Kanpeki Na Bad Girl (Part 8)

Tittle : Kanpeki Na Bad Girl Part 8
Author : Dha Khanzaki a.k.a Shin Je Young
Genre : Romance, Married Life

Main Cast :

  • Shin Nara
  • Cho Kyuhyun

Support Cast :

  • *find by yourself*

Warning : banyak typo dan maaf kalau gak rame. FF ini hasil dari kerja keras author loh. jadi di mohon jangan memplagiat yah… ^^

Kanpeki Na Bad Girl by Dha Khanzaki2

—-o0o—-

Part 8

Kyuhyun POV

“Oppa, kau ingin sarapan apa pagi ini?”

Kepalaku terangkat dari koran yang kubaca lalu tertoleh ke sosok Nara yang sedang asyik berkutat di pantry dapur, menyiapkan sarapan. Ini adalah rutinitasnya setiap pagi.
“Terserah padamu saja, chagi..”
“Bagaimana kalau sandwich..” ucapnya riang sambil meletakkan sepiring sandwich di depanku. Senyum manis yang selalu hadir di wajahnya membuatku kembali berdesir senang. Nara benar-benar berubah semenjak hamil. Justru hal itu lah yang membuatku semakin sulit untuk melepasnya. Sekarang dia menjadi yeoja yang penurut. Apapun yang kukatakan padanya, ia selalu melakukannya tanpa membantah. Aku sangat senang melihatnya, sungguh. Tapi bersamaan dengan itu pula aku merasa sangat sedih. Bukankah dengan begitu, waktu perpisahan kami semakin dekat.
“Gomawo..” tanganku terulur untuk mengusap pipinya lembut. Segera saja kumakan sandwich yang sudah susah payah dibuatkannya untukku. Nara melihatku makan dengan tekun. Gadis ini, dia selalu bisa membuatku gugup.
“Kau sudah makan?” aku bertanya untuk menghindari rasa canggung yang menyerang saat ini. Nara mengangguk cepat.
“Aku sudah menghabiskan satu porsi salad..” ungkapnya senang. Aku tersenyum simpul. Pandanganku perlahan teralih ke arah perut istriku yang mulai membesar itu. Usia kandungannya telah menginjak lima bulan. Aku mendekati lalu mengulurkan tanganku untuk mengusap perutnya. Entah kenapa aku selalu ingin menangis jika melihat perut Na Ra yang membesar ini. Tak akan lama lagi aku akan menjadi ayah.
“Aegi, jangan menyusahkan Eommamu, ne. Jadilah anak baik selama di dalam sana. Dan tumbuhlah menjadi anak yang sehat dan pintar..” ucapku dengan mata berbinar. Ketika kuangkat kepalaku, aku agak terkesiap melihat Nara menatapku dengan mata berkaca-kaca.
“Kenapa chagi? Ada yang salah?” tanyaku cemas. Nara menggeleng cepat lalu menggeser duduknya untuk memelukku.
“Aku senang mengetahui Oppa begitu menantikan bayi kita lahir.. Terima kasih. Ini membuatku siap menghadapi masa persalinan nanti..” gumam Nara di dadaku. Aku tersenyum tipis. kugenggam erat tangannya sebagai pernyataan bahwa aku akan selalu ada hingga ia melahirkan nanti. Namun, aku tidak bisa membayangkan apa yang terjadi setelah bayi kami lahir. Aku, akan kehilangan Shin Nara, istri yang paling kusayangi.
“Tentu saja. aku sangat menyayangimu dan bayi kita..” ucapku tulus. Kuangkat wajahnya lalu kukecup lembut bibirnya yang memerah. Nara menyambutnya dengan sangat baik dan kami mengawali pagi ini dengan ciuman mesra yang mungkin suatu saat nanti hanya akan menjadi kenangan manis dalam memoriku.

—o0o—

“Presdir, Nyonya datang berkunjung..”

Kepalaku tertoleh cepat mendengar ucapan sekretarisku yang berdiri di ambang pintu ruang kerja. Shin Nara datang kemari? Tidak biasanya. Kubereskan tumpukan berkas yang sedang kutandatangani lalu merapikan sedikit penampilan.
“Persilakan dia masuk..” ucapku tenang. sekretaris itu mengangguk dan tak lama sosok Nara masuk ke dalam ruangan dengan wajah ceria. Penampilannya tetap modis meski dalam kondisi hamil. Dan itulah keistimewaan Shin Nara. Dia selalu tampil cantik dalam busana apapun. Satu hal lagi yang membuatku makin mencintainya adalah, ia benar-benar sudah berubah menjadi Shin Nara yang kukenal dulu. Tak ada lagi Nara si gadis nakal. Dia tidak pernah meminum alkohol lagi, berpakaian minim dan seksi, apalagi pergi ke klub.

