Shady Girl Sungmin’s Story (Part 4)

Tittle : Shady Girl Sungmin’s Story Part 4
Author : Dha Khanzaki a.k.a Shin Je Young
Genre : Romance, Family

Main Cast :

  • Shin In Sung
  • Lee Sungmin

Support Cast :

  • Jun Jinyoung
  • Meng Jia
  • Lee Donghae
  • Shin Dong Hee / Shindong

Warning : typo bertebaran

Shady Girl Sungmin's Story by Dha Khanzaki5

—–o0o—–

Part 4

Jinyoung mengepal erat tangannya. Sekarang ia tengah duduk frustasi di dalam kamar apartement kecilnya. Rambutnya berantakan begitupun bajunya. Otaknya terus terbayang kejadian yang dilihatnya kemarin. Saat ia baru pulang kuliah-Jinyoung mengambil program pascasarjana-tanpa sengaja ia melihat In Sung sedang makan malam bersama seorang namja yang ia lihat tempo hari di sebuah restoran steak terkenal. Hatinya terasa sakit sekali melihatnya. Ia ingin masuk, tapi ia merasa tidak pantas mengganggu In Sung yang sepertinya bahagia bersama namja itu. Jadi ia hanya bisa menatapnya dengan pandangan sedih+sakit.

Dalam hatinya berkelebat banyak hal. Apakah In Sung sudah tidak mencintainya lagi? Ataukah namja itu adalah namja pilihan Ummanya. dia dan namja itu memang berbeda jauh. Dirinya siapa? Hanya mahasiswa biasa yang datang dari kampung untuk menuntut ilmu. Tidak lebih. Tidak bisa dibandingkan dengan namja itu yang kelihatannya bukan namja sembarangan.

Drrtttt..drrrttt..

Ponselnya berdering. Ia melihat layar ponsel. Dahinya berkerut ketika mendapati nomor tak dikenal. Tanpa ragu ia segera mengangkatnya.
“Yeobseo..”
“Apakah kamu Jun Jinyoung?”
Jinyoung mengerjap. “Iya. Anda siapa?”
“Aku Ummanya Shin In Sung. Bisa kita bertemu hari ini di restoran xxxxx?” ia makin terkesiap. Tuhan.. sekarang bahkan Umma In Sung mengajaknya bertemu. Bisa ditebak apa yang ingin dibicarakannya.
“Baiklah. Aku akan segera ke sana.” Jinyoung tidak mempunyai pilihan lain. Setelah menutup telepon, ia segera merapikan dirinya dan mengambil jaket.

@@@

In Sung sudah menemukan apartement untuk ia tinggal sementara. Meskipun kecil, tapi ia senang. Akhirnya keinginannya untuk hidup mandiri tercapai juga.
“Oke, sekarang aku harus belanja keperluanku.”
Baru ia akan berangkat, ponselnya berbunyi. Senyumnya terbit saat ia melihat layar ponsel ternyata Jinyoung meneleponnya. Ia memang sudah merindukan kekasihnya itu.
“hallo..” In Sung menjawabnya dengan suara ceria.
“Di mana kamu? Aku dengar kau pergi dari rumah?”
In Sung tidak terkejut Jinyoung bisa tahu hal itu. Mungkin saja kan Shindong oppanya sudah memberitahu Jinyoung.
“Iya. Aku sekarang ada di apartement baruku. Kenapa?”
“Bisa kita bertemu? Ada yang ingin kubicarakan.”
“Tentu saja.”

