Shady Girl Kibum’s Story (Part 7)

Tittle : Shady Girl Kibum’s Story Part 7
Author : Dha Khanzaki a.k.a Shin Je Young
Genre : Romance, Family

Main Cast :

  • Cho Jarin
  • Kim Kibum

Support Cast :

  • Cho Kyuhyun
  • Lee Donghae
  • Choi Siwon
  • Hangeng

Udah lama juga gak posting FF lagi akhirnya dapet kesempatan juga. meksipun malem-malem tapi aku tetep meluangkan waktu untuk posting ^^ *curcol*

Okelah, daripada membuang waktu, lebih baik check this out aja ^^

Warning : typo bergentayangan

Shady Girl Kibum's Story by Dha Khanzaki1

—-o0o—-

Part 7

Rasa panik jelas menyerang Kibum detik itu. Melihat tetes demi tetes airmata terus mengalir dari sudut mata Ja Rin membuat hatinya seperti tersayat sebuah pedang panas. Pedih. Ia ingin sekali menghentikannya tapi tidak tahu bagaimana caranya. Haruskah ia mengikuti apa yang selalu terjadi dalam film-film romantis? Baik, sepertinya memang hanya itu cara terbaik yang dapat ia lakukan sekarang. Kibum perlahan mendekati Ja Rin, tangannya terulur menarik tubuh gadis itu dalam dekapannya.

Untuk sesaat tangisan Ja Rin sempat terhenti. Ia terkejut sekaligus tak percaya. Kibum kini sedang memeluknya. Dekapannya terasa hangat dan nyaman.
“Maaf, aku tidak tahu harus melakukan apa untuk menghiburmu. Tapi hanya ini yang terpikirkan olehku” ungkap Kibum pelan. Kesungguhan Kibum untuk menghentikan tangisannya justru membuat Ja Rin semakin sedih dan terharu. Tangisannya pun kembali pecah.
“Aish, aku memelukmu bukan untuk membuatmu menangis. tapi untuk membuatmu tenang Nona Cho” Kibum panik sendiri.
“Mianhae..” hanya kata itu yang keluar dari mulut Ja Rin. Dalam situasi seperti ini, Ja Rin justru semakin rapuh. Saat ada orang yang menguatkannya, ia justru semakin ingin menangis hingga puas. Ia ingin seseorang mendengarkan semua tangisannya.

__o0o__

Malam semakin larut. Ja Rin sudah berhenti menangis. Kibum pergi sebentar mencarikan minuman hangat untuk Ja Rin. Kepala Ja Rin terdongkak menatap langit malam itu. Angin musim panas membuatnya sedikit menggigil.
“Ini” sebuah tangan terulur ke arahnya tengah memegang secangkir coklat panas. Ah, ini kan minuman kesukaannya.
“Gomawo” Ja Rin tersenyum tipis lalu mengambilnya. Kibum tersenyum lega. Syukurlah Ja Rin sudah tidak sedih lagi. Ia duduk di sebelah Ja Rin. Menghadap ke arah pantai yang jauh dari keramaian kota.
“Maaf Dokter, kau jadi ikut susah karena aku.” Ja Rin menunduk menatap coklat panas di tangannya. Ia benar-benar tidak enak sudah menyusahkan Kibum.
“kau terlalu banyak meminta maaf hari ini. Sudahlah, aku juga tidak keberatan kok”

Keduanya terdiam sejenak. Tenggelam dalam pikiran masing-masing.
“dokter, kenapa kau datang? Bukankah kau bilang tidak bisa datang?” Ja Rin bertanya dengan suara pelan.
“Ah, itu. Sebenarnya, saat kau pergi setelah memintaku mengantarmu, aku terus mencemaskanmu. Ini aneh memang. Kebetulan tadi pekerjaanku selesai lebih cepat. Jadi aku memutuskan untuk menyusulmu. Dan aku bersyukur melakukannya. Karena jika tidak, entah apa yang terjadi padamu” Kibum melirik Ja Rin. Ekspresi gadis itu kembali suram.
“kenapa mereka memperlakukanmu seperti itu? Mereka teman-temanmu bukan?” Kibum mendadak penasaran sekali dengan kejadian yang dilihatnya sebelum ia menolong Ja Rin.

