Shady Girl Kibum’s Story (Part 2)

Tittle : Shady Girl Kibum’s Story Part 2
Author : Dha Khanzaki a.k.a Shin Je Young
Genre :Romance

Main Cast :

  • Cho Ja Rin
  • Kim Kibum

Support Cast :

  • Kim Heechul
  • Lee Sungmin
  • Kim Taeyeon
  • Lee Donghae
  • Choi Siwon
  • Choi Sooyoung

Sehari gak posting FF rasanya gimana, gitu. ah, akhirnya sekarang bisa posting juga. okelah, maaf untuk typo dan lain sebagainya.
Happy Reading

Shady Girl Kibum's Story by Dha Khanzaki

——o0o——-

“Nona, kau tidak apa-apa kan?” Kibum mengibaskan tangannya di hadapan muka Ja Rin. Ia bertanya-tanya mengapa yeoja di hadapannya ini tak berkedip sama sekali dan malah menatapnya tanpa henti*dia jatuh cinta ama kamu, Bummie*

Ja Rin mengerjap satu kali, dua kali, lalu pada akhirnya ia tersadar sepenuhnya.
“Hah? Iya..” ia terdiam sejenak “Ah, tidak.. aduuuhh.. kakiku sakiit..” ia mulai berakting. Tapi kakinya memang benar terasa sakit. Namun ia sengaja mendramatisir keadaan. Ia ingin sekali membuat namja di hadapannya ini panik pontang panting dan segera menolongnya. Ja Rin sengaja memasang tampang semenderita mungkin.
“Benarkah? Mana yang sakit??” Kibum langsung di dera rasa khawatir dan bersalah. Ja Rin meringis sambil menunjukkan pergelangan kakinya.
“Baiklah, aku akan membawamu segera..” tanpa di duga Kibum mengangkat Ja Rin dan membawanya ke mobilnya. Ja Rin sempat terkejut namun, ini membuatnya sangat terkesan. Ia serasa menjadi seorang putri dalam drama-drama tivi yang sedang ditolong oleh pangeran tampan. Ia senyam-senyum sendiri saat Kibum mendudukkannya di samping kursi kemudi.
Kibum bergerak cepat seperti orang yang kemallingan. Ia segera tancap gas membawa yeoja yang terkilir itu ke rumah sakit.
“Ngomong-ngomong, kita akan kemana?” tanya Heerin penasaran. Ia tidak bisa menyembunyikan wajah gembiranya.
“Rumah sakit.” Suara yang dikeluarkan Kibum terkesan panik dan buru-buru. Lain halnya dengan reaksi Ja Rin. Ia kaget setengah mati.
“Mwoooo!!!! Rumah sakit!! Shireo! Turunkan aku sekarang juga!!” teriak Ja Rin sambil mengguncang-guncang tangan Kibum yang memegang kemudi.
“Tidak bisa. Kau kan terluka. Aku harus bertanggung jawab.” Balas Kibum.
“Tapi.. tapi..” Ja Rin tidak melanjutkan. Aku benci rumah sakit..tambahnya dalam hati. Ia memelas pada Kibum. Tapi sayang sekali namja itu tidak menyadarinya. Sekarang ia menyesal berakting di hadapan Kibum. Tahu begini ia bilang tidak apa-apa saja tadi. Ia pikir namja itu akan membawanya ke rumahnya. Ternyata.. tidak.. namja itu malah membawanya ke tempat yang paling tidak ingin ia injak. Rumah sakit. Ia hanya berdoa semoga nanti ia tidak akan di suntik.