“Oppa..” serunya dengan senyum seindah bunga sakura yang mekar di musim semi. Dia berjalan menghampiriku dan aku segera bangkit menyambutnya.

Chup..

Aku mendaratkan kecupan ringan di bibir lalu mengusap pipinya yang tersipu. Sejak mengandung, Nara tidak pernah lagi protes saat aku menciumnya dengan tiba-tiba bahkan ia nyaris selalu senang jika aku melakukannya. Apa mungkin itu pengaruh bayi dalam rahimnya? Aigoo, dia pasti menjadi anak yang penurut jika lahir nanti.
“Tidak biasanya kau kemari. Ada apa?” tanyaku heran. Kubimbing dia untuk duduk di sofa set yang disediakan di ruang kerjaku yang luas. Aku duduk di sampingnya.
“Aku ingin mengajakmu keluar untuk makan siang, Oppa.” Ujarnya sambil memegang tanganku.

Aku mengerjap kaget. “Pergi keluar?” tanyaku ragu. Kulirik sekilas tumpukan berkas yang harus kukerjakan hari ini lalu berganti menatap ekspresi memohon Nara. Oh, aku tidak tega menolaknya dengan raut seperti itu.
“Ayolah Oppa..hanya makan siang dan jalan-jalan. Kita tidak pernah pergi keluar bersama dan aku sangat bosan di rumah. Temani aku sekali ini saja..” pintanya setengah merengek.
“Tapi..” sela ku bingung. Aku masih ragu untuk meninggalkan pekerjaan itu tapi, saat ini Nara adalah prioritasku. Akan kukerjakan tumpukan file itu sepulang menemani Nara nanti.
“Oppa..” tangan Nara menangkup kedua sisi wajahku dengan lembut. Hal ini membuatku bertatapan langsung dengan wajahnya yang cantik seperti dewi.
“Kau sudah terlalu banyak menghabiskan waktu dan tenaga untuk bekerja dan menjagaku. Jadi, sekarang aku ingin mengajakmu rekreasi. Menghilangkan beban yang menghimpitmu sejenak. kumohon, sehari bolos bekerja tidak akan membuat perusahaan bangkrut..” ucapnya sungguh-sungguh. Kalimatnya berhasil membuat pertahananku runtuh. Baiklah, jika itu memang keinginanmu, ratuku. Aku akan mengabulkannya.

Aku menghela napas kalah. “Baiklah..”
“Jinjja yo???” senyum yang indah kembali merekah di bibirnya. Nara memeluk leherku erat lalu mengecup pipiku dengan mesra. “Gomawo..” bisiknya. Bibirku tersenyum. Nara, kau ini benar-benar..

—o0o—

Author POV

“Oppa lihat. menurutmu sepatu ini lucu atau tidak?”

Nara menghampiri Kyuhyun dengan sepasang sepatu bayi berwarna biru di tangannya. Setelah makan siang, ia sengaja mengajak suaminya yang workaholic itu pergi ke sebuah toko perlengkapan bayi di pusat kota. Dan ini kali pertama mereka pergi bersama keluar. Rupanya Nara benar, jalan-jalan seperti ini membuat pikirannya rileks dan jiwanya ringan. Beban-beban yang menghimpitnya seperti menguap bersama udara.

“Lucu sekali chagi, tapi bukankah kita sudah memiliki banyak yang seperti itu di rumah?” ucap Kyuhyun. Memang, untuk soal perlengkapan bayi dan segalanya baik Kyuhyun ataupun Nara tidak perlu memusingkannya. Mereka mendapat hadiah banyak sekali perlengkapan bayi dari kedua orang tua mereka yang terlalu bersemangat dan tidak sabar ingin cepat memiliki cucu.
Nara merengut sedih. “Memang benar. tapi aku ingin berbelanja perlengkapan bayi sendiri..” ungkapnya. tak bisa dipungkiri ia pun ingin merasakan sensasi menyenangkan ketika memilih pakaian ataupun aksesori untuk anaknya.
Kyuhyun tidak tega melihat wajah sedih istrinya. Lantas ia menghela napas lalu mengambil sepatu itu. “Arra.. kalau begitu kita beli saja..”
“Mwo..tapi bukankah kita sudah memilikinya!!” seru Nara malah membalikkan kalimat Kyuhyun. Kini giliran namja itu yang merengut bingung.
“Bukankah kau menginginkan ini?” tanyanya heran. Nara menggeleng cepat.
“Kita cari yang lain saja..kajja..” Nara dengan manja menariknya pergi mencari benda-benda yang belum mereka miliki untuk calon anak mereka kelak. Dan Kyuhyun hanya pasrah dengan semua tingkah Nara. Namun, dalam hati ia tersenyum bahagia.