@Central Park
Jinyoung tersenyum manis dan membalas lambaian tangan In Sung. Gadis itu segera memeluknya kala ia sudah berada di hadapannya.
“Apa yang ingin kau bicarakan?” In Sung sangat penasaran. Jinyoung mengajaknya duduk di tepian kolam.
“Em, kenapa kau kabur dari rumah?”
“Aku tidak ingin menikah dengan pria tua itu. Bagaimanapun aku kan kan menyukaimu. Umma tidak pernah bisa paham perasaanku.”
“Tapi menurutku kau terlalu berlebihan. Haruskah kau pergi dari rumah? Kau tidak memikirkan perasaan Ummamu? Dia pasti sangat sedih”
In Sung kaget mendengar ucapan Jinyoung. Ia tersinggung. “Aku melakukan ini demi kita.”
Jinyoung menoleh menatap In Sung dengan tatapan sedih dan senang. Entahlah, sepertinya Jinyoung sedang menahan emosinya sendiri. Tapi namja itu tetap berusaha untuk tenang dan tersenyum.
“Kau bukan melakukan kita. Tapi kau menuruti egomu sendiri.”
“Apa!!” In Sung tersentak. Ia memang merasa Jinyoung tengah menyembunyikan sesuatu. Yah.. sepertinya memang begitu.
“Sebenarnya apa yang ingin kau bicarakan? Apa kita bertemu hanya untuk mendengar ceramahmu?” nada suaranya meninggi
Jinyoung menghela napas berat. “In Sung, sebaiknya kita akhiri hubungan kita saja.”
“Mworago!!” teriaknya kaget.
“Kita putus saja. Diteruskan pun Ummamu tetap tidak akan merestui kita.” Ucapnya dengan suara tenang. padahal gejolak emosi dalam hatinya memberontak tak terkendali.

In Sung semakin yakin memang ada yang tidak beres dengan Jinyoung. “katakan padaku, apa Umma yang memintamu agar menjauhiku?” cecarnya tidak sabar.
Jinyoung menggeleng. Ia tidak mau menatap In Sung. “Bukan. Ini murni karena aku yang menginginkannya. Aku sudah lelah menghadapi hubungan ini.”
“Bohong! Katakan yang sebenarnya! Apa kau tidak tahu, aku kabur, aku menentang Umma, aku tidak ingin menikah dengan Tuan Cha semua karena aku mencintaimu. Aku sangat tersiksa kemarin tapi kenapa kau malah meminta hal yang membuat semua hal yang kulakukan itu sia-sia. Kumohon Jinyoung, katakan alasan yang sebenarnya. Aku tidak ingin kita putus dengan cara seperti ini.” In Sung seperti orang bodoh saja, memohon-mohon seperti ini.
Jinyoung menoleh. Ia menatap In Sung dengan sorot mata penuh kepedihan. “Lalu kenapa kau tidak mencariku kemarin? Kenapa saat kau sedih kau tidak mendatangiku dan malah pergi bersama namja lain?”

Ucapan Jinyoung sukses membuat In Sung membungkam mulutnya. Jadi.. Jinyoung melihat apa yang ia lakukan kemarin?
“Jika memang kau menganggapku berarti, harusnya aku orang yang kau pikirkan pertama kali saat kau sedih. Jika kau memang membutuhkanku, harusnya kau mendatangiku saat keadaamu terpuruk. Aku ini kekasihmu. Tempatmu berbagi kesedihan dan kesenangan. Tapi apa yang kau lakukan? Kau malah pergi bersama namja lain. Kau tahu, hatiku ini sakit”
“itu..” In Sung merasa sangat terpukul. Ia ingin menjelaskan pada Jinyoung, namun lubuk hatinya mengakui bahwa ia memang sudah mengkhianati Jinyoung. Ia sepertinya.. sudah jatuh cinta pada Sungmin.
“Sudahlah. Aku tidak marah padamu. Lebih baik kita sudahi saja semua ini. Berakhirnya hubungan kita adalah keputusan terbaik untuk saat ini. Maaf jika selama menjadi pacarmu, aku tidak bisa memberimu apa-apa selain kasih sayang. Kau tahu kan? Aku bukan siapa-siapa.” Jinyoung bangkit dari tempat duduknya. Lalu ia pergi meninggalkan In Sung yang masih terdiam.

