Shady Girl (Part 22) End

Tittle : Shady Girl Part 22 End
Author : Dha Khanzaki a.k.a Shin Je Young
Genre : Romance, Married life, family

Main Cast :

  • Park Haebin / Lee Haebin
  • Lee Donghae

Support Cast :

  • *find by yourself*

tiba di part ending. bagaimana kesan pesannya selama membaca FF gaje saya? suka kah? eneg kah? atau malah gaje banget? ah, ya sudah lah… daripada ngegaje dan bikin bosen, lebih baik check this out aja.

Happy reading..

Shady Girl Donghae's Story by Dha Khanzaki

——–o0o——–

“Oppa, kau akan ikut ke Jerman untuk menemani Appa?” tanya Haebin. ia sedang membantu Donghae menyiapkan perlengkapan untuk pergi ke Jerman.
“Iya. Aku akan serahkan urusan perusahaan pada Leeteuk Hyung dan Siwon. Jadi aku hanya tinggal memikirkan operasi Appa dan dirimu.” Ujar Donghae membuat Haebin menunduk malu.
“Tapi aku tidak bisa ikut menemanimu Oppa, sebentar lagi aku wisuda, dan setelah itu aku harus bekerja di sebuah panti rehabilitasi sebagai sukarelawan.” Sesal Haebin. Donghae menghentikan aktivitasnya mengepak pakaian ke dalam koper. Ia menatap wajah istrinya yang sedih itu.
“Aku tahu. Kau tidak perlu ikut. Lagipula kau sedang hamil kan. Penerbangan yang terlalu lama tidak baik untuk bayi kita. Tapi, di sini kau bisa menjaga diri kan?” donghae tersenyum hangat sambil mengusap kepala Haebin dengan penuh kasih sayang. Haebin menunduk. Ia merasa sangat sedih dan senang. Ia senang karena Donghae semakin hari semakin memikirkan dirinya dan keluarganya. Sedih karena sebenarnya ada alasan lain kenapa ia tidak bisa ikut. Namun ia tidak ingin mengatakannya pada Donghae.
“Oppa, selama di sana kau harus baik-baik ya..kau jangan lupa makan. Aku tidak ingin kau sakit.” Haebin menasihati. Donghae menarik Haebin dalam dekapannya.
“Araseo, istriku. Aku akan teratur makan dan tidak akan sakit. Dan kau juga harus menjaga dirimu selama aku tidak ada. Aku akan menitipkanmu pada teman-temanku. Kusuruh mereka mengawasimu selama aku di Jerman.”
Haebin tersenyum. Ia lalu balas memeluk Donghae.
Oppa, mianhae..aku mungkin tidak akan bisa memelukmu seperti ini untuk sementara waktu..batin Haebin.

@@@

Haebin meneteskan airmatanya melihat pesawat yang ditumpangi Donghae dan Tuan Lee sudah lepas landas.
“Oppa, selamat jalan..”lirihnya. ia memegangi perutnya. “Aegi.. tidak apa-apa kan kalau kamu tidak bertemu dengan Appamu untuk sementara?” gumamnya dengan berat hati.
“Karena kita harus pergi untuk sementara waktu..”

@@@

Kyuhyun menghela napas, sekarang ia harus mengecek Haebin di rumah Donghae. sesuai permintaan Donghae 2 minggu yang lalu. sekarang sudah 1 minggu sejak Donghae pergi. ia sudah cukup sering menelepon Haebin dan gadis itu selalu bilang ia baik-baik saja. Tapi selalu melarangnya datang menengok. Dan sekarang ia akan mengejutkan Haebin dengan datang tiba-tiba ke rumahnya.
Ting tong..
Ia mengerutkan kening. Sekali lagi Kyuhyun membunyikan bel. Tak ada jawaban seperti yang pertama. Ini aneh.. karena penasaran, ia segera memencet kode pintu yang sudah diberitahu oleh Donghae. mungkin saja Haebin masih tidur. karena ia datang cukup pagi.
“Haebin..” panggilnya. Ia melirik ke sekitar rumah. Aneh sekali. Tidak ada tanda-tanda kehidupan di rumah ini. Kyuhyun mencari-cari Haebin di seluruh rumah itu. Ia terkejut dan perasaan panik melanda dirinya. Haebin menghilang!!! Ia tidak menemukan Haebin di manapun!!
“Eotteohke!!!!!” teriaknya. Ia menemukan sepucuk surat di simpan di meja yang ada di ruang tengah. Itu pasti dari Haebin!! kyuhyun segera membukanya.

_Donghae Oppa,
Saat membaca surat ini, mungkin aku sudah tidak ada di rumah ini. Maafkan aku Oppa, aku tidak bermaksud untuk meninggalkanmu. Hanya saja, untuk sementara ini kumohon, izinkan aku menenangkan diri terlebih dahulu. dimanapun aku berada, aku berjanji akan menjaga diri dan mendoakan kesehatanmu dan Appa. Jangan cari aku Oppa. Aku baik-baik saja. Soal Aegi, akan kujaga ia baik-baik. Kuharap kau baik-baik saja.
Haebin._

“Whuaaaaaaaa…” Kyuhyun memekik begitu selesai membacanya, kalang kabut ia segera mencari ponselnya dan menghubungi Donghae, tak peduli biaya panggilan internasional itu mahal.

