Shady Girl Kibum’s Story (Part 3)

Tittle : Shady Girl Kibum’s Story Part 3
Author : Dha Khanzaki a.k.a Shin Je Young
Genre : Romance, Family

Main Cast :

  • Cho Ja Rin
  • Kim Kibum

Support Cast :

  • Cho Kyuhyun
  • Choi Sooyoung

Maaf untuk typo dan sejenisnya ^^
Happy Reading

Shady Girl Kibum's Story by Dha Khanzaki

——–o0o———

Kyuhyun dan Eunhyuk tanpa sengaja melihat Kibum menangis sendirian di ruangan tempat altar kakaknya berada. Mereka saling pandang.
“Seandainya saat itu aku sudah menjadi dokter.. seandainya…” suara Kibum begitu lirih dan isak tangisnya samar-samar terdengar.
Kedua orang itu inisiatif duduk di samping kiri dan kanan Kibum. Namja itu tersentak kaget menyadari kehadiran orang lain di dekatnya lantas menghapus airmata yang mengalir itu.
“Gwaenchana..” Eunhyuk memegang pundak Kibum.
“Are you alright?” Kyuhyun sok-sok-an memakai bahasa Inggris. Eunhyuk sampai mendelik padanya. Saat seperti ini bocah itu malah bercanda. Kyuhyun mengangkat bahunya tanpa merasa bersalah.
“Wae? Aku pernah tinggal di Amerika selama 3 tahun” jawabnya bangga.
“Jadi kau pamer padaku, bungsu???”
Kyuhyun meleletkan lidahnya. kibum bingung melihat tingkah mereka berdua. sebenarnya mereka datang untuk apa sih?
“Sudahlah teman-teman, aku tidak apa-apa.” Kibum bangkit. Ia keluar lebih dulu dari ruangan itu.

“Hei, kalau ada masalah sebaiknya kau ceritakan pada kami” ucap Eunhyuk sambil menyusulnya.
“Aku…” Kibum bingung mesti menceritakan dari mana. Ia tidak pandai bercerita. Akhirnya ia memutuskan diam.
“Oh, aku tebak. Kau jatuh cinta ya…” Kyuhyun asal menebak. Ucapan ngaconya itu membuat Kibum menjadi pusat perhatian di ruangan itu.
“Omo.. akhirnya kau jatuh cinta juga. Selamat.” Siwon mengulurkan tangannya pada Kibum. Ekspresinya tampak gembira.
“Ya! Aku tidak jatuh cinta! Kalian ini kenapa?” Kibum memalingkan wajahnya ke arah lain. Teman-temannya memang tidak pernah mendengar Kibum berpacaran atau pun menyukai seorang yeoja. Karena itu mereka merasa takjub jika Kibum benar-benar jatuh cinta kali ini.

__o0o__

Ja Rin selesai berdandan. Di depan cermin, ia mematut dirinya sendiri. Ia merasa bangga karena dilahirkan dengan tubuh bagus dan wajah cantik. Tentu saja, anak-anak keluarga Cho mana ada yang jelek. Kyuhyun juga memiliki wajah yang tampan, jika ia mau sedikit saja merapikan penampilannya, ia pasti mampu membuat puluhan yeoja jatuh pingsan jika melihatnya*Author termasuk korbannya-_-*

“Ah, Ja Rin, kenapa kau secantik ini?” ia mengibaskan rambut panjangnya ke belakang. Setelah yakin penampilannya sempurna, ia mengambil tas lalu berjalan dengan anggun keluar kamarnya. Menuju ke mobil Maybach 57 S miliknya yang sudah terparkir di depan rumah.
“Mau kemana kau? Kenapa tidak pergi ke kantor?” Umma menginterogasi ketika melihat Ja Rin sudah siap untuk melajukan mobilnya.
“Aku ingin pergi sebentar Umma, tolong sampaikan pada Appa aku cuti hari ini..” ia melambaikan tangan lalu mulai mengemudikan mobil.

Kenapa ia begitu bersemangat hari ini? Semuanya disebabkan oleh Kibum. Ja Rin ingin sekali bertemu lagi dengan namja itu. Dan sekarang dengan alasan mengembalikan sepatu, ia akan datang ke tempatnya berada demi melihatnya meskipun hanya sebentar.

“Aish..menyebalkan sekali. Kenapa, dia harus bekerja di rumah sakit sih!” Ja Rin kembali mengumpat tiap kali ingat hal itu. Di tambah lagi dengan nama namja itu yang membuatnya segan menyebutnya. Tapi kali ini saja, ia harus bisa menahan egonya.

