Shady Girl Sungmin’s Story (Part 3)

Tittle : Shady Girl Sungmin’s Story Part 3
Author : Dha Khanzaki a.k.a Shin Je Young
Genre : Romance, Family

Main Cast :

  • Shin In Sung
  • Lee Sungmin

warning : typo bergentayangan

Shady Girl Sungmin's Story by Dha Khanzaki5

——o0o——-

Part 3

Hari itu, adalah puncak dari pertengkaran In Sung dengan Ummanya. In Sung tetap bersikukuh bahwa ia tidak mau menikah dengan Tuan Cha. Bahkan makan malam kemarin pun ia sengaja tidak datang karena lebih memilih pergi bersama Jinyoung.
“Sudah Umma bilang, putuskan dia!!” bentak Ummanya pagi itu. Shindong yang tengah tertidur pun langsung terbangun mendengar pertengkaran anak dan ibu itu. Sedangkan Tuan Shin sedang tidak ada di rumah karena ada tugas di luar kota. Sehingga tidak ada orang yang melerai adu mulut In Sung dan Ibunya.
“memang apa salah Jinyoung?!” balas In Sung setengah berteriak.
“Salah! Karena dia sudah berani memacarimu! Harusnya ia tahu diri dan pergi jauh-jauh dari kehidupanmu!”
“Umma!!! Berhenti mencampuri hidupku!!” In Sung bergegas pergi dengan hati panas dan tersulut api. Ia tidak mau menyandang anak durhaka karena sudah membentak ibu sendiri. Namun, hatinya sudah sangat sakit dan lelah menghadapi sikap egois Ummanya.

Lebih baik aku pergi dari rumah ini sekarang juga! Tekadnya. In Sung membuka cepat lemarinya lalu mengambil asal baju dan memasukkannya ke dalam koper ukuran sedang. Ia melakukannya dengan emosi memuncak. Akal sehatnya sudah melayang sejak ia hengkang dari hadapan ummanya. sekarang yang ia perlukan adalah ketenangan. Ia butuh itu atau ia akan gila detik itu juga.
“Omo, In Sung, Apa yang kau lakukan??” tanya Shindong panik ketika mendatangi kamar yeodongsaengnya itu yang disaksikannya adalah keadaan In Sung yang sudah setengah gila sedang mengepaki pakaiannya. Gadis itu seolah tidak mempedulikan kehadiran Shindong dan terus sibuk memasukkan baju ke dalam kopernya.
“Sadarlah, In Sung!!” Shindong benar-benar tidak tega melihat adiknya yang kalap itu. Ia buru-buru mengguncang tubuh In Sung berusaha menyadarkan bahwa apa yang dilakukannya sekarang hanyalah efek dari emosinya. Ia sedang tidak berpikir jernih.
“Aku sudah tidak tahan dengan sikap Umma. Lebih baik aaku pergi saja.” Ujar In Sung dengan napas tercekat. Gerakan tangannya agak janggal karena pengaruh getaran tubuhnya. Shindong kebingungan sendiri. Eotteohke, apa yang harus ia lakukan?
“Kau sedang dikuasai emosi. Oppa mohon, jernihkan dulu pikirannmu.”
“Karena itu aku pergi. aku ingin menjernihkan pikiranku!” ia segera mengerek kopernya keluar kamar meskipun Shindong terus menahannya agar tidak pergi.

In Sung akhirnya pergi dari rumah malam itu juga.

Entah malam ini ia akan tinggal di mana. In Sung hanya berjalan tak tentu arah. Dengan tubuh lesu karena perutnya belum terisi apapun sejak siang tadi. In Sung menemukan bangku di pinggir jalan itu. Ia duduk di sana. Matanya menerawang ke arah jalanan yang dipenuhi oleh mobil-mobil berlalu lalang silih berganti. Padahal langit begitu indah malam ini. Tapi entah kenapa In Sung tidak ceria sama sekali melihatnya.

Cuaca malam itu cukup hangat karena hampir sampai ke pertengahan musim panas. Namun anehnya In Sung malah menggigil kedingingan. Ada apa dengan tubuhnya? Tidak, bukan tubuhnya yang merasakan hipotermia. Namun hatinya yang terasa sangat dingin dan sakit. Airmatanya pun tidak bisa ia tahan lagi. Di iringi hembusan angin malam, satu-persatu tetesan airmata In Sung jatuh. Membuat suasana begitu kontras dengan hitamnya langit yang dihiasi bintang.