—-o0o—

@Berlin Hospital, Jerman

Donghae tersenyum bahagia. Hatinya lebih tenang setelah mendengar pernyataan dari dokter bahwa operasi Ayahnya berjalan lancar. Dan sekarang hanya tinggal masa pemulihan saja. Ia keluar dari ruang rawat Ayahnya dengan wajah lebih tenang.
Selama seminggu ini ia terlalu sibuk mengurus Appanya. Ia terus fokus pada proses penyembuhan Appanya sampai melupakan Haebin dan calon bayi yang masih dalam kandungannya. Hari ini kerinduannya pada Haebin sudah tidak terbendung lagi. Ia harus segera meneleponnya untuk sekedar mendengar suaranya.

Tralilalila..

Baru ia akan menghubungi Haebin, ponselnya berbunyi lebih dulu. Dari nama yang muncul di layar, ia tersenyum. Kyuhyun pasti memberitahukan kabar terbaru lagi tentang istrinya.
“Yeobseo”
“Donghae…!!!” Kyuhyun berteriak membuat telinganya hampir tuli.
“Ya! Kau lupa untuk memanggilku Hyung!” protes Donghae
“Ini bukan saatnya untuk itu. Istrimu..”
Deg..deg..deg.. kenapa jantungnya mendadak berdebar-debar seperti ini? Firasat buruk itu kembali menyinggahinya.
“Kenapa dengan Haebin? cepat katakan!” paksanya dengan nada meninggi.
“Dia..hilang.. haebin, tidak ada di rumah.”
Bagai mendengar petir yang menggelegar begitu keras di telinganya, Donghae mematung di tempatnya berdiri. Matanya terbelalak lebar dan tangannya kini bergetar.
“Apa katamu?? Sudah kukatakan untuk menjaganya kan!! Kenapa bisa menghilang!!!” bentak Donghae. Amarahnya memuncak.
“Anu.. soal itu.. aku juga baru tahu hari ini..Mianhae..”
“Mwo!! Kau.. aish..!!” Donghae segera memutuskan sambungan dan memencet nomor lain. Ia berjalan dengan cepat menuju kamar rawat Appanya sambil menelepon. “Hyung..” ujar Donghae saat tersambung dengan nomor Leeteuk. “Cepatlah kemari sekarang juga. Gantikan aku menjaga Appa. Aku harus kembali ke Korea.”
“Mwo? Tapi kenapa?” Leeteuk belum tahu soal hilangnya Haebin.
“Akan kukatakan nanti.”

@@@

@Korea Selatan

Setibanya di bandara Incheon, Donghae segera naik taksi menuju tempat Kyuhyun. Anak itu harus menjelaskan segalanya. Berkat kabar darinya, sepanjang perjalanan dari Jerman-Korea, Donghae tidak bisa tenang sama sekali. Pikirannya terus tertuju pada Haebin, Haebin, dan Haebin. berbagai pertanyaan pun menghinggapi kepalanya. Mengapa Haebin bisa menghilang? Apa yang membuatnya memutuskan untuk pergi? lalu bagaimana dengan nasib bayi yang ada dalam kandungannya? Sekarang adalah masa-masa penting bagi wanita yang tengah hamil muda sepertinya. Donghae tidak bisa membayangkan Haebin menjalani masa-masa penting kehamilannya seorang diri. Ia mengacak rambutnya sendiri. Ia selalu kesal tiap kali mengingatnya. Kenapa baru terpikirkan sekarang? Seharusnya dulu ia mengajak Haebin pergi bersamanya saja. Jadi ia bisa mendampinginya setiap saat.
“Haebin.. kenapa kau membuatku cemas seperti ini?” gumam Donghae takut.

—o0o—-

“Aku benar-benar tidak tahu Hyung! Saat aku ke rumahmu seminggu kemudian, haebin sudah tidak ada di rumah. Dan dia meninggalkan surat ini..” Kyuhyun dengan wajah khawatir dan penuh penyesalan menyerahkan sepucuk surat pada Donghae.
Dengan cepat Donghae membaca surat itu. Ia semakin kesal, meremas surat itu lalu membuangnya. Ia melayangkan tatapan tajamnya pada Kyuhyun, membuat namja itu menciut nyalinya. Sungguh, ia merasa sangat bersalah.
“Lalu bagaimana dengan kabar yang kau berikan padaku selama seminggu ini? Kau bilang dia baik-baik saja?!!”
“A-ku meneleponnya. Dan dia bilang baik-baik saja. Tapi aku selalu dilarang tiap kali ingin mengunjunginya..Maaf, aku benar-benar menyesal karena tidak bisa menjaganya baik-baik..” Kyuhyun menundukkan kepalanya berkali-kali. Donghae menghela napas. Sudahlah, sekarang tidak ada gunanya menyalahkan Kyuhyun. Semua ini adalah salahnya.
“Sekarang kita harus mencarinya di mana? Aku akan membantumu sampai Haebin ditemukan kembali.” Ucap Kyuhyun.
Donghae memutar otaknya memikirkan sebuah kemungkinan. Tapi pikirannya buntu sama sekali.
“Mungkin, kita bisa bertanya pada sahabatnya.” Ucap Donghae.