Sesampainya di rumah sakit, Kibum segera memapahnya menuju sebuah ruangan. Ja Rin sempat bingung juga. Namja ini langsung membawanya masuk ke ruangan itu tanpa berbicara dengan resepsionis ataupun suster yang ada di rumah sakit besar itu.
“Nona, kau duduk di sini yah.. tunggu aku akan mencari obat untuk menyembuhkan kakimu” namja itu hilir mudik di sekitarnya mengambil air dan handuk, lalu membuka sebuah lemari yang berisi botol-botol. Sepertinya itu obat atau entahlah. Yang pasti baunya begitu menyengat, khas rumah sakit.
Keningnya makin berkerut. Ia ingin sekali bertanya mengapa namja itu begitu lancang mengobrak-abrik ruangan orang. Tapi lagi-lagi diurungkannya karena namja itu sekarang menghampirinya dan duduk di kursi yang ada di sebelahnya.
“Ulurkan kakimu.” Pintanya dengan sopan. Ja Rin mengulurkan kakinya yang terasa sakit-roller bladenya sudah ia lepas semenjak turun dari mobil Kibum-
“Bagian sini?” tanya Kibum memastikan. Ia meletakkan handuk yang sudah dibasahi air hangat di pergelangan kakinya. Ja Rin meringis pelan lalu mengangguk. Kibum mengompresnya dengan gerakan lembut setelah itu ia memijatnya sebentar.

Sungguh, dalam jarak sedekat ini. Ia benar-benar akan kehabisan nafasnya jika terus menatap wajah namja di hadapannya. Dia begitu tampan dan lembut. Juga baik. Jangan lupakan itu. Ah, dan yang membuatnya makin terpesona adalah, dia namja yang bertanggung jawab. Di luar penampilannya yang sempurna itu, Ja Rin bisa melihat kepribadiannya yang memepesona. Ia benar-benar jatuh cinta pada namja ini.

“Siapa namamu, nona?” tanyanya membuyarkan lamunan Ja Rin.
“Cho Ja Rin” jawab Ja Rin tanpa ragu. Kibum mengangkat kepalanya, ia menatap Ja Rin sejenak. Sepertinya ia familiar dengan marga yeoja yang ada di hadapannya. Benar, marganya sama seperti Kyuhyun. Apa mungkiin??
“Kenapa menatapku?” Ja Rin gugup diperhatikan seperti itu. Kibum mengerjap. Ia tersenyum.
“Mianhae. Hanya saja margamu seperti marga temanku.” Jawab Kibum. Oh ayolah.. tidak mungkin kan ada satu orang yang bermarga CHO di dunia ini.
Ja Rin menganggapnya hanya angin lalu. Ia ingin bertanya pada namja yang ada di hadapannya ini. “Kenapa kau bisa membawaku ke sini? Memangnya..” ucapan Ja Rin terpotong karena seseorang masuk ke ruangan itu. Seorang suster cantik seusia dengannya.
“Oh, Dokter Kim.. kau sudah datang” ucapnya sambil membungkukkan badannya sejenak. Kibum bangkit. Ia tersenyum pada suster yang menurut Ja Rin nilai kecantikannya mencapai 9. Siapa dia???? Tapi tunggu, tadi suster itu bilang apa? Dokter Kim?? Jangan-jangan???
“Sooyoung, ada apa?” tanya Kibum ramah. Suster bernama Sooyoung itu menyerahkan sesuatu pada Kibum. Dan Ja Rin hanya bisa melihat keakraban mereka dengan wajah melongo. Apa maksudnya ini????
“Ini hasil rontgen dari pasien yang patah tulang kemarin. Dokter kepala menyuruhku menyerahkannya padamu.”
Kibum memakai kacamatanya lalu membuka map itu dan menelaah isinya baik-baik. Sumpah demi dewi Fortuna, Ja Rin benar-benar sesak napas melihat namja itu semakin tampan dalam ekspresi serius seperti itu. Rasanya ia ingin sekali memeluk namja itu dan tak ingin melepaskannya lagi.
“Oh, baik aku mengerti. Katakan pada Appa, maksudku dokter kepala bahwa aku akan mengambil alih pasien ini.” Ucap Kibum sambil menyerahkan kembali map yang dipegangnya pada suster bernama Sooyoung itu. Suster itu mengerti lalu pamit pergi.