In Sung tidak bisa membenci ibunya. Ia tahu ibunya melakukan itu karena memikirkan masa depannya. Tapi mengapa harus perasaannya yang jadi korban? Itu membuatnya sesak. Membuatnya ingin mati saja.
“Ah, ternyata benar. Shin In Sung-ssi..”
Eh, di saat seperti ini siapa yang mendadak datang. Mengapa datang ketika suasana hatinya sedang buruk? In Sung tidak bisa menjamin akan menyambutnya dengan baik.
In Sung mengangkat pelan kepalanya, sedikit mendongkak ke arah depan. Tepat ke arah asalnya suara. Dirinya tersentak kaget. Bagaimana mungkin, orang yang tidak pernah disangkanya muncul ternyata menunjukkan dirinya di saat keadaannya menyedihkan seperti ini.
“Sungmin-ssi..” lirihnya dengan suara pelan. Ia masih tercengang. Otaknya terus mencerna kondisi yang dialaminya sekarang. Sungmin, berdiri di hadapannya dengan ekspresi cemas. Omonaa..itu benar-benar Sungmin!!

“Apa yang kau lakukan malam-malam begini In Sung-ssi?” tanyanya. Tersirat nada khawatir dalam suara Sungmin. In Sung menunduk sejenak untuk menghapus airmatanya. Sungmin menyadari In Sung dalam kondisi tidak bagus malam itu. Namun ia menahan diri untuk bertanya. Takut akan menyinggung perasaannya.
“Aku..”
“Eonnie..” In Sung menoleh cepat mendengar suara Minki. Ia agak mengerjap ketika dari tadi ternyata anak itu berdiri di samping ayahnya. Gadis cilik itu tengah mengemut lolipop. Mulutnya yang mungil tampak kesulitan saat ingin mengemut lolipop yang ukurannya 2x lebih besar dari mulutnya.
“Eonni, mau pelmen?” tawar Minki dengan wajah polosnya. Melihat ekspresi Minki, membuat benak In Sung yang semula berkecamuk dengan berbagai macam emosi langsung tenang. lelehan airmata yang masih tergenang pun kering secara ajaib.
“Eonnie, menangis ya?” tanyanya karena In Sung tak kunjung menjawab juga. Ditambah lagi gadis cilik itu melihat pipi In Sung basah.
“Tidak..” In Sung berusaha tersenyum. Minki tersenyum lalu mengdekati In Sung.
“Eonnie, Minnie ingin dipeluk” pintanya manja. Sungmin mencubit pipi Minki pelan.
“Aish, jangan manja begitu chagi. In Sung Eonnie sedang tidak ingin.”
“Aaaa..Minki ingin digendong..”
Sungmin mengulurkan tangan hendak menggendong Minki. Namun In Sung lebih dulu menngangkat Minki ke dalam gendongannya. “Tidak apa-apa. Aku tidak keberatan kok..” In Sung mengerjap. “Omo, Min-chan, kau tambah berat saja”
“Hehehe..Minnie senang makan Eonnie..”
In Sung tertawa. Ajaib memang. Tapi sekarang ia melupakan rasa sakit hatinya.

@@@

Sekarang, mereka sedang berjalan bersama menyusuri sepanjang jalan itu ditemani lampu-lampu sisi jalan yang menghiasi malam. sebenarnya mereka sedang menuju mobil Sungmin yang terparkir di area parkir yang ada di deretan toko-toko tak jauh dari sana.

Sungmin terus tersenyum melihat Minki bercanda dengan In Sung-Minki berjalan di samping In Sung sambil menggenggam tangannya-. Ah, sial! Getaran aneh itu mulai menjalari setiap inchi saraf tubuhnya lagi. Sungmin buru-buru mengalihkan perhatiannya pada hal lain. Mendadak ia tertarik & penasaran sekali mengapa hari ini In Sung membawa koper. Seperti baru minggat dari rumah.
“Kamu memangnya akan pergi ke mana? Membawa koper begitu.”
In Sung menoleh. “Ah, ini. Aku bertengkar dengan Ummaku dan bergi dari rumah.” Jawab In Sung enteng.
“Mwo??” Sungmin kaget mendengarnya. Nyaris saja ia berteriak. Minki sampai menoleh padanya. “Waeyo?” tanyanya lagi. “Sekesal apapun masa kau sampai pergi dari rumah. Itu tidak bijaksana.”
In Sung mendengus karena teringat kembali pertengkaran di rumahnya. Tiba-tiba saja rasa kesal yang teramat itu mencuat kembali.
“Aku tahu. Tapi jika aku terus berada di sana aku bisa gila! Umma terlalu mencampuri urusan cintaku dengan Jinyoung. Dia memintaku putus dengannya dan malah menyuruhku menikah dengan pria tua!! Sekarang katakan apa tindakanku ini tidak bijaksana?! Aku sudah tidak tahan!” In Sung mulai lepas kendali.
Ini kebiasaan buruk yang tidak bisa dihilangkannya sejak kecil. Ia pasti akan menumpahkan semua emosinya jika amarahnya sudah berada di ambang batas. Tak peduli orang dihadapannya itu siapa. Namun sejauh ini orang yang selalu menjadi tempatnya ‘membuang emosi’ seperti itu hanya Haebin dan Shindong. Entah kenapa hari ini Sungmin yang menjadi korbannya.