__o0o__

“Dokter, ada yang ingin bertemu denganmu.” Seorang suster masuk ke ruangan Kibum saat namja itu baru selesai memeriksa pasien. Kibum menoleh, ia tersenyum sekilas pada Sooyoung.
“Siapa?”
“Entahlah. Dia hanya memintamu menemuinya di area parkir rumah sakit.”
“Baiklah. Kebetulan aku sudah tidak ada pasien.” Kibum melepaskan stetoskop yang melingkar di lehernya dan memutuskan pergi sejenak menemui orang itu.

Kibum tidak terlalu penasaran dengan orang yang akan ditemuinya itu. Ia hanya ingin tahu saja. Saat tiba di tempat parkir yang luas itu, ia menoleh ke kiri dan kanan mencari seseorang. Ia bahkan tidak tahu yang menemuinya itu yeoja atau namja.
“Yuhuuu.. Dokter Kim..”
Terdengar suara yeoja memanggilnya. Ah, pasti itu suara dari orang yang dicarinya. Kibum membalikkan badannya ke arah sumber suara. Matanya menemukan sosok seorang yeoja bersandar pada mobil mewah. Penampilannya sangat mencerminkan status sosialnya. Yeoja itu pasti dari kalangan berada. Tapi siapa dia? Kibum tidak bisa mengenalinya karena yeoja itu memakai kacamata hitam.
Kibum mendekat. Barulah setelah jaraknya tidak jauh lagi, ia baru bisa mengenali yeoja itu.
“Omo, kau kan nona Cho Ja Rin.”
Ja Rin melepaskan kacamatanya lalu tersenyum. “Aku senang kau tidak melupakanku, Dokter Kim”

Kibum sempat termangu sesaat melihat Ja Rin agak berbeda dengan terakhir kali dilihatnya. Gadis ini jauh lebih ‘glamor’ selayaknya wanita-wanita kalangan atas. Namun Kibum cepat-cepat menguasai dirinya lagi.
“Ada keperluan apa menemuiku. Aku harap bukan karena kakimu terkilir lagi. Kulihat kau sudah bisa memakai heels setinggi itu.” Kibum melirik kaki Ja Rin yang beralaskan high heels setinggi 10 cm.
“Aku ingin mengembalikan sepatu yang kupinjam tempo hari.” Ja Rin mengambil kotak berisi sepatu itu dari dalam mobil, kemudian menyerahkannya pada Kibum.
“Gomawo”
Kibum tersenyum tipis. “Harusnya kau bukan berterima kasih padaku. Tapi pada Sooyoung. Dia pemilik sepatu ini.”

Ja Rin menahan napasnya ketika Kibum menyebutkan nama yeoja itu. Dia tahu hal itu. Tapi kan tidak usah menjelaskannya pada Ja Rin. Membuat mood orang jadi buruk saja.
“Ah, sebaiknya Dokter Kim saja yang menyampaikannya.”
“Baiklah kalau begitu. Em, apa hanya ini?”
Ja Rin tersenyum “Tentu saja tidak. Aku bermaksud mengajakmu makan siang. Apa kau ada waktu dokter?”

Sejenak Kibum terkejut. Benar kan, Ja Rin pasti memiliki minat tertentu padanya. Tingkahnya mudah sekali ditebak. Kibum melirik jam tangannya.
“Bagaimana ini? Sebentar lagi aku ada tugas memeriksa pasien”
“Jinjja? Hmm..bagaimana kalau makan malam?”
“Tapi aku pulang larut malam” jawab Kibum dengan wajah menyesal.
Ah, kenapa banyak sekali alasan..
“Tidak apa-apa. Aku bisa menunggu.” Ja Rin benar-benar ingin melewatkan kebersamaan dengan Kibum. Ia tidak akan menyerah semudah itu.
“Nona Cho, kau tidak perlu memaksakan diri—“
“Dokter Kiimm..”
Ucapan Kibum terpotong oleh panggilan seorang suster. Kibum dan Ja Rin menoleh bersamaan. Suster bernama Sooyoung itu menghampiri mereka.
“Ada apa?” Kibum keheranan melihat wajah panik Sooyoung. Setelah gadis itu mendekat, mereka tampak lebih akrab lagi di mata Ja Rin. Gadis itu berusaha menahan diri agar tidak menjambak ataupun menarik baju rumah sakit Sooyoung. Ia tidak suka melihat kedekatan mereka.
“Pasien diruangan 761 memerlukan penanganan segera. Keadaannya sedikit memburuk karena alergi makanan yang dikonsumsinya.”
“Benarkah?” Kibum kaget. Ia menoleh pada yeoja yang sejak tadi memperhatikan mereka dengan wajah ditekuk sebal.
“Em, nona Cho..”
“Iya..” Ja Rin memasang tampang manis kala Kibum menatapnya.
“Sebaiknya kau pergi saja. Makan malam bisa lain kali.”
“Sudah kubilang tidak apa-apa. Kau pergi saja. Aku akan menunggumu.” Ja Rin mendorong pelan bahu Kibum. Mencoba meyakinkannya bahwa ia akan baik-baik saja. Kibum menatap lekat sejenak wajah Ja Rin, sesaat kemudian ia memilih menyerah.