—-o0o—

Di TK tempat In Sung berada itulah, kini Donghae berharap bisa mendapatkan informasi tentang Haebin darinya.
“Apa? Haebin menghilang!!!” pekik In Sung. Sama kagetnya dengan Donghae saat pertama kali mengetahui berita itu. Donghae dan Kyuhyun tercengang.
“Jadi, kau tidak tahu?” tanya Donghae.
In Sung buru-buru menggeleng. “Aku sama sekali tidak tahu. Saat wisuda kemarin, ia tidak mengatakan apapun. Kenapa? Kenapa Haebin bisa menghilang? Kalian bertengkar?”
“Tidak.” Tegas Donghae. “Itulah yang ingin aku tahu. Kenapa dia menghilang.”
In Sung mendadak ikut panik. “Bagaimana ini.. bukankah dia sedang hamil?”
“Itu dia!!” serobot Kyuhyun. “Aku semakin khawatir karena dia sedang hamil!!”
Donghae merasakan rahangnya menegang. Oh tidak.. dia sudah melakukan kesalahan besar.
“Ya! Kau jangan membuatku makin panik!” bentak Donghae pada Kyuhyun.
“Aish.. andai aku bisa menghubunginya.. aku mungkin bisa melacak keberadaannya..” ucap Kyuhyun menggebu-gebu.

Hari melewati hari.. sudah hampir satu minggu sejak Haebin ditemukan menghilang dari rumahnya. Sampai hari ini belum ada kabar juga tentang keberadaan Haebin. donghae sudah mengerahkan semua hal yang bisa dilakukannya. Meminta bantuan polisi, dan teman-temannya pun ikut membantu. Namun semua itu tidak membuahkan apapun. Kini, Donghae uring-uringan di kantornya. Meskipun ia berusaha tetap berwibawa di depan para pegawainya, di saat sendiri seperti ini ia tidak bisa menyembunyikan rasa frustasinya.
“Haebin.. kemana kau???” di saat siang seperti ini, ia merindukan kedatangan Haebin seperti biasa untuk mengantarkan makan siang padanya. Ah, kenapa ia baru menyadari bahwa ia membutuhkan Haebin. sangat. Telepon yang ada di mejanya berdering.
“Pak, Ada telepon untuk anda.” Ucap Yuri, sekretarisnya.
“Sambungkan saja ke ruanganku.”
“Baik.”
Tak menunggu waktu lama, ia mendengar suara seorang perempuan di ujung sana. “Donghae-ssi?” tanyanya ragu.
“Iya.”
“Ini aku, Shin In Sung. Aku sudah mendapat kabar mengenai Haebin.”
Donghae mengerjap. Ia bangkit dari tempat duduknya. “Jinjja?” tanyanya buru-buru.
“iya. Tadi pagi ada kiriman surat darinya. Dia mengatakan padaku agar menghubunginya ke nomor ini. Aku sudah berbicara dengannya. Hanya sebentar. Dia bilang baik-baik saja. Dan memintaku agar tidak memberitahumu. Tapi.. aku..”
“Sebutkan nomornya..” potong Donghae. tanpa banyak bertanya In Sung segera menyebutkan nomornya. Donghae dengan sigap mencatatnya. “Baiklah, In Sung-ssi, terima kasih sudah memberitahuku. Aku akan membalasnya suatu hari nanti. Jika kau butuh bantuanku, katakan saja. Oke.”
“Tidak perlu. Haebin adalah sahabatku. Aku melakukannya demi dia”

Setelah menyudahi pembicaraan dengan In Sung, Donghae segera memencet nomor yang tadi sudah diberitahukan. Ia menunggu telepon tersambung dengan tidak sabar.
“Ayolah.. angkat Haebin..”
Ia sudah tidak bisa menahan diri lagi. Ia ingin segera mendengar langsung suara istrinya itu.

—o0o—

Di sebuah tempat rehabilitasi, Haebin tampak sedang membantu pasien yang mengalami kondisi serupa dengan ibunya untuk makan. Ia melayani mereka dengan telaten dan penuh kesabaran.
“Haebin, ada telepon untukmu..” teriak seorang suster yang sudah senior. Haebin menoleh.
“Dari siapa?” tanya Haebin seraya menghampiri.
“Entahlah. Mungkin temanmu.”
Haebin mengerutkan kening. Ia lalu mengambil ponsel yang di sodorkan suster itu padanya. Suster itu menghela napas. “Haebin, apa sebaiknya kau tidak beristirahat saja? Kau kan sedang hamil muda. Tidak perlu memaksakan diri bekerja. Jika terjadi sesuatu pada bayimu bagaimana?”
“tidak apa-apa, bibi. Aku dan bayiku akan baik-baik saja. Lagipula semua ini tidak berat ko. Baiklah, kalau begitu aku pergi dulu sebentar.”
“Ne. Pasien itu biar aku yang menangani.”