Sepeninggal jinyoung, In Sung menangis dalam diam. Ia tidak terisak, namun airmatanya terus mengalir tanpa henti. Perasaan ini benar-benar menyakitkan dan membuatnya sesak.

@@@

Setelah ia putus dari In Sung, Jinyoung mulai membereskan barang-barangnya. Ia mendapatkan beasiswa untuk kuliah S2 di Shanghai. Sekarang ia tengah berada di bandara menunggu pesawat tujuan Shanghai tiba. ia menatapi fotonya bersama In Sung saat pertama kali mereka jadian. “Mianhae In Sung.. sebenarnya aku masih mencintaimu.. tapi Ummamu memintaku untuk menghilang dari kehidupanmu.” Gumamnya dengan nafas tercekat. Ia teringat kembali pertemuannya dengan Umma In Sung di sebuah restoran di Apgujeong-dong.

#Flash back#
“Bisakah kau memutuskan hubungan dengan putriku?” tegas wanita yang duduk di hadapannya itu tanpa ragu. Jinyoung tidak begitu terkejut mendengarnya. Namun ia kaget karena Umma In Sung benar-benar menginginkan ia menjauhi putrinya. Jinyoung menghela napas. Ia sadar diri sepenuhnya.
“Mengapa Anda ingin kami mengakhiri hubungan kami? Dan bagaimana aku akan menjelaskannya pada In Sung?” ujarnya tenang
“Tanpa di jawab pun tentu kau tahu alasannya bukan? Dan soal bagaimana kau menjelaskan pada putriku, kau tidak perlu menjelaskan apapun. Kau cukup mengatakan padanya bahwa kau ingin mengakhiri hubungan kalian. Selesai”
Jinyoung menahan emosi dalam hatinya. Sangat tidak sopan jika ia membentak orang yang lebih tua.
“Jika kau turuti keinginanku, aku akan memberikanmu kesempatan untuk bersekolah di luar negeri. Bagaimana?”
“Baiklah”
Bukan. Jinyoung bukan setuju karena ia akan mendapatkan beasiswa, tapi karena ia memikirkan In Sung. Mungkin dengan begini gadis itu akan bisa hidup lebih baik sesuai dengan apa yang orangtuanya inginkan. Dengan begini tidak akan ada orang yang sakit hati karena hubungan mereka. Hanya dirinya saja yang merasakan sakit itu.
Tanpa dirinya, In Sung tetap akan bahagia. Ia yakin akan hal itu.
#flashback end#

“Jun Jinyoung??”
Jinyoung mengangkat kepalanya. ia terkesiap begitu melihat sosok yang sangat dikenalnya berdiri di hadapannya dengan ekspresi yang begitu manis dan cantik. Di sampingnya berdiri Sano, pengawal pribadinya.
“Meng Jia..” gumamnya tanpa sadar menyebutkan nama gadis di hadapannya. Jia-gadis cantik bertubuh tinggi langsing itu langsung tersenyum lebar dan segera meraih lengan Jinyoung.
“Aku senang bertemu kau kembali” ujarnya dengan mata berbinar.
“Kenapa kau ke Korea? Bukankah kau berada di China?”
“Aku kemari karena ingin membawamu kembali ke China. Tak kusangka kita bertemu di bandara.”
“Tidak perlu repot-repot. Aku memang akan kembali ke sana.” Jinyoung tersenyum tipis.
“Really? Kalau begitu kau harus tinggal denganku di Macau. Ayah ibuku sangat merindukanmu. Mana tiket pesawatmu?” Jinyoung menyerahkan tiket pesawatnya pada Jia. Gadis itu segera meminta pengawalnya mendekat.
“Sano, tukarkan tiket Jin ke tiket untuk kelas VIP segera.”
“Baik, nona” Sano segera pergi untuk menukarkan tiket itu.
“Jia, kau tidak perlu melakukan ini. Aku”
“Sudah. Dari dulu kau selalu menolak pemberianku. Biarkan hari ini aku sedikit membahagiakan calon suamiku. Ayo pergi.” Jia dengan mesra menggandeng lengan Jinyoung dan membawanya pergi. ia tersenyum tipis, setelah ini.. ia harus bisa merelakan In Sung.

