Shady Girl Sungmin’s Story (Part 1)

tittle : Shady Girl Sungmin’s Story
Author : Dha Khanzaki a.k.a Shin Je Young
Genre : Romance, family

Main Cast :

  • Shin In Sung
  • Lee Sungmin

Support Cast :

  • Lee Donghae
  • Shin Dong Hee / Shindong

Ini dia sekuel dari Shady Girl. gak bosen kan ama FF ini? okelah, check this out kawan..
Warning : typo bertebaran

Shady Girl Sungmin's Story by Dha Khanzaki5

———-0.0———

Sibuk dan repot. Dua kata yang cocok menggambarkan rutinitas seorang Lee Sungmin, pengacara muda itu tiap paginya. Menyiapkan sarapan, membangunkan Minki, memandikan putri kecilnya itu sampai mendandaninya semua ia lakukan sendiri. Walaupun setelahnya ia cukup kelelahan dan harus menyisakan tenaga untuk bekerja, Sungmin tidak merasakan beban apapun.

“Appa..” Minki berlari kecil lalu memeluk kaki Sungmin yang tengah membuat pancake.
“Minnie..” Sungmin tersenyum. Ia meletakkan pancake yang sudah matang ke piring, mematikan kompor lalu beralih memeluk putri semata wayangnya itu.
“Hmm.. kamu sudah wangi.” Ujar Sungmin sambil mencium pipi chubby Minki. Ia pun menggendongnya lalu mendudukkannya di kursi di depan meja makan.
“Appa.. Minnie lapar..” serunya sambil menepuk-nepuk meja dengan sendok dan garpu yang sudah tersedia di atas meja.
“Ne.. taraaa..pancake cokelat kesukaanmu..” Sungmin meletakkan sepiring pancake dengan toping cokelat di depan Minki. Gadis cilik itu segera makan dengan lahap. Sungmin mengusap-usap kepalanya dengan penuh kasih sayang.

Waktu sudah menunjukkan pukul 07.00 pagi ketika ia sudah selesai berpakaian rapi untuk berangkat bekerja. Ia melirik Minki yang tengah asyik bermain dengan boneka Mickey Mouse kesayangannya di sofa ruang tengah. Wajah cerianya mampu membuat hari-hari Sungmin terasa ringan meski ia sudah ditinggal pergi sang istri 4 tahun silam.
“Taeyeon, andai kau ada di sini, kau pasti sangat bahagia bisa menyaksikan pertumbuhan putri kita.” Gumamnya sambil melirik foto istrinya yang terpajang di dinding samping pintu kamarnya. Yah.. terkadang ia memang sedih dengan kepergian istrinya. Bahkan Taeyeon belum sempat melihat bayi yang baru dilahirkannya itu. Dia meninggal sesaat setelah melahirkan Minki karena ada komplikasi pasca melahirkan. Dan sekarang, Sungmin harus bisa tegar menjalani hidupnya sebagai single parent.

@@@

“Appa..Kita akan kemana?” Minki mulai mengoceh lagi sementara Sungmin sibuk menyetir.
“Ke rumah Halmeoni, chagi. Seperti biasa.” Jawab Sungmin dengan sabar.

Di saat Sungmin bekerja, Minki memang ia titipkan di rumah orang tuanya ataupun di rumah mertuanya. Tapi sepertinya kali ini ia harus memikirkan rencanya lain. Karena orangtuanya ternyata tidak bisa menjaga Minki.
“Ah, Mianhae Sungmin-ah. Appa dan Umma harus pergi ke rumah bibimu di Itali selama seminggu.” Ucap Ummanya dan sukses membuat Sungmin tercengang kaget. Saat datang ke rumah orangtuanya, ia menemukan mereka tengah memasukkan koper ke dalam bagasi mobil. Hendak berangkat.
“kenapa Umma tidak bilang sejak awal?”
“Ini mendadak sekali.”
Sungmin menghela napas. “Ya sudah.” Sesalnya. Ia lalu memutuskan membawa Minki untuk dititipkan di rumah mertuanya saja.