“Lihat, perhiasan ini sangat bagus..” seru Nara ketika melihat sepasang gelang dan kalung yang dipajang di bagian khusus aksesori bayi. Tangannya terulur menyentuh salah satunya. Ia mengagumi desain dan bentuk dari gelang dan kalung itu.
“Itu terbuat dari platina murni, nyonya..” ucap penjaga pada Nara. Gadis itu menoleh.
“Apa ini bisa cocok untuk bayi?”
“Tentu saja.”
Nara tersenyum sumringah lalu menoleh pada Kyuhyun. “Oppa, aku ingin ini untuk anak kita..” ucapnya tidak sabar.
“Tapi kita belum tahu anak kita namja atau yeoja. Bagaimana jika namja? Tidak mungkin dia diberi gelang..” Kyuhyun mengamati gelang yang digenggam istrinya.
“Anda bisa membeli keduanya. Gelang bisa untuk yeoja dan kalung untuk namja..” ucap penjaga toko itu memberikan solusi cerdas. Nara menoleh lalu menatap Kyuhyun dengan ekspresi memohon.
“Jebal…”
Kyuhyun tersenyum lalu mencubit kecil pipinya. “Baiklah putri..” akhirnya ia meminta penjaga toko itu untuk mengemas gelang dan kalung itu.

—o0o—

“Oppa, aku penasaran bagaimana masa kecilmu dulu..” ungkap Nara sambil menjilati eskrim vanila yang digenggamnya. Kyuhyun menoleh dengan tatapan heran.
“Kenapa kau ingin tahu?” Ia malah balik bertanya. Setelah lelah berbelanja, mereka sekarang berjalan menelusuri taman kota. Kebetulan cuaca bersahabat dan Nara ingin sekali melihat bunga-bunga yang bermekaran di taman. Banyak sekali orang yang memenuhi taman sekitar mereka siang itu.

Nara mengendikkan bahu menanggapi pertanyaan Kyuhyun. “Sejujurnya kau sangat membosankan dan terlalu kaku, Oppa. Apa masa kecilmu kurang bahagia?” tanyanya polos.
Kyuhyun tersenyum samar. Ia semakin mengeratkan tangan yang menggenggam tangan Nara. Ia harus membimbing gadis itu berjalan karena Nara tidak terlalu kuat jika berjalan jauh dan ia cepat lelah semenjak hamil.
“Cho Nara, kau tahu aku begitu kenapa masih bertanya juga?” jawab Kyuhyun akhirnya. Terdengar pasrah dan kalah dari nada bicaranya. Meski begitu di bibirnya tersemat senyum yang sangat indah. bahkan mungkin jika Kyuhyun tidak memakai kacamata yang membuat aura tampannya tertutup, pasti sudah banyak yeoja yang jatuh pingsan terpesona karenanya.

Namun begitulah Nara, ia sekarang tidak peduli dengan penampilan Kyuhyun yang menurut orang-orang culun, kolot, kaku, atau apalah. Karena di matanya Kyuhyun tetap namja yang mempesona. Ia benar-benar mencintai namja ini. Namun, Kyuhyun belum memberikan penjelasan padanya. Padahal ia sudah mulai bersikap manis dan menuruti semua yang diinginkan namja itu. Tapi, Kyuhyun tidak juga mengatakan bahwa ia ingin membatalkan perjanjian itu. Dan ia pun tidak berani untuk membatalkannya karena ia takut jika Kyuhyun tetap ingin melepaskannya. Ia tidak mau mendengar apapun tentang hal itu. biarkanlah sekarang ia mengumpulkan banyak memori bahagia dengan Kyuhyun. tentang perjanjian itu, semoga Tuhan memberikan keajaiban untuk mereka.

“Aku hanya tidak mau anak kita nanti kaku dan tidak suka bergaul sepertimu, Oppa..” ucap Nara setengah bercanda. Ia menggandeng erat tangan Kyuhyun sambil tertawa ringan. Ucapan Nara tidak menyinggungnya sama sekali. Toh, memang begitulah kenyataannya.
“Bukankah anak kita nanti akan menjadi sepertimu, lincah, pintar, dan mudah bergaul..” timpal Kyuhyun.
“Tentu saja, aku Eommanya..”

