Shady Girl (Part 20)

Tittle : Shady Girl Part 20
Author : Dha Khanzaki a.k.a Shin Je Young
Genre : Romance, Married Life

Main Cast :

  • Park Haebin / Haebin
  • Lee Donghae

Support Cast :

  • Leeteuk

ini dua part lagi sebelum ending loh. Maaf untuk typo dan sejenisnya. maka dari itu, kritik dan sarannya ditunggu ^^

Shady Girl by Dha Khanzaki3

——–0.0——–

Part 20..

“Eonni.. dia sudah tidak ada.. aku sudah tidak mempunyai keluarga lagi..” ucapnya di sela isak tangis. Donghae segera menghapus airmata itu dengan jarinya.
“Jangan bilang begitu. Kau memilikiku. Kau tidak sendirian Haebin. kau masih punya teman-temanmu yang baik, dan keluargaku juga keluargamu.”
Donghae benar. Ia sekarang memiliki orang yang menggantikan Appa dan Ummanya untuk menjaganya. Ia memeluk erat Donghae.
“Mianhae.. aku bersikap buruk akhir-akhir ini Oppa..”
“Tidak apa-apa. Sikapmu tidak seburuk diriku selama beberapa tahun terakhir..”
Haebin tersenyum tipis mendengarnya.
“Mulai sekarang, jangan bersedih lagi. Kau tidak boleh terlalu banyak beban pikiran. Karena kau tengah hamil muda sekarang.” Jelas donghae. Haebin mengerjap.
“Hamil?” ia menatap Donghae
“Iya, yeobo.. kau hamil. Sembilan bulan ke depan, kita akan kehadiran malaikat kecil dalam keluarga kita..” Donghae tersenyum bahagia.
Haebin menutup mulutnya tak percaya. Kini ia menangis terharu. Tak pecaya Tuhan secepat ini memberikannya keturunan.
“Oppa.. kau tidak bohong kan?”
“Tentu saja tidak.”
Haebin bisa paham kenapa tadi ia merasa begitu mual. Jadi ia hamil.. Haebin mengusap perutnya. Sekarang, dalam rahimnya sedang tumbuh janin buah dari cintanya bersama Donghae. perasaan gembira yang tak bisa dilukiskan sekarang tengah melandanya. Haebin segera memeluk Donghae.
“Gomawo Oppa…” serunya. “terima kasih sudah mau memberiku kesempatan menjadi ibu.”
Donghae balas tersenyum. “Seharusnya aku yang berterima kasih, yeobo.” Donghae melepaskan pelukannya. “Karena kau sudah bersedia menjadi ibu dari anak-anakku.”
Senyum itu, senyum yang Donghae rindukan kembali dilihatnya. Haebin tersenyum padanya dengan mata berbinar. Haebin memegang kedua pipi Donghae, ia berjinjit lalu mencium bibirnya dengan lembut. Donghae langsung membalasnya sambil memeluk pinggang Haebin agar tubuh mereka tidak terpisahkan jarak sedikitpun.

Aku berjanji, aku akan menjaga bayi kita hingga ia lahir ke dunia nanti.. batin haebin.

@@@

Haebin memaksa Donghae untuk menemaninya ke Academy SM. Untuk mencari informasi yang jelas tentang So Yeon.
“dia sudah di keluarkan 2 tahun yang lalu dari academy ini.” Jelas orang yang ditemui Haebin kemarin.
Keduanya tentu kaget. “Dikeluarkan? Kenapa pak?” tanya Donghae
“Dia terbukti sudah memalsukan identitas.” Jelasnya
“Memalsukan identitas?” Haebin mengatupkan bibirnya tak percaya. Jadi memang benar, So Yeon itu kakaknya.
“Iya. Asal usulnya tidak jelas. Yang pasti dia sudah mengikuti audisi di academy ini dengan identitas palsu. Meskipun aku akui dia memiliki bakat yang cemerlang. Tapi tindakan kriminal tidak bisa dibenarkan. Jadi kami lebih memilih mengeluarkannya daripada melaporkan tindakannya ke polisi.”
Donghae tak percaya mendengarnya. Ia mengenal So Yeon sebagai gadis yang baik. Sungguh, gadis itu memang sangat baik. Dia menceritakan soal keluarga, cita-cita, bahkan semuanya. Tapi So Yeon memang tidak pernah bercerita tentang dia menjadi trainee di Academy SM. Ia hanya tahu So Yeon bekerja di sebuah cafe sebagai penyanyi. Dan soal cita-cita, So Yeon bilang ia ingin menjadi dokter atau psikolog karena Ayahnya yang meminta. Ia kira, ia tahu semua soal So Yeon, ternyata ia tidak tahu soal yang satu ini.