In Sung mengerjap menyadari sifat buruknya muncul di hadapan orang yang tidak tepat. Ia melirik takut pada Sungmin yang menatapnya dengan wajah terkejut. Begitupun Minki. Gadis itu tidak mengerti mengapa In Sung seemosi itu.
“Ah, Jeongmal mianhae Sungmin-ssi. Seharusnya aku tidak mengatakan hal yang tidak pantas seperti ini. Minhamnida..” In Sung menundukkan kepalanya beberapa kali. Ia teramat sangat menyesal.
“Gwaenchana. Kau kan tahu. Memendam emosi tidak baik bagi seorang gadis.” Sungmin mencoba meyakinkan In Sung dengan memamerkan senyum manisnya. Ia justru merasa senang In Sung bisa menumpahkan uneg-unegnya padanya. Bukankah itu berarti gadis itu tidak menganggapnya orang lain lagi.

Suasana sempat hening mendadak karena baik In Sung maupun Sungmin tidak ada yang bersedia membuka mulut lebih dulu.
“Appa, In Sung Eonnie sepertinya lapar. Perutnya berbunyi..” ujar Minki polos sekaligus memecah suasana kaku di antara mereka. Kedua orang itu tersentak bersamaan. In Sung bahkan idak bisa menyembunyikan rasa malunya detik itu juga. Karena terlalu gugup berada dekat Sungmin, ia tidak menyadari kalau perutnya berbunyi meminta di isi.
Sungmin tersenyum lebar menyaksikan wajah-menahan-malu-plus-lapar In Sung.
“Aish, ini memalukan!!” In Sung merutuki dirinya sendiri dengan suara pelan. Sungmin melirik Minki lalu menggendongnya. “Minnie lapar? Kita makan dulu yuk” ajaknya
“Yeee..Appa Minnie ingin makan steak!”
“Boleh”
“Anu, sebaiknya aku pergi saja.” In Sung merasa tidak enak.
“Jangan. Biarkan malam ini aku mentraktirmu. Hitung-hitung sebagai tanda terima kasih karena sudah menjaga Minki.”
“Eonnie..ikut Minnie..” pinta Minki dengan wajah aegyeo-nya. In Sung benar-benar tidak tega jika harus menolaknya. Minki pasti akan menangis seperti waktu ia pergi karena harus menemui Jinyoung.
“Ayo. Mobilku di parkir di depan sana..” Sungmin juga tidak ingin mendengar penolakan. Ia segera saja melangkah mendahului In Sung.

@@@

“Hati-hati Min-chan, itu masih panas.” In Sung menahan tangan Minki yang hampir saja mencomot daging steak di atas hot plate itu. Minki sudah tidak sabar. ia ingin segera menyantap makanan favoritnya selain pancake itu.
“Sebentar, Eonni potong-potong dulu ya. Biar Min-chan gampang memakannya.”
Minki mengangguk cepat. “Kamsahamnida..” ujarnya sambil tersenyum khas anak kecil. Sungguh menggemaskan.
“Aigoo.. kau sopan sekali.” In Sung mencubit gemas pipinya.

Entah perasaan apa yang kini ada di hati Sungmin kala menatap In Sung. Sesuatu yang membuatnya gembira. Apa mungkin ia senang karena Minki sudah mendapatkan seseorang yang bisa dijadikan tempatnya bermanja-manja? Iya. Pasti itu. Tidak mungkin karena hal lain.

Seorang pelayan datang mengantarkan minuman dan meletakkannya di atas meja.
“Gomawo.” Ucap Sungmin, tersenyum pada pelayan yang sudah dikenalnya itu. Pelayan itu juga pemilik dari restoran steak tempatnya berada sekarang.
“Sungmin-ssi, jadi dia istrimu?” tanyanya dengan suara pelan
“Nde??” mata namja itu melebar kaget.
“Itu..” sang pelayan melirik In Sung yang tengah menyuapi Minki makan steak. Kebetulan mereka duduk bersebrangan. Sungmin mengikuti arah pandangnya kemudian tersenyum hangat.
“Kalian serasi sekali.” Tambahnya dengan ekspresi menggoda.
“Jinjja? Gomawo” Sungmin membalasnya dengan gurauan belaka tanpa ingin menyangkalnya sedikitpun. Pelayan itu tertawa lalu pergi.

