Shady Girl Kibum’s Story (Part 8)

Tittle : Shady Girl Kibum’s Story Part 8
Author : Dha Khanzaki a.k.a Shin Je Young
Genre : Romance

Main Cast :

  • Cho Jarin
  • Kim Kibum

Support Cast :

  • Cho Kyuhyun
  • Hangeng
  • Lee Donghae
  • Lee Sungmin
  • Lee Hyukjae / Eunhyuk
  • Leeteuk
  • Choi Siwon

Warning : Typo bertebaran

ahahah.. aku udah males ceramah nih. jadi langsung aja yah.
Happy Reading ^_^

Shady Girl Kibum's Story by Dha Khanzaki1

—–o0o——

Part 8

Sesaat setelah ia sempat tertegun karena terpesona oleh aura seorang Hangeng, tiba-tiba saja dalam otaknya berkelebat bayangan Kibum saat mereka pertama kali bertemu. Seketika Ja Rin mengerjap.
“Salam kenal, Hangeng-ssi” ujar Ja Rin sedikit linglung. Setelah perkenalan singkat itu, pembicaraan dilanjutkan dengan membahas soal kerjasama antarperusahaan. Ja Rin memang tidak tertarik sedikitpun masalah perusahaan dan tetek bengeknya. Namun melihat namja bernama Hangeng itu begitu serius saat bernegosiasi dengan Appanya, perlahan ia penasaran juga dan ingin mendengar sedikit apa yang mereka bahas.

Sekilas, Ja Rin mendengar bahwa mereka akan bekerja sama dalam pembuatan sebuah mega proyek di daerah pinggiran kota Seoul.
“Aku senang pernikahan kalian akan segera dilaksanakan. Ini demi kelancaran proyek kita.” Ujar Appa membuat Ja Rin tertohok. Jadi, dia hanya dijadikan sebuah batu loncatan untuk proyek ini? Omona…
Hangeng tersenyum. “Aku turut senang.” Jawabnya. Ia melirik Ja Rin, gadis itu memang tidak memperhatikannya karena saat Hangeng menatapnya, Ja Rin tengah menatap ke arah lain dengan wajah kesal. Melihatnya, membuat Hangeng sedikit merasa ada yang salah.

__o0o__

Donghae berlarian sejak ia turun dari mobilnya. Jarak antara lapangan parkir menuju ruang bersalin istirah tidaklah dekat. Sepanjang perjalanan ia terus berdoa semoga tidak terjadi apa-apa pada Haebin. mengingat ini adalah pengalaman pertamanya. Lagipula ia takut sekali. Jangan sampai yang dialami Taeyeon tidak juga dialami oleh istrinya.

Tubuhnya penuh dengan peluh dan napasnya naik turun saat ia tiba di sana. Air mukanya khawatir. ia menemukan Kibum tengah mondar mandir dengan perasaan kacau, sama sepertinya. Ah, tidak. Perasaannya jauh lebih kacau lagi.
“Bagaimana keadaan istriku?” Donghae segera menyerbu Kibum dengan pertanyaan begitu sampai di hadapannya. Kibum melonjak lega.
“Ah, bagus kau sampai Donghae-ya. Cepat kau masuk. Aku tidak tega mendengarnya terus menjerit kesakitan di dalam sana” Kibum mencoba mengucapkannya dengan tenang meskipun ia didera rasa panik.
“Baik.” Donghae melesat membuka pintu ruang bersalin itu.

“Siapa Anda? Dilarang sembarangan masuk kemari” ucap Dokter yang membantu proses persalinan Haebin.
“Aku suaminya” jawab Donghae buru-buru. Dokter itu mengerjap. Ia segera mempersilakan Donghae untuk mendekati Haebin yang saat itu tengah berjuang untuk melahirkan bayi mereka.
“Yeobo..” seru Donghae panik. Ia segera berdiri di samping istrinya.
“Oppa..” lirih Haebin dengan napas tersengal. Wajahnya memerah dan keringat memenuhi wajahnya. Ia terus meringis dengan napas yang hampir habis. Donghae menggenggam erat tangannya. Ia tidak tega melihat Haebin kesakitan seperti sekarang. Jika Tuhan mengizinkan, biarlah ia yang merasakan kesakitan itu.