Ja Rin tak menjawab. Cukup lama juga ia tampak tengah merenung. Ja Rin mengangkat kepalanya, pandangan matanya yang kosong menatap laut. Menyiratkan sesuatu yang tidak menyenangkan.
“Dokter Kim, asal kau tahu. Aku ini adalah gadis jahat.” Ucapnya. Seketika Kibum mengerjap kaget. Gadis jahat? Apa maksudnya? Kibum menatap lekat-lekat gadis itu. Ja Rin tersenyum pahit.
“Aku ini arogan, keras kepala, egois, angkuh, memiliki gengsi yang tinggi, tidak tahu malu, dan kasar. Memang banyak orang yang mengagumiku yang dari luar tampak sempurna. Tapi, orang-orang yang membenciku jauh lebih banyak. Tak heran jika aku selalu ditinggal pergi oleh pacar-pacarku. Aku ini gadis murahan”
“Nona Cho, itu tidak benar—“
“Ani. Memang begitulah aku” potong Ja Rin. “Aku memang pantas dipermalukan seperti tadi. Aku sadar betapa arogannya diriku selama ini. Dan kejadian tadi, adalah hasil dari perbuatanku di masa lalu. Aku sadar sekali itu” suara Ja Rin mulai berat. Tidak, sepertinya ia akan menangis lagi. “Dan kau dokter, bukankah kau juga melakukan hal yang sama kemarin? Kau menghindariku karena menganggapku gadis murahan yang mengerjar-ngerjamu. Iya kan? Aku sadar sekali. Aku memang tidak pantas dicintai oleh namja” Airmata yang semula menggenang kembali meleleh di pipinya.

Bukan!! Aku bukan menghindarimu karena itu. Aku.. aku hanya bingung! Aku bingung dengan perasaan yang selalu hadir saat kau ada Nona Cho. Kau bukan gadis murahan ataupun jahat. Semua itu tidak benar!! Kibum ingin sekali mencurahkan semua isi hatinya pada Ja Rin agar gadis itu sadar bahwa dirinya tidak seburuk itu. Namun mulutnya tidak bergerak sedikitpun. Dan ia malah mencengkram minuman kaleng ditangannya hingga isinya meluber keluar. Kim Kibum, kenapa dirimu sangat pengecut seperti ini??

“dokter, sebaiknya kita tidak perlu bertemu lagi” Ja Rin menghapus airmatanya. Kibum sekali lagi terbelalak kaget.
“Kenapa?” tanyanya kaku.
“Kau sudah tahu seperti apa aku. Dan aku tidak bisa lagi menunjukkan diriku yang menyedihkan di hadapanmu. Cukup sampai di sini saja pertemuan kita. Aku tidak akan mengganggumu lagi. Semoga kau bahagia, Dokter.” Ja Rin berdiri lalu menundukkan kepalanya.
“Aku akan membalas kebaikanmu di lain hari” Ja Rin berbalik pergi.

Kajima!!! Teriak Kibum dalam hati. Ia tidak mau berpisah dengan Ja Rin. Sungguh. Kenapa gadis itu memutuskan ini seenaknya. Setelah dia membuatnya kebingungan dengan perasaan aneh yang selalu di rasakannya, gadis itu akan pergi begitu saja??? Tidak bisa!! Kibum baru akan melangkah untuk menyusulnya namun di saat yang bersamaan Ja Rin membalikkan badannya. Membuat langkahnya terhenti. Ja Rin tersenyum. Perlahan ia mendekati Kibum.
“Dokter, bolehkah aku melakukan sesuatu sebelum kita berpisah?”
Mendengar pertanyaan itu membuat jantung Kibum berdebar cepat. Mungkinkah yang dilakukan Jarin sama seperti yang ada di pikirannya?
“Apa?” hanya sekedar formalitas, Kibum bertanya. Tapi sungguh, Kibum tidak mau sampai hari ini adalah hari terakhir mereka bertemu. Baginya, Ja Rin sudah menjadi kepingan penting tersendiri dalam hidupnya.

Ja Rin tidak menjawab. Ia mendekatkan wajahnya ke hadapan wajah Kibum. Namja itu tidak bergerak dari tempatnya berdiri sedikitpun. Ia menerima apapun yang akan Ja Rin lakukan padanya.

