Shady Girl (Part 21)

Tittle : Shady Girl Part 21
Author : Dha Khanzaki a.k.a Shin Je Young
Genre : Romance, Married Life, Family

Main Cast :

  • Park Haebin / Lee Haebin
  • Lee Donghae

Support Cast :

  • Leeteuk

Ini dia part sebelum ending. masih betah baca FF ini? atau mulai mual-mual, pusing, atau semacamnya?

Warning : hati-hati typo

Shady Girl by Dha Khanzaki2

———-o0o———

“Sebenarnya, Tuan Lee sudah mengidap penyakit ini sejak 4 tahun yang lalu.” Aku Leeteuk saat ditanya perihal penyakit itu oleh Donghae.
“Apa? 4 tahun!!” Ujarnya kaget. Benarkah? Jadi selama ini Appanya yang terlihat sehat itu sebenarnya sakit?
“Kenapa kau tidak menceritakan ini sejak awal!!” sebenarnya ia tidak bermaksud membentak Hyungnya itu. Tapi sekarang emosinya sedang labil.
“maaf. Tuan meminta aku tidak menceritakannya pada siapapun. Selama ini dia selalu beralasan pergi dinas ke luar kota, tapi sebenarnya beliau melakukan pengobatan diam-diam di luar negeri.” Jelas Leeteuk lagi. Jika sudah begini kondisinya, tidak ada gunanya lagi untuk menutupi kenyataan itu.
Rasa penyesalan Donghae kian menguat. Dalam hati ia terus memaki dirinya sendiri. Kenapa selama ini ia terus membebani Ayahnya yang sedang menderita penyakit parah seperti ini? Ia anak durhaka.
“Karena itu, tolong mengerti jika Tuan selalu keras padamu. Ia hanya tidak ingin menyesal karena tidak bisa mendidikmu dengan baik. Penyakitnya ini bisa merenggut nyawanya kapan saja. Tuan sadar sekali akan hal itu. Ia berusaha sebaik mungkin memberikan yang terbaik untukmu. Dan pernikahan itu ia lakukan juga karena ia ingin melihatmu menikah sebelum ajal datang menjemputnya.” Leeteuk mengatakannya dengan suara bergetar. Ia juga memendam rasa sedih selama ini. Karena ia tidak tega melihat orang yang sangat dihormatinya menahan sakit seorang diri. Hanya ia yang tahu. Hanya ia yang bisa dimintainya pertolongan jika penyakitnya itu kambuh tiba-tiba. Tuan Lee terlalu takut untuk memberitahukan penyakitnya pada Donghae. mengingat saat itu Donghae dalam kondisi yang tidak baik karena sedih ditinggal orang yang dicintainya.

Donghae menundukkan kepalanya. ia tidak bisa menahan airmatanya untuk tidak jatuh. Ia menyesal. Sekali lagi ia sangat menyesal. Mengapa ia menyia-nyiakan hidupnya selama ini.. seharusnya ia tidak perlu menangisi seseorang yang sudah tiada dan menyalahkan Ayahnya atas semua yang terjadi. Seharusnya ia lebih memperhatikan orangtua yang sudah membesarkannya sampai ia menjadi orang hebat seperti sekarang.

@@@

Haebin duduk di depan ranjang Tuan lee. Ia memandangi wajah pucat Ayah mertuanya itu. Sampai hari ini Tuan Lee masih belum siuman juga. Beberapa selang infus menempel di tubuhnya. Alat bantu pernafasan pun terpasang di wajahnya yang tampak begitu kurus. Sesekali Haebin memijat kaki Tuan Lee berharap ia segera sadar. Haebin tidak bisa menahan airmatanya tiap kali ia mengingat malam itu, malam saat ia meluapkan emosinya pada Ayah mertuanya hingga membuat penyakitnya kambuh kembali. Haebin sangat menyesal tiap kali teringat kejadian itu.
“Appa.. jeongmal mianhae.. semua ini salahku..” ujar Haebin dengan suara serak. Ia memegangi perutnya.
“Appa.. tetaplah hidup sampai cucumu ini nanti lahir. Kumohon.. Anakku dan donghae Oppa pasti ingin sekali melihat harabeojinya yang hebat..” lirih Haebin lagi. Tadi Kibum datang untuk memeriksa kondisi terakhir Tuan Lee. Namun sebagai dokter, ia pun hanya bisa meminta Haebin agar bersabar.