Perut Haebin berkali-kali merasakan kontraksi.
“Tarik napas.. lalu buang..” Dokter terus memberikan pengarahan. Donghae membantu Haebin dengan memberikannya spirit. Ini adalah saat-saat paling menakutkan, paling menegangkan, dan paling membuatnya tidak tahan. Haebin berkali-kali menjerit kesakitan dan tangannya menggenggam tangan Donghae semakin erat.
“Yeobo, kau pasti bisa. Kau adalah Umma yang kuat..” Donghae memberikan semangat. Tangannya yang lain bergerak menyeka keringat di dahi istrinya.

Sementara itu..

Kibum merasa seperti terlempar kembali pada kejadian 5 tahun yang lalu saat ia mendengar jeritan memilukan dari dalam ruang bersalin Haebin. Ia merasakan ketakutan yang sama seperti saat ia mendengar kakaknya, Taeyeon menjerit kesakitan di detik-detik ketika melahirkan Minki. Kakinya terasa lemas. Kibum jatuh terduduk di lantai rumah sakit. Tubuhnya bergetar. Omo.. dirinya adalah seorang Dokter. Tidak etis rasanya kalah pada ketakutannya sendiri. Ia harus berani. Ia tidak boleh terus dibayangi ketakutan seperti 5 tahun silam.

Di tengah-tengah kegalauannya, tiba-tiba ada yang menepuk pundak Kibum. Kepalanya terdongkak. Matanya kini menangkap sosok Eunhyuk dan Kyuhyun. Ekspresi mereka sama cemasnya dengan dirinya.
“Tenanglah, kau tidak sendirian lagi sekarang.” Ucap Eunhyuk. Ia tahu Kibum sekarang sedang berjuang menghadapi traumanya. Kyuhyun mengangguk setuju. Kibum bangkit. Ia memang merasa sedikit lega.
“Gomawo” ucapnya pelan.
“Bagaimana keadaan Haebin? omo, aku tidak bisa membayangkannya..” cerocos Kyuhyun. Ia mondar mandir tidak jelas.
“Bungsu! Berhenti membuat hal tak perlu seperti itu!” seru Eunhyuk.

Tak lama Sungmin datang bersama In Sung yang menggendong Minki. Mereka berjalan sedkit terburu-buru.
“Apa bayinya sudah lahir?” tanya Sungmin cemas. Kibum, Eunhyuk dan Kyuhyun menggeleng serempak.
“Haebin, semoga dia baik-baik saja.” In Sung sudah berkaca-kaca.
“Umma, kenapa menangis?” Minki bingung dengan situasi yang tak dimengertinya. In Sung tidak menjawab. Ia tersenyum pada Minki dan tangannya bergerak mengusap-usap punggung Minki.

Saat semuanya berada di tengah rasa cemas menunggu saat paling melegakan itu tiba, dari dalam ruang bersalin itu terdengar suara tangis bayi. Mereka yang ada di luar ruangan saling pandang sejenak. Sedetik kemudian mereka bersorak senang.
“Bayinya lahir!!” seru Kyuhyun langsung memeluk Kibum. Eunhyuk bahkan sampai menangis terharu. In Sung mengucap syukur berkali-kali. Pelukannya pada Minki semakin erat. Sungmin langsung memeluk istri dan putrinya. Mereka semua bersuka cita menyambut kelahiran bayi Haebin dan Donghae.

