Shady Girl (Part 18)

Tittle : Shady Girl Part 18
Author : Dha Khanzaki a.k.a Shin Je Young
Genre : Romance, Married Life

Main Cast :

  • Park Haebin / Lee Haebin
  • Lee Donghae

Support Cast :

  • Cho Kyuhyun
  • Lee Hyukjae / Eunhyuk

Maaf untuk typo, cerita ngawur atau kepanjangan, apalagi kalau ampe feelnya gak dapet *bow*

Happy Reading ^_^

Shady Girl by Dha Khanzaki3

——-0.0——–

“Aku senang sekali kau meminta bantuan padaku.” Ucap Eunhyuk saat Haebin menemuinya siang itu. Haebin mengangguk.
“Terima kasih sudah bersedia membantu. Kau tahu Oppa memiliki koneksi yang luas sebagai seorang CEO sebuah stasiun televisi terkenal.”
Eunhyuk tersenyum. “Mungkin ini akan menyita waktu. Karena mencari seseorang di negara seluas ini tidak semudah yang kau kira. Kita juga tidak tahu apakah kakakmu itu masih ada di Korea atau sudah lama pergi ke luar negeri”
“Aku hanya bisa berharap bisa menemukannya secepat mungkin. Aku sangat merindukannya.”
Eunhyuk mengangguk paham. Ia lalu bangkit. “Kau tenang saja. Serahkan itu padaku.”
“Ah, aku tahu aku bisa mengandalkanmu, Oppa.”

Haebin lega ternyata Eunhyuk mau membantunya. Donghae sekarangterlalu sibuk mengurus perusahaan menggantikan posisi Tuan Lee sebagai Presdir. Tentu Haebin tidak mungkin memaksanya membantu menemukan sang kakak.

“pertama-tama, aku ingin tahu seperti apa wajah kakakmu.” Eunhyuk meminta foto Haera, kakaknya Haebin.
Sejenak Haebin diam. Ia menggaruk kepalanya yang tidak gatal itu. “Emm, sebenarnya.. aku tidak punya. Fotonya ada di rumahku. Tapi rumahku kan sudah di sita..” ujarnya sedih.
Eunhyuk tidak enak hati sudah memintanya. Terlebih setelah melihat ekspresi Haebin.
“Ah, lupakan soal foto. Kita langsung cari saja.”
“Kemana?”
“Ke kantor Kependudukan Seoul”

@@@

“Nde… benarkah tidak ada warga yang bernama Park Haera, putri dari Park Hyun Shik??” Haebin tak percaya, setelah susah payah mengantri di sana ternyata apa yang dicarinya tak ditemukan. Pegawainya bilang bahwa tidak ditemukan satu file pun yang berkaitan dengan kakaknya. Rasa percaya diri yang begitu besar hilang seketika. Jika di sini tidak ada, lalu cari kemana lagi?
Haebin menoleh pada Eunhyuk, meminta pertolongan. Namun sepertinya namja itu juga kehabisan ide.
“Soal seperti ini, sebaiknya kita minta bantuan Setan tengik itu. Dia pasti bisa menggunakan kemampuan menakutkannya dalam bidang teknologi untuk menemukan kakakmu”
“Maksudnya, Professor Kyuhyun??”
Eunhyuk mengangguk. “Tapi tunggu, kenapa kamu panggil anak bungsu itu Professor? Apa dia tampak sepintar itu ya?” protesnya
“Dia kan pernah jadi dosenku.”
“Nde!!!”
“Eunhyuk-ssi, kau tidak perlu berteriak padaku!!” Haebin membelalakkan matanya kaget. Bukan karena Eunhyuk berteriak seperti itu. Tapi karena teriakkannya itu membuat mereka berdua menjadi pusat perhatian.
“Maaf. Kalau begitu, ayo kita pergi ke rumah Kyuhyun”

@@@

Donghae menatap ragu sejenak bangunan di hadapannya. Ia ada suatu keperluan dengan seseorang di dalam gedung itu. Setelah menguatkan hatinya, ia segera masuk.