“Eonni memang sempat bilang ingin jadi penyanyi padaku.” Ucap Haebin. mereka sekarang sedang jalan-jalan menyusuri taman sambil bergandengan tangan.
“Tapi aku tidak percaya ia sampai memalsukan identitasnya sendiri agar bisa menjadi penyanyi. Eonni.. cita-citamu sungguh menakutkan..”
“Yah.. selama aku mengenal So Yeon, dia memang gadis yang gigih. Karena itulah aku menyukainya.” Ujar Donghae. donghae berhenti berjalan. Ia menengadahkan kepalanya ke langit.
“Ia meninggal dalam kecelakaan itu. Di saat langit sedang mendung seperti ini. Tepat 2 tahun yang lalu.”
Haebin terdiam, ia merasakan sesuatu yang aneh. “2 tahun yang lalu?” tanyanya. “Appa, juga meninggal 2 tahun yang lalu. Dalam kecelakaan mobil.” Ia mengerjap. “Omo.. jangan-jangan.. kecelakaan itu adalah kecelakaan yang sama.”
“Apa??” Donghae tak percaya.
“Apa Appamu meninggal dalam kecelakaan mobil di jalan tol, pada tanggal 11 januari 20xx?”
Haebin mengangguk. Donghae langsung mengingat hari itu. Hari dimana Appanya meminta So Yeon untuk menjemput orangtuanya jika ingin mendapatkan izin menikah. Membuktikan bahwa So Yeon bukanlah gadis yang tidak jelas asal usulnya.
“Haebin, sebaiknya kita ke rumah Appa..” ucap Donghae tiba-tiba.
“Untuk apa?”
“Kita beri kabar gembira padanya. Dia akan mempunyai cucu.” Ucap Donghae beralasan.
“Baiklah. Ayo..”

—-o0o—

Ruangan kerja itu tampak remang-remang. Seluruh jendela ditutupi gorden dan hanya cahaya dari lampu meja yang membuat suasana tidak begitu gelap.
Tuan Lee duduk merenung di balik meja kerjanya. Otaknya sibuk berpikir. Wajahnya yang lesu dan terdapat beberapa keriput yang menunjukkan kematangan usianya, kali ini terlihat berpikir keras. Ia sedikit memijat pelipisnya dan menghela napas berat. Beberapa kejadian pahit di masa lalu kembali berputar-putar membuat kepalanya pusing.
“Ah..Aku harus menyelesaikannya secepat mungkin..” gumamnya.

—-o0o—-

“Jinjja???? Haebin, kau hamil? Chukkae!!” seru Leeteuk gembira begitu Donghae memberitahunya.
“Akan segera kupanggilkan Tuan..” Leeteuk berlari secepat kilat menuju ruang kerja Tuan Lee.
Donghae tersenyum sambil melirik Haebin. namun Haebin terlihat tidak begitu senang.
“Kau kenapa?”
“Tidak.” Haebin mengalihkan pandangannya ke arah lain. Donghae tahu, Haebin pasti tidak nyaman berada di rumah ini. Mungkin ia teringat pada pertengkarannya dengan Appanya tempo hari.
Haebin terdiam beberapa saat lamanya. Hatinya terus meyakinkan diri, bahwa ia harus bisa memulai lembaran baru. Lupakan masa lalu. Bagaimanapun Tuan Lee adalah Appanya juga. Appa satu-satunya yang ia miliki sekarang. Ia tidak boleh membencinya lagi.