Tok tok..

Seseorang masuk ke dalam ruangan itu setelah mengetuk pintu. Haebin menoleh. Ia segera berdiri saat melihat ternyata yang datang menjenguk adalah Ummanya Donghae.
“Umma..” Haebin membungkuk memberikan salam. Wanita itu tersenyum, lalu mendekat ke arah ranjang, matanya yang sendu itu menatap lurus suaminya yang terbaring lemah.
“Yeobo..” ucapnya dengan mata berkaca-kaca. “Lama tidak bertemu. Tak kusangka kita akan bertemu di tempat seperti ini..” wanita itu tampak menahan air matanya. Haebin ikut tersentuh karena ia bisa merasakan kesedihan yang sama.
“Kau ini tetap seperti dulu. Selalu menyimpan semua penderitaan sendiri. Hingga pada akhirnya, kau sendiri yang terluka..” ucapnya dengan suara pelan.
“Umma..” haebin menghampirinya untuk membuatnya tenang. Haebin mengusap punggung wanita paruh baya itu yang saat ini mulai terisak.
“Maaf, kau malah melihat Umma menangis seperti ini..” lirihnya.
“Tidak apa-apa..”
“Mana Donghae?” ucapnya di sela tangisan.
“Tadi keluar bersama Leeteuk Oppa. Mau kupanggilkan?” Haebin akan pergi tapi dicegah.
“Jangan. Kau di sini saja. Biar Umma yang mencarinya ke luar.”
“Baik.” Haebin mengangguk patuh.”

Setelah Umma pergi, Haebin kembali duduk dengan perasaan sedih. Sesaat tadi, ia melihat rasa bersalah terpancar dari sorot mata Umma Donghae ketika menatap wajah Tuan Lee.

“Emh..”
Haebin melonjak dari tempat duduknya. Perhatiannya segera teralih menuju wajah Tuan Lee yang mulai bereaksi. Haebin tersenyum senang.
“Appa.. ini aku, Haebin..” Haebin bersyukur dalam hati, berkali-kali ia memanjatkan doa. Ternyata Tuhan mengabulkan doa’nya.
“Haebin-ah..” ucap Tuan Lee dengan suara lemah dan terbata.
“Akan kupanggilkan Dokter Kim segera. Tunggu Appa..”
Haebin memencet tombol merah yang ada di samping tempat tidur. tak lama Kibum datang bersama seorang perawat di belakangnya. Ia segera memeriksa Tuan Lee sementara Haebin mundur sedikit untuk memberikan ruang.

“Bagaimana keadaannya?” tanya Haebin setelah selesai di periksa.
“Keadaanya sudah melewati masa kritis. Sementara ini baik-baik saja. Kita hanya perlu melihat perkembangan selanjutnya. Jadi sampai satu minggu ke depan, Paman Lee harus di rawat di sini.”ucap Kibum.
“Aku mengerti.”

Haebin kembali ke ruang rawat Tuan Lee. Alat bantu pernafasannya sudah di lepas. Haebin mendekat.
“Haebin..” ucapnya lemah.
“Ne, Appa..”
“Mendekatlah.. Ada yang ingin aku jelaskan padamu..” pintanya dengan suara serak.
Haebin duduk manis di samping tempat tidur Tuan Lee.
“Bicaralah Appa.. aku akan mendengarkan baik-baik..”
Mata Tuan Lee tampak meredup melihat senyum Haebin. ia sangat menyesal dengan kondisinya sekarang. Seandainya dulu ia tidak egois.. mungkin Haebin tidak akan menjadi sebatang kara seperti sekarang.
“Ini tentang dirimu dan keluargamu..”
Haebin mengerjap. “Keluargaku??” tanyanya ragu. Suaranya bergetar. Haebin merasakan tenggorokannya tercekat dan napasnya sesak lagi. Tapi ia tidak akan berteriak seperti tadi. Tidak saat ini dan dalam kondisi seperti ini.
“Apa? Ceritakan saja Appa..”
“Berjanjilah setelah kau mendengar ceritaku, kau tidak akan meninggalkan kami.. khususnya Donghae suamimu..”
Deg deg deg… jantungnya berpacu cepat dan matanya terbelalak. Ia berkali-kali menelan ludah bersiap mendengar cerita dari Tuan Lee. Ia harus menyiapkan mental yang kuat. Dan rasa penasaran itu makin menguat saat Tuan Lee menggenggam tangannya yang di sandarkan di atas ranjang.
“Haebin..” ucapnya pelan. Mulut Tuan Lee mulai membuka untuk mengawali ceritanya.