“Lihat, ada air mancur, Oppa..” teriak Nara girang. Dengan langkah riang ia menarik Kyuhyun mendekati kumpulan airmancur yang ditata sedemikian rupa dan menjadi daya tarik tersendiri di taman itu.
“Shin Nara!!” teriak Kyuhyun kaget ketika Nara mencipratkan air padanya. Yeoja itu berlari girang menghindari Kyuhyun yang ingin membalas tindakannya tadi. sore itu, Kyuhyun benar-benar bersenang-senang bersama Nara. Mereka berdua terus bermain air seperti anak sepuluh tahun. Saling mencipratkan air dan membuat diri mereka sendiri basah Kuyup. Kyuhyun tidak pernah merasa sebahagia ini sebelumnya. Akhirnya ia bisa tertawa lepas bersama Nara. Dan gadis itu pun berbahagia bersamanya. Hidup terasa sempurna.

“Ah, menyenangkan sekali. kau benar chagi, aku memang butuh penyegaran seperti ini..gomawo.” seru Kyuhyun sambil mendekap tubuh Nara yang basah kuyup sama sepertinya dari belakang. Gadis itu membalikkan badannya. Ia menatap suaminya itu dengan mata berbinar.
“It’s okay. Aku sudah lama ingin melihat ekspresimu ketika sedang bahagia. Rupanya seperti ini.” Ungkapnya senang. tangannya terangkat mengusap pipi Kyuhyun dengan lembut. Sesaat, namja itu memejamkan mata meresapi sentuhan tangan Nara di pipinya.
“Oppa, kacamatamu berembun..” Nara mengerutkan kening melihat kacamata Kyuhyun yang basah dan agak berembun. Ia hendak menyentuh kacamata itu namun Kyuhyun dengan sigap menahan tangannya dan malah menarik wajah Nara lalu mencium pipinya mesra.
“Sudah sore. Kita pulang. Aku tidak mau kau sakit karena baju basah yang kau pakai itu.” ucapnya mengalihkan perhatian. Reaksi aneh itu membuat Nara terheran-heran. Kyuhyun seperti menghindar ketika ia akan melepas kacamata itu. aneh sekali. sebenarnya apa yang salah dengan kacamata yang dipakainya?

Pertanyaan itu belum sempat terjawab karena Kyuhyun segera mengajaknya kembali pulang.

—o0o—-

Malam itu, Kyuhyun merasa kepalanya sangat pusing. Entah karena ia bermain air hingga basah kuyup, entah karena pekerjaan yang menumpuk, atau karena masalah Nara yang membuat kadar stressnya semakin bertambah. Ia pun tidak mengerti. Yang pasti sekarang ia hanya bisa memijat kepalanya yang pening dan menatap kosong ke arah tumpukan map yang ada di atas meja kerjanya.

“Oppa, aku bawa susu hangat untukmu..”

Suara lembut Nara membuatnya mengerjap sadar. Kyuhyun menoleh lalu tersenyum pada istrinya. Nara meletakkan gelas susu itu di atas meja lalu berjalan mendekati Kyuhyun yang duduk di kursi di balik meja kerja. Tangannya yang hangat itu memeluk leher Kyuhyun dengan penuh kasih sayang.
“Sekarang sudah malam, Oppa. Apa pekerjaan itu sebegitu pentingnya jika dibandingkan dengan beristirahat?” tanyanya sambil menyandarkan kepalanya ke puncak kepala Kyuhyun.
Namja itu mengulum senyum. “Kau juga belum tidur. Ini sudah larut malam. kau sedang hamil chagi. Tidurlah lebih dulu. aku kan menyusulmu.” Ucap Kyuhyun sambil mengusap tangan Nara yang melingkar di lehernya.
“Baik. tapi jangan terlalu lama. aku tidak mau tidur sendirian..” Nara mengecup bibir Kyuhyun singkat sebelum ia beranjak pergi meninggalkannya sendiri di ruang kerja itu.

Kyuhyun masih tersenyum hingga Nara menutup pintu ruang kerjanya. Namun, ketika sosok itu tidak lagi dalam pandangan matanya, senyum itu mendadak berhenti karena ia merasa sakit yang luar biasa menyerang kepalanya. Tangannya refleks memijat kepalanya dengan gerakan cukup keras tapi tidak membuatnya lebih baik. Ia mengerjap kemudian ketika menyadari sesuatu mengalir dari lubang hidungnya. Dan jatuh perlahan membasahi baju putih yang dikenakannya.