—-
“Haebin-ah..” seru Tuan Lee yang datang tergesa-gesa. Haebin tersenyum melihat Tuan Lee dan berinisiatif menghampirinya.
“Benarkah? Appa akan menjadi Haraboeji sebentar lagi?” tanyanya gembira. Haebin mengangguk.
“Iya Appa.”
Tuan Lee segera memeluknya. Haebin mengerjap. Ada perasaan hangat saat Tuan Lee memeluknya seperti ini. “Appa senang sekali. Semoga kalian bahagia. Menjadi orangtua adalah fase terindah bagi hidup seseorang.” Jelasnya. Ia lalu menoleh pada Donghae.
“Dan kau, kau akan merasakan bagaimana rasanya menjadi diriku.”
“Tidak seburuk yang kubayangkan.” Balas Donghae sambil tersenyum.
Sedetik kemudian, senyumnya itu menghilang. “Appa,ada sesuatu yang ingin kutanyakan.”
“Apa?” tanya Tuan Lee dengan wajah gembira. Melihatnya Donghae jadi tidak tega. Ia tidak boleh merusak suasana gembira ini.

Tiba-tiba seorang pelayan datang menghampiri mereka.
“Maaf Tuan, Ada polisi yang ingin bertemu dengan Anda.”

“Oh, biarkan mereka masuk.”

Ada beberapa petugas polisi menghampiri mereka. Salah seorang memberikan hormat lebih dulu sebelum memberitahukan tujuan kedatangannya.
“Kami datang kemari karena ada yang ingin di sampaikan. Khususnya pada Tuan Lee Dong Il.”
Tuan Lee mengangguk. “Ada Apa?”
“Ini soal kematian dari nyonya Min Hyo Rin” ucap Polisi itu. Haebin mengerjap. Itu nama ibunya!
“Apa ada berita baru pak?” serobot Haebin.
Tuan Lee menegang.
Polisi itu memberikan selembar berkas pada Tuan Lee. “Kami memeriksa ulang TKP dan menyadari bahwa ada kejanggalan di lokasi kejadian.”
“Kejanggalan?” tanya Donghae.
“Berdasarkan kesaksian seorang security, dia melihat seorang mirip Tuan datang ke lokasi tepat malam sebelum korban ditemukan tewas.”
Donghae, Leeteuk terkejut. Terlebih Haebin. mereka semua segera menatap Tuan Lee dengan pandangan tak percaya.
“apa maksudnya ini?” cecar Haebin mulai terbawa emosi. Ia mulai berpikir yang tidak-tidak.

Tuan Lee tidak menjawab dan tetap tenang dengan wibawanya.
“Apa ada bukti?” tanyanya tenang. Polisi itu memberikan beberapa berkas yang menunjukkan gambar dari salah satu CCTV. Donghae merebutnya sebelum Tuan Lee melihatnya. Ia menatapi kertas demi kertas dan emosinya pun tak bisa di sembunyikan.
“Jelaskan padaku!” tuntut Donghae menunjukkan lembaran itu ke hadapan Appanya. Haebin melihatnya. Dari kertas kertas itu, memang tampak seseorang memasuki Panti Rehabilitasi itu diam-diam. Entah kenapa Haebin yakin itu adalah Tuan Lee karena postur tubuhnya sama.
Tuan Lee menghela napas. Ia tidak mempedulikan Donghae dan beralih memandangi polisi itu.
“Lalu apa yang kalian inginkan?”
“Kami terpaksa membawa Anda ke kantor polisi untuk dimintai keterangan.”
Tuan Lee mengangguk. Ia menoleh pada Leeteuk. “Leeteuk, tolong jaga Donghae dan istrinya selama aku pergi.”
“Oh, baik Tuan.” Ujar Leeteuk