Sementara itu…

“Ya!!! Kau kira aku tempat untuk mencari orang hilang! Harusnya kau meminta bantuan polisi atau interpol!” ujar Kyuhyun dengan nada tinggi pada Eunhyuk.
Haebin melihat-lihat rumah yang kini berada dalam kondisi yang sama seperti waktu ia kemari dulu. Tapi sekarang lebih rapi. Tidak berantakan. Perhatiannya kini kembali terpusat pada 2 namja yang sedang perang mulut di hadapannya.
“butuh proses panjang jika ingin meminta bantuan polisi. Dan kakak Haebin bukan buronan ataupun teroris jadi untuk apa meminta bantuan interpol. Maka dari itu aku meminta bantuanmu.” Terang Eunhyuk tidak mau kalah.
Kyuhyun mendecak kesal sambil mengelus-eluk punggung Sherry, anjing kesayangannya itu.
“Baiklah. Ini demi sahabatku.” Akhirnya dia pasrah juga.
“Kyaa.. gomawo professor..” seru Haebin senang. Eunhyuk mengedipkan matanya pada Haebin setelah berhasil meluluhkan hati setan game itu.

“Aissshhh.. menyebalkan!!” teriak Kyuhyun. Haebin segera menghampiri Kyuhyun dengan perasaan bingung.
“Ada apa?”
Kyuhyun memutar kursi yang tadinya menghadap ke depan komputer jadi ke hadapan Haebin dan Eunhyuk.
“Sudah kucoba berbagai macam cara. Tapi aku tidak bisa mendeteksinya.” Jelasnya sebal. Rambutnya yang kusut semakin berantakan karena beberapa kali ia acak-acak sendiri ketika sedang kesal.
“Lalu, bagaimana dengan nasib kakakku?” Haebin memelas. Eunhyuk bangkit lalu menghampiri Kyuhyun.
“Tidak bisakah kau mencoba cara lain?”
“Ini akan sulit jika kita tidak memiliki satupun benda yang berkalitan dengan orang itu.”

“Ah, aku ada satu.” Seru Haebin baru tersadar. Kedua orang itu segera menatapnya.
“Jinjja? Bukannya kau keluarkan dari tadi. Mana!!” Kyuhyun memintanya dengan tidak sabar.
“sebentar.” Haebin berlari mencari kalung milik kakaknya yang ia simpan di dalam tas. Lalu kembali untuk menyerahkannya pada Kyuhyun.
“Ini dia..”
Kyuhyun mengambil kalung itu, memandanginya sejenak. “Kalung ini milik kakakmu?”
“Bukan. Itu kalung yang diberikan kakakku pada Ibuku dulu. Dia bilang itu di dapatinya saat ia berjuang menjadi seorang penyanyi.”
Kyuhyun mengangguk. “Kita bisa melacak dimana kalung ini dijual.” Ucapnya. Haebin tersenyum girang. “Benarkah??”

Eunhyuk mengamati kalung itu baik-baik. Kenapa rasanya ia pernah melihat kalung itu yah? Ia terbelalak saat menyadarinya.
“Chankaman!!” serunya mengagetkan. Haebin dan Kyuhyun menoleh. Eunhyuk merebut kalung itu dari tangan Kyuhyun. Setelah memandanginya dari dekat, ia tersenyum sumringah.
“Haebin-ah..aku tahu asal dari kalung ini!!” teriak Eunhyuk bahagia.
Haebin mengerjap. “Benarkah?”
Eunhyuk mengangguk yakin. “ini biasa di dapatkan orang-orang yang sudah berhasil meraih prestasi di Academy SM.”
“Tempat apa itu?” tanya Kyuhyun bingung.
“Pabo. Itu agensi artis” ujar Eunhyuk pada Kyuhyun. “Haebin-ah, kakakmu pasti trainee di sana.”