Dalam situasi yang mengharukan itu, Donghae-lah yang merasakan kelegaan yang tak terkira. Ia segera mengecup kening istrinya dengan penuh kasih sayang sambil tak hentinya mengucapkan syukur dalam hati.
“Kau hebat, sayang. Aku sangat bangga padamu” lirihnya. Ia menangis terharu. Haebin yang kondisinya sangat lemah tersenyum. Ia merasa lega. Sangat lega. Akhirnya masa-masa menegangkan terlewatkan juga. Sesaat sebelum bayinya lahir, ketika ia berada dalam persimpangan nasib, Haebin merasa sangat takut. Ia takut tidak akan bisa melahirkan bayinya. Ia takut tidak akan bisa mendengar suara tangis bayinya begitu melahirkannya ke dunia. Tapi sekarang rasa itu tinggalah memori.

“Selamat Tuan, Nyonya, bayi Anda laki-laki.” ucap sang Dokter ikut tersenyum bahagia. Dia menyerahkan bayi yang masih merah dan telah di selubungi oleh kain hangat pada Donghae. namja itu tidak sabar dan sangat hati-hati menerima anaknya beralih ke dalam pangkuannya. Donghae ingin menangis. sungguh. Sekarang ia tengah meneteskan airmata melihat bayi mungil yang saat ini tengah menangis dalam gendongannya. Ini adalah anaknya. Tuhan.. mengapa rasanya sebahagia ini. Ia bahkan tidak tahu kata apa yang paling tepat untuk menggambarkan perasaannya sekarang.
“Aegi.. ini Appa nak..” ucapnya dengan suara serak. Ia mengatakannya di sela-sela isakannya. Donghae mencium lembut anaknya itu. Omona.. sebahagia ini kah menjadi seorang Appa? Apa dulu Appanya pun merasakan hal serupa ketika menggendong bayinya untuk pertama kali?
Donghae tidak menunggu lama untuk memperlihatkan bayi mereka pada Haebin.
“yeobo, lihat, anak kita sangat tampan” Donghae menyerahkan bayi itu pada Haebin. gadis itu sudah tidak sabar ingin segera memeluk dan menimang bayinya.
“Anakku..” lirihnya saat ia menerima bayi itu dalam pelukannya. Haebin pun merasakan hal yang sama seperti Donghae. ia sangat bahagia. Airmata pun lolos begitu saja dari pelupuk matanya. Segembira inikah menjadi seorang ibu? Ia sudah menjadi wanita yang sempurna sekarang. Karena sudah melahirkan seorang bayi untuk melengkapi pernikahannya dengan Donghae. haebin mengecup pipi bayinya berkali-kali. Ia sudah menjadi orangtua sekarang.

“Haebin, Donghae” seru orang-orang. Donghae menengok sementara Haebin masih fokus pada bayinya. Ia seolah tidak mau melepaskan tatapannya pada anak yang ia lahirkan beberapa saat lalu.
“Chukkae.. kau sudah menjadi Appa sekarang” Eunhyuk segera memeluk Donghae, memberikannya selamat.
“Gomawo” balas Donghae.
“Aish, bayi laki-laki yang tampan sepertiku..” ucap Kyuhyun. Ia berdiri di sisi lain tempat tidur.
Donghae mendelik padanya.
“kenapa tampan sepertimu? Sudah pasti tampan sepertiku” Donghae tidak terima anaknya disamakan dengan makhluk aneh seperti Kyuhyun.
“Haebin, selamat..” In Sung berhambur memeluk Haebin sekilas. “Boleh aku menggendongnya?” tanya In Sung. Ia merasakan bahagia yang tidak pernah di rasakannya. Haebin mengangguk lalu menyerahkan bayinya pada In Sung.
“Aigoo, kau sangat manis..” In Sung menimangnya pelan.