“Tunggu..” Haebin menghadang polisi yang akan membawa pergi tuan Lee.
“Appa, aku minta penjelasan sekarang.!!” Paksa Haebin.
“Nanti jika Appa kembali dari kantor polisi, akan Appa jelaskan.” Tuan Lee menepuk pundak Haebin.
“Tidak. Tunggu!!” cegah Haebin lagi. Donghae segera menahan istrinya agar tenang. Haebin terus berteriak dan berusaha menyusul meminta penjelasan dari Tuan Lee segera.
“Tenanglah.. kau sedang hamil. Kau tidak boleh seperti ini..” pinta Donghae. haebin merosot dan jatuh lemas di lantai. Otaknya menolak untuk percaya. Namun jantungnya berdebar kencang dan hatinya terasa sakit mendengar Tuan Lee ada kaitannya dengan kematian ibunya. Padahal baru beberapa saat lalu ia meyakinkan diri untuk tidak marah pada Tuan lee. Dan sekarang, dengan rasa sakit yang tak bisa ditahan, ia kembali merasakan benci itu.

“Minum dulu.” Donghae memberikan secangkir teh pada Haebin. ia duduk di sebelah istrinya sambil mengusap-usap rambutnya.
“Jangan bebani pikiranmu. Apa kau tidak kasihan pada bayi yang ada dalam rahimmu itu?” tanya Donghae khawatir.
“Mianhae Oppa..” Haebin menerawang. Pandangannya begitu kosong. Baru beberapa saat yang lalu ia meyakinkan diri tidak akan marah lagi pada mertuanya itu. Secepat ini kah ia dibuat kecewa kembali?
Haebin menolehkan pandangannya pada Donghae. “Oppa, tolong yakinkan aku kalau Appa itu tidak terlibat” mohonnya. Donghae segera mengelus kepalanya.
“Iya. Appa tidak terlibat sama sekali. Percayalah.”
“Aku tidak ingin mencurigainya sedikitpun. Aku tidak ingin.” Haebin berusaha keras menepis pikirannya. Mungkin ini hanya kebetulan.

@@@

Dalam keadaan gelisah, Haebin terus menunggu Tuan Lee pulang dari kantor polisi. Meskipun Donghae sudah berkali-kali memintanya untuk beristirahat. Donghae melirik jam. Sudah pukul 10 malam. Ia lebih mencemaskan keadaan Haebin. istrinya itu tengah hamil. Bagaimana jika sampai terjadi sesuatu nanti padanya?
“Haebin, ayo kita tidur. soal Appa, kita bisa menanyakannya besok setelah Appa pulang.”
“Oppa, kau tidak mencemaskannya? Bagaimana mungkin Oppa bisa setenang itu sementara Appa sekarang berada di kantor polisi?”
Donghae bangkit. “Aku tahu kau cemas. Sebaiknya kamu segera tidur.”

Baru Haebin akan menuruti permintaan suaminya, pintu depan tampak dibuka seseorang. Yah, siapa lagi. Yang datang itu adalah Tuan Lee.
“Appa..” seru Donghae dan Haebin bersamaan. Donghae segera menghampiri Appanya dan memapahnya menuju kursi. Haebin juga segera menyiapkan teh hangat untuknya.
“Gomawo, kalian anak-anak berbakti.” Ujar Tuan Lee terharu.
Donghae duduk di seberangnya. “Apa yang polisi tanyakan? Mereka tidak mencurigaimu kan?”
“Aku hanya diajukan beberapa pertanyaan.” Aku Tuan Lee sambil menyesap tehnya. Ia kemudian melirik Haebin yang duduk di sebelah Donghae.
“Apa yang kau ingin tanyakan nak?” tanya Tuan Lee melihat ekspresi Haebin begitu menyelidik.