Secercah harapan langsung terbit di wajah Haebin. mereka segera bergegas menuju Academy SM, tempat yang diduga menjadi tempat keberadaan kakak Haebin itu.

—-o0o—-

“Kenapa kau juga ikut, bungsu?” tanya Eunhyuk heran. Mereka sekarang sudah berada di depan gedung Academy SM.
“Terserah aku. Ini kan bukan tempat milikmu” balas Kyuhyun sinis. Haebin menggelengkan kepalanya. Dua namja ini benar-benar membuatnya pusing.

Mereka masuk bersama. Eunhyuk menggunakan statusnya sebagai CEO dari SJ Tv untuk bisa masuk ke agensi itu. Dan benar saja, mereka mempersilakan Eunhyuk dkk masuk dengan senang hati. Haebin harus bersyukur memiliki teman seorang presdir sebuah stasiun televisi seperti Eunhyuk.

Eunhyuk bertanya pada salah satu dari petinggi agensi itu tentang kakak Haebin.
“Tidak ada trainee di sini yang bernama Park Haera.” Ucapnya. Haebin mengerjap kaget. Begitu juga Kyuhyun dan Eunhyuk.
“jangan bercanda pak. Bukankah kalung ini hanya di berikan pada trainee berprestasi di sini?” Eunhyuk memperlihatkan kalung itu.
“Memang. Tapi tidak ada yang bernama park Haera. Silakan Anda cek sendiri jika tidak percaya.”
Orang itu menyerahkan sebuah buku berisi biodata semua trainee di sana. Haebin membuka satu persatu halamannya. Ia berharap orang itu salah dan kakaknya memang ada di sana. Karena ia sudah hampir menyerah jika tidak bisa menemukan kakaknya.

Haebin berseru. “Ada! Ini dia pak!!” teriak Haebin senang saat melihat ada foto kakaknya terpajang di salah satu halaman. Kyuhyun dan Eunhyuk saling berpandangan, senang.
“Benarkah. Mana..” mereka bersamaan melihat foto itu. Namun sesaat kemudian mereka terbelalak kaget. Mulut mereka pun menganga secara bersamaan. Tidak mungkin, bagaimana bisa…
“Kau yakin ini kakakmu?” tanya Eunhyuk dengan ekspresi tercengang.
Haebin melihat sekali lagi foto itu. Lalu ia mengangguk yakin. “iya. Dia kakakku.”
“Haebin, tapi ini namanya bukan Park Haera. Tapi Jung So Yeon!” seru Kyuhyun

Sedetik Haebin terdiam, ia sedang mencerna kalimat Kyuhyun tadi. Dan saat ia tersadar, yeoja itu memekik kaget.
“Mworagoooo!!!!”

—-o0o—-

“kenapa kakakku bisa bernama Jung So Yeon! Itu tidak mungkin!” teriak Haebin tidak percaya. Sedetik kemudian ia baru sadar, sepertinya ia familiar dengan nama itu. Tunggu! Apa mungkin!!!!! Ia mengerjap kaget
“Tunggu, jangan bilang Jung So Yeon yang dimaksud..” Haebin menggantungkan kalimatnya. Ia memandang Eunhyuk dan Donghae nanar. Meminta jawaban salah satu dari mereka secepatnya.