Chu~

Seperti yang ia duga, Ja Rin mengecup bibirnya meski durasinya tak lebih dari 3 detik. Kibum belum sempat menyiapkan dirinya untuk menerima perlakuan Ja Rin namun gadis itu sudah menjauhkan dirinya. Ia menatap mata Ja Rin. Dari iris mata gadis itu, ia dapat melihat binar kesedihan.
“Setelah ini, semoga hidupmu lebih bahagia Dokter” lirih Ja Rin. Ia benar-benar pergi sekarang. Gadis itu menyetop taksi dan menghilang dari hadapannya tanpa menoleh lagi ke arahnya. Kibum terpaku. Tubuhnya bergetar.

Cho Ja Rin, kenapa kau pergi? kau bahkan belum mendengarkan pendapatku.. batinnya sesak. Airmata itu menyeruak begitu saja dari pelupuk matanya. Saat ini, adalah kali pertamanya ia menangisi seorang yeoja. Alasannya sama sekali berbeda dengan saat menangisi Yoona dan Taeyeon dulu. Ini alasan yang lebih menyesakkan lagi.

Tuhan, kenapa kau menghadiahkanku perasaan seperti ini??? Kibum meremas baju bagian dadanya. Di sana, terasa begitu pedih dan sesak.

__o0o__

Rumah itu tampak seperti sebelum ia pergi. ja Rin menatapnya dengan airmata menggenang. Tempat inilah yang terpikirkan olehnya jika ia sedang ‘melarikan diri’. Ja Rin memencet tombol keamanan rumah itu dan masuk setelahnya. Ia melihat anjing Kyuhyun, Sherry, tengah tertidur di atas sofa ruang tamu. Ia bahkan tidak tahu apa kakaknya itu ada di rumah. Dengan berat hati, Ja Rin melangkahkan kakinya menuju lantai dua. Ia ingin tidur.

Namun saat kakinya melewati beranda, samar-samar ia mendengar suara dentingan senar gitar dari sana. Ja Rin mengerjap. Mungkinkah Kyuhyun ada di sana?? Ja Rin melupakan niatnya untuk tidur. kakinya melangkah ke sana tanpa ia sadari. Di beranda atas yang cukup luas serta indah dan terdapat beberapa pohon yang tertanam di dalam pot, duduk Kyuhyun di atas sebuah sofa. kakaknya itu sedang memainkan gitar sambil bersenandung.

Ja Rin merasa dadanya sesak lagi. Suara kakaknya itu memang merdu. Bahkan mampu menenangkan hatinya yang bergemuruh sekalipun. Tapi kenapa kali ini ia merasa sangat sedih dan iri. Andai saja ia memiliki kemampuan yang sama sepertinya, mungkin sekarang ia tidak akan pulang dengan kondisi menyedihkan seperti ini.

Kyuhyun sedang bersenandung lagu Westlife ‘I have a Dream’. Mendadak nyanyiannya itu terhenti saat ia menyadari kehadiran seseorang di belakangnya. Ia menoleh.
“Omo, Ja Rin??” serunya kaget. Sejak kapan adiknya berdiri di sana? Dan mengapa kondisinya seperti itu?? “Kau kenapa Ja Rin? Kau tampak, errr” Kyuhyun tidak tega menjabarkan keadaan Ja Rin. Baginya itu sama saja mengenaskan dengan kondisi tempat yang baru tersapu tsunami. Ja Rin mendekat, ia kemudian duduk di samping Kyuhyun.
“Aku baru mendapatkan musibah.” Jawabnya datar.
“Musibah?” Kyuhyun tidak mengerti. Benarkah dia baru terkena musibah? Musibah apa tepatnya? Ja Rin memakai gaun malam. kira-kira musibah seperti apa? Namun melihat ekspresi Ja Rin, Kyuhyun tidak berani bertanya.
Ja Rin ingin sekali menangis. tapi ia masih menahannya.
“Oppa..” ucap Ja Rin. Kyuhyun agak terkejut mendengarnya.
“Ah, kau menjadi sopan begini saat ingin meminta bantuanku kan?” tebak Kyuhyun. Ja Rin mengangguk. Ia menyandarkan kepalanya pada bahu Kyuhyun.
“Nyanyikan sebuah lagu untukku” pintanya. “Lagu yang bisa membuatku tenang”
Kyuhyun tersenyum tipis. Ja Rin sejak dulu tidak pernah berubah. Jika sedang sedih, ia pasti akan datang menemuinya dan memintanya untuk bernyanyi. Dan sampai kapanpun, Kyuhyun tidak akan menolaknya. Dengan senang hati ia akan mengabulkan permintaan sederhana adiknya itu.