@@@

Sudah beberapa kali Ummanya meminta In Sung agar kembali ke rumah. Namun In Sung menolak dengan tegas. Ia tidak mau menuruti perintah Ummanya setelah ia mengetahui alasan Jinyoung putus dengannya. 2 hari lalu, ia pergi ke kampus tempat Jinyoung belajar. Betapa terkejutnya ia ketika tahu bahwa Jinyoung sudah pindah ke China karena mendapatkan beasisiwa di sana. Dan ia semakin sedih saat mengetahui Ummanya yang berada di balik semua ini. In Sung terus didera rasa penyesalan. Bahkan ia tidak mengucapkan selamat tinggal pada Jinyoung. Melihat wajah manisnya untuk terakhir kali sebelum namja itu pergi ke China dan entah kapan kembali lagi. Ia sangat kesal.

@@@

Haebin menatapi ponselnya. Sudah lebih dari 2 minggu ia tidak bisa menghubungi In Sung. Shindong, Oppanya sudah berkali-kali bertanya padanya apakah mendapat kabar dari In Sung, tapi hanya jawaban ‘tidak’ yang bisa ia berikan. Memang begitu kenyataannya. Ia tidak mendapat telepon ataupun pesan dari sahabatnya itu. Sekarang ia begitu cemas. Kemana sebenarnya In Sung? Ia tidak tahu jika In Sung sudah pergi dari rumahnya sejak 2 minggu yang lalu. Karena pertengkaran dengan Ummanya. ia tahu In Sung sangat stress dengan ummanya yang terus memaksanya menikah dengan Tuan Cha.

“Tenang saja, tadi pagi aku mendapatkan pesan dari In Sung. Aku akan mengunjunginya sekarang. Jadi kau tidak perlu mengkhawatirkannya sekarang.” Ucap Sungmin saat Haebin meneleponnya. Ia lansung melonjak senang.
“Jinjja???? Ah.. gomawo Oppa.. kapan kau akan berangkat? Aku ikut yah..”
“jangan. Kau kan sedang hamil. Lagipula Donghae tidak mungkin mengizinkanmu pergi”
“Ah iya.. kalau begitu sampaikan salamku pada In Sung ya.. dan bilang padanya untuk meneleponku segera. Aku sangat mengkhawatirkannya.”
“Baik.”

@@@

Seperti yang sudah ia katakan pada Haebin, kini Sungmin tengah dalam perjalanan menuju apartemen In Sung. Ia melirik Minki yang sudah sangat semangat saat ia bilang akan berkunjung ke tempat In Sung.
“Appa.. Minnie akan bertemu In Sung Eonnie?” tanyanya
“Iya chagi.” Jawab Sungmin senang.
Jujur saja, ia merindukan gadis itu. Sejak terakhir kali ia bertemu dengannya, sejak itu pula pikirannya terus dipenuhi bayangan tentangnya.

Ting tong..