Sungmin melirik jamnya. Sepertinya ia akan terlambat datang ke kantor. Sekali lagi ia memencet bel. Kenapa lama sekali di buka? Apa mertuanya juga sedang tidak ada di rumah?
“Appa..Minnie bosan..” Minki mulai mengeluh sambil memasang tampang cemberut.
“Sabar ya Minki..sebentar lagi kamu bisa bermain dengan Halmeonimu..” ucap Sungmin menenangkan.
Tak lama pintu dibuka. Sungmin melonjak senang mengetahuinya. Namun ternyata, yang muncul bukanlah sosok mertuanya, tapis seorang pembantu.
“Oh, Tuan Sungmin. Mencari Tuan dan Nyonya?”
“Iya. Apa mereka ada?”
“Tuan dan Nyonya pergi ke Jepang sejak 2 hari yang lalu. Dan akan pulang minggu depan, Tuan.” Jawab pembantu itu.
“Nde!!!” Sungmin memekik kaget kembali. Minki yang belum mengerti malah sibuk memainkan bonekanya di samping Sungmin.
“Apa Anda ingin menitipkan pesan?”
“Ah, tidak usah. Kalau begitu, terima kasih. Maaf mengganggu..” Sungmin segera pamit pergi. ia mendadak lemas.

Kenapa orangtua dan mertuanya kompak sekali pergi. lalu siapa yang menjaga Minki? Mendadak pikirannya langsung tertuju pada Donghae dan Haebin. ah, mereka pasti bisa menjaga Minki. Sungmin tersenyum senang. Ia segera melajukan mobilnya menuju rumah Donghae.

@@@

“Apa? Menitipkan Minki?” tanya Haebin takjub sambil menatap Minki yang sedang digendong oleh Donghae. sungmin mengangguk putus asa.
“Iya. Maaf sudah merepotkan kalian. Aku bingung harus menitipkan Minki pada siapa lagi. Orangtuaku dan mertuaku semuanya pergi. jadi hanya kalian harapanku satu-satunya.” Ucap Sungmin setengah memohon.
Donghae dan Haebin saling berpandangan. Sebenarnya mereka tidak tega juga melihat Sungmin begitu kebingungan seperti ini. Tapi.. mereka juga sedang sibuk saat ini.
“Tapi Hyung, hari ini aku tidak bisa libur kerja.” Ujar Donghae
“Aku juga sedang sibuk dengan pekerjaanku di panti.” Jawab haebin sama menyesalnya.
Sungmin harus kembali meneguk kekecewaan. Ia juga tidak mungkin meninggalkan pekerjaannya. Ada kasus penting yang harus ia selesaikan.

Haebin benar-benar tidak tega melihat ekspresi Sungmin yang begitu putus asa. Ia memutar otaknya mencari solusi.
“Ah, aku tahu Oppa, tempat yang pas untuk menitipkan Minki.” Seru Haebin.