Sungmin menepuk pundak Donghae. “Selamat. Bukankah sangat membahagiakan saat kau tahu kau sudah menjadi seorang Appa?” tanya Sungmin. Ia juga pernah merasakan saat yang sama ketika Minki lahir dulu.
Donghae mengangguk. “Bahagia yang tak terkira, Hyung”

Kibum belum berani mendekat. Padahal semua orang tengah bersuka cita di sana. Ia takut. Entah kenapa. Ia teringat pada saat itu. Ia masuk ke dalam ruangan untuk berpisah dengan Taeyeon. Menyaksikan sendiri saat kakaknya itu menghembuskan napas untuk terakhir kalinya.
“Dokter Kim” suara Dokter yang membantu melahirkan Haebin tadi menyadarkannya.
“Iya, Dokter Shin” ucap Kibum tersadar. “Ah, apa keadaannya baik-baik saja?”
Dokter Shin mengangguk. “Tentu saja. Pasien sekarang dalam kondisi prima. Hanya perlu beristirahat setelah masa mengharukan ini berlalu.” Ucap Dokter Shin. Ia meminta izin untuk pergi.
Barulah setelah mendengar ulasan dari Dokter Shin, Kibum merasa sangat lega. Untunglah.. Haebin tidak mengalami nasib serupa seperti Taeyeon.
“Donghae..syukurlah Haebin dan bayimu tidak apa-apa” Kibum langsung memeluk Donghae. ia bersyukur sekali. Ia mengatakannya dengan suara lirih.

Donghae, Sungmin dan yang lainnya tahu mengapa Kibum seperti itu.
“Jika tidak ada kau, entah bagaimana Haebin sekarang” Donghae balas memeluk sahabatnya itu. Benar sekali. Karena saat itu Haebin sedang seorang diri di rumah. Jika Kibum tidak datang untuk memeriksanya, ia tidak bisa membayangkan Haebin kesakitan seorang diri. Bingung ingin melakukan apa..

“Haebin, apa melahirkan itu sakit?” tanya In Sung begitu bayi yang ia gendong dalam keadaan tenang. haebin tersenyum tipis.
“Lebih sakit daripada saat membuatnya.” Ucapnya polos. Donghae mengerjap dan yang lainnya terkikik geli.
“Ya ampun Haebin, jangan ucapkan kalimat itu. Masih ada yang belum cukup umur di sini” ujar Eunhyuk. Sungmin mengangguk. Ia menutup telinga putrinya.
“Bukan Minki Hyung” ucap Eunhyuk.
“Lalu siapa?” tanya Kibum bingung. Eunhyuk dengan polos menunjuk Kyuhyun. “Dia.”

Kyuhyun lansung berteriak protes. “Yaaa!!! Aku bukan balitaa!!”

Orang-orang di ruangan itu tertawa, lebih tepatnya menertawakan Kyuhyun. In Sung segera menyuruh semua orang untuk diam.
“Ssssttt.. kalian bisa membangunkan bayi ini..”
Seketika suasana langsung hening. “Ngomong-ngomong Haebin, siapa nama bayimu?”
Haebin menoleh pada Donghae. namja itu tersenyum. “Kuserahkan soal nama padamu” tuturnya sambil terus menatap Haebin.
“Lee Hae Young. Sepertinya itu bagus.” Jawab Haebin.
“Omo… nama yang bagus.” Ujar yang lain setuju.

Tralilalila…

Eh, suara ponsel siapa tuh?? Tatapan semua orang langsung tertuju pada 1 namja. Kyuhyun.
“E, tenang, aku akan mengangkatnya” ujar Kyuhyun menyadari pandangan ‘ayo cepat angkat’ dari semua orang.
“Yeobseo”
“Chocobi, kau ada di mana?” Kyuhyun mendengus sebal saat suara jengkel Ja Rin menembus gendang telinganya.
“Wae? Sekarang ada perlu apa mencariku?”
“Temani aku. Sekarang aku sedang bosan setengah mati.”
“Kenapa kau tidak pergi mencari kegiatan lain saja? Misalnya, membersihkan rumahku atau mengajak Sherry jalan-jalan.”
“Ya!!! Itu tugasmu babo! Ayolah, kau ingin adikmu yang cantiknya minta ampun ini mati konyol karena overdosis kebosanan?”
“Mana ada orang yang mati gara-gara bosan. Ah, kau bicara saja dengan Kibum. Kebetulan dia ada di sebelahku.”
“Hei, aku tidak—“
Kyuhyun tidak menghiraukan ocehan ‘tidak setuju’ dari Ja Rin. Dia menyerahkan ponselnya pada Kibum.
“Terimalah” ucapnya.
“Nugu?” Kibum bingung. Ia menerima ponsel itu.
“Adikku yang katanya cantik minta ampun. Dia rindu padamu”