“Aish, Min-chan..kenapa makanmu belepotan sekali. Ckckckck”
Sungmin menoleh dan melihat kini In Sung tengah mengelap sekitar mulut Minki yang belepotan saus steak. Otaknya tiba-tiba memikirkan sesuatu. Sepertinya akan sangat bagus jika In Sung benar-benar menjadi ibu bagi Minki. Batinnya meliar. In Sung menoleh ketika mendapati Sungmin tengah termenung sambil menatapnya.
“Sungmin-ssi, kau kenapa?” In Sung gugup dibuatnya. Bersamaan dengan itu pula Sungmin tersadar.
“Ah, tidak. Aku hanya sedang mengenang sesuatu.” Ujarnya melenceng dari apa yang ia pikirkan.
“Kenangan? Ah, pasti berhubungan dengan istrimu ya?”
Sungmin tidak segera menjawab. Dia mengalihkan pandangannya ke arah lain. “Iya” lirihnya pelan. Sungmin memperhatikan arah samping mereka, tepat ke arah balkon restoran yang menghadap ke sebuah kolam ikan koi.
“Di sanalah aku pertama kali bertemu dengannya..” Sungmin mendadak teringat pada hari paling bersejarah dalam hidupnya itu. In sung memperhatikan baik-baik. Ekspresi yang ditunjukkan Sungmin sekarang sangat luar biasa. Tampak jelas kenangan itu begitu berkesan dalam hatinya. Pandangan In Sung teralih ke arah balkon itu.
“Dia duduk di meja balkon itu. Menatap kolam dengan wajah sedih dan frustasi” Sungmin menarik napasnya sejenak. “Kau tahu, Heechul Hyung dan Kibum itu tampak akur dari luar nanmun sebenarnya ada perang dingin di antara mereka. Taeyeon, termenung di sana. Karena ia pusing memikirkan pertengkaran adik dan kakaknya” Sungmin menghela napas,
“Saat itu lah kau muncul, iya kan?” namja itu menoleh ke arah In Sung yang tengah tersenyum kagum padanya. Ia mengerjap.
“Kau tahu Sungmin-ssi, seorang gadis akan mudah luluh pada pria yang datang menguatkannya di saat ia tengah terpuruk”
Sungmin diam sejenak setelah mendengar ucapan In Sung. Ternyata dia benar-benar seorang psikolog. Kata-katanya memang benar. “Sepertinya begitu.” Aku Sungmin. Ia diam sejenak, kemudian menambahkan “Dan laki-laki juga akan mudah luluh pada gadis yang datang saat ia merasakan kesepian”
Sepertinya masing-masing dari mereka mulai menyadari perasaan baru yang mulai masuk di dalam diri masing-masing.

In Sung mengerjapkan matanya. Aneh sekali. Kenapa sekarang ia tidak bisa mengalihkan pandangannya dari namja yang duduk di hadapannya ini? Seharusnya hal ini tidak terjadi. Ada yang salah dengan dirinya. Pasti.

Hanya satu hal yang ia tahu, dirinya pasti telah gila.

Namun siapa yang bisa menghindar dari pesona yang dipancarkan seorang Lee Sungmin? Meskipun berstatus sebagai seorang Appa, ia masih tampak muda. Dan jika melihat wajahnya yang tampan dan menarik itu, orang pasti tidak akan percaya dia adalah pria yang sudah mempunyai putri berusia 4 tahun.
“Eonniee..Minnie pingin pipis..” lagi-lagi suara polos Minki menyadarkan mereka. In Sung cepat menoleh pada Minki yang sekarang sedang menarik-narik ujung lengan sweternya dengan tatapan memohon.
“Baik. Ayo”

Sesaat setelah In Sung menggendong Minki pergi ke toilet, Sungmin baru tersadar dari alam khayal yang beberapa detik tadi ia singgahi.
“Aigoo.. ada apa denganku?” Sungmin menepuk kepalanya sendiri. Ia kebingungan, lalu mengerang pelan. Shin In Sung, kau yeoja berbahaya. Batinnya.

@@@

“malam ini kau akan tinggal di mana?” tanya Sungmin ketika mereka tengah berjalan menuju mobil yang terparkir di depan restoran itu.
“Molla. Mungkin aku akan mencari motel” In Sung merapatkan sweternya. Angin malam membuatnya menggigil lagi.
“Mwo? Motel? Kenapa tidak ke rumah Haebin saja?”
“Tidak. Aku tidak mau merepotkan dia dan suaminya. Lagipula, kan tidak enak kalau dia tahu aku bertengkar dengan Ummaku.”
Sungmin diam sejenak. “Kalau begitu bagaimana kalau malam ini kau menginap di rumahku” ujarnya ragu
“Nde!!” In Sung kaget dan memekik.
“Ah, jangan salah paham. Kau bisa tidur bersama Minki.”
“Tapi..”
“Kau tidak perlu mengkhawatirkan apapun. Istriku dia..” Sungmin mengira In Sung takut istrinya akan marah. In Sung segera menyela.
“Tidak perlu di lanjutkan Sungmin-ssi. Aku tahu kok keadaanmu. Aku sudah mendengarnya dari Haebin”

Sungmin langsung terdiam. Jadi, In Sung sudah tahu?