@@@

“Menitipkan anak? Di sini?” tanya In Sung kaget. Haebin mengangguk. Sekarang yang terpikirkan olehnya adalah taman kanak-kanak tempat In Sung bekerja. Di situ ia bisa menitipkan Minki sekaligus tempat belajar untuknya.
“Iya. Kau mau kan In Sung..” Haebin memohon. In Sung tersenyum.
“Iya. Tidak masalah. Mana anak itu?”
Haebin menghadapkan Minki ke depan In Sung. Gadis itu tersenyum manis khas anak kecil.
“Aish.. neomu yeppeo..” seru In Sung gemas. Ia memang menyukai anak kecil. Terutama yang menggemaskan seperti Minki. In Sung jongkok di hadapan Minki.
“Siapa namamu?”
“Minki.”
In Sung makin tersenyum lebar melihat gadis cilik itu menyebutkan namanya. “Aigoo.. kenapa kamu bisa se-aegyeo ini..” ia mendongkak menatap Haebin.
“Dia keponakanmu?”
Haebin mengangguk. “Dia anak Sungmin Oppa.” Haebin sedikit merendahkan dirinya agar sejajar dengan Minki. “Minki, sementara ini kamu tinggal bersama In Sung Eonni ya..” ujar Haebin sambil mengusap kepalanya. Minki mengangguk patuh.
“Baiklah, In Sung, kupercayakan Minki padamu..kalau begitu aku pergi dulu ya..”
“Ya! Memang kau mau kemana?”
“Bekerja.”
“Dengan kondisi hamil?” In Sung berkacak pinggang. “Haebin, usia kandunganmu sudah lima bulan. Kau tidak boleh bekerja terlalu capek. Apa suamimu tidak melarangmu?”
“Tenang saja. Aku bisa menjaga diriku. Bye..”

In Sung melambaikan tangannya dengan wajah pasrah. Haebin memang gadis yang sulit di bertahu jika sudah bertekad. Sudahlah, sekarang ia harus memikirkan kembali pekerjaannya.
“Minki..ayo ikut Eonni.. di dalam kau bisa bermain bersama teman-teman barumu..” seru Haebin sambil menggandeng tangannya.

In Sung tersenyum melihat anak-anak kecil itu bermain dengan riang di lapangan kecil yang ada di TK itu. Melihat wajah tertawa mereka membuat hatinya tenang. mendadak ia kembali teringat dengan pertengkarannya tadi pagi. Seperti biasa, ibunya yang cerewet dan perhitungan sekali dengan uang itu menceramahinya lagi soal hubungannya dengan namjachingunya, Jun Jinyoung.
“Untuk apa kau berhubungann dengan mahasiswa seperti dia? Lebih baik kau mencari pacar yang lebih mapan dan bisa menjamin masa depanmu nantinya!!”
“Tapi Umma, Jinyoung itu namja yang baik. Dia tidak pernah berlaku kasar padaku.” Bela In Sung.
“Apa gunanya namja baik jika dia tidak bisa menjamin masa depanmu! Putus dengan dia dan menikahlah dengan namja pilihan Umma!”

Beberapa kali pun ia mengelak, Ummanya tetap tidak akan mendengarkan. Apa seburuk itukah citra Jin Young di mata Ummanya? Padahal In Sung sangat mencintai namjachingu yang baru dipacarinya selama 4 bulan terakhir. Dan dia tidak berminat sama sekali dengan perjodohan.
“Akh..huweeee..” In Sung tersadar dari lamunannya ketika ia mendengar suara tangisan salah satu dari anak kecil. Ia mengerjap melihat Minki, gadis cilik yang dititipkan Haebin padanya menangis di lapangan sana karena terjatuh. Secepat kilat ia segera berlari menghampiri.
“Aigoo..mana yang sakit sayang?” In Sung lansung membantu Minki berdiri. Minki menunjukkan lututnya yang terluka dan sedikit mengeluarkan darah. Gadis cilik itu menangis semakin kencang saat In Sung menyentuh lukanya. In Sung panik, ia segera menggendong Minki dan membawanya ke ruang kantor. Di sana ada kotak P3K.

“Cup..cup..sayang, Eonni akan mengobati lukamu..” In Sung mendudukkan Minki di atas sofa lalu mulai mensterilkan lukanya dan membalutnya dengan plester bergambar pokemon.
Minki masih belum berhenti menangis juga bahkan setelah In Sung selesai mengobati lukanya. “Sayang, jangan menangis lagi” In Sung menggendong Minki sambil berusaha menenangkan Minki. Ia kemudian mengambil boneka Mickey Mouse mini yang diberikan Jinyoung beberapa hari lalu.
“Kau mau ini? Eonni akan memberikannya asal Minki tidak menangis lagi.” In Sung memperlihatkan boneka itu pada Minki. Sukses gadis itu segera berhenti menangis dan mengambilnya. In Sung tertawa pelan.
“Anak baik. Sekarang ayo kita main lagi..” In Sung mengajak Minki kembali bergabung dengan anak-anak lain.