Sungmin memencet bel. Minki sudah tidak sabar ingin segera masuk. Sungmin juga tidak sabar ingin segera bertemu dengan In Sung. Tapi sudah sepuluh menit ia menunggu, pintu tak kunjung dibuka juga. Ia memencet bel sekali lagi.
“Appa.. mana In Sung Eonni..” rengek Minki
“iya. Tunggu sebentar chagi.”
Sungmin merasa ada yang tidak beres saat In Sung tak kunjung membuka apartementnya juga. Ia membuka pintu apartementnya, matanya terkesiap. Tidak dikunci?
“In Sung..” panggilnya seraya masuk. Minki berlarian saat masuk ke apartement itu. Suasana lumayan gelap karena lampu tidak menyala dan semua jendela tertutup gorden. Kamar itu hanya terdiri dari ruangan yang bisa berfungsi sebagai ruang tidur dan ruang tamu. Juga ada dapur kecil dan kamar mandi. Tapi ia tidak melihat In Sung.
“Minki, jangan nakal” ujar Sungmin saat melihat putrinya tengah bermain di kasur In Sung.
Sungmin meraba-raba tembok untuk menyalakan lampu. Suasana sudah lumayan terang sekarang. Ia masuk kamar mandi yang pintunya terbuka sedikit. Melihat pemandangan di hadapannya, Sungmin terbelalak kaget.
“In Sung!!” teriaknya. Dengan langkah cepat ia segera menghampiri In Sung yang tak sadarkan diri dalam kondisi duduk tak berdaya di sudut kamar mandi itu. Sungmin bergetar hebat saat melihat dari pergelangan tangan In Sung mengalir darah. Ya ampun.. apa mungkin ia sedang mencoba untuk bunuh diri?
“huwaaa..Appa..Eonnie kenapa???” Sungmin menoleh cepat mendapati putrinya tengah menangis. ia mungkin syok melihat pemandangan mengerikan saat ini.
“Minnie, kamu cepat pergi.” ujar Sungmin mencoba tenang. padahal sesungguhnya ia bergetar takut. Sungmin segera mengangkat In Sung setelah memeriksa denyut nadinya masih terasa meskipun sangat pelan. Ia memacukan mobilnya dengan kecepatan tinggi.

Sesampainya di rumah sakit, In Sung segera di bawa ke ruang operasi. Sungmin menunggu di luar ruangan sambil terus mendekap Minki yang masih menangis.
“Appa.. Eonnie kenapa masuk ke sana.. Minnie ingin ikut masuk..” rengeknya. Sungmin berusaha menenangkan putrinya.
“Iya. Tapi nanti sayang. Jika Pak Dokter sudah keluar.” Ujarnya.

Sungmin tadi sudah menelepon keluarganya. Tak lama, mereka semua tiba di rumah sakit dengan perasaan cemas yang sama dengannya.
“Mana putrikuuu..” teriak Ummanya dengan deraian airmata. Appa In Sung buru-buru menenangkan istrinya.
“Tenanglah”
“Sungmin, katakan padaku kenapa adikku bisa seperti ini?” Shindong segera menginterogasi Sungmin.
“Tadi aku ke apartementnya dan menemukan In Sung sudah seperti ini.” Sungmin berbicara sambil terus menenangkan Minki yang menangis di gendongannya.
“Jadi selama ini kau mengetahui adikku berada di mana? Kenapa tidak memberitahuku?” ujar Shindong dengan nada kesal.
“Aku baru mengetahuinya hari ini.” Jawab Sungmin.
Shindong berdecak kesal. Ia juga tidak bisa menyalahkan Sungmin atas kejadian ini. Sekarang yang ia khawatirkan adalah keadaan adiknya di dalam sana.

“In Sung..” Haebin datang di temani dengan Donghae, suaminya. Ia baru saja sampai sudah berderai airmata. Tadi Sungmin juga sempat memberitahunya. Donghae berinisiatif memeluknya. Ia tidak mengatakan apapun, hanya membiarkan Haebin menangis.

Dokter keluar dari ruangan operasi. Orangtua In Sung segera menghampirinya.
“bagaimana keadaan anak kami Dok?” tannya Appa tidak sabar.
“Dia kehilangan banyak darah. Beruntung tadi cepat dibawa kemari. Jika tidak, entah apa yang terjadi padanya. Tapi tenang saja, sekarang dia sudah tidak apa-apa. Kami sudah memberikannya obat tidur. dia hanya butuh istirahat.”
Orang-orang menghela napas lega setelah mendengarnya. Apalagi Sungmin. Ia sangat bersyukur In Sung baik-baik saja.