Haebin menyingkirkan diri sejenak dari rutinitas barunya sebagai tenaga sukarelawan di panti itu.
Ia duduk di bawah sebuah pohon sakura. Memandangi ranting-ranting gundul yang tidak akan lama lagi akan tumbuh kuncup-kuncup baru di sana. Menyambut datangnya musim semi.
“Halo..” Haebin mendongkakkan kepalanya saat berbicara, menatap langit yang cerah. Udara saat itu masih dingin. Dan sisa-sisa salju di jalanan masih menghiasi dan tampak indah.
“Haebin..”
Mendadak dadanya berdegup sangat kencang mendengar suara seseorang yang sangat dirindukannya. Matanya melebar tak percaya. Haebin refleks meletakkan tangan diperutnya.
“Oppa..” ujar Haebin dengan suara bergetar saat mendengar suara Donghae.
“Kamu kemana? Kenapa pergi dariku? Katakan dimana dirimu? Aku akan menjemputmu sekarang juga.!!” Cecarnya bahkan tidak memberikan kesempatan Haebin berbicara. Namun ia mengabaikan pertanyaan donghae.
“Oppa, bagaimana kabarmu?” Haebin merasakan matanya panas. Ia tahu Donghae sangat mengkhawatirkannya. Itu bisa dirasakannya dari suara Donghae.
“Aku? Apa itu penting? Aku hanya ingin kau kembali. Cepat katakan dimana dirimu!!”
“Tentu saja penting!” potong Haebin. “Bukankah kau berjanji untuk menjaga kesehatan baik-baik saat aku tidak ada..”

Hening sesaat diujung sana.

“Tentu saja aku baik-baik saja.” Akhirnya Donghae memutuskan untuk mengalah.
“Bagaimana dengan Appa?”
“Operasinya berjalan lancar. Mungkin bulan depan Appa bisa kembali ke korea.”
“Syukurlah..” Haebin menghela napas lega.
“Haebin, bagaimana kabarmu dan aegi kita?”
Haebin merasakan tetes airmata mulai mengalir dari sudut matanya. Ia berusaha untuk tidak terisak. Lalu mengusap perutnya yang masih rata dengan lembut.
“Aku dan aegi baik-baik saja”
“Apa kau merindukanku?”

Deg deg.. debaran jantungnya kembali tidak normal. Haruskah dia menanyakan hal konyol itu? Tanpa perlu ditanya pun sudah pasti ia merindukannya. Sangat. Rasa rindunya tidak akan bisa menandingi dalamnya palung Izu di samudera pasifik sana.

“Tentu saja Oppa. Haruskah kau menanyakannya..”
“Kalau begitu kembalilah. Karena aku sangat merindukanmu. Kenapa kamu pergi dariku? Bukankah sudah kubilang agar tidak pergi dariku lagi.” Suara Donghae mulai merendah. Tak lama ia bisa mendengar isakan di ujung sana. Haebin mengejap. Ya Tuhan, Donghae menangis..

Membayangkan Donghae menangis membuat Haebin ikut menangis juga. Dadanya sesak lagi. Ia memang sangat merindukan Donghae. dan tidak berniat sedikitpun pergi dari namja itu. Bahkan ia tidak bisa.
“Aku tidak bisa kembali Oppa, setidaknya untuk saat ini..”
“Kenapa!! Kau ingin membuatku mati!!” teriak Donghae di ujung sana. Haebin mengerjap kembali.
“Cukup So Yeon saja yang membuatku menjadi orang lain selama 2 tahun terakhir. Aku sudah menyia-nyiakan hidupku karena sedih kehilangan orang yang aku sayangi. Kau datang dan mengembalikanku seperti semula. Setelah aku begitu menyayangimu, kau memilih menghilang dariku? KAU INGIN MEMBUATKU MATI!!”
Haebin sekarang tidak bisa menahan isakannya. Bukan Donghae saja yang merasakan hal itu. Ia juga merasakan dirinya begitu tersiksa saat tidak ada Donghae di sampingnya.
“Cepat kembalilah jika tidak ingin melihatku mati. Atau aku akan meminta bantuan interpol untuk mencarimu.”
“Interpol? Oppa, kau ingin membuatku menjadi buronan internasional?”
“Biar saja. Asal kau kembali”
Haebin mengusap air matanya secepat mungkin. “Oppa.. Jebal. Untuk sementara ini, biarkan aku sendiri. Aku ingin menenangkan diri dulu. Setelah itu, setelah hatiku bisa tenang.. Oppa silakan mencariku. Aku tidak akan menghindar.”

Hening. Sepertinya Donghae sedang berpikir.