Darah..

Ia terbelalak melihat tangannya terdapat darah setelah ia menyentuh hidungnya. Secepat mungkin ia beranjak ke kamar mandi dan membersihkan darah di hidungnya lalu mengganti baju. Ia tidak mau Nara melihat ini. Ia tidak ingin istrinya itu mencemaskannya. Ini bukan apa-apa. pasti. Ia hanya kelelahan. Setelah dirasa tidak ada yang aneh dengan penampilannya, Kyuhyun segera menyusul Nara untuk tidur. Ia tahu bahwa istrinya itu tidak bisa tidur jika tidak dipeluk olehnya.

“Oppa, akhirnya kau datang..” ucap Nara lega ketika Kyuhyun masuk ke dalam kamar.
“Kau belum tidur?” balas Kyuhyun sambil naik ke atas tempat tidur dan berbaring di samping Nara. Gadis itu mengerutkan kening menyadari ada yang janggal dengan diri Kyuhyun.
“Wae?” tanya Kyuhyun bingung karena Nara terus menatapinya dengan raut menyelidik.
“Oppa, kau tampak pucat. Apa kau sakit?”

Kyuhyun terbelalak mendengar pertanyaan itu. Secepat mungkin ia menggeleng “Kau salah lihat chagi. Sekarang sudah malam. tidurlah..” ia menarik selimut lalu menyelubungi tubuh mereka berdua. Nara tampak belum puas. Namun melihat Kyuhyun begitu santai, ia mengendikkan bahu lalu ikut berbaring dan Kyuhyun segera memeluknya. Ia tidak bisa sembarangan bergerak lagi karena perutnya sudah membesar.

—o0o—

“Kau harus segera melakukan terapi, Cho Kyuhyun..” ungkap Dr. Park Rae Mun, dokter sekaligus sahabat Kyuhyun yang ditemui namja itu keesokan harinya. Ia sengaja mendatangi rumah sakit tempatnya bekerja untuk menanyakan problem kesehatan yang dialaminya. Ia penasaran ingin tahu apa yang membuatnya mimisan semalam. Dan pernyataan dokter Rae Mun sungguh diluar dugaan. Sekarang psikisnya mendadak drop mendengar vonis dokter tentang penyakit yang dialaminya.
“Sudah seberapa parah?” tanya Kyuhyun lemah.
Rae Mun melihat hasil rontgen yang dipegangnya lalu menghela napas. “Sekarang memang tidak terlalu parah. Tapi jika kondisi kejiwaanmu terus menurun, aku takut akan berdampak buruk pada kesehatanmu.” Ungkapnya dengan nada menyesal. Rae Mun meletakkan sebuah surat di hadapan Kyuhyun.
“Apa ini?” tanyanya curiga.
“Itu surat rujukan untuk melakukan pengobatan di luar negeri. Di Korea, belum ada penanganan mutakhir tentang penyakit yang kau idap. Tapi di Amerika, sudah ada rumah sakit yang menyediakan peralatan lengkap untuk menangani penyakit itu.” terangnya semakin membuat Kyuhyun menghela napas berat. Mendadak saja ia teringat pada sosok istrinya yang sekarang sedang hamil. Ia tidak mungkin meninggalkannya sendiri. ia sudah berjanji untuk selalu ada bersamanya hingga proses bersalin berlangsung nanti.

Kyuhyun menghela napas lalu kembali meletakkan surat di atas meja. Ia menggeleng lemah seraya menatap Rae Mun dengan sorot matanya yang meredup.
“Aku tidak bisa meninggalkan istriku hingga dia melahirkan.” Putusnya. Rae Mun membelalak kaget.
“Tapi penyakitmu..”
“Aku bisa mengatasinya.” Potong Kyuhyun yakin, membuat Rae Mun bungkam “Aku yakin aku masih bisa mengatasinya. Kau hanya tinggal menyiapkan resep yang sesuai untukku. Setelah anakku lahir, aku mungkin bisa melakukan terapi seperti yang kau anjurkan tadi.” putus Kyuhyun. Rae Mun mengangguk singkat. Ia tidak bisa memaksa Kyuhyun kerena ia tahu namja ini sangat keras kepala jika sudah memutuskan.
“Baiklah. Terserah padamu. Aku tidak akan memaksa.” Rae Mun segera menuliskan resep di atas sebuah kertas.
“Ini resep untukmu. Dan kuharap, kau bisa mengatasinya seperti yang sudah kau katakan.”