Kibum kembali duduk di tempatnya tadi. Ja Rin tidak kunjung melepaskan tatapannya pada wajah rupawan Kibum. Ia mutlak jatuh cinta padanya.
“kakimu sudah lebih baik kan?” tanya Kibum. Ia memperlihatkan senyum andalannya. Ja Rin pasti sudah meleleh jika ia tidak menahan dirinya sendiri.
“Tidak.. aduh.. di sini masih sakit..” lagi-lagi Ja Rin berakting. Kakinya memang tidak terlalu sakit lagi. Malah sudah sangat baik. Tapi begitulah seorang Ja Rin bila sudah jatuh cinta. Ia sekarang sedang mencoba menarik perhatian Kibum.
Kibum berkerut samar. Ia memegang kaki Ja Rin kembali, mengeceknya. Setelah itu ia tersenyum.
“Tapi nona Cho, kakimu sudah tidak apa-apa..”
“Yang merasakan aku. Kenapa kau yakin aku baik-baik saja.”
Kibum mengangguk. “Sepertinya tidak ada cara lain kalau begitu. Aku akan memberimu suntikan penghilang rasa sakit segera”
Ja Rin melonjak mendengarnya. Ia buru-buru menahan Kibum saat namja itu hendak bangun.
“Ah.. jangan!! Sepertinya.. aku sudah baik..” Ja Rin tersenyum manis.
“Baguslah..”

Ja Rin menundukkan kepalanya. ia malu karena sudah berbohong.
“Em.. tadi kudengar suster tadi memanggilmu dokter. Apa kau sungguh-sungguh dokter di sini?” Ja Rin mengalihkan rasa malunya dengan bertanya.
Kibum mengangguk sambil membereskan alat-alat yang tadi digunakannya untuk mengobati Ja Rin.
“Benar” jawabnya. Ja Rin mengerjap. Omonaaa.. kenapa namja yang disukainya harus berprofesi sebagai dokter!! Tuhan.. apakah ini caramu menghukumku? Karena aku membenci rumah sakit dan segala yang berhubungan dengannya sekarang aku harus berhadapan dengan namja yang bekerja sebagai dokter?

__o0o__

“Sekali lagi terima kasih, Dokter Kim” ujar Ja Rin sambil menundukkan kepalanya dalam-dalam. Tidak ada senyum karena Ja Rin sangat sedih harus berpisah dengan Kibum.
“Tidak masalah. Kau terluka karena aku.” Kibum melirik kaki Ja Rin yang kini memakai sepatu yang dipinjamkan Sooyoung karena tidak mungkin Ja Rin pulang memakai sepatu roda. Itu akan membuat kakinya cidera.
“Aku harap kakimu cepat sembuh. Sebelum itu, kau jangan melakukan gerakan yang berlebihan. Dan jika terjadi sesuatu, aku harap tidak, kau tinggal mencariku di sini. Arraseo”
Ja Rin mengangguk. Pipinya merona. Ternyata sekarang ia jatuh cinta pada orang yang lembut seperti Kibum.
“Ngomong-ngomong dokter, boleh aku tahu nama lengkapmu?” Ja Rin hampir saja lupa menanyakan hal paling penting.
“Kim Kibum” jawab Kibum sambil mengulurkan tangan.

Brakkk..

Ja Rin menjatuhkan sepatu roda yang dipegangnya. Ia terkejut mendengar nama itu. Nama yang paling tidak ingin ia dengar karena mengingatkannya pada mantan pacarnya, Key alias Kim Kibum. Tubunya kaku seperti patung. Kibum terkesiap melihat reaksi Ja Rin.

“Omo, kau kenapa nona Cho?” tanya Kibum cemas. Ja Rin buru-buru menggelengkan kepalanya. ia mengambil kembali sepatu rodanya yang jatuh. Ia berusaha menahan jantungnya agar tidak berdebar kencang. Kenapa? Kenapa lagi-lagi harus sesuatu yang dibencinya??? Kenapa namanya harus Kim Kibum???
“Ah tidak.. salam kenal, Kim Kibum-ssi” ujar Ja Rin kaku. Ia bahkan memaksakan diri untuk tersenyum meskipun pada akhirnya senyumnya itu malah terlihat aneh.