Eunhyuk dan Kyuhyun berpandangan dengan tatapan pilu. Setelah menyadarinya, mereka tak bisa menyembunyikan perasaan sedih mereka.
“Haebin-ah.. kemari..” Eunhyuk meminta Haebin duduk di sebelahnya. Ia akan berusaha menjelaskannya dengan pelan agar Haebin tidak terlalu syok setelah mengetahuinya nanti.
Haebin ragu-ragu menuruti permintaan Eunhyuk. Jujur saja, sekarang seluruh tubuhnya sedang bergetar. Semoga pikirannya salah. Semoga Jung So Yeon yang ini adalah orang yang berbeda. Ia terus berdoa dalam hati.
“Begini, Jung So Yeon di sini.. adalah seseorang yang kami kenal. Dia..”
“Dia adalah mantan pacar suamimu.” Potong Kyuhyun. Eunhyuk menoleh dengan tatapan tajam. Ia benar-benar ingin menyumpal mulut Kyuhyun dengan ban mobil. Anak itu sama sekali tidak bisa menjaga mulutnya.
“Kyuhyun!!” bentak Eunhyuk. Namja itu memalingkan wajahnya ke arah lain. Kyuhyun tahu tidak seharusnya ia berkata begitu. Tapi percuma, di saat seperti ini penjelasan yang bertele-tele justru akan membuat Haebin bingung. Eunhyuk menoleh kembali pada Haebin. ah, sesuai dengan dugaannya. Ekspresi Haebin tampak sangat terkejut. Gadis itu mematung. Persis seperti patung. Tak bergerak dan wajahnya yang manis itu dipenuhi raut keterkejutan.
“Haebin..” Eunhyuk sedikit mengguncang bahunya. Tubuh gadis itu bergetar. Bahkan getaran itu sampai menjalari tangannya.

Eunhyuk mengerjapkan matanya karena saat ini yang disaksikannya adalah sesuatu yang memilukan. Dengan tubuh yang masih kaku, dengan mata yang menerawang kosong, gadis itu meneteskan airmatanya. Eunhyuk seperti melihat patung yang tengah meneteskan airmata. Tenggorokannya ikut tercekat melihat Haebin seperti itu. Kyuhyun pun merasakan hal yang sama. Hatinya ikut tersayat. Mereka seolah bisa merasakan sakit yang dialami Haebin hanya dengan melihat ekspresinya yang menyayat hati itu.
“Jika memang benar Jung So Yeon yang kalian maksud itu adalah kakakku yang bernama Park Haera, itu artinya.. dia sudah meninggal dunia?” tanyanya datar.
Eunhyuk dengan ragu mengangguk. Tatapan Haebin masih kosong.
“itu artinya.. aku sudah tidak mempunyai siapapun lagi..” lirihnya. Airmatanya terus mengalir. Namun tidak ada isak tangis yang keluar.
“Itu..” Eunhyuk bungkam. Ia tidak sanggup menjawab pertanyaan seperti itu.
“Sebaiknya kita pulang. Kau harus menenangkan diri dulu.” Ucap Kyuhyun. Ia memapah Haebin yang sudah tidak sanggup berjalan lagi menuju mobil mereka. Eunhyuk berpamitan pada petugas di academy itu lalu menyusul Kyuhyun dan Haebin.

Sepanjang perjalanan Haebin hanya diam. Ia memilih memandangi jalanan di luar jendela dengan tatapan kosong. Kyuhyun dan Eunhyuk pun tidak berniat mengajaknya berbicara. Biarlah Haebin meredakan emosinya dulu.

@@@

“Aku pulang..” seru Donghae saat menapaki rumahnya. Ia merasa rumah begitu sunyi. Apa Haebin belum pulang? Padahal ia memiliki kabar gembira untuk Haebin. tadi ia berhasil memenangkan negosiasinya dengan pihak yang menyita rumah Haebin. sekarang di tangannya ada berkas-berkas yang menyatakan rumah itu sudah menjadi milik Haebin kembali.
“Haebin..” panggilnya seraya memasuki rumah dengan wajah gembira. Ia mencari-cari sosok istrinya itu. Dan betapa gembiranya saat memasuki kamar, ia melihat Haebin sedang tertidur di sana. Donghae tidak berniat membangunkannya. Ia duduk di tepi ranjang. Tangannya terulur membelai kepala Haebin.
“Seharian ini aku bekerja keras untukmu. Saat aku pulang seharusnya kau menyambutku.” Keluhnya setengah bercanda. Ia tidak sungguh-sungguh saat mengatakannya. Sejujurnya ia tidak memaksa Haebin melakukan itu semua. Melihatnya tertidur seperti ini memberikan kebahagiaan tersendiri.