Aku harus kuat.. aku tidak boleh terbawa emosi kali ini.. batin Haebin.

—o0o—

“Bicaralah pelan-pelan Appa, tidak perlu memaksakan diri..”Haebin balas menggenggam tangan Tuan Lee.
Cukup lama berselang sebelum Tuan Lee membuka mulutnya kembali.
“Mianhae.. karena keegoisanku,kau jadi sebatang kara..” suaranya begitu lemah. Tuan Lee pun tampak mengucapkannya dengan sekuat tenaga.
Haebin membelalakkan matanya. “Apa maksud Appa?” suaranya ikut bergetar.
“Kau pasti bertanya-tanya kan, kenapa aku tahu semua tentang keluargamu?”
Meskipun Haebin merasa hatinya begitu berat, namun ia menganggukkan kepalanya.
“Entah darimana harus dimulai penjelasannya.. tapi..akan Appa mulai dari So yeon..kakakmu”

Haebin menelan ludahnya. Ia memasang telinganya baik-baik dan memusatkan konsentrasinya. Agar Tuan Lee tidak perlu mengulang ceritanya. Ia tidak tega membiarkan orang sakit banyak berbicara.
“Pertama kali bertemu dengannya.. sekilas dia gadis yang cantik..” ujar Tuan Lee. Matanya menerawang ke langit-langit kamar rawat itu. “Tidak ada kesan keangkuhan dalam dirinya. Kakakmu adalah gadis yang sopan dan baik. Hanya saja, saat itu Appa tidak tahu siapa dirinya. Appa pikir dia adalah gadis tidak jelas yang datang untuk memanfaatkan Donghae. maka dari itu saat Donghae datang meminta restu padaku untuk menikah dengannya, Appa menolak dengan tegas. Appa tidak mau dia mengulangi kesalahan yang sama karena menikah dengan orang yang tidak jelas asal usulnya. Melihat Donghae begitu bersikeras ingin menikah dengannya membuat Appa kesal. Dan kesalahan Appa yang pertama terjadi. Appa meminta agensi tempatnya berlatih untuk mengeluarkan So Yeon.”
Haebin membulatkan matanya. Bibirnya bergetar. “Ja-jadi.. yang sudah melaporkan tentang Eonni yang memalsukan identitas itu..”
Tuan Lee mengangguk pelan. “Itu aku.”
“Mustahil..” gumam Haebin tak percaya. Tangannya otomatis menutup kedua mulutnya. Tenggorokannya tercekat dan dadanya sesak mengetahuinya.
“Sungguh, Appa tidak bermaksud jahat. Appa hanya ingin menggertak So Yeon agar menjauh dari Donghae.” Tuan Lee berhenti sejenak. “Appa kira sudah berhasil memisahkan Donghae dan So yeon, namun ternyata jalinan di antara mereka malah semakin kuat. Karena itu Appa meminta persyaratan agar So Yeon membawa orangtuanya untuk menemui Appa. Jika dia memang bukan gadis tidak jelas asal usulnya..”
Haebin melihat gejolak dari sorot mata Tuan Lee. Airmata pun mulai membendung di pelupuk matanya yang sayu. Haebin bisa merasakan sakitnya. Iya.. penyesalan itu terpancar jelas dalam raut wajah tuan Lee sekarang.

—o0o—

Donghae tengah termenung di taman yang ada di rumah sakit itu. Ia masih menenangkan diri sebelum menjenguk Appanya.
“Appa..Mianhae..” gumamnya.
“Donghae..”
Kepala donghae otomatis terangkat mendengar suara seorang yang dikenalnya. Ia terkejut dan langsung berdiri saat melihat sosok ibunya.
“Umma..” ujarnya seperti melihat hantu. Ia kaget dan tak percaya.
“Bagaimana bisa, Umma di sini?”
“Untuk menjenguk Appamu tentunya..” Umma mendekati Donghae kemudian mengajaknya untuk duduk kembali di bangku taman itu.
“Menjenguk? Darimana Umma tahu?” donghae mengerutkan kening.
“Leeteuk yang memberitahu Umma..”