“Tapi, berapa lama? berapa lama aku harus membiarkanmu sendiri?”
“Entahlah”
“Tapi Haebin, kau sedang hamil.”
“Aku akan menjaganya. Aegi kita akan kujaga hingga lahir nanti. Sekali lagi aku memohon jangan mencariku”
Masih terdengar isakan Donghae. namun sepertinya namja itu sudah lebih tenang.
“Baiklah. Aku beri kau waktu 2 bulan untuk menenangkan diri. Setelah itu, tak peduli di manapun kau berada, aku akan mencarimu dan membawamu kembali.”
Haebin tersenyum di antara tangisannya. “Aku tahu kau namja yang sangat pengertian Oppa. Saranghaeyo..”
“Nado..saranghaeyo..”

Tidak mau berlama-lama, Haebin segera memutuskan sambungan. Lalu menonaktifkan ponsel. Ia tidak mau Donghae meneleponnya kembali. Mendengar suaranya saja membuat Haebin ingin sekali pergi ke tempatnya lalu memeluknya erat. Tidak. Ia ingin menenangkan diri terlebih dahulu. sakit hatinya belum sembuh sejak mendengar pengakuan dari Tuan Lee. Semoga seiring berjalannya waktu, hatinya bisa mulai memaafkan.

—o0o—

2 month later…

Setelah mendengar pengakuan Haebin bahwa ia ingin menenangkan diri, Donghae mulai menjalani hari-harinya tanpa Haebin dengan lebih tenang. Ia tidak mau jatuh ke dalam lubang yang sama. Hingga tiba saatnya menjemput Haebin nanti, ia bisa menyambut istrinya itu dengan senyuman bahagia.

“Appa, bagaimana keadaanmu? Apa sudah lebih baik?” tanya donghae sambil merapatkan selimut. Tuan Lee tersenyum. Setelah kepulangannya dari Jerman, berangsur kesehatannya mulai pulih. Itu pertanda baik.
“Jauh lebih baik.” Ujarnya. “Bagaimana kabar menantuku? Kenapa dia tidak pernah datang menengok?”
Donghae mengerjap. Ya, ia memang tidak mengatakan kalau sudah lebih dari 2 bulan ini Haebin menghilang. Ia hanya mengatakan kalau Haebin sangat sibuk dengan kegiatan barunya sebagai psikolog.
“Dia baik-baik saja. Mungkin setelah tugasnya selesai, ia akan menjengukmu.” Ucap Donghae.
“hmm.. apa mungkin dia masih marah padaku? Karena ucapanku waktu itu?” ujar Tuan Lee sambil menerawang. Donghae menatap wajah Appanya.
“Ucapan apa?”
Tuan Lee menghela napas. Ia mulai menceritakan kisah yang ia ceritakan pada Haebin. Dongae terbelalak kaget setelah Appanya selesai bercerita. Ia menutup mulutnya cepat. Sekarang, setelah mendengar penjelasan dari Appanya, ia bisa mengerti kenapa Haebin pergi untuk menenangkan diri.
“Benarkah dia sedang sibuk? Bukan karena dia marah pada Appa?” tanya Tuan Lee dengan suara berat.
Donghae menggeleng cepat. Ia ingin Appanya tidak memikirkan masalah berat lebih dulu. “Tidak
Appa, itu tidak benar. Aku jamin. Dia sangat menyayangimu dan ingin sekali bertemu denganmu. Akan kukatakan padanya bahwa Appa ingin sekali bertemu dengannya.” Ujar donghae berbohong.
Tuan Lee kembali menghela napasnya. “Syukurlah.”

Setelah itu donghae membiarkan Tuan Lee beristirahat. Ia keluar dari kamar Appanya dan menyusuri lorong yang disinari cahaya matahari musim semi. Ia menoleh ke arah Taman samping rumahnya. Tempat favorit Haebin di rumah itu. Seketika ia kembali teringat padanya. Memang setiap hari, setiap detik, pikirannya selalu tertuju pada istri yang amat dirindukannya itu.
“Lihat yeobo, taman ini sangat indah saat musim semi.” Ucapnya menerawang ke arah taman itu. Seulas senyum terbit di wajahnya. Taman itu penuh dengan bunga yang mulai bersemi mengikuti perubahan musim.
Ia menghela napas. Memikirkan kembali cerita yang baru saja ia dengar dari Appanya. Karena itu kah kau lari dariku? Kau sakit hati pada Appa sampai memilih meninggalkanku untuk sementara waktu? Kenapa kau tidak mengatakannya dari awal? Batin Donghae.
“Sudah 2 bulan. Sesuai janji, aku akan menjemputmu di manapun kau berada.”

Sebenarnya, ia tidak tinggal diam selama 2 bulan ini. Ia terus mencari keberadaan Haebin melalui berbagai cara. Dan akhirnya ia menemukan keberadaan Haebin. ia berada di sebuah panti rehabiltasi yang ada di daerah Busan. Namun karena terikat janji, Donghae memilih diam. Sekarang sudah dua bulan. Ia harus menarik kembali Haebin ke dalam kehidupannya. Ia tidak bisa menahan kerinduannya lagi. Ia ingin sekali mendekap gadis itu. Setiap malam, ia selalu sedih saat mendapati tidak ada Haebin yang menemani tidurnya. Tidak ada seseorang yang bisa ia peluk ketika sedih ataupun senang. Itu sangat menyakitkan.