Yah.. sepertinya ia mulai mencintai gadis yang sudah menjadi istirnya ini. Apa malam ini ia harus menyatakan perasaannya? Dan memulai lembaran baru bersamanya, menghabiskan sisa hidupnya bersama Haebin seorang, dan membangun keluarga kecil mereka.

“Oppa..” Haebin mengerjap ketika menyadari kehadiran Donghae. Ia beringsut bangun. Donghae bisa melihat rasa lelah di matanya. Oh, apa yang sudah terjadi? Haebin tampak tidak baik.
“Kalau sudah pulang kenapa tidak membangunkanku? Oppa pasti lapar kan? Ingin makan apa malam ini?”
Donghae memperhatikan wajah Haebin dengan seksama. Ia terlihat pucat.
“Tidak perlu. Kau terlihat kurang baik. Lebih baik kau istirahat saja. Aku sudah makan di luar tadi.” Ujar Donghae. Haebin mengelus pipi Donghae.
“Jangan berbohong Oppa. Aku bisa membaca ekspresimu saat berbohong. Kau lupa ya aku ini psikolog?” ujar Haebin. donghae tersenyum mengakuinya. Ia baru sadar kalau ia menikahi seorang calon psikolog.
“Baiklah. Aku akan pergi menyiapkan makan malam. Kau mandi dulu saja.” Haebin bangkit. Dan secepat kilat Donghae menahannya. Haebin menatapnya bingung dan Donghae menjawab tatapan Haebin itu dengan ciuman hangat di bibirnya. haebin tentu terkejut. Mengingat ini pertama kalinya Donghae bersikap agresif tanpa digoda lebih dulu olehnya. Namun kali ini Haebin merasakan sesuatu yang berbeda dari cara Donghae menciumnya. Entahlah. Hanya saja terasa lain.

Begitu melepaskan ciumannya, Donghae menatap Haebin lama. Kemudian ia mengecup Haebin sekali lagi. “Saranghaeyo, Haebin-ah..” bisiknya.
Haebin mengerjap. Ini adalah kalimat terindah yang pernah di dengarnya selama ini. Haebin memang menanti pengakuan itu sangat lama. Tapi.. kenapa baru sekarang Donghae mengakuinya.. kenapa baru sekarang ia mengatakannya.. kenapa di saat ia sudah dalam keadaan setengah hancur seperti ini Donghae baru menyatakannya?? Haebin merasa senang dan sedih di saat yang bersamaan.
Mata Donghae yang tajam itu menanti jawaban dari Haebin. kedua tangan Donghae memeluk erat pinggangnya. Haebin menunduk. Ia merasakan matanya panas kembali. Oh.. sudah berapa banyak airmata yang ia keluarkan hari ini? Tidak cukupkah airmata yang keluar saat ia menangisi kenyataan kakaknya sudah tiada? Haruskah sekarang ia menangis lagi?
“Oppa.. aku..” Haebin terbata-bata. Ia memilih melepaskan pelukan Donghae lalu berlari ke luar kamar. Donghae sempat heran melihatnya. Namun ia berpikir Haebin mungkin malu.

Haebin mengusap airmatanya lagi. Ia baru saja selesai menyiapkan makan malam untuk Donghae. Kali ini, ia tidak mau suaminya melihatnya bersedih. Tentang kakaknya, cukuplah ia, Eunhyuk dan Kyuhyun yang tahu. Ia tidak mau membebani Donghae dengan pikiran yang tidak-tidak. Sekarang namja itu baru bisa tersenyum kembali. Haebin tidak mau jika Donghae tahu bahwa Jung So Yeon, yeoja yang amat ia cintai itu adalah kakak Haebin yang selama ini ia cari.