“Jadi, kau akan tetap menginap di rumahku?” tanya Sungmin lagi.
“Baiklah” In Sung memutuskan untuk menginap saja karena sejak tadi Minki terus menarik-narik tangannya agar ikut.

*di mobil*
“Eonnie, di rumah Minnie punya boneka Mickey Mouse yang besar sekali, hadiah dari Chullie Shamchon” Minki berceloteh. Ia duduk di pangkuaan In Sung. Sementara Sungmin sibuk menyetir di sebelahnya.
“Jinjja-yo? Wah, Eonnie jadi ingin lihat”
Minki terus berceloteh macam-macam sampai akhirnya ia tertidur karena terlalu lelah berbicara. In Sung gemas sekali melihat ekspresi gadis cilik itu saat tertidur.
“Aigoo.. Sungmin-ssi, kamu pasti senang mempunyai anak seperti Minki. Lincah, pintar, sopan, dan menggemaskan.”
“Dia mewarisi sifat Taeyeon” jawab Sungmin sambil tersenyum. Suasana sempat kaku kembali. In Sung menatap intens Sungmin yang fokus menyetir.
“Sungmin-ssi, kenapa kau tidak menikah lagi? Bukankah di usia sekarang Minki sangat membutuhkan perhatian dan kasih sayang dari seorang ibu”

Ah, lagi-lagi Sungmin mendengar pertanyaan yang sama. Haebin juga dulu pernah menanyakan hal serupa. Tidak hanya gadis itu dan In Sung, bahkan orang-orang yang mengenalnya pun bertanya hal itu. ‘kenapa kau tidak menikah lagi?’ Sungmin sudah mendengarnya ratusan kali. Dan sampai detik ini, ia tetap akan menjawab pertanyaan itu dengan kalimat yang sama.
“Aku akan menikah bila sudah menemukan yeoja yang bisa menjadi istri dan ibu bagi Minki” jawabnya tenang. “dan orang itu kau” tambahnya dalam hati.
“Kau Appa yang sangat pengertian. Minki pasti senang memiliki Appa sepertimu” In Sung terkagum setelah mendengar jawaban Sungmin.
“Dia sangat bangga”

@@@

Sampai di depan rumah Sungmin, In Sung keluar dengan hati-hati sambil menggendong Minki agar tidak bangun.
“Biarkan saja. Kopermu biar aku yang bawa. Kau tidurkan saja Minki. Kamarnya ada di ujung dekat ruang makan.” Cegah Sungmin. Kali ini In Sung menurut. Ia cukup kerepotan menggendong Minki yang tidur di dekapannya.

In Sung keluar dari kamar Minki yang bernuansa pink+lavender itu. Ia melirik sekilas rumah yang sekarang dipijaknya. Lumayan besar dan bergaya klasik. Cat dindingnya saja berwarna putih gading dan lantainya dilapisi kayu sehingga nuansa klasik terasa begitu kental. Ia jadi penasaran apa pekerjaan Sungmin sehingga di usianya sekarang ia sudah memiliki rumah sebagus ini. Ia beranjak ke dapur, meskipun sedikit lancang,ia merasa penasaran sekali.

Tanpa sengaja, In Sung melihat sebuah foto yeoja tergantung di samping pintu. Yeoja dalam foto itu sangat cantik. Mengingatkannya pada Minki.
“Ah, itu pasti Ummanya Minki. Cantiknya..sayang sekali meninggal di usia semuda ini.” Gumamnya tanpa sadar.
“Kopermu ingin diletakkan di mana?” In Sung menoleh cepat. Ia melihat Sungmin mengerek kopernya hingga ke dekatnya.
“Gomawo. selanjutnya biar aku saja.” In Sung mengambil kopernya lalu menyeretnya ke kamar Minki.
“Jika kamu ingin mandi, bisa pakai kamar mandi di sebelah dapur. Di kamar Minki tidak ada kamar mandinya” ujar Sungmin sebelum In Sung masuk kamar.
“Oh, ne. Gomawo” jawab In Sung canggung.