Taksi yang tadi dipesan Kibum datang. Kibum membukakan pintu taksi itu untuk Ja Rin.
“Sekali lagi, terima kasih” Ja Rin menundukkan kepalanya. ia segera masuk ke dalam taksi. Saat taksi mulai berjalan, sesekali ia menoleh ke belakang. Kibum masih berdiri di sana, meninggalkan kesan mendalam dalam diri Ja Rin. Ia merenung.
“Dari sekian banyak nama, kenapa namanya harus Kim Kibum??” batinnya sambil menahan rasa sakit. Ia kembali teringat detik-detik saat ia menyaksikan Key menggandeng yeoja lain di hadapannya. Dan mengatakan bahwa yeoja itu adalah pacarnya. Lalu ia siapa? Ja Rin merasa sangat sakit karena ternyata selama ini ia dijadikan yang kedua oleh Key.

__o0o__

Kibum merasa ada yang aneh dengan yeoja bernama Cho Ja Rin itu. Sebenarnya selama gadis itu berada di sisinya, ia menyadari kalau Ja Rin terus menatap ke arahnya. Ia tidak mengerti mengapa. Tapi hanya satu hal yang ia tahu, mungkinkah yeoja itu terpikat padanya? Sama seperti yeoja-yeoja kebanyakan? Pasti begitu.

Selama ini, ia tidak terlalu terkejut saat mendengar ada yeoja yang menyukainya. Bahkan sering sekali yang nekat menyatakan perasaannnya pada Kibum. Tapi selama itu juga, ia tidak pernah tersentuh sama sekali. Hatinya seolah dirancang untuk tidak peka pada hal semacam itu. Ia juga mengira itu hal yang tidak normal. Karena kebanyakan orang pasti akan senang jika ada orang yang menyukainya. Tapi Kibum tidak pernah merasakan hal itu. Ia juga pernah berfikir ada yang salah dengan kejiwaannya. Dan sudah pernah berkonsultasi pada psikolog. Namun akhirnya ia tetap tidak bisa memahami apa yang membuatnya seperti itu.

“Ckckckc..Nona Cho, kau membuatku bingung.” Gumam Kibum sambil menggelengkan kepalanya.

Drrttt ddrrttt..

Kibum mengangkat ponselnya. “Yeobseo”
“Kibum.. jangan lupa besok kau harus meluangkan waktu.” Suara Ummanya terdengar ramah di ujung sana.
“Besok?” Kibum memutar otaknya memikirkan hari apa besok. Saat menyadarinya, ia mengerjap kaget.
“Besok kann..”
“Benar. Besok hari peringatan kematian Nunamu, Taeyeon. Jadi jangan telat datang.”
“Baik Umma. Aku mengerti.”

Setelah menutup telepon, Kibum sempat menghela napas sejenak. Kenapa waktu berlalu begitu cepat? Tanpa terasa sekarang sudah 5 tahun kakaknya meninggal dunia. Itu artinya, Minki-keponakannya, anak Taeyeon dan Sungmin-sudah berumur 5 tahun.

Benar juga. Bukankah hari ulangtahun Minki sama dengan hari kematian Taeyeon?
Kibum harus menyiapkan hadiah untuk keponakannya itu.

__o0o__

“Cho Ja Rin?? Apa yang terjadi padamu???” teriak Ummanya panik. Bagaimana tidak, putrinya yang semalam kabur entah kemana, kini pulang dalam keadaan mengenaskan. Baju berantakan, mata sembab, dan rambut tak kalah kusut seperti sapu yang sudah lama tidak dijemur(?). apa yang membuatnya menjadi begini menyedihkan?
“Kau kenapa nak?? Kau terjebak badai di mana?” Umma memapah Ja Rin agar duduk di sofa ruang tamu. “Bibi Han.. bibi Han..” Umma memanggil pembantu kepercayaannya itu. Seorang wanita berusia 40 tahunan datang tergopoh-gopoh menghampiri Umma.
“Iya, nyonya besar”
“Ambilkan handuk dan minuman untuk Ja Rin.”
“Baik.”