“Baiklah.” Kibum tidak mengatakan apapun lagi. Ia memilih pergi bersama Sooyoung menuju gedung rumah sakit. Ja Rin mengumpat kembali setelah sosok kedua orang itu tidak nampak di hadapannya lagi.
“Huh! That’s annoying!” cibirnya jengkel.

__o0o__

Sudah hampir 10 kali Kibum melirik jam tangannya selama 25 menit terakhir. Ia hampir saja menyelesaikan tugasnya dan jam sudah menunjukkan pukul 22.00. ia resah. Jujur saja selama ia meninggalkan Ja Rin siang tadi, hatinya tidak bisa tenang. terus memikirkan keadaan Ja Rin. Sekarang sudah sangat malam dan ia hanya berharap Ja Rin tidak gila menunggunya sampai selarut ini.
“Baik, saatnya aku pulang!!” seru Kibum. Ia menghela napas lega.

Ia berjalan pelan di area parkir menuju mobil audi’y yang terparkir di sana sambil terus berdoa dia tidak menemukan gadis itu di sekitar lapangan parkir itu. Namun, saat ia melewati deretan mobil, ia terkesiap. Matanya hampir tak percaya menyaksikan gadis itu masih berada di sana. Hanya saja, dia tertidur pulas bersandar pada mobil mewahnya yang berwarna hitam mengkilat itu. Kibum melangkah cepat menghampirinya.
“Nona Cho, kau ini.. sebenarnya apa yang kau pikirkan?” gumamnya seraya menghela napas berat. Ia menyentuh pelan pipinya yang putih mulus itu. Dingin. Omona.. berapa lama ia tertidur dalam kondisi seperti ini? Di tempat terbuka pula.
“Nona Cho Ja Rin, bangunlah” Kibum sedikit mengguncang bahu Ja Rin untuk menyadarkannya. Tubuh gadis itu bergerak, tapi tidak sadar. Ja Rin hampir jatuh terbaring ke tanah jika Kibum tidak cekatan menahannya. Tubuh Ja Rin yang langsing itu jatuh tepat ke pelukannya. Wajah Ja Rin tepat berada di pundaknya.
“Omo..” Kibum terkesiap kaget.

Sepertinya Kibum harus melupakan rencananya pulang. Ja Rin sudah tidur terlalu pulas. Gadis ini pasti kelelahan menunggunya. Tapi, bukankah Kibum memang tidak memintanya menunggu?

Kibum membuka pintu mobil Ja Rin. Ternyata tidak dikunci. Ia mencoba membangunkannya sekali lagi. Tetap tidak ada respon. Ia lalu memutuskan membawa Ja Rin ke rumahnya. Itu pun setelah dia berdebat selama 15 menit dengan dirinya sendiri.

Sesampainya di rumah, Kibum mengangkat Ja Rin ke kamar tamu yang ada di lantai 1. Sementara kamarnya ada di lantai 2. Kibum menyelimuti Ja Rin setelah melepaskan high heels dan sweter tipis yang dipakainya. Kibum tersenyum sejenak melihat wajah polos Ja Rin saat tertidur. Padahal mereka baru saja mengenal. Tapi kenapa sudah terjadi hal sejauh ini? Ia bisa saja menelepon keluarga dari gadis itu. Namun entah kenapa, Kibum tidak memikirkan solusi yang satu itu.

__o0o__

Rasanya nyaman. Pikir Ja Rin dalam mimpinya. Ia menggeliat pelan, lalu menggulingkan badannya ke samping dan tangannya meraba-raba tempat yang bisa ia jamah. Hmm.. seprei yang lembut, bantal dan selimut. Oh.. memang nyaman sekali tidur di kasur empuk. Sepersekian detik setelahnya, Ja Rin baru tersadar. Ia tersentak kaget lalu cepat membuka matanya. Rasa kantuknya hilang berganti dengan rasa kaget serta bingung tingkat tinggi. Otaknya berputar pada kejadian beberapa jam lalu saat ia belum terlelap tidur.

Loh, bukankah ia sedang menunggu Kibum di lapangan parkir hingga ketiduran? Lalu siapa yang memindahkannya ke sini? Lagipula tempat apa ini? Tepatnya ini rumah siapa dan di mana? Mengapa dia bisa berada di sini? Pertanyaan-pertanyaan itu terus berkelebat silih berganti di pikirannya. Ja Rin menyingkapkan selimut lalu duduk di tepi ranjang. Matanya memindai ruangan tempat ia berada sekarang.