Hari sudah sore, tapi Haebin belum muncul juga. Sementara anak-anak yang lain sudah dijemput oleh orangtuanya masing-masing sejak tadi siang. In Sung tetap setia menunggu Haebin di kantornya sementara Minki sekarang tengah menonton kartun.
“Minki, kau lapar?” tanya In Sung. Minki mengangguk.
“Iya, Eonni. Minnie lapar..” gadis itu menepuk-nepuk perutnya. In Sung tertawa, ia lalu pergi mengajak Minki makan ke sebuah restoran tak jauh dari TK.

In Sung dibuat takjub melihat Minki makan dengan lahap. Ternyata gadis itu memang kelaparan. Padahal sebelumnya sudah memakan camilan beberapa bungkus.
“Kau benar-benar kelaparan ya, Min-chan?” tanya In Sung gemas. Ia membersihkan sisa-sisa makanan yang belepotan di sekitar mulutnya.
“Minnie suka makan, eonni..” jawabnya semakin membuat In Sung gemas. In Sung mencubit pelan pipinya. Aihs, andai dia punya anak selucu ini, pasti sudah habis karena sering ia cubit.

Minki sudah tertidur di pangkuan In Sung dan matahari sudah makin bergeser bersiap-siap untuk menghilang dari cakrawala digantikan oleh bulan. Tapi Haebin tak kunjung menampakkan batang hidungnya juga.
In Sung mencoba untuk meneleponnya. “Ya! Kau ini kemana sih? Bagaimana dengan Minki? Kau tidak ingin menjemputnya?” keluh In Sung dengan suara pelan. “Aku akan menunggumu di TK” tambah In Sung. Sebenarnya ia sekarang ada janji kencan dengan Jinyoung. Tapi sepertinya ia harus membatalkannya.
“Mianhae, In Sung-ah.. sekarang aku juga masih sibuk di panti. Aku akan menelepon Sungmin Oppa untuk menjemput Minki.”
“Baiklah. Aku akan membawanya ke rumahku. Katakan padanya untuk menjemput di rumahku saja. Kasihan, Minki sekarang sedang tidur.”
“Aku mengerti.”
In sung menghela napas setelah menutup teleponnya. Sekarang ia harus membawa Minki ke rumahnya.

@@@

“mwo? Anak siapa itu, In Sung?” tanya Shindong, kakaknya yang baru saja pulang bekerja ketika melihat In Sung pulang menggendong seorang anak kecil.
“Dia Minki, keponakan Haebin. tadi dia menitipkannya di TK. Tapi Haebin tidak bisa menjemput. Makanya aku membawanya kemari sementara menunggu orangtuanya datang menjemput nanti.” In Sung berjalan menuju kamarnya, lalu menidurkan Minki di atas tempat tidurnya. Gadis cilik itu sedikit menggeliat ketika In Sung membaringkannya. Namun cepat-cepat In Sung segera menina bobokannya kembali.

“Untuk apa kau membawanya kemari? Rumah ini bukan tempat penitipan anak.” Ucap Ummanya sambil menata makanan di atas meja. Appanya hanya menggelengkan kepalanya. In Sung sudah berganti baju dengan piyama tidurnya dan bersiap bergabung dengan keluarganya di meja makan.
“Sudahlah. Ini kan tidak tiap hari.”
In Sung bersyukur Appanya tidak begitu perhitungan seperti Ummanya. Ia sangat lelah malam ini. Haruskah mendengar ceramah ibunya yang mengeluh macam-macam padanya.
“Anak itu mana sekarang?” tanya Shindong yang sudah lebih dulu duduk di sana.
“Masih tidur, Oppa.” Tutur In Sung lalu menarik kursi di sebelahnya