“Ayo minum dulu nak.” Umma meminta Ja Rin agar minum Hot Chocholate, minuman favoritnya. Ja Rin menolak. Ia sedang tidak mood untuk minum atau makan apapun hari ini. Umma tidak tega melihat putri yang biasanya sangat memperhatikan penampilan itu tampak berantakan dan tak berdaya. Dia pasti sedang menderita tekanan batin yang kuat.
“Mian Umma, tapi aku sedang tidak haus.” Ja Rin bangkit. Ia berjalan lunglai menuju tangga.
“Apa kau masih marah pada Appamu?”
Ja Rin menghentikan langkahnya. Badannya ia balikkan dengan gerakan malas.
“Tidak. Aku sudah tidak marah padanya.”
“Mwo? Lalu kenapa kau sekacau ini?”
“Semua karena…” Ja Rin buru-buru menutup mulutnya lagi. Ia tidak mau membicarakan perihal namja bernama Kim Kibum itu. “Sudahlah Umma, aku lelah. Sementara waktu, jangan ganggu aku. Aku ingin menenangkan diri.” Ja Rin kembali menaiki anak tangga yang akan mengantarkannya pada kamarnya di lantai 2.

__o0o__

Hari itu setelah diadakan upacara peringatan Hari kematian Taeyeon, keluarga besar Kim berkumpul di rumah mereka untuk merayakan ulangtahun Minki. Ulang tahun itu hanya dihadiri oleh keluarga dan teman-teman dekat saja.
“Min-chan.. saengil chukhaa..” Donghae memberikan kado untuk Minki. Gadis cilik itu makin imut saja menggunakan gaun berwarna putih. Minki melonjak senang.
“Gomawo, Oppa.. peluk Minnie..” pinta Minki manja. Ia memang selalu seperti itu jika senang. Selalu minta dipeluk. Donghae segera mengabulkannya.
“Ya! Minnie kau curang. Masa memanggil Donghae dengan sebutan Oppa sementara aku Shamchon.” Protes Heechul. Ia tidak menerima diskriminasi dalam bentuk apapun.
“Jangan kekanakan. Mungkin karena Donghae jauh lebih manis.” Jawab Sungmin. Ia melirik istrinya, In Sung yang hanya tertawa menanggapi sifat Heechul.
“Huh, padahal aku jauh lebih tampan..” pedenya mulai kambuh lagi.

Haebin sendiri dari tadi tidak bisa melepaskan perhatiannya dari kue tart yang ada di sana. Huuh.. padahal usia kandungannya sudah 7 bulan lebih. Tapi kenapa ia tetap ngidam juga??? Ia ingin memakan kue itu..
“Kenapa?” tanya Siwon bingung. Ia melirik pada Donghae sekilas. Suami Haebin itu sibuk bermain dengan Minki.
“Aku ingin kue itu Oppa, bolehkah?” tanya Haebin sambil memamerkan puppy eyesnya.
“Tentu saja boleh. Sebentar…”
Haebin buru-buru menahannya. “Tunggu Oppa”
“Kenapa?”
“Aku ingin Eunhyuk Oppa yang mengambilkannya..”
“Nde??” Siwon lalu melirik Eunhyuk. “Kenapa harus monyet yadong itu? Dampaknya akan buruk terhadap bayimu. Sudah aku saja…”
“Tapi aku ingin Eunhyuk Oppa yang mengambilkaaannnn..” rengek Haebin. suaranya itu otomatis membuat semua orang fokus padanya.
“Ya! Kau apakan istriku!!” protes Donghae. ia menghampiri Siwon dan Haebin.
Siwon kebingungan menghadapi situasi seperti ini. Ia menoleh kikuk pada kue tart yang masih utuh itu.

Sementara orang lain meributkan soal Haebin yang mengidam, Kibum sejak tadi diam saja. Ia diam di depan foto kakaknya yang berada di altar tempat upacara tadi berlangsung. Duduk bersimpuh di lantai dengan pandangan lurus ke arah foto itu.
“Nuna, andai kau masih hidup.. segalanya pasti akan berbeda sekarang. Meskipun semua orang di rumah ini menganggap remeh padaku, setidaknya hanya kau yang memihakku. Tapi,, kenapa kau pergi meninggalkanku? Dulu, saat Yoona meninggal, aku tidak terlalu sedih karena masih ada kau. Dan kau pun meninggalkanku. Aku.. aku tidak tahu harus bergantung pada siapa lagi..” lirihnya.