Haebin gusar. Hatinya sangat tidak tenang. Tapi jika tidak ia tanyakan, seumur hidup ia akan dihantui rasa penasaran ini. Donghae menggenggam tangan Haebin untuk memberikannya kekuatan. Hanya ini yang bisa ia lakukan. Ia bahkan tidak berniat menghalangi Haebin menyembunyikan keingintahuannya.
“Appa, tidak terlibat dalam kematian Umma kan?” tanya Haebin terbata. Tuan Lee mengusap mukanya perlahan. Ia tahu Haebin akan bertanya hal itu. Sekarang sebaiknya ia menceritakan hal sesungguhnya. Seperti yang ia ceritakan di kantor polisi tadi.

“Haebin..” ujar Tuan Lee mengawali ceritanya. Ia menghela napas berat sejenak.
“Apa yang dikatakan Polisi tadi itu benar. Aku memang mengunjungi panti rehabilitasi ibumu di malam sebelum ia meninggal.” Aku tuan Lee setenang mungkin. Melawan gejolak batin yang sekarang sedang berkecamuk dalam dirinya.
Haebin terkejut. Donghae bisa merasakan tubuh istrinya itu menegang dalam genggamannya. Jantung Haebin berdebar lebih cepat dari yang ia kira. Napasnya menjadi sesak dan tekanan darahnya meninggi begitu saja. Donghae semakin erat menggenggam tangan Haebin. ia berusaha menenangkan emosi yang mulai memuncak dari dalam dirinya.
“Kenapa? Kenapa Appa datang ke sana? Jadi, selama ini Appa tahu ibuku menderita tekanan mental?” tanya Haebin dengan amarah tertahan.
Dengan berat hati pria tua itu mengangguk. “Ya.. Appa secara rutin mengunjungi ibumu..”
“Tapi untuk apa?” nada bicara Haebin mulai meninggi membuat Donghae membelalakkan matanya. Tidak, Haebin tidak boleh sampai emosi. Itu akan mempengaruhi janinnya.
“Haebin, sudah—“
“Untuk mengatakan bahwa putrinya sudah tiada..” ucap Tuan Lee membuat Haebin terkejut kembali. Donghae pun ikut terkejut. Keduanya sama-sama memandangi pria yang mereka hormati itu.
“A-apa? Putrinya sudah tiada??” Donghae mengerutkan kening tak paham.

Tuan Lee semakin terlihat gelisah. “Ini semua salah Appa..”
Haebin merasakan matanya panas. Dan pandangannya pun buram karena airmata.
“Putri yang mana? Aku masih hidup. Apa kau bilang pada Umma aku sudah mati?” tebak Haebin. ia pikir Tuan Lee tidak tahu kenyataan So Yeon adalah kakaknya. Nyatanya ia salah besar.
“Bukan. Ini soal kakakmu. Gadis yang kuanggap tidak jelas asal usulnya itu. Gadis yang meninggal dalam kecelakaan mobil. Gadis yang dimakamkan dalam identitas palsunya karena aku kira ia tidak memiliki keluarga. Setelah mengetahuinya, aku datang kembali ke panti rehabilitasi itu. Menceritakan padanya bahwa putri yang ia rindukan itu sudah tidak ada..”

“Mwo!!!” teriak Haebin penuh emosi. Ia sampai bangkit. Airmata sudah mengalir deras mendengar pengakuan yang begitu menusuk jantungnya. Ia tak percaya. Jadi.. selama ini.. ia tahu semuanya.. tahu semua tentang keluarganya.. bagaimana mungkin!! Emosinya sudah memuncak. Entah apa yang bisa ia lakukan sekarang. Ia ingin sekali rasanya menghancurkan semua barang yang ada dengan tangannya.
“Kenapa kau lakukan itu pada Ummaku yang sudah tidak berdaya!!! Kenapa kau menghancurkan satu-satunya harapan yang membuat Ummaku bertahan hidup hingga sekarang!!” teriak Haebin penuh amarah. Ia tahu, ia sadar, hal yang membuat Ummanya bertahan bernapas hingga detik ini karena Haera, kakak perempuannya pasti masih hidup dan berharap bisa menemuinya di sana. Meskipun rasa sesak karena kedatangannya tidak begitu membuat Ummanya gembira, ia masih bisa bertahan. Ia tetap menyayangi Ummanya.
Haebin menangis sesenggukan. Donghae memeluknya. Berusaha meredam emosi yang begitu meluap dari diri istrinya.