“Umma sudah membicarakan hal ini dengan Tuan Cha. Dia bersedia menikah kapanpun asal kau bersedia In Sung..” ujar Ummanya di sela-sela makan malam itu. In Sung hampir saja tersedak mendengarnya.
“Apa? Menikah? Dengan Tuan Cha!!” pekik In Sung tak percaya. Tidak hanya ia yang tercengang, tapi Appa dan Shindong juga.
“Yeobo, apa yang kau pikirkan. Haruskah In Sung menikah di usianya sekarang.” Protes Appa
“Usianya sudah 23 tahun. Dan itu usia yang pantas bagi seorang wanita untuk menikah”
“Tapi Umma, Tuan Cha Jun Hee kan usianya sudah 40 tahun lebih.” Ujar Shindong bergidig ngeri. In Sung mengangguk membenarkan.
“Pokoknya aku tidak mau menikah dengan namja yang usianya sudah mendekati Appa. Tidak!!”
“Tapi dia sudah mapan. Dengan kekayaan yang dimilikinya kau tidak perlu hidup susah.”
“Apa Umma sudah gila? Jadi Umma menjual putrinya sendiri pada pria yang sudah tua seperti itu hanya demi harta?” In Sung terpukul menyadarinya.
“Lalu kau ingin seperti apa? Menikah dengan pacarmu yang seusia denganmu itu? Kau akan menyesal nanti.”
“Umma!!” teriak In Sung.
“Shin In Sung! Berani kau meneriaki Ummamu sendiri??”

Brakkk!!!

Seketika suasana hening ketika Tuan Shin, Appanya In Sung menggebrak meja. Sebagai kepala keluarga, ia merasa tidak dihargai melihat istri dan anak perempuannya bertengkar.
“Kita sedang makan malam. Jangan merusak suasana dengan pembicaraan yang mengundang emosi.” Ucapnya dengan emosi tertahan.
In Sung ingin kembali protes namun ia terhenti karena mendengar suara tangisan Minki di kamarnya. Anak itu mungkin terbangun karena gebrakan meja Appanya tadi. In Sung memilih menarik diri sejenak kemudian menghampiri Minki.

Benar saja. Gadis itu sudah terbangun dan kini sedang menangis. ia merasa tidak mengenali tempatnya berada sekarang. Maka dari itu ia menangis.
“Aigoo.. kau sudah bangun chagi..” In Sung segera menggendong Minki ke dalam pelukannya agar gadis itu tenang. dan benar saja, tak lama tangisan Minki sudah tenang.
“Appa..” panggil Minki di sela isakannya. In sung mengerjap.
“Appamu sebentar lagi datang. Minki tunggu ya..” ujar In Sung sambil membelai rambut Minki.

Bagaimana ini? Sekarang In Sung hanya berharap Appanya Minki segera datang menjemput.

@@@

Donghae lega. Akhirnya setelah selama seminggu terakhir ia pulang malam untuk menyelesaikan proyek, hari ini ia bisa pulang lebih awal juga. Saat menapaki ruang tamu rumahnya, ia terkejut melihat Haebin tertidur di sofa yang ada di ruang tamu. Bahkan istrinya itu masih mengenakan pakaian kerjanya. Donghae mendekat, ia mengusap kening Haebin perlahan.
“kau ini wanita yang sedang mengandung, yeobo. Haruskah kau bekerja sampai kelelahan seperti ini..” ujarnya tak tega saat melihat wajah Haebin yang tampak kelelahan. Sepertinya aku harus mengeluarkan kau kembali dari pekerjaan itu. Batinnya. Ia semakin tidak tega saat matanya terhenti pada perut Haebin yang mulai membuncit. Ia tidak boleh terlalu lelah.
“Emh..” Haebin menggeliat pelan lalu membuka matanya perlahan ketika donghae akan mengangkatnya.
“Omo, Oppa..kau sudah pulang?” serunya kaget seraya bangkit.
“kau ketiduran disini?”
“Iya. Ah, Sungmin Oppa!!!” haebin teringat. Tadi ia ketiduran ketika menghubungi Sungmin namun tidak kunjung di angkat olehnya.
“Kenapa dengan Hyung?”
Haebin tak sabar segera memaksa donghae. “Oppa, cepat hubungi Sungmin Oppa.. ia harus menjemput Minki di rumah In Sung.”
“Mwo? Jadi dia belum di jemput?” Donghae segera menghubungi Sungmin. Jam segini dia pasti sedang dalam perjalanan pulang.