@@@

In Sung merasa sangat canggung dan kaku. Apalagi malam ini ia akan tidur seatap dengan seorang namja yang baru dikenalnya seminggu yang lalu. Ia melihat Sungmin sedang sibuk duduk di depan meja rendah yang ada di ruang kerja. Keningnya berkerut menatapi layar laptop. Entah sedang mengetik apa. In Sung tidak ingin mengganggu dan hendak pergi saat Sungmin menyadari keberadaannya.
“In Sung-ssi, mau kemana?”
Deg. Deg. Ah, sial ketahuan! Karena sudah terlanjur, ia menoleh dengan ekspresi ragu.
“Aku tidak bermaksud mengganggu. Lebih baik aku kembali ke kamar Minki saja”
Sungmin menepuk sofa yang ada di belakangnya. “Gwaenchana. Duduk saja di sini. Aku yakin kau belum mengantuk kan?” tebaknya. In Sung mengangguk. Ia kemudian duduk di sofa di belakang Sungmin.
“Jika ingin menyalakan tv, nyalakan saja.” Ujar Sungmin lagi karena In Sung tampak kebingungan berada di sana.
“Tidak. Takut akan mengganggumu” tolak In Sung.
“jangan begitu. Anggap saja rumahmu sendiri.” Sungmin lebih dulu menyalakan tv agar In Sung nyaman berada di sana. Lalu ia menyerahkan remote pada In Sung. “pilih saja saluran yang kamu suka”
Pipi In Sung terasa sedikit panas diperlakukan begitu baik oleh Sungmin. Dia, benar-benar namja yang sopan. Ia mengangguk lagi, lalu mulai membuat dirinya sendiri nyaman. Jika dia terus kaku, itu akan membuat Sungmin tidak enak hati. Ia melirik kembali Sungmin yang sedang asyik mengutak atik dokumen di laptopnya. Dari belakang, ia bisa melihatnya dengan jelas. Entahlah, tampak seperti dokumen resmi.
“Sungmin-ssi, kalau boleh tahu apa pekerjaanmu?” tanya In Sung
“Aku? Aku seorang pengacara”
In Sung melebarkan matanya, kaget “Jinjja? Oppaku juga pengacara.”
Sungmin menoleh. “Siapa namanya? Siapa tahu aku kenal”
“Shin Dong Hee”
Gantian Sungmin yang takjub. “Omo.. pengacara Shin? Ah, tentu aku mengenalnya. Dia pengacara tangguh. Aku pernah berhadapan dengannya dalam sebuah kasus pemalsuan akta tanah. Dia membuatku dan klienku berkeringat” Sungmin tanpa sadar bercerita.
“Lalu hasilnya?” In Sung pun mulai tertarik
“Tentu pihakku yang menang.” Ujar Sungmin bangga
“Omona.. jadi kau pengacara yang sudah mengalahkan Oppaku?” seru In Sung tak percaya. Ia ingat sekali kejadian saat Oppanya, Shindong begitu terpukul karena di kalahkan oleh seorang pengacara dalam kasus yang ditanganinya.
“Wae? Dia pernah bercerita?”
“Iya. Karena kalah darimu, dia mogok makan selama 4 hari. Dia syok berat. Itu benar-benar keajadian besar dalam keluargaku.” Jelas In Sung terkenang masa-masa kelam itu.
“Oh, baguslah. Aku sering sekali menyuruhnya untuk berdiet. Seharusnya aku lebih sering berhadapan dengannya dan mengalahkannya. Mungkin dengan begitu Shindong akan jadi kurus” Sungmin malah terlihat senang.
“Wah.. kau ingin membuatnya mati kelaparan? Aku saja tidak tega.”
Sungmin tertawa pelan. “Tapi di atas semua itu, dia tetap temanku semasa SMA dulu.”
“Oh, jadi kalian sudah kenal lama. lalu kenapa saat ke rumahku kau seperti orang lain?”
“Itu, aku memang belum pernah ke rumahnya sebelum ini. Dia juga tidak pernah bercerita kalau dia punya adik perempuan”
“Aish.. aku tidak heran. Oppa memang orang yang seperti itu”

Suasana yang tadinya kaku mendadak menjadi menghangat. Mereka mengobrol selayaknya orang yang sudah mengenal selama bertahun-tahun. Banyak sekali topik yang mereka bahas. Sungmin juga senang, ternyata ada juga yeoja yang bisa mengimbanginya dalam bercerita.
“Oh, iya. Kau tidak perlu memanggilku dengan embel-embel ssi lagi. Panggil aku Oppa saja.” Ujar Sungmin.
“jangan. Itu tidak sopan” tolak In Sung setengah kaget.
“Tidak apa-apa. Ayo coba sebut aku Oppa”
“Baiklah. Oppa..” In Sung merasa lidahnya sedikit aneh saat menyebutnya. Ah, ini membuatnya malu. Sungmin tersenyum saat In Sung sudah bisa memanggilnya dengan sebutan akrab seperti itu.

Dan tak di sangka sama sekali, mendadak seluruh pencahayaan di rumah itu mati.

“Kyaaaa!!” In Sung kaget sekali. Ia tidak takut gelap, tapi jika mendadak seperti ini ia pasti panik juga.
“Tenanglah, In sung. Mungkin ada sedikit masalah dengan sakelarnya. Aku akan memeriksanya dulu.”
“Jangan pergi!” cegah In Sung. Ia hendak ikut sambil meraba-raba sekitarnya. Sekitarnya sangat gelap. Tanpa sengaja ia menabrak sesuatu hingga ia terjatuh.