Terkadang, bila mengingat kenyataan itu ia sering kali menangis sendirian. Dari luar, Kibum memang tampak tegar dan kuat. Namun jauh di dalam lubuk hatinya, ia memendam rasa kesepian dan kesedihan. Tidak ada orang yang mengetahuinya.

Pikirannya berkelebat pada kejadian 5 tahun lalu. Saat Sungmin dengan wajah paniknya membawa Taeyeon ke rumah sakit karena akan melahirkan. Saat itu ia belum menjadi seorang dokter. Ia masih sebagai mahasiswa kedokteran.

#flashback#
“Taeyeon..bertahanlah. sebentar lagi kau akan masuk ke ruang operasi.” Sungmin terus memegang tangan Taeyeon yang mengerang kesakitan karena kontraksi. Taeyeon di bawa masuk ke ruang persalinan.
“Nuna..kau harus kuat..” ujar Kibum sambil menemani dokter yang akan membantu proses persalinan Taeyeon. Ia juga tak lupa meyakinkan Sungmin agar tetap tenang.
“Tuan, sebaiknya anda menunggu di luar. Tenangkan keluargamu yang menunggu di luar sana.” Ujar Dokter Park, dokter yang menangani proses persalinan Taeyeon.
Kibum sebenarnya tidak ingin. Namun akhirnya ia keluar juga.

Selama kurang lebih 1 jam, ia menunggu Taeyeon yang berjuang melahirkan bayinya di dalam sana. Kibum menoleh pada Appa, Umma, dan Heechul yang berwajah khawatir sama seperti dirinya. Saat itu Kibum merasa tidak berguna. Andaikan ia sudah menjadi dokter sekarang. Ia pasti akan menolong kakaknya detik itu juga.

Kibum merasakan firasat buruk. Entah apa itu. Tapi firasat itu hilang ketika terdengar suara tangis bayi dari dalam ruangan. Tubuh Kibum yang semula lemas langsung pulih begitu tahu bahwa kakaknya sudah melahirkan. Tidak hanya ia, tapi semua keluarganya pun segera bersyukur.

Dokter keluar, ia mempersilakan keluarganya masuk untuk melihat.

“Selamat Tuan, Nyonya, bayi yang lahir perempuan.” Kata Dokter Park sambil menyerahkan bayi yang masih merah dan diselubungi oleh selimut hangat pada Tuan Kim selaku kakeknya.
“Cucuku.. pasti akan tumbuh menjadi anak yang cantik kelak. Seperti ibunya.”

Kibum sangat terharu menyaksikan kejadian itu. Ia menengok pada Sungmin. Kakak iparnya itu masih memegangi tangan Taeyeon yang tampak sangat lemah.
“Nuna, kau sudah menjadi ibu sekarang..” ucap Kibum. Taeyeon meneteskan airmata bahagianya.
“Terima kasih, Kibum.” Ucapnya lemah.
“Hyung, kau juga sudah jadi Appa sekarang.”
Sungmin mengangguk dengan wajah senang juga. Tapi ada rona kesedihan di wajahnya. Kibum mengerjap saat melihat Sungmin meneteskan airmata.
“Hyung, kenapa kau menangis?”
Sungmin menggeleng. Genggaman tangannya mengerat. Taeyeon tersenyum lemah.
“Yeobo, aku tidak akan meninggalkanmu. Kau jangan menangis.” suaranya begitu pelan. Tapi Kibum bisa mendengarnya. “Meskipun aku pergi, kau tetap harus bahagia.”
Sungmin tak bisa menahan airmatanya.meskipun ia tidak terisak, tapi air mata itu terus jatuh dari ekor matanya.
“Apa maksudnya ini??” tanya Kibum bingung.