@@@

Hidungnya mencium bau obat yang menyengat dari ruangan tempatnya berada. In Sung mulai membuka matanya. Di mana ini? Ia melirik ruangan di sekitarnya. Ia tahu sekarang dirinya berada di rumah sakit. Siapa yang datang menolongnya? Padahal ia ingin mati kenapa masih ada juga yang menyelamatkan nyawanya?
“In Sung..” In Sung mendengar suara yang sudah dikenalnya. In Sung menoleh dengan gerakan pelan dan mendapati Ummanya duduk di samping ranjang dengan tatapan sedih.
“Umma..kenapa Umma berada di sini?” tanyanya pelan. Umma menangis mendengar nada bicara putrinya yang terdengar membencinya. Ia tahu alasan kenapa In Sung memutuskan untuk bunuh diri. Pasti karena tindakannya sendiri. Ia pasti sudah membuat putrinya tertekan karena sudah memisahkannya dengan Jinyoung dan memaksanya menikah dengan Tuan Cha.
“maafkan Umma, In Sung.. Umma merasa sangat bersalah padamu..” Umma memegang tangan In Sung erat sambil terus meneteskan airmata. Selama In Sung belum siuman, ia sudah merenundkan semua tindakannya selama ini. Suaminya pun sudah mewanti-wantinya agar berhenti mencampuri urusan In Sung.
“mulai saat ini Umma akan berhenti mencampuri urusanmu. Kau bebas mencintai siapapun. Umma juga sudah membicarakannya dengan Tuan Cha dan ia setuju untuk membatalkan rencana pernikahannya denganmu. Jadi Umma mohon maafkan Umma.”

In Sung tersentuh mendengar ucapan Ummanya. ia tahu memang tidak pantas ia marah pada Ummanya. dan setelah mendengar permintaan maaf dari Ummanya sendiri ia merasa bersalah sudah marah pada Ummanya selama ini. Bagaimanapun,semua yang dilakukan sang Umma padanya adalah bentuk kasih sayang untuknya. Ummanya hanya ingin yang terbaik untuknya. Benar kata Jinyoung. Ia melakukan ini-kabur dari rumah-hanya untuk mengikuti egonya sendiri.

“Uljima, Umma.. aku sudah memaafkanmu sejak dulu. Maafkan aku juga karena sudah membuatmu khawatir. aku anak yang durhaka.” Ucap In Sung dengan suara pelan. Ummanya tersenyum lalu mengecup kening putrinya dengan penuh kasih sayang.
“Sekarang kau harus cepat sembuh. Dan kembali ke rumah”
In Sung mengangguk lemah. Ia kemudian tersenyum. Hatinya sudah lebih lega dan tidak terasa ada ganjalan sedikitpun.

“Eonnie..” Minki baru saja masuk ke ruangan itu, ia segera berlari menghampiri In Sung.
“Min-chan..” suara In Sung masih lemah. Namun ia tersenyum senang bisa melihat Minki lagi.
“Minnie bawa eskrim untuk Eonnie..” Minki menyerahkan satu cup eskrim rasa cokelat pada In Sung. Gadis itu tersenyum menanggapinya.
“Minnie.. eonni sedang sakit, mana bisa makan eskrim” Sungmin segera menggendong putrinya.
“Maaf, putriku sangat berisik” Sungmin meminta maaf pada Ummanya In Sung.
“Tidak apa-apa. Kalau begitu tolong gantikan aku menjaga In Sung. Aku harus menemui dokter.”
“Baiklah”