Tuan Lee terdiam. Ia menyesali perbuatannya malam itu. Ia hanya bermaksud memberitahukan tentang kematian putrinya dan memintanya agar lebih memperhatikan Haebin yang sangat menyayanginya. Tuan Lee tahu, sejak dulu Haebin begitu kesepian karena ia kurang perhatian dari orangtuanya. Dan Ummanya menderita tekanan mental karena menganggap sudah tidak ada harapan hidup lagi. Bagaimana bisa keberadaan Haebin dilupakan? Ia bermaksud mengajak ibunya itu agar tinggal bersama Haebin saja daripada tinggal di panti rehabilitasi ini. Tapi baru saja ia mengatakan beberapa patah kata setelah memberitahukan kematian Haera a.k.a So Yeon, wanita yang saat itu duduk di kursi roda tiba-tiba bereaksi dan meneriakinya agar pergi. tentu saja Tuan Lee menurut meskipun ia terkejut. Dan esok harinya, ia sangat kaget saat mengetahui Ibunya Haebin meninggal karena meloncat dari atap gedung.

“Sungguh Haebin, Appa merasa sangat menyesal. Appa tidak tahu akan begini akhirnya. Jika saja malam itu Appa tidak ke sana, Ibumu..”
“CUKUP!!!” Teriak Haebin. tuan Lee mendongkak menatap Haebin yang sudah dikuasai emosi. Matanya terbelalak melihat mata Haebin penuh dengan dendam dan rasa kecewa yang begitu dalam.
“Kenapa kau tega sekali padaku? Kenapa kau membuat Ummaku bunuh diri?!! Hanya dia harapan hidupku yang tersisa setelah kepergian Appaku..kenapa??” Haebin menangis. Dia jatuh terduduk di lantai.
Donghae pun merasakan sakit hati yang sama. Ia menoleh pada Appanya.
“Sekarang aku ingin tanya, apa Appa ada hubungannya dengan kecelakaan So Yeon?”
“Apa maksudmu?”
“So Yeon dan Appa Haebin meningal di hari yang sama dan di tempat yang sama. Bukankah waktu itu Appa memintanya mengajak orangtuanya datang kemari, agar bisa merestuiku menikah dengannya?”

Tuan Lee ingat hari itu. Memang benar ia yang meminta So Yeon agar menjemput orangtuanya. Tapi soal kecelakaan itu, ia tidak ada sangkut pautnya sama sekali.
“Appa memang memintanya datang bersama orangtuanya. Tapi soal kecelakaan itu, Appa tidak terlibat.”
Donghae menajamkan tatapannya. Meskipun ia masih tidak begitu percaya, lebih baik sekarang ia segera menenangkan Haebin.
“Haebin, ayo kita pergi.” ucap Donghae. haebin menolak ketika Donghae membantunya berdiri.
“Aku masih ingin bertanya.”
Dengan kondisi yang sudah seperti itu, Haebin tetap tidak bisa menyembunyikan rasa penasarannya. Ia memandang Tuan Lee kembali.
“katakan padaku, ketika kau bilang kau teman Appaku, apa itu benar?”
Tuan Lee terdiam.
“Apa itu benar!!!” Haebin berteriak lagi.
Tuan Lee tetap tidak menjawab. Ia semakin merasa bersalah sudah membuat Haebin menjadi sebatang kara seperti ini. Mendadak ia merasakan sakit menyerang jantungnya. Tuan Lee meringis kesakitan.
“Appa..” cecar Donghae panik melihat kondisi Appanya seperti itu. Perasaan marah Haebin pun berubah 180 derajat melihat Tuan Lee meringis kesakitan memegangi dadanya. Ia segera bangkit lalu berlari mendekatinya.
“Appa.. gwaenchana..”
Donghae segera menelepon rumah sakit. Dalam keadaan panik, Tuan Lee di bawa ke rumah sakit dan segera dilarikan ke ruang IGD.