Adik? Sesaat Kibum bingung. Ah, ia seketika teringat Ja Rin. Kenapa Ja Rin ingin berbicara dengannya? Bukankah saat terakhir mereka bertemu Ja Rin memutuskan untuk tidak berhubungan lagi dengannya?
“Halo, Ja Rin” Kibum ragu sesaat. Untuk beberapa detik hanya keheningan yang ia dengar di ujung sana. Ja Rin tak kunjung mengeluarkan suaranya.
“Em, dokter Kim” Kibum mengerjap saat telinganya mendengar suara Ja Rin. Ada sesuatu dalam dirinya yang meluap keluar. Seperti perasaan bahagia dan lega. Tanpa sadar ia menyunggingkan seulas senyum.
“Iya. Ada perlu apa? Kyuhyun bilang kau..” Kibum ragu harus mengatakannya atau tidak. Jika ia mengatakannya itu akan terkesan ia terlalu percaya diri. Mana mungkin kan Ja Rin merindukannya.
“Aku merindukanmu”
Suara Ja Rin memang terdengar pelan. Namun itu cukup untuk membuat jantungnya tersentak. Kibum terkejut mendengar pernyataan yang sederhana dari Ja Rin.
“Ini memalukan sebenarnya. Dan aku pasti akan dicap sebagai wanita gampangan. Aku juga tidak tahu kau merasakan hal yang sama atau tidak. Tapi dibalik itu semua, hatiku ini tidak akan pernah bisa dibohongi Dokter. Aku memang rindu padamu. Maaf, lagi-lagi aku lancang”
Rentetan kata-kata itu makin membuat Kibum mematung di tempatnya berdiri. Entah apa yang ia rasakan sekarang. Tapi ia sudah tidak merasa menapaki bumi lagi. Ia seperti terbang di awang-awang. Cho Ja Rin, bagaimana mungkin bisa ada gadis sepertimu di dunia ini?
Gadis yang bisa dengan mudah mengatakan apa yang ada di dalam hatinya tanpa beban sedikitpun dan membuat perasaannya porak poranda di saat yang bersamaan. Lucunya, ia selalu speechless setiap usai mendengar ungkapan dari Ja Rin.
“Ja Rin” Kibum akhirnya memberanikan diri untuk menimpali ucapan gadis itu. Namun siapa sangka jika Ja Rin malah memutuskan sambungan.
“Loh, loh.. halo, halo, Nona Cho..” cecarnya. Kibum menatapi layar ponsel itu. Sial. Sambungan memang sudah terputus. Ia menggeram. Lalu dengan kesal mengembalikan ponsel itu pada pemiliknya.
“Cho Kyuhyun, adikmu gila!” tegasnya.
Kyuhyun terkekeh. “Asal kau tahu, Ja Rin itu dua kali, ah tidak. 10 kali lebih gila dariku”

Tak lama setelahnya Siwon datang. “Maaf semua, aku baru saja menyelesaikan rapat” ujarnya. “Apa Donghae junior sudah lahir?” ia menoleh pada bayi yang di gendong In Sung.
“Omonaa… jadi dia sudah lahir???” serunya lebay. Siwon tanpa membuang waktu segera menghampiri In Sung. Yang lain geleng-geleng kepala melihat tingkah Siwon.
“Aish..lucunya. kenapa mirip sekali denganmu, Haebin-ah” ucapnya. Ia mengelus pelan pipi bayi yang sekarang tengah tertidur lelap.
“Tapi dia namja Siwon-ssi” ucap In Sung.
“Nde??” Siwon mengerjap. Ia kira bayinya yeoja. Kibum menahan tawa melihat ekspresi aneh yang ditunjukkan Siwon. “Oh, tentu saja aku tahu” ucapnya terlanjur.