Umma segera pergi. meninggalkan In Sung dan Sungmin serta Minki di ruangan itu.
“Bagaimana keadaanmu?” tanya Sungmin. Ia duduk di tempat yang tadi di tempati Umma. Minki sendiri duduk di pangkuannya sambil memakan eskrim.
“Lebih baik. Terima kasih.” Ia terdiam sejenak. “Apa Oppa yang membawaku ke rumah sakit?” tanya In Sung mengingat orang terakhir yang ia kabari adalah Sungmin.
“Begitulah. Beruntung aku datang di saat yang tepat. Kenapa kau melakukan tindakan bodoh itu, In Sung-ah. Kau tahu kan, seandainya saat itu aku tidak datang, kau mungkin sudah berada di surga sekarang” ucapnya tidak terdengar sedang menceramai sedikitpun. Malah lebih terdengar khawatir.
“maaf, saat itu emosiku sedang labil sehingga jalan pikiranku begitu sempit. Tapi sekarang aku menyadari bahwa tindakanku salah” In Sung berkaca-kaca. “Aku sudah gagal menjadi seorang psikolog. Aku bahkan tidak bisa mengontrol emosiku sendiri.” Sesalnya
Sungmin mengusap kepalanya pelan. “Sudahlah. Setiap manusia mempunyai batas kesabarannya masing-masing. Kau tidak sepenuhnya salah. Karena semua sudah terlanjur terjadi, kamu tidak boleh mengulanginya lagi. Arrasseo”
In Sung mengangguk lalu tersenyum.

To be continued

46 thoughts on “Shady Girl Sungmin’s Story (Part 4)

  1. Pasti tertekan jadi in sung >,<
    huaah untung sungmin cepet dateng nyelametin insung😀
    tinggal satu part lagi ending ya

  2. aigo,.untung z sungmin oppa datang disaat yg tepat klw ga mungkin insung tinggal nama.kasian insung gara2 tertekan insung sampai berbuat nekat kaya gitu

  3. Jadi,,,jadiii,,,jadiii,,,jinyoung itu udh pnya calon istri???
    Trus kok bsa sma in sung???
    Arggghhh,,,bingung saya=.=

  4. kasian.ma.jinyoung harus pisah ma In sung dgn terpaksa m desakkan eomma y tp klo ngak putus In sung ngak bisa sama sungmin….
    tp untung y jinyoung langsung nongol pengganti In sung
    sungmin emang udah harus sama In sung n Minki y jg dah lengket bgt….

  5. Aigooo..untung sungmin oppa dtg pz wkt’y tpat,tp knp in sung hrz nyoba bunuh diri kn bs d’bicarain baik” sm eomma’y…mdh”an in sung bs bka hati’y bwt sungmin oppa…kekekekekekeke

  6. Cie sungmin oppa tambah perhatian sama In Sung selain Minki.. kasihan dia hrs ptus dgn junyoung.. Smg saja sinyal2 cinta mrk sgr connect dan bs slh mencintai

  7. nah loh jinyeong udah punya calon istri ? meng jia ?
    tapi bukannya dia cinta sama in sung ya ?
    wah jadi penasaran aku
    tapi biarlah yang penting in sung putus sama jin young kkekkekke
    satu part lagi menuju ending🙂

  8. Nasib baik ada Sungmin kalau nggak pasti In Sung Udah ninggal. Alurnya juga bagus ni thor nggak kecepatan. Lanjut baca deh.

  9. gyaaaaaaaaa… tadi itu tadi “..insung-ah…” ???????????? gyaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa

  10. lah gimana sih katanya jinyoung cinta ama in sung eh sih jia bilang calan suami malah didiemmin aja ama jinyoung u,u
    gara” ummanya in sung nyuruh jinyoung putus ama in sung jadi mau bunuh dirikan dia untung aja ada sungmin dia pahlawan in sung banget…

  11. Nekad jg ya Insung,,tp akbt prbuatannya,,ibu Insung jd sadar…. Ah Jinyoung jg trnyata pnya clon istri,, ah gk d sngka…..

Your comment

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s