Bruugghhh…
“Auchh..” In Sung merintih kesakitan. Tapi sepertinya ia terjatuh pada tempat yang sangat nyaman. Berbeda dengan lantai yang keras. Apa ini.
Dan yang lebih ajaib, lampu mendadak saja menyala kembali. Di saat keadaan terang benderang itulah, In Sung baru sadar bahwa ia sekarang jatuh menimpa Sungmin!!!!! Ia kaget setengah mati dan segera bangkit.
“Kyaaa.. Mianhae..aku sungguh tidak sengaja..” In Sung membungkukkan badannya berkali-kali. Ah, ini sangat memalukkan. Ia sekarang tidak sanggup melihat wajah Sungmin lagi. Rasanya ia ingin sekali pergi dari sana dan terjun ke dalam jurang yang dalam.
Sungmin bangkit dan berdiri di hadapan In Sung. Ia sedikit merenggangkan tubuhnya karena tadi terbentur di lantai. Untung lantai ruangan itu dilapisi karpet tebal. Jadi ia tidak terlalu sakit.
“tidak apa-apa. Tulangku tidak akan patah hanya karena di tindih oleh mu”
Aish.. In Sung menundukkan kepalanya lagi tanda permintaan maaf. Ia melirik diam-diam ke arah Sungmin. Hari ini, ia sudah banyak merepotkannya.

Sungmin sendiri jujur saja, ia tidak merasakan sakit sama sekali. Badannya ini sudah sangat terlatih. Jadi tidak akan cidera hanya karena In Sung jatuh menimpanya seperti tadi. Tapi kenapa gadis itu sepertinya sangat merasa bersalah?
“In Sung.. jangan seperti itu. Aku benar-benar tidak apa-apa”
In Sung mengangkat kepalanya.
“Sungguh?”
Sungmin mengangguk. “Tentu saja. Usiaku kan baru 28 tahun.” Ujarnya bangga.
“Aku tahu.” In Sung mulai tersenyum lega setelah yakin Sungmin memang baik-baik saja.

Sial!! Lagi-lagi Sungmin mengutuk dirinya saat getaran-getaran aneh yang tidak bisa dijelaskannya kembali merasuki seluruh aliran darahnya. Tidak, ia tidak mungkin terpesona pada yeoja di hadapannya ini. Tanpa di sadari dan tanpa bisa dicegah oleh dirinya sendiri, Sungmin mendekati In Sung. Ia memegang kedua pundak yeoja itu dan mulai menariknya mendekat. Sial, ia sudah gila malam ini.

In Sung sendiri tidak bisa menolak atau pun menghindar kala namja itu menatapnya dengan sorot mata yang begitu memabukkan. Sungguh, In Sung sudah tenggelam sepenuhnya dalam dunia yang aneh. Dunia yang membutakan dan melumpuhkan seluruh akal sehatnya. Bahkan saat Sungmin mulai mendekatkan wajahnya, yang bisa ia lakukan hanyalah menutup mata. Ia benar-benar sudah di luar kendali.

Cupp!!

Seluruh darah yang mengalir dalam nadinya berdesir lebih cepat saat bibir Sungmin yang basah itu menyentuh bibirnya. tidak ada yang dilakukan, Sungmin hanya menempelkan bibirnya saja. omona.. sensasi apa ini? Ia bahkan tidak pernah merasakan hal ini saat Jinyoung menciumnya dulu. Tapi ini rasanya berbeda. Aneh sekali.
*Author mupeng pengen dikisseu Bang Umin juga>.<*
Sesaat kemudian, In Sung mulai menggerakkan bibirnya. namun setelah itu Sungmin malah melepaskan ciumannya. Ia merasa ini sudah diluar batasnya. Harusnya ia tidak melakukan ini. Tindakannya sudah melanggar peraturan. Ia menatap mata In Sung yang tampak kebingungan. Ia hanya menelan ludahnya. Aigoo..apa yang harus ia ucapkan?
“Mi-“
“Ini sudah malam, aku ingin tidur. permisi” In Sung memotong, tanpa aba-aba ia segera pergi ke kamar Minki. Meninggalkan Sungmin yang berdiri mematung dengan perasaan campur aduk.

Di kamar, In Sung pun merasakan perasaannya berantakan. Ia bersandar di pintu. Matanya terpejam rapat dan tangannya meremas dadanya sendiri.
“Apa yang kulakukan tadi.. seharusnya aku menghindarinya..ya..tentu saja aku bisa melakukannya. Tapi kenapa aku tidak menghindar? In Sung, apa yang terjadi padamu?” gumamnya.
Dalam keadaan setengah tersadar, otaknya teringat pada Jinyoung. Namja yang sampai detik ini begitu baik dan tidak pernah bertindak egois sedikitpun padanya. Tiba-tiba saja perasaan bersalah menghampirinya hingga ia merasa dadanya semakin sesak.
“Jinyoung, mianhae..aku sudah mengkhianatimu..” lirihnya.