“Wah, sepertinya enak.” Seru Donghae menatap meja makan yang penuh dengan hidangan makan malam mereka, ia lalu mengambil tempat di hadapan Haebin.
“makanlah Oppa..” ucap Haebin sambil meletakkan semangkuk penuh nasi di hadapan Donghae.
“Hei, kau ingin membuatku gemuk ya. Kenapa memberiku nasi sebanyak ini?” omelnya. Haebin mengerutkan kening.
“Kenapa Oppa cerewet sekali. Biasanya juga porsi makanmu seperti ini.”
“Kalau begitu kau harus suapi aku.” Perintahnya seperti memerintah pelayan. Haebin mengerjap. Omo.. inikah sosok menyeramkan Donghae yang lain? Kenapa dia jadi cerewet dan manja seperti ini?
“Ppali!!” perintahnya. Haebin menghela napas, lalu tersenyum.
“Okay, your majesty..” ucap Haebin seraya membungkukkan badannya seperti yang biasa di lakukan dayang pada seorang raja. Ia duduk di sebelah Donghae dan mulai menyuapinya. Donghae makan dengan lahap. Sepertinya ia dalam mood yang baik. Apa karena sudah menyatakan perasaannya Donghae jadi semanja ini? Omona..
“Kenapa wajahmu memerah?” tanya Donghae. Haebin mengerjap, omo.. benarkah wajahnya memerah? Ini pasti akibat teringat pernyataan Donghae tadi. Jantungnya kini berdetak lebih cepat dari biasanya.
“Benarkah?” Haebin malah balik bertanya. Haebin mengambil asal makanan yang ada di hadapannya lalu menyuapkannya pada Donghae. Setelah mengunyahnya beberapa detik, Donghae membelalakkan matanya.
“Kenapa?” tanya Haebin panik. Donghae kelabakan mencari air. Haebin segera menyodorkannya segelas air yang tanpa basa-basi segera diteguknya sampai habis.
“kenapa Oppa?” haebin memijat tengkuk Donghae yang terengah-engah setelah makanannya berhasil ia telan. “Kau tersedak?”
Donghae menggeleng. “Aniya.. tadi itu, pedas sekali rasanya.”
“Jinjja?” haebin berseru kaget. Ia melirik makanan yang tadi di ambilnya. Omona.. ia mengambil cabai yang ia campurkan dengan daging ayam. Pantas saja Donghae kepedasan. Sepertinya ia salah ambil.
“Mianhae.. apa sudah tidak apa-apa?” Haebin menyodorkan segelas air lagi. Donghae menolaknya.
“Tidak apa-apa. Aku sudah lebih baik.” Donghae diam sejenak. “Haebin.. bolehkah aku memanggilmu ‘yeobo’?” tanya Donghae ragu
“Tentu saja boleh. Aku kan istrimu.” Jelas Haebin lantang. Donghae tersenyum senang. Ia segera memeluk tubuh Haebin, mengangkatnya dari lantai.
“Omo..” haebin terkejut sekali. Donghae menurunkannya kembali.
“Aku senang sekali. Jadi seperti ini rasanya memiliki istri..” serunya bangga. Dengan wajah berbinar yang pertama kali di lihatnya.
“Mwo? Jadi selama ini Oppa kemana? Oppa tidak menganggapku sebagai istri?” keluh Haebin tak percaya. Ia menggembungkan pipinya kesal. Donghae tidak peduli. Yang penting sekarang ia sangat mencintai Haebin.
“Mulai sekarang, kau jangan pernah berani atau pun berpikir untuk meninggalkanku. Arasseo!!” Donghae mencium kedua pipi Haebin bergantian. Lalu kembali memeluknya.
Haebin tersenyum simpul dalam pelukan Donghae. Beberapa detik kemudian senyumnya itu memudar. Rona sedih itu kembali muncul. Namun Donghae tidak menyadarinya.

“Oppa..”lirih Haebin.
“Hmm..”
“Boleh aku tahu seperti apa wajah So Yeon?” tanya Haebin pelan. Donghae melepaskan pelukannya. Ia tak percaya mendengar pertanyaan Haebin. kenapa istrinya itu bertanya tentang mantan pacarnya?
“Kenapa kau menanyakannya?”
“Bukankah kita suami istri sekarang. Apa aku tidak berhak mengetahui semua tentang suamiku. Termasuk kisah asmaranya.” Jelas Haebin. ia menghindari kontak mata dengan Donghae.