Barulah ia tahu saat dokter menjelaskannya dengan tenang di luar ruangan persalinan itu.
“Pasien mengalami komplikasi. Tapi dia tetap bersikeras ingin melahirkan bayinya. Itu sangat beresiko untuk keselamatan nyawanya. Dan maaf, tapi kami tidak bisa melakukan apapun untuk menyelamatkan pasien.” Ujar Dokter Park menyesal.
Tuan Kim membelalakkan matanya, kaget. “Apa maksudmu dengan tidak ada yang bisa dilakukan? Jadi maksudmu kau membiarkan putriku mati? Putriku satu-satunya?”
Dokter Park menghela napas. “Maaf Dokter kepala, aku sudah memperingatkannya sejak awal bahwa ini sangat beresiko untuk keselamatannya. Tapi pasien tetap bersikukuh ingin melahirkan.”
Nyonya Kim juga tak bisa menahan airmatanya saat mendengar hal itu. Ia menangis.

Kibum pun syok. Sangat terkejut. Bagaimana mungkin.. bahkan Heechul terus diam sejak tadi. Ia juga merasakan hal yang sama.

Kibum masuk kembali ke dalam kamar tempat Taeyeon berbaring untuk menghadapi detik-detik terakhir hidupnya. Langkahnya begitu pelan. Seakan ia takut membuat lantainya hancur jika ia berlari di atasnya.
“Nuna..” ucapnya terisak. Taeyeon sangat lemah. Ia hanya bisa tersenyum pada Kibum. Sungmin sudah lebih tenang. tapi jelas sekali dia yang paling sedih menghadapi situasi ini.
“Nuna, kajima..” ujar Kibum. Airmatanya mengalir deras.
“Kibum, setelah Nuna pergi, kau harus kuat. Kau ini adikku yang paling hebat. Jangan biarkan dirimu terus kesepian. Bahagialah. Kau mau kan berjanji pada Nuna?”
Kibum mengangguk lemah. Kepalanya tertunduk. Taeyeon mengulurkan tangannya untuk mengusap kepala Kibum.
“Adikku, Nuna yakin kau bisa menjadi dokter. Kau bisa membuktikan pada dunia bahwa kau ini hebat. Buatlah Nuna bangga. Kibum, kemarilah.” Taeyeon meminta Kibum agar mendekatinya. Kibum menurut. Taeyeon meminta Kibum agar memeluknya. Pelukan perpisahan.

“Nuna, aku menyayangimu.. sangat..” lirih Kibum.
“A-ra” jawab Taeyeon lemah. Ia lalu meminta Sungmin juga untuk memeluknya.
“yeobo, aku percayakan anak kita padamu..jangan kau buat dia merasakan kesepian karena tidak ada aku. Buat dia merasa memiliki segalanya.”
Sungmin kembali meneteskan airmatanya. “Tentu saja. Aku berjanji”
Taeyeon tersenyum. Ia menitikkan airmata bahagia. Tak lama juga masuk Appa, Umma, dan kakaknya. Taeyeon tersenyum untuk terakhir kalinya. Ia belum sempat mengatakan perpisahan pada mereka. Karena detik itu juga, mata Taeyeon tertutup, nafanya terhenti bersamaan alat pendeteksi detak jantung berbunyi nyaring pertanda pasien sudah pergi untuk selama-lamanya.

Yah..Taeyeon pergi dalam keadaan bahagia hari itu. Pergi setelah memberikan kesempatan pada anaknya untuk melihat dunia. Pergi dalam keadaan di kelilingi oleh orang-orang yang dicintainya. Sungmin memeluk istrinya yang sudah tidak bernyawa itu. Tangisannya pecah. Tidak hanya Sungmin, bahkan semua orang menangis mengiringi kepergian Taeyeon.

#flashback end#

Kibum menangis teringat hari itu. Hatinya terasa sepi kembali seiring dengan kenyataan bahwa tidak ada lagi orang yang bisa mendukungnya di saat ia sedih. Teman-temannya memang selalu ada, tapi itu berbeda. Ia merasa berbeda.

“Nuna, aku merindukanmu..” lirihnya..

To be continued..

52 thoughts on “Shady Girl Kibum’s Story (Part 2)

  1. Kasian kim bum dianak tirikan sma ayah dan hyungnya 😭 belum lg sahabat dan nunnany yg slalu bersama kim bum pergi untuk selamanya 😭😭
    Sedih banget nasibnya kim bum??

Your comment

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s