Kyuhyun mulai memetik gitar, memainkan beberapa nada awal. Lambat laun suara merdunya pun mulai terdengar.

There’s a song that’s inside of my soul
It’s the one that I’ve tried to write over and over again
I’m awake in the infinite cold
But you sing to me over and over and over again

So I lay my head back down
And I lift my hand and pray
To be only yours I pray,
To be only yours I know now
You’re my only hope

Mendengar suara Kyuhyun, Ja Rin memang merasa lebih tenang. Namun di sisi lain, hatinya makin sedih. Ja Rin akhirnya mengeluarkan tangisannya lagi. Ia menutup mulutnya dengan telapak tangannya.

“Mulai detik ini, aku harus melupakannya” lirihnya pelan. Kyuhyun berhenti memainkan gitarnya. Namun ia tetap menyanyi. Kini tangannya ia gunakan untuk memeluk adiknya.
“Apa terjadi sesuatu antara kau dengan Kibum?” tanya Kyuhyun lembut.
Ja Rin mengangguk. Ia tetap menangis.
“Sebentar lagi aku akan menikah. Dan aku akan melupakan Dokter Kim”

Kyuhyun terdiam. Sebaiknya kau membatalkan niatmu itu jika pada akhirnya hatimu yang akan tersakiti seperti ini.

__o0o__

“Dokter Kim, maaf aku memintamu kemari” ucap Haebin tidak enak hati. Hari ini Kibum datang ke rumahnya untuk memeriksa kondisi kesehatan janin Haebin. harusnya dokter lain. Tapi berhubung Kibum memang ingin ke rumahnya, jadi sekalian dia saja yang mengecek. Hanya mengecek kan. Itu bukan hal sulit.
“Tidak apa-apa” Kibum tersenyum. “Apa kau belum merasa ada kontraksi? Ini sudah masuk bulan ke sembilan. Bukankah seharusnya minggu ini perkiraan kau melahirkan?”
Haebin menggeleng. “Belum. Setiap hari aku selalu berdebar menantikannya. Em, Dokter, apa saat melahirkan nanti akan sakit?” tanyanya polos. Kibum tersenyum.
“Tidak jika kau sangat menantikan kehadiran bayimu” jawabnya. Yah, ia tidak tahu sakit atau tidak. Ia kan tidak pernah melahirkan.

Kibum terdiam. Ia melirik Haebin yang tengah mengelus perutnya dengan penuh kasih sayang. Donghae sedang berada di kantor karena ada rapat penting. Jadi tidak menemaninya padahal Haebin sedang sangat butuh perhatian di detik-detik penting seperti sekarang.
“Haebin-ah, kau ini seorang psikolog kan?” tanya Kibum. Haebin mengangguk.
“Kenapa? Kau ingin berkonsultasi denganku?”
Ah, ternyata mudah sekali tertebak. Kibum salah tingkah dibuatnya. “Sebenarnya bukan konsultasi. Aku hanya ingin bercerita beberapa hal. Dan aku ingin mendengar pendapatmu”
Haebin mengangguk semangat. “Ceritakanlah. Kebetulan aku bosan.”

Kibum mulai menceritakan kisahnya dan keluarganya. Tentang dia yang begitu kesepian karena tidak pernah diperhatikan oleh orang tuanya, tentang Appanya yang lebih memilih Heechul daripada dirinya dan banyak lagi.
“Nah, menurutmu, apa pikiranku ini terlalu berlebihan?” tanya Kibum di akhir ceritanya. Haebin terdiam.
“Ada seseorang yang pernah bilang kalau aku itu berlebihan. Aku terlalu berlebihan memikirkan nasibku sendiri. Apa itu benar?” Kibum menatap Haebin meminta jawaban sesegera mungkin darinya.
Haebin tersenyum pelan. “Rasanya aku mengerti bagaimana perasaanmu, Dokter” ucap Haebin. Kibum melihat perubahan ekspresi Haebin. kini ia tampak sedih.
“Aku juga pernah merasakan hal yang sama. Orangtuaku lebih mempedulikan kakakku sementara kau terabaikan. Saat itu aku merasa sendirian. Setiap hati yang kualami adalah rasa kesepian. Itu membuatku sangat sedih dan frustasi.” Haebin mengenang masa lalunya yang kelam itu. Kibum tercengang. Omona, siapa sangka jika ternyata ada orang lain yang mengalami nasib serupa dengannya.
“Tapi aku tetap menyayangi mereka. Orangtuaku bukannya membenciku. Mereka hanya lupa untuk lebih memperhatikanku. Jadi, memang benar. Pikiranmu sedikit berlebihan”
Kibum mengerjapkan matanya. Bagaimana mungkin jawaban Haebin pun sama dengan yang pernah ja Rin ucapkan dulu. Dan sekarang, ia justru teringat pada yeoja itu!
“Cobalah untuk melupakan masa lalu dan lebih menyayangi orangtuamu. Bagaimanapun kau tidak akan menjadi seperti sekarang tanpa mereka.”