@@@

Donghae menghela napas. Inilah tempat Haebin berada. Sebuah panti rehabilitasi yang tidak terlalu besar. namun pemandangannya begitu indah dan nyaman. Pantas Haebin betah bekerja di sini.
“Permisi, aku ingin bertemu dengan seorang psikolong bernama Park Haebin. apa dia ada?” ujar Donghae pada seorang petugas yang berjaga di lobby panti itu.
“Ah, Dr. Haebin? dia baru saja keluar”
“Apa? Keluar? Kemana?” Donghae kaget.
“mungkin berjalan-jalan sekitar bukit yang ada di belakang panti ini”
“Benarkah? Apakah kau yakin?”
“Iya. Bolehkah saya tahu Anda siapa? Saya bisa menghubunginya sekarang juga jika memang keperluan Anda mendesak.”
“Saya suaminya.” Ujar Donghae sambil tersenyum.

—o0o—

Di bukit belakang itulah tempat favorit Haebin. sebab di sana penuh dengan bunga. Saat pertama kali ia datang, ia tidak berani kemari karena udara sangat dingin dan tempat ini dipenuhi salju. Dan sekarang, setelah udara menghangat, bunga-bunga di sini bermekaran dan tampak sangat indah. Mengingatkannya pada taman yang ada di halaman Appa mertuanya.

Haebin berjalan menyusuri jalan setapak sambil sesekali tersenyum melihat bunga sakura yang mulai mekar di pohonnya. Ia mengusap perutnya.
“Aegi..lihatlah.. di sini indah sekali. Kau harus cepat lahir dan melihat keindahan ini bersama Umma..”

Donghae menolak saat petugas itu akan menelepon Haebin. ia memilih mencari istrinya sendiri. Bukit itu tampak indah karena penuh bunga. Pantas Haebin menyukainya. Tak lama ia menyusuri jalan-satu-satunya jalan di sana-ia menemukan Haebin sedang mendongkakkan kepalanya menatapi pohon sakura yang sudah mulai penuh dengan kuncup bunga sakura yang mulai mekar sebagian.
Rasa bahagia membuncah dalam dirinya melihat gadis yang sangat dicintainya berada dalam jarak hanya beberapa meter saja. Ia ingin sekali berlari dan langsung memeluknya.
“Aegi..lihatlah.. di sini indah sekali. Kau harus cepat lahir dan melihat keindahan ini bersama Umma..”
Donghae mengerjap saat mendengar suara Haebin yang begitu merdu di telinganya. Senyumnya tidak bisa ia sembunyikan lagi.
“Kenapa hanya bersama Aegi kita? Kau tidak ingin mengajakku?” ujar Donghae dengan suara agak keras. Gadis itu tampak menegang. Jelas sekali ia terkejut. Donghae segera berlari dan memeluknya bahkan sebelum gadis itu membalikkan badannya.

“Omo..” Haebin kaget. Sesaat tadi ia seperti mendengar suara Donghae. ia kira ini hanya mimpi. Namun, sebelum ia membalikkan badan, tiba-tiba saja ada seseorang yang memeluknya. Matanya terbelalak kaget dan jantungnya berdegup kencang. Amat kencang sampai ia sendiri takut akan tewas karenanya.
“Haebin-ah.. istriku..”
Haebin mengerjap kembali. Ia memang tidak bermimpi. Di sini, detik ini, Donghae memang sedang memeluknya. Ini adalah Lee Donghae suaminya.. haebin sadarlah.. ini bukan mimpi di siang bolong. Donghae memang berada di sini tengah memeluknya.
“Oppa..” Haebin terasa tenggorokannya tercekat. Bahkan airmatapun lolos begitu saja membasahi pipinya. Ia amat merindukan pelukan ini..
“Ne..ini aku..” Donghae mengeratkan pelukannya. Seakan ia ingin mengeluarkan semua kerinduannya melalui pelukan itu. Ini juga sebagai bukti bahwa ia tidak ingin kehilangan Haebin lagi.