Beberapa saat lamanya Donghae merenung. Akhirnya ia membuka mulutnya juga.
“Baiklah. Sebentar..” Donghae pergi ke kamar untuk mengambil sesuatu. Haebin duduk karena sudah merasa tidak kuat lagi. Sebenarnya ada ketakutan besar dalam dirinya saat bertanya tadi. Dan sekarang ia masih berharap bahwa Jung So Yeon dan kakaknya adalah 2 orang yang berbeda.

Tak lama Donghae kembali membawa sebuah figura foto kecil. Ia duduk di sebelah Haebin lalu menyerahkannya.
“itu fotoku yang terakhir bersama So Yeon”
Haebin menatap foto itu. Ia terbelalak. Ternyata memang benar. Jung So Yeon memiliki bentuk wajah dan tubuh yang sama persis dengan kakaknya. Ini pasti kakaknya. Tidak salah lagi. Haebin berusaha sekuat tenaga menahan airmatanya. Di hadapan Donghae, ia harus menyembunyikan semua perasaan sedihnya.
“Dia sangat cantik, Oppa..” lirih Haebin. yah..kakaknya tampak sangat cantik dalam foto ini. Pantas saja Donghae begitu mencintai So Yeon. Donghae memeluknya dari samping.
“Tapi sekarang kau yang paling cantik di mataku.”
Haebin menoleh. Ia tak percaya Donghae akan memujinya seperti itu. Mengatakan ia cantik? Baru kali ini ada namja yang bilang seperti itu dengan cara tulus. Hatinya bergetar hebat. Bagaimana ini.. ia tidak boleh menangis.. tapi kenapa matanya begitu berat.
“Hei hei.. kenapa kau menangis seperti ini?”
Haebin mengusap dengan cepat airmata yang menetes itu. “Mianhae, aku terharu Oppa.” Ujarnya dengan suara bergetar.
“Bolehkah aku memelukmu, Oppa??” tanya haebin
“Tentu saja. Kemari..” Donghae segera memeluknya

Aku tidak boleh menangis di depan Donghae Oppa. Sudah cukup ia bahagia saat ini. Dia tidak boleh terbebani dengan masalahku.. batin Haebin.

Malamnya, Haebin melirik Donghae sudah tertidur pulas di sampingnya. Ia merapatkan selimut agar Donghae tidak kedinginan. Salju turun lagi malam itu. Haebin pergi ke luar kamar, ia mengambil foto Donghae dan So yeon. Sendirian, di malam sedingin itu, Haebin menangis dengan suara pelan menatapi wajah kakaknya.

@@@

“Inikah tempatnya? Tempat dimana kakaku dimakamkan?” tanya Haebin pada Eunhyuk dan Kyuhyun yang mengantarnya siang itu.
Eunhyuk mengangguk. Kyuhyun garuk-garuk kepala di sebelahnya. Haebin berkata bahwa ia ingin sekali berjiarah ke makam kakaknya.

Haebin meletakkan sebuket bunga lily putih di depan makam kakaknya. Sesekali ia menyingkirkan salju yang menutupi pusaranya. Ia menatap nisan bertuliskan nama ‘Jung So Yeon’ di depannya dengan perasaan sedih. Kenapa kakaknya mesti dimakamkan dengan nama Jung So Yeon, bukan Park Haera seperti namanya yang asli.
“Eonni.. akhirnya kita bisa bertemu juga. Walau aku sangat sedih karena kita bertemu di tempat seperti ini, dan dalam keadaan seperti ini. Mianhae.. selama ini aku tidak berusaha untuk mencarimu. Dan aku sekarang merasa sangat menyesal. Hiks.. hiks.. eonni..” pada akhirnya Haebin tetap tidak bisa menahan tangisannya.
“Kenapa.. kenapa kalian semua meninggalkanku sendiri di dunia ini??? Kenapa… Eonni.. Appa..Umma..”
Kyuhyun terisak mendengarnya. Bahkan Eunhyuk sudah bercucuran airmata sejak tadi. Terlebih Eunhyuk. Dia memang namja yang sangat sensitif jika menyangkut masalah keluarga. Ia tahu bagaimana rasanya ditinggal pergi keluarga terdekat. Mengingat Appanya pun sudah lama meninggal.
“Haebin-ah.. ayo kita pulang.. di luar dingin sekali. Jika kau sakit, suamimu akan membunuhku.” Ujar Eunhyuk.