“Umma, Minnie ingin punya dedek bayi juga” pinta Minki setengah merengek pada In Sung. Sungmin dan istrinya mengerjap kaget mendengar celotehan polos Minki. Yang lain terkekeh.
“Omona, In Sung-ah. Kau sudah ditagih Minki agar segera memberikan dongsaeng” balas Eunhyuk. Ia melirik Sungmin. “Hyung, cepatlah hamili istrimu”
In Sung menunduk malu dan Sungmin berdehem. “Ekhem, Minnie, buat apa minta adik bayi sekarang? Kan sudah punya dedek Hae Young” Sungmin menggendong Minki.
“Shilo appa.. Minnie ingin dedek bayi sendili. Youngie kan punya Oppa Hae” ucapnya sambil menggembungkan pipi. Aish.. anak ini makin menggemaskan saja. kyuhyun saking gemasnya mencubit kedua pipi Minki.
“Huwee..Kyuyuun Shamchon galaaakk” Minki menangis. sungmin langsung memelototi Kyuhyun.
“Ya, dasar evil. Putriku jadi menangis.”
Kyuhyun salting dibuatnya. “Aish, kenapa kalau kucubit dia selalu menangis??” Kyuhyun bingung sendiri. Padahal jika dicubit oleh orang lain, Minki malah tertawa.

__o0o__

Ja Rin melempar ponselnya ke atas tempat tidurnya begitu ia mutuskan secara sepihak pembicaraannya dengan Kibum. Ia memandang histeris bercampur takut pada ponselnya sendiri.
“kau bodoh.. bukankah kau sendiri sudah berjanji untuk tidak berhubungan lagi dengannya????” Ja Rin menyesali dirinya yang lepas kendali tadi. Aneh memang, namun setiap kali ia mendengar suara Kim Kibum, otaknya selalu dibayangi hal aneh. Jantungnya berdegup tidak normal dan hatinya merasakan hal yang menakjubkan. ia jadi mengatakan hal yang di luar batas akal sehatnya.

__o0o__

“Huwa.. mana cucuku yang tampaann..” Tuan Lee langsung bersorak begitu masuk ke ruang rawat inap Haebin. pasca melahirkan, dokter meminta Haebin untuk beristirahat di sana. Ia masih terlalu lemah untuk pulang.
Tuan Lee-Appanya Donghae-segera menghampiri keranjang bayi tempat Donghae cilik itu terbaring. Bayi mungil itu tengah tertidur.
“Cucuku..” Tuan Lee menitikkan airmata saat melihat anak dari putranya. Ia sangat bersyukur karena masih bisa diberikan kesempatan untuk melihatnya lahir ke dunia. Tuan Lee menggendong pelan Hae Young, nama bayi yang kini dipangkunya itu.
“Aish.. tampannya sepertiku..” ucapnya bangga.

Leeteuk tersenyum saja. Ia menghampiri Haebin dan Donghae yang melihat keceriaan Appanya dari jauh.
“Bagaimana keadaanmu?” tanya Leeteuk.
“Baik. Oppa, kau kemari langsung dari bandara?” Haebin bertanya.
“Iya. Begitu mendengar cucunya sudah lahir, Tuan langsung memesan tiket penerbangan Karibia-Korea. Tak peduli saat itu di sana sedang tengah malam.” jelas Leeteuk sambil mengenang saat-saat ia kelimpungan mencari tiket pesawat di tengah malam seperti itu.
“Maaf sudah merepotkanmu Hyung.” Ujar Donghae.
“Jangan sungkan. Aku gembira melakukannya”