Kibum mengangguk paham. Ia akan mencoba mengikuti saran dari haebin. sekarang, ia ingin bertanya hal lain.
“Aku juga ingin bertanya soal lain. Em, ada seorang yeoja. Dia..” Kibum menggantungkan kalimatnya.
“Oh, apa yeoja yang bersamamu di mall tempo hari?” tanya Haebin senang. Pernyataan Haebin membuat Kibum melonjak kaget.
“Bagaimana kau tahu?”
“Ah, itu, aku tanpa sengaja melihatmu di sana.. kalian tampak akrab.” Haebin tersenyum aneh. Yah, jika sudah tahu harus bagaimana lagi?
“ya. Memang dia. Aku merasa ada yang aneh sejak bertemu dengannya.” Aku Kibum.
“Aneh? Contohnya?” Haebin tak paham.
Kibum menunduk, ia memegang dadanya sendiri. “Di sini, rasanya aneh. Jantungku berdebar cepat setiap kali dia ada di dekatku. Dan saat dia memutuskan untuk pergi, hatiku, semakin sakit.”

Haebin menjentikkan jarinya membuat Kibum mengerjap. “Jawabannya sederhana, Dokter. You’re falling in love with her”
“Mwo? Aku, apa? Jatuh cinta?” Kibum terdiam. Ia lalu menggeleng. “tidak mungkin.”
“Tentu saja. Itu jawaban satu-satunya yang paling masuk akal. Jika bukan, apa kau tahu jawaban lain?”
Kibum terdiam. Mungkin benar. Dia jatuh cinta pada Ja Rin. Omona.. ini tidak mungkin..

“Kalau begitu terima kasih..” ucapan Kibum terhenti karena ia melihat Haebin tampak kesakitan.
“Dokter.. perutku..” ucapnya menahan sakit. Haebin mencengkram erat lengan kemeja Kibum. Namja itu terbelalak. Aigoo, jangan bilang Haebin akan melahirkan!! Kibum panik.
“Sepertinya kau akan melahirkan. Haebin-ah, sebaiknya kita segera ke rumah sakit..” Haebin mengangguk kepayahan. Ia tak kuasa menahan sakit saat kontraksi.

Kibum memapah Haebin keluar rumah. Haebin masuk ke dalam mobilnya. “Haebin, kau harus bisa menahannya. Kita akan segera ke rumah sakit..” Ujar Kibum. Haebin mengangguk. Bulir-bulir keringat mengalir di pelipisnya. Rasanya sangat sakit. Seperti ada sesuatu yang menarik-narik di dalam perutnya.
“AAHhh…” haebin menjerit keras sambil mencengkram lengan Kibum yang tengah menyetir. Kibum makin panik saja. Sambil menyetir, ia juga menelepon Donghae.