Mereka hanya saling diam untuk beberapa saat. Saling menyalurkan kerinduan satu sama lain. Sampai akhirnya Haebin bereaksi terlebih dahulu.
“Oppa, kau tidak kasihan pada anak kita? Dia sesak jika kau memelukku terlalu kencang..” lirih Haebin. donghae seakan tersadar dan segera melonggarkan pelukannya.
“Mianhae..aku hanya merindukanmu. Tentu saja anakku juga..” ucapnya dengan mata berkaca-kaca. Ia menatap Haebin dengan sorot mata yang penuh dengan rasa rindu. Haebin sampai merasa akan tenggelam jika terus menatap mata gelapnya itu.
Donghae mendekatkan wajahnya lalu mengecup bibir Haebin dengan penuh kasih sayang. Haebin langsung membalasnya sambil mengalungkan tangannya di leher Donghae. ia pun merasakan kerinduan yang sama seperti Donghae.
“Apa kau tidak merindukanku?” tanya Donghae sesaat setelah ia mencium Haebin. ia tidak menjauhkan wajahnya, ia ingin menatap Haebin dari jarak sedekat mungkin.
Haebin merasakan pipinya memanas. “Apa aku harus mengatakannya?”
“Tentu saja. Itu sangat penting.”
“Aku merindukanmu, Oppa..” ujar Haebin malu. Ia tidak bisa menyembunyikan wajahnya yang merona kemerahan. Donghae tersenyum, ia gemas sekali melihat Haebin bersemu malu seperti itu. Ia kembali mengecupnya.
“2 bulan tidak melihatmu, kenapa kau makin cantik seperti ini?”
“Mwo? Oppa, kau menggombaliku lagi.” Seru Haebin tak percaya.
Donghae memeluknya. “Tidak. Aku jujur. Kau memang semakin cantik. Apa kehidupanmu di sini menyenangkan?”
“I-iya..” ujarnya gugup dalam pelukan Donghae. “Aku hidup dengan baik di sini.”
“Oh ya? Kau bisa hidup baik tanpa aku? Padahal aku semakin kurus gara-gara tidak ada istri cerewet yang terus memaksaku agar makan banyak.”
Haebin tertawa dan terharu. Ia tidak menyangka ternyata Donghae benar-benar membutuhkannya.

Donghae terdiam dan hanya mengelus rambut Haebin yang masih dalam pelukannya. “Sekarang sudah 2 bulan. Kau harus kembali padaku.”
Haebin mengerjap. Ia melepaskan pelukan Donghae. ia menatap wajah Donghae yang kini begitu serius.
“Kau sudah berjanji kan padaku. Aku memberimu waktu 2 bulan untuk menenangkan diri. Sekarang kau harus kembali padaku.”
“Tidak bisa Oppa.. aku masih ada tugas di sini..” elaknya.
“Soal itu… aku sudah membicarakannya dengan penanggung jawab panti. Dia mengijinkanmu menyelesaikan tugas lebih awal dikarenakan kehamilanmu.”
Haebin terkejut mendengarnya. “Apa? Oppa, kenapa kau—-“
“SSsst..” potong Donghae sambil meletakkan telunjuknya di bibir Haebin. menghentikan ocehan yang akan keluar dari mulutnya.
“Aku tidak ingin mendengar penolakan apapun. Kau ikut aku sekarang, atau..”
“Atau apa?”
“Atau aku akan terpaksa menculikmu dari sini. Aku sudah menyiapkan borgol” ucapnya
“Mwo? Oppa ini tidak adil. Aku..”
“Apa lagi yang harus kau renungkan?” lagi-lagi Donghae memotong. Haebin menatap wajah donghae.
“dua bulan adalah waktu yang cukup untuk menenangkan diri. Apa karena cerita yang kau dengar dari Appa? Itu yang membuatmu memilih pergi dariku?”

Haebin merasakan jantungnya berdebar tidak normal. Ia merasakan sesak yang sama seperti saat di rumah sakit.
“Jika itu alasanmu pergi, aku tidak akan membiarkanmu. Jika memang kau merasa Appa bersalah karena sudah membuat hidupmu menderita, maka biarkan aku yang menebusnya. Biarkan aku yang mengganti semua penderitaan yang kau alami selama ini. Cobalah untuk memaafkan Appa dan kita mulai hidup yang baru. Karena.. aku sangat membutuhkanmu. Tidak hanya itu, kau juga tidak ingin kan anak kita lahir tanpa ada seorang Appa yang mendampinginya?”
Lelehan airmata mengalir kian deras dari sudut matanya. Haebin menangis. Membenarkan perkataan Donghae. ia memang membutuhkan itu. Ia membutuhkan penegasan dari Donghae bahwa ia harus memulai hidup yang baru dan memaafkan Tuan Lee. Ia ingin mendengar bahwa ia sangat dibutuhkan di kehidupannya. Dengan begitu, ia bisa berdiri dengan tegak lagi. Ia tidak akan merasa kesepian lagi.
“Mianhae Oppa.. aku egois..” Haebin akhirnya terisak dan memeluk Donghae. memang benar.. Donghae adalah tempatnya menggantungkan hidup. Ia tidak bisa hidup tanpanya.

Donghae membiarkan Haebin menangis. Setelah sekian lama, ia bisa mendengar suara tangisan Haebin. ia memang harus menangis. Menyalurkan semua emosi yang dipendamnya. Agar tidak ada beban yang tersisa lagi di hatinya.
“Sekarang, kau bersedia pulang denganku?”
Haebin mengangguk lemah. “Ne.”
Donghae merasa sangat lega. Seolah, beban berat yang selama ini menghimpitnya hilang begitu saja. Akhirnya.. Haebin kembali lagi padanya. Donghae mencium kening, kelopak matanya, pipinya, dan berakhir mencium bibir Haebin kembali.
“Terima kasih sudah mau kembali.” Ia memeluk erat istrinya dengan rasa bahagia yang tidak bisa dipendamnya lagi.