“Aish..kau ini manis sekali..” seru Tuan Lee. Otomatis bayi itu menangis mendengar seruannya.
“Appa, kau bisa membuatnya kaget jika terus berteriak seperti itu” seru Donghae sambil mendekati Appanya. Umma Donghae datang belakangan.
“Mana cucukuu..” serunya. Ia melirik Haebin. “Omonaa.. menantuku sudah jadi ibu sekarang..” serunya berhambur memeluk Haebin. “Bagaimana keadaanmu?”
“Baik Umma..”
“Umma, kau datang juga?” tanya Donghae
“Iya. Leeteuk yang memberitahu Umma. Aish, Umma sangat bahagia. Mana cucu Umma” ia mengedarkan pandangan. Matanya terhenti pada sosok namja yang selama hampir 20 tahun menjadi suaminya. dia sedang menggendong bayi. Ah, itu pasti cucunya.
“Cucuku..” lirih Umma terharu.
“Kenapa kau kemari?” tanya Tuan Lee sinis.
“Aish, aku ingin melihat cucuku”
“Siapa bilang ini cucumu? Ini cucu-ku”
“Ini juga cucu-ku. Anak dari Donghae adalah cucu-ku juga” keduanya malah terlibat adu mulut. Donghae segera melerai mereka berdua.
“Ya! Kalian ini tidak malu apa? Ini rumah sakit dan kalian malah bertengkar. Di depan istri dan anakku pula” ucapnya jengkel.

Haebin tersenyum. Sebenarnya melihat Tuan Lee dan Umma bertengkar itu sangat menggembirakan. Bukankah itu berarti mereka masih akrab. Lagipula cara mereka bertengkar malah terkesan romantis di mata Haebin.

__o0o__

“Mau pilih yang mana? Gaun yang model bahu terbuka atau bagian punggung yang terbuka?” tanya seorang perancang busana pada Ja Rin. Gadis itu tampak melamun. Pikirannya bukan tertuju pada sketsa gaun pengantin yang ditunjukkan Ms. Jang, perancang busana pengantin itu. Ia malah sibuk melamunkan Kibum.

Hangeng melihat keanehan itu meminta Ms. Jung untuk meninggalkan mereka berdua sementara waktu.
“Nona Ja Rin” Hangeng menyentuh pelan tangah Ja Rin, membuatnya tersentak kemudian tersadar dari alam khayalannya.
“I-iya..” Ja Rin gelagapan menjawab ucapan bernada cemas dari Hangeng.
“Kau melamun?” tanya Hangeng khawatir.
“Tidak.” Tegas Ja Rin seraya menggelengkan kepalanya.
“Lalu kenapa kau tidak konsentrasi menjawab pertanyaan Ms. Jung. Bukankah kita sedang mempersiapkan pakaian untuk pernikahan kita nanti?”
Deg.. Ja Rin berdebar mendengar kata keramat itu. Pernikahan. Itu adalah kata yang selama ini selalu ia anggap remeh. Tapi ternyata, saat ia menghadapi situasi menjelang peristiwa paling penting dalam sejarah hidup seorang wanita, kegundahan melanda dirinya. Ia jadi harus berpikir lebih dari 10 kali untuk meyakinkan diri bahwa pernikahan memang jalan terbaik untuk dirinya.