Donghae mengangguk. Tak lama, ia kembali tenggelam dalam pikirannya sendiri. Di otaknya, berkelebat silih berganti kejadian-kejadian di masa lalu yang membuatnya kian merasa bersalah.
“Appamu.. dia tetap sama seperti saat sebelum Umma berpisah dengannya..” Donghae menoleh mendengar Ummanya berkata dengan lirih. Sekarang di matanya, ia melihat wajah sedih Ummanya sama seperti yang ia lihat 10 tahun yang lalu, saat Ummanya diusir dari rumah oleh Appanya.
“Dia orang yang tidak bisa membuat orang lain terbebani. Ia lebih memilih menyimpan semua penderitaannya sendiri.”
Donghae mengerjap. Karena sekarang, Ummanya tengah meneteskan airmata. Bukan airmata simpati ataupun sedih. Melainkan airmata penyesalan. Hal itu membuat keinginan Donghae semakin kuat untuk mengutarakan sesuatu yang sudah ia simpan selama 10 tahun terakhir.
“Umma, ada 1 hal yang sangat ingin kutanyakan.” Ucap Donghae sambil menunduk.
“Katakanlah, nak.”
“Dulu, saat Umma diusir oleh Appa, Umma kenapa tidak menolak ataupun membantah?”

Hening..

Suasana mendadak menjadi hening karena Sang Ibu tampak begitu terpukul mendengar pertanyaan Donghae. Sebab pertanyaan itu telah membuka luka lama yang tidak akan pernah sembuh kecuali oleh kata maaf.

@@@

Haebin masih di tempat yang sama. Ia masih memiliki sisa kekuatan untuk mendengarkan cerita Tuan Lee hingga selesai.

“Dan kesalahan kedua pun terjadi. Saat menjemput Appanya, terjadi kecelakaan hebat di jalan tol. So Yeon tewas di tempat bersama Ayahmu. Kematian So Yeon tak kusangka mampu membuat hidup donghae berubah 180 derajat. Sebagai seorang Ayah, aku merasa sangat sakit mengetahui bahwa Ayahnya sendiri yang menghancurkan kebahagiaan anaknya. Appa sangat menyesal, Haebin.. sangat..”

Airmata mulai menetes dari sudut mata Tuan Lee. Haebin pun ikut mengalirkan airmata. Ia menghapus airmata dari pipi Tuan Lee secepat yang ia bisa.
“Dan kenyataan pahit kembali Appa ketahui dari pihak rumah sakit yang mengidentifikasi mayat korban kecelakaan itu. Salah satu korbannya, adalah teman baik yang sudah lama aku cari. Yaitu Appamu.. dan yang lebih membuat Appa menyesal adalah.. bahwa So Yeon adalah putri dari teman baik Appa itu..”
Haebin tidak bisa menahan diri untuk diam, ia mulai terisak. Sesak.. dadanya sekarang terasa sangat sesak dan perih. Sama seperti mata dan seluruh indera di tubuhnya.
“Ja-jadi.. saat Appa bilang Appa adalah teman dari almarhum Appaku itu benar?”
“Iya, Haebin-ah.. itu benar..Mianhae.. seandainya Appa tahu, seandainya Appa tidak egois.. Appa mungkin tidak akan menghancurkan kebahagiaan kau dan Donghae..”

Tanpa disadari, Haebin melepaskan genggaman tangannya. Ia mengingkari janjinya sendiri untuk tidak benci pada Appa mertuanya ini. Karena pada kenyataannya, hatinya begitu sakit dan sangat membenci semua tindakan Tuan Lee terhadap dirinya dan keluarganya.
“Tepat di hari pemakaman Appamu, rasa bersalahku semakin besar saat melihatmu menangis di depan foto Appamu. Sementara Ibumu harus di rawat di rumah sakit karena syok. Aku yang sudah membuatmu begitu menderita. Maafkan Appa, Haebin..”