Donghae sedikit menjauhkan dirinya saat berbicara dengan Sungmin. “Hyung, ada di mana kau sekarang?”
“dalam perjalanan ke rumahmu. Minki ada di sana kan?”
“Hyung, Minki ada di rumah In Sung.”
“Hah? Bagaimana bisa?”
“nanti kujelaskan. Kau jemput saja ke rumahnya. Aku akan mengirimkan alamatnya.” Ujar donghae. ia segera beralih ke Haebin agar menyebutkan alamat sahabatnya itu.
“Syukurlah. Aku sempat khawatir tadi.” Ujar Haebin. donghae mendelik.
“Yang seharusnya kau khawatirkan itu kondisi bayi kita, yeobo!” Donghae mengelus perut Haebin dengan lembut.
“Aegi, Ummamu itu susah sekali Appa beri tahu. Jadi kau harus kuat ya”
Haebin mendengus. “Oppa, belum apa-apa kau sudah mengadu padanya. Jika nanti dia menganggapku Umma yang tidak baik bagaimana..”
Donghae tertawa. “mana Mungkin. Dia anakmu. Dia tidak akan berpikir buruk tentangmu. Sekarang, ayo kita pindah ke kamar..” sebelum Haebin bergerak, Donghae sudah lebih dulu menggendongnya.

“Oppa.. jangan bertingkah seperti ini..kita kan bukan pengantin baru.” Protes Haebin. sebenarnya ia malu diperlakukan begini oleh Donghae.
“Anggap saja begitu. Saat pengantin baru kita kan tidak melakukannya.” Donghae mengedipkan matanya. Membuat pipi Haebin makin memanas.
“huuu.. kau terlambat Oppa..” ujar Haebin sambil mencubit pipi Donghae.
“Aigoo.. diamlah. Kau ingin aku serang lagi?” ancam donghae saat Haebin mulai menggodanya. ia mendudukkan Haebin di atas tempat tidur.
“Sudah jangan manja. Sekarang kau istirahat. Dan mulai besok, ambillah cuti dari pekerjaanmu itu sampai anak kita lahir.”
Haebin mengerjap kaget. “Shireo. Selama itu?? Berarti aku harus cuti selama empat bulan?”
“Lebih baik kau berhenti saja. Kau kan istri dari Lee Donghae, suamimu ini presdir perusahaan kontruksi terbesar di Korea. Hidupmu sudah sangat terjamin jadi tidak perlu pergi bekerja lagi.” Haebin tertawa keras. Ya ampun, sejak kapan suaminya jadi senarsis ini.

Tentu saja Haebin tahu hal itu. Semenjak Appa mertuanya selesai dioperasi, ia menyerahkan sepenuhnya perusahaan pada Donghae sementara ia akan memilih menghabiskan masa pensiunnya dengan berlibur ke pulau pribadi yang ada di Kepulauan Karibia. Leeteuk ikut dengannya ke sana untuk mengurus semua keperluannya. Meskipun sekali-kali ia kembali ke Korea untuk membantu Donghae.