__o0o__

Donghae merasa tidak tenang selama rapat berlangsung. Matanya tak henti-hentinya menatap jam tangan. Aduh, kapan rapat ini akan selesai?? Tiba-tiba saja ponselnya berbunyi.
“Yeobseo” Donghae cepat menjawabnya.
“Donghae, cepat kau ke rumah sakit! Istrimu akan segera melahirkan!!” cecar Kibum di ujung sana.
“MWORAGOOO!” teriak Donghae sambil berdiri. Semua orang di ruang rapat lansung saja menoleh ke arahnya.
“Ada apa?” tanya Siwon heran. Donghae tampak begitu panik. Tanpa menjawab, Donghae segera membereskan berkas-berkas yang ada di meja hadapannya.
“Siwon, aku serahkan rapat ini padamu” ucapnya buru-buru.
“He? Lagi..???” serunya. Donghae mengangguk meminta pemahaman darinya.
“Istriku akan melahirkan..” ucapnya lalu bergegas pergi.
Siwon langsung paham. Ia segera mengambil alih posisi Donghae sebagai pemimpin rapat.
“Ekhem. Tuan Lee ada keperluan sangat penting jadi terpaksa harus meninggalkan rapat. Jadi selanjutnya, aku yang akan memimpin” ucap Siwon menenangkan peserta rapat yang mulai gusar.
“Kali ini ada apa lagi?” tanya salah satu dewan direksi. Siwon tersenyum.
“Karena Tuan Lee Donghae sebentar lagi akan menjadi Appa”

__o0o__

“Kau siap Ja Rin?” tanya Appa. Di saat Kibum panik menghadapi Haebin yang akan melahirkan, Ja Rin justru sedang menghadiri acara pertemuan dengan calon suaminya di sebuah restoran ternama di hotel milik Cho Corp.
Ja Rin yang saat itu memakai gaun sebatas lutut yang sangat indah mengangguk pelan. Ia pasrah saja. Seperti apapun calonnya nanti, ia harap akan lebih baik dari Kibum.
“Tapi dia mana Appa? Aku sudah tidak sabar menantinya..” Ja Rin menghentak-hentakkan kakinya tak sabar. high heelsnya berbenturan langsung dengan lantai dan menimbulkan suara berisik.
“Berhenti menghentakkan kakimu sayang. Itu tidak sopan” bisik Umma. Ja Rin menurut. Ia langsung diam.
“Dia sedang dalam perjalanan kemari. Sabarlah. Dia kan datang langsung dari China. Pasti akan lama” Appa menenangkan. “Lagipula mana anak tengik itu. Kenapa tidak datang ke acara pertemuan keluarga seperti ini” Appa menggerutu soal Kyuhyun. Seperti biasa, anaknya yang satu itu pasti menghindari acara keluarga seperti ini.
“Dia sibuk mengurus perusahaannya Appa, cobalah mengerti sedikit” keluh Ja Rin. Kenapa Appanya tidak pernah bisa paham?

“Ah, itu dia..” ujar Appa saat orang yang dimaksud datang. Ja Rin menoleh. Ia mengerjap kaget saat melihat calon suaminya itu. Omona, apa matanya tidak salah melihat? Namja itu, tampan sekali. Dia tampak dewasa dan mengagumkan.. dan caranya berjalan, oh Tuhan.. mencerminkan bahwa ia adalah orang yang berkepribadian baik.

Namja itu tersenyum ramah lalu menundukkan kepalanya saat sudah berada di depan Ja Rin dan keluarganya.
“Annyeong haseyo..” ucapnya. Appa, Umma dan Ja Rin berdiri untuk membalas salamnya.
“Akhirnya kau datang juga. Kau hanya datang sendiri? Mana orang tuamu?”
“Mereka sedang berlibur ke Jerman” jawabnya ramah.
“Ah, sudah kuduga. Mereka itu memang sangat mesra seperti pengantin baru.” Appa tertawa pelan. Ja Rin mendengus kesal melihatnya.
“Oh, iya. Ini dia putriku. Namanya Cho Ja Rin”

Ja Rin tersentak saat namanya di sebutkan. Namja itu sekarang menghadap ke arahnya. Ja Rin tersenyum membalas senyuman namja itu yang kelewat manis.

“Hallo Nona Cho Ja Rin. Namaku Joshua Tan. Tapi aku senang kalau kau memanggilku Hangeng.” Ucapnya.
Tak ada ucapan yang keluar dari mulut Ja Rin. Karena detik itu juga, ia terpaku pada senyuman manis namja bernama Hangeng itu.

To be continued…

53 thoughts on “Shady Girl Kibum’s Story (Part 7)

  1. Knp hrus trlmbat mngkuinya,,bhw km udh jtuh cinta ama Jarin….
    Wahh Donghae sbntr lg mnjdi Ayah,,,snengnya….
    Jgn bilng Jarin trpesona ama Hangeng hahahahah

Your comment

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s