Haebin menggelengkan kepalanya cepat di tengah isakannya yang tertahan dan airmata yang terus bergulir jatuh.
“Jangan minta maaf, Appa.. semua tidak ada gunanya sekarang..” isak Haebin. berbeda dengan hatinya yang menuntut maaf dari Tuan Lee. Bahkan maaf saja tidak cukup untuk mengobati semua penderitaan yang sudah dialaminya.
“Kau benar.. dan.. Appa sudah melakukan kesalahan yang ketiga..” Tuan Lee menarik napas beratnya. Ekspresi penyesalan makin kental menghiasi wajahnya. “Ummamu.. tewas bunuh diri karena aku..”
“Cukup Appa!! Jangan diteruskan!!” pinta Haebin seraya menutup telinganya. Ia benar-benar memohon agar Tuan Lee tidak menceritakan apapun lagi. Atau hatinya akan semakin sakit dan rasa benci itu tidak akan bisa dihilangkan lagi.

“Karena itulah..kenapa dulu Appa memintamu menikah dengan Donghae..” lirih Tuan Lee membuat Haebin mengerjap.
“Apa? Jadi..waktu itu appa memintaku menikah untuk menebus rasa bersalahmu karena sudah membuat hidupku menderita? Menebus Appaku dan kakakku yang meninggal dengan uangmu??”
Haebin mulai lepas kendali. Nada bicaranya semakin tinggi. Ia tidak bisa menahan dirinya lagi. Namun emosinya masih bisa ia tahan sekarang.
“Apa harta bisa menebus nyawa manusia? Begitu??” Haebin berdiri. Ia lebih baik pergi daripada ia harus meluapkan semua kekesalannya di depan Tuan Lee.
“maaf Appa, akan kupanggilkan seseorang kemari untuk menjagamu. Aku harus pergi sekarang.” Haebin menahan emosi dan airmatanya. Lalu ia bergerak meninggalkan ruangan bersamaan dengan Leeteuk yang memasuki ruangan itu.
“Omo..Haebin, kau mau ke mana??” teriak Leeteuk. Ia segera mengabaikan Haebin setelah ia sadar bahwa Tuan Lee sudah siuman.
“Tuan..” serunya senang. “Tuan baik-baik saja??”

Tuan Lee tidak menjawab. Ia hanya menerawang dengan lelehan airmata yang masih tersisa.
“Bukan Haebin-ah.. aku tahu uang tidak bisa membeli nyawa manusia ataupun kebahagiaan seseorang. Aku ingin kau menikah karena hanya kau yang bisa membuat Donghae kembali bahagia. Kau dan So Yeon memiliki kemiripan. Kalian sama-sama baik hati dan gigih..”
Leeteuk mengerutkan kening. Kenapa Tuan Lee berbicara seperti itu? Apakah ia pikir sedang berbicara dengan Haebin??
“Tuan..Tuan Lee????” Haebin mengguncang pelan tangan Tuan Lee. Namun perlahan mata tuan Lee yang semula terbuka menutup begitu saja. Hal itu membuat Leeteuk panik luar biasa.
“TUAN LEE!!!!” teriaknya.

@@@

Donghae masih menanti jawaban dari mulut Ummanya. Sementara Ummanya masih juga terdiam.
“Umma, jebal jawab. Jika tidak, aku akan terus berprasangka buruk pada Appa. Aku pasti akan berpikir Appa sangat kejam karena sudah mengusirmu dari rumah.”
Ummanya tampak bereaksi. Ia cepat menatap Donghae. “Tidak. Kau salah. Appamu bukan orang yang kejam.” Tukasnya. Hal itu semakin membuat kebingungan di otak Donghae.
“Appamu adalah seorang laki-laki yang baik, yang mengutamakan keluarganya dibandingkan dirinya sendiri. Hanya saja..” Ummanya menunduk. “Umma sudah menghianatinya..”
“A-apa?” Donghae tidak percaya ketika mendengarnya. Matanya membelalak kaget.
“Appamu sangat mencintai Umma. Ia bahkan tidak peduli saat Umma tidak ingin menceritakan keluarga Umma padanya. Namun saat kami menikah dan mempunyai anak, Umma..bermain api dengan pria lain. Dan itu, membuat Appamu sangat kecewa pada Umma. Dan mengusir Umma.”

Pusing.. kepala Donghae terasa berdenyut sakit begitu mendengar penjelasan Ummanya yang menyakitkan. Jadi.. selama ini..
Umma segera menggenggam tangan anaknya itu. Ia tahu, pengakuannya akan membuat donghae kecewa. “Umma sangat menyesal Donghae-ah. Tolong maafkan Umma..” kini Umma mulai terisak. Sementara Donghae memalingkan wajahnya ke arah lain. Ia tidak ingin melihat wajah Ummanya.