Kyuhyun menerima resep itu dengan berat hati. Ya Tuhan, mengapa ia bisa mengalami hal ini?

—o0o—

Nara sudah membulatkan tekad, ia akan berbicara dengan Kyuhyun tentang surat perjanjian itu. Ia sadar bahwa perjanjian yang mereka buat bisa berdampak buruk bagi kebahagiaan anaknya nanti dan keluarganya. Tidak hanya itu, bahkan ia tidak sanggup membayangkan hidup tanpa bisa menyentuh dan mengasuh anaknya. Ia juga tidak ingin kehilangan Kyuhyun.
“Aegi, Eomma sangat menyayangimu. Eomma tidak ingin kehilanganmu meskipun Eomma harus menukarkan nyawa Eomma untuk menyelamatkanmu..” ucap Nara seraya mengusap perutnya dengan penuh kasih sayang.

“Aku pulang..”

Nara melonjak dari duduknya ketika mendengar suara Kyuhyun. Ia segera bangkit lalu menghampiri suaminya itu dengan wajah bahagia.
“Apa hari ini berjalan lancar?” tanyanya sambil membantu Kyuhyun melepas jas yang dikenakannya.
“Begitulah..” gumam Kyuhyun. Dari suaranya terdengar lelah. Nara mengerutkan kening. Mungkin itu karena pekerjaan di kantor begitu menumpuk. Tentu saja, Kyuhyun harus mengurus dua perusahaan meskipun terkadang masih dibantu oleh kedua orang tua mereka. Itu membutuhkan kinerja otak dan otot yang tidak sedikit.
“Oppa kau ingin mandi? Akan kusiapkan air hangat. Atau kau lapar? Aku bisa menyiapkan makan malam..” ucap Nara membuat Kyuhyun menghentikan kegiatannya melepas dasi. Ia menoleh menatap Nara yang tersenyum bahagia.

Hatinya mencelos melihat ekspresi itu. Ia tidak ingin merusak wajah ceria istrinya. Nara tidak boleh tahu tentang penyakit yang dideritanya sekarang. Maka dari itu, ia sudah memutuskan untuk berakting di depan Nara.
“Aku bisa melakukannya sendiri dan jika aku lapar sebaiknya kita pesan makanan saja.” ucap Kyuhyun dengan senyum di bibir. Nara merengut kecewa. Ia merasa ditolak karena Kyuhyun tidak membiarkannya melakukan semua itu.
“Hei, kenapa sedih?” tanya Kyuhyun. Ia mendekati Nara lalu melingkarkan tangan di pinggang istrinya itu.
“Oppa, apa aku ini tidak berguna sampai kau melarangku melakukannya?” gumamnya sedih. Kyuhyun berusaha menahan tawanya melihat Nara merajuk.
“Aigoo, aku hanya tidak ingin kau kelelahan chagi. Kau sedang hamil, ingat.” Tegur Kyuhyun sambil mengusap perutnya. “Aku hanya tidak ingin terjadi sesuatu padamu terutama pada bayi kita. Kita harus melindunginya.”

Nara mengangkat kepalanya menatap Kyuhyun. “Oppa sungguh mencemaskanku, atau hanya mencemaskan bayi dalam kandunganku?” tanyanya serius. Hal itu membuat senyum di wajah Kyuhyun memudar. Ia terkesiap karena kini dari sorot mata Nara terpancar rona cemas, sedih, takut, dan kesepian. Ia bisa melihatnya dengan jelas.
“Tentu saja aku mencemaskan kalian berdua..” jawabnya tegas. Rupanya jawaban Kyuhyun tidak membuat Nara gembira. Gadis itu masih tampak murung.
“Jika..jika seandainya terjadi sesuatu dan Oppa harus menyelamatkan antara aku dan bayi kita, siapa yang akan kau selamatkan?” tanya Nara dengan suara tercekat. Ia menatap Kyuhyun lurus, mencoba mencari jawaban sendiri dari dalam mata yang terbingkai kacamata tebal itu.

Kyuhyun terdiam. Ia tidak suka pertanyaan ini karena sungguh, ia tidak bisa menjawabnya dan tidak tahu jawabannya. Ia tidak bisa membayangkan bagaimana frustasi dirinya jika harus memilih antara Nara dan bayi mereka. Ia tidak bisa memilih siapapun karena ia menyayangi keduanya lebih dari nyawanya sendiri. Suasana sempat hening karena keduanya sama-sama terdiam.