Ruangan itu bernuansa putih dengan gaya modern. Gorden yang menutupi jendela terbuat dari bahan tipis hingga sinar matahari menembus dan membuat suasana sedikit terang meskipun jendela tertutup seutuhnya.
“Di mana ini?” gumamnya. Ja Rin menghilangkan rasa penasarannya dengan menjelajahi ruangan itu. Ada meja rias, lemari dengan banyak pintu, beberapa kabinet kecil berisi pajangan dan buku, lalu sebuah pintu menuju kamar mandi. Ia masuk. Mengagumi sejenak kamar mandi yang nuansanya sedikit berbeda. Ada shower room dengan dinding kaca dan bathtub. Ah, ia jadi ingin mandi. Badannya memang terasa lengket. Ja Rin membuka pakaiannya lalu masuk ke dalam bathtub yang sebelumnya sudah ia isi dengan air hangat dan sabun cair aroma terapi. Ja Rin benar-benar lupa kalau ia sedang berada di tempat asing dan menggunakan semua fasilitas kamar mandi tanpa seizin pemiliknya.

__o0o__

Kibum melirik jam yang berdiri di atas meja samping tempat tidurnya. Sudah jam 7 pagi. Ia harus berada di rumah sakit jam 10. Berarti masih ada 2 jam untuk bersantai karena jam 9ia harus berangkat.
“Aish, yeoja itu” Kibum baru akan tidur kembali ketika ia teringat pada Ja Rin yang tengah tidur di kamar bawah. Kibum memaksakan diri untuk bangun. Ia berjalan menuju kamar tamu, untuk melihat keadaan gadis itu. Pasti dia masih tertidur lelap.

Kibum membuka pintu kamar tanpa mengetuk dulu. Begitu pintu terbuka, ia terkesiap kaget melihat pemandangan di depannya. Matanya menangkap pemandangan yang belum pernah ia lihat sebelumnya. Kibum tidak bisa bergerak dari tempatnya berdiri saat melihat Ja Rin hanya memakai handuk. Bahunya yang putih mulus itu terekspos bebas membuat mata lelaki Kibum yang mengantuk langsung segar kembali.

Gadis itu baru selesai mandi rupanya. Dia tidak menyadari bahwa sejak tadi Kibum measuk ke kamar dan matanya tidak berkedip sedikitpun dari tubuh seksi Ja Rin yang hanya terbalut handuk. Kibum baru menggerakkan tangannya untuk menutup pintu saat Ja Rin membalikkan badannya. Keduanya sempat terpaku sesaat. Sedetik kemudian Ja Rin mengerjap lebih dulu. Ia baru tersadar sedang dalam kondisi apa sekarang.

“KYAAAAA~~~” Ja Rin menjerit kencang.
“Whuaaaaa”

Keduanya sama-sama memekik panik. Ja Rin buru-buru menarik selimut lalu menyelubungi seluruh tubuhnya.

“Mianhae, aku tidak sadar.” Kibum buru-buru menutup pintu. Namja itu berlari menjauh dari kamar tempat Ja Rin berada. Setelah Kibum menghilang, Ja Rin masih merasa tubuhnya bergetar. Bagaimana mungkin, Kibum melihatnya dalam keadaan memalukan seperti tadi? Ini.. sangat menurunkan harga dirinya sebagai seorang wanita terhormat.
“Ja Rin, You’re stupid!!!” ia memukuli kepalanya sendiri. Ia mengerjap kemudian. Tadi ia melihat Kibum, itu artinya dia berada di rumah Kibum sekarang? Ja Rin mengedarkan pandangannya sekali lagi. Jadi, rumah yang ia singgahi sekarang adalah rumah Kim Kibum??

Sementara itu, Kibum yang berlari ke arah dapur kini tengah bersandar di pintu kulkas. Tangannya bergerak meraba bagian dadanya.
“Omo, kenapa aku berdebar seperti ini?” lirihnya kebingungan. Kibum menggelengkan kepalanya untuk menghilangkan semua pikiran liar yang mendadak menyerang. Bagaimanapun ia namja normal. Jika di hadapkan pada situasi seperti tadi, kadar feromonnya pasti meningkat drastis. Kibum cepat-cepat berbalik, mengambil air dari dalam kulkas lalu meneguknya sampai habis karena tubuhnya mulai berkeringat.
“Sadarlah Kim Kibum” tegasnya terus menggelengkan kepala. Ia harus mengalihkan pikirannya pada hal lain. Lama-lama ia bisa gila jika terus berada dalam kondisi berbahaya seperti ini.

To be continued..

53 thoughts on “Shady Girl Kibum’s Story (Part 3)

Your comment

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s