyun Oppa..” rintihnya dengan airmata meleleh di pipi. Ia ingin bertemu Kyuhyun. Ia berharap namja itu akan menemaninya saat proses persalinan nanti.

To be continued..

131 thoughts on “Kanpeki Na Bad Girl (Part 9)

  1. Sumpah…berderailah air mata q krn crta u thor…

    Sampe bingung mw komntr apa…
    G kebayang gmn wujud kyu yg sedang kesakitan n khawatir tntng keadaan istrinya. ..
    Sungguh trenyuh

  2. Haduh nara salah paham sm kyu,gmn nih nara pke kabur segala,bnr2 complicated bgt..
    sedih bgt liat kyu smpe kyx gitu moga kyu bsa bertahan demi anak mu yg sbntar lg mw lahir kyu..

  3. Ping-balik: REKOMENDASI FANFICTION | evilkyu0203

Your comment

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s