Sekali lagi Ms. Jung bertanya pada Ja Rin mengenai rancangan baju pengantin yang diinginkannya. Ia menolehkan kepalanya pada Hangeng.
“Kau ingin melihatku memakai gaun seperti apa?” pertanyaan Ja Rin membuat Hangeng mengerjapkan mata.
“Apapun yang kau pakai pasti membuatmu tampak sangat cantik.”
“Benarkah?” serunya. “Bagaimana jika aku memakai celana jins dan kaus ketat?” tanya Ja Rin lagi.
Hangeng terkekeh pelan. “Lelucon yang bagus Nona Ja Rin. Tapi orang-orang akan menganggapmu gadis gila. Dan itu pasti akan menurunkan derajatmu. Aku tidak mau istriku nanti menjadi gunjingan banyak orang.” Hangeng mengatakannya diselingi tawa ringan. Wajahnya tampak berseri. Yah, Tan Hangeng memang paling mempesona saat ia tersenyum dihiasi tawa ringan seperti itu. Ja Rin pasti sudah terpesona jika hatinya belum dicuri oleh Kibum.
“Ya sudah. Aku akan mengikuti apapun yang kau putuskan” Ja Rin menyerahkan semuanya pada Hangeng.
“Bagaimana kalau ini?” Hangeng memperlihatkan satu sketsa pada Ja Rin. Seketika gadis itu sedikit tersentak.
“Omo.. dengan punggung terbuka seperti itu??”
“Bukankah bagus?”
“Yah.. sepertinya begitu” Ja Rin tersenyum tipis. Karena sudah terlanjur, ia harus menyetujui segala pilihan Hangeng.

Setelah fitting baju pengantin, Hangeng mengajak Ja Rin berjalan-jalan sekitar central park. Mereka berjalan berdampingan. Sesekali mereka mengobrol untuk menghilangkan jenuh. Terkadang juga mereka terdiam dalam pikiran masing-masing.

__o0o__

Kibum baru saja membeli beberapa hadiah yang akan diberikannya pada Haebin. hari ini ia datang sedikit terlambat ke rumah sakit. Ia harus menyerahkan kado ini segera karena Haebin sudah pulang ke rumahnya sejak tadi pagi.

Tapi entahlah, mungkin hari ini adalah hari sial bagi dirinya. Bagaimana mungkin, di sekian banyaknya tempat di kota itu, kenapa ia harus bertemu dengan yeoja itu di sana? Kibum terpaku melihat sosok yang tengah berjalan tak jauh di depannya. Hatinya bergemuruh. Kenapa? Karena ia melihat Ja Rin sedang bersama dengan seorang namja. Omona.. siapa dia?

To be continued..

43 thoughts on “Shady Girl Kibum’s Story (Part 8)

  1. aigoo.. chukkae eoh haeppa.. nae nampyeon number wahid.. wkwk

    bummiee oppa, jgn jdi namja yg pengecut ahh,, aku tak suka. nyatakan lah perasaan mu pda ja rin, sblum smw’a trlambat

  2. Haebin lahir y juga deh,,, bahagia semua y dapet keponakan lg selain minki n sekarang Namja…
    kibum jd galau deh ditinggal sama ja rin yg nyerah tp ja rin y masih ngungkapun rasa y dia ke kibum…
    makin seru…

  3. Kibum cemburu y liat ja rin sm gege hangeng???kekekekeke..mk’y cpt kjr ja rin klo tlat ntr kbru d’ambil sm org lain..

  4. Kibum terbakar cemburu. Knpa jd suka ama kibum ya. Andaikan dia msh di suju, kibum itu manis sekali dan tk bnyak bicara. Omo. . knp disini kyuhyun jenaka sekali, itu bukan ciri khas kyuhyun sekali.

  5. Seneng akhir nya Haeppa n Haebin jadi orangtua. Tuh sungmin appa minnie mau punya dedek bayi juga, kasihlah supaya gak kesepian wkwkwk

    Cemburu? ada yang cemburu nih? siapa lagi kalo bukan dokter kim hahah
    Makanya cepet kasih tahun perasaan yang sebenernya

  6. Ciee dongek udah jadi appa *-*
    Eh kok sampe sini kibum masih galau saamam perasaannya sendiri sih -_-”

    Daebak eonnie-yaa

  7. Pasangan Donghae Haebin sdg brbhgia,,krn mndpt anggota klrga bru yaitu anaknya…
    Sdgkn anggota klrg Kyuhyun,,adiknya lg brgalau ria…

Your comment

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s