“Oppa, aku suka bekerja membantu orang-orang di panti itu. Sekaligus, aku ingin menebus rasa bersalahku karena tidak bisa menjaga Umma saat ia masih hidup.” Ujarnya dengan ekspresi sedih.
Donghae paham. Haebin memang melakukan pekerjaan itu dengan senang hati. Donghae mendekat lalu mencium bibir Haebin sekilas.
“Baiklah. Tapi hanya sampai kandunganmu berusia 6 bulan. Setelah itu kau harus segera ambil cuti kalau tidak, aku akan mengikatmu di rumah.”
“Iya yang mulia. Aku akan ikuti perintahmu.” Haebin lalu memeluk donghae. ia ingin sekali bermanja-manja padanya sekali lagi.

@@@

Sungmin menatap ragu rumah di depannya. Sesuai dengan alamat yang sudah diberikan Donghae, ia datang menjemput Minki ke rumah gadis bernama Shin In Sung itu.
“Apa benar ini rumahnya?” tanyanya tidak yakin. Ia lalu memencet bel.
“Siapa?” tanya seseorang dari Intercom. Sungmin mendadak gugup.
“Saya Lee Sungmin. Datang untuk bertemu dengan Shin In Sung.” Ucapnya. Tak lama pintu pun dibuka seseorang. Yang membuka itu adalah Ummanya In Sung.

“Annyeong haseyo..” Sungmin sedikit menundukkan kepalanya saat bertemu dengan wanita berusia kira-kira 40 tahunan itu.
Umma sedikit terpana saat melihat Sungmin. Bagaimana tidak, meskipun sudah malam, penampilan namja berusia 28 tahun itu tetap rapi dan segar. Tidak ada raut lelah walau pun seharian tadi pekerjaannya begitu berat dan menumpuk. Apalagi Sungmin memiliki wajah yang tampan dan bisa memikat siapapun, termasuk para Ahjumma di luar sana.
“Kau..” Umma sukses terpikat pada namja di depannya itu. Ia melirik ke arah mobil Sungmin yang terparkir di luar pagar rumah mereka, wow, mobil sedan tipe terbaru dari Ford. Ia mengerjap senang.
Sungmin ikut melirik ke arah mobilnya, merasa ada yang aneh dengan pandangan Ahjumma di depannnya.
“Apa Shin In Sung ada?” tanya Sungmin memecah keheningan. Hmm.. betapa senang hatinya kala tahu ada namja yang masih muda, mapan, dan berwajah memikat menanyakan putrinya. Ia segera tersenyum hangat.
“Tentu saja ada. Silakan masuk.”

Sungmin sebenarnya tidak enak juga bertamu di waktu semalam ini. Tapi jika tidak, ia mana mungkin bisa menjemput Minki-nya. Tak lama In Sung datang. Ia pun bereaksi sama seperti Ummanya, agak terpana saat melihat Sungmin.
“Apakah kamu Shin In Sung?” tanya Sungmin membuyarkan kekaguman In Sung. Gadis itu mengerjap dan buru-buru menggelengkan kepalanya.
“Iya. Anda…??” In Sung merasa tidak pernah melihatnya.
“Aku Lee Sungmin. Appanya Minki. Haebin bilang dia bersamamu.”
In Sung mengerjap kaget. Ia berusaha menahan diri agar tidak memekik. Ya ampun, apa yang terjadi? Mengapa namja setampan dia sudah memiliki putri berusia 4 tahun??? Pantas saja Minki begitu cantik dan menggemaskan. Ternyata Appanya saja tampan seperti ini.
“Di-dia ada. Sebentar. Akan aku bawa dia..” ucap In Sung agak tergagap.
“Maaf merepotkan” ujar Sungmin.

In Sung segera berlari ke dalam untuk membawa Minki. Gadis cilik itu sedang bermain dengan Shindong di ruang tengah.
“Min-chan.. Appamu sudah datang menjemput. Ayo..” In Sung segera menggendongnya. Gadis itu tersenyum girang.
“Appa.. mana Appa..” serunya tak sabar. Ia melambai-lambaikan tangannya pada Shindong saat di gendong pergi oleh In Sung.