“Oppa, kenapa kau tidak menjawab?” suara Nara membuat Kyuhyun mengerjapkan mata, tersadar.
Ia memaksakan seulas senyum meski kini paru-parunya terasa sesak. “Kenapa kau bertanya seperti itu? tidak biasanya..” Kyuhyun sengaja mengalihkan pembicaraan. Nara kecewa dengan sikap Kyuhyun yang seperti menghindar.
“Aku hanya ingin tahu, keputusan apa yang kau ambil jika seandainya hal itu menimpaku dan bayiku..” gumam Nara.
Kyuhyun menatap sendu istrinya yang tampak tidak bahagia. Mengapa tiba-tiba dia menjadi sensitif begini?
“Aku tidak akan membiarkan siapapun pergi..” ucap Kyuhyun membuat Nara mendongakkan kepalanya dengan cepat. Saat itulah dimanfaatkan oleh Kyuhyun untuk meraup bibir Nara dan melumatnya selama beberapa waktu. Nara terpaku. Tak lama kemudian Kyuhyun menjauhkan wajahnya. Ia menatap gadisnya dengan sungguh-sungguh.
“Percayalah, jika hal itu terjadi, aku akan mempertaruhkan nyawa untuk menyelamatkan kalian berdua. meski harus mengorbankan nyawaku sendiri. Karena bagiku, kalian berdua sama-sama berharga. Aku tidak bisa memilih harus menyelamatkanmu ataupun anak kita karena itu bukanlah pilihan. Mencintai kalian berdua adalah hal yang mutlak bagiku. Itulah jawabanku..”

Deg deg deg..

Nara merasa sekujur tubuhnya membeku seperti es. Sesaat setelah kalimat itu terucap, ia merasa seperti sebongkah es yang dibekukan dengan sangat cepat dan meleleh dengan sangat cepat pula. Karena di saat yang bersamaan, rasa bahagia yang membuncah meluap dalam dirinya bersamaan dengan tangannya yang bergerak memeluk Kyuhyun.
“Gomawo Oppa.. itu, jawaban yang sangat sempurna..” serunya dengan isak tangis yang membuat Kyuhyun kaget, senang, dan sedih bercampur menjadi satu. tak ada yang dilakukannya selain membiarkan Nara memeluknya. Ini, lebih nyaman dari apapun. Rasa lelah dan penat yang sudah lama menghimpitnya seolah memudar dan berganti dengan rasa bahagia.

“Oppa..” Nara mengangkat wajahnya lalu menatap Kyuhyun sungguh-sungguh. Suaranya terdengar serak dan matanya sembab karena airmata bahagia.
“Ne, chagi..” jawab Kyuhyun.
“Bisakah kita membatalkan perjanjian itu?”

Kyuhyun terpaku mendengarnya. Ia seperti mendengar vonis mati dari hakim untuknya. Tidak ada rasa bahagia ataupun sedih. Yang ada justru rasa bimbang yang sangat dalam.

“Kenapa?” hanya pertanyaan yang keluar dari mulut Kyuhyun. Nara menaikkan tangannya, memeluk leher Kyuhyun agak protektif.
“Karena kau sudah membuktikan ucapanmu, Oppa..”
Kyuhyun mengeryitkan kening. “Ucapan yang mana?”
Nara menghela napas lalu menyandarkan kepalanya pada dada Kyuhyun yang bidang. “Kau lupa Oppa, kau pernah mengatakan kalimat seperti ini : ‘ Akan kubuat kau jatuh cinta padaku, membelenggumu dengan cinta yang tak akan bisa kau lepaskan. Kau akan memikirkanku seumur hidup hingga rasanya kau bisa gila jika tidak menyebut namaku. Akan kubuat diriku menjadi oksigenmu, hingga kau bisa mati jika tidak adanya diriku di hidupmu. Akan kubuat kau jatuh seutuhnya dalam pesonaku yang tak akan bisa kau tolak, ingat itu Shin Na Ra’”

Kyuhyun menelan ludahnya dengan susah payah. Ia tidak mungkin lupa dengan kalimat yang ia ucapkan sendiri.
“Lalu?”
“Kau benar Oppa, aku sekarang memang selalu memikirkanmu, dan aku juga sudah jatuh seutuhnya pada pesonamu yang tidak bisa kutolak, kau sudah menjadi oksigenku dan aku tidak bisa hidup tanpamu.” Tutur Nara tulus. “Dan yang paling penting.. aku sudah jatuh cinta padamu Oppa.. Saranghae..”