“Oppa.. bagaimana ini.. semuanya salahku..” Haebin bergetar di tempatnya berdiri. Detik-detik ketika amarahnya memuncak dan langsung berganti dengan rasa panik yang luar biasa masih terasa hingga sekarang. Donghae segera memeluknya. Ia pun merasa panik dan takut sekarang.
“tenanglah, semuanya akan baik-baik saja.”

@@@

Hampir satu jam lampu merah di depan ruangan itu terus menyala. Entah apa yang dilakukan dokter di dalam. Donghae terus mondar-mandir di depan pintu sementara haebin duduk di kursi sambil terus berdoa. Meskipun beberapa saat lalu ia menyimpan rasa marah yang begitu besar, namun rasa khawatir yang sekarang menimpanya jauh lebih besar. bagaimanapun ia tidak mau sampai terjadi sesuatu pada Tuan Lee.

Tak lama lampu merah pun mati. Pertanda operasi selesai. Pintu ruangan itu terbuka dan muncul beberapa orang dokter beserta perawat dengan wajah lelah.
“Bagaimana Dokter? Apa Ayahku baik-baik saja?”
Haebin segera menghampiri Donghae.
“Tenang saja. Masa-masa kritis sudah terlewati. Hanya saja…”
“Apa?”
“Penyakit jantung yang dideritanya sudah begitu parah. Harus segera mendapatkan donor jantung. Jika tidak, kami tidak bisa menjamin keselamatannya.” Dokter-dokter itu lalu pergi.

Donghae terkejut bukan main. Ia duduk lemas di bangku yang ada di sana. Ia sama sekali tidak tahu bahwa Ayahnya menderita penyakit seperti itu. Selama ini ia melihat Ayahnya baik-baik saja. Apa ayahnya sengaja menyembunyikan itu darinya? Mengingat selama 2 tahun terakhir sikapnya begitu buruk.
“Mustahil..” desis donghae. ia mendadak lemas dan pikirannya sudah melayang kemana-mana.

Haebin menutup mulutnya tak percaya. Bagaimana mungkin tadi ia bisa berteriak-teriak pada orangtua yang sedang menderita penyakit parah seperti itu? Haebin, kau bukan manusia.. batin Haebin penuh penyesalan. Ia lebih tidak bisa menahan tangisannya lagi saat melihat wajah terpukul suaminya. Ia segera duduk di samping donghae, menenangkan suaminya itu.
“Oppa..”

Tiba-tiba Donghae menggelengkan kepalanya cepat. “Andwae..Appa tidak boleh pergi. appa tidak boleh meninggal. Tidak boleh..” ucapnya. Kini gantian Haebin yang berusaha menenangkannya.
“Oppa, jebal kuatlah..” Haebin memeluk erat Donghae.

To be continued..

61 thoughts on “Shady Girl (Part 20)

  1. ternyata ayahnya hae kenal sama keluarga nya haebin to. . . mungkin haebin dinikahin sama dongek buat nebus kesalahannya dulu sama kakak haebin kali ya…😀 #sokTau

  2. Tuan Lee jangan meninggal ne, harus ada yg donor jantung buat Tuan Lee. Kalau sampe meninggal kehdupan Haebin sama Donghae bkal bener2 miris tanpa orang tua dan paling ibunya Donghae yg tersisa.

  3. Sbuah pnysalan emng dtgnya trlambat ya… Andai aja Soyeon gk make nama palsu psti skrg dy jd artis trkenal… Knp ya ortu Haebin pilih ksi bgt…

Your comment

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s