@@@

“menantuku!!! Akhirnya kau menjenguk Appa juga!!” seru Tuan Lee saat melihat Haebin datang menjenguknya. Haebin segera menghampiri kemudian memeluk Appa mertuanya.
“Apa Appa merindukanku?” tanya Haebin dengan wajah gembira. Ia sudah tidak menyimpan rasa benci lagi padanya. Rasa cinta Donghae padanya dan rasa sayangnya pada Tuan Lee mengalahkan semua rasa benci yang pernah memenuhi hatinya dulu. Sekarang ia merasa sangat bahagia.
“Tentu saja. Bagaimana kabar cucuku?”
“Dia masih tumbuh dengan baik di dalam sini, Appa..” Haebin mengusap perutnya.
“benarkah.. Ah, Appa sudah tidak sabar menantinya lahir.”
“Apalagi aku..”

Donghae dari jauh tersenyum melihat Haebin berbicara dengan gembira bersama Appanya. Semuanya terasa lebih baik sekarang. Ia juga merasa hidupnya semakin bahagia dari hari ke hari.

“Haebin, ada yang ingin aku serahkan padamu.” Ucap Donghae saat mereka sedang berada di taman favorit Haebin.
“Apa?”
Donghae menyerahkan sebuah amplop besar berwarna cokelat pada Haebin. yeoja itu mengerutkan keningnya.
“Apa ini?”
“Surat tanah rumahmu.”
“Mwo?” Haebin terbelalak kaget. Ia segera membukanya dan membaca setiap berkas yang tersimpan di sana. Matanya langsung berkaca-kaca.
“Oppa.. bagaimana bisa ini.. bukankah rumahku sudah di sita?” Haebin menatap Donghae lekat-lekat.
“Semua itu sudah ku urus. Sekarang, rumah itu kembali menjadi milikmu.”
“Oppa..” Haebin segera memeluknya. “Gomawo Oppa.. kau yang terbaik di hidupku..”
Donghae tersenyum dan balas memeluknya. Ia menghapus tetesan airmatanya yang perlahan menetes di pipi Haebin.
“Uljima.. aku benci melihatmu terus menangis.” Donghae mendekatkan wajahnya ingin mencium Haebin.
“Ekhem..” sebuah suara di dekat mereka membuat Donghae menghentikan niatnya untuk mencium Haebin. donghae dan Haebin menoeh bersamaan, mereka terbelalak melihat Kyuhyun, Siwon, dan Eunhyuk ada di sana.
“Ya! Apa yang kau lakukan bungsu! Tadi itu moment paling kutunggu!” Eunhyuk menjitak kepala Kyuhyun.
“Auch.. bisa kan tidak memukul kepalaku? Jika aku gegar otak bagaimana?” protes Kyuhyun
“halo..” Siwon melambaikan tangannya pada kedua orang yang melongo itu.

“Ya!apa yang kalian lakukan di sini!!!” bentak Donghae. ia kesal karena moment penting tadi terganggu karena ulah mereka. Haebin menundukkan kepalanya. ia malu sekali.
“Aku? Aku ingin bertemu dengan muridku. Haebin-ah.. senang melihatmu kembali..” Kyuhyun berlari hendak memeluk Haebin. Eunhyuk segera menahan Kyuhyun sementara Donghae dengan sigap menyembunyikan Haebin di balik punggunggnya.
“Aish..” Kyuhyun jengkel dengan tindakan Eunhyuk.
“Aku senang kau sudah kembali Haebin-ah..” ujar Eunhyuk.
“Iya. Ah, membayangkanmu sendirian dalam kondisi sedang hamil membuatku gila.” Ucap Siwon.
“terima kasih sudah mengkhawatirkanku.” Ucap haebin dengan pipi merona. Ia terharu ternyata banyak orang yang mencemaskannya.

“Ah, mianhae.. aku telat datang. Tadi, banyak pasien di rumah sakit..” Kibum baru saja tiba dengan napas tersengal-sengal.
Donghae jadi semakin bingung. Untuk apa teman-temannya kompak datang kemari?
“Sebenarnya apa tujuan kalian datang kemari?”
“tentu untuk merayakan kembalinya Haebin!!” seru ke empat sahabatnya bersamaan.
Haebin tersenyum lebar. “Jinjja? Kalian datang untuk merayakan kepulanganku?? Gomawo.. kalian baik sekali..” Haebin segera memeluk mereka satu persatu.
“Ya! Kau..” Donghae kehilangan kata-kata saat istrinya dengan sukarela memeluk namja lain di hadapannya. Tapi kemudian ia tersenyum kembali melihat Haebin tersenyum gembira dan mengajak teman-temannya masuk.

“Dasar. Baru beberapa saat sudah melupakanku.” Ujarnya dengan senyum mengembang. Ia lalu masuk menyusul di belakang Haebin.
“Ayo chagiya..” Donghae menarik Haebin yang berada di antara teman-temannya agar berdiri di sampingnya.

Sejak saat itulah, lembaran hidup baru bagi Haebin dan Donghae dimulai..

THE END

204 thoughts on “Shady Girl (Part 22) End

Your comment

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s