Haebin menghapus airmatanya setelah tenang. Ia pulang di antar 2 namja itu. Kyuhyun duduk di sebelah Eunhyuk sementara Haebin di kursi belakang.
“kau tahu, Haebin-ssi dulu saat So yeon meninggal, Donghae diam lama sekali di depan makamnya dengan tatapan sedingin salju.” Jelas Kyuhyun. Haebin mengerjap.
“Ya! Bungsu! Hentikan mulut bocormu! Jika aku tidak sedang menyetir, sudah ku pukul kau sekarang!” gertak Eunhyuk jengkel. Anak satu ini benar-benar tidak bisa membaca situasi.
“Aku paham perasaannya. Pasti sejak detik itu ia berubah menjadi Donghae yang dingin.” Haebin tersenyum.
Reaksi Haebin membuat Eunhyuk lega. Dia kira Haebin akan sedih mendengar ucapan Kyuhyun.
“Ah.. kau memang berjiwa besar Haebi-ah. Beruntungnya Donghae menikahi gadis sepertimu..” ujar Kyuhyun terharu.
“Ya! Kau sedang mencoba merayu istri orang??” debat Eunhyuk
“Ani. Aku kan bukan dirimu” sanggahnya. Mereka jadi berdebat setelah itu. Haebin tertawa melihat aksi keduanya. Sungguh, mereka sangat lucu saat berdebat seperti itu.

Haebin menghela napas. Sekarang perasaannya sudah jauh lebih tenang.

To be continued..

74 thoughts on “Shady Girl (Part 18)

  1. Dunia itu memang sempit ya?.Gak diduga ternyata mantan haeppa itu kk haebin#omona
    Dan sekarang haeppa udah ceria dan bahagia lagi.. semoga aja seperti itu seterusnya^^

  2. Tu kan bener tebakanku..ternyata seoyon itu kakakny haebin ,haebin kasian udah ditinggal appa ,umma ,eh skrg dia malah baru tau kalo kakakny meninggal..:’)

  3. jadi so yeon itu kakaknya haebin, dunia bener” sempit yah.. haebin jadi udah gak punya keluarga lagi semua keluarganya meninggal😦
    gimana yah reaksinya donghae?!

  4. Benar,dugaanku soo yeon itu kakaknya Haebin
    Berat bangt cobaan hidupnya soo yeon

    Ah…aq sampai nangis
    Kalau aq jadi Haebin pasti gk sanggup bngt hadapinya

    Donghae oppa udah nyatakan perasaannya ama Haebin

  5. Ternyata oh ternyata mantan Donghae adalah kakanya Haebin, pantesan aja Haebin di mata Donghae mirip So Yeon padahal mah adik-kaka.
    Nasib Haebin emang bener2 sengsara gtu tpi tenang sekarangkan Haebin punya Donghae.
    Cus ke part selanjutnya.

  6. asli merinding waktu baca kalau haera itu adalah jung so yeon. Dan berarti kalau itu itu so yeon artinya kakak haebin udah meninggal dan haebin hanya sendiri didunia ini tanpa saudara kandung😥 sumpah merinding.

  7. Gk di duga trnyata Soyeon adlh kkk Haebin,,knp ya kkk Haebin hrus gnti nama ??? Apa dy gk mau ortunya tau klo dy jd artis???
    Gmn ya reaksi Donghae klo tau,,trnyata Haebin adiknya Soyeon???

Your comment

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s