Selama ini, ia sangat menyesali kenapa Appanya mengusir Ummanya begitu saja. Tapi setelah mendengar alasan dibalik semua itu, ia bisa memaklumi tindakan Appanya.
“Karena itu Donghae-ah.. tolong jangan benci Appamu. Tolong mengertilah semua sikap kerasnya padamu. Yang dipikirkannya hanyalah kebahagiaanmu. Ia tidak ingin kau mengulang kesalahan yang dilakukannya.”
Donghae menoleh. Ia menatap wajah Ummanya lekat-lekat. Ia tersenyum pahit. Sekarang ia bisa memahami kenapa Appanya bersikeras melarangnya menikah dengan gadis yang tidak jelas asal usulnya. Ia tidak mau Donghae dikhianati seperti dirinya? Begitukah??
“Donghae-ah..Sekarang berdamailah dengan Appamu. Kau tidak boleh membencinya lagi. Bagaimanapun dia sangat menyayangimu.”
Donghae merasakan sakit dan perih menyerang hatinya sekarang. Sedetik kemudian ia segera bangkit. Mendadak ia merasakan sesuatu yang tidak enak.
“Appa..” lirihnya teringat pada Appanya yang masih berbaring di kamar rawatnya. Kenapa sekarang ia merasa begitu takut? Firasat apa ini?
“Umma, aku harus kembali. Apa kau ingin ikut bersamaku?”
“Tidak. Umma harus kembali. Bagaimanapun Appamu pasti tidak ingin melihatku.” Lirih Ummanya.
“Baiklah. Umma, kalau begitu aku pergi.”

@@@

Haebin menangis di atap rumah sakit itu sendirian. Ia duduk seraya memeluk lututnya erat. Kini yang dirasakannya adalah penyesalan yang mendalam.
“Kembalikan keluargaku sekarang juga..” lirihnya di sela isak tangis. “Aku tidak mau hartamu Tuan Lee!! Aku ingin keluargaku..” ia membenamkan kepalanya di antara lutut dan tubuhnya.

Bayangan saat-saat ia bahagia bersama keluarganya muncul silih berganti. Hatinya begitu miris, semua itu sekarang hanya tinggal memori. Tidak mungkin menjadi kenyataan kembali. Sekuat apapun ia berteriak, sekencang apapun ia menangis,dan sebanyak apapun airmata yang ia keluarkan, tidak akan bisa mengulang semua kenangan bahagia itu.

@@@

“Appa!!!!” Teriak Donghae tak percaya. Leeteuk segera menenangkannya. Donghae merosot dan terduduk di lantai, menangis penuh penyesalan sekarang.
“Appa.. kumohon jangan pergi..Aku..aku bahkan belum meminta maaf padamu..” lirihnya. Sekarang ia baru sadar, bahwa kehadiran sang Ayah memang sangat mempengaruhinya. Ia tidak bisa menjadi seperti sekarang jika bukan Appanya yang mendidiknya dengan begitu keras.
“Tenanglah. Dia tidak akan apa-apa..” Leeteuk berusaha membuat Donghae tenang. Ia pun sebenarnya panik. Kini, Tuan Lee sedang menjalani operasi keduanya setelah mendadak pingsan tadi.
Donghae terus meyakinkan diri bahwa Appanya tidak apa-apa. Ia berdoa sepenuh hati. Walaupun rasa takut dan sedihnya tidak kunjung hilang juga. Donghae melihat kiri kanan, hanya menemukan Leeteuk yang berdiri mondar-mandir di depan ruang operasi. Donghae mengerjap karena merasa ada sesuatu yang hilang.
“Hyung, Haebin mana?” ia mengerjap saat tersadar ia tidak menemukan istrinya di sana. Bukankah Haebin berjaga di ruang rawat Tuan Lee saat ia tinggalkan?
Leeteuk menoleh ke sekitarnya. “Oh, tadi sesaat sebelum Tuan pingsan, dia pergi entah kemana.” Leeteuk perlahan menyadari sesuatu. “Ah, sepertinya dia sedih karena kulihat dia hampir menangis saat keluar dari ruangan. Mungkin Tuan Lee sudah menceritakan sesuatu padanya.”