Mata Kyuhyun melebar dengan sendirinya. Ia hampir tak percaya dengan telinganya sendiri. Apa benar Nara mengatakan bahwa ia mencintainya?
“Kau..mencintaiku..?” ulang Kyuhyun dengan suara berat, menahan haru.
Nara mengangguk. “Haruskah kuulangi hingga ratusan kali? Aku sangat mencintaimu Oppa.. karena itu kumohon, batalkan perjanjian kita..” mohon Nara sungguh-sungguh.
“Nado saranghae yo, Shin Nara..” seru Kyuhyun gembira. Ia segera memeluk istrinya meskipun tidak terlalu erat karena ia tidak ingin membuat bayi dalam perut Nara sesak. airmata haru menitik dari sudut matanya. Inilah, inilah yang ia impikan selama ini. Shin Nara mencintainya. Tuhan, terima kasih. Ia terus mengucap syukur dengan tangan melingkari tubuh Nara. Namun rasa bahagia itu tidak berlangsung lama karena sedetik kemudian Kyuhyun bungkam seketika, senyum di bibirnya menghilang karena dalam dirinya berkelebat banyak sekali ketakutan. Ia tercengang dan tanpa di sadari oleh Nara, tangan yang melingkari tubuhnya mengepal erat.

Bagaimana ini? Ia tidak bisa menolak sesuatu yang memang sudah sangat ia idamkan sejak dulu. Nara sekarang sudah mencintainya. Namun di sisi lain, ia pun bingung. bagaimana ia menjelaskan kepada Nara tentang kenyataan bahwa ia adalah Lee Donghae—pria yang dicintainya—dan juga, bagaimana caranya ia menjelaskan tentang penyakit yang baru saja diketahui olehnya?

Ia tidak ingin membuat kebahagiaan yang baru saja di dapatkan olehnya raib.

Eotteohke?

To be continued

149 thoughts on “Kanpeki Na Bad Girl (Part 8)

  1. Ah gamao komen ah tar tipuan lg ni. Yah kyu sakit lagi! kanker? Masa? Nara gampang biut lageh nyatain ajah ah udh nyatu aja lageh mereka#ye ngapa gw protes mulu ya mreka bersatu. Sirik bngt hahahaha….

  2. aigo complicated bgt chokyu sakit apa sebenernya? fighting kyu pasti bisa sembuh. ahh akhirnya nara bilang jg kalo dia udah cinta sma chokyu, semoga itu bisa menjadi kekuatan buat chokyu yaa

  3. Akhirnyaaaa mereka bisa mengungkapkan perasaan masing2. …seneng nya hati q….

    Tpi knp disaat mereka mulai bhgia…msalah dtang lagi…
    Kyu sakit apa?

  4. ayolah kyu jgn jd pengecut gitu,qm hrs brani blng yg sbnrnya,jgn smpe qm nyesel kyu,justru nara akan senang klo qm bs jujur krna pondasi yg kuat dlm kehidupan rmh tangga adl kejujuran😀 *reader mulai sok tw lg

  5. waaahhh.. . ceritanya semakib seruuuu.. . eonni Daaeeeebaaaakk.. .
    Tapi Kyuhyun oppa sakit? sakit apa? apakah separah itu? oktokkeee…
    Dan aku jg baru tau, klo Lee Donghae yg dimaksud Na Ra sbnrnya Kyuhyun oppa sndri? Daeeeebaaakk

  6. aduh kok makin rumit masalahnya.
    haduh
    keduanya pasti tersakiti jika masala itu kebongkar
    padahal mereka uda mengaku saling mencintai

  7. Kyuhyun sakit apa!
    Jangan sampe endingnya kyu kenapa-kenapa deh
    Akhirnya nara ngaku juga kalo dia cinta sama kyu!
    Seneng+sedih baca part ini

  8. Yaelah kalau masalah ternyata “lee donghae” itu ternyata kyuhyun,kayaknya nara gak bakalan marah…untuk penyakit kasih tau aja…biar dapat solusi bersama…kalau disembunyiin tambah parah masalahnya

  9. Qu suka Nara scara langsung meminta pmbatalan perjanjiannya,,,Kyu lbh baik km crita aja sjujurnya agr tdk trjd slh paham lagi…

  10. Ping-balik: REKOMENDASI FANFICTION | evilkyu0203

Your comment

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s