“Aigoo.. Minnie..” seru Sungmin lega saat melihat putrinya baik-baik saja. Malah tampak senang.
Minki segera berlari ke pelukan Ayahnya saat di turunkan oleh In Sung.
“Appa..Minnie senang Appa datang..” ujar Minki sambil memeluk leher Sungmin.
“Jinjja? Appa juga..”

In Sung tidak dapat menyembunyikan senyumnya saat melihat keakraban anak dan Ayah itu. Hmm.. pasti rasanya bahagia.
“In Sung-ssi, terima kasih sudah menjaga putriku seharian ini. Pasti merepotkan.” Ujar Sungmin kembali membuat In Sung mengerjap.
“Ah, tidak. Aku sudah terbiasa kok. Jadi Anda tidak perlu sungkan.”
“Lain kali aku akan membalas kebaikanmu. Kalau begitu aku dan Minki pamit pulang.” Sungmin berniat berterima kasih juga pada orang-orang dirumahnya yang sudah direpotkan. Namun In Sung buru-buru mencengahnya.
“Tidak usah Sungmin-ssi. Lagipula ini sudah malam. kasihan Minki.”
Sungmin mengangguk. “Benar juga. Kalau begitu sampaikan ucapan terima kasihku pada orangtuamu. Minki, ayo bilang terima kasih pada Eonni..” ujar Sungmin pada putrinya.
“Kamsahamnida, Eonni..” ujar Minki. Uh.. In Sung sangat gemas melihatnya. Ia ingin mencubit pipinya sekali lagi. Tapi mana mungkin ia lakukan di depan Appanya.
“Iya. Hati-hati di jalan..” In Sung mengantar sampai ke depan pagar rumahnya.
“Sekali lagi terima kasih banyak, In Sung-ssi..” ucap Sungmin sebelum ia naik mobilnya. In Sung mengangguk lalu ia melambaikan tangannya pada Minki yang duduk di jok di samping kemudi.
“Eonni.. dadahhh..” ujarnya sambil melambaikan tangan..
“Dadahhh..”

Mobil mulai berjalan dan tak lama menghilang dari pandangannya. In Sung menghela napas lalu kembali ke dalam rumahnya.

“Loh, mana namja tadi? Sudah pulang begitu saja?” serobot Umma saat In Sung masuk.
“Iya.” Jawab In Sung sekenanya.
“Dia kenalanmu? Aigoo.. tampan sekali..”
In Sung melengos malas. Ia tahu kebiasaan Ummanya saat sudah terpikat pada seorang namja.
“Berhenti berpikir yang bukan-bukan Umma, dia itu Appanya Minki.”
“Nde!!!!” Ummanya memekik. Kaget dan tak percaya. “mustahil. Dia kan masih muda begitu. Umma yakin usianya belum sampai 30 tahun.”
“Memang kenapa kalau dia masih muda? Bisa saja kan dia menikah saat usianya baru 20 tahun.” Ujar In Sung sebal. Ia segera melesat ke kamarnya untuk tidur.
Umma menghela napas berat. “huh, sudah punya anak berarti sudah menikah. Itu artinya dia sudah memiliki istri.” Sesalnya. Padahal tadi ia sudah memiliki sedikit harapan saat melihat Sungmin. Yah.. mungkin saja kan mereka bisa berjodoh.

To be continued…

68 thoughts on “Shady Girl Sungmin’s Story (Part 1)

  1. In sung-ah semangat!
    Tapi sebenernya aku di sequel ini ngarepin dongeek haebin sih wkkwkwwk xD /judulnya aja udah sungmin’s story ya jellass sorotannya ke sungmin lah/ LOL

  2. Oh my ..
    Eh busyet dah appanya si in sung msa dia teg abener mau nikahin anaknye ama laki” brumur 40 ckckck
    #very nice !

Your comment

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s