Langsung berkelebat bayangan Haebin sedang menangis sendirian dalam otaknya. Hatinya kembali tidak tenang. Tanpa membuang waktu, ia segera berlari mencari Haebin. di tengah pencariannya, ia merasa takut. Mengingat Haebin sedang hamil. Ia takut terjadi apa-apa padanya.

Saat ia kebingungan karena tidak kunjung menemukan Haebin, keberuntungan menghampirinya. Ia melihat Haebin berjalan linglung tak jauh di hadapannya. Donghae menghela napas lega. Ia segera menghampiri istrinya itu.
“Haebin..” Donghae langsung memeluknya erat. Walaupun ekspresi Haebin tampak begitu lesu pada awalnya, ia kaget juga saat dipeluk tiba-tiba begitu.
“Oppa..” suara Haebin bergetar.
“Ini aku.. kau kemana saja? Aku mencari-carimu..” ucapnya. Pelukannya begitu mengisyaratkan kerinduan yang mendalam.
“Aku..” Haebin bertahan agar tidak terisak. “Aku.. hanya ingin pergi.. sebentar..” lirihnya.
“Haebin.. Appa.. masuk ruang operasi lagi..” ucap Donghae berat. Haebin mengerjap. Tidak..
Batinnya kian berkecamuk. Berbagai perasaat campur aduk dalam hatinya sekarang.
Pelukan Donghae kian erat. Membuat Haebin serasa terjepit dan sesak. Namun ia tahu Donghae melakukannya untuk menyalurkan ketakutannya. Haebin berusaha menggerakkan tangannya untuk balas memeluk donghae, memberinya kekuatan.
“Tenanglah Oppa.. tidak akan ada yang terjadi pada Appa..” ucapnya sambil mengusap-usap punggung Donghae.
Donghae mengangguk dalam pelukan Haebin. “Aku tahu.”
Haebin terus menenangkannya. Meskipun sekarang hatinya terasa sakit, namun ia pun berharap tidak akan ada yang terjadi pada Tuan Lee. Karena..ia tidak mau membuat Donghae sedih dan merasa bersalah.

@@@

Di depan ruang Operasi, Haebin tidak melepaskan genggaman tangannya dari tangan Donghae. ia tahu suaminya itu butuh kekuatan. Detik-detik penantian ini terasa sangat menyiksa. Ia ingin segalanya cepat selesai. Ia ingin pergi dari tempat ini dan menenangkan diri. Menghilangkan penat yang saat ini sangat menghimpit dirinya.
Pintu ruang operasi terbuka. Dokter keluar bersama dengan beberapa asisten dan perawat. Leeteuk dan donghae berhambur mendekati mereka.
“Bagaimana keadaan Appaku, Dok?” cecar Donghae tak sabar.
“Tidak bisa dikatakan baik. Sebaiknya dia melakukan operasi transplantasi jantung secepatnya. Kami sudah menemukan donor yang cocok. Hanya saja, operasi itu hanya bisa dilakukan dengan peralatan lengkap di Jerman.”
“Jerman?”
“Benar”
“Tidak masalah Dok. Bisakah Anda mengurus itu secepatnya?”
“Baiklah. Jika semua Dokumen sudah ditandatangani, kita bisa segera memberangkatkannya untuk operasi sesegera mungkin.”
Donghae merasa beban di hatinya hilang separuhnya. Setidaknya harapan untuk Appanya masih ada. Haebin tersenyum simpul. Ia senang. Ternyata Tuhan masih memberikan kesempatan pada Tuan Lee untuk hidup. Namun, kini, perasaan sedih melanda dirinya.

To be continued….

66 thoughts on “Shady Girl (Part 21)

  1. Haebin semoga ga membenci appa nya donghae…walaupun sakit mengetahui kenyataan.
    Lagipula kecelakaan itu kn ga sepenuhnya salahnya appa donghae..

  2. Tuan Lee sudh mnysali sglanya,,skrg giliran Haebin yg gk bsa mnrima knytaan klrgnya mninggl krna Tuan Lee,, gk d sangka ibu Donghae d usir krna slingkuh,,skrg Donghae bnr2 nyesel bgt udh bkin ayahnya mnderita….

Your comment

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s