Sementara itu, di kamar lain, Sungmin duduk di tepi ranjangnya sambil memandangi foto Taeyeon, istrinya yang sudah lama wafat itu. Pandangannya sendu dan ada genangan airmata di sudut matanya.
“Taeyeon-ah.. haruskah aku mencari penggantimu? Apa kau akan rela jika aku melakukannya?”
Tentu saja foto itu tidak akan bisa menjawab pertanyaannya. Jawaban atas pertanyaan itu sebenarnya terletak dalam hatinya sendiri. Sudahkah ia bisa melepaskan Taeyeon dan memberikan ruang dalam hatinya untuk yeoja lain?
“Eotteokkajyo?” lirihnya.

@@@
Sungmin terbangun dari mimpinya karena menghirup bau makanan dari luar kamarnya. Ia mengerjap, siapa yang memasak? Ah, bukankah In Sung menginap di rumahnya semalam? Pasti ia yang memasak.
“Oppa, kau sudah bangun? Lihat, aku sudah membuatkan sarapan untukmu dan Min-chan” seru In Sung ketika melihat Sungmin berdiri di dekat meja makan, menatap takjub pada hidangan yang sudah tersaji di atas meja makan.
“Ini semua kau yang menyiapkan?”
“Iya. Sebagai tanda terima kasih dariku.” Ujarnya.
Sungmin melihat penampilan In Sung pagi itu. Ia tampak berbeda saat memasak dan memakai apron seperti itu. Kenapa tiba-tiba jantungnya jadi berdebar seperti ini ya?
“Kau boleh makan duluan. Aku akan melihat Min-chan sudah bangun atau belum.”
“Oh.. baik” Sungmin melirik In sung yang berjalan menuju kamar Minki. Pikirannya mulai menggila lagi. Sepertinya ia akan sangat bahagia jika gadis itu benar-benar menjadi istrinya. Menyiapkan sarapan seperti ini dan memperhatikan Minki.
Sungmin baru selesai sarapan saat ia melihat In Sung menggendong Minki yang sudah rapi dan manis. Ya ampun, gadis itu bahkan sampai memandikan dan mendandaninya?
“Ayo beri salam pada Appamu..” ujar In Sung pada Minki.
“Annyeong Appa..” jawab Minki sambil tersenyum.
Sungmin sempat tertegun. Ia masih takjub. “Oh, selamat pagi chagi..” akhirnya Sungmin tersenyum juga.

In Sung mendudukkan Minki di kursi yang ada di sebelahnya. Ia menyiapkan susu untuk Minki juga. Sungmin ingin menangis melihatnya. Sepertinya ia memang sudah menemukan seseorang yang tepat untuk Minki panggil ‘Umma’.

“Aku harus mandi dan bersiap-siap ke kantor.” Sungmin memilih untuk pergi daripada ia kepergok menangis di hadapan In Sung. Yah.. menangis terharu.*sejak kapan Bang Umin jadi cengeng?*

@@@

“Sungmin Oppa, terima kasih banyak atas semuanya” ucap In Sung. Ia sekarang turun di depan sebuah halte bus. Ia tidak mau pergi ke TK dulu.
“Sama-sama. Tapi apa benar kau tidak ingin pulang ke rumah mu dulu?” tanya Sungmin cemas.
“Iya. Aku sementara akan mencari apartement. Aku akan tinggal di sana untuk menenangkan diri.”
“Tapi jika suasana hatimu sudah membaik, kau harus kembali. Kau tidak boleh membuat khawatir orang tuamu”
“Baik. Minki, sekarang siapa yang menjaga?”
“Aku akan mengantarkannya ke rumah Mertuaku. Kebetulan mereka sudah pulang dari Jepang.”
In Sung mengangguk paham.
“In sung..” ujar Sungmin sebelum gadis itu pergi. ia menoleh.
“maaf, soal semalam” Sungmin merasa sangat bersalah karena sudah lepas kendali tadi malam. In Sung yang menyadarinya pun tampak gusar.
“Tidak apa-apa. Aku akan menganggapnya tidak pernah terjadi. Jadi Oppa tidak perlu khawatir.”
Sungmin agak terkejut mendengar ucapan In Sung. Setelah itu In Sung benar-benar pamit pergi. sungmin menatapi punggung In Sung dengan tatapan sedih.
Aku tidak ingin kau lupakan kejadian semalam, In Sung-ah.. aku justru ingin kau mengingatnya. Karena.. sepertinya aku sudah mulai menginginkanmu hadir di hidupku. Maaf, mungkin ini akan melanggar peraturan. Karena aku tahu kau sudah memiliki seorang kekasih. Batinnya.

To be continued..

57 thoughts on “Shady Girl Sungmin’s Story (Part